Anda di halaman 1dari 13

PERKEMBANGAN ISLAM DI

THAILAND
DISUSUN OLEH :

1.
2.
3.
4.

FAKHRIAL IRSYADI
REZA KURNIANDA
RAKHMAT KAFYANDI
FAISAL

THE MIND MAP


POLITIK
PERKEMBANG
AN

SEJARAH
MASUKNYA

ISLAM
THAILAND

PENDIDIKA
N

SOSIAL
BUDAYA

EKONOMI

K
E
S
I
M
P
U
L
A
N

SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE THAILAND


Negara Thailand di wilayah darat berbatasan dengan Myanmar (Burma) di
sebelah barat dan Utara, Laos di utara dan timur, Kamboja (Cambodia) di
timur, dan Malaysia di selatan. dengan luas wilayah sekitar 514.000 km2.
Islam datang ke Thailand dengan perantaraan pedagang yang berasal dari
Arab dan India. Para pedagang dari Arab dan India disebut Khek Islam
(pedagang Islam) oleh penduduk setempat para pedagang tersebut
meminta raja Siam untuk mendirikan masjid. Permohonan mereka
dikabulkan oleh raja maka didirikanlah masjid Bangkok Noi (Bangkok Kecil).
Islam disebarkan di Siam melalui hubungan dagang dan perkawinan.

Ada beberapa pendapat mengenai kapan masuknya Islam di


Thailand, yaitu: pertama, di Semenanjung Tanah Melayu ditemukan
batu nisan seorang waliyullah keturunan arab bertarikh 1029.

Kedua, ditemukannya batu nisan di Champa yang bertarikh 1039.


Dan ketiga, ditemukannya batu bertulis (prasasti) di sungai Teras
Terengganu. Menurut catatan ditemukan pada tulisan bertarikh 4
Rajab tahun 702 H bersamaan dengan 22 Februari 1387.

Thailand adalah salah satu dari Negara Asia Tenggara yang apabila
ditinjau dari sudut agama yang dianut oleh penduduknya,
mayoritas beragama Budha. Umat Islam adalah penduduk
minoritas dari jumlah totalitas penduduk Thailand.

PERKEMBANGAN ISLAM DI THAILAND


Melayu Pattani atau yang acapkali disebut Pattani, merupakan satu dari sekian
banyak kelompok etnik Melayu di Asia Tenggara. Pattani juga merupakan salah
satu nama dari empat provinsi di Thailand bagian selatan yang mayoritas
penduduknya menganut agama Islam atau sekitar 80% muslim.

Dalam presentasenya, penduduk muslim di Negeri Gajah Putih hanya sekitar


5,5% dari keseluruhan warga negara yang mayoritas beragama Buddha (Asian
Survey, Mei 1998). Fakta kuantitatif tersebut menyebabkan mereka
terpinggirkan secara sosial dan politik, serta menjadikannya sebagai
sukubangsa minoritas di Thailand. Karena hal itu pula, hingga kini, masih saja
muncul gerakan-gerakan perlawanan terhadap negara (penguasa) dari orang
Pattani.

Salah satunya ialah gerakan separatis masyarakat Pattani


yang dikenal dengan dar al-Islam. Nama Pattani
sesungguhnya baru muncul di sekitar abad ke-14 M. Sebelum
itu, tanah Pattani adalah hak milik dari kerajaan yang
bernama Langkasuka. Langkasuka berubah menjadi Pattani
pada abad ke-14 karena berbagai hal yang sifatnya politikekonomi, terutama lantaran kerajaan ini berada di pusat
perdagangan dan bertemunya para merkantil dari Asia dan
Eropa (Syed Serajul Islam, 1998). Pedagang Arab mulai
masuk sekitar abad ke-12, dan mencapai puncaknya di abad
ke-15 melalui para pedagang Arab yang berlabuh di
pelabuhan-pelabuhan milik Kerajaan Pattani Raya.

POLITIK ISLAM DI THAILAND


Upaya penyatuan politis daerah muslim ke dalam Thailand
merupakan hasil akhir perjuangan selama berabad-abad, dengan
berbagai alasan nasionalisme. Pembangunan dan keamanan
pemerintah Thailand abad XX berusaha mengonsolidasi kekuasaan
atas provinsi-provinsi Selatan yang dialami orang-orang Muslim.

Langkah pertamanya adalah integrasi administratif yang


dirancang untuk memasukkan daerah-daerah Muslim itu kedalam
sistem politik nasioanal yang berpusat di Bangkok.

Gerakan dakwah yang terus dilancarkan umat Islam diselatan


mengenai kebebasan dan otoritas beragama menghasilkan
beberapa konsesi yang diberikan oleh pemerintah dan
akhirnya terbentuk organisasi-organisasi Islam yang menjadi
corong kegiatan umat secara nasional yang mendapatkan
legal dari pemerintah organisasi tersebut meliputi :

1. Kantor chularajamantri atau syaikhul islam. Kantor ini


dianggap sebagai

kantor tertinggi masyarakat.

2. Komite Islam nasional, lembaga ini dimaksudkan sebagai


lembaga tertinggi untuk urusan administrasi

SOSIAL BUDAYA ISLAM DI THAILAND


Negara Thailand memiliki penduduk yang berasal dari multietnis yaitu
bangsa 75% (Thai), 11% (China) etnis Tionghoa yang memegang peranan
besar dalam bidang ekonomi, 3,5% (Melayu) dibagian selatan, dan sedikit
Mon, Khamer, Puan dan Kharen. Masing-masing mempunyai tradisi dan
kebudayaan serta beragam bahasa yang masih dijunjung tinggi.

Tuntunan berperilaku di Thailand Wai atau salam Thai memiliki arti yang
sangat beragam. Pengunjung disarankan untuk membalasnya dan lebih
baik berinisiatif memberikan salam. Kurang layak memberikan Wai
kepada pembantu atau anak-anak meski hal itu wajar dilakukan.

Memasuki tempat suci di Thailand, berpakaianlah dengan sopan dan rapi.


Biksu (Pria) dilarang disentuh atau menyentuh wanita.

Bila berada didalam masjid, pria disarankan menggunakan kopiah (tutup


kepala) dan bagi wanita menggunakan jilbab (kerudung) dan pakaian
yang menutup aurat. Lepaskanlah alas kaki sebelum masuk Masjid. Islam
sebagai agama minoritas banyak mendapat tekanan dari pemerintah dan
masyarakat secara mayoritas beragama Buddha. Masyarakat muslim di
Thailand bukanlah masyarakat yang homogen dan menggunakan istilah
Thai-Islam atau Thai-Muslim. Orang melayu merupakan mayoritas etnis
dikalangan masyarakat muslim, dan etnis lainnya yang beragama Islam
adalah haw, jawa, sam-sam, bawean, pathan, punjab, tamil, bengali, slam
dan lainnya. Secara politis kaum muslim melayu adalah kelompok yang
kuat, karena mereka hidup di daerah yang berdekatan dengan malaysia
dan tetap memiliki budaya melayu.

EKONOMI ISLAM DI THAILAND


Kondisi-kondisi Ekonomi golongan Melayu-Muslim semakin memburuk. Menurut
perkiraan, 80 persen dari penduduk Melayu Muslim bekerja di bidang pertanian padi
dan perkebunan karet, secara pukul rata, mereka memiliki lahan yang kecil saja, yang
hasilnya hanya cukup untuk sekedar hidup. Masyarakat melayu sangat terisolasi dari
masyarakat Thai pada umumnya dan karakteristik - karakteristik social dan budayanya
cenderung untuk mengukuhkan isolasi itu. Semenjak tahun 1980-an, pihak pemerintah
Thailand memulai program pembangunan social-ekonomi di empat wilayah Thailand
selatan dengan tujuan membatasi ruang gerak kaum pembebasan Patani dan
memperlemah kekuatan mereka. Untuk kepentingan tersebut, pihak pemerintah
Thailand mengadakan rencana kerja sama di bidang ekonomi di empat wilayah
Thailand Selatan dengan rencana Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Melayu-Thailand.

PENDIDIKAN ISLAM DI THAILAND


Pendidikan yang digalakkan oleh pemerintah Kerajaan
Thailand tergolong bersifat deskriminatif terhadap Islam.
Pada tahun 1923 M, beberapa Madrasah Islam yang
dianggap ekstrim ditutup, dalam sekolah-sekolah Islam harus
diajarkan pendidikan kebangsaan dan pendidikan etika
bangsa yang diambil dari inti sari ajaran Budha. Pada saatsaat tertentu anak-anak sekolah pun harus menyanyikan
lagu- lagu bernafaskan Budha dan kepada guru harus
menyembah dengan sembah Budha.

KESIMPULAN
Perkembangan Islam di Thailand bersumber dari perantaraan pedagang
yang berasal dari Arab dan India. Muslim Thailand dibedakan menjadi 2;
masyarakat muslim imigran (pendatang) yang berlokasi di kota Bangkok
dan Chiang Mai (Thailand tengah dan utara), dan masyarakat muslim
penduduk asli, yang berada di Pattani (Thailand selatan). Penduduk yang
beragama Islam di Thailand pada tahun 2010 hanya 4,6% namun saat ini
sudah mencapai 10%. Thailand merupakan negeri yang bebas. Raja
dianggap sebagai keturunan dewa sehingga mereka menjadikannya
sesembahan. Biksu pun mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa.