Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah


bahan/zat/obat jika masuk kedalam tubuh manusia akan mem engaruhi
tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan
gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi
kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap
NAPZA (BNP Jabar, 2010). Masalah penyalahgunaan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang populer
dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan
upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja
sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif
yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan zat aditif?
2. Apa sebenarnya pengertian zatadiktif itu?
3. Apa yang dimaksud dengan psikotropika?
4. Dampak apa saja yang diakibatkan oleh zat adiktif dan psikotropika?
5. Apa sanksi tindak pidana psikotropika dan zat adiktif?
6. Bagaimana upaya pencegahan penyalahgunaan zat adiktif
psikotropika?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menjelaskan pengertian zat aditif;
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

dan

2.
3.
4.

Untuk menjelaskan pengertian zat adiktif;


Untuk menjelaskan pengertian psikotropika;
Untuk mengidentifikasi dampak apa saja yang diakibatkan oleh zat

5.
6.

adiktif dan psikotropika;


Untuk menjelaskan sanksi tindak pidana psikotropika dan zat adiktif;
Untuk mengidentifikasi upaya pencegahan penyalahgunaan zat adiktif
dan psikotropika.

BAB II
PEMBAHASAN

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

A. Zat Aditif
1. Pengertian Zat Aditif
Menurut WHO dan FAO yaitu bahan-bahan yang ditambahkan
dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah yang sedikit. Tujuannya
adalah untuk menambahkan cita rasa, warna, bentuk, tekstur serta
mempertahankan lamanya penyimpanan. Serta menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI No.329/Menkes/PER/XII/76 yaitu bahan yang ditambahkan
dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu
serta kualitas makanan. Jadi dapat disimpulkan, zat aditif adalah zat yang
ditambahkan pada makana saat pengolahan makanan untuk meningkatkan
mutu makanan.
Pada awalnya zat-zat aditif tersebut berasal dari bahan tumbuhtumbuhan yang selanjutnya disebut zat aditif alami. Umumnya zat aditif
alami tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan
manusia. Akan tetapi, jumlah penduduk bumi yang makin bertambah
menuntut jumlah makanan yang lebih besar sehingga zat aditif alami tidak
mencukupi lagi. Oleh karena itu, industri makanan memproduksi makanan
yang memakai zat aditif buatan (sintesis). Bahan baku pembuatannya
adalah dari zat-zat kimia yang kemudian direaksikan. Zat aditif sintesis
yang berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping misalnya:
gatal-gatal, dan kanker.
2. Macam-macam Zat Aditif
a. Zat Pewarna
Zat pewarna adalah bahan yang dapat memberi warna pada
makanan, sehingga makanan tersebut lebih menarik. Contoh pewarna
alami dan sintetik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.1
Contoh pewarna yang diijinkan dan tidak diijinkan

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

b. Penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa


Zat aditif ini dapat memberikan, menambah, mempertegas rasa dan
aroma makanan.Penyedap rasa dan aroma yang banyak digunakan
berasal dari golongan ester.
Contoh: Isoamil asetat (rasa pisang), isoamil valerat (rasa apel),
butil butirat (rasa nanas), isobutil propionat (rasa rum)
Bahan penguat rasa atau penyedap makanan yang paling banyak
digunakan adalah MSG (Monosodium Glutamate) yang sehari-hari
dikenak dengan nama vetsin.
d. Zat pemanis buatan
Pemanis buatan memiliki tingkat kemanisan yang melebihi
sukrosa beberapa kali lipat. Bahan pemanis dapat berupa pemanis alami
dan buatan: Pemanis alami yang biasa dipakai adalah gula sedangkan
pemanis buatan biasa dikonsumsi oleh orang yang menderita sakit
kencing manis.
Contoh-contoh pemanis buatan yaitu (1) sakarin, berbentuk kristal
putih. Memiliki tingkat rasa manis 500 kali dari manis gula pasir. ADI
(Acceptable Daily Intake) untuk pemnanis buatan ini adalah adalah 1
gram. (2) Aspartam, berbentuk serbuk putih, tidak berbau dan bersifat
higroskopik. Memiliki tingkat rasa manis 200 kali dari rasa manis gula
pasir. ADI untuk pemanis aspartam adalah 40 mg. Tidak boleh
dicampur dengan makanan yang mengandung MSG (Monosodium

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

Glutamat). (3) Sorbitol, diolah dari buah cherry, plum, apel, pir, lumut
dan rumput laut. (4) Siklamat, memiliki tingkat rasa manis 50 kali dari
rasa manis gula pasir. Di Amerika Serikat, pengguanaan siklamat sudah
dilarang karena bersifat karsinogenik. (5) Dulsin, memiliki tingkat rasa
manis 250 kali dari rasa manis gula pasir. Pemakaian zat ini sudah
dilarang oleh Departemen Kesehatan RI.
e. Pengawet
Zat aditif ini dapat mencegah atau menghambat fermentasi,
pengasaman atau penguraian lain terhadap makanan yang disebabkan
oleh mikroorganisme.
Contoh bahan pengawet dan penggunaannya:
1) Asam benzoat, natrium benzoat dan kalium benzoat, untuk
minuman ringan, kecap, acar ketimun dalam botol dan caos.
2) Natrium nitrat (NaNo3), untuk daging olahan dan keju.
3) Natrium nitrit (Na No2), untuk daging olahan, daging awetan dan
kornet kalangan.
4) Asam propionate, untuk roti dan sediaan keju olahan.
f. Anti oksidan
Zat aditif ini dapat mencegah atau menghambat oksidasi.
Contoh:
1) Asam askorbat (bentukan garam kalium, natrium, dan kalium),
digunakan pada daging olahan, kaldu, dan buah kalengan.
2) Butil hidroksianisol (BHA), digunakan untuk lemak dan minyak
makanan
3) Butil hidroksitoluen (BHT), digunakan untuk lemak, minyak
makan, margarin dan mentega, pengemulsi, pemantap, dan
pengental.
4) Zat aditif ini dapat membantu pembentukan atau pemantapan
sistem

dispersi

yang

homogen

pada

makanan.

Contoh: agar-agar, gelatin, dan gom arab


g. Pemutih dan pematang tepung
Zat aditif ini dapat mempercepat proses pemutihan atau
pematangan tepung sehingga dapat memperbaiki mutu pemanggangan.
Contoh: Asam askorbat, aseton peroksida, dan kalium bromat

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

h. Pengatur keasaman
Zat

aditif

ini

dapat

mengasamkan,

menetralkan,

dan

mempertahankan derajat keasaman makanan. Contoh: asam asetat,


aluminium amonium sulfat, amonium bikarbonat, asam klorida, asam
laktat, asam sitrat, asam tentrat, dan natrium bikarbonat
i. Anti kempal
Zat aditif ini dapat mencegah pengempalan makanan yang berupa
serbuk. Contoh: aluminium silikat (susu bubuk), dan kalsium
aluminium silikat (garam meja)

B. Zat Adiktif
1. Pengertian Zat Adiktif
Zat adiktif adalah istilah untuk zat-zat yang pemakaiannya dapat
menimbulkan ketergantungan fisik yang kuat dan ketergantungan
psikologis yang panjang (drug dependence). Kelompok zat adiktif adalah
narkotika (zat atau obat yang berasal dari tanaman) atau bukan tanaman,
baik sintetik maupun semisintetik, yang dapat menyebabkan penurunan
atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan rasa sakit,
dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah zat atau obat
yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,
dan dapat menimbulkan ketergantungan.
2. Kategori Zat Adiktif
a. Berdasarkan Bahan
1) Natural
Diambil dari tanaman, seperti: ganja, candu, kokaina, jamur,
kaktus, tembakau, kopi, pinang, dan sirih
2) Sintetis
Dibuat dari bahan kimia farmasi atau dicampur dengan bahan
alamiah, seperti: amphetamin, kodein, dan lem.
b. Berdasarkan Efek Kerja
1) Merangsang Sistem Syaraf Pusat
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

Yaitu jenis NAPZA yang mampu memacu kerja jantung,


memompa paru-paru dengan lebih giat dan mengaktifkan
berbagai

hormone

transmitter

di

dalam

otak

sehingga

menyebabkan rasa segar dan bersemangat.


2) Menekan Sistem Syaraf Pusat
Yaitu jenis NAPZA yang mampu memperlambat jantung dan
denyut nadi, memperlambat kerja paru-paru dan mengurangi
transmitter pada otak sehingga menyebabkan rasa mengantuk atau
rasa tenang
3) Mengacaukan Sistem Syaraf Pusat (Halusinasi)
Yaitu jenis NAPZA yang mampu mempengaruhi kerja
susunan saraf pusat, otak dan tulang belakang, sehingga mampu
menyebabkan halusinasi, melihat dan merasakan realitas palsu.
c. Berdasarkan Cara Penggunaan
1) Dimasukan dalam mulut/diminum (Oral)
2) Disuntikan ke dalam tubuh (Injeksi)
3) Diletakan di dalam luka (biasanya luka sayatan yang sengaja
dibuat)
4) Dihisap (sniffed)/dihirup (inhaled)
5) Dimasukan melalui anus (Insersi anal)

d. Berdasarkan Bentuk
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Cairan
Pasta
Pil/kapsul
Kristal/blok
Bubuk
Gas
Lapisan kertas (impregnated paper)

3. Macam-Macam Zat Adiktif


Narkotika menurut tujuan penggunaan dan tingkatan risiko
ketergantungannya terbagi dalam 3 golongan, yaitu:
a. Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan

untuk

tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

serta

mempunyai

potensi

sangat

tinggi

mengakibatkan

ketergantungan. Contoh Narkotika golongan I terdiri dari 26 macam,


antara lain opium mentah, candu, kokain, ganja dan heroin.
1) Candu
Candu

dalam

bahasa inggris disebut


Poppy. Candu adalah
getah tanaman Papaver
Somniferum
didapat

yang
dengan

menyadap
(menggores)

buah

yang hendak masak.

Gambar 2.1 Tanaman Papaver Somniferum

Getah yang keluar berwarna putih dan dinamai "Lates". Getah ini
dibiarkan mengering pada permukaan buah sehingga berwarna
coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan
yang menyerupai aspal lunak yang menjadi cikal bakal dari
heroin, opium, morfin dan kodein.
Candu masak warnanya coklat tua atau coklat kehitaman
diperjualbelikan dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai
macam cap, antara lain cap merek ular, cap tengkorak, cap burung
elang, dan berbagai cap atau merek lainnya.
Candu sering dipakai dengan cara dihisap. Dikalangan
pengguna, candu sering disebut dengan Madat
Opium digunakan untuk menghilangkan rasa sakit karena
luka atau menghilangkan rasa nyeri pada penderita kanker.
Namun dalam dosis berlebih dapat mengakibatkan kecanduan
yang akhirnya menyebabkan kematian.
Penggunaannya yang
menyalahi aturan dapat
menimbulkan rasa sering
mengantuk,
gembira

perasaan
berlebihan,

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

Gambar 2.2 Daun Koka

banyak berbicara sendiri, kecenderungan untuk melakukan


kerusuhan, merasakan nafas berat dan lemah, ukuran pupil mata
mengecil, mual, susah buang air besar, dan sulit berpikir. Jika
pemakaian obat ini diputus, akan timbul hal-hal berikut: sering
menguap, kepala terasa berat, mata basah, hidung berair, hilang
nafsu makan, lekas lelah, badan menggigil, dan kejang-kejang. Jika
pemakaiannya melebihi dosis atau overdosis, akan menimbulkan
hal-hal berikut: tertawa tidak wajar, kulit lembap, napas pendek
tersenggal-senggal, dan dapat mengakibatkan kematian.
2) Kokain
Kokain termasuk ke dalam salah satu jenis dari narkotika.
Kokain diperoleh dari hasil ekstraksi daun tanaman koka
(Erythroxylum coca). Daun koka atau Erythroxylon coca adalah
jenis pokok Erythroloxylon yang terdapat di Peru,Bolivia dan
Colombia di Pergunungan Andes,Amerika Serikat. Bahan ini
kebanyakannya digunakan di Amerika Serikat. Zat ini dapat
dipakai sebagai anaestetik
(pembius) dan memiliki efek
merangsang

jaringan

otak

bagian sentral. Pemakaian zat


ini menjadikan pemakainya

Gambar 2.3 Kokain

suka bicara, gembira yang


meningkat

menjadi gaduh

dan gelisah, detak jantung bertambah, demam, perut nyeri, mual,


dan muntah. Seperti halnya narkotika jenis lain, pemakaian
kokain dengan dosis tertentu dapat mengakibatkan kematian.
Zat adiktif kokain jika dikonsumsi dalam jangka panjang
dapat menyebabkan kekurangan sel darah putih atau anemia
sehingga dapat membuat badan kurus kering. Selain itu kokain
menimbulkan perforesi sekat hidung (ulkus) dan aritma pada
jantung.
3) Ganja

