Di kelas, si kembar Rama dan Raya mempunyai dua sahabat.
Mereka adalah Fandi dan
Beni. Fendi termasuk anak yang aktif. Sedangkan Beni agak pemalu dan selalu ikut kemanapun
Fandi pergi. Fandi sering mengusili Beni dan menyuruh Beni membawakan barang-barangnya.
Suatu hari di jam istirahat, Rama dan Raya bermain di lapangan. Tiba-tiba, mereka
mendengar keributan di kelas mereka. Bergegas keduanya berlari ke kelas.
Rama : “ada apa Lis?
Elis : “Uang saku Fandi hilang. Tuh, lihat ! sekarang Fandi sedang menanyai anak-anak
yang tadi tidak keluar dari kelas.
Fandi : Ayo, ngaku! Siapa yang mengambil uangku!
Raya bergegas masuk ke dalam kelas diikuti Rama dan Elis
Raya : “Sabar Fan, jangan marah-marah dulu. Belum tentu uangmu hilang di sekolah.
Mungkin kamu tidak membawanya dari rumah“
Fandi menoleh dengan wajah cemberut
Fandi : “Tidak mungkin! Aku setiap hari diberi uang saku! Memangnya aku seperti Beni,
yang Cuma bawa bekal dan enggak punya uang jajan!”
Anak-anak di kelas itu terkejut mendengar ejekan Fandi. Mereka melihat kea rah Beni
dengan khawatir. Namun, Beni malah tertawa meski agak gugup.
Rama : “tapi tidak baik, Fan, menuduh sembarang begitu. Lebih baik kita laporkan pada Bu
Guru
Fandi : “Ah, tidak usah! Uang segitu saja diributkan sampai ke guru. Aku Cuma tidak suka
kalau uangku dicuri!”
Ia kemudian menarik Beni keluar kelas. Anak-anak mencibir kesal.
Keesokan harinya, terjadi lagi keributan di kelas. Saat itu sedang pelajaran kesenian. Ada
anak yang melumuri kursi Fandi dengan cat kuning. Akibatnya, celana pendek Fandi belepotan
cat kuning. Seisi kelas tertawa melihat Fandi. Si kembar ikut-ikutan tertawa walau merasa iba
juga.
Sepulang sekolah, si kembar dan Elis membicarakan Fandi.
Rama : Rasanya tak mungkin Fandi dua kali berturut-turut tertimpa sial. Kemarin uangnya
hilang. Hari ini dia juga menduduki cat!”
Elis : “Huh, biar saja! Anak itu terlalu sombong. Aku tidak tega melihat cara dia
memperlakukan Beni!’
Ketiga anak itu lalu asyik menyedot es sirop sambil menunggu mobil jemputan. Di
kejauhan, tampak Fandi sedang marah-marah. Beni berjalan di belakngnya, sampai kerepotan
membawa tas dan botol minum Fandi. Elis melotot kesal melihat pemandangan itu
Elis : “Kasihan Beni, selalu dihina sahabtnya sendiri
Raya : “Boleh-boleh saja kita kasihan. Tapi percaya deh, Beni tidak selugu itu, kok!
Elis : “kamu ngomong apa sih Ray?
Keesokan harinya, Fandi kembali terlihat kesal. PR matematikanya mendapat nilai jelek.
Padahal ia yakin sudah mengerjakan semua soal dengan benar. Sepulang sekolah, Fandi dating
ke ruang guru untuk protes pada Bu Yaya, guru matematika. Seperti bisaa Beni menemaninya.
Karena penasaran, si kembar dan Elis ikut juga ke ruang guru.
Fandi : “saya yakin bu, tidak menulis jawaban yang seperti ini!”
Raya : “Bu Yaya, saya ingin usul. Bagaimana kalau Fandi meneliti lagi baik-baik, tulisan
tangan di bukunya itu”
Dengan segan, Fandi meneliti lagi tulisan tangan di buku PR-nya. Dahinya tiba-tiba
berkerut. Sesaat kemudian, Fandi menarik tangan baju Beni.
Fandi : “Coba kulihat buku PR kamu Ben!”
Wajah Beni pucat pasi ketika mengeluarkan buku PR-nya. Fandi dan Bu Yaya terbelalak
melihat tulisan tangan yang sama di kedua buku tersebut.
Raya : “Mudah saja menemukan orang yang berbuat iseng padamu, Fan. Siapa orang
terpercaya yang paling tahu kalau kamu punya uang saku?”
Rama : “Lalu, siapa orang yang duduk setia di sisimu, dan punya kesempatan untuk
mengoles cat kuning di kursimu?”
Elis : “Dan siapa pula orang yang selalu kamu suruh-suruh membawakan tas sekolah dan
botol minum? Orang itu bisa mengganti jawaban PR-mu
Beni menunduk takut
Fandi : “Kenapa kamu tega begitu?”
Beni terisak-isak”Sudahlah. Ayo, Beni minta maaf pada Fandi” suruh Bu Yaya. Beni
mngulurkan tangan.
Beni : “Maafkan aku, Fan
Fandi masih menatap tak percaya.
Bu Yaya: “Fandi, Ibu sering ,elihat kamu bersikap semena-mena pada Beni. Lama-lama ia
jadi kesal padamu, dan menjadi musuh didalam selimut. Untuk itu kamu juga minta
maaf, Fan. Sahabat itu untuk disayang, bukan untuk dihina dan disuruh-suruh
Wajah Fandi bersemu merah. Tak lama kemudian ia menerima jabat tangan Beni.
Fandi : “Maafkan aku Ben. Aku sebenarnya sayang padamu”
Beni : “Aku juga sayang kamu Fan”
Elis : Nah, begitu kan bagus!”
Fandi dan Beni lalu mengajak si kembar dan elis bersalaman juga
Si kembar berteriak kompak, “TAPI ENGGAK PAKE PELUK, YA!!”