Anda di halaman 1dari 8

PERJANJIAN BANGUN GUNA SERAH (BUILD, OPERATE AND TRANSFER)

ANTARA PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH DENGAN PIHAK SWASTA


Irwansyah S.H., M.H
Fakultas Hukum Universitas Iskandar Muda
irwansyah.muhammad@gmail.com
Abstract:
The availability of adequate infrastructure, need to support the implementation
of national development and to improve Indonesia's competitiveness in the global
era.
To overcome this, the Government of South Sumatra Province to build agreement Bu
ild, Operate, and Transfer in the development of infrastructure without burdenin
g the local budget through cooperation with Third Parties.
This article will be assessed on what consideration the Government of South Suma
tra Province in determining system Build, Operate, and Transfer, procedures and
implementation agreements to transfer wake, as well as whether to transfer the w
ake agreement meets the principle of balance and legal certainity improving the
welfare of society.
Kata Kunci: Perjanjian Bangun Guna Serah
Pada era setelah perang dunia kedua berakhir hampir semua proyek infrastruktur d
i banyak negara berkembang di bangun di bawah pengawasan pemerintahnya sendiri d
an didanai dari anggaran belanja negara atau pinjaman luar negeri.
Bangun Guna Serah atau Build, Operate and Transfer (BOT) adalah bentuk perjanjian
yang diadakan oleh pemerintah dengan pihak swasta. BOT merupakan perbuatan hukum
oleh badan atau pejabat tata usaha Negara yang menjadikan kebijakan publik seba
gai objek perjanjian.
BOT merupakan suatu konsep kebijakan kerjasama dimana proyek dibangun dengan bia
ya sepenuhnya dari perusahaan swasta (atau beberapa perusahaan swasta atau kerja
sama dengan BUMN) dan setelah proses pembangunan selesai maka bangunan itu diope
rasikan oleh kontraktor, kemudian setelah tahapan pengoperasian selesai dilakuka
nlah pengalihan proyek pada pemerintah selaku pemilik proyek sesuai dengan perja
njian BOT.
Fasilitas yang pertama yang dibangun atas nama BOT adalah di Turki pada tahun 19
84 oleh Perdana Menteri Ozal sebagai salah satu bagian dari program privatisasi
dalam rangka membangun infrastruktur baru (Beuker, 1988). Namun demikian, pende
katan BOT dipakai pada awal 1834 pada pengembangan Terusan Swess. Terusan yang m
enghasilkan banyak revenue ini dibiayai oleh European Capital dengan dukungan pe
ndanaan dari Mesir, dimana Mesir mendapatkan konsesi untuk mendesain, membangun
dan mengoperasikan yang saat itu dipimpin oleh Pasha Muhammad Ali (Levy, 1996).
Indonesia sebagai negara berkembang yang mengalami krisis ekonomi, memerlukan pe
ngaturan dan cara yang tepat untuk pendanaan pembangunan infrastruktur di berbag
ai daerah.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2008 tentang Perubaha
n Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah, dicantumkan dalam konsideran;.
...bahwa ketersediaan infrastruktur yang memadai, merupakan kebutuhan yan
g mendesak untuk mendukung pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningk
atkan ..... perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, serta untuk meningkatkan
daya saing Indonesia dalam perdagangan global.
Mengingat BOT hanya sebuah skema atau konsep yang umum sifatnya, maka konsep BOT
tidak hanya dapat digunakan untuk proyek Pemerintah saja, tetapi juga digunakan
untuk proyek swasta, artinya pihak yang terlibat antara individu dengan individ
u atau swasta dengan swasta.
Misalnya di Kabupaten Kampar, dan di Denpasar Bali, penduduk asli memiliki tanah
, tetapi tidak memiliki cukup dana untuk mendirikan bangunan komersial, maka dap
at melakukan pola kerjasama pendirian bangunan hotel/penginapan di atas tanah pe
nduduk melalui perjanjian Bangun Guna Serah (Build, Operate and Transfer/BOT), y

aitu bentuk perjanjian kerjasama yang dilakukan antara pemegang hak atas tanah d
engan investor, dimana pihak investor diberikan hak untuk mendirikan bangunan se
lama masa perjanjian Bangun Guna Serah (Build, Operate and Transfer/BOT), dan me
ngalihkan kepemilikan bangunan tersebut kepada pemegang hak atas tanah setelah m
asa perjanjian Bangun Guna Serah berakhir (Kamilah, 2013: 6).
Perjanjian Bangun Guna Serah tersebut dapat dituangkan dalam akta Notaris, karen
a para pihak adalah pemilik tanah/pribadi atau badan hukum berhadapan dengan inv
estor atau swasta.
Lain halnya dengan penggunaan aset daerah/Barang Milik Daerah dengan pola Bangun
Guna Serah, perjanjian bangun guna serah yang dibuat adalah perjanjian antara p
ihak pemerintah daerah dengan pihak swasta yang merupakan tindakan hukum pemerin
tah, yang akan menimbulkan akibat-akibat hukum bagi mereka yang terkena tindakan
tersebut.
Oleh karena itu perjanjian Bangun Guna Serah antara pemerintah dengan pihak swas
ta tersebut harus dilandasi berbagai peraturan sebagai dasar hukumnya.
Perjanjian Bangun Guna Serah di Provinsi Sumatera Selatan, termasuk wilayah Pale
mbang berkaitan dengan proyek pemerintah dalam usaha memenuhi kebutuhan infrastr
uktur.
Bagi Pemerintah Daerah, dana yang tersedia dalam pembiayaan pembangunan infrastr
uktur dengan mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) semakin
terbatas, oleh karena itu dibutuhkan polapola baru sebagai alternatif pendanaan
yang tidak jarang melibatkan pihak swasta (nasional-asing) dalam proyek-proyek P
emerintah.
Kerjasama tersebut dimanifestasikan dalam bentuk perjanjian, antara lain Join Ve
nture berupa production sharing, managemen contract, technical assistence, franc
hise, joint enterprise, portofolio investment, build operate and transfer atau b
angun guna serah dan bentuk kerjasama lainnya (Nugraha, 15 November 2012: 2/8).
Pasal 1 Ketentuan Umum Undang-Undang-Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1959 tent
ang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1959 (Lembaran Negara RI Tahun
1956 Nomor 55), Undang-Undang Darurat Nomor 5 Tahun 1956 (Lembaran Negara RI Ta
hun 1956 Nomor 56) dan Undang-Undang Darurat Nomor 6 Tahun 1956 (Lembaran Negara
RI Nomor 1956 Nomor 57) tentang Pembentukan Daerah Tingkat II termasuk Kotapraj
a, dalam lingkungan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan, sebagai Undang-Undang, me
nentukan dibentuknya 18 daerah yang berhak mengurus rumah-tangganya sendiri term
asuk Palembang, dalam lingkungan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.
Daerah Tingkat II dan Kotapraja tersebut berdasarkan asas otonomi daerah mempuny
ai hak dan kewajiban daerah yang diatur berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, antara lain untuk mengelola kekayaan
daerah dan mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber
daya lainnya yang berada di daerah (Tesis ditulis sebelum berlakunya Undang-Unda
ng No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah).
Pasal 1 angka 12 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008: Bangun guna serah adal
ah pemanfaatan barang milik negara/daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan ca
ra mendirikan bangunan dan atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayaguna
kan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati,
untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunannya dan atau sarana b
erikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menerapkan sistem bangun guna serah u
ntuk beberapa infrastruktur di kota Palembang, sebagai contoh pembangunan Palemb
ang Sport Convention Centre (PSCC) yang dimulai Jumat 22 Oktober 2010.
Pemancangan tiang pertama pembangunan kompleks Palembang Sport Convention Centre
(PSCC) disaksikan Gubernur Sumatera Selatan, Ir H Alex Noerdin SH dan Walikota
Palembang Ir H Eddy Santana Putra MT.
Pembangunan kawasan ini menelan dana Rp.127.000.000.000 (seratus dua puluh tujuh
miliar rupiah).

Pembangunan PSCC tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah S
umatera Selatan, tetapi melalui pembiayaan sistem Bangun Guna Serah, antara Peme
rintah Provinsi Sumatera Selatan dengan PT Gisi berupa bangunan town square, hot
el dan renovasi Gedung Olahraga (GOR).
Pembangunan Gedung Olahraga ditingkatkan menjadi PSCC, yaitu:
pertama akan digunakan untuk kepentingan Sea Games, seperti hotel, saran
a olahraga, dan lainnya.
Kedua, kondisi bangunan Gedung Olahraga sudah mengalami penyusutan menca
pai 60 persen sejak dibangun.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan membutuhkan dana minimum Rp.200.000.000.000
,- (dua ratus miliar rupiah) pertahun untuk melakukan perawatan gedung, sementar
a pendapatan asli daerah (PAD) yang diperoleh dari pemanfaatan gedung olahraga h
anya Rp.66.000.000.000 (enam puluh enam miliar rupiah), berarti Pemerintah Provi
nsi Sumatera Selatan mengalami kerugian Rp.134.000.000.000 (seratus tiga puluh e
mpat miliar rupiah) pertahun hanya untuk pemeliharaan, pembayaran listrik, air d
an lainnya (Sriwijaya Post, Kamis 21 Oktober 2010: 17:43 WIB).
Pasal 27 ayat (1 butir b dan c) Undang-Undang 32 Tahun 2004 menyebutkan bahwa ke
wajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk meningkatkan kesejahteraan r
akyat dan memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat.
Salah satu usaha yang ditempuh dengan cara meningkatkan sarana infrastruktur ter
sebut di atas.
Perjanjian Bangun Guna Serah melalui beberapa tahapan yang harus dilakukan sebel
umnya, antara lain;
a. Kontrak Konsesi sebagai dasar;
b. Kontrak Kontraktor;
c. Share Holder Agreement;
d. Supply agreement;
e. Operational agreement;
f. Offtake Agreement yaitu kontrak antara user dan promotor.
Perjanjian-perjanjian tersebut berkaitan satu sama lain dalam sebuah proyek. Seh
ingga dari satu proyek akan terkait beberapa unsur di dalamnya (Andreansyah, 200
9).
Sejak perjanjian ditandatangani kedua belah pihak hingga selesai dalam jangka wa
ktu yang ditetapkan, antara 20 (dua puluh) sampai 30 (tiga puluh) tahun, diharap
kan prestasi terpenuhi dari kedua belah pihak, namun bisa juga terjadi 2 (dua) h
al dalam pemenuhan prestasi yang tidak diharapkan, yaitu;
wanprestasi dari pihak swasta atau pemutusan perjanjian sepihak dari Pem
erintah, sebagaimana yang terjadi dalam perjanjian bangun guna serah antara Peme
rintah Kota Palembang dengan pihak investor (swasta), tentang Kerjasama Pembangu
nan, Pemanfaatan, Pengelolaan Taman Kambang Iwak Besak Antara Dinas Penerangan J
alan, Pertamanan Dan Pemakaman dengan pihak swasta (Wawancara dengan Advokat Tas
lim, SH., Data Pra Penelitian 30 Januari 2014 di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Ko
ta Palembang).
Perjanjian tersebut terhenti karena adanya wanprestasi pihak investor yang diiku
ti dengan pemutusan perjanjian oleh pihak pemerintah.
Perjanjian bangun guna serah yang berkaitan dengan kewajiban pemerintah daerah d
alam hal ini Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah, dalam meningkatkan kesejahte
raan rakyat melalui pembangunan infrastruktur dengan pola perjanjian bangun guna
serah tersebut, dapat menimbulkan berbagai masalah hukum yang akan muncul di ke
mudian hari dan diantisipati dalam perancangan dan pembuatan draft perjanjian hi
ngga perjanjian ditandatangani.
Perjanjian Bangun Guna Serah di Provinsi Sumatera Selatan
Sistem Bangun Guna Serah merupakan suatu perjanjian yang meliputi pemanfatan tan
ah atau pun bangunan, termasuk pengelolaan barang milik pemerintah daerah, sebag
ai hak ekslusif daerah.
Kerjasama tersebut meliputi beberapa proses yang harus ditempuh dan terkait deng

an perjanjian bangun guna serah itu sendiri. Permasalahan yang timbul dalam pene
litian ini adalah:
Apa pertimbangan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dalam menentukan sistem ba
ngun guna serah untuk pemanfaatan aset Pemerintah Daerah?
Bagaimana prosedur dan pelaksanaan perjanjian bangun guna serah tersebut?
Apakah perjanjian bangun guna serah antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan
dengan pihak swasta tersebut memenuhi asas keseimbangan dan kepastian hukum dala
m meningkatkan kesejahteraan masyarakat?
Bentuk kerja sama kontrak bangun ini (Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Pe
tunjuk Teknis Tata Cara Kerja Sama Daerah bahwa Bangun Guna Serah merupakan bent
uk kerja sama kontrak bangun) dipilih sebagai alternatif pemanfaatan aset daerah
atau barang milik daerah untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dengan beberapa
pertimbangan, antara lain:
1) Untuk Optimalisasi pemanfaatan aset milik Pemerintah Provinsi Sumater
a Selatan.
2) Membuka lapangan dan kesempatan kerja bagi masyarakat Sumatera Selata
n.
3) Memperluas kegiatan usaha dan memperkuat perekonomian daerah.
4) Mendukung pembangunan dan keindahan Kota Palembang sebagai Ibukota Pr
ovinsi Sumatera Selatan.
Barang milik daerah/Aset Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tersebar di seluru
h wilayah Provinsi, namun sampai saat ini (Tahun 2014) Aset Daerah dalam bentuk
tanah yang dimanfaatkan dalam bentuk Kerjasama Bangun Guna Serah ternyata seluru
hnya terdapat di Wilayah Kota Palembang (Wawancara dengan Kepala Sub Bidang Peng
elolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Bapak M. Azhan Adita
ma, SE, Ak. Selasa 10 Juni 2014).
Kerjasama pemanfatan atas barang milik negara/daerah (disebut juga aset negara/d
aerah), berdasarkan Pasal 26 PP No. 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peratur
an Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah,
dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam Anggaran Pendapat
an dan Belanja Negara/Daerah untuk memenuhi biaya operasional/ pemeliharaan/perb
aikan yang diperlukan terhadap barang milik negara/ daerah dimaksud;
2) mitra kerja sama pemanfaatan ditetapkan melalui tender dengan mengiku
tsertakan sekurang-kurangnya lima peserta/peminat, kecuali barang milik negara/d
aerah yang bersifat khusus dapat dilakukan penunjukan langsung;
3) Mitra kerja sama pemanfaatan harus membayar kontribusi tetap ke reken
ing kas umum negara/ daerah setiap tahun selama jangka waktu pengoperasian yang
telah ditetapkan dan pembagian keuntungan hasil kerja sama pemanfaatan;
4) Besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil ke
rja sama pemanfaatan ditetapkan dari hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh pe
jabat yang berwenang;
5) Besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil ke
rja sama pemanfaatan harus mendapat persetujuan pengelola barang;
6) Selama jangka waktu pengoperasian, mitra kerja sama pemanfaatan dilar
ang menjaminkan atau menggadaikan barang milik negara/daerah yang menjadi obyek
kerja sama pemanfaatan;
7) Jangka waktu kerja sama pemanfaatan paling lama 30 (tiga puluh) tahun
sejak perjanjian ditandatangani dan dapat diperpanjang.
Sampai saat ini pelaksanaan perjanjian Bangun Guna Serah yang pertama, yaitu Pem
bangunan Hotel Aston/sekarang Aryaduta telah menempuh waktu 12 tahun, perjanjian
lainnya berkisar antara 3 (tiga) dan 4 (empat) tahun, belum ditemukan masalah h
ukum yang terjadi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan Pihak Swast
a.
Upaya antisipasi dan pemantauan selalu dilaksanakan melalui pengawasan dari Bada
n Kerjasama dan Otonomi Daerah melalui laporan yang disampaikan dari pihak swast

a ataupun pengawasan langsung serta evaluasi kerjasama tersebut (Wawancara denga


n Bapak Ir.H. Fauzi Zakaria, SH.,MM., Kabag. Kerjasama Biro Otonomi Daerah, pene
litian 26 Mei 2014).
Prosedur dan pelaksanaan Perjanjian Bangun Guna Serah tersebut berpedoman pada d
ualisme peraturan perundang-undangan, yaitu: Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 ten
tang Pemerintahan Daerah dengan aturan pelaksananya, dan Undang-Undang Nomor 1 T
ahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dengan peraturan pelaksananya.
Berdasarkan isi perjanjian Bangun Guna Serah antara Pemerintah Provinsi Sumatera
Selatan dengan Pihak Swasta mengenai Pembangunan Pusat Perbelanjaan dan Fasilit
as lainnya, ditekankan adanya keseimbangan beban hak dan kewajiban, serta adanya
itikad baik dari kedua belah pihak.
Asas keseimbangan hak dan kewajiban para pihak dalam Perjanjian Bangun Guna Sera
h dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu perbuatan para pihak (handeling), isi kon
trak (inhoud), dan pelaksanaan kontrak yang telah disepakati para pihak (nakomin
g).
Sebagaimana pendapat Herlien Budiono tentang Aspek dalam perjanjian yang saling
berkaitan sebagai kriteria adanya keseimbangan).
Perjanjian Bangun Guna Serah antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan
pihak swasta yang berbadan hukum, sebagai contoh Pembangunan Pusat Perbelanjaan
dan Fasilitas Penunjang lainnya telah memenuhi asas keseimbangan.
Kesimpulan
Berdasarkan temuan dan analisis yang diuraikan pada sebelumnya, dapat diambil ke
simpulan dan diajukan saransaran, sebagai berikut:
1) Perjanjian Bangun Guna Serah yang telah dilaksanakan sejak tahun 2002 hingga
sekarang tahun 2014 terdiri dari 7 (tujuh) buah perjanjian, dengan pertimbangan
dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, antara lain:
a. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memiliki asetaset yang dapat did
ayagunakan dan dioptimalkan pemanfaatannya melalui kerja sama daerah untuk menun
jang pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan asli daerah;
b. Membuka lapangan dan kesempatan kerja bagi masyarakat Sumatera Selata
n;
c. Memperluas kegiatan usaha dan memperkuat perekonom-ian daerah, karena
sistem Bangun Guna Serah tersebut memberikan keuntungan bagi Pemerintah Provins
i dan masyarakat;
d. Mendukung pembangunan dan keindahan Kota Palembang sebagai Ibukota Pr
ovinsi Sumatera Selatan.
2) Prosedur dan pelaksanaan Perjanjian Bangun Guna Serah tersebut berpedoman pad
a dualisme peraturan perundangundangan, yaitu: Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 t
entang Pemerintahan Daerah dengan aturan pelaksananya, dan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,dengan peraturan pelaksananya. UndangUndang Pemerintahan Daerah mensyaratkan adanya kerjasama daerah, termasuk kerjas
ama dengan pihak ketiga berbadan hukum dengan melibatkan peran DPRD, sementara b
erdasarkan aturan pelaksanaan dari Undang-undang Perbendaharaan Negara, pengelol
aan aset daerah merupakan wewenang Kepala Daerah dan tidak ada peralihan hak mil
ik atas status tanah aset, sehingga tidak diperlukan persetujuan DPRD.
3) Perjanjian Bangun Guna Serah antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan deng
an pihak swasta yang berbadan hukum, sebagai contoh Pembangunan Pusat Perbelanja
an dan Fasilitas Penunjang lainnya telah memenuhi asas keseimbangan. Asas keseim
bangan tersebut dilihat dari terpenuhinya 3 (tiga) aspek yang saling berkaitan s
ebagai syarat adanya keseimbangan dalam suatu perjanjian, yaitu:
a. Perbuatan para pihak (handeling);
b. Isi kontrak (inhoud);
c. Pelaksanaan kontrak yang telah disepakati para pihak (nakoming).
Beberapa saran
1) Segera dibenahi terjadinya dualisme pengaturan tentang Perjanjian Daerah dan
Perbendaharaan Negara dalam hal Pengaturan Pengelolaan Barang Milik Negara/Daera

h sehingga terdapat kejelasan koordinasi pengaturan tentang pengelolaan Barang M


ilik Negara/Daerah untuk mendapatkan Kepastian Hukum;
2) Karena Perjanjian Bangun Guna Serah, Bangun Serah Guna, dan Bangun Serah dala
m jangka waktu lama 30 (tiga puluh) tahun, dan Pembangunan Infrastruktur yang me
nyangkut hajat hidup masyarakat seperti Tenaga Pembangkit Listrik, Jalan Raya, T
elekomunikasi, Pertambangan, dengan pemanfaatan sampai 50 tahun dan dapat diperp
anjang, perlu kiranya ditingkatkan ketertiban administrasi, serta melibatkan per
setujuan DPR/DPRD untuk legalitas dan perlindungan hukum yang sangat berguna bag
i generasi penerus bangsa.
3) Perjanjian sewa atau penggunaan fasilitas lainnya untuk bangunan siap pakai d
alam Perjanjian Bangun Guna Serah,antara pihak swasta dengan masyarakat umum seb
aiknya dibuat dengan akta notariil melalui jasa Notaris agar mendapatkan kekuata
n pembuktian yang sempurna.
Daftar Pustaka
Ali, Achmad. 2011. Menguak Tabir Hukum. Ghalia Indonesia. Bogor.
Kamilah, Anita, 2013. Bangun Guna Serah (Build Operate and Transfer/BOT), Memban
gun Tanpa Harus Memiliki Tanah (Perspektif Hukum Agraria , Hukum Perjanjian dan
Hukum Publik). Cetakan Pertama. Keni Media. Bandung.
Mas, Marwan. 2003. Pengantar Ilmu Hukum. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Muljadi, Kartini dan Gunawan Wijaya. 2002. Seri Hukum Perikatan, Perikatan Pada
Umumnya. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Prayudi, Guse. 2008. Seluk Beluk Perjanjian Yang Penting Untuk Diketahui, Mulai
dari A-Z. Pustaka Pena. Yogyakarta.
Prasetyo, Teguh dan Abdul Halim Barkatullah. 2012, Filsafat, Teori dan Ilmu Huku
m, Pemikiran Menuju Masyarakat Yang Berkeadilan dan Bermartabat. Jakarta: RajaGr
afindo Persada.
Sunggono, Bambang. 2002. Metodologi Penelitian Hukum, Cetakan keempat. RajaGrafi
ndo Persada. Jakarta.
Sihombing, Irene Eka. 2005. Segi-Segi Hukum Tanah Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pe
mbangunan. Jakarta: Universitas Trisakti.
Syaifuddin, Muhammad. 2012. Hukum Kontrak, Memahami Kontrak Dalam Perspektif Fil
safat, Teori, Dogmatik, dan Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan). Mand
ar Maju. Bandung.
Supriyadi. 2011. Aspek Hukum Tanah Aset Daerah, Menemukan Keadilan, Kemanfaatan,
dan Kepastian atas Eksistensi Tanah Aset Daerah. Prestasi Pustaka Publisher. Ja
karta.
Jurnal:
Asikin, Zainal. 2012. Perjanjian Build and Transfer antara Pemerintah Daerah deng
an Pihak Swasta dalam penyediaan infrastruktur. (Studi di Nusa Tenggara Barat).
Jurnal Dinamika Hukum Vol.12 No. 3 September 2012: 517
Mercy M, Setlight, Keadilan Dalam Perjanjian Bangun Guna Serah (Build, Operate A
nd Transferred Contract/BOT), Vol.I/ No.6/Oktober-Desember/ 2013 Edisi Khusus, h
al.92.
Peraturan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria.
Subekti & R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita,
Jakarta, 2008.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik negara
/daerah
Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 4 Tahun 2009 tentang Perubahan
Atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Pemeri
ntah Provinsi Sumatera Selatan.
Peraturan Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak Peng
uasaan Atas Tanah Negara.
Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Peme

rintah.
Website
Sriwijaya Post, GOR Kampus Tetap Dibangun, Kamis 21 Oktober 2010; 17;43 WIB.
http://bandaacehkota.go.id/berita/1467/tindak-lanjut-pertemuan-dengan-zekeriya-a
kcam--delegasi-banda-aceh-berangkat-ke-turki.html
http://aceh.tribunnews.com/2014/06/13/pemko-akan-bangun-pusat-bisnis-di-keudah
==============================================================================
BANDA ACEH Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh berencana membangun pusat bisnis berlantai de
lapan di lokasi Terminal Angkutan Penumpang Kota (APK) Keudah.
Pusat bisnis yang nantinya dilengkapi mall, plaza dan hotel berbintang, dibangun
dengan nilai investasi sebesar Rp 273 miliar lebih.
Plh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal dalam konferensi pers di Balai
Kota, Kamis (12/6) mengatakan, seluruh biaya pembangunan pusat bisnis yang diber
i nama Banda Aceh Sentral Bisnis Madani tersebut, berasal dari investor.
Pemko hanya menyediakan lahan seluas 11 ribu meter persegi lebih, dan mempermudah
proses perizinannya, kata Illiza.
Illiza menyebutkan, Pemko Banda Aceh merencanakan proyek ini sebagai pengembanga
n perkotaan terpadu dengan pola Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS).
Disebutkannya, bangunan delapan lantai itu masing-masing digunakan untuk basemen
t, terminal, mall dan plaza, serta tiga hotel paling atas dibangun hotel berbint
ang tiga.
Kita akan bangun pusat bisnis ini seperti di Malaysia dan Singapura.
Terminal, penginapan atau hotel dan pusat ekonomi berada dalam satu kawasan.
Insya Allah, kalau terwujud, Banda Aceh akan menjadi contoh bagi daerah di Indon
esia lainnya, ujar Illiza.
Menurut Illiza, pusat bisnis tersebut akan memiliki potensi yang cukup besar kar
ena berada di jantung atau di tengah-tengah kota.
Lokasi ini dekat ke tempat-tempat ibadah dan pusat-pusat pasar seperti Pasar Atj
eh dan Pasar Peunayong.
Untuk meuwujudkan rencana ini, Pemko Banda Aceh akan melakukan pendekatan-pendek
atan ke berbagai investor dan meyakinkan mereka bawah proyek itu mempunyai benef
it yang besar.
Kita akan melakukan lelang proyek ini dalam pertemuan market sounding tanggal 19
Juni di Oasis Ameer Hotel di Jakarta, kata Illiza.
Pembangunan pusat bisnis tersebut, tambah Illiza, juga satu paket dengan pembang
unan jembatan dua tingkat yang langsung menghubungkan pusat bisnis ini ke kawasa
n Peunayong.
Satu tingkat jembatan ini akan digunakan untuk pejalan kaki, dan dilengkapi deng
an warung-warung seperti warung kopi dan lainnya.
Selain itu, Pemko Banda Aceh juga akan menyiapkan transportasi air agar kawasan
tersebut benar-benar menggeliat sehingga pergerakan ekonomi Banda Aceh semakin b
aik.
Untuk itu, kami membutuhkan dukungan semua pihak agar rencana ini terwujud, imbuh
Illiza.
Illizamemperkirakan, sekitar 40 investor itu sudah didata untuk ikut pelelangan
proyek dimaksud.
Ia berharap, ada investor lokal yang ikut serta dalam proses pelelangan.

Sebab, pihaknya masih membuka pendaftaran penawaran. Dalam market sounding nanti,
diharapkan pengusaha lokal, nasional dan internasional bisa hadir ke pelelangan
ini, imbuhnya.
Kerja sama dalam proyek ini adalah bangun, guna dan serah.
Artinya, pihak investor yang membangun gedungnya, lalu menggunakannya selama 30
tahun, dan setelah 30 tahun gedung tersebut akan menjadi milik Pemko Banda Aceh.
Ia menambahkan, dalam estimasi biaya senilai Rp 273 miliar itu, di dalamnya juga
ada konstribusi Pemko Banda Aceh.
Kita juga punya bantuan dari pusat, yaitu dibantu oleh Asian Development Bank yan
g difasilitasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sebutnya.
Di akhir konferensi pers itu, Illiza berharap, proyek tersebut nantinya bisa men
ciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat Kota Banda Aceh.(avi)
================================================================================
===
Banda Aceh
Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Saaduddin Djamal SE bersama Ketua DPRK Arif Fadil
lah dan sejumlah anggota DPRK Kota Banda Aceh melakukan kunjungan kerja ke Istan
bul Turki. Illiza dan rombongan tiba di Bandara Ataturk Turki, Rabu (6/1/2016),
dan langsung menggelar peretmuan dengan Walikota Istanbul, Kadir Topbas besoknya
.
Illiza mengungkapkan keberangkatan delegasi Banda Aceh ke Turki merupakan tindak
lanjut dari pertemuan yang dilakukannya pada November 2015 lalu dengan Duta Bes
ar Turki untuk Indonesia, Zekeriya Akcam di Banda Aceh.
Pada pertemuan di Banda Aceh November tahun lalu, katanya, Zekeriya Akcam memand
ang perlu dilakukannya pertemuan lanjutan untuk membahas secara detail bidang-bi
dang kerjasama yang akan dijajaki Banda AcehIstanbul.
"Beliau mengundang delegasi Banda Aceh ke Turki dengan membawa proposal yang kon
krit untuk dibahas langsung dengan Pemerintah Kota Istanbul, ungkap Illiza meging
at kembali pembicaraannya dengan Duta Besar Turki untuk Indonesia di Banda Aceh,
November tahun lalu.
Kata Zekeriya Akcam, dengan membawa proposal yang konkrit, pihak Turki dapat mem
pelajari Sehingga dapat menyiapkan formula atau lembaga yang tepat untuk membant
u Banda Aceh nantinya.
Atas dasar itu, lanjut Illiza, dirinya memgambil kebijakan bersama dengan pihak
legislatif melakukan kunjungan ke Istanbul pada Januari 2016 ini. Bersama Illiza
juga berangkat Iskandar Bakri yang merupakan fasilitator dan penghubung pihak P
emerintah Istanbul dengan pihak Pemko Banda Aceh.
Illiza juga mengikutsertakan Dirut PDAM Tirta Daroy T Novizal Aiyub dalam rangka
membahas kerjasama dibidang pengelolaan air bersih. Dari jajaran legislatif, ad
a beberapa anggota DPRK yang juga ikut serta, diantaranya Ketua DPRK Arif Fadill
ah, Ilmiza dan Sabri Badruddin.(Mkk)