Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN PLANETARIUM TIM JAKARTA

MITOLOGI YUNANI

Oleh: Rizqa Ridina 0906642790 Kelas B Sastra Prancis

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA UNIVERSITAS INDONESIA

DAFTAR ISI
Daftar Isi........................................................................................................................2 BAB I

Pendahuluan...................................................................................................................3 Latar Belakang...............................................................................................3 Tujuan Penelitian...........................................................................................3 Metode Penelitian..........................................................................................3 Sistematika Penulisan....................................................................................3 BAB II

Pembahasan...................................................................................................................5 Laporan Kunjungan.......................................................................................8 BAB III

Penutup........................................................................................................................11 Kesimpulan..................................................................................................11 Saran............................................................................................................11 Daftar Pustaka..............................................................................................................12 Lampiran......................................................................................................................13 Tiket masuk Planetarium.............................................................................13

BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG Dalam mempelajari mitologi yunani, kita sering menemukan nama-nama yang pernah kita dengar sebagai nama dari benda langit seperti rasi bintang dan planet. Tetapi, mempelajari bintang dari buku masih terasa kurang memuaskan karena kita tidak bisa melihat langsung bentuk benda-benda langit tersebut. Mengamati bendabenda langit pun tidak bisa dilakukan secara langsung karena udara yang penuh polusi serta distorsi cahaya dari kota. Bertolak dari faktor tersebut, penulis mengadakan kunjungan ke Planetarium dan Observatorium TIM, Jakarta. TUJUAN PENELITIAN Kunjungan ke Planetarium dan Observatorium Jakarta bertujuan untuk mengamati dan mempelajari benda-benda langit, serta melihat penggunaan nama dari mitologi yunani pada benda langit. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah: 1. Observasi langsung 2. Studi pustaka SISTEMATIKA PENULISAN Laporan kunjungan Planetarium dan Observatorium Jakarta ini disusun berdasarkan:

1. BAB I : Pendahuluan berisi latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan laporan. 2. BAB II : Pembahasan berisi penjelasan umum tentang keadaan serta sejarah Planetarium dan Observatorium Jakarta, dan laporan mengenai apa saja yang penulis lihat dan pelajari di Planetarium dan Observatorium Jakarta. 3. BAB III : Penutup berisi kesimpulan dan saran.

BAB II PEMBAHASAN
SEKILAS TENTANG PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM JAKARTA Planetarium dan Observatorium Jakarta merupakan salah satu dari tiga wahana simulasi langit di Indonesia selain di Kutai, Kalimantan Timur, dan Surabaya, Jawa Timur. Planetarium tertua ini letaknya di Jalan Cikini Raya No. 73, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Planetarium Jakarta merupakan sarana untuk memperlihatkan simulasi pergerakan benda-benda langit seperti bintang, planet, bulan, dan matahari. Planetarium dan Observatorium Jakarta dibangun mulai tahun 1964 atas gagasan Presiden Soekarno tidak hanya karena pada saat itu dunia sedang tergilagila pada ruang angkasa serta berlomba untuk menginjakkan kaki di bulan, tetapi juga dengan harapan agar bangsa Indonesia sedikit demi sedikit mengenal berbagai macam benda langit dan berbagai peristiwa di luar angkasa. Pada tanggal 10 November 1968, Planetarium dan Observatorium Jakarta diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin bersamaan dengan diresmikannya Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Di Planetarium dan Observatorium Jakarta kita akan melihat sebuah dome (kubah) dibangun dengan garis tengah 23 meter. Pada sebelah dalam dome inilah langit buatan diproyeksikan bintang dan tata surya kita sehingga pengunjung akan merasa seperti melihat benda langit yang sesungguhnya. Ada 100 proyektor di dalam ruang berkapasitas 600 orang itu. Seperti museum, tempat ini buka Selasa sampai Minggu. Setiap hari Selasa sampai Jumat hanya ada satu kali pertunjukan yang dimulai pukul 16.30, sedangkan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur buka pukul 10.00, 11.30, 13.00, dan 14.30. 5

Jika hari libur nasional itu jatuh pada hari Jumat, maka jam buka teater bintang ini pukul 10.00, 13.30. 15.00 dan 16.30. Untuk peserta rombongan tentu ada jam khusus yaitu hari Selasa sampai Kamis pukul 09.30, 11.00, dan 13.30, sedangkan Jumat pukul 09.30 dan 13.30. Harga tiket masuk ke teater berbentuk kubah ini Rp 7.000 untuk dewasa dan Rp 3.500 untuk anak-anak. Planetarium dan Observatorium Jakarta menyajikan 9 judul film yang diputar secara bergantian. Setiap pertunjukkan berlangsung dengan narasi yang disampaikan secara langsung dan diiringi suara musik. Berikut adalah judul film yang disajikan di Planetarium: 1. Tata Surya, berisi pengenalan tentang Tata Surya dan perkembangan pemahaman manusia tentang alam semesta. 2. Penjelajah Kecil di Tatasurya, membahas tentang komet, asteroid, materi antarplanet dan benda-benda lain yang sering disebut sebagai penjelajah kecil di tatasurya. 3. Pembentukan Tata Surya, membahas tentang berbagai teori percobaan yang dilakukan untuk menyingkap tabir pembentukan Tata Surya. 4. Planet Biru Bumi, membahas tentang Bumi dan asal-usulnya. 5. Dari Ekuator Sampai ke Kutub, berisi tentang penampakan dan gerak haran benda langit yang terlihat dari Bumi. 6. Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan, membahas tentang peristiwa gerhana, termasuk mitos-mitos yang menyertainya. 7. Galaksi Kita Bima Sakti, membahas tentang galaksi Bima Sakti. 8. Riwayat Hidup Bintang, membahas tentang proses kelahiran, perkembangan, dan kematian sebuah bintang.

9. Bintang Ganda dan Bintang Variabel, membahas tentang sistem Bintang.

LAPORAN KUNJUNGAN

Hari Minggu tanggal 11 Oktober 2009, saya mengunjungi Planetarium dan Observatorium Jakarta. Sesampainya di sana, pengunjung dipersilakan mengantri di deretan kursi yang disusun seperti labirin. Setengah jam sebelum pertunjukan dimulai, loket pun dibuka. Sambil menunggu pertunjukan dimulai, pengunjung dipersilakan memasuki ruangan pameran. Ruangan ini memamerkan berbagai gambar dan foto benda-benda luar angkasa. Ada juga diorama mini mengenai pendaratan manusia pertama di bulan. Di ruangan ini kita bisa melihat batu meteorit Pasuruan, yaitu meteorit yang jatuh di kawasan Tambakwatu, Kabupaten Pasuruan pada tanggal 14 Februari 1975. Batu ini berukuran sebesar kepala manusia, dengan berat sekitar 10.5 kg. Selain itu, di ruangan ini juga lah kita bisa mulai melihat bahwa banyak benda langit yang diberi nama sesuai dengan nama dari mitologi yunani dan romawi. Proyek pengiriman manusia ke bulan pun diberi nama sesuai dengan nama seorang dewa yaitu Apolo. Setelah puas melihat-lihat ruang pameran, pengunjung bisa menuju pintu masuk ruang pertunjukan di lantai 2. Berbeda dengan ruang pertunjukan bioskop, layar di ruang pertunjukan Planetarium berbentuk kubah setengah lingkaran. Kita bisa menonton dengan duduk di kursi yang bisa direbahkan yang memudahkan kita untuk melihat seluruh layar, persis ketika kita memandang langit. Di tengah ruangan terdapat proyektor Universarium Model VIII yang dibuat oleh Carl Zeiss, Jerman. Proyektor berbentuk bola ini berfungsi untuk memproyeksikan gambar ke layar kubah sehingga membentuk tampilan gambar seperti 3 dimensi. Lampu ruang pertunjukan mulai dipadamkan, pertunjukan pun dimulai. Perlahan-lahan muncul suasana langit malam. Narator menjelaskan kepada pengunjung bahwa itu merupakan pemandangan langit Jakarta pada malam hari itu.

Dijelaskan pula bahwa langit malam Jakarta tidak terlihat begitu cerah karena banyaknya polusi udara. Melihat langit penuh bintang di malam hari di Jakarta adalah suatu hal yang mustahil, karena terdistorsi oleh cahaya lampu-lampu kota. Narator menjelaskan bahwa saat ini terdapat 88 buah rasi bintang. 12 di antaranya kita kenal sebagai zodiak. Selain itu, kebanyakan rasi bintang mengambil nama dari mitologi yunani atau romawi seperti Liranya Apolo. Proyektor menampilkan garis-garis di atas bintang yang membentuk gambar sesuai dengan nama rasi bintang untuk memudahkan kita mengenali rasi-rasi bintang tersebut. Kita juga diperlihatkan bahwa bintang-bintang di langit, seperti matahari dan bumi, dapat kita lihat juga mengalami pergerakan seperti terbit dan tenggelam. Hal itu disebabkan oleh rotasi bumi. Setelah perkenalan dengan rasi bintang, pengunjung diperkenalkan dengan benda-benda langit lain seperti komet, meteor, meteorit, asteroid dan fenomena hujan meteor. Pengunjung mempelajari benda-benda langit tersebut dengan melihat gambar di layar kubah serta dengan mendengar penjelasan dari meteor. Pertunjukan pun beralih dengan pengenalan terhadap tata surya kita. Pengunjung dijelaskan tentang susunan planet-planet. Di sini lah kita kembali menemukan bahwa planet-planet di tata surya diberi nama sesuai dengan nama dewadewi dari mitologi romawi dan yunani yang kita kenal seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan sebagainya. Di sini dijelaskan pula mengapa Pluto tidak lagi digolongkan sebagai planet besar melainkan planet kerdil dan planet-planet lain yang pernah dinominasikan sebagai planet besar. Pertunjukan yang paling seru pun dimulai. Pengunjung seolah-olah akan dibawa menuju keluar bumi, bahkan keluar dari tata surya kita. Proyeksi gambar yang bergerak membuat kita seolah-olah benar-benar terbang keluar angkasa. Kita bisa melihat begitu banyak galaksi lain yang letaknya sangat jauh dari bumi. Dari sini pun kita bisa melihat betapa kecilnya bumi dibandingkan dengan jutaan galaksi lainnya.

Setelah puas berjalan-jalan di luar galaksi, pertunjukan diakhiri dengan pemandangan langit Jakarta pada pagi hari. Setelah pertunjukan selesai, pengunjung yang masih haus akan ilmu pengetahuan tentang benda langit bisa mengunjungi perpustakaan yang terletak di lantai 2 Planetarium dan Observatorium Jakarta. Koleksi bukunya cukup lengkap sehingga bila kita masih penasaran tentang apa yang kita lihat selama di dalam ruang pertunjukan bisa kita cari lagi di sini.

10

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN Planetarium dan Observatorium Jakarta merupakan tempat yang tepat untuk mempelajari benda-benda langit seperti bintang, planet, dan asteroid. Di Planetarium kita akan menemukan sangat banyak benda langit yang diberi nama sesuai dengan mitologi yunani maupun romawi. SARAN Pengunjung Planetarium dan Observatorium Jakarta disarankan untuk datang setengah jam sebelum pertunjukan dimulai agar bisa menikmati dan menambah wawasan di ruang pameran.

11

3.1.

DAFTAR PUSTAKA
Mijarto, Pradaningrum. Teater Bintang Pernah Menjadi yang Terbesar di Dunia. http://www.kompas.com/read/xml/2009/05/27/11132759/Teater.Bintang..Pern ah.Menjadi.yang.Terbesar.di.Dunia. (27 Mei 2009) Silitonga, Sukartini. 1977. Mitologi Yunani. Depok: Penerbit Djambatan.

12

LAMPIRAN
TIKET MASUK PLANETARIUM

13