Anda di halaman 1dari 66

PENGGUNAAN STATISTIK DALAM PPI

Dr.Santoso Soeroso SpA(K), MARS
Institut Manajemen Rumah Sakit/PERSI.
santososoeroso@yahoo.com
Pelatihan Perawat Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di
Rumah Sakit
JAKARTA

EPIDEMIOLOGI

Ilmu yg mempelajari faktor risiko ,
distribusinya dan penyakit pada suatu
populasi
Contoh : demam tifoid
– Endemik di Indonesia
– Faktor risiko : sistem sanitasi, higiene
Unsurnya 6 f : Feces, Finger, flies, field,
fluid, food
Contoh : infeksi RS (nosokomial)
– Faktor risiko : tidak cuci tangan

Faktor Risiko


Prevalensi patogen
Prevalensi penjamu
rentan
Mekanisme transmisi
yang efisien: dari
pasien /petugas ke
penyandang/petugas
 rantai penularan
Tidak hanya meningkatkan penularan
Tapi akhirnya juga
Memperberat penyakit/Menambah biaya

Where. Who dan How . menentukan rate. When. analisis dan interpertasinya di suatu populasi  4 Ws & H What.EPIDEMIOLOGI INFEKSI  Determinan (faktor risiko) terjadinya infeksi dan distribusinya di suatu populasi (rumah sakit)  Menjelaskan hubungan antara infeksi RS terhadap populasi berisiko.

EPIDEMIOLOGI INFEKSI  What : jenis infeksi yang sering. jenis kelamin. faktor risiko  When : kapan terjadi  Where: unit/bangsal  Who : umur. faktor risiko lain ( intrinsik / ekstrinsik )  How : bagaimana dapat terjadi 5 .

Trias Pejamu-Agen-Lingkungan     Penularan penyakit – interaksi 3 faktor : – agent – host – environment Agent – mikro organisme penyebab penyakit Host (Pejamu)/ tuan rumah – manusia Environment – lingkungan dimana agent dan pejamu berinteraksi .

environment (lingkungan). Setiap variabel memiliki banyak komponen. host (inang/pejamu). sehingga interaksi host-agent .environment sangat bervariasi. Secara ringkas teori epidemiologi memiliki tiga variabel : agent (agen). sementara variasi lingkungan mempengaruhi interaksi itu dengan berbagai cara pula .

Untuk apa STATISTIK     Dunia ( alam ) penuh dg keberagaman / variasi alami Sulit memastikan perbedaan sesungguhnya dengan perbedaan karena variasi alam Manusia tidak sama antar individu maupun intra individu dan antar waktu Diperlukan statistik untuk memastikan memang ditemukan perbedaan sesungguhnya 8 .

Tujuan dan manfaat Statistik   Menjawab atau menjelaskan pertanyaan ( deskriptif ) : – APA masalahnya – BESAR masalah ( frekuensi ) – SIAPA DIMANA KAPAN BAGAIMANA Menganalisa apa SEBAB masalah ( analitik ) : membuktikan perkiraan ( hipotesis ) 9 .

3. Melaksanakan SURVEILANS infeksi nosokomial di Rumah Sakit Identifikasi dan rujukan kasus sebagai sumber data Surveilans Epidemiologi Melakukan kajian epidemiologi penyakit menular serta masalah kesehatan lainnya .PERAN RUMAH SAKIT 1. 2.

Tujuan Surveilans IN       Surveilans : kegiatan terus-menerus pengumpulan data-analisis-interpretasi-distribusi hasil Menilai status kejadian infeksi nosokomial (akibat tindakan medik selama rawat-inap ) Dasar menetapkan masalah yang dihadapi : Menetapkan prioritas program pengendalian Menilai keberhasilan program Dasar untuk Plan-Do-Study-Act Apa .Siapa – Dimana – Kapan 11 .

Manfaat Data Surveilans       Gambaran kuantitatif besar masalah IN Pemantauan Kejadian Luar Biasa Gambaran penyebaran kuman penyebab Penilaian hasil program pengendalian dan pencegahan IN Deteksi penyimpangan atau pelanggaran penerapan SOP Dasar penyusunan program 12 .

Ukuran Epidemiologik Besaran Frekuensi     Rate : mengukur frekuensi (kekerapan) terjadinya suatu kejadian Memiliki : numerator (yang dibagi) dan denominator (pembagi) Numerator : jumlah kejadian baru yg diobservasi dalam kurun waktu tertentu Denominator : jumlah pasien dg risiko sama atau jumlah lama hari pemakaian alat pasien dg risiko sama kurun waktu tertentu 13 .

Ukuran Epidemiologik Besaran Frekuensi  Insidens ( incidence ) : Jumlah kejadian baru dalam kurun waktu (periode) tertentu Baik untuk penyakit akut  Prevalens ( prevalence ) : Jumlah seluruh kejadian lama dan baru pada suatu titik waktu Baik untuk penyakit kronik 14 .

Angka Insidens dan Prevalens       Menggunakan rate atau densitas Jumlah kejadian yang dihitung sebagai yang dibagi (numerator) Jumlah pasien yang mempunyai risiko sama sebagai pembagi (denominator) atau Jumlah lama hari pemakaian alat pasien berisiko sama sebagai pembagi (denominator) Faktor perkalian : per 100 . 10 000 Keterangan waktu ( 1 tahun. 1 Januari ) 15 . 1000 .

Angka Insidens ISK (Incidences rate / density) Infeksi Saluran Kemih : Jumlah pasien baru positip ISK (a/d lab) x 100 (%) Jumlah pasien dg kateter urin selama Januari atau Jumlah pasien baru positip ISK (a/d lab) x 1000 Jumlah total hari pakai kateter semua pasien dg kateter urin selama Januari 16 1/1 31/1  .

sederhana dan menarik Disebarluaskan segera Memerlukan kemampuan menggunakan komputer SPSS.Penyajian Data Surveilans      Distribusi data sedapat mungkin harus mudah dimengerti. WHO-net Excell 17 . EpiInfo.

Bentuk Penyajian Data       Tabel Grafik Histogram frekuensi Bar charts (diagram balok) Pie charts (diagram pai) Scatter diagrams (diagram sebar) 18 .

Resistensi antibiotika .

Contoh pelaporan .

.

Pola kuman Pola Kuman RS Puri Indah Bulan Mei 2008 3 2 1 0 Klebsiela streptococ Enterobact staphiloco Pneumonia cus sp er Cloacae ccus Raw at Inap 0 0 1 0 ICU 0 0 0 0 Poli Kebidanan 0 0 0 1 Poli Lainnya 3 1 0 0 Total 3 1 1 1 .

leukouria 2. leukouria 3. pemakai kateter. ISK 3 23 . Data bulan Februari (1-28) : 15 pasien (5 L : 10 P).Ilustrasi pengolahan data Data bulan Januari (1-31) : 20 pasien (7 L : 13 P). ISK 5.

Ratio Jenis Kelamin
Januari - Februari

Januari :
– Laki-laki :
Perempuan=
7:13 (bukan 0,53)
atau
35% : 65%
Februari :
– Laki-laki :
Perempuan=
5:10 (bukan 0,50) atau
33% : 67%
25

Insidens ISK nosokomial
Januari-Februari

Bulan Januari :
– Leukouria: 10% namun
– Kultur : 25%
Bulan Februari :
– Leukouria : 20%
– Kultur : 20%
Interpretasi :
– Penurunan sebesar 5%
– Peningkatan diagnostik
sedimen urin ? kultur ?
26

naik 10% secara sedimen Masalah apa yg ditemukan ? – ISK masih tinggi (20-25%) – Kemampuan diagnostik Lab belum optimal Apa yang perlu dilakukan ? – Pengawasan dan penyegaran SOP kateter urin – Peningkatan kemampuan dan SOP Lab 27 .Insidens ISK nosokomial Januari-Februari    ISK turun 5% secara kultur.

PICU-NICU-ICU-ICCU : HIGH RISK HAI .

Contoh kasus kecurigaan outbreak Data jumlah IADP di Bangsal Perinatal Jan-Jun 2006 29 .

Langkah yang perlu dilakukan    Pada bulan April sudah harus waspada Cek ulang ke ruangan apakah data benar Bila benar . cari faktor-faktor risiko – Karakteristik pasien – Karakteristik prosedur – Karakteristik penatalaksanaan  Medis maupun Nonmedis – Karakteristik petugas kesehatan – Karakteristik sarana dan lingkungan 30 .

A.D. . 3) Terjadi peningkatan kecepatan penularan penyakit sehingga kelompok populasi yang terekspos jauh lebih banyak .PENYELIDIKAN OUTBREAK INFEKSI NOSOKOMIAL     Kejadian luar biasa (outbreak) adalah peningkatan jumlah kasus pada suatu kelompok populasi yang secara nyata lebih tinggi dari yang diperkirakan KLB pada umumnya terjadi apabila :1) Terjadi peningkatan jumlah atau virulensi kuman . 4) Terjadi peningkatan kerentanan terhadap penyebab TUJUAN UTAMA PENYELIDIKAN OUTBREAK : MENANGGULANGI DAN MENGENDALIKAN OUTBREAK SERTA MENCEGAH TERULANGNYA OUTBREAK SERUPA DI MASA Y. 2) Ada penyebab baru yang sebelumnya tidak pernah ada.

TIM PENGENDALI OUTBREAK Personalia Tim Pengendali : 1) Direktur Medik 2) Dokter Ahli Penyakit Infeksi 3) Infection Control Officer (ICO) dan Infection Control Nurse (ICN) 4) Perawat Senior/Kepala Bangsal 5) Dokter Senior/Clinical Chief Tugas dan Tanggung Jawab : 1) Menjamin kelangsungan perawatan pasien 2) Bertanggung jawab terhadap penyediaan sumber daya 3) Penanganan informasi /public relations/media handling 4) Koordinasi kebijakan 5) Melakukan kaji ulang kemajuan penanganan outbreak 6) Menetapkan outbreak berakhir .

Penyebaran Hasil Surveilans     Apakah hasil harus diinformasikan ? Kekuatiran mendapat teguran/sanksi/malu Hasil merupakan dasar perbaikan/perubahan/ pembaharuan sistem Bukan mencari kesalahan individu ! 33 .

JENIS OUTBREAK POINT SOURCE OUTBREAK (SATU SUMBER) : POPULASI RENTAN TEREKSPOS KE SATU SUMBER PENULARAN. MAKA SEMUA ORANG AKAN MENJADI SAKIT PADA AKHIR MASA INKUBASI SEHINGGA PENINGKATAN JUMLAH KASUS AKAN TERJADI SECARA TAJAM DALAM WAKTU YANG RELATIF SINGKAT PROPAGATED OUTBREAK (MENYEBAR) : MENYEBAR DARI ORANG KE ORANG DENGAN KECEPATAN PENYEBARAN YANG RELATIF LEBIH LAMBAT DARIPADA JENIS POINTSOURCE OUTBREAK.JIKA KELOMPOK POPULASI YANG TEREKSPOS ITU TERJADI DALAM WAKTU YANG SINGKAT. KURVA EPIDEMI PADA JENIS INI MEMILIKI LEBIH DARI 1 PUNCAK .

1.13.9.12.28.12 Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Mar Apr Apr Apr Apr Apr Apr Apr Apr Apr Apr Apr A Date of Onset Blk E Others .23.2.6.16.10.11.5.18.25.11.19.8.7.22.21.14.17.26.30.29.4.20.Epidemic curve of CONFIRMED SARS cases in Amoy Garden (150403 11AM)(N=307) POINT SOURCE OUTBREAK 45 40 35 Noof Cases 30 25 20 15 10 5 0 10.15.31.27.24.3.

PROPAGATED OUTBREAK PROPAGATED OUTBREAK .

LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI          (1) VERIFIKASI DIAGNOSIS (2) MEMASTIKAN ADANYA OUTBREAK (3) PENEMUAN KASUS DAN KONTAK (4) ANALISIS DATA (5) BUAT HIPOTESIS TTG SUMBER PENULARAN DAN CARA PENYEBARAN (6) PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN (7) SURVEILANS (8) KOMUNIKASI (9) MENYATAKAN OUTBREAK BERAKHIR .

LANGKAH 1 :VERIFIKASI DIAGNOSIS  VERIFIKASI DIAGNOSIS DG. DEFINISI KASUS YANG JELAS SANGAT DIPERLUKAN UNTUK MEMASTIKAN BAHWA DIAGNOSIS TELAH DITEGAKKAN SECARA BENAR BAIK KLINIS MAUPUN LABORATORIS ATAU BERDASAR KRITERIA STANDAR MAUPUN DEFINISI KASUS YANG LAZIM DIPAKAI  SEDAPAT MUNGKIN VERIFIKASI DIAGNOSIS DAN TINDAKAN SELANJUTNYA DILAKSANAKAN BERDASARKAN PRINSIP EVIDENCE BASED MEDICINE (REVIEW LITERATURE) .

 Confirmed (infection): A clinically compatible case of methicillin resistant Staphylococcus aureus that meets the epidemiological criteria and is laboratory confirmed. .MRSA– Define and Identify Cases Expanded working case definition for outbreaks of CAMRSA infection Case Classification  Probable: A clinically compatible case that meets the epidemiological criteria and is epidemiologically-linked to a confirmed case.  Confirmed (colonization): A case without clinical signs or symptoms that meets the epidemiological criteria and is laboratory confirmed.

LANGKAH 2 : MENENTUKAN ADANYA OUTBREAK  BANDINGKAN PENINGKATAN KASUS ATAU INSIDENS SAAT INI DENGAN PERIODE SEBELUMNYA DALAM KURUN WAKTU MINGGUAN. BULAN ATAU TAHUN PADA PERIODE YANG SAMA  PENINGKATAN BELUM TENTU OUTBREAK. MUNGKIN : ADA PERUBAHAN SISTEM PELAPORAN ADA PERUBAHAN DEFINISI KASUS PENINGKATAN KUALITAS DIAGNOSIS PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN 1) 2) 3) 4) .

DAN POPULATION AT RISK  JUGA DILAKUKAN : PELACAKAN KASUS YANG TIDAK TERLAPORKAN ATAU BELUM TERDETEKSI DAN MENCARI MEREKA YANG MENGALAMI KONTAK LANGSUNG DENGAN SUMBER PENULARAN (INDEX CASE) . CARA PENULARAN.LANGKAH 3 : PENGUMPULAN DATA  TUJUAN PENGUMPULAN DATA : MENENTUKAN SUMBER PENULARAN ATAU PENYEBAB OUTBREAK .

PENGUMPULAN DATA     PERJELAS DEFINISI KASUS TENTUKAN INFORMASI YANG AKAN DIKUMPULKAN SUSUN KUESIONER PENGUMPULAN DATA CARI KASUS BARU DAN ORANG YANG KONTAK DENGAN SUMBER PENULARAN .

keadaan akhir penderita (meninggal/tidak). Pekerjaan INFORMASI KLINIS : Tanggal. menggunakan obat steroid jangka panjang. bayi. dll INFORMASI DEMOGRAFIS : Umur. Jenis kelamin. gejala klinis. TB) INFORMASI ttg CONTACT PERSON . jam mulai sakit. alamat. menderita penyakit tertentu : HIV/AIDS. dirawat di bangsal apa INFORMASI EPIDEMIOLOGIS : Faktor risiko apa yang ada pada penderita ? (Penurunan kekebalan tubuh : usia lanjut.INFORMASI YANG DIKUMPULKAN      IDENTITAS : Nama.

X  BUAT STUDI KASUS KONTROL YANG MEMBANDINGKAN DATA PASIEN BERDASAR UMUR. SUDAH BERAKHIR ATAU MASIH AKAN BERLANJUT ?  ANALISIS TEMPAT KEJADIAN : DIBUAT AREA MAP ATAU SPOT MAP.LANGKAH 4 : ANALISIS DATA  BUAT KURVA EPIDEMI MENURUT WAKTU : JUMLAH KASUS PADA SUMBU – Y DAN WAKTU PADA SUMBU . JENIS KELAMIN DAN FAKTOR RISIKO POTENSIAL  ANALISIS KURVA EPIDEMI : APAKAH OUTBREAK SEDANG BERLANGSUNG. UNTUK MENGGAMBARKAN CLUSTERING (PENGELOMPOKAN KASUS) DAN MENGANALISIS LUASNYA MASALAH  ANALISIS ORANG-PERORANG : KASUS INDEX. KASUS DENGAN KARAKTERISTIK TERTENTU. ATAU KESALAHAN DATA ? .

AIR BORNE. CARA PENULARAN (KONTAK LANGSUNG. DROPLET INFECTION. KARENA KETIGA FAKTOR INI PENTING UNTUK MENENTUKAN TINDAKAN DAN PERALATAN YANG DIPERLUKAN DALAM PENGENDALIAN INFEKSI DAN PENANGGULANGANNYA  HIPOTESIS HARUS DIBUAT BERDASARKAN SEMUA INFORMASI YANG DIPEROLEH SELAMA INVESTIGASI OUTBREAK . POPULATION AT RISK. MELALUI ALAT MEDIK. MAKANAN DLL.LANGKAH 5 : BUAT HIPOTESIS  BUAT HIPOTESIS MENGENAI SUMBER PENULARAN.).

LANGKAH 6 : PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN  PENCEGAHAN HARUS DILAKUKAN SEDINI MUNGKIN.PENCEGAHAN SUDAH DAPAT DIMULAI SEJAK DIAGNOSIS DIVERIFIKASI (LANGKAH 1)  SEGERA SETELAH SUMBER PENULARAN DIKETAHUI DAPAT DILAKUKAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN  DALAM SUATU OUTBREAK SERING KALI KITA BELUM DAPAT MENGIDENTIFIKASI PENYEBAB (CONTOH : SARS). NAMUN DENGAN MENGETAHUI CARA PENYEBARANNYA DAPAT DILAKUKAN TINDAKAN PENCEGAHAN SEHINGGA DAPAT DIKENDALIKAN SECEPATNYA .

ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA SECARA SISTEMATIK DAN TERUS MENERUS DIIKUTI PENYEBARAN INFORMASI KEPADA UNIT YANG MEMBUTUHKAN UNTUK DAPAT MENGAMBIL TINDAKAN SURVEILANS SENTINEL : SURVEILANS YANG DILAKUKAN PADA POPULASI ATAU WILAYAH TERBATAS UNTUK MENDAPATKAN SINYAL ADANYA MASALAH INFEKSI NOSOKOMIAL PADA POPULASI ATAU WILAYAH YANG LEBIH LUAS . PENGOLAHAN.LANGKAH 7 : SURVEILANS   SURVEILANS ADALAH PROSES PENGUMPULAN.

TUJUAN SURVEILANS         MENURUNKAN LAJU INFEKSI DI RS MENDAPATKAN DATA DASAR ENDEMISITAS MENGIDENTIFIKASIKAN KLB MEYAKINKAN PETUGAS MEDIS MENGEVALUASI SISTEM PENGENDALIAN MEMENUHI PERSYARATAN ADMINISTRATIF MENGANTISIPASI TUNTUTAN HUKUM MEMBANDINGKAN ANGKA INFEKSI NOSOKOMIAL ANTAR RUMAH SAKIT/DAERAH .

ISK DLL SURVEILANS PERIODIK TERBATAS : SURVEILANS PASCA RAWAT : MENINGKATKAN CASE FINDING SECARA BERMAKNA .METODE SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL      SURVEILANS KOMPREHENSIF: MENENTUKAN INCIDENCE DAN PREVALENCE SURVEILANS SELEKTIF : MENURUT TEMPAT INFEKSI. MENURUT UNIT. BERGILIRAN SESUAI PRIORITAS SURVEILANS DENGAN SASARAN KHUSUS (targeted): ILO.

MEMBANGUN JEJARING SURVEILANS EPIDEMIOLOGI . PERTEMUAN BERKALA. LAPORAN  DALAM KOMUNIKASI TERMASUK PULA ADVOKASI DAN SOSIALISASI (UNT. UMPAN BALIK. PENERBITAN BULETIN/LAPORAN. PRASARANA DAN SARANA )  SELANJUTNYA DISUSUN RENCANA KERJA.LANGKAH 8 : KOMUNIKASI  SETELAH PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA SERTA ANALISIS DAN REKOMENDASI TINDAK LANJUT MAKA DIPERLUKAN KOMUNIKASI DALAM BENTUK DISTRIBUSI DATA.DUKUNGAN ANGGARAN PEMBIAYAAN. PENYUSUNAN PEDOMAN.

LANGKAH 9 : MENYATAKAN OUTBREAK BERAKHIR     Berikan pernyataan bahwa outbreak telah berakhir kepada mereka yang terkait Kumpulkan laporan lengkap dan sampaikan kepada Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial Ubah dan perbaiki kebijakan apabila diperlukan Outbreak dinyatakan selesai apabila dalam 2 kali masa inkubasi terpanjang samasekali tidak ditemukan kasus baru .

KEMATIAN 44 KASUS)  TEMPAT KEJADIAN : DI RUANG NEONATOLOGI RSUD SUTOMO. DIIKUTI MALAS MINUM. SURABAYA  GEJALA : SEPSIS DAN SELULITIS NEONATUS GEJALA TIMBUL 2-3 POSTPARTUM. SUHU TURUN ATAU NAIK MENINGGAL KURANG DARI 3 HARI KEJADIAN TIMBUL JUGA DI RS SWASTA DI SBY DAN RSUD SIDOARDJO   .PENYELIDIKAN OUTBREAK INFEKSI NOSOKOMIAL PADA NEONATUS DI SURABAYA  WAKTU : JULI 1998-JULI 1999 (JUMLAH KASUS 102 NEONATUS.

47% LCS POSITIF KUMAN : Salmonella whortington RECTAL SWAB SEMUA PETUGAS YANG MENANGANI BAYI DI NICU : CARRIER SALMONELLA NEGATIF .LANGKAH 1 : VERIFIKASI DIAGNOSIS     BIAKAN KUMAN : DARAH. LCS HASIL : 51% DARAH.

SUTOMO 1998 – 2000. 2003) APAKAH KEJADIAN JULI 1998 ADALAH OUTBREAK? .LANGKAH 2 : MEMASTIKAN OUTBREAK     KEJADIAN SEPSIS NEONATUS DENGAN SELULITIS BELUM PERNAH ADA SEBELUMNYA INSIDENS SEPSIS NEONATORUM DI NEGARA BERKEMBANG 10 / 1000 KELAHIRAN HIDUP DI RSUD DR. INSIDENS SEPSIS 338/1000 KELAHIRAN HIDUP (Fatimah Indarso.

LANGKAH 3 : PENGUMPULAN DATA (Sumber data : Burhan Hidayat.9% .1% VAKUM 6 5.8% TAK JELAS 3 2.2 % SPONTAN 65 63.8% SECTIO 29 /BERAPA SEMUA SC? 28. 2003) LAKI2 51 50% PEREMPUAN 51 50% PREMATUR 51 50% BBLR 62 60.2% LAHIR RSUDS 74 71.

5 100 1999 .5 MARET 16 5 31.3 APRIL 25 16 64 MEI 2 0 0 JUNI/JULI 8 1 3 1 37.TAHUN BULAN KASUS MATI CFR% 1998 JULI 3 3 100 OKTO 2 0 0 DES 9 3 30 JAN 26 8 32 FEB 9 5 55.

SUTOMO BOR > 100% PERNAH MENCAPAI 250% (FATIMAH INDARSO. BUKAN DI RSUD DR.LANGKAH 4 : ANALISIS DATA      KEJADIAN TSB. BAYI YANG LAHIR DI RSUD DR. SEBAGAI RS RUJUKAN RSUD DR.SUTOMO SAJA. SUTOMO JUGA MERUPAKAN KELOMPOK BERISIKO . 2 KASUS PERTAMA ADALAH RUJUKAN RSUD SIDOARDJO TENAGA DI BANGSAL NEONATUS SANGAT KURANG = 1 PERAWAT UNTUK 10 BAYI. 2003) PROSEDUR PENCEGAHAN INFEKSI BELUM DILAKSANAKAN DENGAN BAIK BERDASARKAN DATA BBLR ADALAH KELOMPOK BERISIKO .

LANGKAH 5 : BUAT HIPOTESIS      KEJADIAN SEPSIS DAN SELULITIS PADA NEONATUS ADALAH OUTBREAK SUMBER PENULARAN BERADA DI BANGSAL NEONATUS BAYI YANG LAHIR DI RSUD DR.SUTOMO DAN BBLR ADALAH POPULATION AT RISK PENULARAN TERJADI DARI PETUGAS KE BAYI PENYEBABNYA ADALAH SALMONELLA WHARTINGTON .

LANGKAH 6 : PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN       PROTAP DALIN DIPERBAHARUI PENUTUPAN SEMENTARA RUANG NEONATOLOGI PERILAKU PETUGAS DALIN DIPERBAIKI CUCI TANGAN SEMPROT DG ALKOHOL 70% + GLISERIN ANTIBIOTIKA SESUAI TES KEPEKEKAAN PENAMBAHAN RASIO JUMLAH PETUGAS/PASIEN .

Ayman Nada b and Hany Aly c. The George Washington University Hospital. 3(4): ) . Egypt c Department of Newborn Services. Data on septicemia and cellulites were collected during January-October 2002 and JanuaryOctober 2003 in the NICU at Dr. Indonesia b Institute of Postgraduate Childhood Studies. A total of 24 infants with cellulites-septicemia were identified during the period of JanuaryOctober 2002. but can be efficiently controlled with hand washing or hand spraying. Outbreaks of S. Soetomo Hospital. worthington from hands of healthcare providers. Washington. Airlangga University. Surabaya. Dr. All of the isolates recovered were sensitive to amikacin.Outbreak of neonatal cellulites and septicemia caused by Salmonella worthington Fatimah Indarso a. chloramphenicol. and meropenem. Agus Harianto a. Cellulites in the newborn are a warning sign for infection with S.* a Department of Pediatrics. Two third of the cases were sensitive to cefopime 66%. USA This is a retrospective observational study. this infant survived. worthington (Journal of Pediatric Infectious Diseases 2007. Blood culture of all cases grew S. Of them 12 cases died. Ain Shams University. Environmental cultures recovered S. worthington in NICU have high case-fatality rate. while resistant to ampicillin. Soetomo hospital. Only one case was identified in the period of January-October 2003. All infections occurred during the first 3 days of life. DC. Cairo. worthington.

50 Sepsis.Sutomo. Ruang neonatus. sepsis dengan selulitis dan kematian sebelum dan sesudah intervensi di RSUD Dr. NICU Sumber : Fatimah Indarso dkk. 2003 40 Sepsis tanpa selulitis 10 selulitis Kematian selulitis 0 Jan feb mar apr mei jun jul aug sept okt INTERVENSI .

4% September 0 35 0 October 0 15 0 Bulan Sepsis dg selulitis Sepsis tanpa selulitis Kematian Sepsis dan selulitis January 1 11 1 (100%) February 11 5 March 7 April 4 Bulan .Tabel 4. Sepsis. Sepsis dengan Selulitis dan Kematian Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Saat KLB Sebelum Intervensi Setelah Intervensi Sepsis dg selulitis Sepsis tanpa selulitis Kematian Sepsis dan selulitis May 0 30 0 6 (46%) June 0 36 0 16 4 (57%) July 1 39 0 36 1 (25%) August 0 44 0 47.

3%) 146 (37.8%) 7 (13.1%) 21 (41.1%) 3 (5.Tabel 6. Peta Kuman dari Biakan Darah Sepsis Neonatorum Januari-Oktober 2002 dan 2003di R.6%) 105 (27.6%) 1 (2%) 2 (3.7%) 1 (0.1%) 40 (10.9%) 4 (1.7%) 9 (17. Neonatus Staphylococcuscoagulated negative Enterobacter aerogenosa Klebsiella Acetenobacter Pseudomonas Escherechia coli Salmonella Methicillin resistent Staphylococcus coag.3%) 31 (7.neg Other January – October 2002 n (%) January – October 2003 61(15.9%) 1 (2%) 7 (13.7%) - n (%) .

.

Kumpulkan Tim PPIN       Identifikasi masalah Bahas kemungkinan penyebab masalah Bahas strategi mengatasi masalah Lakukan dalam rapat Tim PPIN dan rapat koordinasi lainnya Susun rekomendasi strategi Lakukan yang dapat dilakukan segera dan laporkan masalah ke Pimpinan atau atasan langsung 65 .