Anda di halaman 1dari 4

I.

TEORI DASAR
Emulsi adalah sistem yang tidak stabil secara termodinamika mengandung paling
sedikit dua fase cair yang tidak bercampur satu diantaranya terdispersi sebagai globulglobul (fase pendispersi) dalam fase cair lainnya (fase kontinyu) distabilkan dengan
adanya bahan pengemulsi/emulgator (FI IV,1995).
Emulsi adalah suatu dispersi atau suspensi suatu cairan dalam cairan yang lain,
yang molekul-molekul kedua cairan tersebut tidak saling berbaur tetapi saling antagonik.
Pada bagian emulsi biasanya terdapat tiga bagian utama yaitu bagian yang terdispersi
yang terdiri dari butiir-butir yang biasanya terdiri dari lemak, bagian kedua disebut media
pendispersi yang terdiri dari air dan bagian ketiga adalah emulsifier yang berfungsi
menjaga agar butir minyak tetap tersuspensi di dalam air (Winarno, 1992).
Emulsi merupakan suspensi yang stabil dari suatu bahan cair di dalam bahan cair
lain, dimana bahan-bahan cair itu tidak tercampur. Kemantapan emulsi diperoleh dengan
penyebaran butir sangat halus bahan cair, yang disebut fase dioperasi, menembus bahan
lain, yang disebut fase tetap. Emulsi stabil apabila cairan tersebut dapat menahan tanpa
mengalami perubahan, untuk waktu yang cukup lama,tanpa butir fase dispersi berkmpul
satu sama lain atau mengendap (Earle, 1969).
Emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam sistem
dispersi; yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya;
umumnya dimantapkan dengan zat pengemulsi (Martin,1971).
Emulsi adalah sistem heterogen, terdiri dari kurang lebih satu cairan yang tidak
tercampurkan yang terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan-tetesan di mana
diameternya kira-kira 0,1 mm atau dapat diartikan sebagai dua fase yang terdiri dari satu
cairan yang terdispersi dalam cairan lainnya yang tidak tercampurkan.
Dengan banyaknya pengertian maka dapat disimpulkan bahwa emulsi adalah
suatu sistem heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari paling
sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam
cairan lainnya dalam bentuk tetesantetesan kecil, yang berukuran 0,1-100 mm, yang

distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok. Salah satu fase cair dalam suatu
emulsi terutama bersifat polar (contoh : air), sedangkan yang lainnya bersifat non-polar
(contohnya : minyak).
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang ertinya menyerupai milk, warna emulsi
adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung
lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai
emulgator dipakai protein yang terdapat dalam bij tersebut. Pada pertengahan abad
XVIII, ahli farmasi perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum,
oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth dan
kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut
emulsi spuria atau emulsi buatan.

a. Pulvis Gummi Arabicum


Warna
: putih/ putih kekuningan seperti sereal
Rasa
: bermacam-macam
Bau
: Tidak berbau
Pemerian
: Putih/ putih kekuningan seperti sereal, granul, serbuk/
serbuk spray kering
Kelarutan
: Larut dalam 1: 20 gliserin, 1: 20 propilen glikol, 1: 2,7 air;
praktis tidak larut dalam etanol 95%.
Bobot jenis
: 240.000 580.000
pH larutan
: 4,5 5,0
Stabilitas
: Bakteri/ degradasi enzimatik dapat terjadi pada pemanasan
larutan dalam jangka waktu pendek dapat menonaktifkan
proses enzimatik
Inkompatibilitas: Amidopyrine, Apomorfin, Kresol, Etanol 95%, Garam besi,
Morfin, Fenol, Fisostigmin, Tanin, Tymol dan Vanilin.
Fungsi
: Emulgator alam
(Sumber: Handbook Of Pharmaceutical Excipients hal 1)
b.

Tween 80
Warna
Rasa
Bau
Pemerian

: Kuning
: Hangat
: Khas dan hangat
: Cairan kental

Kelarutan
Bobot jenis
pH larutan
Stabilitas

: Larut dalam air dan etanol, praktis tidak larut dalam minyak
mineral dan minyak sayur
: 1,065 1,095
:68
: Stabil terhadap elektrolit dan dan dalam asam serta basa
lemah perlahan-lahan akan terbentuk saponifikasi dengan
asam kuat dan basa kuat

Inkompatibilitas: Dapat terjadi pengendapan dan pelunturan warna dengan


beberapa zat khususnya fenol, tannin, tar seperti metanial,
aktivitas anti mikroba oleh bahan pengawet paraben dengan
menurunkan konsentrasi polysorbat
Fungsi

: Emulgator sintetik

(Sumber: Handbook of Pharmaceutical Excpients IV hal 479)


c. Span 80 (Sorbitan Monooleat 80)
Warna
: Kuning
Rasa
: Pahit
Bau
: Khas
Pemerian
: Cairan kental
Kelarutan
: Pada umumnya larut/terdispersi dalam minyak, larut dalam
pelarut organik, praktis tidak larut dalam air
Bobot jenis
: 346
pH larutan
:8
Stabilitas
: Perlahan-lahan akan membentuk busa dengan adanya asam
kuat dan basa stabil terhadap asam lemah dan basa lemah.
Dapat di simpan dalam wadah tertutup baik di tempat kering
dan dingin
HLB
: 4,3
Fungsi
: Emulgator sintetik
(Sumber: Handbook of Pharmaceutical Excpients IV hal 591)

Pembahasan

Emulsi adalah sistem yang tidak stabil secara termodinamika


mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur satu
diantaranya terdispersi sebagai globul-globul (fase pendispersi) dalam fase
cair lainnya (fase kontinyu) distabilkan dengan adanya bahan
pengemulsi/emulgator (FI IV,1995).

Tujuan dari pembuatan emulsi yaitu untuk membuat sediaan obat yang larut
dalam air maupun minyak dalam satu campuran. Tujuan lain dari pembuatan emulsi yaitu

menutupi rasa yang kurang enak, mempermudah proses pencernaan, dan memudahkan
pemakaian. Emulsi dibagi menjadi dua golongan untuk pemakaiaannya, yaitu untuk
pemakaian dalam dan pemakaian luar. Untuk pemakaian dalam meliputi per oral atau
pada injeksi intra vena, untuk pemakaian luar digunakan pada kulit atau membrane
mukosa yaitu linimen, lotion, cream, dan salep
Pada praktikum kali ini dilakukan penambahan emulgator, tujuannya untuk
menstabilkan emulsi dan mencegah penggabungan kembali globul-globul dengan
membentuk lapisan film diantara globul-globul tersebut. Emulgator yang digunakan yaitu
PGA (pulvis gummi arabicum), mekanisme kerja dari PGA adalah dengan cara
membentuk lapisan film multimolekular yang akan membungkus fase minyak sehingga
dapat bercampur dalam air. PGA juga bisa meningkatkan viskositas larutan sehingga
meminimalisir terjadinya pengendapan atau pemisahan dari fase minyak. Kemudian
emulgator lain yang di gunakan yaitu CMC-Na mekanisme kerja dari CMC-Na yaitu
membentuk lapisan film multimolekular disekeliling globul yang terdispersi, sehingga
mencegah globul-globul untuk bersatu kembali. Kemudian veegum, emulgator ini
merupakan emulgator golongan zat padat terbagi halus, mekanisme kerja dari emulgator
ini membentuk lapisan mono dan multimolekular, hal ini karena adanya partikel halus
uang terdispersi pada antar permuikaan kedua fasa. Kemudian emulgator lainnya yaitu
span-80 dan tween-80, emulgator ini merupakan golongan surfaktan yang memiliki
mekanisme kerja menurunkan tegangan permukaan atau antar permukaan minyak-air
serta membentuk lapisan film monomolekular pada permukaan fase terdispersi,sehingga
mencegah untuk bersatu kembali.