Anda di halaman 1dari 13

Perkembangan Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa di

Indonesia
Oleh : Ir. Bambang Budiono, M.E., Ph.D*)

Abstrak

Perkembangan desain struktur beton bertulang secara signifikan dimulai sejak diterbitkannya Peraturan
Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1983 dan Buku Pedoman Perencanaan Untuk
Struktur Beton Bertulang Biasa dan Struktur Tembok Bertulang untuk Gedung 1983, dimana respon
struktur daktail telah diperhitungkan dengan resiko gempa rencana atau gempa nominal. Peraturan SNI
T–15–1991–03 merupakan langkah maju dalam perencanaan struktur beton bertulang tahan gempa
dimana mekanisme keruntuhan dan detailing sendi plastis telah diakomodasikan, meskipun pada bab
peraturan perencanaan tahan gempa masih merupakan kombinasi antar peraturan New Zealand NZS
3101-1982 dan ACI 318-1983. Dengan terbitnya peraturan SNI 03–1726–2002 dan SNI 03-2847-2002
maka desain struktur beton bertulang tahan gempa sepenuhnya telah kompatibel dengan peraturan ACI
318-99 sehingga memudahkan bagi perencana struktur untuk menggunakan perangkat lunak. Pada
umumnya peraturan SNI T–15–1991–03 lebih konservatif dibandingkan dengan SNI 03-2847-2002.
Untuk keperluan perencanaan struktur beton tahan gempa kedepan perlu diakomodasikan kriteria desain
kinerja struktur sebagai jaminan (assurance) akan perilaku struktur dari gempa nominal sampai gempa
kuat rencana.

I. Pendahuluan

Sejak diberlakukannya Peraturan Muatan Indonesia tahun 1970 N.I–18 [7],


pembebanan gempa pada struktur mulai diperhitungkan baik dalam bentuk gempa
lateral maupun gempa vertikal. Perencanaan struktur beton bertulang saat itu mengikuti
Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 N.I. – 2 [8] yang mensyaratkan kombinasi
pembebanan dengan gempa yang disebut pembebanan sementara. Pembebanan
sementara terdiri dari kombinasi antara beban beban mati, beban hidup dan beban
gempa atau beban angin. Persyaratan pembebanan dapat dianalisis dengan dua metoda
yaitu beban kerja atau beban batas. Beban batas mensyaratkan adanya peningkatan
beban dari beban kerja ke beban batas yang disebut dengan koefisien γs. Perencanaan
konstruksi beton bertulang yang didasarkan atas gaya dalam struktur diperhitungkan
atas kekuatan batas material pembentuk beton bertulang yaitu beton dan tulangan baja.
Beberapa hal yang perlu dicatat pada sistem desain struktur beton bertulang pada saat
itu adalah sebagai berikut :

i. Beban gempa belum memperhitungkan pengaruh kekakuan struktur yang


merupakan fungsi perioda alaminya.
ii. Beban belum memperhitungkan pengaruh efek tanah lunak pada
peningkatan beban gempa.
iii. Pembebanan belum memperhitungkan analisis “reliability” untuk kombinasi
pembebanan batas.
iv. Persyaratan analisis dinamis belum ada.
v. “Seismic Hazard Analysis” belum dikenal untuk menentukan besar resiko
gempa dan besar percepatan gempa.
vi. Desain struktur beton bertulang tahan gempa belum mengatur perencanaan
mekanisme keruntuhan struktur yang dikaitkan dengan mekanisme
plastisitas struktur.

*) Lektor Kepala Departemen Teknik Sipil - ITB


vii. Desain kekuatan elemen struktur didasarkan pada faktor keamanan parsial
baik dari bahan beton maupun baja dan belum didasarkan atas keamanan
penampang beton bertulang sebagai komposit.

