Anda di halaman 1dari 13

ENAMEL

Gigi terbagi dalam dua bagian besar yaitu mahkota dan akar. Mahkota adalah bagian gigi yang terlihat
dalam mulut, sedangkan akar adalah bagian yang tertanam dalam tulang rahang. Sedangkan secara struktur,
gigi merupakan salah satu jaringan keras tubuh yang terdiri dari enamel, dentin, dan sementum.

Enamel, sebenarnya merupakan bagian gigi yang paling keras, terkuat, dan termineralisasi paling tinggi
dari seluruh substansi tubuh. Enamel dapat menerima tekanan hingga 100.000 psi.
Enamel gigi, berasal dari jaringan ectoderm, susunannya agak istimewa yaitu penuh dengan garam-garam
kalsium. Enamel terbuat dari crystal hidroksi apatit antara lain ion caronat, magnesium dan potassium yang
berikatan dalam satu matriks yang kuat dari serat protein yang tidak dapat larut

96% enamel terdiri dari mineral dan air, sisanya adalah materi organik. Enamel melapisi mahkota gigi dan
mempunyai ketebalan yang bervariasi, daerah yang paling tebal ada pada daerah cusp mencapai 2,55 mm,
sedangkan tertipis pada pertemuan enamel dengan cementum yaitu cementoenamel jungcion (CEJ). Warna
enamel gigi pun sebenarnya tidak putih mutlak, kebanyakan lebih mengarah keabu-abuan dan semi
translusen. Kecuali pada kondisi enamel yang abnormal seringkali menghasilkan warna yang menyimpang
dari warna normal enamel dan cenderung mengarah ke warna yang lebih gelap. Semakin menuju ke bagian
dalam dari enamel, kekerasannya akan semakin berkurang.

Enamel berfungsi sebagai perlindungan pertama begi bagian yang lebih dalam dari gigi, yaitu dentin dan
pulpa gigi. Bagian enamel ini pula yang menjadi awal terjadinya lubang pada gigi, karena sifatnya mudah
larut terhadap asam, dan kelarutannya juga meningkat seiring dengan semakin dalamnya lapisan enamel.

STRUKTUR ENAMEL ANTARA LAIN :


ENAMEL PRISMATA/ENAMEL ROD

• berjalan ke permukaan gigi


• Hampir tegak lurus dengan arah bergelung (huruf S)
• Penampang melintang hexagonal tak sempurna (seperti lubang kunci)
GARIS RETZIUS

• garis pembentukan email


• garis dari dentino enamel junction ke permukaan gigi

ENAMEL CUTICULA

• membran yang menutupi permukaan enamel


• menghilang sesudah enamel (gigi) menjalankan fungsinya

ENAMEL LAMELLAE

• matriks dentin yang berkembang masuk ke dalam enamel, panjang lebih dari ½ tebal enamel

ENAMEL TUFT

• matriks dentin yang masuk ke dalam enamel dengan akhiran mengurai

Ket: a.garis retzius, b.enamel tuft, c.enamel lamellae, d.dentino enamel junction

ENAMEL SPINDLE

• matriks dentin yang masuk ke dalam enamel dengan akhiran menebal

Ket: a.gnarled enamel, b.enamel spindle


DENTIN

Bagian yang lebih dalam dari enamel adalah dentin. Dentin merupakan bagian yang terluas dari struktur
gigi, meliputi seluruh panjang gigi mulai dari mahkota hingga akar. Dentin adalah sebuah tulang - suatu
substansi yang terbentuk dari sel odontoblast yang merupakan pembentuk terbesar dari struktur gigi.

Dentin terletak di bawah enamel pada bagian mahkota, dan di bawah sementum pada bagian akar serta
mengelilingi pulpa. 70% dari dentin adalah hydroxylapatite, 20% bahan organik, dan 10 % air.
Dentin pada mahkota gigi dentin dilapisi oleh enamel, sedangkan dentin pada akar gigi dilapisi oleh
sementum. Kalau kita amati, bagian ini memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai pelindung
dari ruang pulpa. Pembentukan dentin disebut sebagai dentinogenesis.

Karena lebih lembut daripada email, dentin membusuk lebih cepat dan menjadi sasaran lubang hebat jika
tak dirawat sebagaimana mestinya. Namun tetap berlaku sebagai lapisan protektif dan menyokong mahkota
gigi.

Dentin merupakan jaringan konektif termineralisasi dengan matrik organik protein berkolagen. Komponen
anorganik dentin terdiri atas dahllite. Dentin mengandung struktur mikroskopis yang disebut pipa dentin
yang merupakan kanal berukuran kecil yang menyebar ke luar melalui dentin dari lubang pulpa pada batas
semen luar. Kanal-kanal itu memiliki konfigurasi berbeda antara lain dalam jarak diameter antara 0,8 dan
2,2 mikrometer. Panjangnya tergantung radius gigi. 3 konfigurasi dimensional pipa dentin di bawah kontrol
genetis dan kemudian ciri khas urutan.

STRUKTUR-STRUKTUR DENTIN ADALAH :


TUBULUS-TUBULUS DENTIN

• Canal yang terdapat pada jaringan dentin


• Berjalan dari pulpa ke perifer
INTERGLOBULAR SPACE

• Daerah yang tampak sebagai bercak-bercak hipokalsifikasi


• Pada sediaan gosok nampak sebagai bercak hitam yang berderet pada daerah di sekitar dentino
enamel junction

TOME’S GRANULAR LAYER

• Bintik-Bintik hipokalsifikasi halus pada daerah-daerah perbatasan antara dentin dengan sementum

GARIS OWEN / EBNER

• Cross sections dalam dentin tubulus


• Identik dengan garis-garis retzius
• Dalam beberapa keadaan garis ebner jelas

Macam – macam dentin :

• Peritubular dentin ; dinding tubuli ; Kalsifikasi : tinggi


• Interlobular dentin ; diantara tubuli ; Kalsifikasi : tinggi
• Mantle dentin Lapisan paling luar Dentin yang pertama kali terbentuk
• Circumpulpal dentin ; lapisan sekitar pulpa ; dibentuk setelah mantle dentin

• Primary dentin
• dibentuk sebelum foramen apical sempurna
* dibentuk lebih cepat
* mineralnya lebih banyak dibandingkan secondary dentin
• Secondary dentin

* dibentuk setelah foramen apical sempurna


* dibentuk lebih lambat dan mineral lebih berkurang dibandingkan primary dentin

• Tertiary dentin

* dibentuk karena ada rangsangan ; pola tubuli tidak teratur

SEMENTUM

Jaringan keras yang terakhir dari sebuah gigi adalah sementum. Layaknya enamel yang melapisi dentin
pada bagian mahkota, sementum juga melapisi dentin namun untuk dentin pada bagian akar gigi.
Sementum ini secara normal tidak tampak dari pandangan kita, namun tertutup oleh tulang dan dilapisi oleh
gusi. Pada beberapa kondisi abnormal, sementum akan tampak. Terbentuk oleh sel cementoblast. Lebih
lembut dibandingkan enamel, tipis dan berwarna kuning.
Sementum melapisi permukaan akar gigi. Fungsi utamanya adalah sebagai perlekatan serabut ligament
periodontal yang menahan gigi untuk tetap pada posisinya dan berhubungan dengan jaringan sekitarnya.
Sementum, seperti dentin, dapat tumbuh secara terus menerus selama kehidupan gigi tersebut. Sementum
yang pertama kali ada disebut sementum primer, sedangkan sementum yang baru terbentuk mengacu
kepada sementum sekunder. Sementum sekunder biasanya terbentuk sebagai hasil dari perlukaan yang
bersifat fisika, kimiawi, maupun akibat bakteri, namun penyebab yang paling sering ditemukan adalah
akibat perlukaan secara fisikal atau tekanan.

Sementum primer hanya merupakan suatu lapisan tipis, akan tetapi, karena deposit dentin sekunder yang
terus menerus, maka lapisannya akan menjadi jauh lebih tebal. Penebalan tersebut tidak terjadi secara
menyeluruh, akan tetapi dapat terlihat secara jelas di beberapa area, tergantung pada penyebabnya.
Sementum berwarna kuning terang, lebih gelap dibandingkan enamel dan lebih terang dibandingkan
dentin, dengan demikian dapat dibedakan dari enamel dan dentin.

Hubungannya dengan tepi email bervariasi, dapat terletak atau bersitumpang dengan email tetapi dapat juga
terpisah dari enamel oleh adanya sepotong kecil dentin yang terbuka. ketebalan sementum bervariasi, pada
daerah sepertiga koronal hanya 16-60 mikrometer dan sepertiga apikal 200 mikrometer.

Seperti jaringan klasifikasi lainnya, tulang dan denting, sementum terdiri dari serabut kolagen yang
tertanam di dalam matriks organik yang terklasifikasi. kandungan organiknya, yaitu hidroksiapatit, lebih
kecil dari tulang, misalnya hanya sekitar 45% (tulang 65%, dentin 70%, email 97%).
Ada dua tipe sementum: selular dan aselular. sementum selular mengandung sementosit pada lakuna seperti
osteosit pada tulang, dan saling berhubungan satu sama lain melalui anyaman kanalikuli. sementum
aselular membentuk lapisan permukaan yang tipis, sering terbatas hanya pada bagian servikal akar. tidak
mengandung sementosit di dalam substansinya, tetapi sementoblas terletak di permukaan sehingga istilah
“aselular” sebenarnya kurang tepat diterapkan di sini.

Ada dua susunan serabut kolagen pada sementum. serabut utama adalah serabut ligamen perodontal yang
tertanam sebagai serabut sharpey pada matriks klasifikasi dan tergabung pada sementum ketika sementum
dideposisikan. Serabut ini tersusun tegak lurus terhadap permukaan sementum. Serabut lainnya membentuk
anyaman padat dan tidak teratur pada matriks. pada sementum aselular serabut sharpey tersusun padat dan
sangat terkalsifikasi; pada sementum selular, serabut tersusun longgar dan terkalsifikasi sebagian. Berbeda
dengan tulang, di sini tidak terlihat adanya remodeling sementum misalnya melalui resorpsi internal dan
deposisi; meskipun demikian, ada aposisi kontinu dari sementum permukaan karena aktivitas sementoblas
terus berlanjut di sepanjang kehidupan. sementoid atau presementum adalah nama yang digunakan untuk
menyebut matriks sementum sebelum kalsifikasi. selama kalsifikasi kristal hidroksiapit didepositkan di
bawah serabut kolagen sejajar terhadap permukaannya, kemudian pada daerah permukaan dan akhirnya
pada matriks sementoid. permukaan sementum berbentuk tonjolan konus di sekitar serabut atau bundel
tunggal.

Ketebalan sementum terbesar terjadi pada apeks dan pada daerah furkasi. dengan adanya atrisi misalnya
ausnya permukaan oklusal gigi, deposisi kompensasi dari sementum apikal akan berlangsung, bersamaan
dengan deposisi tulang pada puncak tulang alveolar dan pada fundus soket, untuk mempertahankan dimensi
vertikal dari wajah.

Pembentukan sementum yang berlebihan atau disebut juga sebagai hipersementosis, dapat terjadi setelah
adanya penyakit pulpa atau stres oklusal. hipersementosis menyeluruh yang mengenai semua gigi
umumnya herediter; keadaan ini juga terjadi pada penyakit paget. resorpsi sementum dapat disebabkan
karena stres oklusal yang berlebihan , gerakan ortodonti, tekanan dari tumor atau kista, defisiensi kalsium
atau vitamin A dan D. keadaan ini juga dapat ditemukan pada penyakit metabolisme tetapi patogenesisnya
tidak jelas. Deposisi sementum dapat berlangsung setelah adanya resorpsi bisa penyebabnya sudah
dihilangkan. kadang – kadang ankilosis sementum dan soket tulang, juga dapat terjadi.

Pada saat pertama kali terbentuk, sementum belum terklasifikasi, disebut sementoid. Setelah lapisan baru
terbentuk. matriks yang telah tersusun sebelumnya terklasifikasi dan menjadi sementum matang. secara
mikroskopis, sementum dapat dibagi menjadi dua tipe: selular dan aselular, namun tidak berbeda dalam
fungsinya. sementum selular terdiri atas lakuna yang berisi sel – sel sementosit. sel – sel saling
berhubungan melalui kanalikuli. penyebaran sementum selular dan aselular pada akar gigi bervariasi,
biasanya sementum yang menutup bagian koronal akar gigi adalah sementum aselular, sedangkan yang
menutup bagian apikal adalah sementum selular. sementum selular juga lebih banyak terdapat pada daerah
bifurkasi dan trifurkasi serta sekitar apeks gigi, dan merupakan sementum yang lebih awal terbentuk selama
penyembuhan luka.

sementum didepositkan sepanjang daur hidup sebuah gigi. sementoid dianggap sebagai penghalang
terhadap migrasi epitelium fungsional ke apikal dan terhadap resorpsi permukaan akar.

Fungsi sementum adalah:

1. menahan gigi pada soket tulang dengan perantaraan serabut prinsipal ligamen periodonsium.

2. mengompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan pembentukan terus menerus.

3. memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis.

4. memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus menerus.

MACAM-MACAM SEMENTUM:

• SEMENTUM ASELLULER

bagian sementum yang menutupi 1/3 sampai ½ akar, terdiri dari serabut-serabut kolagen

• SEMENTUM SELLULER

bagian sementum yang menutupi 1/2 sampai 2/3 apeks


PENYEBAB KERUSAKAN STRUKTUR KERAS GIGI

Kerusakan yang terjadi pada struktur keras gigi dapat disebabkan stress mekanis, kimiawi maupun karena
adanya akumulasi plak yang memicu fermentasi dan berakibat terjadinya karies.

Faktor Mekanis:

Berbagai macam factor mekanis dapat merusak struktur keras gigi yang kita ketahui lebih keras dari tulang
ini. Factor-faktor tersebut seperti:

-Bruxism

Bruxism adalah istilah medis dari gemeretak atau beradunya gigi-geligi, yang terjadi tanpa sengaja dan
terutama timbul disaat tidur. Penderita bruxism disebut bruxers. Ada juga yang menyebutnya bruxomania.

Penyebab bruxism tidak sepenuhnya dimengerti. Pada orang dewasa, faktor psikologi dianggap berperan.
Faktor tersebut antara lain:

1. Kecemasan, ketegangan, dan stress.


2. Kemarahan yang terpendam, atau frustrasi.
3. Tipe kepribadian agresif, kompetitif, dan hiperaktif.

Sedang pada anak, bruxism dianggap berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi serta
rahang. Tetapi, beberapa ahli juga percaya bahwa faktor psikologi mempunyai andil terhadap timbulnya
bruxism pada anak. Walaupun bruxism dilaporkan terjadi pada 30% anak, yang sebagian besar berusia di
bawah 5 tahun, kebanyakan diantara mereka akan sembuh setelah gigi susu mereka berganti dengan gigi
tetap Pada beberapa kasus, bruxism tidak disebabkan oleh keadaan psikologi atau kondisi gigi dan rahang,
tetapi merupakan komplikasi dari kelainan seperti penyakit Huntington dan Parkinson. Beberapa obat
antidepresi tertentu juga dapat menimbulkan efek samping bruxism, tetapi hal ini jarang terjadi.

Biasanya, bruxism ringan dan tidak menimbulkan komplikasi serius. Tetapi pada beberapa orang, bruxism
bisa berat sehingga menimbulkan :

1. Kerusakan permukaan gigi akibat seringnya dan kuatnya gesekan.


2. Gangguan sendi rahang
3. Sakit kepala
4. Nyeri wajah
5. Terganggunya tidur orang di sekitarnya.
-Fraktur dental

Fraktur dental atau patah gigi adalah hilangnya atau lepasnya fragmen dari suatu gigi utuh yang
biasanya disebabkan oleh trauma atau benturan.

Fraktur dental pada umumnya terjadi bersamaan dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan
dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang
mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus
sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus.

Fraktur dental pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio
laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. Penyebab umum fraktur dental adalah benturan atau trauma
terhadap gigi yang menyebabkan disrupsi atau kerusakan enamel, dentin, atau keduanya. Dari
penelitian terhadap 1610 anak-anak, faktor predisposisi fraktur dental antara lain postnormal occlusion,
overjet yang melebihi 4 mm, bibir atas yang pendek, bibir yang inkompeten, dan pernapasan melalui
mulut. Literatur lain menyebutkan bahwa umur, aktivitas olahraga, riwayat medis, dan anatomi gigi
juga merupakan fraktur predisposisi.

Fraktur dental jarang ditemukan pada anak-anak di bawah 1 tahun. Apabila ada, dapat disebabkan oleh
kekerasan terhadap anak. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya
meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh
menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda
merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum.
Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan
kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial.

Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola
dan bola basket. Olahraga tanpa kontak fisik seperti berkuda juga dapat menyebabkan fraktur dental.
Frekuensi fraktur dental yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral
palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur dental.
Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan
istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur

Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung
terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior.
Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya
tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak
saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung
kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis
retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain,
tekanan hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal.

Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus
dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi
pulpa sehingga perlu dirawat. Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang
besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus
dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap
karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di
rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena.

Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi
cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas.
Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami
perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian
gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara
abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan
dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan
terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di
dalam robekan luka tersebut. Fraktur yang melibatkan struktur keras gigi dapat berupa gigi retak, gigi
belah, fraktur garis, dll.

Faktor kimiawi:

- Fluorosis

Fluorosis gigi adalah kerusakan enamel secara kualitatif yang merupakan hasil dari peningkatan
konsentrasi fluor di sekitar ameloblast selama pembentukan gigi yang dapat menyebabkan perubahan
warna pada gigi dan meningkatkan porositas enamel permukaan sehingga enamel nampak opak. Selain
itu porositas pada gigi yang mengalami fluorosis dapat berakibat mudahnya akumulasi plak pada
permukaan gigi yang porus sehingga apabila tidak dibersihkan dengan baik maka gigi akan mudah
terserang karies.
Fluorosis gigi pada anak telah tersebar secara endemik di 25 negara, bahkan dari data tahun 2002
dinyatakan bahwa 62 juta penduduk di India berpeluang terkena fluorosis. Konsentrasi fluor dalam
pasta gigi yang dianjurkan untuk anak adalah 250-500 ppm, akan tetapi sebagian besar pasta gigi anak
yang beredar di pasaran Indonesia mengandung fluor dengan konsentrasi yang tidak aman untuk anak
yaitu lebih dari 1000 ppm. Diduga hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya fluorosis
gigi pada anak. Ada beberapa faktor resiko dari pemakaian pasta gigi yang dapat menyebabkan
terjadinya fluorosis pada anak yaitu konsentrasi fluor yang tinggi, tambahan rasa yang ada dalam pasta
gigi anak, jumlah pasta gigi yang dioleskan di atas sikat gigi anak, frekuensi menyikat gigi dan umur
anak mulai menyikat gigi dengan pasta gigi berfluor. Untuk mengurangi terjadinya resiko fluorosis
pada anak maka sangat diharapkan pengawasan orang tua terhadap anak sewaktu menyikat gigi dan
kerja sarna dari pihak produsen pasta gigi anak.

- Stain warna

Berbagai macam factor eksternal yang dapat menyebabkan perubahan warna atau menyebabkan
akumulasi stain yang dapat merubah warna gigi biasanya berhubungan dengan kebiasaan individu.
Minum kopi, teh dan merokok adalah beberapa contoh kebiasaan individu yang banyak kita temui di
masyarakat. Faktor-faktor ini walaupun tidak berakibat fatal terhadap perubahan gigi namun lebih
berpengaruh terhadap estetis. Perbaikan warna gigi dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari
menggosok gigi hingga bleaching.

Akumulasi plak:

Proses kerusakan gigi geligi diawali dengan adanya lubang gigi atau disebut juga karies. Karies adalah
kerusakan yg terbatas pada jaringan gigi mulai dari enamell gigi hingga menjalar ke dentin . Struktur
enamel sangat menentukan proses terjadi karies. Sekedar utk diketahui permukaan enamel luar lebih
tahan terhadap karies dibanding lapisan di bawah karena lebih padat dan lebih keras. Untuk menjaga
kekerasan ini enamel sangat membutuhkan ion kimia yg disebut fluor.

Penjalaran karies mula-mula terjadi pada enamel. Bila tidak segera dibersihkan dan tidak segera
ditambal karies akan menjalar ke bawah hingga sampai ke ruang pulpa yang berisi pembuluh saraf dan
pembuluh darah sehingga menimbulkan rasa sakit dan akhir gigi tersebut bisa mati.
Faktor Penyebab

Banyak sekali faktor yang menyebabkan karies. Faktor yang utama antara lain:
1. Gigi dan air ludah. Bentuk gigi yang tidak beraturan dan air ludah yang banyak lagi kental
mempermudah terjadi karies

2. Ada bakteri penyebab karies. Bakteri yang menyebabkan karies adalah dari jenis Streptococcus dan
Lactobacillus

3. Makanan yang kita dikonsumsi. Makanan yang mudah lengket dan menempel di gigi seperti permen
dan coklat memudahkan terjadi karies

Sementara itu faktor lain yang turut andil adalah tingkat kebersihan mulut frekuensi makan usia dan
jenis kelamin penyakit yg sedang diderita seperti kencing manis dan TB serta sikap/ perilaku terhadap
pemeliharaan kesehatan gigi.
Read more at Suite101: Dental, Teeth Anatomy - Parts of Teeth: Tooth Morphology,
Tooth Enamel, Cementum, Dentin & Dental Pulp
http://digestivesystem.suite101.com/article.cfm/dental-teeth-anatomy---parts-of-
teeth#ixzz0tqUYshfo

http://www.wartamedika.com/2007/12/bruxism-gemeretak-gigi-dikala-tidur.html

MayoClinic (2007) : Bruxism/Teeth Grinding. Dikutip pada 18 Des 07.


http://www.mayoclinic.com

http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php?
option=com_journal_review&id=3567&task=view

http://one.indoskripsi.com/node/8141

http://blog.re.or.id/gigi-berlubang-mencegah-lebih-baik-daripada-mengobati.htm