Anda di halaman 1dari 50

PROPOSAL PENELITIAN

I.

II.

Nama Peneiliti

: Magdalena

NIM

: R0212027

Judul Penelitian : Hubungan Kebisingan dan Tekanan Panas Dengan


Tekanan Darah Pekerja Weaving PT. Iskandar Indah Indah
Printing Textile Surakarta.

III.

Bidang Ilmu

: Ilmu Kesehatan Kerja dan Higiene Industri

IV.

Latar Belakang Masalah


Industri akan selalu diikuti oleh penerapan teknologi tinggi penggunaan
bahan dan peralatan yang semakin kompleks dan rumit. Namun demikian,
penerapan teknologi tinggi dan penggunaan bahan dan peralatan yang beraneka
ragam dan kompleks tersebut sering tidak diikuti oleh kesiapan SDM-nya.
Keterbatasan manusia sering menjadi faktor penentu terjadinya musibah
seperti, kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan dan
timbulnya penyakit akibat kerja. Kondisi tersebut ternyata telah banyak
mengakibatkan kerugian jiwa dan material, baik bagi pengusaha, tenaga kerja,
pemerintah dan bahkan masyarakat luas. Untuk mencegah dan mengendalikan
kerugian-kerugian yang lebih besar, maka diperlukan langkah-langkah
tindakan yang mendasar dan prinsip yang dimulai dari tahap perencanaan.
Sedangkan tujuannya adalah agar tenaga kerja mampu mencegah dan
mengendalikan berbagai dampak negatif yang timbul akibat proses
produksi, sehingga akan tercipta lingkungan kerja yang sehat, nyaman,
aman dan produktif (Tarwaka dkk, 2004).
Berdasarkan

penelitian

Agustin

Sugiyarto

(2011)

mengenai

peningkatan tekanan darah tenaga kerja akibat terpapar tekanan panas


melebihi standar di unit weaving PT. Dan Liris Sukoharjo didapatkan
tingkat tekanan panas rata-rata yang diterima tenaga kerja selama 8 jam bekerja

di bagian preparation unit weaving PT. Dan Liris Sukoharjo rata- rata sebesar
32,00C yang melebihi NAB yang diperkenankan dan tekanan darah tenaga
kerja sesudah terpapar tekanan panas mengalami peningkatan dari tekanan
darah sebelum terpapar tekanan panas. Berdasarkan penelitian Dinar Hartanto
(2011) mengenai hubungan kebisingan dengan tekanan darah pada karyawan
unit compressor PT. Indo Acidatama tbk kemiri, kebakkramat, karanganyar
diketahui bahwa rata-rata tekanan darah diastolik 137,6 mmHg dan rata-rata
diastolik 83,15 mmHg yang bekerja 8 jam dengan terpapar kebisingan. Hal ini
mempunyai arti bahwa semakin tinggi intensitas kebisingan, maka semakin
tinggi pula tekanan darah karyawan.
Salah satu jenis lingkungan kerja yang mempunyai tekanan panas tinggi
dan kebisingan tinggi adalah lingkungan kerja pada indutri tekstil di PT.
Iskandar Indah Printing Textile Surakarta. Perusahaan ini merupakan salah satu
industri tekstil di Surakarta di mana terdapat mesin-mesin dalam ruangan kerja
di bagian produksi Weaving yang dapat menimbulkan panas serta
menimbulkan intensitas kebisingan yang tinggi pula.
Hasil Pengukuran di bagian produksi Weaving didapatkan rata-rata
intensitas kebisingan sebesar 94,6 dB (A) 108,0 dB (A) dimana intensitas
tersebut telah melebihi NAB kebisingan menurut Keputusan Menteri Tenaga
Kerja RI No. PER.13/MEN/X/2011 serta didapatkan tekanan panas yang
melebihi NAB yaitu menunjukkan angka rata-rata Indeks Suhu Basah dan
Bola (ISBB) sebesar 30,6C. Tenaga kerja memiliki waktu kerja 8 jam
dengan waktu istirahat 1 jam. Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI
No. PER.13/MEN/X/2011 yang berdasarkan pengukuran denyut nadi yaitu
untuk pengaturan waktu kerja 25 % kerja dan 50% istirahat dengan kriteria
beban kerja sedang. Hasil pengukuran tekanan darah pada 3 orang tenaga
kerja yang bekerja pada ISBB 30,6C melebihi NAB tersebut yaitu tekanan
darah sistole rata-rata sebesar 126,67 mmHg dan tekanan darah diastole ratarata sebesar 86,67 mmHg.
Berdasarkan hasil survei melalui wawancara 3 pekerja didapatkan
beberapa keluhan subyektif dari para pekerja di ruangan produksi Weaving

tersebut diantaranya merasakan panas saat bekerja, merasakan cepat merasa


haus saat bekerja, merasakan kebisingan sehingga mengalami penurunan
pendengaran dan merasakan gangguan konsentrasi menurun pada saat bekerja.
Lingkungan panas berasal dari atap dan mesin proses produksi, sehingga
dengan kondisi seperti ini sangat membahayakan kesehatan tenaga kerja dan
suara bising ditimbulkan dari mesin-mesin proses produksi tersebut.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut : Hubungan Kebisingan dan Tekanan Panas dengan
Tekanan Darah Pekerja Weaving PT.Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.

V.

Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan kebisingan dan tekanan panas dengan tekanan darah
pekerja weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.

VI.

Tujuan Penelitian
A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Kebisingan dan Tekanan Panas dengan
Tekanan Darah Pekerja Weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile
Surakarta.
B. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui kebisingan PT. Iskandar Indah Printing Textile
Surakarta pada bagian Weaving.
2. Untuk mengetahui tekanan panas pada PT. Iskandar Indah Printing
Textile Surakarta pada bagian Weaving.
3. Untuk mengetahui tekanan darah pada PT. Iskandar Indah Printing
Textile Surakarta pada pekerja bagian Weaving.
4. Untuk mengetahui hubungan kebisingan dengan tekanan darah pada PT.
Iskandar Indah Printing Textile Surakarta pada pekerja bagian Weaving.
5. Untuk mengetahui hubungan tekanan panas dengan tekanan darah pada
PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta pada pekerja bagian
Weaving.

VII.

Manfaat Penelitian
A. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
pemahaman lebih dalam mengenai Hubungan Kebisingan dan Tekanan
Panas dengan Tekanan Darah Pekerja Weaving PT. Iskandar Indah Printing
Textile Surakarta.
B. Manfaat Aplikatif
1. Bagi Tenaga Kerja
Memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat sehingga tenaga
kerja mengetahui hubungan kebisingan dengan tekanan panas terhadap
tekanan darah.
2. Bagi Industri
Diharapkan menjadi masukan dalam kaitannya lingkungan kerja serta
tindakan pengendalian, sehingga dapat meningkatkan efesiensi kerja,
produktivitas dan derajat kesehatan pekerja secara optimal.
3. Bagi Peneliti
Memperoleh pengalaman dan pengetahuan, serta mampu meneliti
tentang Hubungan Kebisingan dan Tekanan Panas dengan Tekanan
Darah Pekerja Weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.
4. Bagi Program Studi Diploma 4 Keselamatan Dan Kesehatan Kerja.
Menambah referensi, data, dan kepustakaan program studi Diploma 4
Keselamatan dan Kesehatan Kerja khususnya hasil penelitian tentang
Hubungan Kebisingan dan Tekanan Panas dengan Tekanan Darah
Pekerja Weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.

VIII.

Tinjauan Pustaka
A. Kebisingan
1. Pengertian
Kebisingan adalah suara ditempat kerja berubah menjadi salah
satu bahaya kerja (occupational hazard) saat keberadaannya dirasakan

mengganggu atau tidak diinginkan secara fisik (menyakitkan pada


telinga pekerja) dan psikis (mengganggu konsentrasi dan kelancaran
komunikasi) yang akan menjadi polutan bagi lingkungan, sehingga
kebisingan didefinisikan sebagai polusi lingkungan yang disebabkan
oleh suara (Sihar Tigor B.T., 2005).
Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang
bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang
pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (
PER.13/MEN/X/2011).
Bunyi atau suara didengar sebagai rangsangan pada sel saraf
pendengar dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan
getaran dari sumber bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat
melalui media udara atau penghantar lainnya dan manakala bunyi atau
suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena mengganggu atau timbul di
luar kemauan orang yang bersangkutan, maka bunyi-bunyian atau suara
(Sumamur,2009).
Seorang

cenderung

mengabaikan

kebisingan

yang

dihasilkannya sendiri bila kebisingan itu secara wajar menyertai


pekerjaan, seperti kebisingan mesin kerja. Sebagai patokan,
kebisingan mekanik atau elektrik, yang disebabkan kipas angin,
transformator, motor, pompa, pembersih vakum atau mesin cuci,
selalu lebih mengganggu daripada kebisingan yang hakekatnya alami
(angin, hujan, dan air terjun) (Riyadi,2011).
2. Sumber Bising
Menurut Subaris dan Haryono (2008) sumber kebisingan dibedakan
menjadi tiga yaitu :
a. Bising Industri
Industri besar termasuk di dalamnya pabrik, bengkel dan
sejenisnya. Bising industri dapat dirasakan oleh karyawan maupun
masyarakat di sekitar industri dan juga setiap orang yang secara

tidak sengaja berada di sekitar industri tersebut. Sumber kebisingan


bising industri dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :
1) Mesin
Kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin.
2) Vibrasi
Kebisingan yang ditimbulkan oleh akibat getaran yang
ditimbulkan akibat gesekan, benturan atau ketidakseimbangan
gerakan bagian mesin. Terjadi pada roda gigi, roda gila, batang
torsi, piston, fan, dan lain-lain.
3) Pergerakan udara, gas dan cairan
Kebisingan ini ditimbulkan akibat pergerakan udara, gas, dan
cairan dalam kegiatan proses kerja industri misalnya pada pipa
penyalur cairan gas, outlet pipa, gas buang, dan lain-lain.
b. Bising Rumah Tangga
Bising disebabkan oleh rumah tangga dan tidak terlalu tinggi
tingkat kebisingannya, misalnya pada saat proses masak di dapur.
c. Bising Spesifik
Bising yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan khusus, misalnya
pemasangan tiang pancang tol atau bangunan.
Menurut Subaris dan Haryono (2008) sumber bunyi dilihat dari
sifatnya dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Sumber kebisingan statis seperti pabrik, mesin, tape dan lain-lain.
2) Sumber kebisingan dinamis seperti mobil, pesawat terbang,
kapal laut dan lainnya.
3. Jenis Kebisingan
Menurut (Sumamur, 2009) berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi
bunyi, bising dibagi atas :
a. Kebisingan menetap berkelanjutan tanpa putus-putus dengan
spektrum frekuensi yang lebar (steady state, wide band noise),
misalnya bising mesin, kipas angin, dapur pijar dan lain-lain.
b. Kebisingan menetap berkelanjutan dengan spektrum frekuensi

