Anda di halaman 1dari 5

4/17/2016

Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH

4/17/2016 Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH HOME WHOAMI POST GALLERY Jenis – Jenis Lumpur Pemboran

Jenis – Jenis Lumpur Pemboran

Diposting Di Lumpur Pemboran Oleh Dit

Dengan berkembangnya zaman, banyak additif dengan berbagai fungsi yang ditambahkan kedalamnya, menjadikan lumpur pemboran yang semula hanya berupa fluida sederhana menjadi campuran yang kompleks antara fluida, padatan dan bahan kimia. Seperti yang kita ketahui, berbagai aditif berupa bahan kimia (baik yang diproduksi khusus untuk keperluan lumpur pemboran maupun bahan kimia umum) dan mineral dibutuhkan untuk memberikan karakeristik pada lumpur pemboran. Sesuai dengan lithologi dan stratigrafi yang berbeda‐beda untuk setiap lapangan, serta tujuan pemboran yang berbeda‐beda (eksplorasi, pengembangan atau kerja ulang) kita mengenal jenis/ sistim lumpur yang berbeda‐beda pula, seperti :

jenis/ sistim lumpur yang berbeda‐beda pula, seperti : A. Fresh Water Muds. Adalah lumpur yang fasa

A. Fresh Water Muds.

Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1% berat garam).

1. Spud Mud. Spud mud digunakan untuk membor formasi bagian atas bagi conductor casing. Fungsi utamanya mengangkat cutting dan membuka lubang dipermukaan (formasi atas). Volume yang diperlukan biasanya sedikit dan dapat dibuat dari air dan bentonite (yield 100 bbl/ton) atau clay air tawar yang lain (yield 35 – 50 bbl/ton). Tambahan bentonite atau clay perlu dilakukan untuk menaikkan viskositas dan gel strength bila membor pada zone‐zone loss. Kadang‐ kadang perlu lost circulation material. Densitas harus kecil saja.

2. Natural Mud. Natural mud dibentuk dari pecahan‐pecahan cutting dalam fasa air. Sifat‐ sifatnya bervariasi tergantung dari formasi yang dibor. Umumnya type lumpur ini digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing (permukaan). 24 Dril‐005‐ Lumpur Pemboran Dengan bertambahnya kedalaman pemboran sifat‐ sifat lumpur yang lebih baik diperlukan dan natural mud ini ditreated dengan zat‐zat kimia dan aditif‐aditif koloidal. Beratnya sekitar 9.1 – 10.2 ppg, dan viskositasnya 35 – 45 detik.

3. Bentonite – Treated Mud. Mencakup sebagian besar dari tipe‐tipe lumpur air tawar. Bentonite adalah material yang paling umum digunakan untuk membuat koloid inorganis untuk mengurangi filter loss dan mengurangi tebal mud cake (ketebalan mud cake). Bentonite juga menaikan viskositas dan gel yang mana dapat dikontrol dengan thinner.

4. Phosphate treated Mud. Mengandung polyphosphate untuk mengontrol viskositas dan gel strength. Penambahan zat ini akan berakibat pada terdispersinya fraksi‐fraksi clay colloid padat sehingga densitas lumpur dapat cukup besar tetapi viskositas dan gel strengthnya rendah. Ia mengurangi filter loss serta mud cake dapat tipis. Tannin sering ditambahkan bersama‐sama dengan polyphosphate untuk pengontrolan lumpur.Polyphosphat tidak stabil pada temperatur tinggi (sumur‐sumur dalam) dan akan kehilangan efeknya sebagai thinner (poliphosphat akan rusak pada kedalaman 10.000 ft atau temperatur 160 – 180oF karena berubah ke‐ orthophosphate yang malah menyebabkan terjadinya flokulasi). Juga phosphate mud sukar dikontrol pada densitas lumpur tinggi (yang sering berhubungan dengan pemboran dalam). Dengan penambahan zat‐zat kimia dan air, densitas lumpur dapat dijadikan 9 ‐11 ppg. Polyphosphate mud juga menggumpal bila terkena kontaminasi NaCl, calcium sulfate atau kontaminasi semen dalam jumlah banyak.

