Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FORMULASI SEDIAAN SETENGAH PADAT DAN CAIR

SUSPENSI

Dibuat oleh :

KELOMPOK C-1.3
Anita Widiyanti (2009210017) Annisa Ary Helmi (2009210018) Arif Rahmandani (20092100 Bianca S.B. Cheung (2009210028) Daisy Natalia (2009210036)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA MARET 2011

SUSPENSI
I. Tujuan
1. Mengenal dan memahami cara pembuatan dan komposisi bahan dalam sediaan suspensi. 2. mengamati pengaruh bahan pembasah dan pensuspensi terhadap karakteristik fisik suspensi.

II. Teori Dasar


Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu : 1. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral. 2. Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit. 3. Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata. 4. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar. 5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal. 6. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah : 1. Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya. 2. Kekentalan / Viskositas Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). 3. Jumlah Partikel / Konsentrasi Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. 4. Sifat / Muatan Partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid). Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu : 1. Bahan pensuspensi dari alam.

Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, dan proses fermentasi bakteri. a. Termasuk golongan gom : Contonya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin b. Golongan bukan gom : Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum. 2. Bahan pensuspensi sintesis a. Derivat Selulosa Contohnya : Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa. b.Golongan organk polimer Contohnya : Carbaphol 934. Sifat yang diinginkan dalam sediaan farmasi ialah: 1. Suatu suspensi dikatakan dibuat dengan tepat apabila mengendap secara lambat dan harus rata lagi bila dikocok 2. Karakteristik suspensi harus demikian agar ukuran partikel dari suspensi tetap agak konstan dan waktu simpan lebih lama. 3. Suspensi harus dapat dituang dari wadah dengan cepat dan homogen. Adapun syarat-syarat suspensi yang baik yaitu: 1. Pengendapan perlahan-lahan atau lambat dan apabila dikocok homogen atau akan homogen kembali. 2. Mempunyai ukuran partikel yang konstan denagn jangka waktu yang lama agar pada penyimpanan tidak cepat rusak 3. mudah dituang.

III. Data Praformulasi


A. Bahan Aktif : Asam mefenamat (FI IV hal. 43) Rumus molekul : C15H15NO2 BM : 241,285 Pemerian : serbuk hablur, putih atau hampir putih, melebur pada suhu lebih kurang 230o disertai peruraian. Kelarutan : larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar larut dalam kloroform, sukar larut dalam etanol dan dalan methanol, praktis tidak larut dalam air. Kegunaan : analgesic, antipiretik Dosis : dosis awal : 500 mg, selanjutnya 250mg per 6 jam (Martindale hal. 67) OTT : Tidak bercampur dengan Sullphyrazone Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya. B. Eksipien 1. Bahan pembasah : Propilen glikol (0%; 1,5% ; 3%) (FI IV hal. 712) Rumus molekul : C3H8O2 BM : 76,09 Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kegunaan : wetting agent (Excipient hal. 592) Kelarutan : dapat bercampur dengan air, tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. OTT : tidak bercampur dengan reagen pengoksidasi seperti kalium permanganate. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. 2. Bahan pensuspensi : PGA (20%) (Excipient hal. 1) Pemerian : tidak berbau (FI IV hal. 423) Kegunaan : suspending agent OTT : tidak bercampur dengan amidopirin, apomorfin, kresol, etanol 95%, garam ferri, morfin, fenol, figostamin, tannin, timol, vanillin. enzim oksidasi menyebabkan terjadinya degradasi enzimatik, dapat dicegah dengan penambahan pengawet seperti Natrium Benzoat 0,1%, dan pemanasan sebentar. Kelarutan : larut hampir semua dalam air tetapi agak lambat, praktis tidak larut dalam etanol, memberikan cairan seperti mucilago Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Konsentrasi : 5-10% (untuk suspending agent)

3. Bahan pembawa : aquades ( FI IV hal. 1125) Rumus molekul : H2O Pemerian : cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa. 4. Bahan pengawet : Natrium Benzoat (Excipient hal. 662, FI IV hal. 584) Rumus molekul : C7H5NaO2 BM : 144,11 Dosis : 0,02 0,5 % untuk oral Pemerian : granul putih atau Kristal, agak higroskopis, agak berbau benzoin, rasa manis dan asin yang kurang enak. OTT : tidak bercampur dengan senyawa kuartener, gelatin, garam feri, garam kalsium, garam logam berat yang mengandung perak, grafit, merkuri. Aktivitas pengawet dapat dikurangi dengan interaksi terhadap kaolin atau surfaktan anionic. Kegunaan : bahan pengawet Stabilitas : dapat disterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi. Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, sejuk, kering. Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih mudah larut dalam etanol 90% 5. Bahan perasa : Essence orange (Martindale hal. 1724) Pemerian : cairan jernih berwarna jingga Kelarutan : mudah larut dalam alcohol Dosis : kurang dari 1% Kegunaan : flavouring agent Penyimpanan : dalam wadah tertutup dan tempat yang sejuk dan kering dan terhindar dari cahaya matahari. 6. Bahan pewarna : Sunset yellow (Martindale hal. 1058) Pemerian : serbuk berwarna kuning Kelarutan : mudah larut dalam gliserin dan air, mudah larut dalam propilen glikol 50% Kegunaan : pewarna OTT : tidak bercampur dengan asam askorbat, gelatin, glukosa Penyimpanan : dalam wadah tertutup dan tempat yang sejuk dan kering.

IV. Alat dan bahan

Alat : y Lumpang y Stampler

y y y y y y y

Batang pengaduk Spatula Viscometer Brookfield Tabung sedimentasi Homogenizer Botol Beaker glass

Bahan : y y y y y y Asam mefenamat Propilen glikol Aquades Natrium benzoate Essence orange Sunset yellow

V. Formula
Bahan Asam mefenamat Propilen glikol PGA Natrium benzoat Essence Orange Sunset Yellow Air Formula 1 150mg/5ml 0% 20% 0,1 % 0,125 % 0,025 % Ad 400 ml Formula 2 150mg/5ml 1,5 % 20% 0,1 % 0,125 % 0,025 % Ad 400ml Formula 3 150mg/5ml 3% 20% 0,1 % 0,125 % 0,025 % Ad 400 ml

VI. Perhitungan dan Penimbangan


Formula 1 Asam mefenamat PGA air untuk PGA Natrium benzoate Essence orange Sunset Yellow Air Formula 2 = 150mg/5ml x 400 ml = 12 g = 20% x 400 ml = 80 g = 3/2 X 80 g = 120 ml = 0,1% x 400 ml = 0,4 g = 0,125% X 400 ml = 0,5 ml = 10 tetes = 0,025%X 400 ml = 0,1 g = 400 (12+80+0,4+0,5+0,1+120) = 187 ml

Asam mefenamat Propilen glikol PGA air untuk PGA Natrium benzoate Essence orange Sunset yellow Air

= 150/5 x 400 ml = 12 g = 1,5% x 400 ml = 6 g = 20% x 400 ml = 80 g = 3/2 X 80 g = 120 ml = 0,1% x 400 ml = 0,4 g = 0,5 ml = 10 tetes = 0,125% X 400 ml = 0,025%X 400 ml = 0,1 g = 400 (12+6+80+0,4+0,5+0,1+120) = 181 ml

Formula 3 Asam mefenamat Propilen glikol PGA air untuk PGA Natrium benzoate Essence orange Sunset yellow Air = 150/5 x 400 ml = 12 g = 3% x 400 ml = 12 g = 20% x 400 ml = 80 g = 3/2 X 80 g = 120 ml = 0,1% x 400 ml = 0,4 g = 0,125% X 400 ml = 0,5 ml = 10 tetes = 0,025%X 400 ml = 0,1 g = 400 (12+12+80+0,4+0,5+0,1+120) = 175 ml

VII. Pembuatan
1. Kembangkan PGA di dalam mortir : PGA ditambah dengan air 1,5 kali beratnya, gerus hingga terbentuk mucilago. 2. Asam mefenamat ditimbang, kemudian digerus halus dalam mortir lain. 3. Masukkan propilenglikol. 4. Tambahkan PGA yang telah dikembangkan ke dalam asam mefenamat, aduk homogen. 5. Tambahkan Natirum benzoate, sunset yellow, dan essence orange. 6. Tambahkan air hingga 400 ml. 7. Masukkan dalam botol 60 ml. 8. Beri etiket dan kemas, serahkan 9. Lakukan evaluasi menggunakan sisa suspensi. (volume sedimentasi, dan viskositas dan sifat alir)

VIII. Evaluasi dan Pembahasan


1. Evaluasi volume sedimentasi F = Kestrabilan emulsi (semakin mendekati 1, semakin baik) Hv = Tinggi Sedimentasi sesudah waktu tertentu

Ho = Tinggi Sediaan awal

V = Hv/Ho

Pengamatan 10 menit

20 menit

30 menit

60 menit

1 hari

2 hari

3 hari

4 hari

5 hari

Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V Ho Hv V

Formula 1 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 24,8 0,992 25 24,5 0.98 25 24 0.96

Formula 2 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 24,8 0.992 25 24 0.96

Formula 3 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 25 1 25 24,8 0,992 25 24 0.96

*hari ke 3 dan 4 tidak dilakukan pengamatan karena libur. 2. Evaluasi viskositas dan sifat alir Alat Kv RPM Viskositas Formula 1 : Viskometer Stormer : 20,24 dyne/cm = 60/t x putaran = Kv x Beban/RPM

Beban 50 70 90 110 130

Putaran 50 50 50 50 50

Waktu 23.5 14.4 10.4 8.7 7.8

RPM 127,656 208,333 288,4615 344,8276 384,6154

Viskositas

Formuula 2 Beban 50 70 90 110 130 Putaran 50 50 50 50 50 Waktu 18.8 12.5 9.0 8.0 7.0 RPM 159,5745 240 333,333 375 428,5714 Viskositas

Formula 3 Beban 50 70 90 Putaran 50 50 50 Waktu 31.8 20.6 15.2 RPM 94,3396 145,6311 197,3684 Viskositas

110 130

50 50

12.2 10.3

245,9016 291,2621

Pembahasan 1. Zat aktif yang digunakan adalah asam mefenamat. Asam mefenamat memiliki sifat hidrofob, oleh karena sifatnya yang praktis tidak larut dalam air, asam mefenamat dibuat dalam bentuk suspensi. 2. Sebelum didispersikan asam mefenamat di gerus terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran partikel, agar mudah dibasahi oleh propilen glikol yang berfungsi sebagai pembasah. 3. Propilen glikol digunakan sebagai pembasah agar Asam mefenamat mudah terbasahi dan juga berfungsi untuk meningkatkan kestabilan suspensi. 4. PGA / Pulvis Gummi Arabicum digunakan sebagai suspending agent dimaksudkan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif dalam air sehingga dapat terdispersi dalam air dengan pengocokan. 5. Pulvis Gummi Arabicum dalam formula berkonsentrai sebesar 20%. Sementara dalam pustaka, konsentrasi PGA sebagai suspending agent adalah 5-10%. Semakiin besar konsentrasi PGA, seharusnya sediaan yang di hasilkan akan semakin kental. Namun kenyataannya, sediaan yang dihasilkan sangat encer. Hal ini mungkin di sebabkan oleh cara pembuatan yang kurang baik. Atau dapat pula disebabkan oleh grade dari PGA yang teredapat pada laboratorium adalah grade low, sehingga kekentalannya rendah. 6. Digunakan Essence orange sebagai pewangi untuk menutupi bau asam mefenamat yang kurang enak. Dan juga pewarna Sunset Yellow untuk menambah estetika dari sediaan. 7. Dalam pustaka, asam mefenamat tidak baik untuk anak umur di bawah 14 tahun dan pada ibu hamil. Hal ini di sebabkan karena asam mefenamat memberikan efek toksik. Sehingga sediaan ini dibuat untuk dikonsumsi oleh orang dewasam terutama yang lanjut usia. Selain itu, pemakaian tidak di anjurkan lebih dari 7 hari. 8. Konsep volume sedimentasi adalah sederhana. Konsep tersebut mempertimbangkan rasio tinggi akhir dari endapan (Vu) terhadap tinggi awal dari suspensi keseluruhan (Vo) pada waktu suspensi mengendap dalam suatu silinder di bawah kondisi standar. Semakin nilai fraksi (F) mendekati 1, maka semakin baik suspensinya.

9. Natrium benzoat digunakan sebagai pengawet yang berfungsi untuk meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah terjadinya kontaminasi mikroorganisme. Sebab pada sediaan ini salah satu komponennya adalah air yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme 10. Berdasarkan hasil evaluasi mengenai kestabilan, formula 2 dan 3 lebih stabil dari pada formula 1. Hal ini dikarenakan Formula 2 dan 3 digunakan pembasah yaitu propilen glikol. 11. Sediaan suspensi hasil pembuatan agak encer, sehingga tidak terbaca oleh viskometer brookfield. Oleh karena itu, untuk mengukur viskositasnya digunakan viskometer stormer. 12. Sifat alir yang baik untuk suspensi adalah aliran non newton tiksotropik yang mana bila di kocok akan dapat menurunkan viskositas, sehingga suspensi dapat dituang dengan mudah. Pada saat pendiaman, viskositas akan naik sehingga dapat menjamin kestabilan suspensi tersebut. 13. Berdasarkan pustaka, sifat alir dari Pulvis Gummi Arabicum adalah

IX. Kemasan X. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan Dari uji volume sedimentasi, diperoleh kesimpulan bahwa, kecepatan mengendap tiap formula berbeda-beda. Formula 1 mengendap lebih cepat jika di bandingkan dengan formula lainnya. Sehingga, pembasah mempengaruhi kecepatan mengendap suspensi. Dari hasil uji viskositas, di peroleh data bahwa viskositas suspensi yang menggunakan pembasah paling banyak lebih kental, sehingga pembasah mempengaruhi kekentalan suspensi. Saran Untuk mendapatkan suspensi yang baik, sebaiknya ditambahkan pembasah dengan konsentrasi yang sesuai. Sebelum dikonsumsi, seharusnya dilakukan pengocokan, agar terdispersi merata.

XI. Daftar Pustaka


1. 2. 3. 4. Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta. Departemen Kesehatan RI, 1999, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Jakarta. Diktat Praktikum Formulasi Sediaan Setengah Padat dan Cair, 2006, Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta. Howard, Ansel C, 1982, Pengatur Bentuk Sediaan Farmasi, Jakarta.

5. 6. 7. 8. 9.

Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Jakarta. American Hospital Formulary Services Drug Information, 1998. Kibbe, Orthur H, 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Edisi 6th. Penerbit : Pharmaceutical Press, USA. Lachman, L dan Leibermann A, 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III, Jakarta : Universitas Indonesia. Martindale 28, 1982. London : The Pharmaceutical Press.