Pada tahun 1976 melalui kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah
Selandia Baru telah menghasilkan Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia
untuk Gedung 1983 [11] dan Buku Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton
Bertulang Biasa dan Struktur Tembok Bertulang untuk Gedung 1983 [10]. Sejak
diterbitkan tahun 1983, Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia dan Buku
Pedoman Perencanaan Struktur Beton Bertulang telah mengakomodasikan kekurangan-
kekurangan pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971. Beberapa hal yang belum
dianalisis secara mendalam adalah kombinasi beban dengan analisis “reliability” yang
menghasilkan “Load Resistant Factored Design” (LRFD) dan persyaratan kekuatan
penampangnya belum menggunakan Kapasitas Reduksi Kekuatan atau parameter φ .
Desain Mekanisme Keruntuhan Struktur terhadap berbagai beban gempa mulai dari
gempa ringan, gempa sedang (moderat) dan gempa kuat telah diperhitungkan. Jenis
pembebanan gempa telah dikaitkan dengan resiko gempa, faktor kepentingan struktur,
perioda alami, daktilitas dan umur bangunan rencana. Perencanaan elemen struktur
menggunakan peraturan kombinasi antara Peraturan Beton Indonesia 1971 dan
Peraturan Selandia Baru NZS 3101 [22]. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa
Indonesia diperbaiki dengan Peraturan Tahan Gempa untuk Gedung 1987, tetapi
perubahan yang ada tidak signifikan [13].

Perubahan signifikan untuk perencanaan struktur Beton Tahan Gempa dimulai


sejak tahun 1991 dengan dikeluarkannya Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung SK. SNI T–15–1991–03 [14]. Beberapa perubahan yang penting
antara lain :

i. Peraturan kombinasi beban telah mengakomodasikan metoda “Load


Resistant Factored Design (LRFD)” dengan teori reliability.
ii. Faktor Reduksi Kekuatan (φ ) telah di implementasikan pada penampang,
baik beton bertulang maupun beton prategang.
iii. Perencanaan mengakomodasikan 3 jenis mekanisme keruntuhan yaitu: (i)
keruntuhan elastik, (ii) keruntuhan daktail terbatas dan (iii) keruntuhan
daktail penuh.
iv. Resiko Gempa diambil sebesar 60% untuk gempa ringan (frequent
earthquake) dan 20% untuk gempa kuat dengan perioda ulang gempa 200
tahun dan umur bangunan 20 tahun. Gempa ringan dipakai sebagai standar
desain gempa nominal dengan bentuk spektra gempa desain trilinear.
v. Mekanisme keruntuhan struktur telah mengikuti konsep “Strong Column
Weak Beam” atau “Beam – Sway Mechanism” yang merupakan “State of
the Art” sampai saat ini.

Pada umumnya peraturan ini mengikuti pola peraturan Amerika Serikat ACI 1983
[1] kecuali pada kombinasi beban (LRFD), dan nilai φ . Peraturan Struktur Tahan
Gempa masih merupakan suatu transisi antara peraturan New Zealand [22] dan ACI
1983 [1].
Pada tahun 2002, Peraturan Tahan Gempa untuk Gedung 1987, diperbaiki dengan
Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI 03–1726–
2002 [4]. Peraturan ini telah mengikuti pola standar UBC–1997 [16] untuk perencanaan
gaya gempa. Gaya Gempa Kuat Rencana diperhitungkan untuk perioda ulang 500
tahun, umur bangunan rencana diperhitungkan selama 50 tahun, atau ekivalen dengan
resiko terjadinya gempa sebesar 10%. Faktor reduksi gempa (R) sebagai fungsi
daktilitas struktur, telah diintroduksikan untuk merencanakan besar gaya gempa rencana
atau gempa nominal. Gempa kuat setelah dibagi dengan faktor R dipakai standar
desain gempa nominal. Bentuk spektra gempa kuat mengikuti kurva bilinier sebagai
fungsi percepatan tanah dan kurva hiperbolis sebagai fungsi respon spektra kecepatan
struktur.

Bersamaan dengan diterbitkannya SNI 03–1726–2002, Peraturan Desain Struktur


Beton 1991 diperbaiki dengan Standar Nasional Indonesia SNI 03–2847–2002 dengan
judul Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung [5].
Peraturan 2002 ini kompatibel dengan peraturan ACI 1999 [2]. Dengan demikian sangat
memudahkan bagi perencana struktur untuk menggunakan perangkat lunak untuk
membantu perencanaan struktur beton bertulang tahan gempa.

II. Desain Struktur Tahan Gempa

Struktur bangunan normal (Gedung perkantoran, bangunan sekolah, toko, dsb),


pada umumnya tidak perlu di desain untuk menahan gaya gempa kuat dengan respon
elastik tanpa mengalami kerusakan. Bila struktur berespon elastik maka diperlukan
dimensi dan kekuatan struktur yang besar dan bernilai tidak ekonomis. Dikatakan tidak
ekonomis, sebab gempa kuat yang terjadi sangatlah jarang, hanya beresiko 10% dalam
kurun waktu 500 tahun. Oleh sebab itu, pada saat gempa kuat terjadi, resiko kerusakan
tetapi tanpa keruntuhan struktur pada tingkat desain tertentu, harus dapat diterima.

Dengan konsep diatas, maka kerusakan struktur pada saat gempa kuat berlangsung
harus di desain pada tempat-tempat tertentu sehingga mudah diperbaiki setelah gempa
kuat selesai. Mekanisme keruntuhan dengan desain kerusakan harus direncanakan
sehingga struktur dapat rusak pada level desain tanpa keruntuhan. Lokasi kerusakan di
desain pada balok dan kolom dasar yang disebut dengan sendi plastis. Sendi plastis ini
harus mampu berdeformasi secara in-elastik dengan cara memindahkan energi
gempa secara baik melalui proses pembentukan sendi plastis. Proses pembentukan
ini dapat terjadi dengan baik bila plastisitas di desain melalui kelelehan tulangan
lentur atau tulangan longitudinal. Plastisitas pada tulangan lentur merupakan
perlemahan struktur, oleh sebab itu komponen struktur lainnya harus didesain lebih
kuat dari tulangan lentur pada sendi plastis. Karena sendi plastis potensial dapat
terbentuk dalam jumlah yang besar maka diharapkan mekanisme keruntuhan yang
daktail (tidak getas) dapat terbentuk dengan suatu kinerja struktur yang baik.
Mekanisme ini dikenal dengan istilah “beam-sway mechanisms” dengan konsep balok
lemah kolom kuat (strong column weak beam) [18,19,20,21] seperti yang terlihat pada
Gambar 2.1(a). Mekanisme “column-sway” seperti pada Gambar 2.1(b) harus
dihindarkan karena keruntuhan struktur akan bersifat getas (brittle).
Agar kerusakan elemen struktur dapat diperbaiki maka deformasi lateral in-
elastis struktur harus dibatasi. Faktor ini dikenal dengan istilah daktilitas struktur
dan perencanaan struktur disebut dengan “damage control” atau “limit state
design”. Perencanaan struktur dengan “limit state design” akan mengatur kemampuan
struktur untuk bertahan pada saat gempa kuat terjadi, meskipun mengalami kerusakan
pada sendi plastis. Pada lokasi sendi plastis perlu direncanakan dengan detail khusus.
Dengan demikian pada saat kerusakan struktur terjadi pada sendi plastis, struktur tidak
runtuh sehingga jumlah korban dapat ditekan seminimal mungkin.

Perencanaan strutur pada level ini disebut dengan istilah “survivalability”.


Pengaturan besar nilai deformasi sebagai fungsi daktilitas dapat dilihat pada Gambar 2.2
yang berkaitan dengan respon struktur [20].

Gempa ringan adalah gempa yang sering terjadi pada struktur (frequent
earthquake). Desain struktur tahan gempa pada kondisi “damage control”
diperhitungkan dengan percepatan gempa ringan. Dengan demikian harga struktur dapat
bernilai ekonomis. Gempa ringan ini dapat ditentukan dengan angka resiko gempa lebih
besar, yaitu sekitar 60%. Menurut SNI 03–1726–2002, nilai gempa ringan ditentukan
dari gempa kuat dibagi dengan faktor reduksi gempa R. Dibawah gempa ringan,
struktur harus dapat berespon elastik tanpa mengalami kerusakan. Untuk mengatasi
masalah ini deformasi lateral harus dibatasi sehingga respon struktur elastik dapat
memberikan kenyamanan pada pengguna gedung. Faktor utama pengaturan deformasi
ini adalah kekakuan struktur atau “stiffness” yang merupakan fungsi geometri dan
dimensi struktur. Sistem perencanaan pada kondisi ini disebut dengan istilah
“serviceability limit state”. Prinsip desain pada kondisi ini sudah merupakan prosedur
standar desain.

Gambar 2.1 (a) Beam Sway Mechanism ; (b) Column Sway Mechanisms [20]
Gambar 2.2 Respon Struktur Berdasarkan Nilai Daktilitas [20]

III. Proses Desain

Desain struktur beton bertulang menjadi ekonomis bila direncanakan mampu


menahan beban gempa ringan tanpa kerusakan. Pada saat gempa kuat terjadi, struktur
boleh rusak tetapi terkontrol tanpa keruntuhan. Mekanisme struktur diatur dengan cara
memindahkan energi gempa melalui deformasi inelastik (plastis). Baik Peraturan Beton
Bertulang Tahan Gempa SK SNI T–15–1991–03 [14] maupun SNI 03–2847–2002 [5]
telah mengadopsi sistem desain tersebut di atas.

