Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ILMU RESEP

Tentang Supositoria

Di susun oleh :
Intan Oktavilia Putrinda
XI-F4

SMK BINA PUTERA NUSANTARA TASIKMALAYA

A. Definisi Suppositoria
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, berbentuk torpedo, dapat
melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh. (Moh. Anief. 1997)

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui
rectal, vagina atau uretra. (Farmakope Indonesia Edisi IV)
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo,
dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh. ( Farmakope Indonesia Edisi III)
Suppositoria adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada suhu tubuh, digunakan
dengan cara menyisipkan ke dalam rectum, berbentuk sesuai dengan maksud penggunaannya,
umumnya berbentuk torpedo. (Formularium Nasional)
Jadi, suppositoria dapat didefinisikan sebagai suatu sediaan padat yang berbentuk torpedo yang
biasanya digunakan melalui rectum dan dapat juga melalui lubang di area tubuh, sediaan ini
ditujukan pada pasien yang mudah muntah, tidak sadar atau butuh penanganan cepat.
Menurut FI edisi III hal 32
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo,
dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.
b.
Menurut FI edisi IV hal 16
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot bentuk, yang diberikan melalui rektal,
vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
c.
Menurut RPS 18 th hal 1609
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang memiliki berat dan bentuk yang bervariasi,
biasanya penggobatan dilakukan dengan dimasukan dalam rektum, vagina dan uretra. Setelah
pemasukan suppositoria akan menjadi lembut atau lunak, melebur dalam cairan pencernaan.
d.
Menurut Parrot hal 382
Suppositoria adalah suatu bentuk unit sediaan yang dimaksudkan untuk dimasukan kedalam
rektum, vagina dan uretra. Suppositoria melebur, melunak, dan melarut dalam suhu tubuh.
e.
Menurut R.Voight hal 281
Suppositoria adalah sediaan bentuk silindris atau kerucut berdosis dan berbentuk mantap yang
ditetapkan untuk dimasukan kedalam rektum, sediaan ini melebur pada suhu tubuh atau larut
dalam lingkungan berair.
f.
Menurut FN hal 333
Suppositorium adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada suhu tubuh, digunakan
dengan cara menyisipkan kedalam rektum, berbentuk sesuai dengan maksud penggunaan,
umumnya berbentuk terpedo.
g.
Menurut Ilmu Meracik Obat hal 158
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur berbentuk terpedo, dapat
melunak, melarut, atau meleleh pada suhu tubuh.
h. Menurut Ansel hal 576
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaianya dengaan cara memasukkan
kedalam lubang atau celah dalam tubuh dimana ia akan melebur, melunak atau larut dan
memberikan efek lokal atau sistemik.
i.
Menurut Lachman hal 1147
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang umumnya dimaksudkan untuk dimasukan
kedalam rektum, vagina, dan jarang digunakan untuk uretra. Suppositoria rektal dan urektal
biasanya menggunakan pembawa yang meleleh, atau melunak pada temperatur tubuh, sedangkan
suppositoria vaginal kadang-kadang disebut pessaries, juga dibuat dengan tablet kompressi yang
hancur dalam cairan tubuh.

j.
Menurut Dom Hoover hal 163
Suppositoria adalah sediaan obat padat dengan berbagai ukuran dan bentuk yang penggunaanya
dengan diselipkan kedalam bagian tubuh biasanya melalui rektum, vagina atau uretra.
k.
Menurut Dom Marthin hal 834
Suppositoria adalah sediaan padat yang diberikan melalui bagian tubuh yakni vagina, rektum, atau
uretra.

B. Macam-macam Suppositoria
a. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria
rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam.
Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung
kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g
untuk yang menggunakan basis oleum cacao (Ansel, 2005).
b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti
kerucut, sesuai kompendik resmi beratnya 5 g, apabila basisnya oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juuga disebut bougie, bentuknya rampiung seperti pensil,
gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris
tengah 3-6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan
yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 g. Suppositoria untuk saluran urin
wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm dan beratnya 2 g, inipun
bila oleum cacao sebagai basisnya.
d. Suppositoia untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk sama
dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm.
Suppositoria telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin.
Seperti dinyatakan sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang jarang
digunakan.

