Anda di halaman 1dari 8

Kediri 

- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri menggelar


ritual larung sesaji di kawah Gunung Kelud yang berada di Desa Sugihwaras, Kecamatan
Ngancar, Minggu (9/9/2007). Ritual ini digelar dengan tujuan menolak balak, sesuai dengan
sejarah terjadinya gunung kelud, yang menyisakan misteri dari kutukan penguasa Gunung
Kelud. Sesuai sejarahnya, ritual larung sesaji ini merupakan sejarah yang terjadi pada masa
Kerajaan Kadiri. Pada saat itu, putri Raja Kadiri, yaitu Dewi Kilisuci dilamar oleh 2 raja yang
bukan dari bangsa manusia, yaitu Lembu Suro dan Mahesa Suro. Namun dengan segala
tipu dayanya, Dewi Kilisuci berhasil menghindari pinangan dari kedua raja tersebut. Atas
kegagalan dan tipu daya Dewi kilisuci itulah, Lembu Suro, salah satu raja yang tertipu
sempat mengucapkan kutukan kepa oranmg Kediri. "Yoh wong Kediri, mbesuk bakal pethuk
piwalesku sing makaping kaping, yoiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung
bakal dadi Kedung. (Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat
besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau,"
kutukan dari Lembu Suro pada saat tertipu oleh Dewi Kilisuci. Dari legenda ini akhirnya
masyarakat lereng Gunung kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak supah itu yang
disebut Larung Sesaji. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesenian dan
Kebudayaan Kabupaten Kediri ini, pada tahun 2007 juga menggandeng Parisada Hindu
Dharma Indonesia (PHDI) cabang Kabupaten Kediri. Bagi umat Hindu, digelarnya larung
sesaji ini merupakan bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan penguasa di
Gunung Kelud sebagai rasa syukur atas segala nikmat yang telah diterima. "Kami berharap
setelah menjalankan larung sesaji ini, sirklus kehidupan yang berasal dari gunung sebagai
hulu dapoat kembali berjalan normal," kata I Wayan Swarna, Ketua PHDI Jawa Timur.
Sementara secara terpisah, Bupati Kediri Sutrisno dalam sambutanya menginginkan ritual
larung sesaji ini dapat menjadi agenda tahunan yang juga bisa menjadi dukungan dari
Pemerintah Provinsi Jawa Timur. "Kami pikir ritual larung sesaji ini juga layak dipromosikan
ke berbagai daerah, meskipun kegiatanya sangat lokal, karena ritual ini memiliki daya tarik
tersendiri," kata Sutrisno. Ritual larung sesaji ini diikuti oleh sedikitnya 3800 peserta, baik
dari PHDI Kediri, maupun kalangan penganut kepercayaan di Desa Sugihwaras. Ritual juga
diikuti oleh penganut Hindu dari berbagai daerah, seperti Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan
Semarang. Digelarnya ritual larung sesaji yang dimulai pada pukul 10.00 WIB dan berakhir
pada pukul 13.00 WIB tersebut sangat mengundang minat masyarakat untukl
menyaksikanya. Tak kurang dari 1.000 warga baik dari Kediri maupun dari luar Kediri
berjubel di area Gunung Kelud. FOTO: Bebek sebagai perlambang kesucian jadi rebutan
warga setelah dilarung/Syamsul Hadi(gik/gik) 

erharap Berkah, Warga Gunung Kelud Gelar Larung Sesaji


Samsul Hadi - detikSurabaya

Kediri - Ratusan warga yang tinggal di lereng Gunung Kelud, menggelar ritual larung sesaji.
Berbeda dengan pelaksanaan saat terdapat danau kawah, saat ini kegiatan itu dilakukan
dengan menyebar puluhan tumpeng di puncak Gajah Mungkur, yang masih satu lokasi
dengan Gunung Kelud. 

Acara tersebut dimulai dengan seserahan tumpeng dari juru kunci Mbah Ronggo ke
perangkat desa dan Kecamatan Ngancar. Acara larung sesaji diikuti sekitar 300 warga dari
Desa Sugihwaras, Babadan, dan Sempu. Setelah doa bersama, tumpeng-tumpeng tersebut
kemudian diletakkan di sekitar puncak Gajah Mungkur. 

Ketua panitia acara, Suprapto mengatakan, warga berharap kepada Tuhan agar dihindarkan
dari kemungkinan terburuk saat Gunung Kelud meletus. Acara tersebut juga sebagai bentuk
pelestarian tradisi leluhur yang digelar sejak puluhan tahun silam. 

"Tugas kita sebagai manusia kan berdoa. Terlepas kami selalu tahu kapan harus mengungsi
saat kondisi bahaya, kami tetap berharap mendapatkan keselamatan saat Gunung Kelud
meletus," kata Suprapto kepadadetiksurabaya.com, saat ditemui di sela-sela acara ritual,
Minggu (19/12/2010). 

Suprapto mengungkapkan ritual ini juga sebagai rasa syukur atas limpahan nikmat yang
dirasakan warga dengan suburnya lahan pertanian. Dipilihnya puncak Gajah Mungkur
sebagai lokasi larung sesaji, menurutnya tak lepas dari telah hilangnya danau kawah seiring
munculnya kubah lava yang kini bernama Gunung Tunggul Argo.

"Dulu di kawah kami bisa melarung intan juga. Sekarang sebagai gantinya cukup dengan
tumpeng dan kembang tujuh rupa yang kami letakkan disana. Semoga tidak ada apa-apa
dengan adanya pergantian bentuk ini," ungkap Suprato. 

Selain ritual warga lereng Gunung Kelud, di lokasi yang sama, umat Hindu yang tergabung
dalam Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kediri melangsungkan upacara Giri Kerti.

Kegiatan yang dilaksanakan di sekitar kubah lava ini dimaksudkan sebagai bentuk syukur
kepada alam atas segala limpahan nikmat yang dirasakan masyarakat. 

"Ini agenda yang rutin kami jalankan setiap tahun, dengan lokasi yang selalu sama. Semoga
Tuhan tetap akan melimpahkan nikmatnya kepada kami," tutur Ketua PHDI Kediri, Ni Ketut
Susilawati.

(wln/wln) 

RADAR KEDIRI Rabu, 12 Sept 2007

Rabu, 12 Sept 2007 


Suhu Kawah Kelud Naik 
Lebihi Batas Normal, Pengunjung Diminta Waspada
KEDIRI- Awas! Aktivitas Gunung Kelud mulai meningkat. Suhu air
kawahnya melebihi batas normal. Menurut Khoirul Huda, petugas
Pos Pengamat Gunung Kelud, perubahan aktivitas itu terjadi sejak
Senin malam, sekitar pukul 19.00. Tepat sehari setelah prosesi
larung sesaji yang digelar di sana pada Minggu pagi. "Suhunya
naik menjadi 33 derajat celcius. Normalnya 30 derajat," ujarnya
saat ditemui Radar Kediri di posnya, kemarin. 

Peningkatan suhu air kawah itu, ungkap Khoirul, diiringi sejumlah


peristiwa lain. Yaitu, keluarnya bau belerang yang semakin
menyengat dan terjadinya gempa vulkanik hingga 16 kali. 

Perubahan ini dirasakan sejumlah pekerja yang sedang menggarap


outlet. Yaitu, tempat pembuangan air kawah yang akan dijadikan
kolam renang air hangat. Jaraknya sekitar satu kilometer dari
kawah. 

Sekitar pukul 09.00, kemarin pagi, tiba-tiba mereka mengeluh sesak


napas. "Mereka (pekerja) datang ke sini (kantor pengamat) untuk
melapor," jelas Khoirul. Para pekerja tersebut memang berasal dari
desa setempat, Sugihwaras. 

Khoirul menduga, sesak napas yang mereka alami merupakan


reaksi dari gas yang dihirupnya. "Biasanya dari kawah yang muncul
CO2 dan H2S. Tetapi, kita tidak bisa memastikan," katanya. 

Untuk menjaga kemungkinan terburuk, dia lantas melapor ke Badan


Kesbanglinmas Kabupaten Kediri. Saat itu juga, atas permintaan
badan kesbanglinmas, loket masuk kawasan Kelud ditutup
sementara sekitar dua jam. Selanjutnya, pengunjung yang masuk
ke kawasan wisata dilarang mendekati kawah. "Kami khawatir
sewaktu-waktu terjadi letupan gas membahayakan. Jadi, sementara
ini, jangan ke kawah dulu," saran Khoirul. 

Meski demikian, dia mengatakan bahwa status gunung berapi yang


pernah meletus pada 10 Februari 1990 pukul 11.41 itu masih aktif
normal. "Kita lihat dulu perkembangannya. Bisa kembali seperti
biasanya atau tidak," lanjut pria berkacamata ini. 

Dia menerangkan, meski ada kenaikan suhu, belum bisa dipastikan


bahwa gunung akan meletus. Sebab, masih banyak faktor lain yang
mempengaruhi. Di antaranya dengan melihat seismik, deformasi,
serta unsur kimiawi air kawah. 

Kenaikan suhu itu sendiri merupakan gejala yang wajar pada


gunung berapi aktif seperti Kelud. "Makanya, besok wisatawan
tetap boleh masuk. Tetapi, jangan ke kawah. Pekerja juga bisa
kembali kerja," tutur Khoirul. 

Lebih lanjut dikatakannya, untuk menentukan kenaikan status


gunung berapi, harus melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi yang berada di Bandung. 
Pengamat gunung berapi seperti dia hanya bertugas
mengumpulkan dan mengirimkan data yang kemudian diolah di
Kota Kembang tersebut. "Setelah itu, hasil dari Bandung, naik atau
tidaknya status, disampaikan ke Pemkab Kediri untuk menentukan
langkah selanjutnya," jelas Khoirul. Untuk itu, dia meminta
masyarakat tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa.

Sementara itu, sejumlah pejabat pemkab kemarin langsung


meluncur ke lokasi. Mereka mendatangi kantor Khoirul untuk
memantau keadaan. Di antaranya adalah Kepala Kantor Pariwisata
Mujianto, Kabid Linmas Bakesbanglinmas Dedy Sadria, Plt Kepala
Dinas Kimpraswil Moh. Mir'an, dan Kabag Humas Pemkab Sigit
Rahardjo. 

Saat ditemui di rest area, Sigit mengaku, kedatangan mereka


karena dilatarbelakangi kepanikan warga Desa Sugihwaras.
"Kebetulan kami ada di Ngancar, ada evaluasi acara kemarin
(larung sesaji, Red)," katanya. 

Dia menegaskan, kondisi Gunung Kelud baik-baik saja. Hanya ada


kenaikan suhu. Bahkan, wisatawan tetap boleh berkunjung. "Tetapi,
memang jangan sampai ke kawah. Kalau ke gardu pandang tidak
apa-apa," tuturnya. (dea)

Sedangkan berita untuk larungnya adalah ...... 


. semoga yang melarung tambah sadar, bahwa perbuatan mereka sia-sia belaka

RADAR KEDIRI Rabu, 12 Sept 2007

Senin, 10 Sept 2007 


Melihat Prosesi Larung Sesaji di Kawah Gunung
Kelud (1)
Bangun Dini Hari, Tidurnya di Bak Pikap 
Prosesi larung sesaji kembali digelar oleh Pemkab Kediri.
Walaupun pengunjung yang datang tidak seramai tahun lalu, tapi
antusiasme masyarakat tidak berkurang. Termasuk para peserta
pawa.

PUSPITORINI DIAN H., Kediri

Pawai larung sesaji itu benar-benar menarik minat masyarakat.


Tidak hanya orang tua, anak-anak pun rela berjejal di sekitar lokasi.
Perhatian mereka, sebagian, tertuju pada dua gadis cantik di urutan
ketiga dalam pawai.

Dua gadis itu ditandu beberapa pemuda yang berdandan ala


prajurit. Laiknya selebritis, berbagai jenis kamera sibuk dijepretkan.
Baik ponsel maupun kamera dari jenis tercanggih. Sang gadis yang
berdandan ala putri kerajaan itu pun tersenyum manis. 

Tetapi, siapa sangka, perjuangan panjang harus dilalui Ringgit dan


Patrick, nama dua gadis itu. Seperti diakui Ringgit, gadis asal Kras
ini harus rela mengurangi waktu tidurnya.

"Bangun jam dua (pukul 02.00, Red), masalahnya jam tiga (pukul
03.00, Red) harus berangkat ke sini (Gunung Kelud, Red)," terang
Ringgit. 

Bisa dibayangkan, dinginnya hawa di pegunungan harus dirasakan


oleh Ringgit dan enam anggota rombongan lainnya. Mereka
memang harus datang pagi-pagi. Karena baik Ringgit maupun
Patrick harus didandani lebih awal.

Belum lagi, mereka harus menempuh perjalanan dari Kras-tempat


rombongan menginap-menuju aula parkir yang ada di puncak
gunung yang menjadi lokasi berkumpul sementara para pengisi
acara dengan naik pikap. Berbagi dengan peralatan karawitan milik
Kantor Pariwisata lainnya. 

"Dingin sekali, dikuat-kuatin aja," aku Ringgit saat ditanya rasanya


menempuh perjalanan sepagi itu. Bahkan, karena dingin yang
menusuk tulang itu membuat Ringgit memilih tidak mandi. 

Hal sama juga dilakukan oleh Patrick. Siswi SMAN 1 Kediri ini juga
memilih langsung didandani. Tentu saja, setelah cuci muka. "Dingin
mbak," ujarnya.

Bila rombongan Ringgit dan Patrick memilih datang dini hari,


rombongan dari SMAN Plosoklaten memilih menginap di aula yang
ada di lokasi parkir wisata Gunung Kelud. Bersama 36 siswa
lainnya dan guru, mereka telah mendatangi lokasi larung sesaji
sejak Sabtu.

"Datang tiga sore, terus gladi resik," jelas Anik Fitria. Siswa kelas X
SMAN 1 Plosoklaten dan teman-temannya menjadi pengiring putri
kerajaan dan berada di barisan sembilan.

Tetapi, selama menunggu dirias, Anik mengaku tidak bisa tidur.


Maklum saja, menginap di puncak gunung menjadi pengalaman
pertama baginya. 

Untuk menghilangkannya, pukul dua dini hari, dara 15 tahun ini


memilih berjalan menuju kawah. "Dengan pembimbing. Jadi
lumayan hangat," imbuhnya. Paginya, seperti pengisi acara lainnya,
Anik memilih tidak mandi.

Tetapi, ada alasan lainnya mengapa Anik dan peserta lain tidak
mandi. Ternyata air yang ada di kamar mandi tidak lagi mengalir.
Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas. Hanya satu ember.

Tidak hanya air yang terbatas, tidak ada ruang ganti baju membuat
para pengisi acara juga ekstra berpikir keras saat harus berganti
baju. Akhirnya, mereka harus rela berganti pakaian di balik
lembaran kain. Bergantian dengan teman-temannya.

Persiapan lainnya juga harus dilakukan oleh para sesepuh Desa


Sugihwaras. Sebanyak 17 uba rampe (sesajian) harus mereka
siapkan. Di antaranya tumpeng setinggi satu meter lengkap dengan
lauk-pauknya. 

Selain itu harus disediakan bubur tujuh warna dan buah-buahan


berwarna merah dan hijau. "Cuma enam orang yang menyiapkan
sehari penuh," jelas Pj Kades Sugihwaras Susiadi.

Hanya khusus memasak lodho, Susiadi mengaku harus wanita tua


yang melakukan. Sayangnya, Susiadi tak bisa menyebut
alasannya. "Tradisinya seperti itu," dalihnya.

Untuk menyiapkan berbagai sesajian itu, Susiadi mengaku harus


mengeluarkan dana hingga Rp 1,5 juta. Meski butuh waktu sehari
semalam, Susiadi mengaku tidak banyak mengalami kesulitan saat
menyiapkan sesaji. Termasuk menyiapkan tumpeng. "Hanya
menempelkan adonan beras dan ketan saja yang susah," jelasnya.

Memang, tidak seperti tumpeng biasa, kali ini mereka harus


menggunakan kerangka. Dibutuhkan enam kilo beras dan tiga kilo
beras ketan untuk membuat tumpeng ini.

Tetapi, kelelahan dan perjuangan para pengisi acara ini terbayar


ketika acara larung sesaji berjalan lancar. Sejak diberangkatkan
Bupati Kediri Sutrisno, sesajian akhirnya sukses dilarung ke kawah
Gunung Kelud. Namun, tidak seperti tahun sebelumnya, tidak
semua pengunjung mengikuti prosesi larung sesaji ini.
(bersambung)

Legenda Gunung Kelud
eberadaan gunung itu ada legenda tersendiri yang menceritakan asal muasal terjadinya gunung itu.
Konon gunung itu bukan berasal proses alami, melainkan akibat dari sebuah pengkhianatan
cinta.Hmmm . . .

Adalah Dewi Kilisuci, anak putri Jenggolo Manik yang konon memiliki kecantikan luar biasa. Tidak
sedikit kesatria bertekuk hatinya untuk menjadikan Kilisuci sebagai istrinya.

Ternyata kecantikan itu menyentuh hati dua orang raja meski dilihat dari fisiknya bukanlah raja
manusia biasa. Kedua raja itu berkepala lembu masing-masing bernama Raja Lembu Sura dan
Mahesa Sura.
Mereka dimabuk kepayang karena begitu cintanya terhadap Dewi Kilisuci dan akhirnya menyatakn
keinginannya untuk menyuntingnya untuk dijadikan istrinya.

Susah Menolak
Bagi putri Jenggolo Manik itu tentu susah untuk menolaknya, namun untuk menyatakan secara
langsung ketidaksukaannya, dia tidak punya cara. Akhirnya muncul ide sebagai upaya untuk menolak
cinta keduanya.
Dibuatlah sayembara yang kalau dipikir tidak masuk akal, karena permintaan sang dewi itu tidak
mungkin dikerjakan oleh manusia biasa.
Yakni, membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan satu lagi
wangi. Kedua sumur itu harus diselesaikan hanya dalam waktu satu malam, selesai sebelum ayam
berkokok.
Namun karena Lembu Sura dan Mahesa Sura sangat sakti, permintaan Dewi Kilisuci itu bisa
diselesaikan dengan baik dan cepat.
Belum puas atas hasil itu, Dewi Kilisuci kembali membuat sayembara. Kedua raja itu harus
membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara
mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.
Karena keduanya dimabuk kepayang, tanpa memperdulikan risikonya maka permintaan itu pun
dilaksanakan juga meski sumur yang dibuat itu sangat dalam.
Tidak disangka, di saat keduanya sudah berada di dalam sumurnya masing-masing, Dewi Kilisuci
memerintahkan pada perajurit-perajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu agar
keduanya mati. (Wiharjono-77)
Legenda Gunung Kelud (2)
Menolak Sial dengan Larung Sesaji
NAMUN sebelum Lembu Sura meninggal, dia melontarkan sumpahnya yang isinya merupakan
luapan sakit hati dan balas dendam yang ditujukan pada masyarakat Kediri. “Yoh, wong Kediri
mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar,
Tulungagung bakal dadi Kedung”.
(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal
jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam).
Akhirnya untuk menangkal sumpah itu hingga kini masyarakat Kediri secara rutin menyelenggarakan
selamatan berupa “larung sesaji” sebagai upaya menolak sial agar warga Kediri selalu selamat.
Hingga kini acara selamatan Larung Sesaji masih terus berjalan yang digelar setahun sekali setiap
tanggal 23 bulan Sura, yang diselenggarakn oleh masyarakat Desa Sugih Waras.
Termasuk adanya terowongan Ampera sepanjang hampir 1 kilometer yang dibangun untuk
mengurangi volume air kawah agar tidak meluap. Terowongan yang menembus Puncak Gajah
Mungkur itu ada yang menyebut dibangun pada tahun 1940 oleh Jepang, tapi ada yang mengatakan
baru pada tahun 1951, dengan fungsinya sebagai jalan pembuangan lahar.
Lorong ini menjadi semakin menarik karena di saat acara ritual itu berlangsung di sepanjang
terowongan dipasang lilin dan petromaks.
Bangun Tangga
Untuk menunjang objek wisata itu, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Permukiman dan
Prasarana Wilayah membangun tangga yang menghubungkan terowongan bagi pejalan kaki hingga
bibir kawah yang panjangnya diperkirakan mencapai 500 meter.
Keberadaan air hangat itu untuk melengkapi keindahan kawah yang bentuknya mirip danau dengan
kedalaman air antara 20 sampai 40 meter.
Bahkan sudah dibangun jalan hot mix dari Ngancar hingga perkebunan daerah Margomulyo yang
sudah selesai akhir tahun 2002 lalu.
Yang menarik perjalanan menuju kawah Gunung Kelud, setelah beberapa saat melewati hutan yang
lembab akhirnya lepas ke alam terbuka.
Sejauh mata memandang terlihat hamparan hijau dari perkebunan, mendekati kawah, setelah melapor
ke petugas kendaraan akan melewati terowongan yang cukup untuk satu mobil saja yang tidak
mungkin bisa untuk berpapasan. Tidak perlu khawatir dengan kegelapan karena sepanjang
terowongan tersebut sudah dipasang lampu di dindingnya.
Gunung Kelud hingga kini telah mengalami 28 kali letusan, mulai tahun 1000 sampai 1990. Gunung
ini secara kontinu dalam pengawasan Direktorat Vulkanologi dan Metigasi Bencana Geologi Bandung
yang bermarkas di Desa Sugih Waras. (Wiharjono-77)
Sumber : http://gunungkelud.multiply.com/journal/item/1/Legenda_Gunung_Kelud_