LAPORAN SURVEI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Badan Narkotika Nasional
bekerjasama dengan

Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Halaman | 2

KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji dan syukur atas rahmat dan kekuatan dari-Nya sehingga laporan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tahun 2009 telah dapat diselesaikan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Hasil survei tahun 2008 ini lebih detail hasilnya sampai ke tingkat propinsi, baik dari sisi estimasi jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi akibat narkoba. Studi ini melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, informan, mitra lokal, kontak person, koordinator penelitian, asisten dan peneliti lapangan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Brigjen Pol. Drs. J. Salean SH., Dra. Endang Mulyani, MSc., Drs. Mufti Djusnir Apt. Msi., Drs. Hendrajit P. Widigdo, Drs. Sumirat Dwiyanto,. Siti Nurlela, Sri Lestari, dan Ibnu atas bantuan dan kerjasamanya pada setiap tahapan studi ini, mulai dari proses pengembangan instrumen sampai penulisan laporan. Akhirnya kami berharap studi ini akan dapat memberikan kontribusi yang berguna dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan penyempurnaan program pencegahan dan penanggulangan narkoba di Indonesia umumnya dan tingkat Propinsi khususnya.

Tim Peneliti Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Singkatan 1. Pendahuluan ..........................................................................................................7 2. Tujuan ....................................................................................................................7 3. Tinjauan Pustaka Singkat .......................................................................................8 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba .................................................................8 3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba ..................................................9 4. Metodologi............................................................................................................9 4.1. Desain Studi ...................................................................................................9 4.2. Lokasi Studi ..................................................................................................10 4.3. Definisi Operasional ......................................................................................10 4.4. Keterbatasan Studi.......................................................................................11 5. Hasil.....................................................................................................................11 5.1. Prevalensi Penyalahguna .............................................................................11 5.2. Karateristik penyalahguna ...........................................................................13 5.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba ...................................................13 5.4. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba ..................................19 5.5. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba....................................................22 6. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013...................................................................................................................23 6.1. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 ................................23 6.2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba .......................................25 7. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba ....................................26 7.1. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna.........................................26 7.2. Peredaran gelap narkoba.............................................................................27 7.3. Perdagangan narkoba ..................................................................................31 7.4. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi...31 7.5. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex................................32 7.6. Pembenahan aparat penegak hukum.........................................................34 8. Kesimpulan & Rekomendasi ..............................................................................37 DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................40 Lampiran Ucapan Terima Kasih

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 4 DAFTAR SINGKATAN AIDS ATS BMJ BNN BNP BNK BPS CBA CEA COI DALYs DSM IV TR GDP HIV IDU LSD LSM NAPZA NARKOBA NSDUH NTB OD ONDCP PHK Puslitkes UI PSK Pemda QALYs RDS RP RT RW SAMSHA SLTA SMU SLTP SD TB THC TV UN UNODC Acquired Immune Deficiency Syndrome Amphetamine Type Stimulants British Medical Journal Badan Narkotika Nasional Badan Narkotika Propinsi Badan Narkotika Kabupaten Biro Pusat Statistik Cost-Benefit Analysis Cost-Effectiveness Analysis Cost-of-Illness Disability Adjusted Life Years Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision Gross Domestic Product Humman Immunodeficiency Virus Injecting Drug User Lysergic Acid Diethylamide Lembaga Swadaya Masyarakat Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain National Survey on Drug Use and Health Nusa Tenggara Barat Over Dosis Office of National Drug and Policy Pemutusan Hubungan Kerja Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Pekerja Seks Komersial Pemerintah Daerah Quality Adjusted life Years Respondent Driven Sampling Rupiah Rukun Tetangga Rukun Warga Substance Abuse and Mental Health Services Administration Sekolah Lanjut Tingkat Atas Sekolah Menengah Umum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Dasar Tuberculosis tetra-hidro-kanabinol Televisi United Nation United Nations Office on Drugs and Crime Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .

23 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Tabel 2. 2009 (median) Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. 2008-2013 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia. Tabel 4. 2008-2013 17 19 21 22 Tabel 7. 2009 Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna narkoba di Indonesia.Halaman | 5 DAFTAR TABEL Tabel 1. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba. tahun 2008 Tabel 3. Tabel 6. tahun 2008 . Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai 6 sumber Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan 10 narkoba di Indonesia. Tabel 5.

sebagian besar (58%) untuk biaya konsumsi narkoba.1 juta sampai 3.Halaman | 6 Abstrak Pendahuluan.6 juta orang atau sekitar 1.5 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp. 26.32. Dalam periode tahun 2001 sampai 2006.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. laki-laki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%). mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. dan lembaga pemasyarakatan. bandar. 2005). serta studi kualitatif ke berbagai sumber seperti penyalahguna/mantan. seperti coba-pakai.4 trilyun (2008) terdiri atas Rp. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 3. Dampak ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang yang sangat besar ini menggarisbawahi upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba sebagai upaya yang sangat mendesak. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Pertama. Dengan total kerugian biaya sekitar Rp. 27% teratur pakai. dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004. 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba. Sulawesi Tenggara & Papua.57. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. yang dilaksanakan tahun 2004. medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Fakta bahwa sebagian besar penyalahguna merupakan remaja dan berpendidikan tinggi yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai. DI Jakarta. Data dikumpulkan melalui survei dikalangan penyalahguna narkoba. pengamatan prospektif penyalahguna. Metodologi.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya. teratur-pakai. penyalahgunaan narkoba meningkat pesat. Nusa Tenggara Barat. 40% pecandu bukan suntik. kerugian diperkirakan Rp. dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. besaran biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari biaya hitungan studi ini. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. 5. Bali. dan pecandu (suntik dan bukan suntik). 3) mempelajari pola peredaran narkoba. Kalimantan Timur. Tujuan. 2002). Lampung. Kepulauan Riau.0 trilyun di tahun 2013. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. Pada biaya private. Sumatera Utara. Sumatera Selatan. Hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.9 trilyun adalah biaya sosial. LSM. Lokasi studi di 17 provinsi. Terakhir. keluarga penyalahguna. memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan. Jawa Timur. 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. panti rehabilitasi. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. kepolisian. Hasil. terdistribusi atas 26% coba pakai.6 trilyun atau $2. Kedua. teratur pakai. Menurut jenis kelamin. Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai. tahun 2008 . Di Indonesia. DI Yogyakarta. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%). baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). dan 7% pecandu suntik.6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI.23. Jawa Barat. Sulawesi Utara. yaitu Kalimantan Barat.32.

Halaman | 7

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

1. Pendahuluan
Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Di Amerika Serikat kerugian biaya ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai $181 milyar (UNDCP, 2004), sedangkan di Canada $8,2 milyar pada tahun 2002 (Rehm, 2006). Di Australia kerugian mencapai sekitar $8,190 juta pada tahun 2004/2005 (Collins, 2008). Perbandingan kerugian biaya narkoba terhadap gross domestic product (GDP) di Amerika Serikat sebesar 1,7%, Canada 0,98%, Australia 0,88% dan Perancis 0,16% (UNDCP, 2004). Di Indonesia, kerugian diperkirakan Rp.23,6 trilyun atau $2,6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI, 2005). Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir penyalahgunaan narkoba meningkat pesat, baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Hasil sitaan barang bukti, misalkan ekstasi meningkat dari 90.523 butir (2001) menjadi 1,3 juta butir (2006), Sabu dari 48,8 kg (2001) menjadi 1.241,2 kg (2006). Jumlah tersangka meningkat dari 4.924 orang tahun 2001 menjadi 31.635 orang tahun 2006 (Mabes Polri, 2007). Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Dengan latar-belakang di atas, Badan Narkotika Nasional bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia melakukan pemutakhiran data studi biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2008.

2. Tujuan
Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu (suntik dan bukan suntik); 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba 3) mempelajari pola peredaran narkoba; 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 8

3. Tinjauan Pustaka Singkat 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba
Banyak konsep dan definisi operasional penyalahgunaan narkoba. Menurut Ritter & Anthony (1991) coba pakai (new initiation) didefiniskan apabila frekuensi penggunaan per tahun 6 kali atau kurang. Sedangkan Todorov et al. (2006) menetapkan 5 kali atau kurang sebagai mencoba, lebih dari 5 kali per tahun sebagai lebih dari mencoba, disebut pengguna teratur bila memakai setiap hari selama minimal 2 minggu. Menurut Meyer (1975), penggunaan narkoba lebih dari satu kali sehari dalam periode 10 sampai 14 hari atau lebih termasuk kategori ketergantungan obat. SAMHSA (2008) membagi perilaku pakai atas tiga kategori yaitu 1) penyalahguna seumur hidup (lifetime use), minimal sekali pakai narkoba dalam seumur hidup, termasuk penyalahgunaan 30 hari atau 12 bulan lalu. 2) penyalahguna tahun lalu (past year use), waktu pakai narkoba terakhir kali dalam 12 bulan lalu termasuk 30 hari lalu sebelum wawancara, 3) penyalahguna bulan lalu (past month use), waktu pakai narkoba terakhir dalam 30 hari lalu sebelum wawancara. Secara garis besar cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dimulai dari bukan penyalahguna hingga coba pakai (eksperimetal), menengah (moderate), penyalahguna berat (heavy use). Tinjauan atas beberapa penelitian dilakukan oleh Elinson (1974) seperti yang ditelusuri oleh Kandel (1975), menghasilkan beberapa definisi dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan pola penyalahgunaan atau tingkat ketergantungan dengan lebih rinci (Tabel 1).
Tabel 1. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai sumber
Experimental 1-2 kali (Mizner, 1973) Occasional 3-9 kali (Mizner) Casual 1-20 kali (Stanton) Moderate use 10-29 kali (Mizner) Regular Minimal 1 kali per minggu (Johnson) Heavy users 21-199 kali (Stanton) Habitual, cronic > 200 kali (Stanton) >30 kali (Mizner) 3 kali seminggu dalam 3 tahun atau lebih atau pakai tiap hari selama 2 tahun (Hochman $ Brill, 1973)

1-2 kali (Josephson, 1973)

3-59 kali (Josephson, 1973)

Satu atau lebih dari 1 bulan (Johnson)

1-9 kali (Josephson, 1972) < 1 kali dlm 1 bulan (Johnson)

10-59 kali (Josephson, 1972) 10 kali satu tahun terakhir (Hochman& Brill, 1973) min 1 kali/ bulan (Johnson)

> 60 kali (Josephon) 3 kali per minggu atau > 1 bln pakai (Robins)

Sumber : Kandel, 1975

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 9

Ada pula yang mengembangkan kombinasi pengukuran diatas, untuk mengetahui tingkat ketergantungan (dependesi) melalui kriteria DSM-IVTR (Todorov et al., 2006) dan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (SAMSHA, 2008).

3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba
Markandya dan Pearce (1989) mendefinisikan biaya total penyalahgunaan narkoba adalah private cost ditambah biaya sosial. Biaya private adalah biaya terkait konsumsi dan produksi narkoba, sedangkan biaya lain yang terkait dengan narkoba dan dibebankan bukan pada penyalahguna tetapi pada masyarakat dikategorikan sebagai biaya sosial. Schauffler (2001), Collins & Lapsley (2004) mengakui pendapat para ahli ekonomi yang membedakan biaya akibat narkoba. Studi biaya narkoba banyak yang memasukkan tiga jenis biaya utama yaitu biaya pelayanan kesehatan, biaya produktivitas, biaya terkait hukum dan pengadilan (Single et al, 2001). Beberapa negara maju membuat estimasi biaya penyalahgunaan narkoba mengacu pada ”The International Guidelines” (Single et al, 2001). Namun metodologi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada negara-negara berkembang karena keterbatasan dan ketersedian infrastuktur datanya, misalkan tidak tersedia angka incidence dan prevalence narkoba, kematian & kesakitan, kriminalitas, kesehatan, dan sebagainya (Single et al. 2001).

4. Metodologi 4.1. Desain Studi
Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Jumlah penyalahguna narkoba diperoleh dengan mengalikan angka prevalensi penyalahguna narkoba dengan populasi berisiko, yaitu penduduk yang berumur 10 sampai 59 tahun. Angka prevalensi diperoleh dari hasil survei narkoba berskala nasional yang telah dilaksanakan BNN, seperti survei penyalahgunaan narkoba di kelompok pelajar & mahasiswa tahun 2006 dan di kelompok rumah tangga tahun 2005. Untuk memperkuat analisis estimasi dilakukan penelusuran pustaka dari berbagai literatur. Untuk mendapatkan angka probabilitas perilaku berisiko dan biaya satuan per orang akibat narkoba, maka dilakukan survei dikalangan penyalahguna narkoba. Cara pengambilan sampel dengan memodifikasi metode respondent driven sampling

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam ke berbagai informan (216 orang). yaitu: Kalimantan Barat.Halaman | 10 (RDS). Survei tambahan dilakukan pada kelompok coba pakai dengan metode purposive sampling untuk 403 orang di semua lokasi. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. teratur pakai. Sulawesi Utara. Sumatera Utara. Penyalahguna pecandu adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun dengan frekuensi atau jumlah pakai narkoba lebih dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu bukan suntik) dan atau pernah menggunakan narkoba dengan cara suntik dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu suntik). lalu nilai tersebut di proyeksikan untuk periode tahun 2008-2013 dengan menggunakan berbagai asumsi. keluarga penyalahguna (39). DI Yogyakarta. serta wawancara dengan kuesioner terstruktur. Lokasi Studi Lokasi studi di 17 propinsi di Indonesia.2. terdiri atas: kepolisian (23). panti rehabilitasi (28). lembaga swadaya masyarakat (30). Jawa Tengah. Kepulauan Riau. 4. Penyalahguna teratur pakai adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun (selain cara suntik) dimana frekuensi atau jumlah pakai narkoba kurang dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara. dilakukan studi costing di rumah sakit untuk mendapatkan biaya perawatan dan pengobatan bila ada IDU yang sakit karena HIV/AIDS dengan sampel sebanyak 98 pasien. penyalahguna/mantan (42). DI Jakarta. Sumatera Selatan. 4. tahun 2008 . Selain itu. Definisi penyalahguna coba pakai adalah mereka pernah mengkonsumsi jenis narkoba apapun maksimal sebanyak 5 kali dalam seumur hidupnya. Lokasi di seluruh propinsi tersebut berada di ibukota tiap propinsi. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara & Papua. dan pecandu. dan bandar narkoba (30).143 orang (teratur & pecandu). Dan studi observasi selama 1 bulan ke depan terhadap 108 orang di 10 provinsi.3. Periode pengumpulan data bulan Agustus sampai Oktober 2008. mengkalkulasi hasil perhitungan antara hasil point 1 dengan point 2 diatas untuk mendapatkan perkiraan biaya kerugian penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. Bali. Kalimantan Timur. yaitu coba pakai. Terakhir. Definisi Operasional Definisi operasional penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 tingkatan. Lampung. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. petugas lapas (24). Jawa Timur. Setelah diperoleh nilainya. Jumlah sampel penyalahguna terpilih sebanyak 2. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. Pecandu dipilah menurut faktor risiko.

teratur pakai. 1 www. Angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa tahun 2006 dan survei narkoba di rumah tangga tahun 2005. bukan dari perspektif pemerintah.com Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. • 5.datastatistik-indonesia. Hasil 5. pernah dirawat di rumah sakit. Misalkan pernah melakukan tindakan kriminalitas. Untuk sumber data populasi penduduk diperoleh dari website yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Australia Nasional University (ANU)1. Survei penyalahgunan narkoba dilakukan di 17 provinsi untuk mendapatkan probabilitas perilaku dan biaya satuannya setiap konsekuensi narkoba.1. Sumber data populasi pelajar diperoleh dari buku saku yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas. Angka prevalensi penyalahguna dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa per provinsi. Sehingga biaya-biaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba yang dikeluarkan pemerintah tidak dihitung dalam studi ini. 2006). yaitu September 2007 sampai Agustus 2008. provinsi yang tidak di survei menggunakan asumsi data dari provinsi terdekat yang di survei sebagai masukan datanya. dan pecandu berdasarkan jumlah frekuensi pemakaian dan cara pakainya. Prevalensi Penyalahguna Perkiraan besaran angka penyalahgunaan narkoba diperoleh dari perhitungan model matematis dengan formulasi berikut: angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dikalikan dengan populasi penduduk berisiko (usia 10-59 tahun). • Biaya ekonomi yang dihitung dalam studi ini pada periode 12 bulan lalu sebelum wawancara. biaya pengungkapan kasus pihak kepolisian. biaya penyediaan penjara. atau detoks/rehab dua tahun yang lalu maka tidak dihitung dalam studi ini.4. Angka prevalensi dipilah menjadi 3 kategori menurut jenis penyalahguna yaitu coba pakai. Di kelompok pecandu dipilah lagi menjadi pecandu suntik dan pecandu bukan suntik. Sedangkan laporan studi ini mencerminkan seluruh provinsi (33) di Indonesia. tahun 2008 .Halaman | 11 4. biaya adanya Badan Narkotika Nasional. Misalkan. dan sebagainya. Untuk itu. Sehingga biaya-biaya yang dihabiskan dan dikeluarkan diluar periode waktu tersebut tidak dihitung. Keterbatasan Studi Berikut adalah keterbatasan dalam studi ini: • Perspektif perhitungan biaya studi dari sisi penyalahguna narkoba (klien).

448 857.075 19.943 132. Coba pakai. Jawa Barat (14%).359 741.676 1.078 205.274 5.772 82.400 1. Kelompok bukan pelajar/mahasiswa semakin besar proporsinya pada jenis penyalahguna ini mencapai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.25 juta sampai 1.234 3.45 juta orang.724 32.480 218.669 792.781 446. dan Jakarta (10%).5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008.833 113. 27% teratur pakai.858 46.169. 40% pecandu bukan suntik. Mereka kebanyakan berasal dari kelompok pelajar (90%).578 22.294 145.180 10.422 6.850 39.908 133.941 1.971 35.988 340. terutama laki-laki. Pada kelompok pecandu narkoba terdiri atas 2 jenis.635 155.085 61.140 829.223 1.022 1.281 40.819 294. tahun 2008 .502 1.866 1.180 440. Jumlah penyalahguna teratur pakai sekitar 829ribu – 959ribu orang yang sebagian besar didominasi oleh laki-laki (89%).146 38. Propinsi yang memiliki kasus terbesar berada di Jawa Timur (15%).459.252.056 53.581 253.857 174.817 938. terdistribusi atas 26% coba pakai.197 132. Penyalahguna coba pakai lebih banyak di kelompok pelajar (90%).478 202.814 959.080. sedangkan pada teratur pakai dan pecandu lebih banyak terjadi di bukan pelajar/mahasiswa.124. dan Jawa Tengah (14%).149.538 114.577 169.186 185.166 611.484 2.6 juta orang atau sekitar 1.282 33.026 88. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%). Tabel 2.Halaman | 12 Dari hasil kalkulasi diperkirakan jumlah penyalahguna sebanyak 3.258.734.366 102.898 710. dan 7% pecandu suntik. Pecandu bukan suntik. Dari sejumlah penyalahguna tersebut.148 145.520 154. Jumlah pecandu bukan suntik diperkirakan sebanyak 1.950 12.322 807. Penyalahguna teratur pakai kebanyakan berada pada kelompok bukan pelajar (60%).702 238.461 516. Jumlah penyalahguna narkoba coba pakai diperkirakan 807ribu – 938ribu orang yang sebagian besar adalah laki-laki (85%).718 990.917.935 380.114. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik.610.716 682.884 3.653.055 3.435 215.379 1.041 Pelajar Laki Perempuan Bukan Pelajar Laki Perempuan Laki Keseluruhan Perempuan Total 133. Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.607 70.304.008 27. Jawa Timur (18%). Menurut jenis kelamin.762 Teratur pakai. tahun 2008 Jenis Penyalahguna Coba pakai minimal maksimal Teratur pakai minimal maksimal Pecandu Bukan Suntik minimal maksimal Pecandu Suntik minimal maksimal Total Lahgun minimal maksimal 1. Penyalahguna teratur pakai paling banyak berada di Jawa Barat (23%). Jawa Tengah (15%).719 125. lakilaki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%).1 juta sampai 3.

