Anda di halaman 1dari 23

Pemeriksaan Fisik dan Imunisasi pada Anak

Ansarti Dalien Yigibalom


102013230
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta
Email : sarryyigibalom@gmail.com

Pendahuluan
Peristiwa tumbuh kembang pada anak meliputi seluruh proses kejadian sejak terjadi
pembuahan sampai masa dewasa. Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa
yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Dalam memaksimalkan tumbah kembang diperluakan usaha untuk mengukur
tumbuh kembang salah satunya dengan antopometri dan melindungi anak dari penyakit
infeksi dengan imunisasi. Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas anamnesis, pemeriksaan
dan penetalaksanaan yang bertujuan untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak.

Pembahasan
1. Anamnesis
Anmnesis merupakan wawancara yang seksama terhadap pasien atau keluarga dekatnya
mengenai masalah yang menyebabkan pasien mendatangi pusat pelayanan kesehatan.
Perpaduan keahlian mewawancarai dan pengetahuan yang mendalam tentang gejala
(simptom) dan tada (sign) dari suatu penyakit akan memberikan hasil yang memuaskan
dalam menentikan diagnosis kemungkinan sehingga membantu dalam menentukan langkah
pemeriksaan selanjutnya. 1
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis atau
Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan tehnik autoanamnesis yaitu
anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab
semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis
terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang
sesungguhnya dia rasakan, namun dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat
dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab

pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan
permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis
atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersamasama auto dan alloanamnesis. 1
Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas, keluahan utama, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit terdahulu, riwayat obstri dan ginekologi (khusus wanita). Riwayat penyakit
dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial
ekonomi, budaya, kebiasaaan, obat-obatan dan ingkungan). 1
Identitas anak meliputi nama, umur, jenis kelamin, nama orang tua atau anggota keluarga
terdekat sebagai penanggung jawab, alamat, pendidikan orang tua , pekerjaan orang tua, suku
bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan untuk memeastikan bahwa pasien yang
dimaksud dan sebagai data penelitian. 1
Beberapa hal penting yang penting ditanyakan dalam anamnesis untuk anak (bayi dan balita
adalah sebagai berikut:2-4

a. Anamnesis faktor pranatal dan perinatal


Merupakan faktor yang penting untuk mengetahui perkembangan anak. Anamnesis harus
menyangkut faktor risiko untuk terjadinya gangguan perkembangan fisik dan mental
anak, termasuk faktor risiko untuk bota, tuli, palsi serebralis, dll. Anamnesis juga
menyangkut penyakit keturunan dan apakah ada perkawinan antar keluarga. 2-4
b. Kelahiran prematur
Harus dibedakan antara bayi prematur (SMK = Sesuai Masa Kehamilan) dan bayi dimatur
(KMK = Kecil Masa Kehamilan) dimana telah terjadi retradasi pertumbuhan intrauterin.
Pada bayi prematur, karena dia lahir lebih cepat dari kelahiran normal, maka harus
diperhitungakn pertumbuhan intrauterin yang tidak sempat dilalui tersebut. Contoh, bayi
ahir 3 bulan prematur (umur kehamilan 6 bulan), tidak dapat dibandingkan dengan bayi
usia 6 bulan, maka yang dilakuakn adalah pemeriksaan bayi berusia 3 bulan. 2-4
c. Anamnesis harus menyangkut faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan
anak.

Misalnya untuk meneliti perkembangan motorik pada anak, harus ditanyakan berat
badanya, karena erat hubungannya dengan perkembangan motorik tersebut. Untuk
menanyakan kemampuan menolong sendiri, misalnya makan, berpakaian dll. Harus pula
ditanyakan apakah ibunya memberikan kesempatan pada anak untuk belajar itu. 2-4
d. Anamnesis kecepatan pertumbuhan anak.
Merupakan informasi yang sangat penting yang harus ditanyakan pada ibunya pada saat
kali datang. Anamnesis yang teliti tentang milestone perkembangan anak, dapat
mengetahui tingkat perkembangan anak tersebut. 2-4

2. Pemeriksaan fisik anak balita


Pemeriksaan umum meliputi status kesadaran,status gizi,tanda vital dan lain-lain, berikut
adalah pemeriksaan fisik untuk anak balita: 2-5
-

Pemeriksaan kesadaran

Tujuan pemeriksaan ini adalah menilai status kesadaran anak.nilai kesadaran meliputi dua
jenis yaitu kesadaran kualitatif dan kesadaran kuantitatif. Kesadaran kualitatif meliputi
beberapa tingkat kesadaran yaitu: komposmetis, apatis, somnolen, sopor, koma, delirium;
sedangkan untuk kesadaran kuantitatif penilaian diukur melalui penilaian skala koma
( glasgow )yang dinyatakan dengan gcs ( glasgow coma scale ).
-

Pemeriksaan status gizi

Pemeriksaan ini dilakukan degan cara seperti memeriksa atropometik, meliputi berat badan,
tinggi badan dan lingkar lengan atas.

Pemeriksaan nadi

Pemeriksaan denyut nadi dilakukan pada saat keadaan tidur/ istirahat, dengan menghitung
menggunakan arloji atau stopwatch dan dicatat.
-

Pemeriksaan tekanan darah

Tujuannya adalah menilai adanya kelainan pada gangguan sistem kardiovaskuler.


Pemeriksaan

dilakukan

dengan

prosedur

palpasi

dan

auskultasi

dengan

alat

sphygmomanometer dan stetoskop.

