P. 1
Laporan survei penyalahgunaan narkoba 2008

Laporan survei penyalahgunaan narkoba 2008

|Views: 4,074|Likes:
Dipublikasikan oleh mhomhon

More info:

Published by: mhomhon on Mar 31, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2013

pdf

text

original

LAPORAN SURVEI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Badan Narkotika Nasional
bekerjasama dengan

Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Halaman | 2

KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji dan syukur atas rahmat dan kekuatan dari-Nya sehingga laporan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tahun 2009 telah dapat diselesaikan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Hasil survei tahun 2008 ini lebih detail hasilnya sampai ke tingkat propinsi, baik dari sisi estimasi jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi akibat narkoba. Studi ini melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, informan, mitra lokal, kontak person, koordinator penelitian, asisten dan peneliti lapangan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Brigjen Pol. Drs. J. Salean SH., Dra. Endang Mulyani, MSc., Drs. Mufti Djusnir Apt. Msi., Drs. Hendrajit P. Widigdo, Drs. Sumirat Dwiyanto,. Siti Nurlela, Sri Lestari, dan Ibnu atas bantuan dan kerjasamanya pada setiap tahapan studi ini, mulai dari proses pengembangan instrumen sampai penulisan laporan. Akhirnya kami berharap studi ini akan dapat memberikan kontribusi yang berguna dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan penyempurnaan program pencegahan dan penanggulangan narkoba di Indonesia umumnya dan tingkat Propinsi khususnya.

Tim Peneliti Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Singkatan 1. Pendahuluan ..........................................................................................................7 2. Tujuan ....................................................................................................................7 3. Tinjauan Pustaka Singkat .......................................................................................8 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba .................................................................8 3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba ..................................................9 4. Metodologi............................................................................................................9 4.1. Desain Studi ...................................................................................................9 4.2. Lokasi Studi ..................................................................................................10 4.3. Definisi Operasional ......................................................................................10 4.4. Keterbatasan Studi.......................................................................................11 5. Hasil.....................................................................................................................11 5.1. Prevalensi Penyalahguna .............................................................................11 5.2. Karateristik penyalahguna ...........................................................................13 5.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba ...................................................13 5.4. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba ..................................19 5.5. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba....................................................22 6. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013...................................................................................................................23 6.1. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 ................................23 6.2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba .......................................25 7. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba ....................................26 7.1. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna.........................................26 7.2. Peredaran gelap narkoba.............................................................................27 7.3. Perdagangan narkoba ..................................................................................31 7.4. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi...31 7.5. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex................................32 7.6. Pembenahan aparat penegak hukum.........................................................34 8. Kesimpulan & Rekomendasi ..............................................................................37 DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................40 Lampiran Ucapan Terima Kasih

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 4 DAFTAR SINGKATAN AIDS ATS BMJ BNN BNP BNK BPS CBA CEA COI DALYs DSM IV TR GDP HIV IDU LSD LSM NAPZA NARKOBA NSDUH NTB OD ONDCP PHK Puslitkes UI PSK Pemda QALYs RDS RP RT RW SAMSHA SLTA SMU SLTP SD TB THC TV UN UNODC Acquired Immune Deficiency Syndrome Amphetamine Type Stimulants British Medical Journal Badan Narkotika Nasional Badan Narkotika Propinsi Badan Narkotika Kabupaten Biro Pusat Statistik Cost-Benefit Analysis Cost-Effectiveness Analysis Cost-of-Illness Disability Adjusted Life Years Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision Gross Domestic Product Humman Immunodeficiency Virus Injecting Drug User Lysergic Acid Diethylamide Lembaga Swadaya Masyarakat Narkotika. tahun 2008 . Psikotropika dan Zat Adiktif Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain National Survey on Drug Use and Health Nusa Tenggara Barat Over Dosis Office of National Drug and Policy Pemutusan Hubungan Kerja Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Pekerja Seks Komersial Pemerintah Daerah Quality Adjusted life Years Respondent Driven Sampling Rupiah Rukun Tetangga Rukun Warga Substance Abuse and Mental Health Services Administration Sekolah Lanjut Tingkat Atas Sekolah Menengah Umum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Dasar Tuberculosis tetra-hidro-kanabinol Televisi United Nation United Nations Office on Drugs and Crime Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba. 2008-2013 17 19 21 22 Tabel 7. Tabel 4. 2009 (median) Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. tahun 2008 Tabel 3. Tabel 2. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai 6 sumber Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan 10 narkoba di Indonesia. Tabel 6. Tabel 5. 23 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 2008-2013 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.Halaman | 5 DAFTAR TABEL Tabel 1. 2009 Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna narkoba di Indonesia. tahun 2008 .

Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat.32. dan 7% pecandu suntik. Metodologi. Terakhir. serta studi kualitatif ke berbagai sumber seperti penyalahguna/mantan. pengamatan prospektif penyalahguna. Kepulauan Riau. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. keluarga penyalahguna. 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba. baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka.0 trilyun di tahun 2013. kerugian diperkirakan Rp.9 trilyun adalah biaya sosial. seperti coba-pakai. Bali.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. Di Indonesia.23. Hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.1 juta sampai 3. Sulawesi Utara. memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan. Sulawesi Tenggara & Papua. 27% teratur pakai. dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk. medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun.5 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp. 2002). Data dikumpulkan melalui survei dikalangan penyalahguna narkoba. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya. Kalimantan Timur. Hasil. Dampak ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang yang sangat besar ini menggarisbawahi upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba sebagai upaya yang sangat mendesak. dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi.6 trilyun atau $2. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 3. Pada biaya private. Sumatera Selatan. bandar. Jawa Barat. dan pecandu (suntik dan bukan suntik).6 juta orang atau sekitar 1. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. Sulawesi Selatan. sebagian besar (58%) untuk biaya konsumsi narkoba. kepolisian.4 trilyun (2008) terdiri atas Rp. panti rehabilitasi. teratur-pakai. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%). Jawa Timur. dan lembaga pemasyarakatan. Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai. Dalam periode tahun 2001 sampai 2006. LSM.57. 5. 2005). Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp. Kedua. penyalahgunaan narkoba meningkat pesat. DI Jakarta.32. DI Yogyakarta. besaran biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari biaya hitungan studi ini. Lampung. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar.6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI. yaitu Kalimantan Barat. Pertama. Menurut jenis kelamin. mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. 40% pecandu bukan suntik. 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba. Dengan total kerugian biaya sekitar Rp. teratur pakai. 26. Jawa Tengah. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. tahun 2008 . terdistribusi atas 26% coba pakai. Lokasi studi di 17 provinsi. Fakta bahwa sebagian besar penyalahguna merupakan remaja dan berpendidikan tinggi yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai. 3) mempelajari pola peredaran narkoba.Halaman | 6 Abstrak Pendahuluan. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. laki-laki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%). Tujuan. yang dilaksanakan tahun 2004.

Halaman | 7

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

1. Pendahuluan
Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Di Amerika Serikat kerugian biaya ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai $181 milyar (UNDCP, 2004), sedangkan di Canada $8,2 milyar pada tahun 2002 (Rehm, 2006). Di Australia kerugian mencapai sekitar $8,190 juta pada tahun 2004/2005 (Collins, 2008). Perbandingan kerugian biaya narkoba terhadap gross domestic product (GDP) di Amerika Serikat sebesar 1,7%, Canada 0,98%, Australia 0,88% dan Perancis 0,16% (UNDCP, 2004). Di Indonesia, kerugian diperkirakan Rp.23,6 trilyun atau $2,6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI, 2005). Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir penyalahgunaan narkoba meningkat pesat, baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Hasil sitaan barang bukti, misalkan ekstasi meningkat dari 90.523 butir (2001) menjadi 1,3 juta butir (2006), Sabu dari 48,8 kg (2001) menjadi 1.241,2 kg (2006). Jumlah tersangka meningkat dari 4.924 orang tahun 2001 menjadi 31.635 orang tahun 2006 (Mabes Polri, 2007). Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Dengan latar-belakang di atas, Badan Narkotika Nasional bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia melakukan pemutakhiran data studi biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2008.

2. Tujuan
Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu (suntik dan bukan suntik); 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba 3) mempelajari pola peredaran narkoba; 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 8

3. Tinjauan Pustaka Singkat 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba
Banyak konsep dan definisi operasional penyalahgunaan narkoba. Menurut Ritter & Anthony (1991) coba pakai (new initiation) didefiniskan apabila frekuensi penggunaan per tahun 6 kali atau kurang. Sedangkan Todorov et al. (2006) menetapkan 5 kali atau kurang sebagai mencoba, lebih dari 5 kali per tahun sebagai lebih dari mencoba, disebut pengguna teratur bila memakai setiap hari selama minimal 2 minggu. Menurut Meyer (1975), penggunaan narkoba lebih dari satu kali sehari dalam periode 10 sampai 14 hari atau lebih termasuk kategori ketergantungan obat. SAMHSA (2008) membagi perilaku pakai atas tiga kategori yaitu 1) penyalahguna seumur hidup (lifetime use), minimal sekali pakai narkoba dalam seumur hidup, termasuk penyalahgunaan 30 hari atau 12 bulan lalu. 2) penyalahguna tahun lalu (past year use), waktu pakai narkoba terakhir kali dalam 12 bulan lalu termasuk 30 hari lalu sebelum wawancara, 3) penyalahguna bulan lalu (past month use), waktu pakai narkoba terakhir dalam 30 hari lalu sebelum wawancara. Secara garis besar cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dimulai dari bukan penyalahguna hingga coba pakai (eksperimetal), menengah (moderate), penyalahguna berat (heavy use). Tinjauan atas beberapa penelitian dilakukan oleh Elinson (1974) seperti yang ditelusuri oleh Kandel (1975), menghasilkan beberapa definisi dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan pola penyalahgunaan atau tingkat ketergantungan dengan lebih rinci (Tabel 1).
Tabel 1. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai sumber
Experimental 1-2 kali (Mizner, 1973) Occasional 3-9 kali (Mizner) Casual 1-20 kali (Stanton) Moderate use 10-29 kali (Mizner) Regular Minimal 1 kali per minggu (Johnson) Heavy users 21-199 kali (Stanton) Habitual, cronic > 200 kali (Stanton) >30 kali (Mizner) 3 kali seminggu dalam 3 tahun atau lebih atau pakai tiap hari selama 2 tahun (Hochman $ Brill, 1973)

1-2 kali (Josephson, 1973)

3-59 kali (Josephson, 1973)

Satu atau lebih dari 1 bulan (Johnson)

1-9 kali (Josephson, 1972) < 1 kali dlm 1 bulan (Johnson)

10-59 kali (Josephson, 1972) 10 kali satu tahun terakhir (Hochman& Brill, 1973) min 1 kali/ bulan (Johnson)

> 60 kali (Josephon) 3 kali per minggu atau > 1 bln pakai (Robins)

Sumber : Kandel, 1975

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 9

Ada pula yang mengembangkan kombinasi pengukuran diatas, untuk mengetahui tingkat ketergantungan (dependesi) melalui kriteria DSM-IVTR (Todorov et al., 2006) dan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (SAMSHA, 2008).

3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba
Markandya dan Pearce (1989) mendefinisikan biaya total penyalahgunaan narkoba adalah private cost ditambah biaya sosial. Biaya private adalah biaya terkait konsumsi dan produksi narkoba, sedangkan biaya lain yang terkait dengan narkoba dan dibebankan bukan pada penyalahguna tetapi pada masyarakat dikategorikan sebagai biaya sosial. Schauffler (2001), Collins & Lapsley (2004) mengakui pendapat para ahli ekonomi yang membedakan biaya akibat narkoba. Studi biaya narkoba banyak yang memasukkan tiga jenis biaya utama yaitu biaya pelayanan kesehatan, biaya produktivitas, biaya terkait hukum dan pengadilan (Single et al, 2001). Beberapa negara maju membuat estimasi biaya penyalahgunaan narkoba mengacu pada ”The International Guidelines” (Single et al, 2001). Namun metodologi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada negara-negara berkembang karena keterbatasan dan ketersedian infrastuktur datanya, misalkan tidak tersedia angka incidence dan prevalence narkoba, kematian & kesakitan, kriminalitas, kesehatan, dan sebagainya (Single et al. 2001).

4. Metodologi 4.1. Desain Studi
Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Jumlah penyalahguna narkoba diperoleh dengan mengalikan angka prevalensi penyalahguna narkoba dengan populasi berisiko, yaitu penduduk yang berumur 10 sampai 59 tahun. Angka prevalensi diperoleh dari hasil survei narkoba berskala nasional yang telah dilaksanakan BNN, seperti survei penyalahgunaan narkoba di kelompok pelajar & mahasiswa tahun 2006 dan di kelompok rumah tangga tahun 2005. Untuk memperkuat analisis estimasi dilakukan penelusuran pustaka dari berbagai literatur. Untuk mendapatkan angka probabilitas perilaku berisiko dan biaya satuan per orang akibat narkoba, maka dilakukan survei dikalangan penyalahguna narkoba. Cara pengambilan sampel dengan memodifikasi metode respondent driven sampling

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Dan studi observasi selama 1 bulan ke depan terhadap 108 orang di 10 provinsi. Selain itu. penyalahguna/mantan (42). petugas lapas (24). Survei tambahan dilakukan pada kelompok coba pakai dengan metode purposive sampling untuk 403 orang di semua lokasi. Sumatera Utara. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 . 4. Pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam ke berbagai informan (216 orang). yaitu: Kalimantan Barat. panti rehabilitasi (28).Halaman | 10 (RDS). Sumatera Selatan. Lokasi di seluruh propinsi tersebut berada di ibukota tiap propinsi. Kalimantan Timur. Penyalahguna pecandu adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun dengan frekuensi atau jumlah pakai narkoba lebih dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu bukan suntik) dan atau pernah menggunakan narkoba dengan cara suntik dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu suntik). yaitu coba pakai. serta wawancara dengan kuesioner terstruktur. Setelah diperoleh nilainya. Jawa Tengah. Lampung. Pecandu dipilah menurut faktor risiko. Periode pengumpulan data bulan Agustus sampai Oktober 2008. dan pecandu. DI Jakarta. lembaga swadaya masyarakat (30). teratur pakai. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. Penyalahguna teratur pakai adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun (selain cara suntik) dimana frekuensi atau jumlah pakai narkoba kurang dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara.3. lalu nilai tersebut di proyeksikan untuk periode tahun 2008-2013 dengan menggunakan berbagai asumsi. Jawa Barat.143 orang (teratur & pecandu). keluarga penyalahguna (39). Jawa Timur. Kepulauan Riau. Sulawesi Tenggara & Papua. 4. Nusa Tenggara Barat. Bali. mengkalkulasi hasil perhitungan antara hasil point 1 dengan point 2 diatas untuk mendapatkan perkiraan biaya kerugian penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. Definisi penyalahguna coba pakai adalah mereka pernah mengkonsumsi jenis narkoba apapun maksimal sebanyak 5 kali dalam seumur hidupnya. dan bandar narkoba (30). Sulawesi Utara.2. dilakukan studi costing di rumah sakit untuk mendapatkan biaya perawatan dan pengobatan bila ada IDU yang sakit karena HIV/AIDS dengan sampel sebanyak 98 pasien. Definisi Operasional Definisi operasional penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 tingkatan. Terakhir. Jumlah sampel penyalahguna terpilih sebanyak 2. Sulawesi Selatan. terdiri atas: kepolisian (23). DI Yogyakarta. Lokasi Studi Lokasi studi di 17 propinsi di Indonesia.

Survei penyalahgunan narkoba dilakukan di 17 provinsi untuk mendapatkan probabilitas perilaku dan biaya satuannya setiap konsekuensi narkoba. 2006). Sumber data populasi pelajar diperoleh dari buku saku yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas. Sehingga biaya-biaya yang dihabiskan dan dikeluarkan diluar periode waktu tersebut tidak dihitung. Hasil 5. Di kelompok pecandu dipilah lagi menjadi pecandu suntik dan pecandu bukan suntik. yaitu September 2007 sampai Agustus 2008. biaya pengungkapan kasus pihak kepolisian. Sehingga biaya-biaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba yang dikeluarkan pemerintah tidak dihitung dalam studi ini.4. dan sebagainya. biaya adanya Badan Narkotika Nasional. provinsi yang tidak di survei menggunakan asumsi data dari provinsi terdekat yang di survei sebagai masukan datanya. Misalkan pernah melakukan tindakan kriminalitas. teratur pakai. Keterbatasan Studi Berikut adalah keterbatasan dalam studi ini: • Perspektif perhitungan biaya studi dari sisi penyalahguna narkoba (klien). Untuk sumber data populasi penduduk diperoleh dari website yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Australia Nasional University (ANU)1. pernah dirawat di rumah sakit. Misalkan.com Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Sedangkan laporan studi ini mencerminkan seluruh provinsi (33) di Indonesia. Angka prevalensi dipilah menjadi 3 kategori menurut jenis penyalahguna yaitu coba pakai. bukan dari perspektif pemerintah. Angka prevalensi penyalahguna dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa per provinsi. atau detoks/rehab dua tahun yang lalu maka tidak dihitung dalam studi ini.Halaman | 11 4. Prevalensi Penyalahguna Perkiraan besaran angka penyalahgunaan narkoba diperoleh dari perhitungan model matematis dengan formulasi berikut: angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dikalikan dengan populasi penduduk berisiko (usia 10-59 tahun).1. 1 www. • 5. Untuk itu. • Biaya ekonomi yang dihitung dalam studi ini pada periode 12 bulan lalu sebelum wawancara. tahun 2008 .datastatistik-indonesia. dan pecandu berdasarkan jumlah frekuensi pemakaian dan cara pakainya. Angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa tahun 2006 dan survei narkoba di rumah tangga tahun 2005. biaya penyediaan penjara.

718 990.400 1. Jumlah pecandu bukan suntik diperkirakan sebanyak 1.258.234 3.45 juta orang.124.716 682.140 829.833 113.149.676 1.022 1.719 125. Jawa Tengah (15%).148 145. tahun 2008 Jenis Penyalahguna Coba pakai minimal maksimal Teratur pakai minimal maksimal Pecandu Bukan Suntik minimal maksimal Pecandu Suntik minimal maksimal Total Lahgun minimal maksimal 1. Coba pakai. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).858 46. Pecandu bukan suntik.252.180 10.008 27.146 38.180 440.581 253.577 169.186 185.422 6.080.6 juta orang atau sekitar 1. Penyalahguna teratur pakai kebanyakan berada pada kelompok bukan pelajar (60%).026 88. lakilaki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%).25 juta sampai 1. dan 7% pecandu suntik. Penyalahguna teratur pakai paling banyak berada di Jawa Barat (23%).941 1.917.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. Jumlah penyalahguna teratur pakai sekitar 829ribu – 959ribu orang yang sebagian besar didominasi oleh laki-laki (89%). dan Jakarta (10%).866 1.459.478 202.322 807.461 516.294 145.950 12.724 32.484 2.819 294.041 Pelajar Laki Perempuan Bukan Pelajar Laki Perempuan Laki Keseluruhan Perempuan Total 133.814 959.281 40. terutama laki-laki.197 132.943 132.884 3.850 39.085 61.304.702 238.1 juta sampai 3. 40% pecandu bukan suntik.274 5.857 174.520 154.578 22.055 3. Mereka kebanyakan berasal dari kelompok pelajar (90%). Propinsi yang memiliki kasus terbesar berada di Jawa Timur (15%). Penyalahguna coba pakai lebih banyak di kelompok pelajar (90%). yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. Jumlah penyalahguna narkoba coba pakai diperkirakan 807ribu – 938ribu orang yang sebagian besar adalah laki-laki (85%).448 857. 27% teratur pakai. Kelompok bukan pelajar/mahasiswa semakin besar proporsinya pada jenis penyalahguna ini mencapai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.223 1.435 215.078 205. tahun 2008 .056 53.480 218.379 1.817 938.635 155.908 133.538 114.502 1.169.Halaman | 12 Dari hasil kalkulasi diperkirakan jumlah penyalahguna sebanyak 3. terdistribusi atas 26% coba pakai.114.282 33.734.610. Pada kelompok pecandu narkoba terdiri atas 2 jenis.935 380.772 82. Jawa Barat (14%). Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Jawa Timur (18%).762 Teratur pakai. Menurut jenis kelamin.366 102. dan Jawa Tengah (14%).359 741.971 35.653.898 710.988 340. sedangkan pada teratur pakai dan pecandu lebih banyak terjadi di bukan pelajar/mahasiswa. Dari sejumlah penyalahguna tersebut.781 446.669 792.607 70. Tabel 2.075 19.166 611.

