Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA DAN SEMISOLIDA

PASTA

Disusun Oleh :
Anjar Rina Rahayu (142210101071)
Dwi Ayu Yuniarsih (142210101083)
Ainur Ramadhan (142210101084)
Indah Setyowati (122210101089)
Rizqi Fauzia (122210101091)
Huuril Maula Ahdy (122210101103)

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat memahami formulasi dan langkah-langkah pembuatan pasta gigi
serta evaluasinya
Mahasiswa dapat membuat pasta gigi dengan baik dan benar
1.2.Dasar Teori
Pasta adalah sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang
ditujukan untuk pemakaian topical. Pasta gigi digunakan untuk perlekatan pada selaput
lendir untuk memperoleh efek lokal (FI IV, 1995).
Pasta gigi adalah pasta atau gel yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan
gigi dan mulut dengan cara mengangkat plak dan sisa makanan, termasuk menghilangkan
dan mengurangi bau mulut. Pasta gigi juga membantu memperkuat struktur gigi dengan
kandungan flournya (Pratiwi, 2007). Pasta gigi merupakan bahan pembantu sikat gigi
dalam menghambat pertumbuhan plak secara kimiawi (Putra, 2002).
Pasta gigi dipakai untuk membantu membersihkan dan memoles gigi. Bahan untuk
membersihkan gigi tersedia dalam bentuk pasta, bubuk, dan gel. Pasta gigi merupakan
bahan yang berfungsi sebagai media bagi zat aktif penghilang bakteri dan plak (anti plak)
untuk dapat diaplikasikan pada permukaan gigi. Pasta gigi biasa digunakan saat menyikat
gigi dengan menggunakan sikat gigi. Penggunaan pasta gigi bersama sikat gigi melalui
penyikatan gigi adalah salah satu cara yang paling banyak digunakan oleh masyarakat saat
ini dengan tujuan untuk meningkatkan kebersihan rongga mulut. Penambahan zat aktif
pada pasta gigi yang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut bukan hanya bertujuan
sebagai program pencegahan kerusakan gigi pada orang dewasa, melainkan juga dapat
mencegah kerusakan gigi sedini mungkin pada anak (Riyanti et al, 2010).
Fungsi utama pasta gigi adalah untuk membersihkan gigi yang dianggap sebagai
manfaat kosmetik. Pasta gigi yang digunakan saat menyikat gigi berfungsi untuk
mengurangi pembentukan plak, memperkuat gigi terhadap karies, dan memoles
permukaan gigi, menghilangkan atau mengurangi bau mulut, memberikan rasa segar pada
mulut serta memelihara kesehatan gingiva (Sasmita et al, 2007).
Pasta gigi mengandung campuran bahan penggosok, bahan pembersih, bahan
tambahan, berbentuk semipadat yang digunakan untuk membantu membersihkan tanpa
merusak gigi dan jaringan mukosa mulut (Putra, 2002).
Secara umum, kandungan pasta gigi adalah sebagai berikut:
a. Bahan abrasif, merupakan bahan utama pasta gigi, menyusun 30-40% kandungan
pasta gigi. Bahan abrasif berfungsi untuk membersihkan dan memoles permukaan
gigi tanpa merusak email, mempertahankan kekebalan partikel, mencegah akumulasi
stain. Bahan yang sering digunakan antara lain natrium bikarbonat, kalsium
bikarbonat, dan kalium sulfat.
b. Bahan pelembab, berfungsi sebagai pencegah penguapan air dan mempertahankan
kelembaban pasta. Bahan yang sering digunakan antaralain gliserin, sorbitol dan air.
Bahan pelembab ini menyusun 10-30% kandungan pasta gigi.
c. Bahan perekat (binder), berfungsi sebagai pengikat semua bahan dan membantu
memberi tekstur pada pasta gigi. Bahan yang sering digunakan antaralain CMC Na,
xanthan gum, carbomer. Bahan perekat ini menyusun 1-2% kandungan pasta gigi.
d. Surfaktan, berfungsi sebagai penurun tegangan permukaan dan melonggarkan ikatan
debris dengan gigi yang akan membantu gerakan pembersihan sikat gigi serta
membantu mengikat dan mengangkat lapisan lemak sisa makanan pada permukaan
gigi dengan membentuk misel karena partikel surfaktan yang berbentuk lipid bilayer
yang meyusun 1-3% kandungan pasta gigi bahan yang sering digunakan antara lain
Natrium Lauryl Sulfat (SLS) dan Natrium N-Lauryl Sarcocinate.
e. Bahan pengawet (0,05-0,5%), berfungsi sebagai pencegah kontaminasi bakteri dan
mempertahankan keaslian produk. Bahan yang biasa digunakan adalah natrium
benzoate, nipagin, dan nipasol.
f. Bahan pemberi rasa (0-2%), berfungsi sebagai penutup rasa bahan-bahan lain yang
kurang enak, terutama SLS dan memenuhi selera pengguna.
g. Air (20-40%) berfungsi sebagai pelarut bagi sebagian bahan dan mempertahankan
konsistensi dari pasta gigi.
h. Bahan terapeutik, ada beberapa bahan aktif yang memiliki fungsi terapi bagi
kesehatan gigi dan mulut, antara lain:
1. Floride, berfungsi sebagai bahan antikaries dan berfungsi sebagai remineralisasi
karies awal. Bahan yang digunakan antaralain natriummonofluorofosfat dan
natrium fluoride.
2. Bahan desentisasi, berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan sensitivitas
dentin dengan cara efek desentisasi langsung pada serabut syaraf. Bahan yang
biasa digunakan antaralain Strontium klorida, Strontium asetat, Kaliumnitrat, dan
kaliumfosfat.
3. Bahan anti kalkulus, berfungsi sebagai penghambat mineralisasi plak dan
mengubah pH untuk mengurangi pembentukan kalkulus. Bikarbonat ditambahkan
untuk mengurangi keasaman gigi. (Putri, MH, 2010)
Ciri-ciri pasta gigi yang baik yaitu:
a. Mempunyai daya abrasive yang minimal dan mempunyai daya pembersih yang
maksimal.
b. Dapat menyingkirkan kotoran-kotoran di mulut. Harus stabil dalam jangka waktu
yang lama.
c. Dapat bekerja dalam suasana asam maupun basa.
d. Dapat menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri dalam mulut.
e. Dapat mengurangi dan menghilangkan bau mulut.
f. Tidak beracun.
g. pH 4,5-10,5 (SNI, 1995).
h. memiliki daya sebar yang luas.
Pengelompokan pasta gigi berdasarkan fungsinya antaralain sebagai berikut:
a. Fungsi kosmetik yaitu untuk menyingkirkan alba, plak, sisa-sisa makanan dan stain
pada permukaan gigi serta menyegarkan napas.
b. Fungsi kosmetik terapeutikya itu untuk menghilangkan kalkulus dan gingivitis.
c. Fungsi terapeutik yaitu untuk mengurangi pembentukan plak, kalkulus gingivitis dan
sensitivitas gigi.
Tujuan dari kebersihan mulut dengan menggunakan pasta gigi adalah untuk
mengurangi flora bakteri oral. Bakteri mulut dapat berikatan dengan plak menyebabkan
kerusakan dan sakit gigi. Plak merupakan lapisan yang terbentuk pada permukaan gigi
terutama bagian leher gigi, terdiri dari bakteri dalam matriks organic, yang telah dikaitkan
dengan radang gusi (gingivitis); penyakit periodontal; atau karies gigi. Plak gigi dapat
dikendalikan dengan penghapusan fisik plak menggunakan pasta gigi dan obat kumur
antimikroba (Okpalugo et al, 2009).
Plak gigi adalah salah satu deposit lunak berwarna putih keabu-abuan atau kuning
yang melekat erat pada gigi. Plak dapat terbentuk setelah satu atau dua hari tanpa tindakan
kebersihan mulut dan dipengaruhi oleh makanan dan aliran saliva dalam rongga mulut
(Genco, 1990).
Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demineralisasi email
dan dentin yang erat hubungannya dengan konsumsi makanan yang kariogenik. Terjadinya
karies gigi akibat peran dari bakteri penyebab karies yang terdapat padagolongan
Streptococcus mulut yang secara kolektif disebut Streptococcus mutans (Ami, 2005).
Karang gigi yang disebut juga kalkulus atau tartar adalah lapisan kerak berwarna
kuning yang menempel pada gigi dan terasa kasar, yang dapat menyebabkan masalah pada
gigi. Karang gigi terbentuk dari dental plak yang mengeras pada gigi dan menetap dalam
waktu yang lama. dental plak merupakan tempat ideal bagi mikroorganisme mulut karena
terlindung dari pembersihan alami oleh lidah maupun saliva. Akumulasi plak
menyebabkan iritasi dan inflamasi gusi yang gingivitis. Jika akumulasi plak terlalu berat
maka dapat menyebabkan periodontis. Maka plak sering disebut juga sebagai penyebab
primer periodontis. Sementara kalkulus pada gigi membuat dental plak melekat pada gigi
atau gusi yang sulit dilepaskan hingga dapat memicu pertumbuhan plak selanjutnya.
Karena itu kalkulus disebut juga sebagai penyebab sekunder periodontis. Karang gigi
disebut juga kalkulus atau tartar adalah lapisan kerak berwarna kuning yang menempel
pada gigi dan terasa kasar, yang dapat menyebabkan masalah pada gigi (Samad, 2008).
Pengertian Kalkulus, Plak, Stain dan Karies pada Gigi
Kalkulus (karang gigi) merupakan suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang
terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi. Kalkulus merupakan plak
terkalsifikasi. Jenis kalkulus di klasifikasikan sebagai supragingiva dan subgingiva
berdasarkan relasinya dengan gingival margin. Pembentukan kalkulus tidak hanya
dipengaruhi oleh jumlah plak di dalam mulut,tetapi juga dipengaruhi oleh saliva.
Plak gigi merupakan deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri
atas mikroorganisme yang berkembang biak dalamsuatu matrik interseluler jika
seseorang melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya.
Stain gigi adalah perubahan warna yang terjadi pada gigi karena adanya noda (stain).
Staining gigi dapat terjadi karena penggunaan produk tembakau, teh, kopi dan obat
kumur tertentu, dan pigmen di dalam makanan menyebabkan terbentuknya stain yang
akan menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar sehingga mudah ditempeli sisa
makanan dan kuman yang akhirnya membentuk plak. Apabila tidak dibersihkan, plak
akan mengeras dan membentuk karang gigi (calculus) kemudian Sampai ke akar gigi,
akibatnya gusi mudah berdarah, gampang goyah dan tanggal.
Karies gigi merupakan penyakit yang terjadi pada jaringan keras gigi yaitu email,
dentin dan sementum yang mengalami proses kronis regresif. Yang ditandai dengan
adanya demineralisasi jaringan keras gigi dan rusaknya bahan organik akibat
terganggunya keseimbangan email dan sekelilingnya, menyebabkan terjadinya invasi
bakteri serta kematian pulpa bakteri dapat berkembang ke jaringan periapeks sehingga
dapat menimbulkan rasa nyeri pada gigi. Karies gigi terjadi karena adanya interaksi
antara bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm dan diet, terutama komponen
karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam, terutama
asam laktat dan asetat.
1.3.Evaluasi Produk Referen
N Nama Produsen Indikasi Komposisi Kemasan
o produk
1. Pepsode PT Mencega Calcium carbonat, water, 25 gram-
nt Unilever h gigi sorbitol, hydrated silica, sodium 120 gram
Indonesia berluban lauryl sulfate, sodium
Tbk. g monofluorophospate, flavor,
cellulose gum, potassium citrate,
sodium silicate, sodium
saccharin, DMDM hydantoin, CI
77891. Contains flouride.
2. Pasta Uetra Memelih 0,1% phtalimidoperoxycaproic 190 gram
Gigi Prima ara gigi acid eureur 0,8% sodium
Formula Abadi (email monoflourophospate precipitated
gigi) dan calcium carbonated,sorbitol
membuat purified
gigi water,hydratedsilica,PEG
tampak 600,sodium
putih saurylsulphate,flavor,sodiumcarb
berkilau oxymethyl + cl 74260,DMDM
hydantoin
3. Antiplaq PT Triple Melindun Cloxifenol, Arnica tincture, 75 gram
ue Ace gi gigi Sodium Monoflourophosphate
Corporati dari 0.8%, Oleum Caryophyli
on masalah
plaque,
karang
gigi, gigi
berluban
g, gusi
berdarah
sariawan,
membuat
nafas
lebih
segar
4. Ciptaden PT Liver Membant Calcium carbonate, silica, 35 gram,
t Wings u sorbitol, propylene glycol, 80 gram,
Jakarta mecegah xanthan gum, sodium lauryl 130
gigi sulfate, sodium saccharine, gram,
berluban sodium monofluorophospate, 200 gram
g sodium flouride, methyl paraben,
flavour, vitamin a, vitamin c,
vitamin e, xylitol, aqua

1.4.STUDI PRAFORMULASI BAHAN AKTIF

1.4.1. Tabel 1. Hasil Studi Pustaka Bahan Aktif

N Karakteristik Karakteristik
Bahan Aktif Efek Utama Efek Samping Sifat Lain
o Fisik Kimia
-Terhirup debu
-pemerian
bahan dapat
berbentuk
menyebabkan
padat, serbuk,
Digunakan iritasi saluran
atau Kristal -berat
dalam pasta pernafasan dan
serbuk, da molekul
gigi untuk membrane
mukosa dengan granul. 105,99
pemutih
gejala batuk dan Berwarna -Titik leleh
gigi,
nafas pendek putoh dan 1563,8oF
1 Na2CO3 pembentuk
(dyspenia), tidak berbau. (851oC)
busa, abrasi,
edema paru -kelarutan 45,5 -Berat Jenis
dan -tertelandapat g/100ml air 2,532
sementara menyebabkan o
(100 C), larut -densitas 2,54
menaikkan iritasi saluran
dalam air g/cm3
pH di mulut pencernaan yang
panas dan
menimbulkan
gliserol, larut
gejala mual ,
muntah, diare,
sebagian
rasa haus, nyeri dalam air
pada bagian dinin, tidak
abdominal larut dalam
tergantung
aseton dan
konsentrasi dan
alkohol
jumlah yang
tertelan, juga
berpengaruh
pada sistem
kardiovaskuler

1.4.2 Alasan pemilihan Bahan Aktif : Natrium Karbonat


Bahan aktif Natrium Karbonat merupakan
pemutih yang baik, memiliki sedikit efek
samping dibandingkan lainnya dan mudah
didapat.
1.4.3 Bentuk sediaan yang dipilih : Pasta gigi
Merupakan sediaan semipadat yang mudah
dibuat dan sering digunakan untuk merawat
gigi

1.5.Studi Preformulasi Bahan Tambahan


1. Abrasive agent

No Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkombatibi Keterangan


. Bahan litas Lain
1. CaCO3 Serbuk Praktis Tidak stabil Stabil dalam
atau kristal tidak larut dalam penyimpana
berwarna dalam larutan dalam
putih yang etanol asam dan kontainer yang
tidak 95%, dan garam kering dan
berasa dan air. amonium tertutup
tidak Kelarutan
berwana dalam air
meningkat
dengan
penambah
an garam
amonium.

2. Kalsium Serbuk Praktis Tidak dapat tidak


Phosphat atau kristal tidak larut digunakan higroskopis
padat dalam dalam dan stabil
berwarna eter, formulasi
putih, etanol dan antibiotik
tidak air. Laur tetrasiklin
berbau dan dalam
tidak asam
berasa
3. Sodium Serbuk Praktis tidak
bikarbonat putih tidak tidak larut kompatibel
berbau, dalam dengan
berasa etanol dan garam asam
basa eter, larut dan alkaloid
dalam air dan karbon
dengan dioksida
berbagai
perbandin
gan

Abrasive agentyang terpilih adalah CaCO3


Alasan : berupa serbuk putih yang tidak berbau dan tidak berasa sehingga akan mudah
dipadukan dengan bahan perasa dan pewarna lain. Selain itu, CaCO3 relatif stabil dalam
penyimpanannya.

2. Humektan (Bahan Pembasah)

No Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibilitas Keterangan


. Bahan lain
1. Gliserin Cairan yang 1.0 Dengan agen Dapat
higroskopis, 1.5 pengoksidasi mengkristal
transparan, g/kgB seperti bila dismpan
tidak B chromium dalam suhu
berbau, trioxide, rendah
tidak potassium
berwarna, chlorate, atau
kental dan potassium
berasa permanganate.
manis
2. Amoniu Serbuk dan Larut dalam Dengan agen Bersifat
m alginat granular air pengoksidasi higroskopis
berwarna membentuk dan larutan
kuning cairan asam basa
kental, tidak
larut dalam
etanol eter
3. Propilen Cairan Dapat 25 Dengan agen Berifat
Glikol transparan, bercampur mg/k pengoksida higroskopis
tidak degan gBB sepeti Kalium Stabil bila
berbau, aseton, permanganat dicampurkan
kental, rasa kloroform, dengan
agak manis dan eanol eanol 95%,
95%, larut gliserin atau
dalam 1:6 air
bagian eter

Humektan (Bahan Pembasah) yang terpilih adalah Gliserin


Alasan : gliserin dapat sekaligus berfungsi sebagai pemanis , gliserin juga dapat larut dalam
air
3. Surfaktan

No Nama bahan Pemerian Kelarutan A Inkompatibilitas Keterangan


DI lain
1. Sodium Terdiri dari SLS bereaksi Tidak stabil
Lauryl Sulfat kristal dengan surfaktan pada ph
berwarna kationik sehingga dibawa 2,5
kuning kehilangan (terhidrolisis
pucat, atau efektivitasnya )
serbuk Dengan logam
berwarna polivalen dan dan
putih halus, garam kalium
rasa pahit,
berbentuk
serpihan
2. Span Larutan Larut 25 Dapat mengalami Stabil dalam
(Sorbitan berminyak, dalam mg perubahan warna kondisi asam
Ester) tidak minyak, /kg dengan adnya atau basa
berwarna, serta fenol dan tanin
bau pelarut
karakteristi organik,
k dari asam tidak larut
lemak dalam air
tapi dapat
terdispers
i
3. Tween Cairan Mudah 25 Efektivitas metil Mudah
(Polyoxyethy kental, larut mg paraben dapat teroksidasi
lene Sorbitan transpara, dalam air, /kg berkurang karena dan bersifat
Fatty Acid tidak dalam adanya Tween higroskopis
Esters) berwarna, etanol Dapat mengalami
rasa pahit 95%, perubahan warna
dalam dengan adnya
metanol fenol dan tanin
pekat,
dalam etil
asetat

Surfaktan yang terpilih adalah Sodium Lauryl Sulfat


Alasan : dapat digunakan sebagai surfaktan dalam kondisi asam maupun basa

4. Bahan pengikat (Binder)

No Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibilita Keterangan


. Bahan s Lain
1. Na-CMC Serbuk Praktis tidak Dengan larutan Dapat
(Carboxy granuler larut dalam asam dan membentuk
methylcell berwarna aseton, etanol garama besi, kompleks
ulose putih, tidak 95%, eter dan aluminium, dengan
Sodium) berbau, toluena merkuri, dan gelati dan
tidak zinc, jugan pektin
berasa. dengan xantan
Bersifat
higroskopis
setelah
dikeringkan
2. Copovido Serbuk Larut 10% Tidak Stabil
ne berwarna dalam 1,4- kompatibel disimpana
kuning butanediol, dengan bahan dalam
keputihan gliserol, farmasi kontainer
butanol, organik dan yang kering
kloroform, anorganik dan tertutup
PEG 400. rapat
Larut 1 %
dalam
sikloheksana,
dietil eter,
parafin cair
dan pentana.
3. Etil Serbuk Praktis tidak paraffin wax Bersifat
selulosa berwarna larut dalam dan higroskopis
putih cerah gliserin, microcrystallin dan stabil
dan tidak propilen glikol, e wax.
berasa dan air.

Bahan Bahan pengikat (Binder) adalah Na-CMC (Carboxymethylcellulose Sodium)


Alasan : karena dapat membentuk larutan kental yang dapat mensuspensikan bahan obat
terutam digunakan untuk sediaan topical.

5. Bahan pengawet (Preservatives)

No Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibilitas Keterangan


Bahan Lain
1. Metil Kristal tidak Pada suhu 10 Aktivitas Ph 3-6 dalam
paraben berwarna, 20C gliserin mg/kgBB antimikroba larutan
(nipagin) serbuk (1:69), air turun dengan pembawa
kristalin, (1:4000), adnya surfactan aqua rentang
berwarna propilen glikol pemakaian
putih tidak (1:5), larut 0,015%-02%
berbau, rasa bebas dalam
sedikit etanol dan eter
seperti
terbakar
2. Propil Kristal Pada suhu 20 10 Magnesium Ph 4-8
paraben putih, tidak C gliserin mg/kgBB Aluminium rentang
(nipasol) berbau, (1:250), air silikat penakaran
tidak (1:2500), Magnesium 0,01%-0,02%
berwarna propilen glikol trisilikat
(1:39), etanol Besi oksida
(1:1,1), sangat
larut dalam
aseton, larut
dalam alkohol
dan eter
3. Na Kristal Air (1:8), 5 Gelatin Ph 2-5
Benzoat granul etanol 95% mg/kgBB Garam Ca rentang
putih, (1:7,5), etanol Garam Ferri penakaran
sangat 90% (1:50), 0,02%-0,5%
higroskopis, air 100%
amorf (1:1,4)

Bahan Bahan pengawet (Preservatives) yang terpilih adalah Metil paraben (nipagin) dan
Propil paraben (nipasol).
Alasan : kombinasi Metil paraben (nipagin) dan Propil paraben (nipasol) dapat mengatasi
mikroba dan jamur (memperluas spektrum aktivitas antimikroba.

6. Sweetening agent (Bahan Pemanis)

NO Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibi Keterangan


Bahan litas lain
1. Sakarin Serbuk kristal Dalam 25 pH 6,6 dalam
Na yang berwarna etanol mg/kgB 10% larutan
putih, tidak 95% B 15-25
berbau, atau (1:50) mg/100 ml
bau lemah dalam obat minum
propilen
glikol
(1:33)
2. Gliserin Jernih, tidak Dapat 1,0-1,5 Bismuth Dosis oral 1-
berwarna, bercampur g/kgBB nitrat jika 1,5 g/kgBB
tidak berbau, dengan air dicampurka
higroskopis dan n dengan
dan rasa manis mineral oxidazing
serta agent
alkohol menjadi
berwarna
pekat
3. Propilie Jernih kental, Dapat 25 Oxidizing Berat Jenis :
n tidak berbau, larut mg/kgB reagent 1,038 g/cm3
Glikol tidak dalam B seperti pada suhu
berwarna, aseton, KmnO4 20C
sedikit pedas kloroform,
mirip gliserin etanol
95%,
gliserin,
air, tidak
bercampur
dengan
minyak
dan
mineral
4. Sukrosa Serbuk kristal, Sangat
tidak mudah
berwarna, atau larut
serbuk krital dalam air,
putih, tidak sukar larut
berbau dan dalam
rasa manis etanol

Bahan pemanis yang terplih adalah Sakarin Na


Alasan : karena Sakarin Na 300 kali lebih manis daripada sukrosa dan harganya mur.

7. Bahan Aroma

No Nama Pemerian Kelarutan ADI Inkompatibil Keterangan


Bahan itas Lain
1. Menthol Serbuk kristal Larut dalam 0,4 Butilkloralhi Stabil
tidak aseton dan mg/kg drat, dalam suhu
berwarna, benzena, larut BB champor dan 25C
dengan dalam gliserin, kloral hidrat dalam
karaktristik praktis tidak wadah
rasa dan bau larut dalam air tertutup
yang kuat
2. Asam Serbuk kristal Larut dalam Dengan agen Tidak
adipat berwarna aseton, etil pengoksidasi higroskopis
putih, tidak asetat dan kuat
berbau, metanol,
struktur praktis tidak
kristal larut dalam
monosiklik petroleum eter
halohedral
3. Denatoni Serbuk kristal Larut dalam Dengan agen Stabil
um atau granul kloroform dan pengoksidasi dalam suhu
benzoat berwarna metanol juga kuat 140C
putih dan air, tidak larut dalam
pahit dalam eter rentang
pH yang
luas

Bahan aroma yang terpilih adalah menthol


Alasan : dapat memberikan sensasi dingin dan segar

1.6.Susunan Formula Dan Komposisi Bahan Yang Di Rencanakan


Nama bahan Fungsi Kadar Jumlah 30 g Jumlah 100 g
NaHCO3 Bahan aktif 2% 0,6 g 2g
CaCO3 Abrrasive 40% 12 g 40 g
Glyserin Humektan 25% 7,5 g 25 g
Na CMC Binder 0,75% 0,2245 g 1g
Na Lauril Sulfat Surfaktan 4% 1,2 g 4g
Na Saccharin Sweetening agent 0,2% 0,0845 g 0,2 g
Menthol Corigen odoris 0,3% 0,09 g 0,3 g
Nipagin Pengawet 0,18% 0,0545 g 0,18 g
Nipasol Pengawet 0,02% 0,0063 g 0,02 g
Pewarna (orange) Corigen odoris 1% 0,3 g 1g
Aquadest 28,43% 7,895 g 26,3 g
Pelarut

Perhitungan Bahan
1. NaHCO3
2
Untuk 30 gram x 30 = 0,6 gram
100
2
Untuk 100 gram x 100 = 2 gram
100

2. CaCO3
40
Untuk 30 gram x 30 = 12 gram
100
40
Untuk 100 gram x 100 = 40 gram
100

3. Na-CMC
1
Untuk 30 gram x 30 = 0,2245 gram
100
1
Untuk 100 gram x 100 = 1 gram
100

4. Gliserin
25
Untuk 30 gram x 30 = 7,5 gram
100
25
Untuk 100 gram x 100 = 25 gram
100

5. Na-Lauril Sulfat
4
Untuk 30 gram x 30 = 0,8 gram
100
4
Untuk 100 gram x 100 = 2 gram
100

6. Na-Sakarin
0,2
Untuk 30 gram x 30 = 0,0845 gram
100
0,2
Untuk 100 gram x 100 = 0,2 gram
100

7. Menthol
0,3
Untuk 30 gram x 30 = 0,09 gram
100
0,3
Untuk 100 gram x 100 = 0,3 gram
100

8. Metil Paraben
0,18
Untuk 30 gram x 30 = 0,0545 gram
100
0,18
Untuk 100 gram x 100 = 0,18 gram
100

9. Propil Paraben
0,02
Untuk 30 gram x 30 = 0,063 gram
100
0,02
Untuk 100 gram x 100 = 0,02 gram
100

10. Pewarna
1
Untuk 30 gram x 30 = 0,3 gram
100
1
Untuk 100 gram x 100 = 1 gram
100

11. Aquadest
26,3
Untuk 30 gram x 30 = 7,895 ml
100
26,3
Untuk 100 gram x 100 = 26,3 ml
100

1.7. Metode
1. Alat
Mortir
Stemper
Beaker glass
Batang pengaduk
Timbangan analitik
Gelas ukur
Tabung reaksi
Pipet tetes
Cawan porselen
2. Bahan
CMA-Na
CaCO3
Gliserin
Na lauril sulfat
Sakarin Na
Menthol
Nipagin
Nipasol
Aquadest
3. Cara kerja
Skala 30 gram

Setarakan timbangan

Siapkan mortir

Timbang CMC-Na sebanyak 0,225 gram

Tuang aquadest panas ke dalam mortir dan campurkan dengan CMC-Na lalu
diamkan, setelah itu di aduk sampai terbentuk muchilago
Timbang Gliserin sebanyak 7,5 gram lalu dicampur ke dalam mortir, aduk ad
homogen

Timbang CaCO3 sebanyak 2 gram, aduk ad homogen

Timbang Sakarin Na sebanyak 0,06 gram kemudian larutkan dengan aquadest

Tambahkan Sakarin Na yang sudah terlarut ke dalam campuran gliserin dan CaCO3

Tambahkan Sodium lauril sulfat sebanyak 1,2 gram, aduk ad homogen

Tambahkan menthol sebagai perasa

Tambahkan nipagin dan nipasol sebanyak 0,054 gram dan 0,006 gram dan
menambah aquadest sedikit demi sedikit hingga terbentuk pasta

Tambahkan pewarna sesuai dengan keinginan


Skala 100 gram

Setarakan timbangan

Siapkan mortir

Timbang CMC-Na sebanyak 1,12 gram

Tuang aquadest panas ke dalam mortir dan campurkan dengan CMC-Na lalu
diamkan, setelah itu di aduk sampai terbentuk muchilago

Timbang Gliserin sebanyak 25 gram lalu dicampur ke dalam mortir, aduk ad


homogen

Timbang CaCO3 sebanyak 40 gram, aduk ad homogen

Timbang Sakarin Na sebanyak 0,2 gram kemudian larutkan dengan aquadest

Tambahkan Sakarin Na yang sudah terlarut ke dalam campuran gliserin dan CaCO3

Tambahkan Sodium lauril sulfat sebanyak 4 gram, aduk ad homogen

Tambahkan menthol sebagai perasa

Tambahkan nipagin dan nipasol sebanyak 0,18 gram dan 0,03 gram dan menambah
aquadest sedikit demi sedikit hingga terbentuk pasta

Prosedur evaluasi Tambahkan pewarna sesuai dengan keinginan


4. Prosedur evaluasi
1 Uji organoleptis
Uji ini dilakukan dengan melakukan pengamatan sediaan pasta secara
kualitatif yang meliputi:
- Warna
- Rasa
- Bau
- Bentuk sediaan
2 Uji pH
Alat : Kertas indikator pH

Ambil beberapa ml sediaan pasta dalam beaker glass

Dicelupkan kertas indikator pH ke dalam larutan pasta

Keluarkan kertas, cocokkan perubahan warna kertas dengan standar ukuran


beberapa pH pada kemasan indikator pH

3 Uji viskositas
Alat : VT 03E (Viskotester)

Memasukkan sampel ke dalam beaker glass

Dipilih spindel yang cocok

Dimasukkan spindel dalam sediaan pasta

Dinyalakan viskotester hingga menunjukkan viskositas tertentu


4. Uji Busa
Alat : Tabung reaksi
Larutkan 1 gram pasta dengan 25 ml air

Tuang 5 ml larutan ke dalam tabung reaksi

Tutup atas tabung dengan jari tangan, lalu kocok sebanyak 25 kali

Amati busa yang terjadi selama 30 menit untuk melihat kestabilan busanya

5. Uji daya sebar


Alat : Double plate

Pasta sebanyak 1 gram diletakkan pada lempeng kaca berskala, lalu


diatasnya ditutup lempeng kaca dan diberi beban 5 gram lalu diamkan.

Lalu beban ditambah dengan beban 5 gram tiap 2 menit, hingga pasta tidak
dapat melebar lagi diameteer sebarnya

1.8.Rancangan Etiket, Brosur dan Kemasan


Kemasan
Sticker

VII. PEMBAHASAN

Pada Praktikum kali ini kami melakukan pembuatan sediaan semisolid


yaitu, pasta gigi. Pada pembuatan pasta gigi ini kami menggunakan beberapa
bahan-bahan yang kemudian kami susun menjadi sebuah formula pasta gigi,
formula yang kami buat, yaitu :
R/ NaHCO3 2%
Na-CMC 1%
CaCO3 40 %
Gliserin 25 %
Na-Lauril Sulfat 4%
Na-Sakarin 0,2 %
Menthol 0,3 %
Metil Paraben 0,18 %
Propil Paraben 0,02 %
Pewarna (orange) 1%
Aquadest 26,3 %
Pada Formula di atas ada Na-CMC, Na-CMC disini berfungsi sebagai
pengikat, yaitu untuk mempertahankan viskositas pasta agar diperoleh bentuk
pasta yang tidak terlalu lembek dan encer. Selanjutnya Kalsium Karbonat, disini
kalsium karbonat berfungsi sebagai bahan abrasive, yaitu menghilangkan plak dan
penyebab timbulnya bakteri seperti partikel partikel makanan yang menempel
pada lapisan. Gliserin berfungsi sebagai Humektan, yaitu untuk mempertahankan
sediaan pasta agar tidak kering. gliserin memiliki multiple fungsi, dapat
digunakan sebagai humektan, pengawet dan pemanis. Dapat memberi rasa manis
setelah rasa pahit yang ditimbulkan oleh sakarin Na. Na-lauril sulfat berfungsi
sebagai surfaktan. Na-sakarin Sebagai pemanis. Menthol berfungsi untuk
memberikan rasa segar di mulut dan bau yang enak. Metil Paraben dan propil
Paraben digunakan sebagai pengawet dan Aquadest sebagai pelarut.
Pasta gigi disini dibuat dalam bentuk pasta karena suatu sediaan pasta
karena sediaan pasta lebih stabil daripada sediaan larutan. Pasta mengandung
lebih sedikit air sehingga dapat meminimalkan pertumbuhan bakteri dan juga
sediaan pasta lebih acceptable karena konsistensi pasta lebih padat sehingga
ketika digunakan lebih nyaman, tidak meluber, bisa menempel pada permukaan
gigi sehingga dapat membersihkan permukaan gigi.
Setelah merancang formula seperti diatas kami membuat sediaan pasta
gigi, pada proses pembuatan diperoleh suatu sedian pasta gigi yang bagus pada
awal pembuatan batch kecil, setelah itu kami juga membuat batch besar juga tidak
terdapat masalah, sediaan pasta gigi yang kami buat tetap bagus.
Pembuatan dilakukan dengan beberapa mekanisme diantaranya, yaitu
pertama-tama kami menimbang dan meniapkan semua bahan sesuai formula dan
kadar serta bobot yang telah ditentukan. Setelah semua bahan disiapkan,
selanjutnya kami mengembangkan Na-CMC dalam air dengan cara menaburkan
Na-CMC diatas permukaan air pada mortir dan didiamkan sampai mengembang.
Setelah Na-CMC mengembang, kami mengaduk Kalsium Karbonat di dalam
mortir berisi Na-CMC tersebut sampai homogen, kami juga melarutakan menthol
dalam spirtus fortior. setelah larut menthol ditambahkan ke dalam mortir yang
berisi Kalsium Karbonat dan Na-CMC lalu Diaduk sampai homogen.
Selanjutnya kami malarutkan metil paraben, propil paraben, Na-Sakarin ke
dalam gliserin, setelah larut maka kami menambahkannya ke dalam mortir yang
berisi campuaran di atas diaduk ad homogen. Setelah campuran homogen kami
menambahkan Na-Lauril sulfat seara perlahan-lahan dan harus dilkukan secara
hati-hati, hal ini dikarenakan Na-Lauril sulfat mudah berbusa atau terjadi
penyabunan. Setelah dicampurkan dan diaduk perlaha-lahan sampai homogen
maka sediaan pasta gigi telah jadi.
Setealah sediaan yang kami buat jadi untuk mengetahui apakah sediaan
pasta gigi yang kami buat itu memenuhi spesifikasi yang diinginkan maka kami
melakukan beberapa uji diantaranya adala uji organoleptis, uji tingkat keasaman
(pH), uji daya sebar, dan uji kemampuan berbusa, uji konsistensi.
Yang pertama adalah uji organoleptis terdiri dari bentuk sediaan, bau dan
warna. Bentuk sediaan berupa pasta, uji bau dilakukan dengan cara mencium
sediaan pasta gigi dan dihasilkan bau yang sesuia dengan spesifikasi yaitu bau
Mint, selanjutnya uji warna, uji warna dilakukan dengan melihat warna sediaan
pasta gigi dan dihasilkan orange bersih sesuai spesifikasi yang diinginkan dan rasa
manis mint.
Berdasarkan hasil evaluasi pH dari pasta gigi yang diperoleh adalah 9. pH
tersebut sudah memenuhi persyaratan mutu pasta gigi SNI 12-3524-1995 yaitu
4,5-10,5. pH pasta gigi hendaknya disesuaikan dengan ph mulut (saliva). Saliva
adalah cairan kompleks yang dihasilkan oleh glandula salivarius seperti glandula
parotis, submandibula, sublingual, labial, bukal dan palatal. Saliva memiliki
fungsi antara lain melindungi jaringan di dalam rongga mulut dengan cara
pembersihan secara mekanis untuk mengurangi akumulasi plak pada permukaan
gigi, agregasi bakteri yang dapat menghambat kolonisasi mikroorganisme,
aktifitas antibakterial,membantu fungsi pengecapan, pencernaan dan membantu
perbaikan jaringan. Fungsi saliva sebagai perlindungan dipengaruhi oleh
komposisi, viskositas, pH serta susunan ion serta protein saliva. pH saliva yang
optimum untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah 6,57,5. Apabila rongga
mulut pH-nya rendah antara 4,55,5 akan memudahkan pertumbuhan kuman
asidogenik seperti Streptococcus mutans dan Lactobacillus.
Praktikum pasta gigi yang kami buat tidak menggunakan bahan aktif
disebabkan biaya yang harus diminamalkan. Sehingga pasta gigi kami hanya
membersihkan gigi dengan daya abrasifnya.
Uji kemampuan berbusa dilakukan dengan melrutkan 1 grampasta dengan
25 mL air dalam beaker glass. Selanjutnya, dituangkan 5 mL larutan kedalam
tabung reaksi. Bagian atas tabung reaksi ditutup dengan kedua jari tangan lalu
kocok ringan sebanyak 25 kali. Busa yang terbentuk diamati selama 30 menit
untuk menilai kestabilan busanya, kemudian amati onset, durasi dan kuantitas dari
busa. Setelah dilakukan pengamatan selama 30 menit, diperoleh ketinggian busa
setelah pengocokkan sebanyak 25 kali yaitu 5,5 cm, dimana menandakan bahwa
adanya Na Lauril Sulfat yang membuat pasta gigi kami berbusa. Setelah 30 menit,
ketinggian menjadi 4 cm. Namun, busa masih stabil (penurunan jumlah busa tidak
terlalu banyak) sehingga menguntungkan karena tidak cepat hilang saat dilakukan
proses pembersihan gigi.
Uji daya sebar

Daya sebar (cm) (jari-jari)


Bobot
Sisi 1 Sisi 2 Sisi 3 Sisi 4
5 gram 2,5 2,7 2,4 2,2
10 gram 2,8 2,9 2,6 2,5
15 gram 2,9 3 2,7 2,6
20 gram 2,9 3 2,7 2,6
25 gram 2,9 3 2,7 2,6

Prosedur pengujian daya sebar yaitu dengan mengambil sampel pasta


sebanyak 1 gram untuk satu kali replikasi. kemudian :
- Diletakkan ditengah alat ekstensometer yang sebelumnya sudah di tara
ditimbangan juga alatnya
- Penutup kaca ekstensometer diletakkan diatas massa sediaan dan dikasih
pemberat dan ditunggu selama 2 menit
- Diukur diameter sediaan yang menyebar pada tiap diameter dari beberapa sisi
- Lalu tambahkan lagi dengan bobot pemberat sesuai yang tercantum pada tabel
yaitu kenaikan 5 gram, biarkan 2 menit dan catat diameternya seperti sebelumnya.
Penambahan pemberat dihentikan jika lebar jari-jari dari 4 sisi konstan.
Replikasi hanya dilakukan satu kali karena waktu yang dibutuhkan untuk replikasi
lebih dari satu tidak cukup. Dari data tersebut dapat diketahui pasta gigi yang
kami buat memiliki daya sebar yang cukup luas sehingga kemungkinan besar
pasta gigi yang kami buat dapat menyebar dan memiliki dengan jangkauan yang
luas pada bagian mulut dan gigi saat digunakan.
Untuk uji viskositas pasta, pasta sebanyak 20 gram yang ada di
dalam mortar kecil diletakkan di bawah gantungan spindel. Spindel diturunkan
hingga batas tercelup ke dalam pasta. Setelah itu, spindel dibiarkan berputar dan
dilihat waktu dan viskositasnya.
Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk
mengalir, makin tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya (Martin, A.,
James, S., dan Arthur, C., 1993, Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik dalam
Ilmu Farmasetik, Edisi ketiga, 1077, UI Press, Jakarta). Viskositas merupakan
suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk mengalir,
kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk menggerakkan
secara berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lain
dari kondisi mapan tertentu bila ruang dalam permukaan tersebut diisi dengan
cairan yang akan ditentukan kekentalannya.kekentalan adalah tekanan geser
dibagi laju tegangan geser.
Satuan dasar kekentalan adalah poise yang bernilai 1 poise = 100
centripoise. Penentuan suhu penting karena kekentalan berubah sesuai suhu,secara
umum kekentalan menurun dengan naiknya suhu,untuk pengukuran sediaan
farmasi suhu dipertahankan dalam batas kurang lebih 0,1.
Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas adalah
viscometer.Banyak jenis viscometer tabung kapiler telah dirancang,tetapi
viscometer Ostwald dan viscometer Brookfield yang paling sering
digunakan.Dalam evaluasi ini praktikan menggunakan viscometer Brookfield
karena sampel yang dievaluasi memiliki viskositas yang cukup tinggi.
Viskometer Brookfield merupakan salah satu viscometer yang
menggunakan gasing atau kumoaran yang dicelupkan kedalam zat uji dan
mengukur tahanan gerak dari bagian yang berputar. Tersedia kumparan yang
berbeda untuk rentang kekentalan tertentu, dan umumnya dilengkapi dengan
kecepatan rotasi. (FI IV,1038). Prinsip kerja dari viscometer Brookfield ini adalah
semakin kuat putaran semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya
semakin besar.
Pemeriksaan viskositas dilakukan untuk melihat konsistensi gel dan pada
percobaan menghasilkan nilai viskositas sebesar 125 dPa.s. Sediaan pasta gigi
direncanakan memiliki viskositas atau kekentalan yang tinggi dimana pasta
merupakan sediaan yang bagian padatanya lebih besar dibanding bagian cair.
Kekentalan yang besar sesuai dengan persyaratan pasta yang mengharuskan
memiliki kekentalan yang tinggi. Oleh karena itu pasta gigi harus kental dan tidak
boleh terlalu cair seperti air.

VIII. KESIMPULAN
Dari penjelasan pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa sediaan yang
dibuat cukup baik yakni dengan hasil evaluasi yang baik:
uji organoleptis: bentuk sediaan pasta, aroma mint, warna orange muda,
rasa manis
pH sebesar 9
Uji daya sebar diameter sebesar 2,65-3 cm
Uji busa dengan tinggi busa 5,5 cm 0 menit, 4 cm selama 30 menit
Uji viskositas 125 dPa.s
IX. DAFTAR PUSTAKA
Ami A. 2005. Pencegahan Primer Pada Anak Yang Berisiko Karies Tinggi.
Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Pedodonsia Universitas
Sumatera Utara [Skripsi]. Medan: USU
Genco RJ, Goldman HM, Cohen DW. 1990. Contemporary periodontics.
Philadelphia: CV Mosby Company p.117-34.
Harwood, R. J., 2006, Hydroxypropyl Methylcellulose, In: Rowe, R. C., Shesky,
P. J., and Owen, S. C. (eds.), Handbook of Pharmaceutical Excipients,
Fifth Edition, 346, Pharmaceutical Press, UK.

Johnson, R. dan Steer, R., 2006, Methyl Paraben, In: Rowe, R. C., Shesky, P. J.,
and Owen, S. C. (eds.), Handbook of Pharmaceutical Excipients, Fifth
Edition, 466, Pharmaceutical Press, UK.

Kibbe, A. H., 2004, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Third Edition, 442,


572, Pharmaceutical Press, UK.

Lieberman, H., A., Coben, L., J. 1994. Sediaan Semisolid. dalam Lachman, L.,
Lieberman, H., A., Kanig, J., L., 1994, Teori dan Praktek Farmasi
Industri III, UI-Press
Pratiwi, R. 2007. Perbedaan Daya Hambat terhadap Streptococcus mutans dari
Beberapa Pasta Gigi yang Mengandung Herbal. Dental Journal, Vol. 38
(2):65-67.
Putra, T. 2002. Pasta Gigi yang Mengandung Fluor sebagai Salah Satu Bahan
untuk Mencegah Terjadinya Stomatitis Gigi Tiruan. Jurnal PDGI. Edisi
khusus tahun ke-52: 330.
Samad F. 2008. Karies Gigi. Pekanbaru: FK-UNRI RSUD AA.
Sasmita, I., Pertiwi dan A., Halim. 2007. Gambaran Efek Pasta Gigi yang
Mengandung Herbal Terhadap Penurunan Indeks Plak. Jurnal PDGI, edisi
khusus PIN IKGA II: 37-41.