Anda di halaman 1dari 50

IMIDAP-P-026-2009

BUKU 2 E

PEDOMAN
STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

IMIDAP Development and Application Program Integrated Microhydro


DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

2009

IMIDAP-P-026-2009

BUKU 2E
PEDOMAN STUDI KELAYAKAN

SOSIAL BUDAYA
Cetakan : 1 2 3 4 5

Integrated Microhydro Development and Application Program


DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

IMIDAP

2009

TIM PENYUSUN BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Abdul Kadir Damanik Adhy Kurniawan Agus Irfan Gunawan Agus Maryono Arfie Ikhsan Arie Sudaryanto Benny FD Chandra Adriawan Chayun Boediyono Kementerian KUKM Universitas Gadjah Mada PT. Wiratman and Associates Universitas Gadjah Mada P3T KEBT Departemen ESDM Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia P3T KEBT Departemen ESDM IMIDAP DJLPE, Departemen ESDM Yayasan Bina Lingkungan Hidup Direktorat Jenderal LPE, Departemen ESDM Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia CV. Cihanjuang Inti Teknik PT. BNI (Persero) Tbk Asosiasi Hidro Bandung PT. Pro Rekayasa IMIDAP DJLPE, Departemen ESDM Politeknik Negeri Padang P3T KEBT Departemen ESDM IMIDAP DJLPE, Departemen ESDM Desantara Foundation Institut Teknologi Bandung IMIDAP DJLPE, Departemen ESDM IMIDAP DJLPE, Departemen ESDM Asosiasi Hidro Bandung Politeknik Negeri Padang Puslitbang Air Departemen PU IMIDAP DJLPE, Departemen ESDM Pusdiklat KEBT Departemen ESDM

10. Dadan Kusdiana 11. Djoko Winarno 12. Eddy Permadi 13. Endang Rosawati 14. Faisal Rahadian 15. Ifnu Setyadi 16. Ignatius Iryanto 17. Nota Effiandi 18. Marhento Wintolo 19. Moch. Nur Ainul Yaqin 20. Muhammad Nurkhoiron 21. Mukmin Atmoprawiro 22. Ronggo Kuncahyo 23. Safrius 24. Sentanu 25. Suhendrik Hanwar 26. Yanto Wibowo 27. Zendra Permana Zen 28. Zulkarnaen

iii

KATA PENGANTAR

Buku pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan panduan kepada pemerintah provinsi dan atau kabupaten/kota dalam menyusun dan menilai studi kelayakan yang dibuat inisiator dalam upaya memenuhi kaidah dan asas kelayakan dari berbagai aspek. Selanjutnya studi kelayakan tersebut diajukan untuk mendapat alokasi pembiayaan baik anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) maupun anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tingkat provinsi dan atau kabupaten/kota. Selain pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, buku pedoman ini dapat menjadi acuan bagi investor atau pihak yang berkepentingan dengan pengembangan energi listrik tenaga mikrohidro. Pedoman teknis ini bersifat dinamis sehingga secara periodik dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan kemajuan teknologi yang ada. Pemerintah atau badan lainnya yang ditunjuk Pemerintah diharapkan selalu dapat meninjau kembali pedoman teknis ini, pemberlakuannya serta perubahan yang diperlukan. Selain itu pedoman teknis ini bersifat tidak mengikat, diperlukan peran aktif dari pemilik project, perencana dan pabrikan serta pelaksana. Peran paling penting adalah pada pemilik project dimana peran pengawasan langsung berada. Sifat paling penting dari pedoman teknis ini adalah tidak membatasi perkembangan mikrohidro dan menjadi eksklusif namun sebaliknya pedoman teknis ini tidak memberikan kelonggaran yang berlebihan sehingga meninggalkan kualitas yang diperlukan untuk keberlanjutan

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

suatu pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Terima kasih diucapkan kepada seluruh pihak atas kerjasamanya dalam penyusunan buku pedoman ini dan tim penyusun menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat hal yang kurang. Masukan dan saran untuk penyempurnaan buku pedoman ini masih diharapkan dari seluruh pihak.

vi

DAFTAR ISI
Tim Penyusun .................................................................. Kata Pengantar ................................................................ Daftar Isi .......................................................................... Daftar Gambar ................................................................ Daftar Tabel ..................................................................... Bab 1 Pendahuluan ............................... 1.1. Umum ............................................. 1.2. Maksud dan Tujuan .................................... 1.3. Lingkup Kegiatan Studi .............................. 1.4. Syarat Kelayakan ................................ Bab 2 Analisis Sosial dan Budaya ........................... 2.1. Komponen Sosial dan Budaya ................... 2.2. Evaluasi Dampak Sosial Budaya ................ 2.3. Pengumpulan Data ..................................... 2.4. Identifikasi Dampak Sosial Budaya ............................................ 2.5. Analisis Data .............................................. Bab 3 Proses Penyusunan Analisis Sosial dan Budaya .................................. 3.1. Masalah Sistem PLTMH .......................... 3.2. PRA untuk Membangun Kesepakatan Konsumen Listrik ................... 3.3. Kajian Kesetaraan Gender dalam Pembangunan PLTMH ..................... Penyusunan Laporan Studi Kelayakan Sosial Budaya .................... iii v vii ix xi 1 1 2 3 4 7 7 7 8 10 12

15 15 19 30

Bab 4

41 43

Daftar Pustaka .................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Gambar 2 : Rangkaian Buku Pedoman Studi Kelayakan PLTMH : Bagan penyiapan tahapan analisis hingga pengoperasian PLTMH Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 : Bagan Organisasi pembangunan PLTMH : Pareto Masalah Sistem PLTMH : Peta Desa Curugmuncar Kec. Petungkriyono : Diagram Venn Desa : Sketsa Jaringan Desa : Contoh Surat Rekomendasi Desa

ix

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 : Tabel Sejarah Desa : Tabel Transek Desa Haurgeulis : Bagan Kecendrungan Desa : Kalender Musim Kegiatan : Tabel Analisis : Tabel Diagram Kegiatan Harian Desa : Contoh-contoh Indikator Peka Gender dari Program Implementasi Mikrohidro di Perdesaan

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Umum

Pedoman studi kelayakan ini merupakan rangkaian terpadu lingkup kegiatan dan pemberian kriteria penilaian kualitatif dan kuantitatif suatu lokasi potensi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) mulai dari tahap awal, studi potensi, pemilihan spesifikasi teknis komponen peralatan yang sesuai hingga penyusunan laporan studi kelayakan. Pedoman studi kelayakan ini terdiri dari beberapa buku, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Rangkaian Buku Pedoman Studi Kelayakan

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

1.2. Maksud dan Tujuan Studi ini dimaksudkan untuk mengkaji kondisi sosial masyarakat untuk melihat kesiapan masyarakat dan mengkaji tentang dampak keberadaan program pengembangan potensi PLTMH terhadap upaya penyediaan listrik berkelanjutan untuk kehidupan masyarakat setempat; kajian studi ini berkaitan dengan kebiasaan adat setempat, kehidupan hubungan sosial dan budaya masyarakat serta kesiapan masyarakat untuk mengupayakan penyediaan listrik yang berkelanjutan. Studi ini ditunjukkan melalui upaya sosialisasi kepada masyarakat dan konsumen yang dilakukan mulai dari tahap penyusunan program hingga pelaksanaan konstruksi dan operasi pembangkit mikrohidro di lapangan, dengan demikian masyarakat melalui pamong desa dan atau tokoh masyarakat menerima penerapan program dimaksud. Pemahaman dan pengertian sosial terhadap pentingnya pengembangan pembangkit mikrohidro merupakan usaha untuk memberikan informasi tentang pengembangan potensi pemenuhan listrik secara berkelanjutan kepada masyarakat dengan menggali informasi tentang keinginan masyarakat. Berawal dari langkah ini akan diperoleh sinkronisasi antara kepentingan pembangunan pengembangan pembangkit mikrohidro dengan kepentingan sosial, sehingga dapat menghindari terjadinya konflik sosial, meminimalkan munculnya gejala konflik sosial seperti; confusing of the project application, misunderstanding, misconception antara pihak terkait dalam pengembangan potensi mikrohidro. Analisis terhadap dampak sosial dari pembangunan mikrohidro tersebut diperlukan untuk mengetahui dampak sosial yang ada dan yang akan muncul. Analisis dampak ini menggunakan pendekatan sosial dengan

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

pendekatan topik, sistem dan partisipasi, dimana pendekatan yang terakhir sering digunakan dengan metode participatory rural apraisal (PRA) planning, sehingga bisa diperoleh hasil kajian yang bisa membantu memperkecil segala resiko sosial, untuk mempersiapkan pengembangan program yang tepat dan terarah sesuai dengan tujuan awal. Partisipasi sosial merupakan kajian sosial yang melibatkan peran masyarakat terhadap pembangunan mikrohidro dan kelangsungan operasi dalam jangka waktu kedepan berkaitan dengan peningkatan kelestariannya. Masyarakat dengan kesadarannya akan melihat pentingnya keberadaan program yang dimaksud, kelangsungan pemerintahan di daerah dan kelangsungan jalannya roda perekonomian masyarakat baik secara mikro maupun makro. Setelah analisis ini diperoleh, maka perlu sosialisasi dan keterlibatan masyarakat dalam proses pemeliharaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan masyarakat dalam setiap proses ini, termasuk didalamnya upaya peningkatan kapasitas dan peran aktif masyarakat dalam upaya pemerataan gender, serta partisipasi untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam pemanfaatan energi dari hasil pengembangan potensi PLTMH, sehingga diperoleh sense of responsibility dan sense of belonging terhadap pelaksanaan sebuah pembangunan mikrohidro.

1.3.

Lingkup Kegiatan Studi

Analisis terhadap dampak sosial dari pembangunan mikrohidro diperlukan untuk mengetahui serta mengupayakan meminimalisir dampak sosial yang akan muncul. Dengan analisis dampak pendekatan sosial terutama penggunaan participatory rural apraisal planning,

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

sehingga bisa diperoleh hasil analisis yang bisa membantu memperkecil segala resiko sosial. Lingkup kegiatan yang memerlukan kajian ini antara lain : a. Menginventarisasi dan menjelaskan tentang kondisi/tatanan kelembagaan masyarakat. Hubungan antar daerah/lokasi dan antar golongan masyarakat baik sebelum maupun sesudah studi. b. Penggalian potensi perekonomian di desa seperti tata guna lahan, aktivitas usaha ekonomi produktif, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan rata-rata penduduk desa, tingkat kebutuhan hidup, kemampuan swadaya penduduk dan daya jangkaun desa. c. Penggalian data potensi sumberdaya alam dan kemampuan pengadaan material. d. Potensi konsumen pengguna dan pihak yang memanfaatkan daya listrik hasil pembangkit mikrohidro. e. Kelembagaan yang meliputi lembaga formal pemerintahan desa, serta lembaga-lembaga non pemerintahan seperti misalnya koperasi, puskesmas, organisasi masyarakat/agama dan unit-unit kelompok kegiatan masyarakat seperti posyandu, kelompok pengajian, karang taruna, dan lainlain. f. Gambaran pola kehidupan sosial seperti pola hubungan antar rumah tangga di dalam desa dimaksud, pola hubungan di dalam rumah tangga, pengelompokan masyarakat, tokoh-tokoh yang dijadikan figur masyarakat, kesetaraan gender, dan lainlain.

1.4.

Syarat Kelayakan

a. Tidak ada keberatan, klaim dan atau keluhan dari masyarakat yang

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

berada di lokasi sekitar PLTMH yang akan dibangun tersebut. Lokasi sekitar yang dimaksud meliputi hulu, hilir dan lokasi penempatan PLTMH, serta (lahan) masyarakat yang akan dilalui jalur distribusi listrik PLTMH. b. Ada kelembagaan dan atau tatanan sosial yang mampu menyelesaikan konflik baik internal masyarakat itu sendiri maupun dengan masyarakat di sekelilingnya. c. Ada lembaga lokal (koperasi, paguyuban, lembaga adat dan lainlain) yang dibentuk secara partisipatif dan mampu menjamin keberlanjutan pengelolaan PLTMH di daerah. d. Ada otoritas lokal yang mampu menjadi rujukan sosial dan bisa diajak bekerjasama untuk meningkatkan partisipasi masyarakat (Perhutani, PTP dan lainnya). e. Kemampuan masyarakat dalam kontribusi pada tahap pembangunan, operasi dan pemeliharaan sesuai kesepakatan bersama. f. Kemauan dan kemampuan masyarakat membayar iuran pengelolaan PLTMH yang akan dibangun. g. Kemauan masyarakat untuk menyediakan, memberikan atau mengupayakan lahan yang dibutuhkan untuk infrastruktur terkait pembangunan PLTMH.

BAB 2 ANALISIS SOSIAL BUDAYA

2.1.

Komponen Sosial dan Budaya

Komponen lingkungan yang menjadi parameter sosial dan budaya dalam analisis ini meliputi : a. Keadaan dan bentuk struktur masyarakat, kualitas hidup dan hubungan di antara hal tersebut. Struktur masyarakat yang dimaksud dalam hal ini adalah kependudukan, pertumbuhan dan mobilitas penduduk. b. Hubungan timbal balik antara sosial, budaya, lingkungan dan ekonomi. Hal ini berkaitan langsung dan tidak langsung dengan budaya, proses sosial, pranata sosial, kelembagaan, hirarki masyarakat, ekonomi rumah tangga, ekonomi sumberdaya alam dan perekonomian lokal. c. Perilaku, persepsi, cita-cita dan norma masyarakat.

2.2.

Evaluasi Dampak Potensial

Evaluasi dampak potensial bertujuan memilah dan menetapkan komponen sosial yang akan ditelaah. Penetapan dampak potensial dapat menggunakan deskripsi perubahan mengacu pada : a. Rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk dan proses penduduk. Struktur penduduk yang dimaksud meliputi kepadatan dan komposisi penduduk, sedangkan proses penduduk adalah pertumbuhan dan mobilitas penduduk berupa perpindahan penduduk datang atau

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

pergi. b. Rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola kepemilikan penduduk terhadap sumberdaya alam, pola mata pencaharian penduduk atau pendapatan dan pengeluaran keluarga. c. Rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat, pranata sosial yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial), kegiatan ekonomi dan kepemilikan sumberdaya alam. d. Rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap potensi dan perubahan struktur ekonomi dan kesejahteraan masyarakat serta kesiapan masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dan kesetaraan gender yang akan terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam dan keberlanjutan program.

2.3.

Pengumpulan Data

Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana konstruksi atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat, dengan demikian alam menetapkan atau memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan, baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah; b. Satuan analisis (rumah tangga, desa, kabupaten, propinsi) yang akan diukur; c. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

masyarakat (emic) di sekitar rencana usaha atau kegiatan; d. Ketersediaan tenaga, waktu dan dana. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. Observasi/pengamatan lapangan. b. Pengumpulan data sekunder. Melalui teknik ini, data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian, bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. c. Wawancara dan kuesioner. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. d. Wawancara mendalam (indepth interview) . Wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat atau orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat dengan menggunakan pedoman pertanyaan. e. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion). Metoda pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. Beberapa teknik pengambilan sample yang dapat dipergunakan antara lain : a. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. b. Teknik pengambilan sampel secara purposif.

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

c.

Teknik pengambilan sampel secara acak (random).

Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini. a. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Makin seragam populasi yang diteliti main kecil jumlah sampel yang akan diambil. b. Presisi ketepatan dan akurasi yang dikehendaki. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, makin besar jumlah sampel yang harus diambil. c. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh, semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan.

2.4.

Identifikasi Dampak Sosial Budaya

a. Tahap Prakonstruksi Saat tahap prakonstruksi, dampak yang akan terjadi terhadap komponen lingkungan sosial, ekonomi dan budaya. Dampak tersebut terjadi karena kegiatan survai lapangan, pengadaan dan pembebasan lahan untuk beberapa bangunan sumber daya air serta daerah penyangganya. Melalui kegiatan survai lapangan dan rencana kegiatan pengadaan dan pembebasan lahan diperkirakan akan timbul beberapa dampak mendasar yaitu : - Keberatan penduduk pemilik lahan untuk menyediakan pembebasan lahan untuk bangunan yang mungkin diperlukan. - Jika penduduk tidak keberatan dengan kegiatan pembebasan lahan, maka dampak yang diprakirakan akan terjadi yaitu dalam

10

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

menentukan besarnya nilai ganti rugi. - Apabila tidak terjadi kesepakatan yang baik antara konstruksi dan penduduk pemilik/penggarap lahan yang diperlukan proyek maka akan menimbulkan ketidakpuasan penduduk yang pada gilirannya akan menimbulkan persepsi yang kurang baik dan masyarakat terhadap proyek. b. Tahap Konstruksi Saat tahap konstruksi, dampak akan terjadi karena kegiatankegiatan konstruksi yang diperkirakan akan dilaksanakan yaitu mobilisasi peralatan berat dan material, rekrutmen tenaga kerja, pengadaan material dan pekerjaan sipil lainnya. Dampak terhadap komponen Iingkungan yang diperkirakan akan terjadi pada tahap konstruksi, yaitu terganggunya estetika dan kenyamanan lingkungan dan terbukanya kesempatan kerja.

Gambar 2. Bagan penyiapan tahapan analisis hingga pengoperasian PLTMH

c.

Tahap Pascakonstruksi/Operasional

11

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Kegiatan pendayagunaan sumber air di daerah tersebut akan meningkatkan intensitas kegiatan masyarakat di sekitarnya. Mengacu pada semua potensi yang dimiliki, terutama dan aspek sumberdaya lahan dan ketersediaan sarana, maka daerah studi dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan. Pengembangan daerah yang dimaksudkan adalah meningkatkan perekonomian dan potensi untuk meningkatkan peran dan partisipasi gender untuk kesiapan keberlanjutan program. Dampak ini lebih bersifat positif terhadap peningkatan kualitas daerah tersebut, serta pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Gambar 3. Bagan Organisasi pembangunan PLTMH

2.5.

Analisis Data

Analisa dilakukan untuk mengetahui : Sejarah desa dan profil desa untuk daerah PLTMH. Kesiapan masyarakat untuk membentuk korelasi lembaga-

12

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

lembaga sosial di desa dalam pengelolaan PLTMH. Diagram kecenderungan untuk melihat dampak sosial.

Secara umum metode analisis data yang digunakan ada 2 macam, yaitu metode analisis kuantitatif (seperti analisis statistik) dan metode analisis kualitatif (seperti analisis isi). Evaluasi dampak sosial budaya merupakan kajian yang menyeluruh terhadap kondisi lingkungan masyarakat. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode analisis dampak terhadap sosial budaya adalah : a. Bersifat komprehensif dimana metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting sosial budaya sebagai akibat dari suatu rencana konstruksi PLTMH atau kegiatan. b. Bersifat fleksibel dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana konstruksi atau kegiatan --yang ukuran, satuan dan skala berbeda dengan dampak yang berbeda-c. Bersifat dinamis sesuai kondisi masyarakat dan karakteristik rencana konstruksi dan kegiatan yang ditelaah. d. Bersifat analitis dan memenuhi persyaratan ilmiah. e. Apabila metode yang digunakan dibuat dalam skala dan atau bobot maka proses peleburan dilakukan dengan metode ilmiah. Artinya peleburan hasil penilaian lebih dari satu metode penelitian dan digunakan dengan satuan yang berbeda maka harus menggunakan proses ilmiah. f. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana konstruksi PLTMH serta untuk pengambilan keputusan.

13

BAB 3 PROSES PENYUSUNAN ANALISA SOSIAL DAN BUDAYA

3.1.

Masalah Sistem PLTMH

Komponen sosial sebagai bagian dari persiapan awal dan bersifat non teknis, terkadang menjadi parameter utama yang akan menetukan kesuksesan dan kegagalan dalam pengembangan potensi PLTMH, sosial dan budaya dalam pengalaman analisis ini bisa digambarkan sebagai berikut;

Gambar 4. Pareto Masalah Sistem PLTMH

Konflik sosial menjadi parameter utama yang akan menentukan keberhasilan dalam pengembangan program persiapan, pembangunan dan pengelolaan PLTMH, termasuk masalah-masalah berikut yang akan menjadi parameter penentu berdasarkan perhitungan dan pengalaman di lapangan berkaitan dengan; Pembagian listrik, Pencurian (listrik dan

15

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

peralatan pendukung), Kepemimpinan, Rasa memiliki, Konflik Sumber air, Transparansi dan Tokoh negatif. Perlu dipersiapkan strategi pengelolaan masalah sosial dan budaya terkait dengan persiapan pembangunan program PLTMH sehingga bisa diperoleh bagan proses dan metode penentuan analisis yang tepat untuk bisa digunakan sebagai perangkat untuk melihat kondisi sosial secara menyeluruh sehingga bisa terlihat potensi masyarakat terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan. Untuk mengembangkan informasi pengelolaan potensi sosial dan budaya di daerah program, berdasarkan identifikasi awal yang akan diuraikan dalam bab sebelumnya untuk tahapan awal pra kontsruksi bisa diuraikan sebagai berikut : a. Penjajagan Awal, Bertujuan untuk melihat kondisi awal : Kebutuhan Listrik, Kemampuan membayar, Kemampuan mengelola. Dengan melakukan observasi atau pengamatan kondisi di lapangan tentang : Hubungan Sosial, Kelembagaan Sosial, Pengelompokan Masyarakat, Tokoh Masyarakat, Potensi Konflik Sosial, Profil calon konsumen listrik,

16

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Gambaran Umum Desa b. Studi Kelayakan Bertujuan untuk melihat kondisi awal; Kesepakatan Desa, Kontribusi Pembiayaan (uang dan natura), Kapasitas Pembangkitan, Dengan melakukan mekanisme pemaparan atau rembug desa; Pemaparan PLTMH, Kelompok Penggagas Proyek, Kesepakatan Penyediaan Lahan, Kesepakatan kontribusi material, Kesepakatan kontribusi tenaga kerja. c. Desain Rinci Bertujuan untuk melihat kondisi awal; Kesepakatan rencana pembangunan, Kontribusi Pembiayaan (uang dan natura), Kapasitas Pembangkitan. Dengan melakukan mekanisme pemaparan atau rembug desa; Surat / kontrak kesepakatan penggunaan lahan dan pemanfaatan air, Surat / kontrak kesepakatan kontribusi masyarakat ; material, tenaga kerja, konsumsi, Pembentukan Panitia Pembangunan,

17

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

d. Pembangunan Konstruksi Bertujuan untuk melihat kondisi awal; Kontribusi Pembiayaan (uang dan natura), Kesepakatan masyarakat untuk melindungi lingkungan serta melakukan pengelolaan PLTMH secara berkelanjutan, Kesepakatan aturan penting dan mendasar dalam pengelolaan dan pemanfaatan PLTMH, Pembentukan lembaga pengelola PLTMH yang mewakili masyarakat dan terlatih (administrasi dan teknis). Dengan metode analisa RRA/PRA : Penelusuran Alur-Alur Sejarah Lokasi. Pemetaan. Penelusuran Lokasi (Transek). Bagan Kecenderungan dan Perubahan. Pembuatan Bagan Hubungan Kelembagaan (Diagram Venn). Pembuatan Sketsa Jaringan. Kalender Musim. Analisa Mata Pencaharian . e. Pengoperasian Bertujuan untuk melihat kondisi awal : Manajemen lembaga pengelola berjalan baik. Kualitas Listrik baik. Konflik dapat diselesaikan. Memiliki tabungan untuk penggantian suku cadang dan

18

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

overhaul Instalasi terpelihara sesuai dengan desain teknis. Dengan melakukan mekanisme pemaparan atau rembug desa : Pengesahan AD/ART lembaga pengelola. Pengukuhan Organisasi Pengelola. Badan Hukum Organisasi (Koperasi). Bimbingan Manajemen.

3.2.

PRA untuk Membangun Kesepakatan Konsumen Listrik

PRA merupakan suatu teknik untuk menyusun dan mengembangkan program operasional dalam pembangunan tingkat desa (dalam hal ini wilayah desa akan akan mendapatkan dampak program pembangkitan listrik mikrohidro), Metode ini akan ditempuh dengan memobilisasi sumber daya manusia dan alam setempat, serta lembaga lokal guna mempercepat peningkatan produktivitas, menstabilkan dan meningkatkan pendapatan masyarakat serta mampu pula melestarikan sumber daya setempat (Daniel, 2002). PRA merupakan teknik yang banyak digunakan oleh para lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk melihat peran serta masyarakat dalam pengembangan program, hal ini terkait dengan kesiapan masyarakat untuk menerima aktivitas pengembangan potensi pembangkitan listrik dengan mikrohidro. Bagaimana melihat dan memilah kondisi di lapangan terkait dengan persiapan pembangunan pembangkit mikrohidro, dan sebagai acuan untuk mempermudahkan tatacara penggunaan PRA, diuraikan berikut contoh kegiatan di desa Haurgeulis kecamatan

19

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Pemetaan sejarah Desa


Tabel 1. Tabel Sejarah Desa

20

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Peta Desa

Gambar 5. Peta Desa Curugmuncar Kec. Petungkriyono

21

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Transek Desa


Tabel 2. Tabel Transek Desa Haurgeulis

22

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Transek Desa


Tabel 3. Bagan Kecendrungan Desa

23

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Diagram Venn Desa

Gambar 6. Diagram Venn Desa

24

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sketsa Jaringan Desa

Gambar 7. Sketsa Jaringan Desa

25

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kalender Musim Kegiatan Desa


Tabel 4. Kalender Musim Kegiatan

26

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Analisis Mata Pencaharian Desa


Tabel 5. Tabel Analisis

27

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kegiatan Harian Desa


Tabel 6. Tabel Diagram Kegiatan Harian Desa

28

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bantarujeg kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Rekomendasi Desa


Gambar 8. Contoh Surat Rekomendasi Desa

29

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

3.3.

Kajian Kesetuaraan Gender dalam Pembangunan PLTMH

Berbagai studi yang berkaitan dengan gender dan teknologi juga memperlihatkan bahwa tenaga kerja perempuan dapat menyumbangkan peran yang seimbang dengan peran yang diberikan oleh tenaga kerja lakilaki, apabila mereka diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan teknis maupun non teknis termasuk yang berkaitan dengan implementasi, pengelolaan dan pemanfaatan mikrohidro. Memperkuat kemampuan dan memusatkan perhatian pada kebutuhan baik perempuan maupun laki-laki yang memiliki aspirasi, kepentingan dan pengalaman yang berbeda, dapat mempromosikan kesetaraan dan keadilan gender dan mendorong efektivitas dan efisiensi serta keberlangsungan program pembangunan (UNU, 2005; UNDP ,1998; Mitter, 1995, Hermawati, 2005, 2007). Kesetaraan gender adalah komponen penting dan merupakan komitmen yang lebih besar terhadap hak-hak azasi manusia dan pembangunan yang berkelanjutan yang dilakukan oleh berbagai sektor. Pemangku

kepentingan sektor energi memiliki kesempatan besar untuk mempromosikan kesetaraan dan keadilan gender secara internal dan di dalam masyarakat penerima manfaat dari implementasi suatu teknologi energi. Kesempatan mempromosikan kesetaraan gender ini dapat dilakukan dengan cara mengarusutamakan gender (gender mainstreaming) atau memadukan isu gender kedalam semua komponen/struktur dan proses pengorganisasian. Oleh karena itu, kesetaraan gender dapat mendukung terwujudnya kesinambungan program mikrohidro yang memberikan manfaat optimal terhadap kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menjadi bagian dari program

30

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

pengentasan kemiskinan. Di dalam pengarusutamaan gender terdapat proses penilaian dampak dari setiap tindakan yang terencana terhadap perempuan dan laki-laki yang memiliki aspirasi, kepentingan dan pengalaman yang berbeda. Analisis gender adalah kunci bagi pengarusutamaan gender yang dapat digunakan untuk memperoleh pemahaman tentang lingkungan, dampak dan manfaat implementasi suatu proyek mikrohidro terhadap perempuan dan lakilaki yang berada di daerah tersebut.

3.3.1

Pentingnya Analisis Gender dalam Proyek Mikrohidro

Istilah gender mengacu pada peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang terkonstruksi secara sosial, yang mempengaruhi dan menentukan apa yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, bagaimana mereka dinilai dan peluang-peluang serta hambatan-hambatan apa yang mereka hadapi. Termasuk dalam konsep gender adalah harapan masyarakat mengenai ciri-ciri, sikap dan perilaku perempuan dan laki-laki. Peran dan harapan tersebut dipelajari dapat berubah dari waktu ke waktu dan bervariasi menurut budaya masing-masing masyarakat, karena peran dan hubungan gender dipengaruhi oleh serangkaian faktor dan kekuatan yang ada dalam lingkungan sosial dan budaya. Kegiatan analisis gender lebih banyak menghimpun dan menganalisa data dan informasi yang bersifat kuantitatif dan kualitatif mengenai : Peran, kewajiban dan hak yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki Kebutuhan, prioritas, peluang dan hambatan yang dihadapi berbeda bagi perempuan dan laki-laki Alasan mengapa terjadi perbedaan tersebut

31

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Strategi dan peluang apa yang dapat meningkatkan kesetaraan gender Pedoman analisis dan kerangka kerja gender telah dikembangkan oleh berbagai institusi internasional, CIDA (1999); March, C (2000); Energia (2000) menetapkan lima komponen kunci dalam kegiatan analisis gender, yaitu: Tersedianya data terpilah berdasarkan jenis kelamin. Analisis Pembagian Tugas berdasatkan gender di lingkungan rumah tangga, masyarakat dan tempat kerja. Analisis Akses dan Kontrol terhadap aset dan sumberdaya, yang mengkaji siapa mempunyai apa. Analisis kebutuhan Strategik dan Praktis berdasarkan gender. Analisis Konteks Sosial setempat. Dalam pelaksanaan analisis gender, peneliti akan mengumpulkan data dan informasi tentang kegiatan, pengalaman dan pandangan perempuan dan laki-laki di suatu daerah dalam hubungannya dengan proyek mikrohidro. Analisis peka gender akan diterapkan pada data kegiatan sehari-hari kaum perempuan dan laki-laki baik disektor formal maupun non-formal (termasuk kegiatan domestik/rumah tangga). Bagaimana tingkat akses dan kontrol mereka terhadap aset dan sumberdaya yang ada, dan bagaimana kebutuhan, kepentingan dan prioritas mereka dalam hubungannya dengan proyek mikrohidro. Hasil analisis ini akan memberikan informasi perbedaan-perbedaan dan sebab-sebab yang mendasari ketidaksetaraan dan kewajiban dikalangan perempuan dan laki-laki, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi bagi potensi pengembangan program dan perumusan strategi keberlangsungan proyek serta meme-

32

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

cahkan masalah ketidak-setaraan gender. Pada akhir analisis perlu dikembangkan indikator-indikator peka gender (kualitatif dan kuantitatif) yang dipakai untuk memonitor dan mengevaluasi hasil program dalam hal kesetaraan gender, partisipasi dan distribusi manfaat serta dampak terhadap relasi gender (Hunt,J, 2004). Hasil penelitian tim PAPPIPTEK-LIPI (2009) memperlihatkan beberapa contoh usulan indikator peka gender yang dapat dikembangkan dalam hubungannya dengan program implementasi mikrohidro, seperti terlihat pada Tabel Contoh-contoh Indikator Peka Gender dari Program Implementasi Mikrohidro di Perdesaan berikut .
Tabel 7 Contoh-contoh Indikator Peka Gender dari Program Implementasi Mikrohidro di Perdesaan

33

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Sumber : Hasil Survey PAPPIPTEK-LIPI (2009)

34

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Dari beberapa usulan indikator pada tabel di atas dapat dikembangkan menjadi indikator kuantitatif dan kualitatif. Dalam indikator kuantitatif diperlukan data dasar untuk mengukur hasil yang dicapai dibandingkan dengan target program. Contoh indikator kuantitatif : Perempuan menempati sedikitnya 50% dari komite pengelola Mikrohidro pada akhir tahun ketiga proyek. Jumlah usaha yang dikelola oleh perempuan meningkat 25% pada tahun 2010, dari data awal implementasi tahun 2006 Indikator kualitatif lebih banyak berhubungan dengan perubahan hubungan gender. Contoh dari indikator kualitatif : 70% perempuan yang berpartisipasi dalam pengelolaan mikrohidro merasa keterampilan dan tingkat percaya diri mereka untuk berbicara di depan umum meningkat 50% perempuan melaporkan bahwa mereka mempunyai pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan rumah tangga yang berkitan dengan tabungan dan investasi pada akhir tahun kedua proyek Energia (2000) juga mengembangkan daftar cek gender yang dapat dipergunakan untuk menilai apakah gender secara memadai telah dimasukan dalam perencnaan proyek dan tahapan penilaiannya. Daftar cek gender (Lampiran I) di belakang makalah ini dapat dipergunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi proyek energi. Dengan demikian analisis gender dapat dilaksanakan setiap saat selama proyek berlangsung, sebagai bagian dari rancangan perencanaan dan bagian dari monitoring dan evaluasi proyek. Analisis gender juga dapat dimasukan sebagai komponen kajian dampak sosial suatu proyek. Analisis gender sebaiknya diperlakukan sebagai sebuah proses yang

35

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

berkelanjutan. Hasil pengamatan tim peneliti PAPPIPTEK LIPI (2009) di berbagai tempat implementasi mikrohidro memperlihatkan bahwa perbedaan dan ketidaksetaraan gender yang terjadi tidak dipersoalkan oleh masyarakat, sehingga para perencana proyek mempercayakan implementasi proyek kepada pandangan masyarakat. Para perencana tidak melihat secara jeli bahwa masyarakat terdiri atas perempuan dan laki-laki, tua dan muda, dengan kebutuhan dan kepentingan berbeda. Selain itu, banyak pengalaman proyek yang menunjukkan bahwa ketika rumah tangga dianggap sebagai unit perencanaan dasar, suara kaum perempuan nyaris tidak terdengar dan kebutuhan-kebutuhan mereka kurang terwakili. Tidak terintegrasikannya isu gender dalam perencanaan proyek ini mengakibatkan timbulnya kesenjangan gender dalam hal partisipasi, manfaat dan dampak dari proyek mikrohidro tersebut.

3.3.2 Isu-isu Gender dalam Implementasi Proyek Mikrohidro Proyek implementasi mikrohidro pada umumnya dibangun untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan listrik di lingkungan mereka. Lebih jauh, pemanfaatan hasil implementasi ini akan mendorong pembangunan daerah dalam berbagai bidang seperti peningkatan ekonomi, pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang di dalamnya termasuk peningkatan pendidikan dan keterampilan, kesehatan, infrastruktur, dan lain-lain. Beberapa isu gender yang sering dimunculkan dalam proyek implementasi mikrohidro di berbagai tempat antara lain: Keikutsertaan (partisipasi) dalam proses dan pengelolaan Proyek

36

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Mikrohidro Pada kebanyakan masyarakat dan budaya di Indonesia, perempuan acapkali tidak diajak bicara sebagai pemangku kepentingan yang berkaitan dengan perencanaan proyek, kesepakatan pengelolaan proyek dan peluang pemanfaatannya. Akibatnya, kebutuhan, kepentingan, potensi dan prioritas perempuan menjadi tidak diperhitungkan dan berpotensi meningkatkan ketidakmaksimalan tujuan proyek untuk kesejahteraan masyarakat. Peluang pelatihan keterampilan usaha produktif Dengan masuknya listrik dalam rumah tangga, sebenarnya peluang munculnya usaha bagi kaum perempuan semakin besar. Namun, karena rendahnya pendidikan dan keterampilan yang dimiliki kaum perempuan, menyebabkan peluang berusaha bagi kaum perempuan menjadi rendah. Sosialisasi tentang pemeliharaan dan hal lain yang berkaitan dengan listrik Sosialisasi penggunaan dan pemeliharaan listrik di tingkat rumah tangga seringkali dilakukan di tempat umum seperti balai desa, atau ruang pertemuan warga atau bahkan di tempat umum lainnya dimana laki-laki dewasa berkumpul. Sosialisasi umumnya dihadiri oleh kaum laki-laki dan hasil sosialisasi tidak tersampaikan ke rumah, sehingga kaum perempuan tidak memiliki pengetahuan tentang pemeliharaan listrik lebih mendalam, misalnya bagaimana cara menghemat penggunaan listrik, mengganti bola lampu yang putus, dan sebagainya. Kelengkapan aspek monitoring dan evaluasi

37

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Pada banyak kasus, monitoring dan evaluasi proyek mikrohidro tidak mempertimbangkan aspek gender. Kinerja dan keterlibatan perempuan dan laki-laki tidak secara nyata diperlihatkan dalam laporanlaporan monitoring dan evaluasi pada semua tahapan kegiatan implementasi mikrohidro, sehingga perkembangan kemajuan anggota masyarakat perempuan dan laki-laki tidak secara nyata terlihat. Padahal kebutuhan, prioritas, pengalaman, hambatan dan tantangan yang dihadapi mereka berbeda.

3.3.3 Kajian Gender dalam Kasus Pemanfaatan PLTMH untuk Usaha Produktif Masyarakat Mayoritas dari listrik yang dihasilkan oleh proyek mikrohidro di pedesaan dan daerah terpencil ditujukan untuk penerangan rumah warga sekitar. Namun dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti PAPPIPTEKLIPI (2009), di 3 lokasi mikrohidro yang dikunjungi, yaitu mikrohidro di Cinta Mekar, Subang, Jawa Barat; di Seloliman, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur dan di Maiwa, Enrekang, Sulawesi Selatan, memperlihatkan bahwa program implementasi mikrohidro yang dibarengi dengan program pemberdayaan atau peningkatan kapasitas masyarakat, perempuan dan lakilaki, menunjukkan terpenuhinya berbagai aspek kebutuhan gender, seperti kebutuhan praktis, produktif dan kepentingan strategis kaum perempuan yang hampir tidak pernah dijadikan bahan pertimbangan suatu proyek. Kegiatan Implementasi dan pemanfaatan mikrohidro di tingkat masyarakat tidak dapat diperlakukan sebagai netral gender, mengingat masyarakat terdiri atas perempuan dan laki-laki yang memiliki kebutuhan,

38

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

aspirasi dan pengalaman yang berbeda, terutama dalam kaitannya dengan pola produksi dan pola pemakaian energi. Oleh karena itu, proyek energi (termasuk mikrohidro) harus mempertimbangkan berbagai aspek gender termasuk peran perempuan dan laki-laki yang berbeda di masyarakat, agar pemanfaatan yang optimal dan kesinambungan proyek energi dapat terwujud

39

BAB 4 PENYUSUNAN LAPORAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

Bentuk penyusunan laporan hasil studi sosial budaya pembangunan PLTMH yang disajikan dalam Buku Pedoman Studi Kelayakan Sosial Budaya Pembangunan PLTMH ini bukan merupakan standar baku. Pemangku kepentingan (stakeholders) dapat menyusun sesuai versi masing-masing. Format penyusunan laporan dalam buku pedoman ini disusun sebagai petunjuk praktis membantu memudahkan penulisan laporan hasil studi potensi yang memudahkan kegiatan studi kelayakan lanjut berdasarkan referensi laporan ini. Laporan Hasil Studi Kelayakan Sosial Budaya Pembangunan PLTMH dapat disusun sebagai berikut : a. Halaman sampul laporan. b. Ringkasan Eksekutif. c. Daftar Isi.

d. Daftar Gambar. e. Daftar Tabel. f. Daftar Lampiran.

g. Pendahuluan. Bab ini berisi tentang project statement, latar belakang, maksud dan tujuan serta lingkup kegiatan studi hidrologi yang telah dilakukan dan boleh dijelaskan dengan jadual waktu dan gambaran hasil yang dicapai. Kegiatan studi potensi ini dapat dilakukan masyarakat baik

41

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

perorangan dan atau lembaga, maka

pada bab ini dapat

dicantumkan identitas maupun profil lembaga yang diuraikan identitas, status dan alamat jelas. h. Profil Sosial Budaya Lokasi PLTMH. Bab ini menjelaskan gambaran sosial budaya berdasarkan data primer yang telah dilakukan dan didapat seperti struktur sosial masyarakat, kelembagaan tingkat desa, norma budaya, agama dan data lain yang mendukung. i. Lokasi Bangunan PLTMH. Bab ini memberikan gambarkan layout skema sistem PLTMH, rencana posisi bangunan dan profil lokasi. Bab ini dapat dilengkapi dengan dokumentasi foto dan atau gambar. Hal yang paling substansi pada bab ini adalah sketsa layout rencana sistem PLTMH dan konsumen daya listrik. j. Bab Perkiraan Perubahan Sosial Budaya. Bab ini menjelaskan aspek sosial budaya, perkiraan dampak, identifikasi sosial budaya, perkiraan perubahan struktur dan demografi masyarakat, perkiraan perubahan struktur ekonomi, pendapatan dan metode mata pencaharian. k. Rekomendasi Studi Kelayakan. Bab ini memuat saran, rekomendasi, review hasil komparasi dengan lokasi PLTMH sejenis dan atau lokasi berdekatan untuk langkah perubahan sosial masyarakat dan norma budaya. l. Lampiran-lampiran data, gambar, foto dan referensi.

42

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, A Guide UK Mini-Hydro Developments, The British Hydropower Association, 2005 Anonim, Handbook for Developing MICRO HYDRO in British Columbia, BC Hydro Engineering, 2004 Anonim, Manual Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, 2005 Anonim, Micro Hydro Power : A Guide to Small-Scale Water Power Systems, ABS Alaskan, 2002 Hadi, Sudharto P Metodologi Aspek Sosial AMDAL, Pusat Penelitian ., Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro, 2004 Khennas, Smail dan Barnett, Andrew, Best Practices for Sustainable Development of Microhydro Power in Developing Countries, The Department for International Development, UK and The World Bank, 2000 Penche, Celso, How to Develop A Small Hydro Site, Directorate General for Energy (DG VII), European Commision, 1998 Suyoko, Sri, Dampak pada Aspek Sosial Ekonomi Kependudukan, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro, 2004 Wibowo, Catoer, Langkah Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), Ford Foundation, Mini Hydro Power Project (MHPP) dan Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), 2005 Daniel, Moehar, Metode Penelitian Sosial Ekonomi , Jakarta; PT Bumi Aksara, 2002 Nurkhoiron, M, Bahan Presentasi Kajian Kelayakan Sosial dan Budaya, DESANTARA, Istitute for Cultural Studies, 2009.

43

BUKU 2E PEDOMAN STUDI KELAYAKAN SOSIAL BUDAYA

HindraKusuma, Sentanu, Bahan Presentasi Studi Kelayakan Sosial dan Budaya, AHB, 2009

44

DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Jalan H.R. Rasuna Said Blok X2 Kav. 7 & 8 Kuningan, Jakarta 12950