Anda di halaman 1dari 15

TAMENAGA SHUNSUI

NIHON BUNGAKU NYUMON


Dosen: Budi Rukhyana, M.A

Disusun oleh:
Miftahul Khoeriyah 180610130043

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG


FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR
2014

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt. karena berkat ijin-Nya lah saya bisa menyusun makalah ini.
Shalawat serta salam juga tak lupa saya ucapkan kepada nabi kita, nabi Muhammad Saw. Tak
lupa saya berterima kasih kepada bapak Budi Rukhyana, M.A atas bimbingannya hingga
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Nihon Bungaku
Nyumon. Di dalamnya dibahas tentang seorang tokoh kesusastraan Jepang pada zaman Edo yang
mempolularkan ninjoobon, salah satu jenis novel popular pada waktu itu, bernama Tamenaga
Shunsui. Akan dibahas tentang kehidupan yang dia jalani pada masa itu, dan karya-karyanya.
Tapi saya lebih memfokuskan pembahasan pada jenis karyanya yaitu ninjoobon dan karyanya
yang paling popular yaitu Shunshoku Umegoyomi. Dalam makalah ini disajikan pula bagian
cerita singkat yang ada dalam Shunshoku Umegoyomi.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka saya sebagai penulis memohon kritik
dan saran kepada pembaca khususnya kepada dosen mata kuliah Nihon Bungaku Nyumon,
Bapak Rukhyana M,A. Akhir kata saya mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk
kedepannya khususnya untuk mata kuliah Nihon Bungaku Nyumon.

Jatinangor, November 2014

Miftahul Khoeriyah

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 0
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 3
a.

Latar Belakang ..................................................................................................................... 3

b.

Rumusan Masalah ................................................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4


a.

Tamenaga Shunsui ...................................................................................... 4

b.

Ninjoobon ....................................................................................................... 5

c.

Shunshoku Umegoyomi ....................................................................................................... 9

PERTANYAAN DAN JAWABAN ............................................................................................. 12


REFERENSI ................................................................................................................................. 14

BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kesusastraan zaman pra-modern atau Kinsei Bungakuterbagi menjadi dua
bagian. Pertama, masa awal, yang terdiri dari masa pencerahan dari tahun Keichoo sampai tahun
Kanbun (1609 1666) dan masa perkembangan sekitar zaman Genroku (1688 1703). Kedua,
masa akhir yang terbagi atas masa kebangkitan dari tahun An-ei sampai tahun Tenmei (1773 1782) dan masa kematangan dari tahun Bunka sampai tahun Bunsei (1804 -1819).
Pada tahun Bunka dan Bunsei kesusastraan jenis novel seperti Yomihon dan Kusazooshi,
Kokkeibon dan Ninjoobon yang berasal dari Sharebon digemari orang pada zaman Edo.
Pengarang yang terkenal pada zaman itu adalah Santoo Kyooden, Jippensha Itsuku, Shikitei
Sanba, Tamenaga Shunsui dan Takizawa Bakin.
Di kesempatan kali ini, akan dibahas seorang tokoh bernama Tamenaga Shunsui yang
mempopulerkan Ninjoobon pada akhir zaman Edo.
b. Rumusan Masalah

1. Tamenaga Shunsui dan karyanya.


2. Ciri-ciri khas dari ninjoobon

yang membedakannya dari sharebon,yomihon dan

karya-karya lain yang popular pada saat itu.


3. Apa yang menyebabkan Shunshoku Umegoyomi popular di masyarakat pada zaman
itu.

BAB II PEMBAHASAN
a. Tamenaga Shunsui
Tamenaga Shunsuiadalah nama pena dari Sasaki Sadataka
, seorang penulis novel pada jaman Edo. Ada dua Tamenaga Shunsui, yaitu Tamenaga
Shunsui Senior dan Tamenaga Shunsui Junior, tapi pada umumnya yang dimaksud Tamenaga
Shunsui adalah Tamenaga Shunsui Senior.
Tamenaga Shunsui lahir dari keluarga biasa di jaman Edo pada tahun 1790. Selama
hidupnya, dia menerbitkan beberapa karya-karya yaitu:
1.

Shunshoku Umegoyomi(Color of Spring: The Plum Calendar)


(1832-1833);

2. Shunshoku Tatsumi no Sono (Color of Spring: The Pleasure


Quarters in the Northeast) (1833-1835);
3. Shunshoku Eitadango
4. Shunshoku Megumi no Hana(Color of Spring: Grace of Flowers)
(1838);
5. Shunshoku Umemibune(1841-1842);
6. Iroha Bunko .
Ciri pertama dari karyanya adalah ninjoo , menurut Shunsui ninjoo adalah rasa
sukacita yang bodoh dan dapat terjadi pada insan laki-laki maupun perempuan. Shunsui sukses
dalam mendeskripsikan kerumitan mental manusia dalam karya-karyanya. Gaya ini diteruskan

oleh Tsubouchi Shoyo pada Era Meiji dan sangat mempengaruhi penyatuan gaya bahasa lisan
dan tulisan.

b. Ninjoobon
Ninjoobon pertama kali muncul di tahun Bunsei
(1818 1830) dan mencapai puncaknya pada tahun
Tenpoo (1830 1844). Sekitar tahun 1820, masyarakat
mulai bosan dengan bacaan sindiran, sinisme yang
terdapat dalam sharebon dan secara perlahan digantikan
dengan sewa-yomihon atau buku yang menceritakan
tentang kehidupan masyarakat pada jaman tersebut.

Figure 1 Cover Shunshoku Umegoyomi, National Diet Library

Pada awalnya, Shunsui mencoba menulis nakibon 1 sebelum tahun 1930 tapi tidak
berhasil. Dan pada tahun 1833, dalam Shunshoku Umegoyomi, Shunsui berhasil menemukan
kombinasi yang tepat untuk karya yang inin ditulisnya. Dengan sukses Shunsui memasukan
elemen sharebon ke dalam kerangka nakibon untuk menciptakan suatu cerita tentang kehidupan
pada jaman itu dengan lebih menekankan pada emosi, perasaan, dan cinta, terutama dari
perspektif seorang wanita.
Ninjoobon mendeskripsikan lebih banyak aspek tambahan tentang kehidupan di kota Edo
dibandingkan sharebon. Pada dasarnya secara stuktural sharebon adalah cerita pendek atau
sketsa dengan plot yang sedikit. Berbeda dengan ninjoobon yang mengkombinasikan elemen dari
1

Secara harfiah: books to cry by atau buku yang akan membuat pembacanya menangis.

novel sentimental dan romantisme, plot dan konflik yang dramatik dan dikembangkan secara
luas menjadi cerita berseri. Biasanya, seorang pria dan wanita yang sedang jatuh cinta akan
dihalangi dengan berbagai macam rintangan, terutama rival yang tidak dinginkan dan
menghasilkan situasi yang sangat menyedihkan, tapi pada akhirnya pria dan wanita itu berusaha
untuk mengatasi rintangan tersebut. Ciri utama dari sharebon dan ninjoobon adalah dialog, tapi
dalam Shunshoku Umegoyomi, Shunsui juga menambahkan komentarnya yang terpisah dari
dialog dan lansung ditujukan untuk para pembaca.
Ninjoobon melukiskan cinta dan penderitaan wanita profesional yang meskipun wanita
itu sadar bahwa pria yang di cintainya itu orang yang kurang cakap, tapi dia tetap mencintainya
dan tidak bisa meninggalkannya. Pemeran utama seperti Tanjiroo di Shunshoku Umegoyomi
pada kenyataannya adalah seorang lemah yang harus diselamatkan oleh seorang wanita.
Ninjoobon

menyuguhkan

kedalaman

emosi

manusia

kesenangan,

penderitaan,

dan

kecemburuan, sebagai konsekuensi dari perasaan jatuh cinta serta perasaan tak tahu malu.
Di dalam sharebon, sikap pengarang pada karakter cerita cenderung mengkritik dan tidak
memihak, namun dalam ninjoobon, Tamenaga Shunsui menyikapinya dengan simpati,
pengertian, bahkan mengikutsertakan perasaannya dalam cerita. Hal ini dilakukan terutama pada
karakter pelacur, geisha, dan kolega-kolega perempuannya, agar para pembaca sadar bahwa
walau bagaimanapun mewahnya kehidupan luar atau profesi seseorang, mereka mungkin
menyembunyikan penderitaan dalam diamnya.
Berbeda dengan sharebon yang ditujukan untuk para pembaca laki-laki, ninjoobon ini
ditujukan untuk pembaca perempuan, baik yang bekerja dengan berbagai macam profesi ataupun
wanita muda yang tinggal di rumah. Timbulnya jenis sastra ini khususnya ditujukan untuk wanita,

karena pada zaman awal sejarah kesusastraan sampai awal abad 19, sastra hanya ditujukan untuk
pembaca pria atau umum saja. Pada umumnya, wanita hanya hidup di lingkungan sosial yang
lebih kecil dari pada pria dan kurang mendapatkan pendidikan formal. Wanita mengenal dunia
dari teater dan cerita cinta. Wanita selalu membaca cerita fiksi, tapi di abad 18, wanita menjadi
keranjingan membaca naskah joruji 2 seperti kusazooshi 3 dan kibyooshi. Gookan juga popular
bersamaan dengan ninjoobon, ditujukan pada pembaca perempuan dan menggunakan kombinasi
gambar dan teks untuk membuat pembaca seperti melihat dunia kabuki. Tidak seperti yomihon
dan gookan, yang menceritakan masa lalu berupa drama sejarah (jidaimono) dan pada umumnya
menekankan pada kewajiban, ninjoobon fokus pada permasalahan cinta di kehidupan sehari-hari
masyarakat.
Shunsui tertarik pada wanita yang mempunyai iki (having spirit) yang artinya penuh
semangat tanpa memilih-milih bergaul dengan siapa saja, tangguh dengan tetap menjaga
perasaan orang lain, praktis dengan tetap menjaga kesopanannya, halus tingkah lakunya tanpa
mudah terpengaruh, dan berani untuk mengalah. Seorang wanita dengan iki bisa bermain-main
dengan pria yang merupakan alat penting untuk bertahan hidup di dunia hiburan Fukugawa
tapi wanita itu juga harus punya keinginan kuat, professionalitas, harga diri, perasaan simpati,
sesuatu di dalam dirinya yang membedakannya dari yang lain, wanita yang tidak berpengalaman.
Di dunia di mana wanita harus berkompetisi dalam mendapatkan seorang pria, mereka harus
mempunyai sikap yang lembut dan punya budi pekerti yang baik untuk menarik perhatian lakilaki, tapi juga cukup tangguh dan teguh untuk mengatasi saingan dan berbagai kesulitankesulitan yang datang.

2
3

Teater Boneka Joruji


Buku bergambar

Shunsui mengenali kesulitan para wanita Jepang di abad ke-19: status sosial yang rendah,
bahaya dan kesulitan untuk hidup mandiri, dan pengorbanan yang masyarakat paksakan pada
mereka. Di waktu yang sama, Shunsui sepertinya sudah mengerti apa yang wanita pikirkan pada
saat itu, dan memberikan mereka figur wanita sebagai tempat mengidentifikasikan diri dalam hal
prestasi, perasaan, dan penderitaan mereka. Representasi wanita yang memiliki iki pakaian,
gaya rambut, makeupyang dibuat oleh Shunsui dalam Shunshoku Umegoyomi sangat popular
sampai-sampai wanita di seluruh Jepang mencoba meniru itu semua untuk mendapatkan sebutan
iki tersebut.
Dalam usaha nyata untuk menarik pembaca wanita, dalam Shunshoku Umegoyomi,
Shunsui dengan sengaja mencoba memasukan adegan percintaan sebanyak mungkin. Adegan
percintaannya tidak ditampilkan dengan adegan percakapan atau seks dengan prostitusi yang
secara kebetulan bertemu seperti yang ada pada sharebon namun dilukiskan dengan banyak
episode romantis dengan cinta setia dan perasaan saling menyayangi. Di dalam empat volume
Shunshoku Umegoyomi setidaknya ada satu adegan percintaan klimaks dalam masing-masing
volume. Mungkin dalam usahanya untuk melindungi dirinya dari hukuman penganut
Konfusianisme dan tuduhan pornografi, Shunsui punya narasi yang langsung mengarah pada
pembaca, memperlihatkan bahwa perasaan kasihan dan kesetiaan adalah intisari dari ninjoo.
Sebagai tambahan, Shunsui sering membela kesalahan karakter wanitanya, menunjukan
kebaikan yang kadang terlepas dari pikiran sang pembaca. Tentu saja, aspek menarik dalam
Shunshoku Umegoyomi adalah ketegangan antara komentar pengarang dan dunia karakter yang
ada di dalamnya. Selama adegan percintaanya bisa diterjemahkan sebagai gambaran dari
kesetiaan, wanita muda yang membaca tidak perlu merasa bersalah membaca topik terlarang
tersebut, dan Shunsui pun bisa terhindar dari kritikan.
8

Namun pada akhirnya ketakutannya yang paling besar menjadi kenyataan. Pada tahun
1842 Shunsui dihadapkan ke pengadilan oleh wakil pemerintah Mizuno Tadakuni, dia ditangkap
pada masa pemerintahan Tokugawa Bakufu karena karyanya melanggar kebijaksanaan
Reformasi Tenpo 4 . Shunsui meninggal pada tahun 1844, dan sejak saat itu buku bacaan ini
menghilang dari peredaran.

c. Shunshoku Umegoyomi

Figure 2: Shunshoku Umegoyomi memperkenalkan nama-nama tokohnya.

Shunshoku Umegoyomi adalah cerita yang mengisahkan seorang anak muda tampan yang
tidak mempunyai kemauan dicemburui oleh tiga orang wanita bernama Ochoo, sebagai calon
istrinya, Yonehachi dari Fukugawa, yang saling salah pengertian. Kalimatnya banyak
menggunakan bentuk percakapan sehingga dapat diketahui melalui percakapan tersebut watak
dari masing-masing tokoh.

Reformasi Tenpoo diadakan oleh Mizuno Tadakuni. Khususnya undang-undang pembatasan dunia hiburan di
laksanakan olehnya, dan saat dia keluar dari pemerintahan pada tahun 1845, undang-undang tersebut berhenti
dilaksanakan.

Karakter:
TANJIROO, seorang anak yang diadopsi oleh mantan manajer Karakotoya House (sejenis
tempat hiburan/prostitusi); hak anak asuhnya dicabut secara tidak sah dan diadopsi oleh
keluarga lain yang mempunyai hutang besar dan pada akhirnya harus bersembunyi di
suatu tempat; dicintai oleh Yonehachi dan Ochoo.
YONEHACHI, seorang geisha di Karakotoya House; selajutnya dia hidup sebagai geisha
independen di Fukagawa, daerah pinggiran Edo, agar lebih dekat dengan Tanjiroo, yang
dia cintai dan dia dukung; pada akhirnya dia menjadi kekasih Tanjiroo, dan berbaikan
dengan Ochoo.
OCHOO, anak perempuan satu-satunya mantan manajer Karakotoya House; tunangan Tanjiroo;
korban kekerasan Kihei dan bersahabat dengan Oyoshi; menjadi penyanyi gidayu di
bawah nama Take Chookichi; pada akhirnya menikah dengan Tanjiroo.
KONOITO, pelacur kelas tinggi di Karakotoya House yang sering membantu Yonehachi dan
Ochoo.
OYOSHI, seorang bos wanita tangguh yang bekerja sebagai penata rambut wanita,
menyelamatkan Ochoo dari serangan; saudara perempuan Konoito yang hilang.
KIHEI, kepala pelayan laki-laki yang mengambil alih Karakotoya House setelah sang manajer
meninggal dan mengirim Tanjiroo keluar.
TOOBEI, pelanggan special sekaligus kekasih Konoito yang menunjukan simpati besar dan
menjadi penolong bagi keempat karakter wanita.

10

Cerita singkat:
Setelah manajer Karakotoya House yang mengadopsi Tanjiroo meninggal, Kihei sebagai
kepala pelayan disana mengambil alih semuanya. Dia mengirim Tanjiroo untuk diadopsi oleh
keluarga lain yang ternyata memiliki banyak hutang, dan pada akhirnya Tanjiroo harus
mengalami penderiataan tinggal sendirian untuk bersembunyi dari para penagih hutang.
Yonehachi yang sangat mencintai Tanjiroo mendengar kabar burung akan keberadaannya, dan
dia memutuskan untuk menemui Tanjiroo, akhirnya mereka bertemu setelah sekian lama.
Melihat kondisi Tanjiroo, Yonehachi memutuskan untuk keluar dari Karakotoya House, bekerja
menjadi geisha di Fukugawa dan tinggal bersama Tanjiroo.
Ochoo yang merupakan anak mantan manajer Karakotoya dan sekaligus tunangan
Tanjiroo sering mendapat perlakuan tidak senonoh dari Kihei, dia pun memutuskan untuk pergi
dari tempat itu dan menghirup udara kebebasan. Dia diadopsi dan menjadi adik angkat Oyoshi.
Dia pun mulai meniti karir dengan belajar shamisen dan nyanyian joruji.
Pada suatu waktu Tanjiroo dan Ochoo dipertemukan kembali, sempat ada konflik di
antara Ochoo dan Yonehachi yang memperebutkan Tanjiroo. Selama ini Tanjiroo tinggal
bersama dengan Yonehachi namun itu hanya karena Yonehachi lah yang selama ini membiayai
kehidupan Tanjiroo, dan karena itu Tanjiroo merasa tidak enak bila harus meninggalkan
Yonehachi begitu saja. Tapi meskipun begitu, Tanjiroo tetaplah menyukai Ochoo dan status
hubungan mereka pun masih sebagai tunangan, dan pada akhirnya Tanjiroo lebih memilih Ochoo,
temannya sejak kecil, dan menikah dengannya.

11

PERTANYAAN DAN JAWABAN


Pertanyaan dan Jawaban pada presentasi tanggal 5 Oktober 2014:
1. Yessi Winnes Adrissa (180610130054)
Pertanyaan: Apa yang mempengaruhi Tamenaga Shunsui menulis karyanya tentang
perasaan wanita, sedangkan dia sendiri adalah seorang laki-laki?
Jawaban: Di zaman itu, wanita mengalami banyak kesulitan hidup, dalam hal pendidikan,
pekerjaan maupun hiburan. Pada saat itu karya seperti sharebon popular, sharebon lebih
diutamakan sebagai bacaan untuk pria. Tamenaga Shunsui melihat celah itu dan berusaha
menyajikan karya yang dikhususkan untuk bacaan perempuan.

2. Annisa Ulfa (180610130064)


Pertanyaan: Apakah Shunsui meninggal dalam tahanan?
Jawaban: Tidak, Tamenaga Shunsui ditahan pada tahun 1842, dan ditahan selama 50 hari,
dan Shunsui meninggal pada tahun 1844, jadi dia tidak meninggal dalam masa
tahanannya.

3. Fauziah Sri Rachma (180610130034)


Pertanyaan: Apa hubungan Tamenaga Shunsui Senior dan Tamenaga Shunsui Junior?
Jawaban: Salah satu karya Tamenaga Shunsui Senior (re: Sasaki Sadataka) adalah Iroha
Bunko, yaitu cerita tentang 47 ronin yang membalaskan dendam majikannya yang telah
terbunuh. Iroha Bunko terdiri dari 18 volume, dan volume 1-4 ditulis oleh Tamenaga
Shunsui Senior dan volume 5-18 ditulis oleh Tamenaga Shunsui Junior dan muridmuridnya.
12

4. Siti Nurul Wahidah (180610130036)


Pertanyaan: Kenapa dunia hiburan dan kesusastraan dibatasi oleh pemerintah pada waktu
itu?
Jawaban: Dunia hiburan dan kesusastraan pada waktu itu banyak mengandung pornografi.
Khawatir akan memperburuk moral masyarakat maka pemerintah angkat tangan dengan
membatasi kesusastraan yang beredar di masyarakat. Meskipun Tamenaga Shunsui selalu
berusaha menghindari hukuman tersebut dengan memperhalus cerita yang dia tulis, tapi
pada akhirnya dia ditangkap dan ditahan selama 50 hari.

5. Aisah Puspa Septiani Sari (180610130046)


Pertanyaan: Apakah ada cuplikan popular dari jenis karya sastra ninjoobon?
Jawaban: Cerita singkat dalam Shunshoku Umegoyomi yang mengisahkan cinta segitiga
antara Tanjiroo, Ochoo, dan Yonehachi. Dimana Tanjiroo dan Ochoo sudah bertunangan,
namun karena kesulitan ekonomi yang dialami oleh Tanjiroo maka ia terpaksa tinggal
bersama dengan Yonehachi. Tapi pada akhirnya Ochoo dan Tanjiroo bertemu kembali
dan menikah.

13

REFERENSI
Asoo, Isoji, dkk. (1983). Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihonbungakushi). (Staf Pengajar
Jurusan Asia Timur Seksi Jepang, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Terjemahan).
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
National Diet Library: Digital Collection Shunshoku Umegoyomi. ( ). Diakses pada 15 Oktober
2014, dari http://dl.ndl.go.jp/info:ndljp/pid/2559379?tocOpened=1
Ninjoobon. (2013). Diakses pada 9 Oktober 2014, dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Ninj%C5%8Dbon
Sato, Takahisa. The 47 Ronin are Introduce to The World Tamenaga Shunsui. (Columbia
University). Diakses pada 4 Oktober 2014, dari
http://www.columbia.edu/~hds2/chushinguranew/retelling/Tamenaga%2520Shunsui.htm
Shirane, Haruno. (2008). Early Modern Japanese Literature: An Anthology 1600-1900. New
York: Columbia University Press. Tersedia dari Google Books database.
Tenpoo Reform. (2013). Diakses pada 26 Oktober 2014, dari
http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenp%C5%8D_reforms&redirect=no

14