Anda di halaman 1dari 146

PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA

MIKRO HIDRO (PLTMH) DI SUNGAI MARIMPA


KECAMATAN PINEMBANI

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuh syarat menyelesaikan studi pada


Program Studi Strata Satu (S1) Teknik Sipil
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tadulako

Disusun Oleh:
RAMLI KADIR
F 111 05 090

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2010
i
LEMBAR PENGESAHAN

Berdasarkan persetujuan dari Majelis Penguji Skripsi, Dosen Pembimbing dan


Ketua Program Studi S1 Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Tadulako, maka judul skripsi :

“PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO


(PLTMH) DI SUNGAI MARIMPA KECAMATAN PINEMBANI”

Disusun Oleh :

RAMLI KADIR
STB : F 111 05 090

Disahkan Oleh :

Dekan Fakultas Teknik, Ketua Jurusan Teknik Sipil,

Ir. H. A. Hasanuddin Azikin, M.Si Nur Hidayat, ST. MT


NIP. 19560911 198601 1 001 NIP. 19680618 199903 1 002

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Pada hari Rabu tanggal Dua Puluh Tujuh Oktober 2010, Panitia Ujian Tugas
Akhir Program Studi Strata Satu (S1) Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Tadulako Berdasarkan SK Dekan Fakultas Teknik. No. 1497/H28.1.31/PP/2010
tanggal Tiga Puluh Oktober 2010, menyatakan menerima/menyetujui Tugas Akhir
yang telah dipertanggungjawabkan dihadapan Panitia Ujian Tugas Akhir oleh :

Nama : Ramli Kadir


No. Stambuk : F 111 05 090
Judul : “Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro
(PLTMH) Di Sungai Marimpa Kecamataan Pinembani”

Majelis Penguji :
No. Nama / NIP Jabatan Tanda tangan
Ir. H. Andi Hasanuddin Azikin, M.Si
1. Ketua
NIP. 19560911 198601 1 001
DR. Andi Rusdin, ST. MT. M.Sc
2. Sekretaris
NIP. 19661216 19993 1 002
DR. Sance Lipu, ST. M.Eng
3. Anggota
NIP. 19690926 199702 1 001
Yassir Arafat, ST. MT
4. Anggota
NIP. 19701231 200003 1 002
Ir. Arody Tanga, MT
5. Anggota
NIP. 19660811 199403 1 003

Dosen Pembimbing :
No. Nama / NIP Jabatan Tanda tangan
Alifi Yunar, ST, MT
1. Pembimbing I
NIP. 19661216 19993 1 002
Totok Haricahyono, ST, MT
2. Pembimbing II
NIP. 19720303 200003 1 002

Palu, November 2010


Ketua Program Studi S1 Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Tadulako

Kusnindar A Chauf, ST, MT


Nip. 19740120 200003 1 003
iii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberi
karunia kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas
Akhir ini. Shalawat dan salam ke atas Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang
telah memberi keteladanan tauhid, ikhtiar dan kerja keras sehinggga menjadi
panutan dalam menjalankan setiap aktifitas kami sehari-hari, karena sungguh
suatu hal yang sangat sulit yang menguji ketekunan dan kesabaran untuk tidak
pantang menyerah dalam menyelesaikan penulisan ini.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan


studi pada Program Studi Stara Satu (S1) Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Tadulako. Adapun judul skripsi yang diambil adalah:

“PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO


(PLTMH) DI SUNGAI MARIMPA KECAMATAN PINEMBANI”
Beban sebagai mahasiswa untuk menuntun ilmu sebanyak-banyaknya
tidak hanya di bangku kuliah tapi juga di luar lingkungan kampus merupakan
tanggung jawab edukasi yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk itu
penulis sadar lamanya waktu studi yang di butuhkan untuk menempuh jenjang S1
ini bukan merupakan pencapaian yang sempurna, tapi ini adalah yang terbaik
yang bisa penulis capai. Jenjang pendidikan yang sekarang di tempuh sungguh
merupakan jembatan untuk menggapai cita-cita. Untuk itu terima kasih yang tak
terhingga kepada ayahandaku tercinta Abdul Kadir dan ibundaku Milla, atas
segala doa, nasehat, kasih sayang, bimbingan, dorongan, pengertian,
kesabarannya, dan kerja kerasnya setiap waktu agar putra-putrinya bisa terus
sekolah setinggi-tingginya. Saudara-saudaraku ; Rusmin Kadir, Resti Kadir,
Ria Kadir, Siti Hardianti Kadir, Amma, Arman, terima kasih atas doanya,
pengertiannya, dukungan moril dan materialnya, kalian adalah panutan bagiku.
Terima kasih yang tak terhingga kepada Kakek Kasing, BBA, Nenek Hasbiah,
iv
Nenek Kariati sebagai orangtua kedua selama penulis menuntut ilmu di Fakultas
Teknik Universitas Tadulako yang selalu memberi kasih saying, dukungan doa
dan moril serta nasehat-nasehat yang sangat berharga.
Pada kesempatan ini pula, penulis menyampaikan rasa hormat serta terima
kasih yang sedalam-dalamnya Kepada Bapak Alifi Yunar, ST.MT selaku
pembimbing I dan Bapak Totok Haricahyono, ST.MT selaku pembimbing II
yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, koreksi,
dan arahan selama penyusunan Skripsi ini.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada:
1. Bapak Drs. Sahabuddin Mustafa, M.Si, Selaku Rektor Universitas
Tadulako.
2. Bapak Ir. H. Andi Hasanuddin Azikin M.Si selaku Dekan Fakultas
Teknik Universitas Tadulako.
3. Bapak Ir. Burhan Tatong selaku Pembantu Dekan I Fakultas Teknik
Universitas Tadulako.
4. Ibu Ir. Shyama Maricar, M.Si selaku Pembantu Dekan II Fakultas Teknik
Universitas Tadulako
5. Ibu Ir. Pudji Astutiek, M.Si selaku Pembantu Dekan III Fakultas Teknik
Universitas Tadulako
6. Bapak Nurhidayat, ST. MT selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Tadulako.
7. Bapak Kusnindar Abd. Chauf, ST. MT selaku Ketua Program Studi S1
Fakultas Teknik Universitas Tadulako.
8. Bapak Ir. Arody Tanga, MT selaku Ketua Konsentrasi Bidang Keairan
Fakultas Teknik Universitas Tadulako
9. Bapak Yassir Arafat, ST.MT dan Bapak Ir. Burhan Tatong sebagai
Dosen Wali.
10. Tim Dosen Penguji, Bapak Ir. H. Andi Hasanuddin Azikin M.Si, Bapak
Ir. Arody Tanga, MT, Bapak Yassir Arafat, ST.MT, Bapak DR. Andi
Rusdin, ST.MT.M.Sc, dan Bapak DR. Sance Lipu, ST.M Eng, yang telah
memberikan masukan berarti selama ujian.

v
11. Seluruh Dosen Fakultas Teknik Universitas Tadulako.
12. Seluruh Staf Pegawai Fakultas Teknik Universitas Tadulako
13. Bapak Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Sulawesi Tengah.
14. Sahabatku Naftali Pali, Yoel Pasang, Amd, Suardi Sada, Amd, terima
kasih doa dan pengertiannya selama ini.
15. Teristimewa buat Ade Aby dan Ade Anzy, terima kasih doa dan dukungan
morilnya selama ini, Tetap sayang sama orang tua na….!!!!
16. Sahabat - sahabat Smile ’05 : Indrawan, Ikbal, Acal, Zul, Adit, Edi,
Febri, Hendra, Amin, Opan, Windra, Amd, Memet, Acang, Imam,
Iman, Mukti, Awin, Odet (Alm), Jefri, Rifki, Ucang, Sigit, Ipul, Ijal,
Fikal, Adri, Ikhy, Sahab, Wawan, Ready, Josua, Randi terima kasih atas
semua bantuanya, suka dukanya, selalu menemani dari awal kuliah hingga
sekarang ini, dan makasih untuk kebersamaannya. Smangat...Frenn...!!!!
17. Sahabat - sahabat seperjuanganku Civil 05; Yuyun, Aci, Intan,ST, Alfi,
Mida,ST, Anti, Degus,ST, Dita,ST, Vivi, dan teman-teman yang lain yang
tidak sempat di tulis satu persatu…. Thanx tuk semuanya guys….!!
18. Teman-teman seperjuangan lainnya, senior dan juniorku yang tidak sempat
disebut satu persatu. Terima kasih atas kebersamaan yang menyenangkan
selama ini.
Atas jerih payah, bimbingan, bantuan serta dorongan yang berharga itu,
penulis tidak dapat memberikan balas jasa apapun, kecuali memohon kepada
Allah SWT agar melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka semua.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, dan
segala kritikan serta saran-saran yang menuju ke arah perbaikan tulisan ini sangat
diharapkan. Semoga tulisan ini berguna bagi ilmu pengetahuan dan bermanfaat
bagi kita semua serta mendapatkan Ridho Allah SWT. Amien….

Palu, November 2010


Penulis,

Ramli Kadir
vi
ABSTRACT

RAMLI KADIR, F 111 05 090. Micro Hydro Power Plant Design at Marimpa
River at Pinembani Subdistrict (guided by Alifi Yunar and Totok Haricahyono).

The research is done due to the lacle of electricity in pinembani area, thus
this is the main reasor to explore the potency of Marimpa riveo for the Micro
Hydro Power Development.

The objective of this study is to calculate the rate of dependable flow, that
the electricity could be produced and to design the Micro Hydro Power Scheme.
The study begin with the collection of secondary data, such as the data of
rain fall, climatic data, catchment area, population, that gained from Balai
Wilayah Sungai Sulawesi III and Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah. The
Method that apply for evapotranspiration calculation is Penman Modification.
Dependable flow analyzed by using F. J. Mock method. The research result shows
that the dependable flow according to F.J. Mock method is 0,064 m3/s and the
energy produced is 3,696 kW.
Key Words : Rate of flow, energy, design.

vii
ABSTRAK

RAMLI KADIR, F 111 05 090. Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro


Hidro (PLTMH) Di Sungai Marimpa Kecamatan Pinembani (Dibimbing oleh Alifi
Yunar dan Totok Haricahyono).
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi daerah Pinembani yang belum
terjangkau jaringan listrik, merupakan alasan mendasar untuk memberdayakan
potensi air sungai Marimpa menjadi sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH).
Studi ini bertujuan untuk menghitung debit andalan, daya yang dapat
dihasilkan dan membuat desain dasar Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro
(PLTMH).
Dalam memulai studi ini dilakukan pengumpulan data sekunder, seperti
data curah hujan, data klimatologi, Catchment area, data penduduk, yang
diperoleh dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi III dan Badan Pusat Statistik
Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan dalam perhitungan Evapotranspirasi
yaitu Metode Penman Modifikasi. Perhitungan Debit Andalan menggunakan
Metode F.J.Mock. Hasil penilitian menunjukan bahwa Metode F.J.Mock
menghasilkan debit andalan sebesar 0,064 m3/detik dan daya yang dihasilkan
sebesar 3,696 kW.
Kata Kunci : Debit Andalan, Daya, Desain.

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………..….….……….… i

LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………….. ii

LEMBAR PERSETUJUAN ……………………………………………….. iii

KATA PENGANTAR …………………………………………………….. iv

ABSTRACT ……………………………………………………………… vii

ABSTRAK ………………………………………………………………. viii

DAFTAR ISI ……………………………………………..….….…….…... ix

DAFTAR TABEL ………………………………………..……….…….… xii

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………... xiv

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………… xvi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ……………………………...….……… 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………. 2
1.3 Maksud dan Tujuan ………………………...………… 2
1.4 Manfaat Penelitian …………….……………...……….. 2
1.5 Metode Penulisan …………………………...…………. 3
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1 Letak Daerah Penelitian ……………….…..………….. 4
2.2 Kondisi Sosial Ekonomi……………….....…………… 4
2.2.1 Tata Guna lahan………………………………… 4
2.2.2 Pendidikan………………………...……………. 5
2.2.3 Populasi……………………………………….… 5
2.3 Kondisi Topografi …………………….…..…………... 5
2.3.1 Gambaran Umum Lokasi……….………………. 5
2.3.2 Peta Topografi……………………………….….. 6
2.4 Kondisi Hidrologis……………………………………. 6
ix
2.4.1 Umum………………………………………….... 6
2.4.2 Iklim…………………………………………...... 6
2.4.3 Kualitas Air……………………………..………. 11
2.4.4 Curah Hujan………….…………………………. 11
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Umum ……………………………………...…….….... 16
3.2 Debit Andalan …….…………………..…………….... 16
3.2.1 Metode Penman Modifikas ……………………. 17
3.2.2 Metode F.J.Mock ………………………………. 19
3.3 Tinjauan Teknis …………..…………..………….…… 23
3.3.1 Pengertian dan Prinsip PLTA ………………….. 23
3.3.2 Penentuan Tinggi Jatuh Efekti ………………… 24
3.3.3 Penentuan Debit Turbin ………………………... 25
3.4 Klasifikasi PLTA .…………………...……………….. 26
3.4.1 Penggolongan Berdasarkan Tinggi Terjunan ..… 26
3.4.2 Penggolongan Menurut Aliran Air ……….……. 26
3.5 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro …………….. 27
3.5.1 Perkembangan Pusat Listrik Tenaga Air ………. 27
3.5.2 Penerapan Teknologi Mikro Hidro ……………. 28
3.5.3 Rencana Konsep Rancang Bangun Mikrohidro ... 29
3.5.4 Komponen Pokok Mikro Hidro ……………….. 30
3.6 Pemilihan Turbin ……….………………………..…… 37
3.6.1 Kriteria Pemilihan Jenis Turbin …………...…… 38
3.7 Perencanaan Daya Listrik .…………..…...…………... 41
BAB IV METODELOGI PENELITIAN
4.1 Lokasi Penelitian …………………………….……….. 43
4.2 Alat dan Bahan Penelitian …………..………………... 43
4.3 Langkah-langkah Penelitian ………………….……….. 43
4.4 Pengumpulan Data …………………….…….…..……. 44
4.5 Bagan Alir Penelitian …………………………………. 46

x
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.1 Debit Andalan …………………………...…….…….... 47
5.1.1 Evaluasi Data …………………….….…………. 47
5.1.2 Perhitungan Evapotranspirasi Potensial …..……. 47
5.1.3 Perhitungan Debit Andalan Sungai…………….. 52
5.2 Debit Banjir.. ….…………..…………..………….…… 68
5.2.1 Analisis Frekuensi ………………………..……. 68
5.2.2 Debit Banjir Rancangan Metode Rasional …….. 73
5.3 Desain Dasar ….…………..…………..………….……75
5.4 Data Desain …………………………...………………. 75
5.5 Desain Dasar Pekerjan Sipil ……………...…………… 76
5.5.1 Bangunan Pengalih Aliran (Cofferdam) ..……… 76
5.5.2 Bendung …………………….. ………………… 77
5.5.3 Bangunan Pengambilan (Intake) ……...………...82
5.5.4 Saluran Pembawa …………………………….... 85
5.5.5 Bangunan Pengendap Sedimen …………………87
5.5.6 Pipa Pesat (Penstock) ……………….…………. 90
5.5.7 Kehilangan Tenaga (Head Loss) ……….……… 92
5.5.8 Rumah pembangkit ……………………………. 95
5.5.9 Saluran Pembuang Akhir (Tail Race) ………….. 95
5.6 Kapasitas Daya dan Produksi Energi ..……………….. 96
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan ……….………………………………….. 98
6.2 Saran …………………………………………....…….. 98
DAFTAR PUSTAKA
GAMBAR DESAIN
LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kelembaban Relatif Stasiun Porame ..…………………….. 7

Tabel 2.2 Temperatur Rata-Rata Bulanan Stasuin Porame ..……….... 8

Tabel 2.3 Kecepatan Angin Bulanan Stasiun Porame ..…………….... 9

Tabel 2.4 Penyinaran Matahari Bulanan Stasiun Porame .………….. 10

Tabel 2.5 Curah Hujan Bulanan Stasiun Porame ..………….……….. 12

Tabel 3.1 Hubungan antara T dengan Ea, W dan f(t) ........................... 18

Tabel 3.2 Radiasi Ekstra Matahari (Ra) Dalam Evaporasi Ekivalen

(mm/hr) Dalam Hubungannya dengan Letak Lintang ..….. 18

Tabel 3.3 Maksimum Penyinaran Matahari ……………..………….. 19

Tabel 3.4 Daerah Operasi Turbin ……………………..……...……… 38

Tabel 3.5 Efisiensi Turbin ……………………………………………. 39

Tabel 5.1 Perhitungan Evapotranspirasi Bulanan dengan Metode

Penman Modifikasi …..…………………………………… 51

Tabel 5.2 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai


Marimpa Thn.2000 …………………………………..……. 56
Tabel 5.3 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2001 …………………………………..……. 57
Tabel 5.4 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2002 …………………………………..……. 58
Tabel 5.5 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2003 …………………………………..……. 59
Tabel 5.6 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2004 …………………………………..……. 60

xii
Tabel 5.7 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2005 …………………………………..……. 61
Tabel 5.8 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2006 …………………………………..……. 62
Tabel 5.9 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2007 …………………………………..……. 63
Tabel 5.10 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2008 …………………………………..……. 64
Tabel 5.11 Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai
Marimpa Thn.2009 …………………………………..……. 65

Tabel 5.12 Debit Andalan Sungai Marimpa …………………………… 66

Tabel 5.13 Hasil Perhitungan Debit Andalan “Metode F.J.Moc” ……... 67

Tabel 5.14 Curah Hujan Rerata Bulanan Maksimum ………………… 68

Tabel 5.15 Uji Konsistensi C.H.Bulanan Maksimum Metode RAPS…. 70

Tabel 5.16 Analisis Frekuensi Metode Gumbel ……………………….. 73

Tabel 5.17 Analisis Banjir Metode Rational Berdasarkan Analisis

frekuensi Metode Gumbel …………………………………. 74

Tabel 5.18 Koefisien Kehilangan Tenaga pada Bengkokan Pipa ……. 93

Tabel 5.19 Nilai Koefisien Kehilangan Tenaga pada Belokan Pipa …. 93

Tabel 5.20 Nilai Koefisien Kehilangan Tenaga pada Tiap Belokan …. 94

Tabel 5.21 Kapasitas Bangkitan Energi PLTMH Marimpa …………… 97

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Gambar Lokasi Penelitian ……………………..…….…. 13

Gambar 2.2 Lokasi Penelitian ………………………...……..…….…. 14

Gambar 2.3 Daerah Cathment Area ……………..…………..……..…. 15

Gambar 3.1 Komponen Pokok Mikrohidro ……………………..….…. 31

Gambar 3.2 Diagram Aplikasi Berbagai Jenis Turbin ….............….…. 41

Gambar 4.1 Bagan Alir Penelitian ......................................................... 46

Gambar 5.1 Kurva Durasi Debit Aliran Sungai .................................... 66

Gambar 5.2 Grafik Debit Andalan Dengan Metode F.J.Mock ............... 67

Gambar 5.3 Grafik Curah Hujan Rerata Daerah Bulanan Maksimum .. 68

Gambar 5.4 Grafik Analisis Curah Hujan Rancangan Metode Gumbel. 73

Gambar 5.5 Grafik Banjir Rancangan Metode Rational Berdasarkan

Analisis Frekuensi Metode Gumbel ................................... 75

Gambar 5.6 Sketsa Penampang Rata-Rata Sungai Marimpa ............... 80

Gambar 5.7 Tinggi Muka Air di Atas Mercu Bendung ......................... 81

Gambar 5.8 Sketsa Bangunan Bendung dan Intake .............................. 82

Gambar 5.9 Type Pintu Intake .............................................................. 84

Gambar 5.10 Sketsa Potongan Memanjang Saluran Pembawa .............. 86

Gambar 5.11 Skema Potongan Memanjang Bangunan Pengendap


Sedimen ............................................................................. 87

Gambar 5.12 Sketsa Bangunan Kantong Sedimen .................................. 90

xiv
Gambar 5.13 Koefisien Kehilangan Tinggi Energi Untuk Peralihan-
Peralihan Saluran Trapesium ke Pipa, dan Sebaliknya ..... 92

Gambar 5.14 Ketersediaan Daya & Produksi Energi .............................. 97

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Tabel PN.1 Hubungan Suhu (T) dengan nilai ea (mbar),


W, (1-W) dan f (t) ………………………………………… 100
Lampiran B Tabel PN.2 Besaran Nilai Angot (Ra) dalam Evaporasi
Ekivalen (mm/hari) dalam hubungannya dengan
letak lintang (untuk daerah Indonesia, antara
5 LU sampai 10 LS)……………………………………….. 101
Lampiran C Tabel PN.3 Hubungan nilai (Rs) dengan (Ra) dan (n/N)
Rs = (0,25 + 0,54 n/N). Ra ………………………………… 102
Lampiran D Tabel PN.4 Hubungan antara (ea) dan (ed) untuk berbagai
keadaan (RH) guna penggunaan rumus Penman……………. 103
Lampiran E Tabel PN.5 Besaran f (ed), f (ed) = 0,34 – 0,044 √𝑒𝑑,
guna perhitungan rumus Penman………………………….. 104
Lampiran F Tabel PN.6 Besaran f (n/N), f (n/N) = 0,1 + 0,9 n/N,
guna perhitungan rumus Penman………………………… 105
Lampiran G Tabel PN.7 Besaran f (u), f (u) = 0,27 (1 + U x 0,864),
guna perhitungan rumus Penman…………………………. 105
Lampiran H Tabel PN.8 Besaran angka koreksi (c) bulanan untuk rumus
Penman (berdasarkan perkiraan perbandingan kecepatan
angin siang/malam di daerah Indonesia)…………………. 106
Lampiran I Tabel Nilai Q/n0,5 dan R/n0,5 ……………………………… 106
Lampiran J Tabel Hubungan Reduksi Data Rata-rata (Yn) dengan
Jumlah Data (n) ………………………………………….... 107
Lampiran K Tabel Hubungan Antara Deviasi Standar (Sn) dan Reduksi
Data dengan Junmlah Data (n) ………………………………. 108
Lampiran L Data Curah Hujan Harian .…………………..………….……109
Lampiran M Dokumentasi Lokasi Penelitian …………………….……… 119

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Listrik merupakan salah satu utilitas utama perumahan yang harus


di penuhi di dalam pembangunan suatu perumahan baik perumahan
sederhana maupun di dalam pembanguan rumah susun. Permasalahan
yang ada saat ini adalah terbatasnya suplai tenaga listrik yang
mengakibatkan krisis energi tenaga listrik.

Daerah-daerah terpencil dan pedesaan umumnya tidak terjangkau


jaringan listrik. Dalam kondisi dinamika, solusi yang memadai adalah
dengan menyediakan pembangkit listrik setempat seperti generator
(genset) yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Solusi lainnya
adalah menggunakan sumber energi lain yang berasal dari air, angin,
cahaya matahari, dan biomass. System ini lazim disebut dengan
pembangkit listrik skala kecil tersebar (PSK Tersebar) yang dianjurkan
untuk menggunakan energi terbarukan. Hal ini juga tidak memungkinkan
bagi perumahan di perkotaan mengingat krisisnya energy yang ada pada
saat ini.
Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi
pembangkit listrik yang menggunakan energy air. Kondisi air yang bisa
dimanfaatkan sebagai sumber daya (resources) penghasil listrik adalah
memiliki kapasitas aliran dan ketinggian tertentu dari instalasi. Semakin
besar kapasitas aliran maupun ketinggiannya dari instalasi maka semakin
besar energy yang bias dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
Dengan melihat keadaan daerah Pinembani dan sekitarnya yang
belum terjangkau jaringan listrik, merupakan alasan mendasar untuk
memberdayakan potensi air sungai Marimpa menjadi sumber pembangkit
tenaga listrik yang diharapakan dapat membantu masyarakat Pinembani,

1
khusunya desa Dangaraa dalam meningkatkan keadaan ekonomi dan
memenuhi kebutuhan kelistrikan di daerah tersebut. Untuk itulah akan
direncanakan PLTMH yang system pengalirannya menggunakan saluran
terbuka dan tertutup (pipa).

Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis akan membahas tentang


“Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Di
Sungai Marimpa Kecamatan Pinembani”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada penulisan ini adalah :
1. Debit yang dihasilkan dari aliran sungai Marimpa.
2. Daya yang bisa dihasilkan dari aliran sungai Marimpa.
3. Besarnya kebutuhan listrik yang akan digunakan masyarakat desa
Dangraa.

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penulisan ini adalah untuk melakukan suatu survey


dan study kelayakan pemanfaatan sumber air sungai Marimpa dalam
Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang bisa
memenuhi kebutuhan listrik pada masyarakat Pinembani.
Tujuan penulisan ini yaitu untuk menghitung debit andalan, daya
yang bisa dihasilkan dan membuat desain dasar Pembangkit Listrik
Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan mengacu pada sistem sejenis yang
sudah terpasang di daerah lain.
1.4 Manfaat Penelitian

Secara khusus Perencanaan PLTMH di Sungai Marimpa


diperuntukkan bagi penulis mengaplikasikan ilmunya yang diperoleh dari
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Tadulako pada Sungai
Marimpa Kecamatan Pinembani, secara umum Perencanaan PLTMH di
Sungai Marimpa dengan daya yang dihasilkan akan diperuntukkan sebagai

2
penerangan untuk masyarakat, pendidikan, industri kecil maupun lahan
penelitian yang mungkin dapat dilaksankan didaerah tersebut.

1.5 Metode Penulisan

Dalam penulisan ini, penulis menggunakan beberapa metode yaitu:


1. Studi Pustaka
Yaitu berupa studi literature serta mengutip bagian-bagian yang ada
relevansinya dengan judul tugas akhir ini.
2. Pengumpulan Data
Mencari data-data yang diperlukan dalam penulisan tugas akhir, data-
datanya berupa :
a. Data Primer, adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan
oleh peneliti.
b. Data Sekunder, adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari
berbagai sumber.
3. Pengolahan Data
Data-data yang telah diperoleh baik data primer maupun data
sekunder diolah untuk dianalisa.
4. Analisa dan Pembahasan
Melakukan analisa terhadap pokok permasalahan penulisan yang
didukung oleh data yang diperoleh serta variable-variabel lain yang
sesuai, dan memberikan pembahasan terhadap hasil yang diperoleh.
5. Kesimpulan dan Saran
Memberikan kesimpulan dan saran mengenai langkah apa yang bisa
dilakukan terhadap permasalahn yang diteliti.

3
BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Letak Daerah Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di Desa Dangraa yaitu di Kecamatan


Pinembani Kabupaten Donggala.

Jarak antara Desa Dangraa kecamatan Pinembani dengan kota Palu


±48 km yang dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda 4 sejauh
30 km dan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan roda 2 sejauh 18
km. Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) ini berada
pada bagian hulu Bangkalang (Sungai) Marimpa. Jarak antara pusat desa
Dangraa Kec.Pinembani dengan lokasi rencana PLTMH adalah lebih kurang
4 km, dengan Pemukiman terdekat adalah 2 km.

2.2. Kondisi Sosial Ekonomi

2.2.1. Tata Guna Lahan

Desa Dangaraa dengan luas wilayah 7,24 Km2 terdiri dari :


- Lahan Kering
a. Bangunan Halaman 2,3 Ha.
b. Kebun 124 Ha.
c. Huma 25 Ha.
d. Rawa 1 Ha.
e. Hutan Negara 227 Ha.
f. Lahan Kosong 136 Ha.
g. Lainnya 183 Ha.

- Tanah Sawah Irigasi Sederhana 25,7 Ha.

Jumlah 724 Ha.

Bagian hulu sungai ini masih merupakan kawasan hutan.


Sedangkan disekitar rencana pembangunan PLTMH ini, sungai

4
mengalir melalui kawasan perkebunan coklat dan kelapa
masyarakat. Tata guna lahan pada lokasi rencana bangunan
pengambilan hingga rumah pembangkit adalah lahan perkebunan
masyarakat.

2.2.2. Pendidikan

Dengan asumsi anak usia sekolah terdapat 25% sehingga


jumlah penduduk usia sekolah pada desa ini adalah 53 anak. Sarana
pendidikan yang ada adalah I SD dengan ruang kelas sejumlah 3
buah dan ruang belajar 6 buah.

2.2.3. Populasi

Pada tahun 2008 (data statistik terakhir), jumlah penduduk


desa Dangaraa 315 jiwa dengan jumlah rumah tangga 67 KK.
Dengan luas wilayah Desa Dangaraa 7,24 km2, maka kepadatan
penduduk desa ini adalah hanya 14 jiwa/km2.(Sumber : Badan
Pusat Statistik Sulawesi Tengah).

2.3 Kondisi Topografi

2.3.1. Gambaran Umum Lokasi

Kecamatan Pinembani merupakan sebagian besar wilayahnya


adalah pegunungan. Salah satu sungai pada kecamatan Pinembani
adalah sungai Marimpa yang terletak di desa Dangraa yang
menjadi wilayah penelitian untuk perencanaan PLTMH. Topografi
disekitar lokasi rencana PLTMH Sungai Marimpa adalah
perbukitan. tinggi tebing rata-rata 2 meter dengan kemiringan 45 0.
Dari rencana bendung/intake ke hilir, kemiringan dasar sungai
adalah 9,88 % dan tinggi tebing rata-rata 3 meter.

Skema PLTMH ini berada pada bagian kanan sungai dengan


pertimbangan topografi lebih datar dan rata dari pada bagian kiri
sehingga dalam perencanaannya lebih muda.

5
2.3.2. Peta Topografi

Dalam studi ini digunakan peta topografi yaitu peta rupa


bumi Indonesia skala 1 : 50.000 sumber BAPPEDA. Disamping
itu, juga digunakan peta topografi disekitar lokasi dengan skala
1:10.000 yang mencakup lokasi bendung, jalur pipa dan rumah
pembangkit dari hasil pengukuran langsung di lapangan.

2.4 Kondisi Hidrologis

2.4.1. Umum

Pada perencanaan pembangunan PLTMH ini, data hidrologi


digunakan untuk memperhitungkan daya dan dimensi struktur
bangunan sipil yang diperlukan. Data hidrologi yang diperlukan
guna merencanakan PLTMH antara lain : data curah hujan, data
klimatologi, perhitungan debit jangka panjang (longterm run off)
dan perhitungan tinggi banjir.

Sehubungan dengan pemanfaatan sumber daya air sungai


Marimpa ini, Data yang digunakan berupa data sekunder yang di
peroleh dari kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah,
kantor BAPEDA Sulawesi Tengah Kantor PU Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air Balai Sulawesi III.

2.4.2. Iklim

Berdasarkan data klimatologi pada stasiun Lalundu, dengan


serial data dari tahun 2000 sampai dengan 2009, dibuatlah tabulasi
iklim seperti yang disajikan pada tabel 2.1 sampai dengan 2.4.
sebagai berikut :

6
Tabel 2.1. Kelembaban Relatif Stasiun Porame

7
7
Tabel 2.2. Temperatur Rata-rata Bulanan Stasiun Porame

8
8
Tabel 2.3. Kecepatan Angin Bulanan Stasiun Porame

9
9
Tabel 2.4. Penyinaran Matahari Bulanan Stasiun Porame

10
10
2.4.3 Kualitas Air
Saat dilakukan survey tidak tampak adanya tanda-tanda
kehawatiran tentang kualitas air. Hal ini juga ditunjukkan oleh
adanya ternak masyarakat yang memakai air sungai ini sebagai air
minum.
2.4.4 Curah Hujan
Berdasarkan data curah hujan harian pada stasiun Tanamea
dan Porame, dengan serial data dari tahun 2000 sampai dengan
2010, dibuatlah tabulasi curah hujan bulanan seperti yang disajikan
pada tabel 2.5. sebagai berikut:

11
Tabel 2.5.. Curah Hujan Bulanan Stasiun Porame (mm/bln.)

12
12
L

Gambar 2.1 Lokasi Penelitian 13


13
Gambar 2.2 Lokasi Penelitian 14
14
Gambar 2.3 Daerah Cathment Area 15
15
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Umum

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), mempunyai


kelebihan dalam hal biaya operasi yang rendah jika dibandingkan dengan
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), karena minihidro
memanfaatkan energi sumber daya alam yang dapat diperbarui, yaitu
sumber daya air (Endardjo, et, all 1998). Dengan ukurannya yang kecil
penerapan mikro hidro relative mudah dan tidak merusak lingkungan.
Rentang penggunaannya cukup luas, terutama untuk menggerakkan
peralatan atau mesin-mesin yang tidak memerlukan persyaratan stabilitas
tegangan yang akurat (Endardjo, et, all 1998).

Analisa hidrologi sangat diperlukan dalam merencanakan


pembangkit listrik mikrohidro, yaitu untuk menentukan debit andalan dan
debit pembangkit yang diperlukan untuk menentukan kapasitas dan energi
yang dihasilkan oleh PLTMH tersebut.

3.2 Debit Andalan

Guna mendapatkam kapasitas PLTM, tidak terlepas dari


perhitungan berapa banyak air yang dapat diandalakan untuk
membangkitkan PLTM. Debit anadalan adalah debit minimum (terkecil)
yang masih dimungkinkan untuk keamanan operasional suatu bangunan
air, dalam hal ini adalah PLTM.

Debit minimum sungai dianalisis atas dasar debit hujan sungai.


Dalam perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ini,
dikarenakan minimalnya data maka metode perhitungan debit andalan
menggunakan metode simulasi perimbangan air dari Dr. F.J.Mock
(KP.01,1936). Dengan data masukan dari curah hujan di Daerah Aliran
Sungai, evapotranspirasi, vegetasi dan karakteristik geologi daerah aliran.

16
Metode ini menganggap bahwa air hujan yang jatuh pada daerah
aliran (DAS) sebagian akan menjadi limpasan langsung dan sebagian akan
masuk tanah sebagai air infiltrasi, kemudian jika kapasitas menampung
lengas tanah sudah terlampaui, maka air akan mengalir ke bawah akibat
gaya gravitasi
3.2.1 Metode Penman Modifikasi
Data terukur yang dibutuhkan yaitu letak lintang (LL), suhu udara
(t), kecerahan matahari (n/M), kecepatan angin (u) dan kelembaban
relatif (RH) dengan rumus :
Eto = c x Eto*
Eto* = W(0,75 x Rs – Rn1) + (1 – W) x (f(u) x (ea –ed) … (3.1)
Dimana :
c = Factor koreksi penman
w = Factor penimbangan untuk suhu dan elevasi daerah
Rs = Jumlah radiasi gelombang pendek
Rs = (0,25 + 0,54 n/M) x Ra ………………………….. (3.2)
Ra = Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar
Atmosfer (mm/hr)
n =Rata-rata cahaya matahari sebenarnya dalam satu hari (jam)
N = Lama cahaya matahari maksimum yang mungkin dalam
satu hari
Rn = Radiasi bersih gelombang panjang (mm/hr)
Rn = f(t) x f(ed) x f(n/N)……………………………… (3.3)
f(t) = fungsi suhu
f(ed) = fungsi tekanan uap
f(n/N) = fungsi kecerahan matahari
f(u) = 0,27 (1 + u x 0,864) ............................................ (3.4)
f(u) = fungsi kecepatan angin
f(n/N) = 0,1 + 0,9 n/N ....................................................... (3.5)

17
ea-e = defisit tekanan uap yaitu selisih antara tekanan uap jenuh
(ea) pada T rata-rata dalam (mbar) dan tekanan uap
sebenarnya (ed) dalam (mbar)
ea=ed = ea x RH/100.......................................................... (3.6)

Tabel 3.1. Hubungan antara T dengan Ea, W dan f(T)


Ea W (1 - W)
suhu (T) f (T)
mbar Elevasi 1 - 250 m
20 23,40 0,68 0,32 14,60
21 24,90 0,70 0,30 14,80
22 26,40 0,71 0,29 15,00
23 28,10 0,72 0,28 15,20
24 29,80 0,73 0,27 15,40
25 31,70 0,74 0,26 15,70
26 33,60 0,75 0,25 15,90
27 35,70 0,76 0,24 16,10
28 37,80 0,77 0,23 16,30
29 40,10 0,78 0,22 16,50
30 42,40 0,78 0,22 16,70
31 44,90 0,79 0,21 17,00
32 47,60 0,80 0,20 17,20
33 50,30 0,81 0,19 17,50
34 53,20 0,81 0,19 17,70
35 56,20 0,82 0,18 17,90
36 59,40 0,83 0,17 18,10
37 62,80 0,84 0,16 18,30
38 66,30 0,84 0,16 18,50
39 69,90 0,85 0,15 18,70

Tabel 3.2.Radiasi ekstra matahari (Ra) dalam evaporasi ekivalen


(mm/hari) dalam hubungan dengan letak lintang (untuk daerah
Indonesia, antara 5 LU - 10 LS)

18
Tabel 3.3. Maksimum Penyinaran Matahari (N)
Lintang
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nop Des
Utara
Lintang
Jul Aug Sep Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun
Selatan
10 11,60 11,80 12,00 12,30 12,60 12,70 12,60 12,40 12,10 11,80 11,60 11,50
5 11,80 11,90 12,00 12,00 12,30 12,30 12,40 12,30 12,10 12,00 11,90 11,80
0 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00 12,00

3.2.2. Metode Meteorological Water Balance Dr. F.J. Mock


Metode ini ditemukan oleh Dr. F.J. Mock pada tahun 1973
dimana metode ini didasarkan atas fenomena alam dibeberapa
tempat di Indonesia. Dengan metode ini, besarnya aliran dari data
curah hujan , karakteristik hidrologi daerah pengaliran dan
evapotranspirasi dapat dihitung. Pada dasarnya metode ini adalah
hujan yang jatuh pada catchment area sebagian akan hilang sebagai
evapotranspirasi, sebagian akan langsung menjadi aliran
permukaan (direct run off) dan sebagian lagi akan masuk kedalam
tanah (infiltrasi), dimana infiltrasi pertama-tama akan menjenuhkan
top soil, kemudian menjadi perkolasi membentuk air bawah tanah
(ground water) yang nantinya akan keluar ke sungai sebagai aliran
dasar (base flow). Adapun ketentuan dari metode ini adalah sebagai
berikut :
1. Data meteorologi
Data meterologi yang digunakan mencakup :
a. Data presipitasi dalam hal ini adalah curah hujan bulanan dan
data curah hujan harian.
b. Data klimatologi berupa data kecepatan angin, kelembapan
udara, tempratur udara dan penyinaran matahari untuk
menentukan evapotranspirasi potensial (Eto) yang dihitung
berdasarkan metode “ Penman Modifikasi “
2. Evapotranspirasi Aktual ( Ea)
Penentuan harga evapotranspirasi actual ditentuakan
berdasarkan persamaan :

19
E = Eto x d/30 x m …………..……………. (3.7)
E = Eto x (m / 20) x (18-n) ……….………………. (3.8)
Ea = Eto – E ………………………… (3.9)
Dimana :
Ea = Evapotranspirasi aktual (mm)
Eto = Evapotranspirasi potensial (mm)
d = 27 – (3/2) x n
n = jumlah hari hujan dalam sebulan
m = Perbandingan permukaan tanah tanah yang tidak
tertutup dengan tumbuh-tumbuhan penahan hujan koefisien
yang tergantung jenis areal dan musiman dalam % )
m = 0 untuk lahan dengan hutan lebat.
m = Untuk lahan dengan hutan sekunder pada akhir musim
dan bertambah 10 % setiap bulan berikutnya.
m = 10 – 40% untuk lahan yang erosi
m = 30 –50 % untuk lahan pertanian yang diolah ( sawah )
3. Keseimbangan air dipermukaan tanah (S)
a. Air hujan yang mencapai permukaan tanah dapat dirumuskan
sebagai berikut :
S = R – Ea ……………………….…… (3.10)
Dimana :
S = Keseimbangan air dipermukaan tanah
R = Hujan Bulanan
Ea = Evapotranspirasi Aktual
Bila harga positif (R > Ea) maka air akan masuk ke dalam
tanah bila kapasitas kelembapan tanah belum terpenuhi.
Sebaliknya bila kondisi kelembapan tanah sudah tercapai
maka akan terjadi limpasan permukaan (surface runoff).
Bila harga tanah S negatif ( R > Ea ) , air hujan tidak dapat
masuk kedalam tanah (infltrasi) tetapi air tanah akan keluar
dan tanah akan kekurangan air (defisit)

20
b. Perubahan kandungan air tanah (soil storage) tergantung dari
harga S. Bila S negatif maka kapasitas kelembapan tanah
akan kekurangan dan bila harga S positif akan menambah
kekurangan kapasitas kelembapan tanah bulan sebelumnya.
c. Kapasitas kelembapan tanah (soil moisture capacity). Didalam
memperkirakan kapasitas kelembapan tanah awal diperlukan
pada saat dimulainya perhitungan dan besarnya tergantung
dari kondisi porositas lapisan tanah atas dari daerah
pengaliran. Biasanya diambil 50 s/d 250 mm, yaitu kapasitas
kandungan air didalam tanah per m3. semakin besar porositas
tanah maka kelembapan tanah akan besar pula.
d. Kelebihan Air (water surplus)
Besarnya air lebih dapat mengikuti formula sbb :
WS = S - Tampungan tanah ...………… (3.11)
Dimana :
WS = water surplus
S = R- Ea
Tampungan Tanah = Perbedaan Kelembapan tanah.
4. Limpasan dan penyimpanan air tanah (Run off dan Ground
Water storage ).
a. Infiltrasi (i)
Infiltrasi ditaksir berdasarkan kondisi porositas
tanah dan kemiringan daerah pengaliran. Daya infiltrasi
ditentukan oleh permukaan lapisan atas dari tanah. Misalnya
kerikil mempuyai daya infiltrasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tanah liat yang kedap air. Untuk lahan
yang terjal dimana air sangat cepat menikis diatas permukaan
tanah sehingga air tidak dapat sempat berinfltrasi yang
menyebabkan daya infiltrasi lebih kecil. Formula dari
infiltrasi ini adalah sebagai berikut :

21
i = Koefisien Infiltrasi x WS ……………...… (3.12)
Dimana :
i = Infiltrasi (Koefisien Infiltrasi (i) = 0 s/d 1,0 )
WS = kelebihan air
b. Penyimpanan air tanah (ground water storage)
Pada permulaan perhitungan yang telah ditentukan
penyimpanan air awal yang besarnya tergantung dari kondisi
geologi setempat dan waktu.Persamaan yang digunakan
adalah (sumber : PT. Tricon Jaya, Sistim Planing Irigasi
Ongka Persatuan Kab. Donggala Hal V-4)
Vn = k. (Vn – 1) + ½ (1 + k ) i n …………….. (3.13)
Dimana :
Vn = Volume simpanan ait tanah periode n ( m3)
Vn – 1 = Volume simpanan air tanah periode n – 1 (m3)
K = qt/qo = Faktor resesi aliran air tanah (catchment
are recession factor ). Faktor resesi aliran tanah (k)
berkisar antara 0 s/d 1
qt = Aliran tanah pada waktu t (bulan ke t)
qo = Aliran tanah pada awal (bulan ke 0)
in = Infiltrasi bulan ke n (mm)
Untuk mendapatkan perubahan volume aliran air dalam tanah
mengikuti persamaan :  Vn = Vn - Vn – 1 …. (3.14)
c. Limpasan (Run off )
Air hujan atau presipitasi akan menempuh tiga jalur menuju
kesungai. Satu bagian akan mengalir sebagai limpasan
permukaan dan masuk kedalam tanah lalu mengalir ke kiri
dan kananya membentuk aliran antara. Bagian ketiga akan
berperkolasi jauh kedalam tanah hingga mencapai lapisan air
tanah. Aliran permukaan tanah serta aliran antara sering
digabungkan sebagai limpasan langsung (direc runoff)

22
Untuk memperoleh limpasan, maka persamaan yang
digunakan adalah :
BF = I - ( Vn ) ………………....................... (3.15)
Dro = WS – I …………………………........ (3.16)
Ron = BF +Dro ……….…………………….. (3.17)
Dimana :
BF = Aliran dasar (M3 /dtk/km)
I = Infltrasi (mm)
Vn = Perubahan volume aliran tanah (M3)
Dro = Limpasan Langsung (mm)
WS = Kelebihan air
Ron = Limpasan periode n (M3/dtk/km2)

d. Banyaknya air yang tersedia dari sumbernya.


Persamaan yang digunakan adalah
Qn = Ron x A .…………………………. (3.18)
Dimana :
Qn = Banyaknya air yg tersedia dari sumbernya
periode n (m3 /dtk)
A = Luas daerah tangkapan (catchment area) Km2

3.3 Tinjauan Teknis


3.3.1 Pengertian dan prinsip PLTA
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) adalah suatu
bentuk perubahan tenaga air dengan ketinggian dan debit tertentu
menjadi tenaga listrik, dengan menggunakan turbin air dan
generator. Daya (power) yang dihasilkan dapat dihitung
berdasarkan rumus berikut (Arismunandar dan Kuwahara, 1991) :
P = 9,8 x Heff x Q (kW) ................................................... (3.19)

23
Dimana :
P = Tenaga yang dikeluarkan secara teoritis
H = Tinggi air jatuh efektif (m)
Q = Debit Pembangkit (m3/det)
9,8 = Percepatan grafitasi = 9,81m/s2
Sebagaimana dapat dipahami dari rumus tersebut di atas,
daya yang dihasilkan adalah hasil kali dari tinggi jatuh dan debit
air, oleh karena itu berhasilnya pembangkitan tenaga air tergantung
dari pada usaha untuk mendapatkan tinggi jatuh air dan debit yang
besar secara efektif dan ekonomis. Pada umumnya debit yang besar
membutuhkan fasilitas dengan ukuran yang besar misalnya,
bangunan ambil air (intake), saluran air dan turbin (Arismunandar
dan Kuwahara, 1991).
3.3.2 Penentuan Tinggi jatuh Efektif
1. Jenis saluran air
Tinggi jatuh efektif dapat diperoleh dengan mengurangi
tinggi jatuh total (dari permukaan air pada pengambilan sampai
permukaan air saluran bawah) dengan kehilangan tinggi pada
saluran air (Arismunandar dan Kuwahara, 1991). Tinggi jatuh
penuh (Full head) adalah tinggi air yang bekerja efektif pada
turbin yang sedang berjalan. Untuk jenis saluran air, bila
diketahui permukaan air pada bangunan pengambilan dan
saluran bawah serta debit air, maka tinggi jatuh efektif
kemudian dapat ditentukan, dengan dasar pertimbangan
ekonomis. Misalnya, bila kehilangan tinggi jatuh air dapat
dikurangi dengan memperbesar penampang saluran air atau
memperkecil kemiringannya, maka tinggi jatuh dapat digunakan
dengan efektif (Arismunandar dan Kuwahara, 1991).
2. Jenis waduk atau waduk pengatur
Jika naik turunnya permukaan air waduk sudah dapat
ditentukan, maka tinggi jatuh efektif maksimum dan minimum

24
dapat ditentukan seperti diuraikan diatas, sesuai dengan
permukaan air waduk dalam keadaan maksimum dan minimum.
Namun apanila naik turunnya permukaan air yang ada sangat
besar, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Tinggi jatuh normal
Ini adalah tinggi jatuh efektif yang dipakai sebagai dasar
untuk menentukan tenaga yang dihasilkan atau efisiensi dari
turbin. Pada umumnya turbin dapat bekerja dengan efisiensi
maksimal pada tinggi jatuh ini.
b) Perubahan tinggi jatuh
Kapasitas efektif waduk dan naik turunnya permukaan air
waduk ditentukan berdasarkan atas daya puncak yang
dihasilkan dan lamanya hal ini berlangsung ; hal ini
disesuaikan dengan hubungan antara penyediaan dan
kebutuhan tenaga, rencana penyediaan tenaga pada musim
kemarau, pemanfaatan air banjir, dan lain-lain.
3.3.3 Penentuan Debit Turbin
1. Debit maksimum
Debit maksimum turbin ditentukan sedemikian rupa
sehingga biaya konstruksinya menjadi minimum berdasarkan
lengkung debit sepuluh tahun terakhir atau lebih. Nilainya pada
umumnya dua kali debit dalam musim kemarau (Arismunandar
dan Kuwahara, 1991).
2. Jumlah air pasti
Jumlah air pasti (firm water quantity) adalah jumlah air
yang pasti dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Ini diperoleh
dari jumlah air dalam musim kering dikurangi dengan jumlah air
yang dialirkan dibagian hilir untuk keperluan pengairan,
perikanan, pariwisata, dan lain-lain (Arismunandar dan
Kuwahara, 1991).

25
3.4 Klasifikasi PLTA
3.4.1 Penggolongan Berdasarkan Tinggi Terjunan (Arismunandar
dan Kuwahara, 1997).
Pusat listrik jenis terusan air (water way) adalah pusat
listrik yang mempunyai tempat ambil air (intake) dihulu sungai,
dan mengalirkan air ke hilir melalui terusan air dengan kemiringan
(gradient) yang agak kecil. Tenaga listrik dibangkitkan dengan
memanfaatkan tinggi terjun dengan kemiringan sungai tersebut.
Jenis bendungan (dam) adalah jenis pusat listrik dengan
bendungan yang melintang sungai guna menaikan permukaan air
dibagian hulu bendungan dan membangkitkan tenaga listrik
dengan memanfaatkan tinggi terjun yang diperoleh antara
disebelah hulu dan hilir sungai.
Pusat listrik jenis bendungan dan terusan air merupakan
jenis gabungan dari kedua jenis tersebut diatas. Jenis ini
membengkitkan tenaga listrik dengan menggunakan tinggi terjun
yang didapat dari bendung dan terusan.
3.4.2 Penggolongan Menurut Aliran Air
Pusat listrik jenis aliran sungai langsung (run of river)
kerap kali dipakai pada pusat listrik jenis saluran air. Jenis ini
membangkitkan tenaga listrik dengan memanfatkan aliran air
sungai itu sendiri secara alamiah.
Pusat listrik dengan kolam pengatur (regulating pond)
mengatur aliran sungai setiap hari atau setiap minggu dengan
menggunakan kolam pengatur yang dibangun melintang sungai dan
membangkitkan tenaga listrik sesuai dengan perubahan beban.
Pusat listrik jenis waduk (reservoir) mempunyai sebuah
bendungan besar yang dibangun melintang. Dengan demikian
terjadi sebuah danau buatan, kadang-kadang sebuah danau asli
dipakai sebagai waduk. Air yang dihimpun dalam musim hujan

26
dikeluarkan pada musim kemarau, jadi pusat listrik jenis ini sangat
berguna untuk pemakaian sepanjang tahun.
Pusat listrik jenis pompa (pumped storage) adalah jenis
PLTA yang memanfaatkan tenaga listrik yang berlebihan pada
musim hujan atau pada saat pemakaian tenaga listrik berkurang
pada tengah malam. Pada waktu itu air dipompa ke atas dan
disimpan dalam waduk. Jadi pusat listrik jenis ini memanfaatkan
kembali air yang didapat untuk membangkitkan tenaga listrik pada
beban puncak pada siang hari.
3.5 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
3.5.1 Perkembangan Pusat Listrik Tenaga Air
Akhir-akhir ini di dunia termasuk negara-negara maju,
memperhatikan pembangunan PLTA berkapasitas kecil. Pembagian
PLTA dengan kapasitas kecil pada umumnya adalah sebagai
berikut (Patty, 1995) :
1. PLTA mikro < 100 kW
2. PLTA mini 100 - 999 kW
3. PLTA kecil 1000 - 10000 kW
Dengan kemajuan teknis, tinggi = 1 – 1,5 m dapat
digunakan dan kapasitas turbin dapat dibuat 4 – 5 kW. Salah satu
sebab bagi negara-negara maju membangun PLTA berkapasitas
kecil ini adalah harga minyak OPEC yang terus meningkat
sekarang ini, di samping bertambahnya kebutuhan listrik (Patty,
1995).
Di Indonesia salah satu program pemerintah adalah listrik
masuk desa terpencil di daerah pegunungan, pembangunan PLTA
menghubungkan desa ini dengan hantaran tegangan tinggi tidaklah
ekonomis. Berdasarkan pertimbangan diambil langkah-langkah
berikut dalam perencanaan PLTA mikro hidro untuk suatu daerah
pedesaan (Patty, 1995) :

27
1. Mempelajari bangunan air irigasi (irigasi, drainase dan lain-
lain) yang sudah ada di desa tersebut.
2. Meneliti bahan bangunan yang terdapat di tempat serta
pendidikan masyarakat desa.
3. Meneliti mesin yang hendak dipakai, lebih baik digunakan
mesin yang lebih mahal tetapi memerlukan biaya yang lebih
sedikit dan waktu yang lebih singkat untuk reparasi.
3.5.2 Penerapan Teknologi Mikro Hidro
Sekarang ini masih menghadapi berbagai kendala,
sehingga baru sebagian kecil dari potensi tenaga air yang ada di
daerah irigasi dan sungai-sungai kecil diseluruh Indonesia yang
sudah dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga mikro hidro.
Kendala utama yang perlu diatasi dengan sebaik-baiknya adalah
bahwa sampai sekarang teknologi mikro hidro belum dapat
mencapai nilai komersial yang baik. Mikro hidro masih disebut
secara pesanan, sehingga mikro hidro dengan kehandalan tinggi
yang disebut dengan teknologi maju membutuhkan biaya investasi
awal yang besar. Sebaliknya, mikro hidro yang dibuat dengan
menggunakan teknologi sederhana, walaupun tidak membutuhkan
biaya investasi awal yang besar, pada umumnya mempunyai
kehandalan rendah dan masih memerlukan biaya pemeliharaan
yang tinggi untuk menjamin kelangsungan operasinya. Selain itu,
mikro hidro yang kehandalannya rendah sering mengalami
gangguan pengopersaian yang dapat merugikan konsumen
(Endardjo, et all, 1998).
Pengembangan rancang bangun mikro hidro standar PU
dimaksudkan sebagai upaya standarisasi untuk mengembangkan
mikro hidro standar yang mempunyai kehandalan tinggi dengan
biaya investasi awal yang layak (Endardjo, et all, 1998).

28
3.5.3 Rancangan Konsep Rancang Bangun Mikrohidro
Dari hasil studi awal telah dapat disiapkan rancangan
konsep rancang standar PU yang masih bersifat sementara dan
akan terus disempurnakan (Endardjo,et,all,1998).
1. Konstruksi bangunan sipil
 Saluran kolam tandon dan bagian-bagiannya dibuat dari
komponen-komponen modular saluran terbuka (U-Ditch)
beton pracetak yang diproduksi secara pabrikasi.
 Pipa pesat dan bagian-bagiannya dibuat dari komponen-
komponen modular pipa beton pracetak yang diproduksi
secara pabrikasi.
 Bak penampung belakang, untuk menampung aliran air
dari turbin, dibuat dari komponen modular beton pracetak
yang diproduksi secara pabrikasi.
 Rumah pembangkit merupakan rumah sederhana dengan
dinding dari pasangan bata/batako atau papan dan atap dari
seng gelombang yang secara keseluruhan dibangun
ditempat.
2. Konstruksi peralatan elektro-mekanik
a. Turbin cross flow berikut adaptor pipa pesat dan bagian-
bagian lainnya dibuat dari konstruksi besi plat, besi profil
dan besi cor secara pabrikasi.
b. Generator lengkap dengan pengatur tegangan otomatis
(AVR) menggunakan produk yang tersedia di pasar.
c. Penyelaras daya (kontrol beban) sedang dikaji apakah
akan menggunakan sistem pengontrol kecepatan turbin
atau sistem pembuang kelebihan daya.
d. Panel kontrol (panel daya) menggunakan produk yang
tersedia dipasar.

29
Berikut ini dikemukakam beberapa hal pokok yang menjadi
fokus perhatian dalam pengembangan rancang bangun mikrohidro
standar PU (Endardjo, et, all, 1998) :
1. Sistem Konstruksi
Pemilihan sistem konstruksi dengan komponen-
komponen modular yang dibuat secara pabrikasi didasarkan
pada pertimbangan bahwa biaya konstruksi akan dapat ditekan
serendah mungkin apabila sebagian besar elemen
bangunan/peralatan dibuat secara massal.
2. Kapasitas Daya Mikrohidro
Penetapan kapasitas daya maksimum mikrohidro
sebesar 50 kW didasarkan pada perkiraan sementara (belum
dilakukan studi) bahwa harga komersial mikrohidro yang dapat
diterima oleh pasar tidak lebih dari Rp 150.000.000,- dan harga
per kW mikrohidro untuk kapasitas daya 50 kW maksimum Rp
3.000.000,- perkiraan kasar harga per kW mikrohidro bersifat
sangat sementara karena dalam komponen mikrohidro masih
ada kandungan impor.
3. Kapasitas Tinggi Terjun dan Debit Mikrohidro
Kapasitas tinggi terjun mikrohidro ditetapkan
maksimum 50 m didasarkan pada kemampuan memikul beban
tekanan dari komponen-komponen mikrohidro yang sedang
dikembangkan. Sedangkan kapasitas tinggi terjun minimum
ditetapkan 4 m dimaksudkan untuk membatasi besar debit
mikrohidro agar pada kapasitas daya minimum 10 kW debit
mikrohidro tidak lebih dari 500 liter/det.
3.5.4 Komponen Pokok Mikro Hidro
Merupakan komponen yang paling dominan di dalam
pembanguan PLTM. Komponen ini mempengaruhi besarnya biaya
pembangunan dan perlu diketahui di setiap daerah Indonesia biaya

30
yang diperlukan sangatlah bervariasi. Skema dari sistem PLTMH
dapat dilihat pada gambar d bawah ini :

Gambar 3.1. Komponen Pokok Mikrohidro


(Sumber : Kristanto, 2007)

Dari gambar di atas, suatu rangkaian PLTMH memiliki


bagian-bagian utama sebagai berikut :
1. Dam/Bendungan Pengalih dan Intake (Diversion Weir and
Intake)
Bendung berfungsi untuk menaikkan/mengontrol tinggi air
dalam sungai secara signifikan sehingga memiliki jumlah air
yang cukup untuk dialihkan ke dalam intake pembangkit mikro
hidro di bagian sisi sungai ke dalam sebuah bak pengendap
(Settling Basin). Sebuah bendung dilengkapi dengan pintu air
untuk membuang kotoran/lumpur yang mengendap.
Perlengkapan lainnya adalah penjebak/saringan sampah.
PLTMH umumnya merupakan pembangklit tipe run off river
sehingga bangunan bendung dan intake dibangun berdekatan.
Dengan pertimbangan dasar stabilitas sungai dan aman

31
terhadap banjir, dapat dipilih lokasi untuk bendung (Weir) dan
intake.
Tujuan dari intake adalah untuk memisahkan air dari sungai
atau kolam untuk dialirkan ke dalam saluran, penstock atau bak
penampungan. Tantangan utama dari bangunan intake adalah
ketersediaan debit air yang penuh dari kondisi debit rendah
sampai banjir. Juga sering kali adanya lumpur, pasir dan kerikil
atau puing-puing dedaunan pohon sekitar sungai yang terbawa
aliran sungai.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih
lokasi Bendung (Weir) dan Intake, antara lain :
a. Jalur daerah aliran sungai
Lokasi bendung (Weir) dan intake dipilih pada daerah aliran
sungai dimana terjamin ketersediaan airnya, alirannya
stabil, terhindar banjir dan pengikisan air sungai.
b. Stabilitas lereng yang curam
Oleh karena pemilihan lokasi PLTMH sangat
mempertimbangkan head, sudah tentu pada lokasi lereng
atau bukit yang curam. Dalam mempertimbangkan lokasi
bangunan Bendung (Weir) dan Intake hendaknya
mempertimbangkan stabilitas sedimen atau struktur
tanahnya yang stabil.
c. Memanfaatkan fasilitas saluran irigasi yang ada di pedesaan
Pemanfaatan ini dapat dipertimbangkan untuk efisiensi
biaya konstruksi, karena sudah banyak sungai di pedesaan
telah dibangun konstruksi sipil untuk saluran irigasi.
d. Memanfaatkan topografi alami seperti kolam dan lain-lain
Penggunaan kealamian kolam untuk intake air dapat
memberikan keefektifan yang cukup tinggi untuk
mengurangi biaya, disamping itu juga membantu menjaga
kelestarian alam, tata ruang sungai dan ekosistem sungai.

32
Yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan kolam dan
pergerakan sedimen.
e. Level olume yang diambil (Tinggi Dam) dan level banjir
Karena pembangunan bendung/dam inatek pada bagian
yang sempit dekat sungai, maka level banjir pada daerah itu
lebih tinggi sehingga diperlukan daerah bagian melintang
dam yang diperbesar untuk kestabilan.
f. Perletakan Intake selalu pada posisi terluar dari lengkungan
sungai.
Pertimbangan ini dilakukan untuk memperkecil sedimen
didalam saluran pembawa. Dan sering kali dibuat pintu air
intake untuk melakukan pembilasan sedimen yang terendap
dari intake
g. Keberadaan penggunaan air sungai yang mempengaruhi
keluaran/debit air.
Jika intake untuk pertanian atau tujuan lain yang mengambil
air maka akan mempengaruhi debit sungai.
2. Bak Pengendap (Settling Basin)
Fungsi banguan ini adalah untuk :
a. Penyalur yang menghubungkan intake dengan bak
pengendap sehingga panjangnya harus dibatasi.
b. Mengatur aliran air dari saluran penyalur sehingga harus
mencegah terjadinya kolam pusaran dan aliran turbulen
serta mengurangi kecepatan aliran masuk ke bak pengendap
sehingga perlu bagian melebar.
c. Sbagai bak pengendap adalah untuk mengendapkan
sedimen dimana untuk detil desainnya perlu dihitung
dengan formulasi hubungan panjang bak, kedalaman bak,
antara kecepatan pengendap, dan kecepatan aliran.
d. Sebagai penimbunan sedimen, sehingga harus didesain
mudah dalam pembuangan sedimen.

33
e. Sebagai spillway yang mengalirkan aliran masuk ke bagian
bawah dimana mengalir dari intake.
3. Saluran Pembawa (Channel/headrace)
Saluran pembawa mengikuti kontur permukaan bukit untuk
menjaga energi dari aliran air yang disalurkan.
4. Bak Penenang (Headtank)
Fungsi dari bak penenang adalah sebagai penyaring terakhir
seperti settling basin untuk menyaring benda-benda yang
masih tersisa dalam aliran air, dan merupakan tempat
permulaan pipa pesat (penstock) yang mengendalikan aliran
menjadi minimum sebagai antisipasi aliran yang cepat pada
turbin tanpa menurunkan elevasi muka air yang berlebihan dan
menyebabkan arus baik pada saluran
Pemilihan lokasi bak penenang untuk pembangkit listrik
sakal kecil seringkali berada pada punggung yang lebih tinggi,
beberapa yang dapat dipertimbangkan antara lain :
a. Keadaan topografi dan geologi sungai
Sedapat mungkin dipilih lokasi dimana bagian tanahnya
relative stabil. Dan jika umumnya terdiri dari batuan keras
maka sedapat mungkin dapat mengurangi jumlah pekerjaan
penggalian.
b. Walaupun ditempatkan pada punggung gunung, dipilih
tempat yang relative datar.
c. Mengurangi hubungan dengan muka air tanah yamg lebih
tinggi.
5. Pipa Pesat (Penstock)
Penstock dihubungkan pada sebuah elevasi yang lebih
rendah ke sebuah turbin air. Kondisi topografi dan pemilihan
skema PLTMH mempengaruhi tipe pipa pesat (penstock).
Umumnya sebagai saluran ini harus didesain/dirancang secara
benar sesuai kemiringan (head) sistem PLTMH.

34
Pipa penstock merupakan salah satu komponen yang mahal
dalam pekerjaan PLTMH, oleh karena itu desainnya perlu
dipertimbangkan terhadap keseimbangan antara kehilangan
energi dan biaya yang diperlukan. Parameter yang penting
dalam desain pipa penstock terdiri dari material yang
digunakan, diameter dan ketebalan pipa serta jenis sambungan
yang digunakan.
Berdasarkan kondisi topografi yang ada pada lokasi skema
sistem PLTMH, beberapa pertimbangan pemilihan lokasi pipa
pesat (penstock) antara lain adalah :
a. Topografi yang dilewati memiliki tingkat kemiringan yang
memenuhi persyaratan dimana rute pipa pesat harus berada
di bawah minimum garis kemiringan hidraulik.
b. Stabilitas tanah dari daerah yang dilewati
c. Pemanfaatan jalan yang telah ada atau tersedia
6. Rumah Pembangkit (Power House)
Sesuai posisinya, rumah pembangkit ini dapat
diklasifikasikan kedalam tipe di atas tanah, semi di bawah
tanah, di bawah tanah. Sebagian besara rumah pembangkit
PLTMH adalah di atas tanah. Untuk pertimbangan desain
rumah pembangkit, perlu dipertimbangkan :
a. Lantai rumah pembangkit dimana peralatan PLTMH
ditempatkan, perlu memperhatikan kenyamanan selama
operasi, mengelola, melakukan perawatan dimana terjadi
pekerjaan pembongkaran dan pemasangan peralatan.
b. Memiliki cukup cahaya masuk untuk penerangan di siang
hari dan adanya ventilasi udara.
c. Kenyamanan jika operator berada didalamnya seperti untuk
melakukan pengendalian ataupun pencatatan secara manual
Konstruksi untuk desain rumah pembangkit PLTMH juga
tidak terlepas dari skema system PLTMH yang bergantung

35
pada jenis dan tipe turbin yang digunakan, dan sirkulasi air
yang dikeluarkan setelah menggerakkan turbin. Karena itu ada
beberapa pertimbangan tipe desain rumah pembangkit sesuai
jenis turbin yang digunakan, sebagai berikut :
a. Rumah pembangkit menggunakan turbin jenis “Turbin
Implus”
Desain konstruksi rumah pembangkit ini perlu
mempertimbangkan jarak bebas antara dasar rumah
pembangkit dengan permukaan air buangan turbin
(afterbay). Pada kasus turbin implus (turbin pelton, turgo
dan crossflow), air yang dilepas oleh runner turbin secara
langsung dikeluarkan kedalam udara di tailrace. Permukaan
air di bawah turbin akan bergelombang. Oleh karena itu
jarak bebas antara rumah pembangkit dengan permukaan air
afterbay harus dijaga paling tidak 30-50 cm. kedalaman air
di afterbay harus dihitung berdasarkan suatu formulasi
antara desain debit dan lebar saluran di tailrace. Kemudian
air di afterbay harus ditentukan lebih tinggi dari pada
estimasi air banjir. Juga head antarapusat turbin dan level
air pada outlet harus menjadi headloss.
b. Rumah turbin menggunakan turbin jenis “Turbin Reaction”
Hal yang sama dalam desain konstruksi rumah turbin
menggunakan jenis reaction (Francais, Propeller), adalah
prilaku air afterbay. Pada kasus menggunakan turbin tipe
reaction, air dikeluarkan kedalam afterbay melalui turbin.
Head antara turbin dan level air dapat digunakan untuk
membangkitkan tenaga. Dengan demikan desain
konstruksinya memperbolehkan posisi tempat pemasangan
turbin berada di bawah level air banjir, dan pada desain
konstruksinya perlu disediakan tempat untuk menempatkan
peralatan seperti pintu tailrace, dan pompa.

36
7. Saluran Pembuang Akhir (Tail Race)
Saluran pembuang akhir (tail race) direncanakan berbentuk
persegi empat dari pasangan batu.
A = b x h ……………………………………..……….. (3.20)
V = Q / A ……………………………………..………. (3.21)
P = b + 2h ……………………………………...……... (3.22)
R = A / P ……………………………………………… (3.23)
1
Rumus Manning : V = x S1/2 x R 2/3 ………………… (3.24)
𝑛

S = [ (n x V) / R2/3 ]2 ………………………………… (3.25)


3.6 Pemilihan Turbin
Turbin air berperan untuk mengubah energi air (energi potensial,
tekanan dan energi kinetik) menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran
poros. Putaran poros turbin ini akan diubah oleh generator menjadi tenaga
listrik. Berdasarkan prinsip kerjanya, turbin air dibagi menjadi dua
kelompok .
1. Turbin implus (cross-flow, pelton & turgo)
Untuk jenis ini, tekanan pada setiap sisi sudu gerak runnernya pada
bagian turbin yang berputar sama.
2. Turbin reaksi (francis, kaplanpropeller)
Untuk jenis ini, digunakan untuk berbagai keperluan (wide range)
dengan tinggi terjun menengah (medium head).
Daerah aplikasi berbagai jenis turbin air relative spesifik. Pada beberapa
daerah operasi memungkinkan digunakan beberapa jenis turbin. Pemilihan
jenis turbin pada daerah operasi yang overlapping ini memerlukan
perhitungan yang lebih mendalam. Pada dasarnya daerah kerja operasi
turbin menurut Keller 2 dikelompokkan menjadi :
1. Low head powerpalnt dengan tinggi jatuhan air (head)
2. Medium head powerplant dengan tinggi jatuhan antara low head dan
high head.

37
3. High head powerplant dengan tinggi jatuhan air yang memenuhi
persamaan

H > 100 (Q) ……………………………………....................... (3.26)


Dimana :
H = Tinggi terjunan (head)
Q = Debit desain (m3/det)
PLTMH dengan tinggi jatuhan (head) 6-60 m, yang dapat dokategorikan
pada head rendah dan medium.
Tabel 3.4 Daerah Operasi Turbin
Jenis Turbin Variasi Head (m)
Kaplan dan Propeller 2 < H < 20
Francis 10 < H < 350
Pelton 50 < H < 1000
Crossflow 6 < H < 100
Turgo 50 < H < 250
Sumber : www.HydroGeneration.co.uk
3.6.1 Kriteria Pemilihan Jenis Turbin
Pemilihan jenis turbin dapat ditentukan berdasarkan
kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis turbin, khususnya untuk
suatu desain yang sangat spesifik. Pada tahap awal, pemilihan jenis
turbin dapat diperhitungkan dengan mempertimbangkan parameter-
parameter khusus yang mempengaruhi sistem operasi turbin, yaitu :
1. Faktor tinggi jatuhan air efektif (Net Head) dan debit yang
akan dimanfaatkan untuk operasi turbin merupakan faktor
utama yang mempengaruhi pemilihan jenis turbin, sebagai
contoh : turbin pelton efektif untuk operasi pada head tinggi,
sementara turbin proppeller sangat efektif beroperasi pada
head rendah.
2. Faktor daya (Power) yang diinginkan berkaitan dengan head
dan debit yang tersedia.

38
3. Kecepatan (Putaran) turbin yang akan ditransmisikan ke
generator. Seabagi contoh untuk sistem transmisi direct couple
antara generator dengan turbin pada head rendah, sebuah
turbin reaksi (propeller) dapat mencapai putaran yang
diinginkan, sementara turbin pelton dan crossflow berputar
sangat lambat (low speed) yang akan menyebabkan sistem
tidak beroperasi.
Ketiga faktor di atas seringkali diekspresikan sebagai ”kecepatan
spesifik, Ns”, yang didefenisikan dengan formula :
Ns = N x P0,51 x H0,21 ........................................................ (3.27)
Dimana :
N = Kecepatan putaran turbin ( rpm)
P = Maksimum turbin output (kW)
H = Head efektif (m)
Output turbin dihitung dengan formula :
P = 9,81 x Q x H x qt ............................................................ (3.28)
Dimana :
Q = Debit air (m3/dtk)
H = Head efektif (m)
qt = Efisiensi turbin

Tabel 3.5 Efisiensi Turbin (Wiratman,1975, dlm Rustiati,1996)


Turbin ns (epm) µT (%) H (m)
Pelton 10 – 40 89 – 90 1800 – 300
Francis 40 – 50 90 – 94 350 – 25
Kaplan 60 – 660 89 – 91 100 – 15
Propeler 350 – 1050 85 – 94 50 – 5

Kecepatan spesifik setiap turbin memiliki kisaran (range) tertentu


berdasarkan data eksperimen. Kisaran kecepatan spesifik beberapa
turbin air adalah sebagai berikut :

39
 Turin Pelton 12 ≤ Ns 25
 Turbin Francis 60 ≤ Ns 300
 Turbin Crossflow 40 ≤ Ns 200
 Turbin Propeller 250 ≤ Ns 1000
Dengan mengetahui kecepatan spesifik turbin maka perencanaan
dan pemilihan jenis turbin akan menjadi lebih mudah. Beberapa
formula yang dikembangkan dari data eksperimental berbagai jenis
turbin dapat digunakan untuk melakukan estimasi perhitungan
kecepatan spesifik turbin, yaitu :
 Turin Pelton Ns = 85.49 / H0.243
(Siervo & Lugaresi, 1978)
 Turbin Francis Ns = 3763 / H0.854
(Schweiger & Gregory, 1989)
 Turbin Kaplan Ns = 2283 / H0.486
(Schweiger & Gregory, 1989)
 Turbin Crossflow Ns = 513.25 / H0.505
(Kpordze & Wamick, 1983)
 Turbin Propeller Ns = 2702 / H0.5
(USBR, 1983)
Dengan mengetahui besaran kecepatan spesifik maka dimensi dasar
turbin dapat diestimasi (diperkirakan).

40
Gambar 3.2. Diagram Aplikasi Berbagai Jenis Turbin (Head Vs Debit)

3.7 Perencanaan Daya Listrik


Pada prinsipnya pembangkit tenaga air adalah suatu bentuk
perubahan tenaga air dengan ketinggian dan debit tertentu menjadi tenaga
listrik dengan menggunakan turbin air dan generator. Daya (power) teoritis
yang dihasilkan dapat dihitung berdasarkan persamaan empiris berikut
(Arismunandar dan Kuwahara, 1991) :
P = 9,8 x Q x H eff (kW) ....................................................... (3.29)

Dimana :
P = Tenaga yang dihasilkan secara teoritis (kW)
Q = Debit pembangkit (m³/det)
H eff = Tinggi jatuh efektif (m)

9,8 = Percepatan gravitasi (m/s2)


Seperti telah dijelaskan bahwa daya yang keluar merupakan hasil
perkalian dari tinggi jatuh dan debit, sehingga berhasilnya suatu usaha
pembangkitan tergantung dari usaha untuk mendapatkan tinggi jatuh air

41
dan debit yang besar secara efektif dan ekonomis. Selain itu pembangkitan
tenaga air juga tergantung pada kondisi geografis, keadaan curah hujan
dan area pengaliran (catchment area) (Arismunandar dan Kuwahara,
1991).
Penentuan tinggi jatuh efektif dapat diperoleh dengan mengurangi
tinggi jatuh total (dari permukaan air sampai permukaan air saluran
bawah) dengan kehilangan tinggi pada saluran air. Tinggi jatuh penuh
adalah tinggi air yang kerja efektif saat turbin air berjalan (Arismunandar
dan Kuwahara, 1991).
Adapun debit yang digunakan dalam pembangkit adalah debit
andalan yang terletak tepat setinggi mercu yaitu debit minimum. Karena
pembangkit ini direncanakan beroperasi selama 24 jam sehari semalam
(Arismunandar dan Kuwahara, 1991).

42
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

Secara garis besar penulis memberikan gambaran tentang tahapan-tahapan


yang akan dilakukan pada penelitian tentang “Perencanaan Pembangkit Listrik
Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Di Sungai Marimpa Kecamatan Pinembani”

4.1 Lokasi Penelitian


Yang menjadi lokasi penelitian ini adalah Sungai Marimpa yang
merupakan sungai yang paling dekat dengan daerah pemukiman. Secara
administrative terletak di Desa Dangraa, Kecamatan Pinembani, Kabupaten
Donggala. Jarak dari Kota Palu ke lokasi Penelitian kurang lebih 48 km.
4.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan sebagai berikut
1. GPS
2. Meteran
3. Stopwatch
4. Kamera
5. Ban
6. Dan lain-lain
4.3 Langkah-langkah Penelitian
1. Pengumpulan Data
Mengumpulkan data-data dari berbagai referensi yang terkait dengan
penelitian yang akan dilakukan.
a. Mengukur tinggi muka air, kecepatan dan luas penampang sungai.
b. Merencanakan Site Plan.
c. Menentukan letak/posisi Intake saluran pengambil air pada Sungai
Marimpa.
d. Menentukan bak pengendap.
e. Menentukan dimensi saluran pengarah dan bak penenang.

43
f. Menentukan bahan dan dimensi pipa yang akan digunakan.
g. Mengukur tinggi terjunan dan jarak lintasan pipa dari bak penenang
sampai ke power house.
2. Persamaaan
Menggunakan persamaan Daya dan Metode Geometrik yang akan
digunkan dalam perhitungan.
3. Perhitungan
Menghitung daya yang dihasilkan oleh PLTMH
4. Pembahasan
Data yang telah diolah kemudian dibahas untuk mendapatkan hasil dari
penulisan penelitian ini.
4.4 Pengumpulan Data
Untuk merencanakan PLTMH diperlukan data antara lain catatan
curah hujan yang dapat mewakili kondisi curah hujan pada daerah
tangkapan Sungai Marimpa, dimana PLTMH tersebut direncanakan untuk
perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Pinembani.
1. Survey Pendahuluan
Survey pendahuluan dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh
mana survey dapat diterapkan dan untuk mengetahui gambaran awal
kondisi di lapangan.
2. Pengumpulan Data
Adapun data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data primer,
dan data sekunder. Data-data yang dikumpulkan terdiri atas:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan melakukan
observasi langsung di lokasi perencanaan serta Tanya Jawab
dengan stekholder terkait. Data ini berupa :
- Data dimensi sungai
- Data kondisi sungai, seperti : Kedalaman sungai, tinggi
terjunan (head)

44
b. Data sekunder,
Data sekunder merupakan data yang diambil dari instansi terkait
seperti kantor Balai Wilayah Sungai 3 Sulawesi Tengah dan Badan
Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah. Adapun data sekunder
meliputi :
- Peta Lokasi Perencanaan.
- Data Curah Hujan.
- Peta Cathment Area.
- Peta Topografi.

45
Mulai

Pengumpulan, Evaluas Pendahuluan


Data dan Peninjauan

Data Primer Data Sekunder

Data Sungai (debit dan Data Klimatologi dan Curah


Penampang) Hujan, Peta (Topografi, DAS)

Perhitungan Debit Andalan


(metode Penman dan F.J.Mock)

Input Data (Primer


dan Sekunder

Perencanaan Cofferdam, Bendung, Intake,


Headrace, Sedimen trap, Pipa Pesat, Head
Loss, House Power dan Tail Race

TIDAK
Memenuhi

YA

Perhitungan Daya

Penyusunan Laporan
(Menyimpulkan)

Mulai

Gambar 4.1.. Bagan Alir Penelitian

46
BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Debit Andalan

5.1.1 Evaluasi Data

Data – data yang akan digunkan dalam menganalisis debit


andalan meliputi data curah hujan dan data klimatologi dimana data-
data tersebut akan dievaluasi terlebih dahulu. Data-data yang akan
dievaluasi harus lengkap dan tercatat. Untuk data-data yang akan
digunakan dalam menganalisis ketersediaan air (debit andalan)
secara keseluruhan mencakup antara lain :

a. Kelembaban relatif stasiun lalundu (Tabel 2.1)


b. Data temperatur udara rata-rata bulanan (Tabel 2.2)
c. Data kecepatan angin rata-rata bulanan (Tabel 2.3)
d. Data penyinaran matahari rata-rata bulanan (Tabel 2.4)
e. Data curah hujan bulanan dan jumlah hari hujan (Tabel 2.5)

5.1.2 Perhitungan Evapotranspirasi Potensial (ETo)

Untuk menghitung evapotranspirasi potensial (ETo) digunakan


metode “Penman Modifikasi” dengan persamaan :
ETo   c.Eto ETo '  W .(0,75 .Rs  Rn1 )  (1  W ). f (u).( ea  ed )

Contoh perhitungan ETo, untuk bulan Januari pada stasiun lalundu,


adalah sebagai berikut :
Diketahui : Data rerata Klimatologi seperti pada tabel 3.4.
1. Temperatur rata-rata, T = 26,80o C
2. Kelembaban udara relatif, RH = 92,4%
3. Kecepatan angin, u = 69.2 km/hr = 2.88 km/jam = 0.80 m/det
4. Penyinaran matahari, n/N = 50.4%

47
Langkah 1 :
Dengan data T = 27,52o C (Tabel 2.2), didapat :
5. Tekanan uap jenuh (Ea), melalui interpolasi didapat :
T  27C  ea  35,70 T  28C  ea  37.80

37,8  35,7
T  27,52  ea  35,7  x (27,52  27)
28  27

ea  36,79 m.bar
6. Faktor penimbang suhu dan elevasi daerah (W)
T  27C  0.76 T  27.52C  W  0.77
T  28C  0.77
7. (1 – W) = 1 – 0,77 = 0,23
8. Fungsi suhu, f(T)
T  27C  16,10
16,30  16,10
T  27,52  ea  16,10  x (27,52  27)
28  27
T  28C  16.30 f (T )  16,20 m.bar

Langkah 2
Dengan data : RH = 72,09% (Tabel 2.1)
ea = 36.79 m.bar
9. Tekanan uap aktual
ed  ea  RH 100

 36.79  72.09 %
 26.52 m.bar
10. Perbedaan tekanan uap jenuh dengan tekanan uap sebenarnya :
ea  ed   36 .79  26 .52
 10.27 m.bar
11. Fungsi tekanan uap, f(ed)
f ed   0.34  0.044 ed

48
 0.113

Langkah 3 :
Dengan data :
- Koordinat 0o 10’ 31”LU
- Rasio keawanan , n/N = Penyinaran matahari = 44.8 %
Didapat besaran :
12. Radiasi ekstra matahari, Ra didapat melalui interpolasi:
0 LU  Ra  15 .00
Januari,
2 LU  Ra  14 ,70
14,70  15.00 o
0LU  Ra  15.00  (0 10' 31" 0 o )
20
Ra  14.97 mm/hari
13. Radiasi yang diterima matahari, Rs diperoleh dari
Rs  (0.25  0.5 n N ) Ra

 (0.25  0.5  0.45)  14,97


 7.38 mm/hari
14. Fungsi Rasio keawanan f(n/N) didapat melalui persamaan :
f n N   0.1  0.9n N 

 0.1  0.90.45 

 0.51

Langkah 4 :
Dengan data : Kecepatan angin, u = 55.1 km/hari = 0.64 m/det
Didapat besaran :
15. Fungsi kecepatan angin pada ketinggian 2.00 m di atas
permukaan tanah (km/hari) = f(u) didapat melalui persamaan :
f(u) = 0.27 ( 1 + u . 0.864)
= 0.27 ( 1 + 0,64 x 0.864)
 0.42 m/det

49
Langkah 5 :
16. Menghitung besaran radiasi bersih gelombang panjang (Rn1)
mm/hari dengan persamaan :
Rn1  f(T) f(ed) f(n/N)
 16.2 x 0,113 x 0.51
 0.93 mm/hari
Langkah 6 :
17. Menghitung faktor koreksi c berdasarkan perkiraan
perbandingan kecepatan angin siang/malam di Indonesia.
Data : RH = 72.09 %
U = 55,1 km/hari = 0.64 m/det
Rs = 7.38 mm/hari
Asumsi U siang/U malam = 1
Melalui interpolasi tabel. Di peroleh c = 1,10
Rns  (1  a) Rs  a  0.25
 (1  0.25)7.38  5.53 mm/hari
Rn  Rns  Rn1
Rn  5.53  0.93
= 4.6 mm/hari

Langkah 7 :
18. Menghitung ETo dengan persamaan :
ETo = C [W . Rn + (1 – W) x (f(u) x (ea –ed)]
= 1.1 [ 0.77 (4.6) + (0.23)(0.42)(10.27)
= 4.98 mm/hari
ETo bulanan = 4.98 x 31 hr = 154.50 mm/bulan
Perhitungan evapotransrasi potensial langkah 1 sampai dengan
langkah 7 bulan Januari dan bulan selanjutnya disajikan pada tabel
5.1.

50
Tabel 5.1. Perhitungan Evapotranspirasi Bulanan dengan Metode Penmann Modifikasi

Sumber : Hasil Perhitungan


51
51
5.1.3 Perhitungan Metode Empiris Debit Andalan Sungai

Dalam menentukan ketersediaan air atau debit andalan pada DAS


Sungai Marimpa, digunakan Metode F.J. Mock untuk tiap tahunnya
selama 10 tahun. Data yang menjadi parameter dalam menentukan
debit andalan antara lain :

1. Data curah hujan bulanan rata-rata


2. Data evapotranspirasi potensial yang dihitung dengan metode
Penman Modifikasi
3. Data jumlah harian hujan

Adapun langkah perhitungan ketersediaan air atau debit anadalan


pada DAS Marimpa dengan metode F.J.Mock dapat dilihat pada
contoh perhitungan pada bulan januari tahun 2000 sebagao berikut :

1. Data Meteorologi
a. Curah hujan bulanan (R) = 363.0 mm/bln
b. Jumlah hari hujan (n) = 11 hari
2. Evapotranspirasi aktual (Ea) :
a. Evapotranspirasi potensial (ETo) = 154.50 mm/bln (tabel
5.11)
b. Permukaan lahan terbuka (m) = 10 %
c. ETo / Ea  (m / 20)  (18  n)
 (10 / 20)  (18  11)
 3,5 %
d. Evapotranspirasi terbatas (Ee)
Ee  (m / 20)  (18  n)  ETo
 0,035154,50
 5.408 mm/bulan

52
e. Evapotrapirasi aktual (Ea)
Ea  ETo  Ee
 154.500  5.408
 149.093 mm/bulan
3. Keseimbangan air

a. S  R  Ea
 363.00  149,093
 213.907 mm/bulan
b. Limpasan Badai (PF = 5 %)
Jika : S  0, maka PF = 0
S  0, Hujan Bulanan (R)  0,05
PF = 0
c. Kandungan air tanah (SS)
Jika : R > Ea maka, SS = 0
R < Ea maka, SS = S - PF
SS = 0
d. Kapasitas kelembaban tanah akhir
Jika : SS = 0 maka Kapasitas kelembaban air tanah = 200
SS  0 maka Kapasitas kelembaban air tanah = kandungan
air tanah
e. Kelebihan air (WS)
WS  S  SS
 213.907  0.00
 213.907 mm/bulan
Karena air hujan dapat masuk ke dalam tanah, sehingga
terjadi kelebihan air sebanyak 213.907 mm/bulan.
4. Limpasan dan Penyimpangan Air
a. Faktor infiltrasi (i) diambil 0,4
b. Faktor resesi air tanah (k) diambil 0,6
c. Infiltrasi (I)

53
I  i  WS
 0,4 x213.907
 85.563 mm/bulan
d. Volume air tanah (G)
G  0.50(1  k )  I
 0.50(1  0.60)  85.563
 68.45 mm/bulan
e. Penyimpanan volume air tanah awal terkoreksi (L)
L  k (Vn1 )  Vn1  100

 0.60 100
 60.00 mm/bulan
f. Total volume penyimpanan air tanah (Vn)
Vn  0.50 1  k   I   k Vn 1 

 68.45  60.00
 128.45 mm/bln
g. Perubahan volume aliran dalam tanah (∆Vn)
Vn  Vn  Vn 1

 128.45 100
 28.45 mm/bln
h. Aliran dasar (BF)
BF  I  Vn
 85.563  28.450
 57.113 mm/bln
i. Limpasan langsung (DR)
DR  WS  I  PF
 213.907  85.563  0
 128.344 mm/hari

54
j. Total limpasan (TRo)
TRo  BF  DR
 57.113  128.344
 185.457 mm/hari
k. Debit Sungai (Q)
Diketahui data-data sebagai berikut :
- Luasan Cathmen area, A = 7.76 km2 = 7.76 x 106 m2
- Jumlah hari dalam bulan januari = 31 hari
Maka untuk debit tersedia dapat dihitung sabagai berikut :
Debit tersedia bulan n (Qn)
Qn  TRo  A

185 .457 10 3  7,76 11 .6


  0,539 m3/det
31

Perhitungan debit bulan Januari 2000 diatas dan bulan selanjutnya


dari tahun 2000 – 2009 disajikan dalam bentuk tabel (lihat tabel 3.7 -
3.8). Hasil selengkapnya dapat dilihat dalam tebel 3.6. berikut.

Debit andalan yang ekonomis ditentukan menurut pedoman


”Technical Participation Manual for Small Hydroelectric Power
Develovement” yang dikeluarkan oleh New Energy Foundation,
MITI Japan. Memperhatiakn kurva durasi debit aliran, maka dapat
dipilih debit disain yang efektif. Pada prosentase kejadian 70 %
diperoleh debit sebesar 0,064 m3/det. Dan pada prosentase kejadian
100 % diperoleh debit 0,009 m3/det. Sehingga debit desain
ditetapkan sebesar 0,064 m3/det.
Banjir Rencana pada studi ini dilakukan melalui
pengamatan karakteristik sungai. tanda-tanda kejadian banjir yang
ada serta hasil wawancara dengan masyarakat disekitar lokasi studi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian banjir mengakibatkan
permukaan air sungai naik sampai 1,00 meter di lokasi PLTMH.

55
Tabel 5.2.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2000

Sumber : Hasil Perhitungan

56
56
Tabel 5.3.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2001

Sumber : Hasil Perhitungan

57
57
Tabel 5.4.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2002

Sumber : Hasil Perhitungan

58
58
Tabel 5.5.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2003

Sumber : Hasil Perhitungan

59
59
Tabel 5.6.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2004

Sumber : Hasil Perhitungan

60
60
Tabel 5.7.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2005

Sumber : Hasil Perhitungan


61
61
Tabel 5.8.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2006

Sumber : Hasil Perhitungan


62
62
Tabel 5.9.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2007

Sumber : Hasil Perhitungan

63
63
Tabel 5.10.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2008

Sumber : Hasil Perhitungan

64
64
Tabel 5.11.Analisa Debit Andalan dengan Metode F.J.Mock Sungai Marimpa Thn.2009

Sumber : Hasil Perhitungan

65
65
Tabel 5.12. Debit Andalan Sungai Marimpa (m3/det)

Sumber : Hasil Perhitungan

Berdasarkan debit pada tabel 5.12 diatas, disusunlah kurva durasi aliran (flow
duration curve) seperti pada gambar 5.1.

Kejadia Debit
0% 0,856 Kurva Prosentase Durasi Debit
5% 0,774 0,900
10% 0,616
15% 0,483 0,800
20% 0,349
0,700
25% 0,290
30% 0,256 0,600
35% 0,188
40% 0,155 0,500
Debit
45% 0,144 (m3/det)
50% 0,126 0,400
55% 0,108
0,300
60% 0,095
65% 0,087 0,200
70% 0,064
75% 0,051 0,100
80% 0,039
0,000
85% 0,034
90% 0,026
95% 0,022
Prosentae (%)
100% 0,009

Gambar 5.1. Kurva Durasi Debit Aliran Sungai Marimpa

66
Tabel 5.13 Hasil Perhitungan Debit Andalan “Metode F.J.Mock”
Debit Anadalan
Bulan Metode F.J.Mock
m3/det
Jan 0,128
Feb 0,087
Mar 0,066
Apr 0,053
Mei 0,032
Jun 0,026
Jul 0,029
Agust 0,016
Sep 0,014
Okt 0,007
Nop 0,023
Des 0,017
Jumlah 0,50
Rata-rata 0.296

Grafik Debit Andalan "Metode F.J.Mock" (m3/det)


0,140

0,120
Debit Andalan (m3/det)

0,100

0,080

0,060

0,040

0,020

0,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des
Metode F.J.Mock
(m3/det) 0,128 0,087 0,066 0,053 0,032 0,026 0,029 0,016 0,014 0,007 0,023 0,017

Bulan

Gambar 5.2 Grafik Debit Andalan Dengan Metode F.J.Mock

67
5.2 Debit Banjir

5.2.1 Analisis Frekuensi

Dari hasil uji konsistensi data curah hujan yang telah


dilakukan, diperoleh data curah hujan maksimum dengan
menggunakan metode rata-rata Aljabar.

Tabel 5.14 Curah Hujan Rerata Bulanan Maksimum


Curah Rangking Data
Tahun Hujan Max
(mm) Tahun C.H. Max (mm)
2000 234,67 1 52,17
2001 197,58 2 55,09
2002 210,30 3 75,59
2003 75,59 4 89,24
2004 122,63 5 98,71
2005 89,24 6 112,31
2006 55,09 7 122,63
2007 98,71 8 197,58
2008 112,31 9 210,30
2009 52,17 10 234,67

Curah Hujan Bulanan Maksimumn (mm)


250,00

200,00
Curah Hujan (mm)

150,00

100,00

50,00

0,00
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Curah Hujan Max (mm) 234,67 197,58 210,30 75,59 122,63 89,24 55,09 98,71 112,31 52,17
Tahun

Gambar 5.3 Grafik Curah Hujan Rerata Daerah Bulanan Maksimum

68
1. Uji Konsistensi Data
Sebelum data hujan ini dipakai terlebih dahulu harus
melewati pengujian untuk kekonsistenan data tersebut. Metode yang
digunakan adalah metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums)
(Buishand,1982).

Pengujian konsistensi dengan menggunakan data dari stasiun


itu sendiri yaitu pengujian dengan komulatif penyimpangan terhadap
nilai rata-rata dibagi dengan akar komulatif rerata penyimpangan
kuadrat terhadap nilai reratanya, lebih jelas lagi bisa dilihat pada
rumus dengan contoh hitungan dibawah:

S*0 = 0
k

S 
k   Y  Y
i [Sk*] = 109,84
i 1

= 234,67 – 124,83

= 109,84

Dy2 = (S*k)2 / n dimana n = 10


= (109,84)2/10
= 1206,45
Dy = Rerata Jumlah = 393,41
Sk** = S*k / Dy [Sk**] = [Sk*] / Dy
= 109,84 / 393,41 = 109,84/ 393,41
= 0,28 = 0,28

Nilai statistik Q dan R

Q= maks  Sk  untuk 0  k  n

R= maks S 
k - min S k

Dengan melihat nilai statistik diatas maka dapat dicari nilai Q/n dan
R/n. Hasil yang di dapat dibandingkan dengan nilai Q/n syarat dan

69
R/n syarat, jika lebih kecil maka data masih dalam batasan
konsisten.

Tabel 5.15 Uji Konsistensi C.H Bulanan Maksimum Metode RAPS

2. Perhitungan Distribusi

Untuk memperkirakan besarnya debit banjir dengan kala ulang


tertentu, terlebih dahulu data-data hujan didekatkan dengan suatu
sebaran distribusi, agar dalam memperkiraan besarnya debit banjir
tidak sampai jauh melenceng dari kenyataan banjir yang terjadi
(Soewarno, 1995 :98). Adapun rumus-rumus yang dipakai dalam
penentuan distribusi tersebut antara lain :

70
( X - X )2
S1 =
n -1
S
Cv =
X

 Xi - X
n
3
n
i =1
Cs =
(n - 1)  (n - 2)  S3

 Xi - X
n
4
n2 
i =1
Ck =
(n - 1)  (n - 2)  (n - 3)  S4

dimana :

S1 = standar deviasi

Cv = koefisien keragaman

Cs = koefisien kepencengan

Ck = koefisien kurtosis

Pemilihan distribusi berdasarkan penyimpangan (cr*) yang


terkecil (Soewarno, 1995 : 106).

“Metode Gumbel”

Contoh Perhitungan :
Diketahui data sebagai berikut :
- Curah Hujan (Ri) = 234,667
- Jumlah data (n) = 10
- Periode Ulang (T) = 100 tahun
- Rata-rata (R) = 124,83

71
1. Menghitung (Ri - R)
(Ri - R) = 234,667 – 124,83
= 109,838
2. Menghitung (Ri - R)2
(Ri - R)2 = (109,838)2
= 12064,459
3. Menghitung reduced variate (Yt)
Yt = -In (-In ((T - 1) / T))
= -In (-In ((100 - 1) / 100))
= 4,600
4. Menentukan nilai reduced mean (Yn)
Yn = 0,495 (Dari Tabel Lampiran J)
5. Menentukan nilai reduced standard deviation (Sn)
Sn = 0,950 (Dari Tabel Lampiran K)
6. Menghitung nilai faktor frekuensi (K)
K = (Yt - Yn) / Sn
= ( 4,600 - 0,495) / 0,950
= 4,323
7. Menghitung standar deviasi (S)

𝑅𝑖−𝑅 2
S =
𝑛 −1

39340,595
=
10−1

= 66,115
8. Menghitung Hujan Rancangan (RT) untuk Kala Ulang 100 thn
RT = Rrata-rata + (S x K)
= 124,83 + (66,155 x 4,323)
= 410,631

72
Tabel 5.16 Analisis Frekuensi Metode Gumbel

Sumber : Hasil Perhitungan

Garfik Curah Hujan Rancangan


500,000

450,000

400,000

350,000
CH.Rancangan (mm)

300,000

250,000

200,000

150,000

100,000

50,000

0,000
2,000 5,000 10,000 25,000 50,000 100,000 200,000
Analisis Frekuensi Dengan Metode Gumbell 115,869 194,782 247,030 313,045 362,019 410,631 459,066

Kala ULang (Tahun)

Gambar 5.4 Grafik Analisis Curah Hujan Rancangan Metode Gumbel

5.2.2 Debit Banjir Rancangan Metode Rasional


Diketahui data sungai sebagai berikut :
- Luas DAS = 7,76 km2
- Panjang Sungai (L) = 125 m
- Beda Elevasi (head) H = 7,85 m
- Hujan Rancangan (R 24) = 410,631 mm (100 thn)

73
1. Menentukan harga C, misalnya C = 0,3
2. Menentukan waktu banjir (Pers. Bayem)
W = 72 (H/L)0,6
= 72. (7,85/125)0,6
= 13,681 m/jam
Tc = L/W
= 125/13,681
= 9,046
3. Menentukan intensitas hujan, Mononobe
I = R24/24 . (24/T c)2/3
= 410,631/24 . (24/9,046)2/3
= 32,791 mm/jam
4. Menghitung debit banjir rancangan dengan kala ulang 100 tahun
Q = 0,278 . C . I . A
= 0,278 . 0,3 . 32,791 . 7,76
= 21,222 m3/det
Tabel 5.17 Analisis banjir Metode Rational berdasarkan analisis
frekuensi Metode Gumbel

Sumber : Hasil Perhitungan

74
Garfik Banjir Rancangan Metode Rational Gumbel
25,000

Banjir Rancangan (m³/dtk)


20,000

15,000

10,000

5,000

0,000
2 5 10 25 50 100 200
DEBIT BANJIR RANCANGAN METODE
RASIOAL 5,988 10,067 12,767 16,179 18,710 21,222 23,725

Kala ULang (Tahun)

Gambar 5.5 Grafik Banjir Rancangan Metode Rational Berdasarkan


Analisis Frekuensi Metode Gumbel

5.3 Desain Dasar

Untuk menghitung/memperkirakan bentuk serta dimensi dari


bangunan-banguan utama PLTMH maka diperlukan desain dasar. Desain
dasar ini penting untuk memperoleh besaran volume pekerjaan, sehingga
evaluasi teknis maupun ekonomis terhadap PLTMH dapat dilakukan.

Banguan-banguan utama tersebut terdiri dari Pekerjaan Sipil dan


Pekerjaan Elektro Mekanik. Pekerjaan-pekerjaan sipil meliputi : Bangunan
Pengelak Aliran (Cofferdam), Bendung (Weir), Banguan Pengambilan
(Intake), Saluran Pembawa (Headrace) dari beton tumbuk, Kantong
Sedimen, Pipa Pesat (Penstock), Rumah Pembangkit (Power House), dan
Saluran Pembuang Akhir (Tail Race).

5.4 Data Desain

Data-data yang digunakan dalam penyusunan desain dasar bangunan-


bangunan utama PLTMH Marimpa ini antara lain seperti di bawah ini,
sedangkan data pendukung yang lain yang tidak ada, selalu dikemukakan
pada awal perhitungan setiap pekerjaan atau struktur yang ada.

75
1. Data Sungai
 Sungai di sekitar bendung
- lebar normal sungai = 10 meter
- lebar rata-rata dasar sungai = 7 meter
- kemiringan talud =1:1
- kemiringan rata-rata dasar sungai di sekitar lokasi bendung
16%
- Elevasi dasar sungai di sekitar rencana bendung +660,00 m
- Elevasi di sekitar bak penenang / pengendap +659,50 m
- Elevasi di sekitar rumah turbin (power house) +651,65 m
- H gross = 8,35 m
2. Hidrologi:
 Debit rencana Qdesain = 0,064m3/s
 Tinggi muka air pada saat banjir maksimum h= 1,1 0 m
 Material sungai di hilir rencana lokasibendung berupa pasir, kerikil
hingga batu berukuran 10 – 50 cm sedangkan di sekitar lokasi
bendung berupa batu masif.

5.5 Desain Dasar Pekerjaan Sipil

5.5.1 Bangunan Pengalih Aliran (Cofferdam)

Pada fase pembangunan deperlukan lapangan pekerjaan yang


kering, sehingga di perlukan suatu bangunan pengalih aliran untuk
mengalihkan aliran air sungai. Pada area yang di keringkan tersebut
dapat di mulai pembangungan pondasi bendung utama.

Pengalihan aliran sungai Marimpa untuk pembangunan


konstruksi bendung PLTMH Pinembani dilakukan dengan dua
tahap dengan tanggul pengelak (cofferdam).

Tahap 1:
Pelaksanaan pembangunan konstruksi bendung dimulai dari bagian
hulu dari rencana bendung utama. Pada bagian hulu ini terdapat

76
bangunan pembilas dan intake. Bangunan cofferdam untuk
mengarahkan aliran sungai ke sisi lainnya. Setelah pekerjaan
konstruksi bendung dan pembilas selesai maka cofferdam
dibongkar.
Tahap 2:
Pembangunan konstruksi bendung dilaksanakan pada sisi lainnya.
Cofferdam dibangun untuk melindungi areal kerja pada sisi ini,
dimana aliran sungai diarahkan melalui bangunan bendung yang
sudah jadi. Elevasi/tinggi cofferdam disarankan seekonomis
mungkin dengan pertimbangan faktor resiko yang kemungkinan
muncul.

Berdasarkan pertimbangan di atas serta informasi masyarakat di


sekitar lokasi pembangunan PLTMH Marimpa dan pengamatan
langsung didapatkan data bahwa tinggi maksimum air dari dasar
sungai pada saat banjir tahunan setinggi 1,10 meter.

Selanjutnya elevasi cofferdam dapat ditentukan sebagai berikut:


- elevasi dasar sungai = + 660,00 m
- tinggi air pada banjir tahunan = 1,10 m
- jagaan / freeboard = 0,50 m +
elevasi cofferdam = + 661,60 m
Material yang digunakan untuk konstruksi cofferdam ini adalah
material batuan yang ada di sekitar lokasi rencana PLTMH
Marimpa.

5.5.2 Bendung

Bendung PLTMH Marimpa direncanakan sebagai bendung


sederhana dari pasangan batu kali dilapisi beton bertulang dengan
mutu K225 setebal 10 cm. Panjang bendung adalah 10,0 meter.

77
a. Lokasi Bendung

Bendung PLTMH Marimpa dibangun pada hulu sungai


Marimpa pada elevasi dasar sungai + 660,00 m, dengan
bangunan intake pada sebelah kiri aliran sungai. Lebar rata-
rata sungai di sekitar lokasi bendung sekitar 10 m, dengan
kemiringan talud adalah 1 : 1; dengan gradien rata-rata sungai
16 %.

b. Elevasi Mercu Bendung

Berdasarkan kondisi topografi dan fungsi dari bendung


PLMTH Marimpa yakni untuk memperoleh tinggi jatuh
rencana, maka direncanakan tinggi mercu bendung sebesar
1,50 m, sehingga elevasi mercu direncanakan pada elevasi
661,50 m.

c. Tinggi Muka Air Maksimum di Sungai


Tinggi muka air maksimum sungai Marimpa (tinggi
muka air sebelum ada bendung) dihitung menggunakan rumus
Chezy:

V= C R.S

Prosedur perhitungan adalah sebagai berikut:


1. Data
 Tinggi muka air banjir maksimum : = 1,10 m
 Lebar rata-rata sungai : b = 7,0 m
 Kemiringan tebing talud : 1: m = 1 : 1
 Gradien rata-rata sungai :S = 0,16
2. Luas Penampang Basah :A = (b + mh) h
= (7+1 x 1,1) 1,1
A = 8,91 m2

78
3. Keliling Basah : P = b + 2h 1  m2
P =7+2x1 1  12
= 10,1 m
4. Jari-jari hidrolis : R =A/P
R = 0,88 m
5. Koefisien Pengalira : Cd = 87 /(1  100 / 0,88)

Cd = 0,81
6. Kecepatan aliran su ngai :V = Cd R.S

V = 0,81 0,88 * 0,16

= 0.30 m/det
7. Debit sungai (Debit Banjir 100 thn) Q = 21,22 m3 /det

Berdasarkan pengamatan di lapangan pada keadaan


normal, kedalaman air di sungai di bagian hilir lokasi bendung
adalah 0,50 meter. Selanjutnya perhitungan elevasi muka air
maksimum pada keadaan normal di sungai sebagai berikut:
- Kedalaman air di sungai (h) pada keadaan normal 0,50 m
- Elevasi dasar sungai di hulu lokasi bendung +660,0 m
- Elevasi muka air maksimum di hulu bendung +660,5 m

d. Lebar Bendung

Lebar bendung merupakan jarak antara tembok pangkal


(abutment) di satu sisi sungai dengan abutmen pada sisi lain
termasuk pilar-pilar dan pintu pembilas. Lebar bendung (B)
yang ideal adalah sama dengan lebar normal sungai (Bn) agar
aliran sungai tidak banyak mengalami gangguan setelah ada
bendung. Akan tetapi bilamana pengambilan lebar bendung
(B) sama dengan lebar normal sungai (Bn) mengakibatkan
muka air di atas mercu bendung tinggi sekali maka lebar
bendung dapat diperbesar hingga 1,20 kali lebar sungai normal

79
atau B = 1,2 Bn (Soenarno, Konstruksi Bendung Tetap,
Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik). Dengan
pertimbangan kodisi geologis lokasi sekitar bendung yang
merupakan tebing batu masif maka lebar bendung diambil
sama dengan lebar sungai.

Gambar 5. 6 . Sketsa Penampang Rata-Rata Sungai Marimpa

 Kedalaman air di sungai : h = 0,50 m


 Jagaan/free board :w = 1,00 m +
htotal = 1,50 m
Dengan demikian lebar bendung B = 1.0
Bn = 1,0 (10,0) = 10,0 m

Lebar bendung PLTMH Marimpa ditetapkan 10,00 m

e. Mercu Bendung

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bendung


PLTMH Marimpa direncanakan tipe sederhana dari pasangan
batu kali dengan tinggi mercu 1,00 meter dari dasar sungai.
Bentuk mercu pelimpah direncanakan tipe bulat dengan jari-
jari tunggal R = 1,0 m. Kemiringan permukaan mercu bagian
hilir adalah 3 : 1 sedangkan bagian hulu bendung vertikal.
Untuk menjamin kekuatan tubuh bendung dilapisi beton
bertulang K225 dengan tebal 10 cm. Dengan demikian elevasi
mercu bendung adalah + 661,00 m.

80
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan dimensi
bendung adalah sebagai berikut:
 Panjang bendung L = 10,00 m
 Tinggi bendung dari elevasi dasar sungai h = 1,00 m
 Lebar mercu bendung b mercu = 1,00 m
 Lebar dasar bendung b dasar = 1,50 m

Menghitung tinggi muka air di atas bendung (Kriteria


perencanaan bangunan utama, Dep. PU, 1986)

Persamaan tinggi energi – debit untuk bendung ambang


pendek dengan pengontrol segi empat adalah :

Q  Cd 2 / 3 2 / 3g b H11 / 6

Dimana Q = Debit air sungai = 21,22 m3 /det


Cd = di ambil 0,81
g = gravitasi, 9,81 m/det 2

Dihitung : 21,22  0,81 2 / 3 2 / 3  9,81 10 H11 / 6

H11 / 6 = 0.621 ; H1 = 0,239 m

Gambar 5.7. Tinggi muka air di atas Mercu bendung

81
Elv. Tinggi Talud + 662,00 m

Elv. TMA + 661,24 m Elv. Mercu Bendung + 661,00


m

Elv. Tinggi Dasar Sungai + 660,0 m


m
Pondasi bangunan intake Elv + 659,50
m Pondasi Kolam olak Elv + 658,70 m

Gambar 5.8. Sketsa Bangunan Bendung dan Intake

f. Kolam Olak (Peredam Energi)

Di sekitar lokasi pembangunan bendung PLTMH


Marimpa terdiri dari pasir halus dan kerikil serta terdapat
batuan masif seperti pada lokasi jatuhnya air terjun yang ada
sekarang, maka perlu dibuatkan konstruksi kolam olakan yang
baru. Akan tetapi karena diperkirakan banjir sungai Marimpa
akan mengangkut batu-batu bongkahan/boulder yang dapat
merusak tubuh bendung dan lantai/dasar sungai bagian hulu
bendung, maka pada bagian hilir bendung tersebut akan
dilapisi beton bertulang dengan mutu K225 setebal 20 cm
selebar 2 meter dari tubuh bendung sepanjang tubuh bendung
atau sepanjang 10,0 meter.

5.5.3 Bangunan Pengambilan (Intake)

Bangunan intake harus mensupali debit air dengan stabil ke


saluran pembawa, yang kemudian diteruskan ke bangunan kolam

82
penenang (forebay). Debit air tersebut kemudian diteruskan ke
rumah pembangkit melalui pipa pesat (penstock). Desain bangunan
intake dibuat dengan harus memperhatikan tingkat permukaan air
pada saat debit minimum. Berdasarkan kondisi topografi sungai
Marimpa, maka bangunan pengambilan ditempatkan di sebelah
kanan aliran sungai.

Perhitungan Dimensi Bangunan Intake:


Bangunan intake dilengkapi dengan pintu dan bagian depannya
terbuka menjaga jika terjadi muka air banjir
Dasar bangunan pengambilan (intake) terletak 0,75 m di atas lantai
bendung sehingga elevasi bangunan intake 660,25 m. Di bangun
dengan arah 900 terhadap as aliran sungai. Kapasitas bangunan
intake diambil,
Qd = 1,2 x Qdesain.
Qd = 1,2 . 0,064 = 0,077 m3/s
0,077    b  h1 2  g  z

Dimana:

Μ = koefisien pengaliran = 0,81

h1 = 0,4, tinggi muka air normal dari ambang pintu pengambilan


z = kehilangan energi pada pintu masuk = 0,05
b = lebar bangunan intake

g = percepatan gravitasi = 9,81 m/s2.

83
a b

Gambar 5.9. Type Pintu Intake


Lebar pintu intake yang diperlukan dapat dihitung sebagai berikut:

0,077    b  a 2  g  z

0,077  0,81 b  0,28 2  9,81 0,05

b = 0,343 m

Dengan demikian pada intake diperlukan 1 pintu selebar 0,8 m.

Kemiringan rencana saluran sampai di ujung masuk bangunan kantong


sedimen adalah:

V=Q/A

2 1
1 Q
R3 S 2 
n A

dimana:

R = jari-jari hidrolis penampang saluran

S = kemiringan saluran

2
1  0,343 x 0,40  3
1 0,064
x  xS 2

0,018  2 x 0,40  0,343 0,343 x 0,4

S = 0,001

84
5.5.4 Saluran Pembawa (Headrace)

Saluran pembawa adalah salah satu bangunan yang sangat


vital didalam perancangan dan desain PLTMH. Elevasi dasar
saluran pembawa pada bangunan intake + 659,50 meter dan
kemiringan dasar saluran 0,001

Saluran pembawa pada PLTA Sungai Marimpa berfungsi


mennyalurkan air dari pintu Intake menuju pipa pesat (penstock).
Direncanakan penampang saluran pembawa berbentuk trapesium.
Berdasarkan pengalaman rasio optimum antara lebar dan tinggi
saluran adalah 3 : 2 – 4 : 2

Dengan pertimbangan ekonomi, Saluran dibuat dari susunan batu


kali dengan campuran Semen dan Pasir 1 : 4

Parameter desain:
Debit desain Q = 0,064 m3/s
Kemiringan dasar saluran diambil S = 0,001
Koefisien manning n = 0,018
Panjang saluran L = ± 9,50 m
Tampang saluran = Segi Empat
Hasil perhitungan penampang saluran adalah sebagai berikut:
b = 0,7 m h = 0,7 m R = 0,233 m
2;
P = 2,10 m A = 0,49 m
Menghitung kecepatan rata rata aliran dalam saluran pembawa
Q=vA v = Q/A = 0,064/0,49 = 0,130 m/det
Tinggi jagaan hw = 0,3 m

85
Tinggi Permukaan Tanah Bendung PLTMH
di Sekitar bendung Sungai Marimpa

Saluran pembawa

Lebar Terjunan

Pipa Pesat

Gambar 5.10. Sketsa Potongan Memanjang Saluran Pembawa


(Headrace)

Debit saluran dibuat lebih besar dari yang dibutuhkan untuk


mengantisipasi endapan yang mungkin terjadi lebih cepat
mengingat saluran ini berada di lahan perkebunan masyarakat.
Dengan demikian saluran pembawa ini direncanakan berdimensi
sebagai berikut:

hw = 0,3 m

H= 0,7 m
s = 0,001

b= 0,7 m

86
5.5.5 Bangunan pengendap sedimen (sediment trap)

A v
w v
w

Gambar 5.11. Skema Potongan Memanjang Bangunan Pengendap


Sedimen

Bangunan pengendap sedimen direncanakan berbentuk segi


empat dari pasangan dan lantai beton bertulang dengan dinding di
sekitar jatuhnya air dari saluran pembawa berupa dinding beton
bertulang.

Butiran sedimen yang masuk dalam bangunan pengendap


sedimen, dengan kecepatan endap sedimen “w” dan kecepatan air
“v“ harus mencapai titik C. Sehingga butiran sedimen tersebut akan
berjalan selama waktu H/V , yang diperlukan untuk mencapai
dasar, untuk selanjutnya bergerak atau bergulir sepanjang L dalam
waktu L/v. Sehingga persamaan dapat disusun sebagai berikut :

H L Q
 dengan v 
v v HB

dimana :
H = kedalaman aliran, m
w = kecepatan endap butiran sedimen, m/det
L = Panjang bangunan pengendap sedimen
v = kecepatan aliran air, m/det
Q = debit air di saluran, m3/det
B = Lebar kantong lumpur, m

87
Persamaan di atas dapat di sederhanakan LB = Q/w.
Persamaan untuk bangunan pengendap sedimen tersebut sangat
sederhana, sehingga Velikanov, 1971, membuat faktor koreksi
dengan dasar pemikiran adanya perubahan aliran air akibat,
turbulensi air, pengendapan butiran sedimen yang terhalang,
banyaknya sedimen melayang. Persamaan untuk faktor koreksi
sebagai berikut :

LB 

Q  v H0,5  0,2 
2

w 7.51 w H

Data lapangan adalah sebagai berikut :


L = di hitung Q = 0,064 m3/det H = 1,2 m
B = 1,5 m v = 0,036 m/det  = 1,2
w = 2,8 cm/det = 0,028 m/det (U.S. Inter- Agency Committe on
water Resources Subcommitte on sedimentation)

L 1,5 

0,064 1,2 0,036 1,2 0,5  0,2 
2

0,028 7,51 0,028 1,2

jadi diperoleh faktor koreksi dari velikanov, L = 0,4 m

Untuk menghitung panjang bangunan pengendap sedimen di


gunakan persamaan sebagai berikut :

Q 0,064
LB  
 L 1,5 
w 0,028

diperoleh panjang bangunan pengendap pasir, L = 2,3 + faktor


koreksi = 2,7 m

Perhitungan kapasitas bak pengendapan pasir:

Kedalaman bak pengendapan tergantung pada periode waktu untuk


setiap pengurasan. Diperkirakan pengurasan dilakukan 1 kali

88
dalam empat hari atau pada saat banjir besar. Dari tingkat
kejernihan air hulu Sungai Marimpa maka di perkirakan
konsentrasi sedimen pada air hulu Sungai Marimpa tersebut adalah
0,15 kg/m3 dan semuanya diendapkan dalam kantong pasir maka:

Jumlah endapan pasir = kandungan pasir x debit saluran pembawa


= 0,15 x 0,064
= 0,0096 kg/det
Endapan pasir dalam 2 hari = 4 x 24 x 3600 x 0,0096
= 3317,76 kg
Diambil berat jenis endapan sebesar 2650 kg/m3, dan diperkirakan
kepadatan endapan 85 % maka kedalaman bak pengendapan yang
diperlukan adalah:

Volume endapan = 3317,76/ (0,85 x 2650)


= 1,47 m3
Kedalaman bak pengendapan = Volume / area
= 1,47 / (2,7 x 1,5)
= 0,36 m
Diambil kedalam bak pengendapan = 0,5 m
Penampang transisi dihitung sebagai berikut:

B  B' 1
Panjang transisi 1 =  L`
2 tan  3

1,5  0,25
=  0,625 m  1/3 (2,7) = 0,83 m
2 tan 45 0

89
0,7 m 1,5m

2,7 m
2,0 m 0,60 m

0,7 m 0,70 m

0,50 m

Gambar 5.12. Sketsa Bangunan Kantong Sedimen

Elevasi muka air pada bangunan kantong sedimen adalah + 659,50


m, elevasi tersebut merupakan elevasi pengambilan hulu pipa pesat
(penstock).

5.5.6 Pipa Pesat (Penstock)

Pipa pesat adalah pipa bertekanan yang mengalirkan air dari


bak penenang (sandtrap) langsung ke intake turbin. Penempatan
pipa pesat dapat di atas permukaan tanah atau di dalam tanah,
untuk penempatan pipa di dalam tanah akan menjaga tekanan air
yang ada di dalam pipa dari perubahan suhu matahari dan hujan.

Bilamana pemasangan pipa dilakukan di atas permukaan


tanah maka diperlukan konstruksi blok angker dan struktur
pendukung sebagai dudukan pipa pesat untuk menahan beban pipa
dan air di dalamnya.

Pipa penstock merupakan salah satu komponen yang mahal


dalam pekerjaan PLTMH, oleh karena itu desainnya perlu

90
dipertimbangkan terhadap keseimbangan antara kehilangan energi
dan biaya yang diperlukan. Parameter yang penting dalam desain
pipa penstock terdiri dari material yang digunakan, diameter dan
ketebalan pipa serta jenis sambungan yang digunakan. Dengan
pertimbangan head yang relatif rendah, ketersediaan material, maka
digunakan pipa beton bertulang.

a. Perhitungan Dimensi Pipa Pesat

Data : Q = 0,064 m3/det

Panjang Pipa Pesat L = 56,35 2  7,85 2  L= 56,90 m

Kecepatan aliran dalam pipa V = 2.g.h

=
2.9,81.7,85

= 12,4 m/det

Penampang pipa A = Q/V = 0,064/12,4 = 0,005 m2 (minimum)

4A
Diameter pipa D  [ ] 0,5  0,079 m, dipakai D = 0,40 m.

Sehingga A = 0,005 m2 dan V = 12,4 m/det

Tinggi energi total (statis) = 7,85 m

Koefisien gesekan pada pipa rencana = 0,033

Kehilangan tenaga akibat gesekan pada pengaliran pipa pesat :

8f L 8  0,033 56,90
hf  Q2 =  0,0642
g D
2 5
9,81 3,14 2  0,2 5

hf = 0,098 m

Catatan: Pipa pesat ini dapat diganti dengan saluran tertutup


berbentuk segi empat dengan ukuran 0,4 x 0,4 m dari beton
bertulang.

91
b. Perhitungan Tebal Pipa Penstock.
Tebal minimum pipa penstock dihitung dengan rumus berikut:
Dengan tinggi head 7,85 m maka tekanan pada dinding pipa
adalah sebesar 7850 kg/m2 atau 0,785 kg/ cm2 . Sehingga
dengan tekanan tersebut direncanakan menggunakan pipa
beton bertulang dengan ketebalan 8 cm

5.5.7 Kehilangan Tenaga (Head Loss)

Kehilangan tenaga pada pipa pesat adalah jumlah dari


kehilangan tenaga pada intake pipa pesat ditambah kehilangan
tenaga pada akibat gesekan dan kehilangan tenaga akibat
penyempitan pipa pada ujung pipa pesat, sedangkan kehilangan
tenaga akibat gesekan telah di hitung terlebih dahulu yaitu sebesar
0,06 m

Kehilangan energi pada Pintu Masuk

(v  v )2 
H    0,1
a 1
masuk
masuk 2g
v a
 0,13 m / det

v a
 1,50 m / det

dimana: ΔH = 0,0096 dibulatkan 0,01


 masuk = 0,1 ; Koef. kehilangan energi pada pintu masuk,
va = kecepatan dalam saluran pembawa, m/det

92
v1 = kecepatan aliran dalam penstock, m/det
g = percepatan gravitasi = 9,81 m/det2
Kehilangan energi akibat bengkokan pipa
Nilai koefisien kehilangan energi akibat bengkokan pipa seperti di
bawah ini
Tabel 5.18. Koefisien Kehilangan Tenaga Berdasarkan Bengkokan Pipa
5 10 15 30 45 50 90

 0,02 0,04 0,05 0,15 0,28 0,55 1,2

Sumber : Buku utama Pedoman Studi Kelayakan PLTMH (Departeman Energi dan
Sumber Daya Mineral 2008)

Tabel 5.19. Nilai Koefisien Kehilangan Tenaga pada Belokan Pipa


Titik Join Sudut Koefisien Kehilangan Tenaga
o
M 4 0,02
N 4o 0,02
O 13o 0,04
Sumber : Buku utama Pedoman Studi Kelayakan PLTMH (Departeman Energi dan
Sumber Daya Mineral 2008)

Kehilangan tenaga pada belokan pipa digunakan nilai pendekatan


dengan dasar pemikiran bahwa nilai terendah dari kehilangan
energi pada range Tabel 5.13.

Dimana:  dan  adalah sudut bengkokan dan koefisien kehilangan


energi. Untuk nilai  yang berada diantaranya dilakukan interpolasi
linier.

 = 5 0 , koefisien kehilangan tenaga ,  = 0,02


Untuk  = 4 0 , koefisien tenaga,  = 0,02

Persamaan Energi :

Kehilangan tenaga sekunder :

93
1. Koefisien akibat perubahan bentuk tampang (titik L)
ΔH = 0,092

2. Koefisien kehilangan tenaga pada setiap belokan :

Tabel 5.20. Nilai Koefisien Kehilangan Tenaga Pada Setiap


Belokan
Titik Join Sudut Koefisien Kehilangan Tenaga
o
M 4 0,02
N 4o 0,02
O 13o 0,04
Sumber : Buku utama Pedoman Studi Kelayakan PLTMH (Departeman Energi dan
Sumber Daya Mineral 2008)

3. Koefesien akibat penyempitan pipa = 0,5

4. Kehilangan tenaga sekunder dapat ditulis dalam bentuk :

V2 8Q 2 8 K 2
he  K K 2 4  Q
2g g D g 2 D 4

Jumlah kehilangan tenaga bengkokan pipa :

 he  he M  he N  he O
8 k M k N kO  2
 he     Q
g 2  D14 D14 D14 
8  0,02 0,02 0,04  2
 he  2 
  Q
g  0,331 0,331 0,3314 
4 4

 he  0,081,69  1,69  3,37Q 2


 he  0,57 Q 2

he = 0,01

Jadi total kehilangan tenaga adalah jumlah dari kehilangan


tenaga pada pipa masuk (he1)+ kehilangan energi akibat
gesekan pipa (he2) + kehilangan energi akibat bengkokan, atau

94
dalam bentuk persamaan total kehilangan tenaga sebagai
berikut :

 he =he1+he2+he3   he = 0,60 + 0,01 + 0,01


 he = 0,62 m
5.5.8 Rumah Pembangkit

Bangunan rumah pembangkit direncanakan berupa bangunan


permanen dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 3 m x 3 m x 3;
memakai atap seng gelombang, pondasi batu kali, dinding batu
bata, pintu tripleks, dan lantai beton rabat diaci.

5.5.9 Saluran Pembuang Akhir (Tail Race)

Saluran pembuang akhir (tail race) direncanakan berbentuk persegi


empat dari pasangan batu. Kapasitas saluran direncakan Q desain =
0,064 m3 / s.

b = 0,50 m dan h = 0,50 m

A = b x h = 0,50 x 0,50 = 0,25 m2.

V = Q / A = 0,064 / 0,25 = 0,256 m/s

P = b + 2h = 0,50 + 2 x 0,5 = 1,50 m

R = A / P = 0,25 / 1,50 = 0,167 m

Rumus Manning : V = 1/n x S1/2 x R2/3

S = [ (n x V ) / R2/3 ]2

S = [ ( 0,018 x 0,256 ) / (0,167)2/3 ] 2

= 0,0023

95
5.6 Kapasitas Daya Dan Produksi Energi

Daya listrik yang dapat dibangkitkan dihitung dengan memakai persamaan:


P = 9,81 x Q x H x η

Dimana :
P = daya (KW),
Q = debit rencana (m3/det),
H = Head netto (m)
η = koefisien efisiensi turbin dan generator.
Setiap jenis turbin dan pabrik pembuat memiliki tingkat efisiensi yang
berbeda.

Debit rencana diambil pada kejadian 70 %, sehingga Q = 0,064


m3/det, H netto diperoleh sebesar 7,85 m. Pada kasus ini, efisiensi turbin
dan generator dipakai adalah 75 %, Dengan demikian, maka daya listrik
output adalah:

P = 9,81 x 0,064 x 7,85 x 0,75


= 3,708 kW
= 3708 W
Diperkirakan dalam 1 KK digunakan :
- 1 buah lampu 10 W = 10 W
- 2 buah lampu 5 W = 10 W
- 1 buah peralatan elektronik = 30 W
Jadi rata-rata penggunaan listrik dalam 1 KK adalah 50 W
Jumlah KK yang ada pada desa Dangaraa Kec.pinembani adalah 67 KK
Sehingga energi yang dibutuhkan yaitu :
67 x 50 = 3350 W = 3,35 kW
Berdasarkan besarnya debit dan persen kejadian maka kapasitas
bangkitan energi yang dapat dihasilkan adalah sebesar 2.799 kWH per
tahun, rincian perhitungan disajikan pada tabel berikut:

96
Tabel 5.21. Kapasitas Bangkitan Energi PLTMH Marimpa

Produksi Energi Listrik


200

150
Energi KWH

100

50

0
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
Persen Kejadian

Gambar 5.14. Ketersediaan Daya & Produksi Energi

97
BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Dari hasil tinjauan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka penulis dapat
menyimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Dari Analisis Data Curah Hujan dan Klimatologi, serta Topografi


mengindikasikan bahwa ada potensi debit sebesar 0,064 m3 /det dengan
head 7,85 m.

2. Dengan asumsi efisiensi turbin dan generator sebesar 75%, maka Daya
listrik yang dapat dibangkitkan sebesar 3,708 kW.

3. Kebutuhan listrik untuk masyrakat Dangraa (67 KK) sebesar 3,350 kW


dengan perkiraan dalam 1 KK menggunakan 50 W.

4. Berdasarkan pengamatan lapangan, trase saluran pembawa yang paling


mungkin adalah melalui sisi kanan sungai. Kondisi topografi sedemikian
memungkinkan dibuat saluran terbuka sepanjang 64 m sebagai saluran
pembawa, saluran tertutup sepanjang 56,35 m sebagai saluran tekan
(penstock).

6.2 Saran

1. Untuk kemajuan masyarakt Dangaraa diharapkan kepada PEMDA dan


PLN setempat agar dapat memperhatikan masyarakat Dangaraa untuk
membantu pelaksanaan pembanguan Pembangit Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH).

2. Kelebihan daya yang dihasikan PLTMH dapat digunakan untuk


keperluan rekreasi, pendidikan dan industri kecil seperti ; mesin
pemotong rotan, mesin penggiling padi.

98
DAFTAR PUSTAKA

Adyanto S. 2008.Analisis Aliran Air Dalam Pipa Untuk Pembangkit Listrik


Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Hulu Sungai Rawa, Tugas Akhir
Fakultas Teknik, Universitas Tadulako, Palu
Arismunandar A, Dan Kuwahara S, 1991. Teknik Tenaga Listrik Jilid I,
PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
Chow, VT, 1985, Hidraulika Saluran Terbuka, Erlangga, Jakarta.
Dandekar M. M, Sharma K.N, 1991. Pembangkit Listrik Tenaga Air. Terjemahan,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Endardjo P,Warga Dalam J, Setiadi A, 1998, Pengmbangan Rancang Bangun
Mikrohidro Standar PU, Prosiding HATHI, Bandung.
Giles RV, 1996, Mekanika Fluida Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Hery S. 2009. Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLYMH) di
Sungai Paneki, Tugas Akhir Fakultas Teknik, Universitas Tadulako, Palu.
Kodoatie RJ, 1977. Hidrolika Terapan Aliran Pada Saluran Terbuka dan Pipa.
Andi, Jogjakarta.
Kristanto H, 2007 Pelatihan Pembangunan Mikrohidro Berbasis Masyarakat,
Mojokerto.
Patty F.,1995, Tenaga Air, Edisi Pertama, Erlangga, Jakarta.
Priyantoro D, 1991. Hidrolika Saluran Tertutup Edisi Pertama, Universitas
Brawijaya, Malang.
Raswari, 1987. Sistem Perpipaan. Universitas Indonesia, Jakarta.
Triadmodjo B, 2003. Hidraulika II Soal dan penyelesaian, Universitas Gajah
Mada, Jogjakarta.
Wayan, Abdul, Joy. 1999. Diktat Kuliah Rekayasa Hidrologi. Universitas
Tadulako. Palu.
WWW.HydroGeneration.co.id
Buku Utama Pedoman Studi Kelayakan PLTMH, 2008. Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral.

99
100
101
`

Bak Penenang / Pengendapan


Saluran Pembawa
0.3m 2.7 m 0.3m 2m 64 m
56.35 m
0.3m

1.5m +669,50 1.0m 1.2 m

0.3m
1.2 m
Intake FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
+651,65 Pipa Pesat (Penstock) 16"
+660,50 KEGIATAN
Saluran Pembuang Rumah Turbin

TUGAS AKHIR
Bendung
10 m

PEKERJAAN

PEKERJAAN MIKROHIDRO

LOKASI
LAY OUT PLTMH
SUNGAI MARIMPA
Skala 1 : 150 DESA DANGRAA
KECAMATAN PINEMBANI

Saluran Pembawa KETERANGAN

Pengambilan (Intake)
7m +660.00 +660.00
Talud Bendung
Talud bendung
+662.00
+662.00
DIPERIKSA T. TANGAN
+660.50
Penguras DOSEN PEMBIMBING I
Bendung
ALIFI YUNAR, ST. MT
Kolam Olak
DOSEN PEMBIMBING II
Riprap
Jalan Inspeksi TOTOK HARICAHYONO, ST. MT

+659.00
DIGAMBAR

+661,00

Elv. Dasar Sungai


+660,00
10 m

RAMLI KADIR
F 111 05 090
GAMBAR SKALA
Talud Bendung
Talud bendung
LAY OUT PLTMH 1 : 150

+662.00 1 : 100
+662.00 POT. BENDUNG

NO. LEMBAR JML. GAMBAR TANGGAL

Pot. Bendung
Skala 1 : 75 1 5

102
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
KEGIATAN

TUGAS AKHIR

PEKERJAAN

PEKERJAAN MIKROHIDRO
Pintu Penguras
64 m

Rumah Turbin Existing Bendung


Saringan Pas. Saluran Pas. Bronjong 30cm
LOKASI
30cm

Angker Blok
SUNGAI MARIMPA
m
56,35 +660,0 +660,0 DESA DANGRAA
Penstock 16"
50cm KECAMATAN PINEMBANI
+659,5 50cm
50cm
50cm
300cm
+659,0
KETERANGAN
50cm

50 cm Bak Penenang

Panel Penyangga Penstock


+651,65

DIPERIKSA T. TANGAN

Penyangga Penstock
DOSEN PEMBIMBING I
Angker Blok
ALIFI YUNAR, ST. MT
Turbin
DOSEN PEMBIMBING II
Generator
Saluran Pembuang TOTOK HARICAHYONO, ST. MT

POTONGAN MEMANJANG DIGAMBAR

Skala 1 : 100

RAMLI KADIR
F 111 05 090
GAMBAR SKALA

POTONGAN 1 : 100
MEMANJANG

NO. LEMBAR JML. GAMBAR TANGGAL

2 5

103
25 70 25
Bak Penenang

30 270 30 Pas. Saluran Pembawa


70 FAKULTAS TEKNIK
Penstock 16"
UNIVERSITAS TADULAKO

B
30
KEGIATAN

25
25
150
60 TUGAS AKHIR
+659,5 100 +660,0 70

A 25 A PEKERJAAN
POT. B - B
(DETAIL SALURAN PEMBAWA)
30
Skala 1 : 30

B
PEKERJAAN MIKROHIDRO

Saluran Pelimpah LOKASI


Saluran Penguras
SUNGAI MARIMPA
20 50 20 DESA DANGRAA
BAK PENENANG KECAMATAN PINEMBANI
Skala 1 : 50

KETERANGAN
50
Pintu Penguras
20

Saluran Pelimpah 40 DIPERIKSA T. TANGAN

Pas. Saluran Pembawa DOSEN PEMBIMBING I


ALIFI YUNAR, ST. MT
30 30
Saringan DETAIL SALURAN PEMBUANG DOSEN PEMBIMBING II
Skala 1 : 30 TOTOK HARICAHYONO, ST. MT

DIGAMBAR
70
+660,0
120
25

15 30 15 RAMLI KADIR
+659,5 F 111 05 090
30 GAMBAR SKALA
30 1. BAK PENENANG 1: 50
Penstock 16" 2. POT. BAK PENENANG 1: 50
15 3. DET. SAL. PEMBAWA 1: 30
POT. A - A (BAK PENENANG) 4. DET. SAL. PEMBUANG 1: 30
Skala 1 : 50 5. DET. SAL. PELIMPAH 1: 30
DETAIL SALURAN PELIMBAH
NO. LEMBAR JML. GAMBAR TANGGAL
Skala 1 : 30

3 5

104
300

- 0.100 FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS TADULAKO
KEGIATAN

300 Turbin DENAH RUMAH TURBIN


Generator A Skala 1 : 50 TUGAS AKHIR

± 0.00
PEKERJAAN

PEKERJAAN MIKROHIDRO

300
LOKASI

B
SUNGAI MARIMPA
DESA DANGRAA
KECAMATAN PINEMBANI

KETERANGAN

DIPERIKSA T. TANGAN

DOSEN PEMBIMBING I
ALIFI YUNAR, ST. MT
DOSEN PEMBIMBING II
TOTOK HARICAHYONO, ST. MT

DIGAMBAR
80
45

TAMPAK DEPAN RUMAH TURBIN


Skala 1 : 50 RAMLI KADIR
153
F 111 05 090
GAMBAR SKALA
258
208

1. DENAH RUMAH TURBIN 1 : 50


2. TAMPAK DEPAN 1 : 50

NO. LEMBAR JML. GAMBAR TANGGAL

70
4 5

105
515 FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
0
10 KEGIATAN
435,00

0
10
Atap Seng BJLS 28 TUGAS AKHIR

93

PEKERJAAN
300,00

Kuda-Kuda 6/12 List Plank 2/30 PEKERJAAN MIKROHIDRO

LOKASI

SUNGAI MARIMPA
DESA DANGRAA
Penstock 16" KECAMATAN PINEMBANI

Generator KETERANGAN

0,00

60,00

DIPERIKSA T. TANGAN
100,00 15
MAN DOSEN PEMBIMBING I
MAN
Angker Blok Penyangga Penstock ALIFI YUNAR, ST. MT
Campuran Beton DOSEN PEMBIMBING II
Campuran Beton
200,00 Pas. Batu Kali 1 : 2 TOTOK HARICAHYONO, ST. MT
Lantai Kerja
50 DIGAMBAR
Urugan Pasir 80
300

RAMLI KADIR
F 111 05 090
POTONGAN A - A POTONGAN B - B
GAMBAR SKALA
Skala 1 : 50 Skala 1 : 50

1. POTONGAN A-A 1 : 50
2. POTONGAN B-B 1 : 50

NO. LEMBAR JML. GAMBAR TANGGAL

5 5

106
99
Lampiran A Tabel PN.1 Hubungan Suhu (T) dengan nilai ea (mbar), W, (1-W)
dan f (t)

Suhu ea W (1-W) f (t)


(t) (mbar) Elevasi 1-250 m
24.0 29.845 0.735 0.265 15.400
24.2 30.213 0.737 0.263 15.445
24.4 30.581 0.739 0.261 15.491
24.6 30.950 0.741 0.259 15.536
24.8 31.319 0.743 0.257 15.581
25.0 31.588 0.745 0.255 15.627
25.2 32.073 0.747 0.253 15.672
25.4 32.458 0.749 0.251 15.717
25.6 32.844 0.751 0.249 15.763
25.8 32.230 0.753 0.247 15.808
26.0 33.617 0.755 0.245 15.853
26.2 34.024 0.757 0.243 15.898
26.4 34.431 0.759 0.241 15.944
26.6 34.839 0.761 0.239 15.989
26.8 35.247 0.763 0.237 16.034
27.0 35.666 0.765 0.235 16.079
27.2 36.085 0.767 0.233 16.124
27.4 36.515 0.769 0.231 16.170
27.6 36.945 0.771 0.229 16.215
27.8 37.376 0.773 0.227 16.260
28.0 37.807 0.775 0.225 16.305
28.2 38.259 0.777 0.223 16.350
28.4 38.711 0.779 0.221 16.395
28.6 39.163 0.781 0.219 16.440
28.8 39.616 0.783 0.217 16.485
29.0 40.070 0.785 0.215 16.530
29.2 40.544 0.787 0.213 16.575
29.4 41.019 0.789 0.211 16.620
29.6 41.494 0.791 0.209 16.665
29.8 41.969 0.793 0.207 16.711
30.0 42.445 0.795 0.205 16.756
Sumber : Suhardjono, 1994

100
Lampiran B. Tabel PN.2 Besaran Nilai Anggota (Ra) dalam Evaporasi Ekivalen
(mm/hari) dalam hubungannya dengan letak lintang (untuk daerah
Indonesia, antara 5 LU sampai 10 LS)

Bulan Letak Lintang


5 LU 4 LU 2 LU 0 LU 2 LS 4 LS 6 LS 8 LS 10LS
Januari 13.00 14.30 14.70 15.00 15.30 15.50 15.80 16.10 16.10
Februari 14.00 15.00 15.30 15.50 15.70 15.80 16.00 16.10 16.00
Maret 15.00 15.50 15.60 15.70 15.65 15.60 15.60 15.50 15.30
April 15.10 15.50 15.30 15.30 15.10 14.90 14.70 14.40 14.00
Mei 15.30 14.90 14.60 14.40 14.10 13.80 13.40 13.10 12.60
Juni 15.00 14.40 14.20 13.90 13.50 13.20 12.80 12.40 12.60
Juli 15.10 14.60 14.30 14.10 13.70 13.40 13.10 12.70 11.80
Agustus 15.30 15.10 14.90 14.80 14.50 14.30 14.00 13.70 12.20
September 15.10 15.30 15.30 15.30 15.20 15.10 15.00 14.90 13.30
Oktober 15.70 15.10 15.20 15.40 15.50 15.60 15.70 15.80 14.60
November 14.80 14.50 14.80 15.10 15.30 15.50 15.75 16.00 15.60
Desember 14.60 14.10 14.40 14.80 15.10 15.40 15.70 16.10 16.00
Min 13.00 14.10 14.20 13.90 13.50 13.20 12.80 12.40 11.80
Maks 15.70 15.50 15.60 15.70 15.70 15.80 16.00 16.10 16.10
Rerata 14.83 14.86 14.88 14.94 14.89 14.84 14.80 14.73 14.18
Sumber : Suhardjono, 1994

101
Lampiran C. Tabel PN.3 Hubungan nilai (Rs) dengan (Ra) dan (n/N) Rs = (0,25 +
0,54 n/N). Ra

Persentase Kecerahan Matahari (n/N) dalam (%)


Ra
20 30 40 50 60 70 80 90
12.00 4.30 4.94 5.59 6.24 6.89 7.54 8.18 8.83
12.20 4.37 5.03 5.69 6.34 7.00 7.66 8.32 8.98
12.40 4.44 5.11 5.78 6.45 7.12 7.79 8.46 9.13
12.60 4.51 5.19 5.87 6.55 7.23 7.91 8.59 9.27
12,80 4.58 5.27 5.96 6.66 7.35 8.04 8.73 9.42
13.00 4.65 5.36 6.06 6.76 7.46 8.16 8.87 9.57
13.20 4.73 5.44 6.15 6.86 7.58 8.29 9.00 9.72
13.40 4.80 5.52 6.24 6.97 7.69 8.42 9.14 9.86
13.60 4.87 5.60 6.34 7.07 7.81 8.54 9.28 10.01
13.80 4.94 5.69 6.43 7.18 7.92 8.67 9.41 10.16
14.00 5.01 5.77 6.52 7.28 8.04 8.79 9.55 10.30
14.20 5.08 5.85 6.62 7.38 8.15 8.92 9.68 10.45
14.40 5.16 5.93 6.71 7.49 8.27 9.04 9.82 10.60
14.60 5.23 6.02 6.80 7.59 8.38 9.17 9.96 10.75
14.80 5.30 6.10 6.90 7.70 8.50 9.29 10.09 10.89
15.00 5.37 6.18 6.99 7.80 8.61 9.42 10.23 11.04
15.20 5.44 6.26 7.08 7.90 8.72 9.55 10.37 11.19
15.40 5.51 6.34 7.18 8.01 8.84 9.67 10.50 11.33
15.60 5.58 6.43 7.27 8.11 8.95 9.80 10.64 11.48
15.80 5.66 6.51 7.36 8.22 9.07 9.92 10.78 11.63
16.00 5.73 6.59 7.46 8.32 9.18 10.05 10.91 11.78
16.20 5.80 6.67 7.55 8.42 9.30 10.17 11.05 11.92
Min 4.30 4.94 5.59 6.24 6.89 7.54 8.18 8.83
Maks 5.80 6.67 7.55 8.42 9.30 10.17 11.05 11.92
Rerata 5.05 5.81 6.57 7.33 8.09 8.85 9.62 10.38
Sumber : Suhardjono, 1994

102
Lampiran D. Tabel PN.4 Hubungan antara (ea) dan (ed) untuk berbagai keadaan
(RH) guna penggunaan rumus Penman.

ea Besaran ed = (ea x RH) adapun RH dalam (%)


(mbar) 50 55 60 65 70 75 80 85 90
29.00 14.50 15.95 17.40 18.85 20.30 21.75 23.20 24.65 26.10
29.25 14.63 16.09 17.56 19.01 20.48 21.94 23.40 24.86 26.33
29.50 14.75 16.23 17.70 19.18 20.65 22.13 23.60 25.08 26.56
29.75 14.88 16.36 17.85 19.34 20.83 22.31 23.80 25.29 26.78
30.00 15.00 16.50 18.00 19.50 21.00 22.50 24.00 25.50 27.00
30.25 15.13 16.64 18.15 19.66 21.18 22.69 24.20 25.71 27.23
30.50 15.25 16.78 18.30 19.83 21.35 22.88 24.40 25.93 27.45
30.75 15.36 16.91 18.45 19.99 21.53 23.06 24.60 26.14 27.68
31.00 15.50 17.05 18.60 20.15 21.70 23.25 24.80 26.35 27.90
31.25 15.63 17.19 18.75 20.31 21.88 23.44 25.00 26.56 28.13
31.50 15.75 17.33 18.90 20.48 22.05 23.63 25.20 26.78 28.35
31.75 15.88 17.46 19.05 20.64 22.23 23.81 25.40 26.99 28.58
32.00 16.00 17.60 19.20 20.80 22.40 24.00 25.60 27.20 28.80
32.25 16.13 17.74 19.35 20.96 22.58 24.19 25.80 27.41 29.03
32.50 16.25 17.88 19.50 21.13 22.75 24.38 26.00 27.63 29.25
32.75 16.38 18.01 19.65 21.29 22.93 24.56 26.20 27.84 29.48
33.00 16.50 18.15 19.80 21.45 23.10 24.75 26.40 28.05 29.70
33.25 16.63 18.29 19.95 21.61 23.28 24.94 26.60 28.26 29.93
33.50 16.75 18.43 20.10 21.78 23.45 25.13 26.80 28.48 30.15
33.75 16.88 18.56 20.25 21.94 23.63 25.31 27.00 28.69 30.38
34.00 17.00 18.70 20.40 22.10 23.80 25.50 27.20 28.90 30.60
34.25 17.13 18.84 20.55 22.26 23.98 25.69 27.40 29.11 30.83
34.50 17.25 18.98 20.70 22.43 24.15 25.88 27.60 29.33 31.05
34.75 17.38 19.11 20.85 22.59 24.33 26.06 27.80 29.54 31.28
35.00 17.50 19.25 21.00 22.75 24.50 26.25 28.00 29.75 31.50
35.25 17.63 19.39 21.15 22.91 24.68 26.44 28.20 29.96 31.73
35.50 17.75 19.53 21.30 23.08 24.85 26.63 28.40 30.18 31.95
35.75 17.88 19.66 21.45 23.24 25.03 26.81 28.60 30.39 32.18
36.00 18.00 19.80 21.60 23.40 25.20 27.00 28.80 30.60 32.40
36.25 18.13 19.94 21.75 23.56 25.38 27.19 29.00 30.81 32.63
36.50 18.25 20.08 21.90 23.73 25.55 27.38 29.20 31.03 32.85
36.75 18.38 20.21 22.05 23.89 25.73 27.56 29.40 31.24 33.08
37.00 18.50 20.35 22.20 24.05 25.90 27.75 29.60 31.45 33.30
Sumber : Suhardjono, 1994

103
Lampiran E. Tabel PN.5 Besaran f (ed), f (ed) = 0,34 – 0,044 √𝑒𝑑 , guna
perhitungan rumus Penman.

ed Besaran f (ed) = 0,34 – 0,044 √𝑒𝑑,


(mbar) 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
15.00 0.169 0.168 0.168 0.167 0.167 0.166 0.166 0.165 0.165
16.00 0.163 0.163 0.162 0.162 0.161 0.161 0.160 0.160 0.159
17.00 0.158 0.158 0.157 0.156 0.156 0.155 0.155 0.154 0.154
18.00 0.153 0.152 0.152 0.151 0.151 0.150 0.150 0.149 0.149
19.00 0.148 0.147 0.147 0.146 0.146 0.145 0.145 0.144 0.144
20.00 0.143 0.142 0.142 0.141 0.141 0.140 0.140 0.139 0.139
21.00 0.138 0.137 0.137 0.136 0.136 0.136 0.135 0.135 0.134
22.00 0.133 0.133 0.132 0.132 0.131 0.131 0.130 0.130 0.129
23.00 0.129 0.128 0.128 0.127 0.127 0.126 0.126 0.125 0.125
24.00 0.124 0.124 0.123 0.123 0.122 0.122 0.121 0.121 0.120
25.00 0.120 0.119 0.119 0.118 0.118 0.117 0.117 0.117 0.116
26.00 0.115 0.115 0.114 0.114 0.113 0.113 0.113 0.112 0.112
27.00 0.111 0.111 0.110 0.110 0.109 0.109 0.108 0.108 0.108
28.00 0.107 0.106 0.106 0.106 0.105 0.105 0.104 0.104 0.103
29.00 0.103 0.102 0.102 0.101 0.101 0.101 0.100 0.100 0.099
30.00 0.099 0.098 0.098 0.097 0.097 0.097 0.096 0.096 0.096
31.00 0.096 0.094 0.094 0.093 0.093 0.093 0.092 0.092 0.091
32.00 0.091 0.090 0.090 0.090 0.089 0.089 0.088 0.088 0.088
33.00 0.087 0.086 0.086 0.086 0.086 0.086 0.086 0.084 0.084
34.00 0.083 0.083 0.082 0.082 0.082 0.081 0.081 0.080 0.080
34.50 0.081 0.081 0.080 0.080 0.080 0.079 0.079 0.079 0.078
35.00 0.079 0.079 0.079 0.078 0.078 0.077 0.077 0.077 0.076
Sumber : Suhardjono, 1994

104
Lampiran F. Tabel PN.6 Besaran f (n/N)
f (n/N) = 0,1 + 0,9 n/N, guna perhitungan rumus Penman.

n/N Besaran f (n/N) = 0,1 + 0,9 n/N


(%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9
30.00 0.379 0.388 0.397 0.406 0.415 0.424 0.433 0.442 0.451
40.00 0.469 0.478 0.487 0.496 0.505 0.514 0.523 0.532 0.541
50.00 0.559 0.568 0.577 0.586 0.595 0.604 0.613 0.622 0.631
60.00 0.649 0.658 0.667 0.676 0.685 0.694 0.703 0.712 0.721
70.00 0.739 0.748 0.757 0.766 0.775 0.784 0.793 0.802 0.811
80.00 0.829 0.838 0.847 0.856 0.865 0.874 0.883 0.892 0.901
Sumber : Suhardjono, 1994

Lampiran G. Tabel PN.7 Besaran f (u)


f (u) = 0,27 (1 + U x 0,864), guna perhitungan rumus Penman.

U Besaran f (u) = 0,27 (1 + U x 0,864)


m/det 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
0.00 0.293 0.317 0.340 0.363 0.387 0.410 0.433 0.457 0.490
1.00 0.527 0.550 0.573 0.597 0.620 0.643 0.667 0.690 0.713
2.00 0.760 0.783 0.807 0.630 0.853 0.877 0.900 0.923 0.947
3.00 0.993 1.016 1.040 1.063 1.086 1.110 1.133 1.156 1.180
4.00 1.226 1.250 1.273 1.296 1.320 1.343 1.366 1.390 1.413
5.00 1.460 1.483 1.506 1.530 1.553 1.576 1.600 1.623 1.646
Sumber : Suhardjono, 1994

105
Lampiran H. Tabel PN.8 Besaran angka koreksi (c) bulanan untuk rumus Penman
(berdasarkan perkiraan perbandingan kecepatan angin siang/malam
di daerah Indonesia).

Bulan Angka koreksi (c)


Blaney-Criddle Radiasi Penman
Januari 0.800 0.800 1.100
Februari 0.800 0.800 1.100
Maret 0.750 0.750 1.000
April 0.750 0.750 1.000
Mei 0.700 0.700 0.950
Juni 0.700 0.700 0.950
Juli 0.750 0.750 1.000
Agustus 0.750 0.750 1.000
September 0.800 0.800 1.100
Oktober 0.800 0.800 1.100
November 0.825 0.825 1.150
Desember 0.825 0.825 1.150
Sumber : Suhardjono, 1994

Lampiran I. Tabel Nilai Q/n0,5 dan R/n0,5

106
Lampiran J. Tabel Hubungan Reduksi Data Rata-rata (Yn) dengan Jumlah Data
(n)

107
Lampiran K. Tabel Hubungan antara Deviasi Standar (Sn) dan Reduksi Data
dengan Jumlah Data (n)

108
Lampiran L-1 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2000

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

109
Lampiran L-2 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2001

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

110
Lampiran L-3 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2002

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

111
Lampiran L-4 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2003

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

112
Lampiran L-5 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2004

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

113
Lampiran L-6 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2005

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

114
Lampiran L-7 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2006

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

115
Lampiran L-8 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2007

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

116
Lampiran L-9 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2008

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

117
Lampiran L-10 : Data Curah Hujan Harian Tahun 2009

Sumber : Balai Wilayah Sungai Sulawesi 3

118
Lampiran M : Dokumentasi Lokasi Penelitian

Gambar 1 : Lokasi PLTMH

Gambar 2 : Lokasi Penelitian

119
Gambar 3 : Lokasi Pengukuran Kecepatan Air

Gamabr 4 : Lokasi Pengukuran Kedalaman Air

120
Gambar 5 : Lokasi Penelitian

Gambar 6 : Lokasi Power House

121
Gambar 7 : Daerah Penelitian

122