Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN FISIKA EKSPERIMEN II

TARAF INTENSITAS BUNYI


(Acara 3)

Di susun oleh :
Dewi Atikoh

(H1E013049)

Alga Pramudya W. (H1E013050)

Asisten : Almas Gediana


Hari/Tanggal :
Pelaksanaan Praktikum : Rabu/18 Mei 2016
Pengumpulan Laporan : Rabu/ 1 Juni 2016

SEMESTER GENAP
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

LABORATURIUM FISIKA INTI DAN MATERIAL


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

TARAF INTENSITAS BUNYI


Alga Pramudya. W., Dewi Atikoh
Abstrak
Percobaan ini bertujuan menentukan taraf intensitas bunyi dari
sumber bunyi (sirine), serapan energi gelombang bunyi di udara,
hal-hal yang mempengaruhi penjalaran gelombang bunyi, dan
membuat peta sebaran intensitas bunyi. Proses pengukuran taraf
intensitas bunyi dengan cara meletakan sumber bunyi pada
ketinggian 150 cm, kemudian lakukan pengukuran kecepatan
angin dan taraf intensitas bunyi dengan menggunakan SLM pada
jarak 5 m, 10 m, 15 m, 20 m, 25 m, dan 30 m sesuai dengan
arah mata angin. Hasil yang diperoleh dari praktikum ini antara
lain : pada intensitas bunyi diperoleh hasil 0,02 dB ; 0,005 dB ;
0,002 dB ; 0,001 dB ; 0,0008 dan 0,0005 dB. Sedangkan untuk
serapan energi gelombang bunyi diudara adalah 103,04 ; 97,02 ;
93,5 ; 91,0 ; 89,0 ; dan 87,4. Nilai taraf intensitas bunyi
dipengaruhi oleh kecepatan angin, kebisingan latar, temperature
dan kelembaban. Peta kontur yang diperoleh menjelaskan
penyebaran intensitas bunyi dilapangan karangwangkal.
Kata Kunci : Taraf Intensitas Bunyi, Gelombang Bunyi, Peta Kontur.

LEVELS OF SOUND INTENSITY


Abstract
The purpose of this experiment are to determine level of sound intensity from
sound source (siren), absorption of energy of sound waves in the air, the things
spreads influencing of sound waves, and make sound intensity distribution maps.
The process of measuring the level of intensity of the sound by placing the sound
source at a height of 150 cm, then take the measurement of wind speed and
intensity of the sound level by using the SLM at a distance of 5 m, 10 m, 15
m, 20 m, 25 m, dan 30 m in accordance with the direction of the wind. The
results of this lab, among others: the sound intensity values obtained 0,02 dB ;
0,005 dB ; 0,002 dB ; 0,001 dB ; 0,0008 dan 0,0005 dB. As for the
energy absorption of sound waves in the air is 103,04 ; 97,02 ; 93,5 ;
91,0 ; 89,0 ; dan 87,4. Values sound intensity level is influenced by wind
speed, background noise, temperature and humidity. Contour map obtained
explain the spread of the sound intensity karangwangkal field.
Keywords : Level of Sound Intensity, Sound Wave, Contour Map.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Bunyi sering dikaitkan dengan indra pendengaran beserta fisiologi
telinga dan otak. Gelombang bunyi mampu menginterpretasikan sesuatu
yang datang ke telinga. Intensitas bunyi yang dapat didengar oleh telinga
hanya berkisar 20-20000 Hz. Jika terlalu kecil atau terlalu besar, maka
telinga tidak dapat menangkapnya (mendengar). Agar penggunaan bunyi
sesuai dengan daya tangkap telinga (khususnya telinga manusia), maka
diperlukan pengukuran intensitas bunyi. Pengukuran taraf intensitas bunyi
dilakuan dengan percobaan taraf intensitas bunyi.

1.2.

Tujuan

1. Menentukan Taraf Intensitas Bunyi dari sumber bunyi (sirine)


2. Menentukan serapan energi gelombang bunyi di udara
3. Menentukan hal-hal yang berpengaruh pada penjalaran gelombang bunyi

4. Menetukan peta sebaran intensitas bunyi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gelombang bunyi merupakan gelombang,mekanik karena membutuhkan
medium untuk merambat dan juga termasuk gelombang longitudinal karena
gelombangnya searah dengan arah rambat. Gelombang tidak dapat merambat di
dalam ruang hampa udara karena dalam ruang udara tidak ada pertikel-partikel
udara. Karena bunyi sebagai gelombang, maka bunyi memiliki sifat-sifat yang
sama dengan sifat-sifat gelombang diantaranya :
1. Refleksi (dapat dipantulkan)
Bunyi dapat dipantulkan terjadi apabila bunyi mengenai permukaan benda
yang keras, seperti permukaan dinding batu, semen, besi, kaca, dan seng.
2. Reflaksi (dapat dibiaskan)
Reflaksi merupakan pembelokkan arah lintasan gelombang setelah melewati
bidang batas antara dua medium yang berbeda.
3. Interferensi (dapat dipadukan)
Interferensi bunyi sama seperti interferensi cahaya yang memerlukan dua
sumber bunyi yang koheren.
4. Difraksi (dapat dilenturkan)
Difraksi merupakan peristiwa pelenturan gelombang bunyi ketika melewati
suatu celah sempit (Halliday dan Resnick, 1989).
Sumber bunyi adalah semua benda yang bergetar dan menghasilkan suara
merambat melalui medium atau zat perantara sampai ke telingan. Bunyi
dihasilkan oleh benda yang bergetar. Syarat terjadinya bunyi adalah :

Sumber bunyi
Sumber bunyi merupakan benda-benda yang menghasilkan bunyi,
diantaranya : berbagai alat music seperti gitar, piano, seruling, dan lain-lain.

Zat perantara (medium)


Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal yang tidak
tampak. Bunyi hanya dapat merambat melalui medium perantara. Tanpa
medium perantara bunyi tidak dapat merambat sehingga tidak akan

terdengar. Berdasarkan penelitian, zat padat merupakan medium perambatan


bunyi yang paling baik dibandingkan zat cair dan gas.
Contoh : udara, air, dan kayu.

Pendengar
Bunyi dapat didengar apabila ada pendengar. Manusia dilengkapi
indra pendengar, yaitu telinga sebagai alat pendengar.Getaran yang berasal
dari benda-benda yang bergetar, sampai ke telinga kita pada umumnya
melalui udara dalam bentuk gelombang. Karena gelombang yang berada di
udara hanya gelombang longitudinal, maka bunyi merambat melalui udara
selalu dalam bentuk gelombang longitudinal. Gelombang longitudinal
adalah perapatan dan perenggangan yang dapat merambat melalui ketiga
wujud zat yaitu : wujud padat, cair dan gas.
Bunyi atau suara dapat terdengar karena adanya gangguan yang menjalar ke

telinga pendengar. Cepat rambat gelombang adalah kecepatan gelombang suara


ketika berjalan menembus medium. Kecepatan ini dipengaruhi oleh sifat dan
kerapatan medium yang dilaluinya (Wihantoro, 2000).
Pada medium yang sama, cepat rambat gelombang akan sama walaupun
frekuensinya berbeda. Dalam medium gas (udara) pada umumnya gelombang
bunyi mempunyai kelajuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
v=

dengan : P menyatakan tekanan tak tergantung


adalah

Cp
Cv

, yaitu rasio kalor jenis gas pada volume tetap. Untuk

gas dwiatomik seperti oksigen, nitrogen dan udara, nilai -nya adalah
7/5 atau 1,4.
Intensitas gelombang bunyi di suatu titik didefinisikan sebagai laju garis
gelombang bunyi rata-rata yang diasumsikan sebagai laju garis gelombang bunyi
rata-rata yang ditransmisikan dalam arah tertentu melalui satu satuan luasan yang
tegak lurus. Persamaan Intensitas gelombang bunyi (I) adalah :

I=

W
A

dengan : I : Intensitas (watt/m2)


A : luasan yang melingkupi sumber (m2) dan
W : daya (watt).
Intensitas suatu sumber gelombang bunyi juga bergantung pada jenis atau
tipe sumber tersebut. Untuk sumber yang berbentuk titik, misalnya sumber berupa
mesin, pesawat atau pabrik, intensitas gelombang tersebut merupakan fungsi jarak
r dari sumber tersebut, yaitu :
I=

W
2
4r

Kekerasan gelombang bunyi atau taraf intensitas bunyi biasanya dinyatakan dalam
satuan decibel (dB), yaitu :
SL ( dB ) =10 log

I
I0

dengan : I : intensitas
I0 : intensitas ambang (10-12 W/m2)

(Hartono, 2006).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Percobaan Taraf Intensitas Bunyi dilaksanakan pada hari Rabu, 18
Mei 2016 di Laboratorium Fisika Inti dan Material Jurusan Fisika, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jenderal Soedirman.
Tempat

pengambilan

data

dilakukan

di

Lapangan

Kelurahan

Karangwangkal pada pukul 08.00 WIB sampai selesai.

3.2.

Alat dan Bahan


No
Alat dan Bahan
.
1. 2 buah Sound Level Meter
(SLM)
2. Annemometer

3.3.

3.

Termometer

4.

Higrometer

5.

Accu/Baterai

6.

Sirine

7.

2 buah Meteran pita, 50m

8.

Tiang penyangga (150 cm)

Langkah Kerja
1. Meletakkan sumber bunyi berupa sirine dengan frekwensi tertentu pada
ketinggian 150 cm. (Meletakkan kalkson/sirine ditengah-tengah lokasi
pengukuran)

2. Menghidupkan sumber bunyi dengan volume maksimum


3. Mengukur taraf intensitas bunyi sirine tersebut dengan sound level meter
pada jarak 5 m, 10 m, 15 m, 20 m, 25 m, dan 30 m masing-masing 2 kali
pada setiap jarak

4. Melakukan langkah 3 untuk arah yang lain

5. Mengukur sumber bunyi latar yang berasal dari sumber bunyi lain yang
ada, (misalnya kendaraan bermotor, angin dan lain-lain) pada tempat
pengukuran dengan cara mematikan sirine

6. Mengukur kecepatan angin, arah angin, suhu dan kelembaban udara


selama pengukuran berlangsung.

3.4.

Flowchart

aksimum dan mengukur taraf intensitas bunyi sirine pada jarak 5m, 10 m, 15 m, 20 m, 25 m, dan 30 m di sisi utara, selatan, barat, timur, te

Apakah sudah melakukan pengulangan sebanyak 2 kali?

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
A. Data Pengamatan dan Perhitungan

N
o

Jarak
(m)
5
10
15
20
25
30
5
10
15
20
25
30
5
10
15
20
25
30
5
10
15
20
25
30
5
10
15
20

Data Taraf Intensitas Bunyi


Kecepata
Arah
n
Taraf
Mata
Angin
Intensitas
Angin
(m/s)
0,2
0
87,8 87,9
0
0,1
81,5 79,4
0,6 1,3
74,5 75,2
barat
0,1 0,3
69,9 75,7
1,7 0,9
72,9 74,2
0
0
72,4 71,5
0,2
0
87,8 85,7
0
0,1
83,9 69,8
0,6 1,3
74,8 75,5
timur
0,1 0,3
75,7 75,8
1,7 0,9
75,7 76,1
0
0
73,2 74,4
0,4 0,3
72,4 71,3
0,6 0,9
74,1 73,5
1,3 0,9
76
76,3
selatan
1,8 2,4
78,5 77,8
0,8 0,7
80,2 81,5
0,1 0,3
86,2 86,6
0,4 0,3
73,1 73,7
0,6 0,9
74,9 75,6
1,3 0,9
77,8 76,9
utara
1,8 2,4
75,1 77,1
0,8 0,7
80,2 80,8
0,1 0,3
86,6
86
0,2 0,1 tenggara
73,9 74,7
0
0,1
75,7 76,4
1,4 1,4
76,6 76,2
0,9 0,7
77
76,3

Taraf
Intensitas
Ratarata
87,85
80,45
74,85
72,8
73,55
71,95
86,75
76,85
75,15
75,75
75,9
73,8
71,85
73,8
76,15
78,15
80,85
86,4
73,4
75,25
77,35
76,1
80,5
86,3
74,3
76,05
76,4
76,65

25
30
5
10
15
20
25
30
5
10
15
20
25
30
5
10
15
20
25
30

0,4
0,8
0,2
0
1,4
0,9
0,4
0,8
0,4
0,4
0,1
0,5
1,1
1,4
0,4
0,4
0,1
0,5
1,1
1,4

0,5
0,2
0,1
0,1
1,4
0,7
0,5
0,2
0,4
0
0
0,5
1,5
1,5
0,4
0
0
0,5
1,5
1,5

barat laut

barat
daya

timur
laut

80
86,2
72,5
74,7
74,2
78,2
80,3
86,8
71,6
72,6
76,5
76,2
81,1
86,9
73,6
77,1
77,9
78,8
81
86,8

81,2
87,6
70,1
75,6
76,2
75,7
80,1
86,5
70,8
73,4
76,1
78
80,7
86,8
74,3
76,3
76,2
75
81,8
86,1

80,6
86,9
71,3
75,15
75,2
76,95
80,2
86,65
71,2
73
76,3
77,1
80,9
86,85
73,95
76,7
77,05
76,9
81,4
86,45

Perhitungan Manual
I =

1. I =

W
W
=
A 4 r2

12,65
=0,02 dB
4 (5)2

, w= 12,65 watt
*. SL(dB) = 10 log

0,02
12
10

*. SL(dB) = 10 log

0,005
1012

*. SL(dB) = 10 log

0.002
1012

*. SL(dB) = 10 log

0.001
12
10

= 103,04
2. I =

12,65
2
4 (10) = 0,005 dB

= 97,02
3. I =

12,65
2
4 (15) = 0,002 dB

= 93,5
4. I =

12,65
2
4 (20)

= 91,0

= 0,001 dB

5. I =

12,65
2
4 (25)

= 0,0008 dB

*. SL(dB) = 10 log

0.0008
1012

= 0,0005 dB

*. SL(dB) = 10 log

0.0005
1012

89,06
6. I =

12,65
4 (30)2

87,47

Dari hasil percobaan juga dibuat peta kontur menggunakan software


surfer sebagai berikut :

4.2. PEMBAHASAN
Bunyi adalah bentuk gelombang longitudinal, yang merambat secara
perapatan dana pereganggan terbentuk oleh partikel zat perantara serta
ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran. Gelombang bunyi
adalah

gelombang

yang

dirambatan

sebagai

gelombang

mekanik

longitudinal yang dapat menjalar dalam medium padat, cair, dan gas.
Medium gelombang bunyi ini adalah molekul yang membentuk bahan
medium mekanik (Sutrisno, 1982). Taraf intensitas bunyi bisa diartikan
dengan tingkat kebisingan suatu bunyi pada pendengaran manusia. Adapun
faktor yang mempengaruhi penjalaran gelombang bunyi adalah bentuk
geometri sumber, keadaan atmosfer di sekitarnya, dan efek permukaan.
Berdasarkan perhitungan yang telah diperoleh, diketahui bahwa nilai
Intensitas gelombang bunyi dalam perhitungan tidak sama dengan nilai
Intensitas gelombang bunyi yang terukur. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor, diantaranya :

1.

Adanya

angin

yang

berhembus

dari

berbagai

arah

yang

menyebabkan tidak akuratnya nilai yang terukur oleh Sound Level Meter
(SLM).
2.

Suara yang dikeluarkan sirine terserap oleh tumbuh-tumbuhan yang


ada di sekitarnya.

3.

Adanya pengaruh kecepatan angin, yang menyebabkan nilai


Intensitas gelombang bunyi yang terukur lebih kecil dari hasil
perhitungan.
Pada grafik hubungan antara Jarak dengan Intensitas (dB) dapat

disimpulkan semakin panjang atau jauh dari pusat bunyi jarak yang diukur
maka nilai intensitasnya akan semakin kecil. Hal ini disebabkan karena
adanya beberapa factor, yaitu : kecepatan angin, temperature, kelembaban,
juga kebisingan latar yang terdapat dilokasi pengukuran sangat tinggi,
karena dekat dengan jalan dan pemukiman padat penduduk.

BAB V
PENUTUP
6.1.

Kesimpulan
1. Nilai taraf intensitas bunyi yang diperoleh dengan pengukuran pada jarak
5 m, 10 m, 15 m, 20 m, 25 m, dan 30 m adalah 0,02 dB ; 0,005 dB ;
0,002 dB ; 0,001 dB ; 0,0008 dan 0,0005 dB.
2. Nilai serapan energi gelombang bunyi di udara adalah 103,04 ; 97,02 ;
93,5 ; 91,0 ; 89,0 ; dan 87,4.
3. Nilai taraf intensitas bunyi yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin
jauh jarak dari sumber bunyi maka nilai taraf intensitasnya akan semakin
kecil. selain itu juga dipengaruhi oleh adanya kecepatan angin,
kebisingan latar, temperature dan kelembaban.
4. Peta kontur sebaran intensitas bunyi yang diperoleh adalah :

6.2.

Saran
Percobaan sebaiknya dilakukan ditempat yang tidak terlalu banyak
adanya kebisingan, sehingga dapat memperoleh nilai taraf intensitas bunyi
yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
Halliday, D., dan Resnick, R., 1989, Fundamental of Physics (3rd ed.), USA,
John Wiley and Sons, inc.
Hartono, dkk, 2006, Modul Praktikum Eksperimen II , Purwokerto,
UNSOED.
Sutrisno. 1982, Fisika Dasar, Bandung, ITB.
Wihantoro, 2000, Laporan Hasil Penelitian Pengukuran Cepat Rambat
Gelombang Bunyi di Udara dengan Bantuan Audio Vibrator dan
Cathoda Ray Osciloscope (CRO), Purwokerto, UPT MIPA UNSOED