Anda di halaman 1dari 16

METODE PELAKSANAAN

Program : Pembangunan Jalan dan Jembatan


Kegiatan : Pembangunan Jembatan Akses Marunda
Nomor Kegiatan : 1.03.13.159
Kode Rekening : 5.2.3.22.04
Tahun Anggaran : 2010

WAKTU PELAKSANAAN : 180 (Seratus Delapan Puluh) Hari Kalender

1. PENDAHULUAN
Tahap Pelaksanaan Pekerjaan adalah tahap realisasi design rencana
menjadi sebuah bangunan yang utuh. Pada tahap ini dibutuhkan metodologi
yang efektif dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan shop drawing.
Metode yang dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan dapat berbeda meskipun
untuk pekerjaan yang sama, hal ini tergantung dari sumber daya dan kondisi
lingkungan yang dihadapi.
Perencanaan yang matang mengenai tahapan-tahapan dalam
menyelesaikan pekerjaan dilapangan mutlak diperlukan untuk mendapatkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan. Selain menjamin mutu
yang dihasilkan, perencanaan juga harus memperhitungkan keselamatan kerja
semua yang terlibat dalam proses pelaksanaan pekerjaan sehingga tercapai
ZERO ACCIDENT sesuai dengan standar OHSAS dalam proyek.

2. LATAR BELAKANG
Pekerjaan Pembangunan jembatan AKses Marunda Berlokasi di daerah
dengan kondisi lingkungan yang cukup padat dengan mobilisasi masyarakat,
untuk itu maka harus diperhatikan mengenai dampak lingkungan yang terjadi
selama pelaksanaan pekerjaan terutama lalu lintas kendaraan.
3. PEKERJAAN ADMINISTRASI
a. PASCA LELANG
Setelah diputuskan pemenang lelang dalam paket pekerjaan
Pembangunan jembatan Akses Marunda Tahun Anggaran 2010 maka
selaku pemenang lelang hal pertama yang kami lakukan adalah
menyerahkan Surat Jaminan Pelaksanaan sebagai syarat keluarnya
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dan dilanjutkan dengan melengkapi
dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut
antara lain:
• Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Permanen yang berbentuk Barchat
dan Kurva “S” serta Network Planning.
• Jadwal penugasan personil inti.
• Jadwal pengiriman peralatan proyek (MOB DEMOB)
• Jadwal Pengiriman bahan-bahan material proyek.
• Rincian metode pelaksanaan masing-masing bagian pekerjaan
secara lebih mendetail.
• Menyerahkan surat pemberitahuan secara tertulis, bahwa pekerjaan
tersebut akan segera kami laksanakan dengan tembusan kepada
Instansi yang terkait.
• Koordinasi dengan petugas terkait dan instansi terkait, baik dengan
konsultan perencana, wakil dari pengguna jasa maupun dengan
konsultan pengawas dan bersosialisasi dengan lingkungan setempat,
untuk dapat mengantisifasi hal-hal yang dapat mengganggu dan
menghambat aktifitas pada saat pelaksanaan pekerjaan

b. ADMINISTRASI LAPANGAN
Selama masa pelaksanaan pekerjaan dilapangan juga dilakukan
proses administrasi untuk tertib laporan terhadap pihak-pihak yang
terkait dalam pelaksanaan pekerjaan Pembangunan jembatan AKses
Marunda tahun anggaran 2010. Dokumen yang dipersiapkan selama
masa pelaksanaan pekerjaan meliputi
• Laporan kegiatan,
• Laporan Surat-menyurat,
• Laporan hasil pertemuan rapat koordinasi dengan pihak yang
terkait.
• Foto-foto terkait dengan pelaksanaan pekerjaan;

4. PEKERJAAN FISIK LAPANGAN


a. PEKERJAAN UMUM
• MOBILISASI DAN DEMOBILISASI
Tahap awal pelaksanaan pekerjaan dimulai dengan
memobilisasi semua keperluan yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan pekerjaan dilapangan seperti tenaga kerja
lapangan, personil inti dan alat kerja. Proses mobilisasi alat
berat dilakukan secara betahap sesuai keperluaannya
sehingga tidak ada alat yang menumpuk tidak terpakai
sehingga berpotensi menghambat pelaksanaan dilapangan.
Proses mobilisasi pada kegiatan pembangunan jembatan
Akses Marunda meliputi:
Tenaga Kerja:
• Personil inti lapangan.
• Tenaga kerja harian
Bahan :
• Papan nama proyek
• Direksi Keet
• Pagar sementara
• Tenda pengecoran
• Rambu lalu lintas
• Lampu pengaman.
Peralatan :
• Excavator
• Vibrator roller
• Tandem roller
• Tire Roller
• Asphalt finisher;
• Asphalt sprayer
• Genset;
• Stamper;
• Concrete Vibrator;
• Air Compressor
• Mobil crane
• Mobil Concrete Pump
• Bar bender
• Bar cutter
• Boogey trailer

b. PEKERJAAN TANAH
Pekerjaan tanah meliputi pekerjaan galian tanah, urugan limestone,
urugan tanah dan pemadatan menggunakan alat berat dan stamper.
Volume pekerjaan galian tanah memiliki variasi tergantung kedalaman
penggaliannya. Adapun kedalaman galian yang disyaratkan beserta
volume penggaliannya antara lain:
• Galian tanah biasa, dalam s/d 1 m 262.50 m3
• Galian tanah biasa, dalam 1 m s/d 2 m 262.50 m3
• Galian tanah biasa, dalam 2 m s/d 3 m 262.50 m3
• Galian tanah biasa, dalam 3 m s/d 4 m 262.50 m3
• Galian tanah biasa, dalam 4 m s/d 5 m 262.50 m3
• Galian tanah biasa, dalam 5 m s/d 6 m 131.25 m3

Pekerjaan Galian dilaksanakan menggunakan excavator dan


dilaksanakan selama 2 Minggu. Tanah hasil galian galian excavator
dituang kedalam dump truck dan dibuang ke areal pembuangan.
Selama pembuangan dengan dump truck, tanah hasil galian ditutup
dengan terpal sehingga tidak berceceran dijalan yang dilaluinya.
Setelah tiba dilokasi pembuangan tanah di turunkan dan dump truck
kembali kelokasi penggalian. Jumlah dump truck disesuaikan dengan
kapasitas produksi excavator sehingga tidak terjadi spot delay untuk
masing-masing alat yang dipakai.

Simulasi Proses Penggalian Tanah


Pengurugan limestone dilaksanakan setelah penggalian selesai
dikerjakan. Pengurugan dengan ketebalan 45 cm padat Volume
pekerjaan sebesar 324 m3 dan dikerjakan dalam waktu 3 minggu . Alat
yang digunakan untuk pekerjaan ini Dump Truck untuk mengangkut
Limestone dan Vibrator Roller untuk memadatkan. produksi tiap
minggunya sebesar 114 m3.
Urugan tanah merah dilaksanakan setelah seluruh pekerjaan galian
tanah selesai dilaksanakan, proses pengurugan dimulai dengan
memasukan tanah merah ke lokasi kerja dan diletakan pada tempat
yang telah ditentukan sebelumnya. Urugan di lakukan secara berlapis
dengan ketebalan maksimum tiap lapisan 30 cm sesuai dengan
spesifikasi pemadatan tanah. Setelah tanah dihamparkan pada lokasi
kerja dilanjutkan dengan meratakan hamparan tanah menggunakan
bulldozer sehingga tercapai ketebalan yang diinginkan. Tahap terakhir
adalah memadatkan menggunakan vibrator roller 8-10 ton, pemadatan
melalui vibrator roller dilakukan beberapa kali lintasan. Untuk menjamin
kualitas pemadatan maka dilakukan pengujian untuk mengetahui
kepadatan lapangan yang didapat dari hasil penggilasan dengan mesin
gilas.
Proses Pemadatan Tanah

c. PEKERJAAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN


Pekerjaan meliputi pembuatan perkerasan jalan beton K-400 lebar
3.5 m, (t=25cm; FS 45 Kg/cm2) termasuk bekisting, membran plastik,
curing, joint sealant, tulangan dowel dan tiebars. Volume beton untuk
perkerasan sebesar 180 m3 dan semua proses diatas dilaksanakan
selama 3 Minggu.

Peralatan yang digunakan antara lain:


• Concrete Vibrator
• Concrete Pump
• Concrete Cutter

Pekerjaan dimulai dengan membuat lantai kerja beton B0 dan


dilapisi dengan membran plastik untuk mencegah beton struktur K-400
mengalami kontaminasi dengan sekitarnya dan juga tidak menempel
pada permukaan bekisting. Setelah membrane plastic selesai digelar
dilanjutkan dengan pemasangan bekisting dari kayu. Bersamaan
dengan dipasangnya bekisting maka tiebar dan dowel juga dipasang.

Setelah semua persiapan selesai dan telah mendapat persetujuan


dari konsultan pengawas maka pekerjaan pengecoran dapat dimulai.
Pengecoran dilakukan dari titik terjauh jalan sehingga tidak terganggu
proses pengecoran yang lain. Beton disemprotkan pada tempatnya
menggunakan concrete pump kemudian diratakan dan digetarkan
menggunakan vibrator. Penggetaran dilakukan tidak terlalu lama agar
tidak terjadi segregasi antara agregat kasar dan agregat halus.
Setelah pengecoran selesai dilakukan dengan proses curing
menggunakan karung basah sampai mencapai umurnya. Pada usia
lebih dari 10 hari setelah pengecoran atau ditentukan lain oleh
konsultan pengawas, maka beton sudah siap untuk dilaksanakan
proses cutting dan joint sealant.
Setelah mendapat persetujuan dari konsultan pengawas, Beton
yang berumur lebih dari 10 hari di cutting menggunakan concrete
cutter. Kemudian rongga yang dipotong tadi diisikan dengan sealent
dari aspal.

d. PERKERASAN ASPAL
Setelah perkerasan jalan beton selesai dikerjakan dan memiliki
umur yang memenuhi syarat untuk pelapisan laston maka Pekerjaan
perkerasan aspal dapat dimulai. Pekerjaan ini dimulai dengan
penyemprotan Prime Coat dengan menggunakan aspal emulsi jenis
CSS-1 sebanyak 0.4 l/m2. volume pekerjaan pelapisan prime coat
sebanyak 1.628,70 Ltr dan dilaksanakan selama 1 Minggu dengan
produktifitas penyelesaian per-minggu sebanyak 814 Ltr. penyemprotan
menggunakan asphalt sprayer dimulai dari sisi terjauh perkerasan
beton sehingga Prime Coat yang sudah selesai dikerjakan tidak
terganggu oleh aktifitas penyemprotan prime coat bagian lain.
Setelah selesai penyemprotan maka hasilnya dijaga dari terkena
debu dan kotoran yang dapat merusak kualitas prime coat. Pekerjaan
dilaksanakan dalam kondisi kering dan cuaca cerah. Bila kondisi cuaca
berpotensi hujan maka pekerjaan dihentikan.
Bersamaan dengan penyemprotan lapis prime coat maka dikerjakan
penghamparan LASTON, Hotmix, density lapangan 97 – 100 % dengan
ketebalan padat 5 cm. besar pekerjaan penghamparan laston ini seluas
4.071,76 m2 dan dilaksanakan selama 4 Minggu sehingga dalam 1
minggu dapat menyelesaikan 1017.94 m2 lokasi penghamparan
LASTON.
Alat yang digunakan untuk pelaksanaan penghamparan laston ini
antara lain:
• Dump truck
• Asphalt Finisher
• Tandem roller
• Tire roller

Proses penghamparan dilakukan dari sisi ujung lapisan jalan beton,


kegiatan dimulai ketika Dump Truck yang mengangkut HOTMIX dari
Aaphalt Mixing Plant mengisi asphalt finisher. kemudian asphalt finisher
menghamparkan hotmix diatas lapisan prime coat dengan ketebalan
sebelum dipadatkan sebesar 6 cm dan lebar 4 m.
Setelah selesai menghamparkan, Dibelakang Asphalt Finisher diikuti
dengan tandem roller untuk memadatkan asphalt sehingga tercapai
ketebalan padat 5 cm sesuai yang disyaratkan. Pemadatan dilakukan
dengan beberapa kali lintasan sehingga pemadatan merata.
Untuk menghaluskan hasil pemadatan maka laston dipadatkan
kembali dengan menggunakan tire roller sampai bekas lintasan tidak
terlihat diatas permukaan laston.

e. PEKERJAAN STRUKTUR
Pekerjaan beton untuk pembuatan pondasi jembatan dilaksanakan
dengan cor ditempat, proses pengerjaan dimulai dengan pembuatan
bekisting mengunakan bekisting berat. Mutu beton yang dipakai K.300,
volume pekerjaan 978 m3, dan dilaksanakan dalam 8 minggu. Karena
pembuatan struktur dinding penutup dan pondasi jembatan
menggunakan volume beton yang cukup besar maka perlu diperhatikan
suhu beton agar tidak berbeda terlalu jauh waktu pegecoran
berlangsung, oleh karena itu pengecoran dilakukan secara
berkelanjutan dan dilakukan perawatan selama masa curing time
dengan menggunakan karung basah. Selain itu juga akan dilakukan
penyemprotan secara berkala untuk menurunkan suhu beton yang ada
pada pondasi jembatan selama masa curing.

>> Launching PCI Girder L=45 m H = 210 cm


PCI Girder didatangkan kelokasi kerja dalam bentuk potongan, hal
ini Karen panjang bentang yang mencapai 45 m, setelah PCI Girder
sampai dilokasi maka dilanjutkan dengan penyatuan dengan cara
stressing. Hal yang harus diperhatikan dalam proses stressing ini
adalah elevasi stressing bed. Lokasi post tensioning harus diusahakan
sedatar mungkin agar tidak menyebabkan girder mengalami
perpindahan dalam arah lateral. Pemotongan kabel strand dilakukan
seminimal mungkin agar tidak ada kabel yang terbuang.

Launching PCI Girder dilaksanakan menggunakan truss crane


dimana pada prosesnya diperlukan 2 (Dua) tahap dalam memasang
PCI girder pada tempatnya.
• Tahap 1; Instal Steel Truss Crane
• Tahap 2; Launching PCI Girder
Sebelum dilaksanakan pemasangan PCI Girder maka dilakukan
terlebih dahulu pemasangan truss crane. Truss crane di pasang
membentuk Box Balance Cantilever dimana tumpuannya berada pada
tiga titik kaki jembatan yang sudah selesai dibangun sebelumnya.

Ilustrasi Steel Truss

Setelah Truss selesai diinstal maka dilanjutkan dengan pemasangan


PCI Girder tapi terlebih dahulu apakah elastomerik terpasang dengan
sempurna. Setelam mendapat persetujuan dari konsultan pengawas
maka pelaksanaan launching girder dapat dilanjutkan. PCI Girder di
masukan kelokasi kerja dan diposisikan pada tempat yang dapat
dijangkau oleh hook crane yang terpasang pada steel truss. Setelah PCI
girder terkait dengan kuat pada truss crane selanjutnya dengan
perlahan PCI Girder diluncurkan keposisinya pada elastomerik di kedua
sisi kepala jembatan.

Ilustrasi proses launching girder


Proses launching dilaksanakan secara simultan, untuk menghindari
kesalahan pemasangan maka ditempatkan personil untuk memandu
posisi PCI Girder sehingga tepat pada tempat yang diinginkan.

Begitu pemasangan girder selesai dilaksanakan maka dilanjutkan


memasang diafragma beton dengan cara cor ditempat. DIafragma
berfungsi mengakukan PCI Girder dari pengaruh gaya melintang.
Volume beton untuk pekerjaan ini sebesar 18.38 m3 dan peralatan
yang digunakan antara lain :
• Concrete pump
• Concrete vibrator
• Air Compressor
• Genset untuk penerangan.
Pekerjaan dilaksanakan selama 2 Minggu dengan penyelesaian tiap
minggunya sebesar 9.19 m3 . Proses pembuatan diafragma dimulai dari
pemasangan bekisting diafragma dilanjutkan dengan penulangan dan
dilanjutkan dengan pengecoran menggunakan Beton Radymix K.350.
waktu pengecoran dilaksanakan pada siang dan malam hari secara
menerus untuk mempercepat pelaksanaan pekerjaan berikutnya.

>> Perletakan elastomerik ukuran 600x400x60 mm


Elastomerik merupakan tumpuan dari PCI Girder sehingga harus
terpasang dengan baik dan benar. Elastomerik diselesaikan sebelum
launching girder dilaksanakan, pekerjaan dilaksanakan selama 1
minggu. pekerjaan dilakukan dengan mengangkur elastomerik pada
abudment jembatan dan dilanjutkan dengan grouting untuk menutup
hasil angkur.

f. PERLENGKAPAN JALAN DAN UTILITAS


 Bingkai beton lurus uk.18/22 x 25 – 60 cm, K.400
 Mulut Air uk.18/22 x 25 – 60 cm, K.400
 Trotoar lebar 0.78 m dengan komposisi conblok 4.6 abu
K.300 + batu koral sikat merah hati + batu alam tempel
 Moveable concrete barier
Perlengkapan jalan dan utilitas dilakukan setelah pekerjaan
struktur selesai dilaksanakan.
5. MANAGEMEN ALAT DAN BAHAN
Untuk mencegah penumpukan bahan material dan mengurangi resiko
kehilangan dalam masa pelaksanaan pekerjaan maka dilakukan pengaturan
jadwal pemasukan bahan material yang akan digunakan selama pelaksanaan
pekerjaan. Material yang mudah terpengaruh cuaca seperti semen diletakan
pada gudang penyimpanan. Pendatangan semua material paling lambat 1
minggu sebelum proses pekerjaan dimulai dan selalu diperhatikan
ketersediaan barang yang ada digudang sehingga tidak menghambat
pekerjaan.
Alat berat didatangkan menurut keperluannya dan di keluarkan dari lokasi
kerja bila sudah tidak ada pekerjaan yang berkaitan dengan alat berat
tersebut.

6. MONITORING DAN PELAPORAN


Sebagai kewajiban kontraktor dalam memberikan hasil nyata sesuai
dengan spesifikasi yang disyaratkan maka kontraktor akan melakukan
monitoring semua hasil pekerjaan yang dicapai dan memberikan laporannya
secara tertulis kepada Pengguna Jasa, dalam hal ini adalah Dinas Pekerjaan
Umum Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Adapun bentuk laporan yang kami berikan terdiri dari beberapa bagian
meliputi:

• Laporan Harian;
Berisi rangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari yang dilaporkan
dalam bentuk Buku Harian Lapangan (BHL). Laporan harian berisi:
a. Kegiatan harian;
b. Jumlah tenaga kerja yang terlibat untuk setiap macam
pekerjaan;
c. Laporan cuaca;
d. Laporan surat-menyurat;
e. Laporan barang yang masuk dan barang yang ditolak berikut
kuantitas dan macamnya;
f. Laporan barang dipakai;
g. Jumlah, jenis dan kondisi peralatan;
h. Laporan kunjungan;
i. Laporan masalah yang dihadapi dan tindakan yang diambil.

• Laporan Mingguan;
Laporan mingguan berisi rekapitulasi dari laporan harian, laporan
kemajuan prestasi minggu yang dilaporkan dan target rencana
kemajuan pekerjaan minggu yang akan datang serta dilampiri
dengan laporan harian.

• Laporan Bulanan;
Laporan Bulanan berisi rekapitulasi dari laporan harian, dan Laporan
bulanan serta laporan kemajuan prestasi Bulan yang dilaporkan dan
target rencana kemajuan pekerjaan Bulan yang akan datang serta
dilampiri dengan laporan harian dan laporan mingguan.

• Laporan Akhir.
Laporan Akhir berisi rekapitulasi semua pekerjaan yang
dilaksanakan dan dilampiri dengan laporan harian, mingguan dan
bulanan. Dalam Laporan akhir dijabarkan semua kejadian yang
terjadi selama pelaksanaan proyek secara objektif dan lengkap.

7. MANAGEMEN LALU LINTAS


Pekerjaan konstruksi terutama yang berada pada jalur lalu lintas
memerlukan perhatian khusus dalam pengaturan lalu lintas, pada pembuatan
jembatan akses marunda ini tidak lepas dari persoalan lalu lintas, terutama
pada pekerjaan yang dilakukan simultan dan tanpa terputus prosesnya, untuk
meminimalisir terjadinya gangguan baik pada proyek maupun pada pihak
sekitar pengguna jalan maka akan dilakukan koordinasi dengan pihak yang
terkait mengenai pengaturan arus lalu lintas sehingga tidak terjadi kemacetan
yang memprihatinkan.
Peta situasi marunda
Selain koordinasi dengan pihak yang terkait, kontraktor juga akan
membuat beberapa rambu lalu lintas dan himbauan untuk mencari jalan
alternative sehingga proses pengguna jalan tidak mengalami hambatan yang
berarti.

8. KONTROL MUTU
Dalam menjamin kualitas pekerjaan yang dicapai sesuai dengan spesifikasi
yang disyaratkan, maka kontraktor akan melaksanakan serangkaian uji
material yang digunakan dalam kegiatan ini. Diantaranya adalah;

• Pengujian tanah
Uji tanah dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi tanah sudah
memenuhi syarat dalam spesifikasi teknis seperti uji Sand Cone,
DCP, CBR dan pengujian lain yang dibutuhkan.
• Pengujian Beton
Beton termasuk bahan utama dalam paket kegiatan ini sehingga
perlu dijaga kualitasnya, pengujian yang dilakukan terhadap beton
dilakukan sejak awal pengerjaan.
Pada material yang digunakan untuk membuat beton dilaksanakan
pengujian dari batching plant untuk mengetahui kualitas bahan
yang dipakai selain itu mix design yang dibuat akan diajukan
kepada pengawas untuk disetujui mengenai komposisi campuran
beton yang dibuat. Sebelum pengecoran dilakukan terlebih dahulu
dilakukan slump test sehingga didapatkan tingkat keenceran dalam
beton segar. Selain itu juga dibuat benda uji kubus untuk diuji di
laboratorium kekuatan tekannya melalui uji tekan kubus. Waktu
pengujian beton dilakukan sesuai dengan spesifikasi teknis dan
peraturan PBI ‘71 serta SNI.

• Pengujian aspal
Pengujian aspal dilakukan pada saat design trial mix dan tes
marshal untuk mengetahui kekuatannya dalam menerima beban.

• Pengujian besi
Besi tulangan yang dipakai adalah U-24 untuk besi tulangan polos
dan U-39 untuk besi tulangan ulir.

Jakarta, 21 April 2010


PT. LINCE ROMAULI RAYA

TONGGUNG NAPITUPULU
DIREKTUR