Anda di halaman 1dari 13

74

BAB III
IDENTIFIKASI PROBLEM KEPASIRAN

3.1. Identifikasi Problem Kepasiran


Dalam memproduksikan hidrokarbon dari reservoir sering dijumpai
adanya problem-problem. Problem-problem tersebut diantaranya adalah problem
kepasiran. Timbulnya problem ini berkaitan erat dengan karakteristik
reservoirnya, sehingga identifikasi untuk upaya pencegahan dan
penanggulangannyapun harus memperhatikan hal tersebut. Karakteristik reservoir
dalam hal ini meliputi antara lain sifat batuan, sifat fluida dan kondisi
reservoirnya.
Problem kepasiran adalah ikut terproduksinya pasir bersama dengan
aliran fluida reservoir. Problem ini umumnya terjadi pada formasi-formasi yang
dangkal, berumur batuan tersier terutama pada seri miocene. Problem kepasiran
terjadi akibat rusaknya kestabilan dari ikatan butiran-butiran pasir yang
disebabkan oleh adanya gaya gesekan ( frictional force ) serta tumbukan oleh
suatu aliran dari fluida dimana laju aliran yang terjadi melampaui batas
maksimum dari laju aliran kritis yang diperbolehkan, sehingga butiran-butiran
pasir akan ikut terproduksi bersama-sama dengan minyak ke permukaan.
Butiran pasir yang terkumpul dalam suatu sistem akan membentuk suatu
ikatan antar butiran-butiran itu sendiri dalam suatu ikatan sementasi yang mana
ikatan sementasi tersebut membuat butiran - butiran pasir bersatu serta kuat.
Semakin besar harga faktor sementasi yang didapat, maka akan semakin kuat
ikatan antar butiran-butiran pasir yang ada dan semakin terkonsolidasi
(consolidated) demikian juga sebaliknya, semakin rendah harga faktor
sementasinya maka akan semakin rendah juga tingkat konsolidasi antar buitiran-
butiran pasir (unconsolidated), yang pada akhirnya butiran-butiran pasir tersebut
akan mudah lepas.
Harga faktor sementasi ini dapat diketahui dari analisa yang dilakukan
pada core yang didapatkan dan analisa tersebut merupakan analisa core spesial
yang merupakan rangkaian dari suatu penilaian formasi. Dimana harga faktor
75

sementasi yang diperoleh dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya


kemungkinan problem kepasiran terbentuk.
Secara umum, problem kepasiran sebenarnya dapat diindikasikan dengan
kriteria parameter sebagai berikut :
a. Faktor sementasi batuan yang relatif kecil (kurang atau sama dengan 1.7).
b. Kekuatan formasi yang relatif kecil (kurang dari 0.8 x 1012 psi2).
c. Laju produksi yang besar (lebih besar dari laju produksi kritis) menyebabkan
gaya seret fluida menjadi besar. Hal ini mengakibatkan lengkungan
kesetabilan pasir menjadi runtuh.
d. Pertambahan saturasi air akan menyebabkan clay yang ada dalam formasi
mengembang. Hal ini mengakibatkan lengkungan kestabilan menjadi
berkurang, sehingga lengkungan kestabilan pasir mudah runtuh.

3.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Formasi


Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi rusaknya kestabilan formasi
pasir tercakup di dalam sifat batuan itu sendiri disamping pengaruh fluida. Faktor-
faktor tersebut adalah :

3.2.1. Kecepatan Aliran


Kecepatan aliran fluida adalah fungsi penurunan tekanan aliran formasi.
Semakin besar aliran fluida, semakin besar pula gaya seret (drag force) fluida
yang bekerja pada busur kestabilan. Dengan demikian membesarnya kecepatan
fluida, kesetabilan menjadi berkurang dan dapat menyebabkan runtuhnya formasi.
Kecepatan fluida yang mengakibatkan runtuhnya busur kesetabilan disebut
sebagai kecepatan terminal busur kestabilan.
Mekanisme runtuhnya lengkung yang dikaitkan dengan laju produksi
yaitu:
1. Bila laju produksi yang pertama dilakukan cukup besar, hal ini
mengakibatkan gradient tekanan aliran dilubang kestabilan meningkat
dengan tiba tiba, sehingga pasir terproduksi dalam jumlah besar. Makin
76

besar laju produksi yang dilakukan maka jumlah pasir yang terproduksi
semakin besar.
2. Bila produksi dilakukan mulai dari laju produksi yang kecil, maka pasir
terproduksi sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal
ini dihubungkan dengan pembentukan lengkungan kestabilan disekitar
perforasi.

3.2.2. Laju Aliran Kritis


Laju aliran kritis adalah suatu laju aliran fluida reservoir maksimum,
dimana jika harga tersebut terlampaui, maka pasir akan ikut terproduksi. Laju
aliran kritis tanpa terjadi produksi pasir dapat ditentukan berdasarkan anggapan
bahwa gradient tekanan maksimum pada permukaan kelengkungan pasir, yaitu
saat laju produksi tanpa disertai produksi pasir, berbanding lurus dengan kekuatan
formasi atau dengan kata lain, apabila tekanan pada permukaan kelengkungan
pasir melebihi kekuatan formasi tersebut, maka butiran akan mulai bergerak dan
ikut terproduksi.
Persamaan tentang besarnya laju produksi kritis yang diperbolehkan
sehingga tidak merusak kestabilan formasi dan ikut terproduksinya pasir, yaitu :

0,025x106 K z N z G z A z
Qz .(3-1)
Bz z At
Dimanan :
Qz = Laju produksi kritis, stb/hari
Kz = Permeabilitas formasi, md
Bz = Faktor volume formasi, bbl/stb
Nz = Jumlah lubang perforasi
Gz = Shear modulus batuan, psi
z = Viscositas fluida, cp
Az = Luas kelengkungan butir pada kondisi test, sq-ft
At = Luas kelengkungan butir pada kondisi pengamatan, sq-ft
77

3.2.3. Sementasi Batuan


Batupasir merupakan batuan sedimen klastik, yang butirannya terdiri dari
kwarsa, feldspar dan chert dengan silt, shale dan atau lempung sebagai matrik
batuan. Semen kimianya terdiri dari karbonat dan atau silika.
Batupasir terbagi menjadi tiga jenis tergantung dari komposisi kimianya,
yaitu kwarsit, graywacke dan arkose. Sementasi pada pasir kwarsit adalah
karbonat (kalsit dan dolomit) dan silika (chert, chalcedony dan kwarsa sekunder).
Sementasi alamiah pada batupasir graywacke dan arkose sangat sedikit atau
hampir tidak ada. Mineral tidak stabil adalah lempung yang banyak terdapat pada
pasir arkose dan graywacke. Lempung umumnya menyelimuti butir-butir kwarsa
dan bertindak sebagai mineral penyemen. Pasir graywacke dan pasir arkose tidak
tersementasi dengan baik sehingga sering menimbulkan problem kepasiran.
Archie mengemukakan suatu persamaan yang merupakan hubungan antara
porositas, faktor sementasi dan faktor formasi, yang dapat digunakan untuk
menentukan sementasi batuan, sebagai berikut:
F = -m (3-2)
F = Ro/Rw . (3-3)
dimana :
F = faktor formasi
= porositas batuan
m = faktor sementasi
Ro = resistivitas batuan dengan saturasi 100 % air
Rw = resistivitas air formasi
Faktor sementasi tergantung pada tingkat konsolidasi batuan. Formasi
dengan faktor sementasi lebih kecil dari 1.8 merupakan formasi yang tidak stabil
dan sering terjadi problem kepasiran pada formasi ini. Faktor sementasi untuk
berbagai jenis batuan dapat dilihat pada Tabel III-1.
78

Tabel III-1
Faktor Sementasi Untuk berbagai Jenis Batuan
(Pirson S.J.,;Oil Reservoir Engineering, 1958)
Cementation
Rock Description
Factor, m
Unconsolidated Rocks
1.3
( loose sand, oolotic, limestone )

Very Slightly Cemented


1.4 1.5
( Gulf coast type of sand, except Wilcox )

Slightly Cemented
1.6 1.7
( most sands with 20% porosity or more )
Moderately Cemented
( highly consolidated sands of 15% 1.8 1.9
porosity or less )
Highly Cemented
( low porosity sands, quartzite, limestone, 2.0 2.2
dolomite, of intergranular porosity, chalk )

Untuk menghitung faktor formasi batuan yang mempunyai sifat clean,


Archie memberikan persamaan sebagai berikut :
Rt
F S2w .........................................................(3 4)
Rw
dimana :
Sw = saturasi air formasi, fraksi
Rt = resistivity batuan formasi sesungguhnya, -m
Rw = resistivity air foemasi, -m

Konsolidasi juga berpengaruh pada pori-pori batuan yang terbentuk,


karena akan memperkecil pori-pori batuan. Sedangkan sementasi merupakan
pengisian rongga oleh suatu larutan semen, seperti silikat atau karbonat. Menurut
79

Humble, batuan dengan porositas tinggi mempunyai faktor sementasi (m) rendah,
demikian pula sebaliknya.

3.2.4. Kandungan Lempung Formasi


Pada umumnya formasi pasir mengandung lempung sebagai matrik atau
semen batuan dan kadar clay lining akan bertambah besar jika diameter pori-pori
mengecil.
Material lempung terdiri dari kelompok mika, kaolinite, chlorite, illite dan
montmorilllonite. Setiap kelompok tersebut mempunyai sifat-sifat yang berbeda-
beda tergantung pada komposisi dan struktur dari atom-atom oksigen, silokon dan
unsur-unsur lainnya, kelompok montmorillonite akan mengalami swelling bila
kontak dengan air. Sifat-sifat penting mineral lempung yang berhubungan erat
dengan kestabilan formasi adalah reaksi pertukaran ion, hidrasi lempung dan
dispersi lempung.
Umumnya lempung mempunyai sifat yang basah air atau water wet,
sehingga apabila air bebas melewati formasi yang mengandung lempung akan
menimbulkan dua akibat, yaitu :
1. Lempung akan menjadi lembek
2. Gaya adhesi dari fluida yang mengalir terhadap material yang
dilaluinya akan naik.
Untuk memperkirakan besarnya kandungan lempung dapat digunakan
data-data logging jenis gamma ray, yaitu dengan persamaan :
GR log GR min
Vclay .......... .......... .......... .......... .....(3 5)
GR max GR min
dimana :
Vclay = kandungan lempung, fraksi
Grlog = gamma ray log (pembacaan pada slip log, API unit
Grmax = gamma ray maximum, API unit
Grmin = gamma ray minimum, API unit
80

Akibat dari semua itu, butiran pasir cenderung untuk bergerak ke lubang
sumur, apabila formasi mulai terproduksi. Pembengkakan (swelling) lempung
menyebabkan ruang pori semakin mengecil, sehingga porositas batuan akan
berkurang. Dengan berkurangnya porositas, permeabilitas minyak akan
mengalami penurunan pula. Penurunan permeabilitas akan menyebabkan gradien
tekanan akan lebih besar walaupun kecepatan aliran konstan.

3.2.5. Migrasi Butir-Butir Halus Formasi


Butir-butir halus formasi sebagaimana didefinisikan oleh Muecke adalah
butir-butir halus yang dapat melewati saringan mesh terkecil, yaitu 400 mesh atau
37 m, diendapkan sewaktu terbentuknya batuan dan masuk ke dalam formasi
pada waktu operasi pemboran dan komplesi sumur. Material padat yang sangat
halus ini terdapat di dalam ruang pori-pori sebagai individu partikel yang bebas
bermigrasi bersama aliran fluida.
Dari lima contoh batuan pasir yang tak terkonsolidasi dari Gulf Coast,
ternyata partikel halus yang melewati saringan 400 mesh berkisar antara 2 15 %
berat dan hasil analisa kandungan mineralogi dengan sinar X diperlihatkan pada
Tabel III-2, sedangkan kandungan minralnya diperlihatkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1.
Kandungan Mineral Rata-Rata yang Terdapat Dalam Lima Formasi
dari Gulf Coast
(Gene Anderson, 1975)
81

Tabel III-2
Hasil Analisa Sinar X Butir-Butir Halus Formasi Dari Gulf Coast
(Gene Anderson, 1975)
Well A Well B Well C Well D Well E
Clay
Montmorillonite 55 134 22 14 -
Illite 62 91 3,0 1,7 -
Kaolinite 0,8 42 1,3 0,7 -
Chlorite 3,9 - - - -
Quartz 36,7 24,0 47,3 17,0 68,3
Other Minerals
Feldspar 8,6 5,7 9,1 5,4 114
Muscovite 1,6 - 16 1,0 -
Sodium chlorite 1,1 1,3 7,8 5,0 1,5
Calcite - 1,6 - - 1,5
Dolomite - - 1,8 2,8 -
Barite - - - 22,1 -
Amorphous Mineral 335,6 40,7 25,9 42,9 17,3
Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Dari pengamatan ini ternyata sebagian besar butir halus tersebut bukan
merupakan mineral lempung seperti anggapan sebelumnya.Terbukti bahwa
lempung hanya 11% berat dari seluruh butir dari kelima contoh batuan pasir. Butir
yang terbentuk dari kwarsa ternyata merupakan species yang dominan sebesar
39%, sedangkan sisanya merupakan mineral-mineral selain lempung dan kwarsa,
yaitu dolomite, feldspar, muscovite, kalsite dan barite.
Partikel halus yang bermigrasi bersama aliran ini tidak terbawa sampai
lubang sumur, tetapi hanya terkumpul pada bagian pori-pori yang mengecil,
sehingga menyebabkan penyumbatan dan penurunan permeabilitas.
Pada aliran satu fasa dengan kecepatan yang cukup tinggi, partikel-partikel
halus akan bergerak bersama-sama fluida melewati pori-pori, kecuali apabila
butir-butir halus ini membentuk jembatan mekanis pada pori-pori yang mengecil
82

seperti tampak pada Gambar 3.2. Kemungkinan semakin tertutupnya pori-pori


semakin besar dengan bertambah tingginya konsentrasi partikel halus. Gumpalan
yang terkonsentrasi ini akan mengalami keruntuhan bila terjadi gangguan berupa
perubahan tekanan atau arah aliran.Kecepatan aliran pada saat terbentuknya
partikel-partikel yang terkonsentrasi akan sangat berpengaruh pada kecepatan
aliran yang tinggi, sangat stabil terhadap perubahan arah aliran.

Gambar 3.2.
Pergerakan Partikel-Partikel bersama Fluida Satu Fasa dan Terbentuknya
Gumpalan Partikel Pada Penyempitan Pori-Pori
(Amyx J.W, Bass D.M. Jr, 1960)

Pada kondisi dimana pada ruang pori lebih dari satu fasa fluida, partikel
halus hanya akan bergerak bila fasa yang membasahi bergerak, seperti terlihat
pada Gambar 3.3. berikut ini.
83

Gambar 3.3.
Partikel Basah Air Tidak Akan Bergerak Bila Air Tidak Bergerak
(Amyx J.W, Bass D.M. Jr, 1960)

Partikel yang memiliki sifat basah campuran (mixed wettability)hanya


bergerak sepanjang antar permukaan minyak air. Apabila minyak dan air
mengalir bersama-sama, partikel halus akan ikut bergerak karena aliran air cukup
mampu membawa partikel, seperti tampak pada Gambar 3.5.
Gangguan tekanan akibat bergeraknya antar permukaan minyak air
melalui pori-pori akan mengakibatkan partikel teragitasi, sehingga kecil
kemungkinan terbentuknya gumpalan partikel yang permanen.
Pada umumnya formasi adalah water wet, sehingga partikel tidak akan
bergerak jika yang bergerak hanya minyak. Begitu fasa air bergerak maka partikel
akan bergerak bersama air. Pergerakan partikel ini sangat dipengaruhi oleh
prosentase air di dalam fluida yang terproduksi, seperti terlihat pada Gambar 3.6.
Dengan ikut terproduksinya partikel ke lubang sumur kemudian ke
permukaan dan dianggap sebagai pasir, sedangkan sisanya akan menyumbat pada
pori-pori disekitar lubang sumur. Karena tertutupnya pori-pori akan menyebabkan
84

penurunan permeabilitas dan naiknya gradien tekanan pada busur kestabilan,


sehingga gaya akibat aliran semakin tinggi. Penambahan gaya ini akan merupakan
penyebab runtuhnya kestabilan formasi.

Gambar 3.4.
Pergerakan Partikel-Partikel yang Terbatas Sepanjang Antar Permukaan
Pada Batuan Basah Campuran
(Amyx J.W, Bass D.M. Jr, 1960)

3.2.5. Kekuatan Formasi


Kekuatan formasi dalam hal ini merupakan kemampuan formasi dalam
menahan butiran batuan tetap pada tempatnya akibat gaya yang bekerja padanya.
Kekuatan formasi ini dipengaruhi oleh friksi dan kohesi antar butir pasir. Friksi
akan bertambah besar jika beban overburden bertambah besar, sedang kohesi
antar butir timbul sebagai akibat sementasi dan tegangan antar permukaan fluida.
Kekuatan formasi dapat diketahui melalui modulus elastisitas batuan
dengan menggunakan log, yaitu sebagai berikut :
85

a. Sonic Log
Prinsipnya adalah penentuan interval transit time (t) yang merupakan
fungsi litologi formasi dan porositas yang berdasarkan pengalaman dan
penelitian, maka diperoleh kriteria sebagai berikut :
(t) < 95 s/ft : formasi kompak
95 s/ft < (t) < 105 s/ft : diragukan
(t) > 105 s/ft : formasi tidak kompak

b. Mechanical Properties Log (MPL)


Sifat-sifat mekanisme batuan diperoleh berdasarkan suatu perhitungan
dengan menggunakan persamaan-persamaan dibawah ini :
A b
G 1.34 x 1010 ............................................................... (3 6)
t 2

Bb
1 / C b 1.34 x 1010 ......................................................... (3 7)
t 2

AB 2
G / C b 1.34 2 x 10 20 b
..................................................... (3 8)
t 2

dimana :
1 2U
A
2 1 2U

1 U
B
3 1 U

U = Poissons ratio, dimensionless = 0.125 Vclay + 0.27


G = modulus geser, psi
Cb = kompresibilitas total, psi-1
1/Cb = modulus batuan, psi
b = densitas batuan, gr/cc
t = interval transit time, s/ft
G/Cb = kriteria kekuatan dasar formasi, psi2
86

Untuk menentukan besarnya harga kriteria strength formasi, Tixer


melakukan penelitian terhadap besarnya strength formasi dalam kaitannya dengan
kestabilan suatu formasi. Dari hasil penelitian tersebut, Tixer mendapatkan harga
kriteria strength formasi tertentu yang dapat memberikan indikasi terhadap
kestabilan suatu formasi yaitu sebagai berikut :
G/Cb > 0.8 x 1012 psi2 : formasi kompak (stabil)
G/Cb < 0.8 x 1012 psi2 : formasi tidak kompak (tidak stabil)