Populasi pecandu suntik paling banyak di propinsi DKI Jakarta (14%). dan mereka yang masih aktif merokok dalam setahun terakhir sebanyak 95%. Pecandu suntik diperkirakan sebanyak 218ribu sampai 253ribu orang. Pecandu suntik lebih banyak yang tinggal bersama orangtuanya (64%) dibandingkan jenis penyalahguna lainnya. hanya 9% dari penyalahguna adalah perempuan. Sebagian besar telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi (80%). Pecandu suntik. sedangkan yang mengaku bekerja kebanyakan adalah pegawai swasta (15%) dan wiraswasta/ pedagang (12%). 5. mereka yang masih minum alkohol sebanyak 81%. terutama di teratur pakai (12%). Mereka yang berstatus mahasiswa/pelajar sebanyak 28%. Jawa Barat (14%) dan Jawa Timur (13%). Demikian pula dengan minum alkohol. Karateristik penyalahguna Dari hasil survei dikalangan penyalahguna narkoba. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba Dari hasil survei dikalangan penyalahguna diketahui beberapa perilaku penyalahguna sebagai berikut: Merokok dan alkohol. Alasan yang Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ganja (66%) dan obat penenang/barbiturat (21%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali oleh responden. Pecandu suntik kebanyakan berstatus tidak bekerja (34%). yaitu minimal telah tamat SLTA ke atas.Halaman | 13 88%.2. terutama para pecandu suntik. Riwayat dan pola konsumsi narkoba. Sekitar seperempat responden tidak bekerja. Lebih dari separuh responden mengaku masih tinggal bersama orangtuanya (58%) dan sekitar seperempatnya tinggal di rumah kost atau kontrakan. Sedangkan pada teratur pakai dan pecandu bukan suntik kebanyakan mahasiswa (32% dan 24%). Umur pertama kali pakai narkoba kebanyakan usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA. Sebagian besar penyalahguna adalah laki-laki. Dalam setahun terakhir. Ada sekitar 93% dari responden yang pernah minum alkohol. Hampir seluruh responden pernah merokok (99%). tahun 2008 . dimana proporsi terbesar berada di kelompok pecandu suntik. 5. diketahui lebih dari separuh responden berada pada kelompok umur 20-29 tahun (68%). Sekitar seperempat responden berstatus menikah. Dimana pecandu bukan suntik kebanyakan berada di provinsi Jawa Barat (19%) dan Jawa Timur (16%).3. Kejadian pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (79%) lebih tinggi dibandingkan pada pelajar/mahasiswa (21%).

1.P1). ga laki kata orang kan..jenis narkoba yang pernah dipakai pil hypnoril. 80% dari pecandu suntik telah diketahui oleh keluarganya.2. Informasi tersebut bagi pihak anggota keluarga sebenarnya sudah terlambat karena rata-rata mereka sudah pakai narkoba lebih dari 5 tahun..pertamanya pergaulan sih. Camlet. Tidak hanya itu. di pecandu suntik adalah putau bubuk. Bisa kumpul sebagai 1 keluarga itu gak ada.2. Sekitar 83% dari responden pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba (poly drugs). heueuh.Halaman | 14 diungkapkan pakai narkoba karena ingin coba-coba. jadi coba-coba. pokoknya cocok ni. dan putau bubuk (32%) adalah jenis narkoba yang paling populer dipakai dikalangan responden. Putaw.1. fly.. obat penenang (28%). saya di Jakarta. terutama para pecandu suntik (87%) dalam setahun terakhir.namanya pil BK itu. Lebih dari separuh penyalahguna telah diketahui statusnya sebagai penyalahguna narkoba oleh pihak keluarga (53%). Ganja (71%) masih tetap paling banyak disebut dalam pemakaian narkoba setahun terakhir. Bahkan.. jadi berani. kecuali ganja. Ganja (92%).P3). ga macho. Para pecandu suntik (98%) lebih tinggi yang melakukan “poly drugs”. pada umumnya keluarga mereka baru mengetahui ada anggota keluarganya yang menyalahgunakan narkoba setelah ada kejadian tertentu seperti tertangkap polisi.10. obat penenang/barbiturat (52%). Suami di Bandung. Jadi saya sibuk kerja. orang kalo ga kenal gituan ga keren tuh... kurangnya informasi tentang narkoba dan kurangnya pengawasan orang tua.. tahun 2008 . Misalkan. tapi efeknya paling enak putaw” (PN-1. “.3. berani abis. dimana pecandu suntik paling banyak frekuensi pakai narkobanya.08. ee ternyata enak. dibandingkan pecandu bukan suntik dan teratur pakai (78%). ganja. Subutex.05. putau bubuk (15%) dan methadon (13%). ada perbedaan jenis narkoba yang populer dikalangan mereka. ternyata ada sekitar sepertiga (33%) dari anggota keluarga responden juga penyalahguna narkoba. ekstasi (30%). Jenis narkoba lainnya adalah shabu (38%). kan nambah metal tu. rumah tangga saya gak harmonis sama suami. terus pergaulan. Jika dilihat dari jenis penyalahguna. dan sakit. jadi pengawasan saya kurang.3. tapi dalam tanda kutip perhatian dah cukup.. lexotan. Sayangnya. pengaruh pergaulan. enak banget aja deh kayak di surga” (BD-1. Dari hasil identifikasi pada kelompok pecandu suntik.P2). Shabu (64%). Lihat. Bahkan ada sebagian dari Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ekstasi (54%).2. “Obat-obatan seperti Sanax.. lebih dari separuh (61%) responden masih mempraktekan penggunaan narkoba lebih dari satu jenis (poly drugs). over dosis. perbandingkan median frekuensi pakai antara pecandu suntik (720 kali pemakaian) dengan teratur pakai (20 kali pemakaian) dalam setahun terakhir. susah euy. namun tidak untuk kelompok teratur pakai (36%).. Feri butuh uang saya kasih.P1)..03. Menurutku yang paling mahal shabu. Ada perbedaan banyaknya jumlah konsumsi narkoba. shabu. awalnya gitu aja deh. “Kurangnya perhatian.. Dari semua yang pernah dipake paling enak putaw Duh enak banget. Semua masih dipake saat ini. nah itu lah akhirnya jadi begitu” (KPN-1.2. putaw. stokun.”(PN-9. di pecandu bukan suntik & teratur pakai adalah shabu. “. Cimeng. cuma saya sibuk kerja.

yaitu 19 tahun.. ternyata emang sudah target. sedangkan perempuan 42 bulan.2. Dengan median frekuensi pemakaian narkoba suntik sama besar. selera makan berkurang (48%). Penyalahguna narkoba suntik. Hanya sekitar 9% saja yang selalu pakai kondom. Pecandu suntik (92%) lebih banyak yang pernah melakukan hubungan seks dibandingkan kelompok lainnya. Kejadian penyakit dikalangan penyalahguna. tahun 2008 . Dalam setahun terakhir.2. dengan nilai median 60 bulan..3.. Sekitar tiga per empat responden (76%) mengaku punya keluhan masalah kesehatan. sebagai pemakai di sekitar sini. yaitu shabu (40%). “Saya tidak tahu pasti. terutama para pecandu suntik. Sekitar 85% dari responden pernah melakukan hubungan seks. Tidak ada perbedaan median umur pertama kali pakai narkoba suntik antara laki-laki dan perempuan. “Saya mulai tahu dia pake narkoba sekitar tahun 2004. yaitu putau bubuk dan subutek. Ada sekitar sepertiga dari responden yang mengaku sebagai pecandu suntik. Saat ini ada dua jenis zat/narkoba yang paling banyak disuntikan ke dalam tubuh.” (KPN7. mereka yang pernah berhubungan seks sekitar 73%.Halaman | 15 informan yang menyatakan bahwa mereka baru tahu anaknya pakai setelah teridentifikasi mengidap HIV/AIDS.. laki-laki lebih lama sebagai penyalahguna narkoba suntik yang digunakan secara teratur. Paling tidak ada 3 jenis narkoba yang banyak disebut terkait dengan hal itu. Namun. Dari mereka yang pernah berhubungan seks. Narkoba dianggap dapat meningkatkan libido untuk berhubungan seks.05.karena dia pada saat itu dia ketangkep. tapi saya mengetahuinya pada saat dia sedang sakit di RS itu.Waktu diambil sampel darahnya utk keperluan pemeriksaan golongan darah. Dengan frekuensi pemakaian jarum suntik baru pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Seks dan Narkoba. yaitu: rasa mual (45%). dengan median jumlah jarum suntik baru sebanyak 15 dan 10 buah per bulan. Angka prevalensi pakai narkoba suntik pada perempuan (69%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (62%) dalam setahun terakhir. dimana kebanyakan dilakukan oleh laki-laki (80%).P2). Tidak ada perbedaan jenis narkoba yang disuntikan antara laki-laki dan perempuan.dari situlah saya baru mengetahui jika dia adlh pemakai” (KPN-4.3.01. Prevalensi yang pernah pakai narkoba suntik lebih tinggi pada laki-laki (35%) dibandingkan perempuan (26%). yaitu 1 kali dalam sehari.P4). rasa sesak pada Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dengan median usia pertama kali umur 17 tahun. sekitar 1 dari 10 orang pernah melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. Ada 5 keluhan yang banyak diungkapkan. ganja (36%) dan ekstasi (32%). Sayangnya hampir separuh dari responden ketika berhubungan seks tidak pernah pakai kondom dalam setahun terakhir.

Setelah positif dua tahun kemudian minum ARV. mereka yang pernah Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba..80 ribu tiap bulan” (PN-1. tapi HEP C ada. Kebetulan anak gue juga uda minum ARV. Ada sekitar 1 dari 10 responden penyalahguna pernah mengalami overdosis. trus gua langsung masuk herna. Ditemukan ada sebanyak 9% biaya pengobatan ditanggung oleh kartu/SKTM/Jamkesmas. Para informan pergi berobat ke dokter setelah merasakan gejala penyakitnya bertambah parah. Detoksifikasi & Rehabilitasi. rasa sakit pada ulu hati (36%). Kejadian overdosis. sekitar 37% melakukan pengobatan sendiri dengan cara membeli obat medis/modern (71%). kuku kuning dan badan gua kuning semua. Bagi penyalahguna lebih memilih uangnya untuk membeli narkoba dari pada untuk biaya pengobatan. Gua biarin cuma berobat ke HERNA tapi belum dibilang itu HEP C. Namun. gue dibantu LSM. Gua dikasih tahu untuk saat ini tidak ada virus HIV. Mereka yang melakukan rawat jalan.. Gua pernah satu hari. akhirnya gue jalan aja udah ga bisa. Ambilnya di klinik Teratai di RSHS. kalau anak-anak Rp.dan nyokap gua nangis. Namun. kalau jalan maunya pipis terus. Hampir separuh dari responden yang menanggung biaya pengobatan tersebut adalah pihak keluarga (49%) dan pihak responden sendiri (48%). dan puskesmas (22%). yaitu 1 dari 4 responden (28%). ada sebanyak 24% yang melakukan rawat jalan dan 3% yang harus menjalani rawat inap.6. kebanyakan pergi ke praktek dokter (43%).08.Halaman | 16 dada (43%).1. Separuh responden pecandu suntik menyatakan tindakan yang dilakukan adalah perawatan medis (52%). mereka yang pernah mengalami kejadian overdosis dalam setahun terakhir sangat rendah (2%). Ketika terjadi overdosis.6. dan hanya 2% yang pernah melakukannya sebanyak 2 kali.20 ribu. Selain itu. Kalau untuk orang dewasa Rp. “Gua sering demam-demam tapi gua biarin aja. Sedangkan mereka yang dirawat inap.1. Dari mereka yang punya keluhan.. “. Bahkan di kelompok pecandu suntik kejadian overdosis jauh lebih tinggi. ada sekitar 20% yang menyatakan didiamkan saja. Pertengahan bulan gua dipanggil lagi sama dokter dan ada orang tua. Karena udah kronis.. Selanjutnya. dan rasa lelah (fatigue) berkepanjangan (35%). rumah sakit pemerintah (27%). Secara detail. trus malamnya gua dibawa konseling. Ada sekitar 8% dari responden yang pernah minimal melakukan satu kali tindakan detoksifikasi ataupun rehabilitasi.P13). gua dibawa kepanti rehabilitasi.” (PN-5. dan itu sudah bisa dibilang stadium tinggi.jadi sejak tahu status. lebih dari separuh responden menyatakan tindakan yang dilakukan adalah ditolong atau dirawat oleh teman (55%). terutama para pecandu suntik (15%). Lebih dari separuh responden (60%) menyatakan diantar oleh orang lain ketika berobat rawat jalan. trus gua langsung detoksikasi. terutama di kelompok teratur dan pecandu bukan suntik. tetapi orang lain yang menemani responden saat dirawat inap lebih rendah (13%)..P13). kebanyakan di RS pemerintah. dia bawa gua kesalah satu dokter”H”. Akhirnya september tahun 2000 . tahun 2008 . Hampir sebagian besar informan menyatakan seringkali mereka kurang memperhatikan gejala-gejala penyakit yang dirasakan dan malas untuk berobat ke dokter.02. Bokap jemput kekosan gua.

terutama dikalangan pecandu. jadi terpaksa aku berhenti total.. itu waktu orang kedinginan gua kepanasan. janm 12-1 malam gua mandi... tindak kriminalitas pada orang lain lebih banyak dilakukan oleh para pecandu suntik (28%). Sedangkan mereka yang pernah rehabilitasi sebanyak 8%. lo bayangin... ngegigill. Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas. Bagi sebagian penyalahguna menganggap dengan pasang badan bisa lebih efektif untuk lepas dari ketergantungan narkoba dibanding jenis pengobatan lainnya. Upaya pengobatan sendiri untuk bebas dari ketergantungan narkoba...7% dilakukan setahun terakhir.3. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.05.suratnya saya bilang kebapak ini pekarangan pingin saya jual tapi sempet kurang boleh tapi karena dibawah pengaruh obat itu jadi nekat aja udah hilang langsung laku” (PN-10. karena bini aku udah bunting 4 bulan. terutama pada kelompok teratur pakai (80%).11.. dan sebagainya... tidak seluruh responden pernah melakukan tindak kriminalitas.Halaman | 17 detoksifikasi sebanyak 5%. misalkan mencuri ataupun merampok. ngambil duit 325 juta. gua itu berhentinya mendadak.. Kebanyakan tindak kriminalitas tersebut dilakukan di tingkat keluarga (66%). enakan digebuki orang dari pada gua nahan sakau. saaakit badan gua.” (PN-8. Dalam upaya berhenti dari kecanduan narkoba.2. berak ampe keluar darah. urat-urat ini kaya di isi jarum kalo mo tahu.mimisan. ataupun ketidakmampuan membayar layanan tersebut.. tahun 2008 . yang disebabkan ketiadaan akses layanan. Tindak kriminalitas tersebut masih terus dilakukan dalam setahun terakhir (13%). “Kalau jual motor diem. Namun mereka yang mengalami kejadian tersebut sekitar 17% dengan median jumlah kecelakaan sebanyak 1 kali pada tahun lalu. dan 0. Berdasarkan pengakuan. ngebobol brangkas bokap. aku ga pengen anak aku ini cacat kan. misalkan pasang badan.P9). “. Bahkan masih ada sekitar 15% yang melakukan upaya tersebut dengan frekuensi sebanyak 6 kali pada tahun lalu. Tindak Kriminalitas. bandingkan dengan teratur pakai hanya 15%. Data ini memperlihatkan masih sangat rendahnya akses layanan untuk detoksifikasi maupun rehabilitasi.. ketidaktahuan dari responden. bayangin orang kepanasan jam 12 siang gua kedinginan..3. karena dalam upaya tersebut didasari atas kesadaran sendiri. Kebanyakan yang pernah melakukan tindakan tersebut para pecandu suntik (58%).diem kalau pekarangan ibu sudah meninggal dapat tiga tahun ada surat. tuh. dan kebanyakan dilakukan oleh para pecandu suntik (61%). kaya yang tadi gua ceritain kan. pake ganja tuh berhentinya tu..4.1. Lebih dari sepertiga responden (35%) pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Hampir sepertiga dari responden pernah melakukan upaya tersebut..P9). dan 2% dilakukan setahun terakhir. “waduh.P1).4.. para responden telah berupaya melakukan pengobatan sendiri. Hanya 38% yang pernah melakukan tindak kriminal tersebut.. Sedangkan yang pernah melakukan tindakan keduanya sebanyak 2%. Namun. kalo bisa milih... nah.05.pernah. kalo ga nge-boti pala gua migraine. itu aja. membeli obat bebas.” (PN9.

Dalam upaya mencari penyalahguna baru. mereka yang mempraktekan menjual narkoba dalam setahun terakhir telah jauh berkurang hanya 8%. ada 1 dari 10 responden (11%) pernah mempraktekan sebagai kurir narkoba.P1). terutama para pecandu suntik (46%). Biasanya beli 1 gram untuk 3 hari. masih ada sebanyak 3% dari penyalahguna yang dipenjara. Jadi malesan. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Dengan tingkat kematian teman dikalangan pecandu suntik sebesar 15%. hanya ada 1 dari 20 penyalahguna yang tertangkap pihak kepolisian. Jumlah median teman narkoba yang meninggal ada sebanyak 3 orang.3. Mereka yang mengakui hal ini ada sebanyak 41%. Dengan informasi data tersebut. salah satunya dengan menanyakan jumlah teman sesama pemakai narkoba. ngaruh banget mbak.3. terutama para pecandu bukan suntik (57%). terutama para penyalahguna suntik.. Ngaruh banget. Satu dari 5 penyalahguna pernah ditangkap pihak kepolisian terkait urusan narkoba. di luar lingkungan sekolah. terus meremehkan” (PN-8. dengan median umur 27 tahun. Teman pecandu suntik lebih sedikit dibandingkan pecandu lainnya. “Frekuensi makai putaw 3-4 kali sehari. Namun. sekitar separuh responden (52%) pernah menawarkan narkoba ke orang lain. Nilai median jumlah teman sesama pengguna yang masih hidup sebanyak 10 orang.Halaman | 18 Penangkapan Oleh Pihak Kepolisian. Tanggung jawab jadi kurang. Hampir sepertiga (31%) dari responden pernah menjual narkoba.2. Hampir separuh responden tersebut adalah para pecandu suntik (47%).2. Ranking 2. diperkirakan jumlah penyalahguna yang mati ada sebanyak 14.. Dengan menggunakan angka persentase tersebut per provinsi. Jadi dulu aku SMP itu selalu ranking. Ranking juga 2 dan 3 juga.. Hampir sepertiganya (31%) adalah pecandu suntik. Pengalaman di Penjara. Ditemukan masih ada 26% dari responden yang merasa aktivitasnya terganggu setelah mengkonsumsi narkoba dalam tahun lalu. eh.. Penyebarluasan narkoba & harga pasaran. tahun 2008 .2.10. Ditanyakan pula teman sesama penyalahguna yang meninggal dunia terkait narkoba dalam tahun lalu. Ada satu dari 10 penyalahguna (13%) yang pernah dipenjara terkait dengan narkoba.894 orang pada tahun lalu. lumayan buat nambahin beli” (PN-1. Karena beda. Jejaring penyalahguna narkoba perlu diketahui. “Ya mengganggu! jadi banyak yang terbengkelai. males bangun tidur.1.P7). Teman responden yang pakai dan mati karena narkoba. sedangkan dikelompok pecandu bukan suntik 3% dan teratur pakai 1%. saat aku ada dilingkungan mereka. Langsung.. Ranking 3.P7). Pada tahun lalu. proyek (order) pada mundur. Aktivitas Pribadi Terganggu.. terutama di pecandu suntik.09. Dalam tahun lalu.. tapi dari belakang. Aku kelas 2 pindah sekolah udah kenal itu.” (PN-3. Teman yang meninggal tersebut kebanyakan laki-laki (93%). Selain itu. Beli segitu sekaligus jualin kalau ada teman yang mau. misalkan tidak sekolah atau bekerja..08. Penyalahguna mengakui ada aktivitas yang terganggu akibat mengkonsumsi narkoba. “Dulu otomatis mbak. dengan median frekuensi tertangkap sebanyak 1 kali. diketahui angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebesar 5% per tahun.

4. Peredaran Hasish 1 paket 37. dengan rentang biaya antara Rp. menemukan rerata besar biaya untuk rawat jalan sebesar Rp. Demikian juga dengan biaya rawat inap. sedangkan di Bali Rp. mereka yang punya 1-3 gejala hanya sekitar Rp. “Sama di sini nich di daerah “X” ada Apotik “Y”. Sedangkan median biaya pasien rawat jalan sekitar Rp.15.000 dari pihak kepolisian.4. Hasil studi costing di salah satu rumah sakit pemerintah di Jawa Timur menemukan bahwa secara rerata.500 narkoba tidak lagi terfokus di tempatKokain 1 paket 200. Jenis Narkoba Satuan (Rp) 50.000 studi mulai terlihat peredaran narkoba Subutex 2 mili 26.2 juta per orang.000 Putau bubuk 1 paket 100.73ribu sampai Rp.4. Ada juga yang memanfaatkan tempat orang hajatan. 1.000. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) 5.4 juta dan rawat inap sebesar Rp 5. Apotik itu nakal.000 tempat hiburan tetapi sudah bergeser Shabu 1 paket 200. Hasil survei dikalangan penyalahguna. Harga pasaran secara rerata Ganja 1 paket 15. Demikian juga dengan lama hari perawatan.2.380ribu per orang per tahun.500 rumah penduduk. Tempat transaksi sering kali di tempat ramai atau di jalanan umum. Tabel 3.1. seperti pengakuan salah seorang bandar. Di beberapa kota Methadon 1 gelas 5.5. Tapi saya pernah dengar issue.3. Biaya rawat jalan pecandu suntik lebih besar dibandingkan penyalahguna lainnya. semakin lama tinggal di rumah sakit maka beban biaya yang harus ditanggung semakin mahal.250 di pemukiman kumuh. Selain itu.10. tahun 2008 .Halaman | 19 Harga pasaran narkoba bervariasi antar daerah. misalkan ganja di Medan 1 Harga pasaran paket Rp. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. terutama bila ada acara organ tunggal yang memutar house music. Sumber pembiayaan selama di rumah sakit sekitar 48% berasal dari pemerintah melalui program Askeskin.000 ke tempat lain seperti perkampungan. Semakin banyak gejala yang dialami oleh ODHA maka beban biaya pengobatannya semakin mahal.763ribu per tahun.P3).1 juta .1 juta sampai Rp. median biaya pengobatan rawat inap sekitar Rp.000 dapat dilihat pada tabel 3.5000. dengan rentang antara Rp. Bandingkan. Ekstasi 1 butir 137. tempat kos dan lokasi Heroin 1 paket 100. Tidak dengan resep dokter aja bisa keluar. Gambaran hasilnya adalah sebagai berikut: Biaya pengobatan dipilah menjadi rawat jalan dan rawat inap. apotik/toko obat dapat dijadikan sumber mendapatkan narkoba racikan.000 lain yang kurang mendapat perhatian Putai cair 1 paket 150. Biaya satuan konsekuensi narkoba per orang per tahun Biaya satuan (unit cost) dari konsekuensi narkoba per orang per tahun diperoleh dari hasil wawancara dengan para penyalahguna narkoba.7 juta sedangkan yang memiliki lebih dari 5 gejala sebesar Rp.3. hal itu sengaja dibiarkan saja” (BD2.5 juta per orang.9 juta per orang. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba 5.

Biaya detoksifikasi & rehabilitasi lebih mahal dibandingkan overdosis.8 juta sampai Rp.16. Kerugian biaya akibat overdosis jauh lebih kecil dibandingkan biaya detoksifikasi.3.5. Biaya satuan terkait urusan dengan pihak kepolisian akibat tertangkap diperkirakan sebesar Rp. Sedangkan biaya kerugian akibat tindakan kriminalitas lebih tinggi terjadi di keluarga sendiri dibandingkan kejadian di orang lain. Kerugian kecelakaan jauh lebih besar terjadi di kelompok pecandu dibandingkan teratur pakai.7 juta per orang per tahun.8 juta per tahun per orang.500ribu per orang per tahun. kecelakaan. Akibatnya.98ribu per orang per tahun.2. Kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp.362 ribu per orang per tahun. Pecandu suntik mengakui lebih banyak terganggu aktivitasnya dibandingkan penyalahguna lainnya. diakui ada aktivitas yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak.514 ribu per orang per tahun. terkait urusan dengan aparat penegak hukum. Dibutuhkan paling tidak sebanyak Rp. kerugian biaya yang ditimbulkan sekitar Rp.2.Halaman | 20 Biaya satuan penanganan overdosis sekitar Rp. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan pecandu suntik. Sedangkan biaya pengobatan sendiri agar terbebas dari narkoba sekitar Rp.8 juta.4 juta per orang.7 juta per orang per tahun terkait dengan urusan penjara ini. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan kelompok penyalahguna lainnya. Biaya ini diukur dari orang lain yang menenami responden karena sakit. urusan dengan kepolisian.14 juta per orang per tahun.3 juta per orang. sedangkan teratur pakai hanya Rp.8. Biaya kerugian akibat waktu produktivitas yang hilang (loss productivity) akibat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. Kerugian biaya satuan detoksifikasi sekitar Rp. Biaya detoks dan rehab memiliki kisaran sekitar Rp. Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas di pecandu suntik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Biaya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Nilai waktu yang hilang dikonversi menjadi biaya kerugian dengan asumsi upah minimum regional per propinsi. Namun. terutama dikalangan penyalahguna suntik. dan penjara. Kerugian biaya produktivitas akibat sakit terdiri atas rawat jalan sebesar Rp. Demikian pula. Biaya satuan kejadian akibat kecelakaan sekitar Rp. Biaya untuk pengobatan sendiri untuk pecandu suntik lebih mahal. terutama barang yang diambil/dicuri di keluarganya. tahun 2008 . Para pecandu narkoba suntik lebih banyak mengeluarkan biaya overdosis dibandingkan penyalahguna lainnya. bila urusan telah sampai ke tingkat penjara maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar lagi.10. terutama dikalangan pecandu suntik mencapai Rp. detoks/rehab. Akibat pemakaian narkoba.203 ribu dan rawat inap Rp.8 juta.2.

maka biaya satuan konsumsi semakin besar.000 LSD 110.2juta) dan shabu sebesar Rp.000 PUTAU BUBUK 2.5.000 KECUBUNG 100.000 3.800 Pada kelompok pecandu bukan suntik biaya konsumsi narkoba kebanyakan dihabiskan untuk membeli subutek. Penyalahguna di Bali paling banyak mengeluarkan biaya pembelian putau bubuk dibandingkan propinsi lainnya.668. Biaya konsumsi narkoba per orang per tahun Biaya satuan median konsumsi narkoba diperkirakan sebesar Rp.000 HASHIS 37. dan ekstasi.5.500. Shabu hampir ditemukan di lokasi studi yang disurvei.Halaman | 21 yang dikeluarkan lebih besar ketika kejadiannya telah sampai di penjara dibandingkan ketika masih ditingkat kepolisian.500 7.000.000 3.400.2juta). dimana biaya yang harus dikeluarkan hampir 6 kali lipatnya.800 28.000 18.000 9.000 2.004 8.000 1. dimana pecandu suntik menghabiskan median biaya Rp. Tabel 4.800.920.1.1 juta per orang per tahun.450.000 1. putau bubuk hanya di temukan di Yogyakarta. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pada kelompok teratur pakai biaya terbesar dihabiskan untuk membeli putau bubuk (Rp.9.154 SHABU 1.000 1.000 METHADON 1.100.2 juta per tahun per orang.000 624. mencapai Rp.800. tahun 2008 .100.000 1.950ribu.800.000 INHALAN 24.000 28.200.000 1. Jenis narkoba yang juga banyak dibeli adalah putau bubuk.000 400.18 juta per orang per tahun.000 102.000 5. dibandingkan kelompok lainnya (teratur Rp.000 EKSTASI 1.860.800.742.000 1. Semakin berat tingkat kecanduan narkoba.009 18.000 1.800.9 juta per orang per tahun.100.000 1.000 840.000. 2009 (median) Pecandu Pecandu Jenis narkoba Teratur non Suntik Suntik Pecandu GANJA 180.000 BARBITURAT 60.000 1.000 5. Dikalangan teratur pakai.800.000 9. Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba.800. 5.330.000 1.000 1.000 1. shabu.750 6.225.4 juta per orang per tahun.000 606. shabu.20.500 600.000 PUTAU CAIR 1.600.000 3.000 100.470.885. pecandu bukan suntik Rp.800 28.450.600. Putau bubuk banyak di beli untuk dikonsumsi oleh para pecandu suntik. kecuali papua.800. dan heroin murni.000 SUBUTEK 9. dengan nilai median konsumsi Rp.440. Konsumsi subutek tertinggi ditemukan di Jawa Timur. Sedangkan jenis narkoba lain tidak terlalu besar transaksinya.4.000 600.000 HEROIN 50.800. kecuali subutek.000 KOKAIN 360.000 5.000.800.2.

yang terdiri dari Rp.6 25. yaitu sekitar Rp. sebagian besar (58%) adalah biaya konsumsi narkoba. ganja (15%). Diperkirakan hasil estimasi kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.4 penyalahguna narkoba.9 trilyun adalah biaya sosial. Gambar 1. biaya perawatan & pengobatan 20.0 konsumsi narkoba.4 trilyun pada tahun 2008.Halaman | 22 5.5 trilyun kerugian biaya pribadi (private) dan Rp. biaya untuk 5. biaya yang dikeluarkan karena dipenjara. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada 35. Biaya individual (private).5. Total biaya (dalam Trilyun Rp) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Biaya ekonomi yang dimaksud adalah biaya individual (private) dan biaya sosial.0 melakukan pengobatan sendiri 0. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2004 (Rp. dan ekstasi (13%).0 biaya bila terjadi overdosis. Jakarta. Potensial peredaran narkoba terbesar berada di Jawa Timur.26. 5. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004 (gambar 7. 10. istilah yang dipakai adalah biaya ekonomi.0 dalam upaya penghentian 2004 2008 narkoba.1).0 2004 karena sakit akibat narkoba. putau bubuk (15%). Yang 30. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). Jenis narkoba yang banyak diperjualbelikan dikalangan penyalahguna narkoba adalah shabu-shabu (36%). Definisi tersebut lebih merujuk pada definisi yang dibuat oleh Markandya dan Pearce (1989).11.5 trilyun pada tahun 2008. tahun 2008 .15. Dari semua komponen biaya prívate. kontribusi terbesar berasal dari biaya konsumsi narkoba.0 termasuk biaya ini adalah 23. Pada biaya private. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba Dalam konteks penghitungan estimasi kerugian biaya ini. biaya yang terjadi Tahun akibat kecelakaan lalu-lintas.0 biaya melakukan detoksifikasi & rehabilitasi.4 trilyun. biaya yang diperlukan terkait urusan ketika tertangkap pihak kepolisian karena narkoba.32. 26. Kecenderungan total kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2004 dan 2008 Total kerugian biaya individual akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.0 32. termasuk biaya konsumsi narkoba.3 trilyun). dan Jawa Tengah. 2008 15. biaya produktivitas yang hilang akibat pemakaian narkoba sehingga responden tidak bisa bekerja/sekolah. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada penyalahguna narkoba. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat. Jawa Barat.

953. Kontribusi biaya terbesar dari akibat kematian akibat narkoba (premature death) sebesar 48%.060.1 3.219. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 Dalam melakukan proyeksi untuk angka prevalensi. Untuk menghitung biaya satuannya digunakan pendekatan upah minimum regional (UMR) per propinsi.1 12.874.813.957.974 7.229.806 0.023 19.515.393.8 18.529.094. biaya hilangnya waktu produktivitas. tahun 2008 .123.6 81. ketika overdosis. dari 2008 sampai 2013.0 0.266 839.1. 6.743.127. Total kerugian biaya sosial diperkirakan sekitar Rp.654. Periode proyeksi dilakukan untuk 5 tahun ke depan. ketika detoksifikasi & rehabilitasi. yaitu dengan mengukur tingkat biaya produktivitas yang hilang (loss productivity) dari waktu & biaya dari orang lain tersebut akibat menemani atau menunggu responden.068 3.626 26. ketika terjadi kecelakaan ketika berurusan dengan pihak kepolisian. Dari aspek kerugian hilangnya waktu produktivitas proporsi terbesar akibat kecelakaan lalu lintas.199 % 47.2 2.1 1. yaitu biaya kriminalitas.4 23.2 0.682.005 100 trilyun di tahun 2008.464.489.443. dan biaya kematian karena narkoba.704.376.254 1.071. Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.423. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.602.477. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013 6. Tabel 5.9 Total kerugian ekonomi 32.337.Halaman | 23 Biaya sosial.243.416 188.275 59.1 0.450.0 2.715.574.997 8.4 0.714.912 22. maka sebagian besar biaya yang dikalkulasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang terkait dengan responden.471.165. ketika terjadi kematian akibat narkoba (premature death) dan tindakan kriminalitas.798. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.2 2.721.729. 2009 Komponen kerugian Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab pengobatan sendiri Kecelakaan tertangkap polisi Penjara aktivitas terganggu Total biaya private Loss productivity Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab Kecelakaan tertangkap polisi Penjara premature death tindak kriminalitas Total biaya sosial Total (Rp) 15.799 722. maka mempertimbangkan dua asumsi.620 45. 227.682.7 0.035.714.998 680. Dikarenakan studi ini menggunakan pendekatan perspektif klien.7 2.6 Biaya sosial secara garis besar dapat dipilah menjadi 3 bagian. ketika berurusan dengan pihak penjara.656.9 0. yaitu perkiraan pertumbuhan penduduk per tahunnya dan perkiraan kenaikan angka prevalensi penyalahguna per tahunnya.237 5.688.6 0.518.5.665 323.663.985.4 Secara detail komponen biaya sosial terdiri dari biaya produktivitas yang hilang karena menunggu responden sakit.532.453.734.063 882.813 252.

65 yang dibuat oleh UNODC. Detail hasil proyeksi angka penyalahguna narkoba dilihat pada tabel 7.93 0.com.41 1.009 2.94 0.24 1. angka kenaikan diperoleh dengan melihat selisih kenaikan persentase angka hasil survei pelajar/mahasiswa tahun 2003 (3.07 0. tahun 2008 .70 1. Selanjutnya angka prevalensi tersebut di kalkulasikan terhadap populasi penduduk menurut kelompoknya. dan pecandu (bukan suntik dan suntik).012 2.39 laporan World Drugs pecandu bukan suntik 0.02 1.36 0.9%) dengan angka survei pelajar/mahasiswa tahun 2006 (5. diperkirakan angka kenaikan narkoba dikalangan pelajar/mahasiswa per tahun sebesar 0.10 1. Asumsi proyeksi angka prevalensi untuk tahun-tahun berikutnya mempertimbangkan tingkat kenaikan angka penyalahguna per tahun menurut tiap kelompok dikurangi angka kematian. Diperkirakan jumlah current users diseluruh dunia tahun 2005/2006 ada sebanyak 200 juta orang.46x (dimana x.44 dengan World Drugs pecandu 0.06 0. Untuk proyeksi. maka diperkirakan tingkat pertumbuhan penyalahguna narkoba ada sebanyak 0.01 1.3%).13 Report 2006/2007 pecandu bukan suntik 0.19 2.07 pecandu suntik 0.87 0. Dengan demikian.98 pecandu suntik 0.33 8.82 5.47 per tahun. teratur pakai.39 0.datastatistik-indonesia.011 2.17 1.5 juta orang di tahun 2013.42 0.04 per tahun.52 1. Di kelompok pelajar/mahasiswa.58 1.02 1.07 (dipublikasikan 2007) teratur 0.008 2.55 4.15 0.23 0.47 + 0.28 0.41 0. Angka yang dibandingkan adalah angka penyalahguna setahun terakhir (current users).82 1.09 1.46 6. angka prevalensi penyalahguna dibagi menurut jenis penyalahguna.74 4. Selanjutnya.05 1.32 1.25 0.Halaman | 24 Perkiraan jumlah populasi penyalahguna narkoba.91 0. Data populasi yang dianalisis adalah populasi berisiko penyalahguna narkoba diasumsikan mereka berada pada kelompok umur 10-59 tahun.15 (dipublikasikan 2008) total 1.80 0.79 0.93 7.90 0.46 1.28 4. Demikian pula.06 0.38 0. Dengan fakta ini. Angka prevalensi penyalahguna narkoba.39 7. populasi pelajar/mahasiswa dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan y = -17.13 0.3 juta orang di tahun 2008. Data populasi pelajar/mahsiswa diperoleh dari Depdiknas (2006).85 0.31 membandingkan pecandu 1. Hasil perhitungan ditingkat populasi penyalahguna narkoba.06 0. Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba pada tabel 6.96 1. adalah tahun). Perkiraan jumlah populasi penduduk per tahun diperoleh dari pihak BPS & ANU yang dipublikasikan dalam www. 2008-2013 angka kenaikan 2. Di kelompok bukan Tabel 6. dan akan meningkat menjadi 4. data populasi tersebut dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa. Di setiap kelompok populasi. yaitu coba pakai.79 2005/2006 Kelompok Bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 0.013 prevalensi per tahun Kelompok pelajar/mahasiswa coba pakai 3.14 0.32 Report (WDR) total 6.97 1. Dari hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan nilai tengah maka jumlah penyalahguna narkoba ditaksir sekitar 3.13 0. dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba di tingkat populasi akan terjadi kenaikan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.86 8. Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna pelajar/mahasiswa narkoba di Indonesia.84 0.30 0.09 dengan teratur 1.35 1.94 2.010 2.14 0. sedangkan di tahun 2006/2007 meningkat menjadi sekitar 208 juta orang.06 2.27 0.07 0.01 4.

380 233.750 596.0 20.483 1.0 Biaya sosial K eru g ian Eko n o m i (T rilyu n R p ) 50.172 3.107.358.600.161. 2008-2013 2.057 Perkiraan jumlah bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 88.874 97.923 total 1.0 0.417 3.48 2.777.532 211.395 2.071.052 1.100 1. Sedangkan Irian Jawa Barat merupakan propinsi yang paling rendah tingkat potensial kerugian biaya ekonominya.958 196.929 teratur 894.654 1.372 1.2 48.57.0 43.936 pecandu suntik 236.512 228.647 228.718 1.532.997 658.734.737 1.8 8.644 253.658 1.765 1. sebesar 6% per tahun.688.248 total 2.441 1.490 pecandu 1.6 10.149.Halaman | 25 sekitar 28% dalam 5 tahun ke depan.3 38.0 trilyun di tahun 2013 (harga berlaku).309 teratur 538.578.189.3 26.436 1.686.120 1.812 317.974 1.1 7.0 40.016 1.5 30.366 1.007.192 67.255.034 1. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.030 207.009 855.606.805 274.082.396 1.250 1.6 34.166 113.470 2.551 53.826.2. Detail hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 7.909 4.012 1.017.905 72.355.72 2.327 107.921 1.433 pecandu suntik 187.081.81 2.455.583.943 1.0 8. Angka inflasi ini diaplikasikan terhadap seluruh biaya satuan setiap konsekuensi narkoba menurut provinsi.298 1.690 1.274.681 pecandu bukan suntik 1.704 296.868.636 1.027.045 265. Tabel 7 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.881.005.469 Total seluruh penyalahguna narkoba coba pakai 872. Proyeksi biaya satuan untuk lima tahun ke depan mempertimbangkan tingkat inflasi.875 197.773.0 2008 2009 2010 Tahun 2011 2012 2013 Hasil proyeksi kerugian biaya ekonomi untuk 2008-2013.268 2.56 2.524 1.843 1.218.480 pecandu 1.637 1.514 2.022 1.503 948.255 1.008 Perkiraan jumlah pelajar/mahasiswa coba pakai 784.595.459.452.984.013 1.604. Propinsi Jawa Timur diperkirakan memiliki potensial kerugian terbesar dibandingkan propinsi lainnya di Indonesia.32.090. Selanjutnya. Berdasarkan hasil kalkulasi diperkirakan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.426 250. Grafik 2 Proyeksi Biaya Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sampai tahun 2013 60.0 6.861 295.426 pecandu bukan suntik 165.814 217.0 Biaya individual 6.039 1.261 92.450 4.888 955.478.004.782.429 691.528.507 1.817 1.710 280. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba Perkiraan biaya satuan per setiap konsekuensi.045 2.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.154 1.896 102.923 240.455 1.503 pecandu suntik 48.535 1.336.010 929.89 6.766 626.321.011 1.527 total % terhadap total populasi 1.015 57.323.517.929 566.559 455.325 1.895 62.828 312.620 teratur 356.64 2.388.107 pecandu bukan suntik 1.011 pecandu 214.211 3.112.362.819 490.922 180.436.541 4. dari hasil perhitungan tersebut lalu dikalikan dengan jumlah populasi per provinsi per tahun (tabel 7).996 2.687.903 2. tahun 2008 .5 7.4 30.272 421.696 1.300 244.054 526.590.193.380.222.959 388.

dan Sulawesi Selatan. Bila pemerintah tidak serius dalam upaya penangangan dan penanggulangan narkoba ini maka potensial kerugian ekonomi yang terjadi akan jauh lebih besar lagi. dan kabupaten/kota.5% jumlah populasi penduduk Indonesia tahun 2008.1. Besaran angka ini setara dengan 1. 7. Ini dapat disinyalir dari begitu maraknya ditemukan berbagai pabrik racikan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba 7.Halaman | 26 Proyeksi ini menggunakan asumsi data normal. baik dari tingkat pusat. 2 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Dengan nilai omzet harga sitaan narkoba mencapai milyaran rupiah. sebesar 3. 2007).2 juta orang. tetapi juga mereka berani membuat pabrik narkoba di kompleks perumahan. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna Ada kenaikan angka prevalensi tahun 2004 ke 2008. karena angka kejadian (termasuk pengakuan menggunakan narkoba) yang dilaporkan melalui survei umumnya cenderung lebih rendah. UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia sekitar 4% dari tahun 2006 ke 2007.1 juta sampai 3. Kalimanta Timur.6 juta orang di Indonesia. Dengan demikian. yaitu adanya kenaikan angka prevalensi penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa dari 3. Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004. Pada tahun 2008. Tentunya. angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba yang didapat melalui berbagai survei kemungkinan lebih kecil dari angka yang sesunggguhnya. besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3. tetapi juga kecenderungan responden yang menutup diri terhadap perilaku yang dilarang atau memalukan. tahun 2008 . tidak hanya berskala besar2. Salah satu pabrik narkoba yang berhasil dibongkar diperkirakan nomor 3 terbesar di dunia untuk shabu dan ekstasi. propinsi. perkiraan jumlah penyalah-guna narkoba dengan mendasarkan pada sampel di kota di satu pihak dan survei di pihak yang lain akan saling menetralkan. Di beberapa propinsi terlihat juga potensial kerugian ekonomi yang relatif besar. seperti sebagian besar propinsi di Jawa. Mengingat survei rumah tangga tidak diseluruh provinsi maka basis data untuk memproporsikan ke seluruh provinsi di kelompok bukan pelajar/mahasiswa menggunakan dasar angka prevalensi pelajar/mahasiswa. Perlu dicatat bahwa perhitungan angka prevalensi yang digunakan untuk estimasi jumlah penyalahguna berasal dari survei pelajar/mahasiswa di 33 provinsi dan survei rumah tangga di 16 provinsi. Hal ini tidak saja karena faktor kelemahan mengingat kejadian dalam setahun terakhir.3% tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI. Sumatera Selatan. 2004) menjadi 5. Kiranya perlu ada upaya intervensi program yang lebih serius pada propinsi-propinsi tersebut. Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta.9% tahun 2003 (BNN & Pranata UI.

10. psikotripika 33%. Narkoba itu tidak sama dengan bagian Reskrim. Mereka ini pasar potensial dalam peredaran gelap narkoba. Berdasarkan hasil estimasi.848 gram (2001) melonjak menjadi 1.5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing. jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. Tapi kalau semakin aktif petugas menilang ya semakin tinggi. Pada masa ini tekanan begitu besar baik dari kelompok pergaulannya (peer group). Bahkan kampus sebagai tempat subur peredaran gelap narkoba.241. Dilihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai 2006 menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Hasil survei memperlihatkan bahwa usia pertama kali pakai narkoba pada usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa sekitar 4. rasa keinginantahuan atau coba-coba. Jadi begini. Sama dengan pelanggaran lalu lintas. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85. Hanya 0. Jadi sangat tergantung kepada tingkat aktivitas petugas.478 orang.907 tablet (2006). Ada beberapa fakta tentang ini. Heroin dari 16.6 hektar (2006).901 gram (2006). atau shabu dari 48. tahun 2008 .000 orang. ya nggak usah nilang.523 tablet (2001) menjadi 466. Dalam 6 tahun terakhir tersebut. serta ke-ego-an yang mendorong untuk pakai narkoba. Jadi kalau angkanya naik karena aktifitasnya seperti itu. Peredaran gelap narkoba Sasaran peredaran adalah pelajar/mahasiswa. dimana sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa. Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine. ada peristiwa kalau dicari. kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%.6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa.” (Pol-1. Kalau narkoba itu tidak ada yang melapor. meningkat tajam menjadi 16. besaran barang bukti tangkapan narkotika. Jadi angka yang ada itu karena aktifitas petugas. dan bahan adiktif 13%. Pihak kepolisian telah membuktikan adanya peningkatan peredaran narkoba. Ketiga. Jadi seperti itu narkoba.Halaman | 27 Fakta pengungkapan kasus dan tangkapan. dari sekitar 5. Desember 2006). misalkan ekstasi dari 90. Kalau mau angkanya turun ya nggak usah aktif.872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11. Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun.2. dan otoritas kampus membuat pihak kepolisian Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 7.000 tersangka pada tahun 2006. dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba.252 orang tahun 2006.9 juta orang di tahun 2008. ada peristiwa pidana. Jadi lalu lintas itu kalau tidak melihat orang melanggar.3. Jumlah pelajar/mahasiswa diperkirakan sebanyak 16.. “Kalau dilihat dari data selalu meningkat. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia.3. Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan. pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3. diperkirakan jumlah penyalahguna coba pakai sekitar 807 ribu sampai 938 ribu orang.642 gram (2001) menjadi 21.P3). Ini karena kampus sebagai tempat bertemu mahasiswa. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia.200 gram (2006).000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32. Kalau Reskrim itu tidur pun ada orang lapor. misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289. Kedua.

Konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba sangat komplek. demikian halnya dengan peredarannya. karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain. Peredaran narkoba tidak pernah berhenti. Modus operasi peredaran narkoba. dan karaoke karena efek yang ditimbulkan membuat penyalahguna selalu ingin bergerak energik. Jenis-jenis narkoba yang beredar di tempat hiburan disesuaikan dengan efek dari narkoba. Ekstasi banyak dikonsumsi di tempat hiburan seperti diskotik. bahkan 31% pernah menjual narkoba. bahkan disinyalir banyak bandar berwarganegara asing. dan hotel tempat transaksi shabu.Halaman | 28 tidak bisa bebas melakukan razia ataupun penggeledahan. sedangkan diskotik tempat transaksi piskotropika. Trus tinggal saya kode barangnya disimpan dimana. Menurut mereka efek dari pemakaian narkoba sangat berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang menjadi pecandu. kampus sering menjadi tempat transaksi ‘putaw’. Dari jenis narkoba. 2007). Saya tidak kenal orang itu. Sedangkan jenis shabu biasanya disalahgunakan di hotel-hotel atau tempat kos.P3). paling dengan memberikan alamat.3. Mereka yang menganggur. “Kalau selama itu teman. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba. Hal ini ditunjukan dari total responden ada sebanyak 52% mengaku pernah menawarkan narkoba kepada orang lain.10. Penyalahguna putaw lebih memilih tempat yang tenang dan sepi untuk pakai narkoba karena efek yang ditimbulkannya membuat orang menjadi gitting (ingin tenang dan berhalusinasi). Para bandar kelas kakap/besar adalah orang yang mempunyai modal besar. Modelnya nanti saya nongkrong di alamat tersebut. tahun 2008 . sms untuk ambil barangnya. Di sms BR ada dimana. Upaya memperluas jaringan penyalahguna seakan tiada henti. Sehingga dalam pengungkapan kasus seringkali hanya kurir-kurir yang tertangkap sedangkan para bandar narkoba tidak pernah diketahui keberadaannya. Dari hasil wawancara dengan beberapa orang asing (sebagian besar orang Nigeria) yang menjadi bandar di dalam LP narkoba diketahui bahwa orientasi mereka mengedarkan narkoba di Indonesia karena bisnis semata yaitu keuntungan yang besar. bar. Modelnya seperti itu” (BD-2. sehingga berapapun uang yang mereka miliki sudah pasti akan habis untuk membeli Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. sebaliknya penyalah-guna cenderung mereka yang memiliki uang dan tidak miskin (BNN & Puslitkes UI. Dahulu transaksi narkoba dengan cara bertemu langsung antara penjual dan pembeli dengan konsep ada uang ada barang.Tapi kalau orang lain. Hanya tinggal saya beli kartu perdana baru. Orang itu tidak kenal saya. Hampir semua bandar narkoba (khususnya orang asing). setelah saya terima uangnya. Dia akan saya sms. mereka yang miskin lebih mudah menjadi pengedar. SMS dengan no HP baru. Modus operandi kasus peredaran cenderung semakin canggih yang didukung peralatan teknologi modern. jarang ada yang pakai narkoba. Mereka membawa masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. Sekarang peredaran narkoba melalui telepon dan menggunakan kurir.2. Kondisi ini terjadi karena pengangguran dan kemudahan mendapatkan uang merupakan salah satu faktor yang mendorong peredaran narkoba.

dsb. kampung “F” di Bali. Tidak menutup kemungkinan ada oknum aparat yang menjadi backing. Mereka juga menggunakan kentongan yang terletak disetiap sudut tiang listrik sebagai penanda datangnya polisi. Keberadaan lokasi tersebut dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. Daerah ini mempunyai banyak sungai dan rumah2 yang dibangun diatas sungai. Masyarakat membela dan melindungi para bandar/pengedar dari petugas. Lokasi wilayah tersebut berada dipemukiman padat penduduk dan pusat keramaian. Terlebih sebagian besar napi di lapas diperbolehkan memegang uang. sedangkan bandar/pengedar memberikan bantuan uang kepada masyarakat setempat. Dengan kondisi demikian seringkali petugas mengalami kesulitan untuk menangkap bandar/pengedar. Di tempat itu.6. seolah telah terbentuk kerjasama saling menguntungkan.01. keterlibatan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam penjara masih sangat mungkin. karena letak lapas rata-rata di dalam kota dan tidak terpapar langsung dengan petugas kepolisian.3. Pendapat senada disampaikan informan dari kepolisian. di daerah-daerah semacam itu sangat sulit dilakukan razia narkoba. Juga disediakan tempat untuk mengkonsumsinya agar pembeli tidak perlu pulang dengan membawa barang bukti. Berbagai tanda atau kode akan mereka bunyikan sehingga semua bandar/pengedar dan penyalahguna sudah bisa mengantisipasi kedatangan petugas. daerah “B” di Pontianak. tahun 2008 . Kondisi itu menimbulkan permintaan (demand) terhadap narkoba menjadi tinggi di lapas. Sering terjadi perlawanan dari masyarakat setempat terhadap beberapa aparat yang ingin melakukan razia. Di wilayah semacam itu sudah terbentuk jaringan peredaran narkoba yang kuat.Halaman | 29 narkoba. sehingga jika polisi melakukan razia mereka akan menceburkan diri ke sungai sebagai usaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi. tapi hanya sedikit saja” (BD-3.3. “Pemakai tinggal datang ke “B”. Besarnya permintaan (demand) dari penyalahguna narkoba di Indonesia menjadi lahan empuk bagi sindikat-sindikat narkoba internasional. Akses narkoba di dalam penjara sangat mungkin. penyalahguna lebih nyaman dan aman untuk membeli dan memakai langsung narkobanya.waktu pulang pun pemakai juga dijaga. Ditambahkan.01.3. Narkoba di Penjara. Adanya kantong peredaran narkoba. Dibeberapa lokasi studi ada wilayah yang menjadi kantong-kantong peredaran narkoba. Dari tempat tersebut tidak jarang para bandar dari luar daerah mengambil narkoba untuk diedarkan di daerah lainnya. “Kampung “B” dikenal sebagai kampung narkoba karena banyak transaksi yang dilakukan secara rapi. Alasan lain. Ada beberapa yg memilih untuk membawa pulang. misalnya kampung “B” di Jakarta. di lapas narkoba seringkali napi mengalami sakaw. sehingga lapas menjadi tempat potensial mengedarkan narkoba. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Kadang-kadang mereka cukup berkumpul dan berteriak ” maling” untuk mengusir polisi secara beramai-ramai” (Pol-2. Bahkan para bandar/pengedar sudah bisa diterima keberadaannya oleh masyarakat setempat.P5). Biasanya lapas yang sering terjadi kasus peredaran narkoba bila jumlah napinya sudah melebihi kapasitas yang ada. Penjara tidak lepas dari peredaran narkoba.P12).

modus penyelundupan narkoba ke dalam lapas dengan cara di lempar ke dalam lapas melalui media bola tenis atau dibungkus dengan kantong plastik. “Saya pengalaman beberapa kali nangkap kadang-kadang diterusin mungkin tiga atau satu segala macam diterusin sampai ditindaklanjutin. sandal atau sepatu yang sudah dimodifikasi. paling sedikit tuh 11 gram. saya baru pertama kali datang kesini tanggal 17 maret saya razia dapat barang bukti macam-macam sudah dapat eh sampai sekarang tidak ada beritanya. Bahkan sempat diperoleh informasi ada sebagian petugas lapas yang menyewakan pemakaian handphone kepada napi di dalam lapas. Harga ¼ gram tahun sekarang 300. bahkan ada juga yang dimasukkan ke dalam vagina. kalau paketan kecil jadi 7 paket masing-masing dijual Rp 100. Menurut informan. Dan pegawai saya menangkap dia. softex. tetapi yang paling mudah adalah antar kamar melalui petugas kebersihan lapas yang bisa dijadikan perantara/kurir. Satu hal yang sangat mengecawakan. di sel.P8). Beberapa cara tersebut bisa lolos dari pemeriksaan petugas lapas karena sampai saat ini sistem pemeriksaan masih manual. terkadang sudah dilakukan razia di dalam lapas dan terbukti ditemukan beberapa barang bukti tetapi tidak ada proses lebih lanjut. Tidak jarang seorang bandar narkoba di dalam lapas masih bisa mengendalikan peredaran narkoba baik di dalam atau di luar lapas secara langsung melalui handphone. “Kalau putaw gua dikirim sih. Beberapa tahun lalu.4.10. Banyak cara menyelundupkan narkoba ke dalam lapas.Halaman | 30 Sistem pengamanan dan upaya preventif yang dilakukan di dalam lapas seringkali terkendala tindak lanjutnya. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pola pendistribusian barang kemungkinan bisa antar blok. Ada juga melalui keluarga atau teman yang mengunjungi napi ataupun diselundupkan melalui petugas lapas sendiri. tidak mungkin lagi” (LP-2.3. Pada waktu melakukan pengambilan data di lapangan terlihat jelas bahwa beberapa orang napi bebas memakai handphone di dalam lapas. karena alasan situasi dan kondisi tertentu kasus yang sempat diungkap sepertinya dilupakan dan barang bukti yang ditemukan juga hilang begitu saja. Itu dari anak dalem juga. belum semua lapas punya alat detektor sehingga banyak narkoba yang tidak bisa teridentifikasi oleh petugas..3..P10).01.” (LP-4. Berarti ini suatu model cara lain untuk mereka masukan narkoba itu lewat pegawai tidak ada lagi.1. “Tahun 2006 pernah dilakukan razia oleh Sat Brimob dan Kepolisian.P10). ditemukan 19 paket shabu” (LP3. Dari dulu sampe sekarang masih seperti itu dapat putaw.P11). Modus baru sekarang melalui beberapa cara seperti dimasukkan ke dalam bra.2. tahun 2008 .08.000” (BD1.4. Pernah diketemukan usaha penyelundupan narkoba melalui bantal dan kue. “Tapi bukti yang kemarin itu masuk lewat lempar.3.4.06.000.

13/12/2008).3. yaitu di apartemen Mediterania. Bahkan kelompok jaringan ini telah mendistribusikan sebanyak 30 kilogram heroin dalam 5 bulan terakhir dengan nilai sekitar Rp.4. Perumahan Taman Ratu.42 milyar (Kompas Online. Pabrikan narkoba telah berada dilingkungan perumahan. tahun 2008 . Jakarta Pusat (Kompas Online. Tangerang. Ini mengindikasikan sudah begitu maraknya perdagangan narkoba di Indonesia. dan di daerah Pasar Baru. Berbagai pabrik shabu dan ekstasi juga berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian. Tidak sedikit yang melibatkan warganegara lain. putau (15%).119 kilogram heroin. 7. seperti Nigeria atau Malasyia (Kompas Online. Menarik jika mengkaji pengungkapan kasus narkoba akhir-akhir ini oleh pihak kepolisian. pabrik ekstasi/shabu yang diungkap kasusnya dibangun di daerah pinggir kota (Bogor. Jenis narkoba yang memberikan nilai peredaran rupiah terbesar adalah shabu (36%). 30/6/2008). Demikian juga pabrik ekstasi yang berhasil digerebek di salah satu apartemen dengan nilai sekitar Rp. Jakarta Barat (Kompas.Halaman | 31 7. termasuk dari jaringan internasional. 13/12/2008).15. Sebuah omzet perdagangan yang luar biasa besar bagi sebuah produk. Ini mengindikasikan bahwa para bandar berupaya mendekatkan akses dan mencoba menyingkirkan pola yang ada. dengan cara menggunakan rekening pacarnya untuk menampung uang-uang haram hasil penjualan narkoba (Kompas online. 12/01/2009). Total nilai perdagangan narkoba diperkirakan sebesar Rp. Pabrik shabu dan ekstasi ternyata sudah berada di lingkungan perumahan. Jakarta Barat (Kompas. 22/11/2008). Tidak heran.868 yang tersebar di 194 kabupaten/kota di 32 propinsi. Padahal sebelumnya. 22/11/2008).18. sehingga pihak kepolisian atau masyarakat sekitar tidak menyadari keberadaan pabrik shabu/ekstasi tersebut. dan Serang). Dengan cara penularan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 25/02/2008) atau menyuruh kurir narkoba dari balik penjara (Kompas online. ganja (15%) dan ekstasi (13%) di tahun 2008. Dengan fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia sangat marak.3 miliar (Kompas Online. Bahkan salah satu pabrik shabu dapat memproduksi 100 kilogram shabu-shabu dengan teknik produksi terbaru yang meenggunakan bahan-bahan yang lebih membahayakan bagi manusia (Kompas Online. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi Risiko penularan berbagai penyakit. 28/11/2008). jumlah kumulatif kasus AIDS ada sebanyak 11. ini merupakan kasus heroin terbesar sepanjang 2008. Tidak menutup kemungkinan yang mengendalikan perputaran bisnis narkoba tersebut dari balik jeruji besi. Menurut laporan triwulan kasus HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan (per April 2008). Perdagangan narkoba Nilai omzet perdagangan narkoba di Indonesia. Ini terbukti dari terungkapnya jaringan heroin asal Afganistan di Indonesia.4 trilyun. 28/10/2008). Dengan total barang bukti sebanyak 6. banyak pihak yang tergiur untuk bisa masuk ke bisnis ini.

dan dermatitis generalisata (1008).Itu sehari pemakaian putau gua aja belum cimengnya. tahun 2008 .kalau tidak barang gua ambilin uang sekolah gua pake juga” (PN-5. Pecandu suntik berisiko tertular berbagai pernyakit. beli bedak.P4). dan 34% TB. jadi gua mikir mending ada bahan gitu. Kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit. Untuk pemakaian putau gua sehari itu gua beli masih ada paketannya 20(rb).1. Ketiga.teman-teman gua speak-speakin.1. 37% Hepatitis-C. kandidiasis orofaringeal (3769). Dengan demikian. Dari diagnosis keluhan. 7.dari cewe gua kibulin. yang bertujuan menemui pengguna ’dimana mereka berada’. membantu berbagai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pertama. kecuali bila bersedia berhenti. dan homoseksual (4%). Ada sebanyak 14% yang melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex Pengurangan bahaya (harm reduction) adalah sekumpulan rencana praktis. Heteroseksual (43%). sehingga tambahan harus menanggung beban keluarga menjadi semakin berat. penggunaan jarum suntik & semprit bekas dan perilaku hubungan seks berisiko. diare kronis (3834).08. diperkirakan sekitar 33% HIV/AIDS. termasuk HIV&AIDS di kalangan pecandu suntik lebih besar dibanding kelompok penyalahguna narkoba lainnya. akan menanggung beban biaya akibat sakit. seperti hepatitis.P9).jadi dapat uangnya entah dari mana aja. ada sekitar 76% yang mengaku mengalami keluhan kesehatannya.Halaman | 32 terbanyak melalui penyalahguna narkoba suntik atau injecting drug users/IDU (49%). terutama laki-laki. Beban biaya ekonomi pecandu suntik lebih berat. Jadi satu hari itu hampir 150rb kali satu bulan (30 hari) jadi sekitar satu koma limaan.02. Beban ekonomi pecandu suntik jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. mereka ini sebagai agen percepatan penularan berbagai penyakit ke orang lain bila tidak dilakukan penanganan secara tepat.3. TB.itu gaji kaya orang kerjaan. Jadi daripada gua beli baju.5.4. dimana hanya 9% yang selalu pakai kondom. Hasil survei menunjukkan 72% pecandu suntik pernah bertukar jarum suntik atau pakai jarum bekas orang lain. itupun bila pasien tersebut memiliki kartu jamkesmas atau kartu miskin. dan HIV/AIDS melalui dua jalur yaitu. “kelas tiga SMIP gua udah selesai karena barang-barang rumah udah habis gua jualin semua dikamar gua tinggal kasur aja. Kecuali beban biaya sakit. beli pelembab apa hand body gua gak mau! Mending nyimpen bahan (putaw)” (PN-1. Dengan infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (6367). “Semua penghasilan untuk beli barang (istilah untuk putaw). masih harus membeli konsumsi narkoba. Pecandu suntik yang masih aktif hubungan seks setahun terakhir ada 76%. Bahkan sekitar 3 dari 4 responden mengaku punya keluhan masalah kesehatan. sekitar 1 dari 4 pecandu suntik telah berkeluarga. gua pakau itu sehari 7-8x. Ironisnya. untuk menutup biaya-biaya tersebut kemungkinan besar melakukan tindak kriminalitas. Kedua. Karena gua udah gak pernah beli baju.

tahun 2008 . Ada yang hanya pakai kartu pendaftaran. Pertama. Dilapangan program ini lebih mengedepankan aspek bisnisnya. yaitu methadon dan subutex.Halaman | 33 bahaya/kerugian terkait dengan penggunaan narkoba (Sucahya. Penyimpangannya yang terlihat adalah cara pakai dan prosedur mendapatkan kedua zat tersebut. Bahkan subutex adalah jenis zat ke-2 setelah putau yang disuntikkan ke dalam tubuh. karena tidak ada yang bertanggungjawab siapa sebenarnya yang seharusnya melakukan pengawasan melekat tersebut terutama program subutex. Kondisi semakin runyam karena tidak ada pengawasan dari instansi terkait. P. Disinilah para penyalahguna memanfaatkan celah tersebut. Faktanya. subutex diberikan oleh dokter yang telah memiliki lisensi untuk beberapa dokter saja di satu kota. Sayangnya untuk dua program terakhir. Ada uang maka ada barang. baik dari sisi jumlah maupun dosisnya. selanjutnya membeli langsung ke perawatnya.K. paling tidak masih bisa mengurangi rasa sakaw 3 Sucahya P. bukan upaya pengurangan risiko. Trik yang dilakukan pengguna untuk mengelabui petugas untuk layanan methadon adalah tidak langsung meminumnya. banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program di lapangan. penjangkauan masyarakat. serta pelaksana program yang menutup mata dan tidak peduli dalam implementasinya. pengobatan kecanduan. Yogyakarta: PSKK UGM & Ford Foundation. April 2001 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Memahami Kebutuhan Aktor dan Pengguna Narkotika Suntik. lalu resep tersebut ditebus di kliniknya. Sari K. dkk. tetapi di tahan dulu di mulut/kerongkongan. Program lainnya. Lalu.. tetapi tidak bisa berbuat banyak. terutama untuk layanan subutex. Hasil survey menunjukkan sebanyak 42% pecandu suntik memakai subutex dengan cara disuntikkan setahun terakhir. Sistem ini yang membuat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) marah. Prosedurnya subutex harus diberikan oleh dokter dengan dipantaui secara ketat untuk pemberian dosisnya. Jenis zat yang disuntikan subutek nomor 2 terbesar. Siagian F. Bagi para pecandu putaw di beberapa kota sudah banyak yang mengakses metadon dan subutex sebagai substitusi dari ketergantungan terhadap putaw. ternyata kedua zat tersebut disuntikkan. selanjutnya disuntikkan. Ada kesalahan prosedur implementasi program. Prosedur mendapatkan kedua zat tersebut sebenarnya telah ada protokolnya tetapi seringkali para pecandu suntik jauh lebih cerdik daripada petugas. segera keluar ruangan untuk menampung methadon tersebut di wadah.. Cara pakai metadon seharusnya diminum dihadapan petugas. 2001)3 . Tidak ada batasan berapa banyak jumlah yang dibeli. methadone dan subutex. sedangkan subutex seharusnya di taruh dibawah lidah. Meskipun bagi sebagian penyalahguna putaw mengaku bahwa reaksi metadon dan subutex tidak senikmat putaw. Ada dokter yang hanya memberikan resep untuk beberapa hari. penjualan alat suntik di toko-toko. program pertukaran jarum suntik. Pembenahan prosedur perlu dilakukan khususnya layanan subutex. Kartu pendaftaran tersebut disewakan kepada penyalahguna lain atau mereka patungan membelinya atas nama pemilik kartu. jadi konsultasi hanya 1 kali. Program pengurangan bahaya yang efektif bagi pecandu suntik agar berhasil harus mencakup kegiatan berikut: program pendidikan. disetiap kota berbeda-beda. dan program pemutih.

tidak sedikit oknum penegak hukum khususnya anggota polisi/TNI terlibat sebagai backing dan penyalahguna. tahun 2008 . 22 tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. subutex ini dibeli dari seorang dokter di Jakarta” (PN-1. Sangsi hukum tentang penyalahgunaan narkoba dan psikotropika di Indonesia cukup berat. Selain terlibat dalam penyelewengan wewenang dalam penanganan kasus narkoba.P1). Penyalahguna narkoba yang membayar para aparat penegak hukum. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. “Putaw dulu masih ada yang harga 25 ribuan sekarang cari yang 50 aja uda susah. Aparat penegak hukum mem-backing para bandar. Posisi tawar (bergaining position) seorang aparat penegak hukum sangat kuat untuk menentukan berapa besar uang yang harus dibayar oleh seorang tersangka agar terbebas dari jeratan hukum. Satu hal yang mudah dilihat adalah setiap akan ada razia di beberapa diskotik. Hasil survei menunjukkan sebanyak 6% penyalahguna pernah tertangkap polisi dan lebih dari separuhnya (67%) mengaku mengeluarkan sejumlah uang kepada polisi supaya terbebas dari kasus yang menjeratnya. putaw sekarang gak terlalu rame. harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan urusan di penjara.Halaman | 34 terhadap putaw. Pembenahan aparat penegak hukum Ditengah upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulan narkoba. Sebagian besar keterlibatan mereka adalah sebagai backing di beberapa tempat hiburan seperti di diskotik. Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit aparat kepolisian/TNI yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Dengan kenyataan hukum yang sedemikian berat. Sekarang kalau mau dapat cukup banyak beli putaw yang 75 ribuan. Demikian halnya dengan penyalahguna yang pernah dipenjara dalam setahun terakhir (3%). 7. mengolah atau menyediakan narkotika golongan satu bisa dihukum mati atau dengan pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam UU No. tidak jarang seorang tersangka lebih memilih melakukan kolusi dengan penegak hukum untuk bisa terlepas dari jeratan hukum. tapi inilah realita yang sering diketemukan di lapangan. Fakta ini suatu hal yang memprihatinkan bagi aparat penegak hukum.08.6. yaitu bagi seseorang yang memproduksi. Kondisi peredaran putaw sekarang sama dulu sudah beda. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tidak jarang terjadi kasus kolusi dan nepotisme dalam penanganan kasus oleh oknum penegak hukum. Alasan lain adalah pemakaian metadon dan subutex lebih aman karena legal dan harganya juga jauh lebih murah. Saat ini banyak beredar subutex yang dijual ilegal.2.2. Keadaan ini membuka peluang bagi oknum aparat penegak hukum untuk menyelewengkan tugas dan jabatan dengan melakukan kolusi dengan tersangka kasus narkoba. biasanya pengelola tempat hiburan ataupun bandar yang ada sudah diberi informasi terlebih dahulu sehingga pada waktu razia cenderung tidak diketemukan peredaran narkoba di tempat tersebut.

jujur aja.. Bila akan ada operasi penangkapan terhadap bandar.aku itu mbak sudah target tembak dada.. terjadi pemutaran disitu yang dinamakan pemutaran Bandar.. Menurut informan. sebentar lagi ada yang mau grebek. ternyata separuh dari modalnya berasal dari oknum tersebut. “.3. Namun. Para bandar cenderung lebih aman karena mereka memberikan uang setoran secara rutin dalam jumlah cukup besar kepada beberapa oknum polisi. Menurut beberapa bandar yang banyak ditangkap oleh polisi adalah para pembeli/ penyalahguna... .. tidak ada polisi yang menjadi bandar. Menurut informan.target tembak mati. misal ada pengrebekan.P7). yang ngebeking dia bisa kuat. Selain mengedarkan di sekitar terminal.bakal terjadi ni.... tahun 2008 ..cuma karena waktu itu mungkin mukzizat Tuhan ya. oknum polisi tersebut juga menjadi pensuplai narkoba ke dalam lapas yang bekerja sama dengan seorang petugas lapas.3. maka oknum polisi tersebut akan memberikan informasi dan menyarankan kepada bandar mencari kambing hitam sebagai ganti obyek penangkapan.. Untuk membuktikan seorang oknum sebagai backing atau bandar sangat sulit.P7). setengah jam dari itu sudah kosong” (BD-4. kalau saya kira.. Salah seorang bandar menyatakan meskipun selama ini sudah membayar/memberikan setoran pada polisi.. dengan wilayah peredaran di salah satu terminal induk di kota tersebut. Menurut informan kepolisian sebagian besar oknum yang terlibat adalah sebagai pemakai.11. Pernyataan bandar tersebut. padahal modal juga mungkin bisa fifty-ffty karena sekarang sistimnya kalau tidak di backing enggak akan jalan bandar itu karena bisa ditangkap. saat ini informan telah menjadi target tembak mati. tanpa ada barang bukti yang ditemukan.15.. mereka kasih informasi ke aku kalau aku harus hati-hati karena sudah di incar polisi. Oknum polisi yang ditangkap kasus narkoba berdasarkan hasil tes urinenya positif. tapi untuk backing itu ada.jadi kadang-kadang..” (BD-8.Halaman | 35 “kalau diskotik itu pasti ada backing-nya. Dengan adanya kerjasama dengan oknum polisi sebenarnya posisi bandar lebih aman dibandingkan tidak ada backing. semua strategi peredaran narkoba dikendalikan oleh bandar. Meskipun demikian oknum polisi tersebut selalu memantu situasi dan kondisi. diakui oleh informasi dari pihak kepolisian bahwa ada oknum penegak hukum yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. pada waktu tertentu saja akan meminta setoran. kadang aku kesal karena banyak polisi yang udah aku bayar. ditemukan ada oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan informan (bandar). ada sih. yang mempunyai pengalaman bisnis narkoba dengan oknum polisi.P7).dia tak semata-mata hanya backing. Bandarnya tetap jalan. polisinya yang menyarankan mencari kambing hitam..2. (BD-6. Menurut Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Bahkan menurut informasi dari seorang polisi.. tetapi tetap saja masih menjadi target operasi. Dilapangan.05. Jenis narkoba yang diedarkan shabu dan ekstasi. Biasanya kalau mau ditangkap. Peran oknum tersebut hanya di belakang layar. alasan oknum tersebut terlibat bisnis narkoba karena gaji bulanan yang diterimanya masih belum mencukupi.... “. bukan sebagai bandar.3. sudah dicalling duluan.2.. tidak semua bandar merasa nyaman mempunyai backing oknum polisi. mereka masih ngancam aku.3.

yang kedua mereka takut sekali ketemu sama polisi dan polisi itu langsung menangkap langsung diringkus” (BD-5. ya susah. susah banget. Berbeda dengan era tahun sebelum tahun 1997.5. ga suka sama orang kan bisa saja. tes urin. Jumlah tangkapan kasus narkoba oleh aparat kepolisian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kondisi ini menyebabkan harga narkoba menjadi jauh lebih mahal.P9). demikian juga anggota TNI akan diproses oleh POM sesuai matra. Kalau narkoba terutama buktinya pak. penentuan tempat dan cara transaksi sekarang perlu sangat hati-hati. Telah ada upaya penegakan hukum secara serius.P11).2. seringkali terjadi fitnah terhadap aparat penegak hukum dikatakan terlibat sebagai backing atau bandar tetapi sulit untuk dibuktikan. “Kalau terbukti. Menurut beberapa informan bandar tidak sedikit oknum penegak hukum terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. kalo butuh barang tinggal bilang sama yang diatas barang langsung dikirim. tapi belum punya bukti ya susah juga kita buktikan. beberapa tahun terakhir oknum yang terlibat semakin berkurang.11. Ga segampang dulu” (BD5. meskipun sudah banyak informasi. hal ini dapat terjadi karena adanya program intensif dari BNN dan kepolisian dalam melakukan razia narkoba di beberapa tempat. tes urin nya. Kita nangkap orang ga ada bukti.P11). “Lebih sulit Pertama itu barangnya yang dibutuhkan itu saling menyembunyikan untuk menaikkan harga. dimana para bandar dapat mengidentifikasi banyak oknum yang terlibat. Walaupun ada informasi dia di backingan sama anggota polisi si A. Kalau dia jadi backing.3. ya kita periksa juga dia. Beberapa tahun lalu. gak main-main pimpinan kita. Di geledah dirumah atau di badan” (Pol6. Fitnah bisa saja pak.3. Penanganan kasus akan diserahkan ke atasan masing-masing. kita kan harus tes dulu dong. kita geledah rumahnya sesuai informasi itu pak ya. Penjatuhan sangsi hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan di lapangan.5. Apalagi jaman-jaman waktu kapolri yang sekarang baru dilantik (Sutanto). “Jelas ada banget mas. kalo dulu mudah untuk transaksi. Bahkan. bahkan ada juga oknum dari Polda yang mengirim secara langsung barang tersebut kepada bandar. Namun. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi para bandar untuk mengedarkan narkoba. ya negatif.14.14. tahun 2008 . Ini menunjukkan meningkatnya kinerja kepolisian dalam melakukan razia. tetapi sekarang selalu ada jeda waktu. Propam Mabes Polri telah mencatat dan menindak 49 anggotanya yang terlibat Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Diantara para informan ada yang mengaku pernah mengambil barang/narkoba di Polda.3. Bagi oknum yang sering terlibat kasus atau kasusnya berat akan dilakukan pemecatan secara tidak hormat. Sampai akhir November 2008.Halaman | 36 informan dari kepolisian. Dahulu tindakan aparat kepolisian lebih longgar dan tidak seketat tahun sekarang. dari Kapolri sampai Kapolda kebijaksanaan gak main-main. Bagi oknum penegak hukum yang terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba akan ditindak tegas oleh masing-masing pimpinan. Kalau dia gak ada bukti ya susah pak. Menurut para bandar. Peredaran narkoba dalam 5 tahun terakhir ini lebih sulit dibanding beberapa tahun sebelumnya. Kita kan semua kasus harus ada bukti dan saksi. Sekarang agak susah ada tenggang waktunya antara minta barang dengan datangnya barang. cukup telepon lalu barang langsung dikirim.

Apalagi sasaran utama peredaran narkoba adalah generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. mengingat aparat penegak hukum yang seharusnya berada pada garda terdepan ternyata banyak oknum yang bermain. Materi bersifat interaktif dengan penekanan pada life skill education (LSE). Atas dasar itu. minimal besaran kerugian seperti angka perhitungan proyeksi. maka perlu dukungan modul pengajaran. Pelajar/mahasiswa menjadi target sasaran peredaran narkoba. edukasi. kejadian sakit. Upaya yang dapat dilakukan pihak BNN melakukan kerja sama dengan Departemen Pendidikan (Diknas) dan Departemen Agama (Depag) di dalam memberikan komunikasi. dan sebagainya tidak dihitung dalam studi ini. namun fakta lapangan menunjukan masih terjadi penyimpangan. 3) Decision Making. kemampuan pelajar/mahasiswa bisa membuat keputusan yang benar terkait dengan halhal positif di dalam hidupnya. Upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba akan semakin tersendat. Kerugian biaya yang terjadi dalam perhitungan studi ini sebenarnya jauh lebih besar karena adanya keterbatasan metodologi dan ketersediaan data. kemampuan komunikasi pelajar/mahasiswa bisa berbicara tentang narkoba dengan kelompok sebaya. dan upaya menekan dampak buruk narkoba tidak akan berhasil. Untuk bisa diimplementasikan. bahkan kematian. biaya pendidikan.Halaman | 37 narkoba. dan mereka yang telah menjadi pecandu mengakibatkan adanya konsekuensi akibat narkoba yang besar. 2) Assertivenes. kemampuan pelajar/mahasiswa untuk bisa mempunyai ketahanan diri yang kuat sehingga bisa mengatakan ”tidak untuk narkoba”. Kesimpulan & Rekomendasi Temuan studi ini menyimpulkan adanya kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. orang tua dan kelompok masyarakat lainnya. dan informasi (KIE) yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran wajib bagi pelajar/mahasiswa atau melalui ekstrakulikuler. Walaupun saat ini telah ada tindakan nyata dilapangan. termasuk tidak menggunakan narkoba. maka rekomendasi yang disampaikan adalah: Strategi Pencegahan • Strategi ini di fokuskan pada kelompok pelajar/mahasiswa. Jumlah ini terbilang sangat banyak bila dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 21 orang (Kompas. mengingat kelompok ini menjadi sasaran utama para bandar/pengedar untuk mencari penyalahguna baru (coba pakai). guru. BNN dan instansi terkait perlu menyiapkan modul ini yang menekankan pada 3 aspek. 8. kecelakaan. tentu Negara ini akan memikul beban kerugian yang semakin besar. seperti tindakan kriminalitas. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. yaitu 1) communication. tahun 2008 . 1/12/2008). misalkan komponen biaya membesarkan anak. biaya kerusakan fasilitas umum akibat penyalahguna. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi.

menjalin kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan program bersama dengan KPAN. Kinerja yang baik sangat ditentukan dari program dan aktivitas yang dilaksanakan oleh institusi tersebut. • Strategi Supply reduction • Peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia semakin marak. Upaya Komunikasi. Misalkan. seperti yang telah dilaksanakan selama ini melalui berbagai media yang ada. termasuk pembagian peran dan tanggungjawab institusi. Informasi (KIE) secara lebih luas harus tetap dilanjutkan. Nampaknya program ini perlu dikaji dan ditata ulang terkait implementasi dilapangan terjadi penyelewengan prosedur. dan diisi dengan program dan aktivitas yang dikembangkan secara bersama-sama antara pihak institusi terkait. dan dapat menjadi percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. Depkes. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. baik yang sifatnya internal maupun eksternal. termasuk adanya dukungan dana. Perlu program dan intervensi yang lebih serius pada kelompok ini. Ide awal program ini sebagai substitusi para penyalahguna pecandu suntik heroin ke subutex agar pecandu tidak menyuntik lagi. Jika diperlukan didirikan semacam posko anti narkoba di setiap universitas. Aparat penegak hukum • Melakukan pengawasan yang lebih melekat. BNN dan Kepolisian perlu melakukan advokasi kepada pemerintah terkait hal ini. Untuk itu. Pengawasan internal melalui mekanisme yang telah ada selama ini. Subutex diperkirakan akan naik daun dalam beberapa tahun ke depan. BNN perlu mengembangkan program-program ke arah akar rumput (grass root) yang bersetuhan secara langsung dengan para IDU. Polisi & BNN perlu melakukan inspeksi mendadak dan membongkar jaringan narkoba di penjara. tahun 2008 . Strategi Mengurangi Permintaan • Dampak dari para pecandu suntik sangat besar. serta penyakit lainnya. mereka yang bukan pecandu suntik akan banyak yang mengkonsumsi subutex dan kecenderungan ke arah sudah ada dilapangan. dan LSM. sedangkan pengawasan eksternal adalah pengaduan dari pihak masyarakat melalui kotak pos/pengaduan khusus. Beberapa fakta menunjukan adanya peran bandar dalam mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Edukasi. Bila tidak ditangani segera dikawatirkan. BNN diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam mengkaji ulang program tersebut bersamasama pihak KPAN dan Depkes.Halaman | 38 • • Dalam upaya untuk memproteksi kampus menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. dilihat dari besarnya kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian & BNN. pihak BNN harus melakukan koordinasi dengan pihak universitas melalui rektorat maupun senat mahasiswa.

tahun 2008 . termasuk melakukan sistem monitoring selama terpidana di penjara. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Halaman | 39 • Membuat tim khusus yang mengawal dan menjaga setiap kasus narkoba yang telah berhasil diungkap mulai dari tahap penangkapan sampai diputuskan vonisnya ke dalam penjara.

D.M.S. and Heckathorn. Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2005/2006.S. C.A. H. Hughes JJ.. L. Depok: Puslitkes UI. D. K. The economic and social costs of Class A drug use in England and Wales 2003/2004. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia Tahun 2006. Stuid Baiaya Ekonomi dan Sosial Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2004.J. No. R. S. (1991). and Des Jarlais. Section 3: Translating Research Into Practice Collins.. Vol.. Depkdiknas. Broadhead. L. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba. AIDS prevention outreach among injection drug users: Agency problems and new approaches.. R. AIDS and social networks: Prevention through network mobilization. 32. Mills. http://www. Weakliem. D. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. Godfrey..com/resourceTOC. 42–57. Deriving population estimates from Chain-referral samples of hidden populations. D. Anthony. Nemeth. L. and Lapsley. alcohol and illicit drug abuse to Australian society in 2004/2005 Collins. J. D.M. H. R.respondentdrivensampling.J. 2007. tahun 2008 . BNN & Puslitkes UI. Sabin. 15.W. S.. R. Ed. Azim. The Effectiveness of Respondent Driven Sampling for Recruiting Males Who have Sex with Males in Dhaka. Depok: Puslitkes UI. Anthony. Hien..R.J. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2005.C. D. Ramos. Madray. Heckathorn. et al. 44 No. and Strathdee. (1994). Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan. and Lapsley. (1991). 83. S. Estimating the economic costs of drug abuse. 5.. Bramson.. Extensions of respondent-driven sampling:a new approach to the study of injection drug users aged 18–25.D.2.org Heckathorn. Bangladesh. Harnessing peer networks as an instrument for AIDS prevention: Results from a peer-driven intervention. AIDS Behav. L. (1999). S.. Home Office Online Report 16/06 Heckathorn DD.1). L..49:11–34. Broadhead RS. C. Frost. Pleasure of Response Foreshadow Young Adult Outcomes in NIDA Research Findings vol.–Mexico Border Cities: Recruitment Dynamics and Impact on Estimates of HIV and Syphilis Prevalence. A. D. K. Rahman. Respondent driven sampling.. Soc Probl. Brouwer. Shah Alam. D. P. Semaan S.. II. Estimating the economic costs of drug abuse. Social Problems. AIDS Behav (2008) 12:294–304 Johnston.. Parott.. 2006. D. L.C. Heckathorn DD. 2004. No. 159–179.A.T. Respondent-Driven Sampling ofInjection Drug Users in Two U.. Khan. M. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.psychiatryonline.M. L. & Lapsley. Tinsley. 15.E. 83. H. 2002.. Marijuana Abuse: Age of Initiation. H. The Costs of Tobacco. 2006. K. Heckathorn. 2004. D. D. M. 41. C.. K.Halaman | 40 DAFTAR PUSTAKA: Abdul-Quader. R. C. R.. Depok: Puslitkes UI. S. Heckathorn. Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders. D. R.. Jakarta: EGC Johnston.D. and Huong. Vol. Respondent-Driven Sampling: A New Approach to the Study of Hidden Populations. Broadhead.. S.aspx?resourceID=1 Eisner. Assessment of Respondent Driven Sampling for Recruiting Female Sex Workers in Two Vietnamese Cities: Reaching the Unseen Sex Worker Journal of Urban Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Lozada. Magis-Rodriguez.D. D. S.. Heckathorn.J. fourth edition text revision. Banu.S. & Lapsley. and Weakliem.M. Firestone Cruz. 2006 DSM IV-TR. Alcohol & Illicit Drug Abuse to Australian Society 2004/2005 Collins.G. 7 Gordon. Sabin. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No.M. 19 no. 3 BNN & Puslitkes UI. D. BNN & Puslitkes UI. L. 2004.2. (1998)... 113(Suppl.D.2002..G. McKnight. http://www. D. Broadhead. M. Effectiveness of Respondent-Driven Sampling for Recruiting Drug Users in New York City: Findings from a Pilot Study.M.T. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. 2005.T. Gallagher. Collins And Lapsley (2004) Economic Costs Of Alcohol And Other Drugs In The Workplace... H. Social Probl.... 473–495. 1997. 2004.. Sociological Focus.I.D. Reza. Joewana. Ramos. Public Health Reports. Khanam.M.6(1):55–67. Extensions of Respondent-Driven Sampling: Analyzing Continous Variables and Controlling for Differential Recruitment. 2005. D. The costs of tobacco.Vol.. H. Collins. S.. D..

2001. DHHS Publication No. “Psyciatrich comorbidity and progression in drug use in adult Male twins: implications for the design of genetic association studies”. Published December 2001.34:193–239. P. Appendix A. United Nations on Drugs and Crime. Published February 2004.M. Research Monograph Series 2. DHHS Publication ADM 91-1787. Denise.. Factors influencing initiation of cocaine use among adults : Findings from the epidemiologic Caatchment Area Program. Research Monograph Series 2. L. 83. Siegal HA Rahman A. Single. and Campbell.. 2004. S. International Guidelines for Estimating the Costs of Substance Abuse—2001 Edition Substance Abuse and Mental Health Administration. Rockville. 1997..gov Predicting Heavy Drug Use: Results of a Longitudinal Study. D. C. NIDA Research Monograph 110. Patra. Meyer Roger E Different Patterns of Drug Use.whitehousedrugpolicy.datastatistik-indonesia. SMA 08-4343). Gnam.2004. pp. JF Scherrer..gov/publications/pdf/american_users_spend_2002. Popova. No. Heckathorn DD.. JD Grant. Office of National Drug Control Policy. From Networks to Populations: The Development and Application of Respondent-Driven Sampling Among IDUs and Latino Gay Men. Rockville. AIDS and Behavior. J.. Brochu. Li L. R. E. http://www. Kopp. http://www. H. Drug Alcohol Depend. tahun 2008 . The Cost of Substance Abuse in Canada 2002 Ritter.org Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. pp.C. 27-35. Health Affairs. RD Todd. Et All (2001)... Diaz. A. In S. Addictive Behaviour 31 (2006): 948-961 Wang J. MT Lynskey. No. NSDUH Series H-34. Youth Characteristics Describing and Predicting Heavy Drug Use by Adults. Taylor. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. The Measurement of "Ever Use" and "Frequency-Quantity" (in Drug Use Surveys). NIDA. Washington... B. Shade (Eds. Vol. NIDA. E.org/pdf/gap/trs-6. J. MD. Fischer.com www. Carlson RG. & Single. 2006. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. The Economic Costs of Drug Abuse in the United States. J. 2005. Respondent-driven sampling to recruit MDMA users: a methodological assessment. www.pdf www. Medicaid Coverage For Tobacco-Dependence Treatments. S. A report of the Canadian Centre on Substance Abuse Salganik MJ. H.id – Data rekap nasional. Collins. 17-24. MD: National Institute on Drug Abuse Kopp. AA.unodc. W. Lapsley. Sampling and estimation in hidden populations using respondent-driven sampling. dan Wilson. D.. Social costs of drug use in France.nisn..). Harwood. & Blanchard. Rockville. World drug report 2007. Vol..D. Todorov. 7 Kandel. December 2005 Rehm. DC: Executive Office of the President (Publication No.. The An Epidemiology of cocaine use and abuse pp.ppt-2007-06-05 World Drug Report 2008. Falck RS. Results from the 2007 National Survey on Drug Use and Health: National Findings (Office of Applied Studies. E. MD: National Institute on Drug Abuse Office of National Drug Control Policy. KK Bucholz (2006). Sociol Methodol. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. J. Sarnocinska-Hart. Rockville. Literatur review on the economic costs of substance abuse.whitehousedrugpolicy.go.Halaman | 41 Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. http://www. Easton.. Schober & C. 78:147–157 What America's Users Spend on Illegal Drugs1988–2000. Heckathorn. Baliunas. Schauffler. V´azquez. & Anthony.pdf Ramirez-Valles. R. 2008. 1992-2002. 4. Office of National Drug Control Policy. N. 1991. MD: National Institute on Drug Abuse Robson.T. 9.gov/publications/predict_drug_use/intro. P.unodc. 2002. National and State Estimates of the Drug Abuse Treatment Gap: 2000 National Household Survey on Drug Abuse.diknas.1995. B.. D. 20(1). DHHS. www.whitehousedrugpolicy.. R. 189-210. 207303). B.

Halaman | 42 LAMPIRAN Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .

4 1.371 5.261 4.657 260.023 12.439 69.577 54.711 7.599 46.398 11.089 12.762 Total lahgun minimal maksimal 278.2 1.514 36.833 14. Angka Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia.363 19.449 294.999 3.183 3.655 1.075 7.122 22.772 49.603 1.463 20.724 700 885 344 401 218.410 21.908 26.771 26.726 15.101 2.510 3.417 10.649 16.3 1.572 4.1 1.2 1.539 570.624 41.763 96.397 31.302 7.390 3.612 Pecandu suntik* minimal maksimal 30.6 1.715 115.512 8.088 9.247 4.743 26.113 396.119 55.658 5.869 10.381 15.090 22.Halaman | 43 Tabel Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tabel E1.6 1.6 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.439 50.818 6.548 84.675 4.821 42.256 1.673 57.715 27.501 22.462 49.252 7.765 17.567 11.3 1.093 11.854 35.629 9.878 8.500 11.312 24.316 6.178 8.402 158.788 76.573 11.488 3.819 % thd pop 3.821 28.754 112.863 14.259 39.494 1.816 23.547 8.898 21.624 5.551 4.093 2.019 23.414 51.808 129.070 3.041 teratur minimal maksimal 76.480 73.302 64.071 7.174 11.233 465.893 3.476.761 2.964 3.768 2.910 13.814 959.280 12.264 5.592 11.392 752 912 3.931 17.115 16.935 14.6 1.747 7.230 1.075 22.996 44.395 30.258 4.817 938.295 11.364 14.157 9.6 1.709 3.891 135.738 42.6 1.209 43.070 23.856 20.432 5.163 14.984 19.1 1.473 16.707 99.561 107.197 10.563 26.262 53.229 7.384 31.334 4.5 1.732 9.335 113.072 14.626 29.150 21.385 14.365 122.422 19.376 807.202 13.456 14.493 143.317 3.605 5.464 227.984 11.270 29.933 5.665 13.645 35.197 2.108 3.4 1.3 1.171 13.576 7.752 18.762 47.2 1.780 22.492 78.016 9.418 27.740 8.544 20.749 60.276 2.429 1.232 37.811 2.806 7.879 48.964 4.749 9.280 123.465 43.776 2.576 4.007 3.986 4.502 11.894 94.024 172.890 2.495 3.116 3.310 71.850 2.182 2.538 26.252 61.418 6.801 3.953 10. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total coba pakai minimal maksimal 77.211 34.217 47.787 4.3 1.155 167.798 31.656 4.670 18.731 31.785 41.552 214.6 2.151 138.966 11.152 27.6 1.071 3.626 6.094 81.431 1.8 1.7 1.129 8.781 6.224 42.033 158.305 571.999 26.188 865 981 1.114 142.412 10.412 87.155 13.168 204.374 1.413 1.581 253.677 26.296 50.313 2.582 20.6 1.618 83.203 829.713.526 12.7 1.303 23.573 14.879 1. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.096 32.610.671 12.506 27.383 13.563 10.6 1.857 10.264 12.152 1.380 17.682 3.944 7.167 188.487 6.135 4.250 5.506 12.744 20.329 12.149 9.434 21.269 6.694 652.840 29.560 6.902 3.798 11.649 35.785 60.114.042 1.323 9.038 268.686 7.399 9.629 9.830 9.364 7.613 722 917 993 1.087 6.051 11.601 12.059 9.057 83.584 26.2 1.471 15.732 6.137 3.549 306.480 498.735 23.065 22.879 41.234 3.573 8.3 1.888 52.594 131.970 4.578 6.079 36.550 7.636 2.4 1.886 19.253 26.461 10.905 9.394 23.778 16.818 5.689 40.237 36.127 7.987 124.132 3.845 41.6 1.469 2.3 1.164 27.029 146.228 186.7 1.211 9.383 12.081 13.528 1.0 1.4 2. tahun 2008 .654 25.401 16.267 12.166 pecandu minimal maksimal 124.953 18.6 1.872 30.

Angka Persentase Penyalahguna Narkoba menurut kelompok pelajar/mahasiswa & bukan pelajar/mahasiswa. tahun 2008 . 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total Pel/mhw 40 40 58 62 42 49 42 48 32 45 34 56 58 35 60 51 46 62 51 42 57 57 59 58 42 63 48 50 54 49 41 53 53 49 Coba pakai Bukan 7 9 9 8 10 10 8 11 10 9 11 8 8 5 5 6 8 12 9 7 14 12 9 10 17 12 8 12 3 12 13 13 10 9 Total 48 49 68 71 52 59 49 59 43 54 45 63 66 40 66 57 54 74 60 49 71 69 68 68 59 76 56 62 57 62 54 65 63 58 Pel/mhw 32 30 23 19 28 18 26 22 30 19 28 17 17 34 18 25 35 12 24 29 16 18 13 18 17 12 17 23 22 24 28 8 13 23 Jenis Penyalahguna Narkoba (dalam %) Teratur Pecandu bukan suntik Bukan Total Pel/mhw Bukan Total 2 35 11 3 13 1 31 16 1 17 1 24 4 1 5 3 22 4 1 5 6 34 11 0 12 4 22 14 1 16 2 27 17 2 19 2 24 13 1 14 2 33 17 1 17 3 22 17 1 17 1 29 7 1 8 1 19 12 1 13 3 20 6 1 8 2 36 10 1 12 5 23 3 1 4 3 28 12 1 13 2 36 5 2 7 1 12 7 2 9 3 27 7 1 8 1 30 10 2 12 5 21 4 1 5 6 23 3 1 4 5 18 6 4 10 4 22 3 2 4 1 18 9 6 15 3 16 3 3 6 7 24 13 3 16 3 26 7 2 10 0 22 10 4 14 3 26 8 3 11 5 34 6 3 9 2 10 19 3 23 5 19 14 2 17 3 26 11 2 12 Total Lahgun Setahun Pecandu suntik Pel/mhw Bukan 3 1 3 0 3 0 2 0 2 0 3 0 4 1 3 0 7 0 6 0 16 1 4 1 6 1 11 1 7 1 2 0 2 0 5 0 5 0 9 1 2 0 3 0 4 0 5 1 6 2 2 0 2 1 2 0 6 0 1 0 3 0 1 1 1 0 3 0 Total 4 3 3 2 3 3 5 3 7 6 17 5 6 12 8 2 3 5 6 10 3 3 4 6 8 3 4 2 6 1 3 2 2 4 Pel/mhw 86 89 87 87 84 84 89 86 86 87 85 90 87 91 88 89 88 85 87 90 79 81 82 84 74 80 81 82 92 81 79 82 82 86 Bukan 14 11 13 13 16 16 11 14 14 13 15 10 13 9 12 11 12 15 13 10 21 19 18 16 26 20 19 18 8 19 21 18 18 14 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Halaman | 44 Tabel E.2.

5 0.3 1.7 1.6 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 12.4 2.4 1.6 2.7 2.2 32.7 11.5 Pecandu Suntik 461 2.5 13.0 73.Halaman | 45 TABEL PROBABILITAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA.9 2.2 1.4 25.8 70.3 Keseluruhan Lahgun 2143 9.4 4.4 11.9 1.5 5.5 17.9 23.6 3.3 17.0 Total 1733 9.9 23.3 92.5 2.7 2.2 4.0 0.0 79.5 0.2 Bukan Suntik 1272 11.1 0.6 74.7 1.8 0.0 1.5 3.1 0.4 0.4 56.3 6.9 57. tahun 2008 .9 24.2 6.9 2.7 53.1 10.1 1.3 69.1 1.1 17.8 5.3 10.3 4.3 27.2 15.1 0.5 7.9 0.3 18.5 12.8 29.9 1.0 1.2 3.8 0.5 5.5 63.2 14.3 91.8 0.9 20.0 14.7 0.1 2.2 21.7 0.5 77.2 2.0 16.0 3.4 33.4 20.8 66.7 3.3 11.4 6.5 0.4 2.4 0.8 3.5 88.2 2.5 10.7 34.1 0.6 3.8 8.0 3.3 1.3 23.5 1.3 92.4 21.7 15.7 58.7 10.5 1.9 68.0 4.1 15.3 68.1 0.2 0.6 16.2 6.1 11.4 14.6 6.0 2.3 2.8 0.1 2.7 2.9 0.2 0.5 24.0 24.2 1.0 3.7 20. Distribusi persentase responden yang terpilih dalam studi menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur > 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun lebih dari 49 tahun Jenis kelamin Laki Perempuan Pendidikan Rendah (=<SD) Menengah (SMP) Atas (SMA keatas) Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Hidup bersama tanpa nikah Pekerjaan utama Tidak bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai negeri (PNS) Pegawai swasta TNI/ POLRI Wiraswasta/pedagang Buruh tetap Buruh tidak tetap /serabutan Sopir Ojek Lainnya tempat tinggal anda saat ini Rumah sendiri Rumah orang tua Rumah saudara kandung Rumah saudara bukan kandung/kakek/nenek Rumah teman/tetangga Rumah kost/kontrakan Tidak punya tempat tinggal tetap N: Jumlah seluruh responden Teratur 410 8.7 27.1 5.4 4.8 25.1 12.5 67.2 93.7 56.1 12.4 0.4 80.0 5.2 7.4 0. TAHUN 2008 ( Hasil Survei di 17 Propinsi) Tabel 1.3 68.8 25.1 24.7 7.2 5.7 2.5 2.7 84.9 0.3 1.5 2.4 1.9 85.

9 0.1 0.1 0.4 43.8 0.0 17 16 3 7 50 88.3 6.9 15. i.7 92.7 0.5 7.6 0.3 0.6 2.7 Tabel 3a Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur pertama pakai narkoba < 13 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun >= 19 tahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Jenis kelamin Laki Perempuan Jenis narkoba pertama kali Ganja (cannabis. tahun 2008 .7 0.4 34.rohyp Lainnya Teratur 410 2.2 80.9 95.7 71.0 92.5 91.4 0.8 N Merokok Pernah merokok Setahun pernah merokok Alkohol Pernah minum alcohol Setahun pernah alcohol N: Jumlah seluruh responden 93.2 80.9 0.0 16.8 41.9 2.2 80.1 19.5 0.5 93.0 4.1 0.2 33.1 2.3 91.1 20.5 0.8 42.2 Total 1733 98.7 16 15 3 9 35 Total 1733 6.8 8.2 0.7 95.0 21.0 23.nipam.8 2.1 5.5 93.2 67.gele.3 11.7 0.5 3.1 4.5 0.9 41.8 16 16 3 7 40 Suntik 461 10.6 0.5 16.2 0.2 56.2 5.4 29.9 33.lexo/lexotan.BK.5 16 16 3 7 40 Keseluruhan Lahgun 2143 5.1 0.6 0.2 7.1 0.2 94.8 95.cimeng.2 40.1 3.6 94.5 0.2 19.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 0.0 26.marijuana) Hashish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.0 1.0 0.0 0.0 83.2 0.6 35.1 73.1 0.8 93.7 Pecandu Bukan Suntik 1272 98.3 8.2 66.9 18 17 4 8 50 Pecandu Bukan Suntik 1272 5.3 Keseluruhan Lahgun 2143 98.0 0.9 24.7 92.Halaman | 46 Tabel 2 Perilaku merokok & minum alkohol dikalangan lahgun menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 98.3 0.2 59. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Obat penenang/barbiturat (valium.7 7.2 0.3 Suntik 461 98.4 7.0 0.

6 0.0 0.8 11.9 47.6 0.5 0.5 2.7 10.5 2.2 37.3 66.8 4.7 65.9 3.-Aibon.5 53.0 7.5 14. tahun 2008 .9 4.6 15.9 55.0 0.1 71.2 48.4 5.1 5. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.4 5. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.2 30. cimeng. i.8 0.5 17.5 52.2 0.5 21.0 0.4 66.1 53.6 5.1 6.3 6.5 3.9 37.0 69.3 2.2 28.3 72.UHU) Lainnya Frekuensi pakai Mean Median Minimum Maksimum Keluarga tahu anda pakai narkoba Ya Tidak Ada anggota keluarga lain pakai narkoba Ya Tidak Teratur 410 88.4 0.8 49.9 42.8 0.5 2.3 0. i.8 10.2 0.6 65.6 8.8 3.9 3.6 56.8 17. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.1 4.7 22.9 4.7 14. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.7 0.8 30.0 2.1 6.6 23. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.4 2.4 32.3 3.5 60.5 0.2 4.9 4.4 4.2 5.5 53. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.2 66.8 8.4 0.6 63.0 27.6 3.3 0.0 35.2 61. cimeng.5 14.9 76.0 1.7 33.1 19.2 0. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.5 1.6 50.7 7.6 1.6 65.3 82.1 18.0 Keseluruhan Lahgun 2143 91.8 65.9 21.9 0. lexo/lexotan. nipam.4 16.Halaman | 47 Tabel 3b Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Jenis narkoba yang pernah pakai Ganja (gele.0 33.1 3.1 26.9 51.1 2.1 0.4 10.8 28.5 37.4 9.2 0.9 4.3 1.8 36.8 70.UHU) Lainnya.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6 32.3 6.6 49.5 1.6 10.6 29.0 46.1 6.8 5.0 Pecandu Bukan Suntik 1272 92.9 7.3 0.2 0.4 Total 1733 92.1 79.3 2.1 Suntik 461 93.9 58.4 81.8 20. BK.2 2.5 3.3 13.4 65.4 4. BK.0 40.0 2.9 16.8 2.6 29.5 56.0 31. nipam.0 36.2 64.8 24.7 0.3 1.5 0.9 33.0 10.7 66.8 10.8 20 21 5 48 184 421 49 7200 720 1181 49 29979 357 624 49 29979 161 508 5 29979 36.2 9.9 16.5 4.7 0.5 4. sebutkan Jenis narkoba setahun terakhir pakai Ganja (gele. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.0 11. lexo/lexotan.7 38.-Aibon.

9 Suntik 461 91.0 0.3 276 12.9 3.marijuana).5 348 13.3 0.4 35.0 11.4 11.3 Total 1733 16.9 950 47.2 28.4 26.7 2.7 1.5 0.0 78.9 1298 12.3 276 48.3 8.6 0.7 27.4 1.0 0.5 31.5 18 17 3 73.9 1.2 28.1 0.5 78.1 9.Halaman | 48 Tabel 4 Pola Konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 22.0 0.8 0.cimeng.0 0.7 Keseluruhan Lahgun 2143 17.2 12.1 20.6 11.4 9.0 9.5 2.0 20.8 47.5 18.8 9.6 11.5 5.4 2.: Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine): Obat penenang LSD (acid) Kecubung.6 0.9 1.0 5.3 4.5 Total 1733 33.5 Tabel 5 Peredaran narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 19.1 13.8 40.3 9.5 1.5 10.4 0.6 110 79.5 10.6 0.4 11.8 18 17 3 74.0 0.6 12.0 Pecandu Bukan Suntik Suntik 1272 461 21.1 157 81.5 61.2 Keseluruhan Lahgun 2143 85.9 41.4 0.2 32.4 1574 12.1 190 80.0 48.4 1.6 0.9 12.7 0.1 13.7 3.6 35.2 0.4 5.3 43.5 0.4 32.0 49. tahun 2008 .7 98.2 9.5 47 87. i.4 56.5 29.4 59.5 2.3 83.2 Total 1733 86.6 0.7 35.5 6.0 33 72.8 348 45.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 10.7 18 17 3 74.2 30.6 31.1 41.6 0.0 8.1 0.4 82.3 0.1 2.0 1574 47.4 36.8 0.8 2.4 0.7 950 11.8 8.6 N Pernah menjual narkoba Setahun terakhir masih menjual narkoba Pernah menjadi kurir narkoba Pernah menawarkan narkoba ke orang lain Tabel 6 Perilaku seks dan narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Pernah seks Usia pertama kali hubungan seks Mean Median SD Seks setahun terakhir N Seks setahun terakhir Pernah hubungan seks demi narkoba Seks demi narkoba by jenis kelamin (N) Laki Perempuan Frekuensi pakai kondom setahun terakhir (N) Tidak pernah Kadang-kadang/jarang Selalu Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Jenis narkoba yang mempengaruhi anda ingin hubungan seks Ganja (cannabis.6 Suntik 461 45.2 2.4 47.9 0.7 47.4 35.2 64.7 9.9 29.5 1.9 55.1 40.6 0.5 1298 47.4 0.9 Pecandu Bukan Suntik 1272 84.0 41.5 Pecandu Bukan Suntik 1272 29.1 45.6 7.8 18 17 3 75.6 3. Hasish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.2 54.6 10.5 18 18 3 67.9 26.6 51.0 4. bensin) Lainnya Teratur 410 80.4 11.gele.6 2. jmr di kotoran Sapi/mushroom Inhalan/dihirup (ngelem. XTC).6 47.6 N Pernah pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba Setahun pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba 52.8 2.6 87.0 7.7 0.0 1.0 35.9 12.0 Keseluruhan Lahgun 2143 31.8 38.

3 1. tahun 2008 .1 64.9 31.3 42.1 62.5 62.1 1.0 4.Halaman | 49 Tabel 7 Penyalahgunaan narkoba suntik Laki Perempuan Total N Pernah narkoba suntik Ya Tidak N Umur pertama pakai narkoba suntik 1968 35.3 45 19 19 4 12 28 2143 34.6 1.4 44.3 5.8 3.1 4.3 65.6 68.2 6.3 5.7 81.9 10.0 4.3 18.8 691 175 25.6 1.5 57.1 10.9 71.7 2.6 736 20 19 5 9 38 Mean Median SD Minimal Maksimal Lama pakai narkoba secara teratur (bulan) Mean Median SD Minimal Maksimal suntik 20 19 5 9 38 65 60 53 1 360 59 42 46 4 132 65 60 53 1 360 Jenis narkoba yang pernah disuntikan ke dalam tubuh Kokain Shabu Ekstasi (inex i XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine).8 5.2 42.7 74.6 36.3 522 365 679 1 10950 528 365 478 1 1825 522 365 667 1 10950 Mean Median SD Minimal Maksimal 24 15 24 1 150 14 10 11 3 30 24 15 24 1 150 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 2.2 36.4 8. ObatPenenang Lainnya pernah menggunakan jarum suntik bersama/bekas pakai Pernah pakai narkoba suntik setahun terakhir Ya Tidak Frekuensi pakai narkoba suntik Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi pakai jarum baru (bulan) 4.3 5.2 11.9 4.1 81.4 17.1 80.0 72.

7 9.3 5.9 25.8 23.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 24.0 72.4 30.8 17.9 143 31.2 3.5 78.8 46.5 23.1 26.1 74 57.6 10.0 4.2 16.2 17.1 83.0 18.4 3. tahun 2008 .0 76.9 17.7 2.4 42.9 7.7 35.6 11.7 23.5 40.5 23.0 9.8 5.6 6.7 47.5 143 31.5 1.2 7.9 45.2 23.1 34.7 34.5 70.0 4.0 6.6 21.6 3.8 3.1 2.4 5.9 37.1 4.7 299 36.5 4.1 9.7 23.7 37.6 8.2 4.5 21.1 29.7 4.7 8.3 45.4 18.3 6.2 32.6 15.2 5.1 4.5 74 43.5 70.4 25.1 516 44.2 6.0 50.4 9.Halaman | 50 Tabel 8 Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 410 Pecandu Bukan Suntik 1272 Suntik 461 Total 1733 Keseluruhan Lahgun 2143 N Responden yang punya keluhan kesehatan Ya Tidak Jenis keluhan yang disampaikan Rasa Mual Selera makan berkurang Rasa sakit pada ulu hati Rasa perih/nyeri pada saat menelan makanan Warna putih menebal pada bagian mulut/tenggorokan Rasa sesak pada dada Rasa sakit pada saat bernafas Batuk berdahak lebih dari 2 minggu Diare lebih dari 2 minggu Rasa lelah (fatique) berkepanjangan Keluar keringat pada malam hari secara berlebih Demam tinggi lebih dari 2 minggu Kulit dan kuku berwarna kuning (menguning) Peradangan pada kulit (luka yang sulit sembuh) Rasa gatal/panas dan ruam/memerah pada kulit Munculnya bercak berwarna merah/putih/hitam di kulit Penurunan berat badan lebih dari 10 dalam 2 minggu N punya keluhan kesehatan Melakukan pengobatan sendiri Jenis pengobatan sendiri yang dilakukan Obat Tradisional/non medis Obat modern/medis Lainnya Melakukan pengobatan ke orang lain Rawat jalan Rawat inap 65.9 68.3 37.9 25.0 16.5 4.9 11.4 5.2 26.7 7.7 46.7 5.4 18.6 516 36.5 45.9 12.9 5.2 6.3 27.5 13.0 18.6 19.1 1.2 35.0 14.3 17.6 34.7 6.3 25.1 3.8 45.3 10.6 34.3 14.6 373 38.2 75.5 299 44.7 33.0 9.3 70.9 22.0 62.5 373 48.0 35.4 36.9 16.2 1.

3 60.4 2.2 0.7 1.3 10.3 60.1 10.9 3.4 4. Sebutkan N berobat rawat inap Tempat pengobatan rawat inap RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.5 48.2 11.9 11. tahun 2008 .3 3.9 44 5.6 47.kerabat): Biaya sendiri (responden) Lainnnya Ada orang lain yang mengantar selama berobat Rawat jalan Rawat inap 15.0 Suntik 209 41.0 9.9 2.6 21.0 14.8 60.4 14.3 4.5 9.7 50.2 7.4 0.0 31.2 5.4 2.0 8.9 2.9 1.4 0.0 0.0 0.0 0.1 12.0 0.3 16.0 0.4 9.2 14.8 0.1 90 11.9 3.9 1.5 7.7 51.1 4.9 145 7.4 0.6 1.7 8.9 3.6 7.7 21.7 1.0 55.1 0.8 41.7 3.Halaman | 51 Tabel 8b Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 58 18.6 53.0 0.2 15.0 0.7 5.2 6.6 25.4 0.0 1.0 0.2 13.0 Keseluruhan Lahgun 505 27.7 17.0 0.4 134 8.0 N berobat jalan Tempat pengobatan rawat jalan RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.0 1.0 3.0 0.3 9.1 15.6 5.4 0.1 42.0 0.4 11.3 15.7 61.2 48.8 0.7 0.0 Pecandu Bukan Suntik 238 17.6 2.7 7.0 Total 447 28.8 1.2 0.7 1.0 0.0 0.7 47.0 5.8 0.3 3.7 0.2 0.8 8.8 45.2 41.1 1.3 11 5.3 3.1 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 0.0 0. Sebutkan Apakah tersedia jaminan pembiayaan kesehatan Askes Astek jamsostek Perusahaan/kantor Asuransi lain/swasta Kartu sehat/SKTM/jamkesmas/Gakin Keluarga (ortu.0 49.9 4.0 0.0 59.4 2.2 0.0 0.8 3.4 0.1 22.9 5.1 15.0 13.1 3.1 6.2 8.adik/kakak.0 0.1 5.5 40.7 0.

Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Ketika OD di tolong di pelayanan medis..5 52..1 28.0 0.3 0.8 11.0 0.0 20.0 130 8.2 33.4 4.3 52.0 0..0 259 5.4 55..0 0.8 0.1 0.0 1.0 4.7 13. ada orang lain yang menunggu (n) 2 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1 3 40.9 259 2143 13.5 4.0 283 4.2 54..5 29.2 9.9 Ya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 24 dlm setahun 1272 10.6 4..0 129 1.2 Frekuensi OD setahun terakhir Mean Median SD Minimal Maksimal Tindakan yang dilakukan ketika OD Tidak melakukan apa-apa Ditolong/ di rawat teman Perawatan medis Perawatan non medis Lainnya. tahun 2008 .1 129 461 28.5 2.6 4.Halaman | 52 Tabel 9 Kasus over dosis dikalangan pelayahguna narkoba Teratur N Pernah overdosis Ya N pernah OD Pernah overdosis terakhir Ya Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.2 283 1.3 56.0 20.7 5.0 2.0 10.. sebutkan .0 0.0 60.5 18.2 130 1733 14.5 0.5 9.0 24 4.1 8.1 10.2 8.

.1 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 8.3 0. .9 0.6 0. 0.2 0.5 2.8 25.9 9.6 8.0 4 Suntik 461 16.4 Frekuensi rehabilitasi Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi detoks & rehab Mean Median SD Minimal Maksimal . . 2 4 1 9 1 1 1 0 3 1 3 1 12 1 1 1 1 7 1 1 0 1 1 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17. .4 3 Total 1733 6.0 1.3 2.0 2. tahun 2008 .4 0.1 3 N Pernah Detoksifikasi Detok setahun terakhir Pernah Rehabilitasi Rehabilitasi setahun terakhir Pernah Detok-&-Rehab Detok&Rehab setahun terakhir Frekuensi detoks (kali) Mean Median SD Minimal Maksimal . Pecandu Bukan Suntik 1272 2.7 7.0 7.2 0. . . .9 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.5 Ada orang lain yg membantu 22.Halaman | 53 Tabel 10 Detoksifikasi dan rehabilitasi menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 0.2 0. . .7 2. .4 0.5 1.0 0.2 3.0 .0 . .2 0.2 2.5 0.1 0.1 3 Keseluruhan Lahgun 2143 5.

4 57.7 67.6 73.1 8.0 15.5 33.7 6 3 9 1 40 6 2 13 1 96 4 2 11 0 90 5 2 12 0 96 6 2 12 0 96 Tabel 11.4 83.2 267 64.2 64.4 13.1 1733 35.8 27.9 4.3 2143 31.3 7. Perilaku pencarian pengobatan sendiri terhadap keluhan akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah pengobatan sendiri Ya Tidak Setahun pengobatan sendiri Frekuensi pengobatan sendiri setahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 16.5 65.9 82.9 40.4 461 61.1 21.9 26.7 28.5 14.9 9.0 16.3 13.7 60.9 287 65.5 20 80.5 38.7 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 5.0 1272 25. Perilaku tindakan kriminal akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah melakukan tindakan kriminal krn narkoba Ya tidak Setahun tindakan kriminal Proporsi antara tindakan criminal dan keluarga (n) Keluarga/orang tua Orang lain Campuran Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 15.1 4.2 26. tahun 2008 .9 96 67.Halaman | 54 Tabel 10.3 27.4 12.0 37.0 171 63.9 15.5 7.4 68.9 30.

3 1.0 1733 23.9 1.0 0.9 63.0 7.5 1272 477 37.5 1.5 16. tahun 2008 .7 17.0 461 46.8 1.0 1.9 1.3 7. Kasus kecelakaan lalulintas yang diakui akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah kecelakaan lalulintas krn narkoba Ya Tidak Setahun kecelakaan lalulintas Frekuensi kec lalulintas setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah kecelakaan lalulintas setahun Ada orang yg bantu saat kecelakaan lalulintas Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 95 23.8 1.3 1272 14.9 2143 769 35.3 2143 20.9 1 1 1 1 5 62 80.5 62.5 19.4 1.5 1.8 1733 674 38.0 7.0 3.1 1 1 1 1 5 65 65.2 1 1 0 1 1 5 33.0 0.0 24 12.Halaman | 55 Tabel 12.6 1.1 5.0 5.2 76.1 1.9 1.0 Tabel 13 Penangkapan pihak kepolisian akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah ditangkap polisi krn narkoba Setahun ditangkap krn narkoba Frekuensi ditangkap setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah ditangkap setahun Ada orang yg bantu saat ditangkap polisi Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 7.6 1.1 1.9 14.8 461 197 42.2 20.7 55.5 1.2 6.0 0.2 1 1 1 1 5 132 72.0 256 18.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 1 1 1 1 5 127 73.0 80 48.1 1.9 60.8 4.0 0.2 1.0 7.0 360 25.0 336 25.

7 58.8 1 1 0 1 2 1 100.5 60 82.1 203 26.1 55.4 90.3 29 85.7 59 82.6 94.9 58.6 56.4 1 1 0 1 2 461 31.3 1 1 0 1 2 1733 15.4 41.4 85.1 120 2.8 265 3.2 47.3 828 25.4 149 21.2 49.7 679 27. 1 1 1272 9.Halaman | 56 Tabel 14 Pengalaman dipenjara akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah dipenjara krn kasus narkoba Tidak N pernah dipenjara Setahun dipenjara krn narkoba Frekuensi dipenjara setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah dipenjara setahun terakhir Ada orang yg bantu saat dipenjara Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.5 66.0 30 79.3 83.9 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 1 1 0 1 2 2143 13.8 Tabel 15 Pengalaman Aktivitas terganggu akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah aktivitas terganggu krn penyalahgunaan Ya Tidak N pernah aktivitas terganggu Setahun pernah aktivitas terganggu dari penyalahgunaan Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 38.6 145 6.0 40.9 288 2.2 38.4 23 0.2 1 1 .1 476 27. tahun 2008 .

0 27.00 0.2 18.03 0.0 4.0 92.4 7.05 0.06 0.00 0.80 0.06 0.4 93. tahun 2008 .00 0.5 27.0 5. Teman responden yang pakai narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Pecandu Suntik Keseluruhan Lahgun Teratur N Perkiraan jumlah narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal Bukan Suntik Total 410 teman pakai 1272 461 1733 2143 17 10 20 2 100 mati karena 17 10 28 1 200 16 8 21 1 100 16 10 25 1 200 16 10 25 1 200 Ada teman narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal yang 2 2 1 1 4 4 3 3 1 12 5 3 5 1 30 4 3 4 1 30 4 3 4 1 30 Jenis kelamin teman yg mati Laki-laki perempuan Umur teman yg mati karena narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal 100.00 0.12 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.5 27.0 46.00 0.6 92.00 0.0 4.0 Perkiraan jumlah teman yg mati karena narkoba Mean Median Minimum Maximum Std Deviation 0.0 4.8 28.0 5.0 54.91 0.91 0.3 25.13 0.00 0.8 17.01 0.6 17.6 20.0 44.0 54.9 7.1 92.15 0.8 17.17 0.0 27.0 27.10 0.91 0.00 0.6 7.Halaman | 57 Tabel 16.09 0.67 0.1 27.0 0.0 27.0 54.0 27.0 7.00 0.

00 0.05 0.00 0.50 0.00 0.33 0.00 0.00 0.20 25-29 0.00 0.20 0. tahun 2008 .00 0.49 0.05 40-44 0.09 0.02 0.05 0.00 0.11 0.00 0.00 0.00 0.01 0.333 1.04 0.00 0.00 0.22 0.25 0.13 0.43 0.48 0.10 0.01 0.26 0.02 0.18 0.00 0.03 0.00 0.621 66 86 158 132 497 12 48 12 6 14.01 0.03 0.48 0.01 0.02 0.04 0.00 0.48 30-34 0.02 0.22 0.11 0.00 0.00 0.22 0.33 0.29 0.00 0.894 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.00 0.02 0.00 0.11 0.02 0.01 0.02 0.00 0.03 0.00 0.00 0.00 0.10 0.00 0.11 0.38 0.01 0.00 0.09 0.08 0.01 0.12 0.09 0.21 0.00 0.00 0.00 0.04 0.00 0.01 0.06 0.00 0.00 0.25 0.13 0.09 0.01 0.06 0.00 0.421 716 455 111 3.00 0.04 0.55 0.00 0.25 0.05 0.00 0.27 0.986 219 871 165 203 33 114 353 60 71 288 259 105 188 82 142 74 7 1.00 0.12 0.00 0.54 0.26 0.03 0.00 0.01 0.50 0.08 0.25 0.05 0.00 0.03 0.00 0.00 0.00 0.46 0.00 0.00 0.03 0.02 0.46 0. Angka Prevalensi dan Perkiraan Kematian Akibat Penyalahgunaan Narkoba Menurut Kelompok Umur Propinsi di Indonesia.00 0.00 0.05 20-24 0.80 0.07 0.02 0.27 0.00 0.12 0.10 0.05 0.01 0.27 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.23 0.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.06 0.33 0.01 0.03 0.02 45-49 0.00 0.00 0.32 0.Halaman | 58 Tabel 17.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.10 0.53 0.00 0.03 0.50 0.00 0.13 0.08 0.27 0.00 0.23 0.00 0.00 0.38 0.25 0.29 0.14 0.05 0.00 0.51 0.00 0.10 0.20 0.00 0.04 0.03 0.01 0.06 0.00 0.00 0.71 0.06 0.27 0.45 0.18 0.00 0.19 35-39 0.00 0.00 0.05 0.00 0.11 0.25 0.00 0.42 0.13 0.25 0.01 0.00 0.10 0.16 0.04 0.00 0.27 0.00 0.00 0.03 0.00 0.61 0.00 0.00 0.04 0. 2008 Angka prevalensi kematian narkoba 0.02 0.54 0.11 0.00 0.27 0.00 0.00 0.46 0.00 0.10 0.13 0.71 0.05 0.12 0.01 0.38 0.00 15-19 0.17 0.00 0.00 0.08 0.06 0.01 50-54 0.00 0.00 0.06 0.00 0.02 0.09 0.00 0.45 0.00 0.12 0.08 0.05 0.02 0.12 0.00 0.28 0.02 0.05 0.01 0.27 0.01 0.01 0.05 Persentase kematian menurut kelompok umur Absolut mati yg 10-14 0.00 0.33 0.01 0.02 0.06 0.02 0.27 0.00 0.00 0.13 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total 2.29 0.00 0.00 0.00 0.22 0.01 0.04 0.01 0.08 0.04 0.05 0.17 0.33 0.41 0.13 0.01 0.05 0.00 0.00 0.14 0.00 0.00 0.05 0.27 0.02 0.00 0.50 0.00 0.27 0.00 0.00 0.33 0.10 0.02 0.34 0.01 0.00 0.04 0.21 0.00 0.06 0.00 0.46 0.46 0.00 0.02 0.05 0.25 0.21 0.00 0.13 0.03 0.01 0.00 0.00 0.42 0.02 0.02 0.04 0.00 0.00 0.09 0.02 0.

.

986 227.705 26.688 323. Kerugian Biaya Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia.957.376.489.735 3.071 7.450 8.243 22.Halaman | 60 TABEL ESTIMASI BIAYA KERUGIAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA Tabel 1.036 722. 2008 (dalam 1.454 59.515 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.519 19.743.000 rupiah) Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2008 15.443.424 45.220 882.060 252.953.124 1.000.094. tahun 2008 .657 5.813 188.715 680.530 32.602 839.

666 526 153.430 560.356 394.009 2.871 1.913 2.921 1.060 1.427 2.462 3.344 3.847 210.133 7.224 9.000 rupiah) Pengobatan sakit Konsumsi Narkoba Rawat jalan Rawat inap overdosis detok Rehab detoks & rehab detoks & pengobatan tertangkap rehab sendiri kecelakaan polisi penjara aktivitas terganggu total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.165 158.256 1.088 28.602 9.321 5.630 9.407 16.622 8.744 4.001 1.332 1.757 7.036 370.561 2.793 10.996 63.060 4.550 32.666 19.455 230.438 1.052 5.388 1.112 1.691 1.740 124.612 9.140 2.020 284.671 46.843 7.130 6.975 188.762 209.263 4.048 4.414 177.021 9.556 691.489.396.721 243.587 23.258 13.845 413.851 165.485 132.732 56.029 3.841 36.388 6.846 152.741 1.641 107.395 1.622 136.706 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.000.186 58.273 68 170 0 5.741 5.219 226.254.749 16.486 6.310 220.651 36.602 0 93.124 27.424 959 1.872 150.536 585 1.258 0 16.075 5.335 317.327 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73 15 27 0 337 40 0 280 35 46 128 106 3.252 2.948 435.299 410.532 188.860 28.683 1.024 2.638 0 3.907 100.283 1.374 149.250 16.939 54.424 0 0 0 0 310 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.516.182 700 186.802 3.043 19.218 4.651 0 5.680 33.986 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.183 141.376.792 76.511 65.835 7.849.988 575 946 891 239 479 929 87 168 297 603 939 184 43 769 111 358 359 271 155 6 25 30 17 19.639 9.513 253.705 26.875 1.292 30.153.840 781 292.020 1.475 321.901 30.404 301.530 295 2.877 1.171 6.768 3.070 12.155 51 23 22.021 0 162.222 261.226.612 43.302 34.559 2.431 4.380 430 196 839.320 2.638 2.490 63.226 7.822 12.142 886 271.841 2.102 35.772 13.115.919 11.609 15.768 6.483 21.244 1.483 427.079 180.813 5.676 5.974 996 117.912 134.806 133.173.768 110 5.071 1.226 239.149 0 991 15.373 3.568 1.542 822.742 6.688 26.421 508 852 0 3.102 4.441 6.846 42.263 438.660 930 2.076 7.694 85.666 180.539 953.949 3.519 0 5.395 814 131.183 283 1.042 67.431 3.593 524.149 70.269 1.808 449.683 0 2.668 0 67.578 1.211 32.702 1.435 10.183 4.620 54.161 10.065 3.749 5.874 296.692 44.167 21.772 9.302 14.830 4.239 11.926 977.820 17.103 505 15.326 15.607 0 16.791 46.950 2.573 17.265 19.435 15.658.355 2.098 1.586 89.049 327.993 3.060 11.855.199 0 0 719.968 5.959 1.499 2.056 916 905.617 1.220 30.631 51.829 14.758 11. tahun 2008 .953 2.986 217.889 630. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 1.845 8.434 3.845 323.669 26.404 294 3.701 613.334 1.010 955 206 149 331 1.634 12.403 2.562 979 25.202.703 3.294 292.545 485 85.439 1.407 50.365 1.013 50.817 2.257 9.956 2.799 0 0 0 0 0 353 4.873 468 1.618.850 3.320.Halaman | 61 Tabel 2a No PROP Biaya private (dalam 1.702 1.804 5.047 557.724 1.188 16.489 23.871 1.424 28.255 8.808 882.425 501.364 1.977 6.284 4.369 86.410 125 510 0 0 13.501 270.201 11.463 5.673 24.551 559.051 933.225 586 1.591 13.610 15.499 94.925 1.228 3.394 219.046 17.472 795.023 0 0 0 0 0 0 0 0 73 0 0 0 0 361.

111 4.409 60.318 9.057 42.268 21 7.823 35 18.397 195 2.886 0 222 46.988 90.505 6.338 10.738 21.682 445 1.470 1.454 75 0 14 0 0 42.616 134.046 103 31.711 3.944 705 1.230 0 0 0 1.814 7.269 25.924 7.000 rupiah) loss produc: sakit Rawat Jalan Rawat Inap Loss produc: overdosis detok loss: detoks & rehab Rehab keluarga tindak kriminalitas orang lain loss: kecelakaan loss: polisi premature loss: penjara death total DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.088 936 833 1.785 1.052 5 17.153 10.538 5.285 1.095 32.373 543.316 2.228 45.071 3.498 1.278 313 655 2.652 555 775 172 1.202 139 310 333 272 446 143 468 2.674 13 16.934 0 85.933 182.193 3.893 880.211 6.283 258 101 194 0 0 176.185 1.171 32.424 24 136.480 0 2.863 680.189 58.329 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 42.357 146.553 996 3.448 23.265 26.293 39.314 33.054 3.339.210 35.161 105 295 411 300 1.552 5.835 23.877 42.923 53.363 5.285 485 125 0 2.174 642 877 664 243 481 2.774 0 10.416 255 7.559 203 94 167 122 1.984 1.400 125 38.410 19.257 3.709 5 10.694 2.340 3.060 0 175 2.630 41.732 52 22.833 11.280 269 407.530 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.058 2.798 275.972 3.122 43.136 529.179 64.845 17.947 8.410 48.122 308 33.271 98.149 93.425 110.046 163.305 24.396 173.057 0 59.135 24.857 481 856 219 3.002 1.512 6.132 101 7.968 392 16.889 363 675 5.376 6.822 41 16.926 22.362 11.572 3.950 45.073 19.745 3. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 4.Halaman | 62 Tabel 2b No PROP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Biaya Sosial (dalam 1.887 257 289.142 0 93.060 5.059 159 0 509 14.757 0 51.254 2.396 5.947 3.045 24.392 2.046 246 361 0 3 41 0 1 0 1.268 175 26.418 75.780 6.433 564 12.683 89.124 14.050 67.321 1.746 7.174 389 692 360 444 193 545 6.019 942 185.672 2.364 5.052 542.941 5.498 807 3.300 4.583 343 68.043 3.777 0 2.424 0 804.597 36.953.864 113 192 370 8.715 4.981 9.405 426 720 344 157 51.841 5.292 0 0 16.777 428 5.045 1. tahun 2008 .386 1.651 99.203 66 102.503 1.872 8.043 2.528 0 0 0 0 0 44 397 9 21 34 59 768 1.613 16.957.477 65.155 0 1.002 34 84 10 25 1.187 181 98 187 384 320 159 101 3.904 111.423 0 0 0 0 0 5.826 3.300 63.333 722.172 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 83 17 31 0 39 13 0 424 12 15 42 35 298 24 99 0 0 8.919 0 42.121 66.076 3.862 39.408 286.410 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.843 310 51.087.645 0 2.735 3.316 2.957 1.277 27 28.465 3.555 664 266 7.666 23.235 3 2.000.660 2.678 31.809 0 254.071 272.

475 51.133 1.562 9.411 6.539 581 4.149 86.948 822.482 5.452 923 59.165 10.079 18.526 11.258 59.620 63.912 438.333 21.376.025 8.795 8 359 42. Riau 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 14 Bangka Belitung 15 Bengkulu 16 Lampung 17 Kalimantan Barat 18 Kalimantan Tengah 19 Kalimantan Selatan 20 Kalimantan Timur 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan 25 Sulawesi Barat 26 Sulawesi Tenggara 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Bali 30 NTB 31 NTT 32 Papua 33 Irian Jaya Barat Total 177.806 7.233.655 9.809 2.382 5.302 177.641 5.087 4.070 7.374 100.056 83.985 2.231 15.876 38 122 62.116 236.321 13.810 158 536 7.336 2.843 141.628 76.208 4.398 2.552 34.897 1.948 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.254.106 48.064 26 83.995 68.719 81.119 936.517 50. tahun 2008 .742 300 361 52 2.971 230.639 321.676 219.917 TOTAL 1.693 5.191 702 heroin 3.128 2 0 0 0 0 0 4.555 4.071 95.841 795.657 6.766 10.949 4.721 1.585 79.442 616 758 4 2 2 60 63 1.319 48.680 202 216.007 36.958 10.112 102.071 NO PROPINSI 1 DKI Jakarta 2 Jawa Barat 3 Banten 4 Jawa Tengah 5 DI Yogyakarta 6 Jawa Timur 7 NAD 8 Sumatera Utara 9 Sumatera Barat 10 Riau 11 Kep.417 14 78.202 194 661 3.2.363 7.171 14.851 162 500 139 201 471 393 4.981 146.265 34.287 378 1.634 3.170 45 94 putau putau cair methadon bubuk 636.006 206.661 199.612 317.105 29.808 44 20 12.819 35.544 79.134 2.709 46 14 29 1.120 123.232 129.943 64.469 155.435 35.689 kokain shabu ekstasi 63.694 150.820 24.284 16.280 29.044 26.919 1.544 2.754 343.840 48.070 370.787 .185 8 40.061 15.489 127.846 179.290 167 27.871 22.881 15.829 152.464 inhalant 2.482 55.242 2.929 19 526 27.584 subutex barbiturat 116.278 54.183 933.249 33.009 24.575 146. Total Konsumsi Narkoba 2008 (dalam 1.362 7.802 292.767 13.100 2.613 34.055 11.662 146.957 29.153.167 630.310.994 16.456 10.749 449.249 25.301 11.696 5.725 7.559 20.983.853 49.316 98.760 162 69.128 169.080 975 3.141 28 50 273 30.220 1.075 39.345 100.968 188.806 29.616 10.000.456 23.374 613.376 353.405 6.628 20.707 501 17.781 48.302 217.683 193.081 41.894 16.951 214.251 15.721 172.Halaman | 63 Tabel 3.705 20.939 59.153 6.094 2.450 83.013 67.524.499 15.609 3.077 6 24.393 21.901 100.363 148.068 8.039 11.544 62.624 13.716 23.212 32.232 9.778 30.793 284.319 158.172.293 hashish 150 1.751 4.575 44.111 3.108 50.395 557.294 914 37.118 57.158 125.527 35.004 70 3.075 39.062 72.000 rupiah) ganja 82.276.134 96.938 65.631 20.061 6 146 19.095 13.743 131.358 13.891 55.359 144.974 21 63.214 654 14.772 132.227 7 212 232.842 5.217 15.679 68.768 15.415 203.076 12.331 262.546 20.791 84.651 159 270 124 208 151 48 9 23 9 1 40 1 3 5 3 832 380 4.855.376.872 7.283 20.512 121.992 382.182 1.452 23.909 4.977 136.868 2.727 35.991 799 61.870 16.088 33.212 1.334 305.825 182.441 39.429 1.377 22 674 33.940 34.351 78.927 33.407 165.061 243.342 LSD kecubung 4.317 25.499 230.889 19.216 44.806 1.045 49.587 233 1.436 34.309 143.024 34.212 195.803 1.211 13.176 3.867 19.

624 570.701 2013 28.957.236 4.035.091.018.443.822 1.546 1.765 10.299 332.331 13.410 64.657 5.747 407.179.454 59.427 34.770 12.265 4.443.622 51.146 34.391.621.856 15.519 19.741 283.024 1.000 rupiah) 2008 15.060 252.243.296 57.805 7.133 13.227.021 24.759 955.092.124 1.539.563 1.243.489. Proyeksi Kerugian Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba.923.933 990.628 2011 22.412 4.340 2010 20.723.877 1.944 1.103 103.140.176.424 45.266.681 1.705 26.282.325 30.242.903 41.036 722.530 32.721.388 8.022 71.901 38.263 297.135 363.690 12.735 3.762.700.472.955.531 323.563 48.784 1.220 882.109 1.703 456.464 37.205 46.577.346 1.688 323.194 24.274.997 57.614 318.287.356 1.240 406.376.482 92.313 1.450 8.795 446.715 680.071 7.532 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.803 288.208 5.090 1.146 811.292.728 1.070 237.951.574.757 8.539 51.436.387 6.201 27.050 909.604.318.110.515 256.967.879 1.094.010.125 1.867 31.986 Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2009 18.776 30.704 74.243 22.768.191 762.195.115.273.021 82.813 188.521 43.237 227.953.809 80.177 10.000.Halaman | 64 Tabel 4. tahun 2008 .463 356.375.547 941.743.519 66.562 1.183 27.433 22.254 265.471 8.602 839.410 9.882.930 2012 25.403 39.514.436 35.031 399.562 853.068.780 6.555.702.054.812 4.413 1.199 9.986 510.192. 2008-2013 (dalam 1.084 362.278 211.

520 166.644.803 2.886.443.626 50.195 533.071.792.249 503.171 5.714 963.994.003 319.092 700.191.748 876.412.151.060 434.860 10.727 168.910 289.431 63.312.364.784 1.135.029 151. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.019 390.758 4.324.394.813 285.610 190.694 3.834 430.347.351 1.923.352 1.455 1.945 57.049.217 157.939.351 124.679 566.417 1.961 1.292.950 170.967 108.531 2.013 1.691 261.536 6.240 2.381 803.981.787.807 7.860 5.324 360.383 430.183 282.762 780.974 255.518.454 571.955 4.243.152 184.507 5.799 208.650 1.164 447.573.985 636.653 285.393 186.058 512.335 756.011 4.589.139.358 327.861 153.764 269.115 314.623 211.634 2.159 486.501 385.548.554 347.787 4.710 450.135 2.207 175.384 257.382 1.396 206.866 135.659 558.220 451.524 8.957 121.549 204.336 1.258 111.556 1.986 617.970 252.010 3.Halaman | 65 Tabel 5.008 2.067 1.488 1.718 397.732 2. tahun 2008 .092 865.658 11.009 3.580.214 498.912 291.473.199 350.663.463.865 195.652 356.544 230.588.957.924 37.959 45.434 945.079 720.523 312.277.586 781.187.530.696.522 405.657 359.194 603.368 110.442 1.363 442.058 2.474 235.455.015.823 578.000 rupiah) 2.669 1.681 186.709 479.892 1.532 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.035.549 231.695 554.684 630.106 1.552 659.210.370 1.162 2.764 139.133 507.282.544 702.878 242.425 401.935 846.242.927 776.315 895.342 56.948.430.940.562 1.266.369.623 99.891 41.026 137.012 4.700 1.243.423 537.559 440.596 168.673 6. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROP Proyeksi Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba (dalam 1.604 1.023 1.960 2.444 6.833 51.052 70.010.420.046 174.515 2.090 401.143 7.304 9.278 136.981.154 1.165 593.682.681 1.295 322.570 286.007 1.970 279.677 788.774.925 32.853 1.054 233.061.000.387.726.734 593.232 7.811 218.599.013 4.595 228.928 675.742 360.716 492.471 387.560 645.235.648 97.751.146 398.267 1.260.610 1.756 455.116 517.231 2.032 2.377 259.862.672 156.092.996.130 1.055.805 502.620 151.678 4.337 78.112.893 708.459.929.274 628.499 5.386.857 123.083 562.279 319.981 364.105 478.440 164.247 1.512 355.443 1.543 1.502 46.249.

11. tenaga dan pikiran dengan tulus untuk membantu kami terutama dalam hal menyediakan tempat basecamp. 10. 9. 13. 17. setting lapangan. entry data dan analisis data. Ramola Hendri Hartati Ardha Renzulli Heru Susetyono Heksa Sari Julianti Haryono Junedi Zahid Iffahwan Basuki Iman Hadi Ferdinand P. Nama Koordinator lapangan Meyke C. mengumpulkan enumerator dan memberikan informasi gambaran penyalahgunaan narkoba di lokasi survei. 3. namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar bagi mereka. 16. tahun 2008 . 2. Bahkan beberapa rekan korlap juga sangat dibantu dengan teman mitra lokal/LSM yang menenangkan responden yang merasa ‘terusik’ dengan kehadiran ‘orang asing’ bagi mereka. Siagiaan Sonny Wibisono Bayu Fajar Wirawan Rudi Zulkarnaen Hari Moertopo Nodivel Ahmad Caesar Wisnu Issantoso Lokasi Survei Manado Surabaya Bandar Lampung Pontianak Yogyakarta Palu Batam Palembang Medan Bandung Makassar Samarinda Mataram Denpasar Semarang Jakarta Papua Survei ini juga tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar tanpa bantuan teman-teman LSM dan Mitra Lokal yang telah menyediakan waktu. pengumpulan data. 8. 7. Pastinya masih segar ingatan akan begitu banyak teman-teman yang berpartisipasi mengikuti proses rekrutmen koordinator lapangan hingga akhirnya terpilih 17 kordinator lapangan dan dibantu oleh 170 enumerator. try out kuesioner dan instrument penelitian. 15.Halaman | 66 UCAPAN TERIMAKASIH Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 terselenggara atas prakarsa Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia telah berjalan dengan lancar. 14. Semoga kita dapat melanjutkan hubungan baik untuk bekerjasama di kegiatan-kegiatan berikutnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman atas dedikasinya terhadap pelaksanaan pengumpulan data di 17 lokasi survey hingga proses editing data. 5. Berikut nama korlap dan lokasi survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN-Puslitkes UI: No. 4. Semoga kita dapat terus melanjutkan kerjasama pada kegiatan-kegiatan seterusnya. pelatihan. 12. Di bawah ini adalah mitra lokal dan LSM untuk Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN RI -Puslitkes UI : Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Maka kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua mitra lokal dan teman-teman LSM yang kami tidak bisa sebutkan satu persatu. 6. Kegiatan ini terlaksana salah satunya karena kerjasama semua tim yang telah terlibat mulai dari perumusan ide. pembuatan kuesioner. 1.

M. Aslam Anak Agung Kresna Ida Ayu Laksmi Rudhy Sinyo Eko Maryono Muhamad N Arifin Edy Herry Pryhantoro. Hassanudin YMM YMM Univ. SE. SSos. Sumatera Utara YBTDB Dinkes Batam Dinkes Batam Yayasan Intan Maharani Yayasan Intan Maharani Univ. Nugroho Ryan Stella Sophian Shanti Riskiyani Rodhi Lolong Martin Umar Junaedi Sri Nurrahma Ester Erfan. M. SKM. Padjajaran 9 10 11 Jateng (Semarang) DI Yogyakarta NTB 12 13 Sulsel (Makasar) Sulut (Manado) 14 15 16 17 Sulteng (Palu) Papua (Jayapura) DKI Jakarta Jabar (Bandung) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Kes & Ali Chozin Syahri Suharni/ASA Asmaripa Ainy. Mataram Makasar Harm Reduction Community (MHaRC) Univ. Udayana East Java Actions Yayasan Bina Hati Univ.Kes Aji Vespa Abdul Muthalib Tahar. LSM/Yayasan Yayasan Pontianak Plus Univ. M. Indra K.Halaman | 67 No 1 2 3 Wilayah Kalimantan Barat (Pontianak) Sumut (Medan) Kepri (Batam) 4 Sumsel (Palembang) 5 6 7 8 Bandar Lampung Kaltim (Samarinda) Bali (Denpasar) Jatim (Surabaya) Mitra Lokal Rizal/ Mia Sabran Eban Totonta Kaban. S. S. Mkes Erigana.Si. SKM. SE Arlan Yulfar. Tanjungpura Yayasan Medan Plus Univ. Airlangga Yayasan Performa Univ. tahun 2008 .Si Didik J. M. Padjajaran Univ. Tadaluako YPPM UI (Kessos) Yayasan Rumah Cemara Univ. Sriwijaya Saburai Support G Univ. Drs. Lampung Yayasan Laras Yayasan Mata Hati Univ. SH. SSos. Diponegoro UGM Forum Korban Napza Univ.Sos Meilani. Radit Dadi Suhanda. Nasution Efrizal .Si Yvonne Joyo Nur Suryanto Gono.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->