LAPORAN SURVEI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Badan Narkotika Nasional
bekerjasama dengan

Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Halaman | 2

KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji dan syukur atas rahmat dan kekuatan dari-Nya sehingga laporan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tahun 2009 telah dapat diselesaikan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Hasil survei tahun 2008 ini lebih detail hasilnya sampai ke tingkat propinsi, baik dari sisi estimasi jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi akibat narkoba. Studi ini melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, informan, mitra lokal, kontak person, koordinator penelitian, asisten dan peneliti lapangan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Brigjen Pol. Drs. J. Salean SH., Dra. Endang Mulyani, MSc., Drs. Mufti Djusnir Apt. Msi., Drs. Hendrajit P. Widigdo, Drs. Sumirat Dwiyanto,. Siti Nurlela, Sri Lestari, dan Ibnu atas bantuan dan kerjasamanya pada setiap tahapan studi ini, mulai dari proses pengembangan instrumen sampai penulisan laporan. Akhirnya kami berharap studi ini akan dapat memberikan kontribusi yang berguna dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan penyempurnaan program pencegahan dan penanggulangan narkoba di Indonesia umumnya dan tingkat Propinsi khususnya.

Tim Peneliti Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Singkatan 1. Pendahuluan ..........................................................................................................7 2. Tujuan ....................................................................................................................7 3. Tinjauan Pustaka Singkat .......................................................................................8 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba .................................................................8 3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba ..................................................9 4. Metodologi............................................................................................................9 4.1. Desain Studi ...................................................................................................9 4.2. Lokasi Studi ..................................................................................................10 4.3. Definisi Operasional ......................................................................................10 4.4. Keterbatasan Studi.......................................................................................11 5. Hasil.....................................................................................................................11 5.1. Prevalensi Penyalahguna .............................................................................11 5.2. Karateristik penyalahguna ...........................................................................13 5.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba ...................................................13 5.4. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba ..................................19 5.5. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba....................................................22 6. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013...................................................................................................................23 6.1. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 ................................23 6.2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba .......................................25 7. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba ....................................26 7.1. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna.........................................26 7.2. Peredaran gelap narkoba.............................................................................27 7.3. Perdagangan narkoba ..................................................................................31 7.4. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi...31 7.5. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex................................32 7.6. Pembenahan aparat penegak hukum.........................................................34 8. Kesimpulan & Rekomendasi ..............................................................................37 DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................40 Lampiran Ucapan Terima Kasih

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

tahun 2008 .Halaman | 4 DAFTAR SINGKATAN AIDS ATS BMJ BNN BNP BNK BPS CBA CEA COI DALYs DSM IV TR GDP HIV IDU LSD LSM NAPZA NARKOBA NSDUH NTB OD ONDCP PHK Puslitkes UI PSK Pemda QALYs RDS RP RT RW SAMSHA SLTA SMU SLTP SD TB THC TV UN UNODC Acquired Immune Deficiency Syndrome Amphetamine Type Stimulants British Medical Journal Badan Narkotika Nasional Badan Narkotika Propinsi Badan Narkotika Kabupaten Biro Pusat Statistik Cost-Benefit Analysis Cost-Effectiveness Analysis Cost-of-Illness Disability Adjusted Life Years Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision Gross Domestic Product Humman Immunodeficiency Virus Injecting Drug User Lysergic Acid Diethylamide Lembaga Swadaya Masyarakat Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain National Survey on Drug Use and Health Nusa Tenggara Barat Over Dosis Office of National Drug and Policy Pemutusan Hubungan Kerja Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Pekerja Seks Komersial Pemerintah Daerah Quality Adjusted life Years Respondent Driven Sampling Rupiah Rukun Tetangga Rukun Warga Substance Abuse and Mental Health Services Administration Sekolah Lanjut Tingkat Atas Sekolah Menengah Umum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Dasar Tuberculosis tetra-hidro-kanabinol Televisi United Nation United Nations Office on Drugs and Crime Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

tahun 2008 . Tabel 6. Tabel 2.Halaman | 5 DAFTAR TABEL Tabel 1. 2009 (median) Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Tabel 4. Tabel 5. 2009 Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna narkoba di Indonesia. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai 6 sumber Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan 10 narkoba di Indonesia. 23 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 Tabel 3. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba. 2008-2013 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia. 2008-2013 17 19 21 22 Tabel 7.

1 juta sampai 3. 3) mempelajari pola peredaran narkoba. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Sumatera Selatan. Dalam periode tahun 2001 sampai 2006. 27% teratur pakai. Pertama.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.57. 2005). Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. teratur-pakai. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. teratur pakai.6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI. Tujuan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya. kepolisian. Bali. Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai. Jawa Barat. yang dilaksanakan tahun 2004. Kepulauan Riau. Fakta bahwa sebagian besar penyalahguna merupakan remaja dan berpendidikan tinggi yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai.0 trilyun di tahun 2013. Sulawesi Utara. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. Sulawesi Tenggara & Papua. Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia.23. Nusa Tenggara Barat. Kedua. Pada biaya private. besaran biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari biaya hitungan studi ini. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. Menurut jenis kelamin. Hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp. laki-laki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%).9 trilyun adalah biaya sosial. Dengan total kerugian biaya sekitar Rp. 2002). memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan. 26. terdistribusi atas 26% coba pakai. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%). tahun 2008 . Hasil. Metodologi. medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. dan pecandu (suntik dan bukan suntik).6 juta orang atau sekitar 1. seperti coba-pakai. serta studi kualitatif ke berbagai sumber seperti penyalahguna/mantan. mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Sulawesi Selatan. bandar. penyalahgunaan narkoba meningkat pesat. Kalimantan Timur. 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba. Di Indonesia. Lokasi studi di 17 provinsi. Lampung. dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Terakhir. Sumatera Utara. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 3. dan 7% pecandu suntik. 5. kerugian diperkirakan Rp.4 trilyun (2008) terdiri atas Rp. Jawa Tengah.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. Jawa Timur.32. LSM. 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba. Data dikumpulkan melalui survei dikalangan penyalahguna narkoba. Dari sejumlah penyalahguna tersebut.6 trilyun atau $2. 40% pecandu bukan suntik. dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk.32. keluarga penyalahguna. DI Jakarta.5 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp.Halaman | 6 Abstrak Pendahuluan. dan lembaga pemasyarakatan. Dampak ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang yang sangat besar ini menggarisbawahi upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba sebagai upaya yang sangat mendesak. pengamatan prospektif penyalahguna. yaitu Kalimantan Barat. sebagian besar (58%) untuk biaya konsumsi narkoba. DI Yogyakarta. panti rehabilitasi.

Halaman | 7

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

1. Pendahuluan
Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Di Amerika Serikat kerugian biaya ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai $181 milyar (UNDCP, 2004), sedangkan di Canada $8,2 milyar pada tahun 2002 (Rehm, 2006). Di Australia kerugian mencapai sekitar $8,190 juta pada tahun 2004/2005 (Collins, 2008). Perbandingan kerugian biaya narkoba terhadap gross domestic product (GDP) di Amerika Serikat sebesar 1,7%, Canada 0,98%, Australia 0,88% dan Perancis 0,16% (UNDCP, 2004). Di Indonesia, kerugian diperkirakan Rp.23,6 trilyun atau $2,6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI, 2005). Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir penyalahgunaan narkoba meningkat pesat, baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Hasil sitaan barang bukti, misalkan ekstasi meningkat dari 90.523 butir (2001) menjadi 1,3 juta butir (2006), Sabu dari 48,8 kg (2001) menjadi 1.241,2 kg (2006). Jumlah tersangka meningkat dari 4.924 orang tahun 2001 menjadi 31.635 orang tahun 2006 (Mabes Polri, 2007). Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Dengan latar-belakang di atas, Badan Narkotika Nasional bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia melakukan pemutakhiran data studi biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2008.

2. Tujuan
Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu (suntik dan bukan suntik); 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba 3) mempelajari pola peredaran narkoba; 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 8

3. Tinjauan Pustaka Singkat 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba
Banyak konsep dan definisi operasional penyalahgunaan narkoba. Menurut Ritter & Anthony (1991) coba pakai (new initiation) didefiniskan apabila frekuensi penggunaan per tahun 6 kali atau kurang. Sedangkan Todorov et al. (2006) menetapkan 5 kali atau kurang sebagai mencoba, lebih dari 5 kali per tahun sebagai lebih dari mencoba, disebut pengguna teratur bila memakai setiap hari selama minimal 2 minggu. Menurut Meyer (1975), penggunaan narkoba lebih dari satu kali sehari dalam periode 10 sampai 14 hari atau lebih termasuk kategori ketergantungan obat. SAMHSA (2008) membagi perilaku pakai atas tiga kategori yaitu 1) penyalahguna seumur hidup (lifetime use), minimal sekali pakai narkoba dalam seumur hidup, termasuk penyalahgunaan 30 hari atau 12 bulan lalu. 2) penyalahguna tahun lalu (past year use), waktu pakai narkoba terakhir kali dalam 12 bulan lalu termasuk 30 hari lalu sebelum wawancara, 3) penyalahguna bulan lalu (past month use), waktu pakai narkoba terakhir dalam 30 hari lalu sebelum wawancara. Secara garis besar cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dimulai dari bukan penyalahguna hingga coba pakai (eksperimetal), menengah (moderate), penyalahguna berat (heavy use). Tinjauan atas beberapa penelitian dilakukan oleh Elinson (1974) seperti yang ditelusuri oleh Kandel (1975), menghasilkan beberapa definisi dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan pola penyalahgunaan atau tingkat ketergantungan dengan lebih rinci (Tabel 1).
Tabel 1. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai sumber
Experimental 1-2 kali (Mizner, 1973) Occasional 3-9 kali (Mizner) Casual 1-20 kali (Stanton) Moderate use 10-29 kali (Mizner) Regular Minimal 1 kali per minggu (Johnson) Heavy users 21-199 kali (Stanton) Habitual, cronic > 200 kali (Stanton) >30 kali (Mizner) 3 kali seminggu dalam 3 tahun atau lebih atau pakai tiap hari selama 2 tahun (Hochman $ Brill, 1973)

1-2 kali (Josephson, 1973)

3-59 kali (Josephson, 1973)

Satu atau lebih dari 1 bulan (Johnson)

1-9 kali (Josephson, 1972) < 1 kali dlm 1 bulan (Johnson)

10-59 kali (Josephson, 1972) 10 kali satu tahun terakhir (Hochman& Brill, 1973) min 1 kali/ bulan (Johnson)

> 60 kali (Josephon) 3 kali per minggu atau > 1 bln pakai (Robins)

Sumber : Kandel, 1975

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 9

Ada pula yang mengembangkan kombinasi pengukuran diatas, untuk mengetahui tingkat ketergantungan (dependesi) melalui kriteria DSM-IVTR (Todorov et al., 2006) dan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (SAMSHA, 2008).

3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba
Markandya dan Pearce (1989) mendefinisikan biaya total penyalahgunaan narkoba adalah private cost ditambah biaya sosial. Biaya private adalah biaya terkait konsumsi dan produksi narkoba, sedangkan biaya lain yang terkait dengan narkoba dan dibebankan bukan pada penyalahguna tetapi pada masyarakat dikategorikan sebagai biaya sosial. Schauffler (2001), Collins & Lapsley (2004) mengakui pendapat para ahli ekonomi yang membedakan biaya akibat narkoba. Studi biaya narkoba banyak yang memasukkan tiga jenis biaya utama yaitu biaya pelayanan kesehatan, biaya produktivitas, biaya terkait hukum dan pengadilan (Single et al, 2001). Beberapa negara maju membuat estimasi biaya penyalahgunaan narkoba mengacu pada ”The International Guidelines” (Single et al, 2001). Namun metodologi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada negara-negara berkembang karena keterbatasan dan ketersedian infrastuktur datanya, misalkan tidak tersedia angka incidence dan prevalence narkoba, kematian & kesakitan, kriminalitas, kesehatan, dan sebagainya (Single et al. 2001).

4. Metodologi 4.1. Desain Studi
Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Jumlah penyalahguna narkoba diperoleh dengan mengalikan angka prevalensi penyalahguna narkoba dengan populasi berisiko, yaitu penduduk yang berumur 10 sampai 59 tahun. Angka prevalensi diperoleh dari hasil survei narkoba berskala nasional yang telah dilaksanakan BNN, seperti survei penyalahgunaan narkoba di kelompok pelajar & mahasiswa tahun 2006 dan di kelompok rumah tangga tahun 2005. Untuk memperkuat analisis estimasi dilakukan penelusuran pustaka dari berbagai literatur. Untuk mendapatkan angka probabilitas perilaku berisiko dan biaya satuan per orang akibat narkoba, maka dilakukan survei dikalangan penyalahguna narkoba. Cara pengambilan sampel dengan memodifikasi metode respondent driven sampling

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Bali. DI Yogyakarta. mengkalkulasi hasil perhitungan antara hasil point 1 dengan point 2 diatas untuk mendapatkan perkiraan biaya kerugian penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. petugas lapas (24). 4. Pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam ke berbagai informan (216 orang).143 orang (teratur & pecandu). lalu nilai tersebut di proyeksikan untuk periode tahun 2008-2013 dengan menggunakan berbagai asumsi. Definisi penyalahguna coba pakai adalah mereka pernah mengkonsumsi jenis narkoba apapun maksimal sebanyak 5 kali dalam seumur hidupnya. Kalimantan Timur. tahun 2008 . 4. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. penyalahguna/mantan (42). Kepulauan Riau. Jawa Timur. Jawa Barat. Definisi Operasional Definisi operasional penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 tingkatan. Penyalahguna teratur pakai adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun (selain cara suntik) dimana frekuensi atau jumlah pakai narkoba kurang dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara. Selain itu. Periode pengumpulan data bulan Agustus sampai Oktober 2008. teratur pakai. Terakhir. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. Pecandu dipilah menurut faktor risiko.3. Lampung. Penyalahguna pecandu adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun dengan frekuensi atau jumlah pakai narkoba lebih dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu bukan suntik) dan atau pernah menggunakan narkoba dengan cara suntik dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu suntik). Sumatera Utara. panti rehabilitasi (28). DI Jakarta. dilakukan studi costing di rumah sakit untuk mendapatkan biaya perawatan dan pengobatan bila ada IDU yang sakit karena HIV/AIDS dengan sampel sebanyak 98 pasien. Sulawesi Selatan. dan pecandu. Jawa Tengah. dan bandar narkoba (30). terdiri atas: kepolisian (23). Survei tambahan dilakukan pada kelompok coba pakai dengan metode purposive sampling untuk 403 orang di semua lokasi. Dan studi observasi selama 1 bulan ke depan terhadap 108 orang di 10 provinsi. Nusa Tenggara Barat. keluarga penyalahguna (39). Setelah diperoleh nilainya. Sulawesi Tenggara & Papua. Lokasi di seluruh propinsi tersebut berada di ibukota tiap propinsi.2. serta wawancara dengan kuesioner terstruktur. Lokasi Studi Lokasi studi di 17 propinsi di Indonesia. Sulawesi Utara.Halaman | 10 (RDS). yaitu: Kalimantan Barat. Sumatera Selatan. lembaga swadaya masyarakat (30). yaitu coba pakai. Jumlah sampel penyalahguna terpilih sebanyak 2.

Hasil 5. provinsi yang tidak di survei menggunakan asumsi data dari provinsi terdekat yang di survei sebagai masukan datanya.1. Untuk sumber data populasi penduduk diperoleh dari website yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Australia Nasional University (ANU)1. Misalkan pernah melakukan tindakan kriminalitas. • 5.Halaman | 11 4. Angka prevalensi dipilah menjadi 3 kategori menurut jenis penyalahguna yaitu coba pakai. dan pecandu berdasarkan jumlah frekuensi pemakaian dan cara pakainya. tahun 2008 . Angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa tahun 2006 dan survei narkoba di rumah tangga tahun 2005. Keterbatasan Studi Berikut adalah keterbatasan dalam studi ini: • Perspektif perhitungan biaya studi dari sisi penyalahguna narkoba (klien). Untuk itu. teratur pakai. Angka prevalensi penyalahguna dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa per provinsi. Prevalensi Penyalahguna Perkiraan besaran angka penyalahgunaan narkoba diperoleh dari perhitungan model matematis dengan formulasi berikut: angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dikalikan dengan populasi penduduk berisiko (usia 10-59 tahun). Di kelompok pecandu dipilah lagi menjadi pecandu suntik dan pecandu bukan suntik.4.datastatistik-indonesia. biaya adanya Badan Narkotika Nasional. Sedangkan laporan studi ini mencerminkan seluruh provinsi (33) di Indonesia. biaya penyediaan penjara. pernah dirawat di rumah sakit. Survei penyalahgunan narkoba dilakukan di 17 provinsi untuk mendapatkan probabilitas perilaku dan biaya satuannya setiap konsekuensi narkoba. biaya pengungkapan kasus pihak kepolisian. atau detoks/rehab dua tahun yang lalu maka tidak dihitung dalam studi ini. dan sebagainya. yaitu September 2007 sampai Agustus 2008. bukan dari perspektif pemerintah. • Biaya ekonomi yang dihitung dalam studi ini pada periode 12 bulan lalu sebelum wawancara. Sumber data populasi pelajar diperoleh dari buku saku yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas. 2006). 1 www.com Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Misalkan. Sehingga biaya-biaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba yang dikeluarkan pemerintah tidak dihitung dalam studi ini. Sehingga biaya-biaya yang dihabiskan dan dikeluarkan diluar periode waktu tersebut tidak dihitung.

577 169. Jumlah penyalahguna narkoba coba pakai diperkirakan 807ribu – 938ribu orang yang sebagian besar adalah laki-laki (85%).075 19. Penyalahguna teratur pakai kebanyakan berada pada kelompok bukan pelajar (60%). Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.294 145.252.422 6.917.055 3.281 40.148 145.935 380.041 Pelajar Laki Perempuan Bukan Pelajar Laki Perempuan Laki Keseluruhan Perempuan Total 133. Jawa Timur (18%).676 1.114. Jumlah pecandu bukan suntik diperkirakan sebanyak 1.258.578 22.772 82.435 215.943 132.026 88.Halaman | 12 Dari hasil kalkulasi diperkirakan jumlah penyalahguna sebanyak 3.941 1.1 juta sampai 3. Mereka kebanyakan berasal dari kelompok pelajar (90%).520 154. Dari sejumlah penyalahguna tersebut.908 133.716 682.274 5.140 829. Tabel 2.186 185.379 1.022 1. tahun 2008 .448 857.282 33.814 959.971 35. terdistribusi atas 26% coba pakai.223 1. Pada kelompok pecandu narkoba terdiri atas 2 jenis.146 38. terutama laki-laki.180 440. Menurut jenis kelamin.607 70.166 611. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik.718 990.734.898 710.078 205.149. sedangkan pada teratur pakai dan pecandu lebih banyak terjadi di bukan pelajar/mahasiswa.819 294. dan 7% pecandu suntik. dan Jawa Tengah (14%). Propinsi yang memiliki kasus terbesar berada di Jawa Timur (15%).169. Coba pakai.833 113.480 218.322 807.056 53.653. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).359 741. 27% teratur pakai.762 Teratur pakai.850 39.124. Penyalahguna teratur pakai paling banyak berada di Jawa Barat (23%).197 132.635 155.484 2.085 61. tahun 2008 Jenis Penyalahguna Coba pakai minimal maksimal Teratur pakai minimal maksimal Pecandu Bukan Suntik minimal maksimal Pecandu Suntik minimal maksimal Total Lahgun minimal maksimal 1.702 238.857 174.366 102.866 1.502 1. lakilaki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%).400 1.45 juta orang.459.080.817 938.304. Penyalahguna coba pakai lebih banyak di kelompok pelajar (90%).724 32.610. 40% pecandu bukan suntik.950 12.781 446. Jumlah penyalahguna teratur pakai sekitar 829ribu – 959ribu orang yang sebagian besar didominasi oleh laki-laki (89%).884 3.719 125.234 3.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008.25 juta sampai 1.180 10. Kelompok bukan pelajar/mahasiswa semakin besar proporsinya pada jenis penyalahguna ini mencapai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.538 114.008 27.988 340. dan Jakarta (10%).6 juta orang atau sekitar 1.461 516.581 253.858 46.478 202. Jawa Barat (14%). Pecandu bukan suntik. Jawa Tengah (15%).669 792.

Sekitar seperempat responden berstatus menikah. 5. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba Dari hasil survei dikalangan penyalahguna diketahui beberapa perilaku penyalahguna sebagai berikut: Merokok dan alkohol. Pecandu suntik diperkirakan sebanyak 218ribu sampai 253ribu orang. tahun 2008 . Hampir seluruh responden pernah merokok (99%). Karateristik penyalahguna Dari hasil survei dikalangan penyalahguna narkoba.Halaman | 13 88%.3. sedangkan yang mengaku bekerja kebanyakan adalah pegawai swasta (15%) dan wiraswasta/ pedagang (12%). Pecandu suntik lebih banyak yang tinggal bersama orangtuanya (64%) dibandingkan jenis penyalahguna lainnya. Ada sekitar 93% dari responden yang pernah minum alkohol. terutama para pecandu suntik. yaitu minimal telah tamat SLTA ke atas. terutama di teratur pakai (12%). Kejadian pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (79%) lebih tinggi dibandingkan pada pelajar/mahasiswa (21%). Riwayat dan pola konsumsi narkoba.2. Mereka yang berstatus mahasiswa/pelajar sebanyak 28%. dan mereka yang masih aktif merokok dalam setahun terakhir sebanyak 95%. Ganja (66%) dan obat penenang/barbiturat (21%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali oleh responden. Sekitar seperempat responden tidak bekerja. 5. Lebih dari separuh responden mengaku masih tinggal bersama orangtuanya (58%) dan sekitar seperempatnya tinggal di rumah kost atau kontrakan. Pecandu suntik. Sebagian besar penyalahguna adalah laki-laki. Sedangkan pada teratur pakai dan pecandu bukan suntik kebanyakan mahasiswa (32% dan 24%). Populasi pecandu suntik paling banyak di propinsi DKI Jakarta (14%). Pecandu suntik kebanyakan berstatus tidak bekerja (34%). Alasan yang Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. hanya 9% dari penyalahguna adalah perempuan. Sebagian besar telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi (80%). Jawa Barat (14%) dan Jawa Timur (13%). Umur pertama kali pakai narkoba kebanyakan usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA. Demikian pula dengan minum alkohol. Dalam setahun terakhir. Dimana pecandu bukan suntik kebanyakan berada di provinsi Jawa Barat (19%) dan Jawa Timur (16%). diketahui lebih dari separuh responden berada pada kelompok umur 20-29 tahun (68%). dimana proporsi terbesar berada di kelompok pecandu suntik. mereka yang masih minum alkohol sebanyak 81%.

Ada perbedaan banyaknya jumlah konsumsi narkoba.08. shabu.. pokoknya cocok ni. jadi pengawasan saya kurang. kurangnya informasi tentang narkoba dan kurangnya pengawasan orang tua.. Ganja (71%) masih tetap paling banyak disebut dalam pemakaian narkoba setahun terakhir. jadi berani. “Obat-obatan seperti Sanax. Informasi tersebut bagi pihak anggota keluarga sebenarnya sudah terlambat karena rata-rata mereka sudah pakai narkoba lebih dari 5 tahun. “.. di pecandu suntik adalah putau bubuk. obat penenang/barbiturat (52%).2.. Putaw.. Sekitar 83% dari responden pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba (poly drugs). Suami di Bandung. di pecandu bukan suntik & teratur pakai adalah shabu. cuma saya sibuk kerja.05. dan putau bubuk (32%) adalah jenis narkoba yang paling populer dipakai dikalangan responden. ternyata ada sekitar sepertiga (33%) dari anggota keluarga responden juga penyalahguna narkoba. Sayangnya. fly.. lebih dari separuh (61%) responden masih mempraktekan penggunaan narkoba lebih dari satu jenis (poly drugs).3. lexotan. pengaruh pergaulan.namanya pil BK itu. perbandingkan median frekuensi pakai antara pecandu suntik (720 kali pemakaian) dengan teratur pakai (20 kali pemakaian) dalam setahun terakhir. Bisa kumpul sebagai 1 keluarga itu gak ada. over dosis. Ganja (92%). Jadi saya sibuk kerja.1. Camlet.P1).. putaw. ga macho. enak banget aja deh kayak di surga” (BD-1. terutama para pecandu suntik (87%) dalam setahun terakhir.P2).P1).3. Menurutku yang paling mahal shabu.. Lebih dari separuh penyalahguna telah diketahui statusnya sebagai penyalahguna narkoba oleh pihak keluarga (53%).03. Dari semua yang pernah dipake paling enak putaw Duh enak banget. “Kurangnya perhatian.. Lihat. Feri butuh uang saya kasih. susah euy. Semua masih dipake saat ini. Dari hasil identifikasi pada kelompok pecandu suntik. tahun 2008 . rumah tangga saya gak harmonis sama suami. namun tidak untuk kelompok teratur pakai (36%). Subutex. ee ternyata enak.10.2. terus pergaulan. ganja. kan nambah metal tu. ga laki kata orang kan. nah itu lah akhirnya jadi begitu” (KPN-1. orang kalo ga kenal gituan ga keren tuh. Bahkan. dibandingkan pecandu bukan suntik dan teratur pakai (78%)..”(PN-9.Halaman | 14 diungkapkan pakai narkoba karena ingin coba-coba. pada umumnya keluarga mereka baru mengetahui ada anggota keluarganya yang menyalahgunakan narkoba setelah ada kejadian tertentu seperti tertangkap polisi. 80% dari pecandu suntik telah diketahui oleh keluarganya. berani abis.2..pertamanya pergaulan sih. “.P3). dan sakit. dimana pecandu suntik paling banyak frekuensi pakai narkobanya. heueuh. ekstasi (30%). kecuali ganja. Cimeng. tapi dalam tanda kutip perhatian dah cukup.2. Tidak hanya itu. Para pecandu suntik (98%) lebih tinggi yang melakukan “poly drugs”. ada perbedaan jenis narkoba yang populer dikalangan mereka.jenis narkoba yang pernah dipakai pil hypnoril. putau bubuk (15%) dan methadon (13%). jadi coba-coba. Ekstasi (54%). Misalkan. Bahkan ada sebagian dari Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Jika dilihat dari jenis penyalahguna. saya di Jakarta.1. obat penenang (28%). tapi efeknya paling enak putaw” (PN-1. stokun. Shabu (64%). Jenis narkoba lainnya adalah shabu (38%). awalnya gitu aja deh..

dari situlah saya baru mengetahui jika dia adlh pemakai” (KPN-4. Angka prevalensi pakai narkoba suntik pada perempuan (69%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (62%) dalam setahun terakhir. Namun.3.2. Dari mereka yang pernah berhubungan seks. Paling tidak ada 3 jenis narkoba yang banyak disebut terkait dengan hal itu. Ada sekitar sepertiga dari responden yang mengaku sebagai pecandu suntik. yaitu 19 tahun.. Saat ini ada dua jenis zat/narkoba yang paling banyak disuntikan ke dalam tubuh. dengan nilai median 60 bulan. “Saya tidak tahu pasti. yaitu shabu (40%). yaitu putau bubuk dan subutek. Sekitar 85% dari responden pernah melakukan hubungan seks. Sayangnya hampir separuh dari responden ketika berhubungan seks tidak pernah pakai kondom dalam setahun terakhir. tahun 2008 . Hanya sekitar 9% saja yang selalu pakai kondom.Waktu diambil sampel darahnya utk keperluan pemeriksaan golongan darah.P2). Tidak ada perbedaan jenis narkoba yang disuntikan antara laki-laki dan perempuan. Kejadian penyakit dikalangan penyalahguna.2. sebagai pemakai di sekitar sini. Narkoba dianggap dapat meningkatkan libido untuk berhubungan seks. dengan median usia pertama kali umur 17 tahun. Seks dan Narkoba. tapi saya mengetahuinya pada saat dia sedang sakit di RS itu. sedangkan perempuan 42 bulan. “Saya mulai tahu dia pake narkoba sekitar tahun 2004. Penyalahguna narkoba suntik. laki-laki lebih lama sebagai penyalahguna narkoba suntik yang digunakan secara teratur..01..3. Dalam setahun terakhir.” (KPN7. ganja (36%) dan ekstasi (32%).karena dia pada saat itu dia ketangkep. mereka yang pernah berhubungan seks sekitar 73%. terutama para pecandu suntik. rasa sesak pada Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.P4). Prevalensi yang pernah pakai narkoba suntik lebih tinggi pada laki-laki (35%) dibandingkan perempuan (26%). yaitu: rasa mual (45%). Dengan frekuensi pemakaian jarum suntik baru pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Dengan median frekuensi pemakaian narkoba suntik sama besar. Tidak ada perbedaan median umur pertama kali pakai narkoba suntik antara laki-laki dan perempuan.Halaman | 15 informan yang menyatakan bahwa mereka baru tahu anaknya pakai setelah teridentifikasi mengidap HIV/AIDS. dimana kebanyakan dilakukan oleh laki-laki (80%). dengan median jumlah jarum suntik baru sebanyak 15 dan 10 buah per bulan. sekitar 1 dari 10 orang pernah melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba.. Ada 5 keluhan yang banyak diungkapkan. ternyata emang sudah target. selera makan berkurang (48%). Sekitar tiga per empat responden (76%) mengaku punya keluhan masalah kesehatan. Pecandu suntik (92%) lebih banyak yang pernah melakukan hubungan seks dibandingkan kelompok lainnya.05. yaitu 1 kali dalam sehari.

Bahkan di kelompok pecandu suntik kejadian overdosis jauh lebih tinggi. Pertengahan bulan gua dipanggil lagi sama dokter dan ada orang tua. Ada sekitar 1 dari 10 responden penyalahguna pernah mengalami overdosis. rasa sakit pada ulu hati (36%). dia bawa gua kesalah satu dokter”H”. Secara detail. Gua biarin cuma berobat ke HERNA tapi belum dibilang itu HEP C. trus malamnya gua dibawa konseling. Sedangkan mereka yang dirawat inap. lebih dari separuh responden menyatakan tindakan yang dilakukan adalah ditolong atau dirawat oleh teman (55%). mereka yang pernah Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. ada sebanyak 24% yang melakukan rawat jalan dan 3% yang harus menjalani rawat inap.. Akhirnya september tahun 2000 . kalau anak-anak Rp. gua dibawa kepanti rehabilitasi.08. kebanyakan pergi ke praktek dokter (43%). Detoksifikasi & Rehabilitasi.. Gua pernah satu hari. dan itu sudah bisa dibilang stadium tinggi. Para informan pergi berobat ke dokter setelah merasakan gejala penyakitnya bertambah parah. Separuh responden pecandu suntik menyatakan tindakan yang dilakukan adalah perawatan medis (52%). dan puskesmas (22%). Ketika terjadi overdosis. sekitar 37% melakukan pengobatan sendiri dengan cara membeli obat medis/modern (71%). Selain itu. Kejadian overdosis. terutama di kelompok teratur dan pecandu bukan suntik..jadi sejak tahu status. kuku kuning dan badan gua kuning semua. dan hanya 2% yang pernah melakukannya sebanyak 2 kali. trus gua langsung masuk herna. rumah sakit pemerintah (27%). “Gua sering demam-demam tapi gua biarin aja. Selanjutnya. Setelah positif dua tahun kemudian minum ARV. Lebih dari separuh responden (60%) menyatakan diantar oleh orang lain ketika berobat rawat jalan. tapi HEP C ada. kebanyakan di RS pemerintah. kalau jalan maunya pipis terus. “.6. Gua dikasih tahu untuk saat ini tidak ada virus HIV. ada sekitar 20% yang menyatakan didiamkan saja.20 ribu. trus gua langsung detoksikasi.P13). Dari mereka yang punya keluhan. dan rasa lelah (fatigue) berkepanjangan (35%).. Kebetulan anak gue juga uda minum ARV. gue dibantu LSM.02. Bokap jemput kekosan gua. Kalau untuk orang dewasa Rp. Namun.80 ribu tiap bulan” (PN-1. tetapi orang lain yang menemani responden saat dirawat inap lebih rendah (13%).. terutama para pecandu suntik (15%).Halaman | 16 dada (43%). Hampir sebagian besar informan menyatakan seringkali mereka kurang memperhatikan gejala-gejala penyakit yang dirasakan dan malas untuk berobat ke dokter. yaitu 1 dari 4 responden (28%). Ditemukan ada sebanyak 9% biaya pengobatan ditanggung oleh kartu/SKTM/Jamkesmas. akhirnya gue jalan aja udah ga bisa.dan nyokap gua nangis. Bagi penyalahguna lebih memilih uangnya untuk membeli narkoba dari pada untuk biaya pengobatan. Ambilnya di klinik Teratai di RSHS. mereka yang pernah mengalami kejadian overdosis dalam setahun terakhir sangat rendah (2%). Ada sekitar 8% dari responden yang pernah minimal melakukan satu kali tindakan detoksifikasi ataupun rehabilitasi. Namun. Karena udah kronis. Mereka yang melakukan rawat jalan. tahun 2008 . Hampir separuh dari responden yang menanggung biaya pengobatan tersebut adalah pihak keluarga (49%) dan pihak responden sendiri (48%).” (PN-5.1.6.1.P13).

Namun. kaya yang tadi gua ceritain kan. “waduh. tindak kriminalitas pada orang lain lebih banyak dilakukan oleh para pecandu suntik (28%)... karena dalam upaya tersebut didasari atas kesadaran sendiri.pernah. Berdasarkan pengakuan. karena bini aku udah bunting 4 bulan.suratnya saya bilang kebapak ini pekarangan pingin saya jual tapi sempet kurang boleh tapi karena dibawah pengaruh obat itu jadi nekat aja udah hilang langsung laku” (PN-10. terutama pada kelompok teratur pakai (80%).2.4.. urat-urat ini kaya di isi jarum kalo mo tahu...05. Data ini memperlihatkan masih sangat rendahnya akses layanan untuk detoksifikasi maupun rehabilitasi.4. bandingkan dengan teratur pakai hanya 15%. lo bayangin. jadi terpaksa aku berhenti total....P9). ngambil duit 325 juta. Hampir sepertiga dari responden pernah melakukan upaya tersebut. Tindak Kriminalitas. aku ga pengen anak aku ini cacat kan.3..3..05. Sedangkan mereka yang pernah rehabilitasi sebanyak 8%. gua itu berhentinya mendadak. dan sebagainya. misalkan mencuri ataupun merampok. pake ganja tuh berhentinya tu. Bagi sebagian penyalahguna menganggap dengan pasang badan bisa lebih efektif untuk lepas dari ketergantungan narkoba dibanding jenis pengobatan lainnya. ataupun ketidakmampuan membayar layanan tersebut. Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas.7% dilakukan setahun terakhir. Kebanyakan yang pernah melakukan tindakan tersebut para pecandu suntik (58%). dan kebanyakan dilakukan oleh para pecandu suntik (61%).. dan 2% dilakukan setahun terakhir..1. Tindak kriminalitas tersebut masih terus dilakukan dalam setahun terakhir (13%).mimisan. Lebih dari sepertiga responden (35%) pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. yang disebabkan ketiadaan akses layanan. Hanya 38% yang pernah melakukan tindak kriminal tersebut. saaakit badan gua. Upaya pengobatan sendiri untuk bebas dari ketergantungan narkoba.P1). Dalam upaya berhenti dari kecanduan narkoba. misalkan pasang badan...Halaman | 17 detoksifikasi sebanyak 5%. kalo ga nge-boti pala gua migraine. ketidaktahuan dari responden. tahun 2008 . itu aja. Kebanyakan tindak kriminalitas tersebut dilakukan di tingkat keluarga (66%)..diem kalau pekarangan ibu sudah meninggal dapat tiga tahun ada surat. tidak seluruh responden pernah melakukan tindak kriminalitas. bayangin orang kepanasan jam 12 siang gua kedinginan...” (PN-8. janm 12-1 malam gua mandi. tuh. ngegigill. dan 0. para responden telah berupaya melakukan pengobatan sendiri.P9). “Kalau jual motor diem. Sedangkan yang pernah melakukan tindakan keduanya sebanyak 2%. terutama dikalangan pecandu. “. ngebobol brangkas bokap.. membeli obat bebas.” (PN9.. itu waktu orang kedinginan gua kepanasan. Bahkan masih ada sekitar 15% yang melakukan upaya tersebut dengan frekuensi sebanyak 6 kali pada tahun lalu. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.11. berak ampe keluar darah. Namun mereka yang mengalami kejadian tersebut sekitar 17% dengan median jumlah kecelakaan sebanyak 1 kali pada tahun lalu. kalo bisa milih.. enakan digebuki orang dari pada gua nahan sakau. nah.

Satu dari 5 penyalahguna pernah ditangkap pihak kepolisian terkait urusan narkoba. males bangun tidur. Dalam upaya mencari penyalahguna baru.P1). eh.. proyek (order) pada mundur. Mereka yang mengakui hal ini ada sebanyak 41%... diperkirakan jumlah penyalahguna yang mati ada sebanyak 14.P7). Beli segitu sekaligus jualin kalau ada teman yang mau.1. Hampir separuh responden tersebut adalah para pecandu suntik (47%).2. Nilai median jumlah teman sesama pengguna yang masih hidup sebanyak 10 orang. Hampir sepertiganya (31%) adalah pecandu suntik. tahun 2008 . Teman yang meninggal tersebut kebanyakan laki-laki (93%). di luar lingkungan sekolah. Jejaring penyalahguna narkoba perlu diketahui. Langsung. salah satunya dengan menanyakan jumlah teman sesama pemakai narkoba. Jumlah median teman narkoba yang meninggal ada sebanyak 3 orang. Ranking juga 2 dan 3 juga. masih ada sebanyak 3% dari penyalahguna yang dipenjara..894 orang pada tahun lalu. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. “Ya mengganggu! jadi banyak yang terbengkelai.” (PN-3. Namun. Biasanya beli 1 gram untuk 3 hari. Teman pecandu suntik lebih sedikit dibandingkan pecandu lainnya. Ranking 3. Pada tahun lalu. misalkan tidak sekolah atau bekerja. Tanggung jawab jadi kurang. Dengan menggunakan angka persentase tersebut per provinsi. dengan median umur 27 tahun. dengan median frekuensi tertangkap sebanyak 1 kali. Dalam tahun lalu. “Frekuensi makai putaw 3-4 kali sehari. Ranking 2. Aktivitas Pribadi Terganggu.. Selain itu. terus meremehkan” (PN-8. Ada satu dari 10 penyalahguna (13%) yang pernah dipenjara terkait dengan narkoba. Teman responden yang pakai dan mati karena narkoba. Penyebarluasan narkoba & harga pasaran. Penyalahguna mengakui ada aktivitas yang terganggu akibat mengkonsumsi narkoba. terutama di pecandu suntik. terutama para penyalahguna suntik. lumayan buat nambahin beli” (PN-1.. terutama para pecandu suntik (46%). “Dulu otomatis mbak.2. sedangkan dikelompok pecandu bukan suntik 3% dan teratur pakai 1%. Karena beda.P7).Halaman | 18 Penangkapan Oleh Pihak Kepolisian. Jadi malesan. Ngaruh banget.09. diketahui angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebesar 5% per tahun. mereka yang mempraktekan menjual narkoba dalam setahun terakhir telah jauh berkurang hanya 8%.. Hampir sepertiga (31%) dari responden pernah menjual narkoba. terutama para pecandu bukan suntik (57%).08.2. saat aku ada dilingkungan mereka. Jadi dulu aku SMP itu selalu ranking. Dengan tingkat kematian teman dikalangan pecandu suntik sebesar 15%.10. Dengan informasi data tersebut.3. hanya ada 1 dari 20 penyalahguna yang tertangkap pihak kepolisian. ada 1 dari 10 responden (11%) pernah mempraktekan sebagai kurir narkoba.3. tapi dari belakang. Pengalaman di Penjara.. sekitar separuh responden (52%) pernah menawarkan narkoba ke orang lain. Aku kelas 2 pindah sekolah udah kenal itu. ngaruh banget mbak. Ditemukan masih ada 26% dari responden yang merasa aktivitasnya terganggu setelah mengkonsumsi narkoba dalam tahun lalu. Ditanyakan pula teman sesama penyalahguna yang meninggal dunia terkait narkoba dalam tahun lalu.

Demikian juga dengan lama hari perawatan.763ribu per tahun. Jenis Narkoba Satuan (Rp) 50. tempat kos dan lokasi Heroin 1 paket 100. Hasil studi costing di salah satu rumah sakit pemerintah di Jawa Timur menemukan bahwa secara rerata. Peredaran Hasish 1 paket 37.000 dari pihak kepolisian.500 rumah penduduk. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) 5.1 juta sampai Rp.2. Di beberapa kota Methadon 1 gelas 5. Bandingkan.000 Putau bubuk 1 paket 100. mereka yang punya 1-3 gejala hanya sekitar Rp. 1. Tidak dengan resep dokter aja bisa keluar. Harga pasaran secara rerata Ganja 1 paket 15. Semakin banyak gejala yang dialami oleh ODHA maka beban biaya pengobatannya semakin mahal.10. misalkan ganja di Medan 1 Harga pasaran paket Rp.15. “Sama di sini nich di daerah “X” ada Apotik “Y”.73ribu sampai Rp. Gambaran hasilnya adalah sebagai berikut: Biaya pengobatan dipilah menjadi rawat jalan dan rawat inap. apotik/toko obat dapat dijadikan sumber mendapatkan narkoba racikan. Sumber pembiayaan selama di rumah sakit sekitar 48% berasal dari pemerintah melalui program Askeskin.500 narkoba tidak lagi terfokus di tempatKokain 1 paket 200.7 juta sedangkan yang memiliki lebih dari 5 gejala sebesar Rp. seperti pengakuan salah seorang bandar. Demikian juga dengan biaya rawat inap. dengan rentang antara Rp.2 juta per orang.5000. semakin lama tinggal di rumah sakit maka beban biaya yang harus ditanggung semakin mahal.380ribu per orang per tahun.4.5 juta per orang. hal itu sengaja dibiarkan saja” (BD2.3. Selain itu. Apotik itu nakal. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. terutama bila ada acara organ tunggal yang memutar house music.250 di pemukiman kumuh.000. Tapi saya pernah dengar issue.000 tempat hiburan tetapi sudah bergeser Shabu 1 paket 200. Tabel 3. Biaya rawat jalan pecandu suntik lebih besar dibandingkan penyalahguna lainnya. Hasil survei dikalangan penyalahguna. Sedangkan median biaya pasien rawat jalan sekitar Rp. menemukan rerata besar biaya untuk rawat jalan sebesar Rp. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba 5.5.000 lain yang kurang mendapat perhatian Putai cair 1 paket 150. Biaya satuan konsekuensi narkoba per orang per tahun Biaya satuan (unit cost) dari konsekuensi narkoba per orang per tahun diperoleh dari hasil wawancara dengan para penyalahguna narkoba. Tempat transaksi sering kali di tempat ramai atau di jalanan umum.Halaman | 19 Harga pasaran narkoba bervariasi antar daerah.000 ke tempat lain seperti perkampungan.4 juta dan rawat inap sebesar Rp 5.000 studi mulai terlihat peredaran narkoba Subutex 2 mili 26. Ekstasi 1 butir 137.4.000 dapat dilihat pada tabel 3.9 juta per orang.P3).3. sedangkan di Bali Rp. dengan rentang biaya antara Rp.1 juta . median biaya pengobatan rawat inap sekitar Rp. tahun 2008 . Ada juga yang memanfaatkan tempat orang hajatan.1.4.

3.2. Kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp. Biaya detoks dan rehab memiliki kisaran sekitar Rp.203 ribu dan rawat inap Rp.2.8 juta sampai Rp. Kerugian biaya produktivitas akibat sakit terdiri atas rawat jalan sebesar Rp.16. Pecandu suntik mengakui lebih banyak terganggu aktivitasnya dibandingkan penyalahguna lainnya. Sedangkan biaya pengobatan sendiri agar terbebas dari narkoba sekitar Rp. Namun. Para pecandu narkoba suntik lebih banyak mengeluarkan biaya overdosis dibandingkan penyalahguna lainnya.8 juta per tahun per orang.Halaman | 20 Biaya satuan penanganan overdosis sekitar Rp. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan pecandu suntik.514 ribu per orang per tahun. terutama dikalangan penyalahguna suntik. terkait urusan dengan aparat penegak hukum. Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas di pecandu suntik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Akibatnya.10. Nilai waktu yang hilang dikonversi menjadi biaya kerugian dengan asumsi upah minimum regional per propinsi. kecelakaan. terutama dikalangan pecandu suntik mencapai Rp. Biaya ini diukur dari orang lain yang menenami responden karena sakit.98ribu per orang per tahun. Demikian pula. Biaya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 juta. Kerugian biaya akibat overdosis jauh lebih kecil dibandingkan biaya detoksifikasi. kerugian biaya yang ditimbulkan sekitar Rp. Biaya untuk pengobatan sendiri untuk pecandu suntik lebih mahal. Kerugian biaya satuan detoksifikasi sekitar Rp. urusan dengan kepolisian.2.8 juta. Akibat pemakaian narkoba. Biaya satuan kejadian akibat kecelakaan sekitar Rp. tahun 2008 .14 juta per orang per tahun. sedangkan teratur pakai hanya Rp.8. bila urusan telah sampai ke tingkat penjara maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar lagi.5. dan penjara. Biaya detoksifikasi & rehabilitasi lebih mahal dibandingkan overdosis. Biaya satuan terkait urusan dengan pihak kepolisian akibat tertangkap diperkirakan sebesar Rp. Sedangkan biaya kerugian akibat tindakan kriminalitas lebih tinggi terjadi di keluarga sendiri dibandingkan kejadian di orang lain. Biaya kerugian akibat waktu produktivitas yang hilang (loss productivity) akibat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak.7 juta per orang per tahun. Kerugian kecelakaan jauh lebih besar terjadi di kelompok pecandu dibandingkan teratur pakai. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan kelompok penyalahguna lainnya.3 juta per orang. Dibutuhkan paling tidak sebanyak Rp. terutama barang yang diambil/dicuri di keluarganya.500ribu per orang per tahun. diakui ada aktivitas yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak.4 juta per orang. detoks/rehab.7 juta per orang per tahun terkait dengan urusan penjara ini.362 ribu per orang per tahun.

000.950ribu.000 1.500 600. pecandu bukan suntik Rp.000. Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba.000 5.800.100.742. Semakin berat tingkat kecanduan narkoba.440. dibandingkan kelompok lainnya (teratur Rp.000 LSD 110.000 9.000 1.000 9.000 SUBUTEK 9.2juta). mencapai Rp.000 BARBITURAT 60.450.800.800. shabu.000.470. Jenis narkoba yang juga banyak dibeli adalah putau bubuk.9.800.2 juta per tahun per orang.000 18.400. dan ekstasi.800. Pada kelompok teratur pakai biaya terbesar dihabiskan untuk membeli putau bubuk (Rp. tahun 2008 .800. Shabu hampir ditemukan di lokasi studi yang disurvei. dimana biaya yang harus dikeluarkan hampir 6 kali lipatnya. dimana pecandu suntik menghabiskan median biaya Rp.800.2.000 PUTAU CAIR 1.004 8. dengan nilai median konsumsi Rp.800 Pada kelompok pecandu bukan suntik biaya konsumsi narkoba kebanyakan dihabiskan untuk membeli subutek.009 18.750 6.920.5.600.800 28.000 1.800.1.000 3.225.000 1. shabu.000 102.000 HEROIN 50.000 5.000 2.000 606.800.000 1.4.Halaman | 21 yang dikeluarkan lebih besar ketika kejadiannya telah sampai di penjara dibandingkan ketika masih ditingkat kepolisian.000 624. kecuali papua.000 METHADON 1.000 HASHIS 37. Dikalangan teratur pakai. Konsumsi subutek tertinggi ditemukan di Jawa Timur.668.500.2juta) dan shabu sebesar Rp.000 1.000 PUTAU BUBUK 2. kecuali subutek.000 3.000 1.000 KECUBUNG 100.800 28.000 1.000 840.000 1. 2009 (median) Pecandu Pecandu Jenis narkoba Teratur non Suntik Suntik Pecandu GANJA 180.200.500 7.000 KOKAIN 360. 5.18 juta per orang per tahun.000 INHALAN 24.4 juta per orang per tahun.000 28. putau bubuk hanya di temukan di Yogyakarta.800. maka biaya satuan konsumsi semakin besar.000 600.885.000 1.000 100.000 1.100. Putau bubuk banyak di beli untuk dikonsumsi oleh para pecandu suntik.000 EKSTASI 1. Biaya konsumsi narkoba per orang per tahun Biaya satuan median konsumsi narkoba diperkirakan sebesar Rp.5.600.20. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 juta per orang per tahun. Tabel 4.154 SHABU 1. Sedangkan jenis narkoba lain tidak terlalu besar transaksinya.450. Penyalahguna di Bali paling banyak mengeluarkan biaya pembelian putau bubuk dibandingkan propinsi lainnya.000 3.000 400.000 1.860.330. dan heroin murni.000 5.1 juta per orang per tahun.100.

kontribusi terbesar berasal dari biaya konsumsi narkoba.0 konsumsi narkoba.11.1).6 25. Dari semua komponen biaya prívate. 26. dan Jawa Tengah. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004 (gambar 7. Jenis narkoba yang banyak diperjualbelikan dikalangan penyalahguna narkoba adalah shabu-shabu (36%). 10. yaitu sekitar Rp. tahun 2008 .4 trilyun. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada 35. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2004 (Rp. biaya yang diperlukan terkait urusan ketika tertangkap pihak kepolisian karena narkoba.26. biaya yang dikeluarkan karena dipenjara. Jawa Barat. biaya yang terjadi Tahun akibat kecelakaan lalu-lintas. termasuk biaya konsumsi narkoba.4 trilyun pada tahun 2008. Jakarta. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba Dalam konteks penghitungan estimasi kerugian biaya ini. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death).0 2004 karena sakit akibat narkoba.5. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat. dan ekstasi (13%).5 trilyun kerugian biaya pribadi (private) dan Rp. biaya untuk 5.15. ganja (15%).0 termasuk biaya ini adalah 23. istilah yang dipakai adalah biaya ekonomi.9 trilyun adalah biaya sosial. putau bubuk (15%). Diperkirakan hasil estimasi kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp. Biaya ekonomi yang dimaksud adalah biaya individual (private) dan biaya sosial.0 dalam upaya penghentian 2004 2008 narkoba. Yang 30.4 penyalahguna narkoba. yang terdiri dari Rp.32. sebagian besar (58%) adalah biaya konsumsi narkoba. Potensial peredaran narkoba terbesar berada di Jawa Timur. 5.0 biaya bila terjadi overdosis. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada penyalahguna narkoba.5 trilyun pada tahun 2008. Gambar 1. Kecenderungan total kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2004 dan 2008 Total kerugian biaya individual akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.0 melakukan pengobatan sendiri 0. biaya produktivitas yang hilang akibat pemakaian narkoba sehingga responden tidak bisa bekerja/sekolah. Biaya individual (private).Halaman | 22 5. biaya perawatan & pengobatan 20. Total biaya (dalam Trilyun Rp) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pada biaya private.0 biaya melakukan detoksifikasi & rehabilitasi.0 32. 2008 15. Definisi tersebut lebih merujuk pada definisi yang dibuat oleh Markandya dan Pearce (1989).3 trilyun).

4 Secara detail komponen biaya sosial terdiri dari biaya produktivitas yang hilang karena menunggu responden sakit.229.464.7 0.376.665 323. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 Dalam melakukan proyeksi untuk angka prevalensi. Dari aspek kerugian hilangnya waktu produktivitas proporsi terbesar akibat kecelakaan lalu lintas. ketika terjadi kecelakaan ketika berurusan dengan pihak kepolisian. tahun 2008 .060. 227.2 2.266 839.6 81.743.798.656.2 0.602. yaitu dengan mengukur tingkat biaya produktivitas yang hilang (loss productivity) dari waktu & biaya dari orang lain tersebut akibat menemani atau menunggu responden.813 252. maka mempertimbangkan dua asumsi.5.1 3.985.874.1 1.998 680. Untuk menghitung biaya satuannya digunakan pendekatan upah minimum regional (UMR) per propinsi. Total kerugian biaya sosial diperkirakan sekitar Rp.275 59. 6.071.443.243.450.423.529.123.489.6 Biaya sosial secara garis besar dapat dipilah menjadi 3 bagian.Halaman | 23 Biaya sosial.688.035.997 8.957.237 5.2 2. Tabel 5.9 0. ketika terjadi kematian akibat narkoba (premature death) dan tindakan kriminalitas. Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.682.068 3.063 882.1 12. Kontribusi biaya terbesar dari akibat kematian akibat narkoba (premature death) sebesar 48%.165.8 18. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013 6.806 0.714.6 0.704.715.1. yaitu perkiraan pertumbuhan penduduk per tahunnya dan perkiraan kenaikan angka prevalensi penyalahguna per tahunnya.023 19. yaitu biaya kriminalitas.714.219. Dikarenakan studi ini menggunakan pendekatan perspektif klien.199 % 47. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat. 2009 Komponen kerugian Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab pengobatan sendiri Kecelakaan tertangkap polisi Penjara aktivitas terganggu Total biaya private Loss productivity Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab Kecelakaan tertangkap polisi Penjara premature death tindak kriminalitas Total biaya sosial Total (Rp) 15.0 2.734.532. ketika overdosis.254 1.4 23.974 7. maka sebagian besar biaya yang dikalkulasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang terkait dengan responden.7 2. ketika berurusan dengan pihak penjara.0 0.953.799 722.471.005 100 trilyun di tahun 2008. Periode proyeksi dilakukan untuk 5 tahun ke depan.912 22.626 26.1 0.337. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 0.813.518. biaya hilangnya waktu produktivitas.515.127.574.654. dari 2008 sampai 2013.094.477.721.682. dan biaya kematian karena narkoba.620 45.729.663.393.416 188.9 Total kerugian ekonomi 32. ketika detoksifikasi & rehabilitasi.453.

70 1.41 0. angka kenaikan diperoleh dengan melihat selisih kenaikan persentase angka hasil survei pelajar/mahasiswa tahun 2003 (3.84 0.06 0.13 Report 2006/2007 pecandu bukan suntik 0. Data populasi yang dianalisis adalah populasi berisiko penyalahguna narkoba diasumsikan mereka berada pada kelompok umur 10-59 tahun.41 1.07 pecandu suntik 0. Detail hasil proyeksi angka penyalahguna narkoba dilihat pada tabel 7.55 4.012 2.46x (dimana x.14 0.30 0.33 8. Selanjutnya.39 laporan World Drugs pecandu bukan suntik 0.79 0.47 per tahun.79 2005/2006 Kelompok Bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 0. adalah tahun).31 membandingkan pecandu 1.07 (dipublikasikan 2007) teratur 0. teratur pakai.87 0. Selanjutnya angka prevalensi tersebut di kalkulasikan terhadap populasi penduduk menurut kelompoknya. diperkirakan angka kenaikan narkoba dikalangan pelajar/mahasiswa per tahun sebesar 0. dan pecandu (bukan suntik dan suntik).06 2. populasi pelajar/mahasiswa dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan y = -17.008 2. Demikian pula.28 4.82 5.05 1.10 1.74 4. yaitu coba pakai.3 juta orang di tahun 2008.07 0. Data populasi pelajar/mahsiswa diperoleh dari Depdiknas (2006).65 yang dibuat oleh UNODC.19 2.13 0.Halaman | 24 Perkiraan jumlah populasi penyalahguna narkoba. Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna pelajar/mahasiswa narkoba di Indonesia.38 0.13 0. Di setiap kelompok populasi.52 1.93 7.010 2.58 1.3%).9%) dengan angka survei pelajar/mahasiswa tahun 2006 (5. Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba pada tabel 6.32 1.09 dengan teratur 1. Di kelompok pelajar/mahasiswa.28 0.01 4.44 dengan World Drugs pecandu 0.42 0.90 0.46 6.27 0.39 0. Diperkirakan jumlah current users diseluruh dunia tahun 2005/2006 ada sebanyak 200 juta orang.5 juta orang di tahun 2013. data populasi tersebut dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa. Dari hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan nilai tengah maka jumlah penyalahguna narkoba ditaksir sekitar 3.datastatistik-indonesia.91 0.85 0.02 1.com.013 prevalensi per tahun Kelompok pelajar/mahasiswa coba pakai 3. Di kelompok bukan Tabel 6. Asumsi proyeksi angka prevalensi untuk tahun-tahun berikutnya mempertimbangkan tingkat kenaikan angka penyalahguna per tahun menurut tiap kelompok dikurangi angka kematian.82 1. sedangkan di tahun 2006/2007 meningkat menjadi sekitar 208 juta orang.09 1.07 0.009 2.46 1.98 pecandu suntik 0. dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba di tingkat populasi akan terjadi kenaikan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.14 0. Hasil perhitungan ditingkat populasi penyalahguna narkoba. Perkiraan jumlah populasi penduduk per tahun diperoleh dari pihak BPS & ANU yang dipublikasikan dalam www.01 1.86 8.94 0. dan akan meningkat menjadi 4.36 0. maka diperkirakan tingkat pertumbuhan penyalahguna narkoba ada sebanyak 0.06 0. Angka prevalensi penyalahguna narkoba.39 7.23 0.97 1.35 1.011 2.15 (dipublikasikan 2008) total 1.02 1. Angka yang dibandingkan adalah angka penyalahguna setahun terakhir (current users).17 1. Untuk proyeksi.94 2.15 0.32 Report (WDR) total 6.93 0.96 1. tahun 2008 .80 0. 2008-2013 angka kenaikan 2.06 0. Dengan fakta ini. angka prevalensi penyalahguna dibagi menurut jenis penyalahguna.47 + 0.04 per tahun. Dengan demikian.24 1.25 0.

0 43.0 6.681 pecandu bukan suntik 1.903 2.64 2.298 1.687.507 1.090.637 1.881.943 1. Berdasarkan hasil kalkulasi diperkirakan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.923 240.441 1.193.022 1.56 2.6 10.218.0 8.034 1.936 pecandu suntik 236.590.766 626.057 Perkiraan jumlah bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 88. Proyeksi biaya satuan untuk lima tahun ke depan mempertimbangkan tingkat inflasi.805 274.517. dari hasil perhitungan tersebut lalu dikalikan dengan jumlah populasi per provinsi per tahun (tabel 7).524 1.426 250.734.929 teratur 894.452.828 312.358.0 0.433 pecandu suntik 187.149.636 1.861 295.690 1.81 2.843 1.3 26.959 388.5 30.007.905 72.045 2.688.120 1.5 7. Selanjutnya.268 2.027.620 teratur 356.052 1.192 67.017. tahun 2008 .161.071.455.248 total 2.773.532.527 total % terhadap total populasi 1.323.426 pecandu bukan suntik 165.541 4.082. Sedangkan Irian Jawa Barat merupakan propinsi yang paling rendah tingkat potensial kerugian biaya ekonominya. Tabel 7 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.604.107. Angka inflasi ini diaplikasikan terhadap seluruh biaya satuan setiap konsekuensi narkoba menurut provinsi.0 Biaya individual 6.395 2.255 1.595.172 3.4 30.644 253.011 pecandu 214.826.868.512 228.300 244.154 1.551 53.6 34.922 180.396 1.261 92.054 526.005.455 1.532 211.32.72 2.514 2.490 pecandu 1.921 1.812 317.888 955.874 97.012 1.366 1.875 197.737 1.750 596.013 1.030 207.974 1.647 228.710 280.909 4.388.429 691.480 pecandu 1.325 1.0 20.0 40.112.Halaman | 25 sekitar 28% dalam 5 tahun ke depan.483 1.355. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.984.777. sebesar 6% per tahun.814 217.380.958 196.2.039 1.503 pecandu suntik 48.817 1.008 Perkiraan jumlah pelajar/mahasiswa coba pakai 784.528.696 1.606.250 1.8 8.997 658.189.48 2.470 2.923 total 1.478.89 6.272 421.004.274.1 7.372 1.211 3.686.327 107.459.658 1.222.2 48.503 948. Propinsi Jawa Timur diperkirakan memiliki potensial kerugian terbesar dibandingkan propinsi lainnya di Indonesia. 2008-2013 2.3 38.016 1.362.929 566.045 265.0 Biaya sosial K eru g ian Eko n o m i (T rilyu n R p ) 50.600.654 1.010 929.895 62.996 2.718 1.321.336.57.535 1.015 57. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba Perkiraan biaya satuan per setiap konsekuensi.380 233.559 455.009 855.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.765 1.583.469 Total seluruh penyalahguna narkoba coba pakai 872.255.100 1.782.0 2008 2009 2010 Tahun 2011 2012 2013 Hasil proyeksi kerugian biaya ekonomi untuk 2008-2013.704 296.011 1.819 490.107 pecandu bukan suntik 1.436.166 113.436 1.309 teratur 538.0 trilyun di tahun 2013 (harga berlaku).417 3.896 102. Grafik 2 Proyeksi Biaya Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sampai tahun 2013 60.081.450 4.578. Detail hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 7.

2 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.1 juta sampai 3. 2007). angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba yang didapat melalui berbagai survei kemungkinan lebih kecil dari angka yang sesunggguhnya. tahun 2008 . besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3. Pada tahun 2008. sebesar 3. perkiraan jumlah penyalah-guna narkoba dengan mendasarkan pada sampel di kota di satu pihak dan survei di pihak yang lain akan saling menetralkan. Dengan demikian.1. tidak hanya berskala besar2.6 juta orang di Indonesia. Kiranya perlu ada upaya intervensi program yang lebih serius pada propinsi-propinsi tersebut. yaitu adanya kenaikan angka prevalensi penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa dari 3.9% tahun 2003 (BNN & Pranata UI. Mengingat survei rumah tangga tidak diseluruh provinsi maka basis data untuk memproporsikan ke seluruh provinsi di kelompok bukan pelajar/mahasiswa menggunakan dasar angka prevalensi pelajar/mahasiswa. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna Ada kenaikan angka prevalensi tahun 2004 ke 2008. Di beberapa propinsi terlihat juga potensial kerugian ekonomi yang relatif besar. Salah satu pabrik narkoba yang berhasil dibongkar diperkirakan nomor 3 terbesar di dunia untuk shabu dan ekstasi. dan Sulawesi Selatan. propinsi. Bila pemerintah tidak serius dalam upaya penangangan dan penanggulangan narkoba ini maka potensial kerugian ekonomi yang terjadi akan jauh lebih besar lagi. Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta. UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia sekitar 4% dari tahun 2006 ke 2007.Halaman | 26 Proyeksi ini menggunakan asumsi data normal.3% tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI. seperti sebagian besar propinsi di Jawa. Ini dapat disinyalir dari begitu maraknya ditemukan berbagai pabrik racikan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. tetapi juga kecenderungan responden yang menutup diri terhadap perilaku yang dilarang atau memalukan. Besaran angka ini setara dengan 1. Sumatera Selatan. 7. baik dari tingkat pusat. tetapi juga mereka berani membuat pabrik narkoba di kompleks perumahan. Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004. Dengan nilai omzet harga sitaan narkoba mencapai milyaran rupiah. dan kabupaten/kota.2 juta orang. Perlu dicatat bahwa perhitungan angka prevalensi yang digunakan untuk estimasi jumlah penyalahguna berasal dari survei pelajar/mahasiswa di 33 provinsi dan survei rumah tangga di 16 provinsi. Tentunya. karena angka kejadian (termasuk pengakuan menggunakan narkoba) yang dilaporkan melalui survei umumnya cenderung lebih rendah. Kalimanta Timur.5% jumlah populasi penduduk Indonesia tahun 2008. 2004) menjadi 5. Hal ini tidak saja karena faktor kelemahan mengingat kejadian dalam setahun terakhir. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba 7.

Jadi sangat tergantung kepada tingkat aktivitas petugas. 7.000 orang. Ini karena kampus sebagai tempat bertemu mahasiswa. Desember 2006). Peredaran gelap narkoba Sasaran peredaran adalah pelajar/mahasiswa. Narkoba itu tidak sama dengan bagian Reskrim. Dilihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai 2006 menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Dalam 6 tahun terakhir tersebut.5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing. Hasil survei memperlihatkan bahwa usia pertama kali pakai narkoba pada usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).” (Pol-1. Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85. Jadi angka yang ada itu karena aktifitas petugas. Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan.907 tablet (2006).872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11. diperkirakan jumlah penyalahguna coba pakai sekitar 807 ribu sampai 938 ribu orang. Kalau mau angkanya turun ya nggak usah aktif. dan otoritas kampus membuat pihak kepolisian Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.848 gram (2001) melonjak menjadi 1. tahun 2008 . Jadi begini. Jadi lalu lintas itu kalau tidak melihat orang melanggar.200 gram (2006).9 juta orang di tahun 2008. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia. pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3..Halaman | 27 Fakta pengungkapan kasus dan tangkapan. Hanya 0.P3). Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa sekitar 4.3. Bahkan kampus sebagai tempat subur peredaran gelap narkoba. Pihak kepolisian telah membuktikan adanya peningkatan peredaran narkoba. Jadi seperti itu narkoba.642 gram (2001) menjadi 21.901 gram (2006). ada peristiwa kalau dicari. Ketiga.6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa. psikotripika 33%. Heroin dari 16.000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32.2. dimana sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa. kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%. jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289. Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun.241.523 tablet (2001) menjadi 466. Jumlah pelajar/mahasiswa diperkirakan sebanyak 16. dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba. meningkat tajam menjadi 16. misalkan ekstasi dari 90. dari sekitar 5. Kalau Reskrim itu tidur pun ada orang lapor.10.3. Berdasarkan hasil estimasi. atau shabu dari 48.6 hektar (2006). besaran barang bukti tangkapan narkotika.252 orang tahun 2006. dan bahan adiktif 13%. Mereka ini pasar potensial dalam peredaran gelap narkoba. Ada beberapa fakta tentang ini.478 orang. rasa keinginantahuan atau coba-coba. Tapi kalau semakin aktif petugas menilang ya semakin tinggi. Pada masa ini tekanan begitu besar baik dari kelompok pergaulannya (peer group). ada peristiwa pidana.000 tersangka pada tahun 2006. Kalau narkoba itu tidak ada yang melapor. “Kalau dilihat dari data selalu meningkat. Sama dengan pelanggaran lalu lintas. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia. Kedua. ya nggak usah nilang. serta ke-ego-an yang mendorong untuk pakai narkoba. Jadi kalau angkanya naik karena aktifitasnya seperti itu.

Trus tinggal saya kode barangnya disimpan dimana. Menurut mereka efek dari pemakaian narkoba sangat berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang menjadi pecandu. Modelnya seperti itu” (BD-2. Modelnya nanti saya nongkrong di alamat tersebut. SMS dengan no HP baru. Para bandar kelas kakap/besar adalah orang yang mempunyai modal besar. bar. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. sedangkan diskotik tempat transaksi piskotropika. mereka yang miskin lebih mudah menjadi pengedar. “Kalau selama itu teman. 2007). dan karaoke karena efek yang ditimbulkan membuat penyalahguna selalu ingin bergerak energik. Dari jenis narkoba. Dia akan saya sms. Konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba sangat komplek. Dahulu transaksi narkoba dengan cara bertemu langsung antara penjual dan pembeli dengan konsep ada uang ada barang.P3). Upaya memperluas jaringan penyalahguna seakan tiada henti. setelah saya terima uangnya. tahun 2008 .Halaman | 28 tidak bisa bebas melakukan razia ataupun penggeledahan. Peredaran narkoba tidak pernah berhenti. paling dengan memberikan alamat. sehingga berapapun uang yang mereka miliki sudah pasti akan habis untuk membeli Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Sekarang peredaran narkoba melalui telepon dan menggunakan kurir. Mereka membawa masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia. kampus sering menjadi tempat transaksi ‘putaw’. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba. Kondisi ini terjadi karena pengangguran dan kemudahan mendapatkan uang merupakan salah satu faktor yang mendorong peredaran narkoba. Hampir semua bandar narkoba (khususnya orang asing). jarang ada yang pakai narkoba. Di sms BR ada dimana.3.Tapi kalau orang lain. Ekstasi banyak dikonsumsi di tempat hiburan seperti diskotik. Jenis-jenis narkoba yang beredar di tempat hiburan disesuaikan dengan efek dari narkoba. Dari hasil wawancara dengan beberapa orang asing (sebagian besar orang Nigeria) yang menjadi bandar di dalam LP narkoba diketahui bahwa orientasi mereka mengedarkan narkoba di Indonesia karena bisnis semata yaitu keuntungan yang besar. Orang itu tidak kenal saya.2. bahkan 31% pernah menjual narkoba. sms untuk ambil barangnya. Sehingga dalam pengungkapan kasus seringkali hanya kurir-kurir yang tertangkap sedangkan para bandar narkoba tidak pernah diketahui keberadaannya. Penyalahguna putaw lebih memilih tempat yang tenang dan sepi untuk pakai narkoba karena efek yang ditimbulkannya membuat orang menjadi gitting (ingin tenang dan berhalusinasi). dan hotel tempat transaksi shabu. demikian halnya dengan peredarannya. sebaliknya penyalah-guna cenderung mereka yang memiliki uang dan tidak miskin (BNN & Puslitkes UI. Mereka yang menganggur.10. bahkan disinyalir banyak bandar berwarganegara asing. Modus operasi peredaran narkoba. karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain. Saya tidak kenal orang itu. Modus operandi kasus peredaran cenderung semakin canggih yang didukung peralatan teknologi modern. Hanya tinggal saya beli kartu perdana baru. Hal ini ditunjukan dari total responden ada sebanyak 52% mengaku pernah menawarkan narkoba kepada orang lain. Sedangkan jenis shabu biasanya disalahgunakan di hotel-hotel atau tempat kos.

Adanya kantong peredaran narkoba.P12).P5).3. sedangkan bandar/pengedar memberikan bantuan uang kepada masyarakat setempat. “Kampung “B” dikenal sebagai kampung narkoba karena banyak transaksi yang dilakukan secara rapi. Keberadaan lokasi tersebut dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. karena letak lapas rata-rata di dalam kota dan tidak terpapar langsung dengan petugas kepolisian. Alasan lain. Ditambahkan.Halaman | 29 narkoba. Kadang-kadang mereka cukup berkumpul dan berteriak ” maling” untuk mengusir polisi secara beramai-ramai” (Pol-2. Bahkan para bandar/pengedar sudah bisa diterima keberadaannya oleh masyarakat setempat. Pendapat senada disampaikan informan dari kepolisian.01. Ada beberapa yg memilih untuk membawa pulang. sehingga lapas menjadi tempat potensial mengedarkan narkoba. sehingga jika polisi melakukan razia mereka akan menceburkan diri ke sungai sebagai usaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi. Masyarakat membela dan melindungi para bandar/pengedar dari petugas. kampung “F” di Bali. keterlibatan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam penjara masih sangat mungkin.3. tapi hanya sedikit saja” (BD-3. “Pemakai tinggal datang ke “B”. Kondisi itu menimbulkan permintaan (demand) terhadap narkoba menjadi tinggi di lapas. Tidak menutup kemungkinan ada oknum aparat yang menjadi backing. Daerah ini mempunyai banyak sungai dan rumah2 yang dibangun diatas sungai. di daerah-daerah semacam itu sangat sulit dilakukan razia narkoba. Penjara tidak lepas dari peredaran narkoba. Besarnya permintaan (demand) dari penyalahguna narkoba di Indonesia menjadi lahan empuk bagi sindikat-sindikat narkoba internasional. dsb. Berbagai tanda atau kode akan mereka bunyikan sehingga semua bandar/pengedar dan penyalahguna sudah bisa mengantisipasi kedatangan petugas. Juga disediakan tempat untuk mengkonsumsinya agar pembeli tidak perlu pulang dengan membawa barang bukti. Sering terjadi perlawanan dari masyarakat setempat terhadap beberapa aparat yang ingin melakukan razia. Dari tempat tersebut tidak jarang para bandar dari luar daerah mengambil narkoba untuk diedarkan di daerah lainnya. Dengan kondisi demikian seringkali petugas mengalami kesulitan untuk menangkap bandar/pengedar. Di wilayah semacam itu sudah terbentuk jaringan peredaran narkoba yang kuat. Dibeberapa lokasi studi ada wilayah yang menjadi kantong-kantong peredaran narkoba. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6. Lokasi wilayah tersebut berada dipemukiman padat penduduk dan pusat keramaian.01. Di tempat itu. penyalahguna lebih nyaman dan aman untuk membeli dan memakai langsung narkobanya. daerah “B” di Pontianak. Biasanya lapas yang sering terjadi kasus peredaran narkoba bila jumlah napinya sudah melebihi kapasitas yang ada. Akses narkoba di dalam penjara sangat mungkin. di lapas narkoba seringkali napi mengalami sakaw. misalnya kampung “B” di Jakarta.waktu pulang pun pemakai juga dijaga. seolah telah terbentuk kerjasama saling menguntungkan. Terlebih sebagian besar napi di lapas diperbolehkan memegang uang. Narkoba di Penjara. tahun 2008 . Mereka juga menggunakan kentongan yang terletak disetiap sudut tiang listrik sebagai penanda datangnya polisi.3.

Beberapa tahun lalu. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. karena alasan situasi dan kondisi tertentu kasus yang sempat diungkap sepertinya dilupakan dan barang bukti yang ditemukan juga hilang begitu saja..000.P10). Bahkan sempat diperoleh informasi ada sebagian petugas lapas yang menyewakan pemakaian handphone kepada napi di dalam lapas. Itu dari anak dalem juga. kalau paketan kecil jadi 7 paket masing-masing dijual Rp 100.08.3. Harga ¼ gram tahun sekarang 300. Satu hal yang sangat mengecawakan. tidak mungkin lagi” (LP-2. Pernah diketemukan usaha penyelundupan narkoba melalui bantal dan kue. Pola pendistribusian barang kemungkinan bisa antar blok.4.1. Banyak cara menyelundupkan narkoba ke dalam lapas.10. tahun 2008 . Tidak jarang seorang bandar narkoba di dalam lapas masih bisa mengendalikan peredaran narkoba baik di dalam atau di luar lapas secara langsung melalui handphone. di sel.4. Modus baru sekarang melalui beberapa cara seperti dimasukkan ke dalam bra.000” (BD1. terkadang sudah dilakukan razia di dalam lapas dan terbukti ditemukan beberapa barang bukti tetapi tidak ada proses lebih lanjut.4. Dari dulu sampe sekarang masih seperti itu dapat putaw. “Kalau putaw gua dikirim sih.Halaman | 30 Sistem pengamanan dan upaya preventif yang dilakukan di dalam lapas seringkali terkendala tindak lanjutnya. modus penyelundupan narkoba ke dalam lapas dengan cara di lempar ke dalam lapas melalui media bola tenis atau dibungkus dengan kantong plastik. Menurut informan. “Saya pengalaman beberapa kali nangkap kadang-kadang diterusin mungkin tiga atau satu segala macam diterusin sampai ditindaklanjutin. sandal atau sepatu yang sudah dimodifikasi.P10). Pada waktu melakukan pengambilan data di lapangan terlihat jelas bahwa beberapa orang napi bebas memakai handphone di dalam lapas.” (LP-4. belum semua lapas punya alat detektor sehingga banyak narkoba yang tidak bisa teridentifikasi oleh petugas.. “Tahun 2006 pernah dilakukan razia oleh Sat Brimob dan Kepolisian. Beberapa cara tersebut bisa lolos dari pemeriksaan petugas lapas karena sampai saat ini sistem pemeriksaan masih manual. Ada juga melalui keluarga atau teman yang mengunjungi napi ataupun diselundupkan melalui petugas lapas sendiri. saya baru pertama kali datang kesini tanggal 17 maret saya razia dapat barang bukti macam-macam sudah dapat eh sampai sekarang tidak ada beritanya.2.3. “Tapi bukti yang kemarin itu masuk lewat lempar. Berarti ini suatu model cara lain untuk mereka masukan narkoba itu lewat pegawai tidak ada lagi. Dan pegawai saya menangkap dia. ditemukan 19 paket shabu” (LP3.01.3. tetapi yang paling mudah adalah antar kamar melalui petugas kebersihan lapas yang bisa dijadikan perantara/kurir. bahkan ada juga yang dimasukkan ke dalam vagina. softex.P11).P8). paling sedikit tuh 11 gram.06.

Dengan fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia sangat marak. putau (15%). Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi Risiko penularan berbagai penyakit. Tidak menutup kemungkinan yang mengendalikan perputaran bisnis narkoba tersebut dari balik jeruji besi. dengan cara menggunakan rekening pacarnya untuk menampung uang-uang haram hasil penjualan narkoba (Kompas online.868 yang tersebar di 194 kabupaten/kota di 32 propinsi. Menarik jika mengkaji pengungkapan kasus narkoba akhir-akhir ini oleh pihak kepolisian.42 milyar (Kompas Online. seperti Nigeria atau Malasyia (Kompas Online.Halaman | 31 7. Jenis narkoba yang memberikan nilai peredaran rupiah terbesar adalah shabu (36%). Demikian juga pabrik ekstasi yang berhasil digerebek di salah satu apartemen dengan nilai sekitar Rp. dan Serang). Ini terbukti dari terungkapnya jaringan heroin asal Afganistan di Indonesia. tahun 2008 . Dengan cara penularan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Perumahan Taman Ratu. Jakarta Barat (Kompas. 12/01/2009). Ini mengindikasikan sudah begitu maraknya perdagangan narkoba di Indonesia.119 kilogram heroin. 22/11/2008).15.18. 13/12/2008).4. Dengan total barang bukti sebanyak 6. Pabrikan narkoba telah berada dilingkungan perumahan. Total nilai perdagangan narkoba diperkirakan sebesar Rp. Padahal sebelumnya. dan di daerah Pasar Baru. 28/10/2008).3 miliar (Kompas Online.4 trilyun. banyak pihak yang tergiur untuk bisa masuk ke bisnis ini. Tidak sedikit yang melibatkan warganegara lain. 13/12/2008). Berbagai pabrik shabu dan ekstasi juga berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian. Pabrik shabu dan ekstasi ternyata sudah berada di lingkungan perumahan. Sebuah omzet perdagangan yang luar biasa besar bagi sebuah produk. Perdagangan narkoba Nilai omzet perdagangan narkoba di Indonesia. 7. Bahkan salah satu pabrik shabu dapat memproduksi 100 kilogram shabu-shabu dengan teknik produksi terbaru yang meenggunakan bahan-bahan yang lebih membahayakan bagi manusia (Kompas Online. jumlah kumulatif kasus AIDS ada sebanyak 11.3. 25/02/2008) atau menyuruh kurir narkoba dari balik penjara (Kompas online. termasuk dari jaringan internasional. 28/11/2008). sehingga pihak kepolisian atau masyarakat sekitar tidak menyadari keberadaan pabrik shabu/ekstasi tersebut. 22/11/2008). yaitu di apartemen Mediterania. ini merupakan kasus heroin terbesar sepanjang 2008. pabrik ekstasi/shabu yang diungkap kasusnya dibangun di daerah pinggir kota (Bogor. Bahkan kelompok jaringan ini telah mendistribusikan sebanyak 30 kilogram heroin dalam 5 bulan terakhir dengan nilai sekitar Rp. Tidak heran. Jakarta Pusat (Kompas Online. 30/6/2008). ganja (15%) dan ekstasi (13%) di tahun 2008. Ini mengindikasikan bahwa para bandar berupaya mendekatkan akses dan mencoba menyingkirkan pola yang ada. Tangerang. Menurut laporan triwulan kasus HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan (per April 2008). Jakarta Barat (Kompas.

Kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit. mereka ini sebagai agen percepatan penularan berbagai penyakit ke orang lain bila tidak dilakukan penanganan secara tepat. masih harus membeli konsumsi narkoba. seperti hepatitis.3.4. Hasil survei menunjukkan 72% pecandu suntik pernah bertukar jarum suntik atau pakai jarum bekas orang lain. diare kronis (3834). dan 34% TB.1. Dengan infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (6367).Itu sehari pemakaian putau gua aja belum cimengnya. terutama laki-laki. TB. dimana hanya 9% yang selalu pakai kondom.P4). Untuk pemakaian putau gua sehari itu gua beli masih ada paketannya 20(rb).itu gaji kaya orang kerjaan. Ketiga. Dari diagnosis keluhan. dan HIV/AIDS melalui dua jalur yaitu. penggunaan jarum suntik & semprit bekas dan perilaku hubungan seks berisiko. Jadi daripada gua beli baju. untuk menutup biaya-biaya tersebut kemungkinan besar melakukan tindak kriminalitas.dari cewe gua kibulin. Pertama. kecuali bila bersedia berhenti. Dengan demikian. yang bertujuan menemui pengguna ’dimana mereka berada’. Beban biaya ekonomi pecandu suntik lebih berat.teman-teman gua speak-speakin. Kedua. Ada sebanyak 14% yang melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. Kecuali beban biaya sakit. sehingga tambahan harus menanggung beban keluarga menjadi semakin berat. “Semua penghasilan untuk beli barang (istilah untuk putaw). Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex Pengurangan bahaya (harm reduction) adalah sekumpulan rencana praktis. dan homoseksual (4%).kalau tidak barang gua ambilin uang sekolah gua pake juga” (PN-5. 7.P9). gua pakau itu sehari 7-8x. akan menanggung beban biaya akibat sakit. Jadi satu hari itu hampir 150rb kali satu bulan (30 hari) jadi sekitar satu koma limaan.Halaman | 32 terbanyak melalui penyalahguna narkoba suntik atau injecting drug users/IDU (49%). kandidiasis orofaringeal (3769). tahun 2008 .08. Beban ekonomi pecandu suntik jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. Bahkan sekitar 3 dari 4 responden mengaku punya keluhan masalah kesehatan. termasuk HIV&AIDS di kalangan pecandu suntik lebih besar dibanding kelompok penyalahguna narkoba lainnya. Pecandu suntik berisiko tertular berbagai pernyakit. sekitar 1 dari 4 pecandu suntik telah berkeluarga. membantu berbagai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. ada sekitar 76% yang mengaku mengalami keluhan kesehatannya. dan dermatitis generalisata (1008). jadi gua mikir mending ada bahan gitu.jadi dapat uangnya entah dari mana aja. diperkirakan sekitar 33% HIV/AIDS. beli bedak. Heteroseksual (43%). Ironisnya. itupun bila pasien tersebut memiliki kartu jamkesmas atau kartu miskin.5.1. Karena gua udah gak pernah beli baju. Pecandu suntik yang masih aktif hubungan seks setahun terakhir ada 76%. “kelas tiga SMIP gua udah selesai karena barang-barang rumah udah habis gua jualin semua dikamar gua tinggal kasur aja.02. 37% Hepatitis-C. beli pelembab apa hand body gua gak mau! Mending nyimpen bahan (putaw)” (PN-1.

Penyimpangannya yang terlihat adalah cara pakai dan prosedur mendapatkan kedua zat tersebut. Cara pakai metadon seharusnya diminum dihadapan petugas. Faktanya. methadone dan subutex. segera keluar ruangan untuk menampung methadon tersebut di wadah. Sistem ini yang membuat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) marah. Hasil survey menunjukkan sebanyak 42% pecandu suntik memakai subutex dengan cara disuntikkan setahun terakhir. ternyata kedua zat tersebut disuntikkan. lalu resep tersebut ditebus di kliniknya. Kondisi semakin runyam karena tidak ada pengawasan dari instansi terkait. Sayangnya untuk dua program terakhir. Program pengurangan bahaya yang efektif bagi pecandu suntik agar berhasil harus mencakup kegiatan berikut: program pendidikan. Ada kesalahan prosedur implementasi program. karena tidak ada yang bertanggungjawab siapa sebenarnya yang seharusnya melakukan pengawasan melekat tersebut terutama program subutex. Prosedurnya subutex harus diberikan oleh dokter dengan dipantaui secara ketat untuk pemberian dosisnya. terutama untuk layanan subutex. tetapi di tahan dulu di mulut/kerongkongan.Halaman | 33 bahaya/kerugian terkait dengan penggunaan narkoba (Sucahya. Ada dokter yang hanya memberikan resep untuk beberapa hari. yaitu methadon dan subutex. Lalu. Sari K. Disinilah para penyalahguna memanfaatkan celah tersebut. program pertukaran jarum suntik. dan program pemutih. disetiap kota berbeda-beda. Memahami Kebutuhan Aktor dan Pengguna Narkotika Suntik. jadi konsultasi hanya 1 kali. Kartu pendaftaran tersebut disewakan kepada penyalahguna lain atau mereka patungan membelinya atas nama pemilik kartu. bukan upaya pengurangan risiko.K. paling tidak masih bisa mengurangi rasa sakaw 3 Sucahya P. penjualan alat suntik di toko-toko. 2001)3 . Ada uang maka ada barang. banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program di lapangan. selanjutnya disuntikkan. Siagian F. Dilapangan program ini lebih mengedepankan aspek bisnisnya. tetapi tidak bisa berbuat banyak. Ada yang hanya pakai kartu pendaftaran. Meskipun bagi sebagian penyalahguna putaw mengaku bahwa reaksi metadon dan subutex tidak senikmat putaw. pengobatan kecanduan. Prosedur mendapatkan kedua zat tersebut sebenarnya telah ada protokolnya tetapi seringkali para pecandu suntik jauh lebih cerdik daripada petugas. penjangkauan masyarakat. Pertama. baik dari sisi jumlah maupun dosisnya... sedangkan subutex seharusnya di taruh dibawah lidah. P. Tidak ada batasan berapa banyak jumlah yang dibeli. Program lainnya. Jenis zat yang disuntikan subutek nomor 2 terbesar. Pembenahan prosedur perlu dilakukan khususnya layanan subutex. subutex diberikan oleh dokter yang telah memiliki lisensi untuk beberapa dokter saja di satu kota. Bagi para pecandu putaw di beberapa kota sudah banyak yang mengakses metadon dan subutex sebagai substitusi dari ketergantungan terhadap putaw. tahun 2008 . Bahkan subutex adalah jenis zat ke-2 setelah putau yang disuntikkan ke dalam tubuh. Trik yang dilakukan pengguna untuk mengelabui petugas untuk layanan methadon adalah tidak langsung meminumnya. Yogyakarta: PSKK UGM & Ford Foundation. April 2001 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. serta pelaksana program yang menutup mata dan tidak peduli dalam implementasinya. dkk. selanjutnya membeli langsung ke perawatnya.

mengolah atau menyediakan narkotika golongan satu bisa dihukum mati atau dengan pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam UU No.P1). Hasil survei menunjukkan sebanyak 6% penyalahguna pernah tertangkap polisi dan lebih dari separuhnya (67%) mengaku mengeluarkan sejumlah uang kepada polisi supaya terbebas dari kasus yang menjeratnya. biasanya pengelola tempat hiburan ataupun bandar yang ada sudah diberi informasi terlebih dahulu sehingga pada waktu razia cenderung tidak diketemukan peredaran narkoba di tempat tersebut. Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit aparat kepolisian/TNI yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba. “Putaw dulu masih ada yang harga 25 ribuan sekarang cari yang 50 aja uda susah. Aparat penegak hukum mem-backing para bandar. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. 7. subutex ini dibeli dari seorang dokter di Jakarta” (PN-1. Keadaan ini membuka peluang bagi oknum aparat penegak hukum untuk menyelewengkan tugas dan jabatan dengan melakukan kolusi dengan tersangka kasus narkoba. yaitu bagi seseorang yang memproduksi. Sebagian besar keterlibatan mereka adalah sebagai backing di beberapa tempat hiburan seperti di diskotik. harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan urusan di penjara. Selain terlibat dalam penyelewengan wewenang dalam penanganan kasus narkoba. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Fakta ini suatu hal yang memprihatinkan bagi aparat penegak hukum.Halaman | 34 terhadap putaw. 22 tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. putaw sekarang gak terlalu rame. tidak jarang terjadi kasus kolusi dan nepotisme dalam penanganan kasus oleh oknum penegak hukum. Posisi tawar (bergaining position) seorang aparat penegak hukum sangat kuat untuk menentukan berapa besar uang yang harus dibayar oleh seorang tersangka agar terbebas dari jeratan hukum. Demikian halnya dengan penyalahguna yang pernah dipenjara dalam setahun terakhir (3%).2. tapi inilah realita yang sering diketemukan di lapangan. Penyalahguna narkoba yang membayar para aparat penegak hukum. Dengan kenyataan hukum yang sedemikian berat. Sangsi hukum tentang penyalahgunaan narkoba dan psikotropika di Indonesia cukup berat. Saat ini banyak beredar subutex yang dijual ilegal.2.08. Pembenahan aparat penegak hukum Ditengah upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulan narkoba. Kondisi peredaran putaw sekarang sama dulu sudah beda. Sekarang kalau mau dapat cukup banyak beli putaw yang 75 ribuan. tidak sedikit oknum penegak hukum khususnya anggota polisi/TNI terlibat sebagai backing dan penyalahguna. tidak jarang seorang tersangka lebih memilih melakukan kolusi dengan penegak hukum untuk bisa terlepas dari jeratan hukum. Satu hal yang mudah dilihat adalah setiap akan ada razia di beberapa diskotik.6. tahun 2008 . Alasan lain adalah pemakaian metadon dan subutex lebih aman karena legal dan harganya juga jauh lebih murah.

ditemukan ada oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan informan (bandar).. kalau saya kira. yang ngebeking dia bisa kuat. Menurut Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.jujur aja.. dengan wilayah peredaran di salah satu terminal induk di kota tersebut. polisinya yang menyarankan mencari kambing hitam. tahun 2008 . Peran oknum tersebut hanya di belakang layar. terjadi pemutaran disitu yang dinamakan pemutaran Bandar. yang mempunyai pengalaman bisnis narkoba dengan oknum polisi... Menurut informan kepolisian sebagian besar oknum yang terlibat adalah sebagai pemakai. . tapi untuk backing itu ada. tidak ada polisi yang menjadi bandar. Namun. tidak semua bandar merasa nyaman mempunyai backing oknum polisi. Para bandar cenderung lebih aman karena mereka memberikan uang setoran secara rutin dalam jumlah cukup besar kepada beberapa oknum polisi. mereka kasih informasi ke aku kalau aku harus hati-hati karena sudah di incar polisi.. Oknum polisi yang ditangkap kasus narkoba berdasarkan hasil tes urinenya positif.3. Menurut beberapa bandar yang banyak ditangkap oleh polisi adalah para pembeli/ penyalahguna. alasan oknum tersebut terlibat bisnis narkoba karena gaji bulanan yang diterimanya masih belum mencukupi.. bukan sebagai bandar.P7). Meskipun demikian oknum polisi tersebut selalu memantu situasi dan kondisi. padahal modal juga mungkin bisa fifty-ffty karena sekarang sistimnya kalau tidak di backing enggak akan jalan bandar itu karena bisa ditangkap.. Biasanya kalau mau ditangkap.2..P7).. ada sih. saat ini informan telah menjadi target tembak mati. ternyata separuh dari modalnya berasal dari oknum tersebut.cuma karena waktu itu mungkin mukzizat Tuhan ya. misal ada pengrebekan. (BD-6..P7). Selain mengedarkan di sekitar terminal.2. kadang aku kesal karena banyak polisi yang udah aku bayar. tetapi tetap saja masih menjadi target operasi.3. Bila akan ada operasi penangkapan terhadap bandar.. Bahkan menurut informasi dari seorang polisi. Jenis narkoba yang diedarkan shabu dan ekstasi. mereka masih ngancam aku. “...aku itu mbak sudah target tembak dada.05.. pada waktu tertentu saja akan meminta setoran..dia tak semata-mata hanya backing.” (BD-8. sudah dicalling duluan.target tembak mati. Bandarnya tetap jalan..15. oknum polisi tersebut juga menjadi pensuplai narkoba ke dalam lapas yang bekerja sama dengan seorang petugas lapas. Dengan adanya kerjasama dengan oknum polisi sebenarnya posisi bandar lebih aman dibandingkan tidak ada backing.11.3. setengah jam dari itu sudah kosong” (BD-4. semua strategi peredaran narkoba dikendalikan oleh bandar. diakui oleh informasi dari pihak kepolisian bahwa ada oknum penegak hukum yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. sebentar lagi ada yang mau grebek. Pernyataan bandar tersebut. Salah seorang bandar menyatakan meskipun selama ini sudah membayar/memberikan setoran pada polisi.jadi kadang-kadang. Untuk membuktikan seorang oknum sebagai backing atau bandar sangat sulit. “. Menurut informan.3. Menurut informan.. maka oknum polisi tersebut akan memberikan informasi dan menyarankan kepada bandar mencari kambing hitam sebagai ganti obyek penangkapan.Halaman | 35 “kalau diskotik itu pasti ada backing-nya. Dilapangan... tanpa ada barang bukti yang ditemukan..bakal terjadi ni..

dari Kapolri sampai Kapolda kebijaksanaan gak main-main. Dahulu tindakan aparat kepolisian lebih longgar dan tidak seketat tahun sekarang. Peredaran narkoba dalam 5 tahun terakhir ini lebih sulit dibanding beberapa tahun sebelumnya. Ini menunjukkan meningkatnya kinerja kepolisian dalam melakukan razia. Penanganan kasus akan diserahkan ke atasan masing-masing. Propam Mabes Polri telah mencatat dan menindak 49 anggotanya yang terlibat Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ga segampang dulu” (BD5. Di geledah dirumah atau di badan” (Pol6.11. ya susah. Menurut para bandar. ya negatif. Namun. yang kedua mereka takut sekali ketemu sama polisi dan polisi itu langsung menangkap langsung diringkus” (BD-5. Kalau dia jadi backing. dimana para bandar dapat mengidentifikasi banyak oknum yang terlibat. tapi belum punya bukti ya susah juga kita buktikan. ga suka sama orang kan bisa saja. bahkan ada juga oknum dari Polda yang mengirim secara langsung barang tersebut kepada bandar. Bahkan. tes urin. Kondisi ini menyebabkan harga narkoba menjadi jauh lebih mahal. Fitnah bisa saja pak. Walaupun ada informasi dia di backingan sama anggota polisi si A. Beberapa tahun lalu. cukup telepon lalu barang langsung dikirim. tetapi sekarang selalu ada jeda waktu. Kita kan semua kasus harus ada bukti dan saksi.Halaman | 36 informan dari kepolisian. Apalagi jaman-jaman waktu kapolri yang sekarang baru dilantik (Sutanto). Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi para bandar untuk mengedarkan narkoba. Bagi oknum yang sering terlibat kasus atau kasusnya berat akan dilakukan pemecatan secara tidak hormat. demikian juga anggota TNI akan diproses oleh POM sesuai matra.P11).3. Jumlah tangkapan kasus narkoba oleh aparat kepolisian dari tahun ke tahun semakin meningkat. “Jelas ada banget mas. kalo dulu mudah untuk transaksi. gak main-main pimpinan kita.P11). beberapa tahun terakhir oknum yang terlibat semakin berkurang. meskipun sudah banyak informasi.3. seringkali terjadi fitnah terhadap aparat penegak hukum dikatakan terlibat sebagai backing atau bandar tetapi sulit untuk dibuktikan.2. Penjatuhan sangsi hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan di lapangan. tes urin nya. “Kalau terbukti.5. ya kita periksa juga dia. Kita nangkap orang ga ada bukti. kalo butuh barang tinggal bilang sama yang diatas barang langsung dikirim. Sekarang agak susah ada tenggang waktunya antara minta barang dengan datangnya barang. Diantara para informan ada yang mengaku pernah mengambil barang/narkoba di Polda.P9). Kalau narkoba terutama buktinya pak. Berbeda dengan era tahun sebelum tahun 1997. Kalau dia gak ada bukti ya susah pak. susah banget. Menurut beberapa informan bandar tidak sedikit oknum penegak hukum terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. Bagi oknum penegak hukum yang terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba akan ditindak tegas oleh masing-masing pimpinan. Telah ada upaya penegakan hukum secara serius. Sampai akhir November 2008.14. kita geledah rumahnya sesuai informasi itu pak ya.5. kita kan harus tes dulu dong. tahun 2008 . hal ini dapat terjadi karena adanya program intensif dari BNN dan kepolisian dalam melakukan razia narkoba di beberapa tempat. “Lebih sulit Pertama itu barangnya yang dibutuhkan itu saling menyembunyikan untuk menaikkan harga. penentuan tempat dan cara transaksi sekarang perlu sangat hati-hati.3.14.

Jumlah ini terbilang sangat banyak bila dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 21 orang (Kompas. orang tua dan kelompok masyarakat lainnya. maka perlu dukungan modul pengajaran. yaitu 1) communication. guru. Materi bersifat interaktif dengan penekanan pada life skill education (LSE). bahkan kematian. mengingat kelompok ini menjadi sasaran utama para bandar/pengedar untuk mencari penyalahguna baru (coba pakai). Kesimpulan & Rekomendasi Temuan studi ini menyimpulkan adanya kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. misalkan komponen biaya membesarkan anak. Untuk bisa diimplementasikan. edukasi. dan upaya menekan dampak buruk narkoba tidak akan berhasil. BNN dan instansi terkait perlu menyiapkan modul ini yang menekankan pada 3 aspek. maka rekomendasi yang disampaikan adalah: Strategi Pencegahan • Strategi ini di fokuskan pada kelompok pelajar/mahasiswa. tahun 2008 .Halaman | 37 narkoba. dan mereka yang telah menjadi pecandu mengakibatkan adanya konsekuensi akibat narkoba yang besar. biaya pendidikan. tentu Negara ini akan memikul beban kerugian yang semakin besar. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. kejadian sakit. Pelajar/mahasiswa menjadi target sasaran peredaran narkoba. mengingat aparat penegak hukum yang seharusnya berada pada garda terdepan ternyata banyak oknum yang bermain. kemampuan komunikasi pelajar/mahasiswa bisa berbicara tentang narkoba dengan kelompok sebaya. 8. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. biaya kerusakan fasilitas umum akibat penyalahguna. Upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba akan semakin tersendat. Walaupun saat ini telah ada tindakan nyata dilapangan. minimal besaran kerugian seperti angka perhitungan proyeksi. seperti tindakan kriminalitas. dan sebagainya tidak dihitung dalam studi ini. kecelakaan. 3) Decision Making. kemampuan pelajar/mahasiswa untuk bisa mempunyai ketahanan diri yang kuat sehingga bisa mengatakan ”tidak untuk narkoba”. termasuk tidak menggunakan narkoba. Upaya yang dapat dilakukan pihak BNN melakukan kerja sama dengan Departemen Pendidikan (Diknas) dan Departemen Agama (Depag) di dalam memberikan komunikasi. dan informasi (KIE) yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran wajib bagi pelajar/mahasiswa atau melalui ekstrakulikuler. Kerugian biaya yang terjadi dalam perhitungan studi ini sebenarnya jauh lebih besar karena adanya keterbatasan metodologi dan ketersediaan data. kemampuan pelajar/mahasiswa bisa membuat keputusan yang benar terkait dengan halhal positif di dalam hidupnya. namun fakta lapangan menunjukan masih terjadi penyimpangan. Atas dasar itu. 2) Assertivenes. 1/12/2008). Apalagi sasaran utama peredaran narkoba adalah generasi penerus bangsa di masa yang akan datang.

BNN perlu mengembangkan program-program ke arah akar rumput (grass root) yang bersetuhan secara langsung dengan para IDU. Perlu program dan intervensi yang lebih serius pada kelompok ini. dan LSM. seperti yang telah dilaksanakan selama ini melalui berbagai media yang ada. baik yang sifatnya internal maupun eksternal. Nampaknya program ini perlu dikaji dan ditata ulang terkait implementasi dilapangan terjadi penyelewengan prosedur. Jika diperlukan didirikan semacam posko anti narkoba di setiap universitas. BNN diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam mengkaji ulang program tersebut bersamasama pihak KPAN dan Depkes. Beberapa fakta menunjukan adanya peran bandar dalam mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. dan diisi dengan program dan aktivitas yang dikembangkan secara bersama-sama antara pihak institusi terkait. termasuk adanya dukungan dana. Strategi Mengurangi Permintaan • Dampak dari para pecandu suntik sangat besar. • Strategi Supply reduction • Peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia semakin marak. sedangkan pengawasan eksternal adalah pengaduan dari pihak masyarakat melalui kotak pos/pengaduan khusus. tahun 2008 . Subutex diperkirakan akan naik daun dalam beberapa tahun ke depan. Informasi (KIE) secara lebih luas harus tetap dilanjutkan. Pengawasan internal melalui mekanisme yang telah ada selama ini. Edukasi. Bila tidak ditangani segera dikawatirkan. termasuk pembagian peran dan tanggungjawab institusi. Aparat penegak hukum • Melakukan pengawasan yang lebih melekat. Polisi & BNN perlu melakukan inspeksi mendadak dan membongkar jaringan narkoba di penjara. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Kinerja yang baik sangat ditentukan dari program dan aktivitas yang dilaksanakan oleh institusi tersebut. dilihat dari besarnya kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian & BNN. Misalkan. menjalin kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan program bersama dengan KPAN. pihak BNN harus melakukan koordinasi dengan pihak universitas melalui rektorat maupun senat mahasiswa. Untuk itu. dan dapat menjadi percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. Depkes.Halaman | 38 • • Dalam upaya untuk memproteksi kampus menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. BNN dan Kepolisian perlu melakukan advokasi kepada pemerintah terkait hal ini. Upaya Komunikasi. mereka yang bukan pecandu suntik akan banyak yang mengkonsumsi subutex dan kecenderungan ke arah sudah ada dilapangan. Ide awal program ini sebagai substitusi para penyalahguna pecandu suntik heroin ke subutex agar pecandu tidak menyuntik lagi. serta penyakit lainnya.

termasuk melakukan sistem monitoring selama terpidana di penjara. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .Halaman | 39 • Membuat tim khusus yang mengawal dan menjaga setiap kasus narkoba yang telah berhasil diungkap mulai dari tahap penangkapan sampai diputuskan vonisnya ke dalam penjara.

C.S. 2004. Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders. tahun 2008 . AIDS and social networks: Prevention through network mobilization.2. H. 2006.. (1994). Khan. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. Khanam. and Strathdee. L. 32.G. Sociological Focus.S. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba. 473–495. Firestone Cruz.W. Social Probl. D.R.T. C.. and Heckathorn. J. R.. Section 3: Translating Research Into Practice Collins. A. 41. D.. 15. 44 No. 7 Gordon. http://www. R. AIDS Behav (2008) 12:294–304 Johnston.. Shah Alam. Parott. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. Joewana. 15. H. K. D. Brouwer.aspx?resourceID=1 Eisner. Ramos. Social Problems. & Lapsley. & Lapsley.J.. No. 1997. D. Deriving population estimates from Chain-referral samples of hidden populations..Halaman | 40 DAFTAR PUSTAKA: Abdul-Quader. S. Azim. Anthony.D. Extensions of respondent-driven sampling:a new approach to the study of injection drug users aged 18–25. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2005. and Lapsley. C. S.M.Vol. 3 BNN & Puslitkes UI.org Heckathorn. BNN & Puslitkes UI. L.J.respondentdrivensampling. 2006. K. Nemeth. D.T.. H. Heckathorn. Jakarta: EGC Johnston. Reza.D. and Lapsley. and Des Jarlais. 2007. D.. Effectiveness of Respondent-Driven Sampling for Recruiting Drug Users in New York City: Findings from a Pilot Study. 159–179. http://www.D. 83.. Ed. Broadhead. Madray. Alcohol & Illicit Drug Abuse to Australian Society 2004/2005 Collins.D. Respondent driven sampling. Estimating the economic costs of drug abuse. 2004.. The costs of tobacco. Pleasure of Response Foreshadow Young Adult Outcomes in NIDA Research Findings vol. S. fourth edition text revision. Collins And Lapsley (2004) Economic Costs Of Alcohol And Other Drugs In The Workplace.2002. M. Harnessing peer networks as an instrument for AIDS prevention: Results from a peer-driven intervention.C. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia Tahun 2006... The Effectiveness of Respondent Driven Sampling for Recruiting Males Who have Sex with Males in Dhaka. McKnight...M. D. Broadhead RS. (1991).J. 2004. Vol. H. and Huong. K. Heckathorn. C. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. Semaan S.. D. L.. Heckathorn DD. Anthony.com/resourceTOC. Sabin.6(1):55–67. Marijuana Abuse: Age of Initiation.M..1). Respondent-Driven Sampling ofInjection Drug Users in Two U. D. 2005. (1998).G. Lozada. Hien.. Depok: Puslitkes UI. Respondent-Driven Sampling: A New Approach to the Study of Hidden Populations...I. D. Depok: Puslitkes UI. The Costs of Tobacco. M. Heckathorn. L. D. Depok: Puslitkes UI.. Depkdiknas. No. H. Ramos..S. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. D. (1991). C.M. Broadhead. 5. The economic and social costs of Class A drug use in England and Wales 2003/2004. Home Office Online Report 16/06 Heckathorn DD. D.–Mexico Border Cities: Recruitment Dynamics and Impact on Estimates of HIV and Syphilis Prevalence... II. Weakliem.. Collins. Broadhead. Heckathorn. Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2005/2006. Tinsley. Hughes JJ. D. et al.D. Banu. Bangladesh. 2006 DSM IV-TR. 2002. Assessment of Respondent Driven Sampling for Recruiting Female Sex Workers in Two Vietnamese Cities: Reaching the Unseen Sex Worker Journal of Urban Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.psychiatryonline. Bramson. S. 83.A. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan.49:11–34. 19 no. R. H. K.. S. S. Rahman.M.. R.D. L. M. Godfrey. 2004. Extensions of Respondent-Driven Sampling: Analyzing Continous Variables and Controlling for Differential Recruitment.A.. Mills. Sabin. D.. L. BNN & Puslitkes UI. AIDS Behav. (1999). R. S. AIDS prevention outreach among injection drug users: Agency problems and new approaches. Gallagher. Soc Probl. P. Frost. 2005. R. D. and Weakliem.T. Magis-Rodriguez..2.M. alcohol and illicit drug abuse to Australian society in 2004/2005 Collins. S. Vol. L.. L. Public Health Reports. 42–57. Estimating the economic costs of drug abuse.E... R.J. Stuid Baiaya Ekonomi dan Sosial Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2004.M. 113(Suppl.

Results from the 2007 National Survey on Drug Use and Health: National Findings (Office of Applied Studies. Falck RS.. H.. Et All (2001).. Rockville. Published February 2004. Research Monograph Series 2..org Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. DHHS Publication ADM 91-1787. J. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. tahun 2008 . D.ppt-2007-06-05 World Drug Report 2008. KK Bucholz (2006). 1991. 1997.. Kopp. Office of National Drug Control Policy. 20(1). 189-210.. Sociol Methodol. MD: National Institute on Drug Abuse Office of National Drug Control Policy.. 9. Denise. Siegal HA Rahman A.34:193–239. NIDA. The Economic Costs of Drug Abuse in the United States.unodc.. Lapsley. Sampling and estimation in hidden populations using respondent-driven sampling.. MD. A report of the Canadian Centre on Substance Abuse Salganik MJ.. Appendix A. D.).C. Collins. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. pp. Single. V´azquez.. United Nations on Drugs and Crime.. In S. Office of National Drug Control Policy. Easton. MD: National Institute on Drug Abuse Robson. 1992-2002. Meyer Roger E Different Patterns of Drug Use. http://www. No. P. Popova. Brochu.D. Addictive Behaviour 31 (2006): 948-961 Wang J. and Campbell. Drug Alcohol Depend. 27-35. Schober & C.gov Predicting Heavy Drug Use: Results of a Longitudinal Study. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. N. 2005. Schauffler. pp. MT Lynskey. RD Todd.gov/publications/pdf/american_users_spend_2002. www. National and State Estimates of the Drug Abuse Treatment Gap: 2000 National Household Survey on Drug Abuse. 83. Todorov. Harwood. Heckathorn. “Psyciatrich comorbidity and progression in drug use in adult Male twins: implications for the design of genetic association studies”. Rockville. Washington. & Anthony. The Cost of Substance Abuse in Canada 2002 Ritter.com www.org/pdf/gap/trs-6. Shade (Eds. Health Affairs. No. MD: National Institute on Drug Abuse Kopp. SMA 08-4343). Vol.gov/publications/predict_drug_use/intro. International Guidelines for Estimating the Costs of Substance Abuse—2001 Edition Substance Abuse and Mental Health Administration. P. 7 Kandel.datastatistik-indonesia.pdf www.nisn. From Networks to Populations: The Development and Application of Respondent-Driven Sampling Among IDUs and Latino Gay Men.go. Patra. http://www. AA. L. Heckathorn DD.2004. Medicaid Coverage For Tobacco-Dependence Treatments..unodc. C. Fischer.1995. The An Epidemiology of cocaine use and abuse pp.whitehousedrugpolicy.. R. 2006. Respondent-driven sampling to recruit MDMA users: a methodological assessment. http://www. DHHS Publication No. J. S. Vol. 2001. Literatur review on the economic costs of substance abuse. NSDUH Series H-34. 2002. Carlson RG. Published December 2001. The Measurement of "Ever Use" and "Frequency-Quantity" (in Drug Use Surveys). 207303). NIDA.T. H. Baliunas. Social costs of drug use in France.. E. & Blanchard. Research Monograph Series 2. Diaz. B. 17-24. AIDS and Behavior. December 2005 Rehm. Gnam. www.. 78:147–157 What America's Users Spend on Illegal Drugs1988–2000. DC: Executive Office of the President (Publication No.Halaman | 41 Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. E. D. J. 4. 2008. Li L.id – Data rekap nasional.whitehousedrugpolicy. J. & Single. B. JF Scherrer.diknas. Taylor. Rockville. dan Wilson. E. A. NIDA Research Monograph 110. World drug report 2007. Rockville. JD Grant. S. B.pdf Ramirez-Valles. Factors influencing initiation of cocaine use among adults : Findings from the epidemiologic Caatchment Area Program. W.whitehousedrugpolicy. 2004. R.M. DHHS. R. Sarnocinska-Hart. Youth Characteristics Describing and Predicting Heavy Drug Use by Adults..

tahun 2008 .Halaman | 42 LAMPIRAN Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

101 2.677 26.432 5.364 14.093 11.412 87.808 129.253 26.649 35.3 1.149 9.605 5.747 7.250 5.041 teratur minimal maksimal 76.462 49.449 294.689 40.417 10.966 11.116 3.715 115.024 172.594 131.665 13.310 71.749 60.818 6.624 41.230 1.999 3.752 18.182 2.510 3.114 142.910 13.197 10.854 35.247 4.550 7.814 959.166 pecandu minimal maksimal 124.071 3.3 1.891 135.178 8.905 9.724 700 885 344 401 218.879 1.4 1.418 6.7 1.296 50.6 1.394 23.726 15.6 1.778 16.560 6.127 7.711 7.088 9.471 15.316 6.573 14.878 8.890 2.093 2.999 26.857 10.087 6.399 9.464 227.856 20.494 1.654 25.164 27.151 138.3 1.765 17.709 3.264 5.935 14.713.152 27.155 13.395 30.6 1.094 81.113 396.738 42.7 1.819 % thd pop 3.237 36.987 124.740 8.183 3.380 17.512 8.383 12.075 22.174 11.Halaman | 43 Tabel Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tabel E1.686 7.573 11.629 9.209 43.610.089 12.879 41.970 4.473 16.584 26.500 11.261 4.476.7 1.577 54.599 46.6 1.016 9.581 253.544 20.528 1.781 6.879 48.715 27. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.984 19.079 36.280 123.707 99.228 186.492 78.390 3.670 18. tahun 2008 .487 6.038 268.671 12.6 1.262 53.788 76.461 10.526 12.398 11.233 465.090 22.850 2.6 1.506 27.2 1.376 807.4 1.071 7.171 13.202 13.618 83.821 28.329 12.365 122.023 12.334 4.384 31.613 722 917 993 1.033 158.787 4.626 29.302 7.167 188.383 13.439 69.465 43.821 42.258 4.754 112.830 9.203 829.6 1. Angka Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia.152 1.612 Pecandu suntik* minimal maksimal 30.547 8.762 Total lahgun minimal maksimal 278.732 9.785 60.501 22.888 52.869 10.567 11.065 22.323 9.434 21.3 1.902 3.657 260.217 47.259 39.280 12.601 12.984 11.303 23.768 2.229 7.313 2.572 4.845 41.673 57.108 3.480 498.563 26.2 1.019 23.964 3.743 26.931 17.252 61.576 4.2 1.636 2.772 49.114.295 11.431 1.6 2.817 938.5 1.514 36.305 571.070 3.771 26.115 16.656 4.840 29.252 7.256 1.645 35.392 752 912 3.488 3.780 22.8 1.563 10.953 10.658 5.188 865 981 1.270 29.418 27.129 8.3 1.582 20.944 7.385 14.655 1.122 22.908 26.863 14.007 3.872 30.469 2.578 6.675 4.624 5.075 7.150 21.762 47.6 1.761 2.135 4.986 4.833 14.996 44.057 83.964 4.626 6.211 34.502 11.456 14.732 6.264 12.374 1.1 1.551 4.763 96.422 19.0 1.744 20.059 9.506 12.798 31.3 1.682 3.548 84.224 42.776 2.894 94.132 3.576 7.538 26.168 204. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total coba pakai minimal maksimal 77.603 1.480 73.933 5.495 3.785 41.573 8.592 11.6 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.276 2.4 1.155 167.886 19.163 14.806 7.4 2.731 31.649 16.549 306.552 214.412 10.816 23.137 3.801 3.818 5.197 2.397 31.401 16.2 1.410 21.096 32.070 23.893 3.119 55.042 1.735 23.381 15.429 1.694 652.539 570.414 51.629 9.335 113.081 13.317 3.211 9.1 1.798 11.402 158.749 9.234 3.267 12.312 24.6 1.072 14.898 21.561 107.364 7.269 6.371 5.413 1.811 2.363 19.232 37.6 1.953 18.439 50.463 20.157 9.029 146.051 11.493 143.302 64.

2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total Pel/mhw 40 40 58 62 42 49 42 48 32 45 34 56 58 35 60 51 46 62 51 42 57 57 59 58 42 63 48 50 54 49 41 53 53 49 Coba pakai Bukan 7 9 9 8 10 10 8 11 10 9 11 8 8 5 5 6 8 12 9 7 14 12 9 10 17 12 8 12 3 12 13 13 10 9 Total 48 49 68 71 52 59 49 59 43 54 45 63 66 40 66 57 54 74 60 49 71 69 68 68 59 76 56 62 57 62 54 65 63 58 Pel/mhw 32 30 23 19 28 18 26 22 30 19 28 17 17 34 18 25 35 12 24 29 16 18 13 18 17 12 17 23 22 24 28 8 13 23 Jenis Penyalahguna Narkoba (dalam %) Teratur Pecandu bukan suntik Bukan Total Pel/mhw Bukan Total 2 35 11 3 13 1 31 16 1 17 1 24 4 1 5 3 22 4 1 5 6 34 11 0 12 4 22 14 1 16 2 27 17 2 19 2 24 13 1 14 2 33 17 1 17 3 22 17 1 17 1 29 7 1 8 1 19 12 1 13 3 20 6 1 8 2 36 10 1 12 5 23 3 1 4 3 28 12 1 13 2 36 5 2 7 1 12 7 2 9 3 27 7 1 8 1 30 10 2 12 5 21 4 1 5 6 23 3 1 4 5 18 6 4 10 4 22 3 2 4 1 18 9 6 15 3 16 3 3 6 7 24 13 3 16 3 26 7 2 10 0 22 10 4 14 3 26 8 3 11 5 34 6 3 9 2 10 19 3 23 5 19 14 2 17 3 26 11 2 12 Total Lahgun Setahun Pecandu suntik Pel/mhw Bukan 3 1 3 0 3 0 2 0 2 0 3 0 4 1 3 0 7 0 6 0 16 1 4 1 6 1 11 1 7 1 2 0 2 0 5 0 5 0 9 1 2 0 3 0 4 0 5 1 6 2 2 0 2 1 2 0 6 0 1 0 3 0 1 1 1 0 3 0 Total 4 3 3 2 3 3 5 3 7 6 17 5 6 12 8 2 3 5 6 10 3 3 4 6 8 3 4 2 6 1 3 2 2 4 Pel/mhw 86 89 87 87 84 84 89 86 86 87 85 90 87 91 88 89 88 85 87 90 79 81 82 84 74 80 81 82 92 81 79 82 82 86 Bukan 14 11 13 13 16 16 11 14 14 13 15 10 13 9 12 11 12 15 13 10 21 19 18 16 26 20 19 18 8 19 21 18 18 14 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2. tahun 2008 .Halaman | 44 Tabel E. Angka Persentase Penyalahguna Narkoba menurut kelompok pelajar/mahasiswa & bukan pelajar/mahasiswa.

0 14.3 17.4 33.8 29.9 1.Halaman | 45 TABEL PROBABILITAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA.1 12.8 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 24.6 3.4 12.3 10.8 66.2 7.7 34.9 23.7 11.3 23.7 2.1 12.4 21.0 3.5 12.2 15.5 67.2 1.8 3.5 10.0 1.5 1.3 11.2 93.8 0.0 0.3 2.9 0.1 1.5 2.1 5.5 0.0 79.9 85.8 25.9 0.4 4.3 6.0 1.7 15.6 6.5 Pecandu Suntik 461 2.7 20.3 4.8 5.7 0.1 15.5 13. TAHUN 2008 ( Hasil Survei di 17 Propinsi) Tabel 1.6 16.4 56.8 0.3 68.1 10.3 Keseluruhan Lahgun 2143 9.9 2.7 1.5 0.7 2.3 1.2 4.2 0.2 2.3 92.6 74.7 10.1 1.0 16.1 2.7 53.7 3.1 24.6 3.4 2.8 8.9 68.5 3.3 1.5 5.5 77.7 7.7 0. Distribusi persentase responden yang terpilih dalam studi menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur > 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun lebih dari 49 tahun Jenis kelamin Laki Perempuan Pendidikan Rendah (=<SD) Menengah (SMP) Atas (SMA keatas) Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Hidup bersama tanpa nikah Pekerjaan utama Tidak bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai negeri (PNS) Pegawai swasta TNI/ POLRI Wiraswasta/pedagang Buruh tetap Buruh tidak tetap /serabutan Sopir Ojek Lainnya tempat tinggal anda saat ini Rumah sendiri Rumah orang tua Rumah saudara kandung Rumah saudara bukan kandung/kakek/nenek Rumah teman/tetangga Rumah kost/kontrakan Tidak punya tempat tinggal tetap N: Jumlah seluruh responden Teratur 410 8.6 0.0 5.7 84.1 0.5 5.9 57.9 23.4 0.4 1.4 11.9 20.2 14.4 14.7 27.7 56.3 27.0 24.3 1.0 4.1 17.3 69.5 2.8 70.7 1.2 Bukan Suntik 1272 11.2 6.8 0.0 3.4 6.3 18.1 0.4 0.4 0.2 0.5 88.6 2.2 2.2 3.9 2.1 11.4 20.2 5.3 91.7 2. tahun 2008 .4 4.8 25.1 2.2 32.7 58.5 0.2 21.0 73.0 3.4 80.7 2.1 0.1 0.4 1.2 6.5 7.2 1.5 24.3 68.9 0.4 2.9 1.5 1.3 92.5 63.1 0.4 0.0 2.0 Total 1733 9.4 25.5 17.5 2.

8 0.3 Keseluruhan Lahgun 2143 98.9 33.5 3.5 16.2 59.7 92.7 0.9 18 17 4 8 50 Pecandu Bukan Suntik 1272 5.0 0.3 91.4 43.gele.0 83.0 92.0 0.1 0.5 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 0. tahun 2008 .2 0.7 0.0 0.3 8. i.2 80.9 0.1 0.2 33.0 23.8 N Merokok Pernah merokok Setahun pernah merokok Alkohol Pernah minum alcohol Setahun pernah alcohol N: Jumlah seluruh responden 93.cimeng.2 56.3 0.5 91.2 0.2 Total 1733 98.rohyp Lainnya Teratur 410 2.9 2.8 41.8 16 16 3 7 40 Suntik 461 10.5 7.7 7.1 5.9 41.BK.6 0.8 42.1 0.5 0.0 26.7 0.6 94.0 0.3 6.0 16.2 80.9 24.0 1.5 0.1 0.2 7.9 0.2 94.Halaman | 46 Tabel 2 Perilaku merokok & minum alkohol dikalangan lahgun menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 98.8 2.8 93.2 66.2 67.2 19.9 15.1 19.9 95.7 71.1 3.2 40.nipam.3 0.5 93.2 0.0 21.6 35.5 0.8 8.1 0.7 Pecandu Bukan Suntik 1272 98.marijuana) Hashish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.lexo/lexotan.7 92.5 93.8 95.4 7.7 Tabel 3a Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur pertama pakai narkoba < 13 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun >= 19 tahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Jenis kelamin Laki Perempuan Jenis narkoba pertama kali Ganja (cannabis.2 80.1 0.1 20.0 17 16 3 7 50 88.0 0.7 16 15 3 9 35 Total 1733 6.6 0.0 4.6 2.4 29.1 73.4 34.3 Suntik 461 98.6 0.3 11.2 5.7 95.1 2.4 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Obat penenang/barbiturat (valium.5 16 16 3 7 40 Keseluruhan Lahgun 2143 5.1 4.

8 3.9 37.0 46.5 37. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.0 1.1 6.9 76.6 10.2 4.6 50.0 10.6 5.5 1.6 3.5 17. lexo/lexotan. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.7 0.9 4.9 4.1 79.9 16.3 0.9 3.0 0.7 0.2 0.8 10.4 5.8 11.7 10.0 27.0 2.9 47.8 36.6 65.4 9.0 69.5 0.Halaman | 47 Tabel 3b Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Jenis narkoba yang pernah pakai Ganja (gele. i.4 2.6 49.0 40.3 1.3 2.4 81.0 35.2 0.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 30.8 65.3 66.3 3.5 21.4 10.1 53.0 33.2 37.5 53.0 0.1 26.5 0.1 6.4 16.8 17.2 64.1 0.0 11.8 0.8 49.UHU) Lainnya.0 Keseluruhan Lahgun 2143 91.2 48.1 4.8 10. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex. nipam.1 2.7 14. cimeng.9 55.8 70.0 0.7 33.5 4.5 53.2 61.5 14.2 2.2 66.0 2.9 58.1 5.2 5. cimeng.5 14.5 0.1 71.0 7.8 24.9 33.0 31.4 Total 1733 92.9 16.3 1.5 1.1 3.6 8.2 0.5 2. sebutkan Jenis narkoba setahun terakhir pakai Ganja (gele.5 3.3 6. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.9 21.8 20 21 5 48 184 421 49 7200 720 1181 49 29979 357 624 49 29979 161 508 5 29979 36. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.9 3.6 0.5 4.7 0.2 0.1 6.5 52. nipam.4 66.1 Suntik 461 93.9 0.4 65.3 2.-Aibon.6 56.4 4.3 13.7 65.8 28.2 9.9 7.UHU) Lainnya Frekuensi pakai Mean Median Minimum Maksimum Keluarga tahu anda pakai narkoba Ya Tidak Ada anggota keluarga lain pakai narkoba Ya Tidak Teratur 410 88.4 4.5 2.7 22.7 7. tahun 2008 .2 0.6 0.3 0.8 5.8 8.9 42.4 32.9 4.2 30.-Aibon.1 18.6 1.3 6.7 66. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.5 3.3 72.9 51.6 65.1 19.5 56. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.8 0.4 5. i.8 20.4 0.6 15.0 Pecandu Bukan Suntik 1272 92.7 38.3 0.6 29.3 82. BK. BK.9 4.6 23.6 29.0 36.6 32.4 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.8 4. lexo/lexotan.2 28.5 60.8 2.5 2.6 63.

4 0.6 11.0 1574 47.5 348 13.6 0.9 950 47.4 2.3 43.4 26. XTC).8 38. Hasish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.2 Total 1733 86.5 47 87.9 12.3 276 12.8 18 17 3 74.9 29.7 27.4 11.1 13.4 35.5 1.1 2.3 0.3 83.1 20.4 35.5 31.: Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine): Obat penenang LSD (acid) Kecubung.9 26.5 18.9 12.0 20.6 3.7 0.2 30.4 56.3 276 48.9 41. tahun 2008 . i.9 Pecandu Bukan Suntik 1272 84.5 Total 1733 33.6 N Pernah menjual narkoba Setahun terakhir masih menjual narkoba Pernah menjadi kurir narkoba Pernah menawarkan narkoba ke orang lain Tabel 6 Perilaku seks dan narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Pernah seks Usia pertama kali hubungan seks Mean Median SD Seks setahun terakhir N Seks setahun terakhir Pernah hubungan seks demi narkoba Seks demi narkoba by jenis kelamin (N) Laki Perempuan Frekuensi pakai kondom setahun terakhir (N) Tidak pernah Kadang-kadang/jarang Selalu Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Jenis narkoba yang mempengaruhi anda ingin hubungan seks Ganja (cannabis.2 10.4 5.2 64.8 2.3 Total 1733 16.1 41.3 4.7 35.2 9.6 11.8 0.0 Pecandu Bukan Suntik Suntik 1272 461 21.cimeng.7 1.0 0.6 0.6 51.0 11.2 32.0 7.6 35.1 13.5 78.0 0.2 28.6 N Pernah pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba Setahun pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba 52.8 40.7 47.9 1.1 157 81.5 0.5 1298 47.4 47.6 87.6 7.0 41.9 1.0 8.3 9.6 110 79.0 Keseluruhan Lahgun 2143 31.5 18 17 3 73.1 190 80. bensin) Lainnya Teratur 410 80.5 10.4 1.5 2.0 49.9 0.5 61.6 47.0 0.5 0.6 31.0 78.1 9.4 59.gele.5 6.3 8.0 1.1 40.0 35.5 1.5 29.2 54.4 0.2 28.5 Pecandu Bukan Suntik 1272 29.2 12.9 Suntik 461 91.4 0.6 0.9 1298 12.6 Suntik 461 45.7 98.8 0.0 48.1 45.0 33 72.4 0.0 9.9 3.7 950 11.8 8.4 9.2 0.8 348 45.6 10.0 0.4 11.6 0.5 Tabel 5 Peredaran narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 19.6 0.5 10.7 9.3 0.4 82.0 0.1 0.0 5.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 36.7 18 17 3 74. jmr di kotoran Sapi/mushroom Inhalan/dihirup (ngelem.5 5.5 18 18 3 67.4 32.6 2.5 2.4 11.7 Keseluruhan Lahgun 2143 17.7 0.marijuana).8 18 17 3 75.Halaman | 48 Tabel 4 Pola Konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 22.4 1574 12.8 47.6 0.2 Keseluruhan Lahgun 2143 85.4 1.6 0.0 4.2 2.8 2.8 9.1 0.7 2.9 55.6 12.7 3.

9 71.1 62.1 10.3 65.1 1.7 74.6 736 20 19 5 9 38 Mean Median SD Minimal Maksimal Lama pakai narkoba secara teratur (bulan) Mean Median SD Minimal Maksimal suntik 20 19 5 9 38 65 60 53 1 360 59 42 46 4 132 65 60 53 1 360 Jenis narkoba yang pernah disuntikan ke dalam tubuh Kokain Shabu Ekstasi (inex i XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine).2 11.8 691 175 25.0 4. tahun 2008 .3 1.3 522 365 679 1 10950 528 365 478 1 1825 522 365 667 1 10950 Mean Median SD Minimal Maksimal 24 15 24 1 150 14 10 11 3 30 24 15 24 1 150 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.5 62.4 2.4 44.6 36.9 31.2 6.1 4.3 5.1 80.3 42.6 68.4 17.3 5.5 57.4 8.2 36.3 18.0 72.Halaman | 49 Tabel 7 Penyalahgunaan narkoba suntik Laki Perempuan Total N Pernah narkoba suntik Ya Tidak N Umur pertama pakai narkoba suntik 1968 35.7 2.9 10.6 1.2 42.1 64.7 81. ObatPenenang Lainnya pernah menggunakan jarum suntik bersama/bekas pakai Pernah pakai narkoba suntik setahun terakhir Ya Tidak Frekuensi pakai narkoba suntik Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi pakai jarum baru (bulan) 4.6 1.8 3.0 4.3 5.1 81.8 5.9 4.3 45 19 19 4 12 28 2143 34.

3 37.9 24.5 23.9 5.7 33.7 5.9 22.7 34.3 10.2 5.6 34.2 3.5 1.4 5.1 34.0 6.4 42.0 4.0 16.2 16.4 30.8 46.6 15.7 6.2 7.8 17.3 70.5 4.0 4.6 11.9 25.2 35.6 6.4 5.2 26.4 9.4 18.1 29.1 2.0 50.2 23.0 18.2 1.6 34.9 25.5 4.7 35.7 9.9 7.6 373 38.7 46.7 37.5 45.5 373 48.3 27.4 36.7 7.6 8.7 4.2 6.1 83.0 9.8 3.0 72.9 37.9 68.5 78.7 23.0 14.5 299 44.2 6.9 17.2 17.3 17.7 23.9 12.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.5 70.0 35.5 40.5 143 31.3 14.8 23.Halaman | 50 Tabel 8 Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 410 Pecandu Bukan Suntik 1272 Suntik 461 Total 1733 Keseluruhan Lahgun 2143 N Responden yang punya keluhan kesehatan Ya Tidak Jenis keluhan yang disampaikan Rasa Mual Selera makan berkurang Rasa sakit pada ulu hati Rasa perih/nyeri pada saat menelan makanan Warna putih menebal pada bagian mulut/tenggorokan Rasa sesak pada dada Rasa sakit pada saat bernafas Batuk berdahak lebih dari 2 minggu Diare lebih dari 2 minggu Rasa lelah (fatique) berkepanjangan Keluar keringat pada malam hari secara berlebih Demam tinggi lebih dari 2 minggu Kulit dan kuku berwarna kuning (menguning) Peradangan pada kulit (luka yang sulit sembuh) Rasa gatal/panas dan ruam/memerah pada kulit Munculnya bercak berwarna merah/putih/hitam di kulit Penurunan berat badan lebih dari 10 dalam 2 minggu N punya keluhan kesehatan Melakukan pengobatan sendiri Jenis pengobatan sendiri yang dilakukan Obat Tradisional/non medis Obat modern/medis Lainnya Melakukan pengobatan ke orang lain Rawat jalan Rawat inap 65.7 299 36.2 75.2 4.9 16.3 6.1 516 44.1 1.3 5.3 45.6 19.5 21.6 3.9 143 31.4 25.7 8.7 2.5 23.8 5.6 10.0 9.1 26.5 70.1 4.0 76.1 3.7 47.1 9.0 62. tahun 2008 .2 32.4 18.6 516 36.0 18.1 74 57.6 21.3 25.9 11.4 3.9 45.5 74 43.8 45.1 4.5 13.

6 5.0 0.Halaman | 51 Tabel 8b Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 58 18.2 6.8 41.4 0.7 17.0 49. tahun 2008 .9 44 5.6 47.9 4.7 47.7 5.5 9.0 0.0 0.1 0.0 N berobat jalan Tempat pengobatan rawat jalan RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.8 1.3 9.0 14.8 0.7 1.2 48.2 0.3 3.0 1.2 41.7 21.4 14.2 14.1 42.4 9.0 0.4 0.2 5.0 0.9 145 7.3 3.9 3.4 0.0 Total 447 28.0 5.0 55.0 0.0 0.4 0.0 0.9 5.7 1.8 0.6 1.2 8.2 13.0 Suntik 209 41.0 0.1 1.4 0.3 4.0 9.9 3. Sebutkan N berobat rawat inap Tempat pengobatan rawat inap RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.6 25.0 0.1 15.7 8.2 0.6 7.0 Pecandu Bukan Suntik 238 17.3 0.5 40. Sebutkan Apakah tersedia jaminan pembiayaan kesehatan Askes Astek jamsostek Perusahaan/kantor Asuransi lain/swasta Kartu sehat/SKTM/jamkesmas/Gakin Keluarga (ortu.0 13.3 15.8 0.2 11.1 4.0 31.3 16.6 53.3 60.1 90 11.7 0.0 0.1 6.7 7.8 45.0 8.9 3.4 2.kerabat): Biaya sendiri (responden) Lainnnya Ada orang lain yang mengantar selama berobat Rawat jalan Rawat inap 15.1 3.3 11 5.7 0.4 4.1 12.9 1.6 2.0 3.adik/kakak.1 5.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 11.0 59.9 2.0 0.3 3.0 1.7 0.4 2.2 15.2 7.0 0.9 2.7 51.7 1.5 7.1 0.8 60.1 22.7 61.0 0.7 3.9 1.0 0.5 48.3 60.9 11.2 0.1 15.3 10.0 0.8 3.1 10.8 8.6 21.0 Keseluruhan Lahgun 505 27.4 2.7 50.4 134 8.0 0.4 0.2 0.

2 8.2 130 1733 14. sebutkan .3 0.1 129 461 28. Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Ketika OD di tolong di pelayanan medis.0 4.0 20.3 56.6 4.2 Frekuensi OD setahun terakhir Mean Median SD Minimal Maksimal Tindakan yang dilakukan ketika OD Tidak melakukan apa-apa Ditolong/ di rawat teman Perawatan medis Perawatan non medis Lainnya.1 0.0 259 5.0 130 8.5 4.1 10.0 0.0 60.0 24 4.0 20.0 283 4.4 4.0 129 1..0 10.2 33. ada orang lain yang menunggu (n) 2 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1 3 40..3 52.5 2.1 8.5 29.0 0. tahun 2008 .9 Ya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.7 5..0 2.0 0..0 1.2 9.4 55.8 0.5 0..2 283 1.1 28.8 11.2 54.9 24 dlm setahun 1272 10..9 259 2143 13.5 18.6 4.5 9.5 52.0 0.7 13..0 0.Halaman | 52 Tabel 9 Kasus over dosis dikalangan pelayahguna narkoba Teratur N Pernah overdosis Ya N pernah OD Pernah overdosis terakhir Ya Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.

. .2 0.1 0.0 0.5 0. .2 3. . .1 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.7 2.0 . tahun 2008 .1 3 Keseluruhan Lahgun 2143 5.9 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.4 0. 8. .2 0.0 2.9 9.7 7.0 4 Suntik 461 16.2 0.Halaman | 53 Tabel 10 Detoksifikasi dan rehabilitasi menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 0. . 0.4 3 Total 1733 6. 2 4 1 9 1 1 1 0 3 1 3 1 12 1 1 1 1 7 1 1 0 1 1 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17. .9 0.4 Frekuensi rehabilitasi Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi detoks & rehab Mean Median SD Minimal Maksimal .0 . Pecandu Bukan Suntik 1272 2.0 1.8 25. .2 2.4 0.3 0.5 2. .2 0. .3 2.1 3 N Pernah Detoksifikasi Detok setahun terakhir Pernah Rehabilitasi Rehabilitasi setahun terakhir Pernah Detok-&-Rehab Detok&Rehab setahun terakhir Frekuensi detoks (kali) Mean Median SD Minimal Maksimal .0 7.6 0.5 1.5 Ada orang lain yg membantu 22.6 8.

9 30.9 287 65.8 27.2 26.9 15.4 57.7 28.5 7. tahun 2008 .9 40.9 82. Perilaku pencarian pengobatan sendiri terhadap keluhan akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah pengobatan sendiri Ya Tidak Setahun pengobatan sendiri Frekuensi pengobatan sendiri setahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 16.4 461 61.9 26.9 4.3 27.3 2143 31.5 38.5 65.7 67.Halaman | 54 Tabel 10.4 13. Perilaku tindakan kriminal akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah melakukan tindakan kriminal krn narkoba Ya tidak Setahun tindakan kriminal Proporsi antara tindakan criminal dan keluarga (n) Keluarga/orang tua Orang lain Campuran Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 15.2 267 64.9 9.0 1272 25.3 13.7 60.5 20 80.1 21.0 37.4 83.7 6 3 9 1 40 6 2 13 1 96 4 2 11 0 90 5 2 12 0 96 6 2 12 0 96 Tabel 11.0 171 63.5 33.7 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 12.4 68.1 8.3 7.1 1733 35.5 14.9 96 67.0 16.6 73.1 4.2 64.0 5.0 15.

1 1.9 14.Halaman | 55 Tabel 12.0 0.5 1.9 2143 769 35.0 7. Kasus kecelakaan lalulintas yang diakui akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah kecelakaan lalulintas krn narkoba Ya Tidak Setahun kecelakaan lalulintas Frekuensi kec lalulintas setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah kecelakaan lalulintas setahun Ada orang yg bantu saat kecelakaan lalulintas Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 95 23.0 1733 23.9 1.0 24 12.8 4.9 1.6 1.0 0.0 3.0 1.9 63.0 7.5 16.2 1 1 0 1 1 5 33.8 461 197 42.0 461 46.5 1.9 60.8 1.5 1272 477 37.3 1272 14. tahun 2008 .0 336 25.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 20.1 1.5 19.9 1 1 1 1 5 62 80.0 Tabel 13 Penangkapan pihak kepolisian akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah ditangkap polisi krn narkoba Setahun ditangkap krn narkoba Frekuensi ditangkap setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah ditangkap setahun Ada orang yg bantu saat ditangkap polisi Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 7.2 1 1 1 1 5 132 72.1 1.0 360 25.8 1.3 7.3 1 1 1 1 5 127 73.2 6.0 0.2 76.0 80 48.5 62.9 1.6 1.3 1.3 2143 20.8 1733 674 38.5 1.0 5.2 1.7 17.1 1 1 1 1 5 65 65.1 5.4 1.7 55.0 7.0 256 18.0 0.

4 149 21.3 29 85.3 83.2 47.7 59 82.3 828 25.1 120 2.4 41.5 60 82.7 679 27.2 1 1 .4 90.7 58.9 288 2.8 Tabel 15 Pengalaman Aktivitas terganggu akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah aktivitas terganggu krn penyalahgunaan Ya Tidak N pernah aktivitas terganggu Setahun pernah aktivitas terganggu dari penyalahgunaan Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 38.1 476 27.0 30 79.5 66.4 1 1 0 1 2 2143 13.9 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 1 1 0 1 2 1 100.9 58.1 55.0 40.4 1 1 0 1 2 461 31.Halaman | 56 Tabel 14 Pengalaman dipenjara akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah dipenjara krn kasus narkoba Tidak N pernah dipenjara Setahun dipenjara krn narkoba Frekuensi dipenjara setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah dipenjara setahun terakhir Ada orang yg bantu saat dipenjara Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5. tahun 2008 .2 49.6 94.2 38. 1 1 1272 9.8 265 3.6 56.6 145 6.1 203 26.3 1 1 0 1 2 1733 15.4 23 0.4 85.

09 0.0 54.0 7.91 0.5 27.6 17.13 0.12 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.91 0.00 0.10 0.0 0.5 27.00 0.0 27.0 27.0 92.17 0.00 0.00 0.06 0.00 0.8 28.03 0.0 27.9 7.0 5.05 0.0 27. Teman responden yang pakai narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Pecandu Suntik Keseluruhan Lahgun Teratur N Perkiraan jumlah narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal Bukan Suntik Total 410 teman pakai 1272 461 1733 2143 17 10 20 2 100 mati karena 17 10 28 1 200 16 8 21 1 100 16 10 25 1 200 16 10 25 1 200 Ada teman narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal yang 2 2 1 1 4 4 3 3 1 12 5 3 5 1 30 4 3 4 1 30 4 3 4 1 30 Jenis kelamin teman yg mati Laki-laki perempuan Umur teman yg mati karena narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal 100.0 54.0 54.6 7.67 0.0 4.15 0.Halaman | 57 Tabel 16.6 92.00 0.06 0.0 4. tahun 2008 .1 27.8 17.0 Perkiraan jumlah teman yg mati karena narkoba Mean Median Minimum Maximum Std Deviation 0.00 0.3 25.0 5.80 0.00 0.0 46.1 92.6 20.4 7.0 4.00 0.91 0.8 17.2 18.0 27.4 93.0 44.01 0.

26 0.01 0.05 0.01 0.00 0.02 0.00 0.00 0.09 0.12 0.00 0.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.01 0.06 0.02 0.12 0.06 0.00 0.01 0.27 0.03 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 0.13 0.11 0.01 50-54 0.27 0.27 0.05 0.02 45-49 0.00 0.05 20-24 0.421 716 455 111 3.03 0.05 0.33 0.05 0.01 0.18 0.02 0.13 0.00 0.16 0.00 0.25 0.00 0.00 0.09 0.08 0.00 0.02 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.20 25-29 0.00 0.01 0.53 0.51 0.33 0.50 0.04 0.02 0.06 0.46 0.00 0.22 0.00 0.00 0.00 0.27 0.14 0.00 0.02 0.38 0.00 0.19 35-39 0.13 0.10 0.46 0.11 0.09 0.00 0.00 0.06 0.33 0.00 0.13 0.03 0.20 0.00 0.04 0.00 0.23 0.00 0.27 0.03 0.00 0.07 0.12 0.22 0.50 0.01 0.08 0.00 0.00 0.06 0.48 0.05 40-44 0.00 0.00 0.25 0.00 0. 2008 Angka prevalensi kematian narkoba 0.00 0.06 0.00 0.09 0.00 0.27 0.00 0.09 0.08 0.621 66 86 158 132 497 12 48 12 6 14.55 0.01 0.22 0.12 0.00 0.00 0.43 0.00 0.00 0.00 0.23 0.05 Persentase kematian menurut kelompok umur Absolut mati yg 10-14 0.42 0.12 0.04 0.01 0.17 0.10 0.00 0.08 0.01 0.00 0.02 0.10 0.05 0.00 0.54 0.00 0.03 0.02 0.33 0.00 0.45 0.04 0.01 0.01 0.00 0.71 0.00 0.54 0.06 0.10 0.00 0.01 0.18 0.00 0.29 0.06 0.00 0.00 0.08 0.25 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total 2.61 0.14 0.45 0.00 0.894 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.46 0.00 0.04 0.04 0.01 0.02 0.03 0.21 0.986 219 871 165 203 33 114 353 60 71 288 259 105 188 82 142 74 7 1.10 0.05 0.Halaman | 58 Tabel 17.00 0.48 30-34 0.00 0.80 0.03 0.03 0.33 0.27 0.00 0.11 0.00 0.00 0.00 0.02 0.01 0.00 0.00 0.32 0.01 0.00 0.21 0.42 0.00 0.00 0.02 0.03 0.01 0.50 0.00 0.02 0.25 0. Angka Prevalensi dan Perkiraan Kematian Akibat Penyalahgunaan Narkoba Menurut Kelompok Umur Propinsi di Indonesia.03 0.11 0.00 0.01 0.41 0.50 0.00 0.11 0.00 0.05 0.17 0.13 0.71 0.00 0.25 0.00 0.13 0.00 0.00 0.00 0.12 0.00 0.00 0.00 0.33 0.05 0.01 0.00 0.00 0.05 0.46 0.27 0.46 0.10 0.27 0.00 0.38 0.02 0.04 0.00 0.00 0.25 0.00 0.10 0.04 0.00 0.05 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.29 0.38 0.13 0.00 0.05 0.00 0.00 0.00 0.22 0.00 0.25 0.06 0.01 0.00 0.49 0.04 0.26 0. tahun 2008 .48 0.04 0.08 0.05 0.00 0.25 0.11 0.29 0.00 0.00 0.02 0.00 0.02 0.20 0.00 0.00 15-19 0.00 0.05 0.00 0.02 0.02 0.02 0.00 0.05 0.00 0.00 0.13 0.04 0.01 0.00 0.00 0.00 0.09 0.27 0.21 0.34 0.27 0.00 0.01 0.02 0.02 0.01 0.10 0.333 1.00 0.00 0.02 0.28 0.00 0.

.

000 rupiah) Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2008 15.036 722.243 22.986 227.715 680.953. tahun 2008 .489.657 5.060 252.450 8. 2008 (dalam 1.515 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.735 3.071 7.124 1.220 882.705 26.743.454 59.530 32.000. Kerugian Biaya Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia.424 45.602 839.519 19.957.813 188.Halaman | 60 TABEL ESTIMASI BIAYA KERUGIAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA Tabel 1.094.376.443.688 323.

758 11.573 17.010 955 206 149 331 1.651 0 5.791 46.320 2.639 9.622 8.332 1.939 54.424 0 0 0 0 310 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.817 2.161 10.388 6.802 3.374 149.155 51 23 22.724 1.913 2.424 28.602 0 93.403 2.968 5.000 rupiah) Pengobatan sakit Konsumsi Narkoba Rawat jalan Rawat inap overdosis detok Rehab detoks & rehab detoks & pengobatan tertangkap rehab sendiri kecelakaan polisi penjara aktivitas terganggu total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.486 6.806 133.186 58.029 3.153.996 63.489.475 321.369 86.559 2.744 4.036 370.953 2.075 5.593 524.499 94.273 68 170 0 5.741 1.407 50.772 13.568 1.183 4.692 44.239 11.226.013 50.334 1.536 585 1.830 4.840 781 292.020 284.021 0 162.612 9.641 107.638 2.102 35.410 125 510 0 0 13.269 1.792 76.877 1.516.098 1. tahun 2008 .703 3.407 16.060 4.182 700 186.813 5.225 586 1.252 2.742 6.263 4.793 10.668 0 67.638 0 3.499 2.171 6.056 916 905.396.587 23.430 560.974 996 117.001 1.740 124.431 4.956 2.263 438.047 557.850 3.355 2.634 12.485 132.804 5.344 3.683 0 2.183 283 1.070 12.694 85.542 822.919 11.201 11.762 209.254.768 3.849.843 7.975 188. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 1.691 1.705 26.219 226.431 3.702 1.258 13.530 295 2.757 7.673 24.188 16.950 2.335 317.000.666 526 153.841 36.875 1.414 177.472 795.218 4.435 15.302 14.404 294 3.060 11.912 134.265 19.513 253.140 2.Halaman | 61 Tabel 2a No PROP Biaya private (dalam 1.550 32.562 979 25.173.688 26.986 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.948 435.294 292.501 270.165 158.808 449.993 3.845 323.292 30.873 468 1.618.977 6.630 9.676 5.462 3.511 65.772 9.620 54.425 501.841 2.631 51.228 3.049 327.926 977.651 36.380 430 196 839.845 413.845 8.299 410.683 1.149 70.829 14.327 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73 15 27 0 337 40 0 280 35 46 128 106 3.167 21.532 188.612 43.183 141.607 0 16.846 42.024 2.258 0 16.889 630.149 0 991 15.658.394 219.986 217.395 814 131.071 1.051 933.257 9.226 7.424 959 1.244 1.283 1.356 394.860 28.799 0 0 0 0 0 353 4.310 220.076 7.701 613.364 1.855.949 3.666 19.820 17.489 23.483 21.988 575 946 891 239 479 929 87 168 297 603 939 184 43 769 111 358 359 271 155 6 25 30 17 19.124 27.042 67.578 1.749 5.591 13.255 8.846 152.851 165.321 5.622 136.048 4.250 16.133 7.373 3.220 30.610 15.376.483 427.388 1.404 301.925 1.435 10.907 100.871 1.395 1.065 3.052 5.112 1.680 33.142 886 271.551 559.302 34.749 16.660 930 2.808 882.226 239.556 691.586 89.009 2.602 9.768 110 5.768 6.326 15.671 46.103 505 15.438 1.079 180.043 19.847 210.023 0 0 0 0 0 0 0 0 73 0 0 0 0 361.921 1.020 1.835 7.102 4.874 296.088 28.224 9.427 2.115.490 63.222 261.441 6.284 4.130 6.439 1.202.959 1.669 26.741 5.872 150.702 1.561 2.706 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.199 0 0 719.721 243.320.609 15.871 1.060 1.256 1.519 0 5.463 5.822 12.365 1.617 1.455 230.539 953.901 30.211 32.732 56.021 9.421 508 852 0 3.434 3.545 485 85.666 180.046 17.

329 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 42.135 24.179 64.423 0 0 0 0 0 5.362 11.448 23.950 45.058 2.683 89.339.111 4.338 10.269 25.416 255 7.059 159 0 509 14.711 3.340 3.988 90.265 26.268 21 7.746 7.285 1.947 3.822 41 16.863 680.316 2.757 0 51.300 4.185 1.893 880.172 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 83 17 31 0 39 13 0 424 12 15 42 35 298 24 99 0 0 8.981 9.071 272.045 1.057 0 59.410 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.555 664 266 7.887 257 289.363 5.957.872 8.254 2.292 0 0 16.857 481 856 219 3.043 2.045 24. tahun 2008 .400 125 38.738 21.530 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.886 0 222 46.780 6.798 275.845 17.153 10.230 0 0 0 1.121 66.503 1.465 3.283 258 101 194 0 0 176.060 5.357 146.386 1.904 111.682 445 1.572 3.809 0 254.498 807 3.318 9.124 14.630 41.019 942 185.425 110.651 99.919 0 42.211 6.054 3.193 3.122 308 33.046 163.316 2.672 2.470 1.Halaman | 62 Tabel 2b No PROP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Biaya Sosial (dalam 1.418 75.841 5.071 3.477 65. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 4.826 3.843 310 51.203 66 102.043 3.732 52 22.364 5.396 5.613 16.835 23.189 58.597 36.694 2.397 195 2.076 3.095 32.002 34 84 10 25 1.046 103 31.202 139 310 333 272 446 143 468 2.777 428 5.410 19.968 392 16.174 389 692 360 444 193 545 6.972 3.941 5.947 8.745 3.280 269 407.785 1.424 0 804.944 705 1.132 101 7.257 3.210 35.396 173.660 2.480 0 2.559 203 94 167 122 1.984 1.512 6.161 105 295 411 300 1.877 42.187 181 98 187 384 320 159 101 3.142 0 93.409 60.410 48.002 1.373 543.774 0 10.645 0 2.235 3 2.088 936 833 1.060 0 175 2.933 182.616 134.953.735 3.278 313 655 2.814 7.087.957 1.833 11.073 19.433 564 12.652 555 775 172 1.285 485 125 0 2.538 5.268 175 26.889 363 675 5.583 343 68.136 529.392 2.300 63.553 996 3.314 33.052 542.052 5 17.528 0 0 0 0 0 44 397 9 21 34 59 768 1.050 67.424 24 136.864 113 192 370 8.174 642 877 664 243 481 2.000.666 23.498 1.057 42.271 98.924 7.149 93.293 39.277 27 28.454 75 0 14 0 0 42.862 39.376 6.823 35 18.715 4.305 24.934 0 85.155 0 1.321 1.046 246 361 0 3 41 0 1 0 1.505 6.552 5.709 5 10.926 22.171 32.408 286.333 722.674 13 16.678 31.228 45.122 43.777 0 2.923 53.000 rupiah) loss produc: sakit Rawat Jalan Rawat Inap Loss produc: overdosis detok loss: detoks & rehab Rehab keluarga tindak kriminalitas orang lain loss: kecelakaan loss: polisi premature loss: penjara death total DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.405 426 720 344 157 51.

689 kokain shabu ekstasi 63.971 230.351 78.045 49.302 217.806 29.867 19.853 49.938 65.374 100.056 83.061 243.475 51.870 16.258 59.559 20.772 132.105 29.806 7.044 26.172.290 167 27.575 146.276.095 13.278 54.943 64.064 26 83.251 15.919 1.363 7.616 10.842 5.456 23.985 2.254.585 79.517 50.939 59.376 353.405 6.080 975 3.995 68.940 34.415 203.871 22.061 6 146 19.452 923 59.868 2.641 5.006 206.499 15.185 8 40.202 194 661 3.791 84.232 9.436 34.840 48.362 7.983.743 131.751 4.359 144.317 25.301 11.489 127.512 121.829 152.709 46 14 29 1.634 3.133 1.855.087 4.968 188.609 3.927 33.079 18.336 2.Halaman | 63 Tabel 3.781 48.342 LSD kecubung 4.948 822.912 438.612 317.153 6.076 12.450 83.333 21.981 146.358 13.395 557.909 4.007 36.118 57.2.631 20.716 23.055 11.544 62.211 13.284 16.901 100.657 6.108 50.544 2.153.881 15.974 21 63.411 6.106 48.851 162 500 139 201 471 393 4.382 5.929 19 526 27.795 8 359 42.212 32. Riau 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 14 Bangka Belitung 15 Bengkulu 16 Lampung 17 Kalimantan Barat 18 Kalimantan Tengah 19 Kalimantan Selatan 20 Kalimantan Timur 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan 25 Sulawesi Barat 26 Sulawesi Tenggara 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Bali 30 NTB 31 NTT 32 Papua 33 Irian Jaya Barat Total 177.662 146.214 654 14.897 1.587 233 1.539 581 4.806 1.345 100.334 305.217 15.562 9.070 7.442 616 758 4 2 2 60 63 1.742 300 361 52 2.917 TOTAL 1.749 449.524.170 45 94 putau putau cair methadon bubuk 636.319 158.000 rupiah) ganja 82.149 86.363 148.676 219.991 799 61.527 35.482 55.191 702 heroin 3.803 1.310.212 1.760 162 69.721 172.231 15.407 165.249 33.331 262.077 6 24.128 169.216 44.039 11.552 34.182 1.613 34.004 70 3.171 14.725 7.220 1.810 158 536 7.719 81.469 155.994 16.948 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.116 236.061 15.639 321.071 95.452 23.141 28 50 273 30.846 179.651 159 270 124 208 151 48 9 23 9 1 40 1 3 5 3 832 380 4.377 22 674 33.233.820 24.876 38 122 62.721 1.183 933.441 39.727 35.111 3.620 63.841 795.891 55.119 936.081 41.316 98.889 19.376.429 1.024 34.294 914 37.176 3.075 39.802 292.319 48.683 193.009 24.707 501 17.068 8.374 613.693 5.766 10.957 29.227 7 212 232.584 subutex barbiturat 116.376.958 10.482 5.778 30.977 136.265 34.628 76.809 2.249 25.661 199.128 2 0 0 0 0 0 4.555 4.242 2.013 67.680 202 216.100 2.302 177.456 10.787 .321 13.134 96.134 2.694 150.526 11.655 9.088 33.754 343.793 284.398 2.280 29.062 72.393 21.094 2.575 44.628 20. Total Konsumsi Narkoba 2008 (dalam 1.208 4.624 13.546 20.071 NO PROPINSI 1 DKI Jakarta 2 Jawa Barat 3 Banten 4 Jawa Tengah 5 DI Yogyakarta 6 Jawa Timur 7 NAD 8 Sumatera Utara 9 Sumatera Barat 10 Riau 11 Kep.025 8.287 378 1.808 44 20 12.499 230.167 630.293 hashish 150 1.232 129.120 123.075 39.825 182.949 4.464 inhalant 2.435 35.768 15.158 125. tahun 2008 .992 382.165 10.283 20.696 5.819 35.112 102.212 195.872 7.309 143.544 79.417 14 78.070 370.767 13.951 214.705 20.894 16.843 141.679 68.000.

287.092.514.463 356.768.060 252.070 237.Halaman | 64 Tabel 4.084 362.109 1.776 30.532 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.690 12.482 92.923.877 1.515 256.192.201 27.243.296 57.521 43.563 1.704 74.562 853.856 15.770 12.205 46.436.614 318.346 1.795 446.273.242.208 5.735 3.765 10.000.177 10.176.986 510.822 1.227.376.146 34.263 297.901 38.236 4.688 323.539 51.282.700.110.903 41.464 37.933 990.340 2010 20.274.555.140.967.784 1.124 1.094.278 211.387 6.728 1.701 2013 28.243 22.443.547 941.443.715 680.313 1.530 32.454 59.054.519 66.723.115.022 71.681 1.195.036 722.450 8.125 1.237 227.471 8.240 406.657 5.318.146 811.624 570.035.879 1.867 31.955.071 7. Proyeksi Kerugian Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba.388 8.000 rupiah) 2008 15.410 64.179.266.539.018.721.986 Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2009 18.412 4.805 7.957.472.090 1.021 82.375.882.813 188. tahun 2008 .628 2011 22.135 363.577.546 1.780 6.325 30.299 332.951.531 323.705 26.133 13.194 24.403 39.331 13.944 1.997 57.574.021 24.519 19.702.220 882.563 48.031 399.243.199 9.809 80.759 955.602 839.621.703 456.622 51.292.091.489.413 1.191 762.410 9.050 909.762.562 1.265 4.747 407.741 283.953.010.812 4.424 45.254 265.356 1.436 35.743.757 8.803 288.604.930 2012 25. 2008-2013 (dalam 1.103 103.433 22.068.391.427 34.183 27.024 1.

518.981 364.644.162 2.544 230.207 175.Halaman | 65 Tabel 5.925 32.589.893 708.079 720.549 204.199 350.364.929.653 285.891 41. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROP Proyeksi Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba (dalam 1.560 645.523 312.058 2.008 2.009 3.443.677 788.648 97.090 401.304 9.970 252.939.249 503.423 537.974 255.681 186.673 6.596 168.384 257.986 617.455 1.243.957 121.383 430.682.295 322.554 347.071.060 434.663.536 6.762 780.381 803.249.394.910 289.580.266.961 1.032 2.691 261.000 rupiah) 2.220 451.981.853 1.443 1.420.764 139.488 1.948.559 440.324 360.813 285.425 401.092 865.678 4.165 593.945 57.370 1.570 286.029 151.195 533.573.507 5.351 1.440 164.191.135.152 184. tahun 2008 .279 319.626 50.430.231 2.710 450.799 208.444 6.026 137.792.454 571.803 2.083 562.154 1.681 1.957.471 387.377 259.959 45.315 895.756 455.787.474 235.003 319.214 498.035.499 5.130 1.274 628.164 447.669 1.393 186.716 492.924 37.923.194 603.515 2.548.046 174.672 156.857 123.000.742 360.023 1.530.278 136.684 630.459.235.865 195.787 4.960 2.143 7.599.171 5.013 1.412.135 2.727 168.112.805 502.940.358 327.784 1.623 99.139.010.351 124.431 63.834 430.455.623 211.892 1.764 269.694 3.748 876.463.532 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.501 385.994.105 478.886.588.282.243.586 781.695 554.092.324.187.861 153.950 170.610 1.709 479.434 945.052 70.473.726.292.522 405.116 517.049.758 4.368 110.520 166.067 1.811 218.335 756.650 1.658 11.696.242.866 135.928 675.019 390.732 2.442 1.007 1.610 190.058 512.604 1.935 846.347.337 78.369.927 776.774.595 228.807 7.860 10.055.210.562 1.657 359.159 486.679 566.417 1.502 46.387.967 108.823 578.714 963.751.862.267 1.133 507.970 279.552 659.217 157.336 1.146 398. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.524 8.382 1.352 1.620 151.556 1.151.054 233.912 291.718 397.312.258 111.981.955 4.985 636.659 558.996.240 2.543 1.260.012 4.342 56.544 702.549 231.396 206.363 442.634 2.106 1.013 4.092 700.878 242.115 314.860 5.277.833 51.700 1.512 355.010 3.247 1.652 356.386.061.015.011 4.531 2.232 7.183 282.734 593.

Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman atas dedikasinya terhadap pelaksanaan pengumpulan data di 17 lokasi survey hingga proses editing data. Semoga kita dapat melanjutkan hubungan baik untuk bekerjasama di kegiatan-kegiatan berikutnya. Berikut nama korlap dan lokasi survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN-Puslitkes UI: No. Di bawah ini adalah mitra lokal dan LSM untuk Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN RI -Puslitkes UI : Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. mengumpulkan enumerator dan memberikan informasi gambaran penyalahgunaan narkoba di lokasi survei. 4. 10. 16. pengumpulan data. try out kuesioner dan instrument penelitian. namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar bagi mereka. Siagiaan Sonny Wibisono Bayu Fajar Wirawan Rudi Zulkarnaen Hari Moertopo Nodivel Ahmad Caesar Wisnu Issantoso Lokasi Survei Manado Surabaya Bandar Lampung Pontianak Yogyakarta Palu Batam Palembang Medan Bandung Makassar Samarinda Mataram Denpasar Semarang Jakarta Papua Survei ini juga tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar tanpa bantuan teman-teman LSM dan Mitra Lokal yang telah menyediakan waktu. 6. tenaga dan pikiran dengan tulus untuk membantu kami terutama dalam hal menyediakan tempat basecamp. 1.Halaman | 66 UCAPAN TERIMAKASIH Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 terselenggara atas prakarsa Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia telah berjalan dengan lancar. 8. Bahkan beberapa rekan korlap juga sangat dibantu dengan teman mitra lokal/LSM yang menenangkan responden yang merasa ‘terusik’ dengan kehadiran ‘orang asing’ bagi mereka. pelatihan. 13. 2. 7. Nama Koordinator lapangan Meyke C. setting lapangan. Pastinya masih segar ingatan akan begitu banyak teman-teman yang berpartisipasi mengikuti proses rekrutmen koordinator lapangan hingga akhirnya terpilih 17 kordinator lapangan dan dibantu oleh 170 enumerator. Maka kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua mitra lokal dan teman-teman LSM yang kami tidak bisa sebutkan satu persatu. 15. 14. 3. Kegiatan ini terlaksana salah satunya karena kerjasama semua tim yang telah terlibat mulai dari perumusan ide. entry data dan analisis data. pembuatan kuesioner. 12. 17. 9. Semoga kita dapat terus melanjutkan kerjasama pada kegiatan-kegiatan seterusnya. 5. tahun 2008 . Ramola Hendri Hartati Ardha Renzulli Heru Susetyono Heksa Sari Julianti Haryono Junedi Zahid Iffahwan Basuki Iman Hadi Ferdinand P. 11.

M. SE.Sos Meilani. Tanjungpura Yayasan Medan Plus Univ. M.Kes Aji Vespa Abdul Muthalib Tahar. M.Si Yvonne Joyo Nur Suryanto Gono. Udayana East Java Actions Yayasan Bina Hati Univ. Nasution Efrizal .Kes & Ali Chozin Syahri Suharni/ASA Asmaripa Ainy. SKM. Radit Dadi Suhanda. Sriwijaya Saburai Support G Univ. SSos. SE Arlan Yulfar.Si. Indra K. Airlangga Yayasan Performa Univ.Si Didik J. M. Padjajaran Univ. SH. Mkes Erigana. Lampung Yayasan Laras Yayasan Mata Hati Univ. Diponegoro UGM Forum Korban Napza Univ. SKM.Halaman | 67 No 1 2 3 Wilayah Kalimantan Barat (Pontianak) Sumut (Medan) Kepri (Batam) 4 Sumsel (Palembang) 5 6 7 8 Bandar Lampung Kaltim (Samarinda) Bali (Denpasar) Jatim (Surabaya) Mitra Lokal Rizal/ Mia Sabran Eban Totonta Kaban. Drs. S. tahun 2008 . Padjajaran 9 10 11 Jateng (Semarang) DI Yogyakarta NTB 12 13 Sulsel (Makasar) Sulut (Manado) 14 15 16 17 Sulteng (Palu) Papua (Jayapura) DKI Jakarta Jabar (Bandung) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Hassanudin YMM YMM Univ. Sumatera Utara YBTDB Dinkes Batam Dinkes Batam Yayasan Intan Maharani Yayasan Intan Maharani Univ. SSos. Nugroho Ryan Stella Sophian Shanti Riskiyani Rodhi Lolong Martin Umar Junaedi Sri Nurrahma Ester Erfan. Mataram Makasar Harm Reduction Community (MHaRC) Univ. Tadaluako YPPM UI (Kessos) Yayasan Rumah Cemara Univ. Aslam Anak Agung Kresna Ida Ayu Laksmi Rudhy Sinyo Eko Maryono Muhamad N Arifin Edy Herry Pryhantoro. S. LSM/Yayasan Yayasan Pontianak Plus Univ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful