Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PROPERTI MATERIAL

MODUL III.5
ANALISA SARINGAN AGREGAT HALUS

KELOMPOK : 5
1. Masrul Wisma Wijaya

1406533296

2. Nobel Kristian Telaumbanua 1406603402


3. Naufal Maulana

1406533270

4. Anisa Wulandari

1406533314

Hari/Tanggal Praktikum

: Minggu, 25 Oktober 2015

Asisten Praktikum

: Feny Acelia Silaban

Tanggal Disetujui

Nilai

Paraf

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2015

III.5 ANALISA SARINGAN AGREGAT HALUS


I.

TUJUAN PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian butir (gradasi) agregat
halus dengan menggunakan saringan dan Fineness Modulus agregat kasar tersebut.

II.

PERALATAN PERCOBAAN
1. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0.2% dari berat benda uji.
2. Satu set saringan: No. 4, No. 8, No. 16, No. 30, No. 50, No. 100, No. 200
(Standar ASTM)
3. Oven yang dilengkapi dengan pengukur suhu untuk memanasi sampai
(1105)C.
4. Mesin penggetar saringan untuk agregat halus.
5. Talam-talam.
6. Stopwatch.

III.

BAHAN PERCOBAAN
1. Benda uji berupa agregat halus sebanyak 500 gram.

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN
1. Mengambil benda uji berupa pasir dari penyimpanan agregat di laboratorium.
2. Mengeringkan benda uji di dalam oven dengan suhu (1105)C, sampai berat
tetap (kurang lebih 24 jam di oven).
3. Mengambil benda uji sebanyak 500 gram.
4. Menyusun saringan dari atas ke bawah dengan ukuran No. 4, No. 8, No. 16,
No. 30, No. 50, No. 100, No. 200 dan pan.
5. Menambahkan tutup saringan diatas saringan No. 4
6. Mengguncangkan saringan berisi 500 gram benda uji dengan mesin
pengguncang selama 15 menit.
7. Menimbang berat benda uji yang tertahan di setiap saringan hingga ke pan.

V.

DATA HASIL PERCOBAAN


Berat Tertahan
No.

Saringan

(gram)

1.

No. 4

2.

No. 8

40

3.

No. 16

80

4.

No. 30

120

5.

No. 50

80

6.

No. 100

100

7.

No. 200

Pan

80
500

VI.

PENGOLAHAN DATA PERCOBAAN

No.

Saringan

Berat

Persentase

Berat Tertahan

Tertahan

Berat

(gram)

Kumulatif

Tertahan

(gram)

(%)

Persentase

Persentase

Berat

Berat Lolos

Tertahan

Kumulatif

Kumulatif

(%)

(%)

1.

No. 4

2.

No. 8

40

40

3.

No. 16

80

120

16

24

4.

No. 30

120

240

24

48

5.

No. 50

80

320

16

64

6.

No. 100

100

420

20

84

7.

No. 200

420

84

8.

Pan

80

500

16

100

100

312

500

100
92
76
52
36
16
16
0

GRAFIK PERSENTASE PASSING KUMULATIF


% Passing Kumulatif

Batas Bawah Gradasi Standar

Batas Atas Gradasi Standar

120
100

% KUMULATIF

80
60
40
20
0
PAN

200

100

50

30

NO. SARINGAN

16

Perhitungan Fineness Modulus (FM) berdasarkan tabel persentase tertahan kumulatif.

Persentase Berat
No.

Saringan

Tertahan
Kumulatif (%)

1.

No. 4

2.

No. 8

3.

No. 16

24

4.

No. 30

48

5.

No. 50

64

6.

No. 100

84

7.

No. 200

84

VII.