Pemeriksaan pernapasan

Tujuan pemerisaan pernafasan untuk menilai frekuensi pernafasan,irama,kedalam dan


tipe/polapernafasan. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan arloji untuk menghitung
frekuensinya.
-

Pemeriksaan suhu

Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan termometer suhu tubuh di beberapa tempat yaitu di
oral, rektal dan aksila.
-

Pemeriksaan kulit,kuku,rambut,kelenjar getah bening

Pemeriksaan kulit dilakukan untuk menilai warna, adanya sianosis, ikterus, ekzema, pucat,
purpura ,makula ,papula ,vesikula ,pustula ,ulkus ,turgor kulit. Pemeriksaan kuku dilakukan
dengan mengadakan inspeksi terhadap

warna, bentuk dan keadaan kuku. Pemeriksaan

rambut dilakukan untuk menilai adanya warna, kelebatan, distribusi dan karakteristik dari
rambut. Pemeriksaan kelenjar getah bening dilakukan dengan cara mempalpasi pada daerah
leher/inguinal dan daerah lain yang kelenjar getah beningnya dapat diraba.
-

Pemeriksaan kepala dan leher

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan kepala secara umum yaitu wajah, mata, telinga, hidung,
mulut, faring, laring dan leher.
,
-

Pemeriksaan dada

Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan payudarap, paru dan jantung


-

Pemeriksaan abdomen

pemeriksaan ini dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi


-

Pemeriksaan genetalia

Pemeriksaan pada laki-laki dengan cara memperhatikan ukuran, bentuk penis, testis serta
kelainan

yang

ada.

Sementara

pemeriksaan

pada

perempuan

dengan

cara

memperhatikan adanya epispadia, tanda-tanda seksual sekunder, payudara dan lainnya.


-

Pemeriksaan tulang belakang dan ekstremitas

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara inspeksi terhadap adanya kelainan tulang belakang
seperti lordosis, kifosis, skoliosis, serta perasaan nyeri tulang belakang
-

Pemeriksaan neurologis

Pemeriksaaan ini meliputi inspeksi, pemeriksaan reflek , pemeriksaan tanda maningeal dan
pemeriksaan kekuatan dan tonus otot.

3.

Pengukuran Antropometri

Pengukuran antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia dan
bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan norma-norma
untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri dilakukan pada anakanak untuk menilai tumbuh kembang anak sehingga dapat ditentukan apakah tumbuh
kembang anak berjalan normal atau tidak. Ketepatan dan ketelitian pengukuran sangat
penting dalam menilai pertumbuhan secara benar. Kesalahan atau kelalaian dalam cara
pengukuran akan mempengaruhi hasil pengamatan. 2,3,5
Pada bayi baru lahir, perlu dilakukan pengukuran antropometri seperti berat badan, dimana
berat badan yang normal adalah sekitar 2.500-3.500 gram, apabila ditemukan berat badan
kurang Bari 2.500 gram, maka dapat dikatakan bayi memiliki berat badan lahir rendah
(BBLR). Akan tetapi, apabila ditemukan bavi dengan berat badan lahir lebih dari 3.500 gram,
maka bayi dimasukkan dalam kelompok makrosomia. Pengukuran antropometri lainnya
adalah pengukuran panjang badan secara normal, panjang badan bayi baru lahir adalah 45-50
cm, pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm, pengukuran lingkar dada
normalnya adalah 30-33 cm. Apabila ditemukan diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar
dada, maka bayi mengalami hidrosefalus dan apabila diameter kepala lebih kecil 3 cm dari
lingkar dada, maka bayi tersebut mengalami mikrosefalus. 2-5

Adapun cara pengukurannya adalah sebagai berikut :


Pengukuran Berat Badan

Berat badan merupakan indikator untuk keadaan gizi anak. Gangguan pada berat badan
biasanya menggambarkan gangguan yang bersifat perubahan akut/jangka pendek. 2,3,5
Alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama: 2,3,5
Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena

perubahan konsumsi makanan dan kesehatan


Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik memberikan

gambaran pertumbuhan
Umum dan luas dipakai di Indonesia
Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur
Digunakan dalam KMS
BB/TB merupakan indeks yang tidak tergantung umur
Alat ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi ( dacin )

Ada bebrapa macam cara pengukuran berat badan yaitu: 2,3,5


o Pengukuran berat badan menggunakan timbangan menggunakan timbangan bayi :

Untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun

Letakkan timbangan pada meja datar, tidak mudah bergoyang.

Lihat jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0.

Bayi sebaiknya telanjang

Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan.

Lihat jarum timbangan sampai berhenti.

Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan.

Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca


angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan kekiri.

o Pengkuran berat badan menggunakan timbangan injak


: 2,3,5
Letakkan timbangan di lantai yang datar
Lihat jarum atau angka harus menunjuk ke 0
Anak pakai baju sehari-hari yang tipis (tidak pakai alas kaki, jaket, topi, jam

tangan, kalung, dan tidak memegang sesuatu)


Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi
Lihat jarum timbangan sampai berhenti
Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
Bila anak terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.

Pengukuran Tinggi Badan/Panjang Badan


Tinggi Badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan
skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif pada

masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap
tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama. 2,3,5
Untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri dapat menggunakan infantometer. Cara
mengukur dengan posisi berbaring yaitu
: 2,3,5
o Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang
o Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar.
o Kepala bayi menempel pada pembatas angka 0.
o Petugas 1 : ke2 tangan pegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas
angka 0 (pembatas kepala).
o Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi dengan lengan kiri bawah agar lurus,
sedangkan tangan menjaga agar posisi kaki tetap lurus (tidak fleksi ataupun
ekstensi). Tangan kanan menekan batas kaki ke telapak kaki.
o Petugas 2 membaca angka di tepi di luar pengukur.
Untuk anak yang sudah dapat berdiri dapat menggunakan microtoise. Cara mengukur pada
posisi berdiri yaitu

: 2,3,5

Anak tidak pakai sandal atau sepatu.


Berdiri tegak menghadap ke depan, kedua mata kaki rapat.
Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur.
Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun.
Baca angka pada batas tersebut.
Pengukuran Lingkar Kepala

Pengukuran lingkar kepala bertujuan untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas
normal atau di luar batas normal. Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan
tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar
lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Interpretasi hasil nya
adalah 2,3,5

Normal : bila lingkar kepala anak antara P2 P98

Tidak normal :
Mikrosefalus bila LK < P2
Makrosefalus bila LK > P98

Cara mengukur lingkar kepala yaitu : 2,3,5

Pita ukur diletakkan pada oksiput melingkar ke arah supraorbita dan glabela.

Baca angka pada pertemuan dengan angka 0.

Hasil dicatat pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin.

Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran sekarang.

Pengukuran Lingkar Lengan Atas

Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi karena mudah, murah dan cepat.
Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran
tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas
mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan status KEP (Kurang Energi
Protein) pada balita. Namun kelemahannya adalah : 2,3,5
Baku lingkar lengan atas yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang

memadai untuk digunakan di Indonesia

Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada tinggi badan

Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk
golongan dewasa.

4.

Pemeriksaan Denver

Denver Development Screening Test (DDTS) adalah sebuah metode pengkajian yang
digunakan secara luas untuk menilai kemajuan perkembangan anak usia 0-6 tahun. DDTS
yang umumnya dikenal dengan Denver Scale adalah tes skrining untuk masalah kognitif dan
perilaku pada anak prasekolah. Tes ini dapat dilakukan oleh dokter spesialis anak, tenaga
professional kesehatan lainnya, atau tenaga professional dalam layanan sosial.4
Dalam perkembangannya, DDTS mengalami beberapa kali revisi. Revisi terakhir
adalah Denver II. Denver II dapat digunakan untuk berbagai tujuan antara lain4:
-

Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya.


Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat.
Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukkan gejala, kemungkinan
adanya kelainan perkembangan.
Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan.
Memantau anak yang berisiko mengalami kelainan perkembangan.

Denver II bukan merupakan tes IQ dan bukan alat peramal kemampuan adaptif atau
intelektual (perkembangan) pada masa yang akan datang. Denver II tidak digunakan untuk
menetapkan diagnosis, seperti kesukaran belajar, gangguan bahasa, gangguan emosional, dan
sebagainya. Denver II diarahkan untuk membandingkan kemampuan perkembangan anak
dengan anak lain yang seusia, bukan sebagai pengganti evaluasi diagnostic atau pemeriksaan

fisik. Tes ini tidak memiliki kriteria kesimpulan hasil perkembangan anak abnormal, yang
ada hanyalah normal, tersangka, menolak, dan tidak dapat diuji.4
Denver II terdiri atas 125 item tugas perkembangan yang sesuai dengan usia anak,
mulai dari usia 0-6 tahun. Item-item tersebut tersusun dalam formulir khusus dan terbagi
menjadi 4 sektor yaitu4 :
Sektor Personal-Sosial, yaitu penyesuaian diri di masyarakat dan kebutuhan pribadi. Sektor
Motorik Halus-Adaptif, yaitu koordinasi mata-tangan, kemampuan memainkan dan
menggunakan benda-benda kecil, serta pemecahan masalah.Sektor Bahasa, yaitu mendengar,
mengerti, dan menggunakan bahasa.Sektor Motorik Kasar, yaitu duduk, berjalan, dan
melakukan gerakan umum otot besar lainnya.
Melakukan tes Denver II, memerlukan beberapa alat-alat pokok. Alat-alat tersebut
adalah benang wol merah, icik-icik dengan gagang kecil, boneka kecil dengan botol susu,
cangkir kecil dengan pegangan, kubus (dengan rusuk 2,5 cm) berjumlah 8 buah, berwarna
merah, biru, kuning, dan hijau masing-masing 2 buah, botol kecil berwarna bening dengan
tutup berdiameter 2 cm, manik-manik, lonceng kecil, bola tenis, pensil merah, dan kertas
folio berwarna putih.4
Formulir Denver II berupa selembar kertas yang berisikan 125 tugas perkembangan
menurut usia pada halaman depan dan pedoman tes untuk item0item tertentu pada halaman
belakang. Pada garis horizontal teratas dan terbawah terdapat skala usia dalam bulan dan
tahun. Pada kotak persegi panjang terdapat tulisn 25%, 50%, 75%, dan 90%. Persen tersebut
menunjukkan bahwa berapa persen (25%/50%/75%/90%) dari seluruh sampel anak sudah
dapat melakukan kegiatan yang tertulis pada kotak persegi panjang tersebut dengan ukuran
umur tertentu. Pada sejumlah kotak juga terdapat huruf L yang menandakan bahwa item
tersebut dapat dinilai LULUS/LEWAT berdasarkan laporan dari orang tua atau pengasuh
anak.4 (Lihat Gambar 1)

Gambar 1. Denver II Sumber : Internet, web Google Images dengan kata kunci Denver I

5. Faktor Prenatal dan Postnatal yangMempengaruhi Tumbuh Kembang Anak


a. Genetis
Faktor genetis cenderung bersifat statis dan merupakan predisposisi untuk mengarahkan
pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kalau sejak awal orang tua memiliki
karakteristik fisiologis yang sehat, maka akan menurunkan generasi yang sehat pula.
Sebaiknya bila orang tua tidak sehat, maka keturunanya pun akan mengalami gangguan atau
penyimpangan secara fisik atau psikis (Papalia, Old & Fieldman, 1998: 2004
b. Lingkungan
Pengaruh lingkungan menjadi lebih kuat pada periode sensitif. Masing-masing pertumbuhan
sistem organ atau anggota tubuh memiliki periode sensitif yang rentan terhadap pengaruh
lingkungan. Unsur-unsur dari lingkungan yang menyebabkan gangguan/kerusakan dalam
kehamilan antara lain:
Penyakit/kondisi ibu. Penyakit yang diderita ibu hamil dapat mempengaruhi
perkembangan masa prenatal. Apalagi penyakit tersebut bersifat kronis seperti, kencig manis,
TBC, radang saluran kencing, penyakit kelamin, dan sebagainya dapat melahirkan bayi yang
cacat.
Gizi ibu Janin yang berkembang sangat bergantung pada gizi ibunya yang diperoleh
melaui darah ibunya. Oleh sebab itu makanan ibu-ibu yang sedang hamil harus mengandung
cukup protein, lemak, vitamin, dan karbohidrat untuk menjaga kesehtan bayi.
Keadaan emosional ibu selama kehamilan juga mempunyai engaruh besar terhadap
perkembangan masa prenatal. Hal ini adalah karena ketika seorang ibu hamil mengalami
ketakutan, kecemasan, stress dan emosi lain yang mendalam, maka terjadi perubahan
psikologis, antara lain meningkatnya pernapasan dan sekresi oleh kelenjar. Ibu yang
mengalami kecemasan berat dan berkepanjangan sebelum atau selama kehamilan,
kemungkinan besar mengalami kesulitan medis dan melahirkan bayi yang abnormal
dibandingkan dengan ibu yang relative aman dan tenang.
Obat-obatan. Salah satu obat yang mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi
janin adalah thalidomide. Pada embrio obat penenang itu sangat merusak. Kalau ibu menelan
thalidomide selama dua bulan pertama kehamilan, dapat menghambat pertumbuhan lengan
dan kaki janin. Obat-obat yang berbahaya lainnya adalah alkohol, nikotin/rokok, barbiturates,
amfetamin, kokain, dan marijuna.
Lingkungan postnatal di bagi menjadi :
Lingkungan Biologis
1.
Ras / Suku bangsa : Pertumbuhan somatik juga dipengaruhi oleh ras / suku bangsa.
Bangsa kulit putih / ras Eropa mempunyai pertumbuhan somatik lebih tinggi daripada bangsa
Asia.
2.
Jenis kelamin : Dikatakan anak laki - laki lebih sering sakit dibandungkan anak
perempuan, tetapi belum diketahui secara pasti mengapa demikian.

3.

Umur : Umur yang paling rawan adalah masa balita, oleh karena pada masa itu anak
mudah sakit dan mudah terjadi kurang gizi. Disamping itu masa balita merupakan dasar
pembentukan kepribadian anak. Sehingga diperlukan perhatian khusus.
4.
Gizi : Makanan memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan, terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan
seorang anak, seperti : protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Seorang anak
yang kebutuhan zat gizinya kurang atau tidak terpenuhi, maka dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangannya.
5.
Perawatan kesehatan : Perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja kalau anak sakit,
tetapi pemeriksaan kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan, akan menunjang
pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan
dianjurkan untuk dilakukan secara komprehensif, yang mencakup aspek - aspek promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
6.
Kepekaan terhadap penyakit : Dengan memberikan imunisasi, maka diharapkan anak
terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyebabkan cacat atau kematian. Dianjurkan
sebelum anak berumur satu tahun sudah mendapatkan imunisasi BCG, Polio 3 kali, DPT 3
kali. Hepatitis B 3 kali, dan campak. Disamping itu imunisasi, gizi juga memegang peranan
penting dalam kepekaan terhadap penyakit.
7.
Penyakit kronis : Anak yang menderita penyakit menahun akan terganggu tumbuh
kembanganya dan pendidikannya, disamping itu anak juga mengalami stres yang
berkepanjangan akibat dari penyakitnya.
8.
Fungsi metabolisme : Khusus pada anak, karena adanya perbedaan yang mendasar
dalam proses metabolisme pada berbagai umur, maka kebutuhan akan berbagai nutrient harus
didasarkan atas perhitungan yang tepat atau setidak - tidaknya memadai.
9.
Obat obatan : Beberapa obat - obatan dikenal dapat menyebabkan terlambatnya
pertumbuhan, seperti kortikosteroid, antibiotik golongan quinolon, pemakaian obat
perangsang susunan saraf pusat. Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf
yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.
10.
Hormon

Somatotropin atau "Growth Hormone" (GH = hormon pertumbuhan) : Merupakan


pengatur utama pada pertumbuhan somatik terutama pertumbuhan kerangka. Pertambahan
tinggi badan sangat dipengaruhi hormon ini. GH merangsang terbentuknya somatomedin
yang kemudian berefek pada tulang rawan. GH mempunyai "circadian variation" dimana
aktivitasnya meningkat pada malam hari pada waktu tidur, sesudah makan, sesudah latihan
fisik, perubahan kadar gula darah dan sebagainya.