Beberapa struktur beton bertulang misalnya balok tinggi (deep beam) dan beton
prategang tidak dapat sepenuhnya bersifat daktail penuh (full ductile) pada saat gempa
kuat berlangsung. Untuk tipe struktur ini diperbolehkan untuk berdeformasi secara
inelastik terbatas atau daktilitas terbatas (limited ductility). Hal ini dapat dilakukan
dengan meningkatkan beban gempa ringan sebesar dua kali sebagai kompensasi (trade –
off). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam “trade-off” untuk perencanaan
struktur tahan gempa dapat dilihat pada Tabel 1.

Akibat “detailing” pada sendi plastis, perencanaan daktail penuh tidak selalu lebih
ekonomis dari daktail terbatas, terutama untuk lokasi dengan besar gempa yang relatif
kecil seperti Kalimantan Timur. Pada daerah dengan gempa kecil, harga perencanaan
detail (detailing) untuk menjamin terbentuknya sendi plastis dapat menjadi lebih mahal
dibandingkan dengan perencanaan dengan cara meningkatkan beban gempa sebesar 2E
dimana nilai E relatif kecil. Perencanaan daktail penuh hanya bernilai ekonomis bila
nilai gempa kuat dominan dibandingkan pengaruh gaya vertikal.
SNI 03–2847–2002 memberikan istilah struktur daktail penuh dengan sebutan
Komponen Struktur Lentur pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK). Struktur daktail terbatas disebut dengan istilah Sistem Rangka Pemikul
Momen Menengah (SRPMM).

Tabel 1 “Trade – off” Perencanaan Struktur Tahan Gempa

No Jenis Perencanaan Besar Beban Gempa (E) Besar Detail Struktur


Daktilitas

I Daktail Penuh E*) 4,0 – 5,3 Detail berat pada


sendi plastis dan
kolom.

II Daktail Terbatas 2E 2,0 Detail ringan pada


sendi plastis dan
kolom
*) E = Gaya Gempa Ringan

3.1. Desain Geser dan Lentur Balok

Desain momen lentur balok harus menjamin bahwa daerah balok yang potensial
menjadi sendi plastis harus di detail khusus supaya dapat mendisipasikan energi gempa
kuat secara optimal seperti yang terlihat pada Gambar 3.1. Gambar 3.1 adalah
persyaratan detail khusus balok sesuai dengan SNI 03–2847–2002 untuk SRPMK.
Syarat desain balok pada saat terjadi plastisitas sesuai dengan SNI 03–2847–2002
antar lain sebagai berikut :

i. Tidak boleh terjadi keruntuhan geser.


ii. Untuk menjamin persyaratan (i) maka apabila gaya geser akibat gempa
melebihi 0,5 kali gaya geser total akibat gempa dan beban vertikal, maka
kontribusi kekuatan beton terhadap gaya geser diabaikan.
iii. Daerah sendi plastis harus cukup dikekang dengan sengkang (hoops).

Persyaratan SK SNI T–15–1991–03 lebih berat dari SNI 03–2847–2002 karena


ada tambahan persyaratan yaitu :

i. Tidak boleh terjadi sliding shear


ii. Tidak boleh terjadi tekuk (buckling) pada tulangan longiludinal balok di
daerah sendi plastis.
iii. Kontribusi kuat geser beton diabaikan di daerah sendi plastis untuk segala
kondisi gaya geser.
Gambar 3.1 Detailing Balok SRPMK SNI 03–2847–2002 atau ACI 318-99

Dari perbandingan kekuatan geser, peraturan SK SNI T–15–1991–03 dapat


menghasilkan besar tulangan sengkang dengan variasi antar 30% sampai 60% lebih
boros dibandingkan dengan peraturan SNI 03–2847–2002.

Hal khusus yang belum diakomodasikan oleh kedua peraturan diatas adalah
kemungkinan terjadinya empat sendi plastis pada balok. Hal ini dapat terjadi bila
bentang bersih balok relatif besar (L ≥ 8,0 m) dimana gaya gravitasi (beban vertikal)
lebih mendominasi respon struktur dibandingkan dibandingkan dengan gaya gempa.
Penambahan jumlah sendi plastis akan menambah putaran sudut plastis balok yang
menyebabkan bentang balok memanjang. Penambahan panjang bentang balok akan
menambah “in-stability” struktur akibat efek sekunder dari bentuk geometri struktur
seperti yang terlihat pada Gambar 3.2 [20]. Desain harus direkayasa sehingga
maksimum dua sendi plastis yang terbentuk pada satu bentang balok, masing-masing
terbentuk pada muka kolom kiri dan kolom kanan balok. Rekayasa dilakukan dengan
cara memperkuat lokasi sendi plastis ditengah bentang sehingga sendi plastis tersebut
tidak terjadi.

3.2. Desain Kolom

Desain kolom terbagi dua katagori yaitu :


a. Kolom dasar yang harus di desain plastis.
b. Kolom di atas kolom dasar yang didesain lebih kuat dari balok.
Gambar 3.2 Mekanisme 2 dan 4 Sendi Plastis pada Balok

Kolom dasar harus mampu berfungsi sebagai sendi plastis pada saat gempa kuat
berlangsung. Struktur akan bersifat getas bila kolom dasar tidak dapat menjadi sendi
plastis. Konsekwensi dari perencanaan struktur daktail penuh ini mengakibatkan kolom
dasar harus dikekang penuh dan tidak boleh runtuh akibat gaya geser. Pembatasan
jumlah tulangan dan persyaratan sambungan kolom dasar ditengah kolom (bukan diatas
“Pile – Cap” fundasi) adalah untuk memenuhi persyaratan plastisitas pada kolom dasar.
Diatas kolom dasar, semua kolom harus di desain lebih kuat daripada sendi plastis balok
di muka kolom, termasuk persyaratan kekangan diseluruh kolom.
Peraturan SK SNI T–15–1991– 03 [14] mensyaratkan adanya faktor ω , yaitu
faktor pembesaran dinamis. Faktor ω diakibatkan oleh bergesernya bidang momen
kolom menjadi lebih besar akibat redistribusi momen. Redistribusi momen disebabkan
oleh plastisitas balok. Konsep ini mengikuti peraturan Selandia Baru NZS 3101–1991
[22]. Faktor ω ini dihapuskan pada peraturan SNI 03–2847–2002, karena peraturan ini
lebih condong pada peraturan ACI 1999 [2] yang menganggap faktor ω sudah
termasuk didalam faktor kuat lebih (overstrength factor) pada kolom. Kuat lentur dan
kuat geser kolom, menurut SK SNI 1991 kurang lebih 11% lebih tinggi dibandingkan
kuat lentur kolom menurut SNI 03–2847–2002.
Perbedaan yang cukup mendasar diantara kedua peraturan adalah perencanaan
kuat lentur, geser dan kuat tekan kolom. Menurut standar SK-SNI 1991 kuat lentur,
geser dan kuat tekan kolom mempunyai batas maksimum. Batas maksimum ini
didasarkan atas konsep gaya-gaya dalam komponen struktur daktail (plastis) tidak dapat
melampaui gaya-gaya dalam pada saat struktur didesain secara elastis pada saat gempa
kuat terjadi. Hal ini tidak diakomodasikan lagi pada standar SNI 03–2847–2002.

3.3. Desain Join (Pertemuan Balok dan Kolom)

Pada saat terjadi sendi plastis pada balok, join mengalami transfer gaya geser
yang besar. Gaya geser ini ditransfer melalui mekanisme gaya strat diagonal pada join.
Strat diagonal menurut peraturan SK SNI 1991 ditahan oleh beton dan tulangan geser
vertikal dan horisontal. Tulangan geser vertikal dapat dipikul oleh tulangan longitudinal
kolom dengan catatan bahwa minimum terdapat satu tulangan longitudinal
“intermediate” pada kolom. Kontribusi beton dapat berfungsi bila terdapat minimum
gaya aksial tekan sebesar 10% dari kuat tekan nominal kolom. Bila syarat ini tidak
dipenuhi maka kontribusi beton pada join dianggap sama dengan nol. Dengan demikian
seluruh gaya geser join harus dipikul oleh tulangan geser. Hal ini menyebabkan
tulangan geser pada join menjadi sangat konservatif sehingga menyebabkan “steel
congestion” pada join. Bila gaya aksial tekan bertambah maka kontribusi beton dalam
menahan gaya geser bertambah besar. Gaya geser yang terjadi pada join dibatasi dengan
kekuatan diagonal tekan balok yang tidak menimbulkan remuk (crushing) pada beton.
Bila hal ini terjadi maka dimensi join harus diperbesar.
SNI 03–2847–2002 mempunyai pendekatan yang berbeda untuk respon pada join.
Apabila tidak terjadi “crushing” beton pada join maka tulangan horisontal dan vertikal
pada join tidak dibutuhkan. Pengaruh gaya aksial tekan diabaikan. Syarat tulangan pada
join cukup diberikan oleh pengekangan yang besarnya sama dengan pengekangan
kolom. Batas “crushing” pada beton dapat meningkat bila terdapat tiga atau lebih balok
yang menyatu dengan kolom melalui join. Hal ini dapat menambah kekuatan kekangan
join yang mengurangi besarnya tulangan kekangan (hoops) pada join. Kondisi ini tidak
diperhatikan pada SK SNI 1991. Perbandingan kekuatan antara SNI 1991 dan 2002
berkisar antara 1,2 sampai dengan 2,0.

3.4. Dinding Geser

Untuk memperkuat dan memperkaku struktur tahan gempa pada umumnya


digunakan dinding geser, terutama pada bangunan tinggi. Dinding geser adalah energi
disipator yang efektif dimana disipasi energi gempa kuat dilakukan melalui sendi plastis
yang terbentuk pada dasar dinding geser. Selama gempa kuat terjadi panel dinding geser
tidak boleh runtuh akibat gaya geser. Untuk desain kuat geser panel, SK SNI 1991
mengakomodasikan peningkatan gaya geser akibat momen plastis (overstrength) pada
dinding geser. Peningkatan gaya geser ini pada SNI 2002 diakomodasikan dalam nilai
φ yang lebih kecil (φ = 0,55). Μ eskipun demikian, tulangan geser horisontal dan
vertikal panel dinding geser baik SK SNI 1991 maupun SNI 2002 pada umumnya dapat
diakomodasikan melalui tulangan minimum. Hal ini disebabkan oleh kekuatan geser
panel yang besar meskipun tulangannya minimum. Dengan demikian kuat geser panel
dinding geser untuk kedua peraturan memberikan nilai yang hampir sama.

3.5. Rangkuman Perbandingan Kekuatan Elemen Struktur

Rangkuman perbandingan kekuatan antara SNI 1991 dan SNI 2002 untuk struktur
beton bertulang tahan gempa seperti yang tercantum pada Tabel 2 sebagai berikut :
Tabel 2 Perbandingan Kekuatan antara SNI 1991 dan SNI 2002

Komponen Struktur SNI 1991/SNI 2002

Desain Geser Balok 1,3 – 1,6


Desain Lentur dan Geser Kolom 1,1
Desain join 1,2 – 2,0
Desain Lentur Dinding Geser 1,1
Desain Geser Dinding Geser 1,0

IV. Desain Kinerja Struktur Tahan Gempa (Performance Based Design)

Setelah struktur beton bertulang tahan gempa didesain sesuai dengan SNI 03–
2847–2002 dengan tingkat daktilitas tertentu, maka perlu diperiksa dengan analisis
pushover untuk verifikasi desain. Analisis pushover adalah analisis lateral statik non
linier dimana struktur dibebani oleh gaya lateral (untuk merepresentasikan gaya gempa)
dengan distribusi sesuai dengan asumsi design, sampai struktur runtuh akibat gaya
lateral tersebut. Beban lateral diberikan secara bertahap (incremental) sehingga proses
urutan sendi plastis pada struktur dapat terbentuk secara bertahap pula. Urutan
terjadinya sendi plastis merupakan verifikasi dalam desain. Pada umumnya sendi plastis
pada balok terbentuk terlebih dahulu dan urutan terakhir adalah sendi plastis pada
kolom dasar, sehingga daktilitas maksimum struktur tercapai. Bila ternyata perilaku
struktur tidak seperti yang diharapkan pada desain maka desain struktur harus diulang
sedemikian rupa sehingga terjadi proses iterasi pada desain sampai iterasi konvergen.
Hasil akhir dari analisis pushover adalah berupa plot antara Gaya Geser Dasar (Base
Shear) dan deformasi atap struktur (Xroof).
Pada peraturan SNI 03–1726–2002 besaran yang harus diverifikasi antara lain:
(i) daktilitas struktur (µ ); ( ii) Faktor Reduksi Gempa (R); (iii) Faktor kuat lebih f1,
f2,Ω. Faktor f1, f2,Ω diperlukan untuk mendesain fundasi agar fundasi harus tetap
berperilaku elastik selama sendi plastis terbentuk pada kolom dasar.
Parameter yang diperiksa sesuai dengan ketentuan SNI 03–1726–2002 adalah
parameter pada saat struktur pada kondisi tepat sebelum runtuh. Kondisi ini tidak selalu
berhubungan dengan gempa kuat rencana. Pada saat gempa kuat rencana terjadi,
struktur dapat mengalami baik kondisi “under predict” atau “over predict”. “Under
predict” berarti struktur sudah runtuh pada saat gempa kuat rencana terjadi karena
masalah “under design”, sedangkan “over predict” terjadi sebaliknya yaitu struktur
“over design”. Untuk mengetahui parameter struktur dengan mekanisme pembentukan
sendi plastis pada saat terjadinya gempa kuat rencana, perlu dikembangkan metoda
Desain Kinerja Struktur [3,18] yang merupakan “state-of-the-art”.
Desain Kinerja Struktur adalah proses kontrol desain untuk mengetahui kinerja
struktur pada saat gempa kuat rencana terjadi dimana struktur tidak boleh mengalami
“under design”. ATC-40 [3] dan NEHRP [18] membagi kinerja struktur dalam beberapa
kategori sesuai dengan parameter rasio antara deformasi atap struktur terhadap tinggi
total struktur pada titik “performance point”. “Performance Point” adalah titik potong
antara “Demand Spectrum” sebagai representasi dari spektum gempa kuat dan
“Capacity Spectrum” sebagai representasi dari perilaku kekakuan dan kekuatan struktur
atau disebut dengan istilah kurva kapasitas (Capacity Curve) [3,18], seperti yang terlihat
pada Gambar 4.1. “Capacity Curve” dihitung berdasarkan hasil dari analisis pushover
yang dimodifikasi dari sistem “Multi Degree od Freedom System” menjadi “Single
Degree of Freedom System”. Baik ATC-40 [3] dan NEHRP [18] membagi kinerja
struktur seperti Table 2 dan Gambar 4.2. Dengan mengetahui kinerja struktur maka
proses iterasi menuju desain yang ekonomis dapat dilakukan sampai konvergen.

Gambar 4.1 Performance Point [3]

Gambar 4.2 Klasifikasi Kinerja Struktur Daktail [3]

Tabel 2 Deformation Limit - ATC 40 [3]


Performance Level
Interstorey Drift Limit Immediate Damage Control Life Safety Structural Stability
Occupancy (Collapse Prevention
(elastis) Stage)
Max. Total drift 0,01 0,01 – 0,02 0,02 Vi
0,33 *)
Pi
Max. Inelastic drift 0,005 0,005 – 0,015 no limit no limit

*) Vi = Lateral Load (Storey Shear) ; Pi = Ultimate Axial Load


V. Kesimpulan

1. Perkembangan struktur beton bertulang tahan gempa secara


komprehensif dimulai sejak tahun 1983 dengan diterbitkannya Peraturan
Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1983 dan Buku
Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa dan
Struktur Tembok Bertulang untuk Gedung 1983.
2. Peraturan desain struktur beton bertulang tahan gempa SK SNI T–
15–1991–03, mengkombinasikan peraturan NZS 3101-1982 dengan
ACI-1983.
3. Pengembangan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia dengan
spektrum gempa kuat yang kompatibel dengan UBC diakomodasikan
dalam Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan
Gedung SNI 03–1726–2002.
4. Peraturan desain struktur beton bertulang tahan gempa sesuai dengan
SNI 03–1726–2002 diakomodasikan dalam standar SNI 03–2847–2002
yang kompatibel dengan peraturan ACI 318M-99.
5. Pada perencanaan komponen struktur tahan gempa peraturan SK SNI
T–15–1991–03 lebih konservatif dibandingkan dengan SNI 03–2847–
2002.
6. Baik standar SK SNI T–15–1991–03 maupun SNI 03–2847–2002
belum mengakomodasikan persyaratan desain kinerja struktur yang
merupakan “state-of-the-art”.

VI. Penutup

Penulis dengan ini menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada


Prof.Dr.Ir. Wiratman Wangsadinata dan Prof.Dr.Ir. Ridwan Suhud, DEA, atas jasa-jasa
beliau berdua didalam mengisi perkembangan struktur beton bertulang di Indonesia.
Sejak diterbitkannya Peraturan Muatan Indonesia 1970, Peraturan Perencanaan Tahan
Gempa Indonesia untuk Gedung 1983, Buku Pedoman Perencanaan untuk Struktur
Beton Bertulang Biasa dan Struktur Tembok Bertulang untuk Gedung 1983, Pedoman
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SKBI – 1.3.53. 1987, SK
SNI T–15–1991–03, SNI 03–1726–2002 maupun SNI 03–2847–2002, peranan
Prof.Dr.Ir. Wiratman Wangsadinata dan Prof.Dr.Ir. Ridwan Suhud, DEA, sangat besar
baik sebagai ketua, koordinator maupun narasumber. Untuk itu, tulisan ini dibuat untuk
menyatakan rasa terima kasih dan penghargaan penulis kepada beliau berdua, baik
sebagai pakar konstruksi beton maupun sebagai guru kami, semoga Allah SWT
membalas kebaikan amal ibadah beliau beliau berdua, amien.

VII. Referensi

1. ACI Committee 318, “Building Code Requirements for Reinforced Concrete (ACI
318M-83)”, 1984.
2. ACI Committee 318, “Building Code Requirements for structural concrete (ACI
318-99) and Commentary (ACI 318RM-99)”.
3. Applied Technology Council-40,”Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete
Buildings, Volume 1”, California Seismic Safety Commission, 1996.
4. Badan Standarisasi Nasional,” Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk
Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002”.
5. Badan Standarisasi Nasional,” Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung, SNI 03-2847-2002”.
6. Beca Carter Hollings & Ferner Ltd and The Indonesian Counterpart Team,”
Indonesian Earthquake Study Volume 4, Lateral Loadings for Earthquake
Resistant Design of Building & Construction in Indonesia”, 1980.
7. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Ditjen Cipta Karya, Direktorat
Masalah Bangunan, “Peraturan Muatan Indonesia 1970 N.I-18”, 1978.
8. Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Ditjen Cipta Karya, Direktorat
Masalah Bangunan,”Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, N.I-2”, April
1979.
9. Departemen Pekerjaan Umum, Ditjen Cipta Karya, Direktorat Masalah
Bangunan,”Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung”, 1983.
10. Departemen Pekerjaan Umum, Ditjen Cipta Karya, Direktorat Masalah
Bangunan,” Buku Pedoman Perencanaan Untuk Struktur Beton Bertulang Biasa
dan Struktur Tembok Bertulang untuk Gedung 1983’, 1983.
11. Departemen Pekerjaan Umum, Ditjen Cipta Karya, Direktorat Masalah
Bangunan,”Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1983”.
12. Departemen Pekerjaan Umum,”Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah
dan Gedung”, SKBI-1.3.53.1987, UDC:624.042, 1987”.
13. Departemen Pekerjaan Umum,”Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk
Rumah dan Gedung”, SKBI-1.3.53.1987, UDC:699.841,1987”.
14. Departemen Pekerjaan Umum,”Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung SK.SNI T-15-1991.03”, Yayasan LPMB, Bandung, 1991.
15. Farzad Naeim,”The Seismic Design Handbook”, Van Nostrand Reinhold, New
York, 1989.
16. International Conference of Building Officials,”Uniform Building Code”, Volume
2, 1997.
17. International Code Council, Inc.,”International Building Code”, 2000.
18. NEHRP-FEMA Publication 273,” NEHRP Guidelines for The Seismic
Rehabilitation of Buildings”, 1997.
19. Park,R., Paulay,T.,”Reinforced Concrete Structures”, John Wiley& Sons,Inc.,
1975.
20. Paulay,T.,Priestley,M.J.N.,”Seismic Design of Reinforced Concrete and Masonry
Buildings”, John Wiley & Sons, Inc., 1991.
21. Paulay,T.,”Simplicity and Confidence in Seismic Design”, John Wiley &
Sons,Inc., 1993.
22. Standard Association of New Zealand,” Code of Practice for The Design of
Concrete Structures”, NZS 3101, 1982.