Anda di halaman 1dari 39

S1 Farmasi

Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

1. SUSPENSI
Adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi
dalam fase cair. Suspensi oral: sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam
pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai, dan ditujukan untuk
penggunaan dalam.

Jenis suspense digolongan dalam beberapa kriteria, yaitu berdasarkan penggunaan,


berdasarkan istilah dan berdasarkan sifat.
a. Berdasarkan penggunaan (FI IV, 1995)
1) Suspense oral: sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi
dalam pembawa cair dengan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk
penggunaan oral. Suspensi topica: sediaan cair mengandung partkiel pada
yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan
kulit.
2) Suspensi tetes telinga: sediaan cair yang mengandung partikel halus yang
ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
3) Suspense ophtalmik: sediaan cair steril yang mengandung partikel yang
terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.
Syarat larutan opthalmik adalah:
a) Obat dalam suspense harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak
menimbulkan iritasi dan atau goresan pada kornea.
b) Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang
mengeras atau penggumpalan.
b. Berdasarkan istilah
1) Susu, untuk suspensi dalam pembawa yang mengandung air yang ditujukan
untuk pemakaian oral. (contoh: susu magnesium).
2) Magma, suspsensi zat padat anorganik dalam air seperti lumput, jika zat
padatnya mempunyai kecenderungan terhidrasi dan teragregasi kuat yang
menghasikan konsistensi seperti gel dan sifat reologi tiksotropi (contoh:
Magma Bentonit).
3) Lotio, untuk golongan suspense topical dan emulsi untuk pemakaian kulit
(contoh: Lotio Kalamin).
c. Berdasarkan sifat
1) Suspensi Deflokulasi
2) Suspensi Flokulasi
d. Formula umum
1) Zat Aktif

6
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

2) Zat Tambahan
a) Bahan pensuspensi (suspending agent)
Fungsi: memperlambat pengendapan, mencegah penurunan partikel,
dan mencegah penggumpalan resin dan bahan berlemak.
Cara kerja: meningkatkan kekentalan. Kekentalan yang berlebihan akan
mempersulit rekonstitusi dengan pengocokan. Suspensi yang baik
mempunyai kekentalan yang sedang dan partikel yang terlindung dari
gumpalan/aglomerasi.
Contoh:
i. Golongan polisakarida, contoh acacia gum, tragakan, alginate
starc.
ii. Golongan selulosa larut air (water soluble celluloses), contoh:
metil selulosa, hidroksi selulosa, Na-CMC, avicel.
iii. Golongan tanah liat (clays), Contoh: Bentonit, aluminium
magnesium silikat, hectocrite, veegum
iv. Golongan sintetik, contoh: Carbomer (carboxyvinyl polymer),
Carboxypolymethylene, Colloidal silicone dioxide.
3) Zat Pembasah
Fungsi: menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air (sudut kontak)
dan meningkatkan disperse bahan yang tidak larut. Bahan pembasah yang
biasa digunakan antara lain: Surfaktan yang dapat memperkecil sudut kontak
antara partikel zat dan larutan pembawa.
Cara kerja: menghilangkan lapisan udara pada permukaan zat padat,
sehingga zat padat dan humektan lebih mudah kontak dengan pembawa.
Contoh: gliserin, propilen glikol, dll.
4) Pemanis
Fungsi: untuk memperbaiki rasa dari sediaan.
Catatan:
a) Pemanis yang biasa digunakan: sorbitol, sukrosa 20-25%
b) Sebagai kombinasi dengan pemanis sintetis: silkamat 0,5%, sakarin
0,05%.
c) Kombinasi sorbitol: sirupus simpleks = 30% b/v : 10% b/v ad 20-25%
b/v total.
d) pH > 5 dipakai sorvitol karena sukrosa pada pH ini akan terurai dan
menyebabkan perubahan volume
e) Sukrosa dapat menyebabkan kristalisasi.

7
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

5) Pewarna dan Pewangi


Pewarna dan pewangi harus serasi:
a) Asin: Butterscoth, Mafile, Apricot, Peach, Vanili, Wintergreen mint.
b) Pahit: Wild Cherry, Walnut, Chocolate, Mint Combination, Passion
Fruit, Mint spice anisi.
c) Manis: Buah-buahan berry, Vanili
d) Asam: Citrus, Licorice, Root beer, Raspberry.
6) Pengawet
Pengawet sangat dianjutkan jika kedalam sediaan tersebut mengandung
bahan alam, atau bila mengandung larutan gula encer (karena merupakan
tempat tumbuh mikroba). Selain itu pengawet juga diperlukan bila sediaan
dipergunakan untuk pemakaian berulang (multiple dose). Pengawet yang
sering digunakan:
a) Metil/propil paraben (2:1 ad 0,1 – 0,2% total)
b) Asam benzoate, Na-Benzoat,
c) Chlorbutanol/chlorkresol (untuk obat luar/mengiritasi)
d) Senyawa ammonium (ammonium klorida kuartener): OTT dengan metil
selulosa.
7) Antioksidan
Antioksidan jarang digunakan pada sediaan suspense, kecuali untuk zat aktif
yang mudah terurai karena teroksidasi. Antioksidan efektif pada konsentrasi
rendah.
Cara kerja: memblokir reaksi oksidatif yang berantai pada tahap awal dengan
memberikan atom hydrogen. Hal ini akan merusak radikal bebas dan
mencegah terbentuknya peroksida.
Beberapa antioksidan yang lazim digunakan:
a) Golongan kuinol (ex: hidroquinon, tokoferol, hidroksikroman, hidroksi
kumeran, BHA, BHT).
b) Golongan Katekhol (ex: kathekol, pirogalol, NDGA, Asam galat)
c) Senyawa yang mengandung nitrogen (exa: ester alkanolamin turunan
amino dan hidroksi dari p-fenilamin diamin, difenilamin, kasein,
edestin)
d) Senyawa yang mengandung belerang (ex: sisteina hidroklorid)
e) Fenol monohidrat (ex: timol)