C. Tujuan Penggunaan Supositoria


1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane
mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak
memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat
diserap oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).

D. Keuntungan dan Kerugian Supositoria

1. Keuntungan Supositoria:
a. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
b. Dapat menghindari keruskan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.
c. Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih
cepat daripada penggunaan obat peroral.
d. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.
2.Kerugian Supositoria:
a. Pemakaiannya tidak menyenangkan.
b. Tidak dapat disimpan pada suhu ruang.

E. Persyaratan Supositoria
Sediaan supositoria memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut
(persyaratan kerja obat).
2. Pembebasan dan responsi obat yang baik.
3. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, pewarnaan,
penegerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik, dan stabilitas yang memadai
dari bahan obat).
4. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.

F. Basis supositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan melebur, melarut dan
terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan peranan penting. Maka dari itu basis
supositoria harus memenuhi syarat utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan
akan melebur maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang
dikandungnya dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek terapi lokal
maupun sistemik. Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai beberapa sifat seperti
berikut:
1. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
2. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
3. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta pemisahan
obat.
4. Kadar air mencukupi.
5. Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus
diketahui jelas.

G. Persayaratan Basis Suppositoria


1. Secara fisiologi netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini dapat disebabkan
oleh massa yang tidak fisiologis ataupun tengik, terlalu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang
diracik).
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat).
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil).
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat berlangsung cepat

dalam cetakan, kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan mendaak dalam cetakan).


5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih (ini dikarenakan
untuk kemantapan bentuk dan daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap
stabil).

H. Macam-macam Basis Suppositoria


1. Basis berlemak, contohnya: oleum cacao.
2. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak: campuran tween dengan gliserin laurat.
3. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya: gliserin-gelatin, PEG (polietien glikol).

I. Bahan Dasar Supositoria


1. Bahan dasar berlemak: oleum cacao
Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang khas dan
bersifat polimorf (mempunyai banyak bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu sektiras 30C
akan mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34-35C, sedangkan dibawah 30C berupa
massa semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti
minyak dan akan kehilangan semua inti kristal menstabil.
Keuntungan oleum cacao:
a. Dapat melebur pada suhu tubuh.
b. Dapat memadat pada suhu kamar.
Kerugian oleum cacao:
a. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).
b. Titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila ditambahkan dengan
bahan tertentu.
c. Meleleh pada udara yang panas.
2. PEG (Polietilenglikol)
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot molekul antara 300-6000. Dipasaran
terdapat PEG 400 (carbowax 400). PEG 1000 (carbowax 1000), PEG 1500 (carbowax 1500), PEG
4000 (carbowax 4000), dan PEG 6000 (carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk cair,
sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Formula PEG yang dipakai sebagai
berikut:
1. Bahan dasar tidak berair: PEG 4000 4% (25%) dan PEG 1000 96% (75%).
2. Bahan dasar berair: PEG 1540 30%, PEG 6000 50% dan aqua+obat 20%.
Titik lebur PEG antara 35-63C, tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan
sekresi tubuh.
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Tidak mengiritasi atau merangsang.
2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan oleum cacao.
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh.
Kerugian jika digunakan sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga timbul rasa yang
menyengat. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan supositoria ke dalam air
dahulu sebelum digunakan.

2. Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.


Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar, lalu
dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak
coklat.

J. Faktor-faktor yang mempengaruhi Absobsi Obat per Rektal


Rektum mengandung sedikit cairan dengan PH 7,2 dan kapasitas dapar rendah. Epitel rektum
sifatnya berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel terhadap obat yang tidak terionisasi
(obat yang mudah larut lemak).

K. Nilai Tukar
Nilai tukar adalah nilai yang digunakan untuk mengurangi kadar zat aktif. Tujuan dari
pengurangan zat aktif adalah meminimalisir over dosis yang ditimbulkan. Karena zat aktif yang
tertera pada literature merupakan kadar zat aktif yang digunakan secara oral, maka pada
penggunaan untuk rectal kadar zat aktif harus dikurangi. Hal ini berkaitan dengan proses
farmakokinetik di dalam tubuh. Untuk obat-obat oral prosesnya melalui ADME sedangkan untuk
obat-obat lokal (suppo) prosesnya tidak melalui ADME melainkan langsung diserap oleh
permukaan mukosa rectal, kemudian masuk ke pembuluh darah selanjutnya masuk ke dalam
sirkulasi darah. Oleh karena itu, jika zat aktif masih menggunakan dosis oral, maka dikhawatirkan
terjadi over dosis pada pasien.
Pada pembuatan supositoria menggunakan cetakan, volume supositoria harus tetap. Tetapi,
bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya ekstrak
belladonea dan garam alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot minyak cokelat yang mempunyai volume yang
sama dengan 1g obat. Berikut adalah tabel nilai tukar:
Nama Obat

Nilai tukar ol cacao per 1g

Acidum boricum

0.65

Garam alkaloid

0.7

Bismuth subgallas

0.37

Ichtammolum

0.72

Tanninum

0.68

Aethylis aminobenzoas

0.68

Aminoplhylinum

0.86

Bismuth subnitras

0.20

Sulfonamidum

0.60

Zinci oxydum

0.25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali untuk garam Bismuth dan
Zincy Oxydum. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap satu. Bila supositoria mengandung obat

atau zat padat yang banyak, pengisian pada cetakan berkurang dan jika dipenuhi dengan campuran
massa, akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat
supositoria yang sesuai dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar.

L. Uji Bahan Aktif


1. Titik lebur
Titik lebur adalah suhu di mana zat yang kita uji pertama kali melebur atau meleleh seluruhnya
yang ditunjukan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam analisa farmasi titik lebur untuk
menetapkan karakteristik senyawa dan identifikasi adanya pengotor. Untuk uji titik lebur di
butuhkan alat pengukuran titik lebur yaitu, Melting Point Apparatus (MPA) alat ini digunakan
untuk melihat atau mengukur besarnya titik lebur suatu zat.
2. Bobot jenis
Bobot jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25 terhadap bobot air dengan
volume dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi
bobot jenis dengan bobot air dalam piknometer. Lalu dinyatakan lain dalam monografi keduanya
ditetapkan pada suhu 25. (FI IV hal 1302). Bobot jenis dapat digunakan untuk:
Mengetahui kepekaan suatu zat
Mengetahui kemurniaan suatu zat
Mengetahui jenis zat
Piknometer untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat berbeda dengan zat
cair, zat padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis tidak dapat terdefinisi dengan jelas.
Berat jenis sejati merupakan berat jenis yang dihitung tanpa pori atau rongga ruang. Sedangkan
berat jenis nyata merupakan berat jenis yang di hitung sekaligus degan porinya sehingga nyata <
sejati.
2.9 Metode Pembuatan
Pembuatan supositoria secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang digunakan dipilih agar
meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan dasar, jika perlu dipanaskan. Jika obat
sukar larut dalam bahan dasar, harus dibuat serbuk halus. setelah campuran obat dan bahan dasar
meleleh atau mencair, tuangkan ke dalam cetakan supositoria kemudian didinginkan. Tujuan
dibuat serbuk halus untuk membantu homogenitas zat aktif dengan bahan dasar.
Cetakan suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam lainnya, namun ada juga
yang terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan
supositoria. Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan, supositoria harus
dibuat berlebih (10%), dan sebelum digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan
parafin cair atau minyak lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap Liniment) agar sediaan tidak
melekat pada cetakan. Namun, spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk supositoria yang
mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti
digunakan oleum recini dalam etanol. Khusus supositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween
bahan pelicin cetakan tidak diperlukan, karena bahan dasar tersebut dapat mengerut sehingga
mudah dilepas dari cetakan pada proses pendinginan.
Metode pembuatan supositoria dibagi menjadi 3 yaitu:
a.
Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung

zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan
bahan-bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh massa akhir yang
homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan
garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada
tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya diruncingkan.
b.
Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang
dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang
diisikan dalam silinder, sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
c.
Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau
disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah
didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
2.10 Pengemasan Supositoria
a. Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam wadah gelas
ditutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria.
b. Supositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau
dipisahkan satu sama lain pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah perekatan.
c. Supositoria dengan kandungan obat yang sedikit lebih pekat biasnya dibungkus satu per satu
dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal (alumunium foil).

M. Evaluasi Sediaan
Pengujian sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1. Uji homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur rata dengan
bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi proses
absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara menguji
homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau kanantengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah
mikroskop, cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.
2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti sediaan
suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan tersebut
bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan keyakinan
pada pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria merupakan sediaan
padat yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji waktu hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat hancur
dalam tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan dalam air yang di set sama dengan suhu
tubuh manusia, kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu hancurnya 15
menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan
tersebut belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Mengapa menggunakan media
air? Dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.

4. Keseragaman bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama atau
belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap
kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan
ditimbang saksama 10 suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil
penetapan kadar, yang diperoleh dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari
masing-masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat
sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat dalam
keseragaman bobot. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan yang
terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek terapi yang
sama pula.
5. Uji titik lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan supositoria
yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan suhu 37C.
Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati waktu leburnya. Untuk basis oleum
cacao dingin persyaratan leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG 1000 adalah 15 menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya sukar
meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria dipotong horizontal.
Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar, dengan jarak tidak
kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang
2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam tabung.
7. Volume Distribusi
Volume distribusi (Vd) merupakan parameter untuk untuk menunjukkan volume penyebaran obat
dalam tubuh dengan kadar plasma atau serum. Volume distribusi ini hanyalah perhitungan volume
sementara yang menggambarkan luasnya distribusi obat dalam tubuh.
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen yang terduru dari plasma atau serum, dan Vd adalah
jumlah obat dalam tubuh dibagi dengan kadarnya dalam plasma atau serum.
Keterangan :
X = jumlah obat dalam tubuh
C = kadar obat dalam plasma atau serum
DIV = dosis obat dalam pemberian IV
Doral
= dosis obat dalam pemberian oral
F = fraksi dosis oral yang mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk
aktif.
= bioavailabilitas absolute obat oral
Co= kadar plasma atau serum pada waktu T = 0 (ekstrapolasi garis eliminasi ke t = 0 )
Besarnya Vd ditentukan oleh ukuran dan komposisi tubuh, kemampuan molekul obat memasuki
berbagai kompartemen tubuh, dan derajat ikatan obat dengan protein plasma dan dengan berbagai
jaringan. Obat yang tertimbun dalam jaringan mempunyai kadar dalam plasma yang rendah sekali
sedangkan Vd nya besar (misalnya, digoksin). Untuk obat yang terikat dengan kuat pada protein
plasma mempunyai kadar plasma yang cukup tinggi dan mempunyai Vd yang kecil (misalnya,
warfarin, tolbutamid dan salisilat).
2.12Monografi

Monografi bahan dalam pembuatan sediaan supositorian adalah sebagai berikut:


1. Aminophyllinum, Teofilin Etilendiamin (FI IV hal 90)
Pemerian: butir atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau ammonia lemah, rasa pahit. Jika
dibiarkan di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilenadiamina dan menyerap karbon
dioksida dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap kertas lakmus.
Kelarutan: tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1 g dalam 25 air menghasilkan larutan
jernih, larutan 1 g dalam 5 ml air menghablur jika didiamkan dan larut kembali jika ditambah
sedikit etilenadiamina.
Khasiat: obat asma.
2
Bisakodil, Bisacodylum (FI IV hal 144)
Pemerian: serbuk hablur, putih sampai hampir putih, terutama terdiri dari partikel dengan diameter
terpanjang lebih kecil dari 50 m.
Kelarutan: praktis tidak larut dalam air, larut dalam kloroform, dan dalam benzene, agak sukar
larut dalam etanol dan dalam methanol, sukar larut dalam eter.
Khasiat: obat laksativum atau memperlancar BAB.
3. Oleum Cacao (FI-III hal 453)
Lemak coklat adalahcoklat padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theo Broma Cacao
L. yang telah dikupas/ dipanggang.
Pemerian: lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic, rasa khas lemak agak rapuh.
Kelarutan: sukar larut dalam etanol (95 %)P, mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P dan
dalam eter minyak tanah P.
Suhu lebur: 310 340 C.
Khasiat: zat tambahan.
2.13 Alasan Pemilihan Bahan
a. Amynophyllinum
Sebagai bahan aktif yang berkhasiat untuk mengobati asma, zat aktif ini dibuat dalam bentuk
suppositoria karena untuk asma membutuhkan penanganan yang cepat. Efek terapi yang diberikan
jika sediaan dalam bentuk suppositoria lebih cepat daripada dalam bentuk oral. Sediaan dalam
bentuk oral, kerja obatnya harus melalui absorbsi terlebih dahulu, sedangkan sediaan suppositoria
tidak melalui absorbsi sehingga efek terapi yang diberikan akan lebih cepat.
b. Oleum Cacao
Oleum Cacao berdaya guna dalam melepaskan zat aktif daripada yang lain, karena mempunyai
titik lebur pada suhu 31-34. Dibuat dalam bentuk suppositoria ditujukan untuk melebur pada
suhu tubuh, karena oleum cacao digunakan sebagai bahan dasar suppo yang ketambahan zat aktif,
jadi titik leburnya akan menjadi 35-37. Obat yang larut dalam air yang dicampur dengan oleum
cacao, pada umumnya memberi hasil pelepasan yang baik. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi:
581). Pada bahan tambahan oleum cacao ini dilebihkan 10% pada basisnya, sebab basis saat
dileburkan selain melebur juga menguap, sehingga berkurang. Selain itu saat di dinginkan basis
akan menyusut dan berkurang oleh karena itu harus dilebihkan 10% pada basisnya.
c. Bisakodil
Sebagai bahan aktif yang berkhasiat untuk menghilangkan rasa nyeri pada buang air besar. Dibuat

dalam bentuk suppositoria karena bentuk sediaan ini akan membantu memberikan efek terapi yang
lebih cepat dari pada dalam bentuk oral. Sediaan dalam bentuk oral, kerja obat harus melalui
absorbsi terlebih dahulu, sedangkan sediaan suppositoria tidak melalui absorbsi sehingga efek
terapi yang diberikan akan lebih cepat.
2.14 Cara pemberian
Pemberian obat dengan sediaan suppositoria dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum
dalam bentuk suppositoria
Petunjuk pemakaian: cuci tangan sampai bersih, buka pembungkus suppositoria, kemudian tidur
dengan posisi miring. Supositoria dimasukkan ke rektum dengan cara bagian ujung supositoria
didorong dengan ujung jari, kira-kira -1 inci pada bayi dan 1 inci pada dewasa, bila perlu ujung
supositoria di beri air untuk mempermudah penggunaan. Untuk nyeri dan demam satu supositoria
diberikan setiap 46 jam jika diperlukan. Gunakan supositoria ini 15 menit setelah buang air
besar atau tahan pengeluaran air besar selama 30 menit setelah pemakaian supositoria.
Hanya untuk pemakaian rektal. Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika sakit berlanjut
hingga 3 hari. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jika tertelan atau terjadi over dosis segera
hubungi dokter
Ovulae / Ovula
Ovula adalah sediaan padat , umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan
meleleh pada suhu tubuh, dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina.
Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.
Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai
perbandingan. Bobot ovula adalah 3 - 6 gram, umumnya 5 gram. Ovula disimpan dalam wadah
tertutup baik dan ditempat yang sejuk.
Menurut FI IV, supositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut atau dapat
bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi memiliki bobot 5 g. Supositoria
dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi ( 70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan 10 bagian air)
harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu di bawah 35C.