Homon tiroid : Hormon ini mutlak diperlukan pada tumbuh kembang anak karena
mempunyai fungsi pada metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Maturasi tulang juga
dibawah pengaruh hormon ini. Demikian pula dengan pertumbuhan dan fungsi otak sangat
tergantung pada tersedianya hormon tiroid dalam kadar yang cukup. Defisiensi hormon tiroid
mengakibatkan retardasi fisik dan mental yang kalau berlangsung lama dapat menjadi
permanen. Sebaliknya pada hipertiroidisme dapat mengakibatkan gangguan pada

1.

2.

3.

4.

kardiovaskular, metabolisme, otak, mata, seksual, dll. Hormon ini mempunyai interaksi
dengan hormon - hormon lain seperti somatotropin.
Glukokortikoid : Mempunyai fungsi yang bertentangan dengan somatotropin, tiroksin
serta androgen, karena kortison berlebihan akan mengakibatkan pertumbuhan terhambat /
terhenti dan terjadinya osteoporosis.
Hormon hormon seks : Terutama mempunyai peranan dalam fertilitas dan
reproduksi. Pada permulaan pubertas, hormon seks memacu pertumbuhan badan, tetapi
sesudah beberapa lama justru menghambat pertumbuhan. Androgen disekresi kelenjar adrenal
(dehidroandrosteron) dan testis (testosteron), sedangkan estrogen terutama diproduksi oleh
ovarium.
Insulin like growth factors (IGFs) Merupakan somatomedin yang kerjanya sebagai
mediator GH dan kerjanya mirip dengan insulin. Fungsinya selain sebgaai mediator GH
aktifitasnya mirip insulin, efek mitogenik terhadap kondrosir, osteoblas dan jaringan lainnya.
IGFs diproduksi oleh berbagai jaringan tubuh, tetapi IGFs yang beredar dalam sirkulasi
terutama diproduksi di hepar.
b. Lingkungan fisik
Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah : Musim kemarau yang panjang /
adanya bencana alam lainnya, dapat berdapak pada tumbuh kembang anak antara lain sebagai
akibat gagalnya panen, sehingga banyak anak yang kurang gizi. Demikian pula gondok
endemik banyak ditemukan pada daerah pegunungan, dimana air tanahnya kurang
mengandung yodium.
Sanitasi : Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan dalam penyediaan
lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan tumbuh kembangnya. Kebersihan, baik
kebersihan perorangan maupun lingkungan memegang peranan penting dalam timbulnya
penyakit. Akibat dari kebersihan yang kurang, maka anak akan sering sakit, misalnya diare,
kecacingan, tifus abdominalis, hepatitis, malaria, demam berdarah, dan sebagainya. Demikian
pula dengan polusi udara baik yang berasal dari pabrik, asap kendaraan atau asap rokok,
dapat berpengaruh terhadap tingginya angka kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan
Akut). Kalau anak sering menderita sakit, maka tumbuh kembangnya pasti terganggu.
Keadaan rumah (struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian) :
Keadaan perumahan yang layak dengan konstruksi bangunan yang tidak membahayakan
penghuninya, serta tidak penuh sesak akan menjamin kesehatan penghuninya.
Radiasi : Tumbuh kembang anak dapat terganggu akibat adanya radiasi tinggi.

c. Faktor psikososial
1.
Stimulasi : Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak
yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan
anak yang kurang / tidak mendapat stimulasi.
2.
Motivasi belajar : Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan
lingkungan yang kondusif untuk belajar, misalnya adanya sekolah yang tidak terlalu jauh,
buku - buku, suasana yang tenang serta sarana lainnya.

3.

4.

5.
6.

7.

8.

Ganjaran ataupun hukuman yang wajar : Kalau anak berbuat benar, maka kita wajib
memberinya ganjaran, misalnya pujian, ciuman, belaian, tepuk tangan, dan sebagainya.
Ganjaran tersebut akan menimbulkan motivasi yang kuat bagi anak untuk mengulangi
tingkah lakunya. Sedangkan menghukum dengan cara - cara yang wajar kalau anak berbuat
salah masih dibenarkan. Yang penting hukuman dilakukan secara objektif disertai pengertian
dan maksud dari hukuman tersebut. Bukan hukuman untuk melampiaskan kebencian dan
kejengkelan terhadap anak. Sehingga anak tahu, mana yang baik dan mana yang tidak baik,
akibatnya akan menimbulkan rasa percaya diri pada anak yang penting untuk kepribadian
anak kelak di kemudian hari.
Kelompok sebaya : Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya, anak memerlukan
teman sebaya. Tetatpi perhatian dari orangtua tetap diperlukan untuk memantau dengan siapa
anak tersebut bergaul. Khususnya bagi remaja, aspek lingkungan sebaya menjadi sangat
penting dengan makin meningkatnya kasus-kasus penyalahan obat-obatan dan narkotika.
Stress : Stres pada anak juga berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya, misalnya
anak akan menarik diri, rendah diri, terlambat bicara, nafsu makan menurun, dan sebagainya.
Sekolah : Dengan adanya wajib belajar 9 tahun sekarang ini diharapkan setiap anak
mendapatkan kesempatan duduk di bangku sekolah minimal 9 tahun. Sehingga dengan
mendapatkan pendidikan yang baik, maka diharapkan dapat menaikkan taraf hidup anak anak tersebut. Yang masih menjadi masalah sosial sekarang ini adalah masih banyaknya anak
- anak yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena harus membantu mencari nafkah
untuk keluarganya.
Cinta dan kasih sayang : Salah satu hak anak adalah hak untuk dicintai dan dilindungi.
Anak memerlukan kasih saying dan perlakuan yang adil dari orangtuanya. Agar kelak
kemudian hari menjadi anak yang tidak sombong dan bisa memberikan kasih sayangnya pula
terhadap sesamanya.Sebaliknya kasih sayang yang diberikan secara berlebihan yang
menjurus ke arah memanjakan akan menghambat bahkan mematikan perkembangan
kepribadian anak. Akibatnya anak akan menjadi manja, kurang mandiri, pemboros, sombong,
dan kurang bisa menerima kenyataan.
Kualitas interaksi anak orang tua : Interaksi timbal balik antara anak dan orangtua,
akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan terbuka terhadap orangtuanya,
sehingga komunikasi bisa 2 arah dan segala permasalahan dapat dipecahkan bersama karena
adanya keterdekatan dan kepercayaan antara orangtua dan anak. Interaksi tidak ditentukan
dengan seberapa lama kita bersama anak, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas interaksi
tersebut, yaitu pemahaman terhadap kebutuhan masing - masing dan upaya optimal untuk
memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi oleh rasa saling menyayangi.

d. Faktor keluarga dan adat istiadat


1.
Pekerjaan / pendapatan keluarga : Pendapatan keluarga yang memadai akan
menunjang tumbuh kemabang anak karena orangtua dapat menyediakan semua keperluan
anak, baik yang primer maupun yang sekunder.
2.
Pendidikan ayah / ibu : Pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor yang
penting dalam tumbuh kembang anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orangtua
dapat menerima semua informasi terutama cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana
menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya, dan sebagainya.

3.

Jumlah saudara : Jumlah saudara yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial
ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang
diterima anak. Lebih - lebih kalau jarak umur anak terlalu dekat. Sedangkan pada keluarga
dengan keadaan sosial ekonominya kurang, jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan
selain kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak, juga kebutuhan primer seperti
makanan, sandang dan perumahan pun belum terpenuhi oleh karena itu keluarga berencana
tetap diperlukan.
4.
Jenis kelamin dalam keluarga : Pada masyarakat tradisional, wanita memiliki status
yang lebih rendah dibandingkan laki - laki. Sehingga angka kematian bayi dan malnutrisi
masih tinggi pada wanita, demikian pula dengan pendidikan, masih banyak ditemukan wanita
yang buta huruf.
5.
Stabilitas rumah tangga : Stabilitas keharmonisan rumah tangga mempengaruhi
tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis
dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
6.
Kepribadian ayah / ibu : Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka untuk pengaruhnya
berbeda terhadap tumbuh kembang anak, bila dibandingkan dengan mereka yang
kepribadiannya tertutup.
7.
Adat istiadat, norma norma, tabu tabu : Adat istiadat yang berlaku di tiap daerah
akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Misalnya di Bali karena seringnya
upacara agama yang diadakan oleh suatu keluarga, dimana harus disediakan berbagai
makanan dan buah-buahan, maka sangat jarang terdapat anak yang gizi buruk karena
makanan dan buah-buahan tersebut akan dimakan bersama setelah selesai upacara. Demikian
pula dengan norma-norma dan tabu-tabu yang berlaku di masyarakat, berpengaruh pula
terhadap tumbuh kembang anak.
8.
Agama : Pengajaran agama harus ditanamkan pada anak - anak sedini mungkin,
karena dengan memahami agama akan menuntun umatnya untuk berbuat kebaikan dan
kebajikan.
9.
Urbanisasi.
10.
Kehidupan politik dalam masarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak,
anggaran, dll
6.Penatalaksanaan
a. Non medikamentosa
Dalam melakukan penetalaksanaa untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak diperlukan
usaha-usaha dari berbagai pihak terutama lingkungan terdekat seperti keluarga. Diperlukan
usaha dari orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar anak anak.Kebutuhan dasar anak
untuk tumbuh kembang secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar. 6-8
-

Kebutuhan fisik-biomedis ( Asuh )


Meliputi: 6-8

Pangan atau gizi


Perawatan kesehatan dasar seperti imunisasi, pemberian ASI, penimbangan bayi atau

anak secara teratur, pengobatan jika sakit.


Papan atau pemukiman yang layak.
Higiene perorangan, sanitasi lingkungan.
Sandang.
Kesegaran jasmani, rekreasi.
Kebutuhan emosi/kasih sayang ( Asih )
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu
dengan anak merupakan sayarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras.
Kebutuhan ini diwujudkan dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin. Kasih sayang
dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan kepercayaan dsaar (basic
trust). Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai

dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun sosial emosi. 6-8
Kebutuhan akan stimulasi mental ( Asah )
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan)
pada anak. Stimulasi mental mengembangkan perkembangan mental psikososial seperti
kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral-etika,
produktivitas. 6-8

b. Medikamentosa - Imunisasi
Pemerintah indonesia telah memiliki pendoman vaksinasi. Prinsipnya vaksinasi dapat
dibedakan menjadi dua yaitu vaksinasi wajib, terutama yang ditujukan bagi bayi dan anak
(vaksinasi tuberkolosis, hepatitis B, difteri, tetanus, pertusis, polio, dan campak) serta
vaksinasi yang dianjurkan (MMR, demam tifoid, varisela, hepatitis A, haemophilus influenza
tipe B, rabies, influenza, pneumokokus, meningokokus, rotavirus, kolera, yellow fever,
japanase encephalitis dan human papillomavirus), yang diperuntukan baik bagi anak maupun
dewasa.9
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan
kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit
tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain. 5, 9
Kekebalan terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan menjadi 2, yakni : 9
-

Kekebalan Tidak Spesifik (Non Specific Resistance), yang dimaksud dengan faktorfaktor

non khusus adalah pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi
badan dari suatu penyakit. Misalnya kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang keluar dari
perut (usus), adanya refleks-refleks tertentu, misalnya batuk, bersin dan sebagainya.
-

Kekebalan Spesifik (Specific Resistance)


Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari 2 sumber, yakni : 5,9
a. Genetik

Kekebalan yang berasal dari sumber genetik ini biasanya berhubungan dengan ras (warna
kulit dan kelompok-kelompok etnis, misalnya orang kulit hitam (negro) cenderung lebih
resisten terhadap penyakit malaria jenis vivax. Contoh lain, orang yang mempunyai
hemoglobin S lebih resisten terhadap penyakit plasmodium falciparum daripada orang yang
mempunyai hemoglobin AA.
b. Kekebalan yang Diperoleh (Acquired Immunity)
Kekebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang bersangkutan. Kekebalan dapat
bersifat aktif dan dapat bersifat pasif. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang sembuh
dari penyakit tertentu. Misalnya anak yang telah sembuh dari penyakit campak, ia akan kebal
terhadap penyakit campak. Kekebalan aktif juga dapat diperoleh melalui imunisasi yang
berarti ke dalam tubuhnya dimasukkan organisme patogen (bibit) penyakit. Kekebalan pasif
diperoleh dari ibunya melalui plasenta. Ibu yang telah memperoleh kekebalan terhadap
penyakit tertentu misalnya campak, malaria dan tetanus maka anaknya (bayi) akan
memperoleh kekebalan terhadap penyakit tersebut untuk beberapa bulan pertama. Kekebalan
pasif juga dapat diperoleh melalui serum antibodi dari manusia atau binatang. Kekebalan
pasif ini hanya bersifat sementara (dalam waktu pendek saja). Banyak faktor yang
mempengaruhi kekebalan antara lain umur, seks, kehamilan, gizi dan trauma.
-

Umur, untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita) dan orang tua lebih
mudah terserang. Dengan kata lain orang pada usia sangat muda atau usia tua lebih
rentan, kurang kebal terhadap penyakit-penyakit menular tertentu. Hal ini mungkin

disebabkan karena kedua kelompok umur tersebut daya tahan tubuhnya rendah.
Seks, untuk penyakit-penyakit menular tertentu seperti polio dan difteria lebih parah
terjadi pada wanita daripada pria.

Kehamilan, wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap
penyakitpenyakit menular tertentu misalnya penyakit polio, pneumonia, malaria serta
amubiasis. Sebaliknya untuk penyakit tifoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita
hamil.

Gizi, gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap
penyakit-penyakit infeksi tetapi sebaliknya kekurangan gizi berakibat kerentanan

seseorang terhadap penyakit infeksi.


Trauma, stres salah satu bentuk trauma adalah merupakan penyebab kerentanan seseorang
terhadap suatu penyakit infeksi tententu.

Pada dasarnya ada 2 jenis imunisasi, yaitu : 5,9


-

Imunisasi Pasif (Pasive Immunization), imunisasi pasif ini adalah immunoglobulin. Jenis

imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles pada anak-anak).


Imunisasi Aktif (Active Immunization), imunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin
adalah imunisasi tetanus toksoid. Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya tetanus pada
bayi yang dilahirkan. Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk
pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini
minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh.
Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu
TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya
adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian
TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan
setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).

Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut
anak balita (bawah lima tahun). Berikut ini adalah Jenis-jenis imunisasi pada balita : 5,9
-

Imunisasi BCG, vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit


tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali ketika anak berumur 2-3 bulan. Vaksin ini
mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak

50.000-1.000.000 partikel/dosis. 5,9


Imunisasi DPT, imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap
difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang
tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk
rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang
menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa
minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat
bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti
pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa

menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3
kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT
III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun
setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi
terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah
mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada
usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan
perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster). Hampir 85%
anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan
memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun. 5,9
-

Imunisasi Campak, imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit


campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur

9 bulan atau lebih. Vaksin penguat diberikan pada umur 5-7 tahun. 5,9
Imunisasi MMR, imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan
dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Dapat diberikan pada umur 12
bulan, apabia beum mendapat vaksin pada umur 9 bulan. Selanjutnya MMR ulangan
dapat diberikan pada mur 5-7 tahun. Campak menyebabkan demam, ruam kulit batuk,
hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia.
Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak
dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan
pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa
menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan
pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah
zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam
ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa

menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan. 5,9


Imunisasi Hib, imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza
tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan
berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum
tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Tetapi dari segi
manfaat, imunisasi ini cukup penting. Hemophilus influenzae merupakan penyebab
terjadinya radang selaput otak (meningitis), terutama pada bayi dan anak usia muda.
Penyakit ini sangat berbahaya karena seringkali meninggalkan gejala sisa yang cukup
serius. Misalnya kelumpuhan. Ada 2 jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib

dan Pedvax. Diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dan vaksin ulangan pada umur 18
-

bulan dan 5 tahun. 5,9


Imunisasi Varisella, imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.
Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan
mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas. imunisasi varisela diberikan
pada saat anak masuk sekolah Taman Kanak-kanak umur 5 tahun, kecuali terjadi kejadian

luar biasa varisela, atau atas permintaan orang tua dapat diberikan pada umur 1 tahun.
Imunisasi HBV (hepatitis B), imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis
B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.
Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian
imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang
baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk
dokter. Orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B adalah individu yang
dalam pekerjaannya kerap terpapar darah atau produk darah, klien dan staf dari institusi
pendidikan orang cacat, pasien hemodialisis (cuci darah), orang yang berencana pergi
atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat
suntik, homoseksual/biseksual aktif, heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti
atau baru terkena penyakit menular seksual, fasilitas penampungan korban narkoba,
imigran atau pengungsi di mana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan
tiga dosis dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respon yang

baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster). 5,9
Imunisasi Pneumokokus Konjugata, imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak
terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat
menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi
darah). Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin. Vaksin ini juga dapat digunakan
pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi

pneumokokus. 5,9
Tipa, imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid
(tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun.
Oleh karena itu perlu diulang kembali. Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin
suntikan (polisakarida) dan oral (bakteri hidup yang dilemahkan).

Vaksin capsular Vi

polysaccharide: diberikan pada umur lebih dari 2 tahun, ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
Kemasan dalam prefilled syringe 0,5 ml, pemberian secara intramuskular. Tifoid oral
Ty21a: diberikan pada umur lebih dari 6 tahun, dikemas dalam kapsul, diberikan 3 dosis
dengan interval selang sehari (hari 1,3 dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5

tahun. Vaksin oral pada umumnya diperlukan untuk turis yang akan berkunjung ke daerah
-

endemis tifoid. Pada imunisasi ini tidak terdapat efek samping. 5,9
Polio, terdapat 2 jenis vaksin yang beredar dan yang umum diberikan di Indonesia adalah
vaksin sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya adalah melalui mulut.
Dibeberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Dapat
dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B dan DPT. Imunisasi ulangan
diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT. Imunisasi polio diberikan sebanyak
empat kali denga selang waktu kurang dari satu bulan. Imunisasi ulangan dapat diberikan
sebelum anak masuk sekolah (5-6tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12tahun).
Diberikan dengan cara meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam
mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis.
Imunisasi polio digunakan untuk untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit
polimielitis. Imunisasi polio tidak boleh diberikan pada anak yang sedang menderita diare
berat. Efek samping yang mungkin terjadi adalah dapat berupa kejang-kejang, tetapi

kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terjadi. 5,9


Influensa, vaksin Influenza dapat diberikan setahun sekali sejak umur 6 bulan. Vaksin ini

dapat terus diberikan hingga dewasa. 5,9


HPV (Human Papiloma Virus), imunisasi diperuntukkan untuk para remaja atau pra
remaja dan para wanita dewasa yang sudah menikah maupun yang beresiko tinggi terkena
penyakit ini. Imunisasi HPV cukup efektif untuk mencegah terjadinya kanker cervix
karena diberikan hanya satu kali seumur hidup, diberikan dalam 3 kali suntikan yaitu
bulan ke nol (mulai pertama disuntikkan) dilanjutkan bulan kedua dan terakhir bulan ke

enam. 5,9
Retrovirus, dilakukan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh retrovirus seperti
diare pada anak. Retrovirus diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan. 5,9

Kondisi dimana imunisasi tidak dapat diberikan atau imunisasi boleh ditunda
-

Sakit berat dan akut


Demam tinggi
Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;
Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang menjalani terapi steroid Jangka

lama, HIV) tidak boleh diberi vaksin hidup (Polio Oral, MMR, BCG, Cacar Air).
Alergi terhadap telur hindari imunisasi influenza

Kesimpulan

Sebelum imunisasi anak harus dalam keadaan sehat ( pertumbuhan dan perkembangan
normal). Diukur dengan antropometri dan Tes Denver. Jika pertumbuhan terhambat,
diberikan multivitamin dan mineral + diberikan penyuluhan pola makan yang baik.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam . Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h.25-76.
2. Schartz MW, editor. Pendoman klinis pediatri. Jakarta : EGC; 2004.h. 1-31.

3. Miall L, Rudolf M, Levene M. Paediatrics at a glance. 2nd ed. Victoria: Blackwell


Publishing Asia; 2007; p. 10-42.
4. Houghton RA, Gray D, editor. Chamberlains gejala dan tanda dalam kedokteran
klinis. Ed ke-13. Jakarta:PT Indeks; 2010.h.3-45, 459-98.
5. Meadow SR, Newell SJ. Lecture notes Pediatrika. Ed ke-7. Jakarta: Erlangga;
2005.h.1-233 .
6. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
1995.h.1-78.
7. Berhman E, Arvin AM, Kliegman RM. Ilmu kesehatan anak nelson. Ed ke-18.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.37-56.
8. Hidayat AA. Asuhan neonatus, bayi, dan balita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2007.h.1-17.
9. Cahyono JBSB, Lusi RA, Verawati, Sitorus R, Utami RCB, Dameria K. Vaksinasi,
cara ampuh cegah penyakit infeksi. Jakarta: Kanisius; 2010.h.1-169 .