P. 1
33275901-modul-mekanika-teknik-1

33275901-modul-mekanika-teknik-1

|Views: 3,434|Likes:
Dipublikasikan oleh Oriza D King

More info:

Published by: Oriza D King on Nov 30, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/02/2013

pdf

text

original

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya Gaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

2.. . ar 1.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. tapi titik tangkapnya tidak sama. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK2 2 Posisi awal1 (K1) KK 1 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan. . OABC .3 Penju mlaha n gaya secara grafis. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama. pertemuannya di titik 0. tapi masih sebidang. yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan .Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.

K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Urut-urutan penjumlahan. K2 dan K3. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal.4.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R + K 1 3 = K1 + K2 + K3  K1. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. .

 Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal.  Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.5.

salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. D F E.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. K3 .

K2. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). memotong gaya K2 di titik B ) ( ) memotong gaya Ob Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . c. d.garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. dan e. K2. b. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. garis .Dari titik A dibuat garis sejajar K1 di (titik A. Garis-garis tersebut dinamakan . perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. K3 dan K4 yaitu R. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1.6. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C O R K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. K2. K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. dengan garis kerja melewati 0 1. Dari titik O dibuat garis sejajar R yaitu garis R . K2.7.2.4. perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik O yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . K2. K3 dan K4. . Jadi R adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. .1. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . diproyeksikan. yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D.

Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.8.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . secara analitis K1x = K1 cos E . Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.

.1. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. 3. Latihan 1. K2. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. 1. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang.1. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang. K3 dan K4. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2.6.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya.5. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.

1 ton sdt = 22. French. Suwarno. Penutup Untuk mengukur prestasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.7. 2. sedang soal no. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis.1.9. Bab I 1. Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM bab I.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. Samuel E. Daftar Pustaka 1. Soemono. 3 hanya berupa grafis. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. No. Determinate Structures ITP (International Thomson Publishing Company) 1996.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.5° dari sumbu x R = 12.1 ton sdt = 22. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . Statika I ITB.8.1. Bab I.1. 3.5° dari sumbu x R = 11. secara bertahap.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik . jembatan dan lainsebagainya. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil. reaksi. reaksi dan gaya dalam. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. 1. kolom. balok. apa itu beban.9. mengerti tentang beban. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.1. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. balok.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1.2. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. Contoh : a. kolom.2. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik.

a. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata.2. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. dan lain sebagainya.1. kendaraan.10. a. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik . balok perletaka n Gambar 1. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b.2. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban. misal : meja. peralatan dan lainsebagainya. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.2. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a.

anak-anak berbaris diatas jembatan q t/m Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/m .12. kg. kg/cm Newton/m dan lainsebagainya. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik . Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. Gambar 1. dan lainsebagainya. Newton.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton. Gambar 1.11. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas.

2. Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini. 1. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. dan lainsebagainya. jembatan.2.1. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan Perletakan .3. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Contoh : a. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.3. konsep pengertian tentang perletakan. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah.

3. olehtersebut bias bergeser dari maka rol karena itu rol ke arah horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1.15. a. jepit dan perodel. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. perletakan Gambar 1. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan. atas.2. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur.14. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen.2. (Gambar 1. sendi. bisa berputar jika tersebut harus mempunyai reaksi Gambar 1. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b.13. . jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. ada reaksi vertikal.

maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Rv RH c. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b.16. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv).18.17).17. Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan. Jadi sendi tidak mekanika teknik.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. oleh Rv Gambar 1. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen. Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu . Karena struktur harus stabil.

horizontal.21. Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. ada reaksi searah pendel. balok baja pendel Gambar 1. ada reaksi vertikal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R .) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. dan momen Gambar 1. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.21.20.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .22.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.

maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. mahasiswa perlu mengetahuinya. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. Keseimbangan vertikal .1. jembatan dan lain sebagainya. a. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling. Bangunan bangunan tersebut supaya tetap berdiri. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun.3. 1. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. serta manfaatnya dalam struktur tersebut. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.23. hal itu merupakan syarat utama.2.3. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. dan bagaimana cara menyelesaikannya. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1.

Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). (Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa turun. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal.25) Gambar 1. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv). Kotak Gambar 1. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. maka kotak tersebut langsung tenggelam. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH). yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).24. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv).25. Kotak tenggelam dalam lumpur b.

Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM). maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). karena tidak ada yang menghambat. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. PM Kotak Lem Meja . maka kotak tersebut langsung bergeser.27.26. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH). sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH).27) Gambar 1. Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen.

momen maka kotak tersebut bisa terangkat. Keseimbangan statis . Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut.29. benda tersebut harus tidak bisa turun. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. yang RH berarti harus stabil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem.30. RM Gambar 1. Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). dan tidak bisa terangkat. Gambar 1.

Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . atau RV . maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol). 1.PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). Latihan 1.  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).  Dari variasi tersebut diatas. Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).4. tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka syarat minimum RM = PM atau RM . maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.3. Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat).

notasi. q.Sendi punya 2 reaksi . 1.5. P. RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. kg atau ton atau Newton .Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv. Rv = ? 2. satuan. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. Penutup .3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?.3. notasi. satuan kg/m atau ton/m atau Newton / m o Macam Perletakan .Beban terbagi rata. Rangkuman o Macam-Macam Beban .Jepit punya 3 reaksi .6.Beban terpusat.Rol punya 1 reaksi . PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh.

Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi . Suwarno. Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM Bab I.7.3.3. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 2.8.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi. Soemono Statika I ITB Bab I 1. Daftar Pustaka 1. Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.

1. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya.1. ada beberapa macam sistem struktur. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan.1. mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. seperti gedung-gedung. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. jembatan dan lain sebagainya.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. 2.

1. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .2. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3.1. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A).maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan. Contoh a).3. 2. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.1.

maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3. Konstruksi statis tidak tertentu . A B Gambar 2. Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2.3. RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu.2.4. b).

5. Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. Penutup Untuk mengukur prestasi. Latihan a). Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar. b).mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah .1. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Perletakan A dan C sendi.4.1.1.6. 2. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.

Suwarno Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM bab I 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton. Jadi diatas adalah statis tertentu. Daftar Pustaka 1.2. baja dan lain-lain.8.1. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.1. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .1. 2. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Suwarno Statika I ITB bab I 2. kayu.7. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. 2.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Jadi konstruksi statis tidak tertentu.

Gambar 2. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. memerlukan gaya dalam. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. demikian juga untuk orang B. pelat. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2. beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.5. P P Untuk A orangnya pendek. dansebagainya).2. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. pendek (A).7. Contoh (b) 2.3. Orang membawa membawa beban tersebut. kolom. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang.2. yang satu lagi besar. Contoh : a).6. satu kecil. Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). P1 A L1 Gambar 2.8.2. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. 2. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. tinggi. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg. tinggi (B).

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

(pers. Gaya Dalam Momen a). o Balok tersebut menderita gaya lintang.4. . yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/m B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.9. 2. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. ada beban terbagi rata q (kg/m ) dan beban terpusat P (kg). Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) Mx = RA .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.2. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.x. x 1) gaya jarak gaya jarak II q. ½ x (dihitung dari kiri ke potongan c-c) . Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak.

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I Mx = RB (l-x) (pers. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) . .10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/m ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi II q (l x) .

½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/m ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap .5. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Tanda momen (-) * Gambar 2. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/m ) Kalau dilihat.11. balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Tanda momen 2.13. maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.2. Demikian juga sebaliknya.12. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda.

15. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. maka (1) Dc = RA x q x = RA Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri potongan) q (kg/m ) c c Q1=q x RA Gambar 2. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan.14. Potongan balok bagian kanan . Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. maka D1 = RB = RB kanan potongan) P c q (kg/m ) q (l-x) Q2 P P (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (l(l x)x) RB Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang.

gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. P Jika dilihat dari kanan potongan c. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip.16. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. Karena RB adalah merupakan reaksi. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. jumlah gaya arahnya ke atas. gaya yang ada hanya RA. C RA Dilihat dari kiri potongan C. atau kalau dilihat di kanan RB potongan. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc). .

Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . A Dilihat dari kiri potongan D.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). Jadi RA < P. gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). karena RA adalah reaksi. Gambar 2. Gambar 2 Skema gaya lintang dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2.17.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). D maka gaya lintangnya tandanya negatif. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.

maka pada batang AB (Gambar 3.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. 2. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N).19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. P P Kalau dilihat pada Gambar 3. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.18. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }.6. * Tanda Gaya Normal .18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.19) menerima gaya normal (N) sebesar P. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2.19. .

Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) .2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- . 2.7. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.2. q1 = 2 t/m . P2 = 6t (¶). P3 = 2t (´) P4 = 3t .8. P1 = 2 2 t (º). q2 = 1 t/m P1 = 2 2 t q1 = 2t/m P2 = 6 ton q2 = 1 t/m P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2.20. Ringkasan tanda gaya dalam 2.

21.2) (2 + 2.6. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.4  2.6.10 q2.q2.1 = 0 RAV = 2.6.6 + 6 + 1. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.2) (RAR + RBR) = 0 (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal . yang searah diberi tanda sama. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar.1.6.7 P2. RBV 71%! RBV.3 + P1R.2 = 9 ton (µ) 10 Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.6  2.7  6. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan. gaya lintang dan bidang normal.6 + P2 + q2.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen. N.12  2. (Bidang M.4 + 2.3  2.6 q1.12 q1.10 P1R.2 = 0 RBV = 1.q1 P2. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.2 .1  6.

Perletakan B = sendi ada RBH.2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH. D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/m P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A . di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas).

Dx = -2 + 13 q1 x = (-P1V + RA q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton 2.6 DD kr= -2 + 13 (di kiri potongan arah gaya 12 = . melampaui beban P2. Daerah B-E 2m q2 = 1 t/m x. DD kn : -2 + 13 12 6 = .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. Variabel x2 berjalan dari E ke B.2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B. x2 = + x2 (persamaan liniear) . jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B).1ton lintang ke bawah) didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2). DE = 0 Dx2 = q2 .

ND kr = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan). NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.7 ton (kanan potongan arah ke atas) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D. dari E ke B nilai gaya normal konstan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 Melewati perletakan B 9 = .P1H = .2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. ND kn = (-2 2) ton = .

x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ). sehingga tanda negatif (momen P1v .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = .4 tm.2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = .2.2 = . x = . Daerah A D .P1v .

5 m Mmax = .x1 Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 = .½ .5 = 26.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.25 tm.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA. 4 lihat pada Gambar .½ q1 x12 + 11 x1 ½ q1 x1² ½ q1 x12 (persamaan parabola) 6 m 4 MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.5.5)² + 11. x1 = 5.2 (5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/m P1V = 2t C P1H = 2t A D x.22.5.

3756 m (yang dipakai) x1 = 10.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .½ . 1.62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.½ .q1. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/m P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .x12 + 11 x1 = x12 11 x1 + 4 = 0 4=0 x1 = 0.

3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0. Gambar bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/m P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/m E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.22. D balok diatas 2 tumpuan . N.

5 32.9.5 24. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/m P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶). Bidang M.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q .1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ). 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q. N. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10. x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/m Ditanya : Gambar bidang M.3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah M B Bidang A (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2. D Balok cantilever . D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD P2 P1 q.2. N. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1.23.

Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.5 tm ( 5.5 + 1) = -12 P2. Latihan Balok diatas 2 tumpuan.3.2 ½ q x22 ) 3 5.5 = 32. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 MD : .2.1.6 ) P2 (x2 3) 1.5 t ( ½ . D dan M 45 ° Soal 2 P ! 3 32 2t t P= HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- Daerah B .C : Mx2 = -P1 x2 : MC = -2.24.1 (2.5² = .3 2. a) reaksi perletakan b) bidang N.P1.10.

reaksi perletakan b). Ditanyakan. t/m' VA 6m P1 Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol . a).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q HA . bidang N.5 ton /m· ° . P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton . D dan M   £ A B 2t 2m RB 2m C   ¤ 2 2 2t ¢¡   q = 1.

12.5 ton 3. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4.tekan + + + + Momen = M .5 tm 0 Tanda/arah o o p .2.5 ton 0. Penutup Untuk mengukur prestasi.11. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 ton 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.2.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 ton 0 9 tm 10.

0 tm 0 Tanda/arah o o p .375 ton 2 ton 0 0 7.tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.08 m kanan A A X = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.tekan + + Momen = M + + - . 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.625 ton 4.625 ton 4.13 tm 0.375 ton 2 ton 2 ton 4.08 m D B C Nilai 4.375 ton 2.75 tm 4.

dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan.qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx qx . (Mx + d Mx) = 0 . distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya gaya vertikal 7V = 0 di potongan II Dx qx dx (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx (o) dan qx dx (q) dan kanan ada Dx + d Dx (q) dDx = . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II.dx . Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban. Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx. gaya lintang dan momen. potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx.24. ½ dx ½ q. Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). dx² . Dx dx dan qx. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx .0 d Mx = Dx . dx o Kiri ada Mx .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2.dx.3. ½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. Hubungan Antara Momen (M) .

25. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya. 2. balok atap dan lain sebagainya.4. Seperti pada gambar. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. misal : tangga.1. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Skema balok miring .4. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga.

Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. dan beban terbagi rata q = 1 t/m dari D ke B dengan arah vertikal.4. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. 2. D Jawab: q = 1 t/m B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Di B 3 m = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . N. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang.2. Ditanya : Gambar bidang M.

1 = 0 4.6 ton = 2.3 RAV = 7.4 RAH. 7H = 0 RB sin2 = 0 3 RAH = .16.2.3 RAV.4 2.1 = 0 18 ! 3.3 P 1.5 q.26.1.6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.1 = 0 .16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAH RAH RAV 7 MB = 0 RAV.12 ton P2. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.5 1.3 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.2 4.a.2 P1. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.3 P2.2 2.2.2 q.3 4.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.3.2.

Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ® ! q sin E ¾ ¯ ¿ b ° ! q cos E À menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .(4 + 4 + 2) sin E = -10.RB = .2 .(4 + 2) sin E = -6 .E!4.1.2 ton Dc kr = .6 ton MENGHITUNG GAYA LINTANG (D) (dari kanan) DB kr = .6 ton NC kr = . 4/5 = .6 + q.2 ton DD kr = -3. sin E = -2 .6 + q.6 + (2 + 4 + 4) cos.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2. 3/5 = .3.3.2 ton (dari kanan) ND kr = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MENGHITUNG BIDANG NORMAL (N) Beban P dan q diuraikan menjadi : .// sumbu batang .b.6 + 2.3.3.3. cos E= .6 ton Dari B ke D Dx = .4 ton 4/5 .26.x . 3/5 = -1.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3.3/5 = . cos E DD kn = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/m B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/m MENGHITUNG BIDANG MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.5 tm = 3.1.1 = + 5.2 cos E 2.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB . N. 2 1  .6 .6 .2. D 1 t/m 4t B .x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB . 3.75 Gambar bidang M.2 P.q.1 4.q. 3 .  .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama. Bidang gaya dalam pada balok miring . Seperti contoh dibawah ini. Gambar 2.27.

4/5) = . beban tekanan tanah dan lain sebagainya.5.3.[(7. Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.1 .12 4 4) 3/5 + 2.12 . DB = -2 2. sin E + RAH .12 NA kn = .16 .16 .12 .5. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV .1 . NDkn = .2 + q. DA kn = 7.12 4). sin E (gaya B sumbu batang) RAH. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .6 ton t Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton. 4/5 2. 4/5] = .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan. 4/5 = .3. sin% E E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = . Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata. 2.2 ton. sin E NB = . sin E E RAV .16 .RAH . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. cos E .2 + 2.16 .2 . 3/5 + 2. 3/5 = 4. 3/5 = . 4/5] = .6 ton 2.1. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7.(7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUNGAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.1.16 . 3/5 = 1.1.1.6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.[(7. Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.12 4) 4/5 2. Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air .4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7. NC kn = . Cos E) RAH = 2. 3/5 + 2.2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = .12 4 4) 4/5 2.(RAV . 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .16 . cos E (gaya // sumbu batang) RAV.16 t D = + RAV .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/m

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 x Gambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B 1/ 3 l 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 ! 0 p R A ! / 3l l P l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MENGHITUNG BIDANG M x Mx = RA . x Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3¹ l © l 3¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/m TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDANG D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDANG 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

B = rol Ditanyakan. seperti tergambar.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. a) reaksi perletakan b) bidang N. B = rol. D dan M 30° . seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . P = 3 ton Ditanyakan. a) reaksi perletakan c) bidang N. q t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . D dan M Soal 4 3m ¦ ¥ q 1 t/m' C B ¥ P 3t Balok miring ABC ditumpu di A = sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- HA A VA 6m 1m Soal 2 q = 1. P = 3 ton Ditanyakan. Beban q = 1 t/m· . RB .

1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2.6 t 0 0 3 tm 0 3. 2. Penutup Untuk mengukur prestasi.5.88 t 3 ton 9.5.11 tm Tanda/arah o n o p .12 ton 5.88m jarak miring dr A A B C X = 2. D dan M 2. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no. a) reaksi perletakan b) bidang N.tekan .5.4.815 t 4.tekan . B = rol. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.76 ton 1.50 t 2.88 m Nilai 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi . Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. Ditanyakan. seperti tergambar. ketelitian perhitungan perlu. besarnya merupakan fungsi x.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M § q 3 t/m' + .63 t 2.50 t 1.16 t t 2.

6 ton 0 0 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no. Jawaban soal no. 4 . B «««.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.5774 L dari A A B C X= Nilai q.06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.l 3 0 0 q.l 6 q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. X= Momen = M L 3 = 0.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no..l 3 0 0 0 0.l 6 q..

7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. Daftar Pustaka - Suwarno.5. Statika I .67 tm 3. Bab I. UGM. Bab I Soemono.5 ton 3.5 ton 4. 2.6.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.24m dari B A B X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0.5 ton 0 0 4. ITB. Mekanika Teknik Statis Tertentu . Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5.24m Nilai 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q.2.2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.a l a . x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .

dengan beban segitiga diatasnya.l ton 2 a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B.l 3 1/3 l . bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.a l ax A Px a. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x . tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/m = h. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l 6 B a t/m RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga.

gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. bambu atau baja tersebut. bambu. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Gelagar Tidak Langsung 2. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.30. baja.31. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. dan profil baja.6. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2.1. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. bambu. .31). Untuk jembatan yang terbuat dari kayu. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.6.

melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel.

32. Penyederhanaan awal.6. untuk gel. induk). Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan. induk / Gambar 2. Penyederhanaan akhir.2. gel. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. tida k langsung Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. memanjang P P P . melainkan lewat perantara gelagar melintang. gel. memanjang gel. melintang gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.6. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. tidak 2.33. q kg/m beban terbagi rata gel. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata.3.

melintang. melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. II I q t/m Potongan I I = tepat diatas gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel. melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . 2P . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.qP² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP .P/2 .35.P. 2P .qP² . P = 6q P² . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. memanjang genap. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.

125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . 1. ½ P = 3.5 P)² = 4.½ q P .q P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.25 q P² Perbedaan momen (0.375 qP² .125 qP² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5P .½ q (2P)² = 6q P² . 1.½ q (1. 1.125 qP² = 3.125 q P²) q t/m Perbedaan tersebut adalah dari : P 0. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/m II Dengan memakai beban langsung MII II P 3qP ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/m II M II = 3q P .5 P² .1. Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.5 P .2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.5 P . 2P .q P .

2½ P Gambar 2. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier.37.375 q P² .25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang. maka gambar bidang D (bidang gaya lintang). Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung M. tapi kalau gelagarnya tidak langsung.125 q P² = 3. lantai = 3. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .0. namun s eperti gaya lintang beban terpusat.

4. Bidang N. transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a). H A .5 t/m sepanjang bentang. 2. q = 1. Gaya reaksi V A.5. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar. D. Bidang N. H A.6. RB b). Gaya reaksi V A.6. 2.6. Penutup Untuk mengukur prestasi. RB b).6. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. M. Latihan Soal 1: q = 1. D. Ditanyakan : a). mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada.5 t/m Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar.

75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .0 t 3.25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal No.25 t 1.0 t 3.5 t 4.5 t 1.25 tm 4.75 t 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B Nilai 6t 6t 0 1.5 t 0 4.25 t 1.00 t 0 5.5 t 3.0 t 1.75 t 2.5 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 Nilai 1.25 t 1.5 tm 0.

5 ton 3. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.24 m dari B A B X = 2.8.73 tm  + + Momen = M + 2. Mekanika Teknik Statis Tertentu . 2.24 m 3. UGM Bab I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C A B C A B kiri B Kanan C X = 2.7. Statika I . ITB-Bab I Suwarno. .5 ton 1 ton 0 0 0 0.6.0 tm 0 0 4. Daftar Pustaka - Soemono.67 tm 3.6.

2. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian.7. maka didalam suatu garis pengaruh. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. gaya lintang. atau N (Normal). Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya lintang dan gaya normal. dan gaya no rmal. jika di atas struktur jembatan 2. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Garis Pengaruh 2. Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut. Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. gaya momen. gaya momen.7. . tersebut berjalan suatu muatan. reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut.7. atau gaya dalam M (Momen).1. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh.

P. l P (l-x) = 0 P(l .P.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G.x = 0 P.38. Gambar garis pengaruh R A dan RB . R A RA .P.RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.l P.x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G. R B + G.P.

3.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2. dimana d c ton dan y 4 = ton.R B Gambar 2.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka untuk y1 dan RB 4 .40.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.39 A c 1t + y3 GP. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R A + P=1 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.41. Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP.7.beban tidak=sama atau 4b 4a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l .R A y2 GP. Kegunaan garis pengaruhRA = 4 . jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP. y2 Gambar 2.RB Gambar 2. maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.39.R B t A C a + y1 y2 GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP.

R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A B . Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G. sejarak b dari titik B. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak dari titik A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1.43. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.R B + y3 GP.42. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2. sejarak d dari titik B.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .P.

P. R B - b/l G.P. R A l x ton (linier ) l x=a G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB . D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2. l P. Gambar garis pengaruh gaya lintang .x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.44.P.

Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) .P.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA . tm ª l º = 0 tm Gambar 2.a x=a Mc = G. a . M c ¨l a¸ b © ¹ ! .P. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB . P = 1t x G.b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a .45. a tm = © ¹ . b =  Untuk P di A x .P.b a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.

t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP. 2 = .R A.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP.DD - 1 t 3 GP. DD.M D + GP. M D. DBkn Jawab : GP. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.4 GP. RB.2 - GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA . MD lihat kanan bagian x M D = RB .R B 1 t 3 2 3 + GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .R B.2 ! tm . 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 .RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. 4 = .R B : 7 .R A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.

DBkn P antara A DBkn = 0 GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm C lihat kanan bagian B lihat kanan bagian .D Bkn 1t + P antara B C lihat kanan bagian B lihat kanan bagian DBkn = P = 1 ton GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .R B GP.DBkr 1t GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP.M B P antara A MB = 0 x P antara B M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.46.DD P antara A-D D D = .MB 2 tm GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.

   ©  B RB 3m C . RB max.7. LATIHAN Soal 1 ¨ P berjalan 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. GP D I. GP MI a) Bila beban Ditanya. max. 4t DI (+) max. ditanyakan GP R A. M max. GP RB. MI max. GPD I. 3m berjalan. GPRB. P2 = 2t P = 1 t berjalan I RA 4m 5m Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. ditanyakan GPR A. MI max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. DI (-) max. Soal 2 A 3m berjalan.4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2.

3 ton MI max. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). Max. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. 2.5. = + 3. = + 9 tm Mmax. Penutup o Untuk mengukur prestasi.1875 tm . = + 5.7. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max.6. = + 9. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no.5 ton D I (+) max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.7.

6 ton 0 0.3 ton 0 0 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no. - Suwarno. 2.7.3 ton 0 0. Senarai . MI max. UGM Bab I. Daftar Pustaka .18 tm Nilai 1 ton 0 0. ITB.4 tm 1.4 ton 0.3 ton 0 1 ton 1.8. Statika I .Garis pengaruh - Beban berjalan . Bab I. 2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.Soemono.175 ton = + 9. Mekanika Teknik Statis Tertentu .2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max.7. 2.7.

3. Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut. maka jumlah .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . a). perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. yaitu 3 buah dimana A = sendi.1. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b.1.1. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). B = rol dan C = rol.

Skema balok gerber 3. 7H = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7V = 0. 7M = 0. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu. 7M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RAH.2.1. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. 7H = 0. 7H = 0. maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3.1. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0. RAH. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). maka bisa didefinisikan bahwa : . Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV. RBV. Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). RBV. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0.2.

.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan.

7H = 0. C = rol. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. 7H = 0. R . . dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV. RAH.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. B = rol. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. yang masih statis tertentu. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7M = 0 dan 7M D = 0. R . disebut dengan konstruksi balok ge rber. Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0.

Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3.3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton. Detail sendi gerber . maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.1.

dimana balok DC tertumpu di balok AB.1. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.4. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.4. 3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/m C B A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.

Kalau dilihat dari sub bab 3. sehingga struktur bisa diselesaikan. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/m . Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. D B C Cara memilih : alternatif (1). maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUNGKIN Gambar 3.2.6.5. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. sendi gerber belum ada. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. Apakah mungkin ? Perhatikan . jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. jadi untuk sementara diterima saja.

Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. RDH). maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. perletakan A = sendi. Perletakan D = Gambar 3. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber.7. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin. Perhatikan balok DBC. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV). sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. . balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin. perletak B = rol. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.1. b2 Jika konstruksinya (a). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a.8. seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2).5. demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 .

Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC. (ada 2 reaksi). c = rol (ada 1 reaksi). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). Perhatikan balok DC (gambar b2). perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. perletakan D = sendi. Jadi alternatif (C) adalah mungkin.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. . titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. jadi tidak ada reaksi. Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin. perletakan.

D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). N. Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. Skema pemisahan balok gerber . Penggambaran bidang M. Bidang-bidang gaya dalam (M. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a). N. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C.9. N. maka balok AB bisa diselesaikan. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M.

3 = 0 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.6 + RS.2 RC.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA .6.6.10. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. dengan jarak 1 m dari A.6 RS.833 m 5.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6. A = rol C = rol .8 q.6.3 = 0 2.1 4.8 1. .= P.1.3 = 0 BID.667 m 7 MA = 0 RS . D. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /m C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. N.3 4. Ditanya : Gambar bidang M. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.2 q.3 = 0 RA.6 RB. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/m dari B ke C. N Gambar 3. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .1 = 0 BID.6.33t 3t + 1t BID. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu. 4 P.6. 4 RS = P. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/m x2 C (b).3 ! ! 3t 4 4 P.6 + 1. M 2.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RC. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8.

667-x2 ) = 0 x2 =5.x-P (x-1) = 3.q x2² (parabola) 2 1 .x x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = . Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.0287 tm.x = 3.667.833)² 8.0546 (2.667 x 2 x2 2 = 0 X2 (5.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.x 2 - = 5.1.2.667 2 x2 = 0 = x2 = 2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S 4 (x-1) Daerah P Mx = RA.Rs.667 x 2 .x2 - Mx2 = 5.x1 = .833 = 16.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5. 2.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTANG ) .667.02589 = 8.

667 + 2. x 2 2 = .833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 t Dbkn = -5. Latihan .6 = + 6.P = 3 4 = -1 t (Konstan ) Balok S BC Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = .1.5.Rc + q .5. x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .667 + 2 .667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.6.

maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . Atau . P = 5t S B q = 2t/m C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu.Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. 2m dari A q = 2t/m sepanjang bentang SC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ). Gambar : bidang. B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. N. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu .bidang 3. Rangkuman o Balok gerber adalah : . S = sendi gerber Beban : P = 5t. dengan perletakan A = sendi. D) Suatu balok gerber dengan 1). B = rol C = rol.1. A 2 m 5m 2 m 4m 2). Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.8.

6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.4 ton 7.4 ton 3. Soal No. Penutup Untuk mengukur prestasi. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . 1 Keterangan Titik A Harga 1. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut. 3. o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.9.1.

5 tm 0 2.5 ton 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2.11.5 ton 5 tm 0 7.10. Suwarno. Soemono Statika I ITB bab V 2.2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM bab V-4 3.1.5 ton 2. Garis Pengaruh Balok Gerber . Daftar Pustaka 1.1.5 ton 5 ton 5 tm 2. 3.

reaksi ada di B (R B). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga.11.1. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3.2. Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. 3.2. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c). Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PENGARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

MENCARI HARGA MOMEN DAN GAYA LINTANG DENGAN GARIS PENGARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P1 P2 P3 P4 q dx = muatan q sejarak dx.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.y GP.q dx Mc = ´ y.2.Dc y1 y2 + y3 y4 Dc = -P1 y1 + P 2 y2 + P 3 y3 + P4 y4 Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .Mc y2 C d P. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.a.3. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1 y1 + P2 y2 + P3 y3 + P4 * y4 P2 P3 P4 2) P 1 y1 A GP.b x l y3 y 1 y4 y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/m q t/m d Mc = y.

Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/m Luas = F + - GP.Dc Gambar 3.

Pendahuluan Pada kenyataannya. 3.2.4. . Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.2. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu. Prinsip dasar perhitungan .Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.2.4. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut.2.16.4. .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3.

Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.17. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal (x y1 y1 y2 y3 C1 y y y y4 + P5 y 5 Gambar 3.Mc y4 y5 Pada posisi awal. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 y3 y4 y5 = posisi kedua . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan y GP. (x P1 P 1 P P 2 P3 P3 P4 P4 P5 P5 2 Jawab : A (c) l l r B C (l.

(P3 + P4 + P5) y ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d y5 dan Mc = 7 Py (dalam hal ini y berubah menjadi y ) Jika ditinjau 2 bagian : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x.bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah y dan Di kanan titik C ordinat berkurang y y = y = (x . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : (Mc = P1 y + P2 y = (P1 + P2) y + P5) = 7 Pr P3 y P4 y P5 y jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 .c1 ¹  § Pr © .c1 ¹ c l c º ª º ª § ® Pl § Pr ¾ ( x.bagian kiri titik C dan .c1 ¯  q ¿ ! (x.c1 ? l  qr A l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C . c1 c (x .

. 34. 23.34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : ql = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l c) ql qr qs Gambar 3. 23.Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (A ) sehingga membentuk sudut (E) .18.12.di ujung bagian kanan (B ) buat muatan tumpukan beban dari 45. Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. 12. dan 01 (dengan skala) .

yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis A -B dan memotong di potongan II . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum.Tarik dari titik I sejajar (//) dengan garis A 0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I.Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum. °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E A 5 .Dari titik II ditarik garis // (sejajar) dengan A memotong tumpukan muatan di beban 12. O dan . . . sampai memotong garis A -B di I . .Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II.Dengan cara yang sama.

serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari.5.1. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III.5. M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- I II III IV B Gambar 3.2. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar. . Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum.19. Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. 3. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.2. . .

a 7 MA = 0 1 _P3 .Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.5. R2 dan P3 atau resultante P 1. dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. P4.Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. Jawab: R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. P 3. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A B.r = R1 . P2.2. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = R2 .2. . Prinsip Dasar Perhitungan . b .

3.4. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. Rt .5).

l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar . r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3.20.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

45 r =1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ = 5 ½ 0. GP RC .6.2 = Rt.45 + r ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.45 Rt Gambar 3.1 4.1 4. GP RB.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.x 6. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3. ditanyakan : GP R A. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.1 + P3.2.2 = 20 .1 + 6.21.

2. 3. Akibat rangkaian beban M max berjalan. P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut. GP M B. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP DB kanan 2 2 b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. RA 8m 2m a).7. ditanyakan. GP RD GP M I. GP RA. GP R B. ditanyakan : MI max . GP RC. Rangkuman . GP D I.

maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No.2. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan.8. harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu. 3.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C Nilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C Nilai 0 1. Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o .25 t 0 0 0 0 0 0 1.333 tm 0 0.25 t 0 0 0 0 1t 1. 2 a).667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal No.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0.333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D Nilai 0 0. MI max = + 14 tm.5 t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b). pada saat P 2 terletak pada titik I .

05 tm.Soemono. Statika I .2. . Mekanika Teknik Statis Tertentu . terjadi pada titik dibawah P 2 3.9. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain.2. Daftar Pustaka . ITB.Suwarno.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. UGM. bab V-4 3.10. bab V .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. N.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4. dalam. tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. a. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. Judul : PELENGKUNG 3 SENDI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. . (c).1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi.1.1. (a). D) 4. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam.

S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi.2.2. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.2.1.1. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Pelengkung sungai Gambar 4. Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A). maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0.2. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah.1. struktur pelengkung tersebut. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu. A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4. 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). Bermacam-macam bentuk jembatan 4.1. gelagar memanjang. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B). Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.1. kedua perletakan dibuat sendi. Penempatan Titik s (sendi) . 7 V = 0 dan 7 M = 0. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.2.

Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b).3. S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B. dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4.q x² diatasnya.q x12 2 B HA.2. Bidang M struktur statis tertentu 1 M= q l² dengan beban terbagi rata 8 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E E. 2 q kg/m (c) Gambar 4.4. x 1 HA HB II = HA.x1.3.h1 B Nilai I = V A . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA.x . x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 . maka M E-E = VA. h1 f I = VA . Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/m A RA B Kita kembali ke belakang. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/m .h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.1.

P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi.3.3. 4.b1 = 0 (1) .l HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M. Cara Penyelesaian 4. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A.x1 + Bidang M + ½ q x 1² Gambar nilai II = H A. Skema NilainyaM pada pelengkung bidang mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen. Gambar nilai I = V A.5. (hA-hB) P1.6.1.1. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.h1 Gambar 4.1.

hA P1.a (bagian kiri) HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.S 1 = 0 (2) .

masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan .l .a1 = 0 7M S = 0 VB. 7M A = 0 VB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. hB) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.HB .l + HB (hA hB) P1. (4). Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).

l P1. y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. maka nilai Ab bisa dicari. f = 0 Av .a P 1. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Bv. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv. Ba . f = 0 Bv .S1 Ab .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).b Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab .l P1. a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.

(³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E(³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E(¶) merupakan uraian vertikal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. ( ´) Ba cos E= HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.

gaya lintang (D) dan gaya normal (N). y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . x ½ q x² . gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M). x P Untuk balok yang lurus. x q kg/m Lihat pada gambar 4. seperti pada gambar (4.8. y I = VA .2. Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.3 Gambar (c). II II = HA .3.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P.8).HA . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D). dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/m . Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. x ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.1.a.1.2. bukan pelengkung.9 disamping. x. maka Mx = V A .

Vx = V A q . Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada.10.y gambarnya juga parabola 4 fx (l  x ) l² Jadi Mx = I II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?.

Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.x cos E = . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = . Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak .11. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.Vx sin E.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4.( Vx sin EHx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan.

Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. nilai gaya lintang. bidang gaya lintang (Bid.13. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut. Mc. S Ec C yc f=3 m A H 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. . H. D) ataupun bidang normal (Bid.12. M). Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/m Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/m .5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4. VB.5 m dari titik A. N).

q (5)² 15.H .Xc = 15 .yc ½ .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. 2.10 = 15 ton (o) VB = 15 ton (o) V . 25 ! ! 12. maka 12.q.5) ! 2.2.5m Gambar 4.3. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.5 ton 3 3 y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx (l  x ) l² untuk x = 2.l. 5.25 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . l VB .5 m yc = 4.5  1 / 2 . 3 H= ½ q . (5)² = 0 VA . l q. ½ l = 0 q. Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.5 (10  2. di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. l.3. 2.Xc² ½ . 3 .14. ½ l = 0 VA = ½ .5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA .5 H.5 . 3 .5  1 / 2. 2.

Dc = 0.5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec = 7.5145 + 12. 0.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1. 0.(7.5774 ton.5 ton (o) Hc = H = 12.sin Ec + Hc cos Ec) = . jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan.5145 6.x = 15 3.5 .5 . Nc = -14.5 . 0.2.5 .(Vc.15.8575 = 6. 0. Vc = VA q.4312 Hc sin Ec 12.5 = 7.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos Ec Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4. Contoh 2 xc=2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal. hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .14.8575) = . Uraian gaya Vc dan Hc Nc = .

Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .16.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.

3 P(f 6 (3 yp ) = 0 1.6 .152 ton (q) 7 MA = 0 VB = + 1. f = 0 HB . 1.92 ton (n) HA .08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 4.76  6.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA . 5 .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1. 10 .76 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB . 10 + 6 . l .5.08 = 0  5.08 1.2 (10  2) ! 1.92 = 0 (cocok) . l + P. f HA .1.48 ! 4. 5 HB .92 = 0 VB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4.P.152 ton (o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . 1.92) = 0 HA . ½ l 1. 3 = 0 HB = 1.152 .yp = 0 VA .152 .3.yp = 0 VB . 1. ½ l . 3 6 .

2. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.8575 = -1.98 VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.08 . 25 6 (2. 0.92 ( ) Dc = .92) = -1. 2.08 = 1. = -1.V A .152 . Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.Xc + HA .152 .25 = .96° sin Ec = 0.5145.Vc cos Ec Hc sin Ec 1.8575 Mc = .92 .2.88 + 9. yc P (yc yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.5 + 4.25 m Ec = 30. cos E = 0.5145 4.18 HB = 4.32 tm 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.9757 ton Nc = + Vc sin Ec Hc cos Ec .17.152 ton (q) Hc = 6 0.

92 .0537 ton 1. Mc. maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/m sepanjang setengah bentang.1. Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. 0.152 . c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . VB. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. Nc. HB. 4. Nc.8575 = . VB. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. HA.1. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/m sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. HA. Mc. HB. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2).5145 0.4. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1.

o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen. Penutup Untuk mengukur prestasi.6 0.6. 4. 1 Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc y Sin E Cos E 7. Sedang bidang momen. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.25 m 0.1.8 o o p n .5 ton 4.1. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.667 ton 2. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4.667 ton 4.5 ton 6. Soal No. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan.75 0.5.

Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).3672 tm 2.8336 ton (-) (-) Soal No. 2 Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc y Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.64 0.842 7.226 ton 4.539 0.184 ton 5.6854 (+) (-) (-) o o p n 4. bab 2. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu.9675 ton 5.1. Daftar Pustaka 1.7.1.5625 tm ~0 5.8.774 ton 1.9675 ton 3. Suwarno Mekanika Teknik Statis Tertentu . Soemono Statika I ITB.36 m 0. bab 4. UGM.

b l . H P.P. x = 0 1t Untuk P di B . x = 0 Untuk P di B . a. a . x = l G. 4.2. Garis Pengaruh Reaksi x P S G. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4.2.P. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus. s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan.2.1. b f VA . ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4. V B dan H Px ) l . 6 MA = 0 VA H l a G.f Untuk P di A .2. a f Px b . f = 0. b H .P. Garis pengaruh V A.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB . gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh. VB .3 Prinsip penyelesaian.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A . Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan.18.2. Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen. b = f VB .P VA (+) 1t G. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. 4. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B.

x = a H=0 P.H . M C = VA .b c l . bagian I (+) P . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .P. u .f v G. f ton H= 6MS = 0 VA . a. H x C v P. u dan V B .P. bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P .b ton H= l . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). u .b ton l. x = a p H = P. M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). v .P.P. maka lihat kiri potongan (kiri C).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . v sama dengan G. x = l Untuk P di S . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan.v l G. u . a .C = G. x = 0 p H = 0 Untuk P di S .f = 0 a H = VA .P. M C pada balok di atas dua perletakan l G.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. R l C u VA VB Bagian II H. B H b MC = VB . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) .P. a .H . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B .f G.

HC = H H cos H diuraikan D E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D. a . sehingga: NC = .f . VA sin D dan V A cos D.P.P. Gambar GP. Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan Normal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C. NC bagian I Q sin E l (+) ( .Mc C.P. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G.) v sin E H b l GP VB sin GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4.P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P.P.H sin D I II I -> identik dengan G.19.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G. b cos E l .

D C a b sin E l. Gaya lintang G.DC bagian II y= y = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4fx (l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.b cos E l . G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari Nilai E Persamaan parabola VA cos E GP. untuk GP. Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP.P. f Gambar 4.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) .20.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6 .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6 

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/m

a

P

b

q kg/m P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

. . . . transfer beban lewat perantara P q = kg/m R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4.24. (a). ½ P + (b/P ). . P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/m 2 3 S 4 a a5 6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . Kondisi pembebanan kolom (b). ½ P = ½ qP R2 = q .

. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Xc-R2. Pendahuluan . . Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.e-HA.4.5 ton R5 = 1. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.25. .Xc-R2. Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.5 ton a R1 R2 C R3 S e . R2. Cos E .qton R5 R6 Vc = Av R1 R4 = 0.e-HA. Menjadi (R1. R3. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. . R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. .Yc Nc = -(Vc . . sinE + Hcos E) Dc = Vc.Yc Vc = VA.4. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh.Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E Gambar 4. .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara.2. P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. P .33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I. atau 1 kg atau Newton) . Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.N. P . A C I D E ½ ½ P P + 1.Y2). P .Y1 + P2.33 P 54.26. Kalau muatan berada diatas gelagar C D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54. dengan ordinat 1. 4.33 P 54. 2. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. (1 ton.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M. karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D.5 P . Jika letak .4.5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.5P .

Dc dan Nc . tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. Gambarkan Garis pengaruh Mc .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP.27. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. M I gel.

4.a .a .5.a .f G. ]  II I .Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P. GP Mc = VAx  H. Pendahuluan .b yc l.Q.Nc = .Dc = Av cos E .b yc l.b cos E lf pemaparanG.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. b GPMc bagian I P. C yc .a. Mc total (bag I + bag II) - II + P.yc . a . Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung.Y l P.Q.5. Judul : Portal 3 sendi 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian. Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan. .b sin E lf pemaparan Gambar 4. S .f G. Penyelesaiannya sama dengan beban langsung.1. f H R VB H VA Q .P. 28.P.P.H sin E Cos E P.

Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.29. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . balok gerder. bisa berupa balok menerus.2. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung. 4.5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.

b1 P2 . S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.a + HA.h VB.h P 1 . (h P2 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi. S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II . a 2 h) P1 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. b2 = 0 P 1 .l + HA. a 1 = 0 P2 . 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.30.l + HB.l + HB.h VA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 h h BA B BV A AV AB h' a b L P1 S P1 f ff B BA BV A AV AB a b L Av A AB HA HB BA B Bv Gambar 4. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .31.

S 2 Nilai BA .a 2 l Nilai A B . f = 0 . b  P2 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. b 2 = 0 P1.a 1  P2 .b 2 l 7 MA = 0 Bv.a P1 . f AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av = A B sin E Bv = B A sin E Maka : VA = Av + Av VB = Bv Bv HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh . S 1 HA . f = 0 Bv . S 2 f BA . a 1 P2 . f Bv. f AB .b1  P2 .b BA = P2 . f 7 MS = 0 (kiri) Av. S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB .l Bv = P1 .a  P1 .l Av = P1 . f = HA . f = HB . b 1 P2 . a 2 = 0 P1.

P1 q 2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 4m AB 2m B Av HB 3m 3m HA E AB Av BA E HB Gambar 4.3 ton Av = H A .5 ± 2.l ± q .5 ± 4. 4. 4. 3 .5 = 0 Bv Av. 3 .3 . selesaikanlah struktur tersebut.l ± P.3 ton .5 = 0 Bv = 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .3. 38 ! 1.3 . P =1 m Penyelesaian.q .1 = 0 Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 7 MA = 0 Av.7334t  q  7 MB = 0 5m (f ) HA BA B Av. 1.5 - P. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 3 2.5 .5 HA.32.6 ± 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar .1 = 0 Av. 1. 2/6 = 0.5 = 0 Bv HB = 4 5/6 . tg E Av = 1.4333 ( q) Bv = 0. 1.4333 (o) 4t P1 S D C A A 1.6 ± 2.3t 4.3 .

4333 = 4.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.2666 H =0 2t/m' HA ( ) = HB (n) Pusat 1.7334 t VA = Av = 5 1/6 VB = Bv + 0.4333 m = 4 5/6 + 0.3t B B 5.2666 t .4333 = 5.n 5 Av 0.7334 + 5.

2.60127 = 0.7334 Daerah B-D Bidang N (gaya Normal) Daerah A-C = -4.7334 t BIDANG N - 1.7334 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.2666 t Gambar 4.4 = .3 t 1.3 t 1.2666 tm D = -HB = -1.3667 ½ . 4 = -1. D portal 3 sendi Ds = 4.7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1. 2 (2.1 H B.2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA .7334 ton Daerah C-D = -1. N.40127 tm (M max) MD = -HB .C A x 4.3667 VA .2 tm - S D 7. 2.3 t 4.8 1. q (x²) . 6 = -1.3667 m (daerah cs) x = 2.7.8 tm - Mc = -HA . 4 + 4.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D Di S D = -HA = -1.3 ton Daerah B-D 5.6 = 5.3 t = .2 + 11. 4 + ½ .2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2. 6 = .1 7.3667 Mx = -HA .3.20254 5.2. Bidang M.32.2666 t Mx = -1.3t Dx = VA qx x=3m 6 = -1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.3 t 5.3667)² = -5.2666.3 .2666 t 5.5.3 .

1. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. maka untuk memperpanjang bentang. 4.6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6.6.33. . S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4.2. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa.34. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.

Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SENDI q t/m S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/m S RS1 A B S. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4.3. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.35.6. . merupakan struktur yang menumpu.

7. 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.7. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh.2. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada.1.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.7. Contoh Penyelesaian . Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4.3. S (b) A B Gambar 4. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Pendahuluan Seperti biasanya. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S.36.7.

37.RA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E A D S P v B S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.f GP.ND=GP.RB b. f l d.c l .b a.a l cb l GP.d l.M D cb l Gambar 4. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.b .v l a.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.f ! l.b l .DD Q l GP.R B + c l + + d l a.H u.f - + + GP.RA a.f GP.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP. N D Garis pengaruh N D sama dengan g. P di E RB = RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) H.p. ~ g. P berada antara E lihat kanan S RB . R B f c c l c.p nilai H.b p H ! x p ND !  l l f lf .RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP. b H = RB .f = 0 b .

a f P di S b a ab RA = b p H ! . f = Garis pengaruh H x f.f = 0 R A .H .8. Q . Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a.b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA . p N D !  l l f l f P di S 1 GP. 4. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .MD P berada antara D C M D = RA .V l II = H . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. a H= RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) H.

dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut.P. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal. G.P N C bawah . G.P.PH. ditanyakan : G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1.P NC kanan.x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. . G.P VA . G.P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu. G. G.P. G. G. H.D C .P. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. VA . N C .P D C bawah. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l . G. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. ditanyakanL G.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.447 0.447t 0.5 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.447t 0 0 0 1. Rangkuman 4.9.10.1175t 0 0 0.335t 0.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - . Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.782t 1.5t m 1. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.

384t 0.20t 0.40t 0 0 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.336t 0 0 0. VII Mekanika Teknik Statis Tertentu .75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.25t 0. 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.333t 0 0 0. Daftar Pustaka Suwarno.084t 1. UGM Bab VI dan .333t 0 0 0.11.60t 0.

MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5.B.R.) .12. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.1. JUDUL : KONSTRUKSI RANGKA BATANG (K.

maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang.3. ba mbu atau baja. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan. Jika materialnya dari beton.1. tapi kalau materialnya dari kayu. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5.2. maka kita harus merangkai material tersebut. . Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah. 5. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5.1.4. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang. 5. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !.1. Rangkaian dari material bambu.

R.B.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga (() tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah.5. paku keling atau las.5. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.1. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p). 5. pasak atau paku. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul. Pada konstruksi kayu memakai baut. . Bentuk K. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut.1.

Detail I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.R.2. . Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5.3.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.

B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K. sisi 1 K.B. Pada Jembatan K.B.2. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .5.R.1. Ruang terdiri dari 2 K.B.B.B. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5. Bidang.4.R. Gambar 5.R.R.R. bawah (ikatan angin bawah) K.B.R. atas (ikatan angin atas) 1 K.R.

Konstruksi Statis Tertentu Pada K.B.3.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .R.1.5.5.R. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui. Konstruksi rangka batang bidang . Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K.

maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.B. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K. r = jumlah reaksi perletakan 5. Rumus Umum Untuk K.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus.15.1.R.4.6.R.

Kx = 0 dan 7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.Ky = 0 b. Keseimbangan titik buhul a. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5. 1. Cara analitis dengan menggu nakan 7.R. Cara grafis dengan metode Cremona . Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan.7.B.6.1.

Kx =0 7. Cara Analitis Metode Ritter b. Metode Potongan : a. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja. y 7H=0 7.1. a. Metode Penukaran batang 5. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.V = 0 ata 7. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . b.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2.8. Cara Grafis Metode Cullman 3. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung.

8. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/m (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. 2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5.

P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5. 4 P .4 .1. V2 dan V 1 .9. . 3P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian. Untuk batang atas diberi notasi A 1.9. selesaikan struktur tersebut. tiap -tiap batang perlu diberi notasi. D2 dan D 1 . A 2 Untuk batang bawah diberi notasi B 1. A2 dan A 1 . V 2 serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. B2 Untuk batang diagonal diberi notasi D 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.4 . D2 Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. 4 P . Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB . P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . B2 dan B1 .

Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. . Dalam penjumlahan. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7Kx = 0 dan 7 Ky = 0. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik. gaya yang searah diberi tanda sama.B.R. Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 D2 VIII V2 VII A1 D1 IX V3 V V1 X P B1 3t B2 B2 B1 P P P P 1 Gambar 5.

3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= . V1 = .½ D 1 A1 = .3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4t 3t V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 3t=0 B2 = 3 t (tarik) .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2. 2 A1 = . 3 2 . 2 7V=0 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.½ .

1 t (tekan) 2t 7V=0 1 + V2 = 0 V2 = .1t (tekan) .2 t (tekan) 2t Batang D 2 dan B 2 dianggap tarik Titik V Batang D 2 diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½D 2 1t 1t 2 2 D2 7V=0 ½ D2 D2 = 2+0 1t=0 2 t (tarik) 7H=0 ½ D2 B2 + 1t 3 t + 1t = 0 B2 = 1 ton (tarik) 3t 2 B2 Titik VIII Batang A 1 dan V 2 dianggap tarik 7H=0 A1 V2 2 t + A1 1t=0 2t A1 = .2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A2 1 ton = 0 A 2 = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2 dan V 3 dianggap tarik A2 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 + 2 t = 0 A2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D1 1t 1t

2

D1

Batang D 1 dan B 1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan menjadi ½ D1

2
½ D1 D1 =

½ D1

2

B1

7V=0

2

1t=0

2 t (tarik) 2 - 1t = 0

7H=0

B1 - ½ D1 B +1 B = 0t

1=0

Titik X

V1

7V=0

1t + V1 = 0 V 1 = - 1t (tekan)

B1 = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1 1t ½ D1 ½ .

A1 = 1 t (tekan) D1 = 2 (tarik) V1 = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1 1 ½ D1 ½ .

2 =0 2. 2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATANG A1 A2 A2 A1 B1 B2 B2 B1 V1 V2 V3 V2 V1 D1 D2 D2 D1

GAYA BATANG -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1 = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya Reaksi B b).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A 1t ½ . P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan: a). Gaya reaksi b). Beban .10. 2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5. Gaya. 2. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .1. D3 ½.gaya batang RB .

1. 667 t 6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5.20 t 4. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.555 6.20 t 1. Pencarian gaya-gaya batang.00 t 6.835 0. bisa berupa gaya tarik.667 t 5.000 t 2. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 Nilai 5t 4t 0 0. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.11. atau gaya tekan.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + . o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi.333 t 3.00 t 1.333 t 6. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.1.12.808 t 4. hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2. 5.

Statika I . - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. .14. Mekanika Teknik Statis Tertentu . - Daftar Pustaka Suwarno.13.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. bab 5. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. UGM Bab Soemono.1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->