Anda di halaman 1dari 12

PSIKOLOGI ABNORMAL

GANGGUAN AFEKTIF

KELOMPOK
Claudia Permata

135120301111055

Ainur Rochmach

135120301111073

Marsyah Rachmatika

135120301111083

Nadia Hanifah

135120307111061

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Kehidupan setiap manusia terkadang tidak selalu berjalan mulus sesuai yang
diinginkan dan direncanakan. Terkadang terdapat berbagai hambatan untuk mencapai
keinginan tersebut. Jika hambatan tersebut tidak bisa dihadapi dan akhirnya gagal mencapai
keinginan ,kebanyakan orang akan merasa sedih, kecewa, dan bahkan mungkin ada yang
mengalami depresi.
Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks peristiwa atau
situasi yang penuh dengan tekanan. Namun orang dengan gangguan mood (mood disorder)
mengalami gangguan mood yang luar biasa parah atau berlangsung lama dan mengganggu
kemampuan mereka dalam menjalani segala aktivitas mereka.
Sejumlah orang mengalami depresi berat bahkan ketika semua hal tampak berjalan lancer,
atau saat mereka menghadapi peristiwa yang sedikit membuat kesal yang dapat diterima
dengan mudah oleh orang lain. Sebagian lainnya mengalami perubahan mood yang ekstrem.
Mereka bagaikan menaiki roller coaster emosional dengan ketinggian yang membuat pusing
dan turunan yang bukan kepalang ketika dunia di sekitar mereka tetap stabil
RUMUSAN MASALAH
a) Apa saja karakteristik dari depresi dan episode manic?
b) Teori apa saja yang digunakan untuk menjelaskan tentang
gangguan afektif?
c) Apa saja penyebab seseorang melakukan bunuh diri?
d) Bagaimana perspektif teoritis tentang bunuh diri?

PEMBAHASAN
Pengertian Gangguan Afektif
Mood adalah kondisi perasaan yang terus ada yang mewarnai kehidupan
psikologis kita. Sedangkan gangguan mood atau mood disorder merupakan
gangguan mood yang luar biasa parah atau berlangsung lama dan mengganggu
kemampuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi tanggung jawab secara
normal.
Ada beberapa tipe gangguan mood, termasuk dua jenis gangguan depresi
yaitu gangguan depresi mayor dan gangguan distimik, serta dua jenis gangguan
perubahan mood yaitu gangguan bipolar dan gangguan siklotimik.
Gangguan depresi dianggap unipolar, karena gangguan ini hanya terjadi
pada satu arah atau kutub emosional-ke bawah. Gangguan yang melibatkan
perubahan mood disebut bipolar, yaitu gangguan yang melibatkan ekses baik
depresi maupun rasa girang, biasanya dalam pola yang saling bergantian.

Gangguan Suasana Perasaan (Gangguan Afektif/Mood)

Kelainan fundamental dari kelompok gangguan ini adalah


perubahan suasana perasaan (mood) atau afek,biasanya kearah
depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau
kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Perubahan afek
ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan
tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder
terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya
dengan perubahan tersebut.
Gangguan afektif dibedakan menurut :
Episode tunggal atau multiple;
Tingkat keparahan gejala;]
- Mania dengan gejala psikotik --> mania tanpa gejala
psikotik --> hipomania
- Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik -->
berat dengan gejala psikotik
Dengan atau tanpa gejala somatic;

Tipe-tipe gangguan mood


Gangguaan gangguan depresi
atau unipolar
1. Gangguan depresi mayor

Terjadinya satu atau lebih periode


atau episode depresi (disebut episode
depresi mayor) tanpa ada riwayat
terjadinya
episode
manic
atau
hipomanik alami. Seseorang dapat
mengalami satu episode depresi
mayor,
yang
diikuti
dengan
kembalinya mereka pada keadaan

2. Gangguan distimik

Gangguan-gangguan
perubahan
mood atau bipolar
1. Gangguan bipolar

2. Gangguan siklotimik

fungsional yang biasa.


Umumnya orang-orang yang pernah
mengalami episode depresi mayor
dapat kambuh lagi diantara periode
normal atau kemungkinan mengalami
hendaya pada fungsi-fungsi tertentu.
Pola depresi ringan (tetapi mungkin
saja menjadi mood yang menyulitkan
pada anak-anak atau remaja) yang
terjadi pada satu rentang waktu, pada
orang
dewasa
biasanya
dalam
beberapa tahun.
Gangguan yang disertai satu atau
lebih episode manic atau hipomanik
(episode mood yang melambung dan
hiperaktivitas, dimana penilaian dan
tingkah laku mengalami hendaya).
Episode manic atau hipomanik sering
digantikan dengan episode depresi
mayor dengan jeda periode mood
yang normal.
Gangguan mood kronis meliputi
beberapa episode hipomanik (episode
yang disertai dengan cirri-ciri manic
pad tingkat keparahan yang lebih
rendah dari pada episode manik) dan
beberapa periode mood tertekan atau
hilangnya minat atau hilangnya
kesenangan pada kegiatan-kegiatan,
tetapi tingkat keparahannya tidak
sampai memenuhi criteria sebagai
episode depresi mayor.

Karakteristik Umum dari Depresi


Ciri
Perubahan pada kondisi emosional

Perubahan dalam motivasi

Keterangan
Perubahan pada mood (periode
terus menerus dari perasaan
terpuruk, depresi, sedih, atau
muram)
Penuh air mata/menangis
Meningkatnya iritabilitas (mudah
tersinggung), kegelisahan atau
kehilangan kesabaran
Perasaan tidak termotivasi atau
memiliki kesulitan untuk memulai
(kegiatan) di pagi hari atau bahkan
sulit bangun dari tempat tidur
Menurunnya tingkat partisipasi

Perubahan dalam fungsi dan perilaku


motorik

Perubahan kognitif

sosial atau minat pada aktivitas


sosial
Kehilangan kenikmatan atau minat
dalam aktivitas menyenangkan
Menurunnya minat pada seks
Gagal untuk berespons pada
pujian
Bergerak atau berbiacara dengan
lebih perlahan dari pada biasanya
Perubahan dalam kebiasaan tidur
(tidur telalu banyak atau terlalu
sedikit, bangun lebih awal dari
biasanyan, dan merasa kesulitan
untuk kembali tidur di pagi buta)
Perubahan dalam selera makan
Perubahan dalam berat badan
Berfungsi secara kurang efektif
dari pada biasanya di tempat kerja
atau sekolah
Kesulitan
berkonsentrasi
atau
berpikir jernih
Berfikir negatif menganai diri
sendiri dan masa depan
Perasaan bersalah atau menyesal
mengenai kesalahan masa lalu
Kurangnya
self
esteem
atau
merasa tidak adekuat
Berpikir akan kematian atau bunuh
diri

Faktor-faktor resiko dalam depresi mayor

Episode Manik
Merupakan suatu periode peningkatan euphoria yang tidak realistis,
sangat gelisah, dan aktivitas yang berlebihan yang ditandai dengan
perilaku yang tidak terorganisasi dan hendaya dalam penilaian. Orang
dengan episode manic tampak memiliki enrgi yang tidak terbatas dan
menjadi sangat suka bergaul meski mungkin pada titik dimana ia menjadi
sangat menuntut dan memaksa orang lain. Orang yang mengalami
sebuah episode atau manic merasa bersemangat dan akan memperolok
orang lain dengan memberikan lelucon yang keterlaluan. Mereka
cenderung memperlihatnkan penilaian yang buruk dan menjadi
argumentative, terkadang bertindak sangat jauh seperti merusak baranbarang.
Episode Manik menurut PPDGJ III- DSM V

Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai


peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental,

dalam berbagai derajat keparahan. Kategori ini hanya untuk satu


episode manic tunggal. Jika ada episode afektif (depresif, manic,
atau hipomanik) sebelumnya atau sesudahnya, termasuk gangguan
afektif bipolar.

Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar merupakan suatu gangguan yang ditandai
dengan perubhan mood antar rasa girang yang eksrem dan depresi yang
parah. Bipolar disebabkan oleh adanya depresi manic. Episode manik
biasanya bertahan beberapa minggu hingga beberaap bulan, umunya
lkebih singkat durasinya dan berakhir tiba-tiba dari pada depresi mayor.
Sejumlah orang dengan gangguan bipolar yang muncul berulang
berusaha untuk bunuh diri. Bunuh diri bagi penderita gangguan bipolar
digunakan sebagai penyelesaian dari depresi.
DSM membedakan dua tipe umum dari gangguan bipolar, yaitu
gangguan bipolar 1 dan gangguan bipolar 2 (APA, 2000). Gangguan
bipolar 1 orang mengalami paling tidak 1 episode manic secara penuh.
Gangguan bipolar 2 diasumsikan dengan suatu bentuk manic yang lebih
ringan. Pada gangguan bipolar 2 seseorang mengalami satu atau lebih
episode-episode depresi mayor dan paling tidak satu episode hipomanik.
Namun orang tersebut tidak pernah mengalami suatu episode manic
secara penuh. Gangguan bipolar biasanya berkembang disekitar usia 20
tahun baik pada pria maupun wanita. Dan hanya sekitar 1 dari 3 orang
dengan gangguan bipolar yang mdapat penanganan (Goelman, 1994 c).
sayangnya, sekitar 1 dari 5 orang tidak mendapat penanganan kemudian
melakukan bunuh diri (Hilts, 1994).
Episode Depresif

Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :


- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan,
- Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan
mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit
saja) dan menurunnya aktivitas.
Gejala lainnya :
- Konsentrasi dan perhatian berkurang
- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh
diri
- Tidur terganggu

- Nafsu makan berkurang


Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut
diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan
diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika
gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
Kategori diagnosis episode ringan, sedang, dan berat hanya
digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode
depresif berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah satu diagnosis
gangguan depresif berulang.

Gangguan Depresif Berulang

Gangguan
-

ini tersifat dengan episode berulang dari:


episode depresi ringan
episode depresi sedang
episode depresi berat

Episode masing-masing rata-rata lamanya selama 6 bulan akan tetapi


frekuensinya lebih jarang dibandingkan dengan gangguan bipolar

Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peninggian afek dan


hiperaktifitas ringan yang memenuhi kriteria mania.
Pemulihan keadaan biasanya sempurna diantara episode. Namun
sebagian kecil pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya
menetap, terutama pada usia lanjut.
Episode masing-masing, dalam berbagai tingkat keparahan,
seringkali dicetuskan oleh peristiwa kehidupan yang penuh stress
atau trauma mental lainnya.

Gangguan Mood (Afektif) Menetap


-

Gangguan Siklotimia
Suatu gangguan mood yang ditandai oleh pola kronis dari
perubahan mood yang ringan yang tidak cukup parah untuk
diklasifikasikan sebagai gangguan bipolar.
Gangguan Distimia
Gangguan depresi mayor merupakan gangguan yang parah
dan ditrandai oleh perubahan yang relative tiba-tiba dari kondisi
seseorang yang sebelumnya. Bentuk yang lebih ringan dari depresi
tampaknya disebabkan oleh suatu perkembangan kronis yang
sering kali bermula pada masa kanak-kanak atau remaja (Klein dkk.,
2000 a, 2000 b). sebelumnya formulasi diagnostic dari tipe
kesedihan yang kronis ini disebut neurosis depresi atau kepribadian

depresi (Brodi, 1995 a). Disebut seperti itu dalam usaha untuk
memperhitungkan sejumlah ciri yang umumnya terkait dengan
neurosis seperti bermula saat awal mula masa kanak-kanak dan
umumnya berada pada tingkat keprahan yang ringan. DSM
menyebut bentuk depresi ini sebagai gangguan dostimik (dysthymic
disorder) atau distimia (dysthimia) yang diambil dari akar bahasa
yunani dys yang berarti buruk atau sulit dan thymos berarti sepirit.
Orang dengan gangguan distik merasakan sepirit yang buruk
atau keterpurukan sepanjang waktu. Namun mereka tidak
mengalami depresi yang sangat parah seperti yang diamlami oleh
orang yang mengalami gangguan depresi mayor. Dalam gangguan
distimik muncul istilah depresi ganda (double depretion) dapat
dikenakan pada mereka yang mengalami episode depresi mayor
yang berlapis dengan gangguan distimik yang bertahan lebih lama
(Keller, Hirschfeld, Hanks, 1997). Bukti-bukti terakhir menunjukkan
bahwa tampaknya hampir semua orang dengan destimia pada
akhirnya akan mengalami depresi ganda (Klein dkk., 2000 a).

Gangguan Afektif Musiman


Perubahan mood yang bervariasi sesuai dengan cuaca (seasonal
afektiv disorder). Ciri-ciri dari SAD mencakup rasa lelah, tidur yang
berlebihan, lapar akan karbohidrat, dan berat badan naik. Hal tersebut
lebih sering mempengaruhi wanita dari pada pria, dan paling umum
terjadi di usia dewasa muda. Meskipun penyebab dari SAD tidak diketahui,
satu kemungkinannya adalah perubahan musiman pada cahaya dapat
merubah ritme biologis yang ada pada tubuh yang mengatur prosesproses tubuh, temperature tubuh, dan siklus tidur-bangun (Lee dkk.,
1998). Kemungkinan lain adalh bahwa beberapa bagian dari sistem saraf
pusat mengalami devisiensi dan transmisi serotonin neurotransmitter
pengatur mood selama bulan-bulan musim dingin (Schwartz dkk., 1997).
Suatu perconbaan dari terapi cahaya yang intens disebut fototerapi sering
membantu dalam mengatasi depresi ini.

Depresi Pascamelahirkan
Ibu-ibu baru mengalami perubahan mood, periode-periode penuh air
mata, dan masa-masa sensitive setelah melahirkan anak. Perubahanperubahan mood ini disebut maternity blus, pospartumblus atau baby
blus (kemurungan setelah melahirkan). Hal ini biasanya berlangsung
selama beberaoa hari dan dianggap sebagai suatu respon yang norml
terhadap perubahan hormonal yang terjadi pada waktu kelahiran bayi.

Namun sejumlah ibu mengalami perubahan mood yang parah dan


persisten selama beberapa bulan, setahun bahkan lebih. ,masalahmasalah dalam mood ini mengacu pada depresi pasca melahirkan
(postpartum depretion/ppd). Postpartum berasal dari bahasa latin post
yang berarti setelah dan papere yang berarti mengeluarkan. PPD sering
kali disertai dengan gangguan dalam selera makan dan tidur, self esteem
yang rendah, serta kesulitan-kesulitan dalam konsentrasi atau perhatian.
Depresi pasca melahirkan dianggap sebagai suatu bentuk depresi
mayor yang onset dari episode depresinya bermula dalam jangka waktu 4
minggu setelah melahirkan (APA, 2000). Peneliti menemukan bahwa
depresi pasca melahirkan biasanya lebih ringan dibandingkan bentukbentuk depresi mayor lainnya dan relative lebih cepat sembuh (Whiffen n
Gotlib, 1993). Namun beberaa kasus bunuh diri terkait dengan depresi
pasca melahirkan (mcQuiston, 1997). Meski PPD melibatkan ketidak
seimbangan kimiawi atau hormonal yang terjadi karena melahirkan
terdapat faktor-faktor lain yang diasosikan dengan peningkatan resiko
yang mencakup stress, ibu tunggal/ pertama kali menjadi ibvu, masalah
keuangan, perkawinan yang bermasalah, isolasi sosial, kurangnya
dukungan poasangan dan dukungan keluarga, riwayat depresi atau
memiliki bayi yang tidak diinginkan, sakita atau memiliki bayi yang sulit
secra tempramen (Forman dkk., 2000; Ritter dkk,. 2000; Swendsen n
Mazure, 2000). Mengalami PPD njuga meningkatkan resiko bagi wanita
tersebut mengalami episode-episode depresi di masa yang akan datang
(Philips n Ohara, 1991).

Penanganan Gangguan Mood


1. Pendekatan Psikodinamika
Psikoanalisis tradisional bertujuan membantu orang yang
depresi untuk memahami perasaan mereka yang ambivalen
terhadap orang-orang (objek) penting dalam hidup mereka yang
telah hilang atau yang terancam akan hilang. Dengan menggali
perasaan-perasaan marah terhadap objek yang hilang ini, mereka
dapat mengarahkan rasa marah keluar-melalui ekspresi verbal dari
perasaan, misalnya- dan bukan membiarkannya menjadi lebih buruk
dan mengarah ke dalam.
Model-model psikoterapi untuk depresi yang lebih baru telah
muncul dari aliran interpersonal atas terapi psikodinamika yang
dasarnya diambil dari hasil penelitian Harry Stack Sullivan dan
penganut neo-Freudian lainnya, seperti Karen Horney. Salah satu
contohnya adalah psikoterapi interpersonal (interpersonal
psychoteraphy/IPT) yaitu suatu bentuk singkat dari terapi

(biasanya tidak lebih dari 9 hingga 12 bulan) yang berfokus pada


hubungan interpersonal klien di saat ini.
2. Pendekatan Behavioral
Pendekatan penanganan behavioral beranggapan bahwa
perilaku depresi dipelajari dan dapat dihilangkan (unlearned).
Terapis perilaku bertujuan untuk secara langsung memodifikasi
perilaku dan bukan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap
kemungkinan penyebab yang tidak disadari dari perilaku-perilaku
ini.
Salah satu program behavioral yang ilustratif telah
dikembangkan oleh Lewinsohn dan kolega-koleganya (Lewinsohn
dkk., 1996). Program ini terdiri dari sebuah program terapi kelompok
dengan 12 sesi selama 8 minggu yang diorganisasikan sebagai
suatu kursus-Coping With Depression (CWD) Course. Kursus ini
membantu klien memperoleh ketrampilan sosial yang
memungkinkan mereka untuk mendapatkan reinforcement sosial.

3. Pendekatan Kognitif
Teoritikus kognitif percaya bahwa pikiran yang terdistorsi
memainkan suatu peran kunci dalam perkembangan depresi. Aaron
Black dan kolega-koleganya telah mengembangkan suatu
pendekatan penanganan yang multikomponen, disebut terapi
kognitif (cognitive terapy), yang berfokus pada membantu orang
dengan depresi belajar untuk menyadari dan mengubah pola
berpikir mereka yang disfungsional. Orang yang depresi cenderung
untuk berfokus pada bagaimana perasaan mereka dan bukan pada
pikiran-pikiran yang mungkin mungkin mendasari kondisi perasaan
mereka. Artinya, mereka biasanya memberikan lebih banyak
perhatian pada bagaimana buruknya perasaan mereka dibanding
pada
pikiran-pikiran
yang
kemungkinan
memicu
atau
mempertahankan mood yang depresi.
Terapi kognitif, seperti terapi perilaku, melibatkan suatu
bentuk terapi yang relative singkat, biasanya 14 hingga 16 sesi
mingguan (Butler & Beck, 1995). Terapis menggunakan suatu
kombinasi dari teknik-teknik behavioral dan kognitif untuk
membantu klien mengidentifikasi dan mengubah pikiran-pikiran
yang disfungsional serta mengembangkan perilaku yang lebih
adaptif.

4. Pendekatan Biologis
Pendekatan-pendekatan biologis yang paling umum untuk
menangani gangguan mood melibatkan penggunaan obat-obatan
antidepresan dan terapi elektrokonvulsif untuk depresi serta litium
karbonat untuk gangguan bipolar.
a. Obat-obatan Antidepresan. Obat-obatan antidepresan yang
digunakan untuk menangani depresi mencakup beberapa kelas
dari antidepresan: tricyclic antidepressants (TCAs), monoamine
oxidase (MAO) inhibitors, dan selective serotonin-reuptake
inhibitors (SSRIs). Semua obat-obatan ini meningkatkan tingkat
(berfungsinya) otak dan, mungkin, fungsi dari neurotransmitter.
b. Penanganan Obat untuk Gangguan Bipolar. Obat litium
karbonat, bentuk bubuk dari litium berelemen metalik, adalah
pengobatan yang paling luas dipakai dan direkomendasikan
untuk gangguan bipolar. Litium efektif dalam menstabilkan mood
orang yang menderita gangguan bipolar dan dalam mengurangi
episode-episode kambuh dari manic dan depresi (Baldessarini &
Tondo, 2000; Grof & Alda, 2000). Namun litium umumnya lebih
efektif dalam menangani simtom-simtom manic daripada depresi
(Sachs dkk., 1994). Akan tetapi penanganan dengan litium
bukanlah sesuatu yang mujarab. Paling tidak 30 % hingga 40%
pasien yang mengalami manic gagal untuk berespon pada obat
ini atau juga tidak dapat menoleransinya (Dubovsky, 2000; Duffy
dkk., 1998).
c. Terapi Elektrokonvulsif lebih umum disebut terpi kejutan
(shock terapy), terus menimbulkan kontroversi. Ide mengalirkan
arus listrik ke otak seseorang mungkin tampak biadab. Namun
ECT adalah suatu penanganan yang secara umum aman dan
efektif bagi penderita depresi berat, serta dapat membantu
menghilangkan depresi pada banyak kasus di mana penanganan
yang lain telah gagal.

Bunuh Diri
Siapa yang Bunuh Diri?
Bunuh diri adalah penyebab kematian utama yang ketiga di antara orangorang dengan usia 15 hingga 24 tahun di Amerika Serikat, setelah
kecelakaan yang tidak disengaja dan pembunuhan. Angka bunuh diri di
antara remaja dan dewasa muda naik hampir tiga kali lipat pada periode
tahun 1952 hingga 1995 (Centers for Dsease Control, 2001c). Namun

angka bunuh diri meningkat seiring peningkatan usia dan paling tinggi
terdapat di antara orang dewasa usia 65 tahun dan lebih, terutama pria
kulit putih yang lanjut usia (USDHHS, 1999a; National Strategy for Suicide
Prevention, 2001; Pearson & Brown, 2000).
Mengapa Orang Melakukan Bunuh Diri?
Tidak semua bunuh diri terkait dengan gangguan psikologis.
Sejumlah orang yang menderita penyakit fisik yang sangat menyakitkan
dan tanpa harapan mencari pelarian dan penderitaan mereka dengan cara
mengakhiri hidup mereka. Bunuh diri semacam ini terkadang disebut
bunuh diri yang rasional dengan keyakinan bahwa hal itu didasarkan
pada keputusan yang rasional bahwa hidup tidak lagi berharga untuk
dijalani dengan adanya penderitaan yang berkepanjangan. Namun,
mungkin banyak dari kasus-kasus ini penilaian dan kemampuan penalaran
orang tersebut bisa saja dipengaruhi oleh suatu gangguan psikologis yang
mendasar dan potensial yang dapat ditangani, seperti depresi. Bunuh diri
yang lain dimotivasi oleh keyakinan agama atau politik yang tertanam
kuat, seperti dalam kasus orang yang mengorbankan dirinya sendiri pada
suatu aksi protes melawan pemerintahannya.
Percobaan bunuh diri sering kali terjadi dalam upaya merespons
terhadap peristiwa hidup yang penuh tekanan, terutama kejadian keluar
seperti kematian pasangan, teman dekat, atau kerabat; perceraian atau
perpisahan; seorang anggota keluarga meninggalkan rumah; atau
kehilangan teman dekat. Orang yang mempertimbangkan bunuh diri pada
saat stress kemungkinan kurang memiliki keterampilan memecahkan
masalah dan kurang dapat menemukan cara-cara alternative untuk
coping dengan stresor yang mereka hadapi.