Anda di halaman 1dari 14

Gambar 6-8.

Penatalaksanaan Atonia Uteri


1. Masase fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta
(maksimal 15 detik)

Evaluasi rutin. Jika


Ya uterus berkontraksi
tapi perdarahan terus
Uterus
berkontraks berlangsung, periksa
Tidak apakah perineum,
i?
vagina dan serviks
mengalami laserasi
Jahit atau segera
2. Bersihkan bekuan darah dan/atau selaput ketuban dari vagina rujuk (Lampiran 4).
dan lubang serviks.
3. Pastikan bahwa kandung kemih ibu kosong. Jika penuh atau
dapat dipalpasi, lakukan kateterisasi kandung kemih dengan
menggunakan teknik aseptik
4. Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.

• Teruskan KBI selama dua


menit.
Uterus Ya • Keluarkan tangan perlahan-
berkontraksi lahan.
? • Pantau kala empat. dengan
ketat.

Tidak

5. Anjurkan keluarga untuk membantu melakukan kompresi


bimanual eksternal.
6. Keluarkan tangan perlahan-lahan

6. Berikan ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 600-1000


mcg per rektal. Ergometrin tidak untuk ibu hipertensi
7. Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan

Pantau ibu dengan seksama


Uterus Ya selama persalinan kala
berkontraksi? empat.

Tidak

10. Segera rujuk


11. Dampingi ibu ke tempat rujukan.

12. Lanjutkan infus Ringer Laktat + 20 unit oksitosin dalam 500 cc larutan
dengan laju 500cc/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga
menghabiskan 1.5 L infus. Kemudian berikan 125 cc/jam. Jika tidak
tersedia cairan yang cukup, berikan 500 cc kedua dengan kecepatan

Kala Tiga dan Empat Persalinan 135


Tabel 5-1: Langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri

No. Langkah Alasan


1 Masase fundus uteri segera setelah lahirnya Masase merangsang kontraksi uterus. Sambil
plasenta (maksimal 15 detik) melakukan masase sekaligus dapat dilakukan
penilaian kontraksi uterus.
2 Bersihkan bekuan darah dan/atau selaput Bekuan darah dan selaput ketuban dalam vagina
ketuban dari vagina dan lubang serviks dan saluran serviks akan dapat menghalangi
kontraksi uterus secara baik
3 Pastikan bahwa kandung kemih kosong. Jika Kandung kemih yang penuh akan menghalangi
penuh dan dapat dipalpasi, lakukan uterus berkontraksi secara baik.
kateterisasi menggunakan teknik aseptik
4 Lakukan kompresi bimanual internal selama 5 Kompresi ini memberikan tekanan langsung pada
menit pembuluh darah dinding uterus dan juga
merangsang miometrium untuk berkontraksi.
Jika kompresi bimanual tidak berhasil setelah 5
menit, diperlukan tindakan lain.
5 Anjurkan keluarga untuk mulai membantu Keluarga dapat meneruskan proses kompresi
kompresi bimanual eksternal. bimanual secara eksternal selama penolong
melakukan langkah-langkah selanjutnya.
6 Keluarkan tangan perlahan-lahan
7 Berikan ergometrin 0,2 mg IM (kontraindikasi Ergometrin dan misoprostol akan bekerja dalam
hipertensi) atau misoprostol 600-1000 mcg. 5-7 menit dan menyebabkan uterus berkontraksi.
8 Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 Jarum besar memungkinkan perberian larutan IV
atau 18 dan berikan 500 cc Ringer Laktat + 20 secara cepat atau untuk transfusi darah. Ringer
unit oksitosin. Habiskan 500 cc pertama Laktat akan membantu memulihkan volume
secepat mungkin. cairan yang hilang selama perdarahan. Oksitosin
IV dengan cepat merangsang kontraksi uterus.
9 Ulang kompresi bimanual internal KBI yang digunakan bersama dengan ergometrin
dan oksitosin atau misoprostol akan membuat
uterus berkontraksi.
10 Rujuk segara Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1
sampai 2 menit, hal ini bukan atonia sederhana.
Ibu membutuhkan perawatan gawatdarurat di
fasilitas yang mampu melaksanakan tindakan
bedah dan transfusi darah.
11 Dampingi ibu ke tempat rujukan. Teruskan Kompresi uterus ini memberikan tekanan
melakukan KBI. langsung pada pembuluh darah dinding uterus
dan merangsang miometrium untuk berkontraksi.
12 Lanjutkan infus Ringer Laktat + 20 unit Ringer Laktat akan membantu memulihkan
oksitocin dalam 500 cc larutan dengan laju volume cairan yang hilang selama perdarahan.
500/jam hingga tiba di tempat rujukan atau Oksitosin IV akan dengan cepat merangsang
hingga menghabiskan 1,5 L infus. Kemudian kontraksi uterus.
berikan 125 cc/jam. Jika tidak tersedia cairan
yang cukup, berikan 500 cc kedua dengan
kecepatan sedang dan berikan minimum untuk
rehidrasi.