312

312
=
= .
100
100

ANALISA
1. Analisa Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan gradasi agregat halus dengan
menggunakan saringan serta menghitung nilai kehalusan butir agregat, atau
yang biasa disebut modulus kehalusan (fineness modulus). Benda uji yang
digunakan adalah agregat halus berupa pasir yang berasal dari penyimpanan
agregat halus di laboratorium.
Praktikan mengambil benda uji sebanyak kira-kira 1 talam berisi agregat
halus kemudian praktikan menempatkan benda uji tersebut ke dalam oven pada
suhu 1105C selama 244 jam. Pengovenan ini bertujuan untuk menguapkan
air yang masih terkandung di dalam benda uji. Pemilihan suhu 1105 C adalah

supaya air yang terkandung di dalamnya benar-benar menguap, karena titik


didih air berada pada suhu 100 C. 110 C merupakan suhu yang optimal untuk
mengeringkan benda uji.
Agregat halus yang sudah dioven selama 244 jam diambil lalu disaring
terlebih dahulu melalui saringan No. 4 sebanyak 500 gram. Karena benda uji
yang digunakan praktikan berasal dari penyimpanan agregat yang sudah
bercampur dengan bahan-bahan lain, maka penyaringan harus dilakukan untuk
mendapatkan kriteria agregat halus yang berukuran maksimal 4,75 mm.
Kemudian saringan disusun dengan urutan saringan dari atas ke bawah
No. 4, No. 8, No. 16, No. 30, No. 50, No. 100, No. 200. Semakin bawah ukuran
saringan semakin kecil yang bertujuan untuk menyaring berbagai ukuran benda
uji, sehingga akan tertahan sesuai besar ukuran saringan dan dapat diketahui
persebarannya (gradasi). Pan diletakkan di paling bawah untuk menampung
sisa-sisa agregat halus yang lolos saringan No. 200, yang bisa dikatakan sebagai
debu. Praktikan tetap ingin mengukur hasil yang tertahan di pan dengan berat
keseluruhan sehingga praktikan bisa yakin bahwa tidak ada benda uji yang
hilang saat percobaan.
Saringan yang telah disusun sedemikian rupa ditambahkan pan di
bawahnya serta penutup di bagian paling atas. Saringan tersebut kemudian
digetarkan dengan mesin penggetar selama 15 menit. Setelah itu, praktikan
menimbang berat agregat halus yang tertahan di masing-masing saringan
(termasuk pan) untuk mengamati persebaran (gradasi) dari agregat halus itu
sendiri.

2. Analisa Hasil
Data yang diperoleh dari percobaan adalah berat benda uji yang tertahan
di setiap saringan setelah penggetaran dengan mesin penggetar. Didapat data
bahwa yang tertahan di saringan No. 4 tidak ada, No. 8 sebesar 40 gram, No. 16
sebesar 80 gram, No. 30 sebesar 120 gram, No. 50 sebesar 80 gram, No. 100
sebesar 100 gram, No. 200 tidak ada, dan sisa debu di pan adalah sebanyak 80
gram. Dari total berat 500 gram, maka tidak ada berat yang hilang karena jumlah
totalnya sama. Saringan yang menampung benda uji paling banyak adalah
saringan no. 30 yaitu sebesar 120 gram dan saringan yang menampung benda
uji paling sedikit adalah No. 4 dan No. 200 (tidak ada benda uji tertahan sama

sekali). Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh praktikan, didapat nilai


modulus kehalusan (fineness modulus) sebesar 3,12.
Agregat berkontribusi pada sekitar 85% volume total beton, dimulai dari
ukuran terkecil agregat halus yaitu 150 micron dan ukuran terbesar agregat
kasar yaitu 80 mm. Gradasi agregat sangat berpengaruh pada workability dan
karakter akhir pada beton segar. Sampel agregat yang memiliki gradasi bagus
tentu memiliki semua fraksi agregat dalam proporsi yang cukup dan akan
meminimalisir jumlah rongga di dalam beton ketika dipakai nantinya. Hal ini
akan mengurangi jumlah pasta semen (yang berfungsi sebagai perekat dan
pengisi rongga) pada campuran beton sehingga beton akan bersifat ekonomis,
kuat, dan tahan lama.
Gradasi agregat merupakan hal yang sangat penting. Pada percobaan ini,
praktikan berpedoman pada tabel gradasi standar agregat halus (gradation
requirements for fine aggregates) LS-602 OPSS.MUNI 1002. Praktikan
kemudian membandingkannya dengan hasil percobaan yang tertera pada tabel
berikut;

% Lolos

% Lolos percobaan

No.

Saringan

1.

No. 4

95-100

100

2.

No. 8

80-100

92

3.

No. 16

50-85

76

4.

No. 30

25-60

52

5.

No. 50

10-30

36

6.

No. 100

0-10

16

7.

No. 200

0-3 (Pasir alam)

16

( LS-602 OPSS.MUNI 1002)

0-6 (Pasir manufaktur)

Berdasarkan tabel gradasi, saringan No.4 sampai No. 30 masih sesuai


dengan standar LS-602 OPSS.MUNI 1002. Namun mulai saringan No. 50
sampai No. 200 terjadi penyimpangan persentase, yaitu hasil yang didapat
praktikan berada pada presentase lebih besar dibanding persentase standar.
Hasil ini dapat direkayasa untuk mendapatkan gradasi yang lebih baik lagi, yaitu
dengan cara mengurangi persentase berat tertahan yang tidak sesuai agar setara
dengan standar yang digunakan. Misalkan pada saringan No. 50 praktikan
mendapatkan hasil 36%, maka praktikan harus menguranginya sebesar 6% dari
berat tertahan (30 gram) agar sesuai dengan standar. Rekayasa ini juga
diterapkan pada saringan No. 100 (mengurangi 6%) dan No. 200 (mengurangi
10%-12%). Namun secara umum dari grafik perbandingan passing kumulatif,
praktikan mendapatkan gradasi yang cukup baik.
Selain itu praktikan juga mendapatkan data modulus kehalusan.
Modulus kehalusan adalah indeks kehalusan praktikan mendapatkan gradasi
yang cukup baik.dari suatu material. Semakin kecil nilai modulus kehalusan,
maka semakin halus material tersebut. Nilai modulus kehalusan pada agregat
halus digunakan sebagai parameter untuk menentukan batasan material pasir.
Pasir halus memiliki modulus kehalusan 2.2 2.6, pasir medium memiliki
modulus kehalusan 2.6 2.9, dan pasir kasar memiliki modulus kehalusan 2.9
3.2. Pasir/agregat halus yang memiliki modulus kehalusan lebih dari 3.2 tidak
cocok digunakan karena tidak akan bisa mengisi rongga pada beton itu sendiri
dan menandakan bahwa ia hampir menyerupai agregat kasar. Praktikan
mendapatkan nilai modulus kehalusan sebesar 3.12, sehingga agregat halus ini
cocok digunakan pada campuran beton karena masih termasuk kategori pasir
kasar.

3. Analisa kesalahan.
i. Alat
Kesalahan yang terjadi yaitu pada alat pengguncang saringan,
karena baut pengencang saringan tidak kuat menahan satu set saringan
yang telah disusun praktikan, sehingga praktikan harus memegang baut
secara manual agar saringan tidak jatuh dari tempatnya. Hal ini
menyebabkan mesin penggetar tidak bergetar sempurna dan kurang
optimal dalam menyaring agregat yang seharusnya bisa tersaring.

ii. Paralaks
Tidak ada.

iii. Praktikan
Pada

saat

menghitung

durasi

penggetaran,

praktikan

menggunakan stopwatch digital. Hal ini membuat kesalahan paralaks


sedikit sekali terjadi atau tidak ada, namun praktikan tidak benar-benar
tepat mengukur selama 15 menit tepat, melainkan lebih selama beberapa
detik. Ketidakakuratan ini membuat agregat yang seharusnya bisa
tersaring bisa saja tidak tersaring dan tertahan di saringