Tugas 1
Perencanaan dan Pengembangan Wilayah
Contoh Kasus :
Perubahan Tata Ruang Kota Semarang
Bagus Prahutdi
Inti Lestari
Mashudi Ali
Nono Suwarno
Contents
1
2
3
4
5
6
PENGERTIAN PENGEMBANGAN
PENGERTIAN WILAYAH
PENGERTIAN WILAYAH KOTA / DESA
PENGERTIAN WILAYAH PERKOTAAN / PEDESAAN
UNSUR ATAU ALAT PENGEMBANGAN WILAYAH
CONTOH KASUS
Pengembangan
UU RI
Nomor 18
Tahun 2002
Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu
pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk
meningkatkan fungsi, manfaat, aplikasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang telah ada atau menghasilkan teknologi baru
Serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat
dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas
serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif.
E.B Harlock
Wilayah
Sebuah daerah yang dikuasai
atau menjadi teritorial dari
sebuah kedaulatan.
(www.wikipedia.com)
(Rustiadi, 2006)
Unit geografis dengan batasbatas spesifik tertentu dimana
komponen-komponen wilayah
tersebut satu sama lain saling
berinteraksi secara fungsional
Ruang yang merupakan kesatuan
geografis beserta segenap unsur
yang terkait kepadanya yang batas
dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif
dan atau aspek fungsional.
(UU No 26 tahun 2007)
(Iwan Nugroho, 2006)
Area geografis yang memiliki ciri
tertentu dan merupakan media
bagi segala sesuatu untuk
berlokasi dan berinteraksi
Wilayah Kota
Kota adalah permukiman yang berpenduduk relatif besar,
luas, areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris,
kepadatan penduduk relatif tinggi, tempat sekelompok
orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam
suatu wilayah geografis tertentu yang cenderung berpola
hubungan rasional, ekonomis dan individualistis,
(http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota)
Struktur Penggunaan Lahan Kota
Menurut Teori Konsentrik
Dikemukakan oleh E. W. Burgess, 1929.
kota dibagi menjadi 6 wilayah :
Zona 1 : Pusat Daerah Kegiatan
Zona 2 : Peralihan atau zona transisi
Zona 3 : Permukiman kelas proletar
Zona 4 : Pemukiman kelas menengah
Zona 5 : Kawasan elit
Zona 6 : Daerah batas desa-kota
Struktur Penggunaan Lahan Kota (cont)
Menurut Teori Sektoral
Dikemukakan oleh Homer Hoyt
Unit-unit kegiatan di perkotaan
tidak mengikuti zona-zona
teratur secara konsentris, tetapi
membentuk sector-sektor yang
sifatnya lebih bebas.
Keterangan:
o
o
o
o
o
(sumber: www.primasiswa.com)
1= pusat kota
2=industri ringan dan perdagangan
3=tempat tinggal kaum buruh
4=tempat tinggal kaum menengah
5=tempat tinggal golongan atas
Struktur Penggunaan Lahan Kota (cont)
Menurut Teori Inti Ganda (oleh : Harris dan Ullman)
(sumber: http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dan-kota)
Pola - Pola Kota
Pola Sentralisasi
Pola persebaran kegiatan kota yang
cenderung berkumpul pada satu daerah
utama.
Pola Desentralisasi
Pola persebaran kegiatan kota cenderung
menjauhi titik pusat kota atau inti kota
Pola Nukleasi
Pola yang mirip dengan pola penyebaran
sentralisasi dengan skala ukuran yang
lebih kecil
Pola Segresi
Pola persebaran yang saling terpisah satu
sama lain menurut pembagian sosial,
budaya, ekonomi dll.
(sumber: http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dan-kota)
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA/Pola_keruangan_desa.pdf
Wilayah Desa
Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul
dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
(Sumber : PP RI No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Republik Indonesia No. 13 Tahun 2012 )
Bentuk Desa
Desa linier
Desa berkembang memanjang mengikuti
jalan raya, sungai atau lembah
Desa radial (terpusat)
Pemekaran desa bentuk terpusat ini
berkembang ke segala jurusan, dan pusatpusat kegiatan bergerak mengikuti
pemekaran
Desa mengelilingi lapangan
terbuka, alun-alun atau fasilitas
tertentu
Desa yang terdapat di pantai
Apabila bentuk pantai landai maka desa
akan berkembang memanjang di tepi
pantai, sedangkan bila desa berbentuk
lembah, desa akan terkonsentrasi di
dalam lembah tersebut.
Pola desa
The farm village type
Pola desa dengan ciri penduduk tinggal bersama
di suatu tempat di sekitarnya terdapat lahan
pertanian. Unit-unit keluarga tinggal secara
berkelompok karena penduduknya tidak terlalu
padat
The nebulous farm type
Pola desa dengan ciri penduduk tinggal bersama di
suatu tempat dengan lahan pertanian di sekitarnya,
tetapi ada sebagian kecil penduduk tersebar di luar
pemukiman pokok. Hal ini dikarenakan padatnya
pemukiman pokok.
The arranged isolated farm type
Desa dengan pola seperti ini memiliki ciri
pemukiman penduduknya berada di sepanjang jalan
utama desa dan terkonsentrasi pada pusat
perdagangan (trade center). Lahan pertanian
berada di sekitar pemukiman
The pure isolated type
Desa dengan pola ini memiliki ciri penduduknya tinggal
tersebar secara terpisah dengan lahan pertanian masingmasing dan terpusat pada suatu daerah perdagangan.
Wilayah Perkotaan
Wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi.
Pola keruangan kota kaitannya dengan tata guna lahan. Wilayah
perkotaan melilputi :
Kota (inti kota)
Sub daerah perkotaan
Jalur tepi daerah perkotaan
Jalur tepi perkotaan paling luar
Jalur batas desa-kota pedesaan
Model Pola Ruang Perkotaan
Model Pola Ruang Perkotaan
(Sumber: http://destinationteendestination.blogspot.com/2010/09/review-teori-lokasi-n-polaruang.html)
Kota Turks di Tiongkok yang mengambil
Pola Radial Konsentris
(Sumber : www.epochtimes.co.id)
Wilayah Pedesaan
Wilayah yang memiliki kegiatan utama pertanian.
Termasuk pengelolaan SDA dengan fungsi
kawasan sebagai tempat pemukiman, desa
pelayanan jasa, pemerintahan, pelayanan
sosial,dan kegiatan ekonomi.
(www.wikipedia.com)
Perencanaan Pengembangan Kota
dan Wilayah
Perencanaan tata ruang kawasan perkotaan dapat diartikan sebagai kegiatan
merencanakan pemanfaatan potensi dan ruang perkotaan serta
pengembangan
Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan antara yang satu dan yang lain dan harus
dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga diharapkan :
Dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu
mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang.
Tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
(Sumber: http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota).
Kebutuhan Disiplin Ilmu dalam Perencanaan Kota
Perencanaan Pengembangan Kota
dan Wilayah cont.
Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong
terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui
pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik,
ekonomi, sosial, dan budaya (Misra R.P, Regional
Development,1982).
(Sumber: http://dhenov.blogspot.com/2007/12/pengembangan-wilayah-deui.html)
Unsur /Alat Pengembangan Wilayah
Perumahan
Industri
Tata Guna Lahan
Transportasi
Rekreasi dan Wisata
(Sumber: Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, 2009)
Perumahan
Perumahan merupakan salah satu sarana penghunian yang erat sekali
kaitannya dengan tata cara kehidupan masyarakatnya. Dalam
pengembangan lingkungan perumahan, ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan, yaitu aman, nyaman, dan terjangkau sehingga tercapai azas
serasi, selaras dan seimbang dalam kehidupan masyarakat.
Industri
Lokasi kegiatan industri terjadi setelah terbentuk struktur
wilayah berdasarkan kegiatan pelayanan, yang akhirnya
akan mengembangkan suatu tempat sentral (kota) yang
terjadi.
Tata Guna Lahan
Kebutuhan akan perencanaan penggunaan lahan berkaitan erat dengan penggunaan
lahan-lahan yang lain Hubungan antara berbagai penggunaan dapat saling mendukung,
namun dapat juga saling merusak. Oleh karena itu, perencanaan tata guna lahan
harus diawali dengan suatu penentuan penggunaan-penggunaan lahan dan lokasi
yang berkaitan erat dengan topografi, geologi, dan geografi kota.
Perencanaan Tata Guna lahan pada hakekatnya adalah Pemanfaatan lahan yang
ditujukan untuk suatu permukaan tertentu
Maksud Rencana tata guna lahan adalah untuk mencapai tujuan-tujuan fisik, ekonomi,
dan sosial suatu daerah. Rencana tata guna lahan sangat terkait dengan keputusankeputusan dan investasi pemerintah dan swasta, sehingga memberikan suatu
pengaruh yang kuat pada laju pertumbuhan, karakter , dan pola lingkungan fisik kota
Transportasi
Hubungan antara transportasi dan tata guna lahan sangatlah penting. Bermacam-macam pola pengembangan lahan
menghasilkan bermacam-macam kebutuhan akan transportasi. Bentuk sistem sirkulasi mempengaruhi pola
pengambangan lingkungan perkotaan dan pola tata guna lahan
Alasan sistem transportasi perlu direncanakan:
o Menjamin keterkaitan di antara sistem sirkulasi suatu kawasan dengan sistem sirkulasi pada kawasan
sekitarnya
o Meningkatkan hubungan fungsional di antara berbagai jenis peruntukkan di dalam kawasan
o Rencana sistem transportasi mencakup jalan raya dan jalan-jalan utama, rute angkutan umum, jalan
kereta api, bandar udara, dan jalan air
o Rencana tersebut mempolakan rute transportasi di seluruh kota dan sekitarnya
o Di dalam rencana ini, semua jalur kendaraan yang diintegrasikan untuk memindahkan orang dan barang
di dalam dan di sekitar daerah perkotaan.
Sejalan dengan perkembangan kota, maka rencana sirkulasi akan menjadi suatu acuan untuk membangun dan
memperluas sistem sirkulasi, (Sumber: Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, 2009)
Pola Jaringan Jalan
Rekreasi dan Wisata
Sarana Rekreasi dan wisata merupakan kawasan penarik perjalanan.
Juga merupakan kawasan dimana bisnis-bisnis kecil berkembang.
Ada 3 kategori ruang rekreasi yang erat kaitannnya dengan luas lahan
yang digunakan :
o Halaman bermain
o Tempat bermain lingkungan
o Lapangan bermain
Ketiga kategori di atas memenuhi fungsi spesifiknya baik dalam
rancangan lingkungan maupun kelompok lingkungan (George Butler,
Recreation areas, 1958)
Zonasi
Zoning adalah pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan karakteristik
semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.
Tujuan penyusunan peraturan zonasi adalah:
o Mengatur kepadatan penduduk dan intensitas kegiatan, mengatur keseimbangan dan
keserasian peruntukan tanah dan menentukan tindak atas suatu satuan ruang.
o Melindungi kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
o Mencegah kesemrawutan, menyediakan pelayanan umum yang memadai serta
meningkatkan kualitas hidup.
o Meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan.
o Memudahkan pengambilan keputusan secara tidak memihak dan berhasil guna serta
mendorong peran serta masyarakat.
Peraturan dan Perundangan Terkait
Perencanaan dan Pengembangan
Wilayah
UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
UU No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
UU No 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
PP No.10 Tahun 2000 Tentang Tingkat Penelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah.
PP No.16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah
PP No.26 tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
PP No.24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri
PP No.10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan
PP No.15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
PP No.24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan
PP No.68 Tahun 2010 Tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang
CONTOH KASUS :
PERUBAHAN TATA GUNA RUANG DAN
LAHAN KOTA SEMARANG
Profil Kota Semarang
Profil Kota Semarang
Luas
Terbagi
kelurahan
jmlh penduduk
2002)
Batas Utara
Batas Selatan
Batas Timur
Batas Barat
: 373,7 km2,
:16 kecamatan dan 177
: 1.350.005 jiwa. (thn
: Laut Jawa
: Kabupaten Semarang
: Kabupaten Demak
: Kabupaten Kendal
Luas Wilayah Kota Semarang
Kegiatan Ekonomi Semarang Tahun 2001
WILAYAH PENGEMBANGAN (WP)
1.
2.
3.
4.
5.
WP I :
a.
BWK I :Semarang Tengah,
Semarang Timur, Semarang Selatan
b.
BWK II : Gajahmungkur, Candisari
c.
BWK III : Semarang Barat,
Semarang Utara
WP II
a.
BWK IV : Genuk
b.
BWK V : Gayamsari, Pedurungan
WP III
a.
BWK VI : Tembalang
b.
BWK VII: Banyumanik
WP IV
a.
BWK VIII: Gunung Pati
b.
BWK IX : Mijen
WP V
1.
BWK X : Ngalian, Tugu
Karakteristik Utama Kota Semarang
Semarang berada diantara dua
kutub pengembangan utama
nasional, yaitu Jakarta dan
Surabaya.
Semarang berada di jalur pantura
yang merupakan salah satu jalur
utama dalam sistem transportasi
nasional.
Semarang merupakan pintu
gerbang dari daerah-daerah lain
yang berada di Propinsi Jawa
Tengah.
Semarang Land Use
Seiring dengan perkembangan
Kota, Kota Semarang berkembang
menjadi kota yang memfokuskan
pada perdagangan dan jasa
Terutama di Kawasan Simpang
Lima
(Sumber: Bappeda Semarang, 2005)
Faktor penduduk Semarang yang
pada tahun 2007 telah mencapai
lebih dari 1,4 juta dan sekarang
pada tahun 2010 telah mencapai
lebih dari 1,5 juta orang. Tingkat
pertambahan penduduknya
sebesar 1,4% per tahun. Sehingga
kebutuhan daerah permukiman
semakin meningkat.
Perubahan Tata Ruang Kota
Semarang
ASPEK EKOLOGIS
Menurut aturan internasional mengenai
ruang terbuka hijau suatu kota harus
mencapai angka 30% dari luas kota.
Kesepakatan masyarkat internasional
ini juga di sepakati oleh pemerintah
indonesia dengan menetapkan agar
daerah perkotaan memiliki minimal 20%
dari luas kawasan perkotaannya untuk
ruang publik ini (Mendagri No.1 tahun
2007, pasal 9 ayat 1).
Sementara pada Perda No.14 Tahun
2011 RTRW kota Semarang pasal
64.huruf b, menyatakan Kawasan RTH
semarang sebesar 7,5% luas wilayah
(Analisis Berdasar Peraturan Mendagri No.1 Tahun 2007
dan PP No.14 Tahun 2011)
Tata Guna Lahan DAS Beringin yang
mencakup Kecamatan Mijen dan
Ngaliyan yang Berubah Fungsi dari
Area Hijau dan Pertanian menjadi
Perumahan.
(Sumber: Edy S., Bambang S., dalam Jurnal Riptek Vol 6.
Perubahan Tata Ruang Kota
Semarang cont.
ASPEK EKOLOGIS
Banjir Rob di Kawasan Pesisir
Adanya aktivitas reklamasi pantai
dan rusaknya hutan bakau serta
peningkatan jumlah sumur artesis,
dan pengambilan air tanah yang
berlebihan di Semarang Bawah
mengakibatkan penurunan
permukaan tanah dan rob air laut
Adanya ketidak konsistenan
Pemkot Semarang dalam
pelaksanaan rencana tata ruang
kota yang telah dibuat, sehingga
sering terjadi pelanggaran yang
dapat menimbulkan berbagai
permasalahan salah satunya
adalah Banjir
Kebijakan Pemerintah :
Pembuatan embung-embung untuk menampung air di
beberapa lokasi di Kota Semarang salah satunya di
Sekaran-Gunungpati (dalam proses pembangunan);
Pembuatan Waduk Jatibarang dan Polder Tawang;
Banjir Akibat Masalah Drainase :
Sebagian dari saluran-saluran drainase yang
ada kadang tersumbat oleh sampah-sampah
yang dibuang oleh masyarakat ke badan
sungai
Pembangunan saluran drainase baru tanpa
perencanaan dan mengabaikan prinsip dasar
kegunaan 2 kanal (Banjir Kanal Barat & Timur)
yang dibangun Pemerintah Kolonial, sehingga
fungsinya kurang optimal;
Kebijakan Pemerintah :
Kegiatan normalisasi dan pengerukan
sedimentasi dasar sungai pada sungai-sungai
utama di Kota Semarang,
Pemasangan pompa air dibeberapa titik di
beberapa sungai-sungai untuk memperlancar
aliran air
Sudah ada rencana pembuatan master plan
rencana induk drainase Kota Semarang.
ASPEK SOSIAL
Perumahan, dimana sekarang ini
pertumbuhan kawasan permukiman di
daerah pinggiran begitu pesat. Hal ini
dikarenakan terdapat fenomena
kecenderungan pembangunan dan
pengembangan kawasan perumahan di
daerah pinggiran seperti Gunungpati,
Tembalang dan Mijen dengan ketersediaan
lahan yang cukup luas dan harga terjangkau
Adanya rencana tata ruang yang
mengalokasikan daerah tersebut
untuk kawasan permukiman dengan
didukung pada masing-masing daerah
tersebut diletakkan pusat aktivitas
baru seperti kawasan pendidikan
(Unnes-Gunungpati, Tembalang),
kawasan industri (Tugu-Candi,
Terboyo, Genuk dll).
(Sumber: Prihadi N., Agung S., Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009)
Aspek infrastruktur
Hampir 100% seluruh wilayah di Kota Semarang sudah terjangkau oleh jaringan jalan, listrik dan air bersih. Selain itu juga
seluruh wilayah terutama yang berada di pinggiran juga sudah terlayani oleh moda transportasi minimal ojek atau
angkutan bak terbuka
Aspek Fasilitas
Masing-masing kecamatan di Kota
Semarang terutama yang berada di
daerah pinggiran seperti
Kecamatan Gunungpati, Mijen dan
Tembalang sudah terlayani oleh
beberapa fasilitas penting seperti
minimarket, pasar, sekolah,
perumahan, kesehatan,
peribadatan, akses jalan, bank.
(Sumber: Prihadi N., Agung S., Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009)
Aspek Transportasi
Sekarang ini sudah tersedianya
layanan angkutan umum massal
BRT (bus rapid transit) Trans
Semarang sebagai jawaban atas
tingginya tuntutan masyarakat atas
pelayanan yang prima. Namun
program BRT ini kurang berjalan
lancar terkendala masalah dana
operasional dan kesiapan BRT
maupun SDM sebagai
pelaksananya
Beberapa Permasalahan Transportasi di
kota Semarang diantaranya:
Kemacetan lalu lintas pada jam sibuk (pagi dan sore)
Tersedia lahan parkir on the street dengan tingkat
volume kendaraan tinggi
Fasilitas trotoar yang tidak memadai, rusak, tertutup
pohon, pot, dan tanpa penutup drainase
Keberlanjutan Bandara Ahmad Yani di lingkungan
padat penduduk dan perbukitan
Beberapa kebijakan pemerintah menangani
masalah transport kota Semarang:
(Sumber: Prihadi N., Agung S., Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009)
Kebijakan Pemerintah tentang rencana
pengembangan Jalan Tol Trans Jawa
Wacana Bandara Ahmad Yani akan dipindah keluar
Kota Semarang dalam hal ini akan dipindah ke
Kabupaten Kendal atau Demak
Pelebaran Jalan Raya Kaligawe hingga perbatasan
Demak
(Sumber: Prihadi N., Agung S., Riptek Vol.3, No.2 Tahun
2009)
(Sumber: www.bkreatif.co.id)
Penutup
Kesimpulan :
Pengembangan Wilayah merupakan suatu upaya
untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah
secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat
komperhensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial,
dan budaya, wilayah yang dimaksud dapat berupa
kota dan desa
Unsur/ alat pengembangan wilayah ialah
transportasi, pusat permukiman, industri, rekreasi.
Pengembangan wilayah juga tergantung kepada tata
guna lahan.
Perubahan tata ruang kota Semarang diantaranya
pendirian pemukiman dilahan hijau dan pertanian,
perkembangan arah permukiman ke daerah yang
lebih tinggi disebabkan banjir rob dan drainase yang
rusak. Perubahan area pertanian ke industri.
Kebijakan dalam perencanaan transport yang kurang
baik.
Referensi :
Saran :
Diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai
pengembangan wilayah
Pada studi selanjutnya dapat diperbanyak kasus
perubahan tata runag kota Semarang
Bappeda Semarang, 2005.
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/1
97210242001121BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA
/Pola_Keruangan_Desa_dan_Kota.pdf diunduh Rabu 23
Januari 2013.
http://destinationteendestination.blogspot.com/2010/09/review-teori-lokasi-npola-ruang.html diunduh Kamis 24 Januari 2013.
http://primasiswa.com/posts/312/bab-1-pola-ruang-desa-dankota diunduh Kamis 24 Januari 2013.
http://geografi161.blogspot.com/2008/10/desa-dan-kota.html
diunduh Rabu 23 Januari 2013.
http://www.bekasikota.go.id/read/6054/dinas-tata-kota
diunduh Rabu 23 Januari 2013
N., Prihadi, S., Agung. Studi Kebijakan Pembangunan
Terhadap Perubahan Tata Ruang di Kota Semarang. Dalam
Riptek Vol.3, No.2 Tahun 2009.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kota Semarang Tahun 2010-2015.
S., Edy, S., Bambang. Kajian Hidrologi terhadap Perubahan
Penggunaan Lahan Pertanian dan Lahan Hijau menjadi
Pemukiman di Kota Semarang. Dalam Jurnal Riptek Vol 6.
No.1 Tahun 2012.
Semarang dalam Angka 2009.
www.semarangkota.com diunduh Kamis 24 Januari 2013