Anda di halaman 1dari 9

RESPON IMUN TUBUH TERHADAP BAKTERI

Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks
terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan
berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin
yang saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas
mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik.
Ketika bakteri masuk ke dalam tubuh, maka sistem imun dalam tubuh akan otomatis
menjalankan

suatu

mekanisme

untuk

mempertahankan

tubuh

dari

serangan

bakteri. Mekanisme pertahanan tubuh ada 2 yaitu, mekanisme non spesifik dan mekanisme
spesifik.
1.

Mekanisme Pertahanan Non Spesifik


Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate,
atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu
jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen.Innate immunity terdiri dari barier fisik
dan barier mikrobiologis (flora normal), komponen fase cair, dan konstituen seluler (Hirsch
& Zee, 1999). Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam
elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu.
Contoh mekanisme pertahanan non spesifik tubuh kita adalah kulit dengan kelenjarnya,
lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air
mata. Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan komplemen
merupakan komponen mekanisme pertahanan non spesifik.

a.

Permukaan tubuh, mukosa dan kulit


Permukaan tubuh merupakan pertahanan pertama terhadap penetrasi mikroorganisme.
Bila penetrasi mikroorganisme terjadi juga, maka mikroorganisme yang masuk akan
berjumpa dengan pelbagai elemen lain dari sistem imunitas alamiah.

b.

Kelenjar dengan enzim dan silia yang ada pada mukosa dan kulit
Produk kelenjar menghambat penetrasi mikroorganisme, demikian pula silia pada
mukosa. Enzim seperti lisozim dapat pula merusak dinding sel mikroorganisme.

c.

Komplemen dan makrofag


Jalur alternatif komplemen dapat diaktivasi oleh berbagai macam bakteri secara langsung
sehingga eliminasi terjadi melalui proses lisis atau fagositosis oleh makrofag atau leukosit
yang distimulasi oleh opsonin dan zat kemotaktik, karena sel-sel ini mempunyai reseptor
untuk komponen komplemen (C3b) dan reseptor kemotaktik. Zat kemotaktik akan
memanggil sel monosit dan polimorfonuklear ke tempat mikroorganisme dan memfagositnya.

d.

Protein fase akut


Protein fase akut adalah protein plasma yang dibentuk tubuh akibat adanya kerusakan
jaringan. Hati merupakan tempat utama sintesis protein fase akut. C-reactive protein (CRP)
merupakan salah satu protein fase akut. Dinamakan CRP oleh karena pertama kali protein
khas ini dikenal karena sifatnya yang dapat mengikat protein C dari pneumokok. Interaksi
CRP ini juga akan mengaktivasi komplemen jalur alternatif yang akan melisis antigen.

e.

Sel natural killer (NK) dan interferon


Sel NK adalah sel limfosit yang dapat membunuh sel yang dihuni virus atau sel tumor.
Interferon adalah zat yang diproduksi oleh sel leukosit dan sel yang terinfeksi virus, yang
bersifat dapat menghambat replikasi virus di dalam sel dan meningkatkan aktivasi sel NK.

2.

Mekanisme Pertahanan Spesifik


Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas
didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen,
karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain..
Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka
imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme
pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen sistem
imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen.
Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang
merupakan ligannya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan memori
imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpejan lagi dengan antigen yang sama di
kemudian hari. Akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor yang spesifik terhadap antigen
yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen. Sel yang berperan dalam imunitas
didapat ini adalah sel yang mempresentasikan antigen (APC = antigen presenting cell =
makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T dan limfosit B masing-masing
berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel limfosit T akan meregulasi respons
imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi
sel plasma dan memproduksi antibodi yang akan menetralkan atau meningkatkan fagositosis
antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta meningkatkan sitotoksisitas sel yang
mengandung antigen yang dinamakan proses antibody dependent cell mediated cytotoxicy
(ADCC). Limfosit berperan utama dalam respon imun diperantarai sel. Limfosit terbagi atas
2 jenis yaitu Limfosit B dan Limfosit T.

Berikut adalah perbedaan antara Limfosit T dan Limfosit B :


Limfosit B

Limfosit T

Dibuat di sumsum tulang yaitu sel


batang yang sifatnya pluripotensi
(pluripotent

stem

cells)

dan Dibuat di sumsum tulang dari sel batang yang

dimatangkan di sumsum tulang pluripotensi(pluripotent

stem

(Bone Marrow)

dimatangkan di Timus

Berperan dalam imunitas humoral

Berperan dalam imunitas selular

cells)

dan

Menyerang antigen yang ada di


cairan antar sel

Menyerang antigen yang berada di dalam sel

Terdapat 3 jenis sel Limfosit B Terdapat 3 jenis Limfosit T yaitu:


yaitu:

Limfosit B plasma, memproduksi berfungsi


antibodi.

Limfosit T pempantu (Helper T cells),

Limfosit

mengantur

sistem

imun

dan

mengontrol kualitas sistem imun.


B

pembelah,

Limfosit T pembunuh(Killer T cells) atau

menghasilkan Limfosit B dalam Limfosit T Sitotoksik, menyerang sel tubuh


jumlah banyak dan cepat.

Limfosit B memori, menyimpan

yang terinfeksi oleh patogen.


Limfosit T surpressor (Surpressor T cells),

mengingat antigen yang pernah berfungsi


masuk ke dalam tubuh.

menurunkan

dan

menghentikan

respon imun jika infeksi berhasil diatasi.

Aktivitas lain untuk eliminasi antigen


Bila antigen belum dapat dilenyapkan maka makrofag dirangsang untuk melepaskan
faktor fibrogenik dan terjadi pembentukan jaringan granuloma serta fibrosis, sehingga
penyebaran dapat dibatasi.
Sel Th aktif juga akan merangsang sel B untuk berproliferasi dan berdiferensiasi
menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi. Sebagai hasil akhir aktivasi ini adalah
eliminasi antigen. Selain eliminasi antigen, pemejanan ini juga menimbulkan sel memori
yang kelak bila terpejan lagi dengan antigen serupa akan cepat berproliferasi dan
berdiferensiasi.
Pejanan antigen pada sel B
Antigen akan berikatan dengan imunoglobulin permukaan sel B dan dengan bantuan
sel Th (bagi antigen TD) akan terjadi aktivasi enzim dalam sel B sedemikian rupa hingga
terjadilah transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi
antibodi dan membentuk sel B memori. Selain itu, antigen TI dapat secara langsung
mengaktivasi sel B tanpa bantuan sel Th.
Antibodi yang disekresi dapat menetralkan antigen sehingga infektivitasnya hilang,
atau berikatan dengan antigen sehingga lebih mudah difagosit oleh makrofag dalam proses
yang dinamakan opsonisasi. Kadang fagositosis dapat pula dibantu dengan melibatkan
komplemen yang akan berikatan dengan bagian Fc antibodi sehingga adhesi kompleks
antigen-antibodi pada sel makrofag lebih erat, dan terjadi endositosis serta penghancuran
antigen oleh makrofag. Adhesi kompleks antigen-antibodi komplemen dapat lebih erat karena
makrofag selain mempunyai reseptor Fc juga mempunyai reseptor C3B yang merupakan
hasil aktivasi komplemen.
Selain itu, ikatan antibodi dengan antigen juga mempermudah lisis oleh sel Tc yang
mempunyai reseptor Fc pada permukaannya. Peristiwa ini disebut antibody-dependent
cellular mediated cytotoxicity (ADCC). Lisis antigen dapat pula terjadi karena aktivasi

komplemen. Komplemen berikatan dengan bagian Fc antibodi sehingga terjadi aktivasi


komplemen yang menyebabkan terjadinya lisis antigen.
Hasil akhir aktivasi sel B adalah eliminasi antigen dan pembentukan sel memori yang
kelak bila terpapar lagi dengan antigen serupa akan cepat berproliferasi dan berdiferensiasi.
Walaupun sel plasma yang terbentuk tidak berumur panjang, kadar antibodi spesifik yang
cukup tinggi mencapai kadar protektif dan berlangsung dalam waktu cukup lama dapat
diperoleh dengan vaksinasi tertentu atau infeksi alamiah. Hal ini disebabkan karena adanya
antigen yang tersimpan dalam sel dendrit dalam kelenjar limfe yang akan dipresentasikan
pada sel memori sewaktu-waktu di kemudian hari.
I.
A.

Sel-Sel Imunitas Alami


Sel-sel fagosit
Infeksi bakteri di dalam tubuh menyebabkan mobilisasi neutrofil yang cepat dari
tempat penyimpanannya ke area infeksi, sehingga terjadi akumulasi neutrofil. Pergerakan
neutrofil dipengaruhi oleh faktor kemotaktis. Proses akumulasi neutrofil diawali dengan
adherence neutrofil di sistem sirkulasi ke endotelium vaskuler (margination), extravasation ke
dalam ruang antarjaringan, dan kemotaksis sel menuju ke daerah luka. Mikroorganisme
penginfeksi dicerna oleh neutrofil melalui proses fagositosis.
Fagositosis bakteri oleh neutrofil terjadi dalam beberapa tahap. Pertama terjadi
pengenalan dan pengikatan awal. Proses ini dibantu oleh opsonin dan/atau imunoglobulin dan
komponen komplemen. Lalu pseudopodia terbentuk mengelilingi organisme dan fusi
membentuk vakuola fagositik yang berisi organisme. Setelah ditelan, granula lisosom fusi
dengan membran fagosom membentuk fagolisosom.

B.

Makrofag
Makrofag merupakan sel mononuklear yang dibentuk di sumsum tulang. Untuk
beberapa hari setelah dilepaskan dari sumsum tulang, ia dilepaskan ke aliran darah dalam
bentuk monosit sebelum menuju ke jaringan di mana ia akan menjadi makrofag yang
fungsional. Makrofag distimulasi oleh sitokin (misalnya interferon) atau produk mikrobial

(misalnya lipopolisakarida) untuk mengaktivasi nitric oxide synthase yang mengkatalis


produksi nitro oksida (NO) dari L-arginin. NO sangat toksik bagi kebanyakan bakteri.
Makrofag mirip dengan neutrofil dalam hal enzim hidrolitik dan peptida kationik (defensins)
yang dihasilkan oleh lisosom.
Makrofag tidak ada sampai terjadi proses infeksi, setelah 8-12 jam. Kadangkala
neutrofil dapat mengeliminasi organisme sebelum makrofag datang dalam jumlah besar.
C.

Sel Natural Killer (NK)


Sel natural killer merupakan sel limfoid dengan karakteristik bukan sebagai limfosit T
ataupun limfosit B. Sel ini tidak memiliki reseptor sel T, CD4, CD8, atau CD2 dan tidak
memiliki imunoglobulin. Sel NK memiliki membran reseptor CD16, suatu reseptor IgG
afinitas rendah. Sel NK berfungsi membunuh sel tumor, sel yang terinfeksi virus, dan
beberapa bakteri.

II.

Inflamasi
Inflamasi adalah istilah untuk respon tubuh terhadap kelukaan. Secara patologis ada
empat tanda-tanda inflamasi: calor (panas), dolor (sakit), tumor (bengkak), dan rubor
(kemerahan). Proses ini memiliki 3 komponen: 1) meningkatnya sirkulasi ke area, 2)
meningkatnya permeabilitas kapiler, 3) kemotaksis neutrofil dan makrofag ke area (Hirsch &
Zee, 1999).

III.

Respon Acquired Immunity


Respon ini digerakkan oleh adanya presentasi antigen terhadap sel T dan B oleh antigen-

presenting cell (APC). Antigen ditangkap oleh makrofag dari lingkungan eksternal, misalnya
bakteri yang difagosit dan didigesti di dalam vakuola fagositik, akan diproses di fagosom dan
bagian dari antigen yang tercerna akan dibawa ke permukaan.
IV.

Respon Antibodi
Respon acquired immunity dimulai dengan penelanan agen infeksi oleh APC. Terjadi

transportasi agen ke nodus limfatikus lokal. Pada nodus limfatikus, antigen diproses dan

dipresentasikan ke limfosit. Respon imun kemudian terjadi secara lokal dan sistemik karena
antigen dapat dibawa ke aliran darah kemudian ke limpa.
Pengenalan awal antigen kepada host diikuti dengan pemrosesan yang tepat dan
stimulasi sel T sehingga menghasilkan pembentukkan klon-klon sel B spesifik terhadap
epitop yang berbeda pada antigen. Dibawah pengaruh sel T sitokin, sel B akan berdiferensiasi
menjadi sel plasma penghasil antibodi. Antibodi pertama yang diproduksi adalah isotipe IgM
dan akan terdapat dalam sirkulasi saat 7-10 hari setelah inisiasi respon imun. Lalu IgG akan
muncul tetapi tidak meningkat tinggi pada respon imun primer ini. Pertemuan berikutnya
dengan antigen, respon anamnestik sekunder akan terjadi. Isotipe yang predominan adalah
IgG.
Respon antibodi untuk pertahanan terhadap penyakit bakterial, tergantung mekanisme
patogenik yang terlibat, area proses infeksi, dan isotipe antibodi yang dikeluarkan. Jika
penyakitnya disebabkan oleh toksin ekstraseluler, misalnya tetanus, maka antibodi antitoksin
penting untuk menetralkan dan mengikat toksin sebelum toksin itu mengikat area seluler lain
dan menginisiasi gejala klinis.
IgG dan IgM berfungsi sebagai opsonin dan bekerja bersama sel fagosit untuk
meningkatkan proses menelan dan membunuh. IgG dan IgM juga mengaktivasi urutan
komplemen sehingga mengakibatkan lisisnya bakteri (jika Gram negatif).
V.

Imunitas Yang Dimediasi Sel (Cell-Mediated Immunity)


Respon

ini

terdiri

dari

dua

mekanisme

yang

berbeda:

aktivasi

makrofag

(hipersensitifitas) dan sel T sitotoksik. Makrofag teraktivasi berguna untuk menghancurkan


agen infeksi intraseluler (misalnya Brucella, Salmonella, Mycobacterium, Rickettsia). Sel T
sitotoksik melisiskan sel host dimana agen infeksi berada (Hirsch & Zee, 1999).
DAFTAR PUSTAKA
Boden, E. 2005. Blacks Veterinary Dictionary. London: A & C Black
Hirsch, D., & Zee, C. 1999. Veterinary Microbiology. Oxford: Blackwell Science
Kayser, F., Bienz, K. A., Eckert, J., & Zinkernagel, R. 2005. Medical Microbiology. New
York: Thieme
Rhoades, R., & Tanner, G. 2003. Medical Physiology 2nd. Philadelphia: Lippincott William
& Wilkins