LAPORAN SURVEI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Badan Narkotika Nasional
bekerjasama dengan

Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Halaman | 2

KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji dan syukur atas rahmat dan kekuatan dari-Nya sehingga laporan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tahun 2009 telah dapat diselesaikan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Hasil survei tahun 2008 ini lebih detail hasilnya sampai ke tingkat propinsi, baik dari sisi estimasi jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi akibat narkoba. Studi ini melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, informan, mitra lokal, kontak person, koordinator penelitian, asisten dan peneliti lapangan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Brigjen Pol. Drs. J. Salean SH., Dra. Endang Mulyani, MSc., Drs. Mufti Djusnir Apt. Msi., Drs. Hendrajit P. Widigdo, Drs. Sumirat Dwiyanto,. Siti Nurlela, Sri Lestari, dan Ibnu atas bantuan dan kerjasamanya pada setiap tahapan studi ini, mulai dari proses pengembangan instrumen sampai penulisan laporan. Akhirnya kami berharap studi ini akan dapat memberikan kontribusi yang berguna dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan penyempurnaan program pencegahan dan penanggulangan narkoba di Indonesia umumnya dan tingkat Propinsi khususnya.

Tim Peneliti Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Singkatan 1. Pendahuluan ..........................................................................................................7 2. Tujuan ....................................................................................................................7 3. Tinjauan Pustaka Singkat .......................................................................................8 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba .................................................................8 3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba ..................................................9 4. Metodologi............................................................................................................9 4.1. Desain Studi ...................................................................................................9 4.2. Lokasi Studi ..................................................................................................10 4.3. Definisi Operasional ......................................................................................10 4.4. Keterbatasan Studi.......................................................................................11 5. Hasil.....................................................................................................................11 5.1. Prevalensi Penyalahguna .............................................................................11 5.2. Karateristik penyalahguna ...........................................................................13 5.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba ...................................................13 5.4. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba ..................................19 5.5. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba....................................................22 6. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013...................................................................................................................23 6.1. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 ................................23 6.2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba .......................................25 7. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba ....................................26 7.1. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna.........................................26 7.2. Peredaran gelap narkoba.............................................................................27 7.3. Perdagangan narkoba ..................................................................................31 7.4. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi...31 7.5. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex................................32 7.6. Pembenahan aparat penegak hukum.........................................................34 8. Kesimpulan & Rekomendasi ..............................................................................37 DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................40 Lampiran Ucapan Terima Kasih

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 4 DAFTAR SINGKATAN AIDS ATS BMJ BNN BNP BNK BPS CBA CEA COI DALYs DSM IV TR GDP HIV IDU LSD LSM NAPZA NARKOBA NSDUH NTB OD ONDCP PHK Puslitkes UI PSK Pemda QALYs RDS RP RT RW SAMSHA SLTA SMU SLTP SD TB THC TV UN UNODC Acquired Immune Deficiency Syndrome Amphetamine Type Stimulants British Medical Journal Badan Narkotika Nasional Badan Narkotika Propinsi Badan Narkotika Kabupaten Biro Pusat Statistik Cost-Benefit Analysis Cost-Effectiveness Analysis Cost-of-Illness Disability Adjusted Life Years Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision Gross Domestic Product Humman Immunodeficiency Virus Injecting Drug User Lysergic Acid Diethylamide Lembaga Swadaya Masyarakat Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain National Survey on Drug Use and Health Nusa Tenggara Barat Over Dosis Office of National Drug and Policy Pemutusan Hubungan Kerja Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Pekerja Seks Komersial Pemerintah Daerah Quality Adjusted life Years Respondent Driven Sampling Rupiah Rukun Tetangga Rukun Warga Substance Abuse and Mental Health Services Administration Sekolah Lanjut Tingkat Atas Sekolah Menengah Umum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Dasar Tuberculosis tetra-hidro-kanabinol Televisi United Nation United Nations Office on Drugs and Crime Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .

Halaman | 5 DAFTAR TABEL Tabel 1. tahun 2008 . Tabel 4. 2008-2013 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia. 23 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 2008-2013 17 19 21 22 Tabel 7. Tabel 2. 2009 (median) Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba. 2009 Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna narkoba di Indonesia. tahun 2008 Tabel 3. Tabel 5. Tabel 6. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai 6 sumber Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan 10 narkoba di Indonesia.

6 juta orang atau sekitar 1. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk. yang dilaksanakan tahun 2004. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Sumatera Utara. Sumatera Selatan. tahun 2008 . 27% teratur pakai. Lokasi studi di 17 provinsi. kerugian diperkirakan Rp. 26. Dalam periode tahun 2001 sampai 2006. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. dan lembaga pemasyarakatan. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004. 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba. Bali. teratur-pakai. teratur pakai. DI Jakarta. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar.57. medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya.32. Sulawesi Selatan. 5. seperti coba-pakai.1 juta sampai 3. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai. Sulawesi Tenggara & Papua. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 3. Metodologi. Terakhir.0 trilyun di tahun 2013. LSM. serta studi kualitatif ke berbagai sumber seperti penyalahguna/mantan. Jawa Tengah. kepolisian. Nusa Tenggara Barat. Di Indonesia. baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka.4 trilyun (2008) terdiri atas Rp. terdistribusi atas 26% coba pakai. bandar. yaitu Kalimantan Barat. laki-laki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%). Kedua. 2002). penyalahgunaan narkoba meningkat pesat. Jawa Barat.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. Dengan total kerugian biaya sekitar Rp. 40% pecandu bukan suntik.Halaman | 6 Abstrak Pendahuluan.6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI.5 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp. Dampak ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang yang sangat besar ini menggarisbawahi upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba sebagai upaya yang sangat mendesak. Jawa Timur. Data dikumpulkan melalui survei dikalangan penyalahguna narkoba.23. panti rehabilitasi. Pada biaya private.6 trilyun atau $2. 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius.32. 3) mempelajari pola peredaran narkoba.9 trilyun adalah biaya sosial. 2005). Lampung.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp. DI Yogyakarta. Hasil. Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp. keluarga penyalahguna. Tujuan. Kalimantan Timur. memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan. dan 7% pecandu suntik. pengamatan prospektif penyalahguna. Menurut jenis kelamin. Kepulauan Riau. sebagian besar (58%) untuk biaya konsumsi narkoba. besaran biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari biaya hitungan studi ini. Fakta bahwa sebagian besar penyalahguna merupakan remaja dan berpendidikan tinggi yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%). Pertama. dan pecandu (suntik dan bukan suntik). Sulawesi Utara. mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas.

Halaman | 7

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

1. Pendahuluan
Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Di Amerika Serikat kerugian biaya ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai $181 milyar (UNDCP, 2004), sedangkan di Canada $8,2 milyar pada tahun 2002 (Rehm, 2006). Di Australia kerugian mencapai sekitar $8,190 juta pada tahun 2004/2005 (Collins, 2008). Perbandingan kerugian biaya narkoba terhadap gross domestic product (GDP) di Amerika Serikat sebesar 1,7%, Canada 0,98%, Australia 0,88% dan Perancis 0,16% (UNDCP, 2004). Di Indonesia, kerugian diperkirakan Rp.23,6 trilyun atau $2,6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI, 2005). Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir penyalahgunaan narkoba meningkat pesat, baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Hasil sitaan barang bukti, misalkan ekstasi meningkat dari 90.523 butir (2001) menjadi 1,3 juta butir (2006), Sabu dari 48,8 kg (2001) menjadi 1.241,2 kg (2006). Jumlah tersangka meningkat dari 4.924 orang tahun 2001 menjadi 31.635 orang tahun 2006 (Mabes Polri, 2007). Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Dengan latar-belakang di atas, Badan Narkotika Nasional bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia melakukan pemutakhiran data studi biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2008.

2. Tujuan
Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu (suntik dan bukan suntik); 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba 3) mempelajari pola peredaran narkoba; 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 8

3. Tinjauan Pustaka Singkat 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba
Banyak konsep dan definisi operasional penyalahgunaan narkoba. Menurut Ritter & Anthony (1991) coba pakai (new initiation) didefiniskan apabila frekuensi penggunaan per tahun 6 kali atau kurang. Sedangkan Todorov et al. (2006) menetapkan 5 kali atau kurang sebagai mencoba, lebih dari 5 kali per tahun sebagai lebih dari mencoba, disebut pengguna teratur bila memakai setiap hari selama minimal 2 minggu. Menurut Meyer (1975), penggunaan narkoba lebih dari satu kali sehari dalam periode 10 sampai 14 hari atau lebih termasuk kategori ketergantungan obat. SAMHSA (2008) membagi perilaku pakai atas tiga kategori yaitu 1) penyalahguna seumur hidup (lifetime use), minimal sekali pakai narkoba dalam seumur hidup, termasuk penyalahgunaan 30 hari atau 12 bulan lalu. 2) penyalahguna tahun lalu (past year use), waktu pakai narkoba terakhir kali dalam 12 bulan lalu termasuk 30 hari lalu sebelum wawancara, 3) penyalahguna bulan lalu (past month use), waktu pakai narkoba terakhir dalam 30 hari lalu sebelum wawancara. Secara garis besar cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dimulai dari bukan penyalahguna hingga coba pakai (eksperimetal), menengah (moderate), penyalahguna berat (heavy use). Tinjauan atas beberapa penelitian dilakukan oleh Elinson (1974) seperti yang ditelusuri oleh Kandel (1975), menghasilkan beberapa definisi dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan pola penyalahgunaan atau tingkat ketergantungan dengan lebih rinci (Tabel 1).
Tabel 1. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai sumber
Experimental 1-2 kali (Mizner, 1973) Occasional 3-9 kali (Mizner) Casual 1-20 kali (Stanton) Moderate use 10-29 kali (Mizner) Regular Minimal 1 kali per minggu (Johnson) Heavy users 21-199 kali (Stanton) Habitual, cronic > 200 kali (Stanton) >30 kali (Mizner) 3 kali seminggu dalam 3 tahun atau lebih atau pakai tiap hari selama 2 tahun (Hochman $ Brill, 1973)

1-2 kali (Josephson, 1973)

3-59 kali (Josephson, 1973)

Satu atau lebih dari 1 bulan (Johnson)

1-9 kali (Josephson, 1972) < 1 kali dlm 1 bulan (Johnson)

10-59 kali (Josephson, 1972) 10 kali satu tahun terakhir (Hochman& Brill, 1973) min 1 kali/ bulan (Johnson)

> 60 kali (Josephon) 3 kali per minggu atau > 1 bln pakai (Robins)

Sumber : Kandel, 1975

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 9

Ada pula yang mengembangkan kombinasi pengukuran diatas, untuk mengetahui tingkat ketergantungan (dependesi) melalui kriteria DSM-IVTR (Todorov et al., 2006) dan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (SAMSHA, 2008).

3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba
Markandya dan Pearce (1989) mendefinisikan biaya total penyalahgunaan narkoba adalah private cost ditambah biaya sosial. Biaya private adalah biaya terkait konsumsi dan produksi narkoba, sedangkan biaya lain yang terkait dengan narkoba dan dibebankan bukan pada penyalahguna tetapi pada masyarakat dikategorikan sebagai biaya sosial. Schauffler (2001), Collins & Lapsley (2004) mengakui pendapat para ahli ekonomi yang membedakan biaya akibat narkoba. Studi biaya narkoba banyak yang memasukkan tiga jenis biaya utama yaitu biaya pelayanan kesehatan, biaya produktivitas, biaya terkait hukum dan pengadilan (Single et al, 2001). Beberapa negara maju membuat estimasi biaya penyalahgunaan narkoba mengacu pada ”The International Guidelines” (Single et al, 2001). Namun metodologi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada negara-negara berkembang karena keterbatasan dan ketersedian infrastuktur datanya, misalkan tidak tersedia angka incidence dan prevalence narkoba, kematian & kesakitan, kriminalitas, kesehatan, dan sebagainya (Single et al. 2001).

4. Metodologi 4.1. Desain Studi
Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Jumlah penyalahguna narkoba diperoleh dengan mengalikan angka prevalensi penyalahguna narkoba dengan populasi berisiko, yaitu penduduk yang berumur 10 sampai 59 tahun. Angka prevalensi diperoleh dari hasil survei narkoba berskala nasional yang telah dilaksanakan BNN, seperti survei penyalahgunaan narkoba di kelompok pelajar & mahasiswa tahun 2006 dan di kelompok rumah tangga tahun 2005. Untuk memperkuat analisis estimasi dilakukan penelusuran pustaka dari berbagai literatur. Untuk mendapatkan angka probabilitas perilaku berisiko dan biaya satuan per orang akibat narkoba, maka dilakukan survei dikalangan penyalahguna narkoba. Cara pengambilan sampel dengan memodifikasi metode respondent driven sampling

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

lalu nilai tersebut di proyeksikan untuk periode tahun 2008-2013 dengan menggunakan berbagai asumsi. Kalimantan Timur.3. penyalahguna/mantan (42). Definisi penyalahguna coba pakai adalah mereka pernah mengkonsumsi jenis narkoba apapun maksimal sebanyak 5 kali dalam seumur hidupnya.143 orang (teratur & pecandu). Selain itu. panti rehabilitasi (28). DI Yogyakarta. serta wawancara dengan kuesioner terstruktur. 4. lembaga swadaya masyarakat (30). Survei tambahan dilakukan pada kelompok coba pakai dengan metode purposive sampling untuk 403 orang di semua lokasi. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. teratur pakai. Sumatera Selatan. petugas lapas (24). Jawa Tengah. mengkalkulasi hasil perhitungan antara hasil point 1 dengan point 2 diatas untuk mendapatkan perkiraan biaya kerugian penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara. Definisi Operasional Definisi operasional penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 tingkatan. Lokasi di seluruh propinsi tersebut berada di ibukota tiap propinsi. Pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam ke berbagai informan (216 orang). Sulawesi Utara. 4. Bali. Lokasi Studi Lokasi studi di 17 propinsi di Indonesia. terdiri atas: kepolisian (23). DI Jakarta. Pecandu dipilah menurut faktor risiko. Jawa Timur. Dan studi observasi selama 1 bulan ke depan terhadap 108 orang di 10 provinsi. Sulawesi Tenggara & Papua. tahun 2008 .Halaman | 10 (RDS).2. Kepulauan Riau. Penyalahguna teratur pakai adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun (selain cara suntik) dimana frekuensi atau jumlah pakai narkoba kurang dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara. Setelah diperoleh nilainya. dan pecandu. yaitu coba pakai. Periode pengumpulan data bulan Agustus sampai Oktober 2008. keluarga penyalahguna (39). Terakhir. dan bandar narkoba (30). Sulawesi Selatan. Jawa Barat. Jumlah sampel penyalahguna terpilih sebanyak 2. yaitu: Kalimantan Barat. Lampung. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Penyalahguna pecandu adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun dengan frekuensi atau jumlah pakai narkoba lebih dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu bukan suntik) dan atau pernah menggunakan narkoba dengan cara suntik dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu suntik). dilakukan studi costing di rumah sakit untuk mendapatkan biaya perawatan dan pengobatan bila ada IDU yang sakit karena HIV/AIDS dengan sampel sebanyak 98 pasien.

pernah dirawat di rumah sakit. bukan dari perspektif pemerintah. Angka prevalensi penyalahguna dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa per provinsi. Misalkan pernah melakukan tindakan kriminalitas. 1 www. 2006). Angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa tahun 2006 dan survei narkoba di rumah tangga tahun 2005. Sehingga biaya-biaya yang dihabiskan dan dikeluarkan diluar periode waktu tersebut tidak dihitung. Keterbatasan Studi Berikut adalah keterbatasan dalam studi ini: • Perspektif perhitungan biaya studi dari sisi penyalahguna narkoba (klien). provinsi yang tidak di survei menggunakan asumsi data dari provinsi terdekat yang di survei sebagai masukan datanya.datastatistik-indonesia. dan pecandu berdasarkan jumlah frekuensi pemakaian dan cara pakainya. Sehingga biaya-biaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba yang dikeluarkan pemerintah tidak dihitung dalam studi ini. • Biaya ekonomi yang dihitung dalam studi ini pada periode 12 bulan lalu sebelum wawancara. biaya pengungkapan kasus pihak kepolisian. yaitu September 2007 sampai Agustus 2008.4. Survei penyalahgunan narkoba dilakukan di 17 provinsi untuk mendapatkan probabilitas perilaku dan biaya satuannya setiap konsekuensi narkoba. Misalkan. atau detoks/rehab dua tahun yang lalu maka tidak dihitung dalam studi ini. biaya penyediaan penjara. tahun 2008 . Untuk itu.com Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Untuk sumber data populasi penduduk diperoleh dari website yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Australia Nasional University (ANU)1. teratur pakai. Sedangkan laporan studi ini mencerminkan seluruh provinsi (33) di Indonesia.1. biaya adanya Badan Narkotika Nasional. Di kelompok pecandu dipilah lagi menjadi pecandu suntik dan pecandu bukan suntik. • 5. Angka prevalensi dipilah menjadi 3 kategori menurut jenis penyalahguna yaitu coba pakai.Halaman | 11 4. dan sebagainya. Hasil 5. Prevalensi Penyalahguna Perkiraan besaran angka penyalahgunaan narkoba diperoleh dari perhitungan model matematis dengan formulasi berikut: angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dikalikan dengan populasi penduduk berisiko (usia 10-59 tahun). Sumber data populasi pelajar diperoleh dari buku saku yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas.

Halaman | 12 Dari hasil kalkulasi diperkirakan jumlah penyalahguna sebanyak 3.814 959. Tabel 2. Pecandu bukan suntik.197 132.772 82.085 61.578 22.538 114.581 253. 40% pecandu bukan suntik.724 32. Penyalahguna coba pakai lebih banyak di kelompok pelajar (90%). lakilaki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%).180 440.448 857. tahun 2008 Jenis Penyalahguna Coba pakai minimal maksimal Teratur pakai minimal maksimal Pecandu Bukan Suntik minimal maksimal Pecandu Suntik minimal maksimal Total Lahgun minimal maksimal 1.435 215. Jawa Barat (14%).166 611.148 145.857 174.484 2.186 185. Mereka kebanyakan berasal dari kelompok pelajar (90%).078 205. Jumlah pecandu bukan suntik diperkirakan sebanyak 1. Penyalahguna teratur pakai paling banyak berada di Jawa Barat (23%).258.1 juta sampai 3.819 294.850 39.950 12.223 1.833 113.140 829.884 3.478 202. Kelompok bukan pelajar/mahasiswa semakin besar proporsinya pada jenis penyalahguna ini mencapai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.898 710.075 19.400 1.149.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008.943 132.146 38.610.762 Teratur pakai.422 6.858 46. Propinsi yang memiliki kasus terbesar berada di Jawa Timur (15%). Jumlah penyalahguna narkoba coba pakai diperkirakan 807ribu – 938ribu orang yang sebagian besar adalah laki-laki (85%).577 169.941 1. dan Jawa Tengah (14%).669 792. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. Penyalahguna teratur pakai kebanyakan berada pada kelompok bukan pelajar (60%). Jawa Tengah (15%). terutama laki-laki. 27% teratur pakai. dan Jakarta (10%). Jumlah penyalahguna teratur pakai sekitar 829ribu – 959ribu orang yang sebagian besar didominasi oleh laki-laki (89%).520 154.294 145.169.817 938.274 5.056 53.676 1.45 juta orang.908 133.359 741.25 juta sampai 1. Menurut jenis kelamin.366 102.379 1. Pada kelompok pecandu narkoba terdiri atas 2 jenis. Coba pakai.917.461 516.935 380.041 Pelajar Laki Perempuan Bukan Pelajar Laki Perempuan Laki Keseluruhan Perempuan Total 133. Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.480 218.702 238.607 70.988 340.234 3.653.114.304.502 1. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).008 27. sedangkan pada teratur pakai dan pecandu lebih banyak terjadi di bukan pelajar/mahasiswa.022 1.080. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik.718 990.971 35.055 3.866 1.716 682. terdistribusi atas 26% coba pakai.781 446.252.180 10.322 807.026 88.459.719 125.281 40. dan 7% pecandu suntik. tahun 2008 .635 155.6 juta orang atau sekitar 1.734.282 33. Jawa Timur (18%).124.

Pecandu suntik diperkirakan sebanyak 218ribu sampai 253ribu orang. Sebagian besar telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi (80%). Sekitar seperempat responden tidak bekerja. dimana proporsi terbesar berada di kelompok pecandu suntik.Halaman | 13 88%. Dalam setahun terakhir. Ganja (66%) dan obat penenang/barbiturat (21%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali oleh responden. dan mereka yang masih aktif merokok dalam setahun terakhir sebanyak 95%. mereka yang masih minum alkohol sebanyak 81%. Riwayat dan pola konsumsi narkoba. Jawa Barat (14%) dan Jawa Timur (13%). Pecandu suntik. terutama di teratur pakai (12%).2. Hampir seluruh responden pernah merokok (99%). Pecandu suntik kebanyakan berstatus tidak bekerja (34%). Umur pertama kali pakai narkoba kebanyakan usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA.3. Ada sekitar 93% dari responden yang pernah minum alkohol. 5. Mereka yang berstatus mahasiswa/pelajar sebanyak 28%. terutama para pecandu suntik. Sedangkan pada teratur pakai dan pecandu bukan suntik kebanyakan mahasiswa (32% dan 24%). tahun 2008 . Alasan yang Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Demikian pula dengan minum alkohol. diketahui lebih dari separuh responden berada pada kelompok umur 20-29 tahun (68%). Lebih dari separuh responden mengaku masih tinggal bersama orangtuanya (58%) dan sekitar seperempatnya tinggal di rumah kost atau kontrakan. Dimana pecandu bukan suntik kebanyakan berada di provinsi Jawa Barat (19%) dan Jawa Timur (16%). Kejadian pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (79%) lebih tinggi dibandingkan pada pelajar/mahasiswa (21%). yaitu minimal telah tamat SLTA ke atas. 5. sedangkan yang mengaku bekerja kebanyakan adalah pegawai swasta (15%) dan wiraswasta/ pedagang (12%). hanya 9% dari penyalahguna adalah perempuan. Karateristik penyalahguna Dari hasil survei dikalangan penyalahguna narkoba. Pecandu suntik lebih banyak yang tinggal bersama orangtuanya (64%) dibandingkan jenis penyalahguna lainnya. Sebagian besar penyalahguna adalah laki-laki. Sekitar seperempat responden berstatus menikah. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba Dari hasil survei dikalangan penyalahguna diketahui beberapa perilaku penyalahguna sebagai berikut: Merokok dan alkohol. Populasi pecandu suntik paling banyak di propinsi DKI Jakarta (14%).

dibandingkan pecandu bukan suntik dan teratur pakai (78%)..1. Misalkan. Semua masih dipake saat ini.3. ga laki kata orang kan. ee ternyata enak. Ada perbedaan banyaknya jumlah konsumsi narkoba. Dari hasil identifikasi pada kelompok pecandu suntik. ternyata ada sekitar sepertiga (33%) dari anggota keluarga responden juga penyalahguna narkoba. kecuali ganja. Ganja (92%). Para pecandu suntik (98%) lebih tinggi yang melakukan “poly drugs”.Halaman | 14 diungkapkan pakai narkoba karena ingin coba-coba. jadi coba-coba. Tidak hanya itu. ga macho.. “Kurangnya perhatian. Feri butuh uang saya kasih. over dosis. obat penenang/barbiturat (52%). di pecandu bukan suntik & teratur pakai adalah shabu. tahun 2008 .3. Dari semua yang pernah dipake paling enak putaw Duh enak banget.. dimana pecandu suntik paling banyak frekuensi pakai narkobanya. “.2. kan nambah metal tu. terutama para pecandu suntik (87%) dalam setahun terakhir. ekstasi (30%). Putaw. susah euy.P2). jadi berani. Jadi saya sibuk kerja.pertamanya pergaulan sih.jenis narkoba yang pernah dipakai pil hypnoril. fly.. obat penenang (28%). shabu. namun tidak untuk kelompok teratur pakai (36%). pada umumnya keluarga mereka baru mengetahui ada anggota keluarganya yang menyalahgunakan narkoba setelah ada kejadian tertentu seperti tertangkap polisi. Informasi tersebut bagi pihak anggota keluarga sebenarnya sudah terlambat karena rata-rata mereka sudah pakai narkoba lebih dari 5 tahun..P1).P3).. terus pergaulan. dan sakit. 80% dari pecandu suntik telah diketahui oleh keluarganya. Ekstasi (54%).P1). cuma saya sibuk kerja. enak banget aja deh kayak di surga” (BD-1. lexotan. nah itu lah akhirnya jadi begitu” (KPN-1. “.10. Jenis narkoba lainnya adalah shabu (38%). perbandingkan median frekuensi pakai antara pecandu suntik (720 kali pemakaian) dengan teratur pakai (20 kali pemakaian) dalam setahun terakhir.. putau bubuk (15%) dan methadon (13%). di pecandu suntik adalah putau bubuk. saya di Jakarta. Lihat. Sayangnya. ada perbedaan jenis narkoba yang populer dikalangan mereka. pengaruh pergaulan.1. berani abis. Sekitar 83% dari responden pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba (poly drugs).08..namanya pil BK itu. putaw. tapi efeknya paling enak putaw” (PN-1. Ganja (71%) masih tetap paling banyak disebut dalam pemakaian narkoba setahun terakhir. tapi dalam tanda kutip perhatian dah cukup. Bahkan ada sebagian dari Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dan putau bubuk (32%) adalah jenis narkoba yang paling populer dipakai dikalangan responden.”(PN-9.2. pokoknya cocok ni... jadi pengawasan saya kurang.. ganja. Cimeng. Camlet. Subutex. Lebih dari separuh penyalahguna telah diketahui statusnya sebagai penyalahguna narkoba oleh pihak keluarga (53%).. Menurutku yang paling mahal shabu.2. Bahkan. heueuh.2.03. orang kalo ga kenal gituan ga keren tuh. kurangnya informasi tentang narkoba dan kurangnya pengawasan orang tua. awalnya gitu aja deh.05. Bisa kumpul sebagai 1 keluarga itu gak ada. Jika dilihat dari jenis penyalahguna. “Obat-obatan seperti Sanax. Suami di Bandung. rumah tangga saya gak harmonis sama suami. stokun. Shabu (64%). lebih dari separuh (61%) responden masih mempraktekan penggunaan narkoba lebih dari satu jenis (poly drugs).

Kejadian penyakit dikalangan penyalahguna. dengan nilai median 60 bulan. sekitar 1 dari 10 orang pernah melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. sebagai pemakai di sekitar sini.dari situlah saya baru mengetahui jika dia adlh pemakai” (KPN-4. Narkoba dianggap dapat meningkatkan libido untuk berhubungan seks.. tahun 2008 . yaitu 1 kali dalam sehari. Dari mereka yang pernah berhubungan seks. yaitu: rasa mual (45%).P4). Dengan frekuensi pemakaian jarum suntik baru pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. mereka yang pernah berhubungan seks sekitar 73%.2.3. Ada sekitar sepertiga dari responden yang mengaku sebagai pecandu suntik.3. ternyata emang sudah target. Tidak ada perbedaan jenis narkoba yang disuntikan antara laki-laki dan perempuan. Sayangnya hampir separuh dari responden ketika berhubungan seks tidak pernah pakai kondom dalam setahun terakhir.05..01. Dalam setahun terakhir. Angka prevalensi pakai narkoba suntik pada perempuan (69%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (62%) dalam setahun terakhir. selera makan berkurang (48%). laki-laki lebih lama sebagai penyalahguna narkoba suntik yang digunakan secara teratur. Saat ini ada dua jenis zat/narkoba yang paling banyak disuntikan ke dalam tubuh. yaitu shabu (40%). ganja (36%) dan ekstasi (32%). yaitu putau bubuk dan subutek. dimana kebanyakan dilakukan oleh laki-laki (80%). terutama para pecandu suntik.” (KPN7.karena dia pada saat itu dia ketangkep.. Dengan median frekuensi pemakaian narkoba suntik sama besar. Prevalensi yang pernah pakai narkoba suntik lebih tinggi pada laki-laki (35%) dibandingkan perempuan (26%). Sekitar 85% dari responden pernah melakukan hubungan seks. tapi saya mengetahuinya pada saat dia sedang sakit di RS itu. Pecandu suntik (92%) lebih banyak yang pernah melakukan hubungan seks dibandingkan kelompok lainnya.. Paling tidak ada 3 jenis narkoba yang banyak disebut terkait dengan hal itu. “Saya mulai tahu dia pake narkoba sekitar tahun 2004. Ada 5 keluhan yang banyak diungkapkan. Seks dan Narkoba. rasa sesak pada Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Tidak ada perbedaan median umur pertama kali pakai narkoba suntik antara laki-laki dan perempuan. Namun. Penyalahguna narkoba suntik.Halaman | 15 informan yang menyatakan bahwa mereka baru tahu anaknya pakai setelah teridentifikasi mengidap HIV/AIDS. sedangkan perempuan 42 bulan. Sekitar tiga per empat responden (76%) mengaku punya keluhan masalah kesehatan. “Saya tidak tahu pasti. dengan median jumlah jarum suntik baru sebanyak 15 dan 10 buah per bulan. Hanya sekitar 9% saja yang selalu pakai kondom. dengan median usia pertama kali umur 17 tahun.Waktu diambil sampel darahnya utk keperluan pemeriksaan golongan darah.2. yaitu 19 tahun.P2).

ada sebanyak 24% yang melakukan rawat jalan dan 3% yang harus menjalani rawat inap. Detoksifikasi & Rehabilitasi. Ketika terjadi overdosis. Bokap jemput kekosan gua. lebih dari separuh responden menyatakan tindakan yang dilakukan adalah ditolong atau dirawat oleh teman (55%).Halaman | 16 dada (43%).6. Setelah positif dua tahun kemudian minum ARV. gua dibawa kepanti rehabilitasi. mereka yang pernah Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. kebanyakan di RS pemerintah. sekitar 37% melakukan pengobatan sendiri dengan cara membeli obat medis/modern (71%). ada sekitar 20% yang menyatakan didiamkan saja.P13). rumah sakit pemerintah (27%). Lebih dari separuh responden (60%) menyatakan diantar oleh orang lain ketika berobat rawat jalan. Gua biarin cuma berobat ke HERNA tapi belum dibilang itu HEP C. Gua dikasih tahu untuk saat ini tidak ada virus HIV. Para informan pergi berobat ke dokter setelah merasakan gejala penyakitnya bertambah parah. Dari mereka yang punya keluhan. Hampir separuh dari responden yang menanggung biaya pengobatan tersebut adalah pihak keluarga (49%) dan pihak responden sendiri (48%). Gua pernah satu hari. Separuh responden pecandu suntik menyatakan tindakan yang dilakukan adalah perawatan medis (52%). Ambilnya di klinik Teratai di RSHS. Namun..20 ribu. Kejadian overdosis. Ada sekitar 8% dari responden yang pernah minimal melakukan satu kali tindakan detoksifikasi ataupun rehabilitasi. dan hanya 2% yang pernah melakukannya sebanyak 2 kali. Hampir sebagian besar informan menyatakan seringkali mereka kurang memperhatikan gejala-gejala penyakit yang dirasakan dan malas untuk berobat ke dokter. Kalau untuk orang dewasa Rp.80 ribu tiap bulan” (PN-1. Sedangkan mereka yang dirawat inap. Ditemukan ada sebanyak 9% biaya pengobatan ditanggung oleh kartu/SKTM/Jamkesmas. Ada sekitar 1 dari 10 responden penyalahguna pernah mengalami overdosis. kalau jalan maunya pipis terus. tetapi orang lain yang menemani responden saat dirawat inap lebih rendah (13%). trus malamnya gua dibawa konseling.02. terutama di kelompok teratur dan pecandu bukan suntik. kebanyakan pergi ke praktek dokter (43%).1. kuku kuning dan badan gua kuning semua. Selain itu. Kebetulan anak gue juga uda minum ARV. tapi HEP C ada. trus gua langsung detoksikasi. yaitu 1 dari 4 responden (28%). Secara detail.dan nyokap gua nangis. dan rasa lelah (fatigue) berkepanjangan (35%). trus gua langsung masuk herna. “.” (PN-5.6. Karena udah kronis. “Gua sering demam-demam tapi gua biarin aja. terutama para pecandu suntik (15%). Selanjutnya. dan puskesmas (22%). Mereka yang melakukan rawat jalan.jadi sejak tahu status. kalau anak-anak Rp. gue dibantu LSM. dia bawa gua kesalah satu dokter”H”. akhirnya gue jalan aja udah ga bisa.. dan itu sudah bisa dibilang stadium tinggi. Akhirnya september tahun 2000 . Pertengahan bulan gua dipanggil lagi sama dokter dan ada orang tua. rasa sakit pada ulu hati (36%). Namun. mereka yang pernah mengalami kejadian overdosis dalam setahun terakhir sangat rendah (2%). Bahkan di kelompok pecandu suntik kejadian overdosis jauh lebih tinggi... Bagi penyalahguna lebih memilih uangnya untuk membeli narkoba dari pada untuk biaya pengobatan.1.08.P13).. tahun 2008 .

3. dan sebagainya.4. ngambil duit 325 juta..11. Berdasarkan pengakuan. ataupun ketidakmampuan membayar layanan tersebut.05. yang disebabkan ketiadaan akses layanan. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4. kalo bisa milih.. Bahkan masih ada sekitar 15% yang melakukan upaya tersebut dengan frekuensi sebanyak 6 kali pada tahun lalu.. membeli obat bebas. “waduh.P1)..P9).. Namun mereka yang mengalami kejadian tersebut sekitar 17% dengan median jumlah kecelakaan sebanyak 1 kali pada tahun lalu. dan 2% dilakukan setahun terakhir.05.” (PN9.” (PN-8.suratnya saya bilang kebapak ini pekarangan pingin saya jual tapi sempet kurang boleh tapi karena dibawah pengaruh obat itu jadi nekat aja udah hilang langsung laku” (PN-10. tidak seluruh responden pernah melakukan tindak kriminalitas.1. Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas.. urat-urat ini kaya di isi jarum kalo mo tahu. ketidaktahuan dari responden. ngegigill. “Kalau jual motor diem. berak ampe keluar darah. karena bini aku udah bunting 4 bulan. Lebih dari sepertiga responden (35%) pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Data ini memperlihatkan masih sangat rendahnya akses layanan untuk detoksifikasi maupun rehabilitasi. tindak kriminalitas pada orang lain lebih banyak dilakukan oleh para pecandu suntik (28%). terutama dikalangan pecandu.2.7% dilakukan setahun terakhir. gua itu berhentinya mendadak. Dalam upaya berhenti dari kecanduan narkoba.mimisan.diem kalau pekarangan ibu sudah meninggal dapat tiga tahun ada surat. karena dalam upaya tersebut didasari atas kesadaran sendiri. Tindak kriminalitas tersebut masih terus dilakukan dalam setahun terakhir (13%).Halaman | 17 detoksifikasi sebanyak 5%.. bayangin orang kepanasan jam 12 siang gua kedinginan. misalkan mencuri ataupun merampok.. dan kebanyakan dilakukan oleh para pecandu suntik (61%). enakan digebuki orang dari pada gua nahan sakau.. kalo ga nge-boti pala gua migraine. Hampir sepertiga dari responden pernah melakukan upaya tersebut.. Hanya 38% yang pernah melakukan tindak kriminal tersebut. aku ga pengen anak aku ini cacat kan. Namun. tahun 2008 . nah.. misalkan pasang badan. ngebobol brangkas bokap. kaya yang tadi gua ceritain kan.. janm 12-1 malam gua mandi... pake ganja tuh berhentinya tu.. para responden telah berupaya melakukan pengobatan sendiri. “. Sedangkan mereka yang pernah rehabilitasi sebanyak 8%. Kebanyakan yang pernah melakukan tindakan tersebut para pecandu suntik (58%). terutama pada kelompok teratur pakai (80%). tuh.. Sedangkan yang pernah melakukan tindakan keduanya sebanyak 2%. dan 0. itu aja. Upaya pengobatan sendiri untuk bebas dari ketergantungan narkoba. lo bayangin.P9). bandingkan dengan teratur pakai hanya 15%. Bagi sebagian penyalahguna menganggap dengan pasang badan bisa lebih efektif untuk lepas dari ketergantungan narkoba dibanding jenis pengobatan lainnya. saaakit badan gua...3. itu waktu orang kedinginan gua kepanasan. jadi terpaksa aku berhenti total.. Kebanyakan tindak kriminalitas tersebut dilakukan di tingkat keluarga (66%). Tindak Kriminalitas.pernah..

Ranking 3. Langsung. ada 1 dari 10 responden (11%) pernah mempraktekan sebagai kurir narkoba. Teman responden yang pakai dan mati karena narkoba.3.894 orang pada tahun lalu. Jumlah median teman narkoba yang meninggal ada sebanyak 3 orang.” (PN-3. Ranking juga 2 dan 3 juga. Tanggung jawab jadi kurang. Mereka yang mengakui hal ini ada sebanyak 41%. Jadi dulu aku SMP itu selalu ranking. terutama para pecandu suntik (46%). Hampir sepertiga (31%) dari responden pernah menjual narkoba. Hampir sepertiganya (31%) adalah pecandu suntik. Penyalahguna mengakui ada aktivitas yang terganggu akibat mengkonsumsi narkoba.Halaman | 18 Penangkapan Oleh Pihak Kepolisian. Jejaring penyalahguna narkoba perlu diketahui. terutama para penyalahguna suntik. Teman yang meninggal tersebut kebanyakan laki-laki (93%). Aku kelas 2 pindah sekolah udah kenal itu. masih ada sebanyak 3% dari penyalahguna yang dipenjara. sekitar separuh responden (52%) pernah menawarkan narkoba ke orang lain. eh. Biasanya beli 1 gram untuk 3 hari. dengan median umur 27 tahun. terutama di pecandu suntik. proyek (order) pada mundur. terutama para pecandu bukan suntik (57%).2. dengan median frekuensi tertangkap sebanyak 1 kali.P7). Pada tahun lalu. Dengan menggunakan angka persentase tersebut per provinsi. sedangkan dikelompok pecandu bukan suntik 3% dan teratur pakai 1%. “Frekuensi makai putaw 3-4 kali sehari. mereka yang mempraktekan menjual narkoba dalam setahun terakhir telah jauh berkurang hanya 8%.2. Jadi malesan. Satu dari 5 penyalahguna pernah ditangkap pihak kepolisian terkait urusan narkoba. Dalam upaya mencari penyalahguna baru. saat aku ada dilingkungan mereka.. misalkan tidak sekolah atau bekerja. tahun 2008 .P7). ngaruh banget mbak.. Ngaruh banget. “Dulu otomatis mbak. Beli segitu sekaligus jualin kalau ada teman yang mau. di luar lingkungan sekolah. “Ya mengganggu! jadi banyak yang terbengkelai.. diperkirakan jumlah penyalahguna yang mati ada sebanyak 14.. Selain itu. Hampir separuh responden tersebut adalah para pecandu suntik (47%). salah satunya dengan menanyakan jumlah teman sesama pemakai narkoba.1. Ada satu dari 10 penyalahguna (13%) yang pernah dipenjara terkait dengan narkoba. lumayan buat nambahin beli” (PN-1. Pengalaman di Penjara. diketahui angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebesar 5% per tahun. Teman pecandu suntik lebih sedikit dibandingkan pecandu lainnya. Penyebarluasan narkoba & harga pasaran. males bangun tidur.P1). terus meremehkan” (PN-8. Namun.2. Nilai median jumlah teman sesama pengguna yang masih hidup sebanyak 10 orang.10...09. hanya ada 1 dari 20 penyalahguna yang tertangkap pihak kepolisian. Ditemukan masih ada 26% dari responden yang merasa aktivitasnya terganggu setelah mengkonsumsi narkoba dalam tahun lalu. tapi dari belakang. Dengan informasi data tersebut.08.3. Ditanyakan pula teman sesama penyalahguna yang meninggal dunia terkait narkoba dalam tahun lalu. Dalam tahun lalu.. Dengan tingkat kematian teman dikalangan pecandu suntik sebesar 15%. Karena beda. Aktivitas Pribadi Terganggu. Ranking 2.. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

2 juta per orang. misalkan ganja di Medan 1 Harga pasaran paket Rp.9 juta per orang. terutama bila ada acara organ tunggal yang memutar house music. menemukan rerata besar biaya untuk rawat jalan sebesar Rp.73ribu sampai Rp. tahun 2008 .763ribu per tahun.1 juta . Di beberapa kota Methadon 1 gelas 5.500 narkoba tidak lagi terfokus di tempatKokain 1 paket 200. tempat kos dan lokasi Heroin 1 paket 100.000 dapat dilihat pada tabel 3.7 juta sedangkan yang memiliki lebih dari 5 gejala sebesar Rp.3.000 lain yang kurang mendapat perhatian Putai cair 1 paket 150.000 Putau bubuk 1 paket 100. mereka yang punya 1-3 gejala hanya sekitar Rp. seperti pengakuan salah seorang bandar.4. Tidak dengan resep dokter aja bisa keluar. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) 5. Apotik itu nakal.1.1 juta sampai Rp. Gambaran hasilnya adalah sebagai berikut: Biaya pengobatan dipilah menjadi rawat jalan dan rawat inap. Sedangkan median biaya pasien rawat jalan sekitar Rp. “Sama di sini nich di daerah “X” ada Apotik “Y”.3. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Biaya satuan konsekuensi narkoba per orang per tahun Biaya satuan (unit cost) dari konsekuensi narkoba per orang per tahun diperoleh dari hasil wawancara dengan para penyalahguna narkoba. Ekstasi 1 butir 137. Hasil survei dikalangan penyalahguna.000 dari pihak kepolisian.250 di pemukiman kumuh. Tempat transaksi sering kali di tempat ramai atau di jalanan umum.P3). dengan rentang antara Rp.15.4. semakin lama tinggal di rumah sakit maka beban biaya yang harus ditanggung semakin mahal. Tapi saya pernah dengar issue. Jenis Narkoba Satuan (Rp) 50.2. Sumber pembiayaan selama di rumah sakit sekitar 48% berasal dari pemerintah melalui program Askeskin. Hasil studi costing di salah satu rumah sakit pemerintah di Jawa Timur menemukan bahwa secara rerata.000. Demikian juga dengan lama hari perawatan. Tabel 3. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba 5. dengan rentang biaya antara Rp. Semakin banyak gejala yang dialami oleh ODHA maka beban biaya pengobatannya semakin mahal. Bandingkan. apotik/toko obat dapat dijadikan sumber mendapatkan narkoba racikan.000 ke tempat lain seperti perkampungan.5 juta per orang. median biaya pengobatan rawat inap sekitar Rp.4.10. Peredaran Hasish 1 paket 37.380ribu per orang per tahun.500 rumah penduduk. Selain itu. 1. Biaya rawat jalan pecandu suntik lebih besar dibandingkan penyalahguna lainnya.Halaman | 19 Harga pasaran narkoba bervariasi antar daerah. Harga pasaran secara rerata Ganja 1 paket 15.000 tempat hiburan tetapi sudah bergeser Shabu 1 paket 200.5. Ada juga yang memanfaatkan tempat orang hajatan.000 studi mulai terlihat peredaran narkoba Subutex 2 mili 26.5000.4 juta dan rawat inap sebesar Rp 5. Demikian juga dengan biaya rawat inap. sedangkan di Bali Rp. hal itu sengaja dibiarkan saja” (BD2.

Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas di pecandu suntik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. kecelakaan.8 juta. Sedangkan biaya kerugian akibat tindakan kriminalitas lebih tinggi terjadi di keluarga sendiri dibandingkan kejadian di orang lain. Dibutuhkan paling tidak sebanyak Rp. terkait urusan dengan aparat penegak hukum. bila urusan telah sampai ke tingkat penjara maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar lagi.Halaman | 20 Biaya satuan penanganan overdosis sekitar Rp. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan pecandu suntik. Kerugian biaya satuan detoksifikasi sekitar Rp. Pecandu suntik mengakui lebih banyak terganggu aktivitasnya dibandingkan penyalahguna lainnya. urusan dengan kepolisian. Biaya ini diukur dari orang lain yang menenami responden karena sakit.203 ribu dan rawat inap Rp. Kerugian kecelakaan jauh lebih besar terjadi di kelompok pecandu dibandingkan teratur pakai. Biaya kerugian akibat waktu produktivitas yang hilang (loss productivity) akibat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak.3. Biaya detoks dan rehab memiliki kisaran sekitar Rp. Akibat pemakaian narkoba. diakui ada aktivitas yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. Kerugian biaya akibat overdosis jauh lebih kecil dibandingkan biaya detoksifikasi. Para pecandu narkoba suntik lebih banyak mengeluarkan biaya overdosis dibandingkan penyalahguna lainnya.2. terutama barang yang diambil/dicuri di keluarganya.8. Biaya satuan kejadian akibat kecelakaan sekitar Rp. Akibatnya.8 juta.3 juta per orang. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan kelompok penyalahguna lainnya. dan penjara.500ribu per orang per tahun.4 juta per orang. kerugian biaya yang ditimbulkan sekitar Rp. Namun. Sedangkan biaya pengobatan sendiri agar terbebas dari narkoba sekitar Rp. Biaya satuan terkait urusan dengan pihak kepolisian akibat tertangkap diperkirakan sebesar Rp. detoks/rehab.10. tahun 2008 . Biaya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. sedangkan teratur pakai hanya Rp.7 juta per orang per tahun.16.514 ribu per orang per tahun. Kerugian biaya produktivitas akibat sakit terdiri atas rawat jalan sebesar Rp.5.2. Kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp. terutama dikalangan penyalahguna suntik. Biaya detoksifikasi & rehabilitasi lebih mahal dibandingkan overdosis.14 juta per orang per tahun.8 juta per tahun per orang. Demikian pula.8 juta sampai Rp.98ribu per orang per tahun.2. Biaya untuk pengobatan sendiri untuk pecandu suntik lebih mahal.362 ribu per orang per tahun. Nilai waktu yang hilang dikonversi menjadi biaya kerugian dengan asumsi upah minimum regional per propinsi.7 juta per orang per tahun terkait dengan urusan penjara ini. terutama dikalangan pecandu suntik mencapai Rp.

000 EKSTASI 1.000 624. pecandu bukan suntik Rp. Pada kelompok teratur pakai biaya terbesar dihabiskan untuk membeli putau bubuk (Rp.440.500 600.800. Semakin berat tingkat kecanduan narkoba. dengan nilai median konsumsi Rp.000 9.800.100. Konsumsi subutek tertinggi ditemukan di Jawa Timur.800.4. dibandingkan kelompok lainnya (teratur Rp. shabu.000.000 400.800.800. dan heroin murni.860.000 3.800 Pada kelompok pecandu bukan suntik biaya konsumsi narkoba kebanyakan dihabiskan untuk membeli subutek. Penyalahguna di Bali paling banyak mengeluarkan biaya pembelian putau bubuk dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan jenis narkoba lain tidak terlalu besar transaksinya.000 KOKAIN 360.5.4 juta per orang per tahun.5.000 5.225.9.000 3.920.000 100.800.000 606.000 PUTAU BUBUK 2. Tabel 4.000 1.000 HEROIN 50.000 3.668.800. tahun 2008 . Biaya konsumsi narkoba per orang per tahun Biaya satuan median konsumsi narkoba diperkirakan sebesar Rp. 5.000 1.750 6.800.500 7. kecuali subutek.000 1.450.2juta).000 1.000 KECUBUNG 100.330. maka biaya satuan konsumsi semakin besar.009 18.000 2.2juta) dan shabu sebesar Rp. Dikalangan teratur pakai.800.400. kecuali papua.Halaman | 21 yang dikeluarkan lebih besar ketika kejadiannya telah sampai di penjara dibandingkan ketika masih ditingkat kepolisian. 2009 (median) Pecandu Pecandu Jenis narkoba Teratur non Suntik Suntik Pecandu GANJA 180.000 1.000. shabu.000 SUBUTEK 9. Shabu hampir ditemukan di lokasi studi yang disurvei. dimana biaya yang harus dikeluarkan hampir 6 kali lipatnya.500. dimana pecandu suntik menghabiskan median biaya Rp.1. putau bubuk hanya di temukan di Yogyakarta.800 28. mencapai Rp.18 juta per orang per tahun.742. dan ekstasi.000.000 1. Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba.000 5.885.000 METHADON 1.000 PUTAU CAIR 1.000 1.2.000 INHALAN 24.000 600.600.800 28.000 1.000 18.100. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.000 1.450.000 BARBITURAT 60.000 1.200.2 juta per tahun per orang.100.000 28.9 juta per orang per tahun.000 LSD 110.004 8. Putau bubuk banyak di beli untuk dikonsumsi oleh para pecandu suntik.000 5.154 SHABU 1.000 HASHIS 37.600.000 9.800.000 1.470.000 1.000 840.000 102.1 juta per orang per tahun.20. Jenis narkoba yang juga banyak dibeli adalah putau bubuk.950ribu.

Total biaya (dalam Trilyun Rp) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 melakukan pengobatan sendiri 0. Biaya individual (private). tahun 2008 . Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death).4 penyalahguna narkoba.32. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004 (gambar 7. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.11.0 2004 karena sakit akibat narkoba. Biaya ekonomi yang dimaksud adalah biaya individual (private) dan biaya sosial. biaya yang dikeluarkan karena dipenjara. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba Dalam konteks penghitungan estimasi kerugian biaya ini. biaya perawatan & pengobatan 20.5 trilyun pada tahun 2008. Kecenderungan total kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2004 dan 2008 Total kerugian biaya individual akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp. 10.0 32. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada penyalahguna narkoba.4 trilyun. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada 35.15. Jawa Barat. biaya untuk 5. biaya produktivitas yang hilang akibat pemakaian narkoba sehingga responden tidak bisa bekerja/sekolah. Jenis narkoba yang banyak diperjualbelikan dikalangan penyalahguna narkoba adalah shabu-shabu (36%).5 trilyun kerugian biaya pribadi (private) dan Rp. Jakarta. dan ekstasi (13%).0 biaya melakukan detoksifikasi & rehabilitasi. Gambar 1.0 termasuk biaya ini adalah 23. 26. Definisi tersebut lebih merujuk pada definisi yang dibuat oleh Markandya dan Pearce (1989).0 konsumsi narkoba. 2008 15. Dari semua komponen biaya prívate. Yang 30.1).0 dalam upaya penghentian 2004 2008 narkoba. biaya yang terjadi Tahun akibat kecelakaan lalu-lintas. Diperkirakan hasil estimasi kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp. 5. termasuk biaya konsumsi narkoba. yang terdiri dari Rp. ganja (15%).3 trilyun).0 biaya bila terjadi overdosis. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2004 (Rp.4 trilyun pada tahun 2008.9 trilyun adalah biaya sosial.Halaman | 22 5. dan Jawa Tengah.5. Pada biaya private. yaitu sekitar Rp. kontribusi terbesar berasal dari biaya konsumsi narkoba.26. sebagian besar (58%) adalah biaya konsumsi narkoba. biaya yang diperlukan terkait urusan ketika tertangkap pihak kepolisian karena narkoba. Potensial peredaran narkoba terbesar berada di Jawa Timur.6 25. istilah yang dipakai adalah biaya ekonomi. putau bubuk (15%).

Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013 6.1.665 323.0 2. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.806 0.813 252.2 2.729. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 Dalam melakukan proyeksi untuk angka prevalensi. Total kerugian biaya sosial diperkirakan sekitar Rp.656. yaitu dengan mengukur tingkat biaya produktivitas yang hilang (loss productivity) dari waktu & biaya dari orang lain tersebut akibat menemani atau menunggu responden.997 8.4 23.2 2.799 722.5.626 26.4 Secara detail komponen biaya sosial terdiri dari biaya produktivitas yang hilang karena menunggu responden sakit.6 81.682.237 5.2 0.477.8 18.060. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.123.071.199 % 47.393. dan biaya kematian karena narkoba. yaitu biaya kriminalitas.985.9 Total kerugian ekonomi 32. Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.714. maka sebagian besar biaya yang dikalkulasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang terkait dengan responden.974 7.688. ketika berurusan dengan pihak penjara.874. 2009 Komponen kerugian Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab pengobatan sendiri Kecelakaan tertangkap polisi Penjara aktivitas terganggu Total biaya private Loss productivity Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab Kecelakaan tertangkap polisi Penjara premature death tindak kriminalitas Total biaya sosial Total (Rp) 15.663.471.1 1.376.005 100 trilyun di tahun 2008. tahun 2008 .704.254 1. maka mempertimbangkan dua asumsi. ketika overdosis.574. biaya hilangnya waktu produktivitas.4 0.7 0. ketika detoksifikasi & rehabilitasi.0 0.423.416 188.6 0. 227.515.127.9 0. ketika terjadi kecelakaan ketika berurusan dengan pihak kepolisian. Dari aspek kerugian hilangnya waktu produktivitas proporsi terbesar akibat kecelakaan lalu lintas.453.450.243. ketika terjadi kematian akibat narkoba (premature death) dan tindakan kriminalitas.813.518.1 0.743.035.953.529. dari 2008 sampai 2013. yaitu perkiraan pertumbuhan penduduk per tahunnya dan perkiraan kenaikan angka prevalensi penyalahguna per tahunnya.266 839.063 882.023 19.068 3.957. Tabel 5.602.912 22.654.229.1 3. 6.464.715.165.Halaman | 23 Biaya sosial.721.734.998 680.714.443.219.620 45.682. Periode proyeksi dilakukan untuk 5 tahun ke depan.798. Untuk menghitung biaya satuannya digunakan pendekatan upah minimum regional (UMR) per propinsi.094.489.7 2.6 Biaya sosial secara garis besar dapat dipilah menjadi 3 bagian. Kontribusi biaya terbesar dari akibat kematian akibat narkoba (premature death) sebesar 48%.532.337.1 12. Dikarenakan studi ini menggunakan pendekatan perspektif klien.275 59.

07 (dipublikasikan 2007) teratur 0.52 1. Detail hasil proyeksi angka penyalahguna narkoba dilihat pada tabel 7.06 0. populasi pelajar/mahasiswa dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan y = -17.02 1.07 pecandu suntik 0.85 0.82 1.33 8. Demikian pula.14 0.27 0.010 2.17 1.70 1.24 1.94 2.9%) dengan angka survei pelajar/mahasiswa tahun 2006 (5.58 1.32 1.15 0.93 7.10 1.09 1. Selanjutnya angka prevalensi tersebut di kalkulasikan terhadap populasi penduduk menurut kelompoknya.80 0.14 0.36 0. adalah tahun). teratur pakai. tahun 2008 .42 0.35 1.012 2.3%).46 1.009 2.15 (dipublikasikan 2008) total 1. angka prevalensi penyalahguna dibagi menurut jenis penyalahguna.011 2.98 pecandu suntik 0. maka diperkirakan tingkat pertumbuhan penyalahguna narkoba ada sebanyak 0.19 2.32 Report (WDR) total 6.07 0.05 1.41 1.04 per tahun. Angka prevalensi penyalahguna narkoba.013 prevalensi per tahun Kelompok pelajar/mahasiswa coba pakai 3. Data populasi yang dianalisis adalah populasi berisiko penyalahguna narkoba diasumsikan mereka berada pada kelompok umur 10-59 tahun. 2008-2013 angka kenaikan 2. Angka yang dibandingkan adalah angka penyalahguna setahun terakhir (current users).13 0.93 0.46 6. dan akan meningkat menjadi 4.31 membandingkan pecandu 1.97 1.39 0. Data populasi pelajar/mahsiswa diperoleh dari Depdiknas (2006).94 0.91 0.3 juta orang di tahun 2008.13 Report 2006/2007 pecandu bukan suntik 0. Asumsi proyeksi angka prevalensi untuk tahun-tahun berikutnya mempertimbangkan tingkat kenaikan angka penyalahguna per tahun menurut tiap kelompok dikurangi angka kematian. Hasil perhitungan ditingkat populasi penyalahguna narkoba.06 0. Di setiap kelompok populasi.28 4.55 4.90 0.25 0.96 1.com.44 dengan World Drugs pecandu 0. Di kelompok bukan Tabel 6. Untuk proyeksi.23 0. data populasi tersebut dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa. Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba pada tabel 6.01 4. angka kenaikan diperoleh dengan melihat selisih kenaikan persentase angka hasil survei pelajar/mahasiswa tahun 2003 (3. dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba di tingkat populasi akan terjadi kenaikan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.008 2.07 0. Diperkirakan jumlah current users diseluruh dunia tahun 2005/2006 ada sebanyak 200 juta orang. yaitu coba pakai.datastatistik-indonesia.84 0.79 2005/2006 Kelompok Bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 0.82 5.06 2. dan pecandu (bukan suntik dan suntik).39 laporan World Drugs pecandu bukan suntik 0. sedangkan di tahun 2006/2007 meningkat menjadi sekitar 208 juta orang.86 8.5 juta orang di tahun 2013.09 dengan teratur 1.79 0. Dengan demikian.30 0.28 0.41 0.65 yang dibuat oleh UNODC.46x (dimana x.47 per tahun.13 0.Halaman | 24 Perkiraan jumlah populasi penyalahguna narkoba.87 0.02 1. Di kelompok pelajar/mahasiswa.06 0. diperkirakan angka kenaikan narkoba dikalangan pelajar/mahasiswa per tahun sebesar 0.39 7. Selanjutnya. Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna pelajar/mahasiswa narkoba di Indonesia. Dengan fakta ini.47 + 0. Perkiraan jumlah populasi penduduk per tahun diperoleh dari pihak BPS & ANU yang dipublikasikan dalam www.38 0.01 1. Dari hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan nilai tengah maka jumlah penyalahguna narkoba ditaksir sekitar 3.74 4.

0 0.189.868.590.450 4.480 pecandu 1.943 1.222.071.298 1.Halaman | 25 sekitar 28% dalam 5 tahun ke depan.107.696 1. Propinsi Jawa Timur diperkirakan memiliki potensial kerugian terbesar dibandingkan propinsi lainnya di Indonesia.750 596.959 388.355.082.218.527 total % terhadap total populasi 1.89 6.512 228.154 1.704 296.309 teratur 538.0 20.090. tahun 2008 .004. Tabel 7 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.0 40.120 1.327 107.274.012 1.644 253.009 855.583.261 92.681 pecandu bukan suntik 1.805 274.008 Perkiraan jumlah pelajar/mahasiswa coba pakai 784.32.300 244.100 1.843 1.426 250.483 1.686.011 1.923 total 1.268 2.773.0 43.469 Total seluruh penyalahguna narkoba coba pakai 872.016 1.161.782.478.166 113.0 6.636 1.436 1. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba Perkiraan biaya satuan per setiap konsekuensi.013 1.532.455 1.559 455.149.81 2.395 2.272 421.380 233.922 180.0 8.248 total 2.881. Berdasarkan hasil kalkulasi diperkirakan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.777.045 265.48 2.5 30.396 1.0 Biaya individual 6.710 280.812 317.974 1.620 teratur 356.388.0 2008 2009 2010 Tahun 2011 2012 2013 Hasil proyeksi kerugian biaya ekonomi untuk 2008-2013.600.503 948.211 3.362. 2008-2013 2. dari hasil perhitungan tersebut lalu dikalikan dengan jumlah populasi per provinsi per tahun (tabel 7).578.6 10.015 57.112.8 8.192 67.828 312.323.604.532 211.358.081.72 2.417 3. Grafik 2 Proyeksi Biaya Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sampai tahun 2013 60.826.503 pecandu suntik 48.737 1.2 48.896 102.814 217.929 teratur 894.3 26.429 691.514 2.433 pecandu suntik 187.107 pecandu bukan suntik 1.936 pecandu suntik 236.436.687.441 1.336.690 1.535 1.045 2.455.2.541 4.490 pecandu 1.718 1.054 526.765 1. Proyeksi biaya satuan untuk lima tahun ke depan mempertimbangkan tingkat inflasi.647 228.658 1.452.005. Selanjutnya.766 626. Sedangkan Irian Jawa Barat merupakan propinsi yang paling rendah tingkat potensial kerugian biaya ekonominya.929 566.595.688.524 1.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.861 295.6 34.606.817 1.905 72.010 929.372 1.64 2.380.528.321.507 1.172 3.895 62.193.0 Biaya sosial K eru g ian Eko n o m i (T rilyu n R p ) 50. Detail hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 7. Angka inflasi ini diaplikasikan terhadap seluruh biaya satuan setiap konsekuensi narkoba menurut provinsi.039 1.5 7.996 2.921 1.903 2.4 30. sebesar 6% per tahun.923 240.255 1.56 2.958 196.426 pecandu bukan suntik 165.255.027.1 7.459.017.366 1.022 1.250 1.034 1.909 4.997 658.734.874 97.470 2.888 955.030 207.052 1.011 pecandu 214.0 trilyun di tahun 2013 (harga berlaku). Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.875 197.517.637 1.57.984.819 490.551 53.654 1.325 1.3 38.057 Perkiraan jumlah bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 88.007.

Ini dapat disinyalir dari begitu maraknya ditemukan berbagai pabrik racikan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba yang didapat melalui berbagai survei kemungkinan lebih kecil dari angka yang sesunggguhnya. Perlu dicatat bahwa perhitungan angka prevalensi yang digunakan untuk estimasi jumlah penyalahguna berasal dari survei pelajar/mahasiswa di 33 provinsi dan survei rumah tangga di 16 provinsi.1.5% jumlah populasi penduduk Indonesia tahun 2008. Bila pemerintah tidak serius dalam upaya penangangan dan penanggulangan narkoba ini maka potensial kerugian ekonomi yang terjadi akan jauh lebih besar lagi. tetapi juga mereka berani membuat pabrik narkoba di kompleks perumahan. seperti sebagian besar propinsi di Jawa. dan kabupaten/kota. 2007). 2 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta. Di beberapa propinsi terlihat juga potensial kerugian ekonomi yang relatif besar. Dengan nilai omzet harga sitaan narkoba mencapai milyaran rupiah. Tentunya. yaitu adanya kenaikan angka prevalensi penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa dari 3.9% tahun 2003 (BNN & Pranata UI. karena angka kejadian (termasuk pengakuan menggunakan narkoba) yang dilaporkan melalui survei umumnya cenderung lebih rendah. tahun 2008 . sebesar 3. dan Sulawesi Selatan. Dengan demikian.3% tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna Ada kenaikan angka prevalensi tahun 2004 ke 2008.2 juta orang. 7. Pada tahun 2008. Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004. Hal ini tidak saja karena faktor kelemahan mengingat kejadian dalam setahun terakhir. Besaran angka ini setara dengan 1. tetapi juga kecenderungan responden yang menutup diri terhadap perilaku yang dilarang atau memalukan. Kiranya perlu ada upaya intervensi program yang lebih serius pada propinsi-propinsi tersebut. UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia sekitar 4% dari tahun 2006 ke 2007. tidak hanya berskala besar2. Salah satu pabrik narkoba yang berhasil dibongkar diperkirakan nomor 3 terbesar di dunia untuk shabu dan ekstasi. baik dari tingkat pusat.6 juta orang di Indonesia. Mengingat survei rumah tangga tidak diseluruh provinsi maka basis data untuk memproporsikan ke seluruh provinsi di kelompok bukan pelajar/mahasiswa menggunakan dasar angka prevalensi pelajar/mahasiswa. 2004) menjadi 5. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba 7. besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3.1 juta sampai 3.Halaman | 26 Proyeksi ini menggunakan asumsi data normal. Kalimanta Timur. Sumatera Selatan. propinsi. perkiraan jumlah penyalah-guna narkoba dengan mendasarkan pada sampel di kota di satu pihak dan survei di pihak yang lain akan saling menetralkan.

000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32.3. serta ke-ego-an yang mendorong untuk pakai narkoba. Kalau mau angkanya turun ya nggak usah aktif. Pihak kepolisian telah membuktikan adanya peningkatan peredaran narkoba.3.10.241.6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa.000 tersangka pada tahun 2006.200 gram (2006). Bahkan kampus sebagai tempat subur peredaran gelap narkoba. dan otoritas kampus membuat pihak kepolisian Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2. Jadi sangat tergantung kepada tingkat aktivitas petugas. misalkan ekstasi dari 90. Jadi lalu lintas itu kalau tidak melihat orang melanggar. Sama dengan pelanggaran lalu lintas. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia. meningkat tajam menjadi 16. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa sekitar 4. Jumlah pelajar/mahasiswa diperkirakan sebanyak 16. Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia. pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3. Desember 2006). “Kalau dilihat dari data selalu meningkat. Peredaran gelap narkoba Sasaran peredaran adalah pelajar/mahasiswa.” (Pol-1. Ada beberapa fakta tentang ini. Ini karena kampus sebagai tempat bertemu mahasiswa.901 gram (2006). Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan.642 gram (2001) menjadi 21.5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing. Hasil survei memperlihatkan bahwa usia pertama kali pakai narkoba pada usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289. besaran barang bukti tangkapan narkotika.P3). dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba. Berdasarkan hasil estimasi.Halaman | 27 Fakta pengungkapan kasus dan tangkapan. Ketiga. dari sekitar 5. atau shabu dari 48. Jadi begini. Hanya 0. rasa keinginantahuan atau coba-coba.872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11. jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. Dalam 6 tahun terakhir tersebut. dan bahan adiktif 13%.252 orang tahun 2006. Kalau Reskrim itu tidur pun ada orang lapor.523 tablet (2001) menjadi 466. diperkirakan jumlah penyalahguna coba pakai sekitar 807 ribu sampai 938 ribu orang. Kalau narkoba itu tidak ada yang melapor.907 tablet (2006). psikotripika 33%. Mereka ini pasar potensial dalam peredaran gelap narkoba. ada peristiwa pidana.000 orang. dimana sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa. Jadi angka yang ada itu karena aktifitas petugas. Dilihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai 2006 menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. ada peristiwa kalau dicari.478 orang. 7. Heroin dari 16. tahun 2008 .6 hektar (2006). Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine. ya nggak usah nilang. Jadi seperti itu narkoba. Kedua.9 juta orang di tahun 2008. Jadi kalau angkanya naik karena aktifitasnya seperti itu. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85.. Pada masa ini tekanan begitu besar baik dari kelompok pergaulannya (peer group). Tapi kalau semakin aktif petugas menilang ya semakin tinggi. kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%. Narkoba itu tidak sama dengan bagian Reskrim.848 gram (2001) melonjak menjadi 1.

Kondisi ini terjadi karena pengangguran dan kemudahan mendapatkan uang merupakan salah satu faktor yang mendorong peredaran narkoba. Konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba sangat komplek. Trus tinggal saya kode barangnya disimpan dimana. karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain.10.Tapi kalau orang lain. bar. Di sms BR ada dimana. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. Hanya tinggal saya beli kartu perdana baru. Modelnya seperti itu” (BD-2. Mereka membawa masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia. Dia akan saya sms. 2007). mereka yang miskin lebih mudah menjadi pengedar. Penyalahguna putaw lebih memilih tempat yang tenang dan sepi untuk pakai narkoba karena efek yang ditimbulkannya membuat orang menjadi gitting (ingin tenang dan berhalusinasi). Sehingga dalam pengungkapan kasus seringkali hanya kurir-kurir yang tertangkap sedangkan para bandar narkoba tidak pernah diketahui keberadaannya. Modus operasi peredaran narkoba. tahun 2008 . Dahulu transaksi narkoba dengan cara bertemu langsung antara penjual dan pembeli dengan konsep ada uang ada barang. Dari hasil wawancara dengan beberapa orang asing (sebagian besar orang Nigeria) yang menjadi bandar di dalam LP narkoba diketahui bahwa orientasi mereka mengedarkan narkoba di Indonesia karena bisnis semata yaitu keuntungan yang besar. Hal ini ditunjukan dari total responden ada sebanyak 52% mengaku pernah menawarkan narkoba kepada orang lain. sebaliknya penyalah-guna cenderung mereka yang memiliki uang dan tidak miskin (BNN & Puslitkes UI. kampus sering menjadi tempat transaksi ‘putaw’. Sedangkan jenis shabu biasanya disalahgunakan di hotel-hotel atau tempat kos. bahkan disinyalir banyak bandar berwarganegara asing. Hampir semua bandar narkoba (khususnya orang asing). sehingga berapapun uang yang mereka miliki sudah pasti akan habis untuk membeli Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Upaya memperluas jaringan penyalahguna seakan tiada henti. dan karaoke karena efek yang ditimbulkan membuat penyalahguna selalu ingin bergerak energik. dan hotel tempat transaksi shabu.2. demikian halnya dengan peredarannya.Halaman | 28 tidak bisa bebas melakukan razia ataupun penggeledahan. Para bandar kelas kakap/besar adalah orang yang mempunyai modal besar. “Kalau selama itu teman. bahkan 31% pernah menjual narkoba. sms untuk ambil barangnya. sedangkan diskotik tempat transaksi piskotropika. jarang ada yang pakai narkoba. Saya tidak kenal orang itu.P3). Ekstasi banyak dikonsumsi di tempat hiburan seperti diskotik. Mereka yang menganggur. Sekarang peredaran narkoba melalui telepon dan menggunakan kurir. Peredaran narkoba tidak pernah berhenti. paling dengan memberikan alamat. Menurut mereka efek dari pemakaian narkoba sangat berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang menjadi pecandu. Modelnya nanti saya nongkrong di alamat tersebut. Orang itu tidak kenal saya. setelah saya terima uangnya. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba. Dari jenis narkoba. Jenis-jenis narkoba yang beredar di tempat hiburan disesuaikan dengan efek dari narkoba. Modus operandi kasus peredaran cenderung semakin canggih yang didukung peralatan teknologi modern. SMS dengan no HP baru.3.

sedangkan bandar/pengedar memberikan bantuan uang kepada masyarakat setempat. tahun 2008 .P5). Besarnya permintaan (demand) dari penyalahguna narkoba di Indonesia menjadi lahan empuk bagi sindikat-sindikat narkoba internasional.waktu pulang pun pemakai juga dijaga. Pendapat senada disampaikan informan dari kepolisian. di daerah-daerah semacam itu sangat sulit dilakukan razia narkoba. Ada beberapa yg memilih untuk membawa pulang. kampung “F” di Bali. Narkoba di Penjara. Dibeberapa lokasi studi ada wilayah yang menjadi kantong-kantong peredaran narkoba. Ditambahkan. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Masyarakat membela dan melindungi para bandar/pengedar dari petugas. daerah “B” di Pontianak. tapi hanya sedikit saja” (BD-3. “Pemakai tinggal datang ke “B”. keterlibatan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam penjara masih sangat mungkin.6. “Kampung “B” dikenal sebagai kampung narkoba karena banyak transaksi yang dilakukan secara rapi. Di wilayah semacam itu sudah terbentuk jaringan peredaran narkoba yang kuat. sehingga jika polisi melakukan razia mereka akan menceburkan diri ke sungai sebagai usaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi. misalnya kampung “B” di Jakarta. di lapas narkoba seringkali napi mengalami sakaw. Biasanya lapas yang sering terjadi kasus peredaran narkoba bila jumlah napinya sudah melebihi kapasitas yang ada.3.01. Adanya kantong peredaran narkoba.P12). sehingga lapas menjadi tempat potensial mengedarkan narkoba. Terlebih sebagian besar napi di lapas diperbolehkan memegang uang.3. Daerah ini mempunyai banyak sungai dan rumah2 yang dibangun diatas sungai. Dari tempat tersebut tidak jarang para bandar dari luar daerah mengambil narkoba untuk diedarkan di daerah lainnya. Keberadaan lokasi tersebut dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. penyalahguna lebih nyaman dan aman untuk membeli dan memakai langsung narkobanya. Kondisi itu menimbulkan permintaan (demand) terhadap narkoba menjadi tinggi di lapas. Penjara tidak lepas dari peredaran narkoba. Akses narkoba di dalam penjara sangat mungkin. Lokasi wilayah tersebut berada dipemukiman padat penduduk dan pusat keramaian. karena letak lapas rata-rata di dalam kota dan tidak terpapar langsung dengan petugas kepolisian. Sering terjadi perlawanan dari masyarakat setempat terhadap beberapa aparat yang ingin melakukan razia.Halaman | 29 narkoba.01. Tidak menutup kemungkinan ada oknum aparat yang menjadi backing. Berbagai tanda atau kode akan mereka bunyikan sehingga semua bandar/pengedar dan penyalahguna sudah bisa mengantisipasi kedatangan petugas. Dengan kondisi demikian seringkali petugas mengalami kesulitan untuk menangkap bandar/pengedar. Mereka juga menggunakan kentongan yang terletak disetiap sudut tiang listrik sebagai penanda datangnya polisi. seolah telah terbentuk kerjasama saling menguntungkan. Alasan lain. dsb. Di tempat itu. Bahkan para bandar/pengedar sudah bisa diterima keberadaannya oleh masyarakat setempat. Kadang-kadang mereka cukup berkumpul dan berteriak ” maling” untuk mengusir polisi secara beramai-ramai” (Pol-2.3. Juga disediakan tempat untuk mengkonsumsinya agar pembeli tidak perlu pulang dengan membawa barang bukti.

“Saya pengalaman beberapa kali nangkap kadang-kadang diterusin mungkin tiga atau satu segala macam diterusin sampai ditindaklanjutin. Pada waktu melakukan pengambilan data di lapangan terlihat jelas bahwa beberapa orang napi bebas memakai handphone di dalam lapas.4. Menurut informan. paling sedikit tuh 11 gram. Ada juga melalui keluarga atau teman yang mengunjungi napi ataupun diselundupkan melalui petugas lapas sendiri.P8). karena alasan situasi dan kondisi tertentu kasus yang sempat diungkap sepertinya dilupakan dan barang bukti yang ditemukan juga hilang begitu saja. Pola pendistribusian barang kemungkinan bisa antar blok. Harga ¼ gram tahun sekarang 300. modus penyelundupan narkoba ke dalam lapas dengan cara di lempar ke dalam lapas melalui media bola tenis atau dibungkus dengan kantong plastik..08. Banyak cara menyelundupkan narkoba ke dalam lapas. “Tapi bukti yang kemarin itu masuk lewat lempar.10. Pernah diketemukan usaha penyelundupan narkoba melalui bantal dan kue.P10). ditemukan 19 paket shabu” (LP3. Modus baru sekarang melalui beberapa cara seperti dimasukkan ke dalam bra. bahkan ada juga yang dimasukkan ke dalam vagina.3.P11). terkadang sudah dilakukan razia di dalam lapas dan terbukti ditemukan beberapa barang bukti tetapi tidak ada proses lebih lanjut. Itu dari anak dalem juga.06.. Satu hal yang sangat mengecawakan.4. saya baru pertama kali datang kesini tanggal 17 maret saya razia dapat barang bukti macam-macam sudah dapat eh sampai sekarang tidak ada beritanya.P10). Berarti ini suatu model cara lain untuk mereka masukan narkoba itu lewat pegawai tidak ada lagi.01.4.000. di sel. Tidak jarang seorang bandar narkoba di dalam lapas masih bisa mengendalikan peredaran narkoba baik di dalam atau di luar lapas secara langsung melalui handphone. sandal atau sepatu yang sudah dimodifikasi.3. Dan pegawai saya menangkap dia.Halaman | 30 Sistem pengamanan dan upaya preventif yang dilakukan di dalam lapas seringkali terkendala tindak lanjutnya.3. Bahkan sempat diperoleh informasi ada sebagian petugas lapas yang menyewakan pemakaian handphone kepada napi di dalam lapas. softex. Beberapa tahun lalu. tetapi yang paling mudah adalah antar kamar melalui petugas kebersihan lapas yang bisa dijadikan perantara/kurir. kalau paketan kecil jadi 7 paket masing-masing dijual Rp 100. Beberapa cara tersebut bisa lolos dari pemeriksaan petugas lapas karena sampai saat ini sistem pemeriksaan masih manual. belum semua lapas punya alat detektor sehingga banyak narkoba yang tidak bisa teridentifikasi oleh petugas. Dari dulu sampe sekarang masih seperti itu dapat putaw. tidak mungkin lagi” (LP-2.2. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. “Tahun 2006 pernah dilakukan razia oleh Sat Brimob dan Kepolisian.” (LP-4.000” (BD1. tahun 2008 . “Kalau putaw gua dikirim sih.1.

ini merupakan kasus heroin terbesar sepanjang 2008.3. 13/12/2008). Total nilai perdagangan narkoba diperkirakan sebesar Rp. 28/10/2008). Tidak menutup kemungkinan yang mengendalikan perputaran bisnis narkoba tersebut dari balik jeruji besi. Pabrikan narkoba telah berada dilingkungan perumahan.18.119 kilogram heroin.868 yang tersebar di 194 kabupaten/kota di 32 propinsi. Sebuah omzet perdagangan yang luar biasa besar bagi sebuah produk. Ini mengindikasikan sudah begitu maraknya perdagangan narkoba di Indonesia. dan Serang). tahun 2008 .4 trilyun. Tidak sedikit yang melibatkan warganegara lain. Berbagai pabrik shabu dan ekstasi juga berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian. 22/11/2008). 12/01/2009).Halaman | 31 7. seperti Nigeria atau Malasyia (Kompas Online. dan di daerah Pasar Baru. 25/02/2008) atau menyuruh kurir narkoba dari balik penjara (Kompas online. 13/12/2008). dengan cara menggunakan rekening pacarnya untuk menampung uang-uang haram hasil penjualan narkoba (Kompas online. 22/11/2008). banyak pihak yang tergiur untuk bisa masuk ke bisnis ini. Bahkan kelompok jaringan ini telah mendistribusikan sebanyak 30 kilogram heroin dalam 5 bulan terakhir dengan nilai sekitar Rp.15. jumlah kumulatif kasus AIDS ada sebanyak 11. Jakarta Barat (Kompas. Jenis narkoba yang memberikan nilai peredaran rupiah terbesar adalah shabu (36%). Bahkan salah satu pabrik shabu dapat memproduksi 100 kilogram shabu-shabu dengan teknik produksi terbaru yang meenggunakan bahan-bahan yang lebih membahayakan bagi manusia (Kompas Online. Dengan fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia sangat marak. Ini mengindikasikan bahwa para bandar berupaya mendekatkan akses dan mencoba menyingkirkan pola yang ada. putau (15%). yaitu di apartemen Mediterania. Ini terbukti dari terungkapnya jaringan heroin asal Afganistan di Indonesia.4. Perdagangan narkoba Nilai omzet perdagangan narkoba di Indonesia. 7. Perumahan Taman Ratu. Demikian juga pabrik ekstasi yang berhasil digerebek di salah satu apartemen dengan nilai sekitar Rp. 28/11/2008). termasuk dari jaringan internasional. sehingga pihak kepolisian atau masyarakat sekitar tidak menyadari keberadaan pabrik shabu/ekstasi tersebut. ganja (15%) dan ekstasi (13%) di tahun 2008. pabrik ekstasi/shabu yang diungkap kasusnya dibangun di daerah pinggir kota (Bogor. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi Risiko penularan berbagai penyakit. Dengan total barang bukti sebanyak 6. Jakarta Pusat (Kompas Online. Dengan cara penularan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Padahal sebelumnya. 30/6/2008). Tangerang. Menarik jika mengkaji pengungkapan kasus narkoba akhir-akhir ini oleh pihak kepolisian. Menurut laporan triwulan kasus HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan (per April 2008).42 milyar (Kompas Online.3 miliar (Kompas Online. Jakarta Barat (Kompas. Pabrik shabu dan ekstasi ternyata sudah berada di lingkungan perumahan. Tidak heran.

Hasil survei menunjukkan 72% pecandu suntik pernah bertukar jarum suntik atau pakai jarum bekas orang lain.4. penggunaan jarum suntik & semprit bekas dan perilaku hubungan seks berisiko. Pecandu suntik yang masih aktif hubungan seks setahun terakhir ada 76%. Kedua.3. Bahkan sekitar 3 dari 4 responden mengaku punya keluhan masalah kesehatan. mereka ini sebagai agen percepatan penularan berbagai penyakit ke orang lain bila tidak dilakukan penanganan secara tepat.teman-teman gua speak-speakin.1. Jadi daripada gua beli baju. masih harus membeli konsumsi narkoba.08. 37% Hepatitis-C.itu gaji kaya orang kerjaan.P4). dan HIV/AIDS melalui dua jalur yaitu. gua pakau itu sehari 7-8x. terutama laki-laki. yang bertujuan menemui pengguna ’dimana mereka berada’. Karena gua udah gak pernah beli baju. dan homoseksual (4%). “Semua penghasilan untuk beli barang (istilah untuk putaw). Kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit.dari cewe gua kibulin. diare kronis (3834). Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex Pengurangan bahaya (harm reduction) adalah sekumpulan rencana praktis.jadi dapat uangnya entah dari mana aja. dan dermatitis generalisata (1008). Jadi satu hari itu hampir 150rb kali satu bulan (30 hari) jadi sekitar satu koma limaan. dan 34% TB.Halaman | 32 terbanyak melalui penyalahguna narkoba suntik atau injecting drug users/IDU (49%). TB. sekitar 1 dari 4 pecandu suntik telah berkeluarga. Untuk pemakaian putau gua sehari itu gua beli masih ada paketannya 20(rb). Beban biaya ekonomi pecandu suntik lebih berat. Kecuali beban biaya sakit. Dengan infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (6367). untuk menutup biaya-biaya tersebut kemungkinan besar melakukan tindak kriminalitas. termasuk HIV&AIDS di kalangan pecandu suntik lebih besar dibanding kelompok penyalahguna narkoba lainnya. ada sekitar 76% yang mengaku mengalami keluhan kesehatannya. Pecandu suntik berisiko tertular berbagai pernyakit. Heteroseksual (43%). akan menanggung beban biaya akibat sakit. Ironisnya. Beban ekonomi pecandu suntik jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. beli pelembab apa hand body gua gak mau! Mending nyimpen bahan (putaw)” (PN-1.02. kecuali bila bersedia berhenti. sehingga tambahan harus menanggung beban keluarga menjadi semakin berat.P9). diperkirakan sekitar 33% HIV/AIDS. Pertama. seperti hepatitis. beli bedak.1. dimana hanya 9% yang selalu pakai kondom. jadi gua mikir mending ada bahan gitu. Ada sebanyak 14% yang melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. tahun 2008 . membantu berbagai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ketiga. kandidiasis orofaringeal (3769).5.kalau tidak barang gua ambilin uang sekolah gua pake juga” (PN-5. Dengan demikian. itupun bila pasien tersebut memiliki kartu jamkesmas atau kartu miskin.Itu sehari pemakaian putau gua aja belum cimengnya. Dari diagnosis keluhan. “kelas tiga SMIP gua udah selesai karena barang-barang rumah udah habis gua jualin semua dikamar gua tinggal kasur aja. 7.

Siagian F. 2001)3 . tahun 2008 . Ada kesalahan prosedur implementasi program. Sayangnya untuk dua program terakhir. April 2001 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ada uang maka ada barang. selanjutnya disuntikkan. terutama untuk layanan subutex. Meskipun bagi sebagian penyalahguna putaw mengaku bahwa reaksi metadon dan subutex tidak senikmat putaw. bukan upaya pengurangan risiko. selanjutnya membeli langsung ke perawatnya. dan program pemutih. subutex diberikan oleh dokter yang telah memiliki lisensi untuk beberapa dokter saja di satu kota. paling tidak masih bisa mengurangi rasa sakaw 3 Sucahya P. Yogyakarta: PSKK UGM & Ford Foundation.. Sistem ini yang membuat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) marah. disetiap kota berbeda-beda. karena tidak ada yang bertanggungjawab siapa sebenarnya yang seharusnya melakukan pengawasan melekat tersebut terutama program subutex. Cara pakai metadon seharusnya diminum dihadapan petugas. dkk. jadi konsultasi hanya 1 kali. Memahami Kebutuhan Aktor dan Pengguna Narkotika Suntik. Ada dokter yang hanya memberikan resep untuk beberapa hari. Program lainnya. Tidak ada batasan berapa banyak jumlah yang dibeli. Bagi para pecandu putaw di beberapa kota sudah banyak yang mengakses metadon dan subutex sebagai substitusi dari ketergantungan terhadap putaw. yaitu methadon dan subutex. Trik yang dilakukan pengguna untuk mengelabui petugas untuk layanan methadon adalah tidak langsung meminumnya. Sari K. baik dari sisi jumlah maupun dosisnya.. P. Bahkan subutex adalah jenis zat ke-2 setelah putau yang disuntikkan ke dalam tubuh. segera keluar ruangan untuk menampung methadon tersebut di wadah. Prosedur mendapatkan kedua zat tersebut sebenarnya telah ada protokolnya tetapi seringkali para pecandu suntik jauh lebih cerdik daripada petugas. Dilapangan program ini lebih mengedepankan aspek bisnisnya. pengobatan kecanduan. penjangkauan masyarakat. serta pelaksana program yang menutup mata dan tidak peduli dalam implementasinya. Faktanya. Disinilah para penyalahguna memanfaatkan celah tersebut. program pertukaran jarum suntik. Jenis zat yang disuntikan subutek nomor 2 terbesar. banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program di lapangan. Program pengurangan bahaya yang efektif bagi pecandu suntik agar berhasil harus mencakup kegiatan berikut: program pendidikan. ternyata kedua zat tersebut disuntikkan.Halaman | 33 bahaya/kerugian terkait dengan penggunaan narkoba (Sucahya. tetapi tidak bisa berbuat banyak. Kondisi semakin runyam karena tidak ada pengawasan dari instansi terkait. Hasil survey menunjukkan sebanyak 42% pecandu suntik memakai subutex dengan cara disuntikkan setahun terakhir. Penyimpangannya yang terlihat adalah cara pakai dan prosedur mendapatkan kedua zat tersebut. sedangkan subutex seharusnya di taruh dibawah lidah. Pertama. Ada yang hanya pakai kartu pendaftaran. penjualan alat suntik di toko-toko. lalu resep tersebut ditebus di kliniknya. Prosedurnya subutex harus diberikan oleh dokter dengan dipantaui secara ketat untuk pemberian dosisnya. Kartu pendaftaran tersebut disewakan kepada penyalahguna lain atau mereka patungan membelinya atas nama pemilik kartu. Lalu. methadone dan subutex. Pembenahan prosedur perlu dilakukan khususnya layanan subutex. tetapi di tahan dulu di mulut/kerongkongan.K.

7. mengolah atau menyediakan narkotika golongan satu bisa dihukum mati atau dengan pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam UU No. Pembenahan aparat penegak hukum Ditengah upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulan narkoba. subutex ini dibeli dari seorang dokter di Jakarta” (PN-1. Demikian halnya dengan penyalahguna yang pernah dipenjara dalam setahun terakhir (3%). Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. yaitu bagi seseorang yang memproduksi. Aparat penegak hukum mem-backing para bandar.08. Keadaan ini membuka peluang bagi oknum aparat penegak hukum untuk menyelewengkan tugas dan jabatan dengan melakukan kolusi dengan tersangka kasus narkoba. Sangsi hukum tentang penyalahgunaan narkoba dan psikotropika di Indonesia cukup berat. Selain terlibat dalam penyelewengan wewenang dalam penanganan kasus narkoba. Penyalahguna narkoba yang membayar para aparat penegak hukum. biasanya pengelola tempat hiburan ataupun bandar yang ada sudah diberi informasi terlebih dahulu sehingga pada waktu razia cenderung tidak diketemukan peredaran narkoba di tempat tersebut.2. Alasan lain adalah pemakaian metadon dan subutex lebih aman karena legal dan harganya juga jauh lebih murah. Posisi tawar (bergaining position) seorang aparat penegak hukum sangat kuat untuk menentukan berapa besar uang yang harus dibayar oleh seorang tersangka agar terbebas dari jeratan hukum. “Putaw dulu masih ada yang harga 25 ribuan sekarang cari yang 50 aja uda susah. Sebagian besar keterlibatan mereka adalah sebagai backing di beberapa tempat hiburan seperti di diskotik. Kondisi peredaran putaw sekarang sama dulu sudah beda. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Dengan kenyataan hukum yang sedemikian berat. Fakta ini suatu hal yang memprihatinkan bagi aparat penegak hukum. tidak jarang seorang tersangka lebih memilih melakukan kolusi dengan penegak hukum untuk bisa terlepas dari jeratan hukum. tapi inilah realita yang sering diketemukan di lapangan. Satu hal yang mudah dilihat adalah setiap akan ada razia di beberapa diskotik.2. tidak jarang terjadi kasus kolusi dan nepotisme dalam penanganan kasus oleh oknum penegak hukum.Halaman | 34 terhadap putaw. Sekarang kalau mau dapat cukup banyak beli putaw yang 75 ribuan. harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan urusan di penjara. Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit aparat kepolisian/TNI yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Hasil survei menunjukkan sebanyak 6% penyalahguna pernah tertangkap polisi dan lebih dari separuhnya (67%) mengaku mengeluarkan sejumlah uang kepada polisi supaya terbebas dari kasus yang menjeratnya. Saat ini banyak beredar subutex yang dijual ilegal. 22 tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. putaw sekarang gak terlalu rame. tidak sedikit oknum penegak hukum khususnya anggota polisi/TNI terlibat sebagai backing dan penyalahguna. tahun 2008 .P1).6.

11. Bila akan ada operasi penangkapan terhadap bandar...target tembak mati. padahal modal juga mungkin bisa fifty-ffty karena sekarang sistimnya kalau tidak di backing enggak akan jalan bandar itu karena bisa ditangkap. Menurut informan kepolisian sebagian besar oknum yang terlibat adalah sebagai pemakai. mereka masih ngancam aku. maka oknum polisi tersebut akan memberikan informasi dan menyarankan kepada bandar mencari kambing hitam sebagai ganti obyek penangkapan...2. Menurut Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Peran oknum tersebut hanya di belakang layar. diakui oleh informasi dari pihak kepolisian bahwa ada oknum penegak hukum yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Menurut informan. tahun 2008 . tanpa ada barang bukti yang ditemukan.05. Oknum polisi yang ditangkap kasus narkoba berdasarkan hasil tes urinenya positif.jadi kadang-kadang. saat ini informan telah menjadi target tembak mati.3. . kalau saya kira. sebentar lagi ada yang mau grebek. tapi untuk backing itu ada... ada sih.jujur aja. Meskipun demikian oknum polisi tersebut selalu memantu situasi dan kondisi. Para bandar cenderung lebih aman karena mereka memberikan uang setoran secara rutin dalam jumlah cukup besar kepada beberapa oknum polisi. ternyata separuh dari modalnya berasal dari oknum tersebut. Pernyataan bandar tersebut. Selain mengedarkan di sekitar terminal. Jenis narkoba yang diedarkan shabu dan ekstasi. tetapi tetap saja masih menjadi target operasi.P7). Salah seorang bandar menyatakan meskipun selama ini sudah membayar/memberikan setoran pada polisi.. misal ada pengrebekan.3. oknum polisi tersebut juga menjadi pensuplai narkoba ke dalam lapas yang bekerja sama dengan seorang petugas lapas..” (BD-8.aku itu mbak sudah target tembak dada..P7). “. yang ngebeking dia bisa kuat. Menurut beberapa bandar yang banyak ditangkap oleh polisi adalah para pembeli/ penyalahguna.. (BD-6.Halaman | 35 “kalau diskotik itu pasti ada backing-nya.. semua strategi peredaran narkoba dikendalikan oleh bandar. bukan sebagai bandar..bakal terjadi ni. tidak ada polisi yang menjadi bandar..P7). ditemukan ada oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan informan (bandar). tidak semua bandar merasa nyaman mempunyai backing oknum polisi.2.. Untuk membuktikan seorang oknum sebagai backing atau bandar sangat sulit.. terjadi pemutaran disitu yang dinamakan pemutaran Bandar.dia tak semata-mata hanya backing. setengah jam dari itu sudah kosong” (BD-4.. Bandarnya tetap jalan. Namun. kadang aku kesal karena banyak polisi yang udah aku bayar.15. Dengan adanya kerjasama dengan oknum polisi sebenarnya posisi bandar lebih aman dibandingkan tidak ada backing. yang mempunyai pengalaman bisnis narkoba dengan oknum polisi. mereka kasih informasi ke aku kalau aku harus hati-hati karena sudah di incar polisi.3.cuma karena waktu itu mungkin mukzizat Tuhan ya. sudah dicalling duluan.. dengan wilayah peredaran di salah satu terminal induk di kota tersebut. Biasanya kalau mau ditangkap. alasan oknum tersebut terlibat bisnis narkoba karena gaji bulanan yang diterimanya masih belum mencukupi. Menurut informan. pada waktu tertentu saja akan meminta setoran..3. Bahkan menurut informasi dari seorang polisi. Dilapangan.. polisinya yang menyarankan mencari kambing hitam.. “..

beberapa tahun terakhir oknum yang terlibat semakin berkurang. Ini menunjukkan meningkatnya kinerja kepolisian dalam melakukan razia. “Kalau terbukti. Kalau dia jadi backing.P11). “Lebih sulit Pertama itu barangnya yang dibutuhkan itu saling menyembunyikan untuk menaikkan harga. Telah ada upaya penegakan hukum secara serius. cukup telepon lalu barang langsung dikirim. tes urin.14. kalo butuh barang tinggal bilang sama yang diatas barang langsung dikirim. Bahkan. susah banget. Di geledah dirumah atau di badan” (Pol6.5. penentuan tempat dan cara transaksi sekarang perlu sangat hati-hati. tapi belum punya bukti ya susah juga kita buktikan. ga suka sama orang kan bisa saja. Sampai akhir November 2008.5. Fitnah bisa saja pak. dimana para bandar dapat mengidentifikasi banyak oknum yang terlibat. tahun 2008 . Kalau narkoba terutama buktinya pak. dari Kapolri sampai Kapolda kebijaksanaan gak main-main. Bagi oknum yang sering terlibat kasus atau kasusnya berat akan dilakukan pemecatan secara tidak hormat. Sekarang agak susah ada tenggang waktunya antara minta barang dengan datangnya barang. Peredaran narkoba dalam 5 tahun terakhir ini lebih sulit dibanding beberapa tahun sebelumnya. Menurut beberapa informan bandar tidak sedikit oknum penegak hukum terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. ya negatif. Propam Mabes Polri telah mencatat dan menindak 49 anggotanya yang terlibat Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Menurut para bandar. Bagi oknum penegak hukum yang terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba akan ditindak tegas oleh masing-masing pimpinan.3. Ga segampang dulu” (BD5. tes urin nya. Walaupun ada informasi dia di backingan sama anggota polisi si A. meskipun sudah banyak informasi.3. tetapi sekarang selalu ada jeda waktu. “Jelas ada banget mas. ya susah. seringkali terjadi fitnah terhadap aparat penegak hukum dikatakan terlibat sebagai backing atau bandar tetapi sulit untuk dibuktikan. Kita nangkap orang ga ada bukti. bahkan ada juga oknum dari Polda yang mengirim secara langsung barang tersebut kepada bandar. hal ini dapat terjadi karena adanya program intensif dari BNN dan kepolisian dalam melakukan razia narkoba di beberapa tempat. kita geledah rumahnya sesuai informasi itu pak ya. Diantara para informan ada yang mengaku pernah mengambil barang/narkoba di Polda. kita kan harus tes dulu dong. Namun. Kita kan semua kasus harus ada bukti dan saksi.11. Penjatuhan sangsi hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan di lapangan. Beberapa tahun lalu. Apalagi jaman-jaman waktu kapolri yang sekarang baru dilantik (Sutanto). yang kedua mereka takut sekali ketemu sama polisi dan polisi itu langsung menangkap langsung diringkus” (BD-5. Dahulu tindakan aparat kepolisian lebih longgar dan tidak seketat tahun sekarang. demikian juga anggota TNI akan diproses oleh POM sesuai matra. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi para bandar untuk mengedarkan narkoba. Penanganan kasus akan diserahkan ke atasan masing-masing.2.Halaman | 36 informan dari kepolisian.P11). ya kita periksa juga dia. Kalau dia gak ada bukti ya susah pak. Jumlah tangkapan kasus narkoba oleh aparat kepolisian dari tahun ke tahun semakin meningkat.P9). kalo dulu mudah untuk transaksi.3. gak main-main pimpinan kita.14. Berbeda dengan era tahun sebelum tahun 1997. Kondisi ini menyebabkan harga narkoba menjadi jauh lebih mahal.

2) Assertivenes.Halaman | 37 narkoba. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. edukasi. Upaya yang dapat dilakukan pihak BNN melakukan kerja sama dengan Departemen Pendidikan (Diknas) dan Departemen Agama (Depag) di dalam memberikan komunikasi. guru. namun fakta lapangan menunjukan masih terjadi penyimpangan. 8. orang tua dan kelompok masyarakat lainnya. bahkan kematian. dan mereka yang telah menjadi pecandu mengakibatkan adanya konsekuensi akibat narkoba yang besar. kemampuan komunikasi pelajar/mahasiswa bisa berbicara tentang narkoba dengan kelompok sebaya. misalkan komponen biaya membesarkan anak. kecelakaan. dan upaya menekan dampak buruk narkoba tidak akan berhasil. Atas dasar itu. Upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba akan semakin tersendat. Kerugian biaya yang terjadi dalam perhitungan studi ini sebenarnya jauh lebih besar karena adanya keterbatasan metodologi dan ketersediaan data. Untuk bisa diimplementasikan. Apalagi sasaran utama peredaran narkoba adalah generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. minimal besaran kerugian seperti angka perhitungan proyeksi. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. Pelajar/mahasiswa menjadi target sasaran peredaran narkoba. termasuk tidak menggunakan narkoba. Walaupun saat ini telah ada tindakan nyata dilapangan. kejadian sakit. maka rekomendasi yang disampaikan adalah: Strategi Pencegahan • Strategi ini di fokuskan pada kelompok pelajar/mahasiswa. maka perlu dukungan modul pengajaran. mengingat kelompok ini menjadi sasaran utama para bandar/pengedar untuk mencari penyalahguna baru (coba pakai). 1/12/2008). Kesimpulan & Rekomendasi Temuan studi ini menyimpulkan adanya kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. mengingat aparat penegak hukum yang seharusnya berada pada garda terdepan ternyata banyak oknum yang bermain. Materi bersifat interaktif dengan penekanan pada life skill education (LSE). dan sebagainya tidak dihitung dalam studi ini. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tentu Negara ini akan memikul beban kerugian yang semakin besar. seperti tindakan kriminalitas. tahun 2008 . yaitu 1) communication. biaya kerusakan fasilitas umum akibat penyalahguna. kemampuan pelajar/mahasiswa bisa membuat keputusan yang benar terkait dengan halhal positif di dalam hidupnya. 3) Decision Making. BNN dan instansi terkait perlu menyiapkan modul ini yang menekankan pada 3 aspek. Jumlah ini terbilang sangat banyak bila dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 21 orang (Kompas. dan informasi (KIE) yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran wajib bagi pelajar/mahasiswa atau melalui ekstrakulikuler. kemampuan pelajar/mahasiswa untuk bisa mempunyai ketahanan diri yang kuat sehingga bisa mengatakan ”tidak untuk narkoba”. biaya pendidikan.

pihak BNN harus melakukan koordinasi dengan pihak universitas melalui rektorat maupun senat mahasiswa.Halaman | 38 • • Dalam upaya untuk memproteksi kampus menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Depkes. Nampaknya program ini perlu dikaji dan ditata ulang terkait implementasi dilapangan terjadi penyelewengan prosedur. Ide awal program ini sebagai substitusi para penyalahguna pecandu suntik heroin ke subutex agar pecandu tidak menyuntik lagi. Beberapa fakta menunjukan adanya peran bandar dalam mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. dan diisi dengan program dan aktivitas yang dikembangkan secara bersama-sama antara pihak institusi terkait. termasuk pembagian peran dan tanggungjawab institusi. Subutex diperkirakan akan naik daun dalam beberapa tahun ke depan. • Strategi Supply reduction • Peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia semakin marak. baik yang sifatnya internal maupun eksternal. dan dapat menjadi percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. termasuk adanya dukungan dana. Strategi Mengurangi Permintaan • Dampak dari para pecandu suntik sangat besar. Informasi (KIE) secara lebih luas harus tetap dilanjutkan. Upaya Komunikasi. mereka yang bukan pecandu suntik akan banyak yang mengkonsumsi subutex dan kecenderungan ke arah sudah ada dilapangan. Kinerja yang baik sangat ditentukan dari program dan aktivitas yang dilaksanakan oleh institusi tersebut. seperti yang telah dilaksanakan selama ini melalui berbagai media yang ada. dilihat dari besarnya kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian & BNN. Polisi & BNN perlu melakukan inspeksi mendadak dan membongkar jaringan narkoba di penjara. BNN dan Kepolisian perlu melakukan advokasi kepada pemerintah terkait hal ini. Aparat penegak hukum • Melakukan pengawasan yang lebih melekat. Pengawasan internal melalui mekanisme yang telah ada selama ini. Edukasi. Bila tidak ditangani segera dikawatirkan. Perlu program dan intervensi yang lebih serius pada kelompok ini. serta penyakit lainnya. menjalin kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan program bersama dengan KPAN. tahun 2008 . • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Jika diperlukan didirikan semacam posko anti narkoba di setiap universitas. Misalkan. dan LSM. sedangkan pengawasan eksternal adalah pengaduan dari pihak masyarakat melalui kotak pos/pengaduan khusus. Untuk itu. BNN perlu mengembangkan program-program ke arah akar rumput (grass root) yang bersetuhan secara langsung dengan para IDU. BNN diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam mengkaji ulang program tersebut bersamasama pihak KPAN dan Depkes.

tahun 2008 . termasuk melakukan sistem monitoring selama terpidana di penjara. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Halaman | 39 • Membuat tim khusus yang mengawal dan menjaga setiap kasus narkoba yang telah berhasil diungkap mulai dari tahap penangkapan sampai diputuskan vonisnya ke dalam penjara.

Heckathorn.C.com/resourceTOC. 113(Suppl. Public Health Reports. Marijuana Abuse: Age of Initiation. D. Deriving population estimates from Chain-referral samples of hidden populations. Heckathorn. 2004. Hughes JJ.. Anthony. Hien.M.. H.S.. and Lapsley. Magis-Rodriguez. Ramos. L. S. 5.. Sociological Focus.. No. Effectiveness of Respondent-Driven Sampling for Recruiting Drug Users in New York City: Findings from a Pilot Study. L. C.A.. Respondent-Driven Sampling ofInjection Drug Users in Two U. and Strathdee.D. 15. (1991). Tinsley.1). Heckathorn.W. S.A. and Des Jarlais. Heckathorn. Broadhead RS. D. and Lapsley. Collins And Lapsley (2004) Economic Costs Of Alcohol And Other Drugs In The Workplace. Extensions of respondent-driven sampling:a new approach to the study of injection drug users aged 18–25. The economic and social costs of Class A drug use in England and Wales 2003/2004. Depkdiknas. K. The Costs of Tobacco. http://www. Rahman. Assessment of Respondent Driven Sampling for Recruiting Female Sex Workers in Two Vietnamese Cities: Reaching the Unseen Sex Worker Journal of Urban Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. S. Weakliem. and Weakliem. Gallagher. 2004.. The costs of tobacco. No. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan.J. 2006 DSM IV-TR. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia Tahun 2006. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.. Home Office Online Report 16/06 Heckathorn DD. Joewana. Sabin. and Huong. Mills. Semaan S.J..T. 42–57. S. 2006. Bramson. Extensions of Respondent-Driven Sampling: Analyzing Continous Variables and Controlling for Differential Recruitment. R.M. Respondent driven sampling.D. Respondent-Driven Sampling: A New Approach to the Study of Hidden Populations. et al. 83. D.. (1991). AIDS prevention outreach among injection drug users: Agency problems and new approaches. Brouwer. (1994). AIDS Behav (2008) 12:294–304 Johnston.S.M. 83. R. Lozada. Heckathorn DD. D. 159–179. Madray. D.. D. Ed. P. 41. Nemeth. http://www.2.G.. Vol. Ramos. Broadhead.T. 1997. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No.J. R.. L.I. M..Vol. 3 BNN & Puslitkes UI.M.. D. Reza. H..2.. Frost. D. Khanam.. D. AIDS and social networks: Prevention through network mobilization.. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2005. Depok: Puslitkes UI. Jakarta: EGC Johnston.. Godfrey.D.C.D.49:11–34.aspx?resourceID=1 Eisner. Depok: Puslitkes UI. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. S. Depok: Puslitkes UI... L. K. K. Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders. BNN & Puslitkes UI. and Heckathorn. S. H. D. H. McKnight. 2007.org Heckathorn.E. & Lapsley.D.. R.M. alcohol and illicit drug abuse to Australian society in 2004/2005 Collins. K..–Mexico Border Cities: Recruitment Dynamics and Impact on Estimates of HIV and Syphilis Prevalence.S. tahun 2008 .. Vol. 7 Gordon. Estimating the economic costs of drug abuse... The Effectiveness of Respondent Driven Sampling for Recruiting Males Who have Sex with Males in Dhaka. M... (1998). Alcohol & Illicit Drug Abuse to Australian Society 2004/2005 Collins.Halaman | 40 DAFTAR PUSTAKA: Abdul-Quader.G.psychiatryonline. 2002. Social Probl. Azim.. Broadhead. Stuid Baiaya Ekonomi dan Sosial Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2004. D. Anthony.M. L. Estimating the economic costs of drug abuse. 19 no. 2004. R. D.6(1):55–67. L. 2004. R. C. J. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba. C. Firestone Cruz. Banu. L. BNN & Puslitkes UI. Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2005/2006. Collins. 2005. 15.. R.. S. II. Shah Alam. Broadhead. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No.. D. Social Problems. Soc Probl.R.M. fourth edition text revision.respondentdrivensampling. L. 44 No. C.D.. S. M. Sabin. 2005. H. (1999). 32. A.T.J. 473–495. D. H. Pleasure of Response Foreshadow Young Adult Outcomes in NIDA Research Findings vol. AIDS Behav. Section 3: Translating Research Into Practice Collins. Khan.2002. Bangladesh. 2006. & Lapsley. D. D. Harnessing peer networks as an instrument for AIDS prevention: Results from a peer-driven intervention. Parott.

JD Grant.T. J.1995. Patra. J. B. 1991. P. Washington. E. S. L. Fischer. MD: National Institute on Drug Abuse Robson.. Rockville... Et All (2001). Li L. Factors influencing initiation of cocaine use among adults : Findings from the epidemiologic Caatchment Area Program. H. J. Published February 2004. S. Appendix A. 83.. D. “Psyciatrich comorbidity and progression in drug use in adult Male twins: implications for the design of genetic association studies”.. B. H.2004. Falck RS. 9.id – Data rekap nasional.. NSDUH Series H-34. Meyer Roger E Different Patterns of Drug Use. The Measurement of "Ever Use" and "Frequency-Quantity" (in Drug Use Surveys).. Published December 2001. R. 2004. 78:147–157 What America's Users Spend on Illegal Drugs1988–2000. World drug report 2007.D. Office of National Drug Control Policy. Vol. Addictive Behaviour 31 (2006): 948-961 Wang J. DC: Executive Office of the President (Publication No. JF Scherrer.ppt-2007-06-05 World Drug Report 2008. 20(1). 2002. & Blanchard.nisn. 17-24. Rockville. Results from the 2007 National Survey on Drug Use and Health: National Findings (Office of Applied Studies. Health Affairs. MT Lynskey. RD Todd.go. Respondent-driven sampling to recruit MDMA users: a methodological assessment. R. www. Single. KK Bucholz (2006). Schauffler. NIDA. Lapsley. No.Halaman | 41 Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. Carlson RG. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. MD: National Institute on Drug Abuse Kopp. pp. Heckathorn.diknas. United Nations on Drugs and Crime. Brochu. NIDA Research Monograph 110. P. 1997. Popova. AA. D. Collins..C.com www. DHHS. Rockville. 4. http://www. Office of National Drug Control Policy. No. 2005. E. V´azquez. C. International Guidelines for Estimating the Costs of Substance Abuse—2001 Edition Substance Abuse and Mental Health Administration. Gnam. D. E. A. 2006.whitehousedrugpolicy. www. R. tahun 2008 ..unodc. National and State Estimates of the Drug Abuse Treatment Gap: 2000 National Household Survey on Drug Abuse.whitehousedrugpolicy. Siegal HA Rahman A. Todorov.. MD. 189-210.34:193–239. DHHS Publication ADM 91-1787.gov Predicting Heavy Drug Use: Results of a Longitudinal Study. N. Rockville. Medicaid Coverage For Tobacco-Dependence Treatments. Heckathorn DD. http://www. Sarnocinska-Hart. DHHS Publication No. Schober & C. Social costs of drug use in France.. 27-35. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. http://www.datastatistik-indonesia. 207303).. 2001.). Sociol Methodol.. Taylor. Youth Characteristics Describing and Predicting Heavy Drug Use by Adults. The An Epidemiology of cocaine use and abuse pp. Drug Alcohol Depend. Kopp.org Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.. J.org/pdf/gap/trs-6. The Economic Costs of Drug Abuse in the United States. Sampling and estimation in hidden populations using respondent-driven sampling. B. 7 Kandel. Literatur review on the economic costs of substance abuse. A report of the Canadian Centre on Substance Abuse Salganik MJ. Diaz.M. Research Monograph Series 2. Shade (Eds. & Anthony. dan Wilson.unodc. From Networks to Populations: The Development and Application of Respondent-Driven Sampling Among IDUs and Latino Gay Men. AIDS and Behavior. 1992-2002. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. Easton.whitehousedrugpolicy. Denise.. 2008. Research Monograph Series 2.. pp. The Cost of Substance Abuse in Canada 2002 Ritter. & Single. W.gov/publications/predict_drug_use/intro. SMA 08-4343). NIDA.pdf Ramirez-Valles. Harwood.gov/publications/pdf/american_users_spend_2002. In S.. December 2005 Rehm. Baliunas. and Campbell.pdf www. MD: National Institute on Drug Abuse Office of National Drug Control Policy. Vol.

tahun 2008 .Halaman | 42 LAMPIRAN Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

821 28.629 9.137 3.229 7.398 11.264 12.6 1.869 10.383 12.114 142.101 2.258 4.335 113.041 teratur minimal maksimal 76.412 87.135 4.023 12.6 1.999 26.Halaman | 43 Tabel Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tabel E1.573 14.629 9.397 31.029 146. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total coba pakai minimal maksimal 77.819 % thd pop 3.462 49.649 16.374 1.334 4.749 9.768 2.065 22.528 1.3 1.6 2.673 57.432 5.654 25.6 1.323 9.879 48.071 7.3 1.364 7.738 42.202 13.232 37.512 8.544 20.845 41.132 3.164 27.814 959.561 107.1 1.740 8.563 26. tahun 2008 .7 1. Angka Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia.510 3.487 6.412 10.295 11.910 13.439 69.747 7.429 1.471 15.771 26.316 6.096 32.414 51.682 3.167 188.363 19.931 17.984 19.726 15.996 44.776 2.833 14.709 3.402 158.857 10.781 6.592 11.166 pecandu minimal maksimal 124.093 2.624 5.584 26.818 5.872 30.252 61.2 1.787 4.071 3.999 3.038 268.626 6.670 18.016 9.392 752 912 3.087 6.422 19.671 12.526 12.547 8.494 1.655 1.778 16.383 13.171 13.384 31.752 18.081 13.155 167.197 2.129 8.493 143.381 15.713.933 5.394 23.253 26.886 19.122 22.385 14.0 1.178 8.463 20.599 46.270 29.2 1.075 22.902 3.863 14.155 13.224 42.707 99.944 7.088 9.217 47.605 5.657 260.371 5.612 Pecandu suntik* minimal maksimal 30.5 1.506 12.715 115.364 14.743 26.051 11.079 36.7 1.577 54.3 1.6 1.953 10.798 11.665 13.093 11.686 7.6 1.007 3.811 2.209 43.624 41.645 35.576 4.431 1.057 83.2 1.365 122.898 21.280 123.905 9.1 1.182 2.772 49.749 60.168 204.765 17.567 11.211 9.480 498.211 34.560 6.461 10.806 7.649 35.502 11.059 9.582 20.878 8.188 865 981 1.7 1.108 3.473 16.581 253.8 1.4 2.019 23.114.439 50.780 22.808 129.113 396.6 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.987 124.850 2.305 571.418 27.395 30.469 2. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.821 42.488 3.689 40.089 12.262 53.610.115 16.233 465.116 3.250 5.4 1.724 700 885 344 401 218.6 1.237 36.094 81.380 17.070 23.449 294.830 9.677 26.572 4.317 3.252 7.310 71.964 4.970 4.3 1.2 1.501 22.879 1.042 1.3 1.840 29.456 14.984 11.798 31.576 7.302 64.744 20.296 50.694 652.818 6.259 39.090 22.500 11.174 11.151 138.888 52.761 2.711 7.6 1.854 35.966 11.986 4.247 4.935 14.816 23.399 9.754 112.4 1.150 21.636 2.953 18.197 10.893 3.894 94.801 3.313 2.856 20.552 214.785 60.538 26.495 3.152 27.762 47.4 1.618 83.6 1.376 807.303 23.3 1.434 21.464 227.390 3.573 11.302 7.514 36.264 5.149 9.410 21.157 9.550 7.070 3.228 186.817 938.656 4.548 84.492 78.329 12.735 23.6 1.075 7.549 306.785 41.480 73.891 135.658 5.119 55.280 12.261 4.127 7.413 1.163 14.715 27.675 4.788 76.908 26.072 14.732 6.476.763 96.6 1.269 6.024 172.417 10.603 1.230 1.506 27.465 43.267 12.551 4.276 2.418 6.732 9.152 1.626 29.594 131.203 829.234 3.563 10.731 31.256 1.890 2.879 41.539 570.312 24.762 Total lahgun minimal maksimal 278.573 8.613 722 917 993 1.401 16.033 158.964 3.578 6.183 3.601 12.

tahun 2008 . 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.2. Angka Persentase Penyalahguna Narkoba menurut kelompok pelajar/mahasiswa & bukan pelajar/mahasiswa. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total Pel/mhw 40 40 58 62 42 49 42 48 32 45 34 56 58 35 60 51 46 62 51 42 57 57 59 58 42 63 48 50 54 49 41 53 53 49 Coba pakai Bukan 7 9 9 8 10 10 8 11 10 9 11 8 8 5 5 6 8 12 9 7 14 12 9 10 17 12 8 12 3 12 13 13 10 9 Total 48 49 68 71 52 59 49 59 43 54 45 63 66 40 66 57 54 74 60 49 71 69 68 68 59 76 56 62 57 62 54 65 63 58 Pel/mhw 32 30 23 19 28 18 26 22 30 19 28 17 17 34 18 25 35 12 24 29 16 18 13 18 17 12 17 23 22 24 28 8 13 23 Jenis Penyalahguna Narkoba (dalam %) Teratur Pecandu bukan suntik Bukan Total Pel/mhw Bukan Total 2 35 11 3 13 1 31 16 1 17 1 24 4 1 5 3 22 4 1 5 6 34 11 0 12 4 22 14 1 16 2 27 17 2 19 2 24 13 1 14 2 33 17 1 17 3 22 17 1 17 1 29 7 1 8 1 19 12 1 13 3 20 6 1 8 2 36 10 1 12 5 23 3 1 4 3 28 12 1 13 2 36 5 2 7 1 12 7 2 9 3 27 7 1 8 1 30 10 2 12 5 21 4 1 5 6 23 3 1 4 5 18 6 4 10 4 22 3 2 4 1 18 9 6 15 3 16 3 3 6 7 24 13 3 16 3 26 7 2 10 0 22 10 4 14 3 26 8 3 11 5 34 6 3 9 2 10 19 3 23 5 19 14 2 17 3 26 11 2 12 Total Lahgun Setahun Pecandu suntik Pel/mhw Bukan 3 1 3 0 3 0 2 0 2 0 3 0 4 1 3 0 7 0 6 0 16 1 4 1 6 1 11 1 7 1 2 0 2 0 5 0 5 0 9 1 2 0 3 0 4 0 5 1 6 2 2 0 2 1 2 0 6 0 1 0 3 0 1 1 1 0 3 0 Total 4 3 3 2 3 3 5 3 7 6 17 5 6 12 8 2 3 5 6 10 3 3 4 6 8 3 4 2 6 1 3 2 2 4 Pel/mhw 86 89 87 87 84 84 89 86 86 87 85 90 87 91 88 89 88 85 87 90 79 81 82 84 74 80 81 82 92 81 79 82 82 86 Bukan 14 11 13 13 16 16 11 14 14 13 15 10 13 9 12 11 12 15 13 10 21 19 18 16 26 20 19 18 8 19 21 18 18 14 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Halaman | 44 Tabel E.

7 11.2 93.2 Bukan Suntik 1272 11.7 58.Halaman | 45 TABEL PROBABILITAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA.0 2.0 3.1 1.5 2.7 34.3 1.5 1.0 14.7 2.4 0.3 1.7 15.1 12.8 0.5 7.1 0.0 5.2 14.9 68.2 21.5 77.9 20.5 Pecandu Suntik 461 2.6 0.3 27.2 15.7 56.8 70.8 66.7 1.3 11.7 2.5 3.1 2.5 0.5 63.3 68.5 67.7 0.4 6.8 29.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 92.8 25.9 0.3 1.2 6.3 17.4 56.2 3.2 32.7 20.4 4.1 0.4 25. tahun 2008 .9 1.8 0.4 33.2 0.1 11.4 4.1 2.6 3.7 0.9 23.0 24.5 24.2 6.4 21.7 53.1 17.4 20.9 2.2 0.6 3.9 85.4 2.6 6.1 15. TAHUN 2008 ( Hasil Survei di 17 Propinsi) Tabel 1.9 57.7 2.0 Total 1733 9.5 2.5 5.9 0.1 0.3 23.9 0.6 16.5 0.0 73.9 23.9 1.3 68.4 11.4 2.6 74.1 0.4 0.4 14.8 3.5 88.2 7.0 79.2 1.4 0.7 10.5 12.3 10.8 5.3 18.0 4.0 1.5 0.7 7.6 2.3 69.3 91.7 84.5 13.4 12.1 1.7 3.9 2.0 16.2 2.0 3.4 0.3 2.0 0.5 5.1 12.2 1.3 4.8 0.8 0.2 5.1 10.3 6.5 10.0 1.1 24.0 3.5 1.5 17.4 1.4 1.4 80.2 4.7 27.1 5.7 2.7 1.5 2.3 Keseluruhan Lahgun 2143 9.8 25.8 8.3 92.2 2. Distribusi persentase responden yang terpilih dalam studi menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur > 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun lebih dari 49 tahun Jenis kelamin Laki Perempuan Pendidikan Rendah (=<SD) Menengah (SMP) Atas (SMA keatas) Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Hidup bersama tanpa nikah Pekerjaan utama Tidak bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai negeri (PNS) Pegawai swasta TNI/ POLRI Wiraswasta/pedagang Buruh tetap Buruh tidak tetap /serabutan Sopir Ojek Lainnya tempat tinggal anda saat ini Rumah sendiri Rumah orang tua Rumah saudara kandung Rumah saudara bukan kandung/kakek/nenek Rumah teman/tetangga Rumah kost/kontrakan Tidak punya tempat tinggal tetap N: Jumlah seluruh responden Teratur 410 8.9 24.1 0.

5 93.3 Keseluruhan Lahgun 2143 98.gele.4 7.1 0.1 19.6 0.1 0.0 0.3 0.6 0.2 66.3 11.1 5.5 93.3 8.7 Pecandu Bukan Suntik 1272 98.marijuana) Hashish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.0 21.7 92.8 2.0 83.2 0.BK.8 16 16 3 7 40 Suntik 461 10.4 29.5 3.9 41.9 0.9 2.0 0.5 91.2 67.8 8.0 17 16 3 7 50 88.1 0.7 0.6 35.5 0.7 92.2 0.7 71.2 33.9 0.7 0.0 0.9 95.1 3.3 0.3 Suntik 461 98.5 0.2 0.6 0.5 0.5 0.2 7.5 16 16 3 7 40 Keseluruhan Lahgun 2143 5.rohyp Lainnya Teratur 410 2.1 0.8 0.6 2.0 23.2 40.7 16 15 3 9 35 Total 1733 6.0 0.0 0.4 43.4 0.2 56.8 93.2 19.1 4.8 N Merokok Pernah merokok Setahun pernah merokok Alkohol Pernah minum alcohol Setahun pernah alcohol N: Jumlah seluruh responden 93.5 16. tahun 2008 .7 95.2 94.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.cimeng.2 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Obat penenang/barbiturat (valium.8 42.1 20.8 95.7 Tabel 3a Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur pertama pakai narkoba < 13 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun >= 19 tahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Jenis kelamin Laki Perempuan Jenis narkoba pertama kali Ganja (cannabis.1 0.9 15.6 94.nipam.2 Total 1733 98.3 91.7 0.1 0.9 18 17 4 8 50 Pecandu Bukan Suntik 1272 5.2 5.0 92.1 73.9 24.0 16.7 7.lexo/lexotan.0 26.2 80.4 34.9 33.2 80. i.3 6.2 80.Halaman | 46 Tabel 2 Perilaku merokok & minum alkohol dikalangan lahgun menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 98.0 4.2 59.1 2.8 41.5 7.0 1.

cimeng.8 4.6 0.6 50.6 3.3 13.2 66.7 38.2 0.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.5 56.8 30.5 0. i.0 7.8 8. lexo/lexotan.3 3.1 Suntik 461 93.0 35.6 15. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.3 82.0 10.6 32.4 81.1 5.2 37.7 7.5 3.0 0.4 5.1 53.5 52. cimeng.2 61.8 24.8 0.8 10.9 37.5 21.8 70.2 0. nipam.3 6.9 55.4 0. sebutkan Jenis narkoba setahun terakhir pakai Ganja (gele.4 65.4 16.9 76.9 3.7 33.UHU) Lainnya.3 72.4 32.6 0.5 53.8 2. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.2 0.2 9. rohypnol) LSD (acid) Kecubung. BK.1 4.6 1. tahun 2008 . nipam.1 3. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.8 5.8 36.0 46.3 66.-Aibon.4 9.5 60.4 4.4 4.9 0.2 0.2 64.5 2.8 11.5 1.2 28.0 2.6 56.6 8.0 Pecandu Bukan Suntik 1272 92.3 2.8 17.7 0.0 Keseluruhan Lahgun 2143 91.3 6.9 7.5 4.6 5.9 4.4 Total 1733 92.2 5.1 79.9 16.2 48. i.0 27.0 33.3 0.1 0.6 10.6 65.5 4.8 20.4 10.3 0.7 0.9 4.3 2.9 21.4 2.0 36.7 66.1 2.5 37.1 6.8 0.2 30.9 42.1 71. lexo/lexotan.4 66.9 47.7 65.2 4.3 0.5 53.8 3.1 6.9 4.6 65.8 49.6 29.0 11. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.7 0.7 14.8 65.5 3. BK.5 2.UHU) Lainnya Frekuensi pakai Mean Median Minimum Maksimum Keluarga tahu anda pakai narkoba Ya Tidak Ada anggota keluarga lain pakai narkoba Ya Tidak Teratur 410 88.8 20 21 5 48 184 421 49 7200 720 1181 49 29979 357 624 49 29979 161 508 5 29979 36.3 1.5 14.8 28.9 58.6 63.5 0.9 3.1 18.9 4.5 0.0 0.6 49.7 10.0 69.3 1.2 0.5 2.5 14. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.5 1.5 17.0 2.Halaman | 47 Tabel 3b Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Jenis narkoba yang pernah pakai Ganja (gele.8 10.6 23.0 31. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.0 40.6 29.2 2.0 1.4 5.9 16.0 0.9 33.1 19.1 26.9 51.1 6. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.4 0.7 22.-Aibon.

1 0.4 26.5 1.4 2.5 6.2 12.5 2.6 11.0 9.: Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine): Obat penenang LSD (acid) Kecubung.1 13.0 11.9 12.5 2.0 33 72.7 3.7 Keseluruhan Lahgun 2143 17.6 47.7 1.6 0.2 0.6 35.2 54.1 41.8 9.4 56.4 11.5 31.5 Total 1733 33.3 8.1 13.8 0.0 48.9 12.4 0.8 18 17 3 74.0 7.7 98.2 9.2 10.1 9.6 51.6 110 79.5 Tabel 5 Peredaran narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 19.7 950 11.0 49.1 157 81.0 0.4 11.5 0.3 0.4 0. jmr di kotoran Sapi/mushroom Inhalan/dihirup (ngelem.7 27.0 4.2 32.0 5.cimeng.2 Keseluruhan Lahgun 2143 85.5 10.6 0.4 47.8 38.4 1.4 59.9 29.4 35.marijuana).3 43.3 83.1 2.6 0.7 18 17 3 74.2 64.9 Suntik 461 91.3 4.8 40.5 18 18 3 67.6 31.8 8.6 87.4 0.0 Pecandu Bukan Suntik Suntik 1272 461 21.9 950 47.2 2. bensin) Lainnya Teratur 410 80.4 9.0 78.4 5.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6 3.2 Total 1733 86.6 0.1 45.Halaman | 48 Tabel 4 Pola Konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 22.6 N Pernah menjual narkoba Setahun terakhir masih menjual narkoba Pernah menjadi kurir narkoba Pernah menawarkan narkoba ke orang lain Tabel 6 Perilaku seks dan narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Pernah seks Usia pertama kali hubungan seks Mean Median SD Seks setahun terakhir N Seks setahun terakhir Pernah hubungan seks demi narkoba Seks demi narkoba by jenis kelamin (N) Laki Perempuan Frekuensi pakai kondom setahun terakhir (N) Tidak pernah Kadang-kadang/jarang Selalu Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Jenis narkoba yang mempengaruhi anda ingin hubungan seks Ganja (cannabis.6 0.2 30.0 0.0 1574 47.9 0.0 8.6 10.9 41.5 348 13.2 28.4 1574 12.5 78.1 20.3 0.5 1.0 41.4 82.8 18 17 3 75.4 1.3 276 12.5 Pecandu Bukan Suntik 1272 29.4 35.7 47.4 32. tahun 2008 .9 1.9 3.0 0.5 47 87.3 276 48.7 9.5 1298 47.6 12.8 2.9 1.0 0.3 9.6 2.6 11.6 0.6 0.7 35.9 26.0 1.gele.9 1298 12.7 2.5 61.2 28.5 0.0 Keseluruhan Lahgun 2143 31.5 18.6 Suntik 461 45.5 18 17 3 73.9 55.1 0.4 0.9 Pecandu Bukan Suntik 1272 84.3 Total 1733 16.0 0.1 40.8 2. XTC).4 36.4 11.5 29.5 5.8 348 45.1 190 80.8 0.5 10.7 0.6 7.0 35.7 0. i.6 N Pernah pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba Setahun pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba 52.8 47. Hasish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.0 20.

8 691 175 25.2 11.3 5.2 6.0 4.9 31.1 62.8 3.3 1.3 65.6 1.0 4.7 81.4 2.1 80.1 10.0 72.6 1.3 45 19 19 4 12 28 2143 34.9 4.1 81.3 522 365 679 1 10950 528 365 478 1 1825 522 365 667 1 10950 Mean Median SD Minimal Maksimal 24 15 24 1 150 14 10 11 3 30 24 15 24 1 150 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 42.6 36.6 68.1 4.1 1.7 74.Halaman | 49 Tabel 7 Penyalahgunaan narkoba suntik Laki Perempuan Total N Pernah narkoba suntik Ya Tidak N Umur pertama pakai narkoba suntik 1968 35.6 736 20 19 5 9 38 Mean Median SD Minimal Maksimal Lama pakai narkoba secara teratur (bulan) Mean Median SD Minimal Maksimal suntik 20 19 5 9 38 65 60 53 1 360 59 42 46 4 132 65 60 53 1 360 Jenis narkoba yang pernah disuntikan ke dalam tubuh Kokain Shabu Ekstasi (inex i XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine).7 2.4 17.3 18.9 10.3 5. ObatPenenang Lainnya pernah menggunakan jarum suntik bersama/bekas pakai Pernah pakai narkoba suntik setahun terakhir Ya Tidak Frekuensi pakai narkoba suntik Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi pakai jarum baru (bulan) 4.5 57.8 5.2 36.9 71.3 42. tahun 2008 .4 8.4 44.1 64.5 62.3 5.

5 373 48.7 37.8 45.5 78.6 21.2 17.1 2.2 23.6 3.7 47.7 34.3 14.7 23.6 10.0 62.3 27.9 16.7 2.3 10.9 12.0 18. tahun 2008 .8 46.0 4.7 299 36.5 143 31.5 21.5 74 43.5 23.9 143 31.1 4.3 25.9 25.1 9.2 4.3 45.3 70.1 83.6 15.6 34.4 36.8 23.7 46.2 26.7 33.0 35.3 17.9 68.5 4.7 4.0 9.7 9.9 37.1 516 44.4 5.6 8.6 373 38.2 5.3 5.5 13.0 72.5 1.6 11.2 32.1 26.1 3.0 4.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 37.1 74 57.7 7.9 24.5 70.8 5.9 7.6 516 36.2 3.7 23.7 35.3 6.6 34.0 14.4 5.7 6.2 7.2 6.0 16.9 5.4 18.5 23.1 1.5 45.5 70.0 76.6 19.4 9.8 3.5 40.4 30.5 299 44.9 11.9 22.2 16.9 45.0 50.1 29.9 25.7 8.0 9.0 18.6 6.Halaman | 50 Tabel 8 Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 410 Pecandu Bukan Suntik 1272 Suntik 461 Total 1733 Keseluruhan Lahgun 2143 N Responden yang punya keluhan kesehatan Ya Tidak Jenis keluhan yang disampaikan Rasa Mual Selera makan berkurang Rasa sakit pada ulu hati Rasa perih/nyeri pada saat menelan makanan Warna putih menebal pada bagian mulut/tenggorokan Rasa sesak pada dada Rasa sakit pada saat bernafas Batuk berdahak lebih dari 2 minggu Diare lebih dari 2 minggu Rasa lelah (fatique) berkepanjangan Keluar keringat pada malam hari secara berlebih Demam tinggi lebih dari 2 minggu Kulit dan kuku berwarna kuning (menguning) Peradangan pada kulit (luka yang sulit sembuh) Rasa gatal/panas dan ruam/memerah pada kulit Munculnya bercak berwarna merah/putih/hitam di kulit Penurunan berat badan lebih dari 10 dalam 2 minggu N punya keluhan kesehatan Melakukan pengobatan sendiri Jenis pengobatan sendiri yang dilakukan Obat Tradisional/non medis Obat modern/medis Lainnya Melakukan pengobatan ke orang lain Rawat jalan Rawat inap 65.0 6.7 5.1 34.2 75.2 1.1 4.5 4.8 17.2 6.4 42.4 3.4 25.2 35.4 18.9 17.

0 0.0 0. tahun 2008 .8 0.5 48.7 50.3 16.4 9.adik/kakak.0 1.2 8.7 51.1 22.8 0.0 5.0 9.3 10.2 14.7 61.9 44 5.9 11.6 21.1 0.7 5.0 N berobat jalan Tempat pengobatan rawat jalan RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.8 8.9 2.0 0.2 11.1 3.0 0.8 60.0 0.0 0.3 60.0 0.0 55.6 5.9 1.2 0.2 7.7 8.1 5.1 90 11.4 0.Halaman | 51 Tabel 8b Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 58 18.4 2.4 2.3 9.2 41.2 0.0 3.9 3.2 5.1 4.8 45.7 17.9 2.4 14.2 0.0 Pecandu Bukan Suntik 238 17.0 49.kerabat): Biaya sendiri (responden) Lainnnya Ada orang lain yang mengantar selama berobat Rawat jalan Rawat inap 15.5 9.7 1.9 3.0 0.0 0.9 1.0 0.4 0.7 0.0 Keseluruhan Lahgun 505 27.6 53.1 15.9 145 7.3 3.2 0.5 40.9 4.0 59.0 Suntik 209 41.0 1.3 3.4 11.1 1.0 13.4 4.0 0.4 134 8.0 0.2 6.7 0. Sebutkan N berobat rawat inap Tempat pengobatan rawat inap RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.3 15.2 15.1 0.7 1.0 0.6 2.0 Total 447 28.0 0.3 4.8 41.4 0.7 1.3 0.1 10.6 47.9 5.3 11 5.0 0.0 0.7 47.5 7.8 0.7 7.4 0.4 2.1 6.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 0.4 0.3 3.0 8.4 0.1 12.8 3.6 25.3 60.0 14. Sebutkan Apakah tersedia jaminan pembiayaan kesehatan Askes Astek jamsostek Perusahaan/kantor Asuransi lain/swasta Kartu sehat/SKTM/jamkesmas/Gakin Keluarga (ortu.1 42.6 1.7 3.2 13.7 21.7 0.2 48.6 7.9 3.8 1.0 31.1 15.

ada orang lain yang menunggu (n) 2 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1 3 40.7 13.3 52.0 0.0 20.1 28.2 54.0 0.0 283 4.2 283 1.4 4.5 0..3 56.0 130 8.5 29.8 11. tahun 2008 . Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Ketika OD di tolong di pelayanan medis.1 0.0 60..5 52.0 4.1 8.3 0.5 9.2 9...5 18..1 129 461 28.7 5.0 0.9 259 2143 13.5 4.0 129 1.1 10.8 0.Halaman | 52 Tabel 9 Kasus over dosis dikalangan pelayahguna narkoba Teratur N Pernah overdosis Ya N pernah OD Pernah overdosis terakhir Ya Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.0 0.0 1..0 259 5. sebutkan .0 10.2 33.5 2.9 24 dlm setahun 1272 10.0 2.2 Frekuensi OD setahun terakhir Mean Median SD Minimal Maksimal Tindakan yang dilakukan ketika OD Tidak melakukan apa-apa Ditolong/ di rawat teman Perawatan medis Perawatan non medis Lainnya.0 0.2 130 1733 14.4 55.9 Ya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba..6 4.0 24 4.2 8.6 4.0 20.

. 0.9 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.2 2.0 .9 0.4 3 Total 1733 6.0 1. .4 Frekuensi rehabilitasi Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi detoks & rehab Mean Median SD Minimal Maksimal .0 0. 8.0 7.Halaman | 53 Tabel 10 Detoksifikasi dan rehabilitasi menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 0.8 25.4 0.0 4 Suntik 461 16.2 3. tahun 2008 .2 0. .5 1.4 0. .3 0.1 3 N Pernah Detoksifikasi Detok setahun terakhir Pernah Rehabilitasi Rehabilitasi setahun terakhir Pernah Detok-&-Rehab Detok&Rehab setahun terakhir Frekuensi detoks (kali) Mean Median SD Minimal Maksimal . 2 4 1 9 1 1 1 0 3 1 3 1 12 1 1 1 1 7 1 1 0 1 1 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.1 3 Keseluruhan Lahgun 2143 5.1 0.3 2. .6 0.0 .9 9. Pecandu Bukan Suntik 1272 2. .2 0. .0 2. . .7 7.6 8.5 2.5 Ada orang lain yg membantu 22. .5 0.1 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 0.2 0. .7 2.

9 287 65.1 1733 35.3 2143 31.7 28.0 171 63. Perilaku pencarian pengobatan sendiri terhadap keluhan akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah pengobatan sendiri Ya Tidak Setahun pengobatan sendiri Frekuensi pengobatan sendiri setahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 16.7 67.9 4. Perilaku tindakan kriminal akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah melakukan tindakan kriminal krn narkoba Ya tidak Setahun tindakan kriminal Proporsi antara tindakan criminal dan keluarga (n) Keluarga/orang tua Orang lain Campuran Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 15.4 461 61.0 5.4 57.0 15.0 16.0 37. tahun 2008 .5 65.9 15.5 7.7 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.7 6 3 9 1 40 6 2 13 1 96 4 2 11 0 90 5 2 12 0 96 6 2 12 0 96 Tabel 11.9 40.9 26.8 27.2 64.4 12.6 73.7 60.3 27.1 4.9 9.2 267 64.Halaman | 54 Tabel 10.1 21.5 14.5 33.9 30.9 96 67.4 13.1 8.3 7.5 20 80.5 38.2 26.4 83.9 82.3 13.4 68.0 1272 25.

4 1.0 0.3 2143 20.1 1 1 1 1 5 65 65.0 80 48.0 360 25.0 0.0 7.Halaman | 55 Tabel 12.2 1 1 1 1 5 132 72.2 76.0 3.5 1.0 7.0 7.9 14.0 461 46.0 256 18. tahun 2008 .9 1.9 2143 769 35.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 0.5 19.2 1.8 461 197 42.1 1.9 60.6 1.0 5.0 24 12.7 55.8 4.5 16.1 1.8 1733 674 38. Kasus kecelakaan lalulintas yang diakui akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah kecelakaan lalulintas krn narkoba Ya Tidak Setahun kecelakaan lalulintas Frekuensi kec lalulintas setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah kecelakaan lalulintas setahun Ada orang yg bantu saat kecelakaan lalulintas Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 95 23.5 1.5 1.9 1 1 1 1 5 62 80.3 1 1 1 1 5 127 73.9 1.0 1733 23.9 1.0 0.5 62.2 6.9 63.3 1272 14.3 1.1 5.7 17.8 1.2 20.1 1.0 Tabel 13 Penangkapan pihak kepolisian akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah ditangkap polisi krn narkoba Setahun ditangkap krn narkoba Frekuensi ditangkap setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah ditangkap setahun Ada orang yg bantu saat ditangkap polisi Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 7.0 1.0 336 25.3 7.8 1.2 1 1 0 1 1 5 33.5 1272 477 37.6 1.

1 120 2.2 38.2 47.4 41. tahun 2008 .0 30 79.3 29 85.6 56. 1 1 1272 9.7 679 27.3 1 1 0 1 2 1733 15.3 828 25.1 55.3 83.4 90.8 265 3.4 1 1 0 1 2 2143 13.7 58.4 85.1 476 27.5 66.4 149 21.4 23 0.4 1 1 0 1 2 461 31.1 203 26.Halaman | 56 Tabel 14 Pengalaman dipenjara akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah dipenjara krn kasus narkoba Tidak N pernah dipenjara Setahun dipenjara krn narkoba Frekuensi dipenjara setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah dipenjara setahun terakhir Ada orang yg bantu saat dipenjara Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.0 40.6 94.9 58.8 Tabel 15 Pengalaman Aktivitas terganggu akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah aktivitas terganggu krn penyalahgunaan Ya Tidak N pernah aktivitas terganggu Setahun pernah aktivitas terganggu dari penyalahgunaan Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 38.8 1 1 0 1 2 1 100.7 59 82.9 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 288 2.6 145 6.2 49.5 60 82.2 1 1 .

06 0.6 7.67 0.0 27.00 0.91 0.0 54.05 0.0 54.0 Perkiraan jumlah teman yg mati karena narkoba Mean Median Minimum Maximum Std Deviation 0.00 0.0 4.6 92.1 27.0 27.0 27. tahun 2008 .03 0.10 0.0 7.00 0.17 0.01 0.0 0.80 0.Halaman | 57 Tabel 16.00 0.13 0.15 0.6 17.6 20.0 27.00 0.06 0.2 18.0 46.4 7.00 0.00 0.0 92. Teman responden yang pakai narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Pecandu Suntik Keseluruhan Lahgun Teratur N Perkiraan jumlah narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal Bukan Suntik Total 410 teman pakai 1272 461 1733 2143 17 10 20 2 100 mati karena 17 10 28 1 200 16 8 21 1 100 16 10 25 1 200 16 10 25 1 200 Ada teman narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal yang 2 2 1 1 4 4 3 3 1 12 5 3 5 1 30 4 3 4 1 30 4 3 4 1 30 Jenis kelamin teman yg mati Laki-laki perempuan Umur teman yg mati karena narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal 100.09 0.91 0.0 4.5 27.5 27.8 28.8 17.91 0.0 54.4 93.0 44.1 92.00 0.0 5.0 5.0 4.9 7.12 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.00 0.8 17.0 27.3 25.

00 0.00 0.26 0.03 0.33 0.04 0.00 0.00 0.02 0.13 0.25 0.10 0.421 716 455 111 3.00 0.02 0.48 30-34 0.00 0.05 0.71 0.00 0.00 0.27 0.03 0.02 0. Angka Prevalensi dan Perkiraan Kematian Akibat Penyalahgunaan Narkoba Menurut Kelompok Umur Propinsi di Indonesia.00 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.02 0.09 0.894 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.02 0.18 0.45 0.02 0.00 0.50 0.05 20-24 0.06 0.00 0.00 0.33 0.25 0.00 0.06 0.09 0.00 0.00 0.27 0.01 0.42 0.00 0.01 0.12 0.03 0.01 0.00 0.27 0.12 0.04 0.00 0.09 0.11 0.02 0.00 0.48 0.02 0.02 45-49 0.01 0.00 0.00 0.17 0.01 0.02 0.04 0.17 0.08 0.00 0.01 0.22 0.33 0.00 0.04 0.27 0.00 0.08 0.13 0.00 0.986 219 871 165 203 33 114 353 60 71 288 259 105 188 82 142 74 7 1.61 0.05 0.12 0.03 0.29 0.00 0.01 0.09 0.03 0.22 0.00 0.20 0.50 0.38 0.06 0.06 0.00 0.14 0.00 0.50 0.02 0.10 0.00 0.11 0.00 0.22 0.03 0.27 0.02 0.00 0.00 0.53 0.27 0.29 0.00 0.26 0.41 0.27 0.45 0.05 Persentase kematian menurut kelompok umur Absolut mati yg 10-14 0.01 0.04 0.00 0.10 0.55 0.21 0.00 0.00 0.06 0.00 0.621 66 86 158 132 497 12 48 12 6 14.12 0.01 0.10 0.01 0.00 0.00 0.00 0.32 0.00 0.00 0.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.03 0.00 0.02 0.05 0.00 0.01 0.25 0.27 0.05 0.01 0.00 0.05 0.00 0.25 0.00 0.02 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total 2.01 0.10 0.51 0.00 0.33 0.00 0.23 0.54 0.00 0.21 0.04 0.05 0.00 0.00 0.11 0.01 0.00 0.46 0.22 0.00 0.05 0.38 0.10 0.00 0.33 0.00 0.00 0.01 0.14 0.02 0.33 0.00 0.00 0.27 0.71 0.25 0.01 0.00 0.00 0.01 0.27 0.11 0.54 0.00 15-19 0.05 0.00 0.00 0.06 0.08 0.10 0.00 0.00 0.00 0.02 0.00 0.21 0.00 0.00 0.00 0.11 0.00 0.03 0.02 0.00 0.05 0.00 0.00 0.11 0.04 0.08 0.00 0.25 0.00 0.00 0.00 0.09 0.00 0.05 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.13 0.04 0.00 0.00 0.01 0.38 0.12 0.09 0.13 0.13 0.25 0.00 0.00 0.02 0.04 0.00 0.13 0.01 0.00 0. tahun 2008 .05 0.03 0.00 0.00 0.03 0.00 0.46 0.12 0.13 0.13 0.23 0.25 0.00 0.05 0.01 0.06 0.28 0.00 0.00 0. 2008 Angka prevalensi kematian narkoba 0.04 0.02 0.00 0.29 0.00 0.46 0.00 0.18 0.00 0.05 40-44 0.01 0.20 25-29 0.43 0.20 0.02 0.02 0.10 0.34 0.333 1.00 0.05 0.01 0.00 0.08 0.19 35-39 0.00 0.04 0.Halaman | 58 Tabel 17.00 0.46 0.16 0.00 0.00 0.42 0.01 0.50 0.49 0.05 0.06 0.01 50-54 0.48 0.80 0.00 0.07 0.00 0.03 0.02 0.00 0.00 0.27 0.46 0.06 0.08 0.01 0.

.

688 323.000 rupiah) Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2008 15.813 188.489.735 3.953.220 882.450 8.094. 2008 (dalam 1.957.071 7.602 839.530 32.715 680.036 722. Kerugian Biaya Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia.743.Halaman | 60 TABEL ESTIMASI BIAYA KERUGIAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA Tabel 1.986 227.454 59.705 26.376.443.657 5. tahun 2008 .243 22.424 45.060 252.515 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.124 1.000.519 19.

046 17.829 14.201 11.724 1.060 4.356 394.768 6.364 1.320.550 32.846 152.620 54.490 63.591 13.463 5.706 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.042 67.513 253.256 1.651 36.993 3.165 158.226.414 177.334 1.673 24.871 1.060 1.472 795.666 19.255 8.020 284.612 9.252 2.660 930 2.294 292.573 17.258 13.403 2.374 149.742 6.254.638 2.741 5.421 508 852 0 3.622 8.475 321.435 10.483 427.373 3.250 16.793 10.668 0 67.133 7.799 0 0 0 0 0 353 4.226 239.219 226.021 0 162.149 70.024 2.226 7.431 3.692 44.791 46.845 413.607 0 16.948 435.183 141.702 1.847 210.926 977.441 6.556 691.029 3.404 301.612 43.949 3.182 700 186.586 89.703 3.501 270.332 1.519 0 5.622 136.925 1.010 955 206 149 331 1. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 1.224 9.849.302 14.199 0 0 719.388 6.153.Halaman | 61 Tabel 2a No PROP Biaya private (dalam 1.845 323.395 1.587 23.013 50.956 2.701 613.593 524.220 30.609 15.562 979 25.959 1.676 5.161 10.872 150.617 1.344 3.968 5.511 65.173.000 rupiah) Pengobatan sakit Konsumsi Narkoba Rawat jalan Rawat inap overdosis detok Rehab detoks & rehab detoks & pengobatan tertangkap rehab sendiri kecelakaan polisi penjara aktivitas terganggu total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.669 26.561 2.103 505 15.407 50.462 3.530 295 2.749 16.326 15.568 1.919 11.258 0 16.542 822.874 296.228 3.768 110 5.438 1.732 56. tahun 2008 .813 5.047 557.098 1.602 0 93.691 1.988 575 946 891 239 479 929 87 168 297 603 939 184 43 769 111 358 359 271 155 6 25 30 17 19.292 30.986 217.749 5.376.395 814 131.802 3.076 7.239 11.020 1.666 526 153.299 410.112 1.610 15.060 11.975 188.489.036 370.921 1.079 180.913 2.939 54.666 180.841 2.860 28.009 2.808 449.578 1.056 916 905.244 1.986 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.721 243.000.536 585 1.071 1.171 6.630 9.974 996 117.559 2.265 19.102 4.284 4.102 35.822 12.023 0 0 0 0 0 0 0 0 73 0 0 0 0 361.115.434 3.841 36.327 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73 15 27 0 337 40 0 280 35 46 128 106 3.049 327.658.499 2.953 2.516.380 430 196 839.273 68 170 0 5.817 2.651 0 5.901 30.768 3.638 0 3.431 4.365 1.321 5.021 9.683 1.407 16.425 501.702 1.694 85.808 882.001 1.705 26.950 2.149 0 991 15.435 15.263 438.088 28.688 26.335 317.639 9.850 3.424 0 0 0 0 310 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.851 165.873 468 1.551 559.631 51.996 63.846 42.977 6.430 560.186 58.222 261.218 4.355 2.043 19.532 188.741 1.855.188 16.211 32.889 630.680 33.618.671 46.439 1.845 8.820 17.545 485 85.683 0 2.875 1.483 21.167 21.302 34.485 132.410 125 510 0 0 13.394 219.424 959 1.404 294 3.762 209.907 100.124 27.048 4.202.283 1.155 51 23 22.539 953.183 283 1.744 4.320 2.455 230.065 3.142 886 271.052 5.835 7.183 4.757 7.602 9.877 1.792 76.424 28.269 1.772 13.263 4.840 781 292.070 12.140 2.806 133.499 94.804 5.051 933.310 220.486 6.641 107.634 12.912 134.388 1.257 9.740 124.489 23.369 86.830 4.772 9.225 586 1.758 11.871 1.396.130 6.843 7.075 5.427 2.

124 14.277 27 28.822 41 16.046 246 361 0 3 41 0 1 0 1.142 0 93.889 363 675 5.968 392 16.228 45.409 60.283 258 101 194 0 0 176.285 485 125 0 2.732 52 22. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 4.172 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 83 17 31 0 39 13 0 424 12 15 42 35 298 24 99 0 0 8.376 6.423 0 0 0 0 0 5.953.433 564 12.774 0 10.363 5.293 39.957 1.060 5.278 313 655 2.211 6.715 4.823 35 18.121 66.410 19.826 3.357 146.678 31.087.300 63.941 5.738 21.155 0 1.254 2.122 43.193 3.777 0 2.528 0 0 0 0 0 44 397 9 21 34 59 768 1.785 1.559 203 94 167 122 1.552 5.136 529.887 257 289.904 111.872 8.076 3.057 0 59.843 310 51.071 272.555 664 266 7.944 705 1.171 32.424 24 136.088 936 833 1.418 75.924 7.203 66 102.424 0 804.271 98.651 99.498 807 3.153 10.416 255 7.187 181 98 187 384 320 159 101 3.285 1.396 173.841 5.735 3.045 1.002 1.052 5 17.503 1.448 23.362 11.364 5.316 2.050 67.666 23.454 75 0 14 0 0 42.000.947 3.292 0 0 16.235 3 2.257 3.321 1.863 680.530 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.572 3.709 5 10.505 6.000 rupiah) loss produc: sakit Rawat Jalan Rawat Inap Loss produc: overdosis detok loss: detoks & rehab Rehab keluarga tindak kriminalitas orang lain loss: kecelakaan loss: polisi premature loss: penjara death total DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.210 35.470 1.809 0 254.477 65.597 36.757 0 51.339.408 286.397 195 2.405 426 720 344 157 51.265 26.835 23.149 93.683 89.857 481 856 219 3.780 6.645 0 2.613 16.919 0 42.864 113 192 370 8.045 24.052 542.Halaman | 62 Tabel 2b No PROP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Biaya Sosial (dalam 1.111 4.465 3.410 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.316 2.672 2.923 53.174 642 877 664 243 481 2.877 42.553 996 3.957.988 90.814 7.057 42.746 7.386 1.886 0 222 46.410 48.425 110.630 41.947 8.674 13 16.300 4.333 722.798 275.512 6.046 103 31.135 24.498 1.054 3.616 134.400 125 38.972 3.934 0 85.711 3.833 11.073 19.185 1.745 3.981 9.268 175 26.318 9.189 58.329 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 42.396 5.046 163.305 24.583 343 68.058 2.682 445 1.777 428 5.280 269 407.132 101 7.950 45. tahun 2008 .060 0 175 2.122 308 33.480 0 2.174 389 692 360 444 193 545 6.230 0 0 0 1.202 139 310 333 272 446 143 468 2.694 2.862 39.652 555 775 172 1.926 22.268 21 7.269 25.893 880.019 942 185.392 2.340 3.071 3.933 182.314 33.059 159 0 509 14.095 32.179 64.338 10.161 105 295 411 300 1.373 543.984 1.002 34 84 10 25 1.043 3.538 5.660 2.845 17.043 2.

376.212 1.Halaman | 63 Tabel 3.293 hashish 150 1.475 51.793 284.079 18.233.376.450 83.613 34.751 4.301 11.939 59.727 35.232 129.707 501 17.217 15.977 136.120 123.112 102.575 146.393 21.265 34.974 21 63.310.290 167 27.544 2.802 292.767 13.336 2.319 48.631 20.527 35.249 33.628 20.809 2.158 125.919 1.024 34.039 11.374 100.482 5.552 34.088 33.721 172.429 1.351 78.116 236. tahun 2008 .376 353.499 230.943 64.781 48.909 4.651 159 270 124 208 151 48 9 23 9 1 40 1 3 5 3 832 380 4.185 8 40.872 7.951 214.316 98.609 3.855.991 799 61.153.562 9.309 143.842 5.696 5.167 630.134 2.709 46 14 29 1.559 20.693 5.251 15.841 795.227 7 212 232.612 317.216 44.182 1.819 35.025 8.415 203.319 158.108 50.211 13.725 7.007 36.912 438.000.689 kokain shabu ekstasi 63.871 22.000 rupiah) ganja 82.165 10.208 4.134 96.766 10.141 28 50 273 30.634 3.676 219.128 169.095 13.362 7.810 158 536 7.901 100.317 25.482 55.889 19.694 150.417 14 78.456 10.876 38 122 62.820 24.111 3.183 933.359 144.013 67.948 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.760 162 69.544 62.929 19 526 27.382 5.983.087 4.045 49. Total Konsumsi Narkoba 2008 (dalam 1.100 2.517 50.452 23.754 343.808 44 20 12.294 914 37.061 6 146 19.524.435 35.742 300 361 52 2.062 72.526 11.077 6 24.719 81.170 45 94 putau putau cair methadon bubuk 636.624 13.334 305.791 84.806 1.284 16.202 194 661 3.825 182.662 146.395 557.616 10.149 86.539 581 4.661 199.489 127.044 26.628 76.411 6.377 22 674 33.436 34.584 subutex barbiturat 116.071 95.080 975 3.068 8.128 2 0 0 0 0 0 4.803 1.442 616 758 4 2 2 60 63 1.075 39.064 26 83.254.280 29.405 6.851 162 500 139 201 471 393 4.441 39.232 9.278 54.231 15.585 79.153 6.806 7.056 83.846 179.242 2.331 262.995 68.992 382.981 146.342 LSD kecubung 4.938 65.957 29.891 55.655 9.985 2.061 243.795 8 359 42.258 59.004 70 3.119 936. Riau 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 14 Bangka Belitung 15 Bengkulu 16 Lampung 17 Kalimantan Barat 18 Kalimantan Tengah 19 Kalimantan Selatan 20 Kalimantan Timur 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan 25 Sulawesi Barat 26 Sulawesi Tenggara 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Bali 30 NTB 31 NTT 32 Papua 33 Irian Jaya Barat Total 177.283 20.853 49.220 1.171 14.843 141.897 1.940 34.657 6.333 21.118 57.948 822.276.2.075 39.172.006 206.076 12.587 233 1.958 10.374 613.778 30.683 193.499 15.302 177.133 1.867 19.358 13.881 15.055 11.806 29.302 217.768 15.679 68.620 63.061 15.452 923 59.546 20.071 NO PROPINSI 1 DKI Jakarta 2 Jawa Barat 3 Banten 4 Jawa Tengah 5 DI Yogyakarta 6 Jawa Timur 7 NAD 8 Sumatera Utara 9 Sumatera Barat 10 Riau 11 Kep.544 79.070 370.469 155.787 .287 378 1.345 100.749 449.705 20.772 132.009 24.870 16.555 4.894 16.094 2.829 152.917 TOTAL 1.212 195.407 165.363 7.321 13.840 48.214 654 14.105 29.639 321.212 32.176 3.363 148.398 2.971 230.249 25.512 121.949 4.721 1.868 2.994 16.716 23.575 44.968 188.641 5.680 202 216.081 41.456 23.743 131.927 33.191 702 heroin 3.106 48.464 inhalant 2.070 7.

471 8.274.070 237.463 356.227.243.795 446.194 24. tahun 2008 .195.192.278 211.177 10.356 1.191 762.146 811.715 680.443.933 990.882.489.622 51. Proyeksi Kerugian Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba.022 71.090 1.563 1.997 57.021 82.822 1.109 1.135 363.240 406.035.266.765 10.690 12.856 15.903 41.391.110.657 5.705 26.867 31.562 1.784 1.743.436.125 1.403 39.176.387 6.313 1.721.614 318.704 74.376.296 57.443.318.375.388 8.024 1.450 8.410 64.292.812 4.944 1.923.133 13.299 332.951.287.000.986 Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2009 18.071 7.555.957.700.220 882.084 362.759 955.776 30.424 45.747 407.021 24.036 722.521 43.410 9.236 4.068. 2008-2013 (dalam 1.346 1.010.624 570.628 2011 22.412 4.282.546 1.201 27.325 30.762.621.780 6.205 46.530 32.563 48.967.208 5.000 rupiah) 2008 15.265 4.514.482 92.054.050 909.531 323.681 1.986 510.953.688 323.263 297.741 283.547 941.703 456.124 1.702.539.Halaman | 64 Tabel 4.413 1.091.809 80.701 2013 28.803 288.955.574.340 2010 20.770 12.115.472.092.427 34.602 839.879 1.519 19.577.877 1.539 51.060 252.454 59.031 399.464 37.103 103.243 22.243.094.768.331 13.805 7.757 8.436 35.242.140.179.930 2012 25.183 27.515 256.728 1.237 227.735 3.273.813 188.254 265.018.532 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.562 853.901 38.433 22.146 34.519 66.199 9.604.723.

560 645.342 56.764 269.935 846.834 430.502 46.417 1.554 347.210.105 478.423 537.758 4.235.860 5.923.440 164.610 1.312.710 450.623 99.940.247 1.853 1.443 1.425 401.387.090 401.295 322.673 6.058 2.652 356.152 184.133 507.981 364.420.626 50.135 2.010 3.927 776.807 7.336 1.019 390.384 257.784 1.950 170.032 2.396 206.507 5.681 1.573.431 63.000 rupiah) 2.220 451.726.580.430.139.463.214 498.029 151.886.672 156.054 233.967 108.912 291.249 503.471 387.823 578.061.459.130 1.520 166.928 675.865 195.696.386.171 5.154 1.960 2.957 121.787 4.071.709 479.009 3.187.023 1.787.878 242.162 2.474 235.524 8.092 865.644.939.304 9.803 2.383 430.135.714 963.242.678 4.586 781.159 486.549 231.112.681 186.961 1.455 1.589.694 3.266.945 57.199 350.799 208.455.718 397.352 1.604 1.860 10.732 2.412.363 442.552 659.657 359.067 1.861 153.055.548.588.315 895.623 211.996.277.663.892 1.217 157.106 1.195 533.Halaman | 65 Tabel 5.501 385.394.691 261.792.324 360.258 111.454 571.596 168.544 230.116 517.658 11.700 1.164 447.833 51.957.292.115 314.734 593.058 512.443.377 259.862.364.549 204.955 4.544 702.183 282.013 4.891 41.959 45.653 285.207 175.146 398.751.530.049.010.981.369.060 434.442 1.910 289.866 135.716 492.682.165 593.559 440.274 628.260.570 286.679 566.764 139.488 1.857 123.522 405.434 945.368 110.337 78.756 455.267 1.370 1.659 558.669 1.240 2.324.748 876.444 6.231 2.151.083 562.191.562 1.003 319.473.249.620 151.532 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.092 700.092.599.695 554.008 2.981.543 1.194 603.813 285.358 327.924 37.762 780.013 1.243.052 70.893 708.000.347.243.985 636.523 312.279 319.774.393 186.677 788.925 32.499 5.278 136.007 1.382 1.948. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROP Proyeksi Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba (dalam 1.381 803.011 4.929.015.970 279.994.648 97.335 756.512 355.143 7. tahun 2008 .035.556 1.610 190.742 360.012 4.727 168.974 255.046 174. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.684 630.515 2.351 124.282.805 502.026 137.518.811 218.595 228.232 7.634 2.536 6.351 1.986 617.531 2.650 1.970 252.079 720.

pengumpulan data. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman atas dedikasinya terhadap pelaksanaan pengumpulan data di 17 lokasi survey hingga proses editing data. 14. 12. 8. Bahkan beberapa rekan korlap juga sangat dibantu dengan teman mitra lokal/LSM yang menenangkan responden yang merasa ‘terusik’ dengan kehadiran ‘orang asing’ bagi mereka.Halaman | 66 UCAPAN TERIMAKASIH Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 terselenggara atas prakarsa Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia telah berjalan dengan lancar. 10. 9. 11. 5. 6. Ramola Hendri Hartati Ardha Renzulli Heru Susetyono Heksa Sari Julianti Haryono Junedi Zahid Iffahwan Basuki Iman Hadi Ferdinand P. tenaga dan pikiran dengan tulus untuk membantu kami terutama dalam hal menyediakan tempat basecamp. pembuatan kuesioner. setting lapangan. 13. Semoga kita dapat terus melanjutkan kerjasama pada kegiatan-kegiatan seterusnya. Di bawah ini adalah mitra lokal dan LSM untuk Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN RI -Puslitkes UI : Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 16. 3. Nama Koordinator lapangan Meyke C. Pastinya masih segar ingatan akan begitu banyak teman-teman yang berpartisipasi mengikuti proses rekrutmen koordinator lapangan hingga akhirnya terpilih 17 kordinator lapangan dan dibantu oleh 170 enumerator. mengumpulkan enumerator dan memberikan informasi gambaran penyalahgunaan narkoba di lokasi survei. tahun 2008 . namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar bagi mereka. pelatihan. try out kuesioner dan instrument penelitian. 7. 4. Siagiaan Sonny Wibisono Bayu Fajar Wirawan Rudi Zulkarnaen Hari Moertopo Nodivel Ahmad Caesar Wisnu Issantoso Lokasi Survei Manado Surabaya Bandar Lampung Pontianak Yogyakarta Palu Batam Palembang Medan Bandung Makassar Samarinda Mataram Denpasar Semarang Jakarta Papua Survei ini juga tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar tanpa bantuan teman-teman LSM dan Mitra Lokal yang telah menyediakan waktu. Semoga kita dapat melanjutkan hubungan baik untuk bekerjasama di kegiatan-kegiatan berikutnya. entry data dan analisis data. 17. 15. Berikut nama korlap dan lokasi survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN-Puslitkes UI: No. Kegiatan ini terlaksana salah satunya karena kerjasama semua tim yang telah terlibat mulai dari perumusan ide. Maka kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua mitra lokal dan teman-teman LSM yang kami tidak bisa sebutkan satu persatu. 2. 1.

Si Didik J. SE. SE Arlan Yulfar. Diponegoro UGM Forum Korban Napza Univ. SSos. Lampung Yayasan Laras Yayasan Mata Hati Univ. S. Udayana East Java Actions Yayasan Bina Hati Univ. Radit Dadi Suhanda. Hassanudin YMM YMM Univ. M. Indra K. SKM. Padjajaran 9 10 11 Jateng (Semarang) DI Yogyakarta NTB 12 13 Sulsel (Makasar) Sulut (Manado) 14 15 16 17 Sulteng (Palu) Papua (Jayapura) DKI Jakarta Jabar (Bandung) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Mataram Makasar Harm Reduction Community (MHaRC) Univ.Sos Meilani. M. Sriwijaya Saburai Support G Univ. tahun 2008 . M. Tanjungpura Yayasan Medan Plus Univ. S. Mkes Erigana. Drs. Airlangga Yayasan Performa Univ.Halaman | 67 No 1 2 3 Wilayah Kalimantan Barat (Pontianak) Sumut (Medan) Kepri (Batam) 4 Sumsel (Palembang) 5 6 7 8 Bandar Lampung Kaltim (Samarinda) Bali (Denpasar) Jatim (Surabaya) Mitra Lokal Rizal/ Mia Sabran Eban Totonta Kaban. Nugroho Ryan Stella Sophian Shanti Riskiyani Rodhi Lolong Martin Umar Junaedi Sri Nurrahma Ester Erfan. Padjajaran Univ. SSos. LSM/Yayasan Yayasan Pontianak Plus Univ. Nasution Efrizal . Aslam Anak Agung Kresna Ida Ayu Laksmi Rudhy Sinyo Eko Maryono Muhamad N Arifin Edy Herry Pryhantoro.Kes & Ali Chozin Syahri Suharni/ASA Asmaripa Ainy.Kes Aji Vespa Abdul Muthalib Tahar.Si Yvonne Joyo Nur Suryanto Gono. SKM.Si. Tadaluako YPPM UI (Kessos) Yayasan Rumah Cemara Univ. SH. M. Sumatera Utara YBTDB Dinkes Batam Dinkes Batam Yayasan Intan Maharani Yayasan Intan Maharani Univ.