Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat-nyalah penyusun dapat menyelesaikan laporan ini. Selanjutnya penyusun menghanturkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada ayahanda dan ibunda tercinta karena berkat doa-nyalah, penyusun mendapatkan kemudahan dalam menyelesaikan laporan ini. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini dapat selesai karena bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, secara tulus penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Bapak Drs. Sulaiman Siddik M.Si., selaku dosen penanggung jawab Mata Kuliah Kartografi Praktikum dan kepada Kanda Nurkhalik selaku asisten lapangan dalam praktikum lapang Mata Kuliah Kartografi Praktikum yang selalu memberikan bantuan dan arahan dalm melakukan praktek lapangan. Serta tak lupa pula penyusun ucapkan banyak terima kasih kepada temanteaman yang telah berkenan memberikan bantuan, sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya konstruktif demi kesempurnaannya. Akhirnya penulis berharap kiranya laporan ini dapat bermangfaat bagi kita semua. Dan hanya kepada tuhan kita serahkan segalanya. AMIEN.

Makassar,

Januari 2008

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dasar pelaksanaan praktikum ini didasarkan karena mata kuliah praktek kartografi yang dialokasikan pada semester tiga (ganjil) program strata satu.Yang mengharuskan adanya praktek lapangan. Subpokok yang akan praktekan yaitu pengukuran jalan dengan menggunakan theodolit, altimeter, kompas lensa, kompas geologi, roll meter, serta ploting jalan, analisis data dan penggambarannya. B. Tujuan Praktikum a. Tujuan umum Secara umum praktikum lapangan ini bertujuan agar mahasiswa memiliki keterampilan mengukur di lapangan dengan alat sederhana dan alat optik (theodolit) dan selanjutnya mengolah data hasil pengukuran kemudian menggambarkannya dalam bentuk peta. b. Tujuan Khusus Setelah mahasiswa mengadakan praktikum di lapangan maka diharapkan dapat : 1. 2. 3. C. Sasaran Sasaran dalam praktek ini adalah : a. Pengukuran pada jalan-jalan utama atau jalan raya dan jalan biasa terampil menggunakan alat ukur tanah dengan baik menurutr terampil menggunakan kompas dan roll meter terampil membuat peta dari hasil praktek prinsip pengukursn untuk pembuatan peta

b. c. d. e.

Menentukan

batas-batas

administrasi

untuk

dimasukkan

dalam

pembuatan peta Melakukan tentang kualitas penduduk untuk diaplikasikan kedalam peta Melakukan survey tentang penggunaan lahan lokasi praktek lapangan Melakukan survey tentang penyebaran pemukiman dan kualitas pemukiman lokasi praktek untuk diaplikasikan kedalam peta tata guna lahan pengaplikasiannya kedalam peta persebaran penduduk D. Waktu dan Tempat Pelaksanaannya Lokasi praktek lapangan mata kuliah Kartografi Praktikum

dilaksanakan pada hari jumat sampai minggu yaitu pada tanggal 30 november sampai 2 Desember 2007 bertempat di Pulau Barrang Lompo kota Makassar. E. Persiapan - Alat 1. Theodolit untuk mengukur jarak, kemiringan, dan azimut 2. Kompas untuk mengukur arah 3. Klinometer untuk mengukur kemiringan 4. Mistar segitiga untuk mengukur jarak peta 5. Busur derajat untuk mengukur asimut pada peta - Bahan 1. Kertas grafik untuk menggambar peta 2. Peta administrative untuk melihat lokasi praktek 3. Peta penggunaan lahan untuk mengetahui jenis-jenis lahan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Pengertian dan Jenis Peta a. Pengertian peta Peta adalah gambaran konfensional dari permukaan bumi yang digambarkan seolah-olah terlihat dari atas pada bidang datar melalui suatu bidang proyeksi dengan dilengkapi tulisan dan simbol untuk identifikasinya dengan skala tertentu. b. Bagian-bagian peta Bagian-bagian peta yang pokok antara lain : 1). Judul peta Peta harus diberi judul yang mencerminkan isi dan type peta. Judul dapat diletakkan disembarang tempat asal tidak mengganggu peta utama. Beberapa kemungkinan judul dapat diletakkan pada : bagian atas, tengah dan luar peta pokok, bagian atas kiri atau kanan luar peta pokok atau disembarang tempat dalam peta tetapi diluar peta pokok. 2). Garis astronomis Berguna untuk menentukan lokasi suatu tempat. Biasanya hanya dibuat tanda ditepi atau padagaris tepi dengan menunjukkan angka derajat, menit dan detiknya tanpa membuat garis bujur dan garis lintang. 3). Inset Menunjukkan lokasi daerah yang dipetakan pada kedudukannya pada daerah disekitarnya yang lebih luas. Contoh : kita menggambar peta Jeneponto maka kita membuat peta Sulawesi Selatan ditempat yang kosong.

4). Garis tepi pantai Garis tepi peta sebaiknya dibuat rangkap. Garis tepi ini dapat membantu membuat peta, pulau, kota, ataupun wilayah yang dimaksud tepat ditengahtengahnya. 5). Skala peta Skala peta yang digambarkan akan menjadi jelas daya muat peta yang digambarkan dan akan menjadi pertimbangan dalam menetapkan jenis symbol yang akan digunakan serta criteria data yang digambarkan. 6). Legenda atau keterangan Legenda atau keterangan peta akan memperjelas arti dan makna symbol yang digambarkan dalam peta agar mudah dimengerti dan dan mudah ditangkap maknanya. 7). Sumber pete dan tahun peta Sumber peta dicantumkan supaya pembaca tahu dimana sumber peta itu diperoleh dan tahun pembuatannya. 8). Tanda arah/ mata angin/ petunjuk arah Petunjuk arah sangat penting untuk mengetahui arah Utara, Selatan, Timur dan Barat. 9). Simbol peta Simbol peta merupakan tanda-tanda konvensional yang umum digunakan untuk mewakili keadaan yang sebenarnya, misalnya jalan, sungai dan lainlain. 10). Warna peta Warna dalam peta mencirikan keadaan objek tertentu, misalnya : warna biru biasanya digunakan untruk menggambarkan tentang curah hujan, warna laut, sungai dan danau, warna merah menggambarkan keadaan suhu dan lain-lain.

11). Lettering Lettering adalah semua tulisan dan angka-angka untuk mempertegas arti dari symbol-simbol yang ada. Lettering ini jangan terlalu banyak dan biasanya ditulis dengan huruf cetak miring. 12). Penggunaan tulisan pada peta a. Judul peta ditulis dengan huruf cetak besar yang tegak. Tinggi huruf disesuaikan dengan besar peta. b. Kenampakan di air misalnya sungai, laut, rawa, danau menggunakan huruf miring, besar kecilnya berdasarkan srateginya. c. Tulisan sungai ditulis memanjang sesuai dengan arah sungai. Untuk penulisan dapat diletakkan dibagian atas atau bawah sungai. d. Legenda ditulis dengan huruf cetak kecil dan diatur supaya baik untuk dilihat. e. Kota-kota besar ditulis dengan huruf tegak dan cetak, lebih kecil dari judul peta. Untuk kota-kota kecil hurufnya juga harus lebih kecil lagi. c. Jenis-jenis peta - Jenis-jenis peta dapat digolongkan berdasarkan isi dan fungsinya, yaitu : 1). Peta umum, peta yang memuat kenampaka-kenampakan umum ( lebih dari satu jenis baik kenampakan fisis maupaun kenampakan budaya ). 2). Peta khusus, peta yang memuat satu jenis kenampakan saja, baik kenampakan fispk maupun budaya. 3). Peta car, peta yang didesain untuk keperluan seperti navigasi, noutocal dan lain-lain. - Jenis peta berdasarkan tujuan, yaitu : 1). Peta geologi, untuk menunjukkan formasi batuan atau aspek geologi lainnya disuatu daerah. 2). Peta iklim, untuk menunjukkan berbagai macam sifat iklim disuatu daerah. 3). Jenis-jenis lainnya. Misalnya : peta kadaster, peta tanah, peta kependudukan, peta tata guna lahan dan sebagainya.

B. Proyeksi dan Skala Peta a. Proyeksi Peta Yang disebut proyeksi peta adalah cara memindahkanlintang atau bujur pada lingkungan permukaan bumi kebidang datar. Berdasarkan proyeksinya peta dibedakan atas tiga, yaitu : Proyeksi Zemithal adalah bidang proyeksi berupa bidang datar yang menyinggung bola pada kutub, equator atau disembarang tempat yang terletak antara equator dan kutub. Proyeksi silinder adalah semua garis parallel merupakan garis horizontal dan semua meridial merupakan garis lurus vertical. Proyeksi kerucut, diperoleh dengan memproyeksikan globe pada kerucut yang menyinggung atau memotong globe kemudian dibuka. b.Skala peta Skala peta adalah angka yang menunjukkan perbandingan jarak dipeta (gambar) dengan jarak yang sebenarnya dimedan (lapangan). Dalam kartografi ilmu yang mempelajari tentang perpetaan ada tiga macam skala yaitu : 1). Skala pecahan (numerical scale), yaitu skala 6yang menunjukkan perbandingan antara jarak dipeta dan jarak yang sebenarnya dilapangan 2) Skala inci (verbal scale), yaitu skala yang menunjukkan jarak inci pada peta sesuai dengan sejumlah mill dilapangan. 3). Skala grafik, yaitu skala yang ditunjukkan dengan garis lurus, yang dibagibagi dalam bagian yang sama.

C. Menggunakan Peta Membuat dan menggambar peta Untuk mendapatkan suatu peta yang baik dan benar, maka penggambarannya perlu dikontrol oleh seorang kartografi. Untuk menjadi kartografi yang baik, ia harus menguasai geografi kurang lebih 50%, bakat seni 40%,dan lain-lain 10%. Tugas kartografer adalah sebagai berikut : 1. Menyelidiki dan mengukur data 2. Mengoreksi dan menganalisis, membuat konsep dan menggambarkan data tali 3. Mengoreksi kembali dan mencocokkan dengan kenyataan dilapangan. 4. Apabila sudah betul lalu dicetak. D. Tata Cara Penggunaan Alat Alat yang digunakan pada saat praktek, yaitu : theodolit, kompas lensa dan klinometer. Adapun tata cara penggunaan masing-masing alat yaitu : a. Theodolit, cara penggunaannya adalah : 1. Memasang kaki theodolit dengan membentuk segitiga lalu menurunkan bandulnya. 2. Memasang theodolit setelah terbuka dari baknya pada posisinya kunci melalui sekrupnya. 3. Membetulkan Nipo kompasatau water pas dengan memutar tiga sekrup pengaturnya. 4. Membuka kunci kompas 5. Mengarahkana teropong pada objek yang jelas setelah itu mengunci pengatur arah horizontalnya. 6. Mengarahkana teropong pada objek secara vertical, gunakan pengatur sekrup vertical halus.

7. Untuk memperhalus arah teropong secara vertical gunakan pengatur sekrup vertical halus. b. Kompas lensa, cara penggunaanya yaitu : 1. Membuka tutp kompas sehingga tegak lurus 2. Tarik cincin jempol kearah bawah 3. Masukkan ruas pertama jempol kanan kedalam cincin tersebut 4. Telunjuk sejajar memegang penutup kompas dan jari-jari yang lain memegang penutup kompas 5. Lengan lurus kedepan 6. Dekatkan prisma kedepan mata 7. Untuk mencari tanda yang dijadikan patokan dalam pengintaian sebaiknya dipilih tanda yang jauh tapi jelas terlihat dan tidak terhalang 8. kalau tidak ada benda alam yang dijadikan patok, maka patok dapat diganti dengan tonggak atau teman kita 9. Perjalanan diarahkan menuju titik yang menjadi patokan 10. Setelah sampai dilokasi patok yang dituju dapat dicari titik yang lain untuk c. Klinometer: Klinometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kemiringan, cara penggunaannya yaitu mengarahkan teropong pada objek / patok yang sejajar dengan diri anda. Kemudian putar sekrupnya untuk menyejajarkan antara gelombang air dengan benang yang ada pada klinometer. Setelah itu melakukan pembacaan. E. Tekhnik Pengukuran Pada pelaksanaan praktek kami dilapangan, kami melakukan pengukuran dengan menggunakan metode zigzag. Pada pengukuran dilapangan ini digunakan theodolit, kompas, klinometer dan altimeter. dijadikan patok. Begitu seterusnya sampai pengukuran selesai

Ada tiga macam tekhnik pengukuran yang bisa dilakukan, yaitu 1. Pengukuran jarak Cara-cara yang dapat dilakukan dalam melakukan pengukuran jarak dengan menggunakan theodolit, yaitu : a. Ukur tinggi theodolit dari permukaan tanah setinggi permukaan teropong. b. Bidiklah objek atau mistar dengan menentukan standar dengan menyesuaikan benang dalam teropong. c. Batas benang tengah harus sejajar dengan tinggi theodolit. d. Menentukan nilai atau angka yang ditunjukkan oleh benang atas atau benang bawah. e. Perjelas kenampakan benang dengan cara mengatur sekrup untuk memperjelas objek. f. Untuk memperjelas benang atas, benang bawah, benang tengah, putar sekrup micrometer. g. Setelah semuanya tepat pada posisi maka kita dapat membaca jarak tersebut. 2. Pengukuran Kemiringan a. Setelah mendapat data untuk mengukur jarak, jangan mengubah posisi theodolit. b. Bidiklah teropong kemiringan yang ada di samping kanan pengukuran jarak. c. Menentukan datanya dengan cara a. = 100-hasil pengukuran dan nilainya dikalikan 0,9. 3. Pengukuran Azimuth a. Jangan mengubah posisi theodolit. b. Lihatlah teropong samping kanan bawah untuk melihat azimuth. c. Jika posisinya belum sejajar maka putarlah sekrup yang ada di sampingnya. d. Jika angka didapatkan, kalikan dengan 0,9.

F. Pembuatan Peta Untuk mendapatkan peta yang baik dan benar menggambarkannya seorang kartograf atau pembuat peta perlu memiliki bakat pengetahuan yaitu 50 % memiliki pengetahuan tentang geografi, 30 % mempunyai bakat seni, 10 % mengetahui ilmu pasti dan 10 % mengetahui ilmu-ilmu lain. Sebelum membuat peta maka terlebih dahulu kita melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengukuran di suatu daerah dengan menentukan arah dan jarak ke berbagai tempat dan menulis keterangan dari suatu daerah yang akan disajikan pada peta. 2. Pengolahan data Setelah kita melakukan pengumpulan data, maka langkah selanjutnya yaitu menganilisis data dengan menyelidiki dan mengatur data. 3. Penggambaran Setelah pengumpulan data dan pengolahannya, maka kita melakukan penggambaran dengan mencocokkan sketsa yang ada.

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN A. Gambaran Umum a. Kondisi Jalan Lokasi praktek adalah pulau yang mempunyai relief datar sehingga jalan pada daerah tersebut mengikuti reliefnya. Kualitas jalan pada daerah ini adalah jalanan beton. Jalanannya pun terlihat masih baru atau belum ada retakanretakan dan kerusakan. Hal ini disebabkan karena didaerah ini kurang alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat setempat. Alat transportasi yang ada dipulau ini hanyalah Becak Motor atau masyarakat disana sering menyebutnya Bentor.Bentor ini biasanya digunakan oleh masyarakat disana untuk jalan-jalan mengelilingi pulau yang jalanannya mengitari pulau tersebut. b. Kondisi Lahan Lahan yang ada dipulau ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk bermukim.Penduduk yang bertempat tinggal didaerah ini sangat padat, sehingga hampir semua lahan yang ada didaerah ini hanya digunakan untuk pemukiman saja. Selain itu pula terdapat sekolah-sekolah dasar untuk anak-anak dan salah satu kampus Jurusan Perikanan unuversitas Hasanuddin. c. Kondisi Geografis Pulau ini terletak tidak terlalu jauh dari kota Makassar. Hanya diperlukan waktu selama kurang lebih satu setengah jam perjalanan menuju pulau yaitu dengan menggunakan perahu. Disekeliling pulau terdapat banyak pulau-pulau lainnya, salah satunya adalah pulau Barrang Caddi yang letaknya tidak terlalu jauh dari pulau ini. Suhu udaranya tinggi, dikarenakan diselilingnya adalah lautan. Terlebih-lebih pada saat malam, suhunya semakin panas karena angina bertiup

dari daratan menuju laut sehingga baik digunakan unutuk para nelayan yang ada disana untuk segera melaut. d. Kondisi Msyarakat Masyarakat yang bermukim dipulau ini pada umunya bermata pencaharian sebagai nelayan. Sebagian kecilnya ada yang bekerja sebagai pengusaha dan wiraswasta yaitu dengan menjual batu-batu karang yang berbentuk unik. Pola pemukimannya mengikuti sepanjang jalan. B. Kegiatan Pengukuran a. Ploting Sebelum melakukan pengukuran, terlebih dahulu kita harus menyiapkan peta dasar kemudian memplot jalan yang akan diukur yaitu disudut-sudut jalan atau perencanaan jalan yang akan diukur. b. Sketsa Pada saat pengukuran, kita juga perlu memperhatikan penggunaan lahan yang ada didaerah tersebut dengan menggambarkan sketsa yang ada disekitar kita. c. Pengukuran Pengukuran dilakukan dengan mengukur letak astronomis, kemiringan jalan, azimut, dan jarak jalanan yaitu jarak antara tiang skala dengan theodolit dari titik patok yang satu ke titik patok yang lain. C. Hasil Pengukuran Setelah melakukan pengukuran dan memperoleh data yang kemudian ditweruskan dengan penggambaran, maka sebelum penggambaran kita perlu melakukan pengolahan data yaitu dengan cara : a. Menentukan jarak ukur Dalam menentukan jarak ukur ada riga rumus yang digunakan dengan menggunakan theodolit yaitu :

r = Jarak ukur r = (batas atas batas bawah) . 1 r= (batas atas batas tengah) . 2 r = (batas tengah batas bawah) . 2 b. Menentukan kemiringan Kemiringan pada theodolit adalah grid sehingga harus menggunakan rumus: 110 Grid dan kemudian dikalikan dengan 0,9, atau nilai kemiringan dapat secara langsung muncul atau tertera pada GPS yang digunakan untuk menemtukan letak astronomis pada saat pengukuran. c. Menentukan azimuth a. Grid Jika azimutnya kurang dari 200 grid, maka harus ditambahkan 200. Dan jika azimutnya lebih dari 200, maka harus dikurang 200. b. Derajat Jika azimutnya kurang dari 180 derajat, maka harus ditambahkan 180 derajat. Dan jika azimutnya lebih dari 180 derajat, maka harus dikurangkan dengan 180 derajat.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diperoleh dari praktikum lapangan di pulau Barrang Lompo kota Makassar yaitu pada tanggal 30 November- 2 Desember 2007, maka dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan ini, kita dapat mengetahui penggunaan alat-alat pengukur seperti theodolit, kompas biasa, kompas geologi dan alti meter. Selain itu, kita juga dapat mengetahui tekhnik penggambaran dan pembuatan peta serta penggunaan lahan dan kualitas pemukiman didaerah pulau. B. Saran 1. Dalam penentuan jadwal praktek sebaiknya mencari waktu yang lebih baik, sehingga pada saat pengukuran, kita tidak terganggu oleh cuaca buruk. 2. Sebaiknya sebelum praktek dilakukan, para peserta praktek harus mengetahui betul tekhnik pengukuran dan tekhnik pengolahan data yag baik sehingga tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA Kuswanto, Drs.,DKK. 1976. Geografi Kependudukan jilid I-II. Tri Ratna; Solo. Martono, Hs., Saidiharjo, Drs.,DKK.1978. IPS Geografi dan Kependudukan SMA.Jilid I-II.Tiga Serangkai ; Solo. Sumaatmaja Nursid, DR. 1988. Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan Studi Geografi. Jakarta.