LAPORAN SURVEI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Badan Narkotika Nasional
bekerjasama dengan

Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Halaman | 2

KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji dan syukur atas rahmat dan kekuatan dari-Nya sehingga laporan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tahun 2009 telah dapat diselesaikan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Hasil survei tahun 2008 ini lebih detail hasilnya sampai ke tingkat propinsi, baik dari sisi estimasi jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi akibat narkoba. Studi ini melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, informan, mitra lokal, kontak person, koordinator penelitian, asisten dan peneliti lapangan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Brigjen Pol. Drs. J. Salean SH., Dra. Endang Mulyani, MSc., Drs. Mufti Djusnir Apt. Msi., Drs. Hendrajit P. Widigdo, Drs. Sumirat Dwiyanto,. Siti Nurlela, Sri Lestari, dan Ibnu atas bantuan dan kerjasamanya pada setiap tahapan studi ini, mulai dari proses pengembangan instrumen sampai penulisan laporan. Akhirnya kami berharap studi ini akan dapat memberikan kontribusi yang berguna dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan penyempurnaan program pencegahan dan penanggulangan narkoba di Indonesia umumnya dan tingkat Propinsi khususnya.

Tim Peneliti Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Singkatan 1. Pendahuluan ..........................................................................................................7 2. Tujuan ....................................................................................................................7 3. Tinjauan Pustaka Singkat .......................................................................................8 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba .................................................................8 3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba ..................................................9 4. Metodologi............................................................................................................9 4.1. Desain Studi ...................................................................................................9 4.2. Lokasi Studi ..................................................................................................10 4.3. Definisi Operasional ......................................................................................10 4.4. Keterbatasan Studi.......................................................................................11 5. Hasil.....................................................................................................................11 5.1. Prevalensi Penyalahguna .............................................................................11 5.2. Karateristik penyalahguna ...........................................................................13 5.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba ...................................................13 5.4. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba ..................................19 5.5. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba....................................................22 6. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013...................................................................................................................23 6.1. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 ................................23 6.2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba .......................................25 7. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba ....................................26 7.1. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna.........................................26 7.2. Peredaran gelap narkoba.............................................................................27 7.3. Perdagangan narkoba ..................................................................................31 7.4. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi...31 7.5. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex................................32 7.6. Pembenahan aparat penegak hukum.........................................................34 8. Kesimpulan & Rekomendasi ..............................................................................37 DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................40 Lampiran Ucapan Terima Kasih

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 4 DAFTAR SINGKATAN AIDS ATS BMJ BNN BNP BNK BPS CBA CEA COI DALYs DSM IV TR GDP HIV IDU LSD LSM NAPZA NARKOBA NSDUH NTB OD ONDCP PHK Puslitkes UI PSK Pemda QALYs RDS RP RT RW SAMSHA SLTA SMU SLTP SD TB THC TV UN UNODC Acquired Immune Deficiency Syndrome Amphetamine Type Stimulants British Medical Journal Badan Narkotika Nasional Badan Narkotika Propinsi Badan Narkotika Kabupaten Biro Pusat Statistik Cost-Benefit Analysis Cost-Effectiveness Analysis Cost-of-Illness Disability Adjusted Life Years Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision Gross Domestic Product Humman Immunodeficiency Virus Injecting Drug User Lysergic Acid Diethylamide Lembaga Swadaya Masyarakat Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain National Survey on Drug Use and Health Nusa Tenggara Barat Over Dosis Office of National Drug and Policy Pemutusan Hubungan Kerja Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Pekerja Seks Komersial Pemerintah Daerah Quality Adjusted life Years Respondent Driven Sampling Rupiah Rukun Tetangga Rukun Warga Substance Abuse and Mental Health Services Administration Sekolah Lanjut Tingkat Atas Sekolah Menengah Umum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Dasar Tuberculosis tetra-hidro-kanabinol Televisi United Nation United Nations Office on Drugs and Crime Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .

23 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 2009 Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna narkoba di Indonesia. Tabel 2. 2008-2013 17 19 21 22 Tabel 7. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai 6 sumber Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan 10 narkoba di Indonesia. 2008-2013 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.Halaman | 5 DAFTAR TABEL Tabel 1. 2009 (median) Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Tabel 6. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba. Tabel 5. Tabel 4. tahun 2008 Tabel 3. tahun 2008 .

Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).4 trilyun (2008) terdiri atas Rp. dan 7% pecandu suntik. tahun 2008 . DI Jakarta. yang dilaksanakan tahun 2004. Sulawesi Tenggara & Papua. Metodologi. keluarga penyalahguna. 3) mempelajari pola peredaran narkoba. Kedua. Lokasi studi di 17 provinsi. medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. besaran biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari biaya hitungan studi ini. DI Yogyakarta. penyalahgunaan narkoba meningkat pesat. Dalam periode tahun 2001 sampai 2006. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. pengamatan prospektif penyalahguna. Bali. 2005). memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan. Nusa Tenggara Barat. Terakhir. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death).4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp. sebagian besar (58%) untuk biaya konsumsi narkoba. dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. LSM. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 3. Kepulauan Riau. Hasil. 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.23. Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai.1 juta sampai 3. Sulawesi Selatan. dan pecandu (suntik dan bukan suntik).32. seperti coba-pakai. Dengan total kerugian biaya sekitar Rp. Hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp. dan lembaga pemasyarakatan. Fakta bahwa sebagian besar penyalahguna merupakan remaja dan berpendidikan tinggi yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai. Sumatera Selatan. teratur pakai. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. yaitu Kalimantan Barat. Jawa Barat.5 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp.57. Kalimantan Timur. kerugian diperkirakan Rp. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya. Sulawesi Utara.Halaman | 6 Abstrak Pendahuluan. panti rehabilitasi. 26. terdistribusi atas 26% coba pakai. Pertama. Jawa Tengah. mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. teratur-pakai. Dampak ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang yang sangat besar ini menggarisbawahi upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba sebagai upaya yang sangat mendesak. Pada biaya private. Jawa Timur. 27% teratur pakai. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. 5.6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI. Sumatera Utara.9 trilyun adalah biaya sosial. Di Indonesia. Data dikumpulkan melalui survei dikalangan penyalahguna narkoba. 2002). Lampung.0 trilyun di tahun 2013. kepolisian. Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. serta studi kualitatif ke berbagai sumber seperti penyalahguna/mantan. laki-laki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%). Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004. 40% pecandu bukan suntik. 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba.32.6 juta orang atau sekitar 1. Tujuan. Menurut jenis kelamin.6 trilyun atau $2. bandar.

Halaman | 7

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

1. Pendahuluan
Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Di Amerika Serikat kerugian biaya ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai $181 milyar (UNDCP, 2004), sedangkan di Canada $8,2 milyar pada tahun 2002 (Rehm, 2006). Di Australia kerugian mencapai sekitar $8,190 juta pada tahun 2004/2005 (Collins, 2008). Perbandingan kerugian biaya narkoba terhadap gross domestic product (GDP) di Amerika Serikat sebesar 1,7%, Canada 0,98%, Australia 0,88% dan Perancis 0,16% (UNDCP, 2004). Di Indonesia, kerugian diperkirakan Rp.23,6 trilyun atau $2,6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI, 2005). Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir penyalahgunaan narkoba meningkat pesat, baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Hasil sitaan barang bukti, misalkan ekstasi meningkat dari 90.523 butir (2001) menjadi 1,3 juta butir (2006), Sabu dari 48,8 kg (2001) menjadi 1.241,2 kg (2006). Jumlah tersangka meningkat dari 4.924 orang tahun 2001 menjadi 31.635 orang tahun 2006 (Mabes Polri, 2007). Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Dengan latar-belakang di atas, Badan Narkotika Nasional bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia melakukan pemutakhiran data studi biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2008.

2. Tujuan
Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu (suntik dan bukan suntik); 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba 3) mempelajari pola peredaran narkoba; 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 8

3. Tinjauan Pustaka Singkat 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba
Banyak konsep dan definisi operasional penyalahgunaan narkoba. Menurut Ritter & Anthony (1991) coba pakai (new initiation) didefiniskan apabila frekuensi penggunaan per tahun 6 kali atau kurang. Sedangkan Todorov et al. (2006) menetapkan 5 kali atau kurang sebagai mencoba, lebih dari 5 kali per tahun sebagai lebih dari mencoba, disebut pengguna teratur bila memakai setiap hari selama minimal 2 minggu. Menurut Meyer (1975), penggunaan narkoba lebih dari satu kali sehari dalam periode 10 sampai 14 hari atau lebih termasuk kategori ketergantungan obat. SAMHSA (2008) membagi perilaku pakai atas tiga kategori yaitu 1) penyalahguna seumur hidup (lifetime use), minimal sekali pakai narkoba dalam seumur hidup, termasuk penyalahgunaan 30 hari atau 12 bulan lalu. 2) penyalahguna tahun lalu (past year use), waktu pakai narkoba terakhir kali dalam 12 bulan lalu termasuk 30 hari lalu sebelum wawancara, 3) penyalahguna bulan lalu (past month use), waktu pakai narkoba terakhir dalam 30 hari lalu sebelum wawancara. Secara garis besar cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dimulai dari bukan penyalahguna hingga coba pakai (eksperimetal), menengah (moderate), penyalahguna berat (heavy use). Tinjauan atas beberapa penelitian dilakukan oleh Elinson (1974) seperti yang ditelusuri oleh Kandel (1975), menghasilkan beberapa definisi dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan pola penyalahgunaan atau tingkat ketergantungan dengan lebih rinci (Tabel 1).
Tabel 1. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai sumber
Experimental 1-2 kali (Mizner, 1973) Occasional 3-9 kali (Mizner) Casual 1-20 kali (Stanton) Moderate use 10-29 kali (Mizner) Regular Minimal 1 kali per minggu (Johnson) Heavy users 21-199 kali (Stanton) Habitual, cronic > 200 kali (Stanton) >30 kali (Mizner) 3 kali seminggu dalam 3 tahun atau lebih atau pakai tiap hari selama 2 tahun (Hochman $ Brill, 1973)

1-2 kali (Josephson, 1973)

3-59 kali (Josephson, 1973)

Satu atau lebih dari 1 bulan (Johnson)

1-9 kali (Josephson, 1972) < 1 kali dlm 1 bulan (Johnson)

10-59 kali (Josephson, 1972) 10 kali satu tahun terakhir (Hochman& Brill, 1973) min 1 kali/ bulan (Johnson)

> 60 kali (Josephon) 3 kali per minggu atau > 1 bln pakai (Robins)

Sumber : Kandel, 1975

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 9

Ada pula yang mengembangkan kombinasi pengukuran diatas, untuk mengetahui tingkat ketergantungan (dependesi) melalui kriteria DSM-IVTR (Todorov et al., 2006) dan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (SAMSHA, 2008).

3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba
Markandya dan Pearce (1989) mendefinisikan biaya total penyalahgunaan narkoba adalah private cost ditambah biaya sosial. Biaya private adalah biaya terkait konsumsi dan produksi narkoba, sedangkan biaya lain yang terkait dengan narkoba dan dibebankan bukan pada penyalahguna tetapi pada masyarakat dikategorikan sebagai biaya sosial. Schauffler (2001), Collins & Lapsley (2004) mengakui pendapat para ahli ekonomi yang membedakan biaya akibat narkoba. Studi biaya narkoba banyak yang memasukkan tiga jenis biaya utama yaitu biaya pelayanan kesehatan, biaya produktivitas, biaya terkait hukum dan pengadilan (Single et al, 2001). Beberapa negara maju membuat estimasi biaya penyalahgunaan narkoba mengacu pada ”The International Guidelines” (Single et al, 2001). Namun metodologi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada negara-negara berkembang karena keterbatasan dan ketersedian infrastuktur datanya, misalkan tidak tersedia angka incidence dan prevalence narkoba, kematian & kesakitan, kriminalitas, kesehatan, dan sebagainya (Single et al. 2001).

4. Metodologi 4.1. Desain Studi
Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Jumlah penyalahguna narkoba diperoleh dengan mengalikan angka prevalensi penyalahguna narkoba dengan populasi berisiko, yaitu penduduk yang berumur 10 sampai 59 tahun. Angka prevalensi diperoleh dari hasil survei narkoba berskala nasional yang telah dilaksanakan BNN, seperti survei penyalahgunaan narkoba di kelompok pelajar & mahasiswa tahun 2006 dan di kelompok rumah tangga tahun 2005. Untuk memperkuat analisis estimasi dilakukan penelusuran pustaka dari berbagai literatur. Untuk mendapatkan angka probabilitas perilaku berisiko dan biaya satuan per orang akibat narkoba, maka dilakukan survei dikalangan penyalahguna narkoba. Cara pengambilan sampel dengan memodifikasi metode respondent driven sampling

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

DI Jakarta. Jumlah sampel penyalahguna terpilih sebanyak 2. Penyalahguna pecandu adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun dengan frekuensi atau jumlah pakai narkoba lebih dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu bukan suntik) dan atau pernah menggunakan narkoba dengan cara suntik dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu suntik). yaitu coba pakai. Jawa Barat. lembaga swadaya masyarakat (30). Dan studi observasi selama 1 bulan ke depan terhadap 108 orang di 10 provinsi. dan pecandu. Bali. Survei tambahan dilakukan pada kelompok coba pakai dengan metode purposive sampling untuk 403 orang di semua lokasi. keluarga penyalahguna (39). Sulawesi Tenggara & Papua. Kalimantan Timur. mengkalkulasi hasil perhitungan antara hasil point 1 dengan point 2 diatas untuk mendapatkan perkiraan biaya kerugian penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. Sumatera Utara. Jawa Tengah.3. Definisi Operasional Definisi operasional penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 tingkatan.Halaman | 10 (RDS). Setelah diperoleh nilainya. Penyalahguna teratur pakai adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun (selain cara suntik) dimana frekuensi atau jumlah pakai narkoba kurang dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara. panti rehabilitasi (28). yaitu: Kalimantan Barat. teratur pakai. Nusa Tenggara Barat. dilakukan studi costing di rumah sakit untuk mendapatkan biaya perawatan dan pengobatan bila ada IDU yang sakit karena HIV/AIDS dengan sampel sebanyak 98 pasien. Pecandu dipilah menurut faktor risiko. terdiri atas: kepolisian (23). Lokasi di seluruh propinsi tersebut berada di ibukota tiap propinsi. penyalahguna/mantan (42). Selain itu. serta wawancara dengan kuesioner terstruktur. Jawa Timur. 4. Definisi penyalahguna coba pakai adalah mereka pernah mengkonsumsi jenis narkoba apapun maksimal sebanyak 5 kali dalam seumur hidupnya. Sumatera Selatan. Sulawesi Selatan. dan bandar narkoba (30). yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. Pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam ke berbagai informan (216 orang). lalu nilai tersebut di proyeksikan untuk periode tahun 2008-2013 dengan menggunakan berbagai asumsi. Sulawesi Utara.143 orang (teratur & pecandu). petugas lapas (24). Lampung. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Lokasi Studi Lokasi studi di 17 propinsi di Indonesia. Terakhir. DI Yogyakarta.2. Periode pengumpulan data bulan Agustus sampai Oktober 2008. tahun 2008 . 4. Kepulauan Riau.

Sehingga biaya-biaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba yang dikeluarkan pemerintah tidak dihitung dalam studi ini. dan pecandu berdasarkan jumlah frekuensi pemakaian dan cara pakainya. Misalkan. 1 www. • Biaya ekonomi yang dihitung dalam studi ini pada periode 12 bulan lalu sebelum wawancara. teratur pakai. Untuk sumber data populasi penduduk diperoleh dari website yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Australia Nasional University (ANU)1.4. biaya pengungkapan kasus pihak kepolisian. Untuk itu. provinsi yang tidak di survei menggunakan asumsi data dari provinsi terdekat yang di survei sebagai masukan datanya. Sedangkan laporan studi ini mencerminkan seluruh provinsi (33) di Indonesia. atau detoks/rehab dua tahun yang lalu maka tidak dihitung dalam studi ini. • 5. biaya penyediaan penjara. pernah dirawat di rumah sakit.com Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. yaitu September 2007 sampai Agustus 2008. Prevalensi Penyalahguna Perkiraan besaran angka penyalahgunaan narkoba diperoleh dari perhitungan model matematis dengan formulasi berikut: angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dikalikan dengan populasi penduduk berisiko (usia 10-59 tahun).Halaman | 11 4. Angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa tahun 2006 dan survei narkoba di rumah tangga tahun 2005. tahun 2008 . 2006). Di kelompok pecandu dipilah lagi menjadi pecandu suntik dan pecandu bukan suntik.1. Sumber data populasi pelajar diperoleh dari buku saku yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas. Angka prevalensi dipilah menjadi 3 kategori menurut jenis penyalahguna yaitu coba pakai. biaya adanya Badan Narkotika Nasional. Sehingga biaya-biaya yang dihabiskan dan dikeluarkan diluar periode waktu tersebut tidak dihitung. dan sebagainya. Angka prevalensi penyalahguna dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa per provinsi. Hasil 5.datastatistik-indonesia. Misalkan pernah melakukan tindakan kriminalitas. Survei penyalahgunan narkoba dilakukan di 17 provinsi untuk mendapatkan probabilitas perilaku dan biaya satuannya setiap konsekuensi narkoba. bukan dari perspektif pemerintah. Keterbatasan Studi Berikut adalah keterbatasan dalam studi ini: • Perspektif perhitungan biaya studi dari sisi penyalahguna narkoba (klien).

27% teratur pakai. Penyalahguna teratur pakai kebanyakan berada pada kelompok bukan pelajar (60%).379 1.653.581 253.478 202.056 53.858 46.702 238. tahun 2008 Jenis Penyalahguna Coba pakai minimal maksimal Teratur pakai minimal maksimal Pecandu Bukan Suntik minimal maksimal Pecandu Suntik minimal maksimal Total Lahgun minimal maksimal 1. Kelompok bukan pelajar/mahasiswa semakin besar proporsinya pada jenis penyalahguna ini mencapai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.124.435 215. Coba pakai.008 27.022 1.197 132.669 792.988 340.480 218.322 807.971 35. Jumlah pecandu bukan suntik diperkirakan sebanyak 1.45 juta orang. Jumlah penyalahguna teratur pakai sekitar 829ribu – 959ribu orang yang sebagian besar didominasi oleh laki-laki (89%).718 990. Tabel 2.578 22.169. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. Jawa Tengah (15%). dan 7% pecandu suntik.461 516. Penyalahguna coba pakai lebih banyak di kelompok pelajar (90%). Jumlah penyalahguna narkoba coba pakai diperkirakan 807ribu – 938ribu orang yang sebagian besar adalah laki-laki (85%). dan Jawa Tengah (14%).400 1. lakilaki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%). Jawa Timur (18%).719 125.186 185. dan Jakarta (10%). Menurut jenis kelamin.917.950 12. Mereka kebanyakan berasal dari kelompok pelajar (90%).148 145.1 juta sampai 3.866 1.252. Pecandu bukan suntik.114.724 32. sedangkan pada teratur pakai dan pecandu lebih banyak terjadi di bukan pelajar/mahasiswa.520 154.282 33.294 145. Jawa Barat (14%).814 959.075 19.422 6.223 1.762 Teratur pakai.610.080.078 205. Pada kelompok pecandu narkoba terdiri atas 2 jenis.25 juta sampai 1. Propinsi yang memiliki kasus terbesar berada di Jawa Timur (15%).898 710.359 741.941 1.180 10. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik.180 440.304.149.676 1.026 88.716 682.085 61.140 829. terdistribusi atas 26% coba pakai.258.857 174.448 857.908 133. terutama laki-laki.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008.274 5.041 Pelajar Laki Perempuan Bukan Pelajar Laki Perempuan Laki Keseluruhan Perempuan Total 133.850 39.459.484 2. Penyalahguna teratur pakai paling banyak berada di Jawa Barat (23%).6 juta orang atau sekitar 1.833 113.817 938.635 155.281 40. 40% pecandu bukan suntik.146 38.577 169.819 294.935 380. tahun 2008 . Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.502 1.943 132.538 114.Halaman | 12 Dari hasil kalkulasi diperkirakan jumlah penyalahguna sebanyak 3.884 3. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).781 446.772 82.734.166 611.234 3.366 102.055 3.607 70.

Sedangkan pada teratur pakai dan pecandu bukan suntik kebanyakan mahasiswa (32% dan 24%). Pecandu suntik lebih banyak yang tinggal bersama orangtuanya (64%) dibandingkan jenis penyalahguna lainnya. dimana proporsi terbesar berada di kelompok pecandu suntik. Lebih dari separuh responden mengaku masih tinggal bersama orangtuanya (58%) dan sekitar seperempatnya tinggal di rumah kost atau kontrakan. hanya 9% dari penyalahguna adalah perempuan. mereka yang masih minum alkohol sebanyak 81%. 5. Riwayat dan pola konsumsi narkoba. Karateristik penyalahguna Dari hasil survei dikalangan penyalahguna narkoba. tahun 2008 . Ganja (66%) dan obat penenang/barbiturat (21%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali oleh responden. Pecandu suntik kebanyakan berstatus tidak bekerja (34%). Umur pertama kali pakai narkoba kebanyakan usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA. Dalam setahun terakhir. Alasan yang Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pecandu suntik. Hampir seluruh responden pernah merokok (99%). Mereka yang berstatus mahasiswa/pelajar sebanyak 28%. Ada sekitar 93% dari responden yang pernah minum alkohol. Populasi pecandu suntik paling banyak di propinsi DKI Jakarta (14%). terutama di teratur pakai (12%). diketahui lebih dari separuh responden berada pada kelompok umur 20-29 tahun (68%). terutama para pecandu suntik. Kejadian pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (79%) lebih tinggi dibandingkan pada pelajar/mahasiswa (21%). Sekitar seperempat responden tidak bekerja. dan mereka yang masih aktif merokok dalam setahun terakhir sebanyak 95%.Halaman | 13 88%. Dimana pecandu bukan suntik kebanyakan berada di provinsi Jawa Barat (19%) dan Jawa Timur (16%). Demikian pula dengan minum alkohol. Sebagian besar telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi (80%). Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba Dari hasil survei dikalangan penyalahguna diketahui beberapa perilaku penyalahguna sebagai berikut: Merokok dan alkohol.2. Sebagian besar penyalahguna adalah laki-laki. 5. Jawa Barat (14%) dan Jawa Timur (13%). Pecandu suntik diperkirakan sebanyak 218ribu sampai 253ribu orang. yaitu minimal telah tamat SLTA ke atas. Sekitar seperempat responden berstatus menikah. sedangkan yang mengaku bekerja kebanyakan adalah pegawai swasta (15%) dan wiraswasta/ pedagang (12%).3.

enak banget aja deh kayak di surga” (BD-1. lebih dari separuh (61%) responden masih mempraktekan penggunaan narkoba lebih dari satu jenis (poly drugs). 80% dari pecandu suntik telah diketahui oleh keluarganya.. susah euy. heueuh. ada perbedaan jenis narkoba yang populer dikalangan mereka. jadi berani. dibandingkan pecandu bukan suntik dan teratur pakai (78%).. dan sakit. Ganja (71%) masih tetap paling banyak disebut dalam pemakaian narkoba setahun terakhir. Bahkan. Jenis narkoba lainnya adalah shabu (38%). pokoknya cocok ni. Bahkan ada sebagian dari Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. ternyata ada sekitar sepertiga (33%) dari anggota keluarga responden juga penyalahguna narkoba. “Obat-obatan seperti Sanax. dan putau bubuk (32%) adalah jenis narkoba yang paling populer dipakai dikalangan responden. jadi pengawasan saya kurang. terutama para pecandu suntik (87%) dalam setahun terakhir. Ganja (92%). “Kurangnya perhatian. Shabu (64%). namun tidak untuk kelompok teratur pakai (36%).. dimana pecandu suntik paling banyak frekuensi pakai narkobanya. orang kalo ga kenal gituan ga keren tuh. putaw.3. Para pecandu suntik (98%) lebih tinggi yang melakukan “poly drugs”. cuma saya sibuk kerja.3.P3).. awalnya gitu aja deh.. stokun. ga macho. “.1. di pecandu suntik adalah putau bubuk. Camlet. tahun 2008 . fly. Sayangnya.”(PN-9. Sekitar 83% dari responden pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba (poly drugs). ekstasi (30%). Tidak hanya itu. kecuali ganja.2. kurangnya informasi tentang narkoba dan kurangnya pengawasan orang tua.P2). obat penenang/barbiturat (52%). Putaw. Jadi saya sibuk kerja. putau bubuk (15%) dan methadon (13%).. Dari hasil identifikasi pada kelompok pecandu suntik. pengaruh pergaulan. “. Bisa kumpul sebagai 1 keluarga itu gak ada.Halaman | 14 diungkapkan pakai narkoba karena ingin coba-coba.08. perbandingkan median frekuensi pakai antara pecandu suntik (720 kali pemakaian) dengan teratur pakai (20 kali pemakaian) dalam setahun terakhir. nah itu lah akhirnya jadi begitu” (KPN-1.10.. shabu... terus pergaulan. di pecandu bukan suntik & teratur pakai adalah shabu. berani abis. Lihat. jadi coba-coba. lexotan. Suami di Bandung. rumah tangga saya gak harmonis sama suami. Ekstasi (54%). over dosis. Menurutku yang paling mahal shabu. Cimeng. ga laki kata orang kan..05.. obat penenang (28%).2. Jika dilihat dari jenis penyalahguna. Semua masih dipake saat ini.P1). Informasi tersebut bagi pihak anggota keluarga sebenarnya sudah terlambat karena rata-rata mereka sudah pakai narkoba lebih dari 5 tahun.1. ganja. Lebih dari separuh penyalahguna telah diketahui statusnya sebagai penyalahguna narkoba oleh pihak keluarga (53%).namanya pil BK itu.2.03. tapi efeknya paling enak putaw” (PN-1.pertamanya pergaulan sih. Subutex. tapi dalam tanda kutip perhatian dah cukup.jenis narkoba yang pernah dipakai pil hypnoril. Misalkan. kan nambah metal tu. Ada perbedaan banyaknya jumlah konsumsi narkoba. saya di Jakarta. Feri butuh uang saya kasih.2. ee ternyata enak. pada umumnya keluarga mereka baru mengetahui ada anggota keluarganya yang menyalahgunakan narkoba setelah ada kejadian tertentu seperti tertangkap polisi..P1). Dari semua yang pernah dipake paling enak putaw Duh enak banget.

sedangkan perempuan 42 bulan. Sekitar 85% dari responden pernah melakukan hubungan seks. Hanya sekitar 9% saja yang selalu pakai kondom. yaitu 1 kali dalam sehari. yaitu shabu (40%). Ada 5 keluhan yang banyak diungkapkan. Angka prevalensi pakai narkoba suntik pada perempuan (69%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (62%) dalam setahun terakhir. Tidak ada perbedaan median umur pertama kali pakai narkoba suntik antara laki-laki dan perempuan.dari situlah saya baru mengetahui jika dia adlh pemakai” (KPN-4. Sayangnya hampir separuh dari responden ketika berhubungan seks tidak pernah pakai kondom dalam setahun terakhir.05. Sekitar tiga per empat responden (76%) mengaku punya keluhan masalah kesehatan. sebagai pemakai di sekitar sini. yaitu 19 tahun. “Saya tidak tahu pasti. laki-laki lebih lama sebagai penyalahguna narkoba suntik yang digunakan secara teratur. ganja (36%) dan ekstasi (32%). dengan median usia pertama kali umur 17 tahun. Namun. Tidak ada perbedaan jenis narkoba yang disuntikan antara laki-laki dan perempuan.3. Pecandu suntik (92%) lebih banyak yang pernah melakukan hubungan seks dibandingkan kelompok lainnya.01. Ada sekitar sepertiga dari responden yang mengaku sebagai pecandu suntik. yaitu: rasa mual (45%).2. dengan nilai median 60 bulan. yaitu putau bubuk dan subutek. selera makan berkurang (48%). ternyata emang sudah target.. Kejadian penyakit dikalangan penyalahguna. Paling tidak ada 3 jenis narkoba yang banyak disebut terkait dengan hal itu. tapi saya mengetahuinya pada saat dia sedang sakit di RS itu. tahun 2008 . Dengan frekuensi pemakaian jarum suntik baru pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. “Saya mulai tahu dia pake narkoba sekitar tahun 2004.karena dia pada saat itu dia ketangkep. Dalam setahun terakhir. dengan median jumlah jarum suntik baru sebanyak 15 dan 10 buah per bulan. Seks dan Narkoba...Halaman | 15 informan yang menyatakan bahwa mereka baru tahu anaknya pakai setelah teridentifikasi mengidap HIV/AIDS. rasa sesak pada Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.” (KPN7. mereka yang pernah berhubungan seks sekitar 73%. sekitar 1 dari 10 orang pernah melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. dimana kebanyakan dilakukan oleh laki-laki (80%). Narkoba dianggap dapat meningkatkan libido untuk berhubungan seks.3.2. Penyalahguna narkoba suntik.P2). Dengan median frekuensi pemakaian narkoba suntik sama besar.P4)..Waktu diambil sampel darahnya utk keperluan pemeriksaan golongan darah. Saat ini ada dua jenis zat/narkoba yang paling banyak disuntikan ke dalam tubuh. terutama para pecandu suntik. Prevalensi yang pernah pakai narkoba suntik lebih tinggi pada laki-laki (35%) dibandingkan perempuan (26%). Dari mereka yang pernah berhubungan seks.

.1. ada sekitar 20% yang menyatakan didiamkan saja.P13). dan puskesmas (22%). lebih dari separuh responden menyatakan tindakan yang dilakukan adalah ditolong atau dirawat oleh teman (55%). Kalau untuk orang dewasa Rp. Hampir separuh dari responden yang menanggung biaya pengobatan tersebut adalah pihak keluarga (49%) dan pihak responden sendiri (48%). terutama di kelompok teratur dan pecandu bukan suntik. dia bawa gua kesalah satu dokter”H”. “.20 ribu. Ada sekitar 1 dari 10 responden penyalahguna pernah mengalami overdosis. rumah sakit pemerintah (27%). gue dibantu LSM. sekitar 37% melakukan pengobatan sendiri dengan cara membeli obat medis/modern (71%). Secara detail. Hampir sebagian besar informan menyatakan seringkali mereka kurang memperhatikan gejala-gejala penyakit yang dirasakan dan malas untuk berobat ke dokter. trus malamnya gua dibawa konseling. mereka yang pernah Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.. tetapi orang lain yang menemani responden saat dirawat inap lebih rendah (13%). Mereka yang melakukan rawat jalan. dan itu sudah bisa dibilang stadium tinggi.80 ribu tiap bulan” (PN-1.P13). Ketika terjadi overdosis.dan nyokap gua nangis. Separuh responden pecandu suntik menyatakan tindakan yang dilakukan adalah perawatan medis (52%). gua dibawa kepanti rehabilitasi.08. Setelah positif dua tahun kemudian minum ARV. Dari mereka yang punya keluhan. Bokap jemput kekosan gua. kalau jalan maunya pipis terus.1. Karena udah kronis. Selain itu.” (PN-5.6.Halaman | 16 dada (43%). Namun. Kebetulan anak gue juga uda minum ARV. mereka yang pernah mengalami kejadian overdosis dalam setahun terakhir sangat rendah (2%). kuku kuning dan badan gua kuning semua. “Gua sering demam-demam tapi gua biarin aja. Sedangkan mereka yang dirawat inap. Akhirnya september tahun 2000 . Detoksifikasi & Rehabilitasi. tapi HEP C ada. Selanjutnya. Namun.. Lebih dari separuh responden (60%) menyatakan diantar oleh orang lain ketika berobat rawat jalan. yaitu 1 dari 4 responden (28%).. trus gua langsung masuk herna. Bagi penyalahguna lebih memilih uangnya untuk membeli narkoba dari pada untuk biaya pengobatan. Gua pernah satu hari. terutama para pecandu suntik (15%). kebanyakan pergi ke praktek dokter (43%). Ditemukan ada sebanyak 9% biaya pengobatan ditanggung oleh kartu/SKTM/Jamkesmas. kalau anak-anak Rp. trus gua langsung detoksikasi. rasa sakit pada ulu hati (36%). Ada sekitar 8% dari responden yang pernah minimal melakukan satu kali tindakan detoksifikasi ataupun rehabilitasi. Para informan pergi berobat ke dokter setelah merasakan gejala penyakitnya bertambah parah. tahun 2008 . Gua dikasih tahu untuk saat ini tidak ada virus HIV. Kejadian overdosis.6.jadi sejak tahu status. dan hanya 2% yang pernah melakukannya sebanyak 2 kali. ada sebanyak 24% yang melakukan rawat jalan dan 3% yang harus menjalani rawat inap. Pertengahan bulan gua dipanggil lagi sama dokter dan ada orang tua. Bahkan di kelompok pecandu suntik kejadian overdosis jauh lebih tinggi. akhirnya gue jalan aja udah ga bisa. Ambilnya di klinik Teratai di RSHS. dan rasa lelah (fatigue) berkepanjangan (35%). kebanyakan di RS pemerintah. Gua biarin cuma berobat ke HERNA tapi belum dibilang itu HEP C.02..

“Kalau jual motor diem. janm 12-1 malam gua mandi.05.4.. aku ga pengen anak aku ini cacat kan. bayangin orang kepanasan jam 12 siang gua kedinginan. karena bini aku udah bunting 4 bulan. ngambil duit 325 juta... kalo ga nge-boti pala gua migraine. misalkan mencuri ataupun merampok.. saaakit badan gua. tidak seluruh responden pernah melakukan tindak kriminalitas. Bahkan masih ada sekitar 15% yang melakukan upaya tersebut dengan frekuensi sebanyak 6 kali pada tahun lalu. berak ampe keluar darah. yang disebabkan ketiadaan akses layanan.2. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dan 0. Tindak Kriminalitas. Tindak kriminalitas tersebut masih terus dilakukan dalam setahun terakhir (13%)..” (PN9.. Upaya pengobatan sendiri untuk bebas dari ketergantungan narkoba. Hampir sepertiga dari responden pernah melakukan upaya tersebut.P9). kaya yang tadi gua ceritain kan. nah. lo bayangin. ngegigill. enakan digebuki orang dari pada gua nahan sakau.7% dilakukan setahun terakhir. dan 2% dilakukan setahun terakhir. Kebanyakan tindak kriminalitas tersebut dilakukan di tingkat keluarga (66%). Sedangkan yang pernah melakukan tindakan keduanya sebanyak 2%.diem kalau pekarangan ibu sudah meninggal dapat tiga tahun ada surat. ngebobol brangkas bokap. terutama dikalangan pecandu. “. terutama pada kelompok teratur pakai (80%).Halaman | 17 detoksifikasi sebanyak 5%. tuh.4. itu waktu orang kedinginan gua kepanasan.P1).05.. urat-urat ini kaya di isi jarum kalo mo tahu.. itu aja.11.... Hanya 38% yang pernah melakukan tindak kriminal tersebut.” (PN-8. Namun mereka yang mengalami kejadian tersebut sekitar 17% dengan median jumlah kecelakaan sebanyak 1 kali pada tahun lalu. gua itu berhentinya mendadak. Data ini memperlihatkan masih sangat rendahnya akses layanan untuk detoksifikasi maupun rehabilitasi. bandingkan dengan teratur pakai hanya 15%. Namun. Berdasarkan pengakuan. Bagi sebagian penyalahguna menganggap dengan pasang badan bisa lebih efektif untuk lepas dari ketergantungan narkoba dibanding jenis pengobatan lainnya. Sedangkan mereka yang pernah rehabilitasi sebanyak 8%. para responden telah berupaya melakukan pengobatan sendiri..3. dan kebanyakan dilakukan oleh para pecandu suntik (61%)..pernah.suratnya saya bilang kebapak ini pekarangan pingin saya jual tapi sempet kurang boleh tapi karena dibawah pengaruh obat itu jadi nekat aja udah hilang langsung laku” (PN-10.P9)...1.mimisan. Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas.. tahun 2008 . karena dalam upaya tersebut didasari atas kesadaran sendiri. jadi terpaksa aku berhenti total.. pake ganja tuh berhentinya tu.. membeli obat bebas.. Dalam upaya berhenti dari kecanduan narkoba. ataupun ketidakmampuan membayar layanan tersebut. “waduh. Lebih dari sepertiga responden (35%) pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. tindak kriminalitas pada orang lain lebih banyak dilakukan oleh para pecandu suntik (28%).. ketidaktahuan dari responden. misalkan pasang badan.3. dan sebagainya. kalo bisa milih. Kebanyakan yang pernah melakukan tindakan tersebut para pecandu suntik (58%).

hanya ada 1 dari 20 penyalahguna yang tertangkap pihak kepolisian.10.3. terutama di pecandu suntik. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. ada 1 dari 10 responden (11%) pernah mempraktekan sebagai kurir narkoba. Penyebarluasan narkoba & harga pasaran. Dengan informasi data tersebut. “Dulu otomatis mbak. Satu dari 5 penyalahguna pernah ditangkap pihak kepolisian terkait urusan narkoba. Hampir separuh responden tersebut adalah para pecandu suntik (47%). eh. Ditemukan masih ada 26% dari responden yang merasa aktivitasnya terganggu setelah mengkonsumsi narkoba dalam tahun lalu. Hampir sepertiganya (31%) adalah pecandu suntik. Penyalahguna mengakui ada aktivitas yang terganggu akibat mengkonsumsi narkoba. Pada tahun lalu. tapi dari belakang. Ranking juga 2 dan 3 juga.Halaman | 18 Penangkapan Oleh Pihak Kepolisian.P1). Dengan menggunakan angka persentase tersebut per provinsi. Teman responden yang pakai dan mati karena narkoba. Karena beda. diperkirakan jumlah penyalahguna yang mati ada sebanyak 14. Langsung. Mereka yang mengakui hal ini ada sebanyak 41%. males bangun tidur.. dengan median umur 27 tahun.” (PN-3. di luar lingkungan sekolah.3. Dengan tingkat kematian teman dikalangan pecandu suntik sebesar 15%.2.P7).. terutama para pecandu suntik (46%). dengan median frekuensi tertangkap sebanyak 1 kali. Teman yang meninggal tersebut kebanyakan laki-laki (93%). masih ada sebanyak 3% dari penyalahguna yang dipenjara. proyek (order) pada mundur. Biasanya beli 1 gram untuk 3 hari. Teman pecandu suntik lebih sedikit dibandingkan pecandu lainnya. Jadi malesan. Dalam upaya mencari penyalahguna baru. Dalam tahun lalu. “Ya mengganggu! jadi banyak yang terbengkelai. saat aku ada dilingkungan mereka. Aktivitas Pribadi Terganggu. sedangkan dikelompok pecandu bukan suntik 3% dan teratur pakai 1%. terus meremehkan” (PN-8. sekitar separuh responden (52%) pernah menawarkan narkoba ke orang lain. “Frekuensi makai putaw 3-4 kali sehari.09.2. Jadi dulu aku SMP itu selalu ranking.. Namun. terutama para pecandu bukan suntik (57%)..2. misalkan tidak sekolah atau bekerja. diketahui angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebesar 5% per tahun.08. lumayan buat nambahin beli” (PN-1. Ngaruh banget. Ditanyakan pula teman sesama penyalahguna yang meninggal dunia terkait narkoba dalam tahun lalu. Aku kelas 2 pindah sekolah udah kenal itu. ngaruh banget mbak. Jejaring penyalahguna narkoba perlu diketahui. tahun 2008 . Ranking 2. terutama para penyalahguna suntik.. Ada satu dari 10 penyalahguna (13%) yang pernah dipenjara terkait dengan narkoba.1.894 orang pada tahun lalu. Selain itu... Tanggung jawab jadi kurang.. Hampir sepertiga (31%) dari responden pernah menjual narkoba. Beli segitu sekaligus jualin kalau ada teman yang mau. Ranking 3. mereka yang mempraktekan menjual narkoba dalam setahun terakhir telah jauh berkurang hanya 8%. Pengalaman di Penjara. Nilai median jumlah teman sesama pengguna yang masih hidup sebanyak 10 orang.P7). salah satunya dengan menanyakan jumlah teman sesama pemakai narkoba. Jumlah median teman narkoba yang meninggal ada sebanyak 3 orang.

000 ke tempat lain seperti perkampungan. Tabel 3. Ekstasi 1 butir 137. Selain itu. tempat kos dan lokasi Heroin 1 paket 100. Gambaran hasilnya adalah sebagai berikut: Biaya pengobatan dipilah menjadi rawat jalan dan rawat inap. seperti pengakuan salah seorang bandar.000 studi mulai terlihat peredaran narkoba Subutex 2 mili 26. mereka yang punya 1-3 gejala hanya sekitar Rp. tahun 2008 . Tempat transaksi sering kali di tempat ramai atau di jalanan umum.2 juta per orang. median biaya pengobatan rawat inap sekitar Rp. Tidak dengan resep dokter aja bisa keluar.500 narkoba tidak lagi terfokus di tempatKokain 1 paket 200. Biaya rawat jalan pecandu suntik lebih besar dibandingkan penyalahguna lainnya.000 dari pihak kepolisian.5 juta per orang. apotik/toko obat dapat dijadikan sumber mendapatkan narkoba racikan. Hasil studi costing di salah satu rumah sakit pemerintah di Jawa Timur menemukan bahwa secara rerata. misalkan ganja di Medan 1 Harga pasaran paket Rp. Tapi saya pernah dengar issue.9 juta per orang. dengan rentang antara Rp. Hasil survei dikalangan penyalahguna.4.1 juta sampai Rp.000 Putau bubuk 1 paket 100. Harga pasaran secara rerata Ganja 1 paket 15.73ribu sampai Rp. Peredaran Hasish 1 paket 37. “Sama di sini nich di daerah “X” ada Apotik “Y”.250 di pemukiman kumuh. menemukan rerata besar biaya untuk rawat jalan sebesar Rp.1 juta .4 juta dan rawat inap sebesar Rp 5.P3). Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba 5. 1. Sedangkan median biaya pasien rawat jalan sekitar Rp.10. Jenis Narkoba Satuan (Rp) 50.000 dapat dilihat pada tabel 3.3.Halaman | 19 Harga pasaran narkoba bervariasi antar daerah. Biaya satuan konsekuensi narkoba per orang per tahun Biaya satuan (unit cost) dari konsekuensi narkoba per orang per tahun diperoleh dari hasil wawancara dengan para penyalahguna narkoba.763ribu per tahun. dengan rentang biaya antara Rp.5000. Demikian juga dengan lama hari perawatan.5. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) 5. Demikian juga dengan biaya rawat inap.2. Ada juga yang memanfaatkan tempat orang hajatan.7 juta sedangkan yang memiliki lebih dari 5 gejala sebesar Rp. Di beberapa kota Methadon 1 gelas 5. terutama bila ada acara organ tunggal yang memutar house music. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. hal itu sengaja dibiarkan saja” (BD2.000 tempat hiburan tetapi sudah bergeser Shabu 1 paket 200. semakin lama tinggal di rumah sakit maka beban biaya yang harus ditanggung semakin mahal.4.4. Sumber pembiayaan selama di rumah sakit sekitar 48% berasal dari pemerintah melalui program Askeskin.3.000.15. sedangkan di Bali Rp.380ribu per orang per tahun. Semakin banyak gejala yang dialami oleh ODHA maka beban biaya pengobatannya semakin mahal. Apotik itu nakal. Bandingkan.1.000 lain yang kurang mendapat perhatian Putai cair 1 paket 150.500 rumah penduduk.

Biaya kerugian akibat waktu produktivitas yang hilang (loss productivity) akibat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan kelompok penyalahguna lainnya.362 ribu per orang per tahun.3 juta per orang. tahun 2008 . Biaya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.514 ribu per orang per tahun. Nilai waktu yang hilang dikonversi menjadi biaya kerugian dengan asumsi upah minimum regional per propinsi.4 juta per orang. Sedangkan biaya kerugian akibat tindakan kriminalitas lebih tinggi terjadi di keluarga sendiri dibandingkan kejadian di orang lain. Biaya ini diukur dari orang lain yang menenami responden karena sakit. Namun. Para pecandu narkoba suntik lebih banyak mengeluarkan biaya overdosis dibandingkan penyalahguna lainnya.2. Demikian pula. terutama barang yang diambil/dicuri di keluarganya.8 juta.7 juta per orang per tahun terkait dengan urusan penjara ini.8 juta. detoks/rehab.8 juta sampai Rp. Pecandu suntik mengakui lebih banyak terganggu aktivitasnya dibandingkan penyalahguna lainnya.10. sedangkan teratur pakai hanya Rp.500ribu per orang per tahun.98ribu per orang per tahun. Biaya satuan terkait urusan dengan pihak kepolisian akibat tertangkap diperkirakan sebesar Rp. Biaya detoks dan rehab memiliki kisaran sekitar Rp. diakui ada aktivitas yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. terkait urusan dengan aparat penegak hukum. Kerugian biaya satuan detoksifikasi sekitar Rp.8 juta per tahun per orang. Kerugian biaya akibat overdosis jauh lebih kecil dibandingkan biaya detoksifikasi. Kerugian biaya produktivitas akibat sakit terdiri atas rawat jalan sebesar Rp. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan pecandu suntik. terutama dikalangan pecandu suntik mencapai Rp. Dibutuhkan paling tidak sebanyak Rp.3. Akibatnya.2.5.14 juta per orang per tahun. Biaya satuan kejadian akibat kecelakaan sekitar Rp. terutama dikalangan penyalahguna suntik.16. bila urusan telah sampai ke tingkat penjara maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar lagi. kecelakaan.8. Akibat pemakaian narkoba. kerugian biaya yang ditimbulkan sekitar Rp. urusan dengan kepolisian. Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas di pecandu suntik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Kerugian kecelakaan jauh lebih besar terjadi di kelompok pecandu dibandingkan teratur pakai. Sedangkan biaya pengobatan sendiri agar terbebas dari narkoba sekitar Rp. Kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp.203 ribu dan rawat inap Rp.Halaman | 20 Biaya satuan penanganan overdosis sekitar Rp. Biaya detoksifikasi & rehabilitasi lebih mahal dibandingkan overdosis.2. Biaya untuk pengobatan sendiri untuk pecandu suntik lebih mahal.7 juta per orang per tahun. dan penjara.

pecandu bukan suntik Rp.000 PUTAU CAIR 1. Semakin berat tingkat kecanduan narkoba.440.000 600.4 juta per orang per tahun.000.000 2. Putau bubuk banyak di beli untuk dikonsumsi oleh para pecandu suntik.20.000 18.5. 2009 (median) Pecandu Pecandu Jenis narkoba Teratur non Suntik Suntik Pecandu GANJA 180.000 PUTAU BUBUK 2.000 1.470.000 1.000 1.950ribu. Sedangkan jenis narkoba lain tidak terlalu besar transaksinya.18 juta per orang per tahun. kecuali subutek. tahun 2008 .000 606. Penyalahguna di Bali paling banyak mengeluarkan biaya pembelian putau bubuk dibandingkan propinsi lainnya.2juta).800 Pada kelompok pecandu bukan suntik biaya konsumsi narkoba kebanyakan dihabiskan untuk membeli subutek.400. shabu.600.100. maka biaya satuan konsumsi semakin besar.800.004 8. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.800.000 28.450.000.000 400.800.000 3.450. 5.000 1.750 6. Tabel 4.Halaman | 21 yang dikeluarkan lebih besar ketika kejadiannya telah sampai di penjara dibandingkan ketika masih ditingkat kepolisian.000 METHADON 1.000 102.000 KOKAIN 360.000.000 1.000 1. mencapai Rp.000 HEROIN 50.500. dibandingkan kelompok lainnya (teratur Rp. dan ekstasi. Pada kelompok teratur pakai biaya terbesar dihabiskan untuk membeli putau bubuk (Rp.225. Konsumsi subutek tertinggi ditemukan di Jawa Timur.800 28.800.800.2juta) dan shabu sebesar Rp.000 9.2 juta per tahun per orang. putau bubuk hanya di temukan di Yogyakarta.800.000 SUBUTEK 9.2.000 1.000 624.330. dimana pecandu suntik menghabiskan median biaya Rp.885.4.154 SHABU 1.600. Dikalangan teratur pakai. dimana biaya yang harus dikeluarkan hampir 6 kali lipatnya.009 18.000 3.9 juta per orang per tahun.000 1. kecuali papua.100.000 3.800. dan heroin murni.200.000 840.800.800.500 600.000 1.000 EKSTASI 1.000 HASHIS 37. Biaya konsumsi narkoba per orang per tahun Biaya satuan median konsumsi narkoba diperkirakan sebesar Rp.000 1.000 1.000 5.000 1. Jenis narkoba yang juga banyak dibeli adalah putau bubuk.000 BARBITURAT 60.000 5.800.668.742.920.000 5.500 7.000 9.1.000 INHALAN 24.100. dengan nilai median konsumsi Rp.860. Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba.000 100.5.800 28.000 KECUBUNG 100.1 juta per orang per tahun.9.000 LSD 110. Shabu hampir ditemukan di lokasi studi yang disurvei. shabu.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2004 (Rp. Kecenderungan total kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2004 dan 2008 Total kerugian biaya individual akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp. tahun 2008 . Definisi tersebut lebih merujuk pada definisi yang dibuat oleh Markandya dan Pearce (1989). ganja (15%). yang terdiri dari Rp.15. 26. Biaya ekonomi yang dimaksud adalah biaya individual (private) dan biaya sosial.1). kontribusi terbesar berasal dari biaya konsumsi narkoba. Pada biaya private.5 trilyun pada tahun 2008. sebagian besar (58%) adalah biaya konsumsi narkoba. dan Jawa Tengah.0 biaya bila terjadi overdosis. putau bubuk (15%). istilah yang dipakai adalah biaya ekonomi.0 2004 karena sakit akibat narkoba. Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004 (gambar 7. biaya perawatan & pengobatan 20.3 trilyun). biaya yang terjadi Tahun akibat kecelakaan lalu-lintas. Potensial peredaran narkoba terbesar berada di Jawa Timur. Jenis narkoba yang banyak diperjualbelikan dikalangan penyalahguna narkoba adalah shabu-shabu (36%).4 penyalahguna narkoba.0 melakukan pengobatan sendiri 0.4 trilyun.6 25. biaya yang dikeluarkan karena dipenjara.Halaman | 22 5.26. 2008 15. Dari semua komponen biaya prívate.11.5.4 trilyun pada tahun 2008.0 dalam upaya penghentian 2004 2008 narkoba. Total biaya (dalam Trilyun Rp) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Jakarta. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba Dalam konteks penghitungan estimasi kerugian biaya ini. 5.9 trilyun adalah biaya sosial.5 trilyun kerugian biaya pribadi (private) dan Rp. Diperkirakan hasil estimasi kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.0 biaya melakukan detoksifikasi & rehabilitasi. biaya yang diperlukan terkait urusan ketika tertangkap pihak kepolisian karena narkoba. biaya untuk 5. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). Gambar 1. yaitu sekitar Rp.0 termasuk biaya ini adalah 23. dan ekstasi (13%).0 32. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada penyalahguna narkoba. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada 35. Yang 30. termasuk biaya konsumsi narkoba. 10. biaya produktivitas yang hilang akibat pemakaian narkoba sehingga responden tidak bisa bekerja/sekolah. Jawa Barat.0 konsumsi narkoba. Biaya individual (private).32. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.

ketika overdosis.602.813.654. yaitu dengan mengukur tingkat biaya produktivitas yang hilang (loss productivity) dari waktu & biaya dari orang lain tersebut akibat menemani atau menunggu responden.974 7.813 252.743.682.071.237 5.715.729.1 1. maka sebagian besar biaya yang dikalkulasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang terkait dengan responden.529.714.243. Dikarenakan studi ini menggunakan pendekatan perspektif klien.656. Tabel 5. Periode proyeksi dilakukan untuk 5 tahun ke depan.471.806 0.721.005 100 trilyun di tahun 2008.7 0. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.123. 2009 Komponen kerugian Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab pengobatan sendiri Kecelakaan tertangkap polisi Penjara aktivitas terganggu Total biaya private Loss productivity Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab Kecelakaan tertangkap polisi Penjara premature death tindak kriminalitas Total biaya sosial Total (Rp) 15.663.998 680.376. tahun 2008 .953.023 19.423.275 59.734.127.063 882.626 26.997 8.393.1 3.2 0.450.477.688.682.199 % 47.464. biaya hilangnya waktu produktivitas. Dari aspek kerugian hilangnya waktu produktivitas proporsi terbesar akibat kecelakaan lalu lintas.985.799 722. yaitu biaya kriminalitas.229. 227.035.337. Total kerugian biaya sosial diperkirakan sekitar Rp.4 23. maka mempertimbangkan dua asumsi. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.798.518.704.068 3.254 1.060. ketika terjadi kematian akibat narkoba (premature death) dan tindakan kriminalitas.2 2.1. Kontribusi biaya terbesar dari akibat kematian akibat narkoba (premature death) sebesar 48%.219.489. dan biaya kematian karena narkoba.4 0.4 Secara detail komponen biaya sosial terdiri dari biaya produktivitas yang hilang karena menunggu responden sakit.665 323. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 Dalam melakukan proyeksi untuk angka prevalensi.957.874.620 45.416 188.1 0.9 Total kerugian ekonomi 32.8 18. 6.094.Halaman | 23 Biaya sosial.515.912 22.9 0.453.6 0.1 12.5. Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.0 2.6 Biaya sosial secara garis besar dapat dipilah menjadi 3 bagian.714. dari 2008 sampai 2013. ketika berurusan dengan pihak penjara.165.574.0 0.6 81. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013 6.7 2. Untuk menghitung biaya satuannya digunakan pendekatan upah minimum regional (UMR) per propinsi.532.2 2. ketika detoksifikasi & rehabilitasi.266 839. ketika terjadi kecelakaan ketika berurusan dengan pihak kepolisian. yaitu perkiraan pertumbuhan penduduk per tahunnya dan perkiraan kenaikan angka prevalensi penyalahguna per tahunnya.443.

30 0.009 2.14 0.52 1.13 Report 2006/2007 pecandu bukan suntik 0.23 0. Di setiap kelompok populasi.39 laporan World Drugs pecandu bukan suntik 0.44 dengan World Drugs pecandu 0.46x (dimana x. Dengan fakta ini.06 0.13 0. Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna pelajar/mahasiswa narkoba di Indonesia.06 0.47 + 0. Diperkirakan jumlah current users diseluruh dunia tahun 2005/2006 ada sebanyak 200 juta orang.013 prevalensi per tahun Kelompok pelajar/mahasiswa coba pakai 3.87 0.19 2.31 membandingkan pecandu 1.36 0.41 1.46 1.07 pecandu suntik 0.27 0.07 (dipublikasikan 2007) teratur 0.15 0.58 1.96 1. Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba pada tabel 6.70 1. Detail hasil proyeksi angka penyalahguna narkoba dilihat pada tabel 7.79 0.008 2.33 8.98 pecandu suntik 0.25 0.32 Report (WDR) total 6.91 0. Hasil perhitungan ditingkat populasi penyalahguna narkoba.02 1.02 1. Di kelompok pelajar/mahasiswa.com.39 0.42 0.93 0. dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba di tingkat populasi akan terjadi kenaikan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3%).15 (dipublikasikan 2008) total 1.79 2005/2006 Kelompok Bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 0. teratur pakai.3 juta orang di tahun 2008. dan pecandu (bukan suntik dan suntik). Demikian pula.06 0. yaitu coba pakai.17 1. sedangkan di tahun 2006/2007 meningkat menjadi sekitar 208 juta orang. data populasi tersebut dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa. Di kelompok bukan Tabel 6. Dari hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan nilai tengah maka jumlah penyalahguna narkoba ditaksir sekitar 3.80 0.38 0. Data populasi yang dianalisis adalah populasi berisiko penyalahguna narkoba diasumsikan mereka berada pada kelompok umur 10-59 tahun. Selanjutnya angka prevalensi tersebut di kalkulasikan terhadap populasi penduduk menurut kelompoknya.28 4.01 1.04 per tahun. angka prevalensi penyalahguna dibagi menurut jenis penyalahguna. Untuk proyeksi.94 2. angka kenaikan diperoleh dengan melihat selisih kenaikan persentase angka hasil survei pelajar/mahasiswa tahun 2003 (3.07 0.24 1.09 dengan teratur 1.41 0.011 2.09 1. maka diperkirakan tingkat pertumbuhan penyalahguna narkoba ada sebanyak 0.94 0.39 7.5 juta orang di tahun 2013.86 8.07 0.55 4.46 6. adalah tahun).datastatistik-indonesia.35 1.93 7. dan akan meningkat menjadi 4.01 4. populasi pelajar/mahasiswa dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan y = -17.14 0. 2008-2013 angka kenaikan 2. Asumsi proyeksi angka prevalensi untuk tahun-tahun berikutnya mempertimbangkan tingkat kenaikan angka penyalahguna per tahun menurut tiap kelompok dikurangi angka kematian.74 4.84 0.05 1.47 per tahun.06 2.32 1. Angka prevalensi penyalahguna narkoba. diperkirakan angka kenaikan narkoba dikalangan pelajar/mahasiswa per tahun sebesar 0.13 0.012 2. tahun 2008 .9%) dengan angka survei pelajar/mahasiswa tahun 2006 (5.90 0.97 1.010 2.65 yang dibuat oleh UNODC.10 1.82 5. Angka yang dibandingkan adalah angka penyalahguna setahun terakhir (current users).82 1.Halaman | 24 Perkiraan jumlah populasi penyalahguna narkoba. Dengan demikian. Perkiraan jumlah populasi penduduk per tahun diperoleh dari pihak BPS & ANU yang dipublikasikan dalam www. Selanjutnya. Data populasi pelajar/mahsiswa diperoleh dari Depdiknas (2006).85 0.28 0.

429 691.817 1.0 0.298 1.773.0 trilyun di tahun 2013 (harga berlaku).272 421.011 1.107 pecandu bukan suntik 1.3 26.805 274.193.636 1.620 teratur 356. dari hasil perhitungan tersebut lalu dikalikan dengan jumlah populasi per provinsi per tahun (tabel 7).433 pecandu suntik 187.718 1. Tabel 7 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.372 1.819 490.48 2.0 8.929 566.366 1.274. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba Perkiraan biaya satuan per setiap konsekuensi.470 2.426 pecandu bukan suntik 165.750 596.490 pecandu 1.161. Berdasarkan hasil kalkulasi diperkirakan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.690 1.015 57.64 2.0 40.56 2.600.604.436.2.959 388.455.541 4.222.696 1.469 Total seluruh penyalahguna narkoba coba pakai 872.658 1.380.6 10. Detail hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 7.Halaman | 25 sekitar 28% dalam 5 tahun ke depan.921 1.005.450 4.974 1.81 2.0 20.189.765 1.441 1.595.89 6.503 948.923 total 1.647 228.517. sebesar 6% per tahun.828 312.644 253.218.396 1.039 1.826.777.052 1.309 teratur 538.081.532 211.583.250 1.637 1.909 4.903 2. Grafik 2 Proyeksi Biaya Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sampai tahun 2013 60.6 34.112.455 1. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.72 2.012 1.268 2.686.687.814 217.388.524 1.321.483 1.559 455.022 1.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.358.895 62.3 38. Angka inflasi ini diaplikasikan terhadap seluruh biaya satuan setiap konsekuensi narkoba menurut provinsi.426 250.590.107.0 6.734.737 1.261 92.004.532.436 1.255 1.551 53.868.009 855.1 7.380 233.327 107.766 626.923 240.929 teratur 894.5 7.535 1.710 280.527 total % terhadap total populasi 1.166 113.4 30.704 296.606. 2008-2013 2.013 1.045 2. Proyeksi biaya satuan untuk lima tahun ke depan mempertimbangkan tingkat inflasi.090.874 97.010 929.417 3.325 1.100 1.007.355. tahun 2008 .082.362. Propinsi Jawa Timur diperkirakan memiliki potensial kerugian terbesar dibandingkan propinsi lainnya di Indonesia.688.2 48.503 pecandu suntik 48.395 2.459.681 pecandu bukan suntik 1.480 pecandu 1.905 72.011 pecandu 214.172 3.054 526.452.057 Perkiraan jumlah bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 88.192 67.323.843 1.881.861 295.0 Biaya sosial K eru g ian Eko n o m i (T rilyu n R p ) 50. Selanjutnya. Sedangkan Irian Jawa Barat merupakan propinsi yang paling rendah tingkat potensial kerugian biaya ekonominya.017.888 955.071.578.0 Biaya individual 6.027.507 1.030 207.936 pecandu suntik 236.8 8.512 228.875 197.943 1.32.958 196.812 317.045 265.984.996 2.514 2.211 3.478.255.0 43.300 244.016 1.57.154 1.008 Perkiraan jumlah pelajar/mahasiswa coba pakai 784.997 658.922 180.248 total 2.336.0 2008 2009 2010 Tahun 2011 2012 2013 Hasil proyeksi kerugian biaya ekonomi untuk 2008-2013.149.654 1.896 102.034 1.782.120 1.5 30.528.

Mengingat survei rumah tangga tidak diseluruh provinsi maka basis data untuk memproporsikan ke seluruh provinsi di kelompok bukan pelajar/mahasiswa menggunakan dasar angka prevalensi pelajar/mahasiswa. karena angka kejadian (termasuk pengakuan menggunakan narkoba) yang dilaporkan melalui survei umumnya cenderung lebih rendah. Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta. propinsi. angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba yang didapat melalui berbagai survei kemungkinan lebih kecil dari angka yang sesunggguhnya. tidak hanya berskala besar2. tetapi juga kecenderungan responden yang menutup diri terhadap perilaku yang dilarang atau memalukan. baik dari tingkat pusat. Ini dapat disinyalir dari begitu maraknya ditemukan berbagai pabrik racikan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. Kiranya perlu ada upaya intervensi program yang lebih serius pada propinsi-propinsi tersebut. Pada tahun 2008. Dengan nilai omzet harga sitaan narkoba mencapai milyaran rupiah.1. 7. Dengan demikian. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba 7. Tentunya. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna Ada kenaikan angka prevalensi tahun 2004 ke 2008. Sumatera Selatan.6 juta orang di Indonesia.2 juta orang. Besaran angka ini setara dengan 1. tahun 2008 . tetapi juga mereka berani membuat pabrik narkoba di kompleks perumahan.3% tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI. UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia sekitar 4% dari tahun 2006 ke 2007. Perlu dicatat bahwa perhitungan angka prevalensi yang digunakan untuk estimasi jumlah penyalahguna berasal dari survei pelajar/mahasiswa di 33 provinsi dan survei rumah tangga di 16 provinsi.Halaman | 26 Proyeksi ini menggunakan asumsi data normal. Kalimanta Timur. sebesar 3. Salah satu pabrik narkoba yang berhasil dibongkar diperkirakan nomor 3 terbesar di dunia untuk shabu dan ekstasi.1 juta sampai 3. Di beberapa propinsi terlihat juga potensial kerugian ekonomi yang relatif besar. 2004) menjadi 5. Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004. 2007). dan kabupaten/kota. 2 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. seperti sebagian besar propinsi di Jawa. Hal ini tidak saja karena faktor kelemahan mengingat kejadian dalam setahun terakhir. perkiraan jumlah penyalah-guna narkoba dengan mendasarkan pada sampel di kota di satu pihak dan survei di pihak yang lain akan saling menetralkan. dan Sulawesi Selatan. besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3.5% jumlah populasi penduduk Indonesia tahun 2008. yaitu adanya kenaikan angka prevalensi penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa dari 3. Bila pemerintah tidak serius dalam upaya penangangan dan penanggulangan narkoba ini maka potensial kerugian ekonomi yang terjadi akan jauh lebih besar lagi.9% tahun 2003 (BNN & Pranata UI.

241. Mereka ini pasar potensial dalam peredaran gelap narkoba.000 tersangka pada tahun 2006. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa sekitar 4.P3). Ketiga. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia. Jadi lalu lintas itu kalau tidak melihat orang melanggar.907 tablet (2006). dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba. misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289. rasa keinginantahuan atau coba-coba. Narkoba itu tidak sama dengan bagian Reskrim. dan otoritas kampus membuat pihak kepolisian Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. diperkirakan jumlah penyalahguna coba pakai sekitar 807 ribu sampai 938 ribu orang. Jadi seperti itu narkoba. Jadi kalau angkanya naik karena aktifitasnya seperti itu. dimana sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa. Kalau narkoba itu tidak ada yang melapor.000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32. ada peristiwa pidana. Peredaran gelap narkoba Sasaran peredaran adalah pelajar/mahasiswa.252 orang tahun 2006. Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun. Tapi kalau semakin aktif petugas menilang ya semakin tinggi. dan bahan adiktif 13%. Hasil survei memperlihatkan bahwa usia pertama kali pakai narkoba pada usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan hasil estimasi. 7.478 orang.200 gram (2006). Jumlah pelajar/mahasiswa diperkirakan sebanyak 16. serta ke-ego-an yang mendorong untuk pakai narkoba.9 juta orang di tahun 2008. Heroin dari 16. misalkan ekstasi dari 90. Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine. besaran barang bukti tangkapan narkotika. pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3. Ini karena kampus sebagai tempat bertemu mahasiswa. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia. Pada masa ini tekanan begitu besar baik dari kelompok pergaulannya (peer group). jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. dari sekitar 5.10. Desember 2006). Ada beberapa fakta tentang ini. atau shabu dari 48.5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing.642 gram (2001) menjadi 21. meningkat tajam menjadi 16.3. Dalam 6 tahun terakhir tersebut.2.848 gram (2001) melonjak menjadi 1. Jadi angka yang ada itu karena aktifitas petugas. Jadi sangat tergantung kepada tingkat aktivitas petugas. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85.. “Kalau dilihat dari data selalu meningkat. Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan. ya nggak usah nilang. Jadi begini.000 orang. Hanya 0. tahun 2008 .6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa.3.Halaman | 27 Fakta pengungkapan kasus dan tangkapan.6 hektar (2006). Pihak kepolisian telah membuktikan adanya peningkatan peredaran narkoba.901 gram (2006). Kalau Reskrim itu tidur pun ada orang lapor.” (Pol-1. ada peristiwa kalau dicari. kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%.872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11. Dilihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai 2006 menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya.523 tablet (2001) menjadi 466. Kalau mau angkanya turun ya nggak usah aktif. Bahkan kampus sebagai tempat subur peredaran gelap narkoba. psikotripika 33%. Sama dengan pelanggaran lalu lintas. Kedua.

bahkan disinyalir banyak bandar berwarganegara asing. jarang ada yang pakai narkoba. Modelnya nanti saya nongkrong di alamat tersebut. 2007). Konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba sangat komplek. Dia akan saya sms. bahkan 31% pernah menjual narkoba. Upaya memperluas jaringan penyalahguna seakan tiada henti. Hampir semua bandar narkoba (khususnya orang asing). Ekstasi banyak dikonsumsi di tempat hiburan seperti diskotik. SMS dengan no HP baru.Tapi kalau orang lain. Penyalahguna putaw lebih memilih tempat yang tenang dan sepi untuk pakai narkoba karena efek yang ditimbulkannya membuat orang menjadi gitting (ingin tenang dan berhalusinasi). Para bandar kelas kakap/besar adalah orang yang mempunyai modal besar. Modus operandi kasus peredaran cenderung semakin canggih yang didukung peralatan teknologi modern. bar.Halaman | 28 tidak bisa bebas melakukan razia ataupun penggeledahan. Dari hasil wawancara dengan beberapa orang asing (sebagian besar orang Nigeria) yang menjadi bandar di dalam LP narkoba diketahui bahwa orientasi mereka mengedarkan narkoba di Indonesia karena bisnis semata yaitu keuntungan yang besar. demikian halnya dengan peredarannya. dan karaoke karena efek yang ditimbulkan membuat penyalahguna selalu ingin bergerak energik. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba. Kondisi ini terjadi karena pengangguran dan kemudahan mendapatkan uang merupakan salah satu faktor yang mendorong peredaran narkoba. Hal ini ditunjukan dari total responden ada sebanyak 52% mengaku pernah menawarkan narkoba kepada orang lain. Sehingga dalam pengungkapan kasus seringkali hanya kurir-kurir yang tertangkap sedangkan para bandar narkoba tidak pernah diketahui keberadaannya. Di sms BR ada dimana. tahun 2008 . Hanya tinggal saya beli kartu perdana baru. Sedangkan jenis shabu biasanya disalahgunakan di hotel-hotel atau tempat kos. Orang itu tidak kenal saya.P3). sebaliknya penyalah-guna cenderung mereka yang memiliki uang dan tidak miskin (BNN & Puslitkes UI. “Kalau selama itu teman. paling dengan memberikan alamat.10. Peredaran narkoba tidak pernah berhenti. kampus sering menjadi tempat transaksi ‘putaw’. dan hotel tempat transaksi shabu. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. setelah saya terima uangnya. Modus operasi peredaran narkoba.2. Modelnya seperti itu” (BD-2. Jenis-jenis narkoba yang beredar di tempat hiburan disesuaikan dengan efek dari narkoba. sms untuk ambil barangnya. mereka yang miskin lebih mudah menjadi pengedar. Saya tidak kenal orang itu. Dari jenis narkoba. Trus tinggal saya kode barangnya disimpan dimana.3. Sekarang peredaran narkoba melalui telepon dan menggunakan kurir. sehingga berapapun uang yang mereka miliki sudah pasti akan habis untuk membeli Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Menurut mereka efek dari pemakaian narkoba sangat berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang menjadi pecandu. karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain. sedangkan diskotik tempat transaksi piskotropika. Mereka membawa masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia. Mereka yang menganggur. Dahulu transaksi narkoba dengan cara bertemu langsung antara penjual dan pembeli dengan konsep ada uang ada barang.

Dengan kondisi demikian seringkali petugas mengalami kesulitan untuk menangkap bandar/pengedar. Dari tempat tersebut tidak jarang para bandar dari luar daerah mengambil narkoba untuk diedarkan di daerah lainnya. Daerah ini mempunyai banyak sungai dan rumah2 yang dibangun diatas sungai. dsb. “Pemakai tinggal datang ke “B”.3. Mereka juga menggunakan kentongan yang terletak disetiap sudut tiang listrik sebagai penanda datangnya polisi.01. Di tempat itu. di lapas narkoba seringkali napi mengalami sakaw. tahun 2008 . sedangkan bandar/pengedar memberikan bantuan uang kepada masyarakat setempat.Halaman | 29 narkoba. daerah “B” di Pontianak. Kondisi itu menimbulkan permintaan (demand) terhadap narkoba menjadi tinggi di lapas. Dibeberapa lokasi studi ada wilayah yang menjadi kantong-kantong peredaran narkoba.waktu pulang pun pemakai juga dijaga.3. Alasan lain. di daerah-daerah semacam itu sangat sulit dilakukan razia narkoba. Biasanya lapas yang sering terjadi kasus peredaran narkoba bila jumlah napinya sudah melebihi kapasitas yang ada. Sering terjadi perlawanan dari masyarakat setempat terhadap beberapa aparat yang ingin melakukan razia. Masyarakat membela dan melindungi para bandar/pengedar dari petugas. Penjara tidak lepas dari peredaran narkoba. Terlebih sebagian besar napi di lapas diperbolehkan memegang uang.P12). Adanya kantong peredaran narkoba. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Narkoba di Penjara. Lokasi wilayah tersebut berada dipemukiman padat penduduk dan pusat keramaian. Kadang-kadang mereka cukup berkumpul dan berteriak ” maling” untuk mengusir polisi secara beramai-ramai” (Pol-2. kampung “F” di Bali. Tidak menutup kemungkinan ada oknum aparat yang menjadi backing. Ditambahkan. Keberadaan lokasi tersebut dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. Ada beberapa yg memilih untuk membawa pulang. Besarnya permintaan (demand) dari penyalahguna narkoba di Indonesia menjadi lahan empuk bagi sindikat-sindikat narkoba internasional.01. karena letak lapas rata-rata di dalam kota dan tidak terpapar langsung dengan petugas kepolisian. Berbagai tanda atau kode akan mereka bunyikan sehingga semua bandar/pengedar dan penyalahguna sudah bisa mengantisipasi kedatangan petugas. Bahkan para bandar/pengedar sudah bisa diterima keberadaannya oleh masyarakat setempat. sehingga lapas menjadi tempat potensial mengedarkan narkoba. seolah telah terbentuk kerjasama saling menguntungkan. Di wilayah semacam itu sudah terbentuk jaringan peredaran narkoba yang kuat. Pendapat senada disampaikan informan dari kepolisian.P5). Akses narkoba di dalam penjara sangat mungkin. Juga disediakan tempat untuk mengkonsumsinya agar pembeli tidak perlu pulang dengan membawa barang bukti. keterlibatan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam penjara masih sangat mungkin. sehingga jika polisi melakukan razia mereka akan menceburkan diri ke sungai sebagai usaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi.3. penyalahguna lebih nyaman dan aman untuk membeli dan memakai langsung narkobanya. “Kampung “B” dikenal sebagai kampung narkoba karena banyak transaksi yang dilakukan secara rapi.6. misalnya kampung “B” di Jakarta. tapi hanya sedikit saja” (BD-3.

di sel.Halaman | 30 Sistem pengamanan dan upaya preventif yang dilakukan di dalam lapas seringkali terkendala tindak lanjutnya. softex.. tidak mungkin lagi” (LP-2. Tidak jarang seorang bandar narkoba di dalam lapas masih bisa mengendalikan peredaran narkoba baik di dalam atau di luar lapas secara langsung melalui handphone. Beberapa cara tersebut bisa lolos dari pemeriksaan petugas lapas karena sampai saat ini sistem pemeriksaan masih manual. Pola pendistribusian barang kemungkinan bisa antar blok.3.1.3. saya baru pertama kali datang kesini tanggal 17 maret saya razia dapat barang bukti macam-macam sudah dapat eh sampai sekarang tidak ada beritanya. Beberapa tahun lalu.P11).000” (BD1. kalau paketan kecil jadi 7 paket masing-masing dijual Rp 100. Satu hal yang sangat mengecawakan. Harga ¼ gram tahun sekarang 300. Pada waktu melakukan pengambilan data di lapangan terlihat jelas bahwa beberapa orang napi bebas memakai handphone di dalam lapas. belum semua lapas punya alat detektor sehingga banyak narkoba yang tidak bisa teridentifikasi oleh petugas.4.2. “Kalau putaw gua dikirim sih. Ada juga melalui keluarga atau teman yang mengunjungi napi ataupun diselundupkan melalui petugas lapas sendiri. Berarti ini suatu model cara lain untuk mereka masukan narkoba itu lewat pegawai tidak ada lagi.01. terkadang sudah dilakukan razia di dalam lapas dan terbukti ditemukan beberapa barang bukti tetapi tidak ada proses lebih lanjut. sandal atau sepatu yang sudah dimodifikasi. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pernah diketemukan usaha penyelundupan narkoba melalui bantal dan kue.” (LP-4. Dan pegawai saya menangkap dia. “Saya pengalaman beberapa kali nangkap kadang-kadang diterusin mungkin tiga atau satu segala macam diterusin sampai ditindaklanjutin.P8). modus penyelundupan narkoba ke dalam lapas dengan cara di lempar ke dalam lapas melalui media bola tenis atau dibungkus dengan kantong plastik. Itu dari anak dalem juga. Banyak cara menyelundupkan narkoba ke dalam lapas. “Tapi bukti yang kemarin itu masuk lewat lempar. “Tahun 2006 pernah dilakukan razia oleh Sat Brimob dan Kepolisian. bahkan ada juga yang dimasukkan ke dalam vagina.4.P10).. Modus baru sekarang melalui beberapa cara seperti dimasukkan ke dalam bra.000. Menurut informan. tahun 2008 . Bahkan sempat diperoleh informasi ada sebagian petugas lapas yang menyewakan pemakaian handphone kepada napi di dalam lapas.4.P10).3. ditemukan 19 paket shabu” (LP3. karena alasan situasi dan kondisi tertentu kasus yang sempat diungkap sepertinya dilupakan dan barang bukti yang ditemukan juga hilang begitu saja.08. Dari dulu sampe sekarang masih seperti itu dapat putaw. tetapi yang paling mudah adalah antar kamar melalui petugas kebersihan lapas yang bisa dijadikan perantara/kurir. paling sedikit tuh 11 gram.06.10.

dan di daerah Pasar Baru. Jenis narkoba yang memberikan nilai peredaran rupiah terbesar adalah shabu (36%). 7. Menurut laporan triwulan kasus HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan (per April 2008). Total nilai perdagangan narkoba diperkirakan sebesar Rp. termasuk dari jaringan internasional. Ini mengindikasikan bahwa para bandar berupaya mendekatkan akses dan mencoba menyingkirkan pola yang ada. tahun 2008 .18. banyak pihak yang tergiur untuk bisa masuk ke bisnis ini. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi Risiko penularan berbagai penyakit. Tidak menutup kemungkinan yang mengendalikan perputaran bisnis narkoba tersebut dari balik jeruji besi. Bahkan salah satu pabrik shabu dapat memproduksi 100 kilogram shabu-shabu dengan teknik produksi terbaru yang meenggunakan bahan-bahan yang lebih membahayakan bagi manusia (Kompas Online.868 yang tersebar di 194 kabupaten/kota di 32 propinsi.42 milyar (Kompas Online.3.119 kilogram heroin. 30/6/2008). Padahal sebelumnya. seperti Nigeria atau Malasyia (Kompas Online. yaitu di apartemen Mediterania.15. ganja (15%) dan ekstasi (13%) di tahun 2008. 22/11/2008). Tidak heran. Bahkan kelompok jaringan ini telah mendistribusikan sebanyak 30 kilogram heroin dalam 5 bulan terakhir dengan nilai sekitar Rp. Ini mengindikasikan sudah begitu maraknya perdagangan narkoba di Indonesia. Jakarta Barat (Kompas.Halaman | 31 7. putau (15%). ini merupakan kasus heroin terbesar sepanjang 2008. 12/01/2009). Tidak sedikit yang melibatkan warganegara lain. Perdagangan narkoba Nilai omzet perdagangan narkoba di Indonesia. jumlah kumulatif kasus AIDS ada sebanyak 11. 22/11/2008). dengan cara menggunakan rekening pacarnya untuk menampung uang-uang haram hasil penjualan narkoba (Kompas online. Jakarta Barat (Kompas. sehingga pihak kepolisian atau masyarakat sekitar tidak menyadari keberadaan pabrik shabu/ekstasi tersebut.3 miliar (Kompas Online. Demikian juga pabrik ekstasi yang berhasil digerebek di salah satu apartemen dengan nilai sekitar Rp. 28/11/2008). 13/12/2008). Dengan fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia sangat marak. 25/02/2008) atau menyuruh kurir narkoba dari balik penjara (Kompas online. Menarik jika mengkaji pengungkapan kasus narkoba akhir-akhir ini oleh pihak kepolisian. Sebuah omzet perdagangan yang luar biasa besar bagi sebuah produk. dan Serang). Perumahan Taman Ratu. Berbagai pabrik shabu dan ekstasi juga berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian.4 trilyun. Pabrikan narkoba telah berada dilingkungan perumahan. Dengan total barang bukti sebanyak 6. 13/12/2008). Dengan cara penularan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 28/10/2008).4. Pabrik shabu dan ekstasi ternyata sudah berada di lingkungan perumahan. Jakarta Pusat (Kompas Online. Tangerang. pabrik ekstasi/shabu yang diungkap kasusnya dibangun di daerah pinggir kota (Bogor. Ini terbukti dari terungkapnya jaringan heroin asal Afganistan di Indonesia.

jadi dapat uangnya entah dari mana aja. diperkirakan sekitar 33% HIV/AIDS.itu gaji kaya orang kerjaan. sehingga tambahan harus menanggung beban keluarga menjadi semakin berat.1. Jadi satu hari itu hampir 150rb kali satu bulan (30 hari) jadi sekitar satu koma limaan. mereka ini sebagai agen percepatan penularan berbagai penyakit ke orang lain bila tidak dilakukan penanganan secara tepat. TB. Pertama. Kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit. Kecuali beban biaya sakit. “Semua penghasilan untuk beli barang (istilah untuk putaw). tahun 2008 .08. Bahkan sekitar 3 dari 4 responden mengaku punya keluhan masalah kesehatan.1. Ironisnya. Beban ekonomi pecandu suntik jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. Beban biaya ekonomi pecandu suntik lebih berat.3. Dengan demikian. dan homoseksual (4%).teman-teman gua speak-speakin. Heteroseksual (43%). sekitar 1 dari 4 pecandu suntik telah berkeluarga. diare kronis (3834).P4).dari cewe gua kibulin. untuk menutup biaya-biaya tersebut kemungkinan besar melakukan tindak kriminalitas. “kelas tiga SMIP gua udah selesai karena barang-barang rumah udah habis gua jualin semua dikamar gua tinggal kasur aja. masih harus membeli konsumsi narkoba.02.Itu sehari pemakaian putau gua aja belum cimengnya.Halaman | 32 terbanyak melalui penyalahguna narkoba suntik atau injecting drug users/IDU (49%). 37% Hepatitis-C. beli bedak. dan dermatitis generalisata (1008). dan 34% TB. kecuali bila bersedia berhenti. yang bertujuan menemui pengguna ’dimana mereka berada’. dan HIV/AIDS melalui dua jalur yaitu. Ketiga. Untuk pemakaian putau gua sehari itu gua beli masih ada paketannya 20(rb). jadi gua mikir mending ada bahan gitu. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex Pengurangan bahaya (harm reduction) adalah sekumpulan rencana praktis. itupun bila pasien tersebut memiliki kartu jamkesmas atau kartu miskin. penggunaan jarum suntik & semprit bekas dan perilaku hubungan seks berisiko. Kedua. Jadi daripada gua beli baju. Dari diagnosis keluhan. membantu berbagai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. terutama laki-laki. 7. Pecandu suntik yang masih aktif hubungan seks setahun terakhir ada 76%. Pecandu suntik berisiko tertular berbagai pernyakit. Karena gua udah gak pernah beli baju. ada sekitar 76% yang mengaku mengalami keluhan kesehatannya. beli pelembab apa hand body gua gak mau! Mending nyimpen bahan (putaw)” (PN-1.4.kalau tidak barang gua ambilin uang sekolah gua pake juga” (PN-5.5.P9). Dengan infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (6367). akan menanggung beban biaya akibat sakit. termasuk HIV&AIDS di kalangan pecandu suntik lebih besar dibanding kelompok penyalahguna narkoba lainnya. seperti hepatitis. Hasil survei menunjukkan 72% pecandu suntik pernah bertukar jarum suntik atau pakai jarum bekas orang lain. kandidiasis orofaringeal (3769). gua pakau itu sehari 7-8x. Ada sebanyak 14% yang melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. dimana hanya 9% yang selalu pakai kondom.

Lalu. Memahami Kebutuhan Aktor dan Pengguna Narkotika Suntik. Dilapangan program ini lebih mengedepankan aspek bisnisnya. pengobatan kecanduan. Siagian F. P. dan program pemutih. Sari K. Hasil survey menunjukkan sebanyak 42% pecandu suntik memakai subutex dengan cara disuntikkan setahun terakhir. Disinilah para penyalahguna memanfaatkan celah tersebut. lalu resep tersebut ditebus di kliniknya. tahun 2008 .. Faktanya. Ada kesalahan prosedur implementasi program. Jenis zat yang disuntikan subutek nomor 2 terbesar. karena tidak ada yang bertanggungjawab siapa sebenarnya yang seharusnya melakukan pengawasan melekat tersebut terutama program subutex. jadi konsultasi hanya 1 kali. Meskipun bagi sebagian penyalahguna putaw mengaku bahwa reaksi metadon dan subutex tidak senikmat putaw.Halaman | 33 bahaya/kerugian terkait dengan penggunaan narkoba (Sucahya. Ada yang hanya pakai kartu pendaftaran. Bahkan subutex adalah jenis zat ke-2 setelah putau yang disuntikkan ke dalam tubuh. Program lainnya. Kondisi semakin runyam karena tidak ada pengawasan dari instansi terkait. 2001)3 . disetiap kota berbeda-beda. Sayangnya untuk dua program terakhir. terutama untuk layanan subutex. Prosedurnya subutex harus diberikan oleh dokter dengan dipantaui secara ketat untuk pemberian dosisnya. Ada uang maka ada barang. Program pengurangan bahaya yang efektif bagi pecandu suntik agar berhasil harus mencakup kegiatan berikut: program pendidikan. program pertukaran jarum suntik. Ada dokter yang hanya memberikan resep untuk beberapa hari. Bagi para pecandu putaw di beberapa kota sudah banyak yang mengakses metadon dan subutex sebagai substitusi dari ketergantungan terhadap putaw. Prosedur mendapatkan kedua zat tersebut sebenarnya telah ada protokolnya tetapi seringkali para pecandu suntik jauh lebih cerdik daripada petugas. methadone dan subutex. selanjutnya membeli langsung ke perawatnya. segera keluar ruangan untuk menampung methadon tersebut di wadah. bukan upaya pengurangan risiko. paling tidak masih bisa mengurangi rasa sakaw 3 Sucahya P. Trik yang dilakukan pengguna untuk mengelabui petugas untuk layanan methadon adalah tidak langsung meminumnya. banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program di lapangan. Kartu pendaftaran tersebut disewakan kepada penyalahguna lain atau mereka patungan membelinya atas nama pemilik kartu. dkk.K. Pertama. sedangkan subutex seharusnya di taruh dibawah lidah. baik dari sisi jumlah maupun dosisnya. tetapi di tahan dulu di mulut/kerongkongan. Penyimpangannya yang terlihat adalah cara pakai dan prosedur mendapatkan kedua zat tersebut. tetapi tidak bisa berbuat banyak. Pembenahan prosedur perlu dilakukan khususnya layanan subutex. yaitu methadon dan subutex. penjangkauan masyarakat. serta pelaksana program yang menutup mata dan tidak peduli dalam implementasinya. Cara pakai metadon seharusnya diminum dihadapan petugas.. subutex diberikan oleh dokter yang telah memiliki lisensi untuk beberapa dokter saja di satu kota. Yogyakarta: PSKK UGM & Ford Foundation. April 2001 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Tidak ada batasan berapa banyak jumlah yang dibeli. selanjutnya disuntikkan. ternyata kedua zat tersebut disuntikkan. penjualan alat suntik di toko-toko. Sistem ini yang membuat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) marah.

Pembenahan aparat penegak hukum Ditengah upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulan narkoba.6. Penyalahguna narkoba yang membayar para aparat penegak hukum.08. Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit aparat kepolisian/TNI yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba. “Putaw dulu masih ada yang harga 25 ribuan sekarang cari yang 50 aja uda susah. Aparat penegak hukum mem-backing para bandar. Kondisi peredaran putaw sekarang sama dulu sudah beda.Halaman | 34 terhadap putaw. mengolah atau menyediakan narkotika golongan satu bisa dihukum mati atau dengan pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam UU No. harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan urusan di penjara. Alasan lain adalah pemakaian metadon dan subutex lebih aman karena legal dan harganya juga jauh lebih murah. tidak jarang seorang tersangka lebih memilih melakukan kolusi dengan penegak hukum untuk bisa terlepas dari jeratan hukum. tidak jarang terjadi kasus kolusi dan nepotisme dalam penanganan kasus oleh oknum penegak hukum. Demikian halnya dengan penyalahguna yang pernah dipenjara dalam setahun terakhir (3%). Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tapi inilah realita yang sering diketemukan di lapangan. biasanya pengelola tempat hiburan ataupun bandar yang ada sudah diberi informasi terlebih dahulu sehingga pada waktu razia cenderung tidak diketemukan peredaran narkoba di tempat tersebut. subutex ini dibeli dari seorang dokter di Jakarta” (PN-1. yaitu bagi seseorang yang memproduksi. 22 tahun 1997 tentang narkotika dan UU No.2. Saat ini banyak beredar subutex yang dijual ilegal. Satu hal yang mudah dilihat adalah setiap akan ada razia di beberapa diskotik. Selain terlibat dalam penyelewengan wewenang dalam penanganan kasus narkoba. Keadaan ini membuka peluang bagi oknum aparat penegak hukum untuk menyelewengkan tugas dan jabatan dengan melakukan kolusi dengan tersangka kasus narkoba.P1). tahun 2008 . Fakta ini suatu hal yang memprihatinkan bagi aparat penegak hukum.2. putaw sekarang gak terlalu rame. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Sebagian besar keterlibatan mereka adalah sebagai backing di beberapa tempat hiburan seperti di diskotik. tidak sedikit oknum penegak hukum khususnya anggota polisi/TNI terlibat sebagai backing dan penyalahguna. Posisi tawar (bergaining position) seorang aparat penegak hukum sangat kuat untuk menentukan berapa besar uang yang harus dibayar oleh seorang tersangka agar terbebas dari jeratan hukum. 7. Dengan kenyataan hukum yang sedemikian berat. Sangsi hukum tentang penyalahgunaan narkoba dan psikotropika di Indonesia cukup berat. Hasil survei menunjukkan sebanyak 6% penyalahguna pernah tertangkap polisi dan lebih dari separuhnya (67%) mengaku mengeluarkan sejumlah uang kepada polisi supaya terbebas dari kasus yang menjeratnya. Sekarang kalau mau dapat cukup banyak beli putaw yang 75 ribuan.

Untuk membuktikan seorang oknum sebagai backing atau bandar sangat sulit.. Oknum polisi yang ditangkap kasus narkoba berdasarkan hasil tes urinenya positif.. Bandarnya tetap jalan. ada sih. dengan wilayah peredaran di salah satu terminal induk di kota tersebut...15.jadi kadang-kadang. Namun.. tidak semua bandar merasa nyaman mempunyai backing oknum polisi. setengah jam dari itu sudah kosong” (BD-4. tanpa ada barang bukti yang ditemukan.jujur aja. (BD-6. “.2.cuma karena waktu itu mungkin mukzizat Tuhan ya.05. “.Halaman | 35 “kalau diskotik itu pasti ada backing-nya.3. kalau saya kira. Menurut informan kepolisian sebagian besar oknum yang terlibat adalah sebagai pemakai. Meskipun demikian oknum polisi tersebut selalu memantu situasi dan kondisi. ternyata separuh dari modalnya berasal dari oknum tersebut. ditemukan ada oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan informan (bandar). kadang aku kesal karena banyak polisi yang udah aku bayar. Bahkan menurut informasi dari seorang polisi. sudah dicalling duluan.. Pernyataan bandar tersebut..target tembak mati.bakal terjadi ni. mereka masih ngancam aku.2. semua strategi peredaran narkoba dikendalikan oleh bandar.3. pada waktu tertentu saja akan meminta setoran.. Menurut informan. bukan sebagai bandar. Menurut Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Bila akan ada operasi penangkapan terhadap bandar. tapi untuk backing itu ada. Para bandar cenderung lebih aman karena mereka memberikan uang setoran secara rutin dalam jumlah cukup besar kepada beberapa oknum polisi.. Salah seorang bandar menyatakan meskipun selama ini sudah membayar/memberikan setoran pada polisi. Menurut informan. Dengan adanya kerjasama dengan oknum polisi sebenarnya posisi bandar lebih aman dibandingkan tidak ada backing...P7). tahun 2008 . sebentar lagi ada yang mau grebek. tidak ada polisi yang menjadi bandar. Dilapangan. yang ngebeking dia bisa kuat.11.... yang mempunyai pengalaman bisnis narkoba dengan oknum polisi. terjadi pemutaran disitu yang dinamakan pemutaran Bandar.. oknum polisi tersebut juga menjadi pensuplai narkoba ke dalam lapas yang bekerja sama dengan seorang petugas lapas. Jenis narkoba yang diedarkan shabu dan ekstasi. mereka kasih informasi ke aku kalau aku harus hati-hati karena sudah di incar polisi.3. Selain mengedarkan di sekitar terminal. polisinya yang menyarankan mencari kambing hitam.. padahal modal juga mungkin bisa fifty-ffty karena sekarang sistimnya kalau tidak di backing enggak akan jalan bandar itu karena bisa ditangkap.” (BD-8.P7).3. Peran oknum tersebut hanya di belakang layar.dia tak semata-mata hanya backing..P7). alasan oknum tersebut terlibat bisnis narkoba karena gaji bulanan yang diterimanya masih belum mencukupi.... Biasanya kalau mau ditangkap. saat ini informan telah menjadi target tembak mati.aku itu mbak sudah target tembak dada. . Menurut beberapa bandar yang banyak ditangkap oleh polisi adalah para pembeli/ penyalahguna. maka oknum polisi tersebut akan memberikan informasi dan menyarankan kepada bandar mencari kambing hitam sebagai ganti obyek penangkapan.. tetapi tetap saja masih menjadi target operasi. misal ada pengrebekan. diakui oleh informasi dari pihak kepolisian bahwa ada oknum penegak hukum yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

cukup telepon lalu barang langsung dikirim. Berbeda dengan era tahun sebelum tahun 1997. Fitnah bisa saja pak. tes urin nya. Telah ada upaya penegakan hukum secara serius. kalo dulu mudah untuk transaksi. Penjatuhan sangsi hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan di lapangan. Kita kan semua kasus harus ada bukti dan saksi.2. Kita nangkap orang ga ada bukti. Dahulu tindakan aparat kepolisian lebih longgar dan tidak seketat tahun sekarang. gak main-main pimpinan kita. yang kedua mereka takut sekali ketemu sama polisi dan polisi itu langsung menangkap langsung diringkus” (BD-5. tes urin. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi para bandar untuk mengedarkan narkoba. Propam Mabes Polri telah mencatat dan menindak 49 anggotanya yang terlibat Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. ya negatif. meskipun sudah banyak informasi. Menurut para bandar.P11). beberapa tahun terakhir oknum yang terlibat semakin berkurang.3.Halaman | 36 informan dari kepolisian. Jumlah tangkapan kasus narkoba oleh aparat kepolisian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Walaupun ada informasi dia di backingan sama anggota polisi si A.3.P9). “Lebih sulit Pertama itu barangnya yang dibutuhkan itu saling menyembunyikan untuk menaikkan harga. bahkan ada juga oknum dari Polda yang mengirim secara langsung barang tersebut kepada bandar. Peredaran narkoba dalam 5 tahun terakhir ini lebih sulit dibanding beberapa tahun sebelumnya. ya kita periksa juga dia. Kondisi ini menyebabkan harga narkoba menjadi jauh lebih mahal.5.11.P11). Namun. Apalagi jaman-jaman waktu kapolri yang sekarang baru dilantik (Sutanto). Sekarang agak susah ada tenggang waktunya antara minta barang dengan datangnya barang. Bagi oknum penegak hukum yang terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba akan ditindak tegas oleh masing-masing pimpinan. kita kan harus tes dulu dong. “Kalau terbukti. kalo butuh barang tinggal bilang sama yang diatas barang langsung dikirim. Kalau dia gak ada bukti ya susah pak. Beberapa tahun lalu. Bagi oknum yang sering terlibat kasus atau kasusnya berat akan dilakukan pemecatan secara tidak hormat. hal ini dapat terjadi karena adanya program intensif dari BNN dan kepolisian dalam melakukan razia narkoba di beberapa tempat.14. dimana para bandar dapat mengidentifikasi banyak oknum yang terlibat. Diantara para informan ada yang mengaku pernah mengambil barang/narkoba di Polda. Sampai akhir November 2008. penentuan tempat dan cara transaksi sekarang perlu sangat hati-hati. Penanganan kasus akan diserahkan ke atasan masing-masing. seringkali terjadi fitnah terhadap aparat penegak hukum dikatakan terlibat sebagai backing atau bandar tetapi sulit untuk dibuktikan. Bahkan.14. tetapi sekarang selalu ada jeda waktu. demikian juga anggota TNI akan diproses oleh POM sesuai matra. susah banget. ga suka sama orang kan bisa saja.5. kita geledah rumahnya sesuai informasi itu pak ya. ya susah. Menurut beberapa informan bandar tidak sedikit oknum penegak hukum terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. dari Kapolri sampai Kapolda kebijaksanaan gak main-main. “Jelas ada banget mas. Di geledah dirumah atau di badan” (Pol6. tahun 2008 . Kalau dia jadi backing. tapi belum punya bukti ya susah juga kita buktikan. Ini menunjukkan meningkatnya kinerja kepolisian dalam melakukan razia. Kalau narkoba terutama buktinya pak.3. Ga segampang dulu” (BD5.

edukasi. dan informasi (KIE) yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran wajib bagi pelajar/mahasiswa atau melalui ekstrakulikuler. Kerugian biaya yang terjadi dalam perhitungan studi ini sebenarnya jauh lebih besar karena adanya keterbatasan metodologi dan ketersediaan data. maka rekomendasi yang disampaikan adalah: Strategi Pencegahan • Strategi ini di fokuskan pada kelompok pelajar/mahasiswa. tentu Negara ini akan memikul beban kerugian yang semakin besar. dan upaya menekan dampak buruk narkoba tidak akan berhasil.Halaman | 37 narkoba. bahkan kematian. misalkan komponen biaya membesarkan anak. biaya kerusakan fasilitas umum akibat penyalahguna. termasuk tidak menggunakan narkoba. tahun 2008 . Apalagi sasaran utama peredaran narkoba adalah generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. maka perlu dukungan modul pengajaran. seperti tindakan kriminalitas. kemampuan pelajar/mahasiswa bisa membuat keputusan yang benar terkait dengan halhal positif di dalam hidupnya. 1/12/2008). dan mereka yang telah menjadi pecandu mengakibatkan adanya konsekuensi akibat narkoba yang besar. kemampuan pelajar/mahasiswa untuk bisa mempunyai ketahanan diri yang kuat sehingga bisa mengatakan ”tidak untuk narkoba”. 8. BNN dan instansi terkait perlu menyiapkan modul ini yang menekankan pada 3 aspek. minimal besaran kerugian seperti angka perhitungan proyeksi. Walaupun saat ini telah ada tindakan nyata dilapangan. Atas dasar itu. Materi bersifat interaktif dengan penekanan pada life skill education (LSE). kejadian sakit. namun fakta lapangan menunjukan masih terjadi penyimpangan. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. kemampuan komunikasi pelajar/mahasiswa bisa berbicara tentang narkoba dengan kelompok sebaya. Jumlah ini terbilang sangat banyak bila dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 21 orang (Kompas. 3) Decision Making. 2) Assertivenes. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. mengingat aparat penegak hukum yang seharusnya berada pada garda terdepan ternyata banyak oknum yang bermain. mengingat kelompok ini menjadi sasaran utama para bandar/pengedar untuk mencari penyalahguna baru (coba pakai). Kesimpulan & Rekomendasi Temuan studi ini menyimpulkan adanya kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. Upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba akan semakin tersendat. Pelajar/mahasiswa menjadi target sasaran peredaran narkoba. kecelakaan. biaya pendidikan. yaitu 1) communication. guru. Untuk bisa diimplementasikan. dan sebagainya tidak dihitung dalam studi ini. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi. Upaya yang dapat dilakukan pihak BNN melakukan kerja sama dengan Departemen Pendidikan (Diknas) dan Departemen Agama (Depag) di dalam memberikan komunikasi. orang tua dan kelompok masyarakat lainnya.

Misalkan. Pengawasan internal melalui mekanisme yang telah ada selama ini. Untuk itu. seperti yang telah dilaksanakan selama ini melalui berbagai media yang ada. dan LSM. Depkes. sedangkan pengawasan eksternal adalah pengaduan dari pihak masyarakat melalui kotak pos/pengaduan khusus. Informasi (KIE) secara lebih luas harus tetap dilanjutkan. pihak BNN harus melakukan koordinasi dengan pihak universitas melalui rektorat maupun senat mahasiswa. termasuk pembagian peran dan tanggungjawab institusi. Kinerja yang baik sangat ditentukan dari program dan aktivitas yang dilaksanakan oleh institusi tersebut. tahun 2008 . Jika diperlukan didirikan semacam posko anti narkoba di setiap universitas. termasuk adanya dukungan dana. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ide awal program ini sebagai substitusi para penyalahguna pecandu suntik heroin ke subutex agar pecandu tidak menyuntik lagi. dan dapat menjadi percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. baik yang sifatnya internal maupun eksternal. Upaya Komunikasi. dilihat dari besarnya kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian & BNN. BNN diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam mengkaji ulang program tersebut bersamasama pihak KPAN dan Depkes. serta penyakit lainnya. BNN perlu mengembangkan program-program ke arah akar rumput (grass root) yang bersetuhan secara langsung dengan para IDU. Polisi & BNN perlu melakukan inspeksi mendadak dan membongkar jaringan narkoba di penjara. Perlu program dan intervensi yang lebih serius pada kelompok ini. Beberapa fakta menunjukan adanya peran bandar dalam mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Strategi Mengurangi Permintaan • Dampak dari para pecandu suntik sangat besar. BNN dan Kepolisian perlu melakukan advokasi kepada pemerintah terkait hal ini. Aparat penegak hukum • Melakukan pengawasan yang lebih melekat. Nampaknya program ini perlu dikaji dan ditata ulang terkait implementasi dilapangan terjadi penyelewengan prosedur. Bila tidak ditangani segera dikawatirkan. dan diisi dengan program dan aktivitas yang dikembangkan secara bersama-sama antara pihak institusi terkait. Edukasi. menjalin kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan program bersama dengan KPAN. mereka yang bukan pecandu suntik akan banyak yang mengkonsumsi subutex dan kecenderungan ke arah sudah ada dilapangan.Halaman | 38 • • Dalam upaya untuk memproteksi kampus menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Subutex diperkirakan akan naik daun dalam beberapa tahun ke depan. • Strategi Supply reduction • Peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia semakin marak.

tahun 2008 . Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.Halaman | 39 • Membuat tim khusus yang mengawal dan menjaga setiap kasus narkoba yang telah berhasil diungkap mulai dari tahap penangkapan sampai diputuskan vonisnya ke dalam penjara. termasuk melakukan sistem monitoring selama terpidana di penjara.

