Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM PROPERTI MATERIAL

MODUL IV.2
PERCOBAAN SLUMP BETON

KELOMPOK : 5
1.
2.
3.
4.

Masrul Wisma Wijaya


Nobel Kristian Telaumbanua
Naufal Maulana
Anisa Wulandari

1406533296
1406603402
1406533270
1406533314

Hari/Tanggal Praktikum

: Minggu, 4 Oktober 2015

Asisten Praktikum

: Feny Acelia Silaban

Tanggal Disetujui

Nilai

Paraf

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2015
IV.2. PERCOBAAN SLUMP BETON

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan slump beton. Slump merupakan ukuran
kekentalan/plastisitas dan kohesif dari beton segar.

II.

PERALATAN PERCOBAAN
1. Cetakan berupa kerucut terpancung dengan diameter bagian bawah 20 cm, bagian
atas 10 cm dan tinggi 30 cm. Bagian atas dan bagian bawah cetakan terbuka.
2. Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm, panjang 60 cm, ujung dibulatkan dan
sebaiknya dibuatkan dari baja tahan karat.
3. Pelat logam dengan permukaan yang kokoh rata dan kedap air.
4. Sendok cekung.
5. Mistar ukur.

III.

BAHAN PERCOBAAN
1. Beton segar dengan jumlah sama dengan isi cetakan

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN
1. Membasahi cetakan dan pelat dengan kain basah.
2. Meletakkan cetakan di atas plat.
3. Mengisi cetakan sampai penuh dengan beton muda dalam 3 lapis, tiap lapis berisi
kira-kira 1/3 isi cetakan. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat
sebanyak 25 tusukan secara merata. Pada pemadatan, tongkat harus tepat masuk
sampai lapisan bawah tiap-tiap lapisan.
Pada lapisan pertama, penusukan bagian tepi, tongkat dimiringkan sesuai
kemiringan cetakan.
4. Segera setelah selesai pemadatan, meratakan permukaan benda uji dengan
tongkat; menunggu selama setengah menit dan dalam jangka waktu ini semua
benda uji yang jatuh di sekitar cetakan harus disingkirkan.
5. Kemudian mengangkat cetakan perlahan-lahan tegak lurus ke atas.
6. Baliklah cetakan dan letakkan perlahan-lahan di samping benda uji.
7. Mengukur slump yang terjadi dengan menentukan perbedaan tinggi cetakan
dengan tinggi rata-rata benda uji.

V.

DATA HASIL PERCOBAAN DAN PENGOLAHAN DATA

Percobaan

Slump (cm)

1.

9.7

Slump
rata-rata (cm)
10.333

2.
3.

VI.

10.7
10.6

ANALISA
1. Analisa Percobaan
Tujuan pada praktikum ini adalah menentukan slump campuran beton. Slump
adalah nilai kebasahan suatu campuran beton. Slump target awal adalah 80 mm
atau 8 cm. Pertama, praktikan membasahi cetakan dan pelat dengan kain basah
yang bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa benda uji yang mungkin
sebelumnya masih menempel di dalam cetakan maupun di plat. Cetakan
kemudian diletakkan di atas plat lalu diinjak menggunakan kaki agar cetakan
tidak berpindah ataupun bergoyang ketika dimasukkan ke dalamnya. Campuran
beton segar yang sudah disiapkan sebelumnya lalu dimasukkan ke dalam cetakan
secara bertahap sebanyak 3 kali. Pada lapisan pertama, cetakan diisi sepertiganya
lalu ditusuk dengan tongkat pemadat secara merata sebanyak 25 kali. Penusukan
pada bagian tepi dilakukan sesuai dengan kemiringan cetakan agar tusukan dapat
mengenai semua campuran yang mengkin tidak tertusuk ketika dilakukan dengan
cara tegak lurus plat. Selain itu, Penusukan ini bertujuan untuk meminimalisir
rongga yang mungkin masih terperangkap di bagian bawah cetakan. Rongga pada
beton bisa mengurangi kekuatan beton ketika sudah mengeras nantinya. Prosedur
yang sama juga dilakukan pada lapisan kedua sebanyak dua pertiganya dan
lapisan ketiga saat penuh. Penusukan pada lapisan kedua dan ketiga tidak sampai
menusuk lapisan di bawahnya, karena ketika lapisan yang di bawahnya terkena
tusukan lagi, rongga udara akan kembali masuk dan bisa kembali mengurangi
kekuatan beton. Setelah pemadatan di lapisan ketiga, praktikan meratakan
permukaan benda uji pada bagian atas cetakan dengan menggunakan tongkat.
Benda uji yang jatuh ke luar cetakan dan yang tersisa di atas plat harus
dibersihkan agar tidak mengganggu pengukuran. Praktikan kemudian mengangkat
cetakan vertikal tegaklurus ke atas secara perlahan-lahan. Cetakan kemudian
dibalik dan tongkat pemadat diletakkan secara horizontal di atas cetakan tepat di
samping campuran beton. Praktikan kemudian mengukur jarak antara tongkat

dengan permukaan campuran beton rata-rata sebanyak 3 kali pada posisi


permukaan yang berbeda untuk mendapatkan data yang lebih valid.
2. Analisa Hasil
Tes slump adalah tes yang paling umum untuk menentukan konsistensi beton
yang dapat dikerjakan di laboratorium maupun di lokasi pengecoran secara
langsung. Tes slump tidak cocok diaplikasikan pada campuran beton yang sangat
basah ataupun campuran beton yang sangat kering.

Slump berbanding lurus

dengan konten air pada campuran beton segar, sehingga nilai slump memiliki nilai
yang berbeda untuk konstruksi tipe-tipe tertentu. Pada saat pengangkatan cetakan
secara vertikal, campuran beton akan terdeformasi sesuai dengan karakteristik
kecenderungan segregasi beton itu sendiri. Terdapat 3 tipe deformasi slump, yaitu
true slump, shear slump, dan collapse slump. True slump adalah tipe slump yang
menunjukkan penyusutan campuran beton ke arah vertikal bawah namun tetap
mirip dengan bentuk cetakan. Slump inilah yang digunakan untuk berbagai tes
lain, misalkan penentuan campuran beton untuk konstruksi tertentu. Shear slump
adalah tipe slump yang menunjukkan porsi lapisan campuran beton paling atas
mengalami penggelinciran ke salah satu sisi cetakan. Sampel ini harus diambil
kembali dan pengulangan pencampuran perlu dilakukan. Collapse slump adalah
tipe slump dimana seluruh campuran beton runtuh ke bawah ketika pengangkatan.
Hal ini menunjukkan campuran beton terlalu basah dan tidak sesuai untuk tes
slump.

Pada praktikum ini, praktikan mendapatkan tipe true slump dan nilai slump ratarata sebesar 10.333 cm dari 3 percobaan yang berbeda, yaitu 9.7 cm, 10.7 cm,
10.6 cm. Nilai yang didapat praktikan kurang sesuai dengan nilai yang diinginkan,

yaitu sebesar 8 cm. Hal ini diakibatkan penambahan air pada pencampuran
sebelumnya karena dirasa campuran masih terlalu kental. Air yang ditambahkan
sebanyak 1,3 liter (1,3 kg). Faktor yang menyebabkan air harus ditambah adalah
kondisi pasir yang masih sanggup menyerap air karena bukan pada kondisi SSD.
Hal ini menyebabkan air yang digunakan untuk proses hidrasi air dan semen
menjadi berkurang akibat terserap pasir. Penambahan air ini ternyata mengubah
nilai slump yang diinginkan berdasarkan perhitungan mix design yang sudah
dihitung dan dilaksanakan praktikan.
Campuran beton dengan nilai slump 10.333 mm cocok digunakan pada konstruksi
kolom dan dinding penahan. Nilai standar slump dan penggunaannya dapat dilihat
di tabel berikut :
No.
1.
2.
3.
4.

Pengerjaan
Beton untuk jalanan
Beton untuk balok R.C.C dan lempengan
Kolom dan dinding penahan
Pondasi

Slump (cm)
2.5-5
5-10
7.5-12.5
2.5-5

Selain itu, slump juga berkaitan dengan workability beton. Workability adalah
karakteristik tingkat kemudahan pengadukan campuran beton namun tetap
memberikan kepadatan yang cukup ketika diaplikasikan ke tempat pengerjaan.
Workability berbanding terbalik dengan nilai slump. Ketika nilai slump kecil,
maka campuran beton pasti sangat lengket/keras sehingga campuran tersebut
dikatakan

unworkable

karena

sulit

dalam

proses

pengadukannya

dan

membutuhkan usaha internal lebih untuk pengerjaannya. Ketika nilai slump besar,
campuran beton pasti sangat encer sehingga campuran tersebut dikatakan highly
workable karena sangat mudah dalam proses pengadukannya dan membutuhkan
usaha internal minimum untuk pengerjaannya. Pada percobaan ini, praktikan
mendapatkan campuran beton yang memiliki karakteristik medium workability,
karena pengadukan dirasa sedikit mudah dan dibuktikan dengan nilai slump yang
tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil.
3. Analisa kesalahan.
i. Alat

Skala penggaris untuk mengukur slump agak pudar pada beberapa bagian
sehingga menyulitkan praktikan untuk membaca nilainya. Selain itu
cipratan semen juga sudah mengeras di beberapa bagian penggaris.
ii. Paralaks
Pada saat praktikan membaca ketinggian slump, penglihatan praktikan
tidak benar-benar tepat tegak lurus dengan penggaris. Hal ini
menyebabkan pembacaan nilai tidak benar-benar akurat.
iii. Praktikan
Pada saat praktikan memindahkan campuran beton segar ke dalam
cetakan, terdapat beberapa campuran yang terlempar ke luar cetakan. Hal
ini menyebabkan jumlah campuran beton segar yang seharusnya masuk
perhitungan slump menjadi tidak terhitung.
VII.

KESIMPULAN
1. Nilai slump adalah 10.33 cm dan cocok diaplikasikan pada kontruksi kolom dan
dinding penahan.

VIII.

REFERENSI
Lab Struktur dan Material DTS FTUI. 2015. Pedoman Praktikum Pemeriksaan Bahan
Beton dan Mutu Beton. Depok: Lab Struktur dan Material DTS FTUI.
Suresh, N. __. Workability of Concrete.
Shetty, M.S. 1982. Concrete Technology. New Delhi : S. Chand & Company LTD.
__. Concrete Slump Test. http://www.aboutcivil.org/concrete-slump-test.html

IX.

LAMPIRAN

Gambar 1 : Proses pemasukan campuran

Gambar 2 : Proses pengukuran nilai

beton ke dalam cetakan.

slump.