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

Ganja atau mariyuana merupakan zat adiktif narkoba dari


golongan kanabionoid. Ganja terbuat dari daun, bunga, biji, dan
ranting muda tanaman mariyuana (Cannabis sativa) yang sudah
kering.
Tanda-tanda
penyalahgunaan
ganja,

yaitu

gembira

dan

tertawa

tanpa

sebab, santai dan


lemah,

banyak

bicara

sendiri,

pengendalian

diri

menurun, menguap
atau

Gambar 2.4 Daun Ganja

mengantuk,

tetapi susah tidur, dan mata merah, serta tidak tahan terhadap
cahaya dan badan kurus karena susah makan. Tanda-tanda gejala
putus obat (ganja), yaitu sukar tidur, hiperaktif, dan hilangnya
nafsu makan. Tanda-tanda gejala overdosis, yaitu ketakutan, daya
pikir menurun, denyut nadi tidak teratur, napas tidak teratur, dan
mendapat gangguan jiwa. Zat kandungan dalam ganja yang
berbahaya dapat menyebabkan daya tahan tubuh berkurang dan
melemah sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi serta
memperburuk aliran darah koroner.
b. Golongan II
Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
tinggi mengakibatkan ketergantungan. Narkotika golongan II terdiri
dari 87 macam, contohnya morfin dan Petidin.
1) Morfin

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

10

Kata

"morfina"

berasal

dari Morfeus,

dewa

mimpi

dalam mitologi Yunani.


Morfin (INN) (diucapkan / n mrfi / ) ( MS T'rusk ,
MSIR , Avinza , Kadian , Oramorph , Roxanol , Kapanol ) adalah
potensial candu analgesik obat dan dianggap sebagai prototipikal
opioid . Hal ini ditemukan pada 1804 oleh Friedrich Sertrner ,
pertama didistribusikan oleh Friedrich Sertrner pada tahun 1817,
dan komersial pertama dijual oleh Merck pada tahun 1827, yang
pada waktu itu sebuah toko kimia kecil. Itu lebih banyak
digunakan setelah penemuan jarum suntik pada tahun 1857. Ini
mengambil nama dari Tuhan Yunani mimpi Morpheus ( Yunani :
).
Morfin adalah paling banyak mengandung alkaloid yang
ditemukan di opium ,
getah kering (lateks)
yang

berasal

dari

hasil getah irisan biji


mentah opium, atau
dinamakan,

poppy,

Papaver somniferum.
Morfin

adalah

pemurnian pertama

Gambar 2.5 Biji opium

dari sumber tanaman dan merupakan salah satu dari sedikitnya


mengandung 50 macam alkaloid dari beberapa jenis dalam
opium, Poppy Straw Konsentrat , dan turunan opium lainnya.
Morfin umumnya 8 sampai 17 persen dari berat kering
opium, walaupun khusus dibesarkan kultivar mencapai 26 persen
atau menghasilkan morfin sedikit sekali, di bawah 1 persen,
mungkin turun menjadi 0,04 persen. Varietas yang terakhir,
termasuk 'Przemko' dan Norman 'kultivar' dari opium poppy,
digunakan untuk menghasilkan dua alkaloid lain, tebain dan
oripavine , yang digunakan dalam pembuatan-sintetik dan semi

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

11

sintetik opioid seperti oxycodone dan etorphine dan beberapa


jenis obat.
( P. bracteatum ) tidak mengandung morfin atau kodein,
atau lainnya narkotika fenantrena tipe, alkaloid. Spesies ini lebih
merupakan sumber tebain . Terjadinya morfin di lain papaverales
dan Papaveraceae , serta pada beberapa jenis hop dan murbei
pohon belum dikonfirmasi. Morfin diproduksi paling dominan di
awal siklus hidup tanaman. Melewati titik optimum untuk
ekstraksi, berbagai proses di pabrik memproduksi kodein , tebain ,
dan dalam beberapa kasus jumlah diabaikan hidromorfon ,
dihydromorphine , dihydrocodeine , tetrahydrothebaine, dan
xanax (senyawa ini agak disintesis dari tebain dan oripavine).
Tubuh manusia memproduksi endorphines , yang neuropeptida ,
dengan efek yang sama.
Dalam pengobatan klinis, morfin dianggap sebagai standar
emas, atau patokan, dari analgesik digunakan untuk meringankan
penderitaan berat atau sakit dan penderitaan . Seperti opioid lain,
misalnya

oksikodon

(OxyContin,

Percocet,

Percodan),

hidromorfon (Dilaudid, Palladone), dan diacetylmorphine ( heroin


), morfin langsung mempengaruhi pada sistem saraf pusat (SSP)
untuk meringankan rasa sakit . Morfin memiliki potensi tinggi
untuk kecanduan , toleransi dan psikologis ketergantungan
berkembang dengan cepat, meskipun Fisiologis ketergantungan
mungkin membutuhkan beberapa bulan untuk berkembang.
c.

Golongan III
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi dan / atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.. Narkotika
golongan III terdiri dari 14 macam, contohnya etil morfin dan kodein.

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

12

4. Zat Adiktif lainnya :


Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang
berpengaruh psiko aktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
a. Minuman
Alkohol
:
mengandung
alkohol,

etanol

yang

etil

berpengaruh

menekan susunan saraf pusat,


dan sering menjadi bagian dari
kehidupan manusia sehari
hari

dalam

tertentu.
bersamaan

Jika

kebudayaan
digunakan
dengan

Gambar 2.6 Merk Minumal Beralkohol

Narkotika atau Psikotropika


akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia.
Alkohol dalam minuman keras dapat menyebabkan gangguan jantung
dan otot syaraf, mengganggu metabolisme tubuh, membuat janis
menjadi cacat, impoten serta gangguan seks lainnya. Ada 3 golongan
minuman beralkohol :
1) Golongan A : kadar etanol 1 5 % ( Bir ).
2) Golongan B : kadar etanol 5 20 % ( Berbagai minuman anggur )
3) Golongan C : kadar etanol 20 45 % ( Whisky, Vodca, Manson
b.

House, Johny Walker ).


Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah
menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai
barang

keperluan

rumah

tangga, kantor, dan sebagai


pelumas mesin. Yang sering
disalahgunakan

adalah

Lem, Tiner, Penghapus Cat


Kuku,
Gambar 2.7 Inhalasi pada anak

lem

uhu,

racun

serangga, Bensin. Inhalasia


memiliki dampak buruk bagi

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

13

kesehatan kita seperti gangguan pada fungsi jantung, otak, dan lever.
Efek lain dari penggunaan yang salah pada tubuh manusia adalah
dapat menimbulkan infeksi emboli.
c. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat
luas di masyarakat. Dalam upaya penanggulangan NAPZA di
masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja,
harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan
alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain
yang berbahaya.
C. Psikotropika
1. Pengertian Psikotropika
Menurut

Undang-undang

RI

No.

tahun

1997

tentang

Psikotropika, bahwa psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah


maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika meliputi:
Extacy, shabu-shabu, LSD, obat penenang tidur, obat anti depresi dan
anti psikosis. Psikotropika merupakan zat (biasanya dalam bentuk tablet)
yang mempengaruhi kesadaran karena sasaran obat tersebut adalah pusatpusat tertentu di dalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang
belakang). Psikoaktiva adalah semua zat yang mempunyai komposisi
kimiawi dan berpengaruh pada otak hingga dapat menimbulkan
perubahan perilaku, perasaan, pikiran, persepsi, kesadaran.
2. Macam-macam Psikotropika
Berdasarkan fungsinya obat psikotropika dibedakan menjadi tiga
yaitu obat stimulan, obat depresan, dan obat halusinogen:
a.

Obat stimulan ( obat perangsang ) adalah obat yang merangsang


system saraf sehingga orang yang merasakan lebih pecaya diri dan

b.

selalu waspada contoh obat ini adalah, kafein nikotin.


Obat depresan ( obat penenang ) adalah obat yang dapat menekan
system saraf sehingga pemakaiannya merasa ngantuk dan tingkat

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

14

kesadarannya turun. Contoh obat jenis ini adalah alcohol dan


c.

barbiturate
Obat halusinogen adalah obat yang dapat membelokkan pikiran
pemakaiannya
Zat adiktif hampir semuanya termasuk ke dalam psikotropika,

tetapi tidak semua psikotropika menimbulkan ketergantungan. Berikut ini


termasuk ke dalam golongan psikotropika yang tidak membuat kecanduan,
yaitu LSD (Lysergic Acid Diethylamide) dan amfetamin. Penyalahgunaan
kedua golongan psikotropika ini sudah meluas di dunia.
a. LSD (Lysergic Acid Diethylamide)
LSD merupakan zat psikotropika yang dapat menimbulkan
halusinasi (persepsi semu mengenai sesuatu benda yang sebenarnya
tidak ada). Zat ini dipakai untuk membantu pengobatan bagi orangorang

yang

gangguan

jiwa

mengalami
atau

sakit

ingatan. Zat ini bekerja dengan


cara membuat otot-otot yang
semula tegang menjadi rileks.
Penyalahgunaan
biasanya

zat

dilakukan

ini
oleh

orang-orang yang menderita

Gambar 2.8 Bentuk-bentuk LSD

frustasi dan ketegangan jiwa.


b. Amfetamin
Kita seringkali mendengar pemberitaan di media massa mengenai
penjualan barang-barang terlarang, seperti ekstasi dan shabu. Ekstasi
dan shabu adalah hasil sintesis dari zat kimia yang disebut amfetamin.
Jadi, zat psikotropika, seperti ekstasi dan shabu tidak diperoleh dari
tanaman melainkan hasil sintesis. Pemakaian zat-zat tersebut akan
menimbulkan gejala-gejala berikut: siaga, percaya diri, euphoria
(perasaan gembira berlebihan), banyak bicara, tidak mudah lelah, tidak
nafsu makan, berdebar-debar, tekanan darah menurun, dan napas cepat.
Jika overdosis akan menimbulkan gejala-gejala: jantung berdebardebar, panik, mengamuk, paranoid (curiga berlebihan), tekanan darah
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

15

naik, pendarahan otak, suhu tubuh tinggi, kejang, kerusakan pada


ujung-ujung saraf, dan dapat mengakibatkan kematian. Jika sudah
kecanduan, kemudian dihentikan akan menimbulkan gejala putus obat
sebagai berikut: lesu, apatis, tidur berlebihan, depresi, dan mudah
tersinggung.
D. Dampak Zat Adiktif dan Psikotropika
Zat adiktif dan psikotropika memiliki beberapa dampak penggunaan
oleh manusia yang dapat dibagi menjadi 3,yaitu dampak kesehatan,dampak
sosial,dan dampak ekonomi.
1. Dampak kesehatan
Dampak kesehatan akibat penggunaan zat adiktif dan psikotropika.
a. Mengurangi kemampuan darah dalam menyimpan oksigen karena zat
ini mengandung racun yang berbahaya.
b. Mengakibatkan kanker.
c. Menyebabkan kesulitan dalam bernapas.
d. Penurunan daya ingat.
e. kerusakan hati/kanker hati
f. menimbulkan rasa kesibukan (rushing sensation).
g. Menimbulkan semangat.
h. Merasa waktu berjalan lambat.
i. Pusing,kehilangan keseimbangan tubuh/ mabuk.
j. Timbul masalah kulit di sekitar mulut dan hidung.
k. Menimbulkan euphoria.
l. Mual,muntah,sulit buang air besar.
m. Kebingungan (konfusi).
n. Berkeringat.
o. Pingsan dan jantung berdebar-debar.
p. Gelisah dan berubah suasana hati.
q. Denyut nadi melambat.
r. Tekanan darah menurun.
s. Otot-otot menjadi lemah.
t. Pupil mengecil dan gangguan penglihatan.
u. Mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan diri.
v. Banyak bicara.
w. Gangguan kebiasaan tidur.
x. Gigi rapuh,gusi menyusut karena kekurangan kalsium.
y. Tekanan darah meningkat.
2. Dampak sosial
Dampak sosial yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan zat adiktif
dan psikotropika oleh manusia.
a. Susah dalam bersosialisasi.
b. Tidak percaya diri.
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

16

c.
d.
e.
f.
g.
h.

Sulit pengendalian diri.


Susah menyambung pembicaraan.
Berpikiran negatif pada diri sendiri.
Bergembira secara berlebihan.
Lebih banyak berdiam diri.
Dikucilkan dalam masyarakat dan pergaulan orang baik-baik. Selain itu
biasanya

tukang

candu

narkoba

akan

bersikap

anti

sosial.

keluarga akan malu besar karena punya anggota keluarga yang


memakai zat terlarang.
i. Kesempatan belajar hilang dan mungkin dapat dikeluarkan dari sekolah
atau perguruan tinggi alias DO / drop out.
j. Tidak dipercaya lagi oleh orang lain karena umumnya pecandu narkoba
akan gemar berbohong dan melakukan tindak kriminal.
k. Dosa akan terus bertambah karena lupa akan kewajiban Tuhan serta
menjalani kehidupan yang dilarang oleh ajaran agamanya.
l. Bisa dijebloskan ke dalam tembok derita / penjara yang sangat
menyiksa lahir batin..
m. Mendorong pemakainya untuk melakukan tindak kriminal karena
harganya mahal dan sudah ketergantungan terhadap obat itu,sehingga
pemakai akan memaksakan diri untuk mengkonsumsi obat itu.
3. Dampak Ekonomi
Berikut ini beberapa dampak dalam bidang ekonomi akibat dari
penggunaan zat adiktif dan zat psikotropika oleh manusia.
a. Akan banyak uang yang dibutuhkan untuk penyembuhan dan perawatan
kesehatan pecandu jika tubuhnya rusak digerogoti zat beracun.
b. Masalah keuangan. Obat-obatan yang dikonsumsi biasanya
mahal.Namun, bila sudah kecanduan maka pengguna akan melakukan
apa saja untuk mendapatkannya. Mereka bisa menjual barang pribadi
atau mengambil milik orang lain dan keluarga.
c. Pemakai tidak akan dapat menabung dan memenuhi kebutuhan
pokoknya

sebagai

manusia

biasa,karena

pemakai

akan

lebih

mementingkan obat itu daripada kebutuhan pokoknya.


E.

Sanksi Tindak Pidana Psikotropika dan Zat Adiktif


Pengedar,produsen,dan pengguna zat adiktif dan psikotropika akan
mendapatkan sanksi sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.Hukumannya
telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia dan hukum
negara.
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

17

1. UNDANG-UNDANG No.8 TAHUN 1996 TENTANG RATIFIKASI


Convention On Psichotropic Substances 1971 (Konvensi Tentang
Psikotropika 1971)
2. UNDANG-UNDANGUNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 1992
TENTANG KESEHATAN.
3. NO. 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA.
4. PERATURAN MENTERI KESEHATAN No. 124/MENKES/Pen/II/
1993, TANGGAL 8 PEBRUARI 1993 TENTANG OBAT KERAS
TERTENTU.
Pokok-Pokok Sanksi Hukum Narkotika
1. Menggunakan untuk diri sendiri atau terhadap orang lain dikenakan
ancaman pidana mulai dari maksimal 15 tahun minimal 2 tahun dan
denda maksimal 5 milyar minimal 25 juta (pasal 78).
2. Memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan atau
menguasai narkotika golongan II ancaman pidana mulai dari maksimal
12 tahun minimal 5 tahun dan denda maksimal 3 milyar - minimal 100
juta (pasal 79).
3. Memproduksi, Mengolah, Mengekstraksi, Mengkonversi, Merakit Atau
Menyediakan Narkotika Golongan I, Golongan II Dan Golongan III
Dikenakan Ancaman Pidana Mulai Dari Maksimal Pidana Mati
Minimal 4 Tahun Dan Denda Maksimal 7 Milyar Minimal 200 Juta
(Pasal 80).
4. Mengimport, mengeksport, menawarkan untuk dijual, menyalurkan,
menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam
jual beli atau menukar narkotika golongan I, atau golongan II atau
golongan III dikenakan ancaman pidana mulai dari maksimal pidana
mati minimal 4 tahun dan denda maksimal 7 milyar minimal 200 juta
(pasal 82).
5. Menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan
narkotika golongan I, atau golongan II atau golongan III dikenakan
ancaman pidana mulai dari maksimal 20 tahun minimal 5 tahun dan
denda maksimal 750 juta minimal 250 juta (pasal 84).

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

18

6. Menggunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri , atau golongan II


atau golongan III dikenakan ancaman pidana mulai dari maksimal 5
tahun minimal 2 tahun (pasal 85).
F. Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Zat Adiktif dan Psikotropika
Kita semua harus berupaya untuk terhindar dari penyalahgunaan zat
adiktif dan psikotropika. Pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan
psikotropika memerlukan peran bersama antara keluarga, masyarakat, dan
pemerintah.
1. Peran Anggota Keluarga
Setiap anggota keluarga harus saling menjaga agar jangan sampai ada
anggota keluarga yang terlibat dalam penyalahgunaan zat adiktif dan
psikotropika. Kalangan remaja ternyata merupakan kelompok terbesar yang
menyalahgunakan zat-zat tersebut. Oleh karena itu, setiap orang tua
memiliki tanggung jawab membimbing anakanaknya agar menjadi manusia
yang bertaqwa kepada Tuhan. Karena ketaqwaan inilah yang akan menjadi
perisai ampuh untuk membentengi anak dari menyalahgunakan obat-obat
terlarang dan pengaruh buruk yang mungkin datang dari lingkungan di luar
rumah.
2. Peran Anggota Masyarakat
Kita sebagai anggota masyarakat perlu mendorong peningkatan
pengetahuan setiap anggota masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan
obat-obat terlarang. Selain itu, kita sebagai anggota masyarakat perlu
memberi informasi kepada pihak yang berwajib jika ada pemakai dan
pengedar narkoba di lingkungan tempat tinggal.
3. Peran Sekolah
Sekolah

perlu

memberikan

wawasan

yang

cukup

kepada

para siswa tentang bahaya penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika bagi
diri pribadi, keluarga, dan orang lain. Selain itu, sekolah perlu mendorong
setiap siswa untuk melaporkan pada pihak sekolah jika ada pemakai atau
pengedar zat adiktif dan psikotropika di lingkungan sekolah. Sekolah perlu
memberikan sanksi yang mendidik untuk setiap siswa yang terbukti menjadi
pemakai atau pengedar narkoba.
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

19

4. Peran Pemerintah
Pemerintah berperan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika
dan psikotropika dengan cara mengeluarkan aturan hukum yang jelas dan
tegas. Di samping itu, setiap penyalahguna, pengedar, pemasok, pengimpor,
pembuat, dan penyimpan narkoba perlu diberikan sanksi atau hukuman
yang membuat efek jera bagi si pelaku dan mencegah yang lain dari
kesalahan yang sama.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Zat adiktif dan psikotropika itu terdiri dari berbagai jenis dan
golongan.Setiap penggunaan zat adiktif dan psikotropika akan mendapat
dampak bagi kehidupan dan kesehatan.Untuk kesehatan tubuh,penggunaan zat
adiktif dan psikotropika akan merusak beberapa fungsi organ dan
mempengaruhi lancarnya kegiatan system organ.Untuk kehidupan,berdampak
pada sosial dan ekonomi.Sedangkan untuk produsen,pengguna,dan pengedar
zat adiktif dan psikotropika akan mendapat sanksi hukum sesuai dengan hukum
yang berlaku.Untuk di negara kita akan diberi sanksi yang sudah diatur dalam
undang-undang dan peraturan hukum Negara Republik Indonesia.
B. Saran
Berikut beberapa saran yang dapat digunakan untuk menghindari zat
adiktif dan psikotropika antara lain :
1. Hindari para pengguna zat ini supaya kita tidak terpengaruh untuk
menggunakannya.
2. Selalu berpikir positif meskipun dalam keadaan yang genting atau pada saat
mengalami kegagalan dan putus asa.
3. Jangan pernah berpikir bahwa menggunakan zat adiktif dan psikotropika
adalah salah satu jalan keluar dari masalah supaya masalah dapat
terselesaikan,padahal itu merupakan jalan buntu dan akan memberikan
masalah.
4. Gunakan motto hidup yang positif.
5. Berpikir untuk mencapai masa depan yang cemerlang.
Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

20

6. Jalani hidup dengan hal-hal yang positif dan menyenangkan.


7. Selesaikan masalah dengan hati yang tenang dan pikiran yang dingin agar
tidak mengarah pada arah yang negatif.
8. Ikuti seminar atau penyuluhan mengenai zat adiktif dan psikotropika.
9. Terapkan hidup untuk menjauhi zat adiktif dan psikotropika.
10. Gunakan waktu kosong untuk hal-hal positif.

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

21

DAFTAR PUSTAKA

Dian N.F.2008.Rumus Kimia Kantong Kimia SMP.Yogyakarta:Penerbit Pustaka


Widyatama.
Sarwono. Sarlito.2013.Psikologi Remaja. Jakarta:Rajawali Pers.
Susanti, Dini. 2008. Pelajaran IPS-Geografi. Bandung: Yrama Widya.

Exma Wahyuni-Zat Aditif, Adiktif dan Psikotropika

22