AIDS Behav (2008) 12:294–304 Johnston. 83. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. and Weakliem. Respondent driven sampling. 1997. H. L. 2004. L. Azim.R. & Lapsley... 2006.D. Weakliem. D.A. (1991). BNN & Puslitkes UI. Heckathorn.M. D. http://www. R. 2002.. Rahman.. L.Vol.M.49:11–34. BNN & Puslitkes UI. Home Office Online Report 16/06 Heckathorn DD.D. Depok: Puslitkes UI. Sociological Focus. S.I. Respondent-Driven Sampling: A New Approach to the Study of Hidden Populations. Hien. D. M. Broadhead. Broadhead.. 2004. Broadhead RS. (1991). Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia Tahun 2006. Vol.. R. Stuid Baiaya Ekonomi dan Sosial Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2004. Extensions of respondent-driven sampling:a new approach to the study of injection drug users aged 18–25. Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders.–Mexico Border Cities: Recruitment Dynamics and Impact on Estimates of HIV and Syphilis Prevalence. R. R. Frost.... C. C. Brouwer. 44 No.T..W. Heckathorn DD. 2005. D. K. H. H. R. Effectiveness of Respondent-Driven Sampling for Recruiting Drug Users in New York City: Findings from a Pilot Study. Assessment of Respondent Driven Sampling for Recruiting Female Sex Workers in Two Vietnamese Cities: Reaching the Unseen Sex Worker Journal of Urban Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.D. Anthony.... AIDS Behav. Khan.M.A. Vol. 2006.J. L. Estimating the economic costs of drug abuse. No. S. et al. tahun 2008 . D.M. Ramos. 159–179. 2004. 15.. Bramson. Ramos. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. C.. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba. (1999).. Marijuana Abuse: Age of Initiation.... Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2005.C. Social Probl. D. Collins. Respondent-Driven Sampling ofInjection Drug Users in Two U. D.2. S. S. Harnessing peer networks as an instrument for AIDS prevention: Results from a peer-driven intervention. R. and Lapsley. Banu. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. Public Health Reports. S. (1994). and Heckathorn.2002. 32. J.. fourth edition text revision.aspx?resourceID=1 Eisner.E.M. alcohol and illicit drug abuse to Australian society in 2004/2005 Collins. Shah Alam.6(1):55–67. Mills. The economic and social costs of Class A drug use in England and Wales 2003/2004.D. Reza. 3 BNN & Puslitkes UI. Nemeth.C.D. and Strathdee. K. AIDS and social networks: Prevention through network mobilization.com/resourceTOC..J. No.. S.M. 2004. Tinsley. Broadhead. P. 83. C. L. D.. Extensions of Respondent-Driven Sampling: Analyzing Continous Variables and Controlling for Differential Recruitment. Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2005/2006. S. Heckathorn.Halaman | 40 DAFTAR PUSTAKA: Abdul-Quader. 2006 DSM IV-TR. M. Social Problems. M.psychiatryonline. Estimating the economic costs of drug abuse. The Effectiveness of Respondent Driven Sampling for Recruiting Males Who have Sex with Males in Dhaka. H. S. and Des Jarlais.T.. Alcohol & Illicit Drug Abuse to Australian Society 2004/2005 Collins. L. & Lapsley. 2005. Jakarta: EGC Johnston. A. Ed.. Bangladesh. Soc Probl. The Costs of Tobacco. Sabin. D... Heckathorn. The costs of tobacco. D. D.S.J. Sabin. Magis-Rodriguez. and Lapsley. 473–495.S. 42–57. Semaan S. Madray. http://www. Khanam. Deriving population estimates from Chain-referral samples of hidden populations.D.. 2007. Collins And Lapsley (2004) Economic Costs Of Alcohol And Other Drugs In The Workplace.respondentdrivensampling. D..2. K.S. Depok: Puslitkes UI. Parott.G.. Firestone Cruz. Section 3: Translating Research Into Practice Collins. Gallagher. L. Hughes JJ. Lozada. McKnight. Depkdiknas. (1998). Heckathorn. II. D. 19 no. L.G. 15. 7 Gordon. 41. H. 5. Pleasure of Response Foreshadow Young Adult Outcomes in NIDA Research Findings vol. K. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan.. Joewana. 113(Suppl. D. D. AIDS prevention outreach among injection drug users: Agency problems and new approaches.M. H. Anthony.T..1). Godfrey. Depok: Puslitkes UI.org Heckathorn. R.J.. D. and Huong.

The Cost of Substance Abuse in Canada 2002 Ritter. National and State Estimates of the Drug Abuse Treatment Gap: 2000 National Household Survey on Drug Abuse. B. From Networks to Populations: The Development and Application of Respondent-Driven Sampling Among IDUs and Latino Gay Men. Rockville. Rockville. AIDS and Behavior. NSDUH Series H-34. MD: National Institute on Drug Abuse Office of National Drug Control Policy. C. www. J.2004. Research Monograph Series 2.. In S. Patra.C. P. Office of National Drug Control Policy. Results from the 2007 National Survey on Drug Use and Health: National Findings (Office of Applied Studies. J. 1991. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. 9..whitehousedrugpolicy. Vol. D. S. R. The An Epidemiology of cocaine use and abuse pp.34:193–239. Denise.. Heckathorn DD.whitehousedrugpolicy.go. Li L. & Single. NIDA. R. Published December 2001. JF Scherrer. L. Addictive Behaviour 31 (2006): 948-961 Wang J. 17-24. B.. http://www. NIDA. Drug Alcohol Depend. J. A. Diaz.. P.. 2001. 2008.org Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.T. World drug report 2007. Schauffler. Health Affairs.. Youth Characteristics Describing and Predicting Heavy Drug Use by Adults. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. Sarnocinska-Hart. NIDA Research Monograph 110. Office of National Drug Control Policy. No.datastatistik-indonesia. W.diknas. pp. Shade (Eds. N. “Psyciatrich comorbidity and progression in drug use in adult Male twins: implications for the design of genetic association studies”. www. and Campbell. JD Grant. Published February 2004. DHHS. 2005. MD. Et All (2001). A report of the Canadian Centre on Substance Abuse Salganik MJ.nisn. E. 2006. Collins.. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. Taylor. Rockville. 27-35. R.unodc. Respondent-driven sampling to recruit MDMA users: a methodological assessment. Baliunas.. 20(1). International Guidelines for Estimating the Costs of Substance Abuse—2001 Edition Substance Abuse and Mental Health Administration. B. Lapsley. AA. Heckathorn.org/pdf/gap/trs-6. Brochu. 7 Kandel. Carlson RG. Sampling and estimation in hidden populations using respondent-driven sampling. Single.Halaman | 41 Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. Research Monograph Series 2. Kopp.pdf www. V´azquez. Easton..pdf Ramirez-Valles.whitehousedrugpolicy. 1997. dan Wilson. 207303).. Social costs of drug use in France. tahun 2008 . 83.id – Data rekap nasional. & Blanchard. Rockville.gov/publications/pdf/american_users_spend_2002. Sociol Methodol.D.. H. pp.unodc. 1992-2002. DC: Executive Office of the President (Publication No. http://www.gov Predicting Heavy Drug Use: Results of a Longitudinal Study. Fischer. Schober & C. RD Todd. Washington. S... Falck RS. KK Bucholz (2006). The Measurement of "Ever Use" and "Frequency-Quantity" (in Drug Use Surveys). 4. J. No. Siegal HA Rahman A. & Anthony. Gnam. Literatur review on the economic costs of substance abuse.M. MD: National Institute on Drug Abuse Kopp. Popova. E. 78:147–157 What America's Users Spend on Illegal Drugs1988–2000. DHHS Publication ADM 91-1787. Harwood. DHHS Publication No. United Nations on Drugs and Crime.1995. Factors influencing initiation of cocaine use among adults : Findings from the epidemiologic Caatchment Area Program. The Economic Costs of Drug Abuse in the United States.com www. E.. December 2005 Rehm. D. D.. 189-210.ppt-2007-06-05 World Drug Report 2008.gov/publications/predict_drug_use/intro. 2004. MD: National Institute on Drug Abuse Robson. H. Todorov. Appendix A. SMA 08-4343). Vol. Meyer Roger E Different Patterns of Drug Use.. MT Lynskey.). Medicaid Coverage For Tobacco-Dependence Treatments. http://www. 2002.

Halaman | 42 LAMPIRAN Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tahun 2008 .

252 61.247 4.645 35.833 14.476.224 42.724 700 885 344 401 218.230 1.665 13.296 50.563 26.465 43.671 12.506 27.578 6.649 35.3 1.096 32.986 4.869 10.252 7.334 4.093 2.295 11.385 14.711 7.480 498.610.383 12.116 3.577 54.6 1.155 13.3 1.538 26.964 3.432 5.931 17.626 29.267 12.270 29.966 11.658 5.197 10.526 12.019 23.754 112.4 1.787 4.863 14.414 51.551 4.057 83.401 16.761 2.071 3.798 11.211 9.024 172.471 15.280 123.4 2.164 27.114.264 12.237 36.816 23.075 7.7 1.6 1.567 11.6 1.732 6.872 30.469 2.879 41.456 14.422 19. Angka Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia.584 26.464 227.413 1.313 2.094 81.152 27.203 829.506 12.480 73.167 188.431 1.087 6.821 28.654 25.891 135.778 16.329 12.178 8.135 4.811 2.709 3.402 158.495 3.785 41.439 50.762 Total lahgun minimal maksimal 278.576 7.6 1.675 4.856 20.935 14.749 60.371 5.549 306.801 3.6 1.563 10.152 1.365 122. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.6 1.780 22.232 37.132 3.894 94.744 20.398 11.547 8.908 26.510 3.798 31.Halaman | 43 Tabel Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tabel E1.101 2.624 41.818 6.081 13.155 167.492 78.183 3.364 14.819 % thd pop 3.494 1.253 26.211 34.732 9.806 7.119 55.023 12.390 3.808 129.785 60.781 6.129 8.374 1.016 9.261 4.6 1.689 40.3 1.380 17.434 21.166 pecandu minimal maksimal 124.890 2.462 49.573 14.059 9.075 22.857 10.817 938.713.182 2.088 9.544 20.264 5.3 1.269 6.6 1.302 64.749 9.731 31.552 214.3 1.953 10.3 1.449 294.626 6.150 21.888 52.902 3.262 53.493 143.772 49.573 8.070 3.392 752 912 3.163 14.6 1.629 9.217 47. tahun 2008 .603 1.879 1.323 9.840 29.383 13.771 26.079 36.7 1.363 19.376 807.2 1.886 19.4 1.2 1.174 11.528 1.996 44.256 1.412 10.747 7.303 23.740 8.599 46.763 96.127 7.673 57.984 19.850 2.2 1.656 4.560 6.818 5.970 4.041 teratur minimal maksimal 76.893 3.197 2.581 253.539 570.461 10.473 16.670 18.677 26.229 7.502 11.854 35.768 2.8 1.113 396.5 1.093 11.381 15.384 31.070 23.999 3.042 1.051 11.335 113.310 71.302 7.168 204.418 6.316 6.594 131.029 146.089 12.250 5.2 1.6 2.418 27.500 11.592 11.0 1.364 7.878 8.259 39.501 22.394 23.655 1.410 21.157 9.149 9.572 4.573 11.417 10.548 84.776 2.114 142.7 1.752 18.987 124.399 9.439 69.276 2.576 4.765 17.601 12.317 3.1 1.649 16.463 20.258 4.115 16.234 3.071 7.550 7.6 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.395 30.964 4.561 107.629 9.512 8.487 6.682 3.910 13.788 76.1 1.6 1.898 21.657 260.171 13.228 186.814 959.209 43.514 36.735 23.618 83.072 14.122 22.090 22.715 27.933 5.694 652.743 26.038 268.233 465.726 15.305 571.715 115.707 99.612 Pecandu suntik* minimal maksimal 30.624 5.605 5.845 41.429 1.905 9.108 3.033 158.830 9.821 42.065 22.879 48.4 1.636 2.488 3.007 3.762 47.312 24.397 31.953 18.944 7.999 26.582 20.613 722 917 993 1.280 12.738 42.151 138.412 87.137 3.188 865 981 1. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total coba pakai minimal maksimal 77.202 13.686 7.984 11.

2. tahun 2008 .Halaman | 44 Tabel E. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total Pel/mhw 40 40 58 62 42 49 42 48 32 45 34 56 58 35 60 51 46 62 51 42 57 57 59 58 42 63 48 50 54 49 41 53 53 49 Coba pakai Bukan 7 9 9 8 10 10 8 11 10 9 11 8 8 5 5 6 8 12 9 7 14 12 9 10 17 12 8 12 3 12 13 13 10 9 Total 48 49 68 71 52 59 49 59 43 54 45 63 66 40 66 57 54 74 60 49 71 69 68 68 59 76 56 62 57 62 54 65 63 58 Pel/mhw 32 30 23 19 28 18 26 22 30 19 28 17 17 34 18 25 35 12 24 29 16 18 13 18 17 12 17 23 22 24 28 8 13 23 Jenis Penyalahguna Narkoba (dalam %) Teratur Pecandu bukan suntik Bukan Total Pel/mhw Bukan Total 2 35 11 3 13 1 31 16 1 17 1 24 4 1 5 3 22 4 1 5 6 34 11 0 12 4 22 14 1 16 2 27 17 2 19 2 24 13 1 14 2 33 17 1 17 3 22 17 1 17 1 29 7 1 8 1 19 12 1 13 3 20 6 1 8 2 36 10 1 12 5 23 3 1 4 3 28 12 1 13 2 36 5 2 7 1 12 7 2 9 3 27 7 1 8 1 30 10 2 12 5 21 4 1 5 6 23 3 1 4 5 18 6 4 10 4 22 3 2 4 1 18 9 6 15 3 16 3 3 6 7 24 13 3 16 3 26 7 2 10 0 22 10 4 14 3 26 8 3 11 5 34 6 3 9 2 10 19 3 23 5 19 14 2 17 3 26 11 2 12 Total Lahgun Setahun Pecandu suntik Pel/mhw Bukan 3 1 3 0 3 0 2 0 2 0 3 0 4 1 3 0 7 0 6 0 16 1 4 1 6 1 11 1 7 1 2 0 2 0 5 0 5 0 9 1 2 0 3 0 4 0 5 1 6 2 2 0 2 1 2 0 6 0 1 0 3 0 1 1 1 0 3 0 Total 4 3 3 2 3 3 5 3 7 6 17 5 6 12 8 2 3 5 6 10 3 3 4 6 8 3 4 2 6 1 3 2 2 4 Pel/mhw 86 89 87 87 84 84 89 86 86 87 85 90 87 91 88 89 88 85 87 90 79 81 82 84 74 80 81 82 92 81 79 82 82 86 Bukan 14 11 13 13 16 16 11 14 14 13 15 10 13 9 12 11 12 15 13 10 21 19 18 16 26 20 19 18 8 19 21 18 18 14 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Angka Persentase Penyalahguna Narkoba menurut kelompok pelajar/mahasiswa & bukan pelajar/mahasiswa.

1 5.8 8.3 1.0 3.3 68.3 11.7 2.7 58.6 2.8 0.8 0.4 11.1 11.5 0.5 2.4 6.5 13.3 10.0 73.9 23.5 2.9 24.7 0.2 32.9 85.9 0.4 0.2 14.4 4.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 0.2 2.5 5.7 27.0 2.2 1.0 3.3 2.8 25.2 Bukan Suntik 1272 11.1 2.0 0.5 67.7 11.0 3.2 93.9 1.1 0.5 10.6 3.0 Total 1733 9.8 66.7 1.3 91.3 68.1 1.0 5.8 0.3 4.5 1.5 17.5 1.7 84.5 24.3 92.9 20.0 1. Distribusi persentase responden yang terpilih dalam studi menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur > 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun lebih dari 49 tahun Jenis kelamin Laki Perempuan Pendidikan Rendah (=<SD) Menengah (SMP) Atas (SMA keatas) Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Hidup bersama tanpa nikah Pekerjaan utama Tidak bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai negeri (PNS) Pegawai swasta TNI/ POLRI Wiraswasta/pedagang Buruh tetap Buruh tidak tetap /serabutan Sopir Ojek Lainnya tempat tinggal anda saat ini Rumah sendiri Rumah orang tua Rumah saudara kandung Rumah saudara bukan kandung/kakek/nenek Rumah teman/tetangga Rumah kost/kontrakan Tidak punya tempat tinggal tetap N: Jumlah seluruh responden Teratur 410 8.1 10.7 7.7 56.4 2.3 23.4 25.3 1.3 92.4 0.5 77.5 0.2 1.0 24.4 14.1 12.5 7.1 12.1 0.8 29.6 6.6 0.4 80.2 4.0 14. tahun 2008 .2 6.5 0.7 2.2 7.2 21.4 1.8 25.4 20.3 69.7 20.2 5.6 16.5 63.5 5.3 18.1 15.4 12.5 2.2 15.7 1.1 0.2 3.0 16.5 88.1 0.9 1.8 5.0 79.Halaman | 45 TABEL PROBABILITAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA.5 3. TAHUN 2008 ( Hasil Survei di 17 Propinsi) Tabel 1.9 0.4 2.1 24.4 1.9 0.2 0.7 10.9 68.9 2.4 33.9 2.4 0.7 2.2 2.4 56.3 1.3 17.1 17.8 3.7 2.1 0.4 21.2 6.6 74.7 3.7 34.1 2.9 23.2 0.8 70.1 1.6 3.5 12.0 4.7 0.7 53.3 6.7 15.9 57.3 27.4 4.5 Pecandu Suntik 461 2.8 0.0 1.3 Keseluruhan Lahgun 2143 9.

0 0.7 Pecandu Bukan Suntik 1272 98.3 0.7 0.2 7.5 0.3 Suntik 461 98.3 6.0 0.9 2.0 17 16 3 7 50 88.6 94.nipam.6 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.lexo/lexotan.2 80.1 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Obat penenang/barbiturat (valium.5 93.4 34.0 0.0 26.cimeng.4 29.9 18 17 4 8 50 Pecandu Bukan Suntik 1272 5.3 Keseluruhan Lahgun 2143 98.0 0.5 16.3 8.8 16 16 3 7 40 Suntik 461 10.4 43.1 0.8 N Merokok Pernah merokok Setahun pernah merokok Alkohol Pernah minum alcohol Setahun pernah alcohol N: Jumlah seluruh responden 93.2 80.marijuana) Hashish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.8 2.3 91.2 56.2 80.5 0. tahun 2008 .7 0.7 7.4 7.1 0.9 0.7 0.7 71.6 0. i.1 0.8 0.5 7.7 92.2 0.0 23.2 67.1 4.3 11.0 4.0 83.5 16 16 3 7 40 Keseluruhan Lahgun 2143 5.0 21.1 0.8 95.7 16 15 3 9 35 Total 1733 6.3 0.4 0.0 16.1 3.1 2.5 3.2 Total 1733 98.9 15.6 0.6 35.2 0.2 59.BK.7 92.9 24.9 33.9 0.5 0.2 94.2 66.2 19.8 93.1 73.9 41.5 0.1 19.6 2.2 33.5 93.2 0.1 20.9 95.0 1.5 91.8 41.0 92.rohyp Lainnya Teratur 410 2.7 95.8 42.0 0.2 0.1 0.7 Tabel 3a Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur pertama pakai narkoba < 13 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun >= 19 tahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Jenis kelamin Laki Perempuan Jenis narkoba pertama kali Ganja (cannabis.1 5.2 40.2 5.8 8.gele.Halaman | 46 Tabel 2 Perilaku merokok & minum alkohol dikalangan lahgun menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 98.

8 2.4 0.3 3.0 0.6 56.2 5. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.2 61. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.0 0.0 40.5 0.8 28. rohypnol) LSD (acid) Kecubung. cimeng.2 64.1 5.4 4.0 7.6 5.9 55.4 4. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.6 49. BK.2 48.5 17. BK. tahun 2008 .1 71.8 10.9 4.5 60.3 0. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.1 6.7 10.5 37.3 2.0 Pecandu Bukan Suntik 1272 92.4 9.9 7.5 4. lexo/lexotan.2 28.6 63.7 33.0 0. nipam.5 21.5 14.5 14.7 22.7 7.0 11.4 65.2 9.3 82.6 8.2 0. cimeng.0 10.1 18.1 6.0 27.6 32.1 79.5 2.5 4.4 5.3 0.9 76.9 58.4 Total 1733 92.5 53.3 2.6 0.8 11.4 66.0 Keseluruhan Lahgun 2143 91.8 8.7 0.3 6.UHU) Lainnya.8 3.2 37.5 56. nipam.1 19.8 20. sebutkan Jenis narkoba setahun terakhir pakai Ganja (gele.2 0.5 1.8 0.5 0.3 1.4 16.8 10.9 3. lexo/lexotan.0 2.8 24.8 5.6 23.1 2.6 0.5 3.Halaman | 47 Tabel 3b Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Jenis narkoba yang pernah pakai Ganja (gele.1 3.8 17.2 4.2 30.9 0.9 16.9 47.0 2.1 26.1 Suntik 461 93.2 66.6 65.6 10.4 0.5 0.9 4.9 33.5 2.6 3.7 66.5 2.8 20 21 5 48 184 421 49 7200 720 1181 49 29979 357 624 49 29979 161 508 5 29979 36.8 30.7 0.6 65. i.6 50.1 53.0 35.5 1.0 69.5 53.3 72.8 0.0 31.1 6.6 29.4 10.4 5.9 51.3 66.9 37.4 32.7 0.2 2.0 36.8 4.2 0.1 0.7 14.9 16.8 70.5 52.6 15.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.-Aibon. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.7 65.0 33.3 6.9 42.9 3.0 1.0 46.6 1.4 2.8 49.3 1.2 0.8 65.3 13.5 3.6 29.8 36.7 38.3 0. i.UHU) Lainnya Frekuensi pakai Mean Median Minimum Maksimum Keluarga tahu anda pakai narkoba Ya Tidak Ada anggota keluarga lain pakai narkoba Ya Tidak Teratur 410 88.9 21.2 0. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.1 4.-Aibon.9 4. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.4 81.9 4.

4 11.0 4.0 35.0 0. i.5 Pecandu Bukan Suntik 1272 29.9 41.6 11.9 3.1 9.4 26.6 0. XTC).3 Total 1733 16.5 78.9 Pecandu Bukan Suntik 1272 84.9 29.1 20.8 0.6 10.0 0.6 51.gele.8 38.5 Total 1733 33.0 7.1 41.3 0.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 82.6 47.6 N Pernah pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba Setahun pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba 52.7 35.3 276 48.3 83.7 2.2 28.6 0.: Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine): Obat penenang LSD (acid) Kecubung.6 7.8 9.2 28.3 9.0 8.0 41.8 2.4 1.5 2.7 Keseluruhan Lahgun 2143 17. tahun 2008 .5 10.0 20.1 0.1 190 80.9 12.8 8.9 12.2 54.0 0.4 1574 12.4 35.5 10. jmr di kotoran Sapi/mushroom Inhalan/dihirup (ngelem.2 9.6 0.5 1.6 35.6 2.2 2.4 11.4 0.2 30.0 9.9 26.7 3.9 1.0 49.2 32.9 950 47.0 0.4 9.2 Keseluruhan Lahgun 2143 85.0 78.6 12.4 5.7 18 17 3 74.5 Tabel 5 Peredaran narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 19.0 Keseluruhan Lahgun 2143 31.8 348 45.6 31.8 0.0 11.0 1.7 1.5 47 87.5 0.4 59.7 27.0 1574 47.3 43.6 3.1 157 81.4 11.2 0.1 13.5 2.3 276 12.8 47.9 0.6 0.7 98. Hasish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.4 0.6 11.3 0.9 1298 12.4 0.4 32.9 1.0 48.4 47.1 40.4 2.marijuana).9 Suntik 461 91.5 1298 47.9 55.6 N Pernah menjual narkoba Setahun terakhir masih menjual narkoba Pernah menjadi kurir narkoba Pernah menawarkan narkoba ke orang lain Tabel 6 Perilaku seks dan narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Pernah seks Usia pertama kali hubungan seks Mean Median SD Seks setahun terakhir N Seks setahun terakhir Pernah hubungan seks demi narkoba Seks demi narkoba by jenis kelamin (N) Laki Perempuan Frekuensi pakai kondom setahun terakhir (N) Tidak pernah Kadang-kadang/jarang Selalu Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Jenis narkoba yang mempengaruhi anda ingin hubungan seks Ganja (cannabis.5 18 18 3 67.0 33 72.5 18 17 3 73.5 61.0 Pecandu Bukan Suntik Suntik 1272 461 21.4 0.5 31.2 64.8 2.2 12.0 0.cimeng.6 0.6 87. bensin) Lainnya Teratur 410 80.5 6.1 45.8 18 17 3 75.8 40.7 0.5 348 13.5 1.6 0.8 18 17 3 74.6 Suntik 461 45.7 950 11.1 2.7 47.5 29.1 13.5 18.7 9.6 110 79.6 0.1 0.Halaman | 48 Tabel 4 Pola Konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 22.5 5.4 56.4 36.0 5.2 10.3 8.4 35.3 4.4 1.7 0.2 Total 1733 86.5 0.

1 10.0 72.0 4. ObatPenenang Lainnya pernah menggunakan jarum suntik bersama/bekas pakai Pernah pakai narkoba suntik setahun terakhir Ya Tidak Frekuensi pakai narkoba suntik Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi pakai jarum baru (bulan) 4.8 691 175 25.2 6.0 4.1 64.9 10.4 17.9 71.2 36.7 81.3 65.7 2.2 11.3 5.3 42.4 2.1 4.6 68.8 3.3 5.2 42.3 1.1 1.3 45 19 19 4 12 28 2143 34.1 62.4 44.8 5.4 8.5 57. tahun 2008 .1 81.9 31.7 74.9 4.6 36.3 522 365 679 1 10950 528 365 478 1 1825 522 365 667 1 10950 Mean Median SD Minimal Maksimal 24 15 24 1 150 14 10 11 3 30 24 15 24 1 150 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6 736 20 19 5 9 38 Mean Median SD Minimal Maksimal Lama pakai narkoba secara teratur (bulan) Mean Median SD Minimal Maksimal suntik 20 19 5 9 38 65 60 53 1 360 59 42 46 4 132 65 60 53 1 360 Jenis narkoba yang pernah disuntikan ke dalam tubuh Kokain Shabu Ekstasi (inex i XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine).6 1.3 18.5 62.3 5.Halaman | 49 Tabel 7 Penyalahgunaan narkoba suntik Laki Perempuan Total N Pernah narkoba suntik Ya Tidak N Umur pertama pakai narkoba suntik 1968 35.6 1.1 80.

0 35.2 35.5 45.5 13.4 18.6 15.1 34.6 373 38.5 4.4 5.8 23.1 83.Halaman | 50 Tabel 8 Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 410 Pecandu Bukan Suntik 1272 Suntik 461 Total 1733 Keseluruhan Lahgun 2143 N Responden yang punya keluhan kesehatan Ya Tidak Jenis keluhan yang disampaikan Rasa Mual Selera makan berkurang Rasa sakit pada ulu hati Rasa perih/nyeri pada saat menelan makanan Warna putih menebal pada bagian mulut/tenggorokan Rasa sesak pada dada Rasa sakit pada saat bernafas Batuk berdahak lebih dari 2 minggu Diare lebih dari 2 minggu Rasa lelah (fatique) berkepanjangan Keluar keringat pada malam hari secara berlebih Demam tinggi lebih dari 2 minggu Kulit dan kuku berwarna kuning (menguning) Peradangan pada kulit (luka yang sulit sembuh) Rasa gatal/panas dan ruam/memerah pada kulit Munculnya bercak berwarna merah/putih/hitam di kulit Penurunan berat badan lebih dari 10 dalam 2 minggu N punya keluhan kesehatan Melakukan pengobatan sendiri Jenis pengobatan sendiri yang dilakukan Obat Tradisional/non medis Obat modern/medis Lainnya Melakukan pengobatan ke orang lain Rawat jalan Rawat inap 65.3 37.0 14.5 143 31.1 74 57.3 6.4 25.2 32.8 3.3 45.0 50.3 25.7 47.2 75.5 40.8 17.7 23.6 8.9 7.7 4.7 2.7 33.2 23.9 12.4 3.0 18.7 7.6 516 36.5 70.6 21.9 5.8 45.4 42.0 9.6 3.2 17.5 23.9 25.0 72.5 23.1 1.6 34.7 299 36.0 76.7 23.7 35.0 16.1 3.0 18.1 4.7 37.0 9.4 9.5 373 48.0 4.3 70.7 9.1 29.2 6.9 16.9 17.4 18.9 11.1 9.2 7.6 34.9 25.3 5.9 22.4 30.9 24.2 4.7 34.6 10.1 2.2 6.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 62.3 14.1 26.0 6.5 299 44.7 5. tahun 2008 .2 5.5 1.5 4.3 27.8 46.2 3.5 74 43.9 68.2 16.7 46.2 1.7 8.9 37.8 5.9 143 31.3 10.6 19.1 4.5 70.0 4.5 21.2 26.4 36.4 5.3 17.6 11.5 78.7 6.9 45.1 516 44.6 6.

1 5.0 0.0 0.8 8.1 1.2 7.3 60.2 0.4 11.3 4.0 31.3 16.2 0.2 48.0 1.adik/kakak.0 5.0 0.1 4.7 1.6 21.0 3.4 0.6 47.4 0.0 0.1 3.0 59. Sebutkan N berobat rawat inap Tempat pengobatan rawat inap RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.2 6.7 61.1 15.1 0.3 3.0 Suntik 209 41.0 49.2 0.2 41.2 14.0 0.kerabat): Biaya sendiri (responden) Lainnnya Ada orang lain yang mengantar selama berobat Rawat jalan Rawat inap 15.0 0.0 9.2 8.6 7.6 1.0 Pecandu Bukan Suntik 238 17.2 13.8 60.0 0.2 11.0 Keseluruhan Lahgun 505 27.4 2.7 50.5 9.2 0.6 2.4 2.7 1.9 2.Halaman | 51 Tabel 8b Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 58 18.1 12.1 0.7 0.7 0.8 0.7 7.9 3.0 0.4 9.4 0.6 53.9 1.0 0.7 47.3 0.6 5.7 17. tahun 2008 .8 1.0 0.9 2.8 3.8 41.1 10.0 0.9 1.4 134 8.4 0.4 2.0 0.0 1.0 13.4 0.7 8.0 0.1 6.1 90 11.3 3.9 3.8 0.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Sebutkan Apakah tersedia jaminan pembiayaan kesehatan Askes Astek jamsostek Perusahaan/kantor Asuransi lain/swasta Kartu sehat/SKTM/jamkesmas/Gakin Keluarga (ortu.8 0.0 55.9 3.8 45.7 1.9 145 7.9 44 5.9 11.4 4.3 60.5 40.0 8.9 4.0 N berobat jalan Tempat pengobatan rawat jalan RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.0 14.9 5.0 0.6 25.7 3.1 42.2 15.0 0.7 0.0 0.3 3.7 5.3 11 5.3 15.4 14.7 21.5 7.0 Total 447 28.7 51.5 48.4 0.1 22.1 15.3 10.0 0.3 9.2 5.

.0 4.0 0..0 10.0 20.. sebutkan .5 0..4 55.2 130 1733 14.0 283 4.5 2.Halaman | 52 Tabel 9 Kasus over dosis dikalangan pelayahguna narkoba Teratur N Pernah overdosis Ya N pernah OD Pernah overdosis terakhir Ya Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.2 Frekuensi OD setahun terakhir Mean Median SD Minimal Maksimal Tindakan yang dilakukan ketika OD Tidak melakukan apa-apa Ditolong/ di rawat teman Perawatan medis Perawatan non medis Lainnya.2 33..8 0. Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Ketika OD di tolong di pelayanan medis.0 60.0 2.0 0.1 28.1 10.7 5.1 129 461 28.7 13.6 4.0 130 8..5 18.2 8.0 0.9 24 dlm setahun 1272 10.1 0. tahun 2008 .0 20. ada orang lain yang menunggu (n) 2 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1 3 40.6 4.5 9.8 11.9 Ya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 0.0 24 4.1 8.0 1.0 0.2 54.3 0.9 259 2143 13.0 129 1.3 52.5 52.2 9..0 259 5.4 4.3 56.5 29.5 4.2 283 1.

2 0. .Halaman | 53 Tabel 10 Detoksifikasi dan rehabilitasi menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 0.3 0.8 25.0 .0 2.7 7.1 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6 0.4 Frekuensi rehabilitasi Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi detoks & rehab Mean Median SD Minimal Maksimal . . Pecandu Bukan Suntik 1272 2. .5 0.0 7.1 3 Keseluruhan Lahgun 2143 5.4 0.3 2. tahun 2008 .0 .4 3 Total 1733 6. .0 4 Suntik 461 16.5 1.2 0.9 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17. 0. .1 3 N Pernah Detoksifikasi Detok setahun terakhir Pernah Rehabilitasi Rehabilitasi setahun terakhir Pernah Detok-&-Rehab Detok&Rehab setahun terakhir Frekuensi detoks (kali) Mean Median SD Minimal Maksimal . 8.2 3.2 0. . .2 2. .6 8.0 1.1 0.0 0. .9 9.2 0. .4 0.5 2.7 2. .5 Ada orang lain yg membantu 22.9 0. 2 4 1 9 1 1 1 0 3 1 3 1 12 1 1 1 1 7 1 1 0 1 1 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.

6 73.4 12.3 7.9 15. Perilaku tindakan kriminal akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah melakukan tindakan kriminal krn narkoba Ya tidak Setahun tindakan kriminal Proporsi antara tindakan criminal dan keluarga (n) Keluarga/orang tua Orang lain Campuran Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 15.2 64.9 30.7 67.5 14.0 15.Halaman | 54 Tabel 10.3 2143 31.4 57.5 33.9 40.1 1733 35.3 27.7 60.0 1272 25.4 68.7 28.7 6 3 9 1 40 6 2 13 1 96 4 2 11 0 90 5 2 12 0 96 6 2 12 0 96 Tabel 11.3 13.5 65.2 26.5 38.9 4.9 26.5 20 80. tahun 2008 .7 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.9 96 67.4 83.9 9.2 267 64.9 287 65.0 5.1 4.1 8. Perilaku pencarian pengobatan sendiri terhadap keluhan akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah pengobatan sendiri Ya Tidak Setahun pengobatan sendiri Frekuensi pengobatan sendiri setahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 16.0 37.1 21.5 7.4 461 61.0 171 63.0 16.4 13.9 82.8 27.

8 1. tahun 2008 .2 1.4 1.5 62.2 20.9 1 1 1 1 5 62 80.3 2143 20.7 17.9 1.8 1.5 1272 477 37.3 1.Halaman | 55 Tabel 12.5 19.0 256 18.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 1 1 1 1 5 132 72.5 1.5 16.0 1733 23.5 1.0 0.9 14.7 55.3 1272 14.8 461 197 42.0 461 46.0 1.0 7.9 1.8 4.9 2143 769 35.1 1.3 7.2 1 1 0 1 1 5 33.1 1.0 0.9 63.5 1.0 336 25.9 1.0 7.0 0.0 24 12.0 0.1 5.6 1.0 80 48.9 60.0 7.6 1.2 76. Kasus kecelakaan lalulintas yang diakui akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah kecelakaan lalulintas krn narkoba Ya Tidak Setahun kecelakaan lalulintas Frekuensi kec lalulintas setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah kecelakaan lalulintas setahun Ada orang yg bantu saat kecelakaan lalulintas Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 95 23.1 1 1 1 1 5 65 65.0 360 25.2 6.1 1.3 1 1 1 1 5 127 73.8 1733 674 38.0 5.0 Tabel 13 Penangkapan pihak kepolisian akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah ditangkap polisi krn narkoba Setahun ditangkap krn narkoba Frekuensi ditangkap setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah ditangkap setahun Ada orang yg bantu saat ditangkap polisi Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 7.0 3.

0 40.7 58.0 30 79.1 55.2 38.1 120 2.6 56.8 Tabel 15 Pengalaman Aktivitas terganggu akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah aktivitas terganggu krn penyalahgunaan Ya Tidak N pernah aktivitas terganggu Setahun pernah aktivitas terganggu dari penyalahgunaan Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 38.5 60 82.7 679 27.8 265 3.3 828 25.4 149 21.4 85.4 1 1 0 1 2 461 31. 1 1 1272 9.4 41.6 145 6.9 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.1 476 27.8 1 1 0 1 2 1 100.Halaman | 56 Tabel 14 Pengalaman dipenjara akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah dipenjara krn kasus narkoba Tidak N pernah dipenjara Setahun dipenjara krn narkoba Frekuensi dipenjara setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah dipenjara setahun terakhir Ada orang yg bantu saat dipenjara Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5. tahun 2008 .5 66.3 83.2 49.4 23 0.4 1 1 0 1 2 2143 13.9 288 2.1 203 26.2 1 1 .9 58.3 29 85.4 90.2 47.6 94.3 1 1 0 1 2 1733 15.7 59 82.

03 0.4 93.0 27.91 0.10 0.0 92.0 46.67 0.0 54.8 17.6 17.0 5.1 27.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.3 25.0 27.00 0.12 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.91 0.Halaman | 57 Tabel 16.0 5.00 0.0 7.9 7.00 0.09 0.8 28.0 27.06 0.4 7.0 4.0 54.0 4.91 0.0 54.17 0.00 0.13 0.2 18.00 0.5 27. Teman responden yang pakai narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Pecandu Suntik Keseluruhan Lahgun Teratur N Perkiraan jumlah narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal Bukan Suntik Total 410 teman pakai 1272 461 1733 2143 17 10 20 2 100 mati karena 17 10 28 1 200 16 8 21 1 100 16 10 25 1 200 16 10 25 1 200 Ada teman narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal yang 2 2 1 1 4 4 3 3 1 12 5 3 5 1 30 4 3 4 1 30 4 3 4 1 30 Jenis kelamin teman yg mati Laki-laki perempuan Umur teman yg mati karena narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal 100.0 Perkiraan jumlah teman yg mati karena narkoba Mean Median Minimum Maximum Std Deviation 0.0 4.1 92.0 27.5 27.06 0.6 20.0 0.8 17.6 7.6 92.0 44.01 0.15 0. tahun 2008 .0 27.05 0.

00 0.01 0.06 0.00 0.22 0.43 0.17 0.45 0.27 0.02 0.25 0.14 0.27 0.00 0.12 0.00 0.10 0.50 0.00 0.01 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.46 0.01 0.10 0.06 0.04 0.29 0.13 0.22 0.05 0.00 0.00 0.00 0.16 0.01 0.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.00 0.06 0.03 0.04 0.26 0.01 0.04 0.38 0.01 0.00 0.00 0.05 0.05 0. 2008 Angka prevalensi kematian narkoba 0.00 0.01 0.03 0.33 0.27 0.00 0.42 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.51 0.13 0.05 0.10 0.04 0.00 0.21 0.02 45-49 0.08 0.55 0.00 0.05 0.25 0.21 0.13 0.00 0.00 0.00 0.00 0.46 0.02 0.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.09 0.03 0.00 0.00 0.03 0.33 0.00 0.02 0.54 0.33 0.02 0.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.25 0.00 0.00 0.05 0.29 0.01 0.00 0.11 0.02 0.53 0.25 0.333 1.18 0.32 0.09 0.06 0.00 0.50 0.05 0.01 0.00 0.02 0.27 0.986 219 871 165 203 33 114 353 60 71 288 259 105 188 82 142 74 7 1.01 0.27 0.22 0.06 0.03 0.00 0.33 0.00 0.08 0.00 0.02 0.00 0.00 0.33 0.45 0.00 0.01 0.08 0.00 0.46 0.23 0.01 50-54 0.11 0.42 0.09 0.08 0.12 0.00 0.05 Persentase kematian menurut kelompok umur Absolut mati yg 10-14 0.01 0.10 0.05 0.71 0.25 0.00 0.25 0.02 0.02 0.00 0.02 0.27 0.03 0.01 0.00 0.00 0.00 0.14 0.00 0.01 0.48 0.00 0.00 0.421 716 455 111 3.01 0.02 0.06 0.12 0.00 0.23 0.00 0.00 0.50 0.38 0.00 0.00 0.10 0.34 0.01 0.00 0.28 0.06 0.00 0.00 0.10 0.27 0.00 0.02 0.06 0.12 0.00 0.06 0.08 0.41 0.00 0.04 0. Angka Prevalensi dan Perkiraan Kematian Akibat Penyalahgunaan Narkoba Menurut Kelompok Umur Propinsi di Indonesia.00 0.11 0.00 0.04 0.11 0.11 0.13 0.00 0.11 0.02 0.00 0.00 0.10 0.05 0.00 0.13 0.22 0.00 0.00 0.01 0.00 0.00 0.09 0.00 15-19 0.27 0.04 0.27 0.00 0.20 0.03 0.00 0.05 0.18 0.01 0.50 0.00 0.08 0.01 0.00 0.01 0.20 0.80 0.00 0.00 0.00 0.12 0.21 0.04 0. tahun 2008 .26 0.19 35-39 0.25 0.00 0.13 0.00 0.05 40-44 0.05 0.04 0.48 0.10 0.00 0.09 0.27 0.00 0.05 0.27 0.00 0.20 25-29 0.61 0.71 0.00 0.00 0.03 0.00 0.621 66 86 158 132 497 12 48 12 6 14.29 0.00 0.00 0.00 0.17 0.46 0.33 0.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.38 0.Halaman | 58 Tabel 17.02 0.00 0.05 0.00 0.13 0.00 0.02 0.01 0.49 0.00 0.02 0.01 0.03 0.00 0.54 0.05 0.00 0.02 0.12 0.46 0.02 0.05 20-24 0.00 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total 2.894 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.00 0.02 0.25 0.03 0.00 0.48 30-34 0.01 0.03 0.09 0.00 0.00 0.02 0.13 0.

.

519 19.743. Kerugian Biaya Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia.715 680.953.036 722.000.705 26.986 227.735 3.454 59.657 5.124 1.489.000 rupiah) Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2008 15.443.243 22.957.450 8.376.424 45.220 882.060 252.688 323.515 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.602 839.Halaman | 60 TABEL ESTIMASI BIAYA KERUGIAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA Tabel 1.094. 2008 (dalam 1.071 7. tahun 2008 .813 188.530 32.

225 586 1.486 6.079 180.607 0 16.060 1.424 0 0 0 0 310 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.587 23.701 613.850 3.149 70.020 284.501 270.183 283 1.840 781 292.651 0 5.112 1.683 1.Halaman | 61 Tabel 2a No PROP Biaya private (dalam 1.545 485 85.173.369 86.610 15.651 36.048 4.875 1.499 94.634 12.269 1.804 5.046 17.986 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.388 1.925 1.921 1.009 2.226 239.414 177.115.849.186 58.808 449.165 158.199 0 0 719.791 46.806 133.612 9.742 6.049 327.536 585 1.374 149.239 11.013 50.302 34.490 63.877 1.489.410 125 510 0 0 13.721 243.975 188.407 50.427 2.425 501.222 261.042 67.244 1.355 2.023 0 0 0 0 0 0 0 0 73 0 0 0 0 361.855.435 15.841 36.224 9.320 2.070 12.356 394.365 1.913 2.001 1.539 953.830 4.768 6.802 3.024 2.201 11.292 30.438 1.822 12.435 10.516.051 933.403 2.542 822.098 1.666 19.441 6.612 43.257 9.950 2.462 3.219 226.871 1.847 210.088 28.000 rupiah) Pengobatan sakit Konsumsi Narkoba Rawat jalan Rawat inap overdosis detok Rehab detoks & rehab detoks & pengobatan tertangkap rehab sendiri kecelakaan polisi penjara aktivitas terganggu total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.808 882.439 1.431 4.845 323.102 35.344 3.171 6.744 4.638 0 3.499 2.310 220.103 505 15.550 32.820 17.273 68 170 0 5.421 508 852 0 3.294 292.889 630.609 15.263 4.669 26.846 42.620 54.724 1.321 5.220 30.586 89.000.871 1.133 7.757 7.060 11.641 107.573 17.258 13.513 253.793 10.332 1.993 3.302 14.475 321.226 7.829 14.424 959 1.749 16.602 9.732 56.919 11.519 0 5.483 427.043 19.948 435.430 560.772 13.056 916 905.691 1.320.835 7.749 5.762 209.373 3.741 5.161 10.155 51 23 22.602 0 93.380 430 196 839.622 136.845 413.959 1.407 16.593 524.211 32.671 46.463 5.483 21.485 132.258 0 16.591 13.556 691.559 2.283 1.252 2.431 3.683 0 2.256 1.768 3.076 7.455 230.676 5.530 295 2.472 795.618.327 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73 15 27 0 337 40 0 280 35 46 128 106 3.680 33. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 1.666 180.740 124.817 2.630 9.813 5.183 141.124 27.660 930 2.075 5.489 23.988 575 946 891 239 479 929 87 168 297 603 939 184 43 769 111 358 359 271 155 6 25 30 17 19.396.182 700 186. tahun 2008 .638 2.140 2.130 6.183 4.376.218 4.772 9.299 410.153.631 51.047 557.949 3.424 28.102 4.617 1.335 317.265 19.065 3.010 955 206 149 331 1.254.578 1.688 26.703 3.250 16.562 979 25.149 0 991 15.142 886 271.434 3.956 2.702 1.968 5.071 1.926 977.845 8.901 30.404 301.939 54.694 85.872 150.167 21.568 1.846 152.036 370.974 996 117.364 1.404 294 3.394 219.658.907 100.792 76.758 11.673 24.953 2.395 1.860 28.021 9.021 0 162.388 6.228 3.841 2.668 0 67.639 9.395 814 131.029 3.334 1.060 4.912 134.263 438.551 559.511 65.874 296.986 217.561 2.768 110 5.873 468 1.020 1.052 5.284 4.977 6.692 44.532 188.666 526 153.326 15.622 8.843 7.705 26.799 0 0 0 0 0 353 4.996 63.202.706 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.226.702 1.741 1.851 165.255 8.188 16.

043 3.268 21 7.060 5.202 139 310 333 272 446 143 468 2.193 3. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 4.410 48.265 26.002 1.153 10.780 6.555 664 266 7.645 0 2.809 0 254.187 181 98 187 384 320 159 101 3.340 3.211 6.149 93.893 880.757 0 51.000.678 31.362 11.465 3.045 24.528 0 0 0 0 0 44 397 9 21 34 59 768 1.392 2.364 5.553 996 3.285 1.926 22.046 246 361 0 3 41 0 1 0 1.235 3 2.210 35.405 426 720 344 157 51.498 1.746 7.709 5 10.424 0 804.161 105 295 411 300 1.583 343 68.059 159 0 509 14.285 485 125 0 2.052 5 17.512 6.630 41.889 363 675 5.972 3.185 1.376 6.045 1.410 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.674 13 16.652 555 775 172 1.174 642 877 664 243 481 2.559 203 94 167 122 1.418 75.283 258 101 194 0 0 176.833 11.924 7.300 63.454 75 0 14 0 0 42.087.919 0 42.293 39.863 680.934 0 85.280 269 407.694 2.785 1.142 0 93.433 564 12.373 543.552 5.814 7.503 1.Halaman | 62 Tabel 2b No PROP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Biaya Sosial (dalam 1.316 2.738 21.941 5.269 25.923 53.777 428 5.171 32.505 6.887 257 289.660 2.338 10.268 175 26.057 0 59.981 9.984 1.088 936 833 1.305 24.257 3.953.339.095 32.715 4.864 113 192 370 8.826 3.682 445 1.988 90.933 182.057 42.423 0 0 0 0 0 5.416 255 7.121 66.122 43.318 9.135 24.396 173.054 3.798 275.278 313 655 2.683 89.572 3.968 392 16.076 3.845 17.400 125 38.203 66 102.745 3.228 45.944 705 1.711 3.073 19.071 272.672 2.843 310 51.316 2.292 0 0 16.046 103 31.477 65.058 2.823 35 18.597 36.277 27 28.666 23.124 14.877 42.957 1.122 308 33.777 0 2.230 0 0 0 1.357 146.613 16.271 98.616 134.950 45.050 67.498 807 3.046 163.732 52 22.363 5.132 101 7.111 4.835 23.189 58.735 3.329 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 42.002 34 84 10 25 1.179 64.386 1.155 0 1.957. tahun 2008 .254 2.947 3.052 542.314 33.300 4.410 19.174 389 692 360 444 193 545 6.822 41 16.409 60.396 5.071 3.841 5.904 111.060 0 175 2.172 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 83 17 31 0 39 13 0 424 12 15 42 35 298 24 99 0 0 8.947 8.424 24 136.425 110.333 722.470 1.408 286.530 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.397 195 2.019 942 185.000 rupiah) loss produc: sakit Rawat Jalan Rawat Inap Loss produc: overdosis detok loss: detoks & rehab Rehab keluarga tindak kriminalitas orang lain loss: kecelakaan loss: polisi premature loss: penjara death total DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.872 8.857 481 856 219 3.774 0 10.321 1.480 0 2.136 529.862 39.448 23.043 2.651 99.886 0 222 46.538 5.

689 kokain shabu ekstasi 63.802 292.927 33.004 70 3.153.290 167 27.363 148.249 33. Total Konsumsi Narkoba 2008 (dalam 1.309 143.992 382.716 23.981 146.071 NO PROPINSI 1 DKI Jakarta 2 Jawa Barat 3 Banten 4 Jawa Tengah 5 DI Yogyakarta 6 Jawa Timur 7 NAD 8 Sumatera Utara 9 Sumatera Barat 10 Riau 11 Kep.841 795.517 50.871 22.809 2.555 4.639 321.985 2.806 7.251 15.128 2 0 0 0 0 0 4.376.787 .843 141.242 2.112 102.778 30.655 9.149 86.768 15.358 13.624 13.948 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.061 6 146 19.853 49.628 76.612 317.680 202 216.808 44 20 12.212 1.842 5.407 165.374 100.165 10.974 21 63.971 230.081 41.575 44.793 284.056 83.575 146.283 20.948 822.766 10.411 6.232 129.417 14 78.651 159 270 124 208 151 48 9 23 9 1 40 1 3 5 3 832 380 4.754 343.006 206.709 46 14 29 1.609 3.025 8.897 1.707 501 17.456 10.876 38 122 62.055 11.870 16.254.009 24.280 29.208 4.227 7 212 232.721 172.062 72.2.061 15.676 219.829 152.362 7.499 15.334 305.951 214.310.991 799 61.464 inhalant 2.631 20.657 6.302 177.301 11.076 12.075 39.585 79.727 35.943 64.393 21.000.499 230.013 67.336 2.810 158 536 7.294 914 37.806 1.321 13.158 125.456 23.662 146.929 19 526 27.212 195.819 35.351 78.134 2.995 68.489 127.061 243.079 18.867 19.452 23.940 34.382 5.068 8.909 4.616 10.319 48.559 20.450 83.064 26 83.265 34.868 2.806 29.415 203.231 15.475 51.429 1.855.705 20.284 16.881 15.111 3.214 654 14.080 975 3.749 449.095 13.007 36.317 25.331 262.Halaman | 63 Tabel 3.376.851 162 500 139 201 471 393 4. Riau 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 14 Bangka Belitung 15 Bengkulu 16 Lampung 17 Kalimantan Barat 18 Kalimantan Tengah 19 Kalimantan Selatan 20 Kalimantan Timur 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan 25 Sulawesi Barat 26 Sulawesi Tenggara 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Bali 30 NTB 31 NTT 32 Papua 33 Irian Jaya Barat Total 177.045 49.546 20.044 26.791 84.919 1.106 48.087 4.661 199.957 29.070 7.094 2.333 21.212 32.994 16.395 557.278 54.469 155.119 936.524.977 136.781 48.167 630.363 7.825 182.258 59.544 79.232 9.233.436 34.452 923 59.512 121.316 98.442 616 758 4 2 2 60 63 1.217 15.398 2.435 35.958 10.939 59.628 20.170 45 94 putau putau cair methadon bubuk 636.803 1.751 4.912 438.840 48.742 300 361 52 2.377 22 674 33.901 100.482 5.846 179.319 158.894 16.345 100.182 1.641 5.302 217.820 24.153 6.216 44.171 14.105 29.133 1.120 123.949 4.342 LSD kecubung 4.249 25.721 1.191 702 heroin 3.441 39.694 150.620 63.938 65.405 6.891 55.767 13.172.683 193.760 162 69.287 378 1.725 7.118 57.872 7.128 169.613 34.889 19.071 95.696 5.024 34.039 11.359 144.917 TOTAL 1.202 194 661 3.220 1.526 11.772 132.634 3.185 8 40.276.183 933.587 233 1.108 50.141 28 50 273 30.116 236.719 81.134 96.584 subutex barbiturat 116.968 188.544 62.088 33.077 6 24.562 9.679 68.795 8 359 42.376 353.176 3.070 370.539 581 4.482 55.374 613.743 131.544 2.100 2. tahun 2008 .211 13.983.075 39.552 34.293 hashish 150 1.527 35.000 rupiah) ganja 82.693 5.

519 66.050 909.563 48.812 4.278 211.765 10.933 990.867 31.010.036 722.Halaman | 64 Tabel 4.194 24.090 1.424 45.705 26.140.715 680.944 1.410 64.555.953.482 92.951.770 12.109 1.091.403 39.227.530 32.035.146 811.427 34.768. Proyeksi Kerugian Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba.071 7.195.930 2012 25.413 1.690 12.054.263 297.183 27.471 8.762.721.539.624 570. 2008-2013 (dalam 1.604.191 762.325 30.813 188.313 1.701 2013 28.955.236 4.957.443.021 82.133 13.346 1.292.856 15.000 rupiah) 2008 15.318.296 57.622 51.340 2010 20.822 1.024 1.110.521 43.031 399.021 24.757 8.060 252.124 1.547 941.135 363.070 237.412 4.199 9.515 256.986 510.463 356.563 1.356 1.531 323.700.454 59.803 288.923.436 35.084 362.177 10.743.577.747 407.201 27.092.621.532 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.628 2011 22.702.728 1.562 1.436.391.094.735 3.125 1.903 41.208 5.879 1.882.273.450 8.519 19.997 57.514.376.723.274.489.759 955.375.602 839.068.464 37.703 456.299 332.433 22.443.243 22.022 71.115.282.103 103.146 34.795 446.331 13.192.205 46.243.254 265.681 1.780 6.546 1.809 80.179.240 406.287.220 882.704 74.176.242.986 Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2009 18.784 1.805 7.018.410 9.539 51.901 38.776 30.472.388 8.266.877 1.000.967.387 6.741 283.265 4.243. tahun 2008 .574.657 5.562 853.688 323.237 227.614 318.

135 2.799 208.195 533.393 186.105 478.659 558.588.194 603.471 387.530.135.957.543 1.440 164.381 803.586 781.443 1.442 1.324 360.058 512.012 4.650 1.049.067 1.336 1.523 312.596 168.549 231.278 136.520 166.552 659.774.512 355.923.945 57.544 230.515 2.833 51.865 195.694 3.146 398.220 451.347.764 269.247 1.684 630.548.488 1.384 257.417 1.090 401.986 617.599.266.813 285.231 2.165 593.249.910 289.243.055.948.857 123.207 175.019 390.549 204.010.981 364.604 1.950 170.669 1.554 347.312.396 206.243. tahun 2008 .092.507 5.003 319.663.974 255.015.106 1.032 2.026 137.152 184.803 2.623 211.011 4.443.191.677 788.351 1.784 1.352 1.891 41.981.532 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.010 3.756 455.700 1.154 1.279 319.071.171 5.386.013 1.249 503.610 1.536 6.559 440.459.351 124.573.580.115 314.151.369.807 7.787 4.363 442.929.009 3.342 56.960 2.162 2.210.455 1.502 46.324.260.762 780.805 502.955 4.652 356.610 190.853 1.924 37.159 486.133 507.315 895.709 479.277.862.335 756.893 708.940.Halaman | 65 Tabel 5.112.589.258 111.035.364.718 397.787. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.292.673 6.748 876.370 1.556 1.235.716 492.928 675.092 700.678 4.242.823 578.394.139.282.463.727 168.925 32.240 2.423 537.029 151.996.425 401.430.474 235.658 11.620 151.143 7.295 322.518.892 1.304 9.454 571.000.959 45.626 50.052 70.691 261.967 108.861 153.358 327.696.985 636.337 78.130 1.007 1.377 259.217 157.878 242.681 186.499 5.199 350.644.927 776.860 10.648 97.054 233.653 285.060 434.860 5.008 2.957 121.672 156.524 8.501 385.994.751.726.679 566.455.431 63.013 4.732 2.444 6.092 865.570 286.412.368 110.187.164 447.544 702.886.232 7.274 628.522 405.116 517.935 846.023 1.970 279.083 562.383 430.623 99.681 1.473.382 1.061.834 430.695 554.970 252.742 360.939.912 291.714 963.758 4.387.710 450. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROP Proyeksi Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba (dalam 1.046 174.079 720.214 498.657 359.981.734 593.434 945.595 228.562 1.000 rupiah) 2.792.420.811 218.866 135.764 139.531 2.267 1.183 282.634 2.560 645.058 2.682.961 1.

16. 10. Ramola Hendri Hartati Ardha Renzulli Heru Susetyono Heksa Sari Julianti Haryono Junedi Zahid Iffahwan Basuki Iman Hadi Ferdinand P. entry data dan analisis data. 6. pengumpulan data. 15. 1. Semoga kita dapat terus melanjutkan kerjasama pada kegiatan-kegiatan seterusnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman atas dedikasinya terhadap pelaksanaan pengumpulan data di 17 lokasi survey hingga proses editing data. pembuatan kuesioner. pelatihan. 11. Pastinya masih segar ingatan akan begitu banyak teman-teman yang berpartisipasi mengikuti proses rekrutmen koordinator lapangan hingga akhirnya terpilih 17 kordinator lapangan dan dibantu oleh 170 enumerator. 12. Kegiatan ini terlaksana salah satunya karena kerjasama semua tim yang telah terlibat mulai dari perumusan ide. 5. 17. namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar bagi mereka. Siagiaan Sonny Wibisono Bayu Fajar Wirawan Rudi Zulkarnaen Hari Moertopo Nodivel Ahmad Caesar Wisnu Issantoso Lokasi Survei Manado Surabaya Bandar Lampung Pontianak Yogyakarta Palu Batam Palembang Medan Bandung Makassar Samarinda Mataram Denpasar Semarang Jakarta Papua Survei ini juga tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar tanpa bantuan teman-teman LSM dan Mitra Lokal yang telah menyediakan waktu.Halaman | 66 UCAPAN TERIMAKASIH Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 terselenggara atas prakarsa Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia telah berjalan dengan lancar. try out kuesioner dan instrument penelitian. 13. 14. Bahkan beberapa rekan korlap juga sangat dibantu dengan teman mitra lokal/LSM yang menenangkan responden yang merasa ‘terusik’ dengan kehadiran ‘orang asing’ bagi mereka. Berikut nama korlap dan lokasi survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN-Puslitkes UI: No. 8. 2. 4. Di bawah ini adalah mitra lokal dan LSM untuk Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN RI -Puslitkes UI : Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 3. tenaga dan pikiran dengan tulus untuk membantu kami terutama dalam hal menyediakan tempat basecamp. tahun 2008 . Maka kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua mitra lokal dan teman-teman LSM yang kami tidak bisa sebutkan satu persatu. 7. setting lapangan. Semoga kita dapat melanjutkan hubungan baik untuk bekerjasama di kegiatan-kegiatan berikutnya. mengumpulkan enumerator dan memberikan informasi gambaran penyalahgunaan narkoba di lokasi survei. Nama Koordinator lapangan Meyke C. 9.

S.Kes Aji Vespa Abdul Muthalib Tahar.Si.Kes & Ali Chozin Syahri Suharni/ASA Asmaripa Ainy. Padjajaran Univ.Sos Meilani. SSos.Halaman | 67 No 1 2 3 Wilayah Kalimantan Barat (Pontianak) Sumut (Medan) Kepri (Batam) 4 Sumsel (Palembang) 5 6 7 8 Bandar Lampung Kaltim (Samarinda) Bali (Denpasar) Jatim (Surabaya) Mitra Lokal Rizal/ Mia Sabran Eban Totonta Kaban. LSM/Yayasan Yayasan Pontianak Plus Univ. Hassanudin YMM YMM Univ.Si Yvonne Joyo Nur Suryanto Gono. Lampung Yayasan Laras Yayasan Mata Hati Univ. Airlangga Yayasan Performa Univ. Diponegoro UGM Forum Korban Napza Univ. Indra K. SH. M. M. SSos. Mataram Makasar Harm Reduction Community (MHaRC) Univ. Nasution Efrizal . M. Aslam Anak Agung Kresna Ida Ayu Laksmi Rudhy Sinyo Eko Maryono Muhamad N Arifin Edy Herry Pryhantoro. S. Mkes Erigana. Radit Dadi Suhanda. Drs.Si Didik J. tahun 2008 . Tadaluako YPPM UI (Kessos) Yayasan Rumah Cemara Univ. Nugroho Ryan Stella Sophian Shanti Riskiyani Rodhi Lolong Martin Umar Junaedi Sri Nurrahma Ester Erfan. Tanjungpura Yayasan Medan Plus Univ. SKM. Sumatera Utara YBTDB Dinkes Batam Dinkes Batam Yayasan Intan Maharani Yayasan Intan Maharani Univ. Padjajaran 9 10 11 Jateng (Semarang) DI Yogyakarta NTB 12 13 Sulsel (Makasar) Sulut (Manado) 14 15 16 17 Sulteng (Palu) Papua (Jayapura) DKI Jakarta Jabar (Bandung) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. SE. M. SE Arlan Yulfar. SKM. Udayana East Java Actions Yayasan Bina Hati Univ. Sriwijaya Saburai Support G Univ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful