Anda di halaman 1dari 4

1.

Protein antivirus (interferon)

Interferon adalah protein yang membantu untuk melindungi sel-sel tubuh yang sehat di
sekitarnya terhadap virus. Interferon yang dihasilkan sebagai respon terhadap suatu virus,
memberikan perlindungan kepada sel-sel terhadap invasi yang sama atau virus lainnya.
Interferon berfungsi untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus, meningkatkan sistem
kekebalan, efektif untuk melawan melanoma (kanker kulit), leukemia, membantu
menyembuhkan rematik tulang (Pacito, 2010).
Sel yang terinfeksi virus akan mengeluarkan interferon. Interferon mengganggu replikasi virus
(antivirus). Interferon juga memperlambat pembelahan & pertumbuhan sel tumor dengan
meningkatkan potensi sel NK & sel T sitotoksik (antikanker). Peran interferon yg lain yaitu
meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag & merangsang produksi antibodi.
2. Sel natural killer (NK)

Sel natural killer (NK) adalah sel limfosit yang ditemukan di dalam darah dan organ limfosit
perifer, yang mampu membunuh sel yang terinfeksi virus atau sel tumor tanpa melibatkan sistem
imun dan restriksi MHC. Sel NK juga disebut sebagai granuler limfosit yang besar atau sel nul
karena ditandai dengan absennya penanda permukaan yang khas seperti sel-T dan sel-B. sel-NK

juga mampu menghancurkan (menghaluskan) sel target dengan kontak langsung tanpa perantara
antibody atau Antibody Dependent Celluler Cytoxicity (ADCC).
Sel NK dapat mengenali host cell yang sudah berubah akibat terinfeksi mikroba. Mekanisme
pengenalan ini belum sepenuhnya diketahui. Sel NK mempunyai berbagai reseptor untuk
molekul host cell, sebagian reseptor akan mengaktivasi sel NK dan sebagian yang lain
menghambatnya. Reseptor pengaktivasi bertugas untuk mengenali molekul di permukaan host
cell yang terinfeksi virus, serta mengenali fagosit yang mengandung virus dan bakteri. Reseptor
pengaktivasi sel NK yang lain bertugas untuk mengenali molekul permukaan host cell yang
normal (tidak terinfeksi).
Fagositosis

Fagositosis adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel sel fagosit dengan
cara mencerna mikroorganisme / partikel asing yang masuk kedalam tubuh.
Fagiositosis dapat terjadi pada saat tubuh kita demam dikarenakan dalam sel darah putih
melepaskan suatu senyawa yang disebut pirogen, pirogen akan meningkatkan suhu tubuh lebih
tinggi karena proses respon sistemik yang dihasilkan oleh mikroorganisme pathogen.Proses
tersebut membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen. Dengan kata lain
demam dalam tingkat normal adalah proses imun tubuh dalam penghambat pertumbuhan
mikroorganisme pathogen.

Sistem komplemen

Sistem komplemen merupakan sekumpulan protein dalam sirkulasi yang penting dalam
pertahanan terhadap mikroba. Banyak protein komplemen merupakan enzim proteolitik. Aktivasi
komplemen membutuhkan aktivasi bertahap enzim-enzim ini yang dinamakan enzymatic
cascade.
Protein komplemen yang teraktivasi berfungsi sebagai enzim proteolitik untuk memecah protein
komplemen lainnya. Bagian terpenting dari komplemen adalah C3 yang akan dipecah oleh enzim
proteolitik pada awal reaksi complement cascade menjadi C3a dan C3b. Fragmen C3b akan
berikatan dengan mikroba dan mengaktivasi reaksi selanjutnya. Ketiga jalur aktivasi komplemen
di atas berbeda pada cara dimulainya, tetapi tahap selanjutnya dan hasil akhirnya adalah sama.
Sistem komplemen mempunyai 3 fungsi sebagai mekanisme pertahanan. Pertama, C3b
menyelubungi mikroba sehingga mempermudah mikroba berikatan dengan fagosit (melalui
reseptor C3b pada fagosit). Kedua, hasil pemecahan komplemen bersifat kemoatraktan untuk
neutrofil dan monosit, serta menyebabkan inflamasi di tempat aktivasi komplemen. Ketiga, tahap
akhir dari aktivasi komplemen berupa pembentukan membrane attack complex (MAC) yaitu
kompleks protein polimerik yang dapat menembus membran sel mikroba, lalu membentuk
lubang-lubang sehingga air dan ion akan masuk dan mengakibatkan kematian mikroba.

Inflamasi

Merupakan respons lokal tubuh thd infeksi atau perlukaan . Tidak spesifik hanya untuk infeksi
mikroba, tetapi respons yg sama juga terjadi pada perlukaan akibat suhu dingin, panas, atau
trauma. Fagosit merupakan pemeran utama yang terdiri dari: neutrofil, monosit, & makrofag.
Tahap inflamasi:
Masuknya bakteri ke dalam jaringan. Vasodilatasi sistem mikrosirkulasi area yg terinfeksi dapat
meningkatkan aliran darah. Permeabilitas kapiler & venul yang terinfeksi terhadap protein
meningka sehingga difusi protein & filtrasi air ke interstisial. Keluarnya neutrofil lalu monosit
dari kapiler & venula ke interstisial . Penghancuran bakteri di jaringan akan mengakibatkan
fagositosis (respons sistemik: demam) yang selanjutnya yaitu perbaikan jaringan.

Anda mungkin juga menyukai