Pengembangan Wilayah, Tata Ruang,
BAB I dan Pengaruhnya terhadap
Kebahagiaan
Capaian Akhir Fase
Pada akhir fase F peserta didik memahami berbagai Fenomena Geografis dan
Permasalahan Keruangan, baik fisik maupun sosial. Peserta didik mampu mencari
ide solusi atas Persoalan Kelingkungan dan Kewilayahan yang ada terkait
Pengembangan Wilayah dalam Pembangunan dan Kerja Sama Antarwilayah.
Peserta didik mampu merencanakan pembangunan wialayah berdasarkan sumber
daya alam yang ada, karakteristik wilayah, kebencanaan dan perubahan iklim yang
menjadi tantangan abad ini. Peserta didik mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, mengorganisasikan informasi, menarik kesimpulan, mengomunikasikan,
dan merefleksikan dan merencanakan proyek lanjutan secara kolaboratif dalam
ruang lingkup pengembangan wilayah dan kerja sama antarwilayah.
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat menganalisis pengembangan wilayah, tata ruang, dan
pengaruhnya terhadap indeks kebahagiaan masyarakat.
2. Peserta didik dapat mengenalisis pengembangan wilayah desa dan kota
kaitannya dengan indeks kebahagiaan masyarakat.
Pengantar
Sumber: https://cdn1.katadata.co.id/media/images/thumb/2023/07/28/Progres_pembangunan_kawasan_Istana_di_IKN_Nusantara-
2023_07_28-16_53_03_5aa310b66f80ae1f789a7b3597c12dfe_960x640_thumb.jpeg
Wilayah adalah salah satu konsep penting dalam geografi dan menjadi bagian
penting dalam perkembangan hidup manusia. Gambar di atas menunjukkan proyek
Pembangunan wilayah Ibukota Nusantara yang menjadi proyek strategis nasional
Indonesia. Pengembangan wilayah baru diharapkan akan memicu pertumbuhan
ekonomi yang lebih merata di seluruh Indonesia.
A. PENGEMBANGAN WILAYAH
a. Definisi Wilayah
Menurut Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, wilayah atau region adalah ruang yang merupakan
kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait kepadanya
yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif atau aspek fungsional. Berikut ini beberapa definisi
wilayah menurut berbagai ahli:
a) R.E. Dickinson
Wilayah adalah daerah tertentu yang terdapat sekelompok
kondisi fisik yang telah memungkinkan terciptanya tipe-tipe
ekonomi tertentu.
b) Vidal de La Blache
Wilayah adalah suatu tempat dimana didalamnya berisikan hal
tidak sama. Namun saling menyelaraskan satu sama lainnya
supaya menghadirkan kebersamaan.
c) Bintarto
Wilayah adalah sebagian permukaan bumi yang dapat
dibedakan dalam hal-hal tertentu dengan daerah sekitarnya.
d) Ditjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis
beserta segenap unsur tekait di dalamnya yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan
fungsional.
b. Klasifikasi Wilayah
Klasifikasi wilayah adalah proses mengelompokkan area
geografis berdasarkan karakteristik tertentu untuk memahami
pola, tren, dan perbedaan dalam berbagai wilayah. Klasifikasi
wilayah dapat bergantung pada berbagai faktor, termasuk
geografi fisik, demografi, ekonomi, budaya, politik, dan
lingkungan. Wilayah secara umum dapat dikategorikan menjadi
wilayah formal, wilayah fungsional dan wilayah vernakuler.
1) Wilayah Formal (Uniform Region)
Wilayah formal adalah wilayah geografis yang homogen dan
seragam dalam suatu kriteria tertentu. Kriteria yang ditentukan
ini dapat berupa fisik, sosial, atau politik. Contohnya Wilayah
Himalaya, Wilayah Sub-Tropis, Wilayah Pertanian. Wilayah
seperti itu dapat disebut sebagai wilayah alami karena mereka
ada secara alami pada ruang geografis. Wilayah formal
dicirikan dengan adanya homogenitas atau kesamaan dalam
satu atau lebih karakteristik yang berbeda. Karakteristik tersebut
bisa berupa aspek budaya seperti bahasa, kegiatan ekonomi
tertentu, iklim atau pola cuaca.
2) Wilayah Fungsional (Nodal Region)
Wilayah fungsional yang menampilkan keterkaitan fungsional
tertentu, saling ketergantungan antar bagian ketika didefinisikan
berdasarkan kriteria tertentu dikenal sebagai wilayah fungsional.
Hubungan fungsional biasanya diungkap dalam bentuk arus,
dengan menggunakan ekonomi sosial, menggunakan kriteria
seperti perjalanan ke tempat kerja, perjalanan belanja, arus atau
komunitas, sirkulasi surat kabar, telepon, surat elektronik, dan
lain-lain. Wilayah fungsional, juga dikenal sebagai wilayah nodal
dikontrol sekelilingnya oleh suatu simpul atau titik fokus.
Kadang- kadang disebut sebagai wilayah terpolarisasi dan terdiri
dari unit-unit heterogen seperti kota, kota kecil & desa yang
secara fungsional saling terkait.
Gambar 1.1 Salah satu sudut pusat daerah bisnis dan kegiatan di kota Jakarta
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/96/Sudirman_Central_Business_District_%28SCBD%29.jpg
3) Wilayah Vernakuler (Perceptional Region)
Wilayah vernakuler adalah sebuah wilayah yang khas di mana
penduduknya secara kolektif mereka sendiri yang saling
terhubung oleh sejarah bersama, kepentingan bersama, dan
identitas bersama. Wilayah seperti itu adalah "penemuan
intelektual" dan bentuk singkatan untuk mengidentifikasi
benda, orang, dan tempat, dan tempat. Wilayah vernakuler
sering disebut juga sebagai ”perceptional region” dimana
penduduk sangat berkaitan erat dengan identitas
budaya yang
berkembang. Contoh wilayah vernakuler di Indonesia
diantaranya adalah Bogor kota hujan, Cirebon kota udang,
Surabaya kota pahlawan, Yogyakarta kota gudeg, dan
Banjarmasin kota seribu satu sungai.
c. Teori-Teori Wilayah
1) Teori Kutub Pertumbuhan
Potensi dan kemampuan wilayah di permukaan bumi ini
berbeda-beda sehingga perlakuan yang dilakukan untuk kegiatan
pembangunan akan berbeda-beda. Salah teori yang muncul atas
dasar perbedaan keadaan geografis tersebut adalah Teori Kutub
Pertumbuhan (Growth Pole). Growth Pole dikemukakan oleh Francoise
Perroux yang berasumsi bahwa pembangunan dan pertumbuhan
tidak terjadi di semua wilayah, akan tetapi terbatas hanya pada
beberapa tempat tertentu dengan variabel yang berbeda- beda
intensitasnya. Menurut Perroux sebuah kutub pertumbuhan dapat
terbentuk dari adanya industri pendorong.
2) Teori Tempat Sentral
Teori ini dikemukakan oleh Walter Christaller pada tahun 1933
dalam bukunya yang berjudul Central Places in Southern Germany.
Menurut teori ini suatu pusat aktivitas yang melayani kebutuhan
penduduk harus terletak pada suatu lokasi yang sentral, yaitu
wilayah yang memungkinkan partisipasi manusia dalam jumlah
yang maksimum baik produsen dan konsumen. Teori Tempat
Sentral mengandung dua konsep dasar yaitu threshold dan range.
Threshold adalah jumlah minimum populasi yang dibutuhkan
sebagai syarat terjadinya pelayanan sedangkan range adalah jarak
maksimum yang dibutuhkan penduduk ke tempat pelayanan.
Hierarki Tempat Sentral terbagi tiga yaitu K3 disebut pusat pasar
optimum, K4 disebut pusat lalu lintas optimum dan K7 disebut
pusat adiminstratif optimum.
3) Teori Lokasi Pertanian
Teori lokasi pertanian dikemukakan oleh Von Thünen
menjelaskan hubungan antara biaya transportasi hasil panen dan
biaya lahan. Dia melihat fenomena tersebut sebagai struktur
spasial. Pada tahun 1826 ia menerbitkan buku The Isolated State,
meskipun buku ini tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris
selama lebih dari seratus tahun, dan baru muncul dalam bahasa
Inggris pada tahun 1966. Kesimpulan Von Thünen adalah bahwa
produk pertanian harus ditanam di zona konsentris di luar pusat
kota.
Dia mempertimbangkan biaya tanah di setiap lokasi. Dia juga
mempertimbangkan biaya pengangkutan setiap jenis produk jika
mereka menempuh jarak yang sama. Tujuannya adalah untuk
menempatkan komoditas dengan biaya transportasi tertinggi
yang paling dekat dengan kota.
B. PENGEMBANGAN DESA KOTA
a. Pengertian dan Potensi Desa
Sekitar 43% total populasi Indonesia bermukim di wilayah
perdesaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),
Indonesia memiliki 81.616 desa yang tersebar dari Sumatera
hingga Papua. Berikut ini pengertian desa menurut berbagai ahli:
a) Menurut R. Bintarto
Desa merupakan perwujudan geografis yang ditimbulkan
oleh unsur- unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politik, kultural
yang terdapat pada suatu daerah serta memiliki hubungan dan
pengaruh timbal balik dengan daerah lain.
b) Menurut Sutarjo Kartohadikusumo
Desa merupakan suatu kesatuan hukum dimana masyarakat
bermukim dan berkuasa serta mengadakan pemerintahan
sendiri.
c) Menurut PP No 57 Tahun 2005
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal
usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam
sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai suatu wilayah, desa memiliki potensi baik itu potensi
fisik maupun non fisik untuk didayagunakan masyarakatnya. Jika
kedua potensi tersebut dikelola dengan maksimal maka akan
mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat desa itu sendiri.
Potensi fisik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi
fisiografis wilayah desa itu sendiri seperti keadaan tanah, cuaca dan
iklim, luas desa dan hewan ternak. Potensi non fisik berkaitan
dengan penduduk desa beserta budaya dan perangkat-perangkat
desa di
dalamnya seperti aparatur desa, lembaga-lembaga desa, adat
istiadat dan gotong royong.
b. Perkembangan dan Pola Ruang Desa
Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 11 Tahun
1972, desa dapat dikategorikan menjadi desa swadaya, desa
swakarya dan desa swasembada.
1) Desa Swadaya memiliki karakteristik masyarakatnya masih
tradisional, mata pencaharian homogen, aksesibiltas masih
sulit, adat istiadat mengikat dan belum adanya Lembaga
desa yang modern.
2) Desa swakarya memiliki karakteristik mulai adanya
Pembangunan seperti dalam kelembagaan desa, mata
pencaharian mulai beragam, fasilitas sosial mulai beragam
dan sudah mulai berinteraksi dengan wilayah lain. Desa
swakarya sering disebut juga sebagai desa transisi.
3) Desa swasembada memiliki karakterisik masyarakatnya
sudah memiliki pola pikir rasional, tingkat pendidikan yang
sudah baik, mata pencaharian sudah banyak bergerak di
sektor industri dan jasa.
Pola keruangan suatu desa berbeda-beda tergantung kondisi
geografisnya. Kondisi geografis tersebut dapat meliputi lokasi desa,
ketersediaan air, kondisi tanah, jalan dan lainnya. Secara umum
terdapat 3 pola keruangan suatu desa yaitu Pola Memusat, Pola
Menyebar dan Pola Memanjang.
1) Pola Desa Memusat (Nucleated) biasa terbentuk pada wilayah
dataran rendah subur, depresi pegunungan atau di lokasi
terdapat mata air. Karena jarak antar rumah berdekatan
maka biasanya kekerabatan antar masyarakat sangat tinggi.
2) Pola Desa Memanjang (Linier) memiliki ciri pemukiman yang
berada disamping jalan, rel kereta, pantai atau sungai.
Masyarakat cenderung memilih pemukiman di dekat akses
transportasi agar memudahkan mobilitas sehari-hari.
3) Pola Desa Menyebar (Dispersed) memiliki ciri pemukiman
yang tidak merata di satu titik tetapi menyebar ke segala
penjuru desa. Hal ini bisa disebabkan perbedaan tingkat
kesuburan tanah dan sebaran titik air.
c. Pengertian dan Karakteristik Kota
Kota (urban/city/town) merupakan tempat aktivitas manusia
yang sangat kompleks. Daerah perkotaan sangat identik dengan
kepadatan penduduk, jaringan jalan yang banyak, kemacetan
dan lainnya. Berikut ini beberapa pengertian kota menurut
berbagai ahli.
a) Menurut R. Bintarto
Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang
ditandai dengan kepadatan penduduk yang memilliki tingkat
strata sosial yang heterogen dengan corak kehidupan
materialistis.
b) Menurut Amos Rappoport
Kota adalah suatu pemukiman yang relatif besar, padat
dan permanen yang terdiri dari kelompok individu-individu
yang heterogen dari segi sosial.
c) Menurut Max Webber
Kota adalah suatu tempat yang penghuninya dapat
memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar
lokal.
Kota merupakan tempat dimana segala macam kebutuhan
manusia dapat terpenuhi. Secara fisik kota dapat dilihat dari
banyaknya gedung-gedung perkantoran, sistem jaringan jalan yang
lebar, adanya pasar modern dan masih banyak lagi. Menurut aspek
sosial, masyarakat perkotaan dapat dilihat dari sifatnya yang relatif
individualis, adanya sistem pembagian kerja yang jelas dan pola
pikir yang rasional. Kota memiliki fungsi dan peranan sebagai
berikut
1. Sebagai pusat pemukiman penduduk.
2. Sebagai pusat kegiatan ekonomi.
3. Sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara.
4. Sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya.
Gambar 1.2 Perbedaan kenampakan desa dan kota
https://miro.medium.com/v2/resize:fit:1400/1*TYTOuZyDeraAD9yAqQDptg.png
d. Tahap Perkembangan Kota
Lewis Mumford seorang pakar arsitektur kota Amerika Serikat
mengklasifikasikan kota dari segi fisik dan budayanya ke dalam
enam tahapan perkembangan yaitu:
1) Eopolis, dicirikan dari adanya perkampungan kecil yang
masyarakatnya masih berfokus pada kegiatan ekonomi agraris.
2) Polis, dicirikan dengan munculkan kegiatan perdagangan/pasar
namun pengaruhnya belum begitu besar.
3) Metropolis, dicirikan dengan kenampakan struktur kota yang
sudah cukup berkembang besar dengan adanya batas-batas
pusat pertumbuhan dan pengaruh kota sudah menyebar ke
daerah sekitarnya
4) Megalopolis, dicirikan dengan perilaku manusia yang
berorientasi materialisitis dengan birokrasi yang buruk.
Standarisasi produk industri lebih penting dalam tahap kota ini.
5) Tiranopolis, dicirikan dengan kondisi politik yang buruk dan
perdagangan yang menurun drastis. Tahap ini merupakan awal
kehancuran sebuah kota.
6) Nekropolis, dicirikan kehancuran total melanda kota mulai dari
kelaparan, perang, bencana dan kehancuran bangunan.
Kenyamanan sudah tidak dapat ditemukan pada kota seperti ini
dan mulai ditinggalkan penduduknya.
e. Teori Pola Ruang Kota
Pola keruangan kota dapat mencirikan arah perkembangan kota
itu sendiri dan biasanya dikontrol oleh berbagai faktor mulai dari
fisiografis hingga kebijakan politik. Beberapa teori keruangan kota
adalah teori konsentrik, teori sektoral dan teori inti ganda.
1. Teori konsentrik
Teori konsentrik dikemukakan oleh Ernest Watson Burgess
seorang ahli sosiologi kota. Ia mencoba menganalisis tentang
perkembangan kota Chicago dan menghasilkan kesimpulan
bahwa kota besar memiliki perkembangan ke arah luar dari
pusat kota sehingga membentuk pola lingkaran berlapis. Hal ini
dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat.
2. Teori Sektoral
Teori sektoral dikemukakan oleh Hommer Hoyt seorang ahli
Tata Guna Lahan. Ia berpendapat bahwa perkembangan kota
tidak berbentuk konsentris akan tetapi berbentuk sektor-sektor
dan dipengaruhi oleh sarana transportasi seperti jalan raya dan
rel kereta api.
Teori sektoral pada dasarnya sama dengan teori konsentris
dimana perkembangan kota berasal dari inti kota dan menyebar
ke arah luar. Selain dipengaruhi faktor transportasi, harga jual
dan sewa lahan juga memengaruhi arah perkembangan sektor-
sektor tersebut. Jadi satu sektor dapat berkembang lebih cepat
dibandingkan sektor lainnya.
3. Teori Inti Ganda
Teori ini dikemukakan oleh Chauncy Harris dan Edward Ullman
pada 1945. Mereka berteori bahwa Pusat Daerah Kegiatan atau
CBD tidak selalu berada tepat di tengah kota namun dapat
berada di sisi luar kota. Selain itu CBD dalam satu kota bisa lebih
dari satu lokasi. Pola perkembangan kota model ini tidak teratur
dan lebih menyebar.
Gambar 1.3 Evolusi teori pola ruang kota
https://www.researchgate.net/publication/351449978/figure/fig9/AS:11431281128452303@1679370197
933/Clas sical-models-of-urban-structure-A-Concentric-zone-model