5. Organic Colloid treated Mud. Terdiri dari penambahan pregelatinized starch atau carboxymethylcellulose pada lumpur. Karena organic colloid tidak terlalu sensitif terhadap flokulasi seperti clay, maka pengendalian filtrasinya pada lumpur yang terkontaminasi dapat dilakukan dengan organic colloid ini baik untuk mengurangi filtration loss pada fresh water mud. Dalam kebanyakan lumpur pengurangan filter loss lebih banyak dilakukan dengan koloid organic daripada dengan inorganic.

6. “Red ” Mud. Red Mud mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh treatment dengan caustic soda dan quabracho (merah tua). Istilah ini akan tetap digunakan walaupun nama‐nama koloid yang dipakai sekarang ini mungkin menyebabkan warna‐warna abu‐abu kehitaman. Umumnya istilah ini digunakan untuk lignin‐lignin tertentu dan humic thinner selain untuk tannin diatas. Suatu jenis lain lumpur ini adalah alkaline tannate treatment dengan penambahan polyphosphate untuk lumpur dengan pH dibawah 10. Perbandingan alkaline, organic dan polyphosphate

alkaline, organic dan polyphosphate OTHERS INTERMEZZO ASKME Cari Disini Search Kumpulan Artikel August 2015 (11)

Cari Disini

Search

Kumpulan Artikel

(11)

(5)

Kategori Artikel Dagelan Minyak Dan Gas (2) Data Unit (Mud Logging Unit) (1) Hidrolika Pemboran
Kategori Artikel
Dagelan Minyak Dan Gas
(2)
Data Unit (Mud Logging Unit)
(1)
Hidrolika Pemboran
(1)
Lumpur Pemboran
(3)
Masalah Lubang Bor (Hole Problems)
(1)
Pengendalian Sumur (Well Control)
(2)
Teknik Pemboran
(6)

Artikel Terpopuler

Jenis – Jenis Lumpur PemboranArtikel Terpopuler posted on August 16, 2015 Asal Usul Terbentuknya Minyak Bumi posted on June 20,

posted on August 16, 2015

posted on June 20, 2015

posted on June 18, 2015

posted on August 20, 2015

posted on August 18, 2015

4/17/2016

Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH

dapat diatur sesuai dengan kebutuhan setempat. Alkaline‐tannate treated mud mempunyai range pH 8 – 13.Alkaline tannate dengan pH kurang dari 10 sangat sensitif

terhadap flokulasi karena kontaminasi garam. Dengan naiknya pH maka lebih sukar untuk flokulasi. Untuk pH lebih dari 11.5, pregelatinized starch dapat digunakan tanpa bahaya fermentasi. Dibawah pH ini, preservative harus digunakan untuk mencegah fermentasi (meragi) pada fresh water mud. Jika diperlukan densitas lumpur yang tinggi lebih murah bila digunakan treatment yang menghasilkan calcium treated mud dengan

pH yang tingginya 12 atau lebih.

7. Calcium Mud. Lumpur ini mengandung larutan calcium (disengaja). Calcium bisa ditambah dalam bentuk slaked lime (kapur mati), semen, plaster (CaSO4) dipasaran atau CaCl2, tetapi dapat pula karena pemboran semen, anhydrite dan gypsum.

B. Salt Water Mud.

Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atau salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang‐kadang bila ada aliran air garam yang terbor. Filtrate lossnya besar dan mud‐cakenya tebal bila tidak ditambah organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu preservative untuk menahan fermentasi starch. Jika salt mudnya mempu‐nyai pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan attapulgite sebagai pengganti bentonite.

1. Unsaturated Salt Water Mud. Air laut dari laut lepas atau teluk sering digunakan

untuk lumpur yang yang tak jenuh kegaramannya ini. Kegaraman ( salinity ) lumpur ini ditandai oleh: 1. Filtrate loss besar kecuali ditreated dengan organic colloid; 2. Medium sampai tinggi pada gel strength kecuali ditreated dengan thinner; 3. Suspensi yang tinggi kecuali ditreated dengan attapulgite atau organic colloid. Lumpur ini biasa mengalami “foaming”, yaitu berbusa (gas menggelembung) yang bisa direduksi dengan Menambah soluble surface active agents dan Menambah zat kimia untuk menurunkan gel strength. Lumpur yang terkena kontaminasi garam juga ditreatment seperti pada sea water mud ini. 2. Saturated Salt‐Water Mud. Fasa cair lumpur ini dijenuhkan dengan NaCl. Garam‐ garam lain dapat pula berada disitu dalam jumlah yang berlain‐lainan. Saturated salt water mud dapat digunakanuntuk membor formasi‐formasi garam dimana rongga‐ rongga yang terjadinya karena pelarutan garam dapat menyebabkan hilangnya lumpur, dan ini dicegah oleh penjenuhan garam terlebih dahulu pada lumpurnya. Lumpur ini juga dibuat dengan menambahkan air garam yang jenuh untuk pengenceran dan pengaturan volume. Filtrate loss yang rendah pada saturated salt organik colloid mud menyebabkan tidak perlunya memasang casing diatas salt beds (formasi garam). Filtrate loss‐nya bisa dikontrol sampai 1 cc API dengan organic colloids. Saturated salt water muds bisa dibuat berdensitas lebih dari 19 ppg. Dengan menambahkan organic colloid agar filtration lossnya kecil, lumpur ini bisa untuk membor formasi dibawah salt beds, walaupun resistivitynya yang rendah buruk bagi electric logs. Gabungan dari ion‐ ion surfactant menyebabkan pengontrolan filtrasi dan flow properties yang lebih mudah dan murah, terutama pada densitas tinggi. Saturated salt muds ini dapat pula dibuat dari fresh water atau brine mud. Jika dibuat dari fresh water mud maka paling tidak sebagian dari lumpur semula harus dibuang. Ini diperlukan untuk pengenceran dengan air tawar dan penambahan lebih kurang 125 lb garam/bbl lumpur. Jika dikehendaki pengontrolan filtration loss, suatu organic colloid dan preservative dapat ditambahkan. Jika lumpurnya dibuat dari saturated brine (air garam yang jenuh) sekitar 20 lb/bbl attapulgite ditambahkan bersama dengan organic colloid dan mungkin preservative. Lumpur ini densitasnya 10.3 ppg dan akan naik sampai sekitar 11 ppg selama pemboran berlangsung. Pemeliharaannya termasuk penambahan air asin untuk mengurangi viscositas, attapulgite untuk menambah viskositas dan organic colloids untuk mengontrol filtrasi. Jika saturated salt water muds digunakan untuk membor shale maka kontrol viskositas, gel dan filtrasi dapat diperoleh dengan penambahan alkaline‐ tannate solution, atau sedikit lime. Emulsified salt water muds telah umum digunakan

di Kansas dan Dakota. Ini mempunyai sifat‐sifat baik dari conventional emulsion muds.

Lumpur ini menunjukkan tendensy foaming (berbusa) yang bisa dicegah dengan penambahan surfactant. 3. Sodium‐Silicate Muds. Fasa cair Na‐silicate mud mengandung sekitar 65% volume larutan Na sillicate dan 35% larutan garam jenuh. Lumpur ini dikembangkan untuk digunakan bagi pemboran heaving shale, tetapi telah terdesak penggunaannya oleh lime treated gypsum lignosulfonate, shale control, dan surfactant muds (lumpur yang diberi DAS dan DME) yang lebih baik, murah dan mudah dikontrol sifat‐sifatnya.

C. Oil‐in‐Water Emultion Muds (Emulsion Mud).

Pada lumpur ini minyak merupakan fasa tersebar (emulsi) dan air sebagai fasa kontinu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dasar dapat digunakan baik fresh maupun salt water mud. Sifat‐sifat fisik yang dipengaruhi emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan pelumasan. Segera setelah emulsifikasi, filtrate loss

posted on June 28, 2015

posted on June 18, 2015

posted on August 19, 2015

Video

An error occurred.

Try watching this video on www.youtube.com, or enable JavaScript if it is disabled in your browser.

An error occurred.

Try watching this video on www.youtube.com, or enable JavaScript if it is disabled in your browser.

An error occurred.

Try watching this video on www.youtube.com, or enable JavaScript if it is disabled in your browser.

Harga Minyak Dunia

To get the WTI <a href="http://www.oil‐

price.net/dashboard.php?lang=id#TABLE2">oil

price</a>, please enable Javascript. To get the BRENT <a href="http://www.oil‐ price.net/dashboard.php? lang=id#brent_crude_price_large">oil price</a>, please enable Javascript.

Pasang Iklan Disini

please enable Javascript. Pasang Iklan Disini Ngobrol Bareng

Ngobrol Bareng

4/17/2016

Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH

berkurang. Keuntungannya adalah bit yang lebih tahan lama, penetration rate naik, pengurangan korosi pada drill string, perbaikan pada sifat‐sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa boleh/dapat dikurangi, water loss turun, mud cake turun, mud cake tipis) dan mengurangi balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drill string. Viskositas dan gel lebih mudah dikontrol bila emulsifiernya juga bertindak sebagai thinner. Umumnya oil‐in‐water emulsion mud dapat bereaksi dengan penambahan zat dan adanya kontaminasi seperti juga lumpur asalnya. Semua minyak (crude) dapat digunakan tetapi lebih baik bila digunakan minyak refinery(refinery oil) yang mempunyai sifat‐sifat sbb:

1. Uncracked (tidak terpecah‐pecah molekulnya), supaya stabil. 2. Flash point tinggi, untuk mencegah bahaya api. 3. Aniline number tinggi (lebih dari 155) agar tidak merusakkan karet‐karet di pompa/circulation system. 4. Pour point rendah, agar bisa digunakan untuk bermacam‐macam temperatur.

Suatu keuntungan lainnya adalah bahwa karena bau serta fluorescene‐nya lain dengan crude oil (mungkin yang berasal dari formasi), maka ini berguna untuk pengamatan cutting oleh geologist dalam menentukan adanya minyak di pemboran tersebut. Adanya karet‐karet yang rusak dapat juga dicegah dengan penggunaan karet sintetis. Fresh water oil‐in‐water emulsion muds adalah lumpur yang mengandung NaCl sampai sekitar 60,000 ppm. Lumpur emulsi ini dibuat dengan menambahkan emulsifier (pembuat emulsi) ke water base mud diikuti dengan sejumlah minyak yang biasanya 5 – 25% volume. Jenis emulsifier bukan sabun lebih disukai karena ia dapat digunakan dalam lumpur yang mengandung larutan Ca tanpa memperkecil emulsifiernya dalam hal efisiensi. Emulsifikasi minyak dapat bertambah dengan agitasi (diaduk). Pemeliharaannya terdiri dari penambahan minyak dan emulsifier secara periodik. Jika sebelum emulsifikasi lumpurnya mengandung persentase clay yang tinggi, pengenceran dengan sejumlah air perlu dilakukan untuk mencegah kenaikan viskositas. Karena keuntungan dalam pemboran dan mudahnya pengontrolan maka lumpur ini disukai orang. Salt water oil‐in water absorbtion mud mengandung paling sedikit 60,000 ppm NaCl dalam fasa airnya. Emulsifikasi dilakukan dengan emulsifier agentorganik. Lumpur ini biasanya mempunyai pH dibawah 9, dan cocok digunakan untuk daerah‐daerah dimana perlu dibor garam massive atau lapisan‐lapisan garam, seperti di Kansas, Rocky Mountain, Dakota dan Canada Barat. Emulsi ini mempunyai keuntungan‐keuntungan seperti juga pada fresh water emulsion,yaitu : 1). densitasnya kecil; 2). filtrate loss sedikit, mud cake tipis dan lubrikasi lebih baik. Lumpur demikian mempunyai tendensi untuk foaming yang bisa dipecahkan dengan penambahan surface active agent tertentu. Pemeliharaan lumpur ini sama seperti pada salt mud biasa kecuali perlunya menambah emulsifier, minyak dan surface active defoamer (anti foam).

D. Oil Base dan Oil Base Emulsion Mud.

Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur agar kadar airnya rendah (3 – 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat‐zat kimia. Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi biasa maupun formasi produktif (jadi ia juga untuk completion mud). Kegunaan terbesar adalah pada completion dan workover sumur. Kegunaan lain adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit, mempermudah pemasangan casing dan liner. Oil base mud ini harus ditempatkan pada suatu tanki besi untuk menghindarkan kontaminasi air. Rig harus dipersiapkan agar tidak kotor dan bahaya api berkurang. Oil base emulsion dan lumpur oil base mempunyai minyak sebagai fasa kontinu dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya oil base emulsion mud mempunyai manfaat yang sama seperti oil base‐mud, yaitu filtratnya minyak dan karena itu tidak menghidratkan shale/clay yang sensitif. Perbedaan utamanya dengan oil base mud adalah bahwa air ditambahkan sebagai tambahan yang berguna (bukan kontaminan). Air yang teremulsi dapat antara 15 – 50% volume, tergantung densitas dan temperatur yang di inginkan (dihadapi dalam pemboran). Karena air merupakan bagian dari lumpur ini, maka lumpur ini mempunyai sifat‐sifat lain dari oil base mud yaitu ia dapat mengurangi bahaya api, toleran pada air, dan pengontrolan flow propertisnya dapat seperti pada water base mud.

E. Gaseous Drilling Fluid.

Digunakan untuk daerah‐daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor. Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan‐padatan) yang merugikan. Juga tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini. Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api. Lumpur ini juga baik untuk completion pada zone‐zone dengan tekanan rendah. Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud

05:51amGMT+7 MariKitaChattingBersama Options Name Website Message 1 200 Loadingshouts Daftar Pengunjung <a
05:51amGMT+7
MariKitaChattingBersama
Options
Name
Website
Message
1
200
Loadingshouts
Daftar Pengunjung
<a href="http://feedjit.com/">Live Traffic
Stats</a>

Jumlah Pengunjung

Jumlah Pengunjung free counter

Mampir Lagi Ya Kang

Mampir Lagi Ya Kang …

4/17/2016

Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH

drilling dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat pemboran dan mengurangi biaya pemboran.

Baca Juga Artikel Yang Ini :

Who Am I

Dit Diluar dari pekerjaan saya juga seorang designer, web developer, dan audio engineer freelance. Combining

Dit

Diluar dari pekerjaan saya juga seorang designer, web developer, dan audio engineer freelance. Combining all these things that I love and cherish, resulted in the birth of this site!

Silakan berpendapat menggunakan fasilitas komentar dibawah ini. Penulis berhak menghapus komentar yang tidak layak (tidak bertanggung jawab dan mengandung unsur SARA).

Tinggalkan Pesan Balasan

Email Anda Tidak Akan Dipublikasikan. Wajib Di Isi *

Nama *

Nama * Email * Situs Komentar

Email *

Nama * Email * Situs Komentar

Situs

Nama * Email * Situs Komentar

Komentar

4/17/2016

Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH

4/17/2016 Jenis–JenisLumpurPemboran|DITTOADIANSYAH KirimKomentar [+] Tambahkan Kaskus Emoticons Disini [+] DIT 

KirimKomentar

[+] Tambahkan Kaskus Emoticons Disini [+]

DIT

DITTO ADIANSYAH ‐ DRILLING SHARED