LAPORAN SURVEI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Badan Narkotika Nasional
bekerjasama dengan

Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Halaman | 2

KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji dan syukur atas rahmat dan kekuatan dari-Nya sehingga laporan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tahun 2009 telah dapat diselesaikan. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Hasil survei tahun 2008 ini lebih detail hasilnya sampai ke tingkat propinsi, baik dari sisi estimasi jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi akibat narkoba. Studi ini melibatkan banyak pihak mulai dari tim ahli BNN, informan, mitra lokal, kontak person, koordinator penelitian, asisten dan peneliti lapangan. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Brigjen Pol. Drs. J. Salean SH., Dra. Endang Mulyani, MSc., Drs. Mufti Djusnir Apt. Msi., Drs. Hendrajit P. Widigdo, Drs. Sumirat Dwiyanto,. Siti Nurlela, Sri Lestari, dan Ibnu atas bantuan dan kerjasamanya pada setiap tahapan studi ini, mulai dari proses pengembangan instrumen sampai penulisan laporan. Akhirnya kami berharap studi ini akan dapat memberikan kontribusi yang berguna dan bermanfaat bagi pengambilan keputusan dan penyempurnaan program pencegahan dan penanggulangan narkoba di Indonesia umumnya dan tingkat Propinsi khususnya.

Tim Peneliti Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Singkatan 1. Pendahuluan ..........................................................................................................7 2. Tujuan ....................................................................................................................7 3. Tinjauan Pustaka Singkat .......................................................................................8 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba .................................................................8 3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba ..................................................9 4. Metodologi............................................................................................................9 4.1. Desain Studi ...................................................................................................9 4.2. Lokasi Studi ..................................................................................................10 4.3. Definisi Operasional ......................................................................................10 4.4. Keterbatasan Studi.......................................................................................11 5. Hasil.....................................................................................................................11 5.1. Prevalensi Penyalahguna .............................................................................11 5.2. Karateristik penyalahguna ...........................................................................13 5.3. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba ...................................................13 5.4. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba ..................................19 5.5. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba....................................................22 6. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013...................................................................................................................23 6.1. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 ................................23 6.2. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba .......................................25 7. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba ....................................26 7.1. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna.........................................26 7.2. Peredaran gelap narkoba.............................................................................27 7.3. Perdagangan narkoba ..................................................................................31 7.4. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi...31 7.5. Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex................................32 7.6. Pembenahan aparat penegak hukum.........................................................34 8. Kesimpulan & Rekomendasi ..............................................................................37 DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................40 Lampiran Ucapan Terima Kasih

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

tahun 2008 .Halaman | 4 DAFTAR SINGKATAN AIDS ATS BMJ BNN BNP BNK BPS CBA CEA COI DALYs DSM IV TR GDP HIV IDU LSD LSM NAPZA NARKOBA NSDUH NTB OD ONDCP PHK Puslitkes UI PSK Pemda QALYs RDS RP RT RW SAMSHA SLTA SMU SLTP SD TB THC TV UN UNODC Acquired Immune Deficiency Syndrome Amphetamine Type Stimulants British Medical Journal Badan Narkotika Nasional Badan Narkotika Propinsi Badan Narkotika Kabupaten Biro Pusat Statistik Cost-Benefit Analysis Cost-Effectiveness Analysis Cost-of-Illness Disability Adjusted Life Years Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision Gross Domestic Product Humman Immunodeficiency Virus Injecting Drug User Lysergic Acid Diethylamide Lembaga Swadaya Masyarakat Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif Narkotika Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain National Survey on Drug Use and Health Nusa Tenggara Barat Over Dosis Office of National Drug and Policy Pemutusan Hubungan Kerja Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Pekerja Seks Komersial Pemerintah Daerah Quality Adjusted life Years Respondent Driven Sampling Rupiah Rukun Tetangga Rukun Warga Substance Abuse and Mental Health Services Administration Sekolah Lanjut Tingkat Atas Sekolah Menengah Umum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Dasar Tuberculosis tetra-hidro-kanabinol Televisi United Nation United Nations Office on Drugs and Crime Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai 6 sumber Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan 10 narkoba di Indonesia. Tabel 2. tahun 2008 . Tabel 5. Tabel 4. 2009 Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna narkoba di Indonesia. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba. Tabel 6. 2008-2013 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.Halaman | 5 DAFTAR TABEL Tabel 1. tahun 2008 Tabel 3. 2009 (median) Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. 2008-2013 17 19 21 22 Tabel 7. 23 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004. Hasil proyeksi menunjukan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp. teratur pakai. kepolisian. pengamatan prospektif penyalahguna. Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai. dan 7% pecandu suntik. serta studi kualitatif ke berbagai sumber seperti penyalahguna/mantan.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp. Dampak ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba yang yang sangat besar ini menggarisbawahi upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba sebagai upaya yang sangat mendesak.5 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp. dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk. LSM. tahun 2008 . 5. Pada biaya private. Sulawesi Tenggara & Papua. 2005).6 juta orang atau sekitar 1. keluarga penyalahguna. sebagian besar (58%) untuk biaya konsumsi narkoba. 27% teratur pakai. Lokasi studi di 17 provinsi. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi.Halaman | 6 Abstrak Pendahuluan. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar.32. 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba. 3) mempelajari pola peredaran narkoba. Metodologi. Fakta bahwa sebagian besar penyalahguna merupakan remaja dan berpendidikan tinggi yang merupakan modal bangsa yang tidak ternilai. teratur-pakai. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. Nusa Tenggara Barat. 26. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). Sumatera Utara. Pertama. Jawa Timur. Kepulauan Riau. laki-laki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%). mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).4 trilyun (2008) terdiri atas Rp. Hasil. dan pecandu (suntik dan bukan suntik).1 juta sampai 3. seperti coba-pakai. 40% pecandu bukan suntik. Tujuan.0 trilyun di tahun 2013.9 trilyun adalah biaya sosial. dan lembaga pemasyarakatan. 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba. Kedua. Di Indonesia. penyalahgunaan narkoba meningkat pesat. Dalam periode tahun 2001 sampai 2006. kerugian diperkirakan Rp. Terakhir.6 trilyun atau $2. panti rehabilitasi. Lampung.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008. DI Jakarta. Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya.6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI. Sulawesi Utara. memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan. terdistribusi atas 26% coba pakai. besaran biaya yang sesungguhnya jauh lebih besar dari biaya hitungan studi ini.23. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan.32. baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka.57. medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. 2002). bandar. Data dikumpulkan melalui survei dikalangan penyalahguna narkoba. yang dilaksanakan tahun 2004. Dengan total kerugian biaya sekitar Rp. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 3. yaitu Kalimantan Barat. Menurut jenis kelamin. Jawa Barat. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. Kalimantan Timur. Bali. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. DI Yogyakarta. Sumatera Selatan.

Halaman | 7

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

1. Pendahuluan
Dampak sosial dan eknomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan dunia. Di Amerika Serikat kerugian biaya ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai $181 milyar (UNDCP, 2004), sedangkan di Canada $8,2 milyar pada tahun 2002 (Rehm, 2006). Di Australia kerugian mencapai sekitar $8,190 juta pada tahun 2004/2005 (Collins, 2008). Perbandingan kerugian biaya narkoba terhadap gross domestic product (GDP) di Amerika Serikat sebesar 1,7%, Canada 0,98%, Australia 0,88% dan Perancis 0,16% (UNDCP, 2004). Di Indonesia, kerugian diperkirakan Rp.23,6 trilyun atau $2,6 milyar pada tahun 2004 (BNN & Puslitkes UI, 2005). Di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir penyalahgunaan narkoba meningkat pesat, baik dari jumlah sitaan barang bukti maupun jumlah tersangka. Hasil sitaan barang bukti, misalkan ekstasi meningkat dari 90.523 butir (2001) menjadi 1,3 juta butir (2006), Sabu dari 48,8 kg (2001) menjadi 1.241,2 kg (2006). Jumlah tersangka meningkat dari 4.924 orang tahun 2001 menjadi 31.635 orang tahun 2006 (Mabes Polri, 2007). Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar. Dengan latar-belakang di atas, Badan Narkotika Nasional bekerja-sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia melakukan pemutakhiran data studi biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2008.

2. Tujuan
Tujuan studi ini adalah: 1) memperkirakan besaran angka penyalah-gunaan narkoba menurut tingkat penggunaan coba pakai, teratur pakai, dan pecandu (suntik dan bukan suntik); 2) menentukan probabilitas perilaku berisiko penyalahgunaan narkoba dan biaya satuan konsekuensi akibat narkoba 3) mempelajari pola peredaran narkoba; 4) menilai besaran biaya ekonomi dan sosial penyalah-gunaan narkoba.

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 8

3. Tinjauan Pustaka Singkat 3.1. Kriteria Penyalahgunaan Narkoba
Banyak konsep dan definisi operasional penyalahgunaan narkoba. Menurut Ritter & Anthony (1991) coba pakai (new initiation) didefiniskan apabila frekuensi penggunaan per tahun 6 kali atau kurang. Sedangkan Todorov et al. (2006) menetapkan 5 kali atau kurang sebagai mencoba, lebih dari 5 kali per tahun sebagai lebih dari mencoba, disebut pengguna teratur bila memakai setiap hari selama minimal 2 minggu. Menurut Meyer (1975), penggunaan narkoba lebih dari satu kali sehari dalam periode 10 sampai 14 hari atau lebih termasuk kategori ketergantungan obat. SAMHSA (2008) membagi perilaku pakai atas tiga kategori yaitu 1) penyalahguna seumur hidup (lifetime use), minimal sekali pakai narkoba dalam seumur hidup, termasuk penyalahgunaan 30 hari atau 12 bulan lalu. 2) penyalahguna tahun lalu (past year use), waktu pakai narkoba terakhir kali dalam 12 bulan lalu termasuk 30 hari lalu sebelum wawancara, 3) penyalahguna bulan lalu (past month use), waktu pakai narkoba terakhir dalam 30 hari lalu sebelum wawancara. Secara garis besar cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dimulai dari bukan penyalahguna hingga coba pakai (eksperimetal), menengah (moderate), penyalahguna berat (heavy use). Tinjauan atas beberapa penelitian dilakukan oleh Elinson (1974) seperti yang ditelusuri oleh Kandel (1975), menghasilkan beberapa definisi dan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan pola penyalahgunaan atau tingkat ketergantungan dengan lebih rinci (Tabel 1).
Tabel 1. Cutting points dan kriteria tingkat ketergantungan dari berbagai sumber
Experimental 1-2 kali (Mizner, 1973) Occasional 3-9 kali (Mizner) Casual 1-20 kali (Stanton) Moderate use 10-29 kali (Mizner) Regular Minimal 1 kali per minggu (Johnson) Heavy users 21-199 kali (Stanton) Habitual, cronic > 200 kali (Stanton) >30 kali (Mizner) 3 kali seminggu dalam 3 tahun atau lebih atau pakai tiap hari selama 2 tahun (Hochman $ Brill, 1973)

1-2 kali (Josephson, 1973)

3-59 kali (Josephson, 1973)

Satu atau lebih dari 1 bulan (Johnson)

1-9 kali (Josephson, 1972) < 1 kali dlm 1 bulan (Johnson)

10-59 kali (Josephson, 1972) 10 kali satu tahun terakhir (Hochman& Brill, 1973) min 1 kali/ bulan (Johnson)

> 60 kali (Josephon) 3 kali per minggu atau > 1 bln pakai (Robins)

Sumber : Kandel, 1975

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Halaman | 9

Ada pula yang mengembangkan kombinasi pengukuran diatas, untuk mengetahui tingkat ketergantungan (dependesi) melalui kriteria DSM-IVTR (Todorov et al., 2006) dan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (SAMSHA, 2008).

3.2. Pengertian biaya penyalahgunaan narkoba
Markandya dan Pearce (1989) mendefinisikan biaya total penyalahgunaan narkoba adalah private cost ditambah biaya sosial. Biaya private adalah biaya terkait konsumsi dan produksi narkoba, sedangkan biaya lain yang terkait dengan narkoba dan dibebankan bukan pada penyalahguna tetapi pada masyarakat dikategorikan sebagai biaya sosial. Schauffler (2001), Collins & Lapsley (2004) mengakui pendapat para ahli ekonomi yang membedakan biaya akibat narkoba. Studi biaya narkoba banyak yang memasukkan tiga jenis biaya utama yaitu biaya pelayanan kesehatan, biaya produktivitas, biaya terkait hukum dan pengadilan (Single et al, 2001). Beberapa negara maju membuat estimasi biaya penyalahgunaan narkoba mengacu pada ”The International Guidelines” (Single et al, 2001). Namun metodologi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada negara-negara berkembang karena keterbatasan dan ketersedian infrastuktur datanya, misalkan tidak tersedia angka incidence dan prevalence narkoba, kematian & kesakitan, kriminalitas, kesehatan, dan sebagainya (Single et al. 2001).

4. Metodologi 4.1. Desain Studi
Rancangan studi seperti rancangan studi sebelumnya, yang dilaksanakan tahun 2004, dengan tiga tahapan analisis (Godfrey dkk, 2002). Pertama, memperkirakan jumlah pengguna narkoba menurut tingkatan, seperti coba-pakai, teratur-pakai, dan pecandu (suntik & bukan suntik) dan menurut jenis narkoba yang dipakai per provinsi. Kedua, medapatkan angka probabilitas perilaku berisiko penyalahguna dan rata-rata biaya satuan (unit cost) per orang per tahun. Terakhir, mengkalkulasi hasil perhitungan point 1 dengan point 2 diatas. Jumlah penyalahguna narkoba diperoleh dengan mengalikan angka prevalensi penyalahguna narkoba dengan populasi berisiko, yaitu penduduk yang berumur 10 sampai 59 tahun. Angka prevalensi diperoleh dari hasil survei narkoba berskala nasional yang telah dilaksanakan BNN, seperti survei penyalahgunaan narkoba di kelompok pelajar & mahasiswa tahun 2006 dan di kelompok rumah tangga tahun 2005. Untuk memperkuat analisis estimasi dilakukan penelusuran pustaka dari berbagai literatur. Untuk mendapatkan angka probabilitas perilaku berisiko dan biaya satuan per orang akibat narkoba, maka dilakukan survei dikalangan penyalahguna narkoba. Cara pengambilan sampel dengan memodifikasi metode respondent driven sampling

Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008

Sumatera Selatan.Halaman | 10 (RDS).143 orang (teratur & pecandu). Selain itu. terdiri atas: kepolisian (23). Pecandu dipilah menurut faktor risiko. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. Lokasi Studi Lokasi studi di 17 propinsi di Indonesia. dan bandar narkoba (30). dan pecandu. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. mengkalkulasi hasil perhitungan antara hasil point 1 dengan point 2 diatas untuk mendapatkan perkiraan biaya kerugian penyalahgunaan narkoba di tahun 2008. petugas lapas (24). lalu nilai tersebut di proyeksikan untuk periode tahun 2008-2013 dengan menggunakan berbagai asumsi. dilakukan studi costing di rumah sakit untuk mendapatkan biaya perawatan dan pengobatan bila ada IDU yang sakit karena HIV/AIDS dengan sampel sebanyak 98 pasien. Survei tambahan dilakukan pada kelompok coba pakai dengan metode purposive sampling untuk 403 orang di semua lokasi. DI Yogyakarta. Lampung. Penyalahguna teratur pakai adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun (selain cara suntik) dimana frekuensi atau jumlah pakai narkoba kurang dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara. Sulawesi Utara. Jumlah sampel penyalahguna terpilih sebanyak 2. Nusa Tenggara Barat. 4. Kepulauan Riau. yaitu coba pakai. tahun 2008 . yaitu: Kalimantan Barat. Definisi penyalahguna coba pakai adalah mereka pernah mengkonsumsi jenis narkoba apapun maksimal sebanyak 5 kali dalam seumur hidupnya. DI Jakarta. lembaga swadaya masyarakat (30). Lokasi di seluruh propinsi tersebut berada di ibukota tiap propinsi. Dan studi observasi selama 1 bulan ke depan terhadap 108 orang di 10 provinsi. 4. teratur pakai. Sulawesi Tenggara & Papua.2. Terakhir. Penyalahguna pecandu adalah mereka yang pernah pakai narkoba jenis apapun dengan frekuensi atau jumlah pakai narkoba lebih dari 49 kali dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu bukan suntik) dan atau pernah menggunakan narkoba dengan cara suntik dalam 12 bulan lalu sebelum wawancara (pecandu suntik). Jawa Barat. panti rehabilitasi (28). Pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam ke berbagai informan (216 orang). Bali. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Setelah diperoleh nilainya. Sumatera Utara. Definisi Operasional Definisi operasional penyalahguna narkoba dibagi menjadi 3 tingkatan. keluarga penyalahguna (39).3. Jawa Tengah. serta wawancara dengan kuesioner terstruktur. Periode pengumpulan data bulan Agustus sampai Oktober 2008. Jawa Timur. penyalahguna/mantan (42).

Hasil 5. Untuk sumber data populasi penduduk diperoleh dari website yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Australia Nasional University (ANU)1. Misalkan pernah melakukan tindakan kriminalitas.com Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Prevalensi Penyalahguna Perkiraan besaran angka penyalahgunaan narkoba diperoleh dari perhitungan model matematis dengan formulasi berikut: angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dikalikan dengan populasi penduduk berisiko (usia 10-59 tahun). Angka prevalensi tersebut diperoleh dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa tahun 2006 dan survei narkoba di rumah tangga tahun 2005. Di kelompok pecandu dipilah lagi menjadi pecandu suntik dan pecandu bukan suntik. biaya penyediaan penjara. • 5. 2006). 1 www. Sehingga biaya-biaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba yang dikeluarkan pemerintah tidak dihitung dalam studi ini. • Biaya ekonomi yang dihitung dalam studi ini pada periode 12 bulan lalu sebelum wawancara.1. tahun 2008 .Halaman | 11 4. dan sebagainya. pernah dirawat di rumah sakit. biaya adanya Badan Narkotika Nasional. dan pecandu berdasarkan jumlah frekuensi pemakaian dan cara pakainya. Keterbatasan Studi Berikut adalah keterbatasan dalam studi ini: • Perspektif perhitungan biaya studi dari sisi penyalahguna narkoba (klien). Survei penyalahgunan narkoba dilakukan di 17 provinsi untuk mendapatkan probabilitas perilaku dan biaya satuannya setiap konsekuensi narkoba. Misalkan. provinsi yang tidak di survei menggunakan asumsi data dari provinsi terdekat yang di survei sebagai masukan datanya. biaya pengungkapan kasus pihak kepolisian. Angka prevalensi dipilah menjadi 3 kategori menurut jenis penyalahguna yaitu coba pakai.datastatistik-indonesia. atau detoks/rehab dua tahun yang lalu maka tidak dihitung dalam studi ini. Untuk itu. teratur pakai. Sedangkan laporan studi ini mencerminkan seluruh provinsi (33) di Indonesia. Sumber data populasi pelajar diperoleh dari buku saku yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas. bukan dari perspektif pemerintah.4. yaitu September 2007 sampai Agustus 2008. Angka prevalensi penyalahguna dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa per provinsi. Sehingga biaya-biaya yang dihabiskan dan dikeluarkan diluar periode waktu tersebut tidak dihitung.

