Anda di halaman 1dari 20

RESUME

PROPOSAL

Pengembangan Peternakan Budidaya Sapi di Gapoktan Eka Jaya

1. Nama Usaha : Budidaya Sapi Potong Gapoktan Eka Jaya


2. Jenis Usaha : a. Pengembangan sapi bakalan dan pembibitan
b. Instalasi pengolahan kotoran menjadi pupuk
3. Lokasi Usaha : RT 16 Kelurahan Eka Jaya Kecamatan Jambi
Selatan
4. Jumlah Ternak : Sapi Betina : 7 ekor
Sapi Jantan : 10 Ekor
5. Pengelola (Mitra)Usaha : Rony Hamdy, S.Pt bersama Gapoktan Eka Jaya

6. Modal / Biaya usaha :

Biaya Investasi : Rp.,- 40.500.000,-


Biaya Operasional : Rp. 178,800.000,-
7. Proyeksi Keuntungan : Rp. 107.000.000;-

1
DAFTAR ISI

HAL
Resume Proposal ............................................................................................ 1
Daftar Isi ......................................................................................................... 2
Bab I Latar Belakang................................................................................. 4
1 Deskripsi Dan Pengembangan Usaha ............................................ 4
2. Kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi tentang Usaha
Agribisnis Budidaya Sapi...............................................................
........................................................................................................
5
Bab II Analisa Aspek Pasar........................................................................ 7
1. Potensi Budidaya Sapi................................................................... 8
2. Analisa SWOT............................................................................... 9
Bab III Aspek Produksi................................................................................ 10
1. Pakan Ternak.................................................................................. 10
2 .Pengemukan Sapi Potong .............................................................. 10
3. Sapi Bakalan................................................................................... 12
4. Pembibitan Sapi.............................................................................. 12
5. Pembuatan Kandang.......................................................................
........................................................................................................
13
6. Sistim Pemelihraan dan Jangka Waktu..........................................
........................................................................................................
14
7. Teknologi Mikroba Ramah Lingkungan........................................
........................................................................................................
14
8. Usaha Pengolahan limBah Peternakan...........................................
........................................................................................................
14
Bab IV Program Pelaksanaan Usaha.......................................................... 15
1. Kegiatan Praoperasional................................................................. 15
2
2. Kegiatan Operasional..................................................................... 15
Bab V Aspek Finansial................................................................................ 16
1. Biaya Investasi. ............................................................................. 16
2. Biaya Produksi............................................................................... 16
3. Proyeksi Pendapatan....................................................................... 16
4. Proyeksi Keuntungan..................................................................... 17
Bab VI Stake Holder..................................................................................... 18
Bab VII Lay Out............................................................................................. 19
Bab VIII Struktur Organisasi..................................................................... 20
Bab IX Penutup.......................................................................................... 21
Tabel 1. Konsumsi daging dan telur penduduk Provinsi Jambi tahun
2003................................................................................................
........................................................................................................
8

Tabel.2. Populasi ternak, kepadatan ternak per km2, jumlah


pemotongan ternak, pasokan dari dalam Provinsi Jambi dan
kekurangannya dipasok dari luar Provinsi Jambi. Tahun
2003................................................................................................
........................................................................................................
8

Diagram 1Dana Pembangunan Peternakan di Dinas Peternakan


Provinsi Jambi Tahun 206- 2009................................................
........................................................................................................
6

3
BAB I

PENDAHULUAN

1. DESKRIPSI DAN PENGEMBANGAN USAHA


a. Gambaran Umum Usaha
Usaha yang akan didirikan bersama Gabungan Kelompok Tani Eka Jaya yang
merupakan budidaya sapi potong berbasis kemitraan dengan pengelolaanya
dilakukan bersama dengan anggota kelompok tani Gapoktan tersebut. Sapi yang
akan dibudidayakan adalah berjenis sapi Bali terdiri dari sapi betina, sapi jantan
(sapi bakalan) dan sapi pembibitan. Budidaya sapi yang akan dilakukan adalah
pengemukkan sapi potong dan pembibitan serta pengolahan kotoran sapi
menjadi pupuk kandang dan untuk jangka panjang akan dikembangkan
pembuatan biogas dari kotoran sapi tersebut.

b. Lokasi Usaha
Lokasi usaha berada di RT 16 Kelurahan Eka Jaya Kecamatan Jambi
Selatan. Alas an lokasi ini dipilih adalah :

4
1. Lokasi ini berada dipinggiran kota jambi yang telah dikenal sebagai
kelutahan yang memiliki lahan yang besar dan mempuinyai sumber daya
alam yang besar untuk mendukung usaha peternakan.
2. Ketersediaan sarana pendukung seperti akses jalan, listrik akses
telekomunikasi, sumber air bersih, akses keuangan dan lahan pertanian
3. warga didaerah ini memiliki kemampuan beternak yang tidak perlu
diragukan lagi, karena salah satu profesi yang digeluti oleh warga kelurahan
Eka Jaya adalah bertani dan beternak, oleh sebab itu daerah ini memiliki
sumber daya manusia yang memiliki pengalaman beternak yang lebih dari
cukup dan juga telah memiliki bukan hanya kelompok tani juga memilik
Gapoktan sendiri.
4. Adanya dukungan pemerintah terhadap pengembangan pertanian dan
peternakan untuk daerah ini juga menjadi factor pendukung yang sangat
besar. Dengan banyak program bantuan dibidang peternakan dan pertanian
yang diberikan oleh pemerintah kota kepada daerah ini turut membuktikan
bahwa lokasi in layak untuk dijadikan sentra usaha peternakan.

c. Latar Belakang

Peluang usaha peternakan sapi potong di Provinsi Jambi cukup cerah. Hal ini
dapat dilihat dari kebutuhan daging sapi Provinsi Jambi pada tahun 2005
diperkirakan mencapai 26.588,46 ton berdasarkan standar gizi konsumsi daging.
Kebutuhan daging sapi setiap tahunnya terus meningkat pesat, sementara
produksi daging sapi jauh lebih kecil, sehingga pemenuhan kebutuhan selalu
negatif, kekurangan produksi daging tersebut sebagian besar didatangkan dari
luar Provinsi Jambi. Konsumsi daging sapi/kerbau masyarakat Jambi pada
tahun 1997 sebesar 9,1 kg/kapita/tahun, tahun 2004 konsumsi sudah mencapai
10,15 kg/kapita/tahun (BPS Provinsi Jambi, 2005), artinya konsumsi daging
mengalami peningkatan sebesar 1,05 kg/kapita, dan diperkirakan konsumsi
daging sapi/kerbau akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Dengan
demikian usaha peternakan sapi potong di Provinsi Jambi sangat potensi dan
sangat layak (feasible) untuk diusahakan.

5
Dengan adanya program Sarjana Membangun Desa untuk tahun 2010 ini dan
didukung oleh peluang usaha yang sangat besar ini, kami sangat berminat untuk
mendirikan usaha Budidaya Sapin Potong ini.

d. Tujuan dan Manfaat Usaha

Tujuan Usaha : membantu pemerintah dalam usaha memenuhi kebutuhan daging


dan bibit tenak untuk Provinsi Jambi.

Manfaat dari usaha ini adalah memberikan keuntungan secara finasial kepada
gapoktan dan semua yang telibat dalam usha petenakan inil

e. Masalah yang mungkin dihadapi dan pemecahannya

Adapun masalah yang mungkin dihadapi adalah hasil buangan sapi yang berupa
kotoran akan menjadi hal yang menganggu karena memberikan aroma yang bau
sehingga akan mengganggu masyarakat sekitarnya. Masalah ini dapat diatasi
dengan perlakuan khusus dan menjadikan kotoran tersebut sebagai pupuk
organik.
2. Kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi tentang Usaha Agribisnis
Budidaya Sapi (sumber: disnak online dinas peternakan provinsi jambi)

Tekad Provinsi Jambi untuk mencapai swasembada daging tahun 2012 semakin
menunjukkan arah yang jelas. Hal ini ditandai dengan akan disebarkannya ternak
sapi bibit dalam jumlah yang cukup besar, bahkan yang terbesar di Provinsi Jambi
sejak 10 tahun terakhir, selain itu, beberapa kegiatan lain yang ditujukan untuk

6
meningkatkan produktivitas ternak juga dilaksanakan, seperti kegiatan Intensifikasi
Kawin Suntik dan Penyelamatan Sapi Betina Bunting di RPH/TPH.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memulai proses pengadaan ternak
Sapi Bali di awal tahun sehingga kemungkinan memperoleh bibit Sapi Bali
langsung dari sumber bibitnya (yaitu NTB dan Sulawesi Selatan) menjadi lebih
besar dengan harga yang terjangkau sesuai pagu anggaran yang tersedia. Jumlah
sapi yang diadakan pada tahun 2009 ini sebanyak 2.487 ekor yang terdiri dari sapi
Bali bibit 2.101 ekor, sapi penggemukan 175 ekor, sapi Brahman Cross eks impor
211 ekor dan sapi Bali pejantan unggul sebanyak 35 ekor. Ternak tersebut
disebarkan di 10 Kabupaten /Kota di Provinsi Jambi. Di bidang kesehatan hewan,
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi juga telah menyediakan
obat-obatan serta tim dokter hewan agar ternak yang sampai ke peternak berada
dalam status sehat dan berkembang dengan baik.

7
BAB II

ANALISIS ASPEK PASAR

5. Potensi Budidaya Sapi


Daging khususnya daging sapi merupakan sumber protein hewani yang banyak
dibutuhkan oleh konsumsi. Indonesia dan Provinsi Jambi khususnya sampai saat ini
belum mampu memenuhi kebutuhan daging tersebut, sehingga untuk memenuhi
kebuthan tersebut, provinsi ini masih mendatangkan daging sapi dan bibitnya dari luar.
Kondisi tersebut mengisyaratkan peluang untuk pengembangan usaha tersebut. Kondisi
alam provinsi jambi sama dengan daerah lain Indonesia yaitu bersuhu tropis dengan
geografis yang mendukung membuat usaha budidaya sapi sangat cocok dikembangkan
didaerah ini.
Tabel 1. Konsumsi daging dan telur penduduk Provinsi Jambi tahun 2003
NO KABUPATEN/ KOTA KONSUMSI DAGING KONSUMSI TELUR
(kg) (%) (kg) (%)
1 KOTA JAMB 8.580.606 46 4.103.902,79 41
2 MUARO JAMBI 279.496 1 254.138,55 3
3 BATANG HARI 952.341 5 911.648,36 9
4 TEBO 1.730.817 9 607.211,90 6
5 BUNGO 2.950.856 16 698.969,18 7
6 MERANGIN 927.657 5 200.530,24 2
7 SAROLANGUN 447.425 2 245.913,04 2
8 KERINCI 1.627.537 9 835.196,17 8
9 TANJAB BARAT 974.869 5 1.709.902,11 17
10 TANJAB TIMUR 179.027 1 536.551,41 5
PROVINSI JAMBI 18.650.631 100 10.103.963,75 100

8
Tabel.2 Populasi ternak, kepadatan ternak per km2, jumlah pemotongan ternak, pasokan dari
dalam Provinsi Jambi dan kekurangannya dipasok dari luar Provinsi Jambi. Tahun
2003

Kepadatan Pasokan dari dalam Dipasok dari Luar


Populasi Jumlah Pemotongan
Ternak Provinsi Jambi Prov. Jambi
No Jenis Ternak (Ekor) Per Km Setahun (ekor) (ekor)

(ekor) (ekor)

1 Sapi 147.917 2,70 18.088 6.805 11.283

2 Kerbau 68.159 1,20 12.963 5.462 7.501

3 Kuda 633 0,01 111 62 49

4 Babi 12.724 0,23 8.89 2.12 6,770

5 Kambing 132.369 2,40 25.658 16.399 9.259

6 Domba 45.916 0,80 5.844 5.768 76

7 Ayam Buras 3.985.120 74,00 4.617.275 4.268.551 348.724

8 Ayam Petelur 611.91 11,40 212.449 74.049 138.400

9 Ayam Pedaging 6.831.292 127,80 12.158.536 4.774.042 7.384.494

10 Itik 940.842 17,60 258.664 239.036 19.628

(sumber: Dinas Peternakan Provinsi Jambi, 2003)

Berdasarkan data-data diatas dimana jumlah konsumsi penduduk provinsi ini


sangatlah besar yaitu 18.650.631 setahunnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut
Provinsi Jambi masih mendatangkan pasokan sapi dari luar yaitu sebanyak 19.628 ekor
sapi, yang berarti peluang pasar yang masih sangat besar dan layak untuk dimanfaatkan.

6. Analisi SWOT
Untuk mendirikan suatu usaha penting untuk mengetahui aspek –aspek yang
mempengaruhi usaha tersebut. Aspek-aspek tersebut adalah aspek strength (kekuatan),
aspek weakness (kelemahan), aspek opportunities (peluang pasar), dan aspek threath
(ancaman).
9
a. Aspek strength (kekuatan)
- usaha budidaya sapi secara garis besar tidak lah sulit
- Kelurahan Eka Jaya memeiliki sarana yang mendukung untuk mendirikan usaha
tersebut, sarana akses transportasi, listrik, telekomunikasi sumber daya manusia
(dengan mengikutsertakan santri sebagai tenaga pengelolanya), akses keuangan
perbankan karena berada daerah perkotaan kota jambi.
- Dukungan kebijakan Pemerintah Daerah Jambi yang besar terhadap
pengembangan budidaya sapi didaerahnya.
- Harga jualnya yang stabil daripada ternak lain dan cendrung terus meningkat.
b. Aspek weaknes (kelemahan)
- Terbatasnya ketersediaan bibit ternak dan atau bakalan ternak
- Belum adanya pabrik makanan ternak.
c. Aspek opportunities (peluang)
- Cultur atau budaya masyarakat Jambi yang terus berkembang mengolah daging
menjadi beraneka makanan seperti rendang dalam pola makan kesehariannya.
- Untuk mencukupi permintaan pasar daging konsumsi masyarakat Jambi sebagian
besar masih didatangkan dari luar Provinsi Jambi khususnya daging ternak besar
(60%)
- Konsumsi perkapita perhari baru mencapai 8,74 Kg (84,85%) untuk daging
(sumber: Dinas Peternakan Provinsi Jambi)
d. Aspek threath (ancaman)
Ancaman yang akan selalu ada pada usaha peternakan adalah serangan wabah
penyakit dan harga pakan kosentrat yang kurang stabil.

10
BAB III
ASPEK PRODUKSI

1. Pakan Ternak.
Pakan ternak yang akan diberikan adalah hijauan ternak berupa rumput gajah dan
rumput liar disekitar komplek Pondok pesantren. Selain itu sapi juga diberi
kosentrat, limbah sayur (kol), daun dan batang tebu, ampas tebu, kulit ubi kayu dan
jerami padi, dan pelepah sawit.
2. Penggemukan Sapi Potong
Sapi-sapi lokal yang terdapat di Indonesia, kesemuanya dapat digunakan untuk
penggemukan, akan tetapi tidaklah semua jenis sapi itu mempunyai prospek yang
sama untuk digemukkan. Pada bagian berikut akan di deskripsikan hal-hal yang
berkenaan dengan usaha penggemukkan sapi dalam usaha peternakan sapi potong.
Ada beberapa sistem penggemukan yang digunakan untuk sapi, diantaranya adalah :
- Pasture Fettening
Merupakan suatu sistem penggemukan sapi yang dilakukan dengan cara
menggembalakan sapi di padang pengembalaan. Teknik pemberian pakan dalam
sistem ini adalah dengan pengembalan.
- Dry Lot Fattening
Merupakan suatu sistem penggemukkan sapi dengan pemberian ransum atau
pakan yang mengutamakan biji-bijian, seperti jagung, sorgum atau kacang-
kacangan. Namun belakangan ini penggemukan sapi dengan sistem ini bukan

11
hanya memberikan satujenis biji-bijian saja, tetapi sudah merupakan suatu bentuk
yang diformulasi dari berbagai jenis bahan pakan konsentrat.
- Kombinasi Pasture dan Dry Lot Fattening
Di daerah tropis, pada musim banyak produksi hijauan ataupun rumput,
penggemukan sapi dilakukan dengan pasture, pada musim tertentu sepeti pada
musim kemarau, sewaktu produksi hjauan sudah sangat menurun, penggemukan
sapi diteruskan dengan sistem Dry Lot. Usaha budidaya sapi yang akan
dilaksanakan di pada PKP Al-Hidayah memakai sistim pengemukan sapi cara ini,
dikarenakan suhu kota jambi adalah suhu tropis

Usaha penggemukan sapi potong membutuhkan pemeliharaan yang relatif tidak


sulit. Berbeda dengan usaha sapi perah, yang pemeliharaannya harus sangat intensif.
Modalnya pun tidak terlalu besar, karena besarnya modal tergantung banyaknya sapi
bakalan yang akan digemukkan. Disamping itu singkatnya pemeliharaan yaitu 3 – 4
bulan juga menjadi faktor penunjang keberhasilan usaha ini. Dengan sistem
penggemukan yang dipadukan dengan usaha pertanian, misalnya penanaman jagung
dan sayur-sayuran. Maka usaha ini menjadi usaha tani terpadu tanpa limbah.

3. Sapi Bakalan
Sapi yang akan digemukkan biasanya disebut sebagai sapi bakalan. Sapi ini biasanya
berusia 15 – 20 bulan dan memiliki bobot hidup sekitar 200 – 300 kg. Kondisi nya
agak kurus tetapi sehat bertulang rangka agak besar.
Biasanya yang digunakan sebagai sapi bakalan adalah ternak yang berkelamin
jantan. Jenisnya bermacam-macam, ada jenis bakalan import dan lokal. Sapi bakalan
yang berasal dari galur impor ini biasanya pertumbuhannya lebih baik di banding
sapi local. Pertumbuhan bobot badan perharinya berkisar 1 – 1,5 kg/ekor/hari.
Karena kemampuan mengkonsumsi konsentratnya lebih baik, demikian pula dengan
metabolisme tubuhnya. Sehingga dalam waktu singkat mampu mencapai bobot
badan yang ideal 400 – 500 kg.

4. Pembibitan sapi

12
Pembibitan sapi adalah kegiatan budidaya menghasilkan bibit sapi. Persyaratan sapi
untuk dijadikan sapi bibit adalah sapi bibit harus sehat dan bebas dari cacat fisik
seperti cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku
abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya.
Semua sapi betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta
tidak menunjukan gejala mandul. Sapi jantan harus siap sebagai pejatan serta tidak
memiliki cacat pada alat kelaminnya. Dalam upaya memeproleh bibit yang
berkualitas melalui teknik perkawinan dapat dilakukan dengan cara kawin dan
inseminasi buatan (IB). Pada kawin alam rasio jantan banding betina diusahakan
1:8-10, sedangkan inseminasi buatan memakai semen buatan SNI 01.4869.1-205
atau semen dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya dan dinyatakan bebas dari
penyakit hewan menular. Pelaksanaan kawin alam dan IB harus dilakukan
pengaturan penggunaan pejantan atau semen untuk menghindari perkawinan sedarah
(inbreeding)
5. Pembuatan Kandang
Beberapa syarat pembuatan kandang sapi untuk penggemukan :
- Memberi kenyamanan bagi sapi-sapi yang digemukkan dan bagi si pemelihara
ataupun pekerja kandang.
- Memenuhi persyaratan bagi kesehatan sapi
- Ventilasi atau pertukaran udara yang sempurna
- Mudah dibersihkan
- Bahan-bahan yang digunakan dapat bertahan lama, tidak mudah lapuk, dan
biayanya relatif murah dan terjangkau oleh peternak pada umumnya.
- Tidak ada genangan air di dalam maupun luar kandang
Kontruksi Kandang
Sebaiknya dipilih bahan-bahan yang bersifat tahan lama, tidak menimbulkan refleksi
panas terhadap sapi yang ada dalam kandang. Lantai kandang dapat dibuat dari
semen, papan/kayu, atau tanah yang dipadatkan. Untuk dinding kandang disarankan
dibuat hanya pada daerah-daerah yang banyak angin dan angin tertiup keras. Atap
kandang, dapat berupa genting, daun tebu, daun kelapa, daun umbia, alang-alang

13
atau ijuk. Tempat ransum dan air minum, dapat dibuat dari tembok beton dengan
lubang permukaan air pada bagian bawah dan sebaiknya dibuat cekung.
Ukuran Kandang
Ukuran kandang untuk satu ekor sapi dewasa adalah sebagai berikut :
Panjang dan lebar lantai 2,10x1,45 m untuk sapi-sapi eks impor. Untuk sapi perah
jantan panjang tempat ransum beserta aiir minum adalah selebar tempat sapi yaitu
sekitar 1,45-1,50 m, tempat ransum panjangnya 25-100 cm, lebar 50 cm dan
kedalamannya 40 cm. Panjang tempat air minum adalah 45-55 cm, lebar 50 cm dan
kedalamannya 40 cm. Pada bagian belakang sapi dibuat selokan dengan lebar sekitar
25-30 cm dan kedalaman 15-20 cm. Jalan samping antara jalan kedua baris sapi pada
kandang tipe ganda harus dibuat dengan lebar 1 m.
6. Sistem Pemeliharaan dan Jangka Waktu
Sapi-sapi bakalan dipelihara selama 4 - 5 bulan. Sistem pemeliharaan yang intensif,
dengan pemberian pakan konsentrat 5 – 7 kg/ekor/sapi dikombinasikan dengan
hijauan 20 – 25 kg/ekor/hari.

7. Teknologi Mikroba Ramah Lingkungan

Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor mengembangkan sejenis mikroba yang harus
diberikan kepada sapi sebelum dilakukan program penggemukan. Tujuan dari
pemberian mikroba tambahan ini adalah untuk memperbaiki kondisi pencernaan
sapi, khususnya pada perut rumennya. Agar daya cerna sapi terhadap hijauan/ serat
kasar menjadi lebih baik.

8. Usaha Pengolahan Limbah Peternakan


Kotoran ternak sapi pedaging jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan
pencemaran lingkungan. Bahkan kegiatan penanganannya bisa dijadikan sebagai
sebuah bentuk usaha pengolahan limbah peternakan seperti biogas dan produksi
pupuk organik.

14
BAB IV
PROGRAM PELAKSANAAN USAHA

Kegiatan Pra Operasional


Jadwal Pelaksanaan Maret 2010 (hari) Biaya
No Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 (Rp.)

1. Suvei Pasar -
2. Pembuatan Proposal -
Pengajuan dan presentasi
3. -
proposal

1. Kegiatan Operasional
Waktu Pelaksanaan (bulan)
No Rincian kegiatan I II III III IV
seterusnya
1 Pembuatan kandang
2 Penanaman Rumput
4 Pengadaan Sapi
5 Obat2an ternak dan
peralatan
6 Pelayaanan IB

BAB V

ASPEK FINANSIAL

Kebutuhan biaya dalam mendirikan usaha budidaya sapi ini meliputi


15
1. Biaya Investasi (Rp. 000)

Investasi Awal Jumlah Satuan Harga satuan Biaya (Rp)

1. Kandang 1 Paket 30.000


2. peralatan 4.000
2. Instalasi sumber air dan
listrik, meliputi:
- pembuatan sumur bor 1
- pemyediaan pompa 1.500
Paket
air dan tanki air 1
- pemasangan jaringan 750
dan pengadaan alat- 1
alat listrik 250

3. Instalasi bagunan
1 Paket 4.000
pegolahan pupuk

Total Investasi Awal 40.500

2. Biaya Produksi (Rp. 000) / perioede (4-5 bulan)


No Uraian Jml Satuan Harga Satuan (Rp.) Total Rp
Bakalan Sapi
1 - sapi betina 7 Ekor 8.000 56.000
- sapi jantan 15 7.000 105.000
Pembuatan Ransum dan
2 1 Paket 5.000
mikroba probiotik bio plus
3 Penghijauan 1 Paket 5.000
4 Obat-obatan & IB 1 Paket 2.000
Pengolahan pupuk kandang :
- Kantong Pupuk 5000 Kantong 1000 5.000
5
- Bakteri pengaya 1 Kg 500 500

6 Biaya litrik & telepon 5 Bulan 300 300


10 Pekerja Kandang 2 Orang/bln 750 1.500
Total Biaya Produksi 178.800

3. Proyeksi Pendapatan (per periode)


Penjualan sapi hasil pengemukan (@ Rp. 18.000.000) = 15 x Rp. 18.000.000,-
= Rp. 270.000.000,-
Penjualan pupuk kandang (@ Rp. 3000) = 5000 x Rp. 3.000,-
= Rp. 15.000.000,-
Pendapatan = Rp. 270.000.000,- + Rp. 15.000.000,-
= Rp. 285.000.000,-

16
4. Proyeksi Keuntungan
a. Keuntungan = Pendapatan – Biaya Produksi
= Rp. 285.000.000,- - Rp. 178.000.000,-
= Rp. 107.000.000

b. anak sapi (pedet) hasil pembibitan dijadikan sapi bakalan dan sapi pembibitan..

BAB VI
STAKE HOLDER

1. Yang menerima Manfaat

17
Manfaat akan diterima adalah dalam bentuk keuntungan materi dan moril.
Keuntungan materi didapat pengelola usaha berupa uang keuntungan hasil usaha dan
kemudahan penyediaan daging bagi konsumsi masyarakat serta hasil sampingan
produksi ternak seperti kototan bisa dijadikan pupuk kandang bagi usaha pertanian
dan makanan bagi usaha perikanan.

2. Stake Holder
Stake holdernya adalah
a). Pemerintahan Daerah (Pemda) provinsi Jambi
b). Pemerintah Kota Jambi
c). Dinas Peternakan Provinsi Jambi dan Kota Jambi

3. Kepemilikan
Usaha Budidaya Sapi ini kepemilikannya berupa kemitraan antara sarjana
pendamping dan Gapoktan Eka Jaya.

4. Pengelola dan Pengontrol Usaha


Pengelola usaha peternakan adalah sarjana pendaping dan anggota Gapoktan Eka
Jaya.

5. Pertanggung Jawaban
Semua kegiatan dan hasil usaha peternakan akan dipertanggung jawabkan pada:
a. Departemen Pertanian RI
b. Pemerintah Daerah Provinsi
Jambi
c. Dinas Peternakan Provinsi
Jambi
d. Pemeintah Kota Jambi
e. Dinas Peternakan Kota
Jambi.

18
BAB VII
Lay Out Kandang

10

9 7

1
8

9 6

2 3 4 4 5

11

Keterangan
1. Kandang pengemukan
2. Kandang pembibitan
3. Gudang Persiapan pakan dan ransum
4. gudang penyimpanan obat-obatan
5. Gudang Peralatan Kandang
6. Tempat Tinggal Teknisi & Karyawan
7. Tempat pengolahan kotoran menjadi pupuk
8. Sumur Bor sebagai sumber air bersih
9. Tanki penampung air
10. Akses Jalan
11. Pagar Kandang

19
BAB IX
PENUTUP

Pengembangan budidaya sapi di Provinsi Jambi memiliki peluang usaha yang


sangat besar dan secara teknis, ekonomi dan finansial layak untuk dikembangkan.
Dengan sumber daya yang kami miliki dan sarana prasarana yang telah tersedia serta
kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang turut mendukung, diharapkan usaha
budidaya sapi potong ini dapat mendatangkan manfaat bagi pengelola usaha dan
membantu mewujudkan tercapainya swasembada daging di Indonesia dan Provinsi
Jambi.
Jambi, Maret 2010
Kelompok Tani
Ketua Sekretaris Bendahara

(Sumani) (Miskan) (Rony Hamdy, S.Pt)

Mengetahui
Lurah Eka Jaya Camat Kecamatan Jambi Selatan Penyuluh Peternakan

Ka. Dinas Peternakan Kota Jambi

20