8
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

8) Pendapar
Fungsi:
a) Mengatur pH
b) Memperbesar potensial pengawet
c) Meningkatkan kelarutan
Dapar yang dibuat harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk
mempertahankan pH. Pemilihan pendapar yaitu dengan pendapar yang pKa-
nya berdekatan dengan pH yang diinginkan. Pemilihan pendapar harus
mempertimbangkan inkompabilitas dan toksisitas. Dapar yang biasa
digunakan antara lain dapar sitrat, dapar fosfat, dapat asetat.

e. Prosedur umum
1) Timbang sejumlah zat aktif dan eksipien sesuai dengan yang dibutuhkan
2) Zat aktif dilarutkan pada pelarut dan diaduk. Bila terjadi flokulasi maka
dibutuhkan kecepatan tinggi dalam pengadukan
3) Buat campuran I zat yang larut air, aduk hingga terdispersi sempurna selama
beberapa menit
4) Buat Campuran II zat yang mengandung suspending agent, aduk hingga
terdispersi sempurna selama beberapa menit
5) Campurkan kedua campuran hingga merata
6) Suspensi yang dimasukan ke dalam alat pengisi (filler) dan diisikan kedalam
botol sebanyak yang dibutuhkan
7) Kemas, beri etiket dan brosur.

Formula I
No Nama Sat
1 Sulfur Praecipatum 4
2 Champora 0,6
3 Mucilago Gummi Arabicum 2
4 Solutio Hydratis Calcii 27,2
5 Aqua Rosarum 26,2

9
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Formula II
No Nama Sat
1 Chlorampenikol 125 mg
2 CMC Na 50 mg
3 Polysorbatum – 80 25 mg
4 Propilen glicolum 1
5 Sirupus simpleks 1,5
6 Perasa Qs
7 Aqua destilata Ad 60 ml

f. Evaluasi Sediaan:
1) Uji Organoleptis
2) Uji pH
3) Uji Bobot Jenis
4) Uji Viskositas
5) Uji Sedimentasi

10
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

2. EMULSI

Emulsi sedapat mungkin adalah suatu campuran rata daripada minyak, lemak, harsa.
Pada umumnya tidak bercampur dengan air yang dibuat menurut lazimnya dengan
penambaan suatu zat pembantu yang terutama karena sifatnya yang koloidal akan
menaikan viskositas campuran tersebut (gom, putih telur dsb)
Emulgator-emulgator:
a. Emulgator modern: Bentonit, emulsi penzylis Benzoas.
1) Bentonit ditaburkan diatas air, tanpa diaduk dan dibiarkan 24 ja, kemudian
baru diaduk
2) Bentonit sedikit-sedikit ditaburkan diatas air panas 80 OC, dibiarkan24 jam
kemudian baru diaduk.

Formula umum
1) Zat aktif
2) Eksipien:
a) Emulgator
b) Pelarut
c) Pengawet
d) Antioksidan
e) Pemanis
f) Perasa
g) Pewarna

Prosedur umum
1) Timbang sejumlah zat aktid dan eksipien sesuai yang dibutuhkan
2) Zat aktif dilarutkan dalam pelarutnya dan diadukZat aktif dilarutkan
pada pelarut dan diaduk. Bila terjadi flokulasi maka dibutuhkan
kecepatan tinggi dalam pengadukan
3) Buat campuran I zat yang larut air, aduk hingga terdispersi sempurna
selama beberapa menit
4) Buat Campuran II zat yang mengandung suspending agent, aduk hingga
terdispersi sempurna selama beberapa menit
5) Campurkan kedua campuran dan aduk hingga bercampur sempurna
selama beberapa menit

11
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

6) Emulsi yang dimasukan ke dalam alat pengisi (filler) dan diisikan


kedalam botol sebanyak yang dibutuhkan
7) Kemas, beri etiket dan brosur.

Formula III
R/ Oleum lecoris asseli 10 gram
Tween 2,5 gram
Span 2,5 gram
Aquades ad 75 gram

Nama Jumlah
Perbandingan Tween & Span 1 2 3
Tween 80 75 50 25
Span 80 25 50 75

Formula IV
No Nama Jmlh
1 Oleum iecoris Asseli 20
2 GOM 10
3 Aquadest 15
Mf. Corpus emulsi
Formula V
No Nama Jmlh
1 Oleum iecoris Asseli 10
2 Glycerol 1
3 Gummi Arabbicum 3
4 Oleum Cinnamomi Guttae II
5 Aqua destilata 22

Evaluasi sediaan
1) Uji Organoleptis
2) Uji pH
3) Uji Stabilitas
4) Uji Bobot Jenis
5) Uji Viskositas

12
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

3. SOLUTIO
Secara kuantitatif, kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut
didalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Kelarutan dinyatakan
dalam satuan milliliter pelarut yang dapat melarutkan 1 gram zat. Kelarutan
dinyatakan dalam satuan molalitas, molaritas dan persen.
Pelepasan zat aktif dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat fisika dan
kimia zat tersebut secara formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi
setelah zat aktifnya terlarut dalam cairan usus sehingga salah satu usaha untuk
mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikan kelarutan zat
aktifnya
Larutan didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat
kimia yang dapat larut biasanya dilarutkan dalam air. Larutan obat dalam air yang
mengandung gula (kombinasi dari air dan etil alcohol) disebut eliksir, larutan dari
bahan-bahan yang berbau harum disebut spirit jika pelarutnya mengandung alcohol
atau air aromatic. Larutan oral, sirup dan eliksir dibuat dan digunakan karena efek
tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini umumnya diharapkan dapat
memberikan efek sistemik biasanya berarti absorbsinya dari system saluran cerna
ke dalam sirkulasi sistemik lebih cepat daripada sediaan suspensi padat dari zat yang
sama. Untuk sediaan larutan hal yang terpenting adalah kelarutan dari zat yang akan
digunakan.
Formulasi sediaan cair dalam farmasi memerlukan beberapa pertimbangan antara
lain:
a. Konsentrasi obat
b. Kelarutan obat
c. Pemilihan pembawa air
d. Stabilitas fisika dan kimia
e. Pengawetan sediaan
f. Pemilihan eksipien yang sesuai seperti dapar, pensolubilisasi, pemanis,
peningkat viskositas, pewarna dan flavor.

Formula Umum
R/ Zat aktif
Bahan tambahan
Pelarut

13
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Bahan tambahan
Bahan tambahan yang biasa digunakan dalam sediaan sirup antara lain:
a. Zat pemanis
Diperlukan dalam sediaan oral cair. Figunakan untuk menutupi rasa pahit atau
konstituen rasa yang tidak dapat diterima. Contoh: sukrosa, sorbitol, mannitol,
glukosa cair, madu, sakarin, dll.
b. Bahan flavor
Sangat penting untuk sediaan likuid oral. Contoh: minyak jeruk, vanili.
c. Zat warna
Digunakan untuk menambah daya Tarik sirup, umumnya digunakan untuk zat
yang berhubungan dengan pemberi rasa yang digunakan (misalnya hijau untuk
rasa apel/permen)
d. Pengawet
Jumlah pengawet yang dibutuhkan untuk menjaga sirut terhadap pertumbuhan
mikroba berbeda-beda sesuai dengan banyaknya air yang tersedia untuk
pertumbuhan, sifat dan aktivitas sebagai pengawet yang dimiliki oleh beberapa
bahan formulasi dan dengan kemampuan pengawet itu sendiri. Contoh: asam
benzoate (0,1-0,2%), natrium benzoate (0,1-0,2%), asam borat dan garamnya
dll.
e. Dapar
Dapar yang umumnya digunakan dalam sediaan farmasi cair antara lain: asam
asetat dan garamnya, asam sitrat dan garamnya, asam glutamate, garam asam
fosfat.
f. Antioksidan
Antioksidan ditambahkan ke dalam larutan tersendiri atau dalam bentuk
kombinasi
g. Bahan pengontrol viskositas
Adakalanya dibutuhkan bahan peningkat viskositas untuk mengontrol atau
meningkatkan kemudahan untuk dituang sebelum digunakan. Contoh: CMC-
Na.

Pelarut
Beberapa pelarut yang sering digunakan pada sediaan larutan antara lain: air,
alcohol dan gliserin.

14
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Prosedur Umum.
Larutan encer dapat dibuat dengan melarutkan secara tepat dengan menambahkan
solute ke dalam solven dan diaduk sampai larut. Untuk zat yang tidak mudah larut
atau konsentrasi tinggi, kemungkinan diperlukan pemanasan. Eksipien biasanya
ditambahkan menurut uturan tertentu untuk meningkatkan kecepatan disolusi dan
untuk mempermudah agar dapat cepat mencapai kesetimbangan. Flavor
ditambahkan terakhir. Solute yang berada dalam konsentrasi kecil, sebelum
ditambahkan harus dilaritkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan. Setelah seua
tercampur dan homogen sirup dikemas dan diberi etiket serta brosur.

Evaluasi
Evaluasi sediaan berupa:
a. Organoleptis: warna, bau, rasa
b. Fisika
c. Kimia

Formula VI
No Nama Sat Jmlh
1 Parasetamol 120 mg/5 ml
2 Etanol 5 ml
3 Propilen glikol 7 ml
4 Sirup Simpleks 20 %
5 Asam Benzoat 0,1 %
6 Pewarna qs
7 Essence qs
8 Aquabidest Ad 60 ml

Formula VII
No Nama Sat Jmlh
1 Vitamin B1 5 mg
2 Vitamin B2 2 mg
3 Vitamin B3 20 mg
4 Vitamin B5 3 mg
5 Vitamin B6 2,5 mg
6 Vitamin B12 3 mg
7 Sirupus Simpleks 30 %

15
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

8 Nipagin 0,1 %
9 Essence qs
10 Aquadest Ad 100 ml

Formula VIII
No Nama Sat Jmlh
1 Amoxillin 1,5
2 Nipagin 0,1 %
3 Sukrosa 40 %
4 Pewarna qs
5 Essence qs
8 Alkohol 70 % qs

Formula IX
No Nama Sat Jmlh
1 Sol Kalium Permanganas 20 mg
2 Aquades Ad 200 ml
S. u. e

Formula X
No Nama Sat Jmlh
1 Sol Lugoli 25
S. t dd. Guttae V

Formula XI
No Nama Sat Jmlh
1 Sol Acidum Boricum 3
2 Aquades Ad 100 ml
S. u. e

Evaluasi sediaan
1) Uji Organoleptis
2) Uji pH
3) Uji Kejernihan
4) Uji Bobot Jenis
5) Uji Viskositas

16
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

4. GEL
Gel adalah sediaan dasar berupa lembekan system dispersi. Terdiri dari partikel
aonorganik submikroskopis atau organic makromolekul yang tersuspensi atau
terbungkus dan terbacam dalam cairan yang bercorak transparan atau translucent
hingga buram opak. Atau gel dapat pula diartikan berupa sediaan setengah padat
yang terdiri dari partikel anorganik kecil atau molekul organic besar yang
tersuspensi dalam cairan. Gel bersifat transparan, lunak, lembut, mudah dioleskan
dan tidak meninggalkan lapisan berminyak pada permukaan kulit. Berdasarkan
sifatnya gel dapat digolongkan menjadi:
a. Gel hidrofobik
Gel jenisini disebut juga oleogels yaitu formulasi gel yang terdiri dari basis
paraffin likuid dengan polyethylene atau minyak serta penyabunan dengan
silica, aluminium atau zink.
b. Gel hidrofilik
Gel jenis ini diseput hydrogel yaitu formulasi gel yang terdiri dari air, gliserol
atau propilenglikol sebagai geling agent digunakan tragakan, pati, derivate
selulosa, polimer karboksivinil dan magnesium aluminium silikat.

Formula umum:
R/ Zat aktif
Gelling agent
Bahan tambahan

Gelling agent
Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang
merupakan bagian penting dari system gel. Termasuk dalam kelompok ini adalah
gom alam turunan selulosa dan karbomer. Contoh gelling agent antara lain: natrium
alginate, karagenan, tragakan, Na CMC, HPMC, karbopol, dll.

Bahan tambahan
Bahan tambahan yang biasanya digunakan pada sediaan gel antara lain:
a. Pengawet
Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap seranga mikroba, tetapi semua
gel mengandung air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba.
Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan antara lain: metil hidroksi
benzoate 0,2% dengan propil hidroksi benzoate 0,05%, asam benzoate 0,2%,

17
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

dll. Pada umumnya pengawet dibutuhkan pelarut air yang mengandung metil
paraben 0,075% dan propil paraben 0,025% sebagai pengawet.
b. Penambahan humektan
Bertujuan untuk mencegah kehilangan air sehingga dapat menjaga kelembaban
gel dan berguna untuk memperlicin serta mencegah pecahnya gel atau
terjadinya kerak sisa gel setelah komponen lain menguap. Contohnya gliserol,
propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20%.
c. Chelating agent
Bertujuan untuk mencegah reaksi basis dan zat yang sensitive terhadap logam
berat. Contohnya: EDTA.
d. Peningkat penetrasi
Zat peningkat penetrasi adalah komponen kimia yang berinteraksi dengan lipid
dari stratum corneum untuk meningkatkan penetrasi obat tersebut sehingga
dapat menembus barrier stratum corneum dengan memodifikasi penghalang
kulit sehingga kulit lebih permeable terhadap obat. Contoh zat peningkat
penetrasi antara lain: hidrokarbon, alcohol, keton, dll.
e. Zat pewarna dan pewangi
Zat ini digunakan untuk menutupi bau dan penampilan yang kurang menarik
dari sediaan.

Prosedur umum
a. Timbang sejumlah gelling agent sesuai yang dibutuhkan
b. Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-masing
c. Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya.
d. Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam campuran
tersebut atau sebaiknya diaduk terus menerus hingga homogeny
e. Gel yang sudah jadi dimasukan kedalam alat pengisi jel dan diisikan ke dalam
tube sebanyak yang dibutuhkan
f. Kemas dalam wadah lengkapi dengan etiket dan brosur.

18
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Formula XII
No Nama Jumlah Jumlah
1 Asam Stearat 4%
2 NaOH 0,66%
3 Aquadest 6%
4 Propilenglikol 8%
5 Parfum 2%
6 Alkohol 96% 79,34%

Formula XIII
No Nama Jumlah Jumlah Jumlah
1 Carbopol 1% 1,5% 2%
2 TEA 3% 3% 3%
3 Gliserin 10 % 10 % 10 %
4 Propilenglikol 10 % 10 % 10 %
5 Aquadest 76 % 75,5% 75%

Formula XIV
No Nama Jumlah Jumlah Jumlah
1 Na CMC 3% 4% 5%
2 Gliserin 10 % 10 % 10 %
3 Propilenglikol 10 % 10 % 10 %
5 Aquadest 77 % 76 % 75 %

Evaluasi
a. Penampilan
b. Homogenitas
c. Viskositas
d. Distribusi ukuran partikel
e. Uji kebocoran
f. Isi minimum
g. Penetapan pH

19
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

GEL
Definisi
a. Gel kadang-kadang disebut jelli merupakan system semi padat terdiri dari suspense
yang dibuat dari partikel anorganik yang besar terpenetrasi oleh suatu cairan
(DepKes RI. 1995).
b. Gels are defined as semisolid system consisting of dispersions made up of either
smalls inorganic particle or large organic molecules enclosing and interpenetrated
by a liquid (Howard C. Ansel .1995).

c. Gel dibedakan menjadi 2 sistem


- Dua fase yaitu massa gel terdiri dari partikel kecil yang terpisah. Jika ukuran dari
fase terdispersi relative besar , massal gel kadang-kadang dinyatakan sebagai
magma.
- Satu fase yaitu jika terdiri dari makromolekul organic tersebar serba sama dalam
satu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro
yang terdispersi dalam Codexcairan. Gel ini bisa dibuat dari makromolekul sintetik,
misalnya carbomer dan gom arab(DepKes RI. 1995).
d. Gels are transparent or translucent semisolid preparations, consisiting of solution or
dispersions of one or more active ingredients insoluble hydrophilic or hydrophobic
bases. They are made with the aid of suitable gelling agent (Lund, W. 1994).

Persyaratan:
1. Stabil secara fisika kimia
2. Aman, tidak toxic, tidak mengiritasi kulit
3. Homogen, bahan aktif terdispersi merata dalam basis
4. Ukuran partikel seragam
5. Viskositas cukup
6. Penampilan menarik dan mudah digunakan

20
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

7. Mampu melekat pada permukaan pemakaian yaitu selama waktu yang layak
sebelum dicuci atau dihilangkan
8. Sediaan yang terbentuk mempunyai konsistensi jernih, halus, dan tidak lengket
9. Mudah dalam penuangan

Gel merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang dibuatdari
partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi
olehsuatucairan(DepartemenKesehatanRI,1995).Gelpadaumumnyamemiliki
karakteristik yaitu strukturnya yang kaku. Gel dapat berupa sediaan yang jernih
atau buram, polar, atau non polar, dan hidroalkoholik tergantung konstituennya.
Gel biasanya terdiri dari gom alami (tragacanth, guar, atau xanthan),bahan
semisintetis (misal : methylcellulose, carboxymethylcellulose, atau
hydroxyethylcellulose), bahan sintetis (misal : carbomer), atau clay (misal :
silikat). Viskositas gel pada umumnya sebanding dengan jumlah dan berat molekul
bahan pengental yang ditambahkan.
Gel dapat dikelompokkan menjadi :lipophilic gels dan hydrophilic gels.
1. Lipophilic gels (oleogel) merupakan gel dengan basis yang terdiri dari
parafin
cair,polietilenatauminyaklemakyangditambahdengansilikakoloidatausabun
- sabunaluminiumatauseng
2. Hydrophylicgels,basisnyaterbuatdariair,
gliserolataupropilenglikol,yangditambahgellingagentsepertiamilum,turuna
n selulosa,carbomerdanmagnesium-aluminumsilikat

Berdasarkan sifat pelarut terdiri dari hidrogel, organogel, dan xerogel.


Hydrogel (sering disebut juga aquagel)merupakan bentuk jaringan tiga dimensi
darirantaipolimerhidrofilikyangtidaklarutdalamairtapidapatmengembangdi
dalam air. Karena sifat hidrofil dari rantai polimer, hidrogel dapat menahan air
dalam jumlah banyak di dalam struktur gelnya(superabsorbent)

21
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Organogelmerupakanbahanpadatannonkristalindanthermoplasticyangterdapat
dalam fase cairan organic yang tertahan dalam jaringancross-
linkedtigadimensi.Cairandapatberupapelarutorganic,minyakmineral,atauminy
aksayur.Xerogel berbentuk gel padat yang dikeringkan dengan
carapenyusutan.
Xerogel biasanya mempertahankan porositas yang tinggi (25%),luas
permukaan yang besar (150-900 m2/g), dan ukuran porinya kecil (1-10 nm).
Saat pelarutnya dihilangkan di bawah kondisi superkritikal, jaringannya tidak
menyusut dan porous, dan terbentuk aerogel.
Gelling agent bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Gom alam dan
polimerberfungsidenganmembentuklapisantipispadapermukaanpartikel.Pada
saat dikempa, partikel cenderung beraglomerasi. Bahan sangat larut seperti
gula, mengikat partikel bersama dengan membentuk jembatan kristal. Pengikat
untuk proses granulasi basah biasanya dilarutka dalam air atau suatu pelarut
biasanya berupa alkohol dan larutan pengikat digunakan untuk membentuk
masa
basah/granul.Dalampengikatanpartikelbersamayangberperanadalahikatanvan
derwallsdanikatanhidrogen.Contoh:mikrokristalinselulosa,gomarab.

Penggunaan gelling agent dengan konsentrasi yang tinggi mengakibatkan


viskositas dari gel meningkat pula sehingga bisa mengakibatkan gel akan sulit
dikeluarkandariwadahnya.Temperatureyangtinggipadasaatpenyimpananakan
mengakibatkan konsistensi dari basis berubah, misalnya pada hydrogel yang
sebagian besar solvennya berupa air maka temperature yang tinggi akan
mengakibatkan sebagian dari solvennya akan menguap sehingga akan
mengakibatkan perubahan pada strukturgel.
Basis gel sebagian besar berupa polimer – polimer. Gel merupakan
crosslinkedsystemdimanaalirantidakakanterjadiapabilaberadadalamkeadaan

22
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

steady state. Sebagian besar bahan merupakn liquid tetapi gel memiliki sifat
seperti padatan karena adanya ikatan 3 dimensi didalam larutan. Ikatan ini
mengakibatkan adanya sifat swelling dan elastic. Untuk melihat kerusakan dari
struktur gel dapat dilihat dari kekakuan/rigidness dari gel tersebut.
Temperature tinggi dapat mengakibatkan kekakuan dari gel meningkat oleh
karena itu proses penyimpanan dari sediaan bentuk gel harusdiperhatikan.

23
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

5. SALEP

Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal


padakulitatauselaputlendir(DepKesRI,1995).Salepmerupakanbentuksediaan
dengan konsistensi semisolida yang berminyak dan pada umumnya tidak
mengandung air dan mengandung bahan aktif yang dilarutkan atau
didispersikan dalam suatu pembawa.

Pembawa atau basis salep digolongkan dalam 4 tipeyaitu

1. Basishidrokarbon

Basishidrokarbonmerupakanbasissalepyangbenar-benarbebasdariair.
Formulasibasishidrokarbondibuatdenganmencampurhidrokarboncair(min
yak
mineraldanparaffincair)denganhidrokarbonyangmempunyairantaialkylleb
ih panjang dan titik leleh lebih tinggi misalnya paraffin putih ataupin
paraffin kuning. Penggunaan basis salep hidrokarbon sebagai system
penghantaran obat topical sangat terbatas, karena sebagaian obat relatif
tidak larut dalam minyak
hidrokarbon.Masalahinidapatdiatasidenganmeningkatkankelarutanobatdal
am basis hidrokarbon, yaitu dengan mencampurkan pelarut-pelarut yang
dapat campur dengan basis hidrokarbon, misalnya isopropyl miristat atau
propilen
glikol.Salephidrokarbondigunakanterutamasebagaiemolien,sukardicuci,ti
dak mongering, dan tidak tampak berubah pada waktulama.

2. basisserap

Basis salep serap merupakan basis salep seperti basis hidrokarbon


(berlemak/berminyak) akan tetapi dapat bercampur atau menyerap air
dalam jumlah tertentu.Basis salep serap dapat dibagi menjadi 2 kelompok,
yaitu : basis salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air

24
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

dalam minyak (paraffin hidrofilik dan lanolin anhidrat) dan basis yang
terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan
sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Basis salep serap juga bermanfaat
sebagai emolien (DepKes RI, 1995).

3. basisyangdapat dicucidenganair

Basis salep yang dapat dicuci dengan air merupakan basis yang bersifat
dapat dicuci dari kulit dan pakaian dengan menggunakan air. Dalam
penggunaannya, salep dengan basis jenis ini mampu untuk mengabsorpsi
cairanserosal yang keluar dalam kondisi dermatologi. Obat jenis tertentu
dapat diabsorpsi lebih baik oleh kulit jika menggunakan dasar salep ini.
Contoh basis salep yang dapat tercuci dengan air adalah basis yang terdiri
dari alkohol stearat dan petrolatum putih (fase minyak), propilen glikol dan
air (fase air), serta Na lauril sulfat sebagai surfaktan.

4. Basislarut air.
Basis salep yang larut air merupakan basis yang hanya mengandung
komponen larut air, sehingga dapat tercuci air dengan mudah. Dalam
formulasi, basis jenis ini digunakan untuk mencampur bahan obat yang
tidak berair atau
bahanpadat.ContohbasissalepyanglarutairadalahsalepPEGyangmerupakan
kombinasi antara PEG 3350 dengan PEG 400 dengan perbandingan 4:6.

Faktor-faktor dalam pemilihan basis salep untuk memformulasi suatu bahan


aktif menjadi sediaan semisolida :
1. Khasiat yang diinginkan
2. Sifat bahan obat yang dicampurkan
3. Ketersediaan hayati
4. Stabilitas dan ketahanan sediaan jadi

25
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Pembuatan formulasi sediaan salep dapat dilakukan dengan dua metode umum
yaitu metode pencampuran dan metode peleburan.

1. Metode pencampuran, komponen salep dicampur bersama-sama sampai


diperoleh massa sediaan yang homogen. Penghalusan komponen sebelum
proses pencampuran kadang diperlukan sehingga dapat dihasilkan salep
yang tidak kasar saat digunakan.

2. Metode peleburan semua bahan dicampur dan dilebur pada temperatur


yang lebih tinggi daripada titik leleh semua bahan, kemudian dilakukan
pendinginan dengan pengadukan konstan. Pendinginan yang terlalu cepat
dapat menyebabkan sediaan menjadi keras karena terbentuk banyak kristal
yang berukuran kecil, sedangkan pendinginan yang terlalu lambat akan
menghasilkan sedikit kristal sehingga produk menjadi lembek.

26
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

6. KRIM

Krim merupakan bentuk emulsi dengan konsistensi


semisolidasehinggamempunyai viskositas yang lebih tinggi dibandingkan dengan
sediaan likuida. Sediaan krim terdiri dari dua fase yang tidak saling ampur, yaitu
fase internal (fase terdispersi) dan fase eksternal (fase pendispersi) yang
digabungkan dengan adanyasurfaktan.
Penggunaan surfaktan sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas krim secara
termodinamika. Surfaktan yang sering digunakan adalah surfaktan
golonganionicdananionic,sedangkansurfaktankationikhanyadigunakandalam
kombinasi dengan surfaktan tipe lainnya. Contoh-contoh surfaktan yang sering
digunakanantaralain:sodiumalkylsulfat,alkylammoniumhalida,polioksietilen
alkyl eter, sorbitan, dan lain-lain
Penggunaan campuran dari beberapa surfaktan dalam satu formula
semisolida,dapatmemberikansediaanyanglebihstabiljikadibandingkandengan
penggunaansurfaktantunggal.Sedangkankomponenlainyangperluditambahkan
dalam sediaan semisolida adalah kosolven, peningkat viskositas, preservatif,
dapar, antioksidan, dan korigen. Penggunaan bahan-bahan tambahan tersebut
harus disesuaikan dengan sifat fisikokimia bahan aktif yang digunakan. Hasil
campuran bahan aktif dan bahan-bahan tambahan tersebut harus dapat
menghasilkan sediaan sem isolida yang memenuhi persyaratan aman ,efektif,
stabil dan dapat diterima oleh masyarakat. Aman berarti sediaan tersebut
memiliki kandungan bahan aktif yang sesuai dengan monografi dan tidak
memberikan pelepasan bahan aktif dalam jumlah yang sesuai dari sediaan pada
tempat penggunaannya. Stabil berarti sediaan tidak mengalami perubahan sifat
dan konsistensi baik secara fisika, kimia, mikrobiologi, toksikologi, maupun
farmakologi.

Krim dengan basis minyak dalam air memiliki sifat yang lebih nyaman dan
cenderung disukai oleh masyarakat, karena memberikan konsistensi yang

27
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

berminyak dan cenderung lengket, akan tetapi banyak bahan aktif yang bersifat
hidrofobik yang pelepasannya lebih mudah jika menggunakan basis jenis ini.
Krim air dalam minyak sering digunakan untuk memberikan efek emolien pada
kulit.
Sediaan krim banyak digunakan untuk sediaan obat misalnya untuk obat anti
inflamasi, antijamur, anastetik, antibiotik, dan hormon. Sediaan krim juga
sering digunakan dalam industri kosmetik, misalnya untuk sediaan pembersih,
emolien, tabir surya, antiaging, dan masih banyak lagi.

28
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

7. PASTA
Pasta merupakan sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang
ditujukan untuk pemakaian topikal ( FI IV, 1994). Pasta merupakan ointment yang
mengandung sekitar 50 % serbuk yang terdispersi dalam basis berlemak., namun pasta
kurang berlemak dibandingkan ointment karena serbuk akan mengabsorbsi sebagian
hidrokarbon air (Aulton, Pharmaceutical Practice). Pasta biasanya digunakan sebagai
penghambat yang melindungi kulit seperti pengobatan dengan masker atau pelindung
muka dan bibir dari matahari.

Penggolongan
Menurut FI IV, ada dua kelompok utama pasta :
a. Kelompok pasta yang dbuat dari gel fase tunggal mengandung air
Contohnya : pasta natrium karboksi metilselulosa (CMC)
b. Kelompok pasta berlemak
Contohnya : pasta Zink oksida (pasta padat, kaku, tidak meleleh pada suhu tubuh dan
berfungsi sebagai pelindung bagian yang diolesi)

Berdasarkan kandungannya ada 3 macam pasta :


a. Pasta berlemak
Merupakan salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat. Bahan dasar salep :
vaselin, parafin cair.
b. Pasta kering
Merupakan pasta bebas lemak mengandung ± 60% zat padat (Serbuk)
c. Pasta pendingin

Keuntungan dan kerugian bentuk sediaan pasta antara lain :


1. Pasta mengandung lebih banyak bahan padat dan oleh karena itu lebih kental dan
kuring meresap dari pada salep. Pasta biasanya digunakan karena kerjanya yang
melindungi dan kemampuannya menyerap kotoram seru dari luka-luka di kulit

29
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

2. Konsep pembuatan pasta adalah bahwa konsentrasi zat padat yang tinggi dapat
mengabsorpsi eksudat kulit, namun karena partikel tersebut disalut lemak, maka
membatasi penyerapan air. Konsistensinya yang tinggi menjadikan pasta dapat
berfungsi sebagai pelokalisasi zat yang iritan.
3. Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibanding salep
karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air. Pasta ini
cenderung untuk menyerap sekresi seperti serum dan mempunyai daya penetrasi
dan daya maserasi lebih rendah dibandingkan salep. Oleh karena itu pasta
digunakan untuk luka dengan lesi akut yang cenderung membentuk kerak.

Pastamerupakansediaansemipadatyangmengandungsatuataulebihbahanobat
yang ditujukan yang ditujukan untuk pemakaian topikal (Departemen
Kesehatan
RI,1995).Pastaialahcampuransalepdanbedaksehinggakomponenpastaterdiri
dari bahan untuk salep misalnya vaselin dan bahan bedak seperti
talcum,oxydum
zincicum.Pastamerupakansaleppadat,kakuyangtidakmelelehpadasuhutubuh
dan berfungsi sebagai lapisan pelindung pada bagian yang diolesi. Efek pasta
lebih melekat dibandingkan salep, mempunyai daya penetrasi dan daya
maserasi lebih rendah dari salep. Sediaan berbentuk pasta berpenetrasi ke
lapisan kulit. Bentuk sediaan ini lebih dominan sebagai pelindung karena
sifatnya yang tidak meleleh pada suhu tubuh. Pasta berlemak saat diaplikasikan
di atas lesi mampu menyerap lesi yang basah sepertiserum.

30
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

8. SUPPOSITORIA
Suppositoria adalah bentuk obat luar berupa torpedo, kerucut atau bulat telur yang cara
pemakaiannya dimasukkan ke dalam dubur. Pada suhu kamar terbentuk padat dan
akanmencair pada suhu tubuh.

Berat Gram
Massa suppositoria
Anak-Anak Dewasa
Oleum cacao 3 2
Gelatin 4 2,5
Sapo-glycerin 4 4
Glycerin-gelatin 4 3
Carbowax (PEG) 3,9 2,5
Glycerin c. Ol. Cacao 4 3

SUPPOSITORIA DENGAN OLEUM CACAO


Jika tidak dikatakan lain maka suppositoria selalu dibuat dengan oleum cacao dengan
melarutkan atau membagi bahan obat menurut sifatnya ke dalam air. Dan jika perlu
dapat ditambahkan cera flava cacao unguentum simpleks. Dapat pula ditanyakan
apakah dapat diganti dengan PEG karena massa ini lebih baik. Jika tidak tertulis apa-
apa maka berat 1 suppositoria untuk orang dewasa adalah 3 gram dan anak-anak 2
gram.
a. Sebagian oleum cacao dapat diganti dengan unguentum simpleks paling banyak
5% yaitu jika tidak boleh ada air misalnya diuretin dan tanin atau obat yang dipakai
tidak larut dalam air. unguentum simpleks terdiri dari cera flava 30% dan oleum sesami
70%.

31
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

b. Sebagian oleum cacao diganti dengan cera flava 6% jika terdapat zat-zat yang
higroskopis jika yang mencair dengan oleum cacao misalnya Camphora, Menthol,
Chloralhidrat, Thymol.
c. Pengerjaan dalam suppositoria sama dengan pembuatan salep yaitu bila daya
serap oleum cacao akan air kecil
Formula Umum
1. Zat Aktif
2. Basis :
a. Surface-active agent, contoh sorbitan ester dan polyoxyethylene sorbitan fatty
acid ester
b. Zat untuk menurunkan higroskopisitas
c. Zat untuk mengkontrol melting point basis, contoh glyceryl monostearate,
myristyl alcohol, polysorbate 80 dan propylene glycol
Prosedur Umum
Sebelum dibuat massanya terlebih dahulu diketahui dengan cara apa kita mengolahnya
yaitu
1. Dengan cara menggulung : massa dibuat 1 berlebih, jadi untuk 6 supp dibuat massa
7 supp.
2. Dengan cara menuang : diambil 50% berlebih, jadi untuk 6 supp dibuat massa 9
supp.
3. Dengan cara mencetak dengan press : dibuat massa 2 berlebih, jadi untuk 6 supp
dibuat massa 8 supp.

SUPPOSITORIA DENGAN GELATIN


Menurut farmakope Belanda dan CMN perbandingannya adalah :
CMN Farmakope Belanda
Gelatin 14 2
Aqua 16 4

32
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Gliserin 70 5

Suppositoria dengan gelatin hanya dapat dibuat dengan cara menuang dan harus
diambil 50% berlebih. Senyawa-senyawa yang bereaksi asam tidak boleh dicampur
dengan gelatin karena OTT

33
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

9. OVULA
Ovula disebut juga globuli vaginales atau suppositoria vaginales.
Jenis-jenisnya antara lain ;
1. Ovula dengan carbowax
Berat ovula dengan carbowax 2,5 g, dicetak cepat. Contoh :
R/ Carbowax 4000 70 %
Carbowax 1500 30 %
Lumerkan, jika memakai carat tuang dilebihkan 50 %

2. Ovula dengan gliserin dan gelatin


Contoh
R/ Gelatin 2
Aquae 3
Glycerin 4

3. Ovula dengan oleum


Berat Umumnya 5 g. Pembuatan sama dengan suppositoria. Pada umumnya :
a. Jika obat larut dalam oleum cacao maka dilarutkan dalam oleum cacao cair dan
dicetak
b. Jika tidak larut dalam oleum cacao, maka digunakan cara :
- Digerus dan dicampur dengan oleum cacao cair kemudian dicetak
- Tidak dtuang, tapi dbuat dengan cara digulung
c. Cetakan dilapisi dengan spiritus saponatus atau paraffin cair
d. Oleum cacao yang baik adalah yang mengandung cera flava 6%
Formula Umum
1. Zat Aktif
2. Basis :

34
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

a. Surface-active agent, contoh sorbitan ester dan polyoxyethylene sorbitan fatty


acid ester
b. Zat untuk menurunkan higroskopisitas
c. Zat untuk mengontrol melting point basis, contoh glyceryl monostearate,
myristyl alcohol, poly sorbate 80 dan propylene glycol
Prosedur Umum
Sama seperti procedur pada suppositoria

35
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat, Jakarta : UI


– Press
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia IV,. Penerbit Dirjen POM : Jakarta.
Djuanda A. 1994. Pengobatan topikal dalam bidang dermatologi. Yayasan
Penerbitan IDI. Jakarta

Gaur, R., Azizi, M., Gan, J., Hansal, P., Harper, K., Mannan, R., Panchal, A.,
Patel, K., Patel, M., Patel, N., Rana, J., Rogowska, A.,2008. British
Pharmacopoeia 2009. (Electronic version).

Hamzah M. 2007. Dermatoterapi. In: Hamza M, Aisah S, eds. Ilmu Penyakit


Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: FKUI

Niazi, S.K..2004. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulation


Semisolid Products, CRC Press

Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Weller, P.J. 2003. Hand Book of
Pharmaceutical Excipient 4th Edition. London: Pharmaceutical Press and
American Pharmaceutical Association

SharmaS.2008.Topicaldrugdeliverysystem:Areview.Pharmaceut.Rev.6:1-29.
Walters,K.A.2002.DermatologicalandTransdermalFormulations,Marcelland
Dekker, New York.

36
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Lampiran 1.

Materi Praktikum

PraktikumI : Formulasi Sediaan Salep/Krim

PraktikumII : Formulasi Sediaan Pasta

Praktikum III : Formulasi Sediaan Gel

PraktikumIV :Formulasi Sediaan Suppositoria

37
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Lampiran 2

Format Jurnal/laporan praktikum (untuk praktikum I, II, dan III)


JudulPraktikum :

Hari/Tanggal :

Kelompok :

NamaPeserta :

MateriPraktikum :

I. TujuanPraktikum

II. DasarTeori

III. Evaluasi ProdukReferen

IV. Studi Praformulasi BahanAktif

Tabel 1. Hasil Studi Pustaka Bahan Aktif

No Bahan Efek Efek Karakteristik Karakteristik Sifat

Aktif Utama Samping Fisik Kimia Lain

Alasan pemilihan bahan aktif:


Target organ yangdituju:
Tujuanterapi :Lokal/sistemik
Bentuk sediaan yangdipilih:
Alasan :

Dosis dan Perhitungannya:

38
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

V. Jenis dan Contoh Bahan Tambahan dalamFormula

VI. Susunan Formula dan Komposisi Bahan yangdirencanakan

Tabel 2. Rancangan Formula per Satuan Kemasan

No Bahan Fungsi Jumlah

VII. Metode:
- Alat

- Prosedur Pembuatan

- Prosedur Evaluasi
VIII. RancanganEtiket,BrosurdanKemasan

IX. Hasil dan Pembahasan

X. Kesimpulan

XI. Daftar Pustaka

39
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

PRAKTIKUM I
PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN CREAM
I. TUJUAN :
Dapat membuat dan mengevaluasi bentuk sediaan krim untuk penggunaan obat
luar dengan formula krim kloramfenikol dan sulfadiazine

II. FORMULASI
a. Resep/Formulasi
Formula I : Dibuat 10 gram

R/ Sulfadiazin 3%
Nipagin 0,1 %
Parfum Melati q.s
Basis Cream 100%

Formula II : Dibuat 10gram

R/ Kloramfenikol 2%
Nipagin 0,1 %
Parfum Melati q.s
Basis Cream 100%

Formula Standar untuk Basis Krim Berdasarkan FOI Hal 17


Cleansing Cream
Tiap 10 gram mengandung:

R/ Asam Stearat 145


Trietanolamin 15
Lemak Bulu Domba 30
Paraffin Cair 250
Aquades 550
Nipagin q.s

40
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN SALEP
I. TUJUAN

Dapat membuat dan mengevaluasi bentuk sediaan salep untuk penggunaan obat luar
dengan formula sebagai berikut:
a. Salep Cap Kaki Tiga
b. Salep88
c. SalepPagoda
II. FORMULASI
a. Salep 88, dibuat 25gram

R/2 Acid salicyl 60mg


AcidBenzoicum 65mg
Sulfur Praeciptatum 60mg
Camphora 30mg
Mentho 25mg
l Base 100 mg

b. Salep Cap Kaki Tiga, dibuat 20gram

R/ Acid salicyl 10 %
Acid Benzoicum 6%
Sulfur Praeciptatum 8%
Menthol 0,3%
Base ad 100 %

c. Salep Pagoda, dibuat 25 gram

R/ Acid salicyl 12 %
Acid Benzoicum 10 %
Sulfur Praeciptatum 5%

Camphora 3%
Menthol 1%
Base ad 100 %

41
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
PERCOBAAN II
PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN PASTA
I. TUJUAN :
Dapat Membuat dan mengevaluasi bentuk sediaan pasta untuk
penggunaan obat luar dengan formula I sampai Formula III
II. FORMULASI
a. Resep/Formulasi
Bahan Formula I (%) Formula II(%) Formula III(%)
Ca. Carbonat 49 49 49
Glyserin 20 30 25
Na. siklamat 0,1 0,1 0,1
Gom tragacant 1,2 1,2 1,2
Na Lauryl sulfat 10 10 10
Oleum Menthae q.s q.s q.s
Aquadest ad 100% 100% 100%

42
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
PERCOBAAN III
PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN GEL
I. TUJUAN :
Dapat membuat dan mengevaluasi bentuk sediaan gel untuk penggunaan obat luar
dengan formula sulfadiazine dan resorcinol
Dapat membuat sediaan balsem
II. FORMULASI
a. Resep

R/ Sulfadiazin 5% R/ Recornicol 49%


Parfum melati 0,5% Parfum melati 30%
Nipagin 0,12% Nipagin 1,2 %
Unguentum gliserin ad 96,8% Unguentum gliserin 0,1 %
m.f. gel 10 gram m.f. gel 10 gram

BALSAMUM RUBRUM
R/ Minyak tjengkeh 4
Balsem Merah cap Macan Minyak kayu manis 5
R/ Ol. Caryophyli 4 Minyak kayu putih 11
Ol. Cinnamomum 5 Kamfer 10
Ol. Cajuputi 11 Menthol 20
Camphor 10 Parafin padat 20
Menthol 20 Vaselin kuning 30
Paraffin solidum 20 Campurkan dan buat balsam
Vaselin Flavum
100
Sumber: Formularium Indonesia hal.39
Balsem Balpirik Kayu Putih
R/ Oleum Cajuputi 10%
Oleum Eucalypti 4%
Oleum Myristicae 1%
Thimenosol 2%
Menthol 0,5%
Vaselin Album ad 100

43
S1 Farmasi
Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
PERCOBAAN IV
PEMBUATAN DAN EVALUASI SEDIAAN SUPPOSITORIA
III. TUJUAN :
Dapat membuat dan mengevaluasi bentuk sediaan suppositoria dengan basis oleum
cacao dan PEG
IV. FORMULASI
a. Resep

R/ Parasetamol 125 mg
Vaselin album 4%
Acetil alkohol 4%
Oleum cacao ad 1 gram
m.f. suppo

b. Suppositoria aminofilin
R/ Aminofilin 250 mg
Oleum Cacao qs.
Cera 5%

44