484 2.653.400 1.252.274 5.180 10. Pada kelompok pecandu narkoba terdiri atas 2 jenis.258. lakilaki (88%) jauh lebih besar dari perempuan (12%).857 174.716 682.635 155.719 125.461 516.702 238.140 829.366 102.041 Pelajar Laki Perempuan Bukan Pelajar Laki Perempuan Laki Keseluruhan Perempuan Total 133. Jumlah penyalahguna narkoba coba pakai diperkirakan 807ribu – 938ribu orang yang sebagian besar adalah laki-laki (85%).917. tahun 2008 Jenis Penyalahguna Coba pakai minimal maksimal Teratur pakai minimal maksimal Pecandu Bukan Suntik minimal maksimal Pecandu Suntik minimal maksimal Total Lahgun minimal maksimal 1.480 218.1 juta sampai 3.186 185. Pecandu bukan suntik.772 82. dan Jawa Tengah (14%).581 253.322 807.988 340. Jawa Barat (14%).304.734.459.478 202.578 22.607 70.435 215. Mereka kebanyakan berasal dari kelompok pelajar (90%).281 40.971 35.166 611.866 1.294 145.124. Propinsi yang memiliki kasus terbesar berada di Jawa Timur (15%).008 27.762 Teratur pakai. yaitu pecandu bukan suntik dan pecandu suntik. dan Jakarta (10%). Jumlah pecandu bukan suntik diperkirakan sebanyak 1.026 88. 27% teratur pakai. sedangkan pada teratur pakai dan pecandu lebih banyak terjadi di bukan pelajar/mahasiswa.114. Dari sejumlah penyalahguna tersebut. terutama laki-laki.180 440. Penyalahguna teratur pakai paling banyak berada di Jawa Barat (23%).850 39.085 61.169. Jawa Tengah (15%). Jumlah penyalahguna teratur pakai sekitar 829ribu – 959ribu orang yang sebagian besar didominasi oleh laki-laki (89%). tahun 2008 .819 294.448 857.056 53.379 1.282 33.5% dari total seluruh penduduk Indonesia di tahun 2008.146 38.718 990.080.055 3. Penyalahguna coba pakai lebih banyak di kelompok pelajar (90%).814 959.502 1.884 3. Penyalahguna teratur pakai kebanyakan berada pada kelompok bukan pelajar (60%).941 1. terdistribusi atas 26% coba pakai. Jawa Timur (18%). Penyalahgunaan narkoba pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (60%) lebih tinggi dibandingkan kelompok pelajar/mahasiswa (40%).197 132.833 113.935 380.078 205. Tabel 2.022 1.858 46.25 juta sampai 1. Perkiraan jumlah penyalahguna narkoba menurut tingkat penyalahgunaan narkoba di Indonesia.577 169.781 446.817 938. Coba pakai.610.148 145.45 juta orang. 40% pecandu bukan suntik.Halaman | 12 Dari hasil kalkulasi diperkirakan jumlah penyalahguna sebanyak 3.422 6.538 114.520 154.908 133. Kelompok bukan pelajar/mahasiswa semakin besar proporsinya pada jenis penyalahguna ini mencapai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.950 12.676 1.724 32.943 132. Menurut jenis kelamin.149.223 1.234 3. dan 7% pecandu suntik.075 19.898 710.359 741.669 792.6 juta orang atau sekitar 1.

diketahui lebih dari separuh responden berada pada kelompok umur 20-29 tahun (68%). Mereka yang berstatus mahasiswa/pelajar sebanyak 28%.Halaman | 13 88%. Perilaku dan konsekuensi akibat narkoba Dari hasil survei dikalangan penyalahguna diketahui beberapa perilaku penyalahguna sebagai berikut: Merokok dan alkohol. Pecandu suntik lebih banyak yang tinggal bersama orangtuanya (64%) dibandingkan jenis penyalahguna lainnya. Kejadian pada kelompok bukan pelajar/mahasiswa (79%) lebih tinggi dibandingkan pada pelajar/mahasiswa (21%). hanya 9% dari penyalahguna adalah perempuan. Riwayat dan pola konsumsi narkoba. Lebih dari separuh responden mengaku masih tinggal bersama orangtuanya (58%) dan sekitar seperempatnya tinggal di rumah kost atau kontrakan. tahun 2008 . Dimana pecandu bukan suntik kebanyakan berada di provinsi Jawa Barat (19%) dan Jawa Timur (16%). Karateristik penyalahguna Dari hasil survei dikalangan penyalahguna narkoba. Sebagian besar penyalahguna adalah laki-laki. Jawa Barat (14%) dan Jawa Timur (13%).3. Alasan yang Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. yaitu minimal telah tamat SLTA ke atas. Sekitar seperempat responden berstatus menikah. terutama para pecandu suntik. mereka yang masih minum alkohol sebanyak 81%. terutama di teratur pakai (12%). Populasi pecandu suntik paling banyak di propinsi DKI Jakarta (14%). Sebagian besar telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi (80%). Umur pertama kali pakai narkoba kebanyakan usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SLTA. Pecandu suntik diperkirakan sebanyak 218ribu sampai 253ribu orang. dan mereka yang masih aktif merokok dalam setahun terakhir sebanyak 95%. 5. Hampir seluruh responden pernah merokok (99%). Demikian pula dengan minum alkohol. Dalam setahun terakhir. Ada sekitar 93% dari responden yang pernah minum alkohol. dimana proporsi terbesar berada di kelompok pecandu suntik. 5. Ganja (66%) dan obat penenang/barbiturat (21%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali oleh responden. Sedangkan pada teratur pakai dan pecandu bukan suntik kebanyakan mahasiswa (32% dan 24%). Sekitar seperempat responden tidak bekerja. Pecandu suntik kebanyakan berstatus tidak bekerja (34%). Pecandu suntik. sedangkan yang mengaku bekerja kebanyakan adalah pegawai swasta (15%) dan wiraswasta/ pedagang (12%).2.

.. lebih dari separuh (61%) responden masih mempraktekan penggunaan narkoba lebih dari satu jenis (poly drugs). Feri butuh uang saya kasih. kan nambah metal tu. Menurutku yang paling mahal shabu. di pecandu bukan suntik & teratur pakai adalah shabu.. jadi berani.08.. Ekstasi (54%). berani abis. Lebih dari separuh penyalahguna telah diketahui statusnya sebagai penyalahguna narkoba oleh pihak keluarga (53%).. Lihat.jenis narkoba yang pernah dipakai pil hypnoril.. “. pada umumnya keluarga mereka baru mengetahui ada anggota keluarganya yang menyalahgunakan narkoba setelah ada kejadian tertentu seperti tertangkap polisi. Ganja (71%) masih tetap paling banyak disebut dalam pemakaian narkoba setahun terakhir. ee ternyata enak. enak banget aja deh kayak di surga” (BD-1.10. Misalkan. ganja. ternyata ada sekitar sepertiga (33%) dari anggota keluarga responden juga penyalahguna narkoba. lexotan. Bahkan ada sebagian dari Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Jika dilihat dari jenis penyalahguna. orang kalo ga kenal gituan ga keren tuh.namanya pil BK itu. Bahkan. Camlet. ekstasi (30%).3. fly. Sekitar 83% dari responden pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba (poly drugs). Dari hasil identifikasi pada kelompok pecandu suntik.1. terus pergaulan.P3).. saya di Jakarta. putau bubuk (15%) dan methadon (13%).2. Semua masih dipake saat ini. dibandingkan pecandu bukan suntik dan teratur pakai (78%).2. Putaw. 80% dari pecandu suntik telah diketahui oleh keluarganya. putaw.2. Jadi saya sibuk kerja..P1).P1). obat penenang/barbiturat (52%). Ada perbedaan banyaknya jumlah konsumsi narkoba.Halaman | 14 diungkapkan pakai narkoba karena ingin coba-coba. terutama para pecandu suntik (87%) dalam setahun terakhir.. Sayangnya. Shabu (64%). “. ga laki kata orang kan. heueuh. nah itu lah akhirnya jadi begitu” (KPN-1. shabu. awalnya gitu aja deh.pertamanya pergaulan sih. stokun. pokoknya cocok ni. dimana pecandu suntik paling banyak frekuensi pakai narkobanya. over dosis. di pecandu suntik adalah putau bubuk. jadi coba-coba.03. pengaruh pergaulan. ga macho. kecuali ganja.3. Para pecandu suntik (98%) lebih tinggi yang melakukan “poly drugs”.2. namun tidak untuk kelompok teratur pakai (36%). “Obat-obatan seperti Sanax. ada perbedaan jenis narkoba yang populer dikalangan mereka... susah euy. tahun 2008 . Dari semua yang pernah dipake paling enak putaw Duh enak banget. Jenis narkoba lainnya adalah shabu (38%). “Kurangnya perhatian. kurangnya informasi tentang narkoba dan kurangnya pengawasan orang tua. rumah tangga saya gak harmonis sama suami. tapi dalam tanda kutip perhatian dah cukup. cuma saya sibuk kerja. Tidak hanya itu. perbandingkan median frekuensi pakai antara pecandu suntik (720 kali pemakaian) dengan teratur pakai (20 kali pemakaian) dalam setahun terakhir. dan putau bubuk (32%) adalah jenis narkoba yang paling populer dipakai dikalangan responden. Subutex. jadi pengawasan saya kurang.. obat penenang (28%). Cimeng. dan sakit. Ganja (92%).1. Bisa kumpul sebagai 1 keluarga itu gak ada.P2). Informasi tersebut bagi pihak anggota keluarga sebenarnya sudah terlambat karena rata-rata mereka sudah pakai narkoba lebih dari 5 tahun. tapi efeknya paling enak putaw” (PN-1.05.”(PN-9. Suami di Bandung.

yaitu: rasa mual (45%). Seks dan Narkoba.dari situlah saya baru mengetahui jika dia adlh pemakai” (KPN-4. sedangkan perempuan 42 bulan.3.01. selera makan berkurang (48%). Ada sekitar sepertiga dari responden yang mengaku sebagai pecandu suntik.. tapi saya mengetahuinya pada saat dia sedang sakit di RS itu. dengan median jumlah jarum suntik baru sebanyak 15 dan 10 buah per bulan. Tidak ada perbedaan median umur pertama kali pakai narkoba suntik antara laki-laki dan perempuan. Sayangnya hampir separuh dari responden ketika berhubungan seks tidak pernah pakai kondom dalam setahun terakhir. Dengan median frekuensi pemakaian narkoba suntik sama besar. Ada 5 keluhan yang banyak diungkapkan. dengan nilai median 60 bulan. Angka prevalensi pakai narkoba suntik pada perempuan (69%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (62%) dalam setahun terakhir.. Dengan frekuensi pemakaian jarum suntik baru pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. ganja (36%) dan ekstasi (32%). tahun 2008 . yaitu 1 kali dalam sehari. dimana kebanyakan dilakukan oleh laki-laki (80%). yaitu 19 tahun.05. “Saya mulai tahu dia pake narkoba sekitar tahun 2004. Sekitar tiga per empat responden (76%) mengaku punya keluhan masalah kesehatan. Saat ini ada dua jenis zat/narkoba yang paling banyak disuntikan ke dalam tubuh. Kejadian penyakit dikalangan penyalahguna.Waktu diambil sampel darahnya utk keperluan pemeriksaan golongan darah.2. Hanya sekitar 9% saja yang selalu pakai kondom. yaitu putau bubuk dan subutek.2.. yaitu shabu (40%). Dalam setahun terakhir. terutama para pecandu suntik. Namun. sebagai pemakai di sekitar sini. Penyalahguna narkoba suntik. Sekitar 85% dari responden pernah melakukan hubungan seks. “Saya tidak tahu pasti.3..P4). laki-laki lebih lama sebagai penyalahguna narkoba suntik yang digunakan secara teratur. mereka yang pernah berhubungan seks sekitar 73%. sekitar 1 dari 10 orang pernah melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. dengan median usia pertama kali umur 17 tahun. rasa sesak pada Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Dari mereka yang pernah berhubungan seks. ternyata emang sudah target.karena dia pada saat itu dia ketangkep.” (KPN7. Paling tidak ada 3 jenis narkoba yang banyak disebut terkait dengan hal itu. Prevalensi yang pernah pakai narkoba suntik lebih tinggi pada laki-laki (35%) dibandingkan perempuan (26%).Halaman | 15 informan yang menyatakan bahwa mereka baru tahu anaknya pakai setelah teridentifikasi mengidap HIV/AIDS. Tidak ada perbedaan jenis narkoba yang disuntikan antara laki-laki dan perempuan.P2). Pecandu suntik (92%) lebih banyak yang pernah melakukan hubungan seks dibandingkan kelompok lainnya. Narkoba dianggap dapat meningkatkan libido untuk berhubungan seks.

Ketika terjadi overdosis. Gua pernah satu hari. mereka yang pernah mengalami kejadian overdosis dalam setahun terakhir sangat rendah (2%). terutama di kelompok teratur dan pecandu bukan suntik. Bagi penyalahguna lebih memilih uangnya untuk membeli narkoba dari pada untuk biaya pengobatan. Selanjutnya. Ambilnya di klinik Teratai di RSHS.” (PN-5. yaitu 1 dari 4 responden (28%). Kalau untuk orang dewasa Rp.P13). kalau jalan maunya pipis terus.. gue dibantu LSM. Sedangkan mereka yang dirawat inap.6. trus malamnya gua dibawa konseling.02. Bahkan di kelompok pecandu suntik kejadian overdosis jauh lebih tinggi. Karena udah kronis. Gua dikasih tahu untuk saat ini tidak ada virus HIV. trus gua langsung detoksikasi. Lebih dari separuh responden (60%) menyatakan diantar oleh orang lain ketika berobat rawat jalan. tetapi orang lain yang menemani responden saat dirawat inap lebih rendah (13%). dan rasa lelah (fatigue) berkepanjangan (35%). dan itu sudah bisa dibilang stadium tinggi. kebanyakan pergi ke praktek dokter (43%).jadi sejak tahu status. Pertengahan bulan gua dipanggil lagi sama dokter dan ada orang tua. Setelah positif dua tahun kemudian minum ARV.80 ribu tiap bulan” (PN-1.. Para informan pergi berobat ke dokter setelah merasakan gejala penyakitnya bertambah parah. sekitar 37% melakukan pengobatan sendiri dengan cara membeli obat medis/modern (71%). dan hanya 2% yang pernah melakukannya sebanyak 2 kali. kebanyakan di RS pemerintah. Dari mereka yang punya keluhan. kalau anak-anak Rp. Kejadian overdosis. Hampir separuh dari responden yang menanggung biaya pengobatan tersebut adalah pihak keluarga (49%) dan pihak responden sendiri (48%). “. Kebetulan anak gue juga uda minum ARV. Namun.1. mereka yang pernah Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dia bawa gua kesalah satu dokter”H”. Bokap jemput kekosan gua. “Gua sering demam-demam tapi gua biarin aja.20 ribu.08. Mereka yang melakukan rawat jalan. Hampir sebagian besar informan menyatakan seringkali mereka kurang memperhatikan gejala-gejala penyakit yang dirasakan dan malas untuk berobat ke dokter. Gua biarin cuma berobat ke HERNA tapi belum dibilang itu HEP C. akhirnya gue jalan aja udah ga bisa. Secara detail. Separuh responden pecandu suntik menyatakan tindakan yang dilakukan adalah perawatan medis (52%).1. Akhirnya september tahun 2000 . Detoksifikasi & Rehabilitasi.Halaman | 16 dada (43%). tahun 2008 . terutama para pecandu suntik (15%).dan nyokap gua nangis. kuku kuning dan badan gua kuning semua. tapi HEP C ada.. Namun.P13).. gua dibawa kepanti rehabilitasi. rasa sakit pada ulu hati (36%).. lebih dari separuh responden menyatakan tindakan yang dilakukan adalah ditolong atau dirawat oleh teman (55%). Ditemukan ada sebanyak 9% biaya pengobatan ditanggung oleh kartu/SKTM/Jamkesmas. rumah sakit pemerintah (27%). Selain itu. ada sekitar 20% yang menyatakan didiamkan saja. trus gua langsung masuk herna. Ada sekitar 1 dari 10 responden penyalahguna pernah mengalami overdosis. Ada sekitar 8% dari responden yang pernah minimal melakukan satu kali tindakan detoksifikasi ataupun rehabilitasi. ada sebanyak 24% yang melakukan rawat jalan dan 3% yang harus menjalani rawat inap. dan puskesmas (22%).6.

dan sebagainya.. Hanya 38% yang pernah melakukan tindak kriminal tersebut. Upaya pengobatan sendiri untuk bebas dari ketergantungan narkoba. Sedangkan mereka yang pernah rehabilitasi sebanyak 8%. saaakit badan gua. Bagi sebagian penyalahguna menganggap dengan pasang badan bisa lebih efektif untuk lepas dari ketergantungan narkoba dibanding jenis pengobatan lainnya.. ngambil duit 325 juta. gua itu berhentinya mendadak. bayangin orang kepanasan jam 12 siang gua kedinginan. Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas. Sedangkan yang pernah melakukan tindakan keduanya sebanyak 2%.. janm 12-1 malam gua mandi.. Kebanyakan tindak kriminalitas tersebut dilakukan di tingkat keluarga (66%)...P9)..pernah. enakan digebuki orang dari pada gua nahan sakau. terutama pada kelompok teratur pakai (80%). Bahkan masih ada sekitar 15% yang melakukan upaya tersebut dengan frekuensi sebanyak 6 kali pada tahun lalu. dan 2% dilakukan setahun terakhir. Namun..7% dilakukan setahun terakhir.4. ngegigill. Hampir sepertiga dari responden pernah melakukan upaya tersebut.diem kalau pekarangan ibu sudah meninggal dapat tiga tahun ada surat. dan 0. aku ga pengen anak aku ini cacat kan. karena dalam upaya tersebut didasari atas kesadaran sendiri. itu waktu orang kedinginan gua kepanasan. Dalam upaya berhenti dari kecanduan narkoba.2. Data ini memperlihatkan masih sangat rendahnya akses layanan untuk detoksifikasi maupun rehabilitasi. ataupun ketidakmampuan membayar layanan tersebut. Tindak Kriminalitas. tahun 2008 . Namun mereka yang mengalami kejadian tersebut sekitar 17% dengan median jumlah kecelakaan sebanyak 1 kali pada tahun lalu..4. “Kalau jual motor diem.. yang disebabkan ketiadaan akses layanan. lo bayangin. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Lebih dari sepertiga responden (35%) pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. “waduh..Halaman | 17 detoksifikasi sebanyak 5%.” (PN9.1. jadi terpaksa aku berhenti total.11. itu aja.. pake ganja tuh berhentinya tu. Berdasarkan pengakuan. ngebobol brangkas bokap.P1). terutama dikalangan pecandu.” (PN-8.3. Tindak kriminalitas tersebut masih terus dilakukan dalam setahun terakhir (13%). bandingkan dengan teratur pakai hanya 15%.P9). misalkan mencuri ataupun merampok.05. kalo bisa milih.. ketidaktahuan dari responden.. para responden telah berupaya melakukan pengobatan sendiri. “.mimisan. misalkan pasang badan... tuh. tindak kriminalitas pada orang lain lebih banyak dilakukan oleh para pecandu suntik (28%).suratnya saya bilang kebapak ini pekarangan pingin saya jual tapi sempet kurang boleh tapi karena dibawah pengaruh obat itu jadi nekat aja udah hilang langsung laku” (PN-10.. dan kebanyakan dilakukan oleh para pecandu suntik (61%). kaya yang tadi gua ceritain kan. kalo ga nge-boti pala gua migraine. membeli obat bebas. urat-urat ini kaya di isi jarum kalo mo tahu.3. berak ampe keluar darah. karena bini aku udah bunting 4 bulan.. Kebanyakan yang pernah melakukan tindakan tersebut para pecandu suntik (58%). nah.05.. tidak seluruh responden pernah melakukan tindak kriminalitas..

mereka yang mempraktekan menjual narkoba dalam setahun terakhir telah jauh berkurang hanya 8%. Aku kelas 2 pindah sekolah udah kenal itu. tahun 2008 . Beli segitu sekaligus jualin kalau ada teman yang mau. Satu dari 5 penyalahguna pernah ditangkap pihak kepolisian terkait urusan narkoba. Biasanya beli 1 gram untuk 3 hari. Nilai median jumlah teman sesama pengguna yang masih hidup sebanyak 10 orang. ada 1 dari 10 responden (11%) pernah mempraktekan sebagai kurir narkoba. terus meremehkan” (PN-8. Langsung. Teman yang meninggal tersebut kebanyakan laki-laki (93%).. Namun. Ditemukan masih ada 26% dari responden yang merasa aktivitasnya terganggu setelah mengkonsumsi narkoba dalam tahun lalu. Jumlah median teman narkoba yang meninggal ada sebanyak 3 orang. salah satunya dengan menanyakan jumlah teman sesama pemakai narkoba.. Pada tahun lalu. proyek (order) pada mundur. di luar lingkungan sekolah. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Pengalaman di Penjara. Ranking juga 2 dan 3 juga. Selain itu.3.P7).3.2. terutama para pecandu suntik (46%). Tanggung jawab jadi kurang. Penyebarluasan narkoba & harga pasaran. Hampir separuh responden tersebut adalah para pecandu suntik (47%). diketahui angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebesar 5% per tahun. Dalam tahun lalu..09.2. Aktivitas Pribadi Terganggu. tapi dari belakang.P1). Teman pecandu suntik lebih sedikit dibandingkan pecandu lainnya. “Frekuensi makai putaw 3-4 kali sehari. Jadi dulu aku SMP itu selalu ranking. Jejaring penyalahguna narkoba perlu diketahui. dengan median umur 27 tahun. ngaruh banget mbak. Ranking 2. Hampir sepertiganya (31%) adalah pecandu suntik. “Ya mengganggu! jadi banyak yang terbengkelai.Halaman | 18 Penangkapan Oleh Pihak Kepolisian. terutama para pecandu bukan suntik (57%). Dalam upaya mencari penyalahguna baru. masih ada sebanyak 3% dari penyalahguna yang dipenjara. Karena beda.. Ada satu dari 10 penyalahguna (13%) yang pernah dipenjara terkait dengan narkoba. eh. terutama di pecandu suntik.894 orang pada tahun lalu. misalkan tidak sekolah atau bekerja. Penyalahguna mengakui ada aktivitas yang terganggu akibat mengkonsumsi narkoba. Mereka yang mengakui hal ini ada sebanyak 41%. males bangun tidur. Hampir sepertiga (31%) dari responden pernah menjual narkoba. terutama para penyalahguna suntik.. Dengan tingkat kematian teman dikalangan pecandu suntik sebesar 15%.1. saat aku ada dilingkungan mereka. “Dulu otomatis mbak. Dengan informasi data tersebut.08.P7). lumayan buat nambahin beli” (PN-1. Jadi malesan. sedangkan dikelompok pecandu bukan suntik 3% dan teratur pakai 1%. Dengan menggunakan angka persentase tersebut per provinsi..2.. Ngaruh banget. hanya ada 1 dari 20 penyalahguna yang tertangkap pihak kepolisian. Ranking 3. sekitar separuh responden (52%) pernah menawarkan narkoba ke orang lain. dengan median frekuensi tertangkap sebanyak 1 kali. diperkirakan jumlah penyalahguna yang mati ada sebanyak 14.10. Ditanyakan pula teman sesama penyalahguna yang meninggal dunia terkait narkoba dalam tahun lalu.. Teman responden yang pakai dan mati karena narkoba.” (PN-3.

Peredaran Hasish 1 paket 37. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. terutama bila ada acara organ tunggal yang memutar house music. hal itu sengaja dibiarkan saja” (BD2.Halaman | 19 Harga pasaran narkoba bervariasi antar daerah.10.1. dengan rentang antara Rp. Bandingkan.7 juta sedangkan yang memiliki lebih dari 5 gejala sebesar Rp.P3).2. Rata-rata harga pasaran jenis narkoba (dalam rupiah) 5. dengan rentang biaya antara Rp.3. Tempat transaksi sering kali di tempat ramai atau di jalanan umum.73ribu sampai Rp. Selain itu. Jenis Narkoba Satuan (Rp) 50.3.4. Biaya rawat jalan pecandu suntik lebih besar dibandingkan penyalahguna lainnya. tahun 2008 .9 juta per orang.000 dapat dilihat pada tabel 3. seperti pengakuan salah seorang bandar. tempat kos dan lokasi Heroin 1 paket 100. Tabel 3. Demikian juga dengan lama hari perawatan. 1.000.000 dari pihak kepolisian. Harga pasaran secara rerata Ganja 1 paket 15. Sumber pembiayaan selama di rumah sakit sekitar 48% berasal dari pemerintah melalui program Askeskin.4. menemukan rerata besar biaya untuk rawat jalan sebesar Rp.1 juta sampai Rp.15. Semakin banyak gejala yang dialami oleh ODHA maka beban biaya pengobatannya semakin mahal.4 juta dan rawat inap sebesar Rp 5.000 ke tempat lain seperti perkampungan. “Sama di sini nich di daerah “X” ada Apotik “Y”.380ribu per orang per tahun.000 studi mulai terlihat peredaran narkoba Subutex 2 mili 26. apotik/toko obat dapat dijadikan sumber mendapatkan narkoba racikan. median biaya pengobatan rawat inap sekitar Rp. semakin lama tinggal di rumah sakit maka beban biaya yang harus ditanggung semakin mahal. Ada juga yang memanfaatkan tempat orang hajatan. misalkan ganja di Medan 1 Harga pasaran paket Rp. Ekstasi 1 butir 137. Tidak dengan resep dokter aja bisa keluar.2 juta per orang. sedangkan di Bali Rp.500 narkoba tidak lagi terfokus di tempatKokain 1 paket 200. Apotik itu nakal. Hasil survei dikalangan penyalahguna.1 juta .763ribu per tahun.500 rumah penduduk. Demikian juga dengan biaya rawat inap.4. Sedangkan median biaya pasien rawat jalan sekitar Rp.000 tempat hiburan tetapi sudah bergeser Shabu 1 paket 200.250 di pemukiman kumuh.5000.5. Biaya satuan konsekuensi narkoba per orang per tahun Biaya satuan (unit cost) dari konsekuensi narkoba per orang per tahun diperoleh dari hasil wawancara dengan para penyalahguna narkoba. Biaya satuan konsekuensi penyalahgunaan narkoba 5. Tapi saya pernah dengar issue. Hasil studi costing di salah satu rumah sakit pemerintah di Jawa Timur menemukan bahwa secara rerata. Di beberapa kota Methadon 1 gelas 5.000 lain yang kurang mendapat perhatian Putai cair 1 paket 150. mereka yang punya 1-3 gejala hanya sekitar Rp.5 juta per orang. Gambaran hasilnya adalah sebagai berikut: Biaya pengobatan dipilah menjadi rawat jalan dan rawat inap.000 Putau bubuk 1 paket 100.

4 juta per orang. Kerugian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp.2.3. urusan dengan kepolisian.362 ribu per orang per tahun.8. Biaya satuan terkait urusan dengan pihak kepolisian akibat tertangkap diperkirakan sebesar Rp. Sedangkan biaya kerugian akibat tindakan kriminalitas lebih tinggi terjadi di keluarga sendiri dibandingkan kejadian di orang lain. kerugian biaya yang ditimbulkan sekitar Rp. Biaya kerugian akibat waktu produktivitas yang hilang (loss productivity) akibat hilangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. Sedangkan biaya pengobatan sendiri agar terbebas dari narkoba sekitar Rp. tahun 2008 . Mereka yang melakukan tindakan kriminalitas di pecandu suntik lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.7 juta per orang per tahun terkait dengan urusan penjara ini. Kerugian biaya akibat overdosis jauh lebih kecil dibandingkan biaya detoksifikasi. Kerugian biaya satuan detoksifikasi sekitar Rp.7 juta per orang per tahun.98ribu per orang per tahun.16. terutama dikalangan penyalahguna suntik. Akibat pemakaian narkoba. diakui ada aktivitas yang seharusnya dipergunakan untuk kegiatan produktif menjadi tidak. Akibatnya. Namun. Pecandu suntik mengakui lebih banyak terganggu aktivitasnya dibandingkan penyalahguna lainnya. Biaya detoks dan rehab memiliki kisaran sekitar Rp.2. Dibutuhkan paling tidak sebanyak Rp.8 juta per tahun per orang. detoks/rehab.10. Biaya untuk pengobatan sendiri untuk pecandu suntik lebih mahal. terutama dikalangan pecandu suntik mencapai Rp. bila urusan telah sampai ke tingkat penjara maka biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar lagi. Kerugian kecelakaan jauh lebih besar terjadi di kelompok pecandu dibandingkan teratur pakai. Nilai waktu yang hilang dikonversi menjadi biaya kerugian dengan asumsi upah minimum regional per propinsi.5.8 juta sampai Rp.14 juta per orang per tahun. Biaya ini diukur dari orang lain yang menenami responden karena sakit. Biaya satuan kejadian akibat kecelakaan sekitar Rp. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan pecandu suntik.514 ribu per orang per tahun. Pecandu bukan suntik harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan kelompok penyalahguna lainnya. sedangkan teratur pakai hanya Rp. terkait urusan dengan aparat penegak hukum. Para pecandu narkoba suntik lebih banyak mengeluarkan biaya overdosis dibandingkan penyalahguna lainnya. dan penjara. Biaya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.203 ribu dan rawat inap Rp.8 juta. kecelakaan.8 juta.500ribu per orang per tahun.2. Biaya detoksifikasi & rehabilitasi lebih mahal dibandingkan overdosis.3 juta per orang. terutama barang yang diambil/dicuri di keluarganya.Halaman | 20 Biaya satuan penanganan overdosis sekitar Rp. Demikian pula. Kerugian biaya produktivitas akibat sakit terdiri atas rawat jalan sebesar Rp.

Penyalahguna di Bali paling banyak mengeluarkan biaya pembelian putau bubuk dibandingkan propinsi lainnya. dimana pecandu suntik menghabiskan median biaya Rp.2. Pada kelompok teratur pakai biaya terbesar dihabiskan untuk membeli putau bubuk (Rp.9.500.2juta) dan shabu sebesar Rp. dan heroin murni.000 606.000 1.800 28.742.600.668. Putau bubuk banyak di beli untuk dikonsumsi oleh para pecandu suntik. putau bubuk hanya di temukan di Yogyakarta.2juta). Biaya konsumsi narkoba per orang per tahun Biaya satuan median konsumsi narkoba diperkirakan sebesar Rp.000 1.860.885.800.330.000 HEROIN 50.004 8. dan ekstasi. Konsumsi subutek tertinggi ditemukan di Jawa Timur.000 9.000 1. dibandingkan kelompok lainnya (teratur Rp.000 1.000 2. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 juta per orang per tahun.000 LSD 110.450.225.100.800.500 600.000 102.800. Semakin berat tingkat kecanduan narkoba.000 3.2 juta per tahun per orang.000 9.100.000 METHADON 1. maka biaya satuan konsumsi semakin besar.000 EKSTASI 1. kecuali subutek. Sedangkan jenis narkoba lain tidak terlalu besar transaksinya.4.950ribu. 5.800.800.000 1.000 1.000 1.800.1.000 3.000 624.000 3.000 5.000 600.000.5.000.000 840.800.000 KECUBUNG 100.470.500 7.20. tahun 2008 . pecandu bukan suntik Rp. dimana biaya yang harus dikeluarkan hampir 6 kali lipatnya.Halaman | 21 yang dikeluarkan lebih besar ketika kejadiannya telah sampai di penjara dibandingkan ketika masih ditingkat kepolisian.18 juta per orang per tahun.000 1. dengan nilai median konsumsi Rp.750 6.400.800.000 KOKAIN 360.000 1.000 5.600.000 1.000 PUTAU BUBUK 2. 2009 (median) Pecandu Pecandu Jenis narkoba Teratur non Suntik Suntik Pecandu GANJA 180.440.000 5.200.000.800. Tabel 4.800 Pada kelompok pecandu bukan suntik biaya konsumsi narkoba kebanyakan dihabiskan untuk membeli subutek. shabu.000 HASHIS 37.100.000 INHALAN 24.450.000 SUBUTEK 9.000 PUTAU CAIR 1. kecuali papua.5. Shabu hampir ditemukan di lokasi studi yang disurvei.000 BARBITURAT 60.9 juta per orang per tahun. Total biaya satuan konsumsi narkoba per orang per tahun menurut jenis penyalahguna dan narkoba.154 SHABU 1.000 100.000 28.800 28. Jenis narkoba yang juga banyak dibeli adalah putau bubuk.009 18. mencapai Rp.000 1.000 400. Dikalangan teratur pakai.000 1.800.000 18.1 juta per orang per tahun.920. shabu.

5 trilyun kerugian biaya pribadi (private) dan Rp. Total biaya (dalam Trilyun Rp) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada 35.32. 2008 15.9 trilyun adalah biaya sosial.Halaman | 22 5. Definisi tersebut lebih merujuk pada definisi yang dibuat oleh Markandya dan Pearce (1989). biaya yang dikeluarkan karena dipenjara. Kecenderungan total kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2004 dan 2008 Total kerugian biaya individual akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp.0 biaya bila terjadi overdosis.15. Jakarta.1). Biaya ekonomi yang dimaksud adalah biaya individual (private) dan biaya sosial. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (66%) diperuntukan untuk kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death).0 32. biaya perawatan & pengobatan 20. Jenis narkoba yang banyak diperjualbelikan dikalangan penyalahguna narkoba adalah shabu-shabu (36%). Jawa Barat. biaya yang terjadi Tahun akibat kecelakaan lalu-lintas.0 melakukan pengobatan sendiri 0. 26. biaya yang diperlukan terkait urusan ketika tertangkap pihak kepolisian karena narkoba.0 konsumsi narkoba. ganja (15%). yang terdiri dari Rp. yaitu sekitar Rp. Biaya individual (private). biaya untuk 5.26.5 trilyun pada tahun 2008.4 penyalahguna narkoba. Biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba Dalam konteks penghitungan estimasi kerugian biaya ini. biaya produktivitas yang hilang akibat pemakaian narkoba sehingga responden tidak bisa bekerja/sekolah. dan Jawa Tengah.0 termasuk biaya ini adalah 23. sebagian besar (58%) adalah biaya konsumsi narkoba.0 biaya melakukan detoksifikasi & rehabilitasi.0 dalam upaya penghentian 2004 2008 narkoba.3 trilyun).4 trilyun pada tahun 2008. tahun 2008 . kontribusi terbesar berasal dari biaya konsumsi narkoba.11. termasuk biaya konsumsi narkoba. Diperkirakan hasil estimasi kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp. 5. Potensial peredaran narkoba terbesar berada di Jawa Timur. istilah yang dipakai adalah biaya ekonomi.5. Yang 30. 10. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2004 (Rp.6 25. Pada biaya private.0 2004 karena sakit akibat narkoba. dan ekstasi (13%). Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat. Biaya individual adalah beban biaya yang melekat pada penyalahguna narkoba. putau bubuk (15%). Estimasi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba tahun 2008 lebih tinggi sekitar 37% dibandingkan tahun 2004 (gambar 7.4 trilyun. Gambar 1. Dari semua komponen biaya prívate.

237 5.464.974 7. Total Kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Proyeksi Jumlah Penyalahguna dan Kerugian Ekonomi Akibat Narkoba sampai 2013 6.0 2. dari 2008 sampai 2013. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.127.450.035.071.1 0.376. ketika overdosis. Dikarenakan studi ini menggunakan pendekatan perspektif klien. ketika terjadi kematian akibat narkoba (premature death) dan tindakan kriminalitas.721.729.1 3.798.912 22. dan biaya kematian karena narkoba. ketika detoksifikasi & rehabilitasi. Total kerugian biaya sosial diperkirakan sekitar Rp.9 0.165.518. Periode proyeksi dilakukan untuk 5 tahun ke depan.4 Secara detail komponen biaya sosial terdiri dari biaya produktivitas yang hilang karena menunggu responden sakit. yaitu dengan mengukur tingkat biaya produktivitas yang hilang (loss productivity) dari waktu & biaya dari orang lain tersebut akibat menemani atau menunggu responden.532.393.8 18. biaya hilangnya waktu produktivitas.6 Biaya sosial secara garis besar dapat dipilah menjadi 3 bagian.874.529.656.813.416 188.023 19. tahun 2008 .123.Halaman | 23 Biaya sosial.682.266 839.1.471.1 1.443.704.229.199 % 47.6 0. Kontribusi biaya terbesar dari akibat kematian akibat narkoba (premature death) sebesar 48%.5.337.2 0.997 8. Tabel 5. Dari aspek kerugian hilangnya waktu produktivitas proporsi terbesar akibat kecelakaan lalu lintas.254 1.060.1 12.813 252.477. ketika berurusan dengan pihak penjara.2 2.005 100 trilyun di tahun 2008.602. 6.7 2.688.743.985.094.626 26.654. yaitu perkiraan pertumbuhan penduduk per tahunnya dan perkiraan kenaikan angka prevalensi penyalahguna per tahunnya.682.957.734.489.0 0.2 2.620 45.806 0.423. 2009 Komponen kerugian Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab pengobatan sendiri Kecelakaan tertangkap polisi Penjara aktivitas terganggu Total biaya private Loss productivity Pengobatan sakit Overdosis detoks & rehab Kecelakaan tertangkap polisi Penjara premature death tindak kriminalitas Total biaya sosial Total (Rp) 15.068 3. ketika terjadi kecelakaan ketika berurusan dengan pihak kepolisian.663.714.574. 227.665 323.063 882.6 81.998 680.453.219.243. Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba sampai 2013 Dalam melakukan proyeksi untuk angka prevalensi.7 0.4 23. Untuk menghitung biaya satuannya digunakan pendekatan upah minimum regional (UMR) per propinsi. maka mempertimbangkan dua asumsi.714. yaitu biaya kriminalitas.953.715.799 722.515.4 0. maka sebagian besar biaya yang dikalkulasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang terkait dengan responden. Biaya sosial adalah beban biaya akibat konsekuensi penyalahgunaan narkoba yang secara tidak langsung berdampak pada masyarakat.275 59.9 Total kerugian ekonomi 32.

Dari hasil perhitungan tersebut dengan menggunakan nilai tengah maka jumlah penyalahguna narkoba ditaksir sekitar 3.15 0. Perkiraan jumlah populasi penduduk per tahun diperoleh dari pihak BPS & ANU yang dipublikasikan dalam www.15 (dipublikasikan 2008) total 1.07 (dipublikasikan 2007) teratur 0.58 1.13 0.02 1.55 4.02 1.80 0. angka prevalensi penyalahguna dibagi menurut jenis penyalahguna.17 1. yaitu coba pakai.05 1. Dengan fakta ini. dan akan meningkat menjadi 4. Demikian pula.19 2. Detail hasil proyeksi angka penyalahguna narkoba dilihat pada tabel 7.07 0.30 0.33 8.07 0.52 1.3 juta orang di tahun 2008.01 1.82 1.35 1.36 0.39 laporan World Drugs pecandu bukan suntik 0.39 7.74 4.24 1. dengan angka prevalensi penyalahguna narkoba di tingkat populasi akan terjadi kenaikan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 2008-2013 angka kenaikan 2. angka kenaikan diperoleh dengan melihat selisih kenaikan persentase angka hasil survei pelajar/mahasiswa tahun 2003 (3.13 Report 2006/2007 pecandu bukan suntik 0. Dengan demikian.47 per tahun.93 0. Angka yang dibandingkan adalah angka penyalahguna setahun terakhir (current users). Selanjutnya angka prevalensi tersebut di kalkulasikan terhadap populasi penduduk menurut kelompoknya.28 0.82 5.39 0.98 pecandu suntik 0.94 2.97 1.79 2005/2006 Kelompok Bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 0.46 1. adalah tahun).3%).27 0. Proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba per tahun menurut jenis penyalahguna dan kelompok penyalahguna pelajar/mahasiswa narkoba di Indonesia. Hasil perhitungan ditingkat populasi penyalahguna narkoba. Data populasi pelajar/mahsiswa diperoleh dari Depdiknas (2006). teratur pakai. Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba pada tabel 6.013 prevalensi per tahun Kelompok pelajar/mahasiswa coba pakai 3.com.010 2.012 2. sedangkan di tahun 2006/2007 meningkat menjadi sekitar 208 juta orang.96 1. maka diperkirakan tingkat pertumbuhan penyalahguna narkoba ada sebanyak 0.09 1.86 8.91 0. Di setiap kelompok populasi.009 2.87 0.07 pecandu suntik 0. Selanjutnya. Di kelompok pelajar/mahasiswa.9%) dengan angka survei pelajar/mahasiswa tahun 2006 (5.85 0.13 0. Data populasi yang dianalisis adalah populasi berisiko penyalahguna narkoba diasumsikan mereka berada pada kelompok umur 10-59 tahun. dan pecandu (bukan suntik dan suntik).04 per tahun. Asumsi proyeksi angka prevalensi untuk tahun-tahun berikutnya mempertimbangkan tingkat kenaikan angka penyalahguna per tahun menurut tiap kelompok dikurangi angka kematian.32 1. Angka prevalensi penyalahguna narkoba.06 2.01 4.70 1.10 1.79 0.008 2.90 0.09 dengan teratur 1.94 0.Halaman | 24 Perkiraan jumlah populasi penyalahguna narkoba.06 0.93 7.41 0. diperkirakan angka kenaikan narkoba dikalangan pelajar/mahasiswa per tahun sebesar 0.46x (dimana x.47 + 0.06 0.5 juta orang di tahun 2013. Di kelompok bukan Tabel 6.14 0. Untuk proyeksi.23 0.42 0. tahun 2008 . Diperkirakan jumlah current users diseluruh dunia tahun 2005/2006 ada sebanyak 200 juta orang.65 yang dibuat oleh UNODC.41 1.25 0.14 0. data populasi tersebut dipilah menurut kelompok pelajar/mahasiswa dan kelompok bukan pelajar/mahasiswa.32 Report (WDR) total 6.datastatistik-indonesia.31 membandingkan pecandu 1. populasi pelajar/mahasiswa dilakukan analisis regresi linier dengan persamaan y = -17.44 dengan World Drugs pecandu 0.011 2.28 4.84 0.38 0.06 0.46 6.

6 34.027.300 244.366 1.039 1.532 211.261 92.2.6 10.583.325 1.004.193.222.974 1.637 1. Sedangkan Irian Jawa Barat merupakan propinsi yang paling rendah tingkat potensial kerugian biaya ekonominya.750 596.450 4.211 3.4 30.514 2.812 317.5 30.718 1.455 1.874 97.396 1.272 421.3 26.958 196.817 1.336.929 566.929 teratur 894.298 1.923 total 1.922 180.517.595.654 1.828 312.090.636 1.710 280.782.011 pecandu 214.527 total % terhadap total populasi 1.3 38.647 228.923 240.532.881.459.017.380. tahun 2008 .483 1.909 4.166 113.455.686.441 1.189.0 0.606.0 40.071.503 948.620 teratur 356.013 1.388.773.255 1.690 1.826.0 20.452.429 691.0 trilyun di tahun 2013 (harga berlaku).250 1.578. Grafik 2 Proyeksi Biaya Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sampai tahun 2013 60.321.819 490.274.600.687. dari hasil perhitungan tersebut lalu dikalikan dengan jumlah populasi per provinsi per tahun (tabel 7).688.022 1.984.905 72.943 1.268 2.470 2.469 Total seluruh penyalahguna narkoba coba pakai 872.054 526.008 Perkiraan jumlah pelajar/mahasiswa coba pakai 784.507 1.011 1.868.012 1.057 Perkiraan jumlah bukan pelajar/mahasiswa coba pakai 88.0 6.309 teratur 538. Proyeksi kerugian biaya ekonomi akibat narkoba Perkiraan biaya satuan per setiap konsekuensi.0 43.503 pecandu suntik 48. Propinsi Jawa Timur diperkirakan memiliki potensial kerugian terbesar dibandingkan propinsi lainnya di Indonesia.395 2.72 2.604.843 1.658 1.681 pecandu bukan suntik 1.0 Biaya individual 6.355.64 2.777.814 217.426 250.2 48.48 2.805 274.903 2.895 62.551 53. Angka inflasi ini diaplikasikan terhadap seluruh biaya satuan setiap konsekuensi narkoba menurut provinsi. Detail hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 7.541 4.590. Selanjutnya.4 trilyun di tahun 2008 menjadi Rp.030 207.5 7.32.154 1.218.875 197. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.89 6.010 929.959 388.896 102.766 626.57.524 1. 2008-2013 2. Proyeksi biaya satuan untuk lima tahun ke depan mempertimbangkan tingkat inflasi.107 pecandu bukan suntik 1.535 1.734.045 265.426 pecandu bukan suntik 165.100 1.034 1.997 658. sebesar 6% per tahun.081.0 8.436 1.888 955.1 7.112.005.Halaman | 25 sekitar 28% dalam 5 tahun ke depan.696 1.478.380 233.417 3.372 1.490 pecandu 1.704 296.161.8 8.149.433 pecandu suntik 187.052 1.007.559 455.996 2.192 67.045 2. Berdasarkan hasil kalkulasi diperkirakan kerugian biaya ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba meningkat dari Rp.015 57.81 2.480 pecandu 1.936 pecandu suntik 236.327 107.009 855.323.737 1.0 2008 2009 2010 Tahun 2011 2012 2013 Hasil proyeksi kerugian biaya ekonomi untuk 2008-2013.120 1.082.255.248 total 2.0 Biaya sosial K eru g ian Eko n o m i (T rilyu n R p ) 50.172 3.528.765 1.644 253.861 295. Tabel 7 Proyeksi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia.107.512 228.358.921 1.56 2.362.436.016 1.

Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004.1 juta sampai 3. Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta.6 juta orang di Indonesia.2 juta orang. yaitu adanya kenaikan angka prevalensi penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa dari 3. seperti sebagian besar propinsi di Jawa. 2004) menjadi 5. perkiraan jumlah penyalah-guna narkoba dengan mendasarkan pada sampel di kota di satu pihak dan survei di pihak yang lain akan saling menetralkan. UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia sekitar 4% dari tahun 2006 ke 2007. Perlu dicatat bahwa perhitungan angka prevalensi yang digunakan untuk estimasi jumlah penyalahguna berasal dari survei pelajar/mahasiswa di 33 provinsi dan survei rumah tangga di 16 provinsi. baik dari tingkat pusat. karena angka kejadian (termasuk pengakuan menggunakan narkoba) yang dilaporkan melalui survei umumnya cenderung lebih rendah.5% jumlah populasi penduduk Indonesia tahun 2008.3% tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI. Hal ini tidak saja karena faktor kelemahan mengingat kejadian dalam setahun terakhir.Halaman | 26 Proyeksi ini menggunakan asumsi data normal. Di beberapa propinsi terlihat juga potensial kerugian ekonomi yang relatif besar. Kecenderungan kenaikan jumlah penyalahguna Ada kenaikan angka prevalensi tahun 2004 ke 2008. Salah satu pabrik narkoba yang berhasil dibongkar diperkirakan nomor 3 terbesar di dunia untuk shabu dan ekstasi. 2007). Kalimanta Timur. sebesar 3. dan Sulawesi Selatan. 2 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba yang didapat melalui berbagai survei kemungkinan lebih kecil dari angka yang sesunggguhnya. tetapi juga mereka berani membuat pabrik narkoba di kompleks perumahan. Sumatera Selatan. Pada tahun 2008. Tentunya. tahun 2008 . dan kabupaten/kota.1. tidak hanya berskala besar2. besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3. Besaran angka ini setara dengan 1. Bila pemerintah tidak serius dalam upaya penangangan dan penanggulangan narkoba ini maka potensial kerugian ekonomi yang terjadi akan jauh lebih besar lagi. Dengan nilai omzet harga sitaan narkoba mencapai milyaran rupiah. Implikasi terhadap kebijakan penanggulangan narkoba 7. Dengan demikian. Ini dapat disinyalir dari begitu maraknya ditemukan berbagai pabrik racikan narkoba dalam beberapa tahun terakhir. 7. tetapi juga kecenderungan responden yang menutup diri terhadap perilaku yang dilarang atau memalukan. propinsi. Mengingat survei rumah tangga tidak diseluruh provinsi maka basis data untuk memproporsikan ke seluruh provinsi di kelompok bukan pelajar/mahasiswa menggunakan dasar angka prevalensi pelajar/mahasiswa.9% tahun 2003 (BNN & Pranata UI. Kiranya perlu ada upaya intervensi program yang lebih serius pada propinsi-propinsi tersebut.

Pada masa ini tekanan begitu besar baik dari kelompok pergaulannya (peer group).523 tablet (2001) menjadi 466. dan bahan adiktif 13%.000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32. Ada beberapa fakta tentang ini.6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa. Dalam 6 tahun terakhir tersebut.000 tersangka pada tahun 2006. ada peristiwa kalau dicari. ya nggak usah nilang. Diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa sekitar 4. Ketiga. 7. dari sekitar 5. Hasil survei memperlihatkan bahwa usia pertama kali pakai narkoba pada usia 16-18 tahun (41%) atau setara dengan mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). ada peristiwa pidana. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia. misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289.” (Pol-1. Jadi seperti itu narkoba. diperkirakan jumlah penyalahguna coba pakai sekitar 807 ribu sampai 938 ribu orang. serta ke-ego-an yang mendorong untuk pakai narkoba.3. atau shabu dari 48. Kedua.Halaman | 27 Fakta pengungkapan kasus dan tangkapan.252 orang tahun 2006. jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. Kalau mau angkanya turun ya nggak usah aktif. Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan.3.10. Narkoba itu tidak sama dengan bagian Reskrim. tahun 2008 . Peredaran gelap narkoba Sasaran peredaran adalah pelajar/mahasiswa. Jadi sangat tergantung kepada tingkat aktivitas petugas. Tapi kalau semakin aktif petugas menilang ya semakin tinggi.5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing.9 juta orang di tahun 2008. rasa keinginantahuan atau coba-coba. kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%. Jadi lalu lintas itu kalau tidak melihat orang melanggar.2.000 orang. besaran barang bukti tangkapan narkotika. Sama dengan pelanggaran lalu lintas. meningkat tajam menjadi 16. Jadi kalau angkanya naik karena aktifitasnya seperti itu.901 gram (2006). Heroin dari 16. pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3. Jumlah pelajar/mahasiswa diperkirakan sebanyak 16. Hanya 0.P3). psikotripika 33%.907 tablet (2006). Jadi angka yang ada itu karena aktifitas petugas. Bahkan kampus sebagai tempat subur peredaran gelap narkoba.642 gram (2001) menjadi 21. Kalau narkoba itu tidak ada yang melapor. “Kalau dilihat dari data selalu meningkat.241.872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11. misalkan ekstasi dari 90. Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine. Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun.848 gram (2001) melonjak menjadi 1. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia. Dilihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai 2006 menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Desember 2006). Berdasarkan hasil estimasi.478 orang. Jadi begini. dan otoritas kampus membuat pihak kepolisian Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dimana sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa. Pihak kepolisian telah membuktikan adanya peningkatan peredaran narkoba.6 hektar (2006).200 gram (2006). Mereka ini pasar potensial dalam peredaran gelap narkoba. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85. Ini karena kampus sebagai tempat bertemu mahasiswa. dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba. Kalau Reskrim itu tidur pun ada orang lapor..

10. Peredaran narkoba tidak pernah berhenti. setelah saya terima uangnya. “Kalau selama itu teman. Sekarang peredaran narkoba melalui telepon dan menggunakan kurir. Hampir semua bandar narkoba (khususnya orang asing). karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain. Modelnya nanti saya nongkrong di alamat tersebut. 2007). Kondisi ini terjadi karena pengangguran dan kemudahan mendapatkan uang merupakan salah satu faktor yang mendorong peredaran narkoba. kampus sering menjadi tempat transaksi ‘putaw’. Hal ini ditunjukan dari total responden ada sebanyak 52% mengaku pernah menawarkan narkoba kepada orang lain. SMS dengan no HP baru. Di sms BR ada dimana. Konsekuensi dari penyalahgunaan narkoba sangat komplek. Dia akan saya sms. Upaya memperluas jaringan penyalahguna seakan tiada henti. Dari jenis narkoba. Modus operasi peredaran narkoba. dan karaoke karena efek yang ditimbulkan membuat penyalahguna selalu ingin bergerak energik. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. bar. Hanya tinggal saya beli kartu perdana baru. Orang itu tidak kenal saya. Mereka membawa masuk narkoba dari luar negeri ke Indonesia. Dari hasil wawancara dengan beberapa orang asing (sebagian besar orang Nigeria) yang menjadi bandar di dalam LP narkoba diketahui bahwa orientasi mereka mengedarkan narkoba di Indonesia karena bisnis semata yaitu keuntungan yang besar. sedangkan diskotik tempat transaksi piskotropika.3. mereka yang miskin lebih mudah menjadi pengedar.Tapi kalau orang lain. Sehingga dalam pengungkapan kasus seringkali hanya kurir-kurir yang tertangkap sedangkan para bandar narkoba tidak pernah diketahui keberadaannya.P3). dan hotel tempat transaksi shabu. bahkan disinyalir banyak bandar berwarganegara asing. jarang ada yang pakai narkoba. Menurut mereka efek dari pemakaian narkoba sangat berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang menjadi pecandu. Saya tidak kenal orang itu. Trus tinggal saya kode barangnya disimpan dimana. sehingga berapapun uang yang mereka miliki sudah pasti akan habis untuk membeli Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2. Modelnya seperti itu” (BD-2.Halaman | 28 tidak bisa bebas melakukan razia ataupun penggeledahan. bahkan 31% pernah menjual narkoba. paling dengan memberikan alamat. Penyalahguna putaw lebih memilih tempat yang tenang dan sepi untuk pakai narkoba karena efek yang ditimbulkannya membuat orang menjadi gitting (ingin tenang dan berhalusinasi). Mereka yang menganggur. sms untuk ambil barangnya. Modus operandi kasus peredaran cenderung semakin canggih yang didukung peralatan teknologi modern. Dahulu transaksi narkoba dengan cara bertemu langsung antara penjual dan pembeli dengan konsep ada uang ada barang. Ekstasi banyak dikonsumsi di tempat hiburan seperti diskotik. Sedangkan jenis shabu biasanya disalahgunakan di hotel-hotel atau tempat kos. tahun 2008 . sebaliknya penyalah-guna cenderung mereka yang memiliki uang dan tidak miskin (BNN & Puslitkes UI. Jenis-jenis narkoba yang beredar di tempat hiburan disesuaikan dengan efek dari narkoba. Para bandar kelas kakap/besar adalah orang yang mempunyai modal besar. demikian halnya dengan peredarannya. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba.

Ditambahkan. keterlibatan petugas lapas dalam peredaran narkoba di dalam penjara masih sangat mungkin. Sering terjadi perlawanan dari masyarakat setempat terhadap beberapa aparat yang ingin melakukan razia. Juga disediakan tempat untuk mengkonsumsinya agar pembeli tidak perlu pulang dengan membawa barang bukti. seolah telah terbentuk kerjasama saling menguntungkan. Alasan lain. Terlebih sebagian besar napi di lapas diperbolehkan memegang uang. “Pemakai tinggal datang ke “B”. sehingga lapas menjadi tempat potensial mengedarkan narkoba. Biasanya lapas yang sering terjadi kasus peredaran narkoba bila jumlah napinya sudah melebihi kapasitas yang ada. Dibeberapa lokasi studi ada wilayah yang menjadi kantong-kantong peredaran narkoba.waktu pulang pun pemakai juga dijaga. karena letak lapas rata-rata di dalam kota dan tidak terpapar langsung dengan petugas kepolisian. tahun 2008 .Halaman | 29 narkoba. Dengan kondisi demikian seringkali petugas mengalami kesulitan untuk menangkap bandar/pengedar. Di tempat itu. Narkoba di Penjara.01. Akses narkoba di dalam penjara sangat mungkin. Lokasi wilayah tersebut berada dipemukiman padat penduduk dan pusat keramaian. Bahkan para bandar/pengedar sudah bisa diterima keberadaannya oleh masyarakat setempat. tapi hanya sedikit saja” (BD-3. Mereka juga menggunakan kentongan yang terletak disetiap sudut tiang listrik sebagai penanda datangnya polisi.P12). Dari tempat tersebut tidak jarang para bandar dari luar daerah mengambil narkoba untuk diedarkan di daerah lainnya. Di wilayah semacam itu sudah terbentuk jaringan peredaran narkoba yang kuat. kampung “F” di Bali. dsb. Kondisi itu menimbulkan permintaan (demand) terhadap narkoba menjadi tinggi di lapas. misalnya kampung “B” di Jakarta. Kadang-kadang mereka cukup berkumpul dan berteriak ” maling” untuk mengusir polisi secara beramai-ramai” (Pol-2. “Kampung “B” dikenal sebagai kampung narkoba karena banyak transaksi yang dilakukan secara rapi. Besarnya permintaan (demand) dari penyalahguna narkoba di Indonesia menjadi lahan empuk bagi sindikat-sindikat narkoba internasional.6.P5). di lapas narkoba seringkali napi mengalami sakaw. penyalahguna lebih nyaman dan aman untuk membeli dan memakai langsung narkobanya. di daerah-daerah semacam itu sangat sulit dilakukan razia narkoba.3. sehingga jika polisi melakukan razia mereka akan menceburkan diri ke sungai sebagai usaha untuk melarikan diri dari kejaran polisi. Pendapat senada disampaikan informan dari kepolisian. Keberadaan lokasi tersebut dikenal sebagai pusat peredaran narkoba. sedangkan bandar/pengedar memberikan bantuan uang kepada masyarakat setempat.3. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Masyarakat membela dan melindungi para bandar/pengedar dari petugas.3. Ada beberapa yg memilih untuk membawa pulang. Tidak menutup kemungkinan ada oknum aparat yang menjadi backing. daerah “B” di Pontianak. Berbagai tanda atau kode akan mereka bunyikan sehingga semua bandar/pengedar dan penyalahguna sudah bisa mengantisipasi kedatangan petugas. Adanya kantong peredaran narkoba. Penjara tidak lepas dari peredaran narkoba.01. Daerah ini mempunyai banyak sungai dan rumah2 yang dibangun diatas sungai.

karena alasan situasi dan kondisi tertentu kasus yang sempat diungkap sepertinya dilupakan dan barang bukti yang ditemukan juga hilang begitu saja. softex. Pernah diketemukan usaha penyelundupan narkoba melalui bantal dan kue.3. saya baru pertama kali datang kesini tanggal 17 maret saya razia dapat barang bukti macam-macam sudah dapat eh sampai sekarang tidak ada beritanya. Banyak cara menyelundupkan narkoba ke dalam lapas.08.Halaman | 30 Sistem pengamanan dan upaya preventif yang dilakukan di dalam lapas seringkali terkendala tindak lanjutnya. tetapi yang paling mudah adalah antar kamar melalui petugas kebersihan lapas yang bisa dijadikan perantara/kurir.P10). Bahkan sempat diperoleh informasi ada sebagian petugas lapas yang menyewakan pemakaian handphone kepada napi di dalam lapas. paling sedikit tuh 11 gram.2..4. Harga ¼ gram tahun sekarang 300.000. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.P11). terkadang sudah dilakukan razia di dalam lapas dan terbukti ditemukan beberapa barang bukti tetapi tidak ada proses lebih lanjut. di sel. “Kalau putaw gua dikirim sih.3. belum semua lapas punya alat detektor sehingga banyak narkoba yang tidak bisa teridentifikasi oleh petugas. Pada waktu melakukan pengambilan data di lapangan terlihat jelas bahwa beberapa orang napi bebas memakai handphone di dalam lapas. Ada juga melalui keluarga atau teman yang mengunjungi napi ataupun diselundupkan melalui petugas lapas sendiri.3.01. Tidak jarang seorang bandar narkoba di dalam lapas masih bisa mengendalikan peredaran narkoba baik di dalam atau di luar lapas secara langsung melalui handphone.P8). bahkan ada juga yang dimasukkan ke dalam vagina.10. Beberapa tahun lalu. ditemukan 19 paket shabu” (LP3. Satu hal yang sangat mengecawakan.000” (BD1. Berarti ini suatu model cara lain untuk mereka masukan narkoba itu lewat pegawai tidak ada lagi. “Tahun 2006 pernah dilakukan razia oleh Sat Brimob dan Kepolisian. Pola pendistribusian barang kemungkinan bisa antar blok. Modus baru sekarang melalui beberapa cara seperti dimasukkan ke dalam bra.P10).. Itu dari anak dalem juga.” (LP-4. tidak mungkin lagi” (LP-2.4. Dan pegawai saya menangkap dia. kalau paketan kecil jadi 7 paket masing-masing dijual Rp 100. sandal atau sepatu yang sudah dimodifikasi. Menurut informan.1. Dari dulu sampe sekarang masih seperti itu dapat putaw. tahun 2008 . “Tapi bukti yang kemarin itu masuk lewat lempar.06. Beberapa cara tersebut bisa lolos dari pemeriksaan petugas lapas karena sampai saat ini sistem pemeriksaan masih manual. modus penyelundupan narkoba ke dalam lapas dengan cara di lempar ke dalam lapas melalui media bola tenis atau dibungkus dengan kantong plastik. “Saya pengalaman beberapa kali nangkap kadang-kadang diterusin mungkin tiga atau satu segala macam diterusin sampai ditindaklanjutin.4.

dan Serang).3. Dengan fakta-fakta tersebut memberikan gambaran bahwa peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia sangat marak. Tidak sedikit yang melibatkan warganegara lain. Bahkan salah satu pabrik shabu dapat memproduksi 100 kilogram shabu-shabu dengan teknik produksi terbaru yang meenggunakan bahan-bahan yang lebih membahayakan bagi manusia (Kompas Online. Ini mengindikasikan sudah begitu maraknya perdagangan narkoba di Indonesia. 28/10/2008). 13/12/2008). Jakarta Pusat (Kompas Online.Halaman | 31 7. 25/02/2008) atau menyuruh kurir narkoba dari balik penjara (Kompas online. 22/11/2008). 12/01/2009). Tidak menutup kemungkinan yang mengendalikan perputaran bisnis narkoba tersebut dari balik jeruji besi. Perumahan Taman Ratu. Sebuah omzet perdagangan yang luar biasa besar bagi sebuah produk. dan di daerah Pasar Baru. 7. ganja (15%) dan ekstasi (13%) di tahun 2008. Dengan total barang bukti sebanyak 6. Penyalahguna suntik: Dampak terhadap orang lain dan beban ekonomi Risiko penularan berbagai penyakit. banyak pihak yang tergiur untuk bisa masuk ke bisnis ini. Ini terbukti dari terungkapnya jaringan heroin asal Afganistan di Indonesia. dengan cara menggunakan rekening pacarnya untuk menampung uang-uang haram hasil penjualan narkoba (Kompas online. Tidak heran. Pabrikan narkoba telah berada dilingkungan perumahan. Menurut laporan triwulan kasus HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan (per April 2008).868 yang tersebar di 194 kabupaten/kota di 32 propinsi. Padahal sebelumnya. Berbagai pabrik shabu dan ekstasi juga berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian.18. jumlah kumulatif kasus AIDS ada sebanyak 11. Pabrik shabu dan ekstasi ternyata sudah berada di lingkungan perumahan. termasuk dari jaringan internasional.4 trilyun. Tangerang. Total nilai perdagangan narkoba diperkirakan sebesar Rp. putau (15%). Jakarta Barat (Kompas. Ini mengindikasikan bahwa para bandar berupaya mendekatkan akses dan mencoba menyingkirkan pola yang ada. tahun 2008 . yaitu di apartemen Mediterania. seperti Nigeria atau Malasyia (Kompas Online.15. Jenis narkoba yang memberikan nilai peredaran rupiah terbesar adalah shabu (36%).42 milyar (Kompas Online.4. Dengan cara penularan Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Perdagangan narkoba Nilai omzet perdagangan narkoba di Indonesia. sehingga pihak kepolisian atau masyarakat sekitar tidak menyadari keberadaan pabrik shabu/ekstasi tersebut. 30/6/2008). Demikian juga pabrik ekstasi yang berhasil digerebek di salah satu apartemen dengan nilai sekitar Rp.3 miliar (Kompas Online.119 kilogram heroin. pabrik ekstasi/shabu yang diungkap kasusnya dibangun di daerah pinggir kota (Bogor. Menarik jika mengkaji pengungkapan kasus narkoba akhir-akhir ini oleh pihak kepolisian. 28/11/2008). 22/11/2008). Bahkan kelompok jaringan ini telah mendistribusikan sebanyak 30 kilogram heroin dalam 5 bulan terakhir dengan nilai sekitar Rp. Jakarta Barat (Kompas. ini merupakan kasus heroin terbesar sepanjang 2008. 13/12/2008).

teman-teman gua speak-speakin. TB. “Semua penghasilan untuk beli barang (istilah untuk putaw). untuk menutup biaya-biaya tersebut kemungkinan besar melakukan tindak kriminalitas. Ada sebanyak 14% yang melakukan hubungan seks demi mendapatkan narkoba. sehingga tambahan harus menanggung beban keluarga menjadi semakin berat. dan HIV/AIDS melalui dua jalur yaitu. dan 34% TB.Itu sehari pemakaian putau gua aja belum cimengnya. Karena gua udah gak pernah beli baju. tahun 2008 . Penyimpangan program pengurangan risiko: subutex Pengurangan bahaya (harm reduction) adalah sekumpulan rencana praktis. beli bedak. Pertama.dari cewe gua kibulin. jadi gua mikir mending ada bahan gitu. 7. Ketiga. terutama laki-laki. dimana hanya 9% yang selalu pakai kondom. gua pakau itu sehari 7-8x.4.P9). Jadi satu hari itu hampir 150rb kali satu bulan (30 hari) jadi sekitar satu koma limaan. Kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit. yang bertujuan menemui pengguna ’dimana mereka berada’. Pecandu suntik berisiko tertular berbagai pernyakit. Kedua. diare kronis (3834).3. kecuali bila bersedia berhenti. itupun bila pasien tersebut memiliki kartu jamkesmas atau kartu miskin. 37% Hepatitis-C.08.1. mereka ini sebagai agen percepatan penularan berbagai penyakit ke orang lain bila tidak dilakukan penanganan secara tepat. penggunaan jarum suntik & semprit bekas dan perilaku hubungan seks berisiko. masih harus membeli konsumsi narkoba.1. Jadi daripada gua beli baju. dan homoseksual (4%). seperti hepatitis. sekitar 1 dari 4 pecandu suntik telah berkeluarga.P4).Halaman | 32 terbanyak melalui penyalahguna narkoba suntik atau injecting drug users/IDU (49%). “kelas tiga SMIP gua udah selesai karena barang-barang rumah udah habis gua jualin semua dikamar gua tinggal kasur aja. Kecuali beban biaya sakit. Hasil survei menunjukkan 72% pecandu suntik pernah bertukar jarum suntik atau pakai jarum bekas orang lain. Untuk pemakaian putau gua sehari itu gua beli masih ada paketannya 20(rb). Beban ekonomi pecandu suntik jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. diperkirakan sekitar 33% HIV/AIDS. membantu berbagai Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.02. dan dermatitis generalisata (1008).jadi dapat uangnya entah dari mana aja. Bahkan sekitar 3 dari 4 responden mengaku punya keluhan masalah kesehatan. kandidiasis orofaringeal (3769). Dengan infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (6367). Ironisnya. Dari diagnosis keluhan. Beban biaya ekonomi pecandu suntik lebih berat. ada sekitar 76% yang mengaku mengalami keluhan kesehatannya. beli pelembab apa hand body gua gak mau! Mending nyimpen bahan (putaw)” (PN-1. Heteroseksual (43%).5. Pecandu suntik yang masih aktif hubungan seks setahun terakhir ada 76%. termasuk HIV&AIDS di kalangan pecandu suntik lebih besar dibanding kelompok penyalahguna narkoba lainnya.kalau tidak barang gua ambilin uang sekolah gua pake juga” (PN-5.itu gaji kaya orang kerjaan. akan menanggung beban biaya akibat sakit. Dengan demikian.

yaitu methadon dan subutex. pengobatan kecanduan. Trik yang dilakukan pengguna untuk mengelabui petugas untuk layanan methadon adalah tidak langsung meminumnya. Prosedur mendapatkan kedua zat tersebut sebenarnya telah ada protokolnya tetapi seringkali para pecandu suntik jauh lebih cerdik daripada petugas. Kondisi semakin runyam karena tidak ada pengawasan dari instansi terkait. selanjutnya membeli langsung ke perawatnya.K. jadi konsultasi hanya 1 kali. lalu resep tersebut ditebus di kliniknya. tetapi tidak bisa berbuat banyak. Bahkan subutex adalah jenis zat ke-2 setelah putau yang disuntikkan ke dalam tubuh. Penyimpangannya yang terlihat adalah cara pakai dan prosedur mendapatkan kedua zat tersebut. Yogyakarta: PSKK UGM & Ford Foundation. dan program pemutih. Meskipun bagi sebagian penyalahguna putaw mengaku bahwa reaksi metadon dan subutex tidak senikmat putaw. Ada dokter yang hanya memberikan resep untuk beberapa hari. April 2001 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Sayangnya untuk dua program terakhir. Ada kesalahan prosedur implementasi program. Tidak ada batasan berapa banyak jumlah yang dibeli. Program pengurangan bahaya yang efektif bagi pecandu suntik agar berhasil harus mencakup kegiatan berikut: program pendidikan. Siagian F. Program lainnya. penjangkauan masyarakat.Halaman | 33 bahaya/kerugian terkait dengan penggunaan narkoba (Sucahya. dkk. P. Lalu. Cara pakai metadon seharusnya diminum dihadapan petugas. ternyata kedua zat tersebut disuntikkan. Ada yang hanya pakai kartu pendaftaran. segera keluar ruangan untuk menampung methadon tersebut di wadah. disetiap kota berbeda-beda. Sistem ini yang membuat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) marah. Bagi para pecandu putaw di beberapa kota sudah banyak yang mengakses metadon dan subutex sebagai substitusi dari ketergantungan terhadap putaw. tetapi di tahan dulu di mulut/kerongkongan. subutex diberikan oleh dokter yang telah memiliki lisensi untuk beberapa dokter saja di satu kota. Prosedurnya subutex harus diberikan oleh dokter dengan dipantaui secara ketat untuk pemberian dosisnya. serta pelaksana program yang menutup mata dan tidak peduli dalam implementasinya. Jenis zat yang disuntikan subutek nomor 2 terbesar. bukan upaya pengurangan risiko.. Sari K. penjualan alat suntik di toko-toko. Kartu pendaftaran tersebut disewakan kepada penyalahguna lain atau mereka patungan membelinya atas nama pemilik kartu.. Hasil survey menunjukkan sebanyak 42% pecandu suntik memakai subutex dengan cara disuntikkan setahun terakhir. Pertama. Faktanya. selanjutnya disuntikkan. banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program di lapangan. Disinilah para penyalahguna memanfaatkan celah tersebut. terutama untuk layanan subutex. Memahami Kebutuhan Aktor dan Pengguna Narkotika Suntik. baik dari sisi jumlah maupun dosisnya. Dilapangan program ini lebih mengedepankan aspek bisnisnya. Pembenahan prosedur perlu dilakukan khususnya layanan subutex. paling tidak masih bisa mengurangi rasa sakaw 3 Sucahya P. program pertukaran jarum suntik. sedangkan subutex seharusnya di taruh dibawah lidah. 2001)3 . Ada uang maka ada barang. karena tidak ada yang bertanggungjawab siapa sebenarnya yang seharusnya melakukan pengawasan melekat tersebut terutama program subutex. tahun 2008 . methadone dan subutex.

tahun 2008 . Alasan lain adalah pemakaian metadon dan subutex lebih aman karena legal dan harganya juga jauh lebih murah. Posisi tawar (bergaining position) seorang aparat penegak hukum sangat kuat untuk menentukan berapa besar uang yang harus dibayar oleh seorang tersangka agar terbebas dari jeratan hukum. Satu hal yang mudah dilihat adalah setiap akan ada razia di beberapa diskotik. Sekarang kalau mau dapat cukup banyak beli putaw yang 75 ribuan. Demikian halnya dengan penyalahguna yang pernah dipenjara dalam setahun terakhir (3%). Kondisi peredaran putaw sekarang sama dulu sudah beda. tidak jarang terjadi kasus kolusi dan nepotisme dalam penanganan kasus oleh oknum penegak hukum. “Putaw dulu masih ada yang harga 25 ribuan sekarang cari yang 50 aja uda susah. mengolah atau menyediakan narkotika golongan satu bisa dihukum mati atau dengan pidana penjara seumur hidup yang diatur dalam UU No.2. Sangsi hukum tentang penyalahgunaan narkoba dan psikotropika di Indonesia cukup berat. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Pembenahan aparat penegak hukum Ditengah upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanggulan narkoba. Keadaan ini membuka peluang bagi oknum aparat penegak hukum untuk menyelewengkan tugas dan jabatan dengan melakukan kolusi dengan tersangka kasus narkoba.P1). biasanya pengelola tempat hiburan ataupun bandar yang ada sudah diberi informasi terlebih dahulu sehingga pada waktu razia cenderung tidak diketemukan peredaran narkoba di tempat tersebut. yaitu bagi seseorang yang memproduksi. Fakta ini suatu hal yang memprihatinkan bagi aparat penegak hukum. tapi inilah realita yang sering diketemukan di lapangan.6. Saat ini banyak beredar subutex yang dijual ilegal. putaw sekarang gak terlalu rame. 7. 22 tahun 1997 tentang narkotika dan UU No. Penyalahguna narkoba yang membayar para aparat penegak hukum.2. Hasil survei menunjukkan sebanyak 6% penyalahguna pernah tertangkap polisi dan lebih dari separuhnya (67%) mengaku mengeluarkan sejumlah uang kepada polisi supaya terbebas dari kasus yang menjeratnya. Dengan kenyataan hukum yang sedemikian berat. tidak sedikit oknum penegak hukum khususnya anggota polisi/TNI terlibat sebagai backing dan penyalahguna. Aparat penegak hukum mem-backing para bandar. subutex ini dibeli dari seorang dokter di Jakarta” (PN-1.08. Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit aparat kepolisian/TNI yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Selain terlibat dalam penyelewengan wewenang dalam penanganan kasus narkoba.Halaman | 34 terhadap putaw. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan urusan di penjara. Sebagian besar keterlibatan mereka adalah sebagai backing di beberapa tempat hiburan seperti di diskotik. tidak jarang seorang tersangka lebih memilih melakukan kolusi dengan penegak hukum untuk bisa terlepas dari jeratan hukum.

tidak semua bandar merasa nyaman mempunyai backing oknum polisi. Jenis narkoba yang diedarkan shabu dan ekstasi. “.” (BD-8.. “.. mereka masih ngancam aku.cuma karena waktu itu mungkin mukzizat Tuhan ya.11. Pernyataan bandar tersebut..P7). pada waktu tertentu saja akan meminta setoran. Para bandar cenderung lebih aman karena mereka memberikan uang setoran secara rutin dalam jumlah cukup besar kepada beberapa oknum polisi. terjadi pemutaran disitu yang dinamakan pemutaran Bandar.jadi kadang-kadang.jujur aja. yang ngebeking dia bisa kuat.. .dia tak semata-mata hanya backing.. semua strategi peredaran narkoba dikendalikan oleh bandar. Bandarnya tetap jalan..bakal terjadi ni. Menurut informan.. diakui oleh informasi dari pihak kepolisian bahwa ada oknum penegak hukum yang terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.. Menurut beberapa bandar yang banyak ditangkap oleh polisi adalah para pembeli/ penyalahguna. Dengan adanya kerjasama dengan oknum polisi sebenarnya posisi bandar lebih aman dibandingkan tidak ada backing.3. Meskipun demikian oknum polisi tersebut selalu memantu situasi dan kondisi. alasan oknum tersebut terlibat bisnis narkoba karena gaji bulanan yang diterimanya masih belum mencukupi. Menurut informan. tahun 2008 . Bahkan menurut informasi dari seorang polisi.P7). sudah dicalling duluan.target tembak mati. ada sih. tanpa ada barang bukti yang ditemukan.aku itu mbak sudah target tembak dada. kalau saya kira. Oknum polisi yang ditangkap kasus narkoba berdasarkan hasil tes urinenya positif... kadang aku kesal karena banyak polisi yang udah aku bayar.3.. Untuk membuktikan seorang oknum sebagai backing atau bandar sangat sulit.2. Namun. Biasanya kalau mau ditangkap.Halaman | 35 “kalau diskotik itu pasti ada backing-nya.. setengah jam dari itu sudah kosong” (BD-4. mereka kasih informasi ke aku kalau aku harus hati-hati karena sudah di incar polisi.. polisinya yang menyarankan mencari kambing hitam. yang mempunyai pengalaman bisnis narkoba dengan oknum polisi. maka oknum polisi tersebut akan memberikan informasi dan menyarankan kepada bandar mencari kambing hitam sebagai ganti obyek penangkapan.15. Selain mengedarkan di sekitar terminal. sebentar lagi ada yang mau grebek. dengan wilayah peredaran di salah satu terminal induk di kota tersebut.. Salah seorang bandar menyatakan meskipun selama ini sudah membayar/memberikan setoran pada polisi. (BD-6. tidak ada polisi yang menjadi bandar.. Menurut informan kepolisian sebagian besar oknum yang terlibat adalah sebagai pemakai. ditemukan ada oknum penegak hukum yang bekerjasama dengan informan (bandar). Peran oknum tersebut hanya di belakang layar... misal ada pengrebekan... Dilapangan.3.P7). tapi untuk backing itu ada.3. Bila akan ada operasi penangkapan terhadap bandar.05. ternyata separuh dari modalnya berasal dari oknum tersebut. saat ini informan telah menjadi target tembak mati. bukan sebagai bandar.. padahal modal juga mungkin bisa fifty-ffty karena sekarang sistimnya kalau tidak di backing enggak akan jalan bandar itu karena bisa ditangkap.2. oknum polisi tersebut juga menjadi pensuplai narkoba ke dalam lapas yang bekerja sama dengan seorang petugas lapas. Menurut Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.. tetapi tetap saja masih menjadi target operasi.

Bahkan. kalo dulu mudah untuk transaksi. Sekarang agak susah ada tenggang waktunya antara minta barang dengan datangnya barang. dari Kapolri sampai Kapolda kebijaksanaan gak main-main. yang kedua mereka takut sekali ketemu sama polisi dan polisi itu langsung menangkap langsung diringkus” (BD-5. kalo butuh barang tinggal bilang sama yang diatas barang langsung dikirim. ya kita periksa juga dia. Namun.P9). demikian juga anggota TNI akan diproses oleh POM sesuai matra. Kalau dia gak ada bukti ya susah pak. Kondisi ini menyebabkan harga narkoba menjadi jauh lebih mahal.3. Penjatuhan sangsi hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan di lapangan. ya negatif. beberapa tahun terakhir oknum yang terlibat semakin berkurang. tahun 2008 .P11). “Lebih sulit Pertama itu barangnya yang dibutuhkan itu saling menyembunyikan untuk menaikkan harga. Menurut beberapa informan bandar tidak sedikit oknum penegak hukum terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. Jumlah tangkapan kasus narkoba oleh aparat kepolisian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Beberapa tahun lalu. Propam Mabes Polri telah mencatat dan menindak 49 anggotanya yang terlibat Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. tes urin. bahkan ada juga oknum dari Polda yang mengirim secara langsung barang tersebut kepada bandar. ya susah.11. Menurut para bandar. meskipun sudah banyak informasi. Apalagi jaman-jaman waktu kapolri yang sekarang baru dilantik (Sutanto).P11). tapi belum punya bukti ya susah juga kita buktikan. Berbeda dengan era tahun sebelum tahun 1997.14. Kita kan semua kasus harus ada bukti dan saksi. “Kalau terbukti. susah banget. “Jelas ada banget mas. seringkali terjadi fitnah terhadap aparat penegak hukum dikatakan terlibat sebagai backing atau bandar tetapi sulit untuk dibuktikan. Walaupun ada informasi dia di backingan sama anggota polisi si A. Diantara para informan ada yang mengaku pernah mengambil barang/narkoba di Polda. Sampai akhir November 2008. dimana para bandar dapat mengidentifikasi banyak oknum yang terlibat. ga suka sama orang kan bisa saja. gak main-main pimpinan kita. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi para bandar untuk mengedarkan narkoba. kita kan harus tes dulu dong. tes urin nya.3.2. Telah ada upaya penegakan hukum secara serius. cukup telepon lalu barang langsung dikirim.Halaman | 36 informan dari kepolisian. Dahulu tindakan aparat kepolisian lebih longgar dan tidak seketat tahun sekarang. hal ini dapat terjadi karena adanya program intensif dari BNN dan kepolisian dalam melakukan razia narkoba di beberapa tempat. tetapi sekarang selalu ada jeda waktu.3. Bagi oknum yang sering terlibat kasus atau kasusnya berat akan dilakukan pemecatan secara tidak hormat. Kalau dia jadi backing. Ga segampang dulu” (BD5. Ini menunjukkan meningkatnya kinerja kepolisian dalam melakukan razia.5. penentuan tempat dan cara transaksi sekarang perlu sangat hati-hati. Kita nangkap orang ga ada bukti. kita geledah rumahnya sesuai informasi itu pak ya. Di geledah dirumah atau di badan” (Pol6.5. Penanganan kasus akan diserahkan ke atasan masing-masing. Bagi oknum penegak hukum yang terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba akan ditindak tegas oleh masing-masing pimpinan.14. Kalau narkoba terutama buktinya pak. Peredaran narkoba dalam 5 tahun terakhir ini lebih sulit dibanding beberapa tahun sebelumnya. Fitnah bisa saja pak.

1/12/2008). 3) Decision Making. termasuk tidak menggunakan narkoba. namun fakta lapangan menunjukan masih terjadi penyimpangan. kemampuan pelajar/mahasiswa untuk bisa mempunyai ketahanan diri yang kuat sehingga bisa mengatakan ”tidak untuk narkoba”. edukasi. bahkan kematian. Untuk bisa diimplementasikan. kemampuan komunikasi pelajar/mahasiswa bisa berbicara tentang narkoba dengan kelompok sebaya. 2) Assertivenes. maka rekomendasi yang disampaikan adalah: Strategi Pencegahan • Strategi ini di fokuskan pada kelompok pelajar/mahasiswa. minimal besaran kerugian seperti angka perhitungan proyeksi. tahun 2008 . Kerugian biaya yang terjadi dalam perhitungan studi ini sebenarnya jauh lebih besar karena adanya keterbatasan metodologi dan ketersediaan data. BNN dan instansi terkait perlu menyiapkan modul ini yang menekankan pada 3 aspek. kemampuan pelajar/mahasiswa bisa membuat keputusan yang benar terkait dengan halhal positif di dalam hidupnya. kecelakaan. Walaupun saat ini telah ada tindakan nyata dilapangan. Atas dasar itu. maka dampak dan kerugian biaya yang ditimbulkan akan jauh lebih besar lagi.Halaman | 37 narkoba. mengingat aparat penegak hukum yang seharusnya berada pada garda terdepan ternyata banyak oknum yang bermain. yaitu 1) communication. Apalagi sasaran utama peredaran narkoba adalah generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. orang tua dan kelompok masyarakat lainnya. Materi bersifat interaktif dengan penekanan pada life skill education (LSE). Upaya yang dapat dilakukan pihak BNN melakukan kerja sama dengan Departemen Pendidikan (Diknas) dan Departemen Agama (Depag) di dalam memberikan komunikasi. biaya pendidikan. dan mereka yang telah menjadi pecandu mengakibatkan adanya konsekuensi akibat narkoba yang besar. Upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba akan semakin tersendat. dan upaya menekan dampak buruk narkoba tidak akan berhasil. 8. Jumlah ini terbilang sangat banyak bila dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 21 orang (Kompas. maka perlu dukungan modul pengajaran. Kesimpulan & Rekomendasi Temuan studi ini menyimpulkan adanya kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. guru. dan informasi (KIE) yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran wajib bagi pelajar/mahasiswa atau melalui ekstrakulikuler. Bila pemerintah tidak segera bertindak secara serius. seperti tindakan kriminalitas. kejadian sakit. misalkan komponen biaya membesarkan anak. biaya kerusakan fasilitas umum akibat penyalahguna. mengingat kelompok ini menjadi sasaran utama para bandar/pengedar untuk mencari penyalahguna baru (coba pakai). tentu Negara ini akan memikul beban kerugian yang semakin besar. Pelajar/mahasiswa menjadi target sasaran peredaran narkoba. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. dan sebagainya tidak dihitung dalam studi ini.

termasuk adanya dukungan dana. Informasi (KIE) secara lebih luas harus tetap dilanjutkan. Edukasi. dan LSM. sedangkan pengawasan eksternal adalah pengaduan dari pihak masyarakat melalui kotak pos/pengaduan khusus. Aparat penegak hukum • Melakukan pengawasan yang lebih melekat. baik yang sifatnya internal maupun eksternal. • Strategi Supply reduction • Peredaran dan perdagangan narkoba di Indonesia semakin marak. BNN perlu mengembangkan program-program ke arah akar rumput (grass root) yang bersetuhan secara langsung dengan para IDU. • Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Ide awal program ini sebagai substitusi para penyalahguna pecandu suntik heroin ke subutex agar pecandu tidak menyuntik lagi. Untuk itu. Nampaknya program ini perlu dikaji dan ditata ulang terkait implementasi dilapangan terjadi penyelewengan prosedur. Depkes. Strategi Mengurangi Permintaan • Dampak dari para pecandu suntik sangat besar. serta penyakit lainnya. Misalkan. dan diisi dengan program dan aktivitas yang dikembangkan secara bersama-sama antara pihak institusi terkait. Upaya Komunikasi. Subutex diperkirakan akan naik daun dalam beberapa tahun ke depan.Halaman | 38 • • Dalam upaya untuk memproteksi kampus menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. BNN diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam mengkaji ulang program tersebut bersamasama pihak KPAN dan Depkes. dan dapat menjadi percepatan peningkatan kasus HIV/AIDS. dilihat dari besarnya kasus yang berhasil diungkap pihak kepolisian & BNN. tahun 2008 . Perlu program dan intervensi yang lebih serius pada kelompok ini. pihak BNN harus melakukan koordinasi dengan pihak universitas melalui rektorat maupun senat mahasiswa. menjalin kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan program bersama dengan KPAN. Jika diperlukan didirikan semacam posko anti narkoba di setiap universitas. termasuk pembagian peran dan tanggungjawab institusi. Bila tidak ditangani segera dikawatirkan. Kinerja yang baik sangat ditentukan dari program dan aktivitas yang dilaksanakan oleh institusi tersebut. mereka yang bukan pecandu suntik akan banyak yang mengkonsumsi subutex dan kecenderungan ke arah sudah ada dilapangan. Pengawasan internal melalui mekanisme yang telah ada selama ini. Beberapa fakta menunjukan adanya peran bandar dalam mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. seperti yang telah dilaksanakan selama ini melalui berbagai media yang ada. BNN dan Kepolisian perlu melakukan advokasi kepada pemerintah terkait hal ini. Polisi & BNN perlu melakukan inspeksi mendadak dan membongkar jaringan narkoba di penjara.

tahun 2008 . termasuk melakukan sistem monitoring selama terpidana di penjara.Halaman | 39 • Membuat tim khusus yang mengawal dan menjaga setiap kasus narkoba yang telah berhasil diungkap mulai dari tahap penangkapan sampai diputuskan vonisnya ke dalam penjara. Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

Respondent-Driven Sampling ofInjection Drug Users in Two U. 7 Gordon. and Weakliem.M. Ramos. Lozada.. K. M. L. Rahman.I.D. H.D.. Frost. (1991). tahun 2008 . Heckathorn. 2006. C.. C. 2005. Heckathorn DD. Depok: Puslitkes UI. S. http://www. Estimating the economic costs of drug abuse.. Tinsley. alcohol and illicit drug abuse to Australian society in 2004/2005 Collins.. Nemeth. L.. AIDS and social networks: Prevention through network mobilization. Sociological Focus. A.S. R. 2002.. C.. Broadhead.D.. Ikhtisar Data Pendidikan Nasional Tahun 2005/2006. Anthony. D. Depok: Puslitkes UI. D.org Heckathorn. H. 2006.M. McKnight. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine. Jakarta: EGC Johnston.. 473–495.–Mexico Border Cities: Recruitment Dynamics and Impact on Estimates of HIV and Syphilis Prevalence. Social Probl. D. S.Vol. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No. 1997. 19 no. D. Khan.S.C.A.M. Banu. Estimating the economic costs of drug abuse.J. Broadhead. Heckathorn. R. L. The costs of tobacco. K.com/resourceTOC. D. and Huong. Semaan S.... BNN & Puslitkes UI.2002. Khanam.R.. 2004. Sabin. D. R.aspx?resourceID=1 Eisner. D. M. (1998). Depok: Puslitkes UI. R.D.. Marijuana Abuse: Age of Initiation. Soc Probl. S.2. The economic and social costs of Class A drug use in England and Wales 2003/2004. Extensions of Respondent-Driven Sampling: Analyzing Continous Variables and Controlling for Differential Recruitment.J. National Campaign Against Drug Abuse Monograph Series No.A.2.. Harnessing peer networks as an instrument for AIDS prevention: Results from a peer-driven intervention. No. P. 2004.J. http://www. Depkdiknas. H. H. Mills. Vol. D. 159–179. L.G.. Home Office Online Report 16/06 Heckathorn DD. Respondent-Driven Sampling: A New Approach to the Study of Hidden Populations. fourth edition text revision. Godfrey. Deriving population estimates from Chain-referral samples of hidden populations. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.. 83. Hughes JJ. D.. 5... R.M.... D..Halaman | 40 DAFTAR PUSTAKA: Abdul-Quader. Broadhead RS. Collins And Lapsley (2004) Economic Costs Of Alcohol And Other Drugs In The Workplace. AIDS Behav (2008) 12:294–304 Johnston. Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia Tahun 2005. AIDS Behav.psychiatryonline. D. and Lapsley. J. S. D. Public Health Reports. Heckathorn...S.. No. Social Problems. Stuid Baiaya Ekonomi dan Sosial Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2004. 41. Vol. Section 3: Translating Research Into Practice Collins.W.respondentdrivensampling. Alcohol & Illicit Drug Abuse to Australian Society 2004/2005 Collins. Reza. S.T.T.1). Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di Indonesia Tahun 2006.6(1):55–67. Weakliem. Extensions of respondent-driven sampling:a new approach to the study of injection drug users aged 18–25. L. Gallagher. Assessment of Respondent Driven Sampling for Recruiting Female Sex Workers in Two Vietnamese Cities: Reaching the Unseen Sex Worker Journal of Urban Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Brouwer.E.M. Bangladesh. and Strathdee. & Lapsley. et al.J. H. M. 32. L. Ramos. Effectiveness of Respondent-Driven Sampling for Recruiting Drug Users in New York City: Findings from a Pilot Study. 15. D. AIDS prevention outreach among injection drug users: Agency problems and new approaches. Pleasure of Response Foreshadow Young Adult Outcomes in NIDA Research Findings vol. R.49:11–34. K. Azim. 2004. Madray. L. R. Anthony. and Lapsley. BNN & Puslitkes UI. Firestone Cruz. 83. Joewana. The Effectiveness of Respondent Driven Sampling for Recruiting Males Who have Sex with Males in Dhaka. 2004.M. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif: penyalahgunaan napza/narkoba. D. (1999). 2005. D..G.. D. Collins. & Lapsley.M. Ed.. 15. (1994). and Des Jarlais. Sabin. Respondent driven sampling.C. H. The Costs of Tobacco.. Parott. Shah Alam. 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Statistik Pendidikan. 2006 DSM IV-TR. Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders. L.. II. 42–57. K. 44 No. Magis-Rodriguez. C. (1991). 113(Suppl.. S.D. Hien. 3 BNN & Puslitkes UI.T. and Heckathorn. S. S.D. Bramson. Heckathorn. Broadhead.

1997. “Psyciatrich comorbidity and progression in drug use in adult Male twins: implications for the design of genetic association studies”.nisn. MD. Rockville.C.whitehousedrugpolicy. 2008. www. D. Et All (2001).. 17-24. Medicaid Coverage For Tobacco-Dependence Treatments. Schober & C. J. MD: National Institute on Drug Abuse Office of National Drug Control Policy. MD: National Institute on Drug Abuse Kopp. V´azquez. Baliunas.. D.. E. Office of National Drug Control Policy. In S. S. C. dan Wilson.id – Data rekap nasional. Research Monograph Series 2. Results from the 2007 National Survey on Drug Use and Health: National Findings (Office of Applied Studies.unodc. The Economic Costs of Drug Abuse in the United States.2004. pp. No. NIDA. International Guidelines for Estimating the Costs of Substance Abuse—2001 Edition Substance Abuse and Mental Health Administration. 2005.. RD Todd. & Blanchard.34:193–239.pdf Ramirez-Valles. Literatur review on the economic costs of substance abuse. Todorov. 4. The An Epidemiology of cocaine use and abuse pp. Rockville. Kopp.diknas. 7 Kandel. The Cost of Substance Abuse in Canada 2002 Ritter.gov Predicting Heavy Drug Use: Results of a Longitudinal Study. Single. DHHS. P. Diaz. NSDUH Series H-34. United Nations on Drugs and Crime. tahun 2008 .unodc. MT Lynskey.. E. Published February 2004. H. Shade (Eds. DHHS Publication ADM 91-1787. pp. Washington. Meyer Roger E Different Patterns of Drug Use. D.. NIDA Research Monograph 110.com www.Halaman | 41 Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine.. Li L. Easton.gov/publications/pdf/american_users_spend_2002. World drug report 2007. Office of National Drug Control Policy. www. Rockville. From Networks to Populations: The Development and Application of Respondent-Driven Sampling Among IDUs and Latino Gay Men. Denise. A report of the Canadian Centre on Substance Abuse Salganik MJ. B. W. Health Affairs. 1991.. Respondent-driven sampling to recruit MDMA users: a methodological assessment. Brochu. Fischer. and Campbell.whitehousedrugpolicy. Siegal HA Rahman A. 2004. Appendix A. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. SMA 08-4343). Social costs of drug use in France. Collins. DHHS Publication No. Operational Definition in Socio-behavioural Drug Use Research. Youth Characteristics Describing and Predicting Heavy Drug Use by Adults. 27-35..T. J. Sarnocinska-Hart.org/pdf/gap/trs-6.. 78:147–157 What America's Users Spend on Illegal Drugs1988–2000. MD: National Institute on Drug Abuse Robson.org Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Vol.. H. KK Bucholz (2006)..M. Lapsley. Schauffler. NIDA. B. J. December 2005 Rehm.. Gnam. & Single. P.. Addictive Behaviour 31 (2006): 948-961 Wang J. 2001.whitehousedrugpolicy. Carlson RG. B. Research Monograph Series 2. R. 2002. http://www. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. 20(1). The Measurement of "Ever Use" and "Frequency-Quantity" (in Drug Use Surveys). No. Taylor. http://www. 2006.gov/publications/predict_drug_use/intro. J. S. Rockville. JF Scherrer. Falck RS.datastatistik-indonesia. N. R.. 1992-2002.go. AIDS and Behavior. http://www. JD Grant. & Anthony. Published December 2001.1995. Drug Alcohol Depend. Harwood. Factors influencing initiation of cocaine use among adults : Findings from the epidemiologic Caatchment Area Program.. AA. Patra. A. Sampling and estimation in hidden populations using respondent-driven sampling.ppt-2007-06-05 World Drug Report 2008. R. Vol. Popova. Heckathorn. 9.D.. 207303). National and State Estimates of the Drug Abuse Treatment Gap: 2000 National Household Survey on Drug Abuse.). 83. DC: Executive Office of the President (Publication No. 189-210. Sociol Methodol.pdf www. E. L. Heckathorn DD.

tahun 2008 .Halaman | 42 LAMPIRAN Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.

754 112.463 20.151 138.821 28.051 11. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total coba pakai minimal maksimal 77.167 188.488 3.6 1.401 16.560 6.070 3.3 1.135 4.168 204.772 49.840 29.075 7.6 1.258 4.654 25.999 26.2 1.726 15.7 1.399 9.476.270 29.065 22.312 24.538 26.984 19.563 10.601 12.155 13.5 1.461 10.152 1.383 13.262 53.735 23.768 2.6 2.313 2.096 32.573 8.658 5.780 22.715 27.412 87.577 54.563 26.547 8.473 16.539 570.731 31.413 1.869 10.781 6.079 36.398 11.902 3.155 167.830 9.548 84.264 12.108 3.059 9.599 46.2 1.456 14.057 83.492 78.996 44.512 8.016 9.762 47.752 18.501 22.771 26.612 Pecandu suntik* minimal maksimal 30.624 5.093 11.935 14.402 158.381 15.763 96.3 1.316 6.514 36.738 42.305 571.964 4.480 73.879 1.933 5.626 29.584 26.819 % thd pop 3.280 12.6 1.6 1.649 16.817 938.090 22.613 722 917 993 1.071 7.833 14.740 8.119 55.237 36.715 115.Halaman | 43 Tabel Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tabel E1.845 41.0 1.561 107.150 21.232 37.371 5.310 71.798 31.506 12.449 294.171 13.905 9.671 12.024 172.182 2.129 8.247 4.211 34.788 76.711 7.970 4.471 15.879 48.886 19.879 41.157 9.217 47.890 2.233 465.494 1.649 35.964 3.743 26.224 42.439 69.127 7.295 11.493 143.380 17.023 12.572 4.364 7.197 2.302 64.256 1.724 700 885 344 401 218.506 27.234 3.253 26.113 396.410 21.592 11.626 6.908 26.694 652.818 6.252 7.785 41.383 12.033 158.966 11.495 3.4 2.163 14.863 14.395 30.183 3.334 4.462 49.267 12.765 17.944 7.573 14.594 131.582 20.432 5.114 142.487 6.202 13.854 35.480 498.893 3.707 99.029 146.414 51.229 7.888 52.747 7.203 829.549 306.329 12.816 23.280 123.087 6.431 1.7 1.850 2.6 1.931 17.787 4.071 3.605 5.418 27.137 3.081 13.390 3.007 3.689 40.953 10.116 3.434 21.2 1.072 14.6 1.296 50.510 3.814 959.872 30.089 12.986 4.798 11.894 94.878 8.209 43.645 35.749 60.394 23.261 4.417 10.3 1.374 1.178 8.898 21.665 13.811 2.335 113.365 122.070 23.732 9.675 4.276 2.3 1.385 14.657 260.713.019 23.576 7.259 39.6 1.749 9.228 186.891 135.439 50.149 9.856 20.573 11.6 1.677 26.429 1.115 16.732 6.6 1.376 807.818 5.422 19.857 10.418 6.761 2.502 11.114.122 22.075 22.152 27.552 214.6 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.578 6.581 253.412 10.670 18.682 3.576 4.629 9.801 3.656 4.469 2.776 2.2 1.174 11.762 Total lahgun minimal maksimal 278.6 1.4 1.211 9.544 20.528 1.094 81.397 31.987 124.093 2.364 14.8 1.655 1.629 9.250 5.164 27.744 20.821 42. tahun 2008 .636 2.264 5.317 3.624 41.910 13.252 61.464 227.230 1.1 1.088 9.1 1.269 6.188 865 981 1.042 1.610.618 83.567 11. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.465 43.984 11.603 1.4 1.526 12.4 1.673 57.302 7.384 31.551 4.778 16.3 1. Angka Estimasi Penyalahguna Narkoba di Indonesia.500 11.101 2.785 60.550 7.806 7.041 teratur minimal maksimal 76.303 23.132 3.999 3.038 268.3 1.7 1.953 18.197 10.709 3.392 752 912 3.686 7.323 9.363 19.166 pecandu minimal maksimal 124.808 129.

Angka Persentase Penyalahguna Narkoba menurut kelompok pelajar/mahasiswa & bukan pelajar/mahasiswa.Halaman | 44 Tabel E. tahun 2008 . Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total Pel/mhw 40 40 58 62 42 49 42 48 32 45 34 56 58 35 60 51 46 62 51 42 57 57 59 58 42 63 48 50 54 49 41 53 53 49 Coba pakai Bukan 7 9 9 8 10 10 8 11 10 9 11 8 8 5 5 6 8 12 9 7 14 12 9 10 17 12 8 12 3 12 13 13 10 9 Total 48 49 68 71 52 59 49 59 43 54 45 63 66 40 66 57 54 74 60 49 71 69 68 68 59 76 56 62 57 62 54 65 63 58 Pel/mhw 32 30 23 19 28 18 26 22 30 19 28 17 17 34 18 25 35 12 24 29 16 18 13 18 17 12 17 23 22 24 28 8 13 23 Jenis Penyalahguna Narkoba (dalam %) Teratur Pecandu bukan suntik Bukan Total Pel/mhw Bukan Total 2 35 11 3 13 1 31 16 1 17 1 24 4 1 5 3 22 4 1 5 6 34 11 0 12 4 22 14 1 16 2 27 17 2 19 2 24 13 1 14 2 33 17 1 17 3 22 17 1 17 1 29 7 1 8 1 19 12 1 13 3 20 6 1 8 2 36 10 1 12 5 23 3 1 4 3 28 12 1 13 2 36 5 2 7 1 12 7 2 9 3 27 7 1 8 1 30 10 2 12 5 21 4 1 5 6 23 3 1 4 5 18 6 4 10 4 22 3 2 4 1 18 9 6 15 3 16 3 3 6 7 24 13 3 16 3 26 7 2 10 0 22 10 4 14 3 26 8 3 11 5 34 6 3 9 2 10 19 3 23 5 19 14 2 17 3 26 11 2 12 Total Lahgun Setahun Pecandu suntik Pel/mhw Bukan 3 1 3 0 3 0 2 0 2 0 3 0 4 1 3 0 7 0 6 0 16 1 4 1 6 1 11 1 7 1 2 0 2 0 5 0 5 0 9 1 2 0 3 0 4 0 5 1 6 2 2 0 2 1 2 0 6 0 1 0 3 0 1 1 1 0 3 0 Total 4 3 3 2 3 3 5 3 7 6 17 5 6 12 8 2 3 5 6 10 3 3 4 6 8 3 4 2 6 1 3 2 2 4 Pel/mhw 86 89 87 87 84 84 89 86 86 87 85 90 87 91 88 89 88 85 87 90 79 81 82 84 74 80 81 82 92 81 79 82 82 86 Bukan 14 11 13 13 16 16 11 14 14 13 15 10 13 9 12 11 12 15 13 10 21 19 18 16 26 20 19 18 8 19 21 18 18 14 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.2.

1 15.5 13.2 14.1 24.4 1.4 1.4 2.5 24.1 0.5 0.7 53.6 3.3 11.0 Total 1733 9.5 0.7 2. TAHUN 2008 ( Hasil Survei di 17 Propinsi) Tabel 1.2 6.1 1.9 23.7 10.7 0.1 17.9 1.2 4.4 80.6 2.5 5.4 11.8 0.2 93.2 15.0 16.0 24.1 12.9 68.8 29.4 21.5 2.3 1.2 2. tahun 2008 .4 0.5 63.4 0.9 24.4 25.8 8.7 7.1 12.4 0.6 3.3 1.3 68.5 3.9 57.7 1.5 0.8 25.4 4.4 12.7 1.9 0.7 56.3 10.2 5.3 18.2 6.0 4.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 5.5 10.6 16.3 68.8 66.7 15.1 11.8 3.4 4.5 17.7 20.4 56.5 1.2 32.1 0.0 73.1 2.2 1.3 91.9 23.3 6.7 3.3 Keseluruhan Lahgun 2143 9.7 34.Halaman | 45 TABEL PROBABILITAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA.8 0.1 1.5 67.2 0.7 2.2 21.6 0.7 27.9 2.7 2.1 2.3 1.6 6.7 2.1 10.0 0.5 1.0 5. Distribusi persentase responden yang terpilih dalam studi menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur > 19 tahun 20-29 tahun 30-39 tahun 40-49 tahun lebih dari 49 tahun Jenis kelamin Laki Perempuan Pendidikan Rendah (=<SD) Menengah (SMP) Atas (SMA keatas) Status perkawinan Belum menikah Menikah Cerai Hidup bersama tanpa nikah Pekerjaan utama Tidak bekerja Mahasiswa Pelajar Pegawai negeri (PNS) Pegawai swasta TNI/ POLRI Wiraswasta/pedagang Buruh tetap Buruh tidak tetap /serabutan Sopir Ojek Lainnya tempat tinggal anda saat ini Rumah sendiri Rumah orang tua Rumah saudara kandung Rumah saudara bukan kandung/kakek/nenek Rumah teman/tetangga Rumah kost/kontrakan Tidak punya tempat tinggal tetap N: Jumlah seluruh responden Teratur 410 8.7 0.3 92.4 0.3 23.0 3.2 0.4 2.3 17.8 0.5 2.6 74.8 70.2 1.9 0.5 5.4 14.9 0.5 Pecandu Suntik 461 2.7 58.9 85.0 1.5 77.3 69.3 27.5 88.9 1.0 14.1 0.3 92.1 0.0 79.2 2.5 2.2 3.5 7.1 0.0 1.4 33.5 12.3 2.2 Bukan Suntik 1272 11.3 4.9 20.4 20.7 11.7 84.9 2.1 5.0 3.2 7.0 2.8 0.4 6.8 25.0 3.

1 4.1 2.1 0.6 0.0 0.0 23.2 80. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Obat penenang/barbiturat (valium.2 0.4 43.Halaman | 46 Tabel 2 Perilaku merokok & minum alkohol dikalangan lahgun menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 98.8 0.2 94.7 7.cimeng.1 0.8 2.2 66.0 0.rohyp Lainnya Teratur 410 2.5 91.0 83.7 0.5 3.5 0.nipam.9 41.8 16 16 3 7 40 Suntik 461 10.7 92.9 0.0 21.0 0.0 16.2 80.3 0.2 33.2 0.2 7.4 7.8 95.8 N Merokok Pernah merokok Setahun pernah merokok Alkohol Pernah minum alcohol Setahun pernah alcohol N: Jumlah seluruh responden 93.2 0.1 0.2 80.2 19.4 29.1 20.9 15. i.5 0.2 Total 1733 98.5 7.2 40.5 0.1 0.7 0.0 4.7 71.8 42.1 0.6 35.2 5.1 5.6 0.5 0.1 73.3 Suntik 461 98.9 33.3 91.2 59.0 1.7 Tabel 3a Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Umur pertama pakai narkoba < 13 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun >= 19 tahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Jenis kelamin Laki Perempuan Jenis narkoba pertama kali Ganja (cannabis.0 26.2 0.5 16.7 Pecandu Bukan Suntik 1272 98.3 0.7 92.1 3.3 11.8 41.BK.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.6 0.4 34.7 0.0 0.9 2.9 0.5 93.marijuana) Hashish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.5 16 16 3 7 40 Keseluruhan Lahgun 2143 5.0 0.6 94.5 93.lexo/lexotan.7 16 15 3 9 35 Total 1733 6.0 17 16 3 7 50 88.0 92.3 Keseluruhan Lahgun 2143 98.4 0.1 0.3 8.2 67.6 2.gele.7 95.1 19.3 6.9 18 17 4 8 50 Pecandu Bukan Suntik 1272 5.9 95.2 56. tahun 2008 .8 93.9 24.8 8.

-Aibon.4 81. cimeng.9 4.9 37.-Aibon.8 2.5 3.2 0.4 0.0 2.1 Suntik 461 93.UHU) Lainnya.8 8.6 65.7 38. lexo/lexotan. cimeng.2 0.7 10.1 26.2 30.0 2.9 58.9 4.3 2.2 66.0 40.9 16.5 14.8 10. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.3 82. i. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.8 28.2 0.9 0.3 0.4 9.1 3.7 33. nipam.9 21.3 1.6 3.2 5.9 4.2 0.4 5.6 5.8 10. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.3 72.2 48.5 56.0 27.2 28.9 16.5 14.8 36. tahun 2008 .5 0.4 4.5 4.6 63.3 0. jamur di kotoran Sapi (mushroom) Lem (Aica.4 65.5 1.0 1.3 66.8 24.7 22.0 33.5 17.2 0.6 49.1 0.5 60.5 3.7 14.4 4.0 Keseluruhan Lahgun 2143 91.8 65.0 Pecandu Bukan Suntik 1272 92.6 0.6 23. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.3 0.3 3.3 1.7 0.5 2.4 10.8 20.3 13.0 10.3 2.9 76.5 2.9 55.Halaman | 47 Tabel 3b Pola konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Jenis narkoba yang pernah pakai Ganja (gele.3 6.6 29.4 32.5 53.0 0.2 37.8 70.1 5.9 47. BK. rohypnol) LSD (acid) Kecubung.6 8.4 0.0 0.8 3.5 4.8 30.6 32.4 66.9 4. i.9 3. nipam.1 6.5 0.4 Total 1733 92.7 65.8 11.1 6.4 16.2 64.9 3.8 0.5 52.0 0.1 18.9 42.1 19.8 5.7 0.8 4.2 61.7 7.6 1.6 56. lexo/lexotan.9 33.2 9.4 2.6 15.1 4.2 4.8 17.0 69.8 49.3 6. XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex Obat penenang (valium.6 29.5 2.7 0.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 46.0 31. sebutkan Jenis narkoba setahun terakhir pakai Ganja (gele.5 37.6 0.1 6.2 2.1 53.6 10.1 71.0 7.UHU) Lainnya Frekuensi pakai Mean Median Minimum Maksimum Keluarga tahu anda pakai narkoba Ya Tidak Ada anggota keluarga lain pakai narkoba Ya Tidak Teratur 410 88. marijuana) Hasish Kokain Shabu Ekstasi (inex.6 50.0 35.8 0.1 2.9 51.7 66.5 53. BK.8 20 21 5 48 184 421 49 7200 720 1181 49 29979 357 624 49 29979 161 508 5 29979 36.6 65.0 36.5 0.5 21.4 5.9 7.0 11.5 1.1 79.

3 43.9 Pecandu Bukan Suntik 1272 84.2 30.9 3.1 20.3 0.0 35.4 26. tahun 2008 .5 31.2 54.5 61.6 N Pernah menjual narkoba Setahun terakhir masih menjual narkoba Pernah menjadi kurir narkoba Pernah menawarkan narkoba ke orang lain Tabel 6 Perilaku seks dan narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba N Pernah seks Usia pertama kali hubungan seks Mean Median SD Seks setahun terakhir N Seks setahun terakhir Pernah hubungan seks demi narkoba Seks demi narkoba by jenis kelamin (N) Laki Perempuan Frekuensi pakai kondom setahun terakhir (N) Tidak pernah Kadang-kadang/jarang Selalu Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Jenis narkoba yang mempengaruhi anda ingin hubungan seks Ganja (cannabis.6 N Pernah pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba Setahun pakai multi jenis narkoba hanya satu jenis lebih dari satu jenis narkoba 52.7 Keseluruhan Lahgun 2143 17.6 0.0 0.6 31.9 1.6 11.4 47.9 41.5 5.4 36.0 7.6 Suntik 461 45.7 950 11.6 0.4 9.6 0.0 11.5 2.0 5.4 59.4 1.7 2.7 9.4 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 0.0 0.4 1574 12.4 35.6 0.8 38.8 2.2 Keseluruhan Lahgun 2143 85.4 2.2 0.5 1298 47.Halaman | 48 Tabel 4 Pola Konsumsi narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 22.1 40.5 Pecandu Bukan Suntik 1272 29.8 0.8 8.3 276 12.0 4.1 41.0 0.2 2.9 Suntik 461 91.1 9.9 55.5 18.8 2.1 13.4 11.4 35.8 47. jmr di kotoran Sapi/mushroom Inhalan/dihirup (ngelem.0 20.4 0.9 12.marijuana).3 Total 1733 16.4 11.0 33 72.6 0.1 45.1 0.4 56.5 10.0 9.5 18 17 3 73.0 0.5 1.5 Tabel 5 Peredaran narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 19. Hasish (getah ganja) Kokain Shabu Ekstasi (inex.3 4. i.7 3.6 0.6 7.5 0.5 47 87.4 1.3 276 48.5 10.0 0.5 348 13.0 49.0 Keseluruhan Lahgun 2143 31.9 950 47. bensin) Lainnya Teratur 410 80.6 110 79.3 0. XTC).4 5.4 0.7 47.8 40.6 3.5 2.1 13.7 35.gele.1 157 81.3 83.2 28.0 48.6 51.8 0.4 32.7 0.2 12.4 11.cimeng.1 190 80.6 0.3 9.5 29.5 18 18 3 67.6 87.2 9.4 82.9 12.5 Total 1733 33.4 0.5 78.9 1.6 47.9 0.7 27.1 0.2 Total 1733 86.6 11.6 10.6 35.7 18 17 3 74.6 2.0 8.9 26.2 10.3 8.0 1.9 1298 12.8 18 17 3 75.7 0.5 6.6 12.9 29.7 1.8 348 45.0 1574 47.5 1.2 32.0 41.8 9.: Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine): Obat penenang LSD (acid) Kecubung.5 0.2 28.8 18 17 3 74.2 64.0 78.0 Pecandu Bukan Suntik Suntik 1272 461 21.7 98.1 2.

9 10.1 62.6 36.9 4.3 522 365 679 1 10950 528 365 478 1 1825 522 365 667 1 10950 Mean Median SD Minimal Maksimal 24 15 24 1 150 14 10 11 3 30 24 15 24 1 150 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 65.8 5.2 42.3 45 19 19 4 12 28 2143 34.4 8.6 68.3 1.4 2.3 42.8 691 175 25.5 57.6 1.5 62.0 72.9 71.1 1.3 5.2 36.6 736 20 19 5 9 38 Mean Median SD Minimal Maksimal Lama pakai narkoba secara teratur (bulan) Mean Median SD Minimal Maksimal suntik 20 19 5 9 38 65 60 53 1 360 59 42 46 4 132 65 60 53 1 360 Jenis narkoba yang pernah disuntikan ke dalam tubuh Kokain Shabu Ekstasi (inex i XTC) Heroin Putau bubuk Putau cair Metadhon Subutex (buprenorphine).Halaman | 49 Tabel 7 Penyalahgunaan narkoba suntik Laki Perempuan Total N Pernah narkoba suntik Ya Tidak N Umur pertama pakai narkoba suntik 1968 35.1 64.3 5. tahun 2008 .1 80.3 18.6 1.1 81.7 2.2 11.1 4.0 4.7 81.2 6.8 3.3 5.9 31.1 10.0 4. ObatPenenang Lainnya pernah menggunakan jarum suntik bersama/bekas pakai Pernah pakai narkoba suntik setahun terakhir Ya Tidak Frekuensi pakai narkoba suntik Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi pakai jarum baru (bulan) 4.7 74.4 44.4 17.

1 2.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.7 4.0 6.4 3.6 19.2 5.3 14.4 9.9 45.3 17.7 33.6 373 38.6 10.2 16.5 70.5 45.0 4.1 74 57.4 36.9 16.1 4.7 35.6 34.7 9.7 46.5 23.9 22.4 5.0 9.0 72.5 74 43.5 78.5 23.0 62.9 25.5 21.3 25.3 45.8 45.Halaman | 50 Tabel 8 Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 410 Pecandu Bukan Suntik 1272 Suntik 461 Total 1733 Keseluruhan Lahgun 2143 N Responden yang punya keluhan kesehatan Ya Tidak Jenis keluhan yang disampaikan Rasa Mual Selera makan berkurang Rasa sakit pada ulu hati Rasa perih/nyeri pada saat menelan makanan Warna putih menebal pada bagian mulut/tenggorokan Rasa sesak pada dada Rasa sakit pada saat bernafas Batuk berdahak lebih dari 2 minggu Diare lebih dari 2 minggu Rasa lelah (fatique) berkepanjangan Keluar keringat pada malam hari secara berlebih Demam tinggi lebih dari 2 minggu Kulit dan kuku berwarna kuning (menguning) Peradangan pada kulit (luka yang sulit sembuh) Rasa gatal/panas dan ruam/memerah pada kulit Munculnya bercak berwarna merah/putih/hitam di kulit Penurunan berat badan lebih dari 10 dalam 2 minggu N punya keluhan kesehatan Melakukan pengobatan sendiri Jenis pengobatan sendiri yang dilakukan Obat Tradisional/non medis Obat modern/medis Lainnya Melakukan pengobatan ke orang lain Rawat jalan Rawat inap 65.3 37.0 16.4 30.8 17.7 7.5 4.5 4.9 37.6 3.4 18.6 8.7 37.7 2.8 5.3 6.2 7.3 27.2 23.0 4.4 25.5 40.9 12.6 15.7 6.2 3.7 23.5 70.3 5.1 1.7 34.2 32.1 3.6 11.7 299 36.0 50.9 7.2 1.7 5.5 299 44.7 47.2 75.6 34.6 21.1 34.3 10.8 46.5 143 31.1 4.2 6.0 14.2 4.5 1.2 6.3 70.7 8.0 9.1 83.1 26.6 516 36.4 42.1 516 44.1 9.7 23.0 18.9 143 31.4 18.6 6.5 373 48.2 17.2 35.0 18.9 25.8 23.9 24.0 35.9 5.5 13. tahun 2008 .8 3.9 17.0 76.9 11.1 29.9 68.2 26.4 5.

9 44 5.0 13.7 0.5 40.0 Keseluruhan Lahgun 505 27.1 42.6 53.3 3.0 0.4 0.7 7.4 9.3 60.7 47.2 14.7 1.0 55.1 1.8 3.1 6.2 0.9 2.4 2.3 9.0 0.9 11.1 0.7 5.9 5.9 1.4 11.2 48.7 51.2 0.0 0.6 21.4 2.0 0.1 4.2 15.6 5.0 31.2 0.7 8.3 0.0 59.0 49.7 21.0 0.0 0.1 90 11.2 6.2 5.3 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.8 1.6 7.5 48.4 0.kerabat): Biaya sendiri (responden) Lainnnya Ada orang lain yang mengantar selama berobat Rawat jalan Rawat inap 15.0 0.5 7.1 3.3 11 5.3 3.2 8.1 10.0 0.0 Suntik 209 41.5 9.6 25.7 0.4 4.4 134 8.4 0.3 3.4 0. Sebutkan Apakah tersedia jaminan pembiayaan kesehatan Askes Astek jamsostek Perusahaan/kantor Asuransi lain/swasta Kartu sehat/SKTM/jamkesmas/Gakin Keluarga (ortu.0 1.8 41.3 15.4 0.4 2.0 0.0 0.4 14.1 15.3 4.3 16.2 41.Halaman | 51 Tabel 8b Riwayat penyakit dikalangan lahgun Teratur 58 18.0 Total 447 28.2 7.0 9.7 1.2 13.0 0.2 11.8 0.8 0.0 0.8 45.4 0.7 61. tahun 2008 .1 0.9 3.0 0.8 60.0 0.7 3.3 10.9 1.0 0.7 1.9 145 7.0 1.0 14.1 15.0 5.2 0.1 5.adik/kakak.9 3.0 8.6 1.9 3.1 22.1 12.0 0.7 50.8 8.0 3.0 Pecandu Bukan Suntik 238 17.7 17.0 0.3 60.6 2.8 0. Sebutkan N berobat rawat inap Tempat pengobatan rawat inap RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.9 4.9 2.6 47.7 0.0 N berobat jalan Tempat pengobatan rawat jalan RS Pemerintah RS Swasta Prakter dokter Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Praktek petugas kesehatan Praktek pengobatan tradisional Lainnya.

9 259 2143 13. Tidak tahu/ tidak ingat Tidak menjawab Ketika OD di tolong di pelayanan medis.2 283 1.0 259 5.1 8.5 9..5 4.Halaman | 52 Tabel 9 Kasus over dosis dikalangan pelayahguna narkoba Teratur N Pernah overdosis Ya N pernah OD Pernah overdosis terakhir Ya Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5.4 4.2 9.0 2.1 0.0 0.2 Frekuensi OD setahun terakhir Mean Median SD Minimal Maksimal Tindakan yang dilakukan ketika OD Tidak melakukan apa-apa Ditolong/ di rawat teman Perawatan medis Perawatan non medis Lainnya.0 0.0 283 4.1 28. ada orang lain yang menunggu (n) 2 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1 3 40.2 33.0 0. sebutkan .4 55.5 29..0 0.8 11.0 24 4..0 20.0 129 1.5 52.3 56..1 10.7 13.0 10. tahun 2008 .7 5.6 4.9 24 dlm setahun 1272 10.2 130 1733 14.2 8.3 0.6 4.0 4..5 2.1 129 461 28.0 130 8.8 0.0 20..0 0.2 54.5 18.5 0.3 52..0 60.9 Ya Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.0 1.

0 .9 9. 0.0 7. . Pecandu Bukan Suntik 1272 2.Halaman | 53 Tabel 10 Detoksifikasi dan rehabilitasi menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur 410 0.6 0.1 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.2 0. 2 4 1 9 1 1 1 0 3 1 3 1 12 1 1 1 1 7 1 1 0 1 1 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.4 0. . .7 7.4 3 Total 1733 6. .6 8.0 1.2 0. tahun 2008 .5 0.5 Ada orang lain yg membantu 22.5 2.0 . .3 0.1 3 Keseluruhan Lahgun 2143 5.3 2. .9 2 3 1 12 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 17.4 0.2 0.5 1.0 4 Suntik 461 16.2 0. . .8 25.7 2. .1 3 N Pernah Detoksifikasi Detok setahun terakhir Pernah Rehabilitasi Rehabilitasi setahun terakhir Pernah Detok-&-Rehab Detok&Rehab setahun terakhir Frekuensi detoks (kali) Mean Median SD Minimal Maksimal . 8.0 2. . .0 0.2 2.1 0.2 3.4 Frekuensi rehabilitasi Mean Median SD Minimal Maksimal Frekuensi detoks & rehab Mean Median SD Minimal Maksimal .9 0.

0 1272 25.0 171 63.9 9.0 16.5 14.5 65.4 57.1 1733 35.9 4.5 20 80.9 82.2 26.7 60.3 7.7 67.4 12.9 26.1 21.4 68.Halaman | 54 Tabel 10.4 13.9 15. Perilaku tindakan kriminal akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah melakukan tindakan kriminal krn narkoba Ya tidak Setahun tindakan kriminal Proporsi antara tindakan criminal dan keluarga (n) Keluarga/orang tua Orang lain Campuran Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 15. Perilaku pencarian pengobatan sendiri terhadap keluhan akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah pengobatan sendiri Ya Tidak Setahun pengobatan sendiri Frekuensi pengobatan sendiri setahun Mean Median Std Deviation Minimum Maximum Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 16.2 64.6 73.7 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.4 83.5 38.1 4.4 461 61.3 2143 31.9 287 65.0 15.5 7.1 8.0 5.9 40.8 27.3 27.5 33.9 30.0 37.9 96 67.7 6 3 9 1 40 6 2 13 1 96 4 2 11 0 90 5 2 12 0 96 6 2 12 0 96 Tabel 11.2 267 64. tahun 2008 .3 13.7 28.

0 0.0 1.3 7.0 24 12.0 360 25.2 20.0 0.6 1.0 80 48.6 1.0 461 46.9 2143 769 35.1 1.9 14. tahun 2008 .1 1.9 1.0 3.7 55.1 1 1 1 1 5 65 65.0 0.8 461 197 42.5 19.9 1.0 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.1 1.Halaman | 55 Tabel 12.4 1.5 1272 477 37.3 1272 14.5 16.8 1.5 62.8 1.0 0.0 Tabel 13 Penangkapan pihak kepolisian akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah ditangkap polisi krn narkoba Setahun ditangkap krn narkoba Frekuensi ditangkap setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah ditangkap setahun Ada orang yg bantu saat ditangkap polisi Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 7.3 1.0 7.0 1733 23. Kasus kecelakaan lalulintas yang diakui akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah kecelakaan lalulintas krn narkoba Ya Tidak Setahun kecelakaan lalulintas Frekuensi kec lalulintas setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah kecelakaan lalulintas setahun Ada orang yg bantu saat kecelakaan lalulintas Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 95 23.0 7.5 1.2 6.5 1.3 1 1 1 1 5 127 73.2 1 1 0 1 1 5 33.0 336 25.2 76.1 5.5 1.9 63.9 1 1 1 1 5 62 80.0 256 18.9 60.0 7.7 17.2 1.2 1 1 1 1 5 132 72.3 2143 20.8 4.9 1.8 1733 674 38.0 5.

6 56.4 149 21.9 288 2.1 476 27.3 828 25.8 Tabel 15 Pengalaman Aktivitas terganggu akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah aktivitas terganggu krn penyalahgunaan Ya Tidak N pernah aktivitas terganggu Setahun pernah aktivitas terganggu dari penyalahgunaan Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 1272 461 1733 2143 38.5 60 82.9 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.3 29 85.7 679 27.8 265 3.4 1 1 0 1 2 2143 13.1 203 26.4 1 1 0 1 2 461 31.2 49.1 120 2.6 94.2 1 1 .3 1 1 0 1 2 1733 15.2 47.4 90.4 23 0. 1 1 1272 9.9 58.4 41.7 59 82.Halaman | 56 Tabel 14 Pengalaman dipenjara akibat narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Teratur N Pernah dipenjara krn kasus narkoba Tidak N pernah dipenjara Setahun dipenjara krn narkoba Frekuensi dipenjara setahun Mean Median SD Minimal Maksimal N pernah dipenjara setahun terakhir Ada orang yg bantu saat dipenjara Pecandu Bukan Suntik Suntik Total Keseluruhan Lahgun 410 5. tahun 2008 .7 58.3 83.2 38.0 30 79.8 1 1 0 1 2 1 100.4 85.6 145 6.5 66.1 55.0 40.

0 54.0 0.6 92.0 27.00 0.6 17.00 0.00 0.0 Perkiraan jumlah teman yg mati karena narkoba Mean Median Minimum Maximum Std Deviation 0.0 27.8 28.15 0.67 0.0 54.6 20.Halaman | 57 Tabel 16.00 0.03 0.01 0.9 7.5 27.8 17.0 44.0 46.0 27.4 93.10 0.00 0.6 7.3 25.91 0.80 0.91 0.0 5.0 4. Teman responden yang pakai narkoba menurut tingkatan penyalahguna narkoba Pecandu Suntik Keseluruhan Lahgun Teratur N Perkiraan jumlah narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal Bukan Suntik Total 410 teman pakai 1272 461 1733 2143 17 10 20 2 100 mati karena 17 10 28 1 200 16 8 21 1 100 16 10 25 1 200 16 10 25 1 200 Ada teman narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal yang 2 2 1 1 4 4 3 3 1 12 5 3 5 1 30 4 3 4 1 30 4 3 4 1 30 Jenis kelamin teman yg mati Laki-laki perempuan Umur teman yg mati karena narkoba Mean Median SD Minimal Maksimal 100.0 5.2 18.09 0.1 27. tahun 2008 .0 54.17 0.05 0.1 92.00 0.00 0.0 4.00 0.12 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.5 27.06 0.8 17.13 0.00 0.0 7.0 27.0 27.0 4.4 7.06 0.0 92.91 0.

25 0.00 0.25 0.02 0.05 40-44 0.12 0.00 0.00 0.00 0.03 0.01 0.00 0.00 0.18 0.05 Persentase kematian menurut kelompok umur Absolut mati yg 10-14 0.00 0.02 0.00 0.32 0.02 0.03 0.00 0.51 0.26 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.25 0.06 0.00 0.00 0.00 0.49 0.09 0.04 0.00 0.16 0.55 0.00 0.00 0.02 45-49 0.00 0.00 0.41 0.01 0.00 0.00 0.04 0.05 0.00 0.46 0.06 0.00 0.01 0.01 0.12 0.00 0.61 0.00 0.05 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 0.01 0.01 0.05 0.03 0.00 0.34 0.25 0.00 0.04 0.12 0.01 0.48 0.00 0.00 0.10 0.29 0.00 0.33 0.10 0.50 0.01 0.Halaman | 58 Tabel 17.333 1.00 0.02 0.00 0.22 0.02 0.05 0.13 0.00 0.11 0.421 716 455 111 3.05 0.08 0.20 0.04 0.27 0.01 0.00 15-19 0.05 0.00 0.00 0.43 0.01 0.10 0.25 0.06 0.02 0.01 0.03 0.27 0.00 0.23 0.02 0.01 0.46 0.05 0.80 0.45 0.00 0.03 0.13 0.02 0.25 0.986 219 871 165 203 33 114 353 60 71 288 259 105 188 82 142 74 7 1.23 0.50 0.11 0.00 0.25 0.03 0.02 0.00 0.27 0.894 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.00 0.38 0.45 0.05 0.00 0.00 0.01 0.02 0.00 0.46 0.33 0.02 0.09 0.02 0.33 0.11 0. tahun 2008 .03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.25 0.00 0.48 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.28 0.01 0.14 0.09 0.05 0.13 0.00 0.11 0.13 0.29 0.10 0.01 0.18 0.46 0.04 0.50 0.00 0.26 0.06 0.00 0.00 0.08 0.33 0.01 0.06 0.621 66 86 158 132 497 12 48 12 6 14.10 0.42 0.27 0.00 0.00 0.54 0.27 0.14 0.08 0.20 25-29 0.22 0.00 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.42 0.00 0.10 0.04 0.01 0.02 0.02 0.46 0.27 0.01 0.33 0.00 0.19 35-39 0.21 0.00 0.07 0.04 0.17 0.00 0.05 0.02 0.00 0.00 0.13 0. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat Total 2.38 0.50 0.22 0.00 0.00 0.10 0.00 0.00 0.21 0.06 0.00 0.00 0.27 0.01 50-54 0.53 0.02 0.00 0.00 0.27 0.20 0.12 0.00 0.00 0.08 0.00 0.00 0.03 0.02 0.05 0.08 0.71 0.01 0.02 0.03 0.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.05 0.00 0.00 0.00 0.12 0.08 0.04 0.38 0.01 0.04 0.13 0.13 0.48 30-34 0.13 0.09 0.00 0.11 0.00 0.27 0.12 0.06 0.03 0.00 0.00 0.54 0.00 0.00 0. Angka Prevalensi dan Perkiraan Kematian Akibat Penyalahgunaan Narkoba Menurut Kelompok Umur Propinsi di Indonesia.09 0.05 20-24 0.00 0.27 0.21 0.02 0.06 0.04 0.03 0.00 0.22 0.71 0.00 0.04 0.10 0.29 0.09 0.00 0.05 0.00 0.00 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.02 0.17 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.33 0.00 0.11 0.00 0.05 0.27 0. 2008 Angka prevalensi kematian narkoba 0.00 0.01 0.

.

705 26.813 188.515 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.443.953.602 839.657 5.986 227.060 252.688 323.376.489.735 3.450 8.Halaman | 60 TABEL ESTIMASI BIAYA KERUGIAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOBA Tabel 1. 2008 (dalam 1.454 59.530 32.036 722.000 rupiah) Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2008 15.243 22.519 19.124 1.071 7.220 882.094.424 45.000.957. Kerugian Biaya Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia.715 680. tahun 2008 .743.

258 13.539 953.740 124.618.441 6.258 0 16.462 3.974 996 117.622 8.939 54.373 3.183 141.407 16.263 438.996 63.257 9.749 5.463 5.536 585 1.424 0 0 0 0 310 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12.846 42.639 9.768 3.609 15.808 449.562 979 25.874 296.817 2.630 9.102 4.009 2.244 1.124 27.501 270.845 8.414 177.065 3.772 9.201 11.669 26.956 2.587 23.225 586 1.021 9.542 822.822 12.020 1.356 394.799 0 0 0 0 0 353 4.772 13.407 50.968 5.188 16.220 30.680 33.424 959 1.634 12.545 485 85.165 158.320.901 30.060 4.808 882.871 1.071 1.355 2.332 1.873 468 1.404 294 3.849.573 17.167 21.993 3.302 34.186 58.988 575 946 891 239 479 929 87 168 297 603 939 184 43 769 111 358 359 271 155 6 25 30 17 19.568 1.550 32.702 1.252 2.676 5.490 63.439 1.394 219.435 10.211 32.376.830 4.843 7.835 7.222 261.850 3.875 1.986 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.691 1.762 209.103 505 15.889 630.023 0 0 0 0 0 0 0 0 73 0 0 0 0 361.183 4.036 370.404 301.673 24.701 613.705 26.070 12.294 292.757 7.949 3.489 23.472 795.586 89.369 86.299 410.975 188.202.182 700 186.344 3.671 46.088 28.112 1.499 94.602 9.226.912 134.255 8.556 691.631 51.483 21.688 26.395 1.218 4.724 1.228 3.226 239.768 6.051 933.741 5.499 2.694 85.396.802 3.140 2.511 65.020 284.591 13.841 2.284 4.907 100.610 15.000 rupiah) Pengobatan sakit Konsumsi Narkoba Rawat jalan Rawat inap overdosis detok Rehab detoks & rehab detoks & pengobatan tertangkap rehab sendiri kecelakaan polisi penjara aktivitas terganggu total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.161 10.024 2.438 1.427 2.829 14.219 226.047 557.029 3.593 524.076 7.607 0 16.483 427.334 1.666 526 153.950 2.486 6.959 1.431 3.792 76.000.075 5.877 1.052 5.115.516.703 3.250 16.049 327.741 1.925 1.651 0 5.388 6.732 56.602 0 93.706 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.921 1.475 321.292 30.617 1.851 165.683 1.263 4.926 977.622 136.098 1.183 283 1.559 2.578 1.410 125 510 0 0 13.046 17.561 2.871 1.455 230.658.327 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 73 15 27 0 337 40 0 280 35 46 128 106 3.199 0 0 719.239 11.721 243.434 3.758 11.855.641 107.421 508 852 0 3.269 1.283 1.846 152.Halaman | 61 Tabel 2a No PROP Biaya private (dalam 1.651 36.702 1.638 2.485 132.273 68 170 0 5.986 217.149 0 991 15.620 54.424 28.660 930 2.845 323.403 2.302 14.010 955 206 149 331 1.612 43.612 9.374 149.793 10.813 5.840 781 292.744 4.519 0 5.953 2.155 51 23 22.224 9.130 6.265 19.692 44.364 1. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 1.021 0 162.532 188.845 413.171 6.638 0 3.551 559.820 17.043 19.860 28.847 210.668 0 67.530 295 2.335 317.489.948 435.042 67.142 886 271.841 36.872 150.804 5.683 0 2.768 110 5.320 2.310 220.977 6.749 16.513 253.380 430 196 839.326 15.001 1.430 560.056 916 905.425 501.013 50.048 4.365 1.102 35.806 133.254.666 180.913 2.256 1.666 19.791 46.079 180.173.153.226 7.742 6.060 11. tahun 2008 .919 11.395 814 131.321 5.060 1.133 7.149 70.388 1.435 15.431 4.

651 99.904 111.000. tahun 2008 .528 0 0 0 0 0 44 397 9 21 34 59 768 1.076 3.777 0 2.202 139 310 333 272 446 143 468 2.174 389 692 360 444 193 545 6.265 26.410 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.300 4.823 35 18.555 664 266 7.616 134.785 1.944 705 1.277 27 28.826 3.122 308 33.924 7.886 0 222 46.864 113 192 370 8.254 2.857 481 856 219 3.357 146.814 7.087.211 6.423 0 0 0 0 0 5.678 31.652 555 775 172 1.338 10.153 10.660 2.941 5.583 343 68.000 rupiah) loss produc: sakit Rawat Jalan Rawat Inap Loss produc: overdosis detok loss: detoks & rehab Rehab keluarga tindak kriminalitas orang lain loss: kecelakaan loss: polisi premature loss: penjara death total DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.293 39.947 8.947 3.Halaman | 62 Tabel 2b No PROP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Biaya Sosial (dalam 1.321 1.863 680.843 310 51.454 75 0 14 0 0 42.339.046 246 361 0 3 41 0 1 0 1.919 0 42.052 542.340 3.672 2.835 23.972 3.745 3.050 67.738 21.735 3.893 880.054 3.872 8.364 5.373 543.203 66 102.845 17.780 6.950 45.666 23.934 0 85.505 6.149 93.683 89.833 11.498 807 3.409 60.424 24 136.926 22.071 3.305 24.889 363 675 5.314 33.045 1.530 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.228 45.774 0 10.155 0 1.283 258 101 194 0 0 176.052 5 17.187 181 98 187 384 320 159 101 3.161 105 295 411 300 1.235 3 2.171 32.043 3.400 125 38.046 103 31.058 2.538 5.174 642 877 664 243 481 2.386 1.396 5.088 936 833 1.682 445 1.059 159 0 509 14.124 14.957.418 75.193 3.630 41.142 0 93.057 0 59.709 5 10.809 0 254.559 203 94 167 122 1.179 64.498 1.553 996 3.278 313 655 2.798 275.433 564 12.111 4.210 35.953. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total 4.316 2.408 286.981 9.019 942 185.060 5.512 6.503 1.777 428 5.376 6.392 2.841 5.071 272.285 485 125 0 2.285 1.045 24.862 39.318 9.135 24.746 7.230 0 0 0 1.410 48.046 163.410 19.043 2.121 66.732 52 22.425 110.268 21 7.122 43.002 1.694 2.189 58.257 3.552 5.280 269 407.329 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 42.757 0 51.448 23.292 0 0 16.480 0 2.923 53.300 63.269 25.957 1.822 41 16.416 255 7.477 65.613 16.715 4.465 3.405 426 720 344 157 51.136 529.424 0 804.887 257 289.316 2.572 3.185 1.645 0 2.470 1.363 5.060 0 175 2.268 175 26.057 42.877 42.271 98.968 392 16.132 101 7.073 19.397 195 2.002 34 84 10 25 1.333 722.172 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 83 17 31 0 39 13 0 424 12 15 42 35 298 24 99 0 0 8.396 173.711 3.597 36.095 32.674 13 16.984 1.933 182.362 11.988 90.

191 702 heroin 3.411 6.870 16.843 141.358 13.119 936.105 29.283 20.087 4.393 21.061 15.829 152.781 48.217 15.158 125.983.689 kokain shabu ekstasi 63.806 29.045 49.628 76.909 4.725 7.676 219.407 165.302 217.211 13.751 4.Halaman | 63 Tabel 3.819 35.705 20.170 45 94 putau putau cair methadon bubuk 636.517 50.064 26 83.641 5.007 36.009 24.809 2.134 96.134 2.284 16.661 199.948 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.679 68.319 48.808 44 20 12.070 370.991 799 61.760 162 69.118 57.376 353.061 6 146 19.985 2.167 630.079 18.876 38 122 62.806 1.220 1.616 10.475 51.639 321.249 25.310.868 2.825 182.544 2.620 63.278 54.202 194 661 3.362 7.742 300 361 52 2.287 378 1.772 132.546 20.141 28 50 273 30.943 64.555 4.000.212 195.293 hashish 150 1.004 70 3.183 933.793 284.683 193.889 19.345 100.938 65.552 34.128 169.376.482 5.334 305.891 55.696 5.806 7.587 233 1.242 2.995 68.342 LSD kecubung 4.917 TOTAL 1.006 206.655 9.524.417 14 78.624 13.802 292.429 1.456 10. Total Konsumsi Narkoba 2008 (dalam 1.088 33.165 10.061 243.111 3.810 158 536 7.321 13.071 NO PROPINSI 1 DKI Jakarta 2 Jawa Barat 3 Banten 4 Jawa Tengah 5 DI Yogyakarta 6 Jawa Timur 7 NAD 8 Sumatera Utara 9 Sumatera Barat 10 Riau 11 Kep.767 13.901 100.301 11.791 84.227 7 212 232.120 123.584 subutex barbiturat 116.749 449.258 59.651 159 270 124 208 151 48 9 23 9 1 40 1 3 5 3 832 380 4.544 62.778 30.631 20.415 203.024 34.968 188.846 179.981 146.216 44.585 79.374 613.153.435 35.482 55.251 15.231 15.212 32.442 616 758 4 2 2 60 63 1.949 4.512 121.094 2.897 1.450 83.957 29.499 230.994 16.958 10.940 34.077 6 24.363 7.693 5.153 6.662 146.469 155.795 8 359 42.081 41.754 343.172.855.025 8.405 6.716 23.044 26.452 923 59.249 33.265 34.992 382.233.840 48.116 236.527 35.609 3.095 13.441 39.374 100.628 20.929 19 526 27.398 2.657 6.977 136.000 rupiah) ganja 82.499 15.709 46 14 29 1.452 23.212 1.071 95.316 98.280 29.948 822.768 15.719 81.559 20.359 144.436 34.927 33.787 .971 230.841 795.707 501 17.290 167 27.974 21 63.176 3.721 1.351 78.395 557.634 3.013 67.526 11.539 581 4.456 23.076 12.544 79.680 202 216.363 148.613 34.919 1.182 1.214 654 14.232 9.766 10.333 21.080 975 3.820 24.694 150.075 39.2.276.575 146.319 158.062 72.128 2 0 0 0 0 0 4.464 inhalant 2.562 9.853 49.208 4.106 48.294 914 37.100 2.872 7.939 59.376.894 16.575 44.912 438.851 162 500 139 201 471 393 4.743 131.039 11.842 5.331 262.336 2.612 317.171 14. Riau 12 Jambi 13 Sumatera Selatan 14 Bangka Belitung 15 Bengkulu 16 Lampung 17 Kalimantan Barat 18 Kalimantan Tengah 19 Kalimantan Selatan 20 Kalimantan Timur 21 Sulawesi Utara 22 Gorontalo 23 Sulawesi Tengah 24 Sulawesi Selatan 25 Sulawesi Barat 26 Sulawesi Tenggara 27 Maluku 28 Maluku Utara 29 Bali 30 NTB 31 NTT 32 Papua 33 Irian Jaya Barat Total 177.382 5.803 1. tahun 2008 .055 11.377 22 674 33.951 214.056 83.867 19.108 50.302 177.068 8.317 25.309 143.149 86.112 102.070 7.871 22.254.489 127.075 39.721 172.727 35.232 129.881 15.133 1.185 8 40.

471 8.728 1.547 941.177 10.795 446.278 211.010.489.115.602 839.519 19.723.050 909.957.933 990.930 2012 25.022 71.622 51.375.521 43.296 57.194 24.090 1.532 Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.555.443.705 26.205 46.454 59.702.237 227.243.539 51.070 237.031 399.715 680.944 1.199 9.036 722.882.735 3.000.762.436 35.220 882.094.433 22.227.563 48.464 37.376.413 1.427 34.054.201 27.463 356.146 811.562 1.071 7.704 74.340 2010 20.103 103.514.805 7.519 66.770 12. 2008-2013 (dalam 1.273.703 456.146 34.765 10.346 1.292.183 27.784 1.254 265.743.813 188.986 Komponen Kerugian Ekonomi Konsumsi Narkoba Pengobatan sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Pengobatan Sendiri Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Aktivitas Terganggu Total biaya private Losproductivity Sakit Overdosis Detok & Rehabilitasi Kecelakaan Tertangkap Polisi Penjara Premature Death Tindak Kriminal Total biaya sosial Total Biaya Ekonomi 2009 18.562 853.388 8.450 8.092.243.951.856 15.953.000 rupiah) 2008 15.021 82.515 256.124 1.424 45.243 22.577.236 4.700.923.531 323.195.266.604.574.903 41.721.780 6.091.563 1.688 323.822 1.412 4.621.356 1.443.274.325 30.135 363.299 332.208 5.741 283.263 297.628 2011 22.701 2013 28.140.391.179.482 92.318.265 4.530 32.624 570.436.176.768.690 12.024 1.403 39.133 13.084 362.614 318.657 5.877 1.955.Halaman | 64 Tabel 4.192.191 762.387 6.757 8.021 24.539.313 1.997 57.803 288.125 1.759 955.282.110.546 1.681 1.331 13.410 9. Proyeksi Kerugian Ekonomi akibat Penyalahgunaan Narkoba.809 80.747 407.812 4.879 1.068.901 38.035.472.240 406.109 1.776 30.287.986 510.242.867 31.410 64. tahun 2008 .967.018.060 252.

067 1.061.363 442.981 364.304 9.315 895.623 211.860 5.892 1.512 355.727 168.152 184.474 235.003 319.008 2.049.834 430.653 285.364.260.195 533.935 846.279 319.267 1.243.352 1.440 164.893 708.663.716 492.266.071.106 1.891 41.596 168.369.370 1.549 204.455 1.967 108.277.677 788.381 803.383 430.337 78.562 1.055.799 208.443.634 2.052 70.644.948.862.191.499 5.007 1.833 51.090 401.054 233.454 571.803 2.187.787.928 675.811 218.957 121.242.659 558.092.171 5.232 7.444 6.620 151.758 4.518.570 286.586 781.471 387.940.925 32.130 1.742 360.112.023 1.764 139.959 45.657 359.857 123.274 628.387.691 261.910 289.939.035.235.714 963.985 636.970 279.866 135.295 322.143 7.105 478.981.258 111.700 1.650 1.865 195.886.531 2.247 1.165 593.961 1.249 503.520 166.336 1.560 645.217 157.756 455.652 356.115 314.610 1.878 242.377 259.784 1.013 1.092 700.996.912 291.292.927 776.556 1.957.116 517.029 151.673 6.194 603.970 252.648 97.013 4.060 434.459.278 136.678 4.599.386.384 257.351 124.994.658 11.231 2.347.214 498.732 2. tahun 2008 .588.046 174.393 186.133 507.Halaman | 65 Tabel 5.423 537.623 99. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROP Proyeksi Kerugian Ekonomi Akibat Penyalahgunaan Narkoba (dalam 1.011 4.923.434 945.726.861 153.154 1.079 720.515 2.012 4.488 1.626 50.199 350.544 702.015.164 447.243.748 876.324 360. Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Bali NTB NTT Papua Irian Jaya Barat total Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba.986 617.929.823 578.709 479.853 1.696.718 397.681 1.681 186.669 1.000.282.010 3.473.396 206.536 6.351 1.010.549 231.544 230.342 56.734 593.502 46.425 401.420.679 566.335 756.543 1.019 390.083 562.813 285.058 2.530.974 255.368 110.610 190.442 1.523 312.764 269.501 385.573.672 156.220 451.682.135.981.805 502.507 5.162 2.787 4.463.151.455.417 1.532 DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kep.522 405.210.009 3.955 4.394.945 57.751.032 2.431 63.950 170.135 2.695 554.694 3.092 865.324.207 175.924 37.762 780.183 282.524 8.684 630.604 1.554 347.000 rupiah) 2.960 2.774.807 7.548.430.026 137.412.552 659.159 486.146 398.559 440.312.595 228.860 10.249.058 512.580.382 1.443 1.792.710 450.240 2.139.358 327.589.

Di bawah ini adalah mitra lokal dan LSM untuk Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN RI -Puslitkes UI : Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. 14. 7. setting lapangan. pembuatan kuesioner. Semoga kita dapat terus melanjutkan kerjasama pada kegiatan-kegiatan seterusnya. Ramola Hendri Hartati Ardha Renzulli Heru Susetyono Heksa Sari Julianti Haryono Junedi Zahid Iffahwan Basuki Iman Hadi Ferdinand P. namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar bagi mereka. 1.Halaman | 66 UCAPAN TERIMAKASIH Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 terselenggara atas prakarsa Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia telah berjalan dengan lancar. Nama Koordinator lapangan Meyke C. 16. 10. entry data dan analisis data. Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman atas dedikasinya terhadap pelaksanaan pengumpulan data di 17 lokasi survey hingga proses editing data. Pastinya masih segar ingatan akan begitu banyak teman-teman yang berpartisipasi mengikuti proses rekrutmen koordinator lapangan hingga akhirnya terpilih 17 kordinator lapangan dan dibantu oleh 170 enumerator. tahun 2008 . Semoga kita dapat melanjutkan hubungan baik untuk bekerjasama di kegiatan-kegiatan berikutnya. 9. 13. 12. Berikut nama korlap dan lokasi survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2008 BNN-Puslitkes UI: No. Siagiaan Sonny Wibisono Bayu Fajar Wirawan Rudi Zulkarnaen Hari Moertopo Nodivel Ahmad Caesar Wisnu Issantoso Lokasi Survei Manado Surabaya Bandar Lampung Pontianak Yogyakarta Palu Batam Palembang Medan Bandung Makassar Samarinda Mataram Denpasar Semarang Jakarta Papua Survei ini juga tidak mungkin dapat berjalan dengan lancar tanpa bantuan teman-teman LSM dan Mitra Lokal yang telah menyediakan waktu. 15. 8. 11. 17. tenaga dan pikiran dengan tulus untuk membantu kami terutama dalam hal menyediakan tempat basecamp. 5. 2. Kegiatan ini terlaksana salah satunya karena kerjasama semua tim yang telah terlibat mulai dari perumusan ide. 4. 3. pengumpulan data. Bahkan beberapa rekan korlap juga sangat dibantu dengan teman mitra lokal/LSM yang menenangkan responden yang merasa ‘terusik’ dengan kehadiran ‘orang asing’ bagi mereka. mengumpulkan enumerator dan memberikan informasi gambaran penyalahgunaan narkoba di lokasi survei. pelatihan. Maka kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua mitra lokal dan teman-teman LSM yang kami tidak bisa sebutkan satu persatu. try out kuesioner dan instrument penelitian. 6.

Si Yvonne Joyo Nur Suryanto Gono.Kes & Ali Chozin Syahri Suharni/ASA Asmaripa Ainy. M. tahun 2008 . SSos. Mkes Erigana. SE. Padjajaran Univ. SE Arlan Yulfar. M.Sos Meilani. Radit Dadi Suhanda. Padjajaran 9 10 11 Jateng (Semarang) DI Yogyakarta NTB 12 13 Sulsel (Makasar) Sulut (Manado) 14 15 16 17 Sulteng (Palu) Papua (Jayapura) DKI Jakarta Jabar (Bandung) Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia: Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba. Hassanudin YMM YMM Univ. Mataram Makasar Harm Reduction Community (MHaRC) Univ. Sriwijaya Saburai Support G Univ. Nasution Efrizal . M. Sumatera Utara YBTDB Dinkes Batam Dinkes Batam Yayasan Intan Maharani Yayasan Intan Maharani Univ. Aslam Anak Agung Kresna Ida Ayu Laksmi Rudhy Sinyo Eko Maryono Muhamad N Arifin Edy Herry Pryhantoro. Airlangga Yayasan Performa Univ. S. M. S. Drs.Si. Tadaluako YPPM UI (Kessos) Yayasan Rumah Cemara Univ. LSM/Yayasan Yayasan Pontianak Plus Univ. SKM. Lampung Yayasan Laras Yayasan Mata Hati Univ.Si Didik J. Tanjungpura Yayasan Medan Plus Univ.Halaman | 67 No 1 2 3 Wilayah Kalimantan Barat (Pontianak) Sumut (Medan) Kepri (Batam) 4 Sumsel (Palembang) 5 6 7 8 Bandar Lampung Kaltim (Samarinda) Bali (Denpasar) Jatim (Surabaya) Mitra Lokal Rizal/ Mia Sabran Eban Totonta Kaban. Indra K. Nugroho Ryan Stella Sophian Shanti Riskiyani Rodhi Lolong Martin Umar Junaedi Sri Nurrahma Ester Erfan. SH. Udayana East Java Actions Yayasan Bina Hati Univ. SKM. Diponegoro UGM Forum Korban Napza Univ.Kes Aji Vespa Abdul Muthalib Tahar. SSos.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful