LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA
UNIT: II
PENGENALAN KOMPONEN ELEKTRONIS
Nama
: Muhammad Romi R. T.
Nomor Mahasiswa
: 15/378855/TK/42797
Hari Praktikum
: Selasa
Tanggal Praktikum
: 1 Maret 2016
Kelompok
: 9
LABORATORIUM ELEKTRONIKA DASAR
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNOLOGI INFORMASI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
a. Pendahuluan
1. Tujuan
Memahami cara penggunaan alat ukur elektronis.
Mengetahui cara mengukur transformator dengan multimeter.
Menguji arus AC dan DC pada sebuah resistor yang disusun dengan
menggunakan multimeter.
Mengetahui fungsi dan cara kerja osiliskop.
Memahami output dari alat AFG dengan menggunakan osiloskop.
Memahami alat VPG dan mengukurnya dengan osiloskop.
Menguji penyearah setengah gelombang dengan menggunakan diode dengan
parameter kapasitor, lalu diamati dengan menggunakan osiloskop.
2. Dasar Teori
Alat elektronis merupakan alat yang terdiri dari beberapa komponen yang dapat
membentuk suatu rangkaian elektronika. Dengan adanya rangkaian elektronika, maka banyak
pekerjaan manusia yang dilakukan secara manual bias tergantikan dengan yang lebih efektif
dan efisien. Untuk mengetahui kegunaan dan cara kerja dari setiap komponen elektronis,
awalnya harus mengenal dan mencermati beberapa komponennya.
Dalam prakiktum kali ini kita menggunakan beragam alat elektronik. Alat-alat
tersebut berupa multimeter, osiloskop, AFG atau Audio Frequency Detector dan VPG atau
Variable Phase Generator.
Multimeter adalah alat ukur yang dipakai untuk mengukur tegangan listrik, arus
listrik, dan tahanan (resistansi). Pengertian itu adalah pengertian multimeter secara umum,
sedangkan pada perkembangannya multimeter masih bisa digunakan untuk beberapa fungsi
seperti mengukur temperatur, induktansi, frekuensi, dan sebagainya. Ada juga yang menyebut
multimeter dengan sebutan AVO meter, yang maksudnya adalah A (ampere), V(volt), dan
O(ohm). Multimeter terdapat 2 jenis yaitu multimeter analog dan multimeter digital. Dalam
praktikum kali ini, multimeter yang digunakan adalah keduanya.
Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk sinyal
listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode.
Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar katode.
Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop
menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini
menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari. Osiloskop biasanya digunakan
untuk mengamati bentuk gelombang yang tepat dari sinyal listrik. Selain amplitudo sinyal,
osiloskop dapat menunjukkan distorsi, waktu antara dua peristiwa (seperti lebar pulsa,
periode, atau waktu naik) dan waktu relatif dari dua sinyal terkait.
Audio Frequency Generator atau sering di kenal dengan AFG adalah suatu
alat elektronika yang digunakan untuk membangkitkan signal dengan range frequency
audio. Audio Frequency Generator (AFG) di pasaran ada banyak varian, dari yang analog
sampai yang digital. Bahkan yang rakitan juga ada, pada prinsipnya AFG adalah frequency
generator dengan range audio. AFG juga bisa membangkitkan gelombang atau sinyal audio
dengan range frekuensi dari 20 Hz hingga 20 KHz sesuai range frekuensi audio.
VPG (Variable Phase Generator) adalah membuat atau menyediakan 2 gelombang
sinusoidal sekaligus yang beda fase, fase, amplitudo, maupun frekuensinya dapat diubah-ubah.
Contohnya 2 gelombang sinusoidal dalam hal ini, parameter beda fasenya adalah 30 o, 90o,
ataupun 160o. Setelah itu dapat dibuktikan dengan menghubungkan dengan osiloskop agar
memunculkan gambar lissajous. Gambar / Diagram Lissajous adalah sebuah penampakan
pada layar osiloskop yang mencitrakan atau menunjukkan perbedaan atau perbandingan beda
fase, frekuensi & amplitudo dari 2 gelombang inputan pada probe osiloskop.
Multimeter Analog
VPG
Osiloskop
AFG
b. Alat dan Bahan Praktikum
1. Multimeter analog
2. Trafo step down
3. Resistor (2 buah 100 20W, 6 buah 10k)
4. Resistor
5. Papan EEC 474
6. Papan EEC 470
7. Papan PS 445
8. Osiloskop
9. AFG
3
10.
11.
12.
13.
Frekuensi counter
VPG
Diode
Kapasitor 100F
c. Analisa Gambar Rangkaian
Pengujian arus AC dan DC
Dalam modul terdapat gambar rangkaian yang dirangkai seperti gambar diatas.
Dengan resistor yang bernilai 100 , 2 resistor disusun secara seri dengan tujuan menghitung
arus bebannya. Maka kita dapat menghitung Rseri sehingga Rseri = 100 + 100 = 200 .
Sumber tegangan berasal dari tegangan AC yang bernilai 15 Volt arus AC. Disini kita diminta
untuk mengukur menggunakan multimeter dan dilihat arusnya.
Pengujian arus dan tegangan DC pada rangkaian seri
R1
R3
R2
D
R6
R5
R4
Terdapat 6 hambatan/ resistor yang sudah dipasang secara seri. Dengan tegangan input
adalah 0 dan 15 Volt yang sudah dipasangkan dengan sumber tegangan. Disini kita diminta
untuk mengukur V pada titik-titik tertentu dan mengukur Arusnya pada titik-titik tertentu.
Untuk mengukur arus yang mengalir pada rangkaian dengan cara memasangkan multimeter
secara seri dengan pengaturan untuk ampere meter pada multimeternya. Sedangkan, untuk
mengukur tegangan. Multimeter disusun secara paralel dengan pengaturan voltmeter pada
multimeternya.
Rangkaian ini merupakan rangkaian seri maka arus yang mengalir seharusnya sama.
Sedangkan tegangan yang melewati resistor bernilai berbeda.
Pengujian arus dan tegangan DC pada rangkaian paralel
R1
R4
R2
R3
R6
R5
Terdapat 6 hambatan/ resistor yang sudah dipasangseperti gambar. Dengan tegangan
input adalah 0 dan 15 Volt yang sudah dipasangkan dengan sumber tegangan. Sama seperti
rangkaian yang seri, disini kita diminta untuk mengukur voltase dan arus pada titik-titik
tertentu. Hanya berbedanya disini terdapat 2 resistor yang dipasang pararel. Untuk
menghitung hambatan total kedua resistor yang diparalel maka menggunakan rumus
1/Rparalel = 1/R4 + 1/R5.
d. Hasil Pengujian
A. Alat ukur multimeter
1. Pengujian tegangan AC
Tegangan primer
0 Volt dengan 110 Volt = 109 V
0 Volt dengan 220 Volt = 220 V
110 Volt dengan 220 Volt = 111 V
Tegangan sekunder. Disini kelompok saya menggunakan trafo CT, 12, 18, 25, 32.
CT dengan 12 Volt = 12,63 V
CT dengan 18 Volt = 18,37 V
CT dengan 25 Volt = 25,8 V
CT dengan 32 Volt = 32,6 V
12 Volt dengan 12 Volt = 25,5 V
18 Volt dengan 18 Volt = 36,2 V
25 Volt dengan 25 Volt = 50,8 V
18 Volt dengan 18 Volt = 64,8 V
2. Pengujian Tegangan AC dan DC
Tegangan AC
Pengujian Tegangan DC
Tertulis
Terukur
0 dengan 5
0 dengan 10
0 dengan 15
0 dengan 20
0 dengan 25
5,07 Volt
10,37 Volt
13,52 Volt
23,5 Volt
26,3 Volt
Tegangan Variabel
Strip ke 1 (0)
Strip ke 3
Strip ke 5
Strip ke 7
Strip ke 9
Tegangan dua kutup
1,27 Volt
4,99 Volt
8,67 Volt
12,6 Volt
16,17 Volt
0 - (+15)
0 - (-15)
(-15) - (+15)
15,1 Volt
-15.1 Volt
30.2 Volt
Tegangan satu
kutup
0 - 5 5,05 Volt
3. Pengujian arus AC dan arus DC
Resistor dirangkai secara seri. 100 dan 100, tegangannya 15 Volt AC
AC
R 100 + 100 = 200
Arus beban = 89,1 mA
R 100
Arus beban = 172,8 mA
R 100 // R 100 = 50
Arus beban = 338 mA
DC
R 100 + 100 = 200
Arus beban = 72,9 mA
R 100
Arus beban = 144,2 mA
R 100 // R 100 = 50
Arus beban 285 mA
5
4. Pengujian arus dan tegangan DC pada rangkaian
a. Rangkaian seri
R1 = 10 k, R2 = 220 , R3 = 100 , R4 = 10 k, R5 = 1 k, R6 = 10 k
V1
4,6 V
V2
46,9 mV
V3
4,75 V
mA 1
0.69 mA
mA 2
0.69 mA
mA 3
0.69 mA
b. Rangkaian paralel
R1 = 10 k, R2 = 220 , R3 = 100 , R4 = 1 k, R5 = 10 k, R6 = 10 k
V1
7.04 V
V2
0.697 V
V3
0.76 V
mA 1
1.3 mA
mA 2
1.18 mA
mA 3
0.12 mA
B. Alat ukur osiloskop
1. Pengujian Tegangan AC
Tegangan sekunder. Disini kelompok saya menggunakan trafo CT, 12, 18, 25, 32.
CT dengan 18 Volt
CT dengan 25 Volt
CT dengan 32 Volt
18 Volt dengan 18 Volt
25 Volt dengan 25 Volt
= 20 Vpp
= 27.5 Vpp
= 32.5 Vpp
= 40 Vpp
= 45Vpp
2. Pengujian Tegangan DC
Tegangan yang diuji
Pada strip ke- 3
= 1.5 V
Pada strip ke- 5
=2V
Pada strip ke- 7
= 2.5 V
3. Pengujian gelombang isyarat
Mengeset pada posisi AFG
a. Dengan gelombang sinusoidal 3 Vpp
b. Dengan gelombang segitiga 3 Vpp
c. Dengan gelombang kotak 3 Vpp
4. Pengujian Frekuensi counter
Frekuensi AFG
Terbaca
700 Hz
700 Hz
1500 Hz
1500 Hz
3000 Hz
3000 Hz
5000 Hz
5000 Hz
7000 Hz
7000 Hz
5. Pengujian beda fase gelombang isyarat
Gambar Gelombang
Posisi geser 30o
Posisi geser 90o
Posisi geser code like 160o
Gambar Beda Fase
e. Analisa Hasil Pengujian
A. Alat ukur multimeter
1. Pengujian tegangan AC
Obyek yang diukur dalam praktikum kali ini adalah trafo step down, dimana
trafo ini mempunyai tegangan primer dan tegangan sekunder. Pada kesempatan ini,
7
akan mengukur tegangan yang ada diantara 2 titik tegangan primer dan 2 titik di
tegangan sekunder. Trafo tersusun dari gulungan kawat primer dan sekunder yang
dililitkan pada inti besi. Trafo bisa bekerja hanya dengan tegangan AC. Trafo step
down ini bertujuan untuk menurunkan tegangan.
Pada tegangan sekunder, terdapat titik CT. Titik CT dalam trafo artinya adalah
center tap. Titik center tap adalah titik tengah lilitan sekunder pada trafo yang
dihubungkan keluar lilitan dan bersifat sebagai sebagai ground. Maka dari itu, titik CT
ada di tegangan sekunder.
Tegangan primer
0 Volt dengan 110 Volt
110 0 = 110 Volt
Terukur : 109 Volt
0 Volt dengan 220 Volt
220 0 = 220 Volt
Terukur : 220 Volt
110 Volt dengan 220 Volt
220 110 = 110 Volt
Terukur : 111 Volt
Tegangan sekunder
CT dengan 12 Volt
12 + 0 = 12 Volt
Terukur : 12,63 Volt
CT dengan 18 Volt
18 + 0 = 18 Volt
Terukur : 18.37 Volt
CT dengan 25 Volt
25 + 0 = 25 Volt
Terukur : 25.8 Volt
CT dengan 32 Volt
32 + 0 = 32 Volt
Terukur : 32.6 Volt
12 Volt dengan 12 Volt
12 + 12 = 12 Volt
Terukur : 25.5 Volt
18 Volt dengan 18 Volt
18 + 18 = 36 Volt
Terukur : 36.2 Volt
25 Volt dengan 25 Volt
25 + 25 = 50 Volt
Terukur : 50.8 Volt
32 Volt dengan 32 Volt
32 + 32 = 64 Volt
Terukur : 64.8 Volt
Untuk menghitung yang primer maka tegangan yang besar dikurangi yang kecil maka itulah
tegangannya. Untuk sekunder maka yang besar ditambah yang kecil dan CT sama dengan 0 maka
itulah tegangannya. Dari hasil di atas, terbukti bahwa trafo step down akan menurunkan tegangan.
Tegangan yang ada pada tegangan sekunder lebih kecil dari tegangan primer.
2. Pengujian tegangan AC dan DC
Pada prakttikum ini, PS 445 menjadi papan sumber tegangan baik AC maupun DC yang
akan diuji. Pada papan PS 445, sudah terdapat perbedaan sumber tegangan AC maupun DC.
Tegangan AC
0 dengan 5 Volt
5 0 = 5 Volt
Terukur : 5 Volt
0 dengan 10 Volt
10 0 = 10 Volt
Terukur : 11.9 Volt
0 dengan 20 Volt
8
20 0 = 20 Volt
Terukur : 20 Volt
0 dengan 25
25 0 = 25 Volt
Terukur : 26 Volt
Tegangan DC
Untuk mengatur tegangan DC yang sesuai dengan tegangan yang dilakukan
pengesetan lewat memutar tegangan strip yang akan diuji.
Strip ke-1
: 0 Volt
Terukur : 1.27 Volt
Strip ke- 3
: 4 Volt
Terukur : 4.99 Volt
Strip ke- 5
: 8 Volt
Terukur
: 8.67 Volt
Strip ke- 7
: 12 Volt
Terukur
: 12.6 Volt
Strip ke- 9
: 16 Volt
Terukur
: 16.17 Volt
Tegangan DC juga bisa diatur lewat kutup.
Lewat dua kutup :
0 dengan +15 Volt :
15 0 = 15 Volt
Terukur = 15.1 Volt
0 dengan -15 Volt :
-15 0 = -15 Volt
Terukur = -15.1 Volt
-15 dengan +15 Volt :
+15 (-15) = 30 Volt.
Terukur = 30,2 Volt.
Lewat satu kutup :
0 dengan 5 Volt :
50=5
Terukur = 5.05 Volt
Dari praktikum dan percobaan di atas, papan PS 445 ini dapat menghasilkan sumber
tegangan seperti pada tulisannya dan terbukti jika papan ini layak digunakan. Papan PS 445 bisa
menyedakan sumber tegangan baik AC maupun DC, sehingga bisa digunakan untuk keperluan
praktikum berikutnya.
3. Pengujian Arus AC dan Arus DC
Terdapat resistor 100 yang telah disusun secara seri maupun paralel. Rseri
menunjukkan nilai 200 . Sedangkan untuk Rparalel menunjukkan nilai 50 . Tegangan sumber
yang digunakan adalah 20 Volt. Rumus untuk mencari arus adalah:
I=
Pada rangkaian seri, dengan Rseri = 200 . V = 20 Volt
V
R
I=
V
R
20
200
= 0.1 A = 100 mA
Pada arus beban AC, terukur 89.1 mA. Sedangkan, pada arus beban DC, terukur 72.9
mA. Ini berarti terdapat kesalahan pada praktikum sehingga nilai tidak sesuai dengan sebagaimana
mestinya.
I=
Pada digunakan hanya satu resistor R = 100 . V = 20 Volt
V
R
20
100
= 0.2 A = 200 mA
Pada arus beban AC, terukur 172,8 mA. Sedangkan, pada arus beban DC, terukur
144,2 mA. Disini juga terdapat kesalahan dan berbeda dengan sebagaimana mestinya.
I=
Pada rangkaian paralel, Rparalel = 50 . V = 20 Volt
V
R
20
50
= 0.4 A = 400 mA
Pada arus beban AC, terukur 338 mA. Sedangkan, pada arus beban DC, terukur 285
mA.
4. Pengujian Arus dan Tegangan DC pada rangkaian
Pada rangkaian seri, Rseri dijumlahkan semuanya maka akan berjumlah 31320 .
Pada rangkaian seri akan mengalir arus yang sama di setiap titiknya. Oleh karena itu, hasil dari mA1
= mA2 = mA3.
I=
V
R
15
31320
= 0.479 mA.
Terukur = 0.69 mA terdapat perbedaan sebesar 0.12 mA.
Untuk tegangannya, tegangan pada V1 menunjukkan untuk arus yang mengalir yaitu
sebesar V = I.R = 0.48 x 10 = 4.8 Volt
dan pada multimeter didapatkan 4.6 V. Untuk V2,
menggunakan rumus yang sama maka V2 = 48 mV dan pada mengukurna didapatkan 46.9 mV . Lalu
pada V3, V3 = I. R = 0.48 x 10100 = 4.84 Volt. Sedangkan yang terukur adalah 4.75 Volt.
Untuk rangkaian selanjutnya terdapat R4 dan R5 yang saling berparalel maka Rparalel
= 909 Arus yang mengalir pada setiap titik berbeda pada resistor yang di parallel ini. Maka untuk
mA1 mA2. Dan untuk Rtotal adalah Rparalel + Rseri.
Untuk mA1
I=
V
R
15
21230 = 0.71 mA.
Pada rangkaian parallel ini, arus akan dibagi. Jadinya mA1 = mA2 + mA3. Untuk menghitung
ini bisa menggunakan rumus
I=
V
R
dengan V disini bisa dihitung dengan menggunakan
mA1/Rparalel. Atau bisa juga menggunakan perbandingan hambatan yang akan terlihat seperti :
mA 2=
R5
. mA 1
R 4+ R 5
Maka dengan menggunakan rumus mA3 = 0.064 dan mA2 = 0.6035
Untuk tegangan
yang mengalir pada V1, V2, dan V3 bervariasi. Pada V1 melibatkan R1 dan R2. Sehingga nilai
resistansi untuk mencari V1 adalah 10 k + 220 = 10220 . Maka untuk mencari V = 0.71 x
10220 = 7.26V dan pada multimeter didapatkan 7.042 V. Untuk V2 digunakan Rparalel yang bernilai
909 maka V2 = 0.71 x 909 = 0.645 V dan pada multimeter 0.697 V. untuk V3 menghitung R3 +
Rparalel = 1009 . Maka V3 = 0.71 x 1009 = 0.716V dan pada multimeter didapatkan 0.76 V. Maka
dengan sedikit toleransi percobaan ini terbukti benar.
B. Alat ukur osiloskop
1. Pengujian tegangan AC
Hasil dari pengukuran trafo step down pada tegangan sekundernya menghasilkan
gelombang sinusoidal. Gambarnya dapat dilihat pada hasil pengujian. Gelombang sinusoidal ini
menunjukkan identitas tegangan AC. Hal ini bisa membuktikan bahwa trafo step down bisa bekerja
pada tegangan AC.
Untuk hasil pengujian, caranya adalah menghitung kotak kotak yang ada di layar
osiloskop dengan 1 kotak mempunyai skala tertentu yang dapat diatur secara khusus. Kotak yang
dihitung adalah dari puncak gelombang sampai dengan lembah gelombang.
Disini kita siruruh membaca berapa Vpp dari gambar osiloskop dan ini yang kami
dapatkan:
CT dengan 18 Volt
CT dengan 25 Volt
CT dengan 32 Volt
18 Volt dengan 18 Volt
25 Volt dengan 25 Volt
2. Pengujian tegangan DC
= 20 Vpp
= 27.5 Vpp
= 32.5 Vpp
= 40 Vpp
= 45Vpp
Pada praktikum kali ini, menguji tegangan DC. Hasil dari tegangan DC dapat
dilihat pada hasil pengujian. Dalam percobaan ini, osiloskop menghasilkan gambar seperti
berikut:
Tegangan yang diuji
Pada strip ke- 3 = 1.5 V
Pada strip ke- 5 = 2 V
Pada strip ke- 7 = 2.5 V
3. Pengujian gelombang isyarat
Percobaan kali ini AFG di atur sehingga mengoutputkan 1000 Hz dan 3 Vpp. Lalu
kita akan mengamati pada osiloskop output dari ini. Disini diminta untuk mengoutputkan 3
kali yaitu 3 macam gelombang. Gelombang sinusoidal, segitiga, dan kotak.
Maka hasil pada osiloskop akan bergantung jenis gelombang. Tetapi fase dan
amplitude tetap sama dan jika dibandingkan akan sejajar. Pada gelombang sinusoidal maka
pada osiloskop akan terlihat seperti gelombang sinusoidal. Begitu pula dengan segitiga dan
gelombang kotak.
4. Pengujian frekuensi counter
Frequency Counter adalah alat elektronis yang berfungsi untuk menghitung besar
frekuensi suatu gelombang. AFG adalah alat elektronis yang dapat membangkitkan
gelombang atau sinyal audio dengan range frekuensi dari 20 Hz hingga 20 KHz sesuai
keinginan. Pada percobaan ini, nilai frekuensi yang ditunjukkan pada AFG sama dengan
hasil pengukuran nilai frekuensi menggunakan frequency counter. Maka dari itu, kedua alat
elektronis tersebut bisa dikatakan baik.
5. Pengujian beda fase gelombang isyarat
VPG adalah alat elektronis yang membuat atau menyediakan 2 gelombang sinusoidal
sekaligus yang beda fase, amplitudo, maupun frekuensinya dapat diubah-ubah. Osiloskop
akan memproyeksikan hasil gelombang dengan beda fasenya yang telah diatur pada VPG
dan lissajous yang dihasilkan. Disini frekuensi VPG akan diatur menjadi 900 Hz. Lalu fase
VPG akan diubah-ubah dari 300, 900, dan juga 1600. Grafik dapat kita lihat pada osiloskop.
Hasil sudah digambarkan diatas maupun dilampiran. Bentuk dari lissajous ini berbeda beda
dan terjadi karena ini disebabkan oleh perbedaan fase.
f.
Kesimpulan
1. Alat ukur elektronis harus dipahami cara pemakaiannya karena ini untuk
memudahkan menghitung komponen elektrik. Contoh dari alat ukur elektronis ini
adalah multimeter dan osiloskop. Selain itu, terdapat frekuensi counter yang
digunakan untuk mendukung pengukuran frekuensi.
2. Trafo step down bekerja hanya di tegangan AC, trafo ini berfungsi untuk menurunkan
tegangan. Tegangan AC dihitung dengan multimeter.
3. Tegangan AC menghasilkan gelombang sinusoidal dan dapat dibuktikan pada
osiloskop. Sedangkan tegangan DC menghasilkan garis lurus konstan.
4. Jenis gelombang isyarat adalah gelombang sinusoidal, gelombang segitiga, dan
gelombang kotak.
5. AFG adalah alat yang dapat membangkitkan signal dengan range frequency audio
6. VPG digunakan untuk mengatur 2 gelombang sinusoidal dengan amplitude, frekuensi,
dan beda fase yang berbeda.
g. Lampiran
Pertanyaan jawaban
1. Perbedaan antara multimeter dan osiloskop
Osiloskop dapat memetakan sinyal listrik dan dapat menampilkan amplitude yang
merupakan tegangan dari AC dan juga frekuensinya.
Multimeter dapat megukur arus, tegangan, hambatan tetapi bukan sinyal melainkan
hanya angka pasnya saja.
2. Beberapa alat ukur elektronis dan kegunaannya :
Multimeter : alat ukur yang dipakai untuk mengukur tegangan listrik, arus listrik, dan
tahanan (resistansi).
Osiloskop : memproyeksikan gelombang pada suatu sinyal listrik ke layar monitor
dan dapat dilihat amplitude dan juga frekuensinya.
Frequency Counter : Menghitung besar frekuensi suatu gelombang.
3. Rangkaian penyearah gelombang penuh :
Untuk membuat penyearah gelombang penuh dengan 4 diode menggunakan
transformator non-CT seperti terlihat pada gambar berikut :
Penyearah gelombang dengan 2 diode menggunakan tranformator dengan CT
(Center Tap)
4. Lambang alat ukur elektronis :
h. Daftar pustaka
Ambang
Ramadhan,
Lissajous,
Maret
2016,
ramadhan.blogspot.co.id/2014/08/pengertian-lissojous-diagram-lissojous.html
Penghitung
frekuensi,
7
Maret
2016,
http://ambanghttp://elektro-
kontrol.blogspot.co.id/2011/06/penghitung-frekuensi-frequency-counter.html
Ensiklopedi Nasional Indonesia. 2004. Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 9799327-00-8. Hal.321.