terutama di teratur pakai (12%). dan mereka yang masih aktif merokok dalam setahun terakhir sebanyak 95%. Pecandu suntik kebanyakan berstatus tidak bekerja (34%). Pecandu suntik lebih banyak yang tinggal bersama orangtuanya (64%) dibandingkan jenis penyalahguna lainnya.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba Dari hasil survei dikalangan penyalahguna diketahui beberapa perilaku penyalahguna sebagai berikut: Merokok dan alkohol. mereka yang masih minum alkohol sebanyak 81%. dimana proporsi terbesar berada di kelompok pecandu suntik. Pecandu suntik diperkirakan sebanyak 218ribu sampai 253ribu orang.Halaman | 13 88%. Sebagian besar telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi (80%). Dimana pecandu bukan suntik kebanyakan berada di provinsi Jawa Barat (19%) dan Jawa Timur (16%). Demikian pula dengan minum alkohol.2. Mereka yang berstatus mahasiswa/pelajar sebanyak 28%. Jawa Barat (14%) dan Jawa Timur (13%). 5. Kejadian pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (79%) lebih tinggi dibandingkan pada pelajar/mahasiswa (21%). yaitu minimal telah tamat SLTA ke atas. Populasi pecandu suntik paling banyak di propinsi DKI Jakarta (14%). diketahui lebih dari separuh responden berada pada kelompok umur 20-29 tahun (68%). Riwayat dan pola konsumsi narkoba. sedangkan yang mengaku bekerja kebanyakan adalah pegawai swasta (15%) dan wiraswasta/ pedagang (12%). hanya 9% dari penyalahguna adalah perempuan. Umur pertama kali pakai narkoba kebanyakan usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA. Ada sekitar 93% dari responden yang pernah minum alkohol. Alasan yang Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Hampir seluruh responden pernah merokok (99%). Sebagian besar penyalahguna adalah laki-laki. Dalam setahun terakhir. tahun 2008 . Lebih dari separuh responden mengaku masih tinggal bersama orangtuanya (58%) dan sekitar seperempatnya tinggal di rumah kost atau kontrakan. 5. terutama para pecandu suntik. Karateristik penyalahguna Dari hasil survei dikalangan penyalahguna narkoba. Ganja (66%) dan obat penenang/barbiturat (21%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali oleh responden. Sedangkan pada teratur pakai dan pecandu bukan suntik kebanyakan mahasiswa (32% dan 24%). Sekitar seperempat responden berstatus menikah. Sekitar seperempat responden tidak bekerja. Pecandu suntik.

kecuali ganja. Feri butuh uang saya kasih. cuma saya sibuk kerja.. jadi coba-coba. dimana pecandu suntik paling banyak frekuensi pakai narkobanya. Bahkan.03.1. pengaruh pergaulan. ee ternyata enak. Lihat. Jadi saya sibuk kerja. Jenis narkoba lainnya adalah shabu (38%). Misalkan. Dari semua yang pernah dipake paling enak putaw Duh enak banget. ternyata ada sekitar sepertiga (33%) dari anggota keluarga responden juga penyalahguna narkoba. pada umumnya keluarga mereka baru mengetahui ada anggota keluarganya yang menyalahgunakan narkoba setelah ada kejadian tertentu seperti tertangkap polisi.2. ada perbedaan jenis narkoba yang populer dikalangan mereka.. jadi pengawasan saya kurang. Ganja (92%). Sekitar 83% dari responden pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba (poly drugs).. “.Halaman | 14 diungkapkan pakai narkoba karena ingin coba-coba. Bisa kumpul sebagai 1 keluarga itu gak ada. terutama para pecandu suntik (87%) dalam setahun terakhir. obat penenang (28%). kan nambah metal tu. Cimeng.. Para pecandu suntik (98%) lebih tinggi yang melakukan “poly drugs”. dan sakit. Subutex. Ekstasi (54%). shabu.2. Jika dilihat dari jenis penyalahguna.P3). 80% dari pecandu suntik telah diketahui oleh keluarganya. namun tidak untuk kelompok teratur pakai (36%). Tidak hanya itu. lebih dari separuh (61%) responden masih mempraktekan penggunaan narkoba lebih dari satu jenis (poly drugs). awalnya gitu aja deh. berani abis. Bahkan ada sebagian dari Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. enak banget aja deh kayak di surga” (BD-1. di pecandu bukan suntik & teratur pakai adalah shabu. jadi berani.. Semua masih dipake saat ini.jenis narkoba yang pernah dipakai pil hypnoril. di pecandu suntik adalah putau bubuk.10. pokoknya cocok ni. dan putau bubuk (32%) adalah jenis narkoba yang paling populer dipakai dikalangan responden. susah euy. Sayangnya. Dari hasil identifikasi pada kelompok pecandu suntik.P2).namanya pil BK itu. putau bubuk (15%) dan methadon (13%). Shabu (64%). putaw. tahun 2008 ..P1). ga macho. obat penenang/barbiturat (52%). “Kurangnya perhatian.3.2.. Camlet..1. terus pergaulan. lexotan. fly. nah itu lah akhirnya jadi begitu” (KPN-1. dibandingkan pecandu bukan suntik dan teratur pakai (78%).P1). “Obat-obatan seperti Sanax. ekstasi (30%). over dosis. Putaw.”(PN-9. Ganja (71%) masih tetap paling banyak disebut dalam pemakaian narkoba setahun terakhir.05. rumah tangga saya gak harmonis sama suami.pertamanya pergaulan sih. perbandingkan median frekuensi pakai antara pecandu suntik (720 kali pemakaian) dengan teratur pakai (20 kali pemakaian) dalam setahun terakhir. saya di Jakarta. Suami di Bandung. kurangnya informasi tentang narkoba dan kurangnya pengawasan orang tua.. “.. heueuh. tapi dalam tanda kutip perhatian dah cukup.2. Ada perbedaan banyaknya jumlah konsumsi narkoba..3. stokun. Menurutku yang paling mahal shabu. ga laki kata orang kan. orang kalo ga kenal gituan ga keren tuh. ganja. Informasi tersebut bagi pihak anggota keluarga sebenarnya sudah terlambat karena rata-rata mereka sudah pakai narkoba lebih dari 5 tahun. tapi efeknya paling enak putaw” (PN-1.08. Lebih dari separuh penyalahguna telah diketahui statusnya sebagai penyalahguna narkoba oleh pihak keluarga (53%)..

Saat ini ada dua jenis zat/narkoba yang paling banyak disuntikan ke dalam tubuh. selera makan berkurang (48%).P2).3. ganja (36%) dan ekstasi (32%).Waktu diambil sampel darahnya utk keperluan pemeriksaan golongan darah. dengan median usia pertama kali umur 17 tahun. Sekitar 85% dari responden pernah melakukan hubungan seks. Pecandu suntik (92%) lebih banyak yang pernah melakukan hubungan seks dibandingkan kelompok lainnya. sebagai pemakai di sekitar sini. Kejadian penyakit dikalangan penyalahguna. yaitu: rasa mual (45%).01. rasa sesak pada Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Namun. tahun 2008 . Dengan median frekuensi pemakaian narkoba suntik sama besar. dengan median jumlah jarum suntik baru sebanyak 15 dan 10 buah per bulan. Dari mereka yang pernah berhubungan seks. dengan nilai median 60 bulan. yaitu shabu (40%). yaitu 19 tahun. terutama para pecandu suntik.Halaman | 15 informan yang menyatakan bahwa mereka baru tahu anaknya pakai setelah teridentifikasi mengidap HIV/AIDS.. “Saya mulai tahu dia pake narkoba sekitar tahun 2004.. sedangkan perempuan 42 bulan. Narkoba dianggap dapat meningkatkan libido untuk berhubungan seks.2.. Ada 5 keluhan yang banyak diungkapkan. dimana kebanyakan dilakukan oleh laki-laki (80%). Sayangnya hampir separuh dari responden ketika berhubungan seks tidak pernah pakai kondom dalam setahun terakhir. tapi saya mengetahuinya pada saat dia sedang sakit di RS itu.2. yaitu putau bubuk dan subutek. Ada sekitar sepertiga dari responden yang mengaku sebagai pecandu suntik. Prevalensi yang pernah pakai narkoba suntik lebih tinggi pada laki-laki (35%) dibandingkan perempuan (26%).P4). sekitar 1 dari 10 orang pernah melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba.karena dia pada saat itu dia ketangkep. Sekitar tiga per empat responden (76%) mengaku punya keluhan masalah kesehatan. Dalam setahun terakhir. Dengan frekuensi pemakaian jarum suntik baru pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. “Saya tidak tahu pasti.05.3.. yaitu 1 kali dalam sehari. Paling tidak ada 3 jenis narkoba yang banyak disebut terkait dengan hal itu. Seks dan Narkoba. Angka prevalensi pakai narkoba suntik pada perempuan (69%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (62%) dalam setahun terakhir. ternyata emang sudah target.” (KPN7. Tidak ada perbedaan jenis narkoba yang disuntikan antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan median umur pertama kali pakai narkoba suntik antara laki-laki dan perempuan.dari situlah saya baru mengetahui jika dia adlh pemakai” (KPN-4. Hanya sekitar 9% saja yang selalu pakai kondom. mereka yang pernah berhubungan seks sekitar 73%. laki-laki lebih lama sebagai penyalahguna narkoba suntik yang digunakan secara teratur. Penyalahguna narkoba suntik.

Kalau untuk orang dewasa Rp. Kejadian overdosis.P13). kebanyakan di RS pemerintah. tetapi orang lain yang menemani responden saat dirawat inap lebih rendah (13%). sekitar 37% melakukan pengobatan sendiri dengan cara membeli obat medis/modern (71%). Ada sekitar 8% dari responden yang pernah minimal melakukan satu kali tindakan detoksifikasi ataupun rehabilitasi. ada sebanyak 24% yang melakukan rawat jalan dan 3% yang harus menjalani rawat inap.02. Hampir separuh dari responden yang menanggung biaya pengobatan tersebut adalah pihak keluarga (49%) dan pihak responden sendiri (48%).” (PN-5. rumah sakit pemerintah (27%). Karena udah kronis. kalau jalan maunya pipis terus. “.6. Gua pernah satu hari.6. Setelah positif dua tahun kemudian minum ARV.. terutama di kelompok teratur dan pecandu bukan suntik. rasa sakit pada ulu hati (36%). Kebetulan anak gue juga uda minum ARV. gue dibantu LSM. Ketika terjadi overdosis. Ambilnya di klinik Teratai di RSHS.1. trus gua langsung masuk herna. Bahkan di kelompok pecandu suntik kejadian overdosis jauh lebih tinggi. Ditemukan ada sebanyak 9% biaya pengobatan ditanggung oleh kartu/SKTM/Jamkesmas. Bokap jemput kekosan gua. Hampir sebagian besar informan menyatakan seringkali mereka kurang memperhatikan gejala-gejala penyakit yang dirasakan dan malas untuk berobat ke dokter.. lebih dari separuh responden menyatakan tindakan yang dilakukan adalah ditolong atau dirawat oleh teman (55%). Selanjutnya. Gua biarin cuma berobat ke HERNA tapi belum dibilang itu HEP C.P13). dan hanya 2% yang pernah melakukannya sebanyak 2 kali.. Secara detail. dan itu sudah bisa dibilang stadium tinggi.1. tahun 2008 . dan puskesmas (22%). “Gua sering demam-demam tapi gua biarin aja. dan rasa lelah (fatigue) berkepanjangan (35%).80 ribu tiap bulan” (PN-1. Pertengahan bulan gua dipanggil lagi sama dokter dan ada orang tua. Namun. terutama para pecandu suntik (15%). Selain itu. Lebih dari separuh responden (60%) menyatakan diantar oleh orang lain ketika berobat rawat jalan.. ada sekitar 20% yang menyatakan didiamkan saja. tapi HEP C ada. Ada sekitar 1 dari 10 responden penyalahguna pernah mengalami overdosis.dan nyokap gua nangis.jadi sejak tahu status.20 ribu. yaitu 1 dari 4 responden (28%). kebanyakan pergi ke praktek dokter (43%). kalau anak-anak Rp. gua dibawa kepanti rehabilitasi. Namun. Akhirnya september tahun 2000 . trus malamnya gua dibawa konseling.08. Bagi penyalahguna lebih memilih uangnya untuk membeli narkoba dari pada untuk biaya pengobatan. Dari mereka yang punya keluhan.Halaman | 16 dada (43%). akhirnya gue jalan aja udah ga bisa. Detoksifikasi & Rehabilitasi. Separuh responden pecandu suntik menyatakan tindakan yang dilakukan adalah perawatan medis (52%). trus gua langsung detoksikasi. dia bawa gua kesalah satu dokter”H”.. Sedangkan mereka yang dirawat inap. mereka yang pernah mengalami kejadian overdosis dalam setahun terakhir sangat rendah (2%). kuku kuning dan badan gua kuning semua. Para informan pergi berobat ke dokter setelah merasakan gejala penyakitnya bertambah parah. Mereka yang melakukan rawat jalan. mereka yang pernah Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Gua dikasih tahu untuk saat ini tidak ada virus HIV.

. saaakit badan gua.7% dilakukan setahun terakhir. Namun.. enakan digebuki orang dari pada gua nahan sakau. membeli obat bebas. Data ini memperlihatkan masih sangat rendahnya akses layanan untuk detoksifikasi maupun rehabilitasi. Hanya 38% yang pernah melakukan tindak kriminal tersebut.suratnya saya bilang kebapak ini pekarangan pingin saya jual tapi sempet kurang boleh tapi karena dibawah pengaruh obat itu jadi nekat aja udah hilang langsung laku” (PN-10.P9). “Kalau jual motor diem.. tindak kriminalitas pada orang lain lebih banyak dilakukan oleh para pecandu suntik (28%). jadi terpaksa aku berhenti total. Sedangkan yang pernah melakukan tindakan keduanya sebanyak 2%. urat-urat ini kaya di isi jarum kalo mo tahu.3. kaya yang tadi gua ceritain kan.. pake ganja tuh berhentinya tu. terutama dikalangan pecandu. Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas. gua itu berhentinya mendadak. tidak seluruh responden pernah melakukan tindak kriminalitas.. ngebobol brangkas bokap.. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.05. dan 0.” (PN9. Dalam upaya berhenti dari kecanduan narkoba..11.. “waduh.mimisan. ngegigill.4.. dan sebagainya. yang disebabkan ketiadaan akses layanan. Kebanyakan tindak kriminalitas tersebut dilakukan di tingkat keluarga (66%). tahun 2008 .Halaman | 17 detoksifikasi sebanyak 5%. bandingkan dengan teratur pakai hanya 15%. Sedangkan mereka yang pernah rehabilitasi sebanyak 8%. Namun mereka yang mengalami kejadian tersebut sekitar 17% dengan median jumlah kecelakaan sebanyak 1 kali pada tahun lalu... Hampir sepertiga dari responden pernah melakukan upaya tersebut. Tindak kriminalitas tersebut masih terus dilakukan dalam setahun terakhir (13%).. Kebanyakan yang pernah melakukan tindakan tersebut para pecandu suntik (58%). janm 12-1 malam gua mandi. Bahkan masih ada sekitar 15% yang melakukan upaya tersebut dengan frekuensi sebanyak 6 kali pada tahun lalu.” (PN-8.3. Lebih dari sepertiga responden (35%) pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. dan kebanyakan dilakukan oleh para pecandu suntik (61%). tuh.05. Upaya pengobatan sendiri untuk bebas dari ketergantungan narkoba.P1). itu waktu orang kedinginan gua kepanasan... aku ga pengen anak aku ini cacat kan. ketidaktahuan dari responden. ngambil duit 325 juta.. kalo bisa milih. Bagi sebagian penyalahguna menganggap dengan pasang badan bisa lebih efektif untuk lepas dari ketergantungan narkoba dibanding jenis pengobatan lainnya. “.1. misalkan mencuri ataupun merampok. Tindak Kriminalitas..4. ataupun ketidakmampuan membayar layanan tersebut. nah. bayangin orang kepanasan jam 12 siang gua kedinginan. karena bini aku udah bunting 4 bulan.diem kalau pekarangan ibu sudah meninggal dapat tiga tahun ada surat. berak ampe keluar darah. dan 2% dilakukan setahun terakhir.pernah.. misalkan pasang badan. Berdasarkan pengakuan.2.. terutama pada kelompok teratur pakai (80%).P9). lo bayangin. itu aja... kalo ga nge-boti pala gua migraine. para responden telah berupaya melakukan pengobatan sendiri. karena dalam upaya tersebut didasari atas kesadaran sendiri.

sedangkan dikelompok pecandu bukan suntik 3% dan teratur pakai 1%. Dalam upaya mencari penyalahguna baru. terus meremehkan” (PN-8.. Namun. Teman pecandu suntik lebih sedikit dibandingkan pecandu lainnya. Ranking 3. Hampir separuh responden tersebut adalah para pecandu suntik (47%). Ada satu dari 10 penyalahguna (13%) yang pernah dipenjara terkait dengan narkoba. Dengan menggunakan angka persentase tersebut per provinsi.2. Pada tahun lalu. di luar lingkungan sekolah. Ditanyakan pula teman sesama penyalahguna yang meninggal dunia terkait narkoba dalam tahun lalu. masih ada sebanyak 3% dari penyalahguna yang dipenjara. Penyalahguna mengakui ada aktivitas yang terganggu akibat mengkonsumsi narkoba. dengan median frekuensi tertangkap sebanyak 1 kali. tahun 2008 . mereka yang mempraktekan menjual narkoba dalam setahun terakhir telah jauh berkurang hanya 8%.. terutama para penyalahguna suntik.09. saat aku ada dilingkungan mereka. Jumlah median teman narkoba yang meninggal ada sebanyak 3 orang. Jadi malesan.. males bangun tidur. proyek (order) pada mundur. ada 1 dari 10 responden (11%) pernah mempraktekan sebagai kurir narkoba. Dengan informasi data tersebut. terutama para pecandu suntik (46%).. terutama di pecandu suntik.10. Dengan tingkat kematian teman dikalangan pecandu suntik sebesar 15%. lumayan buat nambahin beli” (PN-1. Ditemukan masih ada 26% dari responden yang merasa aktivitasnya terganggu setelah mengkonsumsi narkoba dalam tahun lalu. misalkan tidak sekolah atau bekerja. Beli segitu sekaligus jualin kalau ada teman yang mau. Jadi dulu aku SMP itu selalu ranking. Ranking 2.. “Dulu otomatis mbak. Aku kelas 2 pindah sekolah udah kenal itu. Nilai median jumlah teman sesama pengguna yang masih hidup sebanyak 10 orang. Selain itu.3. Aktivitas Pribadi Terganggu. “Frekuensi makai putaw 3-4 kali sehari. ngaruh banget mbak.. Jejaring penyalahguna narkoba perlu diketahui.1.. Karena beda. sekitar separuh responden (52%) pernah menawarkan narkoba ke orang lain. Penyebarluasan narkoba & harga pasaran. eh. Ngaruh banget. Hampir sepertiganya (31%) adalah pecandu suntik. Mereka yang mengakui hal ini ada sebanyak 41%. diketahui angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebesar 5% per tahun. Teman yang meninggal tersebut kebanyakan laki-laki (93%).” (PN-3. diperkirakan jumlah penyalahguna yang mati ada sebanyak 14. Pengalaman di Penjara.P7).. dengan median umur 27 tahun.Halaman | 18 Penangkapan Oleh Pihak Kepolisian. Tanggung jawab jadi kurang. Teman responden yang pakai dan mati karena narkoba. salah satunya dengan menanyakan jumlah teman sesama pemakai narkoba. terutama para pecandu bukan suntik (57%). Biasanya beli 1 gram untuk 3 hari. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ranking juga 2 dan 3 juga. hanya ada 1 dari 20 penyalahguna yang tertangkap pihak kepolisian.P7).894 orang pada tahun lalu.2.2. Satu dari 5 penyalahguna pernah ditangkap pihak kepolisian terkait urusan narkoba.P1). Dalam tahun lalu. tapi dari belakang. Hampir sepertiga (31%) dari responden pernah menjual narkoba. “Ya mengganggu! jadi banyak yang terbengkelai.3.08. Langsung.

Demikian juga dengan lama hari perawatan. Ekstasi 1 butir 137.000 Putau bubuk 1 paket 100. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.000 studi mulai terlihat peredaran narkoba Subutex 2 mili 26. Apotik itu nakal. hal itu sengaja dibiarkan saja” (BD2. Selain itu.P3). Sumber pembiayaan selama di rumah sakit sekitar 48% berasal dari pemerintah melalui program Askeskin.500 rumah penduduk. Semakin banyak gejala yang dialami oleh ODHA maka beban biaya pengobatannya semakin mahal. 1.3. “Sama di sini nich di daerah “X” ada Apotik “Y”. dengan rentang antara Rp.000.5.250 di pemukiman kumuh. dengan rentang biaya antara Rp. Peredaran Hasish 1 paket 37. sedangkan di Bali Rp. misalkan ganja di Medan 1 Harga pasaran paket Rp. semakin lama tinggal di rumah sakit maka beban biaya yang harus ditanggung semakin mahal. tahun 2008 . Hasil studi costing di salah satu rumah sakit pemerintah di Jawa Timur menemukan bahwa secara rerata.4. Tapi saya pernah dengar issue. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba 5. apotik/toko obat dapat dijadikan sumber mendapatkan narkoba racikan.2 juta per orang.5 juta per orang.000 dapat dilihat pada tabel 3.1 juta .15. menemukan rerata besar biaya untuk rawat jalan sebesar Rp.7 juta sedangkan yang memiliki lebih dari 5 gejala sebesar Rp.10.500 narkoba tidak lagi terfokus di tempatKokain 1 paket 200. Tempat transaksi sering kali di tempat ramai atau di jalanan umum.2.000 tempat hiburan tetapi sudah bergeser Shabu 1 paket 200. Jenis Narkoba Satuan (Rp) 50. Biaya rawat jalan pecandu suntik lebih besar dibandingkan penyalahguna lainnya.3.763ribu per tahun.1.4. Gambaran hasilnya adalah sebagai berikut: Biaya pengobatan dipilah menjadi rawat jalan dan rawat inap. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) 5.1 juta sampai Rp.Halaman | 19 Harga pasaran narkoba bervariasi antar daerah. median biaya pengobatan rawat inap sekitar Rp.000 lain yang kurang mendapat perhatian Putai cair 1 paket 150.000 ke tempat lain seperti perkampungan. tempat kos dan lokasi Heroin 1 paket 100.4. Di beberapa kota Methadon 1 gelas 5. Tidak dengan resep dokter aja bisa keluar.5000.73ribu sampai Rp.000 dari pihak kepolisian. Biaya satuan konsekuensi narkoba per orang per tahun Biaya satuan (unit cost) dari konsekuensi narkoba per orang per tahun diperoleh dari hasil wawancara dengan para penyalahguna narkoba. Sedangkan median biaya pasien rawat jalan sekitar Rp. terutama bila ada acara organ tunggal yang memutar house music. Harga pasaran secara rerata Ganja 1 paket 15. Tabel 3.9 juta per orang. seperti pengakuan salah seorang bandar.4 juta dan rawat inap sebesar Rp 5. mereka yang punya 1-3 gejala hanya sekitar Rp.380ribu per orang per tahun. Demikian juga dengan biaya rawat inap. Ada juga yang memanfaatkan tempat orang hajatan. Bandingkan. Hasil survei dikalangan penyalahguna.

362 ribu per orang per tahun. Dibutuhkan paling tidak sebanyak Rp. Sedangkan biaya pengobatan sendiri agar terbebas dari narkoba sekitar Rp. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan kelompok penyalahguna lainnya. Biaya satuan kejadian akibat kecelakaan sekitar Rp. Biaya kerugian akibat waktu produktivitas yang hilang (loss productivity) akibat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. tahun 2008 .Halaman | 20 Biaya satuan penanganan overdosis sekitar Rp. Kerugian biaya satuan detoksifikasi sekitar Rp. sedangkan teratur pakai hanya Rp.2.2. Akibat pemakaian narkoba. Nilai waktu yang hilang dikonversi menjadi biaya kerugian dengan asumsi upah minimum regional per propinsi. Namun. urusan dengan kepolisian.514 ribu per orang per tahun. terkait urusan dengan aparat penegak hukum. Pecandu suntik mengakui lebih banyak terganggu aktivitasnya dibandingkan penyalahguna lainnya.98ribu per orang per tahun. kerugian biaya yang ditimbulkan sekitar Rp. Biaya satuan terkait urusan dengan pihak kepolisian akibat tertangkap diperkirakan sebesar Rp. Para pecandu narkoba suntik lebih banyak mengeluarkan biaya overdosis dibandingkan penyalahguna lainnya. Kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp.14 juta per orang per tahun. detoks/rehab. terutama dikalangan pecandu suntik mencapai Rp. Biaya untuk pengobatan sendiri untuk pecandu suntik lebih mahal.5.500ribu per orang per tahun. Kerugian biaya produktivitas akibat sakit terdiri atas rawat jalan sebesar Rp.8 juta.3 juta per orang. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan pecandu suntik. kecelakaan. terutama barang yang diambil/dicuri di keluarganya. terutama dikalangan penyalahguna suntik. Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas di pecandu suntik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. dan penjara. Biaya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 juta per tahun per orang.16. Kerugian kecelakaan jauh lebih besar terjadi di kelompok pecandu dibandingkan teratur pakai.10.2.3.7 juta per orang per tahun. Biaya detoks dan rehab memiliki kisaran sekitar Rp.7 juta per orang per tahun terkait dengan urusan penjara ini. Biaya ini diukur dari orang lain yang menenami responden karena sakit.4 juta per orang. diakui ada aktivitas yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak.8. Demikian pula.203 ribu dan rawat inap Rp.8 juta sampai Rp. bila urusan telah sampai ke tingkat penjara maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar lagi. Sedangkan biaya kerugian akibat tindakan kriminalitas lebih tinggi terjadi di keluarga sendiri dibandingkan kejadian di orang lain. Kerugian biaya akibat overdosis jauh lebih kecil dibandingkan biaya detoksifikasi. Biaya detoksifikasi & rehabilitasi lebih mahal dibandingkan overdosis.8 juta. Akibatnya.

000 1.600.009 18.000. Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba.000 400. dimana pecandu suntik menghabiskan median biaya Rp. 2009 (median) Pecandu Pecandu Jenis narkoba Teratur non Suntik Suntik Pecandu GANJA 180.1 juta per orang per tahun.000 1. shabu.004 8.100.800. kecuali subutek. Sedangkan jenis narkoba lain tidak terlalu besar transaksinya.920.000 9. Pada kelompok teratur pakai biaya terbesar dihabiskan untuk membeli putau bubuk (Rp.000 3.000.2.4.100.885.000 1. dengan nilai median konsumsi Rp.5.600.450.000 3.000 PUTAU CAIR 1.2juta) dan shabu sebesar Rp.000 1.000 1.000 KECUBUNG 100.800.000 1.000 28.000 606.000 9.000 LSD 110.000 1. Konsumsi subutek tertinggi ditemukan di Jawa Timur. tahun 2008 .000 624.450.9 juta per orang per tahun. maka biaya satuan konsumsi semakin besar.000 1.000 INHALAN 24.000 5. Tabel 4.000 5. Penyalahguna di Bali paling banyak mengeluarkan biaya pembelian putau bubuk dibandingkan propinsi lainnya.000 100.9. 5.000 SUBUTEK 9.000 2.200. Jenis narkoba yang juga banyak dibeli adalah putau bubuk.000 18.000 840. Shabu hampir ditemukan di lokasi studi yang disurvei.800.000 5. dan heroin murni.000 1.000.000 HASHIS 37.100.000 PUTAU BUBUK 2.000 102. Biaya konsumsi narkoba per orang per tahun Biaya satuan median konsumsi narkoba diperkirakan sebesar Rp.800. dibandingkan kelompok lainnya (teratur Rp.800.400. Semakin berat tingkat kecanduan narkoba.000 KOKAIN 360.000 1.000 EKSTASI 1. Dikalangan teratur pakai.Halaman | 21 yang dikeluarkan lebih besar ketika kejadiannya telah sampai di penjara dibandingkan ketika masih ditingkat kepolisian.1.800 Pada kelompok pecandu bukan suntik biaya konsumsi narkoba kebanyakan dihabiskan untuk membeli subutek. mencapai Rp. shabu.000 1.154 SHABU 1. dan ekstasi.800.2 juta per tahun per orang.500 600.000 3.20.500 7. pecandu bukan suntik Rp. putau bubuk hanya di temukan di Yogyakarta. Putau bubuk banyak di beli untuk dikonsumsi oleh para pecandu suntik.18 juta per orang per tahun.800.950ribu.800 28.225.860. dimana biaya yang harus dikeluarkan hampir 6 kali lipatnya.742.330.500.800.4 juta per orang per tahun.470.750 6. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.000 BARBITURAT 60.2juta).5.800 28.800.440.000 600.000 1. kecuali papua.668.800.000 METHADON 1.000 HEROIN 50.

0 biaya bila terjadi overdosis. yaitu sekitar Rp.1). tahun 2008 . Pada biaya private.6 25.0 biaya melakukan detoksifikasi & rehabilitasi. kontribusi terbesar berasal dari biaya konsumsi narkoba. Jawa Barat. 5. termasuk biaya konsumsi narkoba. ganja (15%). Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada 35.5 trilyun pada tahun 2008. Gambar 1. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.4 trilyun pada tahun 2008.5 trilyun kerugian biaya pribadi (private) dan Rp. yang terdiri dari Rp. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004 (gambar 7. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2004 (Rp. Dari semua komponen biaya prívate.Halaman | 22 5. biaya perawatan & pengobatan 20.9 trilyun adalah biaya sosial. Total biaya (dalam Trilyun Rp) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. putau bubuk (15%). biaya untuk 5. sebagian besar (58%) adalah biaya konsumsi narkoba. Yang 30. Jenis narkoba yang banyak diperjualbelikan dikalangan penyalahguna narkoba adalah shabu-shabu (36%). dan Jawa Tengah. dan ekstasi (13%).0 melakukan pengobatan sendiri 0. 26.15. Biaya individual (private).32.0 termasuk biaya ini adalah 23.4 trilyun. biaya yang diperlukan terkait urusan ketika tertangkap pihak kepolisian karena narkoba.4 penyalahguna narkoba.5. biaya yang dikeluarkan karena dipenjara.0 2004 karena sakit akibat narkoba.26. Jakarta. biaya produktivitas yang hilang akibat pemakaian narkoba sehingga responden tidak bisa bekerja/sekolah. biaya yang terjadi Tahun akibat kecelakaan lalu-lintas.0 dalam upaya penghentian 2004 2008 narkoba.11. Biaya ekonomi yang dimaksud adalah biaya individual (private) dan biaya sosial. 2008 15. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada penyalahguna narkoba. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba Dalam konteks penghitungan estimasi kerugian biaya ini. Potensial peredaran narkoba terbesar berada di Jawa Timur.0 32.0 konsumsi narkoba. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). 10. Kecenderungan total kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2004 dan 2008 Total kerugian biaya individual akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.3 trilyun). istilah yang dipakai adalah biaya ekonomi. Definisi tersebut lebih merujuk pada definisi yang dibuat oleh Markandya dan Pearce (1989). Diperkirakan hasil estimasi kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.

4 23.063 882.1 12.443. Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Kontribusi biaya terbesar dari akibat kematian akibat narkoba (premature death) sebesar 48%.243.665 323.682.734. Dari aspek kerugian hilangnya waktu produktivitas proporsi terbesar akibat kecelakaan lalu lintas. yaitu biaya kriminalitas.2 0.7 2.997 8.477.518.985. tahun 2008 .714.714.813.2 2.237 5.912 22.7 0. Periode proyeksi dilakukan untuk 5 tahun ke depan.532. 2009 Komponen kerugian Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab pengobatan sendiri Kecelakaan tertangkap polisi Penjara aktivitas terganggu Total biaya private Loss productivity Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab Kecelakaan tertangkap polisi Penjara premature death tindak kriminalitas Total biaya sosial Total (Rp) 15.123. Total kerugian biaya sosial diperkirakan sekitar Rp.275 59.9 0.060.450.1 0. Dikarenakan studi ini menggunakan pendekatan perspektif klien.035. biaya hilangnya waktu produktivitas.654. maka mempertimbangkan dua asumsi.715.682.376. yaitu dengan mengukur tingkat biaya produktivitas yang hilang (loss productivity) dari waktu & biaya dari orang lain tersebut akibat menemani atau menunggu responden.602.998 680. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 Dalam melakukan proyeksi untuk angka prevalensi.974 7.8 18.6 Biaya sosial secara garis besar dapat dipilah menjadi 3 bagian.515. yaitu perkiraan pertumbuhan penduduk per tahunnya dan perkiraan kenaikan angka prevalensi penyalahguna per tahunnya.626 26. 6.071.489. maka sebagian besar biaya yang dikalkulasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang terkait dengan responden. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013 6.743.656.6 0.023 19. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.688.4 0.266 839. Untuk menghitung biaya satuannya digunakan pendekatan upah minimum regional (UMR) per propinsi.0 2.393.423.254 1.704.5.094.337.471.799 722.219. ketika detoksifikasi & rehabilitasi.199 % 47.620 45. ketika overdosis. dan biaya kematian karena narkoba. ketika terjadi kematian akibat narkoba (premature death) dan tindakan kriminalitas. 227.729.1 1.416 188.529.1 3.721.953.229.127. Tabel 5.453.165. ketika berurusan dengan pihak penjara.874.1.9 Total kerugian ekonomi 32.813 252.574. dari 2008 sampai 2013.6 81.798.Halaman | 23 Biaya sosial.957.806 0. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 0.005 100 trilyun di tahun 2008.068 3.663.2 2.464.4 Secara detail komponen biaya sosial terdiri dari biaya produktivitas yang hilang karena menunggu responden sakit. ketika terjadi kecelakaan ketika berurusan dengan pihak kepolisian.

82 5.58 1.70 1.06 0.05 1.97 1. angka kenaikan diperoleh dengan melihat selisih kenaikan persentase angka hasil survei pelajar/mahasiswa tahun 2003 (3.13 0. teratur pakai.39 laporan World Drugs pecandu bukan suntik 0.31 membandingkan pecandu 1. Data populasi pelajar/mahsiswa diperoleh dari Depdiknas (2006).07 0.02 1.datastatistik-indonesia.3%). diperkirakan angka kenaikan narkoba dikalangan pelajar/mahasiswa per tahun sebesar 0.82 1. Angka yang dibandingkan adalah angka penyalahguna setahun terakhir (current users). Angka prevalensi penyalahguna narkoba.15 0.47 + 0.90 0.27 0.93 0.74 4.28 0. yaitu coba pakai.52 1. adalah tahun).5 juta orang di tahun 2013.06 0. Selanjutnya. Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna pelajar/mahasiswa narkoba di Indonesia.33 8. Di kelompok bukan Tabel 6. Di setiap kelompok populasi.25 0.01 4.9%) dengan angka survei pelajar/mahasiswa tahun 2006 (5.80 0.41 0. Dengan fakta ini. Hasil perhitungan ditingkat populasi penyalahguna narkoba. Dari hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan nilai tengah maka jumlah penyalahguna narkoba ditaksir sekitar 3.65 yang dibuat oleh UNODC.44 dengan World Drugs pecandu 0.86 8. 2008-2013 angka kenaikan 2. Untuk proyeksi. dan akan meningkat menjadi 4. data populasi tersebut dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa.32 Report (WDR) total 6.3 juta orang di tahun 2008. Asumsi proyeksi angka prevalensi untuk tahun-tahun berikutnya mempertimbangkan tingkat kenaikan angka penyalahguna per tahun menurut tiap kelompok dikurangi angka kematian. Detail hasil proyeksi angka penyalahguna narkoba dilihat pada tabel 7. Selanjutnya angka prevalensi tersebut di kalkulasikan terhadap populasi penduduk menurut kelompoknya.01 1.04 per tahun.55 4.46x (dimana x.79 0.008 2.36 0.91 0.94 0.35 1.39 0.07 (dipublikasikan 2007) teratur 0. dan pecandu (bukan suntik dan suntik).06 0. Perkiraan jumlah populasi penduduk per tahun diperoleh dari pihak BPS & ANU yang dipublikasikan dalam www. sedangkan di tahun 2006/2007 meningkat menjadi sekitar 208 juta orang.07 pecandu suntik 0.39 7. Data populasi yang dianalisis adalah populasi berisiko penyalahguna narkoba diasumsikan mereka berada pada kelompok umur 10-59 tahun.32 1.46 1.010 2.28 4.14 0.96 1. Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba pada tabel 6.93 7.46 6.13 Report 2006/2007 pecandu bukan suntik 0. Diperkirakan jumlah current users diseluruh dunia tahun 2005/2006 ada sebanyak 200 juta orang.Halaman | 24 Perkiraan jumlah populasi penyalahguna narkoba.47 per tahun.94 2. maka diperkirakan tingkat pertumbuhan penyalahguna narkoba ada sebanyak 0. populasi pelajar/mahasiswa dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan y = -17.14 0.85 0.79 2005/2006 Kelompok Bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 0.23 0.98 pecandu suntik 0.009 2.011 2.09 1. angka prevalensi penyalahguna dibagi menurut jenis penyalahguna.19 2.013 prevalensi per tahun Kelompok pelajar/mahasiswa coba pakai 3. Demikian pula.02 1.84 0. Di kelompok pelajar/mahasiswa.41 1.13 0. dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba di tingkat populasi akan terjadi kenaikan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.07 0.24 1.012 2.10 1.42 0.09 dengan teratur 1.38 0. Dengan demikian.06 2.30 0.17 1.87 0.15 (dipublikasikan 2008) total 1. tahun 2008 .com.

929 566.958 196. Proyeksi biaya satuan untuk lima tahun ke depan mempertimbangkan tingkat inflasi.483 1.974 1.013 1.943 1.012 1.590.017.0 40.875 197.355.532.455 1. 2008-2013 2.388.112.507 1.896 102.64 2.503 948.903 2.011 1.366 1.426 250. sebesar 6% per tahun.166 113.016 1.090.450 4.082.535 1.644 253. Berdasarkan hasil kalkulasi diperkirakan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.172 3.604.0 20.336.517.004.045 265.583.2 48.268 2.045 2.015 57.030 207.027.512 228.528.551 53.710 280.261 92.372 1.0 0.3 26.007.436.057 Perkiraan jumlah bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 88.325 1.996 2.578.459.100 1.309 teratur 538.193.750 596.0 8.022 1. dari hasil perhitungan tersebut lalu dikalikan dengan jumlah populasi per provinsi per tahun (tabel 7).814 217.559 455.881.595.452.532 211.89 6.997 658.192 67.433 pecandu suntik 187.72 2.250 1.0 Biaya individual 6.888 955.327 107.052 1.441 1.5 7.984.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.274.4 30.637 1.826.514 2.828 312.455.0 Biaya sosial K eru g ian Eko n o m i (T rilyu n R p ) 50.688.817 1.005.8 8.154 1.255.812 317.480 pecandu 1.737 1.874 97.478.0 6.923 240. Angka inflasi ini diaplikasikan terhadap seluruh biaya satuan setiap konsekuensi narkoba menurut provinsi.766 626.054 526.527 total % terhadap total populasi 1.541 4.107 pecandu bukan suntik 1.396 1.298 1.777.600.929 teratur 894.704 296.606.009 855.686.429 691.380 233.56 2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba Perkiraan biaya satuan per setiap konsekuensi.248 total 2.426 pecandu bukan suntik 165.Halaman | 25 sekitar 28% dalam 5 tahun ke depan. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.819 490.696 1.0 43.323.0 trilyun di tahun 2013 (harga berlaku). Tabel 7 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.690 1.2.620 teratur 356.011 pecandu 214.524 1.687.959 388.921 1. tahun 2008 .6 34.773.071.039 1.380.895 62.189.436 1.658 1.32. Sedangkan Irian Jawa Barat merupakan propinsi yang paling rendah tingkat potensial kerugian biaya ekonominya.161.718 1.3 38.272 421.469 Total seluruh penyalahguna narkoba coba pakai 872.417 3.843 1.654 1.0 2008 2009 2010 Tahun 2011 2012 2013 Hasil proyeksi kerugian biaya ekonomi untuk 2008-2013. Propinsi Jawa Timur diperkirakan memiliki potensial kerugian terbesar dibandingkan propinsi lainnya di Indonesia.1 7. Selanjutnya.358.010 929.782.211 3.647 228.362.936 pecandu suntik 236.805 274.120 1.81 2.861 295.681 pecandu bukan suntik 1.107.321.503 pecandu suntik 48.300 244.395 2.490 pecandu 1.57.149.255 1. Grafik 2 Proyeksi Biaya Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sampai tahun 2013 60.905 72.034 1.868. Detail hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 7.922 180.734.48 2.218.470 2.222.636 1.909 4.765 1.008 Perkiraan jumlah pelajar/mahasiswa coba pakai 784.081.6 10.923 total 1.5 30.

tetapi juga kecenderungan responden yang menutup diri terhadap perilaku yang dilarang atau memalukan. Besaran angka ini setara dengan 1. dan kabupaten/kota.Halaman | 26 Proyeksi ini menggunakan asumsi data normal. perkiraan jumlah penyalah-guna narkoba dengan mendasarkan pada sampel di kota di satu pihak dan survei di pihak yang lain akan saling menetralkan.6 juta orang di Indonesia. Tentunya. Salah satu pabrik narkoba yang berhasil dibongkar diperkirakan nomor 3 terbesar di dunia untuk shabu dan ekstasi. Dengan demikian. Dengan nilai omzet harga sitaan narkoba mencapai milyaran rupiah. baik dari tingkat pusat. Perlu dicatat bahwa perhitungan angka prevalensi yang digunakan untuk estimasi jumlah penyalahguna berasal dari survei pelajar/mahasiswa di 33 provinsi dan survei rumah tangga di 16 provinsi. tahun 2008 . Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba 7. Pada tahun 2008.2 juta orang. 2 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9% tahun 2003 (BNN & Pranata UI. 2007).3% tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI. dan Sulawesi Selatan. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna Ada kenaikan angka prevalensi tahun 2004 ke 2008. propinsi. yaitu adanya kenaikan angka prevalensi penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa dari 3.5% jumlah populasi penduduk Indonesia tahun 2008. UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia sekitar 4% dari tahun 2006 ke 2007. tidak hanya berskala besar2. Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004. angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba yang didapat melalui berbagai survei kemungkinan lebih kecil dari angka yang sesunggguhnya. karena angka kejadian (termasuk pengakuan menggunakan narkoba) yang dilaporkan melalui survei umumnya cenderung lebih rendah. seperti sebagian besar propinsi di Jawa. 2004) menjadi 5. Mengingat survei rumah tangga tidak diseluruh provinsi maka basis data untuk memproporsikan ke seluruh provinsi di kelompok bukan pelajar/mahasiswa menggunakan dasar angka prevalensi pelajar/mahasiswa. Bila pemerintah tidak serius dalam upaya penangangan dan penanggulangan narkoba ini maka potensial kerugian ekonomi yang terjadi akan jauh lebih besar lagi. Ini dapat disinyalir dari begitu maraknya ditemukan berbagai pabrik racikan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tidak saja karena faktor kelemahan mengingat kejadian dalam setahun terakhir. Kiranya perlu ada upaya intervensi program yang lebih serius pada propinsi-propinsi tersebut. Di beberapa propinsi terlihat juga potensial kerugian ekonomi yang relatif besar. 7.1. tetapi juga mereka berani membuat pabrik narkoba di kompleks perumahan. Sumatera Selatan. Kalimanta Timur. besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3.1 juta sampai 3. sebesar 3. Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta.

meningkat tajam menjadi 16.241. Dilihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai 2006 menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. “Kalau dilihat dari data selalu meningkat. Jadi sangat tergantung kepada tingkat aktivitas petugas. dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba. Pihak kepolisian telah membuktikan adanya peningkatan peredaran narkoba. Tapi kalau semakin aktif petugas menilang ya semakin tinggi. Jadi angka yang ada itu karena aktifitas petugas.907 tablet (2006). psikotripika 33%. Jadi begini.10. Kedua. atau shabu dari 48. Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan. misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289.000 orang. Hasil survei memperlihatkan bahwa usia pertama kali pakai narkoba pada usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Narkoba itu tidak sama dengan bagian Reskrim. ada peristiwa kalau dicari. Dalam 6 tahun terakhir tersebut. Mereka ini pasar potensial dalam peredaran gelap narkoba.6 hektar (2006).523 tablet (2001) menjadi 466. misalkan ekstasi dari 90. dan bahan adiktif 13%.5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing.. Ketiga.9 juta orang di tahun 2008. Ini karena kampus sebagai tempat bertemu mahasiswa. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85. tahun 2008 . serta ke-ego-an yang mendorong untuk pakai narkoba.848 gram (2001) melonjak menjadi 1.872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11. dan otoritas kampus membuat pihak kepolisian Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. diperkirakan jumlah penyalahguna coba pakai sekitar 807 ribu sampai 938 ribu orang. besaran barang bukti tangkapan narkotika. Heroin dari 16. ada peristiwa pidana. Hanya 0. ya nggak usah nilang. jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia.3. Peredaran gelap narkoba Sasaran peredaran adalah pelajar/mahasiswa. Kalau narkoba itu tidak ada yang melapor.200 gram (2006). Jadi kalau angkanya naik karena aktifitasnya seperti itu. Berdasarkan hasil estimasi. dari sekitar 5. Kalau mau angkanya turun ya nggak usah aktif.478 orang.901 gram (2006).Halaman | 27 Fakta pengungkapan kasus dan tangkapan.3.642 gram (2001) menjadi 21. Kalau Reskrim itu tidur pun ada orang lapor. Jadi lalu lintas itu kalau tidak melihat orang melanggar. Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun. kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%.2. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa sekitar 4. 7. pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3. dimana sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa.000 tersangka pada tahun 2006.” (Pol-1.000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32.6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa. rasa keinginantahuan atau coba-coba. Ada beberapa fakta tentang ini. Bahkan kampus sebagai tempat subur peredaran gelap narkoba. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia. Sama dengan pelanggaran lalu lintas. Desember 2006).P3).252 orang tahun 2006. Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine. Jadi seperti itu narkoba. Jumlah pelajar/mahasiswa diperkirakan sebanyak 16. Pada masa ini tekanan begitu besar baik dari kelompok pergaulannya (peer group).

Dari hasil wawancara dengan beberapa orang asing (sebagian besar orang Nigeria) yang menjadi bandar di dalam LP narkoba diketahui bahwa orientasi mereka mengedarkan narkoba di Indonesia karena bisnis semata yaitu keuntungan yang besar. Upaya memperluas jaringan penyalahguna seakan tiada henti. Penyalahguna putaw lebih memilih tempat yang tenang dan sepi untuk pakai narkoba karena efek yang ditimbulkannya membuat orang menjadi gitting (ingin tenang dan berhalusinasi). Modelnya nanti saya nongkrong di alamat tersebut. sehingga berapapun uang yang mereka miliki sudah pasti akan habis untuk membeli Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. demikian halnya dengan peredarannya. Sehingga dalam pengungkapan kasus seringkali hanya kurir-kurir yang tertangkap sedangkan para bandar narkoba tidak pernah diketahui keberadaannya.Tapi kalau orang lain. sebaliknya penyalah-guna cenderung mereka yang memiliki uang dan tidak miskin (BNN & Puslitkes UI. Sekarang peredaran narkoba melalui telepon dan menggunakan kurir. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba. Konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba sangat komplek. dan karaoke karena efek yang ditimbulkan membuat penyalahguna selalu ingin bergerak energik. karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain. setelah saya terima uangnya. Mereka yang menganggur. Modelnya seperti itu” (BD-2. kampus sering menjadi tempat transaksi ‘putaw’.Halaman | 28 tidak bisa bebas melakukan razia ataupun penggeledahan. Saya tidak kenal orang itu. “Kalau selama itu teman. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. Hanya tinggal saya beli kartu perdana baru. Para bandar kelas kakap/besar adalah orang yang mempunyai modal besar. paling dengan memberikan alamat. Hampir semua bandar narkoba (khususnya orang asing). mereka yang miskin lebih mudah menjadi pengedar. Sedangkan jenis shabu biasanya disalahgunakan di hotel-hotel atau tempat kos. Jenis-jenis narkoba yang beredar di tempat hiburan disesuaikan dengan efek dari narkoba. Peredaran narkoba tidak pernah berhenti.P3). sms untuk ambil barangnya. Di sms BR ada dimana.10. Mereka membawa masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia. sedangkan diskotik tempat transaksi piskotropika. Modus operasi peredaran narkoba. Hal ini ditunjukan dari total responden ada sebanyak 52% mengaku pernah menawarkan narkoba kepada orang lain. dan hotel tempat transaksi shabu. bahkan 31% pernah menjual narkoba.3. tahun 2008 . bar. Ekstasi banyak dikonsumsi di tempat hiburan seperti diskotik. Dahulu transaksi narkoba dengan cara bertemu langsung antara penjual dan pembeli dengan konsep ada uang ada barang. Kondisi ini terjadi karena pengangguran dan kemudahan mendapatkan uang merupakan salah satu faktor yang mendorong peredaran narkoba. Modus operandi kasus peredaran cenderung semakin canggih yang didukung peralatan teknologi modern. SMS dengan no HP baru. Dari jenis narkoba.2. Orang itu tidak kenal saya. Dia akan saya sms. Trus tinggal saya kode barangnya disimpan dimana. jarang ada yang pakai narkoba. bahkan disinyalir banyak bandar berwarganegara asing. 2007). Menurut mereka efek dari pemakaian narkoba sangat berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang menjadi pecandu.

01. tahun 2008 .P12). Terlebih sebagian besar napi di lapas diperbolehkan memegang uang. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3. Alasan lain. daerah “B” di Pontianak. Ditambahkan.01. Masyarakat membela dan melindungi para bandar/pengedar dari petugas. Di tempat itu. Dibeberapa lokasi studi ada wilayah yang menjadi kantong-kantong peredaran narkoba. Lokasi wilayah tersebut berada dipemukiman padat penduduk dan pusat keramaian. Penjara tidak lepas dari peredaran narkoba. sedangkan bandar/pengedar memberikan bantuan uang kepada masyarakat setempat. Juga disediakan tempat untuk mengkonsumsinya agar pembeli tidak perlu pulang dengan membawa barang bukti. misalnya kampung “B” di Jakarta. keterlibatan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam penjara masih sangat mungkin. Narkoba di Penjara. “Pemakai tinggal datang ke “B”. Bahkan para bandar/pengedar sudah bisa diterima keberadaannya oleh masyarakat setempat. karena letak lapas rata-rata di dalam kota dan tidak terpapar langsung dengan petugas kepolisian. penyalahguna lebih nyaman dan aman untuk membeli dan memakai langsung narkobanya. Di wilayah semacam itu sudah terbentuk jaringan peredaran narkoba yang kuat. Mereka juga menggunakan kentongan yang terletak disetiap sudut tiang listrik sebagai penanda datangnya polisi. sehingga jika polisi melakukan razia mereka akan menceburkan diri ke sungai sebagai usaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi. sehingga lapas menjadi tempat potensial mengedarkan narkoba. Kondisi itu menimbulkan permintaan (demand) terhadap narkoba menjadi tinggi di lapas. Dari tempat tersebut tidak jarang para bandar dari luar daerah mengambil narkoba untuk diedarkan di daerah lainnya. Adanya kantong peredaran narkoba. tapi hanya sedikit saja” (BD-3. Pendapat senada disampaikan informan dari kepolisian. Ada beberapa yg memilih untuk membawa pulang. Daerah ini mempunyai banyak sungai dan rumah2 yang dibangun diatas sungai.3. Tidak menutup kemungkinan ada oknum aparat yang menjadi backing. Keberadaan lokasi tersebut dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. “Kampung “B” dikenal sebagai kampung narkoba karena banyak transaksi yang dilakukan secara rapi. Besarnya permintaan (demand) dari penyalahguna narkoba di Indonesia menjadi lahan empuk bagi sindikat-sindikat narkoba internasional. Berbagai tanda atau kode akan mereka bunyikan sehingga semua bandar/pengedar dan penyalahguna sudah bisa mengantisipasi kedatangan petugas. kampung “F” di Bali.waktu pulang pun pemakai juga dijaga. Akses narkoba di dalam penjara sangat mungkin.P5).Halaman | 29 narkoba. Biasanya lapas yang sering terjadi kasus peredaran narkoba bila jumlah napinya sudah melebihi kapasitas yang ada. Dengan kondisi demikian seringkali petugas mengalami kesulitan untuk menangkap bandar/pengedar. Kadang-kadang mereka cukup berkumpul dan berteriak ” maling” untuk mengusir polisi secara beramai-ramai” (Pol-2. di lapas narkoba seringkali napi mengalami sakaw. di daerah-daerah semacam itu sangat sulit dilakukan razia narkoba.3. Sering terjadi perlawanan dari masyarakat setempat terhadap beberapa aparat yang ingin melakukan razia.6. dsb. seolah telah terbentuk kerjasama saling menguntungkan.

Ada juga melalui keluarga atau teman yang mengunjungi napi ataupun diselundupkan melalui petugas lapas sendiri.4. Menurut informan.4.” (LP-4.P10). Satu hal yang sangat mengecawakan. Pada waktu melakukan pengambilan data di lapangan terlihat jelas bahwa beberapa orang napi bebas memakai handphone di dalam lapas. di sel. “Kalau putaw gua dikirim sih.01. ditemukan 19 paket shabu” (LP3.3. Harga ¼ gram tahun sekarang 300. Beberapa tahun lalu. softex. Dan pegawai saya menangkap dia. saya baru pertama kali datang kesini tanggal 17 maret saya razia dapat barang bukti macam-macam sudah dapat eh sampai sekarang tidak ada beritanya. Itu dari anak dalem juga. “Saya pengalaman beberapa kali nangkap kadang-kadang diterusin mungkin tiga atau satu segala macam diterusin sampai ditindaklanjutin.P10). Dari dulu sampe sekarang masih seperti itu dapat putaw.3. paling sedikit tuh 11 gram.10.P11).P8). Banyak cara menyelundupkan narkoba ke dalam lapas.000.3. sandal atau sepatu yang sudah dimodifikasi. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. kalau paketan kecil jadi 7 paket masing-masing dijual Rp 100. Tidak jarang seorang bandar narkoba di dalam lapas masih bisa mengendalikan peredaran narkoba baik di dalam atau di luar lapas secara langsung melalui handphone. terkadang sudah dilakukan razia di dalam lapas dan terbukti ditemukan beberapa barang bukti tetapi tidak ada proses lebih lanjut.1. tidak mungkin lagi” (LP-2. “Tahun 2006 pernah dilakukan razia oleh Sat Brimob dan Kepolisian. karena alasan situasi dan kondisi tertentu kasus yang sempat diungkap sepertinya dilupakan dan barang bukti yang ditemukan juga hilang begitu saja.000” (BD1. tahun 2008 . Pernah diketemukan usaha penyelundupan narkoba melalui bantal dan kue. “Tapi bukti yang kemarin itu masuk lewat lempar. Pola pendistribusian barang kemungkinan bisa antar blok. modus penyelundupan narkoba ke dalam lapas dengan cara di lempar ke dalam lapas melalui media bola tenis atau dibungkus dengan kantong plastik.4.06. belum semua lapas punya alat detektor sehingga banyak narkoba yang tidak bisa teridentifikasi oleh petugas... Berarti ini suatu model cara lain untuk mereka masukan narkoba itu lewat pegawai tidak ada lagi. bahkan ada juga yang dimasukkan ke dalam vagina. Bahkan sempat diperoleh informasi ada sebagian petugas lapas yang menyewakan pemakaian handphone kepada napi di dalam lapas. tetapi yang paling mudah adalah antar kamar melalui petugas kebersihan lapas yang bisa dijadikan perantara/kurir.08.2. Modus baru sekarang melalui beberapa cara seperti dimasukkan ke dalam bra. Beberapa cara tersebut bisa lolos dari pemeriksaan petugas lapas karena sampai saat ini sistem pemeriksaan masih manual.Halaman | 30 Sistem pengamanan dan upaya preventif yang dilakukan di dalam lapas seringkali terkendala tindak lanjutnya.

7. Berbagai pabrik shabu dan ekstasi juga berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian. Ini mengindikasikan bahwa para bandar berupaya mendekatkan akses dan mencoba menyingkirkan pola yang ada.868 yang tersebar di 194 kabupaten/kota di 32 propinsi. tahun 2008 . Jenis narkoba yang memberikan nilai peredaran rupiah terbesar adalah shabu (36%). yaitu di apartemen Mediterania. 30/6/2008). 12/01/2009). Dengan total barang bukti sebanyak 6.15. Dengan fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia sangat marak. Jakarta Barat (Kompas. 25/02/2008) atau menyuruh kurir narkoba dari balik penjara (Kompas online. 13/12/2008).4 trilyun. 13/12/2008). Perdagangan narkoba Nilai omzet perdagangan narkoba di Indonesia. Tidak sedikit yang melibatkan warganegara lain.119 kilogram heroin. Menarik jika mengkaji pengungkapan kasus narkoba akhir-akhir ini oleh pihak kepolisian. Ini mengindikasikan sudah begitu maraknya perdagangan narkoba di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan yang mengendalikan perputaran bisnis narkoba tersebut dari balik jeruji besi.18. 28/11/2008). sehingga pihak kepolisian atau masyarakat sekitar tidak menyadari keberadaan pabrik shabu/ekstasi tersebut. seperti Nigeria atau Malasyia (Kompas Online. Tangerang. dengan cara menggunakan rekening pacarnya untuk menampung uang-uang haram hasil penjualan narkoba (Kompas online. Ini terbukti dari terungkapnya jaringan heroin asal Afganistan di Indonesia. banyak pihak yang tergiur untuk bisa masuk ke bisnis ini. Bahkan salah satu pabrik shabu dapat memproduksi 100 kilogram shabu-shabu dengan teknik produksi terbaru yang meenggunakan bahan-bahan yang lebih membahayakan bagi manusia (Kompas Online. jumlah kumulatif kasus AIDS ada sebanyak 11. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi Risiko penularan berbagai penyakit. 22/11/2008). pabrik ekstasi/shabu yang diungkap kasusnya dibangun di daerah pinggir kota (Bogor. Perumahan Taman Ratu. ini merupakan kasus heroin terbesar sepanjang 2008.3 miliar (Kompas Online. Dengan cara penularan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pabrikan narkoba telah berada dilingkungan perumahan. Menurut laporan triwulan kasus HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan (per April 2008). Total nilai perdagangan narkoba diperkirakan sebesar Rp.42 milyar (Kompas Online. Demikian juga pabrik ekstasi yang berhasil digerebek di salah satu apartemen dengan nilai sekitar Rp. Sebuah omzet perdagangan yang luar biasa besar bagi sebuah produk. Pabrik shabu dan ekstasi ternyata sudah berada di lingkungan perumahan.4.Halaman | 31 7. termasuk dari jaringan internasional. Bahkan kelompok jaringan ini telah mendistribusikan sebanyak 30 kilogram heroin dalam 5 bulan terakhir dengan nilai sekitar Rp. Padahal sebelumnya. Jakarta Pusat (Kompas Online. 28/10/2008). ganja (15%) dan ekstasi (13%) di tahun 2008. 22/11/2008). putau (15%). dan Serang). Jakarta Barat (Kompas. Tidak heran.3. dan di daerah Pasar Baru.

P4).5. Pecandu suntik yang masih aktif hubungan seks setahun terakhir ada 76%. Kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit. Pecandu suntik berisiko tertular berbagai pernyakit. Heteroseksual (43%). Beban ekonomi pecandu suntik jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. Ironisnya. Dengan infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (6367).3.08. 37% Hepatitis-C. diperkirakan sekitar 33% HIV/AIDS.1. masih harus membeli konsumsi narkoba. Jadi daripada gua beli baju.Itu sehari pemakaian putau gua aja belum cimengnya. Kedua. Pertama. sehingga tambahan harus menanggung beban keluarga menjadi semakin berat.dari cewe gua kibulin. dan 34% TB.kalau tidak barang gua ambilin uang sekolah gua pake juga” (PN-5.4. terutama laki-laki. Kecuali beban biaya sakit. Ada sebanyak 14% yang melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. Dari diagnosis keluhan. termasuk HIV&AIDS di kalangan pecandu suntik lebih besar dibanding kelompok penyalahguna narkoba lainnya.02. Beban biaya ekonomi pecandu suntik lebih berat. Jadi satu hari itu hampir 150rb kali satu bulan (30 hari) jadi sekitar satu koma limaan. Ketiga. dimana hanya 9% yang selalu pakai kondom. Hasil survei menunjukkan 72% pecandu suntik pernah bertukar jarum suntik atau pakai jarum bekas orang lain. 7. ada sekitar 76% yang mengaku mengalami keluhan kesehatannya. beli pelembab apa hand body gua gak mau! Mending nyimpen bahan (putaw)” (PN-1.P9). gua pakau itu sehari 7-8x. itupun bila pasien tersebut memiliki kartu jamkesmas atau kartu miskin.jadi dapat uangnya entah dari mana aja. diare kronis (3834). untuk menutup biaya-biaya tersebut kemungkinan besar melakukan tindak kriminalitas. Bahkan sekitar 3 dari 4 responden mengaku punya keluhan masalah kesehatan. penggunaan jarum suntik & semprit bekas dan perilaku hubungan seks berisiko. sekitar 1 dari 4 pecandu suntik telah berkeluarga. Dengan demikian. jadi gua mikir mending ada bahan gitu. dan dermatitis generalisata (1008). dan homoseksual (4%). akan menanggung beban biaya akibat sakit. “Semua penghasilan untuk beli barang (istilah untuk putaw). Karena gua udah gak pernah beli baju.teman-teman gua speak-speakin. tahun 2008 .itu gaji kaya orang kerjaan. membantu berbagai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. beli bedak. yang bertujuan menemui pengguna ’dimana mereka berada’. kecuali bila bersedia berhenti. seperti hepatitis. mereka ini sebagai agen percepatan penularan berbagai penyakit ke orang lain bila tidak dilakukan penanganan secara tepat. Untuk pemakaian putau gua sehari itu gua beli masih ada paketannya 20(rb). “kelas tiga SMIP gua udah selesai karena barang-barang rumah udah habis gua jualin semua dikamar gua tinggal kasur aja. dan HIV/AIDS melalui dua jalur yaitu.Halaman | 32 terbanyak melalui penyalahguna narkoba suntik atau injecting drug users/IDU (49%). Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex Pengurangan bahaya (harm reduction) adalah sekumpulan rencana praktis. TB. kandidiasis orofaringeal (3769).1.

tetapi di tahan dulu di mulut/kerongkongan. Meskipun bagi sebagian penyalahguna putaw mengaku bahwa reaksi metadon dan subutex tidak senikmat putaw. Bagi para pecandu putaw di beberapa kota sudah banyak yang mengakses metadon dan subutex sebagai substitusi dari ketergantungan terhadap putaw. Faktanya. Program pengurangan bahaya yang efektif bagi pecandu suntik agar berhasil harus mencakup kegiatan berikut: program pendidikan. April 2001 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ada kesalahan prosedur implementasi program. Kondisi semakin runyam karena tidak ada pengawasan dari instansi terkait. 2001)3 . paling tidak masih bisa mengurangi rasa sakaw 3 Sucahya P. baik dari sisi jumlah maupun dosisnya. bukan upaya pengurangan risiko. Dilapangan program ini lebih mengedepankan aspek bisnisnya. penjualan alat suntik di toko-toko. dkk. serta pelaksana program yang menutup mata dan tidak peduli dalam implementasinya. Ada uang maka ada barang. Yogyakarta: PSKK UGM & Ford Foundation. Program lainnya. pengobatan kecanduan. Sayangnya untuk dua program terakhir. Hasil survey menunjukkan sebanyak 42% pecandu suntik memakai subutex dengan cara disuntikkan setahun terakhir. ternyata kedua zat tersebut disuntikkan. dan program pemutih. selanjutnya membeli langsung ke perawatnya. Ada yang hanya pakai kartu pendaftaran. Disinilah para penyalahguna memanfaatkan celah tersebut. Trik yang dilakukan pengguna untuk mengelabui petugas untuk layanan methadon adalah tidak langsung meminumnya. segera keluar ruangan untuk menampung methadon tersebut di wadah. Jenis zat yang disuntikan subutek nomor 2 terbesar. Bahkan subutex adalah jenis zat ke-2 setelah putau yang disuntikkan ke dalam tubuh. tahun 2008 . Sari K.K. penjangkauan masyarakat. Kartu pendaftaran tersebut disewakan kepada penyalahguna lain atau mereka patungan membelinya atas nama pemilik kartu. Pembenahan prosedur perlu dilakukan khususnya layanan subutex. Siagian F... lalu resep tersebut ditebus di kliniknya. tetapi tidak bisa berbuat banyak. Prosedurnya subutex harus diberikan oleh dokter dengan dipantaui secara ketat untuk pemberian dosisnya. banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program di lapangan. Sistem ini yang membuat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) marah. Cara pakai metadon seharusnya diminum dihadapan petugas. Pertama. program pertukaran jarum suntik. Penyimpangannya yang terlihat adalah cara pakai dan prosedur mendapatkan kedua zat tersebut. Tidak ada batasan berapa banyak jumlah yang dibeli. terutama untuk layanan subutex. Ada dokter yang hanya memberikan resep untuk beberapa hari. karena tidak ada yang bertanggungjawab siapa sebenarnya yang seharusnya melakukan pengawasan melekat tersebut terutama program subutex.Halaman | 33 bahaya/kerugian terkait dengan penggunaan narkoba (Sucahya. jadi konsultasi hanya 1 kali. sedangkan subutex seharusnya di taruh dibawah lidah. subutex diberikan oleh dokter yang telah memiliki lisensi untuk beberapa dokter saja di satu kota. disetiap kota berbeda-beda. selanjutnya disuntikkan. yaitu methadon dan subutex. Lalu. P. Prosedur mendapatkan kedua zat tersebut sebenarnya telah ada protokolnya tetapi seringkali para pecandu suntik jauh lebih cerdik daripada petugas. methadone dan subutex. Memahami Kebutuhan Aktor dan Pengguna Narkotika Suntik.

Halaman | 34 terhadap putaw. Kondisi peredaran putaw sekarang sama dulu sudah beda. harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan urusan di penjara. mengolah atau menyediakan narkotika golongan satu bisa dihukum mati atau dengan pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam UU No.08.2. Aparat penegak hukum mem-backing para bandar. Keadaan ini membuka peluang bagi oknum aparat penegak hukum untuk menyelewengkan tugas dan jabatan dengan melakukan kolusi dengan tersangka kasus narkoba. tahun 2008 . tidak sedikit oknum penegak hukum khususnya anggota polisi/TNI terlibat sebagai backing dan penyalahguna. Satu hal yang mudah dilihat adalah setiap akan ada razia di beberapa diskotik. subutex ini dibeli dari seorang dokter di Jakarta” (PN-1. Sebagian besar keterlibatan mereka adalah sebagai backing di beberapa tempat hiburan seperti di diskotik. Demikian halnya dengan penyalahguna yang pernah dipenjara dalam setahun terakhir (3%). tidak jarang seorang tersangka lebih memilih melakukan kolusi dengan penegak hukum untuk bisa terlepas dari jeratan hukum. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Sangsi hukum tentang penyalahgunaan narkoba dan psikotropika di Indonesia cukup berat. Fakta ini suatu hal yang memprihatinkan bagi aparat penegak hukum. Pembenahan aparat penegak hukum Ditengah upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulan narkoba. Sekarang kalau mau dapat cukup banyak beli putaw yang 75 ribuan. 7. Penyalahguna narkoba yang membayar para aparat penegak hukum. biasanya pengelola tempat hiburan ataupun bandar yang ada sudah diberi informasi terlebih dahulu sehingga pada waktu razia cenderung tidak diketemukan peredaran narkoba di tempat tersebut. Posisi tawar (bergaining position) seorang aparat penegak hukum sangat kuat untuk menentukan berapa besar uang yang harus dibayar oleh seorang tersangka agar terbebas dari jeratan hukum.6. Dengan kenyataan hukum yang sedemikian berat. Saat ini banyak beredar subutex yang dijual ilegal.P1). Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit aparat kepolisian/TNI yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba. 22 tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. tapi inilah realita yang sering diketemukan di lapangan. Hasil survei menunjukkan sebanyak 6% penyalahguna pernah tertangkap polisi dan lebih dari separuhnya (67%) mengaku mengeluarkan sejumlah uang kepada polisi supaya terbebas dari kasus yang menjeratnya. Alasan lain adalah pemakaian metadon dan subutex lebih aman karena legal dan harganya juga jauh lebih murah. yaitu bagi seseorang yang memproduksi. tidak jarang terjadi kasus kolusi dan nepotisme dalam penanganan kasus oleh oknum penegak hukum. putaw sekarang gak terlalu rame. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. “Putaw dulu masih ada yang harga 25 ribuan sekarang cari yang 50 aja uda susah.2. Selain terlibat dalam penyelewengan wewenang dalam penanganan kasus narkoba.

saat ini informan telah menjadi target tembak mati..3.target tembak mati. kalau saya kira.3. Menurut beberapa bandar yang banyak ditangkap oleh polisi adalah para pembeli/ penyalahguna. “. alasan oknum tersebut terlibat bisnis narkoba karena gaji bulanan yang diterimanya masih belum mencukupi. Bahkan menurut informasi dari seorang polisi. Salah seorang bandar menyatakan meskipun selama ini sudah membayar/memberikan setoran pada polisi. pada waktu tertentu saja akan meminta setoran. Biasanya kalau mau ditangkap. maka oknum polisi tersebut akan memberikan informasi dan menyarankan kepada bandar mencari kambing hitam sebagai ganti obyek penangkapan. ternyata separuh dari modalnya berasal dari oknum tersebut... Peran oknum tersebut hanya di belakang layar. Meskipun demikian oknum polisi tersebut selalu memantu situasi dan kondisi.bakal terjadi ni. ditemukan ada oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan informan (bandar)..3.. yang ngebeking dia bisa kuat. Dilapangan.15.P7).2.. semua strategi peredaran narkoba dikendalikan oleh bandar.. sebentar lagi ada yang mau grebek. Menurut Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. sudah dicalling duluan.. dengan wilayah peredaran di salah satu terminal induk di kota tersebut. bukan sebagai bandar. Bila akan ada operasi penangkapan terhadap bandar. misal ada pengrebekan. mereka masih ngancam aku.. Untuk membuktikan seorang oknum sebagai backing atau bandar sangat sulit. Para bandar cenderung lebih aman karena mereka memberikan uang setoran secara rutin dalam jumlah cukup besar kepada beberapa oknum polisi. Dengan adanya kerjasama dengan oknum polisi sebenarnya posisi bandar lebih aman dibandingkan tidak ada backing. mereka kasih informasi ke aku kalau aku harus hati-hati karena sudah di incar polisi. .” (BD-8. Bandarnya tetap jalan. polisinya yang menyarankan mencari kambing hitam.. padahal modal juga mungkin bisa fifty-ffty karena sekarang sistimnya kalau tidak di backing enggak akan jalan bandar itu karena bisa ditangkap.dia tak semata-mata hanya backing.jujur aja. yang mempunyai pengalaman bisnis narkoba dengan oknum polisi. (BD-6. Oknum polisi yang ditangkap kasus narkoba berdasarkan hasil tes urinenya positif. tanpa ada barang bukti yang ditemukan. Jenis narkoba yang diedarkan shabu dan ekstasi.. Menurut informan. tidak ada polisi yang menjadi bandar. Namun. tetapi tetap saja masih menjadi target operasi.P7). oknum polisi tersebut juga menjadi pensuplai narkoba ke dalam lapas yang bekerja sama dengan seorang petugas lapas. Menurut informan.jadi kadang-kadang. “.11. Menurut informan kepolisian sebagian besar oknum yang terlibat adalah sebagai pemakai. kadang aku kesal karena banyak polisi yang udah aku bayar. setengah jam dari itu sudah kosong” (BD-4. tapi untuk backing itu ada.. terjadi pemutaran disitu yang dinamakan pemutaran Bandar..05. Selain mengedarkan di sekitar terminal..cuma karena waktu itu mungkin mukzizat Tuhan ya..aku itu mbak sudah target tembak dada.Halaman | 35 “kalau diskotik itu pasti ada backing-nya. ada sih.3... diakui oleh informasi dari pihak kepolisian bahwa ada oknum penegak hukum yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. tidak semua bandar merasa nyaman mempunyai backing oknum polisi.. tahun 2008 ...2.P7).. Pernyataan bandar tersebut.

Kita kan semua kasus harus ada bukti dan saksi. seringkali terjadi fitnah terhadap aparat penegak hukum dikatakan terlibat sebagai backing atau bandar tetapi sulit untuk dibuktikan. Kondisi ini menyebabkan harga narkoba menjadi jauh lebih mahal.P11). Bagi oknum penegak hukum yang terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba akan ditindak tegas oleh masing-masing pimpinan. Kita nangkap orang ga ada bukti. gak main-main pimpinan kita. Penanganan kasus akan diserahkan ke atasan masing-masing.P11). Menurut beberapa informan bandar tidak sedikit oknum penegak hukum terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. Sekarang agak susah ada tenggang waktunya antara minta barang dengan datangnya barang. Propam Mabes Polri telah mencatat dan menindak 49 anggotanya yang terlibat Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Berbeda dengan era tahun sebelum tahun 1997. dimana para bandar dapat mengidentifikasi banyak oknum yang terlibat. susah banget. cukup telepon lalu barang langsung dikirim. Jumlah tangkapan kasus narkoba oleh aparat kepolisian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Beberapa tahun lalu. Peredaran narkoba dalam 5 tahun terakhir ini lebih sulit dibanding beberapa tahun sebelumnya. Diantara para informan ada yang mengaku pernah mengambil barang/narkoba di Polda. “Jelas ada banget mas. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi para bandar untuk mengedarkan narkoba. tapi belum punya bukti ya susah juga kita buktikan.3. tetapi sekarang selalu ada jeda waktu. kita geledah rumahnya sesuai informasi itu pak ya. ga suka sama orang kan bisa saja. Ini menunjukkan meningkatnya kinerja kepolisian dalam melakukan razia. Bahkan. “Kalau terbukti.14. yang kedua mereka takut sekali ketemu sama polisi dan polisi itu langsung menangkap langsung diringkus” (BD-5.Halaman | 36 informan dari kepolisian.5. ya susah.14. Kalau dia gak ada bukti ya susah pak. “Lebih sulit Pertama itu barangnya yang dibutuhkan itu saling menyembunyikan untuk menaikkan harga. Bagi oknum yang sering terlibat kasus atau kasusnya berat akan dilakukan pemecatan secara tidak hormat. tes urin. Walaupun ada informasi dia di backingan sama anggota polisi si A. tes urin nya. Ga segampang dulu” (BD5. kalo dulu mudah untuk transaksi. ya kita periksa juga dia. Namun. Fitnah bisa saja pak. beberapa tahun terakhir oknum yang terlibat semakin berkurang. hal ini dapat terjadi karena adanya program intensif dari BNN dan kepolisian dalam melakukan razia narkoba di beberapa tempat. dari Kapolri sampai Kapolda kebijaksanaan gak main-main. Sampai akhir November 2008. kita kan harus tes dulu dong. Telah ada upaya penegakan hukum secara serius. Di geledah dirumah atau di badan” (Pol6. kalo butuh barang tinggal bilang sama yang diatas barang langsung dikirim. tahun 2008 .5. Dahulu tindakan aparat kepolisian lebih longgar dan tidak seketat tahun sekarang. Menurut para bandar. Kalau narkoba terutama buktinya pak.P9). demikian juga anggota TNI akan diproses oleh POM sesuai matra. meskipun sudah banyak informasi. penentuan tempat dan cara transaksi sekarang perlu sangat hati-hati. ya negatif. Penjatuhan sangsi hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan di lapangan. Kalau dia jadi backing. bahkan ada juga oknum dari Polda yang mengirim secara langsung barang tersebut kepada bandar. Apalagi jaman-jaman waktu kapolri yang sekarang baru dilantik (Sutanto).2.3.11.3.

tentu Negara ini akan memikul beban kerugian yang semakin besar. Untuk bisa diimplementasikan. Jumlah ini terbilang sangat banyak bila dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 21 orang (Kompas. maka perlu dukungan modul pengajaran. minimal besaran kerugian seperti angka perhitungan proyeksi. guru. biaya kerusakan fasilitas umum akibat penyalahguna. 1/12/2008). termasuk tidak menggunakan narkoba. edukasi. tahun 2008 . Kesimpulan & Rekomendasi Temuan studi ini menyimpulkan adanya kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. 2) Assertivenes. 3) Decision Making. kemampuan pelajar/mahasiswa untuk bisa mempunyai ketahanan diri yang kuat sehingga bisa mengatakan ”tidak untuk narkoba”. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dan informasi (KIE) yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran wajib bagi pelajar/mahasiswa atau melalui ekstrakulikuler. dan sebagainya tidak dihitung dalam studi ini. 8. orang tua dan kelompok masyarakat lainnya. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. bahkan kematian.Halaman | 37 narkoba. yaitu 1) communication. biaya pendidikan. Kerugian biaya yang terjadi dalam perhitungan studi ini sebenarnya jauh lebih besar karena adanya keterbatasan metodologi dan ketersediaan data. Upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba akan semakin tersendat. Atas dasar itu. maka rekomendasi yang disampaikan adalah: Strategi Pencegahan • Strategi ini di fokuskan pada kelompok pelajar/mahasiswa. kecelakaan. seperti tindakan kriminalitas. Apalagi sasaran utama peredaran narkoba adalah generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. kemampuan komunikasi pelajar/mahasiswa bisa berbicara tentang narkoba dengan kelompok sebaya. BNN dan instansi terkait perlu menyiapkan modul ini yang menekankan pada 3 aspek. Pelajar/mahasiswa menjadi target sasaran peredaran narkoba. mengingat aparat penegak hukum yang seharusnya berada pada garda terdepan ternyata banyak oknum yang bermain. namun fakta lapangan menunjukan masih terjadi penyimpangan. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. Walaupun saat ini telah ada tindakan nyata dilapangan. misalkan komponen biaya membesarkan anak. dan mereka yang telah menjadi pecandu mengakibatkan adanya konsekuensi akibat narkoba yang besar. Upaya yang dapat dilakukan pihak BNN melakukan kerja sama dengan Departemen Pendidikan (Diknas) dan Departemen Agama (Depag) di dalam memberikan komunikasi. kemampuan pelajar/mahasiswa bisa membuat keputusan yang benar terkait dengan halhal positif di dalam hidupnya. mengingat kelompok ini menjadi sasaran utama para bandar/pengedar untuk mencari penyalahguna baru (coba pakai). Materi bersifat interaktif dengan penekanan pada life skill education (LSE). kejadian sakit. dan upaya menekan dampak buruk narkoba tidak akan berhasil.

Bila tidak ditangani segera dikawatirkan. Misalkan. Strategi Mengurangi Permintaan • Dampak dari para pecandu suntik sangat besar. Pengawasan internal melalui mekanisme yang telah ada selama ini. Beberapa fakta menunjukan adanya peran bandar dalam mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Untuk itu. dan dapat menjadi percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. Upaya Komunikasi. termasuk adanya dukungan dana. Depkes. Subutex diperkirakan akan naik daun dalam beberapa tahun ke depan. tahun 2008 . • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Aparat penegak hukum • Melakukan pengawasan yang lebih melekat. serta penyakit lainnya. BNN diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam mengkaji ulang program tersebut bersamasama pihak KPAN dan Depkes. Perlu program dan intervensi yang lebih serius pada kelompok ini. sedangkan pengawasan eksternal adalah pengaduan dari pihak masyarakat melalui kotak pos/pengaduan khusus. baik yang sifatnya internal maupun eksternal. menjalin kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan program bersama dengan KPAN. Nampaknya program ini perlu dikaji dan ditata ulang terkait implementasi dilapangan terjadi penyelewengan prosedur. Kinerja yang baik sangat ditentukan dari program dan aktivitas yang dilaksanakan oleh institusi tersebut. seperti yang telah dilaksanakan selama ini melalui berbagai media yang ada. Jika diperlukan didirikan semacam posko anti narkoba di setiap universitas. pihak BNN harus melakukan koordinasi dengan pihak universitas melalui rektorat maupun senat mahasiswa. BNN perlu mengembangkan program-program ke arah akar rumput (grass root) yang bersetuhan secara langsung dengan para IDU. dan diisi dengan program dan aktivitas yang dikembangkan secara bersama-sama antara pihak institusi terkait. Edukasi. BNN dan Kepolisian perlu melakukan advokasi kepada pemerintah terkait hal ini. • Strategi Supply reduction • Peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia semakin marak. termasuk pembagian peran dan tanggungjawab institusi. dan LSM. Ide awal program ini sebagai substitusi para penyalahguna pecandu suntik heroin ke subutex agar pecandu tidak menyuntik lagi. mereka yang bukan pecandu suntik akan banyak yang mengkonsumsi subutex dan kecenderungan ke arah sudah ada dilapangan. dilihat dari besarnya kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian & BNN.Halaman | 38 • • Dalam upaya untuk memproteksi kampus menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Polisi & BNN perlu melakukan inspeksi mendadak dan membongkar jaringan narkoba di penjara. Informasi (KIE) secara lebih luas harus tetap dilanjutkan.

Halaman | 39 • Membuat tim khusus yang mengawal dan menjaga setiap kasus narkoba yang telah berhasil diungkap mulai dari tahap penangkapan sampai diputuskan vonisnya ke dalam penjara. tahun 2008 . Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. termasuk melakukan sistem monitoring selama terpidana di penjara.

Depok: Puslitkes UI. Depok: Puslitkes UI. M. Ramos.. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba. Sociological Focus.. M. J. 3 BNN & Puslitkes UI. & Lapsley. R. and Huong. D. Semaan S. Anthony. R.W. C. Home Office Online Report 16/06 Heckathorn DD. Bangladesh. Azim. Khan. R. 15. D. Harnessing peer networks as an instrument for AIDS prevention: Results from a peer-driven intervention. Stuid Baiaya Ekonomi dan Sosial Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2004..T. Gallagher. Extensions of respondent-driven sampling:a new approach to the study of injection drug users aged 18–25.. Madray. et al. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2005.S.49:11–34.6(1):55–67. BNN & Puslitkes UI. and Des Jarlais.A. L.. 2004.. and Lapsley. L.. http://www. Public Health Reports.D.M. 473–495. 159–179. Extensions of Respondent-Driven Sampling: Analyzing Continous Variables and Controlling for Differential Recruitment. Heckathorn. S. 2004. Vol.Halaman | 40 DAFTAR PUSTAKA: Abdul-Quader. A. No. D. Collins And Lapsley (2004) Economic Costs Of Alcohol And Other Drugs In The Workplace. S.J. Depok: Puslitkes UI. Shah Alam... R. The Effectiveness of Respondent Driven Sampling for Recruiting Males Who have Sex with Males in Dhaka.J. BNN & Puslitkes UI.. http://www. K.. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. 2002. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. Lozada. S. Alcohol & Illicit Drug Abuse to Australian Society 2004/2005 Collins. AIDS Behav. R. Respondent driven sampling.. S.J.org Heckathorn. Deriving population estimates from Chain-referral samples of hidden populations. M.J. D. S. H. K. K. Reza.E.Vol. Bramson. C... & Lapsley. Heckathorn. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan. D. L. Respondent-Driven Sampling ofInjection Drug Users in Two U. 32. 42–57. 2006 DSM IV-TR... Frost. Hughes JJ.2. Section 3: Translating Research Into Practice Collins.. H. and Lapsley. 2005. Rahman. Sabin. Broadhead. Estimating the economic costs of drug abuse.D. R. Heckathorn DD. Weakliem. S.. C.. D.. D.D. The economic and social costs of Class A drug use in England and Wales 2003/2004. D. D. D. Ramos. 2006..aspx?resourceID=1 Eisner..S. D. H. 2004.S. AIDS and social networks: Prevention through network mobilization. D. (1999).M.I.. D. Respondent-Driven Sampling: A New Approach to the Study of Hidden Populations.. 5.. 19 no. Parott. Estimating the economic costs of drug abuse. Collins. Pleasure of Response Foreshadow Young Adult Outcomes in NIDA Research Findings vol. S. McKnight. 7 Gordon. Godfrey. Mills. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.M.. 83. (1994). Tinsley. Joewana. Social Probl. S. D.G. Khanam. C. Hien. 2007. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.D. (1998). Assessment of Respondent Driven Sampling for Recruiting Female Sex Workers in Two Vietnamese Cities: Reaching the Unseen Sex Worker Journal of Urban Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. D. 83.T. H. (1991). Heckathorn. Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2005/2006.A. and Heckathorn.M..C..2002. Effectiveness of Respondent-Driven Sampling for Recruiting Drug Users in New York City: Findings from a Pilot Study. P. 41. Soc Probl. The Costs of Tobacco. Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders. Social Problems. No.com/resourceTOC. Nemeth.M. II.M. Vol. The costs of tobacco. 2005. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia Tahun 2006. R. 2006. L.M.1). AIDS prevention outreach among injection drug users: Agency problems and new approaches. Firestone Cruz. L. tahun 2008 . Ed. Depkdiknas. K. Marijuana Abuse: Age of Initiation. L. AIDS Behav (2008) 12:294–304 Johnston. Broadhead RS.–Mexico Border Cities: Recruitment Dynamics and Impact on Estimates of HIV and Syphilis Prevalence.R. Brouwer. Broadhead. Jakarta: EGC Johnston.. 1997. 15.. Broadhead. Anthony.. alcohol and illicit drug abuse to Australian society in 2004/2005 Collins.T.2. H. 2004.G.C. L.. H. D.D. (1991). Magis-Rodriguez. Banu..psychiatryonline. Sabin.respondentdrivensampling. L. 44 No.D. fourth edition text revision. and Strathdee. and Weakliem.. Heckathorn. 113(Suppl.

M. Rockville. DC: Executive Office of the President (Publication No. Sampling and estimation in hidden populations using respondent-driven sampling. Social costs of drug use in France. KK Bucholz (2006).T.. Medicaid Coverage For Tobacco-Dependence Treatments. D.. R. 2002. 1991. 27-35. NIDA Research Monograph 110. Sociol Methodol.. AIDS and Behavior.. pp. R.id – Data rekap nasional. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. NIDA. DHHS. & Anthony. 1992-2002.. NIDA. http://www. www. Drug Alcohol Depend. Fischer.unodc.. The Cost of Substance Abuse in Canada 2002 Ritter. Heckathorn. Research Monograph Series 2.pdf www..2004.. Brochu. 2008. R. Results from the 2007 National Survey on Drug Use and Health: National Findings (Office of Applied Studies. Rockville. J. W. Baliunas. International Guidelines for Estimating the Costs of Substance Abuse—2001 Edition Substance Abuse and Mental Health Administration. In S.. http://www. 7 Kandel. D. Carlson RG.. http://www.1995. Easton.. J. 9. Rockville. The Economic Costs of Drug Abuse in the United States.C.gov/publications/predict_drug_use/intro. Youth Characteristics Describing and Predicting Heavy Drug Use by Adults. Health Affairs. 189-210. Taylor. 4.D.org/pdf/gap/trs-6. World drug report 2007. 17-24. Sarnocinska-Hart.whitehousedrugpolicy. N. B. Collins. P. D. 207303).Halaman | 41 Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. JD Grant. MD: National Institute on Drug Abuse Office of National Drug Control Policy. C. S. Diaz. Lapsley. 1997.unodc. 20(1). NSDUH Series H-34.. The Measurement of "Ever Use" and "Frequency-Quantity" (in Drug Use Surveys). JF Scherrer. Office of National Drug Control Policy. tahun 2008 . P.datastatistik-indonesia. Popova.ppt-2007-06-05 World Drug Report 2008. MT Lynskey.34:193–239. J. L. Appendix A. Washington. B. & Single. 2006.. RD Todd. MD: National Institute on Drug Abuse Kopp.gov Predicting Heavy Drug Use: Results of a Longitudinal Study. Vol. DHHS Publication ADM 91-1787. S. 2005. E. 2004.). Li L. From Networks to Populations: The Development and Application of Respondent-Driven Sampling Among IDUs and Latino Gay Men.whitehousedrugpolicy. Schauffler. No. The An Epidemiology of cocaine use and abuse pp..whitehousedrugpolicy. E. Addictive Behaviour 31 (2006): 948-961 Wang J. National and State Estimates of the Drug Abuse Treatment Gap: 2000 National Household Survey on Drug Abuse. A. B. Kopp. J. E. Siegal HA Rahman A. No.gov/publications/pdf/american_users_spend_2002. Schober & C. 83. and Campbell.. Shade (Eds.org Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. “Psyciatrich comorbidity and progression in drug use in adult Male twins: implications for the design of genetic association studies”. 2001. Falck RS. pp. December 2005 Rehm.go. H. Todorov. MD: National Institute on Drug Abuse Robson. Harwood. Denise. Office of National Drug Control Policy. DHHS Publication No. Heckathorn DD. Rockville. Research Monograph Series 2. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. Meyer Roger E Different Patterns of Drug Use. & Blanchard.. dan Wilson. AA. Et All (2001). United Nations on Drugs and Crime. MD.. Published February 2004. H. Respondent-driven sampling to recruit MDMA users: a methodological assessment. V´azquez. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. Patra.nisn. Factors influencing initiation of cocaine use among adults : Findings from the epidemiologic Caatchment Area Program. Vol. Gnam. A report of the Canadian Centre on Substance Abuse Salganik MJ. Published December 2001.diknas. Literatur review on the economic costs of substance abuse. 78:147–157 What America's Users Spend on Illegal Drugs1988–2000.com www.pdf Ramirez-Valles. Single. SMA 08-4343). www.

Halaman | 42 LAMPIRAN Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .

709 3.547 8.317 3.944 7.6 2.6 1.417 10.6 1.Halaman | 43 Tabel Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tabel E1.817 938.316 6.4 1.471 15.3 1.494 1.149 9.785 41. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total coba pakai minimal maksimal 77.694 652.890 2.233 465.088 9.323 9.418 27.879 41.295 11.872 30.197 10.567 11.743 26.234 3.7 1.429 1.551 4.310 71.986 4.581 253.228 186.1 1.256 1.4 2.599 46.732 6.682 3.506 27.953 18.879 48.070 3.563 10.905 9.157 9.229 7.601 12.891 135.296 50.259 39.629 9.252 61.7 1.335 113.856 20.528 1.814 959.493 143.096 32.605 5.657 260.970 4.264 5.390 3.752 18.163 14.933 5.422 19.480 498.649 35.155 13.334 4.364 14.412 87.305 571.818 6.132 3.658 5.816 23.771 26.166 pecandu minimal maksimal 124.116 3.561 107.2 1.432 5.151 138.624 41.552 214.879 1.819 % thd pop 3.910 13.302 7.798 31.072 14.178 8.808 129.544 20.302 64.818 5.363 19.744 20.155 167.711 7.029 146.071 7.749 9.603 1.381 15.612 Pecandu suntik* minimal maksimal 30.806 7.129 8.560 6.399 9.6 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.869 10.232 37.768 2.303 23.476. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.252 7.211 34.262 53.462 49.183 3.101 2.6 1.715 27.964 4.487 6.280 12.999 3.613 722 917 993 1.075 22.538 26.3 1.761 2.093 11.383 12.878 8.987 124.576 7.463 20.312 24.626 6.188 865 981 1.2 1.539 570.250 5.740 8.3 1.113 396.108 3.6 1.715 115.582 20.392 752 912 3.713.886 19.079 36.754 112.127 7.984 19.3 1.857 10.258 4.984 11.762 Total lahgun minimal maksimal 278.964 3.174 11.649 16.365 122.247 4.197 2.801 3.152 1.636 2.209 43.908 26.051 11.150 21.413 1.164 27.449 294.577 54.383 13.402 158.202 13.833 14.502 11.473 16.931 17.119 55.267 12.135 4.6 1.506 12.707 99.724 700 885 344 401 218.090 22.059 9.057 83.418 6.237 36.182 2.394 23.464 227.224 42.655 1.735 23.075 7.439 69.738 42.673 57.526 12.261 4.042 1.689 40.007 3.412 10.024 172.501 22.996 44.821 28.270 29.4 1.893 3.573 11.573 8.6 1.376 807.093 2.618 83.788 76.654 25.798 11.6 1.563 26.374 1.8 1.329 12.629 9.5 1.888 52.395 30.094 81.732 9.512 8.592 11.811 2.863 14.070 23.461 10.171 13.6 1.645 35.364 7.217 47.041 teratur minimal maksimal 76.572 4.089 12.469 2.0 1.384 31.898 21.726 15.071 3.488 3.935 14.731 31.3 1.398 11.626 29.456 14.762 47.434 21.514 36.168 204.610.665 13.115 16.500 11.830 9.576 4.2 1.510 3.4 1.371 5.573 14.211 9.465 43.550 7.584 26.776 2.624 5.137 3.953 10.081 13.854 35.385 14.594 131.1 1.152 27.894 94.439 50.747 7.401 16.999 26.114 142.6 1.380 17.023 12.410 21.7 1.276 2.122 22.840 29.763 96.2 1.033 158.6 1.397 31.313 2.167 188.850 2.686 7.749 60.778 16.414 51.230 1. Angka Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia.038 268.671 12.821 42.114.675 4.480 73.656 4.765 17.253 26. tahun 2008 .280 123.548 84.578 6.3 1.549 306.203 829.845 41.019 23.780 22.677 26.781 6.495 3.492 78.966 11.785 60.772 49.269 6.065 22.016 9.087 6.902 3.431 1.670 18.264 12.787 4.

2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Angka Persentase Penyalahguna Narkoba menurut kelompok pelajar/mahasiswa & bukan pelajar/mahasiswa.Halaman | 44 Tabel E.2. tahun 2008 . Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total Pel/mhw 40 40 58 62 42 49 42 48 32 45 34 56 58 35 60 51 46 62 51 42 57 57 59 58 42 63 48 50 54 49 41 53 53 49 Coba pakai Bukan 7 9 9 8 10 10 8 11 10 9 11 8 8 5 5 6 8 12 9 7 14 12 9 10 17 12 8 12 3 12 13 13 10 9 Total 48 49 68 71 52 59 49 59 43 54 45 63 66 40 66 57 54 74 60 49 71 69 68 68 59 76 56 62 57 62 54 65 63 58 Pel/mhw 32 30 23 19 28 18 26 22 30 19 28 17 17 34 18 25 35 12 24 29 16 18 13 18 17 12 17 23 22 24 28 8 13 23 Jenis Penyalahguna Narkoba (dalam %) Teratur Pecandu bukan suntik Bukan Total Pel/mhw Bukan Total 2 35 11 3 13 1 31 16 1 17 1 24 4 1 5 3 22 4 1 5 6 34 11 0 12 4 22 14 1 16 2 27 17 2 19 2 24 13 1 14 2 33 17 1 17 3 22 17 1 17 1 29 7 1 8 1 19 12 1 13 3 20 6 1 8 2 36 10 1 12 5 23 3 1 4 3 28 12 1 13 2 36 5 2 7 1 12 7 2 9 3 27 7 1 8 1 30 10 2 12 5 21 4 1 5 6 23 3 1 4 5 18 6 4 10 4 22 3 2 4 1 18 9 6 15 3 16 3 3 6 7 24 13 3 16 3 26 7 2 10 0 22 10 4 14 3 26 8 3 11 5 34 6 3 9 2 10 19 3 23 5 19 14 2 17 3 26 11 2 12 Total Lahgun Setahun Pecandu suntik Pel/mhw Bukan 3 1 3 0 3 0 2 0 2 0 3 0 4 1 3 0 7 0 6 0 16 1 4 1 6 1 11 1 7 1 2 0 2 0 5 0 5 0 9 1 2 0 3 0 4 0 5 1 6 2 2 0 2 1 2 0 6 0 1 0 3 0 1 1 1 0 3 0 Total 4 3 3 2 3 3 5 3 7 6 17 5 6 12 8 2 3 5 6 10 3 3 4 6 8 3 4 2 6 1 3 2 2 4 Pel/mhw 86 89 87 87 84 84 89 86 86 87 85 90 87 91 88 89 88 85 87 90 79 81 82 84 74 80 81 82 92 81 79 82 82 86 Bukan 14 11 13 13 16 16 11 14 14 13 15 10 13 9 12 11 12 15 13 10 21 19 18 16 26 20 19 18 8 19 21 18 18 14 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

4 12.0 3.7 10.5 17.5 88.9 68.7 58.7 2.2 2.1 5.1 1.6 2.3 Keseluruhan Lahgun 2143 9.9 1.4 56.1 24.1 0.4 2.3 91.8 25.8 25.7 11.5 0.3 2.4 0.7 56.7 2.3 4. TAHUN 2008 ( Hasil Survei di 17 Propinsi) Tabel 1.0 3.2 15.7 0.2 7.3 92.4 21.9 0.3 10.4 80.3 69.5 1.4 0.3 23.7 1.1 0.5 2.7 15.0 1.0 14.7 0.9 24.1 11.4 1.7 34.3 1.2 32.2 4.0 16.8 0.2 2.2 1.3 6.9 85.5 5.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 2.9 23.0 73.8 66.7 2.2 21.8 8.4 11.9 2.0 3.9 1.8 0.1 1.3 27.3 17.4 20.0 79.5 63.3 68.4 6.5 5.0 Total 1733 9.1 10.0 4.9 2.5 12.8 5.7 1.3 18.6 3.0 0.1 0.2 6.9 0.4 33.6 3.5 67.2 5.4 1.9 23.8 70.4 14.6 0.5 7.0 5.7 2.2 1.5 2.7 84.8 0.3 11.3 92.1 0.5 0. tahun 2008 .3 68.8 29.1 17.0 24.1 2.7 3.2 0.5 1.5 10.4 4.5 0.4 25.7 53.5 3.2 0.0 1.8 3.6 74.5 13.3 1.2 3.0 2.6 16.1 0.2 6.1 12. Distribusi persentase responden yang terpilih dalam studi menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur > 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun lebih dari 49 tahun Jenis kelamin Laki Perempuan Pendidikan Rendah (=<SD) Menengah (SMP) Atas (SMA keatas) Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Hidup bersama tanpa nikah Pekerjaan utama Tidak bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai negeri (PNS) Pegawai swasta TNI/ POLRI Wiraswasta/pedagang Buruh tetap Buruh tidak tetap /serabutan Sopir Ojek Lainnya tempat tinggal anda saat ini Rumah sendiri Rumah orang tua Rumah saudara kandung Rumah saudara bukan kandung/kakek/nenek Rumah teman/tetangga Rumah kost/kontrakan Tidak punya tempat tinggal tetap N: Jumlah seluruh responden Teratur 410 8.1 15.4 4.7 27.7 7.3 1.9 20.5 Pecandu Suntik 461 2.2 14.Halaman | 45 TABEL PROBABILITAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA.1 2.5 77.7 20.5 2.2 Bukan Suntik 1272 11.5 24.2 93.4 0.9 57.9 0.6 6.8 0.1 12.4 0.

8 16 16 3 7 40 Suntik 461 10.gele.0 0.8 42.3 8.BK.0 4.5 0.cimeng.lexo/lexotan.7 71.5 3.rohyp Lainnya Teratur 410 2.4 0.7 92.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.7 95.9 18 17 4 8 50 Pecandu Bukan Suntik 1272 5.2 7.5 0.6 94.1 0.0 0.1 0.5 93.1 2.5 7.6 0.2 33.9 33.0 0.0 1.8 0.2 80.0 83.7 16 15 3 9 35 Total 1733 6.2 80.0 17 16 3 7 50 88.7 92.9 95.0 26.1 3.3 0.2 40.2 19.1 4.2 Total 1733 98.5 16.5 93.2 67.6 35.6 0.1 0.1 19.2 59.7 Pecandu Bukan Suntik 1272 98.2 0.0 92.8 95.4 7.4 34.0 0.2 5.1 0.3 11.1 0.8 93.7 0.9 41.9 2.5 91. tahun 2008 .7 0.3 Suntik 461 98.6 2.1 20.1 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Obat penenang/barbiturat (valium.7 7.7 0.3 0.8 41.3 6.3 91.9 0. i.1 5.2 0.0 21.2 94.2 0.4 43.8 2.Halaman | 46 Tabel 2 Perilaku merokok & minum alkohol dikalangan lahgun menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 98.9 0.3 Keseluruhan Lahgun 2143 98.1 73.0 16.0 0.nipam.8 8.9 24.marijuana) Hashish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.0 23.5 0.9 15.8 N Merokok Pernah merokok Setahun pernah merokok Alkohol Pernah minum alcohol Setahun pernah alcohol N: Jumlah seluruh responden 93.4 29.5 0.2 66.7 Tabel 3a Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur pertama pakai narkoba < 13 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun >= 19 tahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Jenis kelamin Laki Perempuan Jenis narkoba pertama kali Ganja (cannabis.2 56.2 80.6 0.5 16 16 3 7 40 Keseluruhan Lahgun 2143 5.2 0.

5 14.6 10.9 47.2 0.0 2.1 2.9 3.Halaman | 47 Tabel 3b Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Jenis narkoba yang pernah pakai Ganja (gele.3 1.6 50.0 33.4 81.0 10.8 20. BK.0 31.-Aibon.0 2.1 53.8 36.6 63.7 7.8 65. i.3 3.2 9.3 0.0 46.2 5.6 65.5 52.5 14.7 10.3 6.6 29.8 0.0 7.9 3.6 49.1 26.1 18.7 38.0 1.4 16.9 33.3 2.3 6.5 3. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.5 4.1 4.6 3.2 61. cimeng.9 51.9 16.4 4. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.8 10.1 71.3 82.5 3. nipam.9 37.5 60. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica. BK.4 Total 1733 92.8 20 21 5 48 184 421 49 7200 720 1181 49 29979 357 624 49 29979 161 508 5 29979 36.4 10.0 11.UHU) Lainnya Frekuensi pakai Mean Median Minimum Maksimum Keluarga tahu anda pakai narkoba Ya Tidak Ada anggota keluarga lain pakai narkoba Ya Tidak Teratur 410 88.8 10.0 Keseluruhan Lahgun 2143 91.9 0.4 2.5 2.6 23.1 3.3 0.7 0.7 65.3 1.3 2.5 1.2 0.0 0.8 17.4 4.7 22.4 0.1 79.5 56.0 69.4 5.8 24.5 21.-Aibon.8 4.9 4.9 21.5 53.1 6.6 8.7 0.1 19.6 5.2 64.9 76.9 42.7 33.5 0. lexo/lexotan.8 5.0 40.1 6.5 37.2 2.9 16.1 5.6 0.6 29. sebutkan Jenis narkoba setahun terakhir pakai Ganja (gele.4 5.2 28.9 4.4 66.7 66.5 2.8 3.6 1.8 0.4 32. tahun 2008 .8 28.5 0.0 35.6 32.9 55.8 49. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.7 0.9 4.8 2.8 11.6 65.3 72.0 0.6 56.4 65.2 30.9 4.3 0. i. nipam.2 0.5 2.3 66.4 9.5 4.9 58.2 66. lexo/lexotan.2 0.2 0.2 37.0 36.6 15.0 Pecandu Bukan Suntik 1272 92.5 0.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 30.4 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.6 0.5 17.1 0.9 7. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.7 14.0 0.8 8.0 27.8 70. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica. cimeng.UHU) Lainnya.2 4. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.5 1.2 48.1 6.1 Suntik 461 93.3 13.5 53.

4 0.0 7.8 8.0 0.7 35.3 8.9 55.2 28.8 348 45.8 0.0 78.9 12.5 10.9 0.4 11.4 9.Halaman | 48 Tabel 4 Pola Konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 22.6 Suntik 461 45.4 32.3 83.4 0.9 3.8 9.6 12.5 78.0 0.5 0. tahun 2008 .9 41.0 9.4 26.5 29.5 1.1 13.4 82.3 Total 1733 16.4 5.1 40.9 12.5 6.4 1.0 4.3 276 12.2 9.8 38. jmr di kotoran Sapi/mushroom Inhalan/dihirup (ngelem.8 18 17 3 74.4 59.9 950 47. XTC).2 64.0 8.0 48.1 190 80.4 11.0 0.6 47.0 49.5 1298 47.6 7.5 2.7 Keseluruhan Lahgun 2143 17.6 0.: Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine): Obat penenang LSD (acid) Kecubung.7 9.gele.4 11.3 0.0 20.0 11.marijuana).2 28.6 10.5 0.5 5.6 0.2 12.3 0.0 33 72.1 0.6 110 79.8 18 17 3 75.2 10.5 10.4 2.1 157 81.7 2.2 54.8 0.5 61. i. bensin) Lainnya Teratur 410 80.9 1.2 Total 1733 86.5 Total 1733 33.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.1 9.4 35.0 1574 47.0 0.4 1574 12.7 18 17 3 74.1 0.0 1.4 36.6 11.0 41.0 0.6 3.1 2.6 0.0 Keseluruhan Lahgun 2143 31.2 0.6 0.8 2.9 26.7 950 11. Hasish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.cimeng.8 40.6 N Pernah pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba Setahun pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba 52.0 Pecandu Bukan Suntik Suntik 1272 461 21.7 47.5 348 13.5 Pecandu Bukan Suntik 1272 29.7 27.3 9.8 47.5 31.4 0.4 1.0 35.6 87.5 Tabel 5 Peredaran narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 19.6 31.1 45.5 18 18 3 67.4 0.9 Suntik 461 91.1 41.2 2.9 Pecandu Bukan Suntik 1272 84.6 11.5 18.6 0.7 98.5 18 17 3 73.6 2.5 2.2 Keseluruhan Lahgun 2143 85.3 276 48.5 47 87.9 1298 12.8 2.7 1.3 43.4 56.1 20.4 35.0 5.2 30.7 3.6 51.6 35.9 1.2 32.5 1.7 0.1 13.3 4.9 29.6 0.6 0.4 47.6 N Pernah menjual narkoba Setahun terakhir masih menjual narkoba Pernah menjadi kurir narkoba Pernah menawarkan narkoba ke orang lain Tabel 6 Perilaku seks dan narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Pernah seks Usia pertama kali hubungan seks Mean Median SD Seks setahun terakhir N Seks setahun terakhir Pernah hubungan seks demi narkoba Seks demi narkoba by jenis kelamin (N) Laki Perempuan Frekuensi pakai kondom setahun terakhir (N) Tidak pernah Kadang-kadang/jarang Selalu Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Jenis narkoba yang mempengaruhi anda ingin hubungan seks Ganja (cannabis.7 0.

4 17.6 68.3 522 365 679 1 10950 528 365 478 1 1825 522 365 667 1 10950 Mean Median SD Minimal Maksimal 24 15 24 1 150 14 10 11 3 30 24 15 24 1 150 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.1 4.3 5.7 74.4 2.9 71.9 10.0 72.1 1.8 5.6 1.0 4.6 736 20 19 5 9 38 Mean Median SD Minimal Maksimal Lama pakai narkoba secara teratur (bulan) Mean Median SD Minimal Maksimal suntik 20 19 5 9 38 65 60 53 1 360 59 42 46 4 132 65 60 53 1 360 Jenis narkoba yang pernah disuntikan ke dalam tubuh Kokain Shabu Ekstasi (inex i XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine).9 31.3 45 19 19 4 12 28 2143 34.6 36.7 81.3 5.1 81.3 1.6 1.2 11.4 44. tahun 2008 .Halaman | 49 Tabel 7 Penyalahgunaan narkoba suntik Laki Perempuan Total N Pernah narkoba suntik Ya Tidak N Umur pertama pakai narkoba suntik 1968 35.0 4.2 6.1 80.7 2.5 62.9 4.8 691 175 25.3 42.1 62.4 8.2 36.1 10. ObatPenenang Lainnya pernah menggunakan jarum suntik bersama/bekas pakai Pernah pakai narkoba suntik setahun terakhir Ya Tidak Frekuensi pakai narkoba suntik Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi pakai jarum baru (bulan) 4.5 57.2 42.3 65.8 3.3 5.1 64.3 18.

5 78.5 23.7 2.0 4.1 34.5 74 43.0 18.5 1.1 4.0 6.2 7.2 26.6 34.6 19.6 8.3 37.9 37.1 83.0 76.7 37.5 45.2 4.0 35.9 11.4 30.3 10.2 23.6 11.3 27.7 4.0 16.7 47.2 1.6 34.1 9.4 5.7 34.0 9.7 35.1 516 44.7 9.1 74 57.5 70.7 8.7 7.0 50.9 16.9 24.7 299 36. tahun 2008 .7 5.8 23.0 14.8 5.9 5.7 46.3 5.9 22.6 15.3 25.9 7.9 12.Halaman | 50 Tabel 8 Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 410 Pecandu Bukan Suntik 1272 Suntik 461 Total 1733 Keseluruhan Lahgun 2143 N Responden yang punya keluhan kesehatan Ya Tidak Jenis keluhan yang disampaikan Rasa Mual Selera makan berkurang Rasa sakit pada ulu hati Rasa perih/nyeri pada saat menelan makanan Warna putih menebal pada bagian mulut/tenggorokan Rasa sesak pada dada Rasa sakit pada saat bernafas Batuk berdahak lebih dari 2 minggu Diare lebih dari 2 minggu Rasa lelah (fatique) berkepanjangan Keluar keringat pada malam hari secara berlebih Demam tinggi lebih dari 2 minggu Kulit dan kuku berwarna kuning (menguning) Peradangan pada kulit (luka yang sulit sembuh) Rasa gatal/panas dan ruam/memerah pada kulit Munculnya bercak berwarna merah/putih/hitam di kulit Penurunan berat badan lebih dari 10 dalam 2 minggu N punya keluhan kesehatan Melakukan pengobatan sendiri Jenis pengobatan sendiri yang dilakukan Obat Tradisional/non medis Obat modern/medis Lainnya Melakukan pengobatan ke orang lain Rawat jalan Rawat inap 65.6 516 36.9 25.4 42.1 29.4 36.2 5.1 2.2 3.7 6.9 68.3 14.4 3.5 373 48.1 3.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6 3.6 6.1 1.6 373 38.7 23.9 17.8 17.6 21.2 32.3 6.9 143 31.5 70.5 13.7 23.9 25.3 70.2 35.2 75.0 9.5 299 44.2 16.6 10.4 9.4 18.5 4.2 6.5 21.3 45.0 18.4 5.5 143 31.3 17.8 46.5 23.5 40.9 45.8 45.4 25.1 26.7 33.5 4.0 62.8 3.0 4.0 72.4 18.1 4.2 17.2 6.

6 5.7 61.0 0.1 5.4 0.7 21.7 1.7 7.8 41.0 N berobat jalan Tempat pengobatan rawat jalan RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.0 55.7 0.2 7.2 11.0 0.3 16.7 1.7 17.1 15.3 3.0 0.0 0.0 13.0 1.0 49.0 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 8.6 7.2 0.0 0.1 15.4 0.8 60.9 1.2 41.1 10.4 0.2 8.4 0.9 3.0 0.5 48.7 0.3 3.0 Keseluruhan Lahgun 505 27.0 0.3 9.6 21.1 12.0 0.9 1.9 4.1 90 11.kerabat): Biaya sendiri (responden) Lainnnya Ada orang lain yang mengantar selama berobat Rawat jalan Rawat inap 15.0 0.4 0.6 47.8 0.0 1.0 14.3 11 5.4 14.2 5.7 5.2 13.1 22.0 3.4 4.9 2.2 0.3 3.0 5.8 3.adik/kakak.1 0.3 60.9 44 5.7 8. tahun 2008 .6 25.2 0.2 14.8 0.8 45.1 1.7 50.0 Pecandu Bukan Suntik 238 17.5 40.0 0.2 15.3 4.7 3.2 0.7 0.0 0.3 15.9 3.1 0.9 11.Halaman | 51 Tabel 8b Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 58 18.5 7.4 2.0 0.1 4.0 31.7 47.0 8.2 6.4 0.0 0.2 48.1 3.4 11.6 1.4 2.0 Suntik 209 41.7 51.3 0.4 134 8.3 60.5 9.0 0.0 59.0 0.9 5.9 145 7.8 1.4 9.6 53.6 2.3 10.0 9.9 3.8 0. Sebutkan N berobat rawat inap Tempat pengobatan rawat inap RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.9 2.1 6.7 1.0 0.0 Total 447 28. Sebutkan Apakah tersedia jaminan pembiayaan kesehatan Askes Astek jamsostek Perusahaan/kantor Asuransi lain/swasta Kartu sehat/SKTM/jamkesmas/Gakin Keluarga (ortu.1 42.4 2.

9 24 dlm setahun 1272 10..0 20. sebutkan .Halaman | 52 Tabel 9 Kasus over dosis dikalangan pelayahguna narkoba Teratur N Pernah overdosis Ya N pernah OD Pernah overdosis terakhir Ya Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.0 2..0 0.0 259 5.0 60.3 52. tahun 2008 .7 5.5 9.1 8.5 52.0 0.0 130 8.0 20.0 0.0 1.0 24 4.1 10.0 129 1.3 0. ada orang lain yang menunggu (n) 2 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1 3 40.0 4.1 28.5 2.2 9.5 0..5 29.2 Frekuensi OD setahun terakhir Mean Median SD Minimal Maksimal Tindakan yang dilakukan ketika OD Tidak melakukan apa-apa Ditolong/ di rawat teman Perawatan medis Perawatan non medis Lainnya.8 11.0 0...2 54.1 129 461 28.9 Ya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 56.0 10.4 55.6 4.2 33.1 0.2 130 1733 14..9 259 2143 13..7 13.5 4.2 8.8 0.0 283 4.6 4. Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Ketika OD di tolong di pelayanan medis.2 283 1.5 18.0 0.4 4.

5 0.4 0.2 0.3 2. .0 .4 0. .9 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.0 4 Suntik 461 16.1 0.5 1. . 8.0 .1 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 0.6 8.2 0. .0 7. . 0.0 2.8 25.2 0.2 2.Halaman | 53 Tabel 10 Detoksifikasi dan rehabilitasi menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 0.5 Ada orang lain yg membantu 22.7 2. .5 2.1 3 N Pernah Detoksifikasi Detok setahun terakhir Pernah Rehabilitasi Rehabilitasi setahun terakhir Pernah Detok-&-Rehab Detok&Rehab setahun terakhir Frekuensi detoks (kali) Mean Median SD Minimal Maksimal . . tahun 2008 . 2 4 1 9 1 1 1 0 3 1 3 1 12 1 1 1 1 7 1 1 0 1 1 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17. . .1 3 Keseluruhan Lahgun 2143 5.0 0.2 3.0 1.2 0. Pecandu Bukan Suntik 1272 2. .9 9.4 Frekuensi rehabilitasi Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi detoks & rehab Mean Median SD Minimal Maksimal .3 0. .6 0.7 7.4 3 Total 1733 6.

9 82.2 64.5 65.5 38.3 27.9 26.3 13. tahun 2008 .9 15.4 68.1 1733 35.5 7.9 40.9 4.7 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 16.1 8. Perilaku tindakan kriminal akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah melakukan tindakan kriminal krn narkoba Ya tidak Setahun tindakan kriminal Proporsi antara tindakan criminal dan keluarga (n) Keluarga/orang tua Orang lain Campuran Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 15.2 26.4 12.7 67.3 7.4 461 61.9 96 67.0 171 63.0 5.1 21. Perilaku pencarian pengobatan sendiri terhadap keluhan akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah pengobatan sendiri Ya Tidak Setahun pengobatan sendiri Frekuensi pengobatan sendiri setahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 16.4 57.9 287 65.7 60.5 14.5 33.4 13.7 28.0 37.7 6 3 9 1 40 6 2 13 1 96 4 2 11 0 90 5 2 12 0 96 6 2 12 0 96 Tabel 11.0 1272 25.4 83.2 267 64.9 30.Halaman | 54 Tabel 10.3 2143 31.0 15.6 73.5 20 80.9 9.1 4.8 27.

9 1 1 1 1 5 62 80.0 0.0 7.3 2143 20.0 7.2 1.9 14.9 1.1 1.5 16.0 80 48.1 5.0 7.0 1733 23.0 5.5 1272 477 37.1 1.8 1.0 256 18. tahun 2008 .2 1 1 1 1 5 132 72. Kasus kecelakaan lalulintas yang diakui akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah kecelakaan lalulintas krn narkoba Ya Tidak Setahun kecelakaan lalulintas Frekuensi kec lalulintas setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah kecelakaan lalulintas setahun Ada orang yg bantu saat kecelakaan lalulintas Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 95 23.1 1.9 1.5 1.2 6.4 1.8 461 197 42.0 360 25.9 60.2 76.6 1.0 3.3 1272 14.3 7.7 55.5 1.9 2143 769 35.3 1 1 1 1 5 127 73.3 1.8 1.6 1.0 Tabel 13 Penangkapan pihak kepolisian akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah ditangkap polisi krn narkoba Setahun ditangkap krn narkoba Frekuensi ditangkap setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah ditangkap setahun Ada orang yg bantu saat ditangkap polisi Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 7.5 62.7 17.5 1.0 24 12.9 63.0 1.0 0.0 0.0 0.8 1733 674 38.5 19.0 336 25.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.1 1 1 1 1 5 65 65.0 461 46.2 1 1 0 1 1 5 33.9 1.8 4.Halaman | 55 Tabel 12.2 20.

Halaman | 56 Tabel 14 Pengalaman dipenjara akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah dipenjara krn kasus narkoba Tidak N pernah dipenjara Setahun dipenjara krn narkoba Frekuensi dipenjara setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah dipenjara setahun terakhir Ada orang yg bantu saat dipenjara Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.5 60 82.1 120 2.7 58.4 149 21.4 1 1 0 1 2 2143 13.6 94.2 38.1 476 27. tahun 2008 .2 1 1 .9 288 2.3 83.2 47.8 265 3.8 Tabel 15 Pengalaman Aktivitas terganggu akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah aktivitas terganggu krn penyalahgunaan Ya Tidak N pernah aktivitas terganggu Setahun pernah aktivitas terganggu dari penyalahgunaan Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 38. 1 1 1272 9.7 59 82.1 55.5 66.1 203 26.8 1 1 0 1 2 1 100.9 58.3 828 25.9 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 49.4 90.3 1 1 0 1 2 1733 15.7 679 27.4 41.4 23 0.4 85.4 1 1 0 1 2 461 31.0 40.6 145 6.6 56.3 29 85.0 30 79.

0 54.0 5.0 5.0 4.5 27.15 0.0 46.03 0.06 0.06 0.4 7.0 Perkiraan jumlah teman yg mati karena narkoba Mean Median Minimum Maximum Std Deviation 0.01 0.3 25.Halaman | 57 Tabel 16.0 27.00 0.8 28.0 27.8 17.8 17.0 27.0 4.5 27.00 0. Teman responden yang pakai narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Pecandu Suntik Keseluruhan Lahgun Teratur N Perkiraan jumlah narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal Bukan Suntik Total 410 teman pakai 1272 461 1733 2143 17 10 20 2 100 mati karena 17 10 28 1 200 16 8 21 1 100 16 10 25 1 200 16 10 25 1 200 Ada teman narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal yang 2 2 1 1 4 4 3 3 1 12 5 3 5 1 30 4 3 4 1 30 4 3 4 1 30 Jenis kelamin teman yg mati Laki-laki perempuan Umur teman yg mati karena narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal 100.6 92.00 0.12 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 18.00 0.9 7.05 0.0 54.67 0.0 4.10 0.6 17.91 0.6 20.00 0.0 0.91 0.0 92.0 54.1 27.91 0.80 0.0 27.00 0.00 0.00 0.1 92. tahun 2008 .0 44.09 0.00 0.17 0.4 93.6 7.13 0.0 7.0 27.

07 0.00 0.02 0.00 0.13 0.06 0.11 0.33 0.00 0.10 0.01 0.00 0.00 0.01 0.04 0.04 0.28 0.01 0.00 0.06 0.10 0.22 0.894 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.00 0.00 0.00 0.01 0.03 0.55 0.00 0.05 Persentase kematian menurut kelompok umur Absolut mati yg 10-14 0.05 0.09 0.25 0.05 0.00 0.01 0.06 0. Angka Prevalensi dan Perkiraan Kematian Akibat Penyalahgunaan Narkoba Menurut Kelompok Umur Propinsi di Indonesia.03 0.50 0.01 0.00 15-19 0.33 0.00 0.27 0.20 0.00 0.03 0.20 25-29 0.21 0.80 0.01 0.00 0.00 0. tahun 2008 .02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.05 0.11 0.00 0.00 0.50 0.00 0.00 0.00 0.00 0.10 0.13 0.06 0.00 0.00 0.00 0.03 0.10 0.00 0.00 0.986 219 871 165 203 33 114 353 60 71 288 259 105 188 82 142 74 7 1.02 0.00 0.22 0.06 0.46 0.26 0.00 0.10 0.13 0.42 0.12 0.01 50-54 0.27 0.05 0.03 0.04 0.00 0.71 0.03 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.14 0.00 0.00 0.02 0.01 0.25 0.00 0.00 0.33 0.00 0.00 0.02 0.02 0.46 0.00 0.05 0.00 0.00 0.27 0.02 0.00 0.05 0.01 0.27 0.12 0.03 0.00 0.00 0.12 0.46 0.06 0.01 0.03 0.02 0.04 0.06 0.06 0.09 0.00 0.00 0.01 0.00 0.04 0.00 0.12 0.18 0.00 0.51 0.05 0.08 0.00 0.02 0.08 0.00 0.53 0.27 0.01 0.00 0.05 0.14 0.01 0.00 0.29 0.00 0.45 0.02 45-49 0.00 0.00 0.09 0.03 0.23 0.08 0.45 0.05 0.25 0.13 0.04 0.01 0.00 0.01 0.00 0.00 0.12 0.25 0.02 0.00 0.00 0.Halaman | 58 Tabel 17.10 0.02 0.00 0.17 0.04 0.41 0.61 0.25 0.00 0.08 0.13 0.50 0.19 35-39 0.00 0.00 0.02 0.48 30-34 0.01 0.02 0.34 0.00 0.05 0.49 0.00 0.71 0.10 0.02 0.11 0.46 0.38 0.04 0.01 0.00 0.00 0.08 0.09 0.00 0.27 0.621 66 86 158 132 497 12 48 12 6 14.04 0.12 0.01 0.09 0.01 0.421 716 455 111 3.333 1.00 0.43 0.38 0. 2008 Angka prevalensi kematian narkoba 0.02 0.00 0.18 0.00 0.33 0.04 0.00 0.00 0.11 0.22 0.00 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total 2.02 0.54 0.42 0.00 0.29 0.13 0.00 0.03 0.00 0.05 0.00 0.54 0.00 0.27 0.00 0.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.10 0.05 0.02 0.00 0.48 0.21 0.00 0.33 0.27 0.32 0.00 0.01 0.48 0.01 0.01 0.02 0.00 0.02 0.22 0.05 0.00 0.00 0.00 0.03 0.00 0.09 0.11 0.02 0.20 0.27 0.00 0.13 0.00 0.00 0.00 0.46 0.27 0.00 0.00 0.05 20-24 0.26 0.00 0.01 0.00 0.29 0.23 0.17 0.50 0.06 0.00 0.00 0.25 0.25 0.00 0.00 0.00 0.00 0.04 0.11 0.00 0.27 0.01 0.00 0.00 0.00 0.05 40-44 0.33 0.02 0.00 0.05 0.25 0.13 0.38 0.00 0.08 0.21 0.16 0.00 0.

.

243 22.986 227.000 rupiah) Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2008 15.376.688 323.515 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.602 839.424 45.220 882.071 7.957.953. Kerugian Biaya Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia.094.Halaman | 60 TABEL ESTIMASI BIAYA KERUGIAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA Tabel 1.530 32.519 19.743.443.124 1.813 188. 2008 (dalam 1.715 680.657 5.735 3.489. tahun 2008 .060 252.705 26.454 59.036 722.450 8.000.

220 30.701 613.993 3.395 814 131.658.804 5.846 42.688 26.071 1.070 12.188 16.142 886 271.532 188.706 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.768 110 5.501 270.846 152.986 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.047 557.394 219.410 125 510 0 0 13.668 0 67.591 13.199 0 0 719.610 15.024 2.149 0 991 15.490 63.472 795.431 3.414 177.486 6.849.602 0 93.639 9.292 30.559 2.850 3.257 9.299 410.791 46.258 13.258 0 16.020 1.023 0 0 0 0 0 0 0 0 73 0 0 0 0 361.813 5.634 12.772 9.438 1.851 165.355 2.741 5.310 220.065 3.874 296.683 1.239 11.079 180.029 3.228 3.155 51 23 22.226.830 4.021 0 162.130 6.551 559.702 1.871 1.263 438.153.255 8.115.742 6.841 36.638 2.396.404 294 3.455 230.744 4.424 0 0 0 0 310 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.302 14.103 505 15. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 1.475 321.463 5.052 5.806 133.641 107.545 485 85.499 2.573 17.060 11.953 2.434 3.489 23.321 5.556 691.388 6.183 141.724 1.808 449.294 292.586 89.407 50.273 68 170 0 5.974 996 117.702 1.430 560.692 44.845 413.683 0 2.499 94.740 124.631 51.186 58.284 4.256 1.820 17.374 149.161 10.489.519 0 5.841 2.802 3.320 2.822 12.427 2.721 243.112 1.901 30.320.009 2.211 32.098 1.088 28.587 23.666 180.404 301.364 1.666 19.988 575 946 891 239 479 929 87 168 297 603 939 184 43 769 111 358 359 271 155 6 25 30 17 19.691 1.102 4.550 32.912 134.283 1.768 3.183 4.222 261.269 1.483 427.792 76.226 7.536 585 1.202.263 4.620 54.694 85.513 253.578 1.840 781 292.638 0 3.732 56.140 2.749 16.593 524.950 2.219 226.049 327.075 5.542 822.609 15.676 5.149 70.431 4.421 508 852 0 3.612 9.435 10.680 33.334 1.772 13.424 28.622 136.622 8.511 65.013 50.949 3.485 132.225 586 1.332 1.516.302 34.612 43.817 2.133 7.000 rupiah) Pengobatan sakit Konsumsi Narkoba Rawat jalan Rawat inap overdosis detok Rehab detoks & rehab detoks & pengobatan tertangkap rehab sendiri kecelakaan polisi penjara aktivitas terganggu total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.539 953.651 0 5.000.749 5.877 1.762 209.435 15.602 9.226 239.703 3.660 930 2.051 933.996 63.424 959 1.871 1.036 370.793 10.768 6.651 36.968 5.835 7.741 1.183 283 1.630 9.048 4.Halaman | 61 Tabel 2a No PROP Biaya private (dalam 1.201 11.872 150.669 26.530 295 2.021 9.250 16.365 1.843 7.845 323.425 501.326 15.889 630.977 6.369 86.010 955 206 149 331 1.124 27.265 19.956 2.875 1.388 1.860 28.913 2.939 54.244 1.060 4.335 317.380 430 196 839.254.855.986 217.829 14.102 35.403 2.845 8.020 284.705 26.757 7.167 21.948 435.921 1.224 9.462 3.056 916 905.483 21.171 6.376.001 1.060 1.407 16.076 7.673 24.344 3.617 1.441 6.758 11.218 4.327 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73 15 27 0 337 40 0 280 35 46 128 106 3.562 979 25.873 468 1.808 882.671 46.799 0 0 0 0 0 353 4.907 100.439 1.666 526 153.182 700 186.568 1.395 1.607 0 16.173.926 977.165 158. tahun 2008 .356 394.919 11.561 2.042 67.252 2.975 188.959 1.847 210.618.373 3.043 19.925 1.046 17.

362 11.000 rupiah) loss produc: sakit Rawat Jalan Rawat Inap Loss produc: overdosis detok loss: detoks & rehab Rehab keluarga tindak kriminalitas orang lain loss: kecelakaan loss: polisi premature loss: penjara death total DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.480 0 2.043 2.174 642 877 664 243 481 2.Halaman | 62 Tabel 2b No PROP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Biaya Sosial (dalam 1.111 4.285 485 125 0 2.211 6.235 3 2.155 0 1.823 35 18.071 3.121 66.300 63.316 2.777 428 5.984 1.363 5.174 389 692 360 444 193 545 6.095 32.919 0 42.660 2.957 1.161 105 295 411 300 1.745 3.087.923 53.172 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 83 17 31 0 39 13 0 424 12 15 42 35 298 24 99 0 0 8.189 58.872 8.339.400 125 38.835 23.228 45.019 942 185.045 1.448 23.877 42.530 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.552 5.651 99. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 4.292 0 0 16.904 111.857 481 856 219 3.933 182.333 722.046 246 361 0 3 41 0 1 0 1.171 32.957.203 66 102.060 5.630 41.396 5.210 35.470 1.073 19.947 8.833 11.392 2.583 343 68.732 52 22.981 9.418 75.002 34 84 10 25 1.988 90.505 6.408 286.424 0 804.972 3.122 308 33.757 0 51.572 3.538 5.257 3.002 1.283 258 101 194 0 0 176.058 2.409 60.711 3.465 3.553 996 3.863 680.746 7.254 2.503 1.425 110.674 13 16.785 1.774 0 10.843 310 51.559 203 94 167 122 1.454 75 0 14 0 0 42.136 529.278 313 655 2.187 181 98 187 384 320 159 101 3.397 195 2.376 6.373 543.889 363 675 5.777 0 2.934 0 85.293 39.153 10.202 139 310 333 272 446 143 468 2.269 25.477 65.845 17.887 257 289.316 2.193 3.682 445 1.045 24.678 31.357 146.424 24 136.149 93.268 21 7.941 5.652 555 775 172 1.230 0 0 0 1.280 269 407.944 705 1.826 3.386 1.300 4.841 5.071 272.396 173.672 2.122 43.597 36.893 880.666 23.512 6.050 67.555 664 266 7.416 255 7.265 26.135 24.410 48.340 3.318 9.057 0 59.329 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 42.364 5.142 0 93.616 134.809 0 254.423 0 0 0 0 0 5.780 6.864 113 192 370 8.498 807 3.059 159 0 509 14.410 19.185 1.268 175 26.046 163.088 936 833 1.886 0 222 46.953.613 16.738 21.709 5 10.052 542.054 3.528 0 0 0 0 0 44 397 9 21 34 59 768 1.498 1. tahun 2008 .076 3.822 41 16.924 7.132 101 7.060 0 175 2.694 2.046 103 31.862 39.968 392 16.410 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.950 45.735 3.926 22.715 4.000.683 89.271 98.947 3.179 64.277 27 28.305 24.338 10.124 14.052 5 17.043 3.285 1.814 7.433 564 12.057 42.321 1.798 275.405 426 720 344 157 51.314 33.645 0 2.

220 1.806 29.149 86.007 36.064 26 83.070 7.940 34.705 20.679 68.968 188.971 230.006 206.456 23.452 923 59.293 hashish 150 1.183 933.616 10.751 4.929 19 526 27.977 136.185 8 40.891 55.889 19.810 158 536 7.321 13.061 6 146 19.202 194 661 3.881 15.842 5.254.825 182.694 150.489 127.841 795.639 321.808 44 20 12.938 65.Halaman | 63 Tabel 3.290 167 27.212 195.316 98.620 63.374 100.655 9.661 199.707 501 17.806 1.456 10.846 179.376 353.743 131.517 50. tahun 2008 .819 35.766 10.985 2.912 438.062 72.153.249 33.725 7.120 123.909 4.584 subutex barbiturat 116.211 13.004 70 3.683 193.079 18.309 143.634 3.575 44.853 49.768 15.039 11.301 11.208 4.398 2.868 2.056 83.631 20.939 59.435 35.901 100.128 2 0 0 0 0 0 4.363 7.524.171 14.382 5.118 57.499 15.258 59.191 702 heroin 3.045 49.319 158.948 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.992 382.319 48.871 22.872 7.995 68.212 32.624 13.128 169.395 557.781 48.216 44.981 146.442 616 758 4 2 2 60 63 1.641 5.331 262.280 29.613 34.345 100.721 1.876 38 122 62.362 7.680 202 216.719 81.897 1.342 LSD kecubung 4.081 41.170 45 94 putau putau cair methadon bubuk 636.075 39.376.294 914 37.587 233 1.499 230.544 62.948 822.080 975 3.983.242 2.167 630.165 10.374 613.176 3.358 13.429 1.172.287 378 1.310.464 inhalant 2.153 6.526 11.802 292.363 148.359 144.512 121.276.094 2.088 33.949 4.119 936.721 172.749 449.628 76.696 5.024 34.249 25.061 15.628 20.689 kokain shabu ekstasi 63.376.302 217.133 1.333 21.393 21. Riau 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 14 Bangka Belitung 15 Bengkulu 16 Lampung 17 Kalimantan Barat 18 Kalimantan Tengah 19 Kalimantan Selatan 20 Kalimantan Timur 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan 25 Sulawesi Barat 26 Sulawesi Tenggara 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Bali 30 NTB 31 NTT 32 Papua 33 Irian Jaya Barat Total 177.559 20.662 146.612 317.077 6 24.134 96.071 95.760 162 69.068 8.843 141.676 219.108 50.727 35.283 20.791 84.767 13.025 8.544 79.405 6.070 370.100 2.555 4.336 2.552 34.544 2.071 NO PROPINSI 1 DKI Jakarta 2 Jawa Barat 3 Banten 4 Jawa Tengah 5 DI Yogyakarta 6 Jawa Timur 7 NAD 8 Sumatera Utara 9 Sumatera Barat 10 Riau 11 Kep.000.716 23.469 155.894 16.009 24.709 46 14 29 1.657 6.585 79.415 203.917 TOTAL 1.233.546 20.000 rupiah) ganja 82.212 1.105 29.951 214.772 132.527 35.651 159 270 124 208 151 48 9 23 9 1 40 1 3 5 3 832 380 4.106 48.351 78.927 33.820 24.475 51.991 799 61.334 305.2.803 1.840 48.095 13.075 39.227 7 212 232.302 177.919 1.087 4.044 26.141 28 50 273 30.957 29.958 10.974 21 63.013 67.284 16.482 55.778 30.182 1.436 34.232 129.994 16.407 165.441 39.793 284.482 5.158 125.214 654 14.111 3.055 11.870 16.417 14 78.112 102.943 64.867 19. Total Konsumsi Narkoba 2008 (dalam 1.232 9.317 25.851 162 500 139 201 471 393 4.787 .562 9.693 5.278 54.377 22 674 33.076 12.809 2.411 6.539 581 4.754 343.806 7.575 146.134 2.217 15.450 83.265 34.251 15.061 243.609 3.452 23.829 152.231 15.795 8 359 42.855.116 236.742 300 361 52 2.

547 941.621.109 1.721.375.953.702. Proyeksi Kerugian Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba. tahun 2008 .436.227.176.489.205 46.237 227.879 1.000.054.743.103 103.242.514.021 24.700.628 2011 22.195.903 41.882.331 13.146 811.433 22.125 1.018.050 909.243 22.562 853.986 Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2009 18.274.472.208 5.482 92.955.933 990.110.574.519 66.735 3. 2008-2013 (dalam 1.657 5.728 1.776 30.325 30.563 48.944 1.614 318.690 12.562 1.146 34.356 1.741 283.723.813 188.577.602 839.464 37.278 211.856 15.177 10.090 1.243.530 32.436 35.521 43.060 252.265 4.531 323.115.Halaman | 64 Tabel 4.410 64.759 955.532 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.539.803 288.192.036 722.199 9.318.923.624 570.515 256.387 6.454 59.220 882.273.287.035.471 8.443.604.997 57.424 45.124 1.701 2013 28.000 rupiah) 2008 15.681 1.135 363.024 1.266.391.867 31.071 7.201 27.555.094.010.340 2010 20.809 80.299 332.563 1.795 446.092.770 12.822 1.784 1.133 13.877 1.191 762.243.412 4.236 4.292.376.780 6.986 510.091.768.703 456.747 407.957.930 2012 25.705 26.194 24.410 9.539 51.805 7.388 8.901 38.084 362.240 406.443.622 51.463 356.346 1.715 680.757 8.263 297.031 399.403 39.068.282.070 237.427 34.254 265.951.704 74.812 4.140.688 323.765 10.313 1.546 1.413 1.296 57.762.021 82.183 27.519 19.179.967.450 8.022 71.

232 7.279 319.054 233.267 1.663.691 261.792.046 174.694 3.970 252.164 447.658 11.Halaman | 65 Tabel 5.067 1.586 781.013 4.210.927 776.115 314.090 401.092 700.396 206.570 286.347.718 397.970 279.231 2.610 1.003 319.548.455.554 347.861 153.454 571.774.135.295 322.058 2.784 1.560 645.029 151.292.471 387.807 7.961 1.714 963.393 186.455 1.751.986 617.556 1.573.531 2.474 235.010 3.387.502 46.207 175.681 186.061.055.335 756.912 291.960 2.520 166.595 228.559 440.032 2.035.443 1.709 479.996.191.935 846.352 1.243.950 170.171 5.151.833 51.610 190. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.787.092.626 50.162 2.382 1.324.957.878 242.364.928 675.274 628.742 360.813 285.762 780.677 788.726.012 4.249.700 1.277.891 41.473.026 137.862.058 512.940.634 2.732 2.589.549 231.417 1.377 259.243.052 70.154 1.764 139.684 630.106 1.522 405.799 208.549 204.678 4.853 1.865 195.501 385.363 442.860 5.599.695 554.748 876.562 1.580.463. tahun 2008 .384 257.000.716 492.412.923.152 184.105 478.925 32.672 156.929.000 rupiah) 2.669 1.512 355.440 164.351 124.673 6.604 1.648 97.543 1.220 451.866 135.247 1.981 364.523 312.939.282.266.924 37.242.049.948.183 282.337 78.994.488 1.139.249 503.857 123.974 255.194 603.652 356.588.758 4.143 7.823 578.423 537.130 1.524 8.653 285.910 289.659 558.893 708.214 498.644.886.430.133 507.657 359.351 1. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROP Proyeksi Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba (dalam 1.187.235.764 269.312.023 1.860 10.682.015.544 702.386.383 430.434 945.985 636.834 430.459.710 450.060 434.007 1.696.805 502.945 57.260.544 230.009 3.679 566.304 9.536 6.955 4.530.756 455.079 720.258 111.008 2.957 121.370 1.518.507 5.381 803.135 2.010.217 157.278 136.967 108.146 398.394.734 593.358 327.681 1.368 110.116 517.623 211.011 4.443.369.623 99.442 1.515 2.336 1.342 56.787 4.013 1.083 562.324 360.159 486.195 533.959 45.803 2.981.892 1.811 218.444 6.092 865.981.315 895.420.019 390.596 168.165 593.552 659.499 5.240 2.199 350.431 63.425 401.071.727 168.532 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.620 151.112.650 1.

Kegiatan ini terlaksana salah satunya karena kerjasama semua tim yang telah terlibat mulai dari perumusan ide. pembuatan kuesioner. Semoga kita dapat terus melanjutkan kerjasama pada kegiatan-kegiatan seterusnya. 11. tahun 2008 . Berikut nama korlap dan lokasi survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN-Puslitkes UI: No. 17. 14. 2. namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar bagi mereka. pelatihan. Semoga kita dapat melanjutkan hubungan baik untuk bekerjasama di kegiatan-kegiatan berikutnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman atas dedikasinya terhadap pelaksanaan pengumpulan data di 17 lokasi survey hingga proses editing data. mengumpulkan enumerator dan memberikan informasi gambaran penyalahgunaan narkoba di lokasi survei. entry data dan analisis data. Di bawah ini adalah mitra lokal dan LSM untuk Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN RI -Puslitkes UI : Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Halaman | 66 UCAPAN TERIMAKASIH Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 terselenggara atas prakarsa Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia telah berjalan dengan lancar. 12. Maka kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua mitra lokal dan teman-teman LSM yang kami tidak bisa sebutkan satu persatu. Pastinya masih segar ingatan akan begitu banyak teman-teman yang berpartisipasi mengikuti proses rekrutmen koordinator lapangan hingga akhirnya terpilih 17 kordinator lapangan dan dibantu oleh 170 enumerator. 3. 15. Bahkan beberapa rekan korlap juga sangat dibantu dengan teman mitra lokal/LSM yang menenangkan responden yang merasa ‘terusik’ dengan kehadiran ‘orang asing’ bagi mereka. tenaga dan pikiran dengan tulus untuk membantu kami terutama dalam hal menyediakan tempat basecamp. 6. 16. Ramola Hendri Hartati Ardha Renzulli Heru Susetyono Heksa Sari Julianti Haryono Junedi Zahid Iffahwan Basuki Iman Hadi Ferdinand P. 13. 1. 9. 7. 8. try out kuesioner dan instrument penelitian. 4. setting lapangan. 10. Nama Koordinator lapangan Meyke C. 5. Siagiaan Sonny Wibisono Bayu Fajar Wirawan Rudi Zulkarnaen Hari Moertopo Nodivel Ahmad Caesar Wisnu Issantoso Lokasi Survei Manado Surabaya Bandar Lampung Pontianak Yogyakarta Palu Batam Palembang Medan Bandung Makassar Samarinda Mataram Denpasar Semarang Jakarta Papua Survei ini juga tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar tanpa bantuan teman-teman LSM dan Mitra Lokal yang telah menyediakan waktu. pengumpulan data.

SKM. S.Kes Aji Vespa Abdul Muthalib Tahar. Indra K. Padjajaran 9 10 11 Jateng (Semarang) DI Yogyakarta NTB 12 13 Sulsel (Makasar) Sulut (Manado) 14 15 16 17 Sulteng (Palu) Papua (Jayapura) DKI Jakarta Jabar (Bandung) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Kes & Ali Chozin Syahri Suharni/ASA Asmaripa Ainy. S.Halaman | 67 No 1 2 3 Wilayah Kalimantan Barat (Pontianak) Sumut (Medan) Kepri (Batam) 4 Sumsel (Palembang) 5 6 7 8 Bandar Lampung Kaltim (Samarinda) Bali (Denpasar) Jatim (Surabaya) Mitra Lokal Rizal/ Mia Sabran Eban Totonta Kaban. M. M. Tadaluako YPPM UI (Kessos) Yayasan Rumah Cemara Univ. Hassanudin YMM YMM Univ.Si Didik J.Si. SSos. LSM/Yayasan Yayasan Pontianak Plus Univ. Tanjungpura Yayasan Medan Plus Univ. SE Arlan Yulfar. Sumatera Utara YBTDB Dinkes Batam Dinkes Batam Yayasan Intan Maharani Yayasan Intan Maharani Univ.Sos Meilani. Airlangga Yayasan Performa Univ. Sriwijaya Saburai Support G Univ. SSos. Mkes Erigana. tahun 2008 . SKM. Diponegoro UGM Forum Korban Napza Univ. SE. Drs. Aslam Anak Agung Kresna Ida Ayu Laksmi Rudhy Sinyo Eko Maryono Muhamad N Arifin Edy Herry Pryhantoro. Mataram Makasar Harm Reduction Community (MHaRC) Univ. SH. M. Udayana East Java Actions Yayasan Bina Hati Univ.Si Yvonne Joyo Nur Suryanto Gono. Nasution Efrizal . Nugroho Ryan Stella Sophian Shanti Riskiyani Rodhi Lolong Martin Umar Junaedi Sri Nurrahma Ester Erfan. Lampung Yayasan Laras Yayasan Mata Hati Univ. M. Radit Dadi Suhanda. Padjajaran Univ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful