Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MONOSODIUM GLUTAMAT





DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 11
KIMIA DASAR 06 R
21. MASRUL WISMA WIJAYA (1406533296)
22.SALSABILA MARDHIYAH (1406533301)
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS INDONESIA

2

DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN3
2. ISI.4
PENJABARAN MSG...4
MSG SECARA UMUM4
o PENGERTIAN MSG.4
o PENGGUNAAN MSG..5
o PEMBUATAN MSG.5
PENGGUNAAN MSG DALAM MAKANAN.5
o KAITAN MSG DENGAN CITA RASA MAKANAN.5
o MSG DALAM MASAKAN..6
o KONSUMSI MSG.7
o PENGARUH MSG TERHADAP METABOLISME TUBUH.7
KEUNTUNGAN MSG..8
o MEMPERKUAT CITA RASA.8
o MENGURANGI KADAR NATRIUM.8
KERUGIAN MSG.8
HASIL PENELITIAN MENGENAI EFEK MSG8
ATURAN KUALIFIKASI BPOM9
SISTEM PERIODIK UNSUR...9
PENGETAHUAN TENTANG SISTEM PERIODIK UNSUR10
MANFAAT PENGETAHUAN TENTANG SIFAT SIFAT UNSUR..12
BENTUK GEOMETRI SENYAWA KIMIA13
FORTIFIKASI GARAM BERYODIUM..15
3. PENUTUP.16
4. DAFTAR PUSTAKA17




3

I. PENDAHULUAN
Sejalan dengan perkembangan pangan, pengembangan bahan tambahan makanan belakangan
semakin maju dan berkembang dengan pesat. Bahan tambahan pangan digunakan untuk
meningkatkan nilai gizi, memperbaiki nilai estetika, dan memperpanjang masa simpan
makanan.
Salah satu bahan pangan tersebut adalah MSG (Monosodium Glutamat). MSG memberikan
rasa gurih dan nikmat pada berbagai macam masakan, walaupun sebenarnya tidak memberikan
rasa gurih yang berarti. MSG dijual dalam berbagai bentuk dan kemasan, seperti Ajinomoto
mengandung MSG sebagai salah satu penyedap rasa. Produk makanan siap saji, makanan beku,
maupun makanan kaleng juga mengandung MSG dalam jumlah yang cukup besar. Selain lada
dan garam, botol berlabel penyedap rasa yang mengandung MSG juga dapat mudah ditemukan
di rak bumbu dapur maupun di atas meja restoran.
Sejauh ini, belum banyak penelitian tentang konsumsi MSG ini dilakukan langsung terhadap
manusia. Hasil dari penelitian dari hewan, memang diupayakan dicoba pada manusia. Tetapi
hasilnya masih bervariasi. Sebagian menunjukkan efek negatif MSG seperti pada hewan, tetapi
sebagian juga tidak berhasil membuktikan.














4

II. ISI
1. Penjabaran MSG
1.1. MSG secara umum
1.1.1. Pengertian MSG
MSG (Monosodium Glutamate) adalah bahan aditif yang ditambahkan pada
makanan. MSG dikategorikan sebagai asam amino non-esensial yang merupakan
garam natrium dari asam glutamat. Asam glutamat pertama kali diisolasi oleh ahli
kimia Jerman Ritthausen pada tahun 1866. Kemudian pada tahun 1908, ahli kimia
Jepang Kikunae Ikeda menemukan fakta bahwa asam glutamat merupakan senyawa
penyedap rasa yang digunakan selama berabad-abad di Jepang sebagai bumbu sup
(rumput laut Laminaria japonica). 40 kg rumput laut bisa diekstrak dengan air
panas dan menghasilkan 30 gram asam glutamat, yang kemudian ia ubah dan
identifikasi sebagai MSG.
MSG memiliki cita rasa umami, elemen rasa yang mirip dengan rasa kaldu.
Karakteristik umami berbeda dengan rasa asin, manis, pahit, ataupun asam. MSG
banyak digunakan pada makanan China dan Asia Tenggara.
Produsen makanan industri memasarkan dan menggunakan MSG sebagai penguat
cita rasa karena zat ini mampu menyeimbangkan, menyatukan, dan
menyempurnakan persepsi total rasa lainnya. Nama dagang untuk monosodium
glutamat termasuk diantaranya AJI-NO-MOTO, Vetsin, dan Ac'cent.

5

1.1.2. Penggunaan MSG
MSG sebenarnya sudah digunakan oleh penduduk Jepang pada abad ke 18, tetapi
baru diidentifikasi oleh Ikeda pada tahun 1908.
1.1.3. Pembuatan MSG
1.1.3.1. Fermentasi
Karbohidrat atau dektrosa (seperti tepung tapioka, cairan gula tebu, dan lain-
lain) difermentasikan dengan disertai oksigen dan panas. Medium yang
digunakan mengandung bakteri Coryne bacterium ataupun Brevi bacterium.
(Koopman, 2003). Bakteri tersebut akan mengkonsumsi karbohidrat ataupun
dektrosa, lalu mengekskresikan asam glutamat mentah. Wujud dari hasil tahap
fermentasi adalah seperti kaldu.
1.1.3.2. Isolasi
Hasil seperti kaldu yang muncul pada tahap fermentasi dipasteurisasi untuk
membunuh mikroorganisme lain yang tidak diinginkan. Secara teknis, asam
glutamat mentah akan dikonversi menjadi kristal dengan kadar kemurnian
90%.
1.1.3.3. Pemurnian
Asam glutamat mentah dinetralkan dengan penambahan natrium hidroksida
(NaOH) dan dicampur dengan activated carbon. Hal ini berguna untuk
sterilisasi, filtrasi, dan menghilangkan bau. Dari proses ini didapatkan
konsentrat MSG dengan kemurnian 99%. Konsentrat MSG dikeringkan,
diayak berdasarkan ukuran, lalu siap untuk dikemas.

1.2. Penggunaan MSG dalam makanan
1.2.1. Kaitan MSG dengan cita rasa makanan
MSG memiliki rasa yang berbeda dengan 4 rasa klasik lainnya (manis, asam, pahit,
dan asin) (Fuke, S. & Shimizu, T, 1993). Rasa ini disebut umami yang memiliki
makna gurih (savory, broth-like, meaty). Bahkan penelitian di University of Miami,
School of Medicine menunjukkan bahwa lidah memiliki reseptor terhadap rasa
umami (Chaudhari, N., Landin, A.M. & Roper, S. A, 2003). MSG yang sudah larut
dalam makanan akan melepas ion glutamat lalu mengikat rasa makanan lebih
6

kuat.
MSG juga memiliki efek sinergis terhadap Disodium inosinat dan Disodium
guanilat, yang terdapat pada daging, ikan, sayuran, dan jamur. 2 senyawa ini tidak
akan berasa tanpa adanya MSG. Penambahan sedikit saja MSG, maka makanan
yang mengandung nukleotida Disodium inosinat dan Disodium guanilat akan
memiliki rasa 6-8 kali lebih kuat. (Kauffman, 2004)
1.2.2. MSG dalam Masakan
Di Selandia Baru, zat aditif makanan harus dicantumkan pada label kemasan. Badan
yang berhak memberi label adalah The Australian New Zealand Food Standards
Code. Masakan/makanan yang mengandung MSG atau penguat rasa yang lain harus
dicantumkan kandungannya. Berbagai zat aditif yang harus ada di label kemasan,
ada pada tabel berikut.












Sedangkan beberapa bahan pangan yang secara alami memiliki molekul glutamat
adalah :

No Zat Aditif
1 L -glutamic acid
2 Monosodium glutamate, L-
3 Monopotassium glutamate, L-
4 Calcium glutamate, Di-L-
5 Monoammonium glutamate, L-
6 Magnesium glutamate, Di-L-
7 Disodium guanylate, 5-
8 Disodium inosinate, 5-
9 Disodium ribonucleotides, 5-
No Bahan Pangan
1 Keju parmesan
7










1.2.3. Konsumsi MSG
Berdasarkan survei yang dilakukan Persatuan Pabrik Monosodium Glutamat &
Asam Glutamat Indonesia (P2MI), konsumsi MSG di Indonesia meningkat dari
100.568 ton pada 1998 menjadi 122.966 ton pada 2004 (diperkirakan 1,53
gram/orang/hari). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007, MSG dikonsumsi
oleh 77,8 persen populasi Indonesia.
1


Sedangkan data konsumsi MSG di beberapa negara di dunia ditunjukkan oleh table
berikut :








1.2.4. Pengaruh MSG terhadap metabolisme tubuh
MSG adalah zat aditif yang bisa menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Di

1
http://www.tempo.co/read/news/2012/01/19/173378387/Konsumsi-MSG-Indonesia-Meningkat
2 Konsentrat tomat
3 Saus kecap, ikan, tiram
4 Makanan yang mengandung
Hidrolyzed Vegetable
Protein (HVP)
Negara
Konsumsi MSG
(gram/orang/hari)
Taiwan 3,0
Korea 2,3
Jepang 1,6
Italia 0,4
Amerika Serikat 0,35
8

pankreas terdapat reseptor glutamat. Ketika kadar gula dalam darah terlalu tinggi,
maka pankreas akan melepaskan hormon insulin. (Husarova, Ostatnikova, 2013).
MSG menstimulasi pankreas untuk. MSG menstimulasi pankreas, mengakibatkan
rendahnya konsentrasi gula dalam darah. MSG juga menstimulasi hipotalamus,
mengakibatkan seseorang merasa lebih lapar. Jika konsumsi MSG diteruskan,
seseorang akan makan berlebihan, berat badan bertambah, merasa masih lapar, dan
menderita hipoglisemia (kadar gula rendah), dengan gejala sakit kepala. (Husarova,
Ostatnikova, 2013)
Dengan menstimulasi pelepasan insulin dari pankreas secara langsung, menurunkan
kadar gula darah. Dengan kata lain, MSG mengakibatkan seseorang menjadi lebih
lapar dibanding sebelumnya, bahkan lebih awal dari biasanya. Pengeluaran insulin
yang berlebihan dapat mengakibatkan obesitas dan resisten terhadap insulin.
Resisten terhadap insulin mengakibatkan diabetes mellitus tipe 2

1.3. Keuntungan MSG
1.3.1. Memperkuat cita rasa
Glutamat pada MSG yang sudah larut dalam makanan, akan bebas dan aktif.
Ketika glutamat sudah lepas dari asam amino lainnya, maka ia akan memiliki
kemampuan sebagai taste enhancer. Dengan konsentrasi sekitar 0,2 g/L saja, MSG
bisa memperkuat rasa sake (minuman beralkohol jepang) (Kauffman, 2004)
1.3.2. Mengurangi kadar natrium
MSG merupakan garam natrium. Kelebihan garam di dalam tubuh akibat konsumsi
garam dapur bisa menyebabkan pembengkakan karena sifat garam yang higroskopis
(menyerap air). Ambang batas konsumsi garam dapur adalah 2 g/L. Tetapi ternyata
kandungan natrium dalam MSG hanya sepertiga dari garam dapur. Sehingga dengan
pemakaian MSG, rasa yang dihasilkan akan tetap sama dengan penambahan garam
dapur pada makanan.
1.4. Kerugian MSG
Penyedap rasa MSG berpengaruh negatif terhadap kesehatan manusia. Gejala-gejala
seperti serangan ama, meningkatkan reaksi alergi, sindrom rumah makan China (badan
gemetar, jantung berdebar, serta keluar keringat dingin)
9

2. Hasil penelitian mengenai efek MSG terhadap kesehatan manusia
Pada tahun 1958, U.S Food and Drug Administration (FDA) mengkategorikan MSG sebagai
bahan tambahan pangan GRAS (Generally Recognized As Safe), bersama dengan bahan
pangan lainnya seperti garam, cuka, dan baking powder.
2
Tetapi beberapa penelitian
menunjukkan bahwa MSG tetap memiliki potensi menganggu metabolisme tubuh manusia,
seperti obesitas, asma, dan sindrom rumah makan China.
Langkah preventif yang bisa dilakukan adalah untuk menanggulangi efek samping MSG
adalah dengan mengonsumsi vitamin C 100 mg/kg/hari dengan asumsi konsumsi MSG
3g/kg/hari. Langkah ini bisa mengurangi efek racun terhadap sel syaraf. (Husarova,
Ostatnikova, 2013)
3. Aturan kualifikasi makanan BPOM
Berdasarkan Peraturan kepala badan pengawas obat dan makanan, Republik Indonesia,
nomor 23
tahun 2013 tentang batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan penguat rasa :

Bab 2, Pasal 2 tentang Ruang Lingkup Bahan Tambahan Pangan (BTP)
1. BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan/atau tidak diperlakukan
sebagai bahan baku pangan.
2. BTP dapat mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan ke
dalam pangan untuk tujuan teknologis pada pembuatan, pengolahan, perlakuan,
pengepakan, pengemasan, penyimpanan dan/atau pengangkutan pangan untuk
menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat
pangan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung.
3. BTP tidak termasuk cemaran atau bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk
mempertahankan atau meningkatkan nilai gizi
Sebagai produsen seharusnya kita tidak menyembunyikan BTP yang tidak memenuhi
persyaratan, kemudian yang kedua menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan
cara produksi pangan yang baik untuk pangan dan/atau menyembunyikan kerusakan pangan.

2
U.S. Department of Health and Human Services. Subpart A-General Provisions: Substances that are generally
recognized as safe. Code of Federal Regulations: Food and Drugs. Vol. 21, No. 182.1(a).
10

4. Sistem periodic unsur
Definisi dari sistem periodik adalah suatu sistem penggolongan unsur unsur berdasarkan
kemiripan sifat sifat fisis dan kimia. Penggolongan unsur unsur pada sistem periodik
yang disusun berdasarkan nomor atom dan kemiripan sifat unsur unsurnya, dalam baris
horizontal disebut periode dan kolom kolom vertical disebut golongan (group) atau
keluarga (family). Periode disusun berdasarkan kenaikan nomor atomdan tingkat energy
dasar suatu unsur sedangkan golongan disusun berdasarkan kemiripan sifat kimia dan fisika
unsur unsurnya. Unsur yang terdapat dalam satu golongan memiliki elektron valensi yang
sama. Manfaat dalam penyusunan unsur unsur dalam suatu sistem periodik adalah agar
dapat memudahkan dalam mempelajari unsur unsur yang ada dan memudahkan dalam
pengaturan mengenai struktur dan sifat sifat unsur berdasarkan kemiripan yang kuat antara
satu unsur dengan unsur yang lainnya, meskipun setiap unsur memiliki sifat khas yang
membedakan unsur tersebut dengan unsur yang lain.

5. Pengetahuan tentang Sistem Periodik Unsur
Komponen yang terdapat dalam sistem periodik unsur terbagi meenjadi 2 yaitu deret vertical
yang disebut golongan dan deret horizontal yang disebut periode. Faktor faktor penting
yang menetukan kemiripan sifat suatu unsur yaitu konfigurasi elektron. Konfigurasi elektron
sangat penting karena dapat menentukan jumlah kulit dan jumlah elektron valensi suatu
unsur. Unsur - unsur yang memiliki jumlah kulit yang sama tersusun dalam satu periode,
sedangkan unsur unsur yang memiliki elektron valensi yang sama tersusun dalam satu
golongan. Ketika kita sudah dapat mengidentifikasi suatu unsur pada golongan dan
periodenya, kita dapat menentukan kemiripan sifat suatu unsur dengan unsur yang lain.
Sifat sifat unsur dan kecenderungannya dalam sistem periodik
1. Jari jari atom
Jari jari atom adalah jarak dari inti atom ke lintasan elektron terluar.
Dalam satu periode, dari kiri ke kanan jari jari atom berkurang.
Dalam satu golongan, dari atas ke bawah jari jari atom bertambah.

2. Potensial ionisasi
11

Potensial ionisasi adalah energy yang diperlukan untuk melepaskan elektron yang
paling lemah atau luar dari atom suatu unsur atau ion dalam keadaan gas.
Dalam sutu periode, dari kiri ke kanan potensial ionisasi bertambah.
Dalam satu golongan, dari atas ke bawah potensial ionisasi berkurang.

3. Afinitas elektron
Afinitas elektron adalah besarnya energy yang dibebaskan pada saat atom suatu
unsur dalam keadaan gas menerima elektron.
Dalam suatu periode, dari kiri ke kanan afinitas elektron bertambah.
Dalam suatu golongan, dari atas ke bawah afinitas elektron berkurang.

4. Keelektronegatifan
Keelektronegatifan adalah kemampuan atom suatu unsur untuk menarik atau
menangkap elektron kearah intinya dan digunakan bersama.
Dalam suatu periode, dari kiri ke kanan keelektronegatifan bertambah.
Dalam suatu golongan, dari atas ke bawah keelektronegatifan berkurang.

5. Sifat logam
Sifat logam adalah kecenderungan suatu unsur untuk melepaskan elektron dan
membentuk ion positif.
Dalam suatu periode, dari kiri ke kanan sifat logam berkurang, sedangkan sifat
non logam bertambah.
Dalam suatu golongan, dari atas ke bawah sifat logam bertambah, sedangkan sifat
non logam berkurang.

6. Kereaktifan
Kereaktifan yaitu skala yang dapat menjelaskan kecenderungan atom suatu unsur
untuk menarik elektron menuju unsur tersebut dalam suatu ikatan.
Dalam suatu periode, dari kiri ke kanan sifat kereaktifan semakin
bertambah.
12

Dalam suatu golongan, dari atas ke bawah sifat kereaktifan semakin
berkurang.

7. Titik leleh dan titik didih
Dalam suatu periode, dari kiri ke kanan titik leleh dan titik didih suatu
unsur semakin berkurang.
Dalam suatu golongan, dari atas ke bawah titik leleh dan titik didih suatu
unsur semakin bertambah.

Sifat sifat periodik unsur secara singkat dapat dilihat dalam table berikut :
No Sifat Periodik Periode
(kiri
kanan)
Golongan
(atasbawah
)
1 Jari jari atom - +
2 Potensial Ionisasi + -
3 Afinitas Elektron + -
4 Keelektronegatifan + -
5 Sifat Logam + -
6 Kereaktifan + -
7 Titik Leleh dan Titik
Didih
- +
Keterangan :
+ : bertambah
- : berkurang

6. Manfaat pengetahuan tentang sifat-sifat unsur

Manfaat mengetahui sifat sifat unsur yang terdapat dalam sistem periodik diantaranya yaitu
13

kita dapat mengetahui sifat sifat yang terdapat di sekitar kita, seperti air, udara, makanan,
tanaman, dan lain lain. Selain itu kita juga dapat menciptakan dan merekayasa suatu zat
untuk kepentingan tertentu, seperti pada bidang farmasi dan kesehatan. Pada bidang industry,
kita dapat memanfaatkan pengetahuan tentang sifat unsur untu pembuatan kain atau plastic
dari polimer sintetis sepertu katun, wol, dan pipa paralon.


7. Jenis jenis bentuk geometri senyawa kimia :
Nama Sudut
ikatan
Jumlah
PEI (X)
Jumla
h PEB
(E)
Rumu
s
(AX
n
E
m
)
Bentuk Molekul Contoh
senyawa
Linear 180 2 0 AX
2