tipis (steady state, narrow band noise), misalnya bising gergaji


sirkuler, katup gas dan lain-lain.
c. Kebisingan terputus-putus (intermittent noise), misalnya bising
lalu- lintas suara kapal terbang di bandara.
d. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise), seperti bising
pukulan palu, tembakan bedil atau meriam dan ledakan.
e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya bising mesin tempa di
perusahaan atau tempaan tiang pancang bangunan.
Menurut Sihar Tigor B.T (2005) klasifikasi kebisingan di tempat
kerja dibagi dalam dua jenis golongan besar, yaitu :
a. Kebisingan tetap (steady noise), yang terbagi menjadi dua yaitu :
1) Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency
noise), berupa nada-nada murni pada frekuensi yang
beragam.
2) Broad band noise, kebisingan yang terjadi pada frekuensi terputus
yang lebih bervariasi (bukan nada murni)
b. Kebisingan tidak tetap (unsteady noise), yang terbagi menjadi tiga
yaitu :
1) Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise), kebisingan yang selalu
berubah-ubah selama rentang waktu tertentu.
2) Intermittent noise, kebisingan yang terputus-putus dan besarnya
dapat berubah-ubah, contoh kebisingan lalu lintas.
3) Impulsive noise, dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi
(memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat, misalnya
suara ledakan senjata api.
4. Tingkat Kebisingan
Terdapat dua karakterisitik utama yang menentukan kualitas
suatu bunyi atau suara, yaitu frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi
dinyatakan dalam jumlah getaran per detik dengan satuan Herz (Hz),
yaitu jumlah gelombang bunyi yang sampai di telinga setiap detiknya.
Sesuatu

benda jika bergetar menghasilkan bunyi atau suara dengan

frekuensi

tertentu yang merupakan ciri khas dari benda tersebut.

Biasanya suatu kebisingan terdiri atas campuran sejumlah gelombang


sederhana dari aneka frekuensi. Nada suatu kebisingan ditentukan oleh
frekuensi getaran sumber bunyi (Sumamur,2009).
Intensitas atau arus energi per satuan luas biasanya dinyatakan
dalam suatu satuan logaritmis yang disebut desibel (dB) dengan
memperbandingkannya dengan kekuatan standar 0,0002 dine (dyne)
/cm2 yaitu kekuatan bunyi dengan frekuensi 1000 Hz yang tepat
didengar oleh telinga normal (Sumamur,2009).
Karena ada kisaran sensitivitas, telinga dapat mentoleransi
bunyi- bunyi yang lebih keras pada frekuensi yang lebih rendah
dibanding pada frekuensi tinggi. Kisaran kurva-kurva pita oktaf
dikenal sebagai kurva tingkat kebisingan (NR = noise rating) pernah
dibuat untuk menyatakan analisis pita oktaf yang dianjurkan pada
berbagai situasi. Kurva bising yang diukur yang terletak dekat di atas
pita analisis menyatakan NR kebisingan tersebut (Harrington dan Gill,
2005). Menurut SK Dirjen P2M dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman Departemen Kesehatan RI Nomor 70-1/PD.03.04.Lp,
(Petunjuk Pelaksanaan

Pengawasan

Kebisingan

yang

Berhubungan dengan Kesehatan Tahun 1992, 1994/1995), tingkat


kebisingan diuraikan sebagai berikut :
a. Tingkat kebisingan sinambung setara (Equivalent Continuous
Noise Level=Leq) adalah tingkat kebisingan terus menerus (steady
noise) dalam ukuran dB (A), berisi energi yang sama dengan
energi kebisingan terputus-putus dalam satu periode atau interval
waktu pengukuran.
b. Tingkat kebisingan yang dianjurkan dan maksimum yang
diperbolehkan adalah rata-rata nilai modus dari tingkat kebisingan
pada siang, petang dan malam hari.
c. Tingkat ambien kebisingan (Background noise level) atau tingkat
latar belakang kebisingan adalah rata-rata tingkat suara minimum

dalam keadaan tanpa gangguan kebisingan pada tempat dan saat


pengukuran dilakukan, jika diambil nilainya dari distribusi statistik
adalah 95% atau L-95.
5. Pengukuran Kebisingan
Menurut Sumamur, 2009 maksud pengukuran kebisingan adalah:
a. Memperoleh data tentang frekuensi dan intensitas kebisingan di
perusahaan atau di mana saja.
b. Menggunakan data hasil pengukuran kebisingan untuk mengurangi
intensitas kebisingan tersebut, sehingga tidak menimbulkan
gangguan dalam rangka upaya konservasi pendengaran tenaga
kerja, atau perlindungan masyarakat atau tujuan lainnya.
Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah Sound Level
Meter. Alat ini mengukur kebisingan pada intensitas 30-130 dB dan
dari frekuensi 20-20.000 Hz. Suatu sistem kalibrasi terdapat dalam
alat itu sendiri, kecuali untuk kalibrasi mikrofon diperlukan
pengecekan dengan kalibrasi tersendiri. Sebagai alat kalibrasi dapat
dipakai pengeras suara yang kekuatan suaranya dapat diatur oleh
amplifier atau suatu piston phone dibuat untuk maksud kalibrasi
tersebut, yang tergantung dari tekanan udara, sehingga perlu koreksi
berdasarkan atas perbedaan tekanan barometer. Kalibrator dengan
intensitas tinggi (125 dB) lebih disukai, oleh karena alat pengukur
intensitas kebisingan demikian mungkin dipakai untuk mengukur
kebisingan yang intensitasnya tinggi (Sumamur, 2009).
Sebagaimana telah dinyatakan untuk mengukur intensitas dan
menentukan frekuensi kebisingan diperlukan peralatan khusus yang
berbeda bagi jenis kebisingan dimaksud. Jika tujuan dari pengukuran
kebisingan hanya untuk mengendalikan kebisingan, seperti misalnya
untuk melakukan isolasi mesin atau pemasangan perlengkapan
dinding yang mengabsorbsi suara atau pemilihan alat pelindung
telinga, pengukuran tidak perlu selengkap sebagaimana dimaksudkan
dalam rangka lokalisasi secara tepat sumber kebisingan pada suatu

mesin

dengan

tujuan

memodifikasi

mesin

tersebut,

melalui

pembuatan desain yang dipakai dasar konstruksi bentuk mesin dengan


tingkat kebisingan (Sumamur, 2009).
Faktor lainnya yang menentukan pemilihan

alat

pengukur

kebisingan adalah tersedianya tenaga pelaksana untuk melakukan


pengukuran terhadap kebisingan dan juga waktu yang dialokasikan untuk
hal tersebut. Sebagaimana sering dialami kenyataan

bahwa

lebih

disenangi pengumpulan data tentang kebisingan secara merekamnya


(recording) yang kemudian data rekaman dibawa ke laboratorium untuk
dilakukan analisis (Sumamur, 2009).
Survei pendahuluan masalah kebisingan menetap berkelanjutan,
biasanya diukur intensitas menyeluruh yang dinyatakan dengan dB (A),
pengukuran intensitas menyeluruh demikian menggunakan jaringan A
dari Sound Level Meter. Menggunakan jaringan tersebut berarti bahwa
kepekaan alat pengukur kebisingan sesuai dengan garis kepekaan sama
yaitu 40 dB, sehingga tidak memberi reaksi kepada intensitas kebisingan
rendah, melainkan memungkinkan diukurnya intensitas kebisingan tinggi
berbahaya kepada alat pendengaran (Sumamur, 2009).
6. Nilai Ambang Batas (NAB) intensitas kebisingan.
Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan sebagai faktor bahaya
di tempat kerja adalah standar faktor tempat kerja yang dapat
diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan
kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8
(delapan) jam sehari dan 5 (lima) hari kerja seminggu atau 40
jam seminggu (KEPMENAKER PER.13/MEN/X/2011).
Nilai Ambang Batas kebisingan adalah intensitas suara
tertinggi yang merupakan nilai rata- rata yang masih dapat diterima
tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang
menetap untuk waktu kerja 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Sesuai
dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER.13/MEN/X/2011,
tanggal 16 april 1999 tentang nilai ambang batas kebisingan ditempat

kerja adalah 85 dB (A), dan merupakan standar dalam Standar


Nasional Indonesia (SNI) 16-7063-2004 Nilai Ambang Batas iklim
kerja (panas), kebisingan, getaran tangan-lengan dan radiasi sinar
ultra ungu di tempat kerja. SNI dimaksud juga memberikan informasi
tentang pengendalian kebisingan yang dilakukan sehubungan dengan
tingkat paparan sebagaimana substansinya dimuat pada Tabel 1 yang
mengatur lamanya waktu paparan terhadap tingkat intensitas
kebisingan (Sumamur, 2009).
Standar kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga
Kerja RI No. PER.13/MEN/X/2011 adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan di Tempat Kerja
Waktu Pemaparan
8 Jam
4 Jam
2 Jam
1 Jam
30 Menit
15 Menit
7,5 Menit
3,75 Menit
1,88 Menit
0,94 Menit
28,12 Detik
14,06 Detik
7,03 Detik
3,52 Detik
1,76 Detik
0,88 Detik
0,44 Detik
0,23 Detik
0,11 Detik
Sumber : Surat

Intensitas Kebisingan (dB)

Keputusan

85
88
91
94
97
100
103
106
109
112
115
118
121
124
127
130
133
136
139
Menteri Tenaga

Kerja

RI

No.

PER.13/MEN/X/2011 Keterangan : Tidak boleh terpajan lebih dari 140


dBA, walaupun sesaat.
7. Pengaruh Kebisingan
Menurut

Tarwaka,

dkk

kebisingan secara umum dapat

(2004)

pengaruh

pemaparan

dikategorikan menjadi dua

yang

didasarkan pada tinggi rendahnya intensitas kebisingan dan lamanya


waktu

pemaparan.

Pertama,

pengaruh

pemaparan

kebisingan

intensitas tinggi (di atas NAB) dan kedua, adalah pengaruh pemaparan
kebisingan intensitas rendah (di bawah NAB).
a. Pengaruh kebisingan intensitas tinggi
1) Pengaruh pemaparan kebisingan intensitas tinggi (di atas NAB)
adalah terjadinya kerusakan pada indera pendengaran yang
dapat menyebabkan penurunan daya dengar baik yang bersifat
sementara maupun bersifat permanen atau ketulian. Sebelum
terjadi kerusakan pendengaran yang permanen, biasanya
didahului dengan pendengaran yang bersifat sementara yang
dapat mengganggu kehidupan yang bersangkutan baik di tempat
kerja maupun di lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya.
2) Pengaruh

kebisingan

akan

sangat

terasa

apabila

jenis

kebisingannya terputus-putus dan sumbernya tidak diketahui.


3) Secara fisiologis, kebisingan dengan intensitas tinggi dapat
menyebabkan gangguan kesehatan seperti, meningkatnya
tekanan darah dan denyut jantung, risiko serangan jantung
meningkat, gangguan pencernaan.
4) Reaksi masyarakat, apabila kebisingan akibat suatu proses
produksi demikian hebatnya sehingga masyarakat sekitarnya
protes menuntut agar kegiatan tersebut dihentikan dll.
b. Pengaruh kebisingan intensitas rendah
Tingkat intensitas kebisingan rendah atau di bawah NAB
banyak ditemukan di lingkungan kerja seperti perkantoran, ruang
administrasi perusahaan dll. Intensitas kebisingan yang masih di
bawah NAB tersebut secara fisiologis tidak menyebabkan
kerusakan pendengaran. Namun demikian, kehadirannya sering
dapat menyebabkan penurunan performansi kerja, sebagai salah
satu penyebab stres dan gangguan kesehatan lainnya. Stres yang
disebabkan karena pemaparan kebisingan dapat menyebabkan

terjadinya kelelahan dini, kegelisahan dan depresi. Secara spesifik


stres karena kebisingan tersebut dapat menyebabkan antara lain :
1) Stres menuju keadaan cepat marah, sakit kepala dan gangguan
tidur.
2) Gangguan reaksi psikomotor.
3) Kehilangan konsentrasi.
4) Gangguan komunikasi antara lawan bicara.
5) Penurunan performansi kerja yang kesemuanya itu akan
bermuara pada kehilangan efisiensi dan produktivitas.
Menurut Depnakertrans R.I., 2009 Pengaruh kebisingan
pada tenaga kerja adalah adanya gangguan- gangguan seperti
dibawah ini:
1) Gangguan fisiologis
Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula
timbul akibat bising. Dengan kata lain fungsi pendengaran
secara fisiologis dapat terganggu. Pembicaraan atau instruksi
dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas sehingga
dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pembicara terpaksa
berteriak-teriak,

selain

memerlukan

tenaga

ekstra

juga

menimbulkan kebisingan. Kebisingan juga dapat mengganggu


cardiac out put dan tekanan darah. Contoh gangguan fisiologis :
naiknya tekanan darah, nadi menjadi cepat, emosi meningkat,
vasokontriksi pembuluh darah (semutan), otot menjadi tegang
atau metabolisme tubuh meningkat. Menurut Sarwono, dkk
(2002) semua hal ini sebenarnya merupakan mekanisme daya
tahan tubuh manusia terhadap keadaan bahaya secara spontan.
2) Gangguan psikologis
Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan
gangguan psikologis. Suara yang tidak dikehendaki dapat
menimbulkan stres, gangguan jiwa, sulit konsentrasi dan
berfikir dan lain-lain. Menurut Budiono, dkk (2003) pengaruh

kebisingan
kenyamanan

terhadap

tenaga

dalam

bekerja,

kerja

adalah

mengurangi

mengganggu

komunikasi,

mengganggu konsentrasi, dan menurut Sarwono, dkk (2002)


kebisingan dapat mengganggu pekerjaan dan menyebabkan
timbulnya kesalahan karena tingkat kebisingan yang kecil pun
dapat mengganggu konsentrasi sehingga muncul sejumlah
keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk
melakukan aktivitas. Kebisingan mengganggu perhatian tenaga
kerja yang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap suatu
proses produksi atau hasil serta dapat membuat kesalahankesalahan akibat terganggunya konsentrasi. Kebisingan yang tidak
terkendalikan dengan baik juga dapat menimbulkan efek lain yang
salah satunya berupa meningkatnya kelelahan tenaga kerja
(Sumamur, 2009).
3) Gangguan patologis organis
Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalah
pengaruhnya terhadap alat pendengaran atau telinga, yang dapat
menimbulkan ketulian yang bersifat sementara hingga permanen.
Menurut Budiono, dkk (2003) kebisingan dapat menurunkan daya
dengar dan tuli akibat kebisingan. Pengaruh utama dari kebisingan
kepada kesehatan adalah kerusakan pada indera-indera pendengar
yang menyebabkan ketulian progresif. Pemulihan terjadi secara
cepat sesudah dihentikan kerja di tempat bising untuk efek
kebisingan sementara (Sumamur,2009).
Ditempat kerja, tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh
mesin dapat merusak pendengaran dan dapat pula menimbulkan
gangguan kesehatan (tingkat kebisingan 80 s/d 90 dB (A) atau
lebih dapat membahayakan

pendengaran). Seseorang yang

terpapar kebisingan secara terus menerus dapat menyebabkan


dirinya menderita ketulian. Menurut Sarwono, dkk (2002) ketulian
akibat kebisingan yang ditimbulkan akibat pemaparan terus

menerus dibagi menjadi dua yaitu :


1) Temporari deafness, yaitu kehilangan pendengaran sementara.
2) Permanent deafness, yaitu kehilangan pendengaran secara
permanen atau disebut ketulian saraf. Pada pekerja permanent
deafness harus dapat dikompensasi oleh jamsostek atau
rekomendasi dari dokter pemeriksa kesehatan
Menurut Tambunan (2005) secara umum tingkat bahaya
yang ditimbulkan oleh kebisingan bagi pekerja dipengaruhi oleh
beberapa hal, seperti :
1) Intensitas dan frekuensi kebisingan.
2) Jenis kebisingan (steady atau non steady noise).
3) Waktu kontak harian dan tahunan (exposure duration).
4) Umur pekerja.
5) Penyakit-penyakit atau ketidaksempurnaan pendengaran pada
pekerja (yang bukan disebabkan oleh kebisingan).
6) Kondisi lingkungan seperti angin, suhu, kelembaban udara di
mana bahaya kebisingan tersebut berada.
7) Jarak antara pekerja dan sumber kebisingan.
8) Posisi telinga terhadap gelombang suara (kebisingan)
8. Rencana dan langkah pengendalian kebisingan
Menurut Tarwaka, dkk (2004) sebelum dilakukan langkah
pengendalian, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
membuat rencana pengendalian yang didasarkan pada hasil penilaian
kebisingan dan dampak yang ditimbulkan. Rencana pengendalian
dapat dilakukan dengan pendekatan melalui perspektif manajemen
risiko kebisingan. Manajemen risiko yang dimaksud adalah suatu
pendekatan yang logik dan sistemik untuk mengendalikan risiko yang
mungkin timbul. Langkah manajemen risiko kebisingan tersebut
adalah :
a. Mengidentifikasi sumber-sumber kebisingan yang ada di tempat
kerja yang berpotensi menimbulkan penyakit atau cedera akibat

kerja.
b. Menilai risiko kebisingan yang berakibat serius terhadap penyakit
dan cedera akibat kerja.
c. Mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk mengendalikan
atau meminimalisasi risiko kebisingan.
Setelah rencana dibuat dengan seksama, langkah selanjutnya
adalah melaksanakan langkah pengendalian kebisingan dengan dua
arah pendekatan yaitu pendekatan jangka pendek (Short-term gain)
dan pendekatan jangka panjang (Long-term gain) dari hirarki
pengendalian. Pada pengendalian kebisingan dengan orientasi jangka
panjang, teknik pengendaliannya secara berurutan adalah eliminasi
sumber kebisingan, pengendalian secara teknik, pengendalian secara
administrative

dan

terakhir

penggunaan

alat

pelindung

diri.

Sedangkan untuk orientasi jangka pendek adalah sebaliknya secara


berurutan.
a. Eliminasi sumber kebisingan
1) Pada teknik eliminasi ini dapat dilakukan dengan penggunaan
tempat kerja atau pabrik baru sehingga biaya pengendalian
dapat diminimalkan.
2) Pada tahap tender mesin-mesin yang akan dipakai, harus
mensyaratkan

maksimum

intensitas

kebisingan

yang

dikeluarkan dari mesin baru.


3) Pada

tahap pembuatan pabrik dan pemasangan mesin,

konstruksi bangunan harus dapat meredam kebisingan serendah


mungkin dll.
b. Pengendalian Kebisingan Secara Teknik
1) Pengendalian kebisingan pada sumber suara.
Penurunan

kebisingan

pada

sumber

suara

dapat

dilakukan dengan menutup mesin atau mengisolasi mesin


sehingga terpisah dengan pekerja. Teknik ini dapat dilakukan
dengan mendesain mesin memakai remote control. Selain itu

dapat dilakukan redesain landasan mesin dengan bahan anti


getaran. Namun demikian teknik ini memerlukan biaya yang
sangat besar sehingga dalam prakteknya sulit diimplementasikan.
2) Pengendalian kebisingan

pada

bagian transmisi kebisingan.

Apabila teknik pengendalian pada sumber suara sulit


dilakukan, maka teknik berikutnya adalah dengan memberi
pembatas atau sekat antara mesin dan pekerja. Cara lain adalah
dengan menambah atau melapisi dinding, plafon dan lantai
dengan bahan penyerap suara. Menurut Tarwaka, dkk (2004)
cara tersebut dapat mengurangi kebisingan antara 3-7 dB.
c. Pengendalian Kebisingan Secara Administratif
Apabila

teknik

pengendalian

memungkinkan untuk dilakukan,

secara

maka

teknik

belum

langkah selanjutnya

adalah merencanakan teknik pengendalian secara administratif.


Teknik pengendalian ini lebih difokuskan pada manajemen
pemaparan. Langkah yang dapat ditempuh adalah dengan
mengatur rotasi kerja antara tempat yang bising dengan tempat
yang lebih nyaman yang didasarkan pada intensitas kebisingan yang
diterima pada tabel 1.
d. Pengendalian Kebisingan Pada Penerima atau Pekerja
Teknik ini merupakan langkah terakhir apabila seluruh
teknik pengendalian di atas (eliminasi, pengendalian teknik dan
administratif) belum memungkinkan untuk dilaksanakan. Jenis
pengendalian ini dapat dilakukan dengan pemakaian alat pelindung
telinga (tutup atau sumbat telinga). Menurut Tarwaka, dkk (2004)
pemakaian sumbat telinga dapat mengurangi kebisingan sebesar
30 dB, sedangkan tutup telinga dapat mengurangi kebisingan
sedikit lebih besar yaitu antara 40-50 dB. Pengendalian kebisingan
pada penerima ini telah banyak ditemukan di perusahaanperusahaan, karena secara sekilas biayanya relatif lebih murah.
Namun demikian banyak ditemukan kendala dalam pemakaian

tutup atau sumbat telinga seperti, tingkat kedisiplinan pekerja,


mengurangi kenyamanan kerja, mengganggu pembicaraan dll.
Berikut adalah alat pelindung telinga menurut Tarwaka (2008) :
1) Sumbat telinga (Ear plug)
Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu dan
bahkan untuk kedua telinga dari orang yang sama adalah
berbeda. Untuk itu ear plug harus dipilih sedemikian rupa
sehingga sesuai dengan ukuran dan bentuk saluran telinga
pemakainya. Pada umumnya diameter saluran telinga antara 511 mm dan liang telinga pada umumnya berbentuk lonjong dan
tidak lurus. Ear plug dapat terbuat dari kapas, plastik, karet
alami dan bahan sintetis. Untuk ear plug yang terbuat dari
kapas, spon dan malam (wax) hanya dapat digunakan untuk
sekali pakai (Disposable). Sedangkan yang terbuat dari bahan
karet dan plastik yang dicetak (Molded rubber/plastic) dapat
digunakan berulang kali (Non Disposable). Alat ini dapat
mengurangi suara sampai 20 dB (A).
2) Tutup Telingan (Ear muff)
Alat pelindung telinga jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah
tutup telinga dan sebuah headband. Isi dari tutup telinga dapat
berupa cairan atau busa yang berfungsi untuk menyerap suara
frekuensi tinggi. Pada pemakaian untuk waktu yang cukup
lama,

efektivitas

ear

muff

dapat

menurunkan

karena

bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai akibat


reaksi dari bantalan dengan minyak dan keringat pada
permukaan kulit. Alat ini dapat mengurangi intensitas suara
sampai 30 dB (A) dan juga dapat melindungi bagian luar telinga
dari benturan benda keras atau percikan bahan kimia.
Menurut Tarwaka (2008) perlu di perhatikan beberapa
kriteria di dalam pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri
sebagai berikut :

1) Alat pelindung diri harus mampu memberikan perlindungan


efektif kepada pekerja atas potensi bahaya yang dihadapi di
tempat kerja.
2) Alat pelindung diri mempunyai berat yang seringan mungkin,
nyaman dipakai dan tidak merupakan beban tambahan bagi
pemakainya.
3) Bentuknya cukup menarik, sehingga pekerja tidak malu
memakainya.
4) Tidak menimbulkan gangguan kepada pemakainya, baik karena
jenis bahayanya maupun kenyamanan dalam pemakaian.
5) Mudah untuk dipakai dan dilepas kembali.
6) Tidak mengganggu penglihatan, pendengaran dan pernafasan
serta gangguan kesehatan lainnya pada waktu dipakai dalam
waktu yang cukup lama.
7) Tidak mengurangi persepsi sensori dalam menerima tandatanda peringatan.
8) Suku cadang alat pelindung diri yang bersangkutan cukup
tersedia dipasaran.
9) Mudah disimpan dan dipelihara pada saat tidak digunakan.
10) Alat pelindung diri yang dipilih harus sesuai standar yang
ditetapkan
Di samping pemenuhan terhadap kriteria-kriteria tersebut,
pekerja juga harus terus-menerus diberikan penyadaran, diberikan
instruksi baik secara tertulis maupun lisan tentang kapan dan dalam
keadaan bagaimana alat pelindung diri wajib dipakai. Penyadaran
melalui tulisan atau gambar dan poster tentang kewajiban memakai
alat pelindung diri yang dipasang di tempat-tempat kerja juga
sangat baik untuk mengingatkan pekerja (Tarwaka, 2008).

B. Tekanan Panas
1. Pengertian Tekanan Panas
Tekanan panas adalah kombinasi suhu udara, kelembaban
udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Selama aktivitas pada
lingkungan panas, tubuh secara otomatis akan memberikan reaksi
untuk memelihara suatu kisaran panas lingkungan yang konstan
dengan menyeimbangkan antara panas yang diterima dari luar tubuh
dengan kehilangan panas dalam tubuh. Lingkungan kerja panas terdiri
dari unsur suhu udara (kering dan basah), kelembaban nisbi, panas
radiasi dan kecepatan gerak udara (Sumamur, 2009).
2. Sumber Panas Lingkungan Kerja
Di dalam industri lingkungan kerja fisik khususnya panas
lingkungan memegang peranan penting, oleh karena itu lingkungan
kerja harus diciptakan lebih nyaman supaya didapatkan efisiensi kerja
dan peningkatan produktivitas. Pada dasarnya ada 3 sumber panas yang
penting (Sumamur,2009) yaitu :
a. Iklim kerja adalah keadaan suhu panas udara ditempat kerja yang
ditentukan oleh faktor-faktor keadaan antara lain, suhu udara,
kelembaban udara, kecepatan gerak udara, suhu radiasi.
b. Proses produksi dan mesin akan mengeluarkan panas secara nyata
sehingga lingkungan kerja menjadi lebih panas.
c. Kerja otot tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya
memerlukan energi yang diperoleh dari bahan nutrisi yaitu
karbohidrat, lemak, protein, dan oksigen yang diperlukan dalam
proses oksidasi untuk menghasilkan energi yang merupakan panas
yang disebut metabolisme.
3. Pertukaran Panas Tubuh Dengan Lingkungan Sekitar
Menurut Sumamur (2009) ada beberapa cara pertukaran
panas tubuh dengan lingkungan sekitarnya maupun panas dari
lingkungan terhadap tubuh antara lain :

a. Konduksi
Konduksi adalah pertukaran panas diantara tubuh dan
benda sekitar dengan melalui mekanisme sentuhan atau kontak
langsung. Konduksi dapat menghilangkan panas dari tubuh apabila
benda-benda di sekitar rendah suhunya, dan dapat menambah
panas kepada tubuh, apabila suhunya lebih tinggi dari tubuh.
b. Konveksi
Konveksi adalah pertukaran panas dari badan dan
lingkungan melalui kontak udara dengan tubuh. Udara adalah
penghantar panas yang kurang begitu baik, tetapi melalui kontak
dengan tubuh dapat terjadi pertukaran panas antara udara dengan
tubuh. Tergantung dari suhu udara dan kecepatan angin, konveksi
memainkan besarnya peran dalam pertukaran panas antara tubuh
dengan lingkungan. Konveksi dapat mengurangi atau menambah
panas kepada tubuh.
c. Radiasi
Pertukaran

panas

secara

radiasi

adalah

mekanisme

kehilangan panas tubuh dalam bentuk tenaga elektromagnetik yang


panjang gelombangnya lebih panjang dari sinar matahari. Setiap
benda termasuk tubuh manusia selalu memancarkan gelombang
panas. Tergantung dari suhu benda-benda sekitar, tubuh menerima
atau kehilangan panas lewat mekanisme radiasi.
d. Penguapan (Evaporasi)
Pertukaran

panas

secara

radiasi

adalah

mekanisme

kehilangan panas tubuh dalam bentuk tenaga elektromagnetik yang


panjang gelombangnya lebih panjang dari sinar matahari. Setiap
benda termasuk tubuh manusia selalu memancarkan gelombang
panas. Tergantung dari suhu benda-benda sekitar, tubuh menerima
atau kehilangan panas lewat mekanisme radiasi.

4. Parameter Tekanan Panas


Untuk mengetahui keadaan lingkungan kerja dalam hubungan
dengan pengaruh tekanan panas perlu dilakukan pengukuran dengan
menyatakan berbagai

faktor

yang

mempengaruhi

pertukaran

panas dengan lingkungannya ke dalam indeks tunggal. Terdapat


beberapa cara untuk menempatkan besarnya tekanan panas berikut
(Sumamur,2009) :
a. Suhu efektif
Suhu efektif yaitu indeks sensoris dari tingkat panas yang
dialami oleh seseorang tanpa baju dan bekerja enteng dalam
berbagai kombinasi suhu, kelembaban dan kecepatan aliran udara.
Kelemahan

penggunaan

suhu

efektif

adalah

tidak

memperhitungkan panas metabolisme tubuh sendiri. Untuk


penyempurnaan pemakaian suhu efektif dengan memperhatikan
panas radiasi, dibuatlah skala Suhu Efektif Dikoreksi (Corected
Evectife Temperature Scale).
b. Indeks kecepatan keluar keringat selama 4 jam (Predicted-4 Hour
Sweetrate)
Indeks kecepatan keluar keringat selama 4 jam yaitu
keringat keluar selama 4 jam, sebagai akibat kombinasi suhu,
kelembaban dan kecepatan aliran udara serta panas radiasi, dapat
pula dikoreksi dengan pakaian dan tingkat kegiatan pekerjaan.
c. Indeks Belding-Heatch (Heat Stress Index)
Indeks Belding-Heatch (Heat Stress Index) adalah standar
kemampuan berkeringat dari seseorang yaitu seseorang muda
dengan tinggi 170 cm dan berat 154 pond dalam keadaan sehat dan
memiliki kesehatan jasmani, serta beraklimatisasi terhadap panas.
Dalam lingkungan panas, efek pendinginan dari penguapan
keringat adalah terpenting untuk keseimbangan termis, maka
Belding dan Heatch mendasarkan indeksnya atas perbandingan

banyaknya keringat yang dikeluarkan untuk mengimbangi panas


dan kapasitas maksimal tubuh untuk berkeringat.
d. ISBB (Indeks Suhu Basah dan Bola)
ISBB merupakan cara pengukuran yang paling sederhana
karena tidak banyak membutuhkan keterampilan, cara atau metode
yang tidak sulit dan besarnya tekanan panas dapat ditentukan dengan
cepat. Indeks ini digunakan sebagai cara penilaian terhadap
tekanan panas dengan rumus:
1) ISBB Outdoor = (0,7 suhu basah) + (0,2 suhu radiasi) + (0,1
suhu kering).
2) ISBB Indoor = (0,7 suhu basah alami) + (0,3 suhu
radiasi). (Sumamur,1996)
Nilai Ambang Batas untuk Indeks Suhu Basah dan Bola
(ISBB) tekanan panas lingkungan kerja yang diperkenankan,
tergantung dari pengaturan waktu kerja dan beban kerja yang
berdasarkan pengukuran denyut nadi, menurut Keputusan Menteri
Tenaga Kerja RI No. PER.13/MEN/X/2011 adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan
Bola (ISBB)
Variasi

ISBB C Kerja
Kerja Ringan Kerja Sedang Kerja Berat

Kerja terus menerus

31,0

28,0

Kerja 75%
Istirahat 25%

31,0

29,0

27,5

Kerja 50%
istirahat 50%

32,0

30,0

29,0

Kerja 25%
istirahat75%

32,0

31,1

30,5

Sumber

Keputusan

PER.13/MEN/X/2011

Menteri

Tenaga

Kerja

RI

No.

Peralatan modern yang digunakan untuk mengukur ISBB


adalah

Area

Heat

Stress

Monitor.

Dimana

alat

tersebut

dioperasikan secara digital yang meliputi parameter suhu basah,


suhu kering, suhu radiasi dan ISBB atau WBGT in dan WBGT out
yang hasilnya tinggal membaca pada alat dengan menekan tombol
operasional dalam satuanC atau F. Pada waktu pengukuran alat
ditempatkan sekitar sumber panas dimana pekerja melakukan
pekerjaannya (Tarwaka dkk, 2004).
Selain alat tersebut, terdapat alat ukur ISBB yang lebih
modern seperti Questtemp Heat Stress Monitor. Alat tersebut
dioperasikan secara digital yang meliputi parameter suhu basah,
suhu kering, suhu radiasi dan ISBB yang hasilnya tinggal
membaca pada alat dengan menekan tombol operasional dalam
satuan C dan F. Pada waktu pengukuran alat ditempatkan
disekitar sumber panas dimana pekerja melakukan pekerjaannya.
Dari

hasil pengukuran ISBB tersebut. Selanjutnya disesuaikan

dengan beban kerja yang diterima pekerja dan kriteria waktu kerja
serta istirahat, dalam pengaturan dapat menggunakan aturan
menurut

Keputusan

Menteri

Tenaga

Kerja

RI

No.

PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Iklim Kerja


ISBB (Tarwaka dkk, 2004).
5. Suhu Nikmat Kerja
Suhu nikmat kerja adalah suhu yang diperlukan seseorang
agar dapat bekerja secara nyaman. Suhu nikmat kerja berkisar antara
24C- 26C bagi orang Indonesia. Orang Indonesia pada umumnya
beraklimatisasi dengan iklim tropis yang suhunya sekitar 29C-30C
dengan kelembaban 85%-95%. Aklimatisasi terhadap panas berarti
suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang selama satu
minggu pertama berada di tempat kerja. Setelah minggu pertama
berada di tempat panas tenaga kerja mampu bekerja tanpa pengaruh
tekanan panas. Hal ini tergantung dari aklimatisasi setiap individu

yang dilihat dari beban kerja sehingga diperlukan variasi kerja sesuai
Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER.13/MEN/X/2011
(Sumamur,2009).
Keputusan Menteri Tenaga Kerja tersebut diadopsi dari
WBGT (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang merupakan suatu
indeks atau alat ukur untuk memperkirakan efek suhu, kelembaban
dan radiasi matahari pada manusia, yang dikeluarkan oleh ACGIH
(American

Conference

of

Govermentan

Industrial

Hygienist)

organisasi sosial profesional non pemerintah dari Amerika Serikat


yang bergerak dalam bidang Kesehatan Kerja dan Lingkungan Kerja
ditetapkan sebagai NAB (Nilai Ambang Batas) untuk tekanan panas.
Pengertian dari NAB sendiri adalah standar faktor tempat kerja yang
dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau
gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak
melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu (Keputusan Menteri
Tenaga Kerja RI No. PER.13/MEN/X/201).
Tabel 3. Nilai Ambang Batas Iklim Kerja WBGT (Wet Bulb Globe
Temperature Index)

Work
Demand

100%
Work
75%
Work,
25% rest
50%
work
50% rest
25%
work
75% rest

29,5

27,5

26

27,5

Unacclimatized
(C)
Moderate Heavy Very
Heavy
25
22,5
-

30,5

28,5

27,5

29,5

26,5

24,5

31,5

29,5

28,5

27,5

30

28

26,5

25

32,5

31

30

29,5

31

29

28

26,5

Ligt

Acclimatized
(C)
Moderate
Heavy

Very
Heavy

Light

Sumber : American Conference of Govermentan Industrial Hygienist, 2005

6. Mekanisme dalam menghadapi panas


Manusia dapat mempertahankan suhu tubuhnya sendiri dari
kondisi lingkungannya yang selalu berubah-ubah dan diatur oleh
suatu sistem pengatur suhu, karena manusia termasuk makhluk
homotermis. Suhu menetap ini adalah akibat kesetimbangan diantara
panas yang dihasilkan di dalam tubuh sebagai akibat metabolisme dan
pertukaran panas tubuh dengan lingkungan sekitar (Sumamur,2009).
Bila suhu tubuh diturunkan terjadi vasodilatasi pembuluh
darah kulit, yang menyebabkan suhu kulit mendekati suhu tubuh.
Suhu tubuh manusia yang dapat diraba atau dirasakan tidak hanya
didapat dari metabolisme tetapi juga dipengaruhi oleh panas
lingkungan. Makin tinggi panas lingkungan, semakin besar pula
pengaruhnya terhadap suhu tubuh. Sebaliknya semakin rendah suhu
lingkungan, makin banyak pula panas tubuh yang hilang. Dengan
kata lain, terjadi pertukaran panas antara tubuh manusia yang didapat
dari metabolisme dengan tekanan panas yang dirasakan sebagai
kondisi panas lingkungan. Selama pertukaran ini seimbang dan serasi,
tidak akan menimbulkan gangguan, baik penampilan kerja maupun
kesehatan kerja (Depkes RI, 2003).
Menurut Sumamur 2009 ada 3 cara tubuh dalam menghadapi
panas, yaitu :
a. Pengaturan peredaran darah
Keadaan udara lingkungan yang panas maka akan terjadi
vasodilatasi pembuluh darah tepi dan vasokontraksi pembuluh
darah

dalam,

tetapi

di

lingkungan

dingin

akan

terjadi

vasokontraksi pembuluh darah tepi dan vasodilatasi pembuluh darah


dalam.
b. Dengan memproduksi keringat dan mekanisme penguapan
sehingga menyebabkan penurunan suhu tubuh.
c. Menggigil dimaksudkan suhu udara yang dingin dengan menggigil
akan menyebabkan metabolisme dan produksi panas akan

menurunkan laju metabolisme tubuh.


7. Gangguan Kesehatan Karena Pengaruh Tekanan Panas
Menurut Sumamur, 2009, jenis gangguan akibat tekanan panas yang
berlebihan sebagai berikut :
a. Heat Stroke
Jarang sekali terjadi dalam industri, namun bila terjadi
sangatlah hebat. Biasanya terjadi pada seorang laki-laki yang
bekerja berat dalam keadaan emosi dalam situasi yang sangat
panas dan belum beraklimatisasi sehingga produksi panas dalam
tubuh tinggi yang dapat terjadi dalam suhu diatas 30C, karena
orang Indonesia biasa bekerja pada suhu 24C-26C, dengan
kelembaban sekitar 85%-95%.
b. Heat Cramps
Di dalam lingkungan yang bersuhu tinggi, sebagai akibat
bertambahnya keringat yang keluar menyebabkan hilangnya garam
natrium dari tubuh, dan sebagai akibat banyak minum air, tetapi
tidak diberi garam natrium yang hilang bersama keringat yang
dapat menyebabkan dehidrasi.
c. Heat Exhaustian
Terjadi oleh karena cuaca kerja yang sangat panas, terutama bagi
mereka yang belum beraklimatisasi terhadap udara panas, dapat
terjadi karena berkeringat sangat banyak, sedangkan suhu badan
normal atau subnormal, tekanan darah menurun dan nadi lebih cepat.
d. Heat Syncope
Merupakan bentuk cidera panas yang paling ringan, dapat terjadi
karena terkena panas matahari secara langsung.
e. Dehidrasi
Suatu kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang
disebabkan oleh penggantian cairan yang tidak cukup maupun
karena gangguan kesehatan (Tarwaka dkk, 2004). Menurut
Grandjean (1988) jika suhu lingkungan meningkat, maka efek

fisiologis yang terjadi adalah : peningkatan kelelahan, peningkatan


denyut jantung, peningkatan tekanan darah, mengurangi aktivitas
organ pencernaan, sedikit peningkatan suhu inti dan peningkatan
tajam suhu shell (suhu kulit akan naik dari 32C ke 36-37C),
peningkatan aliran darah melalui kulit, dan peningkatan produksi
keringat yang menjadi berlebihan jika suhu kulit mencapai 34C
atau lebih.
8. Faktor yang mempengaruhi daya tahan tubuh tenaga kerja dalam
lingkungan kerja yang panas
Menurut Tarwaka, dkk (2004) faktor yang mempengaruhi daya tahan
tubuh tenaga kerja antara lain :
a. Umur
Daya tahan badan terhadap panas akan menurun pada umur
yang lebih tua. Orang yang lebih tua akan lamban keluar
keringatnya dibandingkan dengan orang muda, karena orang yang
lebih tua memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengembalikan
suhu tubuh menjadi normal setelah terpapar panas, karena denyut
nadi maksimal dari kapasitas kerja yang maksimal berangsurangsur menurun sesuai dengan bertambahnya umur.
b. Jenis Kelamin
Terdapat perbedaan kecil dalam kapasitas antara laki-laki
dan perempuan untuk berkeringat secara cukup, dalam iklim panas
tidak dapat beraklimatisasi secara baik seperti laki-laki. Seorang
wanita lebih tahan terhadap suhu dingin dari pada suhu panas. Hal
tersebut di sebabkan karena tubuh wanita mempunyai jaringan
dengan daya konduksi yang lebih tinggi terhadap panas bila di
bandingkan dengan laki-laki.
c. Masa Kerja
Lamanya

bekerja

seseorang

dari

pertama

dilakukannya penelitian pada sampel penelitian.


d. Aklimatisasi

bekerja

hingga

Aklimatisasi adalah penyesuaian diri seseorang terhadap


lingkungannya yang ditandai dengan penurunan detak nadi dan
suhu mulut atau suhu badan sebagai akibat pembentukan keringat.
Aklimatisasi ini ditujukan pada suatu pekerjaan dan suhu tertentu
sehingga bersifat khusus. Biasanya aklimatisasi terhadap panas
akan tercapai sesudah 2 minggu, sedangkan meningkatnya
pembentukan keringat tergantung pada kenaikan suhu badan.
9. Pengendalian Panas
Menurut Tarwaka, dkk (2004) pengendalian terhadap panas dapat
dilakukan dengan cara :
a. Isolasi terhadap sumber panas
Isolasi terhadap sumber panas adalah memisahkan sumber
panas dari tenaga kerja untuk mencegah terjadinya gangguan
kesehatan,

bertujuan

untuk

mencegah

keluarnya

panas

kelingkungan. Dapat dilakukan dengan cara membalut pipa-pipa


yang panas, menutup tangki-tangki yang berisi air panas sehingga
dapat mengurangi aliran panas yang timbul.
b. Tirai radiasi
Tirai radiasi adalah tirai atau penutup yang terbuat dari
lempengan alumunium, baja anti karet, atau dari bahan metal yang
permukaannya mengkilat, bertujuan untuk mencegah terjadinya
efek radiasi dari bahan atau alat yang memicu terjadinya radiasi.
c. Ventilasi setempat
Ventilasi setempat adalah proses untuk meningkatkan
pergerakan udara dengan cara mengurangi temperatur dan
kelembaban. Bertujuan untuk mengendalikan panas konveksi yaitu
dengan menghisap keluar udara yang panas.
d. Pendinginan lokal
Pendinginan lokal adalah cara mengalirkan udara yang
sejuk ke sekitar pekerja dengan tujuan menggantikan udara yang
panas dengan udara yang sejuk dan dialirkan dengan kecepatan

tinggi.
e. Ventilasi umum
Ventilasi umum adalah cara yang digunakan untuk
mengendalikan suhu dan kelembaban udara yang tinggi tetapi
tidak dapat menanggulangi panas radiasi yang tinggi.
f. Pengaturan lama kerja
Pengaturan lama kerja adalah pembagian waktu kerja
sesuai dengan beban kerja yang diterima, bertujuan untuk
menghindari terjadinya gangguan kesehatan akibat terpapar suhu
udara yang tinggi.
C. Tekanan Darah
1. Pengertian Tekanan Darah
Tekanan darah adalah daya dorong ke semua arah pada
seluruh permukaan yang tertutup pada dinding bagian dalam jantung
dan pembuluh darah (Ethel, 2003).
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara
alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah
yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga
dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat
melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan
darah dalam satu hari juga berbeda, paling tinggi di waktu pagi hari
dan paling rendah pada saat tidur malam hari (Joyce dkk, 2008).
Tekanan darah sistolik adalah tekanan yang diturunkan sampai
suatu titik dimana denyut dapat dirasakan, sedangkan tekanan
diastolik adalah tekanan di atas arteri brakialis perlahan-lahan
dikurangi sampai bunyi jantung atau denyut arteri dengan jelas dapat
didengar dan titik dimana bunyi mulai menghilang. Perbedaan
tekanan antara sistole dan diastole disebut tekanan nadi dan
normalnya adalah 30-50 mmHg (Hull, 1986).
Aksi

pemompaan

jantung

memberikan

tekanan

yang

mendorong darah melewati pembuluh-pembuluh. Darah mengalir

melalui sistem pembuluh tertutup karena ada perbedaan tekanan atau


gradien tekanan antara ventrikel kiri dan atrium kanan (Ethel, 2003).
a. Tekanan ventrikular kiri berubah dari setinggi 120 mmHg saat
sistole sampai serendah 0 mmHg saat diastole.
b. Tekanan aorta berubah dari setinggi 120 mmHg saat sistole sampai
serendah 80 mmHg saat diastole. Tekanan diastolik tetap
dipertahankan dalam arteri karena efek lontar balik dari dinding
elastis aorta. Rata-rata tekanan aorta adalah 100 mmHg.
Perubahan tekanan sirkulasi sistemik. Darah mengalir dari
aorta (dengan tekanan 100 mmHg) menuju arteri (dengan perubahan
tekanan dari 100 ke 40 mmHg) ke arteriol (dengan tekanan 25 mmHg
di ujung arteri sampai 10 mmHg di ujung vena) masuk ke vena
(dengan perubahan tekanan dari 10 mmHg ke 5 mmHg) menuju vena
cava superior dan inferior (dengan tekanan 2 mmHg) dan sampai ke
atrium kanan (dengan tekanan 0 mmHg) (Ethel, 2003).
2. Penggolongan Tekanan Darah
a. Tekanan darah normal
Tekanan darah normal bila tekanan darah sistolik menunjukkan
kurang dari 140 mmHg dan diastolik kurang dari 90 mmHg
(Guyton dan Hull, 2008).
Nilai tekanan darah normal berdasarkan umur :
1) Pada usia 15-29 tahun : sistolik 90-120 mmHg, diastolik 60-80
mmHg.
2) Pada usia 30-49 tahun : sistolik 110-140 mmHg, diastolik 70-90
mmHg.
3) Pada usia >50 tahun : sistolik 120-150 mmHg, diastolik 70-90
mmHg (Woro, 1999).
Menurut Evelyn (2007), standar nilai tekanan darah normal pada
seseorang adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Standar Tekanan Darah Normal


No.
Usia
1
Pada masa bayiUsia
2
Pada masa anak
3
Masa remaja
4
Dewasa muda
5
Lebih tua
Sumber : Evelyn, 2007

Diastole
50
60
60
60-70
80-90

Sistole
70-90
80-100
90-110
110-125
130-150

b. Tekanan darah rendah


Seseorang dikatakan mempunyai tekanan darah rendah bila
tekanan darah untuk yang normal tetap di bawah 100/60 mmHg,
tekanan sistolik kurang dari 100 mmHg dan diastolik kurang dari
60 mmHg (Watson, 2002).
c. Tekanan darah tinggi
Catatan tekanan darah untuk yang normal tetap di atas 100/90
mmHg, tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih
dari 90 mmHg (Watson, 2002).
Berikut adalah tabel untuk kategori tekanan darah :
Tabel 5. Tabel Kategori Tekanan Darah
Tekanan Darah

Tekanan Darah Sistolik


( angka bacaan di atas)
mmHg
Di bawah 120
120-139

Normal
Pre-Hipertensi
Darah Tinggi atau
140-159
Hipertensi (Stadium 1)
Darah Tinggi atau
Hipertensi (Stadium 2
Di atas 160
atau berbahaya)
Sumber : Joint National Committe-VII, 2003

Tekanan Darah Distolik


(angka bacaan di bawah)
mmHg
Di bawah 80
80-89
90-99
Di atas 100

3. Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah


Beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah, yaitu :
a. Olahraga

Respon fisiologis terhadap olahraga adalah meningkatnya


curah jantung yang akan disertai meningkatnya distribusi oksigen
ke bagian tubuh yang membutuhkan, sedangkan pada bagianbagian

yang

kurang

memerlukan

oksigen

akan

terjadi

vasokonstriksi, misal traktus digestivus. Meningkatnya curah


jantung pasti akan berpengaruh terhadap tekanan darah (Ridjab,
2005).
Olahraga sangat bermanfaat bagi tubuh. Diantara banyak
manfaat olahraga, salah satunya adalah bahwa olahraga dapat
meningkatkan kerja jantung dan pembuluh darah. Respon fisiologis
terhadap olahraga adalah meningkatnya curah jantung yang akan
disertai meningkatnya distribusi oksigen ke bagian tubuh yang
membutuhkan, sedangkan pada bagian-bagian yang kurang
memerlukan oksigen akan terjadi vasokonstriksi, misal traktus
digestivus. Meningkatnya curah jantung pasti akan berpengaruh
terhadap tekanan darah. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh
aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan
aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam
satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling
rendah pada saat tidur malam hari (Ridjab, 2005).
b. Emosi
Saat manusia mempersepsikan sesuatu sebagai stres, bagian
otak yang menangani pikiran mengirimkan sinyal ke sistem saraf
melalui hipotalamus. Sistem saraf lalu mempersiapkan tubuh untuk
menghadapi stres tersebut. Terjadi perubahan detak jantung dan
tekanan darah, serta pupil melebar. Juga ada hormon dan zat-zat
kimia yang dikeluarkan atau disekresi, seperti adrenalin. Sekresi
adrenalin ini yang membuat tubuh siap, namun jika terjadi
berkepanjangan

akan

menimbulkan

kerugian

misalnya

terhambatnya pertumbuhan dan pemulihan tubuh, pencernaan dan


reaksi kekebalan tubuh (imunologik). Dapat terjadi penyakit terkait

stres; sebagai contoh penyakit jantung dan pembuluh darah


(kardiovaskuler)
merusakkan

akibat

jantung

meningkatnya

dan

tekanan

pembuluh

darah

darah

yang

(arteri)

serta

meningkatnya kadar gula darah (Selye, 2010)


Emosi, kecemasan, rasa takut, stres fisik dan rasa sakit
dapat meningkatkan tekanan darah oleh karena rangsangan terhadap
saraf simpatis menghasilkan peningkatan cardiac output dan
vasokonstriksi arteri (Selye, 2010).
c. Stres
Keadaan pikiran juga berpengaruh terhadap tekanan darah
sewaktu mengalami pengukuran (Vita, 2004).
d. Umur
Tekanan darah akan cenderung tinggi bersama dengan
peningkatan usia. Umumnya sistolik akan meningkat sejalan
dengan peningkatan usia, sedangkan diastolik akan meningkat
sampai usia 55 tahun, untuk kemudian menurun lagi (Vita, 2004).
Semakin tua umur seseorang tekanan sistoliknya semakin
tinggi. Biasanya dihubungkan dengan timbulnya arteriosclerosis
(Guyton dan Hall, 2008).
e. Jenis Kelamin
Tekanan darah pada perempuan sebelum menopause adalah
5- 10 mmHg lebih rendah dari pria seumurnya, Tetapi setelah
menopause tekanan darahnya lebih meningkat (Vita, 2004).
f. Obesitas
Obesitas atau kegemukan diartikan sebagai penimbunan
jaringan lemak tubuh secara berlebihan sehingga berat badan telah
melebihi batas ambang normal dan dapat membahayakan kesehatan
(Taufik,2007). Timbunan lemak dalam tubuh memicu tekanan
darah tinggi dan meningkatkan kadar kolesterol darah dan insulin.
Kondisi kegemukan yang dialami anak-anak sejak kecil jelas
meningkatkan resiko kematian dini (Taufik,2007)

Bila

mempunyai

ukuran

tubuh

termasuk

obesitas

memungkinkan terjadinya peningkatan tekanan darah (Vita, 2004).


Indeks Massa Tubuh (IMT) yang kurang dari 18,5 termasuk dalam
kategori kurus, untuk IMT antara 18,5 - 22,9 termasuk dalam
kategori normal, untuk IMT 23,0 - 27,4 termasuk dalam kategori
over weight dan untuk IMT lebih dari 27,5 termasuk dalam
kategori obesitas (Taufik, 2007).
g. Minum alkohol
Minuman alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan
tekanan darah dan menyebabkan resistensi terhadap obat anti
hipertensi (Vita, 2004).
Beberapa studi menunjukkan hubungan langsung antara
tekanan darah dan asupan alkohol serta diantaranya melaporkan
bahwa

efek

terhadap

tekanan

darah

baru

nampak

bila

mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap


harinya (Depkes RI, 2003).
h. Merokok
Pada keadaan merokok pembuluh darah dibeberapa bagian
tubuh

akan

mengalami

penyempitan,

dalam

keadaan

ini

dibutuhkan tekanan yang lebih tinggi supaya darah dapat mengalir


ke alat-alat tubuh dengan jumlah yang tetap (Vita, 2004). Untuk itu
jantung harus memompa darah lebih kuat, sehingga tekanan pada
pembuluh darah meningkat (Eny,2011)
Rokok yang dihisap dapat mengakibatkan peningkatan
tekanan darah. Selain itu rokok juga dapat mengakibatkan
vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh di ginjal
sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok sebatang
setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10-25 mmHg dan
menambah detak jantung 5- 20 kali per menit (Eny, 2011)

4. Faktor Eksternal
Selain faktor dari pribadi sendiri orangnya, ada juga faktor
yang mempengaruhi perubahan tekanan darah baik sistolik maupun
diastolik. Faktor tersebut adalah faktor yang berasal dari lingkungan,
khususnya lingkungan kerja, seperti :
a. Tekanan Panas
Pada lingkungan kerja panas, tubuh mengatur suhunya
dengan penguapan keringat yang dipercepat dengan pelebaran
(vasodilatasi) pembuluh darah tepi dan vasokontraksi pembuluh
darah dalam yang disertai meningkatnya denyut nadi dan tekanan
darah,

sehingga

beban

kardiovaskuler

bertambah

(Sumamur,2009). Jika seseorang merasakan panas yang berlebih


dan secara terus-menerus , maka orang tersebut akan cepat
merasakan lelah dan peningkatan emosi juga terjadi.
b. Kebisingan
Pada

umumnya

kebisingan

bernada

tinggi

sangat

mengganggu, lebih-lebih yang terputus-putus atau yang datangnya


secara tiba-tiba dan tidak terduga (Sumamur,2009). Kebisingan
mengganggu perhatian, sehingga konsentrasi dan kesigapan mental
menurun. Efek pada persyarafan otonom terlihat sebagai kenaikan
tekanan darah, percepatan denyut jantung, pengerutan pembuluh
darah kulit, bertambah cepatnya metabolisme, menurunnya
aktivitas alat pencernaan. Kebisingan menyebabkan kelelahan,
kegugupan, rasa ingin marah, hipertensi dan menambah stress.
c. Masa Kerja
Semakin lama masa kerja dapat dikatakan semakin tinggi
pula kemampuan kerja yang dimiliki, semakin efisien badan dan
jiwa bekerja, sehingga beban kerja relatif sedikit. Lamanya bekerja
seseorang dari pertama bekerja hingga dilakukannya penelitian
pada sampel penelitian, baik dari hari ke hari atau seumur hidup
(Tarwaka dkk, 2004).

d. Lama Paparan
Tekanan panas memerlukan upaya tambahan pada anggota
tubuh untuk memelihara keseimbangan panas. Selanjutnya apabila
pemaparan terhadap panas terus berlanjut, maka resiko terjadinya
gangguan kesehatan juga akan meningkat. Menurut Tarwaka, dkk
(2004) menyatakan bahwa reaksi fisiologis akibat pemaparan
panas yang berlebih dapat dimulai dari gangguan fisiologis yang
sangat sederhana sampai dengan terjadinya penyakit yang sangat
serius. Lamanya seseorang berada di tempat atau di dekat sumber
panas (Azwar, 1990).
e. Beban Kerja
Menurut Tarwaka (2010), beban kerja (workload) dapat
didefinisikan sebagai suatu perbedaan antara kapasitas atau
kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang harus
dihadapi. Menurut Tarwaka, dkk (2004) menjelaskan bahwa salah
satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja
adalah dengan menghitung nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas
ventilasi paru, dan suhu inti tubuh.
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi
melalui beberapa cara sebagai berikut (Vita,2004) :
1) Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih
banyak cairan pada setiap detiknya.
2) Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku,

sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung


memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada
setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang
sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
Inilah yang terjadi pada usia lanjut, di mana dinding arterinya
telah menebal dan kaku karena arteriosclerosis. Dengan cara
yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi
vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara

waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di


dalam darah.

3) Bertambahnya

cairan

dalam

sirkulasi

bisa

menyebabkan

meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat


kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang
sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam
tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaliknya jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri
mengalami pelebaran dan banyak cairan keluar dari sirkulasi,
maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh
perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom
(bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi secara
otomatis).
Menurut Vita, 2004 Sistem saraf simpatis merupakan
bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu
berfungsi untuk :
1) Meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi
fisik tubuh terhadap ancaman dari luar).
2) Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung, juga
mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar
arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang
memerlukan pasokan darah yang lebih banyak).
3) Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga
akan meningkatkan volume darah dalam tubuh.
4) Melepaskan hormonepinefrin

(adrenalin)

dan

noreponefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan


pembuluh darah

IX.

Kerangka Pemikiran
Tekanan Panas

Kebisingan

Tubuh
(metabolisme)

Intensitas Kebisingan
melebihi NAB

Proses Pertukaran
Panas

Gangguan Syaraf
Otonom

Respon Fisiologis
Tubuh

Gangguan Mental
Emosional

Suhu Kulit Naik

Peningkatan
Hormon Adrenalin

Vasodilatasi Pembuluh Tepi


1. Masa Kerja
2. Usia
3. Lama
Paparan
4. Beban Kerja

X.

Tekanan Darah Meningkat

1.
2.
3.
4.
5.

Emosi
Stress
Olahraga
Umur
Jenis
Kelamin
6. Obesitas
7. Alkohol
8. Merokok

Hipotesis
Ada Hubungan Kebisingan dan Tekanan Panas dengan Tekanan Darah Pekerja
Weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta

XI.

Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan metode analitik
observasional dengan cara pendekatan cross sectional yaitu penelitian untuk
mencari hubungan antar variabel. Pendekatan cross sectional adalah suatu
penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan
cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data

di ukur atau

dikumpulkan dalam waktu bersamaan atau sekaligus pada suatu waktu


(Soekidjo Notoatmodjo, 2005).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta
pada bulan November- Desember 2015.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan November-Desember 2015.
C. Populasi Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh pekerja di PT.
Iskandar Indah Printing Textile Surakarta bagian Weaving sebanyak 150
pekerja yang memiliki keriteria sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi
a. Tenaga kerja PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta bagian
Weaving.
b. Jenis Kelamin Perempuan.
c. Pekerja pada shift siang.
d. Bekerja selama 8 jam dan terpapar kebisingan serta tekanan panas.
e. Bersedia untuk menjadi sampel penelitian.
2. Kriteria Esklusi
a. Tidak bersedia untuk dilakukan pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan
tekanan darah.
b. Memiliki riwayat obesitas, merokok dan minum alkohol, hipertensi.
c. Pekerja pada shift malam.
D. Teknik Sampling

Teknik

untuk

pengambilan

sampel,

dimana

pada

penelitian

ini

menggunakan simple random sampling.


E. Sampel Penelitian
Dari populasi yang berjumlah 150 pekerja, kemudian diambil sejumlah
sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Dari populasi sasaran,
ditentukan sampel minimal dengan rumus (Riyanto, 2011) :
NZ(1-/2)2P(1-P)
n =
Nd2 +Z (1-/2)2P(1-P)
n =

(75)(1,96)20,5(1-0,5)
(75)(0,1)2+(1,96)20,5(1-0,5)
72,03

n =

1,7104

n = 42,1
n = 42

Keterangan :
n

= besar sampel

= besar populasi

Z(1-/2)2

= tingkat kepercayaan 95% = 1,96

= proporsi kejadian 0,5

= besar penyimpangan 0,1

Untuk besar sampel minimal dalam penelitian adalah 42 pekerja. Dalam


penelitian hubungan kebisingan dan tekanan panas dengan tekanan darah
secara random sampling akan diambil sebanyak 50 pekerja bagian Weaving
di PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.

F. Desain Penelitian
Populasi

N = 150
Simple Random
Sampel
Inklusi dan Eksklusi
n = 42

Kebisingan

Tekanan Panas

Uji Korelasi
Pearson

Uji Korelasi
Pearson
Tekanan
Darah

Signifikan

Signifikan
Uji Regresi Linear Ganda
Gambar 2. Desain Penelitian

G. Identifikasi Variabel Penelitian


Dalam penelitian ini terdapat satu variabel bebas dan satu variabel terikat.
Identifikasi variabel penelitian berdasarkan hipotesis, yaitu :
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebisingan dan tekanan panas.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tekanan darah.
3. Variabel Pengganggu
Variabel pengganggu dalam penelitian adalah

tekanan panas, masa

kerja, beban kerja, usia, olahraga, emosi dan stres fisik, obesitas,
merokok, konsumsi alkohol.

H. Definisi Operasional Variabel Penelitian


1. Tekanan Panas
Tekanan panas adalah kombinasi suhu udara yang disebabkan oleh mesin
produksi, kelembaban udara yang disebabkan karena kurangnya sirkulasi
udara pada lingkungan tempat kerja serta adanya kecepatan gerakan yang
disebabkan oleh pekerjanya itu sendiri.
a. Alat Ukur

: Heat Stress Area

b. Satuan

: oCelcius

c. Skala Pengukuran

: Rasio

2. Kebisingan
Kebisingan adalah Bunyi atau suara di tempat kerja yang berasal dari
mesin weaving dan didengar oleh pekerja dengan terpapar lebih dari 8
jam dan suara tersebut akan berubah menjadi salah satu bahaya kerja
yang akan menjadi polutan bagi lingkungan dan pekerja.
a. Alat Ukur

: Sound Level Meter

b. Satuan

: dBA

c. Skala Pengukuran

: Rasio

3. Tekanan Darah
Tekanan darah adalah pengukuran tekanan tenaga kerja yang terpapar
bising serta tekanan panas selama 8 jam bekerja yang diukur dengan
menggunakan alat tensi meter digital untuk mengetahui peningkatan
tekanan darah tenaga kerja.
a. Alat Ukur

: Tensi Meter Digital

b. Satuan

: mmHg

c. Skala Pengukuran

: Rasio

I. Alat dan Bahan Penelitian


1. Questeem (Heat Stress Area)
Questemp adalah suatu termometer yang dilengkapi dengan
sensor listrik (baterai) yang lengkap untuk mengukur kelembaban nisbi,
panas, radiasi dan mengetahui lama pendinginan kerena dalam satu alat
ukur terdapat psychrometer, globe thermometer dan kata thermometer

sekaligus hanya dengan menekan tombol sesuai dengan apa yang akan
diukur (Anizar,2009). Cara penggunaan dari Questemp sebagai berikut:
a. Menyiapkan alat dan merangkai alat pada statif
b. Mengisi air pada wet sensor bar.
c. Tekan ON dan tunggu 10 menit untuk kalibrasi.
d. Tekan tombol pilihan C atau F.
e. Tekan tombol WBGT In/Out.
f. Tekan tombol yang akan diukur. \
g. Perhatikan angka yang muncul pada display kemudian catat hasilnya.
h. Jika sudah selesai, matikan alat dengan menekan OFF.
2. Sound Level Meter
Sound Level Meter RION NA-20, yaitu alat untuk mengukur
kebisingan, yang dilengkapi dengan mikrofon yang mendekati suara,
mengkonversikannya ke dalam signal listrik dan memperbesar signal
sampai pada tingkat tekanan suara. Skala Sound Level Meter yang
dipakai adalah skala A (Anizar,2009)
a. Langkah Persiapan
Langkah persiapan dilakukan sebelum alat mulai digunakan yaitu :
1) Pasang baterai pada tempatnya.
2) Tekan tombol power.
3) Cek garis pada monitor untuk mengetahui baterai dalam keadaan
baik atau tidaknya.
4) Kalibrasi alat dengan kalibrasi, sehingga angka pada monitor
sesuai dengan angka kalibrator.
b. Langkah Pengukuran
Langkah untuk mulai pengukuran adalah sebagai berikut:
1) Pilih selektor pada posisi:
a) Fast

:Untuk jenis kebisingan kontinue.

b) Slow

:Untuk jenis kebisingan impulsive atau terputus-

putus
2) Pilih selector range intensitas kebisingan.

3) Tentukan lokasi pengukuran.


4) Setiap lokasi pengukuran dilakukan pengamatan selama 1-2 menit,
dengan enam kali pembacaan. Hasil pengukuran adalah angka
yang ditunjukan pada monitor.
5) Catat hasil pengukuran dan hitung rata-rata kebisingan sesaat.
3. Tensi Meter Digital
Tensi meter digital, yaitu alat digital untuk mengukur tekanan darah dan
denyut nadi. Cara penggunaan tensi meter digital adalah sebagai berikut :
a. Memasukkan ujung pipa manset pada bagian alat.
b. Memperhatikan arah masuknya perekat manset.
c. Memakai manset perhatikan arah selang.
d. Memperhatikan jarak manset dengan garis siku lengan kurang lebih 12 cm.
e. Memastikan posisi selang sejajar dengan jari tengah dan posisi tangan
terbuka keatas.
f. Jika manset sudah terpasang dengan baik dan benar, merekatkan
manset.
g. Menekan tombol START/STOP untuk mengaktifkan alat.
h. Jika pengukuran selesai, manset akan mengempis kembali dan hasil
pengukuran akan muncul. Alat akan menyimpan hasil pengukuran
secara otomatis.
i. Menekan tombol START/STOP untuk mematikan alat.
J. Cara Kerja Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Peneliti melakukan survey awal, yaitu observasi dan wawancara di
PT.Iskandar Indah Printing Tekstile Surakarta
b. Peneliti menentukan dan memilih masalah
c. Menentukan judul penelitian
d. Mengidentifikasi,

merumuskan,

dan

mengadakan

pembatasan

masalah, kemudian berdasarkan masalah tersbut diadakan studi

pengendalian untuk menghimpun informasi dan teori sebagai dasar


penyusunan kerangka konsep penelitian.
e. Menentukan teknik pengumpulan data
f. Tahap pelaksanaan
g. Peneliti menentukan sampel yang akan dijadikan objek penelitian.
h. Melaksanakan penelitian dengan melakukan pengukuran tekanan
panas dan kebisingan untuk menentukan NAB tekanan panas serta
kebisingan pada PT.Iskandar Indah Printing Tekstile Surakarta.
i. Melakukan pengukuran tekanan darah terhadap pekerja sesudah
bekerja selama 8 jam.
2. Tahap penyelesaian
a. Pengumpulan semua data yang diperoleh.
b. Pengolahan dan analisis data.
c. Penulisan laporan penelitian.
K. Teknik Pengolahan Data
1. Editing
Editing yaitu pengecekan terhadap kelengkapan data dan keseragaman
data yang diperoleh dari lapangan.
2. Coding
Coding yaitu pemberian kode pada setiap jawaban untuk mempermudah
dalam pengolahan data.
3. Tabulating
Tabulating yaitu pengelompokan data sesuai dengan tujuan penelitian
untuk mempermudah dalam pembacaan hasil penelitian.
4. Entry
Entry yaitu kegiatan memasukkan data yang telah didapat ke dalam
program komputer untuk dilakukan pengolahan data.
L. Teknik Analisis Data
Teknik pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini
mengguanakan data kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan ada 2, yaitu

analisis bivariat dan analisis multivariat. Analisis bivariat menggunakan uji


korelasi pearson dengan interpretasi hasil sebagai berikut :
1. Jika p (value) < 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan.
2. Jika p (value) > 0,05 maka hasil uji dinyatakan tidak signifikan.
3. Jika p (value) = 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan
Apabila p (value) dari uji bivariat adalah < 0,05 maka dapat dilanjutkan
menggunakan analisis multivariat dengan uji regresi linear ganda (Dahlan,
2013).

XII.

Jadwal Penelitian

Kegiatan

September

Oktober

November

Desember

2015

2015

2015

2015

Minggu

Minggu

Minggu

Minggu

Ke

Ke

Ke

Ke

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
1. Pengusulan Judul

2.

Survei

Awal

Perusahaan
3. Pembuatan Proposal

4.Proposal Siap
5.Ujian Proposal dan
Revisi Proposal
6.Pengumpulan
Pengolahan Data
7.Penulisan Skripsi
8.Ujian Skripsi

dan

XIII.

Daftar Pustaka
Hull, Arison. 1986. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Granjean, Etienne. 1988. Fitting The Task To The Man. New York: Taylor dan
Franci.
Departement Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Modul Pelatihan bagi
Fasilitator Kesehatan Kerja. Jakarta: Hiperkes.
James Joyce, Colin Baker & Helen Swain. 2008. Prinsip-prinsip Sains untuk
Keperawatan. Jakarta.: Erlangga.
Ides Haeruman Taufik. 2007. Pengaturan Berat Badan. Jakarta: Gramedia
Mangku Sitepoe. 1997. Usaha Mencegah Bahaya Merokok. Jakarta: Gramedia.
Sritomo Wignosoebroto. 2003. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu Teknis
Analisis. PT. Guna Widya : Jakarta.
Vita Health. 2004. Hipertensi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Guyton, A.C,. Dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta :
EGC.
Sumamur, P.K. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta :PT.
Toko Gunung Agung.
Tarwaka, dkk. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan
Produktivitas. Surakarta: Harapan Press.
A.M. Sugeng Budiono, dkk. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan
Kerja. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
Soekidjo Notoatmodjo. 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Sihar Tigor B.T. 2005. Kebisingan di Tempat Kerja. Yogyakarta: ANDI.
Tarwaka. 2008. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Manajemen dan
Implemetasi K3 di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan press
Pearce, Evelyn. 2007. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT
Gramedia Utama.
Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Jakarta : EGC.
Ridjab, DA. 2005. Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Tekanan Darah. Balai
Penerbit : Kedokteran Atmajaya.

Ambarwati, Eny Ratna. 2011 . Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Mitra


Cendekia.
American Conference of Governmental Industrial Hygienist (ACGIH). 2005.
Thresh old limit values and biological exposure indices. Cincinnati.
USA.
Joint National Committe on Prevention, Detection, Evalution, and Treatment
of High Blood Pressure. 2003. The Seventh Report of the Joint
National Committe on Prevention, Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure (JNC-VII). NIH publication 035233. Bethesda.
Tarwaka.2010. Dasar- Dasar Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi Di Tempat
Kerja. Solo : Harapan Pers Solo.
SK Dirjen P2M dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen
Kesehatan

RI

Pelaksanaan

Nomor

70-1/PD.03.04.Lp.

Pengawasan

Kebisingan

1992.

yang

Petunjuk

Berhubungan

dengan Kesehatan. Jakarta : Depnakes RI.


Anizar, 2009. Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Slamet Riyadi. 2011. Hubungan antara Intensitas Kebisingan dengan Stres
Kerja pada Pekerja Unit Shuttle di PT. Delta Merlin IV Boyolali.
Semarang: UNDIP.
Sasongko, D., dkk. 2000. Kebisingan Lingkungan. Semarang : Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Departement Tenaga Kerja. 2011. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.
PER.13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor- Faktor
Di Tempat Kerja. Jakarta : Depnaker.
Subaris,H and Haryono. 2008. Hygiene Lingkungan Kerja. Jogjakarta : Mitra
Cendekia Press.
Harrington; F.S Gill. 2005. Buku Saku Kesehatan Kerja. Jakarta : Penerbit
ECG.

Edhie Sarwono, dkk. 2002. Green Company Pedoman Pengelolaan


Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LK3). Jakarta : PT.
Astra Internasional Tbk.
Tambunan, S. 2005. Kebisingan Di Tempat Kerja. Penerbit Andi : Jakarta.
Riyanto, Agus. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta :
Nuha Medika.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT
Asdi Mahasatya.
Hartanto, Dinar. 2011. Hubungan Kebisingan dengan Tekanan Darah Pada
Karyawan Unit Compressor PT. Indo Acidatama tbk kemiri,
kebakkramat, karanganyar. Skripsi. Universitas Sebelas Maret:
Surakarta.
Departemen

R.I.,2009.

Undang-Undang

No.1

Tahun

1970

Tentang

Keselamatan Kerja : Himpunan Peraturan Perundang-undangan


Keselamatan dan Kecelakaan Kerja. Jakarta : Ditjen Pengawasan
Ketenagakerjaan.
Sumamur.1996. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. CV. Haji Masagung :
Jakarta.
Santoso. 2004. Majemen Keselamatan & Kesehatan Kerja. Jakarta: Prestasi
Pustaka.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Selye, H. 2010. Stress of Life. New York: McGraw-Hill