Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FTSC-SP

FORMULASI SEDIAAN TEKNOLOGI CAIR-SEMI PADAT


PERCOBAAN IV
SALEP

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Nining Shofiyyah
Nurul Fajriati
Pipta Ria Puspa Dewi
Ratna Dian Septiana
Ria Pangestika Kusuma W

(1404025)
(1404026)
(1404027)
(1404030)
(1404031)

PRODI DIII FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MUHAMMADIYAH KLATEN
2016/2017

SALEP

A. TINJAUAN PUSTAKA
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai oba luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogendalam dasr yang
cocok. Salep tidak berbau tengik (Anief, 2006).
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar (Anonim, 1979).
Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam empat kelompok
yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat
dicuci dengan air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah
satu dasar salep tersebut (Anonim, 1995).
Dasar salep hidrokarbon dikenal sebagai dasar salep berlemak antara lain
vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair dapat
dicampurkan kedalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak
bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep
hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien, dan sukar dicuci. Tidak mengering
dan tidak tampak berubah dalam waktu lama (Anonim, 1995).
Dasar salep serap dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama
terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam
minyak (Parafin hidrofilik dan Lanolin anhidrat), dan kelompok kedua terdiri atas
emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan
(Lanolin). Dasar salep serap juga bermanfaat sebagai emolien (Anonim, 1995).
Dasar salep yang dapat dicuci dengan air adalah emulsi minyak dalam air
antara lain salep hidrofilik dan lebih tepat disebut Krim. Dasar ini dinyatakan juga
dapat dicuci dengan air karena mudah dicuci dari kulit dan dilap basah, sehingga lebih
dapat diterima untuk dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif
menggunakan dasar salep ini daripada dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari
dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang
terjadi pada kelainan termatologik (Anonim, 1995).
Dasar salep larut dalam air merupakan kelompok yang sering juga disebut
sebagai dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Dasar salep jenis
ini memberikan banyak keuntungan seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air
dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air seperti parafin, lanolin anhidrat atau
malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel (Anonim, 1995).
Penggolongan Salep
1. Menurut Konsistensinya salep dapat dibagi:

a. Unguenta adalah salep yang mempunyai konsistensinya seperti mentega, tidak


mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga.
b. Cream (krim) adalah salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit,
suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
c. Pasta adalah salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk), suatu
salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang
diolesi.
d. Cerata adalah salep lemak yang mengandung presentase lilin (wax) yang
tinggi sehingga konsistensinya lebih keras (ceratum labiale).
e. Gelones/spumae/jelly adalah salep yang lebih halus, umumnya cair dan sedikit
mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelicin atau basis, biasanya terdiri
atas campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik lebur rendah.
Contoh: starch jellies (10% amilum dengan air mendidih).
2. Menurut sifat farmakologi/terapeutik dan penetrasinya, salep dapat dibagi:
a. Salep epidermis digunakan untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek
lokal, tidak diabsorpsi, kadang-kadang ditambahkan antiseptik anstrigensia
untuk meredakan rangsangan atau anasteti lokal. Dasar salep yang baik adalah
dasar salep senyawa hidrokarbon.
b. Salep endodermis adalah salep yang bahan obatnya menembus ke dalam kulit,
tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian, digunakan untuk melunakkan
kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang terbaik adalah minyak lemak.
c. Salep diadermis adalah salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh
melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan, misalnya salep yang
mengandung senyawa merkuri iodida, beladona.
3. Menurut dasar salepnya. Salep dapat dibagi:
a. Salep hidrofobik yaitu salep yang tidak suka air atau salep dengan dasar salep
berlemak (greasy bases) tidak dapat dicucidengan air misalnya campuran
lemak-lemak dan minyak lemak.
b. Salep hidrofilik yaitu salep yang suka air atau kuat menarik air, biasanya dasar
tipe M/A (Syamsuni, 2006).
Kualitas dasar salep yang ideal adalah:
1. Stabil selama masih dipakai mengobati. Maka salep harus bebas dari
inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembapan yang ada dalam kamar.
2. Lunak yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak
dan homogen, sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi, inflamasi dan
ekskoriasi.

3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang apling mudah dipakai
dan dihilangkan dari kulit.
4. Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel secara fisika dan kimia
dengan obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau
menghambat aksi terapi dari obat yang mampu melepas obatnya pada daerah yang
diobati.
5. Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat atau
cair pada pengobatan.
6. Lembut, mudah dioleskan serta mudah melepaskan zat aktif. (Anief, 2007)
Dalam pembuatan salep, harus memperhatikan peraturan-peraturan pembuatan
salep, yaitu diantaranya :
1. Peraturan Salep Pertama (zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak,
dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan).
2. Peraturan Salep Kedua (bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada
peraturan-peraturan lain, dilarutkan terlebih dahulu kedalam air, asalkan jumlah
air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep : jumlah air yang
dipakai dikurangi dari basis).
3. Peraturan Salep Ketiga (bahan-bahan yang sukar atau hanya dapat larut dalam
lemak dan dalam air harus diserbukkan dahulu, kemudian diayak dengan ayakan
no 40).
4. Peraturan Salep Keempat (salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan,
campurannya harus digerus sampai dingin) (Anonim, 1979).

Berikut ini adalah persyaratan dari salep yang baik :


1. Pemerian: tidak boleh berbau tengik.
2. Kadar: kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras,
kadar bahan obat adalah 10%.
3. Dasar salep (ds): kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis salep)
digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung dari sifat bahan obat dan
tujuan pemakaian salep.
4. Homogenitas: jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang
cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
5. Penandaan: pada etiket harus tertera obat luar (Syamsuni, 2006).
Kelebihan Salep
1. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit.
2. Sebagai bahan pelumas pada kulit.

3. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit.
4. Sebagai obat luar.
Kekurangan Salep
1. Kekurangan basis hidrokarbon: Sifatnya yang berminyak dapat meninggalkan
noda pada pakaian serta sulit tercuci dan sulit di bersihkan dari permukaan kulit.
2. Kekurangan basis absorpsi: Kurang tepat bila di pakai sebagai pendukung bahan
bahan antibiotik dan bahan bahan kurang stabil dengan adanya air .
3. Mempunyai sifat hidrofil atau dapat mengikat air .

B. PEMERIAN BAHAN
1. Acidum Salicylicum (Asam Salisilat)
a. Pemerian : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih, hampir
tidak berbau, rasa agak manis dan tajam.
b. Kelarutan : larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P;
mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut dalam larutan
ammonium asetat P; dinatrium hidrogenfosfat P; kalium sitrat P dan atrium
sitrat P.
c. Suhu lebur antara 1580 dan1610.
d. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik.
e. Khasiat da penggunaan Keratolitikum, antifungi.
2. Vaselin Album (Vaselin Putih)
a. Vaselin putih adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah
diputihkan, diperoleh dari minyak mneral.
b. Pemerian : massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah,
juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa.
c. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam
kloroform P, dan dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadangkandang beropalesensi lemah.
d. Jarak lebur antara 380 dan 560.
e. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik.
f. Khasiat dan penggunaan Zat tambahan.
3. Glyceolum (Gliserin)
a. Pemerian : cairan seperti sirop; jernih; tidak berwarna; tidak berbau; manis
diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu

rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak
melebur hngga suhu mencapai lebih kurang 200.
b. Kelarutan : dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P; praktis tidak
larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam minyak lemak.
c. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik.
d. Khasiat dan penggunaan Zat tambahan.
C. FORMULA STANDAR
Tiap 10 gram mengandung :
Acidum Salicylicum
Vaselin Album ad

200 mg
10 gram

D. FORMULA PENGEMBANGAN
Tiap 10 gram mengandung :
Acidum Salicylicum

200 mg

Gliserin

5%

Parfum

q.s

Vaselin Albumad

E. ALAT DAN BAHAN


ALAT :
1. Mortir
2. Stamfer
3. Cawan Porselin
4. Kaca Arloji
5. Timbangan Elektrik
6. Pot Salep
7. Sudip
8. Kompor Listrik
9. Beker Glass
10. Kertas Saring

10 gram

11. Millimeter Blok


12. Penggaris
13. Anak Timbang
14. Pipet tetes
15. Alat uji daya sebar
16. Alat uji daya lengket

BAHAN :
1.
2.
3.
4.
5.

Acidum Salicylicum / Asam Salisilat


Vaselin Album / Vaselin Putih
Gliserin
Parfum
Parafin Cair

6. KOH 0,1 N
7. Indikator Fenolftalein
8. Spiritus Fortior
F. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
Perhitungan dilebihkan 10% unuk menghndari bahankarena proses pembuaan, jadi
sediaan dibuat 11 gram, maka :
1. Acidum Salicylicum
: 200 mg x 10% = 220 mg (0,22 gram)
5
2. Glycerin
: 100 x 10%
: 0,5 x 10%
: 550 mg (0,55 gram)
: 10 gram (0,22 gram + 0,55 gam)
: 9,23 gram x 10%
: 10,15 gram
: q.s (secukupnya)

3. Vaselin Album
4. Parfum
G. CARA KERJA

Dilelehkan vaselin album diatas waterbath


Acidumsalicyicum dimasukan dalam mortir, dtetesi dengan spirits fortiori, diadk ad
halus
Dtambahka glycerin dan parfum kedalam mortir berisi acidum salicylicum, diaduk ad
homogen
Dimasukkan lelehan vaselin kedalam campuran tadi sambil diaduk ad homogen

Dimasukkan kedalam pot salep yang sudah disetarakan

Ditimbang salep seberat 10 gram

H. ETIKET
BIRU

I. PROSEDUR KONTROL KUALITAS


1. Organoleptis : Mengamati warna, bau dan bentuk.
2. Homogenitas :
Oleskan salep pada kulit
Diamati ada partikel atau tidak
Homogen atau tidak
3. Daya Lengket
Cara Kerja :
Oleskan salep pada salah satu objek glass dengan luas tertentu setipis mungkin
Letakkan objek glass lain diatas olesan hingga tertutup semua dengan posisi objek
glass terpasang di alat uji dan ekanlah dengan beban 50 gram selama 5 menit
Lepaskan beban pada alat uji sehingga kedua objek glass terpisah

Catat waktu ang dibutuhkan sampai kedua objek glass terpisah

Ulangi percobaan minimal 3 kali


4. Daya Sebar
Cara Kerja :
Timbang salep seberat 0,5 gram, letakkan ditengah alat

Timbang kaca penutup, letakkan kaca tersebut diatas massa salep danbiarkan
selama 1 menit

Ukurlah berapa diameter salep yang menyebar dengan menghitung panjang ratarata dari beberapa sisi

Tambahkan 50 gram beban diatas kaca penutup diamkan selama 1 menit dan
catatah diameter salep yang menyebar seperti sebelumnya

Teruskan penambahan beban sampai salep tidak menyebar

Gambar grafik diameter salep yang menyebar vs beban


5. Daya Proteksi
Cara Kerja :
Ambil sepotong kertas saring dengan ukuran 5 cm x 5 cm, basahi dengan larutan
feolftalein untuk indikator, setelah itu kertas dikeringkan

Olesi kertas tersebut dengan salep yang akan dicoba pada sala satu muka
seperti lazimnya orang mengunakan salep
Pada kertas saring yang lain denan ukuran sama dibuat ditengahnya luas area 3
cm x 3 cm dibuat batas dengan arsiran parafin padat yang telah dilelehkan

Tempelkan bagian kertas dengan lelehan parain, diatas kertas yang dileskan
salep

Teteskan larutan KOH 0,1 N

Lihatah kertas yang dibasahi fenolftalein pada waktu 15, 30, 45 dan 60 detik, 3
menit dan 5 menit

Bila tiak ada noda merah berarti salep dapat memberikan proteksi terhadap
cairan KOH 0,1 N
J. HASIL PENGAMATAN
1. Organoleptis :
a. Warna : Putih
b. Bau : Mawar
c. Bentuk : Semi Padat
2. Homogenitas : sediaan salep yang dibuat homogen
3. Daya Lengket
Replikasi
I
II
III
Rata-rata

Waktu
1,84 detik
2,45 detik
2,55 detik
2,28 detik

4. Daya Sebar
Beban
Tanpa beban
50 gram
100 gram
200 gram

Replikasi I
6 cm
7 cm
7,5 cm
7,5 cm

Daya Sebar
Replikasi II
6,5 cm
7,5 cm
8,1 cm
8,1 cm

Rata-rata
Replikasi III
6,7 cm
7 cm
8 cm
8 cm

6,4 cm
7,16 cm
7,86 cm
7,86 cm

5. Daya Proteksi
Waktu
15 detik
30 detik
45 detik
60 detik
3 menit

Replikasi I
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Daya Proteksi
Replikasi II
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Kesimpulan
Replikasi III
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada noda


merah

5 menit

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

K. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan mencoba membuat sediaan salep. Salep
(unguenta) adalah bentuk sediaan semi padat yang ditujukan untuk pemakain oral atau
penggunaan luar. Sediaan salep dikemas dalam pot salep. Pada umumnya obat-obat
yang dalam bentuk sediaan salep harus bebas dari butiran-butiran kasar. Selain itu,
penyimpanan sediaan salep harus pada tempat dengan kondisi suhu yang sesuai agar
komponen-komponen obat dalam salep tidak rusak. Penyimpanan salep pada suhu
yang tinggi menyebabkan sediaan tersebut dapat mencair. Sediaan salep dapat
digunakan pada anak, orang dewasa maupun yang lanjut usia.
Pada praktikum ini, salep dibuat berdasarkan formula yang sudah ada. Alat
yang digunakan berupa mortir dan stamfer sebagai tempat mengerus bahan-bahan
yang akan dibuat. Timbangan digunakan untuk menimbang bahan obat yang akan
dibuat. Beker glass, gelas ukur, kaca arloji digunakan meletakkan bahan obat yang
sudah ukur dan ditimbang. Pipet tetes digunakan untuk meneteskan bahan obat
kedalam wadah. kompor listrik digunakan untuk memanaskan vaselin album yang
akan dilebur. cawan porselen digunkan sebagai wadah vaselin album yang akan
dilebur. Pot salep digunakan untuk wadah salep yang telah dibuat. Indikator
fenoftalein digunakan untuk mengetahui apakah ada noda merah pada kertas saring
atau tidak. Alat uji daya sebar digunakan untuk menguji daya sebar pada sediaan salep
yang dibuat. Alat uji daya lengket digunakan untuk menguji daya lengket sediaan
salep yang dibuat. Kertas saring digunakan untuk menguji daya proteksi sediaan salep
yang dibuat. Bahan yang digunakan berupa asam salisilat yang berkhasiat untuk

keratolitikum dan antifungi. Vaselin album digunakan sebagai zat tambahan. Gliserin
digunakan sebagai zat tambahan. Parfum digunakan untuk pemberi aroma pada salep.
Beberapa macam evaluasi yang digunakan untuk menguji sediaan salep yang
dibuat yaitu :
a. Evaluasi pertama adalah uji organoleptis, evaluasi yang dilakukan dengan dilihat
bentuk, warna, dan bau dari sediaan salep yang dibuat tersebut. Evaluasi ini
dilakukan agar mengetahui sediaan yang dibuat sesuai dengan standar salep yang
ada, dalam arti sediaan salep tersebut stabil dan tidak menyimpang dari standar
salep.
b. Evaluasi kedua yaitu uji homogenitas. Uji ini dilakukan dengan tujuan agar
mengetahui sediaan yang dibuat homogen atau tidak, karena sediaan salep yang
baik harus homogen dan bebas dari pertikel-partikel yang masih mengumpal.
c. Evaluasi ketiga adalah uji daya lengket. Uji ini dilakukan untuk mengetahui
lamanya daya lengket sediaan salep yang dibuat. Uji ini menggunakan alat yang
bernama alat uji daya lekat.
d. Evaluasi keempat adalah uji proteksi . Uji ini dilakukan yang pada prinsipnya
untuk mengetahui sediaan salep tersebut memberikan proteksi atau tidak.
e. Evaluasi kelima adalah uji daya sebar. Uji ini dilakukan untuk mengetahui daya
sebar yang dapat ditempuh sediaan salep yang dibuat.
Berdasarakan masing masing uji diperoleh data sebagai berikut :
a. Uji organoleptis sediaan salep yaitu bentuknya setengah padat, bau Oleum rosae
(mawar), warna putih.
b. Uji homogenitas, hasil yang diperoleh adalah sediaan salep yang dibuat adalah
homogen, tidak terdapat partikel yang mengumpal.
c. Uji daya lengket dengan 3 kali replikasi pengujian yang diperoleh hasil dengan
rata-rata 2,28 detik untuk daya lengket dari salep terhadap alat penguji. Berarti
salep yang dibuat tidak memenuhi standar karena standar uji daya lengket tidak
kurang dari 4 detik.
d. Uji daya proteksi pada salep dilakukan dengan 3 kali replikasi pengujian pula,
untuk menimimalisir terjadinya kesalahan perolehan data. Pada rentang waktu
antara 15 detik, 30 detik, 45 detik, 60 detik, 3 menit dan 5 menit salep tidak
menimbulkan noda merah pada kertas saring yang menandakan bahwa salep ini
mampu memberikan daya proteksi terhadap suatu cairan.

e. Uji daya sebar, dengan 3 kali replikasi pengujian yang diperoleh terhadap luas
pemukaan salep dengan tanpa beban adalah 6,4 cm, beban 50 gram adalah 7,16
cm, beban 100 gram adalah 7,86 cm, dan pada beban 200 gram adalah 7,86 cm.
Berarti salep mampu menyebar dengan cukup luas dipermukaan kulit jika
digunakan.

L. KESIMPULAN
1. Telah dibuat sediaan salep dan tidak mengalami kesulitan.
2. Salep yang dibuat berwarna putih, berbentuk semi padat, dan berbau Oleum Rosae
(mawar).
3. Uji daya lengket salep waktu yang dibutukan sampai kedua objek terpisah ratarata 2,28 detik.
4. Rata-rata diameter pada uji daya sebar adalah 7,86 cm.
5. Uji daya proteksi salep hasilnya adalah tidak ada noda merah.
M. DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
2. Aoninm. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
3. Anief, Moh. 2006. Ilmu Meracik Obat. Universitas Gajah Mada Press.
Yogyakarta.
4. Anonym. 2016. Buku Petunjuk Praktikum Formulasi Teknologi Sediaan Cair
Semi Padat. Stikes Muhammadiyah Klaten.
5. Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta
6. Voigt, R.1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Universitas Gajah Mada
Press.Yogyakarta.

Kurva diameter dan beban pada uji daya sebar

diameter
8

5
diameter
4

0
tanpa beban

50 gram

100 gram

200 gram

SALEP YANG DIBUAT

ALAT UJI DAYA LENGKET

ALAT UJI DAYA SEBAR

ALAT UJI DAYA PROTEKSI