CO
2

Trigonalplana
r
120 3 0 AX
3


BF
3

Planarhuruf V 2 1 AX
2
E

SO
2

Tetrahedral 4 0 AX
4


CH
4

Piramida
trigonal
3 1 AX
3
E

NH
3

14

Planar bentuk
V
2 2 AX
2
E
2


H
2
O
Bipiramidatrig
onal
5 0 AX
5


PCl
5

Bipiramida
trigonal
4 1 AX
4
E

SF
4

Planar bentuk
T
3 2 AX
3
E
2


ClF
3

Linear 2 3 AX
2
E
3


XeF
2

Oktahedral 90 6 0 AX
6


SF
6

Piramida
segiempat
5 1 AX
5
E

BrF
5

Segiempatdatar 4 2 AX
4
E
2


XeF
4


Keterangan :
15

PEB : Pasangan Elektron Bebas
PEI : Pasangan Elektron Ikat
A : Atom Pusat
X
n
: Jumlah atom yang diikat atom pusat
E
m
: Jumlah pasangan elektron bebas
Peramalan bentuk geometri molekul atau senyawa kimia dengan menggunakan teori VSEPR
yaitu dengan menghitung jumlah elektron yang terlibat dalam pembentukan ikatan.
1. Menentukan elektron valensi atom pusat
2. Menentukan muatan molekul senyawa.
Jika molekulnya netral, maka muatannya 0
Jika molekulnya bermuatan positif, menunjukkan bahwa molekul senyawa tersebut
kekurangan elektron
Jika muatannya bermuatan negative, menunjukkan bahwa molekul senyawa tersebut
kelebihan elektron
3. Menentukan jumlah elektron atom yang terikat oleh atom pusat yang dipakai untuk
berikatan.
4. Menentukan jumlah elektron keseluruhan yang terlibat dalam ikatan, jumlah PEI dan
PEB.
5. Menentukan bentuk molekul berdasarkan jumlah PEI dan PEBnya.

8. Garam beryodium merupakan garam NaCl yang difortifikasi dengan kalium iodida. Kalium
iodida terbentuk atas unsur K dan I. Unsur K memiliki nomor atom 19 ( []

),
sehingga kalium berada di golongan IA periode 4. Unsur I memiliki nomor atom 53
( []

) sehingga iodium berada di golongan VIIA periode 5.


Bilangan kuantum unsur K dan I berdasarkan konfigurasi elektron di atas yaitu :
Bilangan kuantum terakhir Kalium Iodium
utama (n) 4 5
azimuth (l) 0 1
16

magnetic (m) 0 0
spin (s) -


Orbital pada kalium terisi penuh kecuali di orbital



0

Orbital pada iodium terisi penuh kecuali di orbital




-1 0 1

Reaksi pembentukan KI adalah sebagai berikut :



III. PENUTUP
Monosodium Glutamat (MSG) merupakan bahan tambah pangan yang berguna untuk
menyedapkan cita rasa makanan. Berdasarkan berbagai penelitian, MSG aman untuk dikonsumsi
sejauh tidak melebihi batas ambang konsumsi yang diperbolehkan. Konsumsi yang berlebihan
tetap memiliki efek negatif untuk metabolisme tubuh manusia.
Penyusunan unsur dalam tabel periodik memudahkan kita untuk mengenal dan merekayasa suatu
zat tertentu berdasarkan kemiripan sifat unsur. Selain itu kita juga bisa mengidentifikasi sifat
senyawa berdasarkan sifat-sifat unsur yang menyusunnya.




17



IV. DAFTAR PUSTAKA
Veronika Husarova and Daniela Ostatnikova, "Monosodium Glutamate Toxic Effects and Their
Implications for Human Intake: A Review" JMED Research, Vol. 2013 (2013), Article ID 608765, DOI:
10.5171/2013.608765
International Food Information Council Foundation (IFIC), Glutamate and Monosodium Glutamate:
Examining the Myth
Kauffman, G. B.The Monosodium Glutamate Story: The Commercial Production of MSG and Other
Amino Acids. Journal of Chemical Education, Vol 8 (2004)
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2013
Tentang Batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan penguat rasa.
Salirawati, Das. 2007. Belajar Kimia secara Menarik. Jakarta : Graasindo
Arisworo, Djoko. 2006. Ilmu Pengetahuan Alam (Fisika, Biologi, Kimia) Kelas VII Jilid 1. Grafindo
Media Pratama.
http://www.ilo.org/legacy/english/protection/safework/ghs/ghsfinal/ghsc10.pdf (Diunduh pada tanggal
17 September 2014, pukul 08.15)
http://www.freeradical.org.au/education.php?page=6 (Diunduh pada tanggal 17 September 2014 pukul
08.20)
http://www.dpi.nsw.gov.au/agriculture/resources/soils/improvement/environment (Diunduh pada tanggal
19 September 2014, pukul 11.30)
http://www.ncagr.gov/cyber/kidswrld/plant/nutrient.htm (Diunduh pada tanggal 20 September 2014,
pukul 17.50)
http://www.newworldencyclopedia.org/entry/fertilizer#Health_and_sustainability_issues (Diunduh
pada tanggal 20 September 2014, pukul 21.20)