Anda di halaman 1dari 21

3.1.4.

Aliran Fluida Berdasar Pipa Horizontal

Masalah utama aliran fluida di dalam pipa horizontal adalah penentuan


penurunan tekanan sepanjang aliran dan selain itu juga penentuan diamter pipa
yang diperlukan. Untuk perkiraan penurunan tekanan, banyak korelasi yang telah
dibuat, tetapi dari sekian banyak korelasi, yang tergolong paling baik adalah:
1. Dukler
2. Eaton
3. Beggs dan Brill
Ketiga korelasi tersebut dapat memberikan hasil yang baik untuk perkiraan
penurunan tekanan, oleh karena korelasi tersebut mempunyai range pemakaian
yang luas, dalam arti tidak dibatasi oleh diameter pipa, GOR, dan viskositas
cairan. Oleh karenanya dalam bab ini hanya akan dibahas ketiga korelasi terbaik
diatas.
Dalam aliran horizontal, pola aliran dikelompokkan menjadi delapan
kelompok, yang urutannya bergantung dari tingkat kecepatan aliran gas.

Gambar 3.22. Pola Aliran Horizontal

Urutan-urutan jenis pola aliran horizontal mulai dari kecepatan gas yang rendah
ke tingkat yang lebih tinggi, seperti juga pada gambar diatas adalah sebagai
berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Bubble flow
Plug flow
Stratified flow
Wavy flow
Slug flow
Semi-annular flow
Annular flow
Spray/mist flow

3.1.4.1. Korelasi Dukler


Study yang dilakukan oleh Dukler terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. Dengan anggapan tidak terjadi slip antar fasa dan dianggap aliran
homogen.
2. Dengan anggapan terjadi slip, tetapi perbandingan kecepatan antara
masing-masing fasa terdapat kecepatan rata-rata konstan.
Kedua bagian tersebut akan dibahas dalam bab ini. Secara garis besar perhitungan
yang akan dilakukan pertama adalah penentuan sifat fisik dari pada fluida yang
mengalir pada kondisi aliran, kemudian Reynold Number dua fasa dan akhirnya
penentuan kehilangan tekanan.
3.1.4.1.1.
Korelasi Dukler Bagian I
Anggapan pada bagian I ini adalh tidak terjadi slip dan merupakan aliran
homogen dan aliran steady-state. Konsep daripada korelasi Dukler-I adalah bahwa
Hold-up didefinisikan sebagai perbandingan antara laju aliran cairan volumetris
atau perbandingan antara kecepatan superficial cairan terhadap kecepatan
superficial total. Hal ini merupakan suatu metoda yang sederhana untuk
digunakan dan tidak memerlukan perhitungan pola aliran.
Pada gambar (3.23), dicantumkan diagram aliran mengenai prosedur
perhitungan kehilangan tekanan dengan korelasi Dukler-I. Perhitungan dengan
menganggap harga P untuk suatu jarak x memerlukan cara trial & error ini dapat
tidak perlu dilakukan dengan menentukan P dan menghitung x, sampai x =
panjang daripada pipa.

Persamaan-persamaan dari korelasi Dukler-I adalah sebagai berikut:


0,125
ftp = 0,0014 + ( N ) 0,32 .............................................................. (3-86)
tp

(NRe)tp =

.......................................................................... (3-87)

L + g ( 1 ) .................................................................... (3-88)

TP =
=

4 wt
d tp

qL
q L +q g

.................................................................................. (3-89)

dan x tertentu, anggap P dan hitung

Hitung , Bo, Rs, qL, qg, oL,og, wt, Mt, L, g, A pada dan

Hitung , dan tp

Hitung (NRe)tp, f

Hitung (dp/dx)acc

Hitung (dp/dx)t dan P

Apabila (P)c (P)ac ulangi prosedur

Gambar 3.23. Diagram Aliran Perhitungan Kehilangan Tekanan dengan metoda


Dukler-Bagian I
dp
dx

( )
( dpdx )

2 M t2 f TP
gc TP d

.................................................................. (3-90)

( dpdx )

( dpdx )

acc

................................................... (3-91)

dp
dx

( )
dimana: a =

( dpdx )

1a

....................................................................... (3-92)

16 w t w g P
g c d 4 P1 P2 g

.................................................................. (3-93)

3.1.4.1.2.
Prosedur perhitungan Dukler-I
1. Anggap down-stream pressure (P2), untuk suatu jarak x. Hitung tekanan
rata-rata antara P1 dan P2.

2. Tentukan harga Rs , B o , dan Z

pada tekanan rata-rata.

3. Hitung laju aliran volumetris daripada cairan dan gas dalam cuft/sec.
q L B o 5,615
q L =
86400
q g =

q L ( GORR S ) P sc T
86400 P T sc

4. Hitung , dengan menggunakan persamaan (3-89)


5. Hitung density cairan dan density gas.
L ( 62,4 )+ ( 0,0764 ) ( g ) Rs /5,61
L =
Bo
g

= g (0,0764)

P
)( 1Z )
( 520T )( 14,7

6. Hitung laju aliran massa cairan dan gas:


w = L q L + g q g
t

7. Hitung total mass flux


wt
Mt = A p
8. Hitung density dua fasa (campuran homogen)
1
tp = L + g )
9. Hitung viskositas dua fasa
tp = L + g ( 1 )
10. Hitung (NRe)tp:
(NRe)tp =
d

1488 wt
/ 4 d tp

= dalam feet

tp = dalam cp
11. Hitung faktor gesekan dua fasa:
0,125
ftp = 0,0014 + ( N ) 0,32
tp

( dpdx ) :
( dpdx ) = 2gf Md

12. Hitung

tp

tp

13. Hitung harga a dengan persamaan (3-93)


dp
14. Hitung dx t ,

( )

dp
dx

( )

( dpdx )

1a

15. Hitung penurunan tekanan total:


P = x (dp/dx)t
16. Apabila digunakan cara penambahan tekanan, tentukan x, sesuai dengan p
yang dianggap. Lanjutkan prosedur diatas sampai x = panjang total pipa.
Harga p dapat diambil (yang dianggap) antara 10 sampai 25 psi.
3.1.4.1.3.
Korelasi Dukler Bagian II
Korelasi Dukler bagian II, disebut juga metoda slip konstan, merupakan metoda
paling banyak digunakan pada saat ini, dalam range yang luas. Pada metoda ini,
meskipun dengan anggapan terjadi slip, tetapiharga no-slip hold-up tetap dihitung.
Harga no-slip hold -up ini digunakan untuk menentukan harga faktor gesekan dan
hold up sebenarnya dengan menggunakan grafik pada gambar 3.22. dan 3.25.

Gambar 3.24. Korelasi Liquid Hold-Up dari Dukler

Gambar 3.25. Grafik Faktor Gesekan yang Dinormalisasi


3.1.4.1.4.
Prosedur perhitungan Dukler-II
1. Anggap downstream pressure tertentu (P2) dan hitung tekanan rata-rata
, sebagai berikut:
P1 + P2

P
=
2
2. Hitung harga Rs, Bo, dan Z.

3. Tentukan laju aliran volumetris untuk cairan dan gas, dalam cuft/sec.
q L B o 5,615
q L =
86400
q g =
4. Hitung :
=

q L ( GORR S ) P sc T
86400 P T sc

q L
q L + q g

5. Hitung density cairan dan density gas.


L ( 62,4 )+ g ( 0,0764 ) R s / 5,61
L =
Bo
g

= g (0,0764)

P
P sc

T sc
T

( )( )( )
1
Z

6. Hitung kecepatan campuran,


( q L + q L ) (144)
vm =

d
4

Dimana: d = inch
7. Hitung viskositas campuran dua fasa:
tp = L + g ( 1 )
8. Perkirakan harga Hold-up; HL.
9. Hitung density dua fasa:
( 1 )2
2
tp = L H
+ g ( 1H )
L
L

( )

10. Hitung Bilangan Reynold dua fasa:


d v m tp
(NRe)tp =
tp
11. Berdasarkan harga dan (NRe)tp, tentukan harga HL sebenarnya dengan grafik
gambar 3.24.
12. Bandingkan HL dari langkah 11 dengan HL dari langkah 8, apabila
perbedaannya di dalam range 5%, gunakan HL dari langkah 11. Apabila tidak
terletak dalam range 5% tersebut, ulangi lagkah 8 sampai perbedaan range
5% terpenuhi.
13. Tentukan ftp/fo dari grafk gambar 3.25
14. Hitung fo,

fo = 0,0014 +
15. Hitung ftp,
ftp =

f tp
fo

0,125
0,32
( N )tp

fo = step (13) step (14)

16. Hitung kehilangan tekanan akibat gesekan.


2
2 f tp L v m tp
Pf =
12 g c d
Dimana:

L
vm
tp
d
Harga ini dapat

= feet
= ft/sec
= lb/cuft
= in
diubah untuk menghitung P/L atau diguakan untuk L

terhadap P tertentu. Apabila upstream pressure, P1 diketahui, harga P2 dapat


dianggap dan harga L dapat ditentukan langsung L = panjang pipa.
17. Penurunan tekanan sebagai akibat percepatan dapat diabaikan, tetapi Baker
memberikan persamaan untuk menentukan (P)acc sebagai berikut:
Pacc =

[(

1
144 g c A2

g qg 2
L q L 2
+
( 1H L ) ( 1H L )

g q g2
L q L2
+
( 1H L ) ( 1H L )

upstream

downstream

cos

Dimana: = sudut kemiringan pipa


Untuk pipa horizontal, cos = 1. Umumnya untuk production pipe line dan
transmission line, (P)acc diabaikan.
18. Hitung kehilangan tekanan total,
(P)tot = (P)f + (P)acc
19. Apabila terjadi perubahan elevasi, tambahkan komponen elevasi pada
langkah 18.
3.1.4.2. Korelasi Eaton
Eaton mengembangkan korelasi penurunan tekanan aliran dalam pipa
horizontal, berdasarkan test yang dilakukan pada pipa sepanjang 1700 ft masingmasing dengan diameter 2 in dan 4 in.

Parameter yang diselidiki adalah sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.
5.

Laju aliran
: 0 - 10 MMSCF/hari
Laju aliran cairan
: 50 - 5500 bbl/hari
Tekanan rata-rata sistem : 70 - 950 psig
Diameter pipa
: 2 - 4
Liquid Hold-up
:0-1
Eaton membuat persamaan keseimbangan energi dalam bentuk diferential

berdasarkan pada fluida yang mengalir 1 lb dengan menganggap aliran horizontal


dan tidak dilakukan kerja terhadap fluida yang mengalir. Persamaan tersebut
adalah sebagai berikut:
144 Vdp +

vdv
gc

g
gc

dWf = 0 ....................................... (3-94)

Apabila gas dan cairan mengalir melalui pipa horizontal, persamaan yang
serupa bisa digunakan untuk masing-masing fasa. Persamaan keseimbangan
energi untuk tiap-tiap fasa antara titik x1 dan x2 dengn tekanan masing-masing P1
dan P2 adalah sebagai berikut:
Untuk fasa cairan:
144 wL VL dp +

w L v L d vL
gc

g
gc

w g vg d vg
gc

g
gc

wL

dWfL = 0 ....................... (3-95)

Untuk fasa gas:


144 wg Vg dp +

wg dWfg = 0 ....................... (3-96)

Dari penjumlahan dari kedua persamaan di atas, total keseimbangan energi


adalah:
144 (wL VL + wg Vg) dp +

g
gc

1
g c (wL vL dvL + wg vg dvg)

(wL dWfL + wg dWfg) = 0 .................................................. (3-97)

Bila persamaan (3-97) diintegrasikan, maka diperoleh persamaan berikut:


144

P2

w L V L dp +
P1

P2

w g V g dp
P1

v L2

wL
vL d vL
gc
v
L1

vg 2

wg
v gd v g
gc
v

g1

g
[ w d W fL + w g d W fg ] .......................... (3-98)
gc L

Persamaan (3-98) mewakili semua jumlah dari energi loss yang tidak dapat balik.
Bila disederhanakan, maka persamaan ini berbentuk:

wT d W fT

[ w L d W fL + w g d W fg]

........................... (3-99)

Dimana: wT = wL + wg ................................................................................. (3-99a)


Dari Darcy-Weisbach memberikan energi loss untuk multi fasa sebagai berikut:
d W fT
dx

wT

f wT v m2
2 gd

........................................................... (3-100)

Kombinasi persamaan (3-99) dan (3-99a) diperoleh persamaan berikut:


P2

v L2

[ w L V L+ w g V g ] dp

144

P1

wL
v L dv L
gc
v
L1

vg 2

wg
v g dv g
gc
v

g1

x2

f w T v m2
2g d
c
x

dx = 0 ..................................................................... (3-101)

Dari persamaan diatas ada dua hal yang tidak bisa diketahui dengan pasti, yaitu
volume (V) dan tekanan (P). Akan tetapi dapat diperkirakan dengan tepat melalui
beda tekanan yang ... antara P1 dan P2.
Rata-rata volumetrik tiap fasa adalah sebagi berikut:
P1

V L =

V L dP
P2

P2

P1P2

V g dP
P2

P 1P2

P1

............................................. (3-102)

P1P2

P1

V g

V L dP
P2

V g dP
P1

............................................. (3-103)

P 1P2

Dengan mensubtitusikan persamaan (3-102) dan (3-103) kedalam persamaan (3101), diperoleh:

[ w L V L+ wg V g ]

-144

w L v L2 + wg v g2
2 gc

P +

f wT v m2
2 gc d

x = 0

(3-104)
Hubungan dari specific volume rata-rata dengan density rata-rata dari gas dan
cairan adalah:
1
v L

L =

dan

1
v g

.................................................. (3-105)

Dengan mensubtitusikan kembali persamaan (3-105) ke persamaan (3-104),


didapatkan:
-144

wL
L

wg
g

P +

w L v L2 + wg v g2
2 gc

f wT v m2
2 gc d

x = 0

(3-106)
Dari persamaan ini, diperoleh persamaan x:
x =

2 gc d

wT v m2 f [144 P

wL wg
+
L g

w L v L2 +wg v g2
] ... (3-107)
2 gc

Secara umum diagram perhitungan dapat dilihat pada gambar 3.26. Metoda Eaton
lebih sederhana dimana pengaruh energi kinetik diabaikan.
Persamaan kehilangan tekanan dari Eaton adalah seperti pada persamaan (3-107).
3.1.4.2.1.

Korelasi Kehilangan Energi dari Eaton

Berikut ini adalah daftar variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kehilangan


energi, seperti yang dikemukakan oleh Eaton:
1. Liquid Reynold Number:
L v L d L
(NRe)L =
......................................................................(3-108)
L
2. Gas Reynold Number:
g v g d g
(NRe)g =
....................................................................... (3-109)
g
3. Perbandingan laju masa cairan terhadap laju masa total:
(LR) = wL/wt ................................................................................... (3-110)

Gambar 3.26. Diagram Perhitungan Penurunan Tekanan dengan Menggunakan


Metoda Eaton
4. Perbandingan laju masa gas terhadap laju masa total:
(LR) = wg/wt ................................................................................... (3-111)
Faktor kehilangan energi dapat dikorelasikan sebagai berikut:
Ordinat
Absis

: f(LR)a ........................................................................... (3-112)


: (GR)b Mt/g ................................................................. (3-113)

dimana: Mt = total massa flux = wt/Ap.


Telah ditentukan bahwa a = 0,10 dan b = 0,50. Secara trial and error
plotting. Hasil ini merupakan korelasi yang baik untuk setiap ukuran pipa, dan
pengaruh diameter pipa diperhitungkan.

Kemudian dilakukan pendekatan untuk menormalisir pengaruh diameter


pipa dengan menggunakan diameter dasar dan membentuk pebandingan antara
diameter dasar tersebut dengan diameter pipa suatu ukuran pipa tertentu. oleh
karena pipa dengan ID 1 in merupakan pipa terkecil yang digunakan di lapangan
maka ukuran pipa tersebut dipilih sebagai diameter dasar d B. Pada kenyataannya,
setiap macam ukuran pipa dapat digunakan sebagai diameter dasar dan tidak
mempunyai kepentingan yang khusus, melainkan hanya membentuk parameter tak
berdimensi. Kelompok tak berdimensi dB/d, termasuk dalam fungsi korelasi energi
loss. Kelompok tak berdimensi berikut ini, adalah yang terbaik, dalam korelasi
faktor energi loss:
Ordinat
Absis

: f(LR)0,10
: (GR)

0,50

dB
d

1,25

( )

Mt/g

Korelasi tersebut dapat dilihat pada grafik gambar (3.27) di bawah ini.

Gambar 3.27. Korelasi faktor energi loss dari Eaton


Bagian garis yang lurus menyatakan aliran laminer yang meliputi pola aliran
bubble dan stratified. Daerah transisi meliputi beberapa pola aliran yang berbeda,

yaitu slug, rapid waves dan ripple (wavy). Pada daerah sebelah kanan merupakan
aliran mist.
3.1.4.2.2.

Korelasi Liquid Hold-Up Oleh Eaton

Dengan melakukan pendekatan yang sama seperti Ros, Hagedorn & Brown pada
aliran vertikal, Eaton menggunakan analisa dimensi untuk memperoleh lima
kelompok parameter, yang mana dalam satuan lapangan adalah sebagai berikut:
0,25

NLv = 1,938 vsL

( )

0,25

Ngv = 1,938 vsg

( )

Nd = 120,872 d

.................................................................. (3-114)

................................................................... (3-115)
0,50

( )

................................................................. (3-116)

P/Pa = P/14,67 .................................................................................... (3-117)


NL = 0,15726 L

1
L 3

0,25

( )

............................................................ (3-118)

Pada mulanya kelima parameter tersebut digunakan sebagai variasi bebas dan H L
sebagai variabel tidak bebas dalam analisa regresi. Analisa tersebut menunjukkan
bahwa air-gas hold-up, mempunyai korelasi:
HL =

N Lv0,575
P
0,0277
Pa
N gv N d

0,05

( )

...........................................................(3-119)

Kemudian NL dimasukkan ke dalam kelompok tak berdimensi, yaitu disebut:


NL
( N LB )0,10
Dimana: NLB = harga dasar dari viscosity number untuk air yang dihitung pada
14,7 psi dan 60 F.
= konstan = 0,00226.
Dengan demikian bentuk fungsi korelasi untuk liquid hold-up, adalah:

HL =

N Lv0,575
N gv N d0,0277

0,05

NL
N LB

0,10

( ) ( )
P
Pa

..........................................(3-120)

Hubungan tersebut diatas dibuat secara grafis seperti pada gambar (3.28) di bawah
ini. Harga-harga batas dari korelasi Eaton adalah:
1.
2.
3.
4.

0,0697 NLv 13,246


1,5506 Ngv 140,537
5,0 P/Pa 65,0
20,3395 Nd 39,6277

Gambar 3.28. Korelasi Liquid Hold-up dari Eaton


Korelasi Eaton tidak dapat digunakan apabila aliran berubah menjadi
berfasa satu. Untuk aliran dengan GOR rendah, terjadi beberapa penyimpanganpenyimpangan dari korelasi diatas. Hal ini disebabkan kecilnya harga absis pada
korelasi energi loss diatas, mengakibatkan faktor gesekan dan penurunan tekanan
juga besar.
Suatu hal yang penting dari korelasi Eaton adalah bahwa korelasi liquid
hold-up, menghubungkan antara hold-up dengan sifat-sifat fluida, laju aliran dan
sifat-sifat sistem, tanpa memperhatikan pola yang terjadi.

3.1.4.2.3.

Prosedur Perhitungan Eaton

Perhitungan ini bukan merupakan pemecahan secara trial & error, tetapi
memerlukan penganggapan tekanan pada titik sesuai dengan panjang pipa.
Prosedur yang biasa adalah dengan menganggap tekanan yang relatif kecil dan
dihitung panjang pipa yan sesuai dengan pengurangan tekanan tersebut. Ketelitian
daripada perhitungan ini tergantung pada besarnya anggapan pengurangan
tekanan, makin kecil anggapan tekanan tersebut, makin tinggi ketelitiannya.
Langkah-langkah perhitungan:
1. Anggap tekanan P2.

2. Tentukan P dan T .
3. Hitung harga-harga v m , wL, wg,
T , serta

L ,

L ,

g , pada kondisi

dan

g , R , B , , pada kondisi P dan P .


s
o
L
g
1
2

Apabila tekanan yang diketahui lebih kecil dari 150 psi, energi kinetik
harus diperhitungkan dan kemudian hold-up. Tetapi apabila tekanan di atas
150 psi energi kinetik dapat diabaikan dan langkah 4 dan 6 tidak
diperlukan.
4. Untuk menentukan hold-up digunakan grafik, yang memerlukan
perhitungan harga absis daripada grafik tersebut, pada tekanan P1 dan P2.
Sebelumnya ditentukan lebih dulu harga-harga NLv, Ngv, Nd, P/Pb
berdasarkan persamaan yang diuraikan sebelumnya.
5. Tentukan HL1 dan HL2 dari grafik.
6. Hitung harga-harga vL1, vL2, vL,vg1, vg2 dan vg,
7. Tentukan harga faktor gesekan dengan menggunakan grafik. Sebelumnya
tentukan lebih dahulu harga absis dari grafik tersebut, yaitu:
(GR)0,5

dB
d

1,25

( )

Mt d
g

Dimana: g = cp 6,72 10-4 (lb/ft-sec).


Dengan grafik tersebut dapat ditentukan harga f(LR)0,1 dan f dapat
ditentukan setelah LR dihitung.

8. Hitung x, dengan menggunakan persamaan (3-107).


9. Dimulai dengan P2 dan x2, anggap harga P3 dan ulangi langkah diatas
sampai tercapai seluruh panjang pipa.
3.1.4.3. Korelasi Beggs dan Brill
Metoda Beggs dan Brill dikembangkan berdasarkan data percobaan yang
diperoleh dari test-test aliran fluida dalam rangkaian pipa dengan skala kecil.
Dalam percobaan ini digunkan pipa acrylic dengan diameter 1 dan 1,5 masingmasing dengan panjang 90 ft. Pipa tersebut dapat dimiringkan pada setiap sudut
kemiringan tertentu dan fluida yang dialirkan adalah udara dan air.
Parameter yang diteliti dalam percobaan ini serta range pengukurannya
adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Laju aliran gas


Laju aliran cairan
Tekanan sistem rata-rata
Diameter pipa
Liquid hold-up
Gradien tekanan
Sudut kemiringan
Pola aliran

: 0 300 MSCF/hari
: 0 30 gallon/hari
: 35 - 95 psia
: 1 1,5
: 0 0,87
: 0 0,8 psi/ft
: -90 +90
: horizontal

Pengukuran liquid hold-up dilakukan pada kondisi pipa horizontal.


Perhitungan liquid hold-up pada metoda Beggs & Brill ini, tergantung pada pola
alirannya, dengan demikianperlu ditetukan macam pola perlu ditentukan macam
pola aliran yang terjadi.
Gradien tekanan yang dihitung terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1. Gradien tekanan sebagai akibat gesekan.
2. Gradien tekanan sebagai akibat perubahan ketinggian.
3. Gradien tekanan akibat percepatan.
Gradien tekanan yang merupakan gabungan dari ketiga komponen tersebut, dapat
dinyatakan dalam suatu persamaan (3-84) seperti korelasi Beggs dan Brill pada
aliran vertikal, yaitu sebagai berikut:
P
x

f G v
g
tp sin+ tp m m
gc
2 gc d
tp v m v sg
1
gc P

................................................ (3-121)

dimana: tp = density dua fasa


ftp = faktor gesekan dua fasa
Gm = total mass flow rate = GL + Gg
GL = liquid flux rate
Gg = gas flux rate
vm = kecepatan campuran = vsL + vsg
vsL = supeficial liquid velocity
vsg = supeficial gas velocity
pada metoda Beggs and Brill untuk aliran horizontal, dalam penentuan pola aliran,
penentuan liquid hold-up, penentuan density dua fasa dan penentuan faktor
gesekan caranya sama seperti pada aliran vertikal.
3.1.4.3.1.

Prosedur Perhitungan Penentuan Tekanan dengan

Metoda Beggs dan Brill


Langkah-langkah perhitungan adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan harga tekanan P1, perkiraan harga tekanan P.
2. Hitung tekanan rata-rat:

P
= P1 +

P
2

, apabila P1 adalah tekanan downstream

P
= P1 -

P
2

, apabila P1 adalah tekanan upstream.

3. Tentukan harga-harga Rs, Bo, Bw, o, w,g, o, w, dan z pada


4. Hitung o:
o =

141,5
131,5+ API

5. Hitung density cairan dan gas:


L = o

w =

1
( 1+ WOR
)
350 w
5,615 Bw

+ w

( 1+WOR
WOR )

P
dan T .

g =

o =

0,0764 g P (520)
14,7 T Z

( 350 o + 0,0764 R s g )
5,615 B o

6. Tentukan laju aliran cairan dan gas


3,27 10 z g q o ( RRs ) ( T +460 )

P
7

qg =

qL = 6,49 10-5(qo Bo + qw Bw)


7. Hitung kecepatan superficial dari cairan, gas dan campurannya:
vsL = qL/Ap
vsg = qg/Ap
vm = vsL + vsg
8. Hitung rate flux mass dari cairan, gas dan totalnya:
GL = L vsL
Gg = g vsg
Gm = GL + Gg
9. Hitung no-slip hold-up:
=

qL
q L +q g

10. Hitung NFR, viskositas cairan, viskositas campuran dan tegangan permukaan
cairan:
NFR = vm2/gd
L = o fo + w fw
m = (L + g (1-))(6,72 10-4)
L = o fo + w fw
11. Hitung no-slip Reynolds Number (NRens) dan liquid velocity number (NLV):
NRens = Gm d / m
NLv = 1,938 vsL (L/L)1/4

12. Hitung parameter korelasi untuk menentukan pola aliran horizontal, yaitu L1,
L2, L3 dan L4.
L1 = 316 0,302
L2 = 0,0009252 -2,4684
L3 = 0,10 -1,4516
L4 = 0,5 -6,738
13. Tentukan pola aliran sesuai dengan batasan-batasan pola aliran pada tabel 3-1.
14. Hitung hold-up horizontal, HL (O) dengan persamaan:
HL (O) =

a b
N Fr c

15. Hitung density dua fasa:


TP = L HL + g (1 - HL)
16. Hitung faktor gesekan dengan menggunakan persamaan (3-80), (3-81), (3-82)
dan (3-83)
17. Hitung faktor gesekan no-slip:
0,5

fns = 0,0056 +

0,32

( N Rens )

18. Hitung faktor gesekan dua fasa (ftp)


ftp = fns

f tp
f ns

19. Hitung (dp/dx) dengan menggunakan persamaan (3-121) dan berdasarkan Z,


tentukan P:

f tp Gm v m
2 gc d

tp v m v sg
gc P

Z
P =

20. Apabila P yang diperkerikan dari langkah 1 dengan yang diperhitungkan


dari langkah ke 20 tidak sama, gunakan P dari lanhgkah 20 sebagai anggapan
baru dan ulangi perhitungan mulai dari langkah 2, Prosedur ini diulangi
sampai P perkiraan dan perhitungan sesuai.