136 Asuhan Persalinan Normal


Ingat:
Seorang ibu dapat dalam satu jam pertama setelah melahirkan
disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan. Penilaian dan
penatalaksanaan yang cermat selama kala tiga dan empat
persalinan dapat menghindarkan ibu dari komplikasi tersebut

Asuhan dan Pemantauan Pada Kala Empat


Setelah plasenta lahir:

1. Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus (Gambar 6-5) untuk merangsang uterus
berkontraksi baik dan kuat.
2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara melintang dengan pusat
sebagai patokan. Umumnya, fundus uteri setinggi atau beberapa jari di bawah pusat. Sebagai
contoh, hasil pemeriksaan ditulis: “dua jari di bawah pusat”.
3. Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.
4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi) perineum .
5. Evaluasi keadaan umum ibu.
6. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama persalinan kala empat di bagian belakang
partograf, segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

Memperkirakan Kehilangan Darah

Sangat sulit untuk memperkirakan kehilangan darah secara tepat karena darah seringkali
bercampur dengan cairan ketuban atau urin dan mungkin terserap handuk, kain atau sarung. Tak
mungkin menilai kehilangan darah secara akurat melalui penghitungan jumlah sarung karena
ukuran sarung bermacam-macam dan mungkin telah diganti jika terkena sedikit darah atau basah
oleh darah. Meletakkan wadah atau pispot di bawah bokong ibu untuk mengumpulkan darah,
bukanlah cara efektif untuk mengukur kehilangan darah dan cerminan asuhan sayang ibu karena
berbaring di atas wadah atau pispot sangat tidak nyaman dan menyulitkan ibu untuk memegang
dan menyusukan bayinya.

Satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan melihat volume darah yang terkumpul
dan memperkirakan berapa banyak botol 500 ml dapat menampung semua darah tersebut. Jika
darah bisa mengisi dua botol, ibu telah kehilangan satu liter darah. Jika darah bisa mengisi
setengah botol, ibu kehilangan 250 ml darah. Memperkirakan kehilangan darah hanyalah salah
satu cara untuk menilai kondisi ibu. Cara tak langsung untuk mengukur jumlah kehilangan darah
adalah melalui penampakan gejala dan tekanan darah. Apabila perdarahan menyebabkan ibu
lemas, pusing dan kesadaran menurun serta tekanan darah sistolik turun lebih dari 10 mmHg dari
kondisi sebelumnya maka telah terjadi perdarahan lebih dari 500 ml. Bila ibu mengalami syok
hipovolemik maka ibu telah kehilangan darah 50% dari total jumlah darah ibu (2000-2500 ml).
Penting untuk selalu memantau keadaan umum dan menilai jumlah kehilangan darah ibu
selama kala empat melalui tanda vital, jumlah darah yang keluar dan kontraksi uterus.

Kala Tiga dan Empat Persalinan 137


Memeriksa Perdarahan dari Perineum

Perhatikan dan temukan penyebab perdarahan dari laserasi atau robekan perineum dan vagina.
Nilai perluasan laserasi perineum, lihat Lampiran 4 untuk informasi dan instruksi mengenai
penjahitan laserasi atau episiotomi. Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan.

Derajat Satu Derajat dua Derajat Tiga Derajat Empat

• Mukosa Vagina • Mukosa Vagina • Mukosa Vagina • Mukosa Vagina


• Komisura • Komisura • Komisura • Komisura
posterior posterior posterior posterior
• Kulit perineum • Kulit perineum • Kulit perineum • Kulit perineum
• Otot perineum • Otot perineum • Otot perineum
• Otot sfingter ani • Otot sfingter ani
• Dinding depan
rektum
Tak perlu dijahit jika Jahit menggunakan Penolong APN tidak dibekali keterampilan
tidak ada perdarahan teknik yang dijelaskan untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga
dan aposisi luka baik. pada Lampiran 4. atau empat. Segera rujuk ke fasilitas rujukan

Gambar 6-9: Derajat Laserasi Perineum


Sumber: Midwifery Manual of Maternal Care dan Varney’s Midwifery, edisi ke-3

138 Asuhan Persalinan Normal


Pencegahan Infeksi

Setelah persalinan, dekontaminasi alas plastik, tempat tidur dan matras dengan larutan klorin
0,5% kemudian cuci dengan deterjen dan bilas dengan air bersih. Jika sudah bersih, keringkan
dengan kain bersih supaya ibu tidak berbaring di atas matras yang basah. Dekontaminasi linen
yang digunakan selama persalinan dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian cuci segera dengan
air dan deterjen. Untuk informasi lebih jauh mengenai pencegahan infeksi lihat Bab 1.

Pemantauan Keadaan Umum Ibu

Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca
persalinan terjadi selama empat jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena alasan ini sangatlah
penting untuk memantau ibu secara ketat segera setelah persalinan. Jika tanda-tanda vital dan
kontraksi uterus masih dalam batas normal selama dua jam pertama pascapersalinan, mungkin
ibu tidak akan mengalami perdarahan pasca persalinan. Penting untuk berada di samping ibu
dan bayinya selama dua jam pertama pasca persalinan.

Selama dua jam pertama pasca persalinan:

• Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan darah yang keluar setiap 15
menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat. Jika
ada temuan yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.
• Masase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik setiap 15 menit selama satu jam
pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak
normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.
• Pantau temperatur tubuh setiap jam dalam dua jam pertama pascapersalinan. Jika meningkat,
pantau dan tatalaksana sesuai dengan apa yang diperlukan.
• Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap15 menit selama satu jam pertama dan
setiap 30 menit selama jam kedua pada kala empat.
• Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai kontraksi uterus dan jumlah darah yang
keluar dan bagaimana melakukan masase jika uterus menjadi lembek.
• Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan bantu ibu mengenakan baju
atau sarung yang bersih dan kering, atur posisi ibu agar nyaman, duduk bersandarkan bantal
atau berbaring miring. Jaga agar bayi diselimuti dengan baik, bagian kepala tertutup baik,
kemudian berikan bayi ke ibu dan anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI (lihat Bab 4).
• Lakukan asuhan esensial bagi bayi baru lahir (lihat Bab 4).

Jangan gunakan kain pembebat perut selama dua jam pertama pascapersalinan atau hingga
kondisi ibu sudah stabil. Kain pembebat perut menyulitkan penolong untuk menilai kontraksi
uterus secara memadai. Jika kandung kemih penuh, bantu ibu untuk mengosongkan kandung
kemihnya dan anjurkan untuk mengosongkannya setiap kali diperlukan. Ingatkan ibu bahwa
keinginan untuk berkemih mungkin berbeda setelah dia melahirkan bayinya. Jika ibu tak dapat
berkemih, bantu ibu dengan cara menyiramkan air bersih dan hangat ke perineumnya. Berikan
privasi atau masukkan jari-jari ibu ke dalam air hangat untuk merangsang keinginan berkemih
secara spontan.

Kala Tiga dan Empat Persalinan 139


Jika setelah berbagai upaya tersebut, ibu tetap tidak dapat berkemih secara spontan, mungkin
perlu dilakukan kateterisasi. Jika kandung kemih penuh atau dapat dipalpasi, gunakan teknik
aseptik saat memasukkan kateter Nelaton DTT atau steril untuk mengosongkan kandung kemih.
Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan masase pada fundus agar uterus berkontraksi baik.
Sebelum meninggalkan ibu, pastikan bahwa ia dapat berkemih sendiri dan keluarganya
mengetahui bagaimana menilai kontraksi dan jumlah darah yang keluar. Ajarkan pada
mereka bagaimana mencari pertolongan jika ada tanda-tanda bahaya seperti:
• demam
• perdarahan aktif
• keluar banyak bekuan darah
• bau busuk dari vagina
• pusing
• lemas luar biasa
• penyulit dalam menyusukan bayinya
• nyeri panggul atau abdomen yang lebih hebat dari nyeri kontraksi biasa

Catatan Asuhan dan Temuan


Catatlah semua temuan selama persalinan kala empat di halaman belakang partograf

Jam Ke Waktu Tekanan darah Nadi Suhu Tinggi Kontraksi Kandung Perdarahan
Fundus uterus kemih

Gambar 6-10: Catatan Penilaian Selama Kala Empat (halaman belakang Partograf)

Ingat: Jangan pernah meninggalkan ibu sedikitnya dua jam setelah persalinan.
Sebelum meninggalkan ibu:
1. Pastikan tanda-tanda vital normal; kontraksi uterus kuat (posisinya normal); perdarahan/lokianya normal
dan mampu berkemih tanpa dibantu.
2. Ajarkan ibu dan keluarganya cara menilai kontraksi dan melakukan masase uterus (jika lembek).
3. Selesaikan asuhan awal bagi bayi baru lahir (lihat Bab 4).
4. Pastikan bahwa bayi sudah disusukan.
5. Ajarkan ibu dan keluarganya untuk mencari asuhan segera bagi tanda-tanda bahaya berikut termasuk:
• demam
• perdarahan aktif
• banyak keluar bekuan darah
• bau busuk dari vagina
• pusing
• lemas luar biasa
• penyulit menyusukan anaknya
• nyeri panggul atau abdomen yang lebih habat dari nyeri kontraksi biasa

140 Asuhan Persalinan Normal


Tabel 5-2: Indikasi-Indikasi untuk Tindakan dan/atau Rujukan Segera Selama Persalinan
Kala Tiga dan Empat

Kala Tiga dan Empat Persalinan 141


Penilaian Temuan dari Penilaian dan Rencana Asuhan atau Perawatan
Pemeriksaan
• Plasenta Tanda atau gejala retensio 1. Jika plasenta terlihat, lakukan
plasenta: penegangan tali pusat terkendali
• Adalah normal jika plasenta dengan lembut dan tekanan dorso-
kranial pada uterus, minta ibu untuk
lahir dalam waktu 30 menit
meneran agar plasenta keluar.
setelah bayi lahir
2. Setelah plasenta lahir: lakukan masase
pada uterus dan periksa plasenta
(dijelaskan di awal bab ini).
ATAU
1. Lakukan periksa dalam dengan lembut,
jika plasenta ada di vagina, keluarkan
dengan hati-hati sambil melakukan
tekanan dorso-kranial pada uterus.
2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
perdarahan minimal, berikan oksitosin
10 unit IM, pasang infus menggunakan
jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
berikan RL atau NS.
• Segera rujuk ke fasilitas rujukan
dengan kemampuan gawatdarurat
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
3. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
terjadi perdarahan berat, pasang infus
menggunakan jarum besar (ukuran 16
atau 18) dan berikan RL atau NS
dengan 20 unit oksitosin
• Coba lakukan plaasenta manual dan
lakukan penanganan lanjutan (lihat
Perhatikan di halaman 129)
• Bila tidak memenuhi syarat
plasenta manual di tempat atau
tidak kompeten maka segera rujuk
ibu ke fasilitas terdekat dengan
kapabilitas kegawat daruratan
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
• Tawarkan bantuan walaupun ibu
telah dirujuk dan mendapat
pertolongan di fasilitas kesehatan
rujukan

• Plasenta Tanda atau gejala avulsi (putus) 1. Palpasi uterus untuk menilai kontraksi,
• Tali pusat tali pusat: minta ibu meneran pada setiap kontraksi.
• Tali pusat putus 2. Saat plasenta terlepas, lakukan periksa
• Plasenta tidak lahir dalam (hati-hati). Jika mungkin cari tali
pusat dan keluarkan plasenta dari vagina

142 Asuhan Persalinan Normal


Penilaian Temuan dari Penilaian dan Rencana Asuhan atau Perawatan
Pemeriksaan
• Plasenta Tanda atau gejala retensio 1. Jika plasenta terlihat, lakukan
plasenta: penegangan tali pusat terkendali
• Adalah normal jika plasenta dengan lembut dan tekanan dorso-
kranial pada uterus, minta ibu untuk
lahir dalam waktu 30 menit
meneran agar plasenta keluar.
setelah bayi lahir
2. Setelah plasenta lahir: lakukan masase
pada uterus dan periksa plasenta
(dijelaskan di awal bab ini).
ATAU
1. Lakukan periksa dalam dengan lembut,
jika plasenta ada di vagina, keluarkan
dengan hati-hati sambil melakukan
tekanan dorso-kranial pada uterus.
2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
perdarahan minimal, berikan oksitosin
10 unit IM, pasang infus menggunakan
jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
berikan RL atau NS.
• Segera rujuk ke fasilitas rujukan
dengan kemampuan gawatdarurat
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
3. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
terjadi perdarahan berat, pasang infus
menggunakan jarum besar (ukuran 16
atau 18) dan berikan RL atau NS
dengan 20 unit oksitosin
• Coba lakukan plaasenta manual dan
lakukan penanganan lanjutan (lihat
Perhatikan di halaman 129)
• Bila tidak memenuhi syarat
plasenta manual di tempat atau
tidak kompeten maka segera rujuk
ibu ke fasilitas terdekat dengan
kapabilitas kegawat daruratan
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
• Tawarkan bantuan walaupun ibu
telah dirujuk dan mendapat
pertolongan di fasilitas kesehatan
rujukan

• Plasenta Tanda atau gejala avulsi (putus) 1. Palpasi uterus untuk menilai kontraksi,
• Tali pusat tali pusat: minta ibu meneran pada setiap kontraksi.
• Tali pusat putus 2. Saat plasenta terlepas, lakukan periksa
• Plasenta tidak lahir dalam (hati-hati). Jika mungkin cari tali
pusat dan keluarkan plasenta dari vagina

Kala Tiga dan Empat Persalinan 143


Penilaian Temuan dari Penilaian dan Rencana Asuhan atau Perawatan
Pemeriksaan
• Plasenta Tanda atau gejala retensio 1. Jika plasenta terlihat, lakukan
plasenta: penegangan tali pusat terkendali
• Adalah normal jika plasenta dengan lembut dan tekanan dorso-
kranial pada uterus, minta ibu untuk
lahir dalam waktu 30 menit
meneran agar plasenta keluar.
setelah bayi lahir
2. Setelah plasenta lahir: lakukan masase
pada uterus dan periksa plasenta
(dijelaskan di awal bab ini).
ATAU
1. Lakukan periksa dalam dengan lembut,
jika plasenta ada di vagina, keluarkan
dengan hati-hati sambil melakukan
tekanan dorso-kranial pada uterus.
2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
perdarahan minimal, berikan oksitosin
10 unit IM, pasang infus menggunakan
jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
berikan RL atau NS.
• Segera rujuk ke fasilitas rujukan
dengan kemampuan gawatdarurat
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
3. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
terjadi perdarahan berat, pasang infus
menggunakan jarum besar (ukuran 16
atau 18) dan berikan RL atau NS
dengan 20 unit oksitosin
• Coba lakukan plaasenta manual dan
lakukan penanganan lanjutan (lihat
Perhatikan di halaman 129)
• Bila tidak memenuhi syarat
plasenta manual di tempat atau
tidak kompeten maka segera rujuk
ibu ke fasilitas terdekat dengan
kapabilitas kegawat daruratan
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
• Tawarkan bantuan walaupun ibu
telah dirujuk dan mendapat
pertolongan di fasilitas kesehatan
rujukan

• Plasenta Tanda atau gejala avulsi (putus) 1. Palpasi uterus untuk menilai kontraksi,
• Tali pusat tali pusat: minta ibu meneran pada setiap kontraksi.
• Tali pusat putus 2. Saat plasenta terlepas, lakukan periksa
• Plasenta tidak lahir dalam (hati-hati). Jika mungkin cari tali
pusat dan keluarkan plasenta dari vagina

144 Asuhan Persalinan Normal


Penilaian Temuan dari Penilaian dan Rencana Asuhan atau Perawatan
Pemeriksaan
• Plasenta Tanda atau gejala retensio 1. Jika plasenta terlihat, lakukan
plasenta: penegangan tali pusat terkendali
• Adalah normal jika plasenta dengan lembut dan tekanan dorso-
kranial pada uterus, minta ibu untuk
lahir dalam waktu 30 menit
meneran agar plasenta keluar.
setelah bayi lahir
2. Setelah plasenta lahir: lakukan masase
pada uterus dan periksa plasenta
(dijelaskan di awal bab ini).
ATAU
1. Lakukan periksa dalam dengan lembut,
jika plasenta ada di vagina, keluarkan
dengan hati-hati sambil melakukan
tekanan dorso-kranial pada uterus.
2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
perdarahan minimal, berikan oksitosin
10 unit IM, pasang infus menggunakan
jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
berikan RL atau NS.
• Segera rujuk ke fasilitas rujukan
dengan kemampuan gawatdarurat
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
3. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
terjadi perdarahan berat, pasang infus
menggunakan jarum besar (ukuran 16
atau 18) dan berikan RL atau NS
dengan 20 unit oksitosin
• Coba lakukan plaasenta manual dan
lakukan penanganan lanjutan (lihat
Perhatikan di halaman 129)
• Bila tidak memenuhi syarat
plasenta manual di tempat atau
tidak kompeten maka segera rujuk
ibu ke fasilitas terdekat dengan
kapabilitas kegawat daruratan
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
• Tawarkan bantuan walaupun ibu
telah dirujuk dan mendapat
pertolongan di fasilitas kesehatan
rujukan

• Plasenta Tanda atau gejala avulsi (putus) 1. Palpasi uterus untuk menilai kontraksi,
• Tali pusat tali pusat: minta ibu meneran pada setiap kontraksi.
• Tali pusat putus 2. Saat plasenta terlepas, lakukan periksa
• Plasenta tidak lahir dalam (hati-hati). Jika mungkin cari tali
pusat dan keluarkan plasenta dari vagina

Kala Tiga dan Empat Persalinan 145


Penilaian Temuan dari Penilaian dan Rencana Asuhan atau Perawatan
Pemeriksaan
• Plasenta Tanda atau gejala retensio 1. Jika plasenta terlihat, lakukan
plasenta: penegangan tali pusat terkendali
• Adalah normal jika plasenta dengan lembut dan tekanan dorso-
kranial pada uterus, minta ibu untuk
lahir dalam waktu 30 menit
meneran agar plasenta keluar.
setelah bayi lahir
2. Setelah plasenta lahir: lakukan masase
pada uterus dan periksa plasenta
(dijelaskan di awal bab ini).
ATAU
1. Lakukan periksa dalam dengan lembut,
jika plasenta ada di vagina, keluarkan
dengan hati-hati sambil melakukan
tekanan dorso-kranial pada uterus.
2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
perdarahan minimal, berikan oksitosin
10 unit IM, pasang infus menggunakan
jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
berikan RL atau NS.
• Segera rujuk ke fasilitas rujukan
dengan kemampuan gawatdarurat
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
3. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
terjadi perdarahan berat, pasang infus
menggunakan jarum besar (ukuran 16
atau 18) dan berikan RL atau NS
dengan 20 unit oksitosin
• Coba lakukan plaasenta manual dan
lakukan penanganan lanjutan (lihat
Perhatikan di halaman 129)
• Bila tidak memenuhi syarat
plasenta manual di tempat atau
tidak kompeten maka segera rujuk
ibu ke fasilitas terdekat dengan
kapabilitas kegawat daruratan
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
• Tawarkan bantuan walaupun ibu
telah dirujuk dan mendapat
pertolongan di fasilitas kesehatan
rujukan

• Plasenta Tanda atau gejala avulsi (putus) 1. Palpasi uterus untuk menilai kontraksi,
• Tali pusat tali pusat: minta ibu meneran pada setiap kontraksi.
• Tali pusat putus 2. Saat plasenta terlepas, lakukan periksa
• Plasenta tidak lahir dalam (hati-hati). Jika mungkin cari tali
pusat dan keluarkan plasenta dari vagina

146 Asuhan Persalinan Normal


Penilaian Temuan dari Penilaian dan Rencana Asuhan atau Perawatan
Pemeriksaan
• Plasenta Tanda atau gejala retensio 1. Jika plasenta terlihat, lakukan
plasenta: penegangan tali pusat terkendali
• Adalah normal jika plasenta dengan lembut dan tekanan dorso-
kranial pada uterus, minta ibu untuk
lahir dalam waktu 30 menit
meneran agar plasenta keluar.
setelah bayi lahir
2. Setelah plasenta lahir: lakukan masase
pada uterus dan periksa plasenta
(dijelaskan di awal bab ini).
ATAU
1. Lakukan periksa dalam dengan lembut,
jika plasenta ada di vagina, keluarkan
dengan hati-hati sambil melakukan
tekanan dorso-kranial pada uterus.
2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
perdarahan minimal, berikan oksitosin
10 unit IM, pasang infus menggunakan
jarum besar (ukuran 16 atau 18) dan
berikan RL atau NS.
• Segera rujuk ke fasilitas rujukan
dengan kemampuan gawatdarurat
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
3. Jika plasenta masih di dalam uterus dan
terjadi perdarahan berat, pasang infus
menggunakan jarum besar (ukuran 16
atau 18) dan berikan RL atau NS
dengan 20 unit oksitosin
• Coba lakukan plaasenta manual dan
lakukan penanganan lanjutan (lihat
Perhatikan di halaman 129)
• Bila tidak memenuhi syarat
plasenta manual di tempat atau
tidak kompeten maka segera rujuk
ibu ke fasilitas terdekat dengan
kapabilitas kegawat daruratan
obstetri.
• Dampingi ibu ke tempat rujukan.
• Tawarkan bantuan walaupun ibu
telah dirujuk dan mendapat
pertolongan di fasilitas kesehatan
rujukan

• Plasenta Tanda atau gejala avulsi (putus) 1. Palpasi uterus untuk menilai kontraksi,
• Tali pusat tali pusat: minta ibu meneran pada setiap kontraksi.
• Tali pusat putus 2. Saat plasenta terlepas, lakukan periksa
• Plasenta tidak lahir dalam (hati-hati). Jika mungkin cari tali
pusat dan keluarkan plasenta dari vagina

Kala Tiga dan Empat Persalinan 147


148 Asuhan Persalinan Normal