Anda di halaman 1dari 62

BAB I RESPONS IMUN

1.1 PENGERTIAN

Sistem imun merupakan sistem yang sangat komplek dengan berbagai peran ganda dalam usaha menjaga keseimbangan tubuh. Seperti halnya sistem indokrin, sistem imun yang bertugas mengatur keseimbangan, menggunakan komponennya yang beredar diseluruh tubuh, supaya dapat mencapai sasaran yang jauh dari pusat. Untuk melaksanakan fungsi imunitas, didalam tubuh terdapat suatu sistem yang disebut dengan sistem limforetikuler. Sistem ini merupakan jaringan atau kumpulan sel yang letaknya tersebar diseluruh tubuh, misalnya didalam sumsum tulang, kelenjar limfe, limfa, timus, sistem saluran napas, saluran cerna dan beberapa organ lainnya. Jaringan ini terdiri atas bermacam-macam sel yang dapat menunjukkan respons terhadap suatu rangsangan sesuai dengan sifat dan fungsinya masing-masing (Roitt dkk., 1993; Subowo, 1993; Kresno, 1991). Dengan kemajuan imunologi yang telah dicapai sekarang ini, maka konsep imunitas dapat diartikan sebagai suatu mekanisme yang bersifat faali yang melengkapi manusia dan binatang dengan suatu kemampuan untuk mengenal suatu zat sebagai asing terhadap dirinya, yang selanjutnya tubuh akan mengadakan tindakan dalam bentuk netralisasi, melenyapkan atau memasukkan dalam proses metabolisme yang dapat menguntungkan dirinya atau menimbulkan kerusakan jaringan tubuh sendiri. Konsep imunitas tersebut, bahwa yang pertama-tama menentukan ada tidaknya tindakan oleh

tubuh (respons imun), adalah kemampuan sistem limforetikuler untuk mengenali bahan itu asing atau tidak (Bellanti,1985: Marchalonis, 1980; Roitt,1993). Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila kedalam tubuh terpapar suatu zat yang oleh sel atau jaringan tadi dianggap asing. Konfigurasi asing ini dinamakan antigen atau imunogen dan proses serta fenomena yang menyertainya disebut dengan respons imun yang menghasilkan suatu zat yang disebut dengan antibodi. Jadi antigen atau imunogen merupakan potensi dari zat-zat yang dapat menginduksi respons imun tubuh yang dapat diamati baik secara seluler ataupun humoral. Dalam keadaan tertentu (patologik), sistem imun tidak dapat membedakan zat asing (non-self) dari zat yang berasal dari tubuhnya sendiri (self), sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Kejadian ini disebut dengan Autoantibodi (Abbas dkk., 1991; Roit dkk., 1993). Bila sistem imun terpapar oleh zat yang dianggap asing, maka akan terjadi dua jenis respons imun, yaitu respons imun non spesifik dan respons imun spesifik. Walaupun kedua respons imun ini prosesnya berbeda, namun telah dibuktikan bahwa kedua jenis respons imun diatas saling meningkatkan efektivitasnya. Respons imun yang terjadi sebenarnya merupakan interaksi antara satu komponen dengan komponen lain yang terdapat didalam system imun. Interaksi tersebut berlangsung bersama-sama sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu aktivitas biologic yang seirama dan serasi (Grange, 1982; Goodman, 1991; Roit dkk., 1993).

1. 2 Respons Imun Nonspesifik


Umumnya merupakan imunitas bawaan (innate immunity), dalam artian bahwa respons terhadap zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar oleh zat tersebut. Sebagai contoh dapat dijelaskan sebagai berikut : salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen misalnya, bakteri, adalah dengan cara menghancurkan bakteri tersebut dengan cara nonspesifik melalui proses fagositosis. Dalam hal ini makrofag, neutrofil dan monosit memegang peranan yang sangat penting. Supaya dapat terjadi fagositosis, sel-sel fagositosis tersebut harus berada dalam jarak yang dekat dengan partikel bakteri, atau lebih tepat lagi bahwa partikel tersebut harus melekat pada permukaan fagosit. Untuk mencapai hal ini maka fagosit harus bergerak menuju sasaran. Hal ini dapat terjadi karena dilepaskannya zat atau mediator tertentu yang disebut dengan factor leukotaktik atau kemotaktik yang berasal dari bakteri maupun yang dilepaskan oleh neutrofil, makrofag atau komplemen yang telah berada dilokasi bakteri (Kresno, 1991; Roitt, 1993). Selain factor kemotaktik yang berfungsi untuk menarik fagosit menuju antigen sasaran, untuk proses fagositosis selanjutnya, bakteri perlu mengalami opsonisasi terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bakteri terlebih dahulu dilapisi oleh immunoglobulin atau komplemen (C3b), supaya lebih mudah ditangkap oleh fagosit. Selanjutnya partikel bakteri masuk kedalam sel dengan cara endositosis dan oleh proses pembentukan fagosum, ia terperangkap dalam kantong fagosum, seolah-olah ditelan dan kemudian dihancurkan baik dengan proses oksidasi-reduksi maupun oleh derajat keasaman yang ada dalam fagosit atau penghancuran oleh lisozim dan gangguan metabolisme bakteri (Bellanti, 1985; Subowo, 1993).

Selain fagositosis diatas, manifestasi lain dari respons imun nonspesifik adalah reaksi inflamasi. Reaksi ini terjadi akibat dilepaskannya mediator-mediator tertentu oleh beberapa jenis sel, misalnya histamine yang dilepaskan oleh basofil dan mastosit, Vasoactive amine yang dilepaskan oleh trombosit, serta anafilatoksin yang berasal dari komponen komponen komplemen, sebagai reaksi umpan balik dari mastosit dan basofil. Mediator-mediator ini akan merangsang bergeraknya sel-sel polymorfonuklear (PMN) menuju lokasi masuknya antigen serta meningkatkan permiabilitas dinding vaskuler yang mengakibatkan eksudasi protein plasma dan cairan. Gejala inilah yang disebut dengan respons inflamasi akut (Abbas, 1991; Stite; 1991; Kresno, 1991).

1.3 Respon Imun Spesifik


Merupakan respon imun yang didapat (acquired), yang timbul akibat dari rangsangan antigen tertentu, sebagai akibat tubuh pernah terpapar sebelumnya. Respons imun spesifik dimulai dengan adanya aktifitas makrofag atau antigen precenting cell (APC) yang memproses antigen sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan interaksi dengan sel-sel imun. Dengan rangsangan antigen yang telah diproses tadi, sel-sel system imun berploriferasi dan berdiferensiasi sehingga menjadi sel yang memiliki kompetensi imunologik dan mampu bereaksi dengan antigen (Bellanti, 1985; Roitt,1993; Kresno, 1991). Walaupun antigen pada kontak pertama (respons primer) dapat dimusnahkan dan kemudian sel-sel system imun mengadakan involusi, namun respons imun primer tersebut sempat mengakibatkan terbentuknya klon atau kelompok sel yang disebut dengan memory cells yang dapat mengenali antigen bersangkutan. Apabila dikemudian

hari antigen yang sama masuk kedalam tubuh, maka klon tersebut akan berproliferasi dan menimbulkan respons sekunder spesifik yang berlangsung lebih cepat dan lebih intensif dibandingkan dengan respons imun primer. Mekanisme efektor dalam respons imun spesifik dapat dibedakan menjadi :

a.

Respons imun seluler


Telah banyak diketahui bahwa mikroorganisme yang hidup dan berkembang biak secara intra seluler, antara lain didalam makrofag sehingga sulit untuk dijangkau oleh antibody. Untuk melawan mikroorganisme intraseluler tersebut diperlukan respons imun seluler, yang diperankan oleh limfosit T. Subpopulasi sel T yang disebut dengan sel T penolong (T-helper) akan mengenali mikroorganisme atau antigen bersangkutan melalui major histocompatibility complex (MHC) kelas II yang terdapat pada permukaan sel makrofag. Sinyal ini menyulut limfosit untuk memproduksi berbagai jenis limfokin, termasuk diantaranya interferon, yang dapat membantu makrofag untuk menghancurkan mikroorganisme tersebut. Sub populasi limfosit T lain yang disebut dengan sel T-sitotoksik (T-cytotoxic), juga berfungsi untuk menghancurkan mikroorganisme intraseluler yang disajikan melalui MHC kelas I secara langsung (cell to cell). Selain menghancurkan mikroorganisme secara langsung, sel Tsitotoksik, juga menghasilkan gamma interferon yang mencegah penyebaran mikroorganisme kedalam sel lainnya.

b.

Respons Imun Humoral


Respons imun humoral, diawali dengan deferensiasi limfosit B menjadi satu populasi (klon) sel plasma yang melepaskan antibody spesifik ke dalam darah. Pada respons imun humoral juga berlaku respons imun primer yang membentuk klon sel B memory. Setiap klon limfosit diprogramkan untuk membentuk satu jenis antibody spesifik terhadap antigen tertentu (Clonal slection). Antibodi ini akan berikatan dengan antigen membentuk kompleks antigen antibodi yang dapat mengaktivasi komplemen dan mengakibatkan hancurnya antigen tersebut. Supaya limfosit B berdiferensiasi dan membentuk antibody diperlukan bantuan limfosit T-penolong (Thelper), yang atas sinyal-sinyal tertentu baik melalui MHC maupun sinyal yang dilepaskan oleh makrofag, merangsang produksi antibody. Selain oleh sel Tpenolong, produksi antibody juga diatur oleh sel T penekan (T- supresor), sehingga produksi antibody seimbang dan sesuai dengan yang dibutuhkan.

c.

Interaksi Antara Respons Imun Seluler dengan Humoral


Interaksi ini disebut dengan antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC), karena sitolisis baru terjadi bila dibantu oleh antibodi. Dalam hal ini antibodi berfunsi melapisi antigen sasaran, sehingga sel natural killer (NK), yang mempunyai reseptor terhadap fragmen Fc antibodi, dapat melekat erat pada sel atau antigen sasaran. Perlekatan sel NK pada kompleks antigen antibody tersebut mengakibatkan sel NK dapat menghancurkan sel sasaran.

Respons imun spesifik (adaptif) dapat dibedakan dari respons imun bawaan, karena adanya cirri-ciri umum yang dimilikinya yaitu; bersifat spesifik, heterogen dan memiliki daya ingat atau memory. Adanya sifat spesifik akan membutuhkan berbagai populasi sel atau zat yang dihasilkan (antibodi) yang berbeda satu sama lain, sehingga menimbulkan sifat heterogenitas tadi. Kemampuan mengingat, akan menghasilkan kualitas respons imun yang sama terhadap konfigurasi yang sama pada pemaparan berikutnya.

1.4 Komponen Sistem Imun


Sistem imun dilengkapi dengan kemampuan untuk memberikan respons imun non spesifik, misalnya fagositosis, maupun kemampuan untuk memberikan respons imun spesifik yang dilakukan oleh sel-sel dan jaringan limfoid yang tergolong kedalam system limforetikuler (Oppenheim dkk.,1987; Abbas dkk.,1991; Roit dkk.,1993). Sistem ini terdiri atas sejumlah organ limfoid yaitu : 1. kelenjar timus 2. kelenjar limfe 3. limfa 4. tonsil 5. berbagai jenis sel serta jaringan diluar organ limfoid, seperti : a. peyer,s patches yang terdapat pada dinding usus b. jaringan limfoid yang membatasi saluran nafas dan saluran urogenital c. jaringan limfoid dalam sumsum tulang dan dalam darah

Sistem limforetikuler inilah yang merupakan system kendali dari semua mekanisme respons imun. Disamping system limforetikuler diatas, masih ada unsur-unsur lain yang berperan dalam mekanisme respons imun, dan factor-faktor humoral lain diluar antibody yang berfungsi menunjang mekanisme tersebut.

1.5 Fungsi Respons Imun


Dalam pandangan modern, system imun mempunyai tiga fungsi utama yaitu: pertahanan, homeostasis dan perondaan. 1. Pertahanan Fungsi pertahanan menyangkut pertahanan terhadap antigen dari luar tubuh seperti invasi mikroorganisme dan parasit kedalam tubuh. Ada dua kemungkinan yang terjadi dari hasil perlawanan antara dua fihak yang berhadapan tersebut, yaitu tubuh dapat bebas dari akibat yang merugikan atau sebaliknya, apabila fihak penyerang yang lebih kuat (mendapat kemenangan), maka tubuh akan menderita sakit. 2. Homeostasis Fungsi homeostasis, memenuhi persyaratan umum dari semua organisma multiseluler yang menghendaki selalu terjadinya bentuk uniform dari setiap jenis sel tubuh. Dalam usaha memperoleh keseimbangan tersebut, terjadilah proses degradasi dan katabolisme yang bersifat normal agar unsure seluler yang telah rusak dapat dibersihkan dari tubuh. Sebagai contoh misalnya dalam proses pembersihan eritrosit dan leukosit yang telah habis masa hidupnya.

3. Perondaan Fungsi perondaan menyangkut perondaan diseluruh bagian tubuh terutama ditujukan untuk memantau pengenalan terhadap sel-sel yang berubah menjadi abnormal melalui proses mutasi. Perubahan sel tersebut dapat terjadi spontan atau dapat diinduksi oleh zat-zat kimia tertentu, radiasi atau infeksi virus. Fungsi perondaan (surveillance) dari sistem imun bertugas untuk selalu waspada dan mengenal adanya perubahabperubahan dan selanjutnya secara cepat membuang konfigurasi yang baru timbul pada permukaan sel yang abnormal.

1.6 Penyimpangan Sistem Imun


Sebagaimana sistem-sistem yang lain dalam tubuh, sistem imun mungkin pula dapat mengalami penyimpangan pada seluruh jaringan komunikasi baik berbentuk morfologis ataupun gangguan fungsional. Gangguan morfologis, misalnya tidak berkembangnya secara normal kelenjar timus sehingga mengakibatkan defisiensi pada limfosit T. Sedangkan gangguan fungsional yang bermanifestasi sebagai toleransi imunologik disebabkan karena lumpuhnya mekanisme respons imun terhadap suatu antigen tertentu. Penyimpangan lain dalam mekanisme respons imun dapat berbentuk sebagai reaksi alergi, anafilaksis ataupun hipersensitifitas tipe lambat, dimana semua ini kadang-kadang menimbulkan kerugian pada jaringan tubuh. Keadaan ini disebabkan karena gangguan fungsi pertahanan system imun (Kresno, 1991; Abbas dkk.,1991; Roitt dkk.,1993). Gangguan fungsi homeostatik pada system imun dapat menimbulkan kelainan yang dinamakan penyakit autoimun. Hal ini disebabkan oleh karena system imun melihat

konfigurasi dari tubuh sendiri (self), sebagai benda asing, akibatnya respons imun ditujukan kepada jaringan tubuh sendiri sehingga dapat membawa kerugian. Apabila fungsi ketiga yang bertugas sebagai surveillance mengalami gangguan, akan mengakibatkan tidak bekerjanya system pemantauan terhadap perubahan-perubahan pada sel tubuh, sehingga akhirnya sel-sel abnormal tersebut berkembang biak diluar kendali yang menimbulkan penyakit yang bersifat pertumbuhan ganas.

1.7 Faktor Pengubah Mekanisme Imun


Selain faktor genetik, terdapat sejumlah factor yang dapat mempengaruhi mekanisme imun seperti: faktor metabolik, lingkungan, gizi, anatomi, fisiologi, umur dan mikroba (Bellanti, 1985; Subowo 1993; Roitt dkk.,1993).

Faktor Metabolik Beberapa hormon dapat mempengaruhi respons imun tubuh, misalnya pada keadaan hipoadrenal dan hipotiroidisme akan mengakibatkan menurunnya daya tahan terhadap infeksi. Demikian juga pada orang-orang yang mendapat pengobatan dengan sediaan steroid sangat mudah mendapat infeksi bakteri maupun virus. Steroid akan menghambat fagositosis, produksi antibodi dan menghambat proses radang. Hormon kelamin yang termasuk kedalam golongan hormone steroid, seperti androgen, estrogen dan progesterone diduga sebagai faktor pengubah terhadap respons imun. Hal ini

tercermin dari adanya perbedaan jumlah penderita antara laki-laki dan perempuan yang mengidap penyakit imun tertentu.

Faktor lingkungan Kenaikan angka kesakitan penyakit infeksi, sering terjadi pada masyarakat yang taraf hidupnya kurang mampu. Kenaikan angka infeksi tersebut, mungkin disebabkan oleh karena lebih banyak menghadapi bibit penyakit atau hilangnya daya tahan tubuh yang disebabkan oleh jeleknya keadaan gizi.

Faktor Gizi Keadaan gizi seseorang sangat berpengaruh terhadap status imun seseorang. Tubuh membutuhkan enam komponen dasar bahan makanan yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan tubuh. Keenam komponen tersebut yaitu : protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Gizi yang cukup dan sesuai sangat penting untuk berfungsinya system imun secara normal. Kekurangan gizi merupakan penyebab utama timbulnya imunodefisiensi.

Faktor Anatomi Garis pertahanan pertama dalam menghadapi invasi mikroba biasanya terdapat pada kulit dan selaput lender yang melapisi bagian permukaan dalam tubuh. Struktur jaringan tersebut, bertindak sebagai imunitas alamiah dengan menyediakan suatu rintangan fisik yang efektif. Dalam hal ini kulit lebih efektif dari pada selaput lender. Adanya kerusakan pada permukaan kulit, atau pada selaput lender, akan lebih memudahkan timbulnya suatu penyakit.

Faktor Fisiologis Getah lambung pada umumnya menyebabkan suatu lingkungan yang kurang menguntungkan untuk sebagian besar bakteri pathogen. Demikian pula dengan air kemih yang normal akan membilas saluran kemih sehingga menurunkan kemungkinan infeksi oleh bakteri. Pada kulit juga dihasilkan zat-zat yang bersifat bakterisida. Didalam darah terdapat sejumlah zat protektif yang bereaksi secara non spesifik. Faktor humoral lainnya adalah properdin dan interferon yang selalu siap untuk menanggulangi masuknya zat-zat asing.

Faktor Umur Berhubung dengan perkembangan sistem imun sudah dimulai semasa dalam kandungan, maka efektifitasnya juga diawali dari keadaan yang lemah dan meningkat sesuai dengan bertambahnya umur. Walaupun demikian tidak berarti bahwa pada umur lanjut, sistem imun akan bekerja secara maksimal. Malah sebaliknya fungsi sistem imun pada usia lanjut akan mulai menurun dibandingkan dengan orang yang lebih muda, walaupun tidak mengalami gangguan pada sistem imunnya. Hal tersebut, selain disebabkan karena pengaruh kemunduran biologik, secara umum juga jelas berkaitan dengan menyusutnya kelenjar timus. Keadaan tersebut akan mengakibatkan perubahanperubahan respons imun seluler dan humoral. Pada usia lanjut resiko akan timbulnya berbagai kelainan yang melibatkan sistem imun akan bertambah, misalnya resiko menderita penyakit autoimun, penyakit keganasan, sehinggaakan mempermudah terinfeksi oleh suatu penyakit.

Faktor Mikroba Berkembangnya koloni mikroba yang tidak pathogen pada permukaan tubuh,baik diluar maupun didalam tubuh, akan mempengaruhi sistem imun. Misalnya dibutuhkan untuk membantu produksi natural antibody. Flora normal yang tumbuh pada tubuh dapat pula membantu menghambat pertumbuhan kuman pathogen. Pengobatan dengan antibiotika tanpa prosedur yang benar, dapat mematikan pertumbuhan flora normal, dan sebaliknya dapat menyuburkan pertumbuhan bakteri pathogen.

BAB II KOMPONEN REAKSI IMUNOLOGIK

System imun dilengkapi dengan kemampuan untuk memberikan respons imun nonspesifik, misalnya fagositosis, maupun kemampuan untuk memberikan respons imun spesifik yang dilakukan oleh sel-sel dan jaringan limfoid yang tergolong kedalam system limforetikuler. Disamping system imun diatas, masih terdapat unsur-unsur lain yang berperan dalam mekanisme respons imun, misalnya antigen yang dapat menyulut timbulnya respons imun serta factor-faktor humoral lain diluar antibody yang berfungsi menunjang mekanisme tersebut (Bellanti, 1985; Subowo, 1993; Roitt dkk., 1993).

2. 1 ANTIGEN DAN IMUNOGEN Antigen adalah suatu substansi atau potensi dari suatu zat yang mampu merangsang timbulnya respons imun yang dapat dideteksi, baik berupa respons imun seluler, maupun respons imun humoral atau respons imun kedua-duanya. Karena sifatnya itu, maka antigen disebut juga imunogen. Imunogen yang paling poten umumnya merupakan makromolekuler protein, polisakharida atau polimer sintetik yang lain seperti polivinilpirolidon (PVP). Imunogenisitas atau kemampuan dari imunogen untuk

merangsang terbentuknya antibody bergantung dari antigennya sendiri, cara masuknya, individu yang menerima antigen tersebut, dan kepekaan dari metode yang digunakan untuk mendeteksi respons imunnya (Bellanti, 1985; Abbas dkk.,1991; Kresno,1991). Faktor-faktor yang mempengaruhi imunogenisitas dari suatu molekul atau substansi sangat kompleks dan tidak dapat dipahami secara gamblang, akan tetapi beberapa kondisi

tertentu telah diketahui perannya dalam menimbulkan sifatnya imunogenisitas tersebut seperti :

1.

Keasingan Sistem imun yang normal dapat membedakan antara diri (self) dan asing (non self), maka untuk menjadi imunogenik substansi tersebut harus bersifat asing. Misalnya, albumin yang dimurnikan dari serum kelinci kemudian disuntikkan kepada kelinci lain yang sama galurnya, maka tidak akan menimbulkan respons imun, akan tetapi apabila albumin tersebut disuntikkan kapada binatang lain atau kepada manusia, maka akan menimbulkan respons imun yang nyata. Ini menunjukan albumin kelinci dianggap asing oleh hewan yang lain.

2. Ukuran Molekul Molekul substansi harus berukuran cukup besar, walaupun belum diketahui secara pasti batas ukuran molekul yang menentukan imunogenitas. Molekul-molekul kecil seperti asam amino atau monoskharida umumnya kurang atau tidak imunogenik. Substansi yang mempunyai berat molekul kurang dari 10.000 bersifat imunogenik lemah bahkan sama sekali tidak imunogenik. Sedangkan substansi yang memiliki berat molekul lebih dari 100.000 (umumnya makromolekul), merupakan imunogen yang sangat poten. 3. Kerumitan struktur kimiawi Susunan molekul harus kompleks. Semakin kompleks susunan molekulnya maka semakin tinggi imunogenitas substansi bersangkutan. Azas ini dapat dilukiskan secara

jelas pada percobaan-percobaan dengan menggunakan polipeptida buatan. Suatu molekul homopolimer yang terdiri atas unit-unit yang tersusun oleh satu jenis asam amino, walaupun merupakan molekul berukuran besar, tapi bersifat sebagai imunogen yang lemah. Misalnya; polialanin, polilisin dan yang lainnya. Sedangkan molekul kopolimer yang tersusun atas dua atau tiga jenis asam amino merupakan imunogen yang sangat potensial. Adanya gugus asam amino aromatik (tirosin) akan memberikan sifat lebih imunogenik dari pada gugus non-aromatik. Hal ini dapat dibuktikan dengan penambahan molekul tirosin pada gelatin, sehingga dapat meningkatkan imunogenisitasnya. Untuk menentukan batas yang jelas struktur molekul yang bagaimana yang imunogenik tidaklah mudah. Kita hanya dapat menyatakan bahwa makin rumit atau makin kompleks struktur molekulnya maka semakin imunogenik zat tersebut.

4. Konstutusi genetik Kemampuan untuk mengadakan respons imun terhadap antigen bergantung terhadap susunan genetic dari suatu individu. Telah diketahui bahwa polisakharida yang murni akan bersifat imunogenik apabila disuntikkan pada mencit atau manusia, namun imunogenitasnya akan hilang apabila disuntikkan pada marmot. Ketergantungan akan konstitusi genetic terlihat pada percobaan dengan menggunakan marmot yang berbeda galurnya, yaitu apabila galur dua disuntik dengan polylisin akan membangkitkan respons imun, akan tetapi jika disuntikkan pada galur 13 tidak menimbulkan respons imun. Ternyata kemampuan untuk mengadakan respons imun

pada marmot galur dua diatur oleh gene yang memiliki otosom dan diwariskan secara dominant.

5. Metode pemasukan antigen Cara masuk antigen kedalam tubuh, akan menentukan respons imun yang ditimbulkan. Ada kalanya sejumlah antigen yang dimasukkan secara intravena tidak menimbulkan respons imun, dibandingkan dengan antigen sama yang dimasukkan secara subkutan. Pada umumnya cara pemasukan antigen kedalam tubuh dapat langsung melalui kulit, melalui pernapasan, melalui saluran pencernaan, atau disuntikkan melalui subkutan, intraperitonial, intravenosa dan intramuskuler.

6. Dosis Besarnya dosis, juga dapat menentukan respons imun. Apabila dosis minimal suatu antigen telah dilampaui, maka makin tinggi dosisnya, respons imunnya akan meningkat secara sebanding. Akan tetapi pada dosis tertentu akan terjadi sebaliknya yaitu menurunnya respons imun atau bahkan dapat menghilangkan respons imun. Keadaan ini disebut dengan toleransi imunogenik.

Walaupun imunogen umumnya merupakan makromolekul, tetapi hanya bagian-bagian tertentu saja dari molekulnya yang dapat berikatan dengan antigen binding site antibodi. Daerah tersebut disamping menentukan spesifisitas reaksi antigen- antibody juga sebagai penentu timbulnya respon imun. Daerah molekul itu disebut dengan determinan antigen atau epitop. Jumlah epitop dari sebuah molekul antigen tergantung pada ukuran dan

kerumitan struktur molekulnya. Dengan menentukan jumlah spesifisitas antibody yang bersenyawa dengan setiap molekul antigen, orang dapat mengira-ngira jumlah epitop dari antigen yang bersangkutan. Dengan cara pendekatan ini, dapat diperkirakan bahwa albumin telur yang berat molekulnya 42.000 memiliki lima epitop pada setiap molekulnya, sedangkan thyroglobulin yang berat molekulnya 700.000, memiliki sekitar 40 buah epitop pada setiap molekulnya (Antezak dan Gorman 1989; Abbas, 1991; Subowo, 1993).

2.2 Jenis Imunogen

a. Protein
Protein merupakan sebuah antigen atau imunogen, apabila disuntikkan kepada spesies yang bukan merupakan sumber protein tersebut. Apabila imunogen tersebut merupakan imunogen yang dihasilkan oleh hewan berdasarkan alele yang dimiliki oleh spesies bersangkutan, maka antigen tersebut dinamakan alloantigen. Beberapa contoh dari alloantigen adalah : antigen golongan darah yang terdapat pada permukaan eritrosit, antigen system HLA yang terdapat pada permukaan leukosit, dan epitop yang terdapat pada molekul immunoglobulin disebut dengan alotipe.

b. Polisakharida
Polisakharida dalam bentuk murni umumnya hanya dapat menimbulkan respons imun pada spsies tertentu saja. Kelinci dan marmot yang mempunyai respons imun sangat baik bila disuntik dengan protein, tidak akan menimbulkan respons imun sama sekali apabila hewan tersebut disuntik dengan polisakharida murni. Sebaliknya mencit dan manusia sangat baik responnya terhadap polisakharida, sehingga sangat diperlukan dalam penelitian imunokimiawi. Antigen

polisakharida sederhana adalah dextran dan levan. Dextran merupakan polimer yang hanya terdiri atas`glukosa, sedangkan levan tersusun dari fructose. Jenis lain dari antigen polisakharida, yaitu yang terdapat sebagai kapsel pnemokokus yang sangat penting sebagai bahan vaksin terhadap mikroorganisme tersebut. Glikoprotein dan glikopeptida merupakan protein yang mengandung karbohidrat yang dalam keadaan tertentu spesifisitasnya ditentukan oleh gugus

karbohidratnya. Contoh jenis ini adalah antigen golongan darah yang larut dan antigen dari tumor (carcinoembryonic antigen = CEA)

c. polipeptida sintetik
Bentuk dari polipeptida sintetik tergantung dari yang kita kehendaki. Ada beberapa jenis polipeptida sintetik seperti : 1. Homopolimer, merupakan polimer yang hanya terdiri dari satu jenis asam amino. 2. Kopolimer penggal, terdiri atas peptida pendek yang tersusun dari beberapa asam amino yang dirangkai beberapa kali.

3. Kopolimer acak, terdiri dai asam amino yang dirangkaikan secara acak. 4. Kopolimer rantai ganda, tersusun dari rantai utama, dengan rantai cabang yang terdiri dari tiga jenis polimer lainnya. 5. Polimer dengan rantai-rantai yang merupakan peptida yang berulang secara periodik.

d. Asam Nukleat Asam nukleat murni, sangat sukar menginduksi respons imun, kecuali dilakukan
denaturasi terlebih dahulu. Pada manusia, antibodi terhadap asam nukleat terbentuk secara spontan, pada beberapa kejadian penyakit seperti pada Lupus Erythematosus.

2.3 HAPTEN Beberapa substansi dapat berikatan dengan antibodi spesifik, walaupun substansi itu sendiri tidak mampu merangsang timbulnya respons imun. Substansi itu umumnya merupakan molekul berukuran kecil yang disebut dengan hapten. Hapten berasal dari kata yunani yang berarti mempererat. Beberapa contoh hapten : Sulfonat, Arsonat dan Carboxylate. Hapten baru akan bersifat imunogenik apabila ia berikatan dengan protein carrier. Beberapa jenis hapten yang berasil disenyawakan dengan protein sebagai pengemban sehingga dapat diperoleh antibodi terhadapnya antara lain : gugusan yang berbentuk cincin aromatik, gugus gula, steroid, peptide, purin, pirimidin, nukleosid, nukleotida dan obat-obatan seperti penisilin dan zat-zat fluoresens (Tizard 1987; Abbas, 1991; Roitt dkk., 1993).

Ciri terpenting dari suatu imunogen adalah kemampuan untuk menyulut respons imun dengan bantuan dari limfosit T. berbagai penelitian telah membuktikan bahwa imunogen sedikitnya harus memiliki dua determinan untuk merangsang pembentukan antibody, dan sedikitnya satu determinan harus mampu merangsang limfosit T. selain itu ada indikasi bahwa dalam beberapa hal, determinan antigen yang berbeda pada satu molekul protein dapat menyulut respons subpopulasi limfosit T yang berlainan, misalnya salah satu determinan mungkin menyulut respons limfosit T penolong, akan tetapi determinan yang lain mungkin memicu respons limfosit T penekan (Bellanti, 1985; Subowo, 1993; Roitt dkk., 1993).

2.4 CARA KERJA IMUNOGEN Adakalanya suatu imunogen merangsang respons imun tanpa melibatkan limfosit T tetapi langsung merangsang limfosit B. Imunogen-imunogen itu disebut dengan antigen T-independent. Antigen semacam ini mungkin terdiri atas beberapa unit, yang masingmasing mempunyai susunan molekul yang sama. Misalnya ; polisakharida pada pneumokokus, beberapa jenis polimer protein dan PVP. Respons imun yang ditimbulkan oleh antigen T-independent, terutama antibody Ig M atau mungkin hanya Ig M saja (Abbas,1991; Kresno, 1991).

2.5 PENGELOMPOKKAN ANTIGEN Secara umum antigen dapat digolongkan menjadi antigen eksogen dan antigen endogen. Antigen eksogen adalah antigen yang berasal dari luar tubuh individu, misalnya berbagai

jenis bakteri, virus dan obat-obatan. Sedangkan antigen endogen adalah antigen yang berasal dari dalam tubuh sendiri, misalnya; antigen xenogenic atau heterolog yang terdapat dalam spesies yang berlainan. Antigen autolog atau idiotipik yang merupakan komponen dari tubuh sendiri, dan antigen allogenic atau homolog yang membedakan satu individu dari individu yang lain dalam satu spesies. Contoh determinant antigen homolog adalah antigen yang terdapat pada eritrosit, leukosit, trombosit, protein serum dan major histocompatibility complex (MHC) (Kresno, 1991; Abbas, 1991; Roitt dkk., 1993).

BAB III

SISTEM LIMFORETIKULER

System limforetikuler dapat dikelompokkan menjadi :

3.1 UNSUR SELULER Terdiri dari limfosit T, limfosit B dan subset limfosit yang terutama berfungsi dalam respons imun spesifik, serta sel-sel lain yang berfungsi dalam respons imun nonspesifik. Semua sel yang berfungsi dalam respons imun, berasal dari sel induk pluripoten yang kemudian berdiferensiasi melalui dua jalur, yaitu: jalur limfoid yang akan membentuk limfosit dan subsetnya, dan jalur myeloid yang membentuk sel-sel fagosit dan sel-sel lain. Sel-sel imunokompeten yang utama, adalah limfosit T (sel T) dengan berbagai subsetnya dan limfosit B (sel B). Sel T berdiferensiasi dalam kelenjar timus, sedangkan sel B berdiferensiasi dalam bursa fabricius yang hanya terdapat dalam bangsa unggas. Disamping populasi limfosit masih ada sel-sel lain yang berfungsi dalam respons imun seperti : sel null, fagosit mononuclear (monosit dan makrofag), sel-sel

polimorfonuklear (neutrofil, eosinofil dan basofil), mastosit dan trombosit (Abbas, 1991; Kresno 1991; Roitt dkk., 1993).

a. Limfosit T Limfosit T berperan pada berbagai fungsi imunologi, yaitu sebagai efektor pada respons imun seluler dan sebagai regulator yang akan mengatur respons imun

seluler dan respons imun humoral. Untuk membedakan limfosit T dengan limfosit B, dapat dilakukan dengan mereaksikan limfosit dengan eritrosit domba. Limfosit T dapat membentuk roset dengan eritrosit domba secara spontan, sedangkan limfosit B tidak. Berkat adanya antibodi monoklonal, kemudian terungkap bahwa molekul pada permukaan limfosit T yang dapat mengikat eritrosit Domba

tersebut terdiri atas molekul glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor. Molekul ini sekarang dikenal dengan sebutan CD2 (CD = clusters of differentiation).

Dari jumlah limfosit yang ada dalam sirkulasi, 65 80% merupakan limfosit T. Dalam perkembangannya di Timus, sel T mengekspresikan bermacam-macam antigen permukaan diantaranya CD4, CD5 dan CD8. Namun dalam

perkembangan selanjutnya sebagian antigen itu menghilang dan sebagian lagi menetap, yang akan menandai subset limfosit T. Pada fase pematangan sel T lebih lanjut, antigen CD5 menghilang, kemudian sel T berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi salah satu subset sel T. Sel yang kehilangan antigen CD4, tetapi tetap menunjukkan antigen CD8, akan menjadi sel T penekan (T suppressor = Ts) dan sel T sitotoksik (T cytotoxic = Tc). Sedangkan sel yang kehilangan CD8, tetapi tetap menunjukkan CD4, akan menjadi sel T penolong ( T helper = Th). berdasarkan antigen permukaanya maka Ts dan Tc dikenal sebagai CD8 +, sedangkan Th dikenal sebagai CD4+. berkat adanya antibodi monoclonal yang dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai antigen permukaan, maka limfosit CD4+ dapat dikelompokkan lagi kedalam dua subset yang ternyata mempunyai

fungsi yang berbeda yaitu T helper inducer yang berproliferasi atas rangsangan antigen larut dan memicu sel B untuk memproduksi antibodi, dan subset lain yaitu suppressor-inducer yang berproliferasi atas rangsangan concanavalin A dan sel autolog, serta berfungsi menyulut sel CD8+ untuk menghambat atau menekan sel B untuk memproduksi antibodi. Sel T suppresoor-inducer ini, tidak bereaksi terhadap antigen yang larut.

b. Limfosit B Limfosit B, adalah sel-sel dalam sistem imun yang mengkhususkan diri dalam pembentukan antibodi. Hematopoetik sebagai pendahulu sel pra-B dalam sumsum tulang membelah diri dengan cepat dan akan menjadi jenis sel berukuran besar yang mengandung rantai u, sel prekursor mengatur kembali gena variabel (V) dengan gena D dan gena J. Tingkat pematangan sel B dapat diketahui dengan menentukan ciri-ciri sel B, sesuai dengan stadium pematangannya, yaitu: ada tidaknya imunoglobulin intrasitoplasmik, imunoglobulin permukaan (surface immunoglobulin = sIg), dan antigen permukaan lainnya. Sel B primitif (pra-B) ditandai dengan adanya: rantai u sitoplasma, tanpa rantai ringan, tidak memiliki rantai ringan dalam sitoplasmanya, dapat mengekspresikan Hla-DR dan reseptor untuk C3b, tetapi tidak memiliki reseptor Fc.

Sel-sel pra-B membelah diri dengan cepatan menjadi sel dengan ukuran yang lebih kecil. Apabila sel-sel para-B telah memiliki molekul Ig sebagai molekul integral membran selnya, maka sel tersebut telah berkembang menjadi sel muda.

sel muda dengan cepat memiliki reseptor untuk virus Epstein barr, C3B dan untuk Fc dari Ig G. Semakin dewasa selnya, akan dijumpai pula Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I yang juga semakin bertambah jumlahnya.

Sel B perawan (virgin) yang terdapat didalam sumsum tulang, dan belum pernah terpapar oleh antigen, umumnya menunjukkan respons yang lebih lambat dibandingkan dengan sel B yang terdapat dalam jaringan limfoid perifer. Apabila sel B mendapat rangsangan dari antigen atau imunogen, maka limfosit B akan mengalami dua proses perkembangan yaitu : pertama, akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang membentuk imunoglobulin (Ig), dan kedua akan membelah dan kemudian kembali dalam keadaan istirahat sebagai limfosit B memory. Apabila kemudian ada rangsangan antigen pada sel memori ini, maka akan timbul reaksi yang lebih cepat dari reaksi pertama tadi dan menyebabkan sel B berproliferasi menjadi sel plasma yang akan mensekresikan Ig spesifik.

Sel B dapat mengenali antigen yang berkadar sangat rendah. hal ini disebabkan oleh karena sel B mempunyai sIg yang berfungsi sebagai reseptor untuk antigen. Melalui proses endositosis antigen yang ditangkap oleh sIg tersebut masuk kedalam sitoplasma hanya dalam beberapa menit saja, untuk kemudian diproses menjadi fragmen-fragmen. Melalui proses eksositosis fragmen antigen ini

bersama-sama dengan MHC kelas II disajikan pada limfosit T, sehingga dengan demikian sel B juga berfungsi sebagai antigen presenting cell (APC).

c. Sel Plasma Sel Plasma merupakan fase diferensiasi terminal dari perkembangan sel B dalam upaya memproduksi dan mensekresi antibodi. Sel plasma tidak dapat membelah lagi dan pada permukaannya tidak dijumpai adanya s Ig maupun reseptor-reseptor seperti yang dimiliki sel B. sel plasma berukuran lebih besar dari limfosit dan ditandai dengan inti bulat yang letaknya eksentris dan berkromatin kasar seperti roda. satu sel plasma dapat melepaskan beribu-ribu molekul antibodi setiap detiknya.

d. Antigen Presenting Sel (APC) Sel-sel ini, berfungsi untuk menyajikan antigen kepada sel limfoid yang tersensitisasi. Supaya antigen dapat dikenal oleh sel limfoid, penyajian antigen yang telah diproses, dilakukan bersama ekspresi MHC kelas II pada permukaan sel. Makrofag, disamping berfungsi sebagai fagosit yang profesional, juga merupakan APC yang pertama diketahui. Dalam garis besarnya, semua sel yang menampilkan MHC kelas II dapat bertindak sebagai APC, misalnya: sel-sel dendritik, kupfer, langerhans, endotel, fibroblast dan sel B. Diantara sel-sel diatas, sel dendritik, makrofag dan sel B merupakan APC yang terpenting.

3.2 Unsur Organ dan Jaringan


Organ dan jaringan limfoid dibagi dalam dua kelompok utama, yaitu organ limfoid primer seperti timus, ekivalen bursa fabricius dan sumsum tulang.yang berfungsi sebagai embriogenesis dari sel-sel imunologik, dan organ limfoid sekunder seperti, kelenjar limfe, limfa dan jaringan limfoid lainnya, yang bereaksi aktif terhadap stimulasi antigen. Kelenjar timus, dianggap sebagai organ limfoid utama dalam imunogenesis dan menjadi pusat pengendalian aktivitas organ serta jaringan limfoid yang lainnya (Bellanti, 1985; Abbas1991; Subowo 1993; Roitt dkk., 1993).

Menurut fungsinya, sistem limfoid dibagi dalam dua kompartemen yaitu :

a. Kompartemen sentral Merupakan tempat terjadinya diferensiasi sel-sel yang mampu beraksi dengan antigen.

b. Kompartemen perifer Sebagai tempat terjadinya reaksi sel-sel limfoid dengan antigen. Rangsangan untuk maturasi sel pada kompartemen sentral tidak diketahui secara pasti, namun diduga proliferasinya dipengaruhi oleh hormon timus dan dapat terjadi tanpa stimulasi antigen. Sebaliknya, maturasi sel pada kompartemen perifer terjadi atas stimulasi antigen.

3.2.1 Organ Limfoid Primer


a. Kelenjar Timus
Kelenjar timus terletak dibagian depan mediastinum, terbagi dalam dua lobus dan banyak lobulus yang masing-masing terdiri atas korteks dan medula. Sel induk pluripoten yang merupakan cikal bakal sel T, masuk kedalam timus lalu berproliferasi menjadi sel yang disebut dengan timosit. Proses diferensiasi limfosit didalam timus, dipengaruhi oleh epitel timus dan sel dendritik yang berasal dari sumsum tulang (interdigitating cells). Sel dendritik ini

mengekspresikan MHC kelas II dalam jumlah banyak dan diduga berperan dalam mendidik limfosit T untuk mengenal antigen diri ( self). Dalam proses maturasi ini sel T menjadi imunokompeten. Dua sampai tiga hari, setelah sel induk masuk kedalam timus, limfosit meninggalkan timus lalu masuk kedalam sirkulasi dan selanjutnya menetap didalam organ limfoid perifer.

b. sumsum tulang dan ekivalen bursa fabrisius


Spesies unggas, mempunyai organ limfoid primer yang berasal dari epitel usus janin yang disebut dengan bursa fabrisius. Sel induk pluripoten yang memasuki bursa fabrisius berdiferensiasi menjadi sel B yang mampu membentuk antibodi. Organ semacam ini tidak dijumpai pada mamalia, akan tetapi diketahui bahwa sel B pada mamalia berdiferensiasi dalam sumsum tulang dan dalam organ limfoid perifer. Selain tempat pematangan sel B, sumsum tulang juga mengandung sel T matang dan plasmosit. Dengan demikian, sumsum tulang disamping sebagai organ limfoid primer, juga berfungsi sebagai organ limfoid sekunder.

3.2.2 Organ Limfoid Sekunder


Pembentukan limfosit dalam organ limfoid primer diikuti dengan migrasi sel-sel tersebut kedalam organ-organ limfoid perifer atau limfoid sekunder. Migrasi ini merupakan salah satu proses sirkulasi limfosit didalam tubuh. Adapun tahap-tahap surveillance imunologik dari limfosit di dalam tubuh adalah sebagai berikut :

1. Migrasi sel induk pluripoten dari hati janin atau sumsum tulang kedalam organ limfoid primer serta diferensiasi dan distribusi limfosit kedalam organ limfoid perifer.

2. Resirkulasi limfosit dari peredaran darah kedalam limfa atau kelenjar limfe kembali ke peredaran darah lagi.

3. Distribusi sel efektor ketempat-tempat tertentu bila diperlukan untuk melakukan reaksi imunologik.

4. Limfosit T cendrung bermigrasi ke kelenjar limfe perifer, sedangkan limfosit B lebih banyak bermigrasi ke jaringan limfoid yang terdapat pada sepanjang mukosa (mukosa associated lymphoid tissue = MALT).

Adapun jenis-jenis dari organ limfoid sekunder adalah sebagai berikut :

a. Kelenjar Limfe

Dalam bagian sinus dari kelenjar limfe terdapat banyak makrofag, sedangkan dalam bagian korteksnya terdapat banyak sel T yang berasal dari darah, serta sel B yang menyusun diri membentuk nodul. Dibagian tengah dari nodul, terdapat pusat germinal dimana kelompok-kelompok sel B membelah diri secara aktif. Bila kelenjar dirangsang oleh antigen, maka pusat-pusat germinal itu membesar dan berisi banyak limfoblast. Pusat-pusat germinal diatas juga dihuni oleh banyak sel dendritik yang mempunyai reseptor untuk C3 dan fragmen Fc dari IgG. Dengan demikian antigen yang tidak diproses dapat dipertahankan pada permukaan sel ini dalam bentuk kompleks antigen antibodi-C3 selama beberapa bulan. Antigen yang tertangkap ini diduga memberikan rangsangan secara periodik dengan sewaktu-waktu melepaskan iccomes yang kemudian ditangkap dan diproses oleh APC dan disajikan kepada sel T. Hal ini akan mengakibatkan sel T secara terus menerus akan merangsang sel B memory untuk berproliferasi dan membentuk pusat-pusat germinal.

b. Limfa
Limfa terdiri atas pulpa merah sebagai tempat penghancuran eritrosit dan pulpa putih yang terdiri atas jaringan limfoid. Didalam limfa limfosit T menumpuk dibagian tengah lapisan limfoid periarteriolar, sedangkan sel B terdapat didalam pusat-pusat germinal dibagian perifer. Sel B dapat dijumpai dalam bentuk tidak teraktivasi maupun teraktivasi. Dalam pusat-pusat germinal juga dijumpai sel dendritik dan makrofag. Makrofag spesifik umumnya terdapat didaerah marginal

dan sel ini bersama-sama dengan sel dendritik berfungsi sebagai APC yang menyajikan antigen kepada sel B.

c. Jaringan Limfoid lain


Jaringan limfoid lain tersebar dalam jaringan submukosa saluran nafas, saluran cerna dan saluran urogenital. Contoh jaringan limfoid yang tersusun baik dan mengandung banyak pusat-pusat germinal adalah tonsil yang merupakan garis pertahanan pada pintu masuk saluran cerna dan saluran nafas, dan Peyer,s patch yang tersebar dalam mukosa saluran cerna. Peyer,s patch dan apendiks termasuk kedalam gut-associated lymphoid tissue (GALT). Dalam jaringan limfoid ini terdapat bagian yang dipengaruhi oleh timus. Mucosa associated lymphoid

tissue (MALT), yang terdapat pada saluran nafas, saluran cerna dan urogenital berfungsi untuk memberikan respons imunologik lokal pada permukaan mukosa. Jaringan limfoid ini selain berisi limfosit juga berisi fagosit sehingga mampu memberikan respons imun nonspesifik maupun respons imun spesifik. Didalam jaringan limfoid sepanjang saluran cerna dan saluran nafas akan terbentuk IgA sekretorik dan Ig E yang disekresikan untuk mempertahankan tubuh terhadap antigen yang masuk melalui mukosa.

BAB IV PROSES PENGENALAN ANTIGEN


Respon imun diawali dengan pemrosesan antigen yang disusul dengan presentasi fragmen-fragmen antigen oleh APC. Presentasi ini harus dilakukan bersama-sama dengan MHC kelas II. Limfosit T penolong (CD4+) melalui reseptor TcR akan mengenal antigen yang disajikan bersama dengan MHC kelas II, kemudian memberikan sinyal kepada sel B untuk berproliferasi dan berdiferensiasi (Bellanti, 1985; Hendrik,1989; Subowo, 1993). Secara garis besar semua sel yang menampilkan MHC kelas II dapat bertindak sebagai APC, misalnya sel-sel dendritik, langerhans, endotel, fibroblast dan sel B. Diantara selsel diatas sel dendritik, makrofag dan sel B merupakan APC yang terpenting, bahkan sel dendritik folikuler mampu menyajikan antigen natif dalam bentuk kompleks imun tanpa memprosesnya terlebih dahulu. Diduga sel-sel ini bertindak sebagai tempat menampung antigen natif atau kompleks antigen antibodi. Antigen atau kompleks antigen antibodi melekat pada permukaan sel dendritik polikuler tanpa diproses lebih lanjut. Bagian bagian sel yang berbentuk tonjolan dilepaskan bersama-sama dengan kompleks antigen antibodi dan membentuk butir-butir kompleks imun yang disebut dengan icoccomes. Icoccomes ini kemudian ditangkap oleh sel B atau makrofag untuk diproses lebih lanjut. Vitetta et.al membuktikan bahwa sel dendritik merupakan APC pertama yang mengaktivasi sel T pada hewan percobaan yang belum pernah tersensitisasi. Sedangkan makrofag dan sel B hanya menyajikan antigen kepada sel B yang teraktivasi atau sel T memori (Abbas dkk.,1991; Roitt dkk., 1993; Kresno,1991).

4.1 Proses Limfosit T mengenali Antigen


Sel-sel imunokompeten agar dapat mengenali antigen maka pada permukaan sel T dan sel B dilengkapi dengan molekul receptor. Receptor antigen pada permukaan limfosit T berbentuk heterodimer dengan molekul CD3, sedangkan pada permukaan limfosit B terdapat sebagai molekul imunoglobulin. Dalam proses pengenalan antigen bakteri atau parasit, limfosit B dapat melaksanakan sendiri tanpa bantuan sel yang lain. Sebaliknya limfosit T tidak dapat mengenal secara langsung. Proses pengenalan antigen tersebut memerlukan jenis sel lain yang dinamakan sel pelengkap (Accessory cell) yang berfungsi untuk memproses secara nimia terlebih dahulu, agar antigen dapat disajikan lepada limfosit T bersama-sama dengan molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) (Hokama, 1982; Grey dkk., 1989; Vitetta dkk., 1989). Limfosit T hanya dapat menanggapi antigen, apabila disajikan oleh sel pelengkap. Sel pelengkap pertama yang diketahui sebagai penyaji antigen (APC) dala makrofag. Sel penyaji akan memproses antigen terlibih dahulu sebelum disajikan sebagai molekul yang dikenali oleh limfosit T. Cara memproses dan penyajian antigen eksogen pada

umumnya dapat menyebabkan aktivasi limfosit dari sub populasi tertentu sehingga membantu aktivasi limfosit B dalam memproduksi antibodi. Limfosit T yang berperan dalam peristiwa ini hdala limfosit T helper (CD4) (Roitt dkk., 1993; Subowo, 1993). Tidak semua antigen yang dikenal oleh limfosit T berasal dari luar sel penyaji. Antigen endogen diperoleh oleh sel penyaji sebagai akibat infeksi virus dalam sel atau dari sel yang telah berubah menjadi ganas. Sel-sel tersebut mengekspresikan antigen khas virus tumor pada permukaannya. Secara tioritik semua sel dalam tubuh inang mempunyai

kemampuan sebagai sel penyaji antigen endogen yang khas tersebut, terhadap limfosit T dari sub populasi yang tergolong sel sitotoksik. Sel sitotoksik dapat menanggapi antigen endogen dengan cara membunuh sel-sel yang menyajikannya. (Abbas dkk., 1991; Bellanti, 1985; 1993). Sampai saat ini diduga bahwa antigen endogen yang disajikan sebelumnya tidak perlu diproses. Hal ini disebabkan oleh karena protein sebagai antigen endogen tersebut merupakan bentuk ekspresi gen virus atau gen tumor, sehingga limfosit sitotoksik dapat bereaksi langsung terhadap antigen tersebut. Dengan demikian, dalam sistem imn terdapat dua jalar terpisah untuk menyampaikan antigen, yaitu : Jalur untuk antigen eksogen dan jalur untuk antigen endogen. Protein bakteri yang diambil oleh limfosit B dari sekitarnya yang kemudian diproses oleh limfosit T helper akan mempunyai dampak diproduksinya antibodi spesifik. Sebaliknya protein abnormal yang dibuat oleh sel inang mendorong aktivasi limfosit T sitotoksik untuk membunuh sel inang. Limfosit T tidak saja mampu mengenali antigen asing akan tetapi juga molekul MHC yang terdapat pada permukaan sel inang yang dihadapinya. Limfosit T yang telah mengadakan respons imun terhadap antigen yang disajikan oleh sel-sel yang terinfeksi virus bersama-sama molekul MHC kelas satu tertentu, dengan antigen yang sama tetapi disajikan oleh sel terinfeksi virus dengan molekul MHC kelas I yang berbeda latar belakang genetiknya. Apabila molekul protein MHC kelas I pada selsel yang terinfeksi virus ini berasal dari individu yang berbeda dengan individu yang pertama, maka sel-sel yang terinfeksi virus tersebut tidak akan dibunuh oleh sel-sel T tersebut. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, agar limfosit dapat mengadakan respons imun,

harus mengenal dua kesatuan antigen yaitu; antigen asing dan antigen diri yang spesifik. Persyaratan ini dinamakan sebagai Restriksi MHC (Hendrik, 1989; Kresno, 1991; Roitt dkk., 1993). Ada beberapa hiptesis mengenai cara limfosit T berinteraksi dengan antigen yang terikat pada MHC. Hiptesis pertama, menyatakan bahwa interaksi itu dilakukan melalui dua reseptor pada permukaan sel T, dimana satu reseptor berinteraksi dengan antigen sedangkan receptor yang lanilla berinteraksi dengan MHC. Hiptesis ke dua, mengemukakan bahwa reseptor pada limfosit T berbentuk receptor tunggal yang secara spesifik mengenal dua antigen asing dan antigen MHC secara bersama-sama. Belakangan ini orang lebih cendrung setuju dengan teori yang kedua (Abbas dkk.,1991; Kresno,1991; Subowo,1993). Teori reseptor tunggal tersebut, menjelaskan bahwa antigen yang akan diproses dan antigen MHC harus merupakan statu kesatuan kompleks yang hrus cocok dengan reseptor pengenal tunggal dari limfosit T. dengan demikian molekul MHC pada mulanya bertindak sebagai reseptor primer untuk antigen yang telah diproses dan selanjutnya sebagai kompleks molekul baru yang akan berikatan secara tepat dengan reseptor sekunder pada limfosit T agar terjadi respons imun. Untuk membangkitkan status respons imun, agar antigen dapat ditangkap oleh limfosit T, maka adanya kesesuaian antara molekul MHC yang berbeda pada setiap individu dengan antigen yang telah diproses oleh sel inang merupakan tahap pertama yang sangat menentukan (Hokama, 1982; Vitetta, 1989).

4.2 Aktivasi limfosit T


Aktivasi limfosit T merupakan akibat dari reaksi ligan-reseptor yang berlangsung antara permukaan limfosit T dan sel penyaji antigen (APC). Interaksi ini akan mengawali peristiwa biokimia dalam sel T yang memuncak dalam bentuk respons seluler. Walaupun telah jelas bahwa sejumlah molekul permukaan sel yang berbeda-beda pada sel T dan sel penyaji ikut berperan dalam interaksi antar sel selama penyajian yang rumit, Namun untuk aktivasi limfosit T oleh antigen paling sedikit harus melibatkan perangsangan reseptor antigen dari sel T (TCR). Antigen yang terikat oleh molekul MHC merupakan ligan untuk reseptor pada limfosit T (Abbas dkk.,1991; Roitt dkk., 1993; Kresno, 1991). Rangsangan oleh induksi sel antigen dapat dianggap sebagai pemberian rangsangan primer dalam mengawali aktivitas limfosit T. Rangsangan pada T cell receptor (TCR) saja, tidak cukup untuk menginduksi terjadinya pembelahan sel T dalam tahap Go. Molekul-molekul permukaan yang lain pada sel T istirahat ikut berperan pula dalam aktivasi sel sebagai molekul pelengkap dengan cara berikatan dengan molekul mitranya pada sel penyaji atau sel sasaran. Molekul-molekul pelengkap ini ada yang bertindak sebagai reseptor untuk molekul permukaan sel penyaji atau reseptor untuk molekul protein yang dihasilkan oleh sel penyaji. Molekul pelengkap tersebut akan berperan dalam proses aktivasi : a. Sebagai mol perekat, akan memperkuat interaksi antara sel T dengan sel penyaji. b. Sebagai transduser, antara sinyal transmembran yang diterima oleh

receptor antigen (Ti/TCR).

c. Untuk mengawali sinyal transmembran mereka sendiri yang berbeda dengan sinyal yang melalui TCR.

Interaksi antara TCR dengan ligannya (antigen + MHC), mengawali aktivitas seluler dengan cara menginduksi sinyal transmembran. Transduksi sinyal semacam ini bermanifestasi dalam bentuk mediator intraseluler yang dinamakan dengan second Messenger yang berfungsi untuk memulai aktivasi sel (Vitetta, 1989; Hendrik, 1989; Abbas, 1991). Selama terjadinya proses aktivasi, akan berlangsung transduksi sinyal melalui TCR baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sedangkan periode berikutnya terjadi pembelahan sel yang pada umumnya sebagai hasil dari serentetan aktivasi gen yang sangat kompleks. Dengan demikian aktivasi seluler dari limfosit T istirahat, menghasilkan ekspresi molekul permukaan yang baru, sekresi limfogen, pembelahan sel dan diferensiasi sel menjadi sel efektor. I nteraksi antara antigen yang disajikan oleh APC dengan limfosit T helper (Th),

merupakan tahap awal terjadinya respons imun seluler maupun respons imun humoral. Sel T dan sel B berkomunikasi satu dengan yang lainnya melalui berbagai reseptor dan berbagai substansi yang diproduksi. Sub populasi sel T yang bereaksi dengan antigen yang ditampilkan bersama dengan MHC, berbeda satu dengan yang lainnya tergantung dari sifat antigen dan MHC yang mengikat dan yang menampilkannya. Sel T yang disebut CD4+ bereaksi dengan antigen yang diproses oleh APC dan dipresentasikan bersama dengan MHC kelas II. Sub populasi sel T yang lain yaitu CD8+ yang berfungsi sebagai sel sitotoksik bereaksi dengan antigen yang dibentuk oleh sel, misalnya protein

virus atau antigen histokompatibilitas minor, yang ditampilkan bersama dengan MHC kelas I. Proses pengikatan antigen yang dibentuk dengan MHC kelas I dapat berlangsung saat sintesis atau perakitan kedua molekul bersangkutan. Presentasi antigen yang terikat pada MHC kelas I merangsang sel T sitotoksik untuk melancarkan aksinya (Vitetta dkk., 1989; Hendrik, 1989; Roitt dkk.,1993). Antigen yang ditangkap oleh makrofag atau sel-sel APC yang lain, akan masuk kedalam sel dengan cara endositosis atau pinositosis. Sebagai APC, baik makrofag maupun sel B mempunyai fungsi yang sama, tetapi sel B mempunyai kelebihan dari makrofag, karena sel B mampu menangkap antigen melalui imunoglobulin permukaan (sIg). Dengan demikian antigen dalam jumlah kecilpun dapat ditangkap dan diproses sehingga sel B dapat berfungsi sangat efisien. Tetapi jika konsentrasi antigen cukup tinggi, sel B tidak perlu menangkap antigen melalui imunoglobulin permukaan, karena proses internalisasi dapat terjadi dengan cara pinositosis fase cair seperti halnya proses pinositosis pada makrofag (Bellanti, 1985; Kresno, 1991). Antigen di dalam sel, diproses dengan berbagai cara, diantaranya melalui proses denaturasi atau proteolisis yang terjadi di dalam endosom. Segmen-segmen yang bersifat hidrofobik kemudian dimunculkan kembali pada permukaan sel, bersama-sama dengan MHC. Pada beberapa keadaan antigen tidak dirombak dengan cara proteolisis tetapi hanya dirubah konfigurasinya atau hanya dilekatkan pada molekul lipid (Vitetta dkk., 1989; Subowo, 1993).

4.3 AKTIVASI LIMFOSIT DAN PRODUKSI ANTIBODI Aktivasi limfosit T, khususnya limfosit Th dimulai dengan interaksi antara reseptor sel T dengan kompleks antigen MHC kelas II yang terdapat pada permukaan APC. Selain menyajikan antigen, APC juga memproduksi interleukin-1 yang mampu merangsang pertumbuhan sel T. interaksi ini merangsang berbagai reaksi biokimia didalam sel T, diantaranya adalah perombakan fosfatidil-inositol dan peningkatan konsentrasi ion Ca ++, serta aktivasi protein kinase-C yang diperlukan sebagai katalisator pada fosforilasi berbagai jenis protein. Reaksi-reaksi diatas mengakibatkan serangkaian reaksi-reaksi yang menghasilkan ekspresi reseptor IL-2, dan produksi IL-2 yang diperlukan untuk proliferasi sel selanjutnya (Grey dkk., 1989; Abbas dkk., 1991; Roit dkk., 1993). Sebagian dari sel T selanjutnya akan berfungsi sebagai sel T helper-inducer untuk membantu sel B, sebagian lagi akan kembali dalam keadaan istirahat menjadi sel memory. Aktivasi sel B dapat terjadi atas rangsangan antigen T-independen tipe I, antigen T-independen tipe II dan antigen T dependen. Antigen T-dependen, memerlukan bantuan sel Th. Antigen T-independen tipe I dalam konsentrasi tinggi mampu merangsang sel B secara poliklonal tanpa mengindahkan spesifisitas reseptor permukaan sel B. Contoh antigen seperti ini adalah lipopolisakarida pada permukaan sel bakteri. Tetapi pada konsentrasi rendah, sel B dengan sIg spesifik sebagai reseptor dapat menangkap antigen sehingga sel teraktivasi. Antigen T-independen tipe II, adalah antigen yang tidak segera dirombak didalam tubuh, misalnya polisakharida pneumokukus, polimer polivinilpirolidon (PVP), yang mampu merangsang sel B tanpa bantuan sel Th. Antgen dapat melekat dengan aviditas

kuat pada permukaan sel B dengan ikatan multivalen melalui sIg. Pada umumnya antigen T-independen merangsang pembentukan IgM. Sebagian besar antigen adalah T-

dependen yang berarti respons pada sel B baru dapat terjadi atas rangsangan sel T. agar sel B dapat dirangsang oleh sel T, maka MHC kelas II pada permukaan kedua sel harus sesuai. Hal ini penting untuk interaksi antara sel T dengan sel B dalam keadaan istirahat (resting B cells). Di lain fihak sel B yang sudah teraktivasi cukup dirangsang oleh limfokin yang dilepaskan oleh sel T yang sebelumnya telah teraktivasi oleh kompleks antigen-MHC yang relevan. Sel T yang diaktivasi oleh antigen akan memproduksi interleukin-2 (IL-2) yang diperlukan untuk proliferasi sel T sendiri, disamping itu sel T juga memproduksi berbagai faktor atau limfokin yang dapat merangsang perubahan pada berbagai jenis sel, antara lain; sel B, sel T sitotoksik, makrofag dan lain-lain, karenanya sel itu disebut sel T inducer (Grey dkk.,1989; Hendrik, 1989; Vitetta dkk.,1989). Beberapa jenis limfokin yang diproduksi oleh sel T dan dipergunakan untuk merangsang sel B adalah : B-cell stimulatory faktor (IL-4), B-cell growt factor (Il-6), Bcell differentiation factor-mu (BCDF-mu) dan BCDF-gamma serta gamma interferon. Dengan rangsangan limfokin diatas sel B berproliferasi dan berdiferensiasi lebih lanjut menjadi sel plasma dan memproduksi imunoglobulin. BCDF-mu merangsang produksi IGM, sedangkan BCDF- gamma menyebabkan perubahan kelas ( class-switch) IgM yang diproduksi menjadi IgG, dan selanjutnya akan terjadi sintesa dan sekresi imunoglobulin oleh sel plasma (Abbas dkk.,1991; Kresno,1991). Selain berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi imunoglobulin stimulasi sel B perawan menyebabkan terbentuknya klon sel B yang perlahan-lahan

kembali kekeadaan istirahat dan menjadi sel memori. Sel ini sering kali mengekspresikan reseptor yang mengalami mutasi mutasi dan menunjukan aktifitas yang lebih tinggi. Sel B memori maupun sel T memori akan meninggalkan kelenjar limfe, limfa, atau jaringan limfoid lain kemudian masuk kedalam pembuluh limfe dan pembuluh darah untuk melakukan surveillance (belanti, 1985; Subowo, 1993; Kresno, 1991). Respons imun sekunder pada umumnya timbul lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan dengan respons imun primer. Hal ini disebabkan oleh karena adanya sel T dan sel B memori serta antibodi yang tersisa. Antigen dapat dikenal oleh sel B spesifik secara efisien. Dalam hal ini sel B bertindak sebagai APC. Karena jumlah sel T dan Sel B spesifik lebih banyak, kemungkinan untuk berinteraksi dengan antigen lebih besar, sehingga titer antibodi juga cepat meningkat. Disamping itu antibodi yang tersisa juga dapat bereaksi dengan antigen sehingga kompleks antigen antibodi lebih mudah ditangkap oleh APC dan diproses, dan selanjutnya akan terjadi stimulasi sel T dan sel B seperti halnya pada respons imun tetapi dengan kecepatan efisiensi lebih tinggi (Bellanti, 1985; Roit dkk., 1993).

4.4 Regulasi Respons Imun


setelah terbentuk antibodi, antigen dihancurkan atau dinetralkan oleh antibodi, sehingga hanya imunosit dengan afinitas reseptor yang tinggi sajalah yang dapat mengenali antigen, dengan demikian aktvitas imunosit makin lama makin berkurang. Penurunan aktivitas ini selain diatur oleh penurunan jumlah antigen, juga disebabkan oleh antibodi itu sendiri yang dapat memberikan umpan balik negatif. Penurunan aktivitas imunosit itu juga terjadi karena penangkapan kompleks antigen-antibodi oleh APC dalam

kondisi antibodi poliklonal berlebihan menjadi kurang efisien akibat banyaknya reseptor Fc yang ditempati oleh imunoglobulin yang mengikat molekul antigen. Selain itu antigen yang terikat pada antibodi dalam kondisi antibodi berlebihan juga terlindung dari proteolisis. Akibatnya pemerosesan antigen akan terganggu, sehingga aktivitas sel T juga terhambat (Bellanti, 1985; Kresno, 1991). Faktor lain yang berperan dalam pengendalian respons imun adalah limfosit T. Pengendalian atau penekanan respons imun diawali dengan aktivasi sel T suppresorinducer yang akan memicu aktivitas sel T penekan. Percobaan secara invitro, menunjukkan bahwa aktivasi sel T suppressor-inducer terjadi karena adanya kontak dengan antigen yang disajikan oleh sel T-suppressor (Ts) melalui determinan I-J yang diekspresikan bersama MHC kelas II. Molekul I-J dianggap menggambarkan idiotip pada sel Ts yang dipilih oleh MHC kelas II saat terjadinya perkembangan sel. Hipotesis lain adalah melalui pengenalan idiotip pada reseptor Th oleh antiidiotip pada sel Ts, atau interaksi antara antiidiotip dengan antibodi terhadap antiidiotip (antiantiidiotip), karena antiidiotip dalam keadaan tertentu dapat meniru (mimic) antigen. Sebagai contoh, hormon yang terikat pada reseptor akan mengikat antihormon. Karena reseptor dan antihormon dapat mengikat hormon, dan karena antihormon dapat mengikat antibodi terhadap antihormon, maka anti-antihormon ini dapat mengikat reseptor. Dengan demikian interaksi idiotip-antiidiotip memungkinkan sel Ts melakukan fungsi penekanan pada sel Th maupun sel B. Penakanan juga dapat terjadi secara nonspesifik, misalnya dengan menginkubasikan sel T dengan aktivator poliklonal Con A. Selain itu faktorfaktor penekan yang diproduksi oleh sel Ts dapat diikat oleh APC. Pengikatan itu antara lain mengakibatkan sintesis IL-1 dihambat, sehingga kemampuan APC menjadi

berkurang. Jumlah sel Ts yang diaktivasi tergantung dari berbagai hal, seperti; jumlah dan cara masuknya antigen, serta umur dan dasar genetik individu bersangkutan (Kresno, 1991; Roitt dkk., Subowo,1993).

BAB V

ANTIBODI
5.1 PENGERTIAN
Antibodi adalah molekul protein yang dihasilkan oleh sel plasma sebagai akibat interaksi antara Limfosit B peka antigen dan antigen khusus. Antibodi memiliki kemampuan berikatan khusus dengan antigen serta mempercepat penghancuran dan penyingkirannya. Antibodi terdapat dalam berbagai cairan tubuh tetapi terdapat dalam konsentrasi tertinggi dan termudah diperoleh dalam jumlah yang banyak untuk analisis dari serum darah.

5.2 SIFAT-SIFAT DASAR ANTIBODI Molekul antibodi seperti protein yang lain secara fisiokimiawi dapat dikelompokan berdasarkan kelarutannya dalam larutan garam kuat, muatan elektrostatik, berat molekul dan struktur antigennya.

Kelarutan dalam Larutan Garam Bertahun-tahun yang lalu ketika Ilmu Biokimia masih dalam fase permulaan, diketahui bahwa protein tertentu dalam serum diendapkan, bila serum dicampur dengan larutan jenuh amonia sulfat dalam volume yang sama banyaknya. Protein yang diendapkan dengan cara itu disebut globulin, sedang yang tetap larut dalam serum disebut albumin. Antibodi diendapkan dari serum oleh amonium sulfat dan karena itu digolongkan sebagai globulin. Teknik yang sangat sederhana ini dapat cepat disesuaikan

untuk menyediakan cara untuk memastikan apakah antibodi terdapat dalam serum dan dengan demikian dapat dipakai untuk membuktikan apakah anak hewan sudah menyusu pada induknya atau belum. Anak hewan yang belum menyusu mengandung sedikit sekali antibodi dan karena itu penambahan larutan garam kuat seperti natrium, seng, atau amonium sulfat pada serumnya menghasilkan endapan yang sangat sedikit. Sebaliknya anak hewan yang sudah dengan baik mengandung tingkat antibodi yang tinggi dalam serumnya dan penambahan larutan garam menimbulkan endapan yang menggumpal. Dengan demikian jumlah globulin antibodi yang terdapat dalam serum dapat diperkirakan dari jumlah endapan yang terbentuk dalam campuran tersebut.

Muatan elektrostatik Karena molekul protein terdiri dari rantai berbagai asam amino, yang sebagian asam dan sebagian basa, maka muatan elektrostatik keseluruhan pada suatu molekul protein tergantung pada komposisi asam aminonya, dan merupakan ciri khas dari protein tersebut. Karena itu suatu campuran protein dapat dipisahkan menjadi komponennya jika diberi aliran listrik, menyebabkan molekul bermuatan lebih positif akan bergerak ke arah katode, sedangkan molekul yang bermuatan negatif bergerak ke arah anoda pada kecepatan yang tergantung pada muatannya. Teknik ini disebut elektroforesis, dilakukan sedemikian sehingga merembesnya larutan dengan cepat dicegah oleh adanya matriks setengah padat seperti agar-agar, selulosa asetat atau gel pati, yang kemudian dapat memisahkan dan mengenali tiap protein di dalam campuran. Bila serum utuh diperlakukan dengan cara ini, selalu dipisahkan empat fraksi, yang paling bermuatan negatif terdiri dari protein tunggal, yang kebetulan juga tidak diendapkan oleh amonium

sulfat, protein ini adalah albumin serum. Ketiga fraksi yang lain semuanya berupa globulin dan dibagi menurut pergerakan elektroforetiknya menjadi globulin , , dan . Globulin adalah yang paling besar muatan negatifnya karena itu bergerak ke arah anoda tepat dibelakang albumin. Globulin ini mengandung protein serum dengan imunologis yang berbeda-beda, diantaranya termasuk antitripsin 1, dan 2 makroglobulin yang keduanya bertindak sebagai penghambat enzim protease dari serum. Globulin bergerak lebih lambat dan tepat di belakang globulin . Globulin bergerak lebih lambat dan tepat di belakang globulin . Globulin mengandung sejumlah molekul antibodi

sebanyak komponen-komponennya. Globulin adalah protein yang paling kecil muatan negatifnya. Globulin bergerak paling dekat dengan asalnya, dan mengandung antibodi terbanyak. Karena molekul antibodi adalah globulin, maka umumnya dikenal sebagai imunoglobulin ( yang dapat disingkat menjadi Ig). Istilah imunoglobulin dipakai untuk menggambarkan semua protein yang mempunyai aktivitas antibodi maupun beberapa protein yang mempunyai struktur imunoglobulin yang khas tetapi tak memiliki aktivitas antibodi.

Berat Molekul Selain muatan elektrostatik, protein juga dapat dikenali dengan berat molekulnya. Ada beberapa teknik untuk mengukur berat molekul. Suatu cara yang umum dipakai adalah menentykan laju pengendapan ini tergantung pada beberapa faktor termasuk kepekatan cairan suspensi dan bentuk protein maupun berat molekulnya. Pengenalan jenis protein dilakukan dengan cara menghitung tetapan pengendapannya yang

dinyatakan dalam satuan svedberg atau nilai S dan tidak dengan cara mengukur berat molekulnya secara teliti dalam satuan dalton.Bila imunoglobulin diperiksa dengan ultrasentrifus ternyata diperoleh tetapan pengendapan sebesar 7 S, disamping itu biasanya ditemukan juga imunoglobulin dengan tetapan pengendapan 11 S, 13 S dan 19 S. Selain cara ultrasentrifus, penaksiran ukuran protein dalam larutan mungkin pula ditentukan dengan cara pengukuran kecepatan protein melewati suatu kolom gelas yang berisi manik dekstran terikat-silang, pada teknik yang disebut sebagai filtrasi gel. Karena molekul yang sangat besar tidak dapat menyusun manink-manik dekstran, molekul kecil menyusup dan tinggal di dalam manik dan dengan demikian melewati kolom pelan-pelan. Karena itu kecepatan molekul protein untuk melewati suatu kolom tertentu (dalam batas tertentu) sebanding dengan berat molekulnya yang dapat dihitung dengan menggunakan kurva estndar. Bila berat molekul imunoglobulin ditaksir dengan cara ini, seperti halnya tetapan pengendapannya, ternyata heterogen Imunoglobulin 7 S mempunyai berat molekul 180.000 dalton, Imunoglobulin 11 S mempunyai berat molekul 360.000 dalton dan Imunoglobulin 19 S mempunyai berat molekul 900.000 dalton. Karena perlakuan kimiawi tertentu dari molekul 19 S menyebabkan terpecah menjadi lima 7 S sub unit, ternyata imonoglobulin ini adalah pentamer dari unit 7 S dasar. Serupa pula

imunoglubulin 11 S adalah dimer dan imunoglubulin 13 S adalah trimer dari unit dasar. Struktur Antigenik Sebagai protein, maka imonoglobulin adalah antigen yang baik sekali bila disuntikan pada hewan seperti spesien yang berbeda. Akibatnya dapat dibuat antiserum yang beraksi dengan molekul imunoglobulin. Dengan menggunakan anti serum semacam

ini dapat menunjukan bahwa imonoglobulin adalah antigen heterogen dan terbagi dalam berbagai klas atai isotipe yang ternyata terdapat pada semua hewan menyusui. Empat klas utama imunoglobulin yang diketahui dengan cara ini diberi tanda imunoglobulin M,G,A dan E dan masing-masing memiliki determinan antigen yang unik, yang disebut , , , dan .

5.3 STRUKSTUR IMUNOGLOBULIN Imunoglobulin G (IgG) adalah imunoglobulin yang terdapat dalam konsentrasi tertinggi dalam serum dan strukturnya dapat dipakai sebagai model bagi imunoglobulin yang lain. IgG mempunyai berat molekul 180.000 dalton dan tetapan pengendapan 7 S. Dalam mikroskop elektron IgG dapat dilihat berupa molekul berbentuk-Y dan lengan dari Y yang mampu mengikat yang memecah ikatan disulfida (-S-S-), maka molekul tersebut akan terurai menjadi empat rantai polipeptida yang terpisah. Dua diantaranya berat karena masing-masing mempunyai berat molekul sekitar 50.000 dalton. Dua rantai yang lain ringan karena masing-masing mempuntai berat molekul sekitar 25.000 dalton. Informasi (tahuna) yangg lebih banyak tentang strukstur IgG dapat diperoleh dengan mempelajari pengaruh enzim proteolitik pada molekul yang utuh. Papain misalnya. Mampu menguraikan molekul IgG menjadi tiga fragmen yang kurang lebih sama besarnya, yang sesuai dengan dua lengan dan satu ekor dari molekul yang berbentuk Y. Kedua fragmen lengan dari molekul adalah identik dan masih memiliki kemampuan untuk mengikat antigen kemampuannya ini disebut fragmen Fab. Fragmen ketiga dari ekor tidak dapat mengikat antigen tetapi dapat terkristalkan dan karena itu dinamakan fragmen Fc.

Enzim proteolitik yang kedua yaitu pepsin, bekerja pada IgG dengan cara yang sedikit berbeda yaitu hampir menghancurkan sama sekali bagian Fc, tetapi meninggalkan kedua fragmen Fab bersatu membentuk suatu fragmen yang dikenal sebagai F(ab) 1. 5.4 STRUKTUR PRIMER IMUNOGLOBULIN Imunoglobulin yang terdapat dalam serum adalah suatu campur-komplek antibodi yang ditujukan terhadap bermacam-macam determinan antigen. Karena keanekaragaman ini, maka tidak mungkin untuk mengadakan analisa strukturnya lebih dari ketentuan umum yang telah diuraikan. Namun demikian pada manusia, mencit, dan anjing, sel B dapat menjadi neoplastik, sehinga klon sel plasma yang neoplastik dapat dihasilkan dari suatu sel pendahulu tunggal. Karena asalnya Monoklonal, semua sel plasma tersebut membuat dan mengeluarkan hanya satu bentuk molekuler tungal imunoglobulin yang tampak di dalam serum dari penderita dalam konsentrasi tinggi. Tumor sel plasma ini dikenal sebagai mieloma atau plasmasitoma dan produk imunoglobulinnya disebut protein mieloma. Protein mieloma terdiri dari molekul imunoglobulin yang sama sekali homogen sehingga dapat dimurnikan dan dianalisa struktur kimiawi dan antigeniknya secara rinci. Dengan cara ini dapat ditunjukkan bahwa setiap molekul imunoglobulin terdiri dari bagian yang dapat berubah (variabel) pada lengan Y, tempat imunoglobulin bertaut pada antigen, bagian engsel yang menghubungkan lengan dengan ekor, yang menjamin kelenturan molekul dan bagian tetap pada kedua lengan dan dimana terletak sifat biologis dari molekul.

5.3.1 Bagian Variabel

Bila susunan asam amino sejumlah besar IgG protein mieloma diperbandingkan, didapatkan bahwa rantai polipeptidanya, baik yang ringan maupun yang berat dapat dibagi menjadi dua bagian yang berbeda, Bagian dari rantai yang terletak ujung terminal C (ujung rantai peptida dengan gugus karboksil bebas) mempunyai susunan urutan asam amino yang relatif konstan, bila protein mieloma yang berbeda diperbandingkan. Sebaliknya pada bagian terminal-N (ujung dengan gugus amino bebas) dari setiap rantai ditemukan sangat berubah-ubah (variabel) dengan demikian susunan asam amino sangat berbeda diantara protein mieloma yang berbeda-beda. Setiap bagian variabel ini mempunyai panjang kurang lebih 110 asam amino residu dan merupakan kurang lebih setengah dari setiap rantai ringan dan kurang lebih seperempat dari setiap rantai berat. Bila bagian veriabel ini diteliti lebih lanjut dan diukur derajat variabilitasnya, terlihat bahwa tempat-tempat tertentu di dalam bagian variabel ini sangat jauh berbeda dari yang lain dan dengan demikian dianggap hipervariabel. Diantara bagian-bagian hipervariabel ini terletak segmen-segmen yang relatif konstan. Bila diukur tiga dimensi ini diperiksa, terlihat bahwa posisi hipervariabel terletak berdekatan satu sama lainnya pada permukaan molekul. Bagian-bagian hipervariabel pada rantai ringan dan ranatai berat bersama-sama membentuk suatu tempat pengikatan antigen tunggal. Akibatnya setiap molekul IgG berfungsi bivalen. Kekhususan interaksi antara antigen dan antibodi dapat dijelaskan berdasarkan bahwa susunan asam amino pada bagian hipervariabel mengakibatkan terjadinya tempat pengikatan antigen yang berbentuk unik. Bentuk atau konformasi dari tempat pengikatan antigen imunoglobulin itulah yang menentukan determinan antigen khusus yang akan bereaksi dengannya. 5.3.2 Bagian Engsel

Pada mikroskopis elektron dari IGG terlihat bahwa bagian Fab (lengan dari Y) bersifat mobil dan dapat berputar bebas mengitari pusat molekul seolah-olah terpaut pada suatu engsel. Bila susunan asam amino pada bagian ini diteliti ternyata berisi residu prolin yang luar biasa banyaknya. Karena bentuk yang unik ini, prolin membentuk belokan yang tegak lurus pada rantai polipeptida, dan karena rantai polipeptida dapat secara bebas mengitari ikatan peptida, efek dari beberapa prolin yang terikat adalah membentuk sendi universal tempat rantai polipeptida dapat berayun bebas. Prolin juga cendrung dapat membuka sususnan rantai polipeptida, dan itulah sebabnya mengapa enzim proteolitik pepsin dan papain dapat merusak molekul antibodi di bagian ini. Akhirnya ikatan disulfida antara rantai yang menghubungkan rantai berat dan ringan juga terdapat pada bagian engsel. Karena itu bagian engsel ini berperan sangat penting dalam aktivitas biologis dari molekul imunoglobulin.

5.3.3 Bagian Tetap Bagian tetap molekul imunoglobulin tersusun dari C-terminal setengah setiap rantai ringan dan C-terminal tiga perempat setiap rantai berat. Bagian konstan dari rantai ringan (CL) panjangnya sekitar 110 residu asam amino sedangkan bagian konstan dari rantai berat (CH) sekitar 330 residu panjangnya. Bila bagian CH dari IgG diteliti susunannya, ternyata terdiri dari tiga sub unit yang sama, atau bagian-bagian yang homolog, yang disebut CH1, CH2 dan CH3 (IgM dan IgE memiliki bagian homolog yang keempat pada Fc yang disebut CH4). Setiap bagian konstan yang homolog pada ranatai ringan maupun berat memiliki suatu ikatan disulfida tunggal yang melipat rantai tersebut menjadi suatu lingkaran.

5.3.4 Bagian CL Rantai ringan terbagi menjadi 2 tipe berdasarkan antigenitas dan susunan asam aminonya. Ke dua tipe tersebut disebut kappa (k) dan lambda (). Kedua rantai ringan pada satu molekul imunoglobulin harus identik. Perbandingan antara rantai k dan sangat bervariasi antara pelbagai spesies. Anjing, kucing, sapi dan domba memiliki 90 % rantai , sedangkan mencit, kelinci dan tikus (rat) memiliki 90 % rantai k. Babi memiliki jumlah yang sama dari setiap tipe sedangkan kuda dan cerpelai hanya memiliki rantai .

5.3.5 Bagian CH Disamping berikatan dengan antigen khusus imunoglobulin memiliki sejumlah aktivitas biologis yang lain, yang kebanyak dimulai setelah imunoglobulin mengikat determinan antigen. aKtivitas biologis ini meliputiaktivitas kaskade komplemen dan pengikatan kompleks kebal pada sel fagositik sebagai persiapan pencernaan (opsonisasi). Hal ini dan fungsi yang lain berlangsung melalaui tempat-tempat di bagian konstan dari rantai berat imunoglobulin. Jadi suatu bagian kecil yang terdapat pada CH2 dari IgG bertanggung jawab untuk dimulainya kaskade komplemen, sedangkan bagian yang serupa pada CH4 IgM melakukan fungsi yang sama pada molekul tadi. Derajat katabolik fraksional dari IgG juga dikendalikan oleh suatu tempat pada CH2, sedangkan perlekatan pada makrophag diperantarai melalaui suatu tempat pada C H3. Pemindahan plasenta IgG (pada manusia) dan sitotoksisitas berperantara sel yang diperantarai oleh antibodi juga diatur oleh tempat-tempat pada rantai berat di bagian Fc tetapi mungkin tidak oleh suatu bagian yang homolog tunggal saja.

Mikroglobulin 2 (11.800 dalton) terdapat dalam keadaan bebas dalam serum maupun terikat pada permukaan banyak sel yang termasuk antigen histokompatibilitas klas I. Mikroglobulin 2 mempunyai keistimewaan dalam hal susunan asam amino yang sangat menyerupai susunan asam amino dari bagian konstan yang homolog dari imunoglobulin, sedemikian rupa sehingga dapat mengikat komplemen dan juga berikatan pada reseptor Fc dari makrophag. Karena itu diduga bahwa molekul ini suatu bagian konstan yang homolog dari imunoglobulin yang terisolasi.

5.4 KLAS IMUNOGLOBULIN 5.4.1 Imunioglobulin G. IgG adalah klas imunoglobulin yang terdapat dalam konsentrasi tertinggi dalam serum darah dan karena itu memainkan peran utama dalam mekanisme pertahanan yang diperantarai oleh antibodi. Zat itu merupaka imunoglobulin 7 S dengan berat molekul 180.000 dalton dan mem,iliki determinan antigen pada rantai beratnya. Karena ukuran yang relatif kecil maka zat itu lebih mudah keluar dari pembuluh darah dibandingkan molekul imunoglobulin yang lain, dan karena itu cepat mengambil bagian utama dalam mekanisme pertahanan pada ruang jaringan dan permukaan tubuh. IgG dapat melakukan opsonisasi, aglutinasi dan presipitasi antigen, tetapi hanya dapat mengativitasi kaskade komplemen bila telah terkumpul cukup banyak molekul dalam konfigurasi yang tepat pada pwermukaan antigen. Beberapa sub klas IgG dapat berikatan pada sel mast dan karena itu turut serta dalam hipersensitivitas tipe I. 5.4.2 Imunioglobulin M.

IgM adalah imunoglobulin yang terdapat dalam konsentrasi nomor dua tertinggi dalam seru dari kebabyakan hewan IgM adalah molekul 19 S dengan berat molekul 900.000 dalton yang terbentuk dari lima sub unit 7 S. Setiap sub unit ini mempunyai struktur yang serupa dengan molekul imunoglobulin berbentuk dasar Y, kecuali bahwa sub unit itu memiliki empat bukannya tiga, unit CH yang homolog dan membawa determinan antigen . Monomer-monomer IgM terikat satu dengan yang lain oleh ikatan disulfida dengan cara melingkari membentuk bintang, dan suatu polipeptida kecil yang kaya sistein yang disebut rantai J (15.000 dalton) menghubungkan dua dari unut-unit tersebut. Molekul IgM disekresi dalam keadaan utuh oleh sel plasma dan karena itu, rantai J harus dianggap sebagai bagian integral dari molekul ini. IgM adalah imunoglobulin utama yang dihasilkan dalam tanggap kebal primer. IgM juga diproduksi dalam tanggap kebal sekunder, tetapi jumlahnya tertutup oleh produksi yang banyak sekali dari IgG pada tanggap ini. Walaupun diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil, IgM sangat lebih efisien (berdasar molar) dari pada IgG pada aktivitas komplemen, opsonisasi, netralisasi virus dan aglutinasi. Karena ukurannya yang besar, molekul IgM terutama terbatas dalam sistem pembuluh darah dan karena itu mungkin kurang penting dalam memberi perlindungan dalam cairan jaringan atau sekresi tubuh. Monomer IgM (IgM 7 S) juga berfungsi sebagai reseptor antigen pada sel.

5.4.3 Munoglobulin A. IgA adalah imunoglobulin yang bnayak mengandung karbihidrat berstruktur konvensional. Zat itu cendrung untuk membentuk polimer sedemikian sehingga terdapat dimer 11 S, trimer 13 S atau polimer yang lebih tinggi disamping molekul dasar 7 S.

Komponen yang paling sering terdapat yaitru dimer yang terdiri dari dua unit 7 S yang dihubungkan oleh rantai J wal;aupun IgA merupakan imunoglobulin terbanyak dalam serum manusia, biasanya dalam serum hewan IgA hanya berupa komponen minor. Sungguhpun demikian IgA merupakan imunoglobulin utama yang terdapat dalam sekresi eksternal tubuh. Itulah sebabnya IgA berperan sangat penting dalam perlindungan saluran-saluran intestinal, respirasi dan urogenital, kelenjar susu dan mata, terhadap invasi mikroba. IgA tidak mengaktivasi kaskade komplemen dan juga tidak bertindak sebagai opsonin. Tetapi zat itu dapat mengaglutinasi partikulat antigen dan menetralisasi virus. Diperkirakan cara kerja IgA adalah mencegah melekatnya antigen pada permukaan tubuh.

5.4.4 Imunoglobulin E. IgE adalah imuniglobulin khas berbentuk Y berantai empat dengan tanbaham satu bagian homolog pada rantai berat di dekat bagian engsel. Karena itu IgE mempunyai berat molekul 196.000 dalton dan tetapan pengendapan 8 S. Imunoglobulin ini terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah dalam serum berbagai jenis hewan (misalnya 20 sampai 500 g/ml pada manusia), tetapi walaupun demikian mempunyai peranan penting dalam memperantarai reaksi hipersensitivitas tipe I (allergi dan anafilaksis), dan juga dihubungkan dengan tanggap kebal terhadap berbagai infestasi cacing. IgE memiliki bagian Fc yang unik yang memungkinkannya berikatan dengan sel jaringan tertentu, terutama sel mast dan basofil, dan bersama-sama dengan antigen, menyebabkan keluarnya zat vasoaktif dari sel-sel ini. IgE juga unik diantara imunoglobulin lain dalam hal akan dihancurkan oleh pemanasan sampai 560C selama 30 menit

5.5.5 Imunoglobulin D. IgD adalah imunoglobulin 7 S yang terdapat terutama pada permukaan beberapa limfosit B, dimana berfungsi sebagai reseptor antigen. IgD telah dibuktikan terdapat pada manusia, hewan percobaan dan ayam. Belum berhasil diperlihatkan terdapat pada sebagian besar hewan piaraan.

5.6 IMUNOGLOBULIN HEWAN PIARAAN Semua hewan piaraan memiliki IgG, IgM, IgA, dan mungkin juga memiliki IgE dan IgD. Sifat dasar dari masing-masing klas imunoglobulin ini tidak berbeda antara spesies, dan sifat serta fungsinya telah diuraikan sebelumnya. Namun demikian hewan berbeda dalam jumlah dan tipe sub klas yang terdapat pada masing-masing spesies maupun dalam pemilikan alotipe.

5.6.1 KUDA. Kuda terdapat lima sub klas IgG yaitu IgGa, IgGb, IgGc, IgG(B) (kadang-kadang disebut IgB) dan IgG(T) (kadang-kadang disebut IgT). IgG(T) menarik perhatian dalam hal kaya akan karbohidrat, karena terdapat dalam jum;lah banyak di dalam sekresi tubuh, dan yang mulanya diduga sebagai IgA homolog kuda. Simbol T berasal dari pengamatan bahwa IgG(T) sangat bertambah jumlahnya pada kuda yang dipakai untuk memproduksi antioksin tetanus. Tetapi analisis struktur antigenik dan susunan asam aminonya menunjukkan bahwa IgG(T) sangat mirip pada IgGdan karena itu yang terbaik adalah dianggap subklas IgG. IgG(T) tidak mengikat komplemen mencit dan bereaksi dalam

reaksi presipitasi dengan flokulasi yang agak khas. Imunoglobulin lainnya yang tidak diaktifkan yang terdapat pada kuda antara lain molekul 10 S1, dan dua imunoglobulin dari mobilitas yang cepat.

5.6.2 SAPI. Pada sapi seperti yang telah diterangkan sebelumnya, IgG terbagi atas dua sub klas yaitu IgG1 dan IgG2 berdasarkan atas antigenitas dan mobilitas elektroforetik. IgG2 berdasarkan atas antigen dan mobilitas elektroforetik. IgG1 merupakan kurang lebih 50 % dari IgG dalam serum dan dalam susu sapi terdapat luar biasa banyaknya sehingga merupakan imunoglobulin yang lebih utama jika dibandingkan dengan IgA. Banyaknya IgG2 sangat mudah diwariskan maka konsentrasinya sangat bervariasi antara sapi yang satu dan yang lain. Alotipe telah dilaporkan terdapat pada sapi. Suatu alotipe yang dikenal dengan nama B1 terdapat pada mata rantai ringan dari sejumlah sapi tetapi relatif tidak umum. Telah dilaporkan terdapatnya beberapa alotipe yang lain termasuk G 2A1 dan G2A2, terdapat pada rantai berat IgG2 dan turunannya sebagai dominan antosomal, dan G1A1, terdapat pada rantai berat IgG1. IgE juga telah diketahui terdapat pada sapi.

5.6.3 DOMBA.

Imunoglobulin pada domba sama dengan yang terdapat pada sapi. Domba memiliki IgG1, IgG2, IgG3. Beberapa domba dilaporkan memiliki IgG1a tetapi ini mungkin hanya alotipe. Domba juga mempunyai IgE yang tak tahan panas dengan berat molekul 210.000 dalton

5.6.4 BABI. Babi memiliki tiga sub klas IgG yang disebut IgG1, IgG2 dan IgG3. Disamping itu babi dewasa memiliki 1, makroglobulin 18 S yang secara antigenik sama dengan IgG2, dan anak babi yang baru lahir memiliki 5 S IgG, yang mungkin tidak mempunyai rantai ringan. Empat alotipe IgG telah dilaporkan terdapat pada babi betina dan antibodi yang terjadi spontan terhadapnya telah ditemukan dalam serum anak babi. Diduga bahwa anak babi mungkin menjadi peka terhadap imunoglobulin induk babi sesudah penyerapan imunoglobulin dari colostrum setelah lahir, IgE telah dilaporkan terdapat pada babi.

5.6.5 ANJING DAN KUCING. Anjing memiliki empat sub klas IgG yang disebut IgG1, IgG2a, IgG2b, dan IgG2c sedangkan kucing memiliki dua (IgG1 dan IgG2). Suatu alotipe IgM telah dilaporkan terdapat pada anjing dan IgE telah dikenal pada spesies ini.

5.6.6 AYAM. Walaupun IgG pada spesies ini mempunyai beberapa sifat yang unik (begitu banyak sehingga oleh beberapa peneliti dinamakan IgY), mempunyai fungsi yang sama dengan IgG pada hewan mamalia dan karena itu disini juga disebut IgG, IgG ayam

mempunyai tetapan pengendapan 8 S dan berat molekul 200.000 dalton. Sejumlah peneliti telah melaporkan adanya tiga sub klas yaitu IgG1, IgG2 dan IgG3. Walaupun hal ini belum dibuktikan secara sempurna. Ayam juga memiliki IgA yang terdapat dalam sekresi dan sebagaimana halnya IgA pada mamalia, cenderung untuk membentuk polimer. IgM ayam adalah molekul 19 S, terbentuk terutama selama tanggap kebal primer dan memiliki rantai J. IgM 7 S dapat ditemukan dalam cairan amnion telur dan pada anak ayam umur sehari. Zat itu diduga berasal dari sekresi saluran telur induk ayam. Adanya IgD homolog pada ayam juga sudah dibuktikan. Ayam memiliki tiga lokus alotipe imunoglobulin. Lokus G-1 merupakan lambang bagi alotipe rantai berat IgG. Lokus M-1 merupakan lambang bagi alotipe rantai berat IgM, dan lokus L-1 merupakan lambang alotipe rantai ringan. Mungkin terdapat empat belas macam alotipe yang dikembangkan pada lokus G-1.

5.7 KERAGAMAN ANTIBODI Suatu hasil yang langsung diperoleh dari penelitian pada antisera terhadap konjugat pembawa hapten, kenyataan bahwa antibodi dapat membedakan antara determinan antigen yang hanya sedikit berbeda dalam konfirgurasi strukturalnya. Selanjutnya disadari bahwa terdapat sejumlah besar antigen yang berbeda-beda dan bahwa jumlah antibodi yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan antigen ini harus juga berjumlah sangat besar Satu kesulitan yang timbul akibat temuan ini adalah adanya pendapat bahwa dibutuhkan meterial genetik dalam jumlah yang luar biasa banyak untuk mengkodekan bagi setiap molekul antibodi potensial. Tetapi ketika struktur imunoglobulin diketahui

baru menjadi jelas bahwa kekhususan suatu antibodi terhadap determinan antigen komplementernya terletak hanya pada struktur dari bagian variabel dari rantai ringan dan rantai berat. Juga menjadi jelas bahwa pengkodean bagi setiap molekul antibodi potensial. Tetapi ketika struktur imunoglobulin diketahui, baru menjadi jelas bahwa kekhususan suatu antibodi terhadap determinan antigen komplementernya terletak hanya pada strukstur dari bagian variabel dari rantai ringan dan rantai berat. Juga menjadi jelas bahwa pengkodean bagi molekul imunoglobulin dilakukan oleh sekurang-kurangnya dua kelompok utama gen : Gen bagian variabel yang mengkodean bagi bagian variabel dan gen bagian konstan yang mengkodean bagi bagian selebihnya dari molekul. Untuk menerangka kekhususan antibodi, kita mesti menghitungka variasi di dalam bagian variabel, terutama daerah hipervariabel. Untuk menerangkan bermacam-macam pembuatan isotipe imunoglobulin yang berbeda-beda, kita harus memperhitungkan variasi di dalam gen bagian konstan. Banyak informasi yang berikut diperoleh dari penelitian pada mencit. Walaupun diharapkan bahwa mekanisme yang serupa operatif pada. Keragaman Bagian Variabel (V). Paling sedikit tiga macam gen diperlukan untuk membentuk satu rantai ringan imunoglobulin. Satu gen, gen VL mengkodean bagi seluruh bagian variabel, gen yang lain yaitu gen CL mengkodean bagi bagian tetap dan gen ketiga yaitu gen JL mengkodean bagi sebagian rantai yang menghubungkan bagian variabel dan bagian tetap.

BUKU ACUAN

Tizard, Pengantar Imunologi Veteriner. Airlangga university Press -1988