Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI

BAB VII

TRANSDERMAL PATCH

DISUSUN OLEH :

QORRI AINUN NAIMAH A1162041

Anggota :

1. Ditya Novanda Sari A1162032

2. Syakirina Afrila W A1162034

3. Viki Listiani A1162046

Semester Gasal

AKADEMI FARMASI NUSAPUTERA

SEMARANG

2017
BAB VII

TRANSDERMAL PATCH

I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu melakukan formulasi sediaan matriks patch transdermal
dengan zat aktif paracetamol dan Na diklofenak.
2. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi sediaan matriks patch transdermal.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Transdermal adalah salah satu cara administrasi obat dengan bentuk sediaan
farmasi/obat berupa krim, gel atau patch (koyo) yang digunakan pada permukaan
kulit, namun mampu menghantarkan obat masuk ke dalam tubuh melalui kulit (trans
= lewat; dermal = kulit). Umumnya penggunaan transdermal adalah pada obat-obatan
hormon, misalnya estrogen. Yang paling umum ditemui mungkin koyo untuk
menghilangkan kecanduan rokok, atau menghilangkan nafsu makan (berfungsi
sebagai pelangsing). Bentuk transdermal menjadi pilihan terutama untuk obat-obat
yang apabila diberikan secara oral bisa memberi efek samping yang tidak diinginkan.
Misalnya efek penggumpalan darah akibat estrogen oral, atau iritasi lambung pada
obat-obat antiinflamasi non steroid dan aspirin/asetosal(Lucida, 2008).

Patch adalah salah satu rute pemberian obat secara perkutan yang ditujukan untuk
pemakain luar dengan sistem kontak dengan kulit secara tertutup. Sediaan patch
dibedakan menjadi 2 yaitu trasdermal lokal dan transdermal sistemik.

Sediaan transdermal merupakan sedian yang menyediakan rute alternatif untuk


menghantarkan obat menembus kulit hingga dapat mencapai peredaran darah
sehingga dapat menghindarkan obat dari kemungkinan terjadinya first pass
metabolism. Secara umum ada dua tipe dari system transdermal tersebut yang dapat
mengontrol laju pelepasan obat dalam kulit dan yang memungkinkan kulit untuk
mengontrol laju absorpsi dari obat (Ansel, 1995).
Transdermal path adalah sediaan farmasi yang fleksibel dalam persiapannya dari
berbagai ukuran yang mengandung satu atau lebih zat aktif. Patch di terapkan pada
kulit agar dapat memberikan zat aktif ke sistemik setelah melewati penghalang
kulit. Patch transdermal biasanya terdiri dari lapisan luar yang mendukung persiapan
yang berisi substansi aktif. (European Directorate for Quality of Medicines, 2005)

Keuntungan obat Transdermal :

 Meningkatkan kemudahan dan kenyamanan pemakaian obat


 Pelepasan obat dapat mudah dan diakhiri dengan cara melepaskan patch
 Mencegah metabolisme presistemik dihati dan saluran cerna
 Mengurangi variabilitas antar pasien
 Pengurangan fluktuasi kadar plasma obat
 Pemanfaatan calon obat dengan indeks terapeutik pendek setengah-hidup dan rendah
 Kadar obat dapat dikontrol pada sirkulasi sistemik untuk obat yang kerjanya
diperanjang
 Untuk kerja obat yang diperpanjang dapat mengurangi frekuensi pemberian obat
 Mengurangi tingkat konsentrasi plasma obat, dengan efek samping yang menurun.
(Patel, 2011).

Kerugian obat transdermal :

 Memiliki koefisien partisi sedang (larut baik dalam lipid maupun air).
 Memiliki titik lebur yang relatif rendah. Hal ini karena untuk dapat berpenetrasi ke
dalam kulit, obat harus dalam bentuk cair.
 Memiliki effective dose yang relatif rendah.
 Range obat terbatas (terutama terkait ukuran molekulnya).
 Dosisnya harus kecil.
 Kemungkinan terjadinya iritasi dan sensitivitas kulit (Patel, 2011)

III. FORMULA

A. Formula
Ibuprofen 500mg
Polivinil alkohol qs
PVP 4%
Nipagin 0,1%
Talkum 1%
Mg stearat 2%
Mcc ad 700 mg
B. Pemerian dan kelarutan
 Ibuprofen
Pemerian : serbuk hablur,putih,hingga hampir putih,berbau khas lemah.
Kelarutan : mudah larut dalam etanol dan praktis tidak larut dalam air.
Khasiat : analgetik dan antipiretik

 PVP (Povidanum)

Pemerian : Serbuk putih/ putih kekuningan,berbau lemah

Kelarutan : mudah larut dalam air, etanol 95% dan kloroform

Kegunaan : penghancur

 Polivinil alkohol
Pemerian : serbuk putih hingga berwarna krem
Kelarutan : larut dalam air
Kegunaan : pengikat
 Nipagin
Kegunaan : pengawet
 Magnesium stearat
Pemerian : serbuk halus,putih,bau khas lemah
Kelarutan : tidak larut dalam air,dalam etanol dan eter
Kegunaan : lubrican
 Talcum
Pemerian : serbuk hablur sangat halus, putih, berkilat
Kegunaan : pelicin
 Mcc
Pemerian : tidak berasa,serbuk kristal
Kelarutan : tidak larut dalam air
Kegunaan : zat pengisi

III. ALAT DAN BAHAN


ALAT
1. Gelas ukur 10. sudip
2. Mortir dan stamper 11. baskom
3. Pipet tetes 12. oven
4. Timbangan 13. Flowability tester
5. Ayakan no 14 dan 18 14. Tapped density tester (manual)
6. Beker glass 15. Hardness tester
7. Jangka sorong 16. Friability tester
8. Disintegration tester 17. Disollution tester
9. Mesin cetak tablet 18. Loyang

BAHAN

1. Ibuprofen
2. Pvp
3. Polivinil alkohol
4. Nipagin
5. Talkum
6. Mg stearat
7. Mcc

IV. PERHITUNGAN BAHAN/ DOSIS


berat tablet 700 mg x 150 = 105

Bahan obat Berat teori Berat sebenarnya


Ibuprofen 500 x 150 = 75 g 75 g
Polivinil alkohol 1g 1,002 g
Pvp 4/ 100 x 105 = 10,5 g 10,506 g
Nipagin 0,1/ 100 x 105 = 0,105 g 0,108 g
Talkum 1/100 x 105 = 1,05 g 1,053 g
Mg stearat 7/100 x 105 = 2, 1 g 2,104 g
Mcc 16, 245 g 16,246 g
Dosis Ibuprofen
DL 1 x = 400 mg
DL 1 hari = 500 mg – 2 g
V. PROSEDUR PEMBUATAN

Siapkan alat dan bahan

Timbang semua bahan

Ibuprofen, nipagin, mcc masukkan mortir kemudian basahi dengan


polivinil alkohol sampai terbentuk masa yang siap digranulasi

Ayak adonan dengan ayakan no 14 catat polivinil yang


digunakan

Timbang granul basah,kemudian masukkan granul yang


terbentuk ke dalam loyang, kemudian simpan dalam oven 40-
60◦C

Setelah kering, ayak kering dengan ayakan no 18 kemudian


timbang lalu uji kecepatan alirnya

Timbang granul seluruhnya

Tambahkan magnesium stearat dan talkum ke dalam granul


kering yang sudah ditimbang, campur homogen, kemudian cetak
menjadi tablet sebanyak 150 tablet
Lakukan uji fisik terhadap tablet ibuprofen yang sudah jadi

VII. HASIL EVALUASI

 Sifat fisik granul


1. Uji Organoleptis granul

Bau : tidak berbau

Bentuk : serbuk hablur

Warna : putih

2. Uji kadar air granul

Kadar air granul 0,198 %

3. Uji waktu alir granul

Waktu alir : 10, 5 detik

Tinggi : 4,8 cm

4. Sudut diam

Tan

= = 0,33
Tan = 0,33

= 18,26 < 40⁰

5. Uji pengetapan
100 ml- 94 ml = 6 ml
Massa sebelum = 47,565 g
Massa sesudah = 45,795 g
Rumus pengetapan
M - M
V akhir V awal
X 100 %
M
V akhir
45,795 g - 47,565 g
94 ml 100 ml
X 100 %
45,795 g
94 ml
= 2,36 %

 Sifat fisik tablet


1. Keseragaman bobot

Bobot rata-rata = = 0,502 g

No Bobot penimbangan Bobot penyimpangan


1 0,507 g
x 100 % = 0,9 %

2 0,495 g
x 100 % = 1,3 %

3 0,504 g
x 100 % = 0,39%

4 0,506 g
x 100 % = 0,79 %

5 0,510 g
x 100 % = 1,5 %
6 0,490 g
x 100 % = 2,3%

7 0,496 g
x 100 % = 1,1 %

8 0,496g
x 100 % = 1,1%

9 0,495 g
x 100 % = 1,3 %

10 0, 494g
x 100 % = 1,5 %

11 0,497 g
x 100 % = 0,99 %

12 0,505g
x 100 % = 0,59 %

13 0,493g
x 100 % = 1,7 %

14 0,501g
x 100 % = 0,19 %

15 0,510g
x 100 % = 1,5 %

16 0,498g
x 100 % = 0,79 %

17 0,510g
x 100 % = 1,5 %

18 0,503g
x 100 % = 0,19 %

19 0,509g
x 100 % = 1,3 %

20 0,511g
x 100 % = 1,7%
2. Keseragaman ukuran

No Diameter Tebal
1 1,225 mm 0,425 mm
2 1,215 mm 0,415 mm
3 1,210 mm 0,42 mm
4 1,215 mm 0,415 mm
5 1,215 mm 0,415 mm
6 1,210 mm 0,410 mm
7 1,215 mm 0,410 mm
8 1,215 mm 0,410 mm
9 1,215 mm 0,410 mm
10 1,215 mm 0,410 mm
Rata-rata tebal : 0,414 mm
Rata-rata diameter : 1,215 mm
11/3 < x < 3
0,552 < 1,215< 1,242
Memenuhi syarat diameter tidak lebih dari dan tidak kurang dari satu sepertiga
kali ketebalan tablet.

3. Uji Kekerasan

No Berat ( kg )
1 4
2 3
3 3
4 3
5 2
6 4
7 5
8 5
9 4
10 5
Memenuhi syarat antara 4-8 kg
4. Uji Kerapuhan
Bobot awal : 10,023 g
Bobot akhir : 10,012 g
Rumus Kerapuhan
W awal – W akhir x 100 %
W awal
10,023 g – 10,012 g x 100 %
10,023 g
= 0,11 %
Tablet memenuhi syarat kerapuhannya kurang dari 0,8%
5. Uji Waktu Hancur
Tidak hancur selama 15 menit. Tidak memenuhi syarat.

VIII. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, membuat tablet Ibuprofen. pembuatan tablet dengan
metode granulasi basah. Granulasi basah adalah metode pembuatan tablet dengan
mencampurkan bahan obat dan bahan pengisi, kemudian ditambah bahan pengikat
sampai masa terbentuk granul.

Hal pertama yang dilakukan adalah menimbang semua bahan yang akan
digunakan dalam pembuatan tablet. Setelah bahan ditimbang, dicampur hingga
homogen bahan aktif dan bahan tambahan. Kemudian ditambah sedikit demi
sedikit aquadest yang berfungsi sebagai pengikat. Pengikat ini berperan penting
dalam pembuatan granul, yaitu sebagai unsur yang membantu merekatkan bahan
dengan bahan lain sehingga terbentuk granul.

Masa granul diayak dengan ayakan nomor 14 agar terbentuk granul yang
diinginkan. Lalu granul dikeringkan dalam oven dengan maksud untuk
menghilangkan air yang terkandung dalam granul dengan cara pemanasan. Pada
proses pengeringan berlangsung terjadi perpindahan panas dan perpindahan masa.

Setelah granul kering, kemudian granul diayak lagi dengan ayakan no 18.
Setelah selesai diayak granul dicampur dengan bahan pelicin dan pelincir. Bahan
pelicin digunakan untuk memacu aliran granul dengan jalan mengurangi gesekan
antar partikel. Sedangkan pelincir berfungsi untuk mempercepat aliran granul
dalam corong ke dalam rongga cetakan.

Dilakukan berbagai uji pada pada tablet dan granul. Seperti uji fisik granul dan
uji fisik tablet. Pada uji kadar air granul, didapatkan hasil penyusutan sebesar
0,198% dan hasil ini tidak sesuai dengan kadar syarat yang ditentukan yaitu sekitar
2-4% (Lachman et al, 1994). Pada uji waktu alir granul, didapat hasil 10,5 detik
untuk waktu alirnya. Hasil ini tidak sesuai dengan syarat ketentuan (Siregar,2008)
yaitu kurang dari 10 detik. Uji sudut diam yang dilakukan mendapat hasil yaitu
18,26o . Hasil sesuai dengan ketentuan (Lachman et al,1994) yaitu sudut diam tidak
lebih besar dari 40o . Pada uji pengetepan didapat hasil pengujian dengan
menghitung persentase selisih volume granul tanpa dimampatkan terhadap volume
setelah pemampatan sebesar 2,36%. Hasil ini tidak sesuai dengan ketentuan
(Charles,35) dengan melihat tabel hubungan indeks carr & kemampuan alir serbuk.

Uji fisik pada tablet dilakukan uji keseragam bobot, dari hasil penimbangan dan
perhintungan hasil yang didapat sesuai dengan syarat dan ketentuan, yaitu
penyimpangan tidak melebihi 5% dilihat dari tabel penyimpangan bobot rata-rata
yang ada di Farmakope Indonesia Edisi III. Uji keseragam ukuran yang dilakukan
dengan 20 tablet menggunakan jangka sorong. Hasil rata-rata diameter tablet yang
diuji adidalah 1,215cm sedangkan tebalnya adalah 0,414cm. Dari hasil perhitungan
uji keseragaman bobot memenuhi syarat karena diameter tidak lebih dari 3x tebal

tablet dan lebih dari 1 tablet. Pada uji kekeradan tablet dengan 10 tablet

menggunakan hardness tester didapatkan hasil yang memenuhi syarat ketentuan


karena tablet pada angka 4-8, sedangkan syarat ketentuannya adalah 4-8. Uji
terakhir yang dilakukan adalah uji waktu hancur pada tablet dan didapat hasil tablet
hancur lebih dari 15 menit .pada uji waktu hancur tablet tidak memenuhi syarat.

Adanya hasil pengujian tablet yang tidak sesuai dikarenakan hasil tablet yang
tercetak kurang baik. Hal ini dikarenakan kurangnya pengikat yang digunakan saat
pembuatan tablet sehingga tablet yang terbentuk tidak maksimal.

IX. KESIMPULAN

Granul kami terdapat bagian serbuk halusnya berwarna putih dan tidak
berbau. Granul kami tidak memenuhi syarat kelembapan karena hasilnya sebesar
0,198 %. waktu alir granul tidak memenuhi syarat karena hasilnya 10.05 lebih dari
4 s untuk 40 g granul . granul memenuhi syarat uji sudut diam yaitu 18,26⁰ tidak
lebih dari 40◦C.
Keseragaman bobot kapsul memenuhi syarat keseragaman bobot karena
tidak ada tablet yang melebihi % kolom A dan B. tablet kami tidak memenuhi
syarat waktu hancur karena hancur pada waktu lebih dari 15 menit.

X. DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta.

Lucida, Henny., dkk, 2008,UjiDaya Peningkat Penetrasi Virgin Coconut Oil (VCO)
Dalam Basis Krim
Patel, Divyesh,.dkk, 2011, Transdermal Drug Delivery System :
Review(online), http://ijppronline.com/journal/february-2011-vol-1-issue-1/paper-10.pdf,
diakses tanggal 22 Desember 2011
Anonim, 2011, FDA Menyetujui Obat(online), http://id.hicow.com/food-and-drug-
administration/obat/disetujui-obat-1514738.html, diakses tanggal 22 Desember 2011.
Anonim, 2010, Sediaan Transdermal (online), http://www.scribd.com/doc/75456370/sediaan-
transdermal, diakses tanggal 22 Desember 2011

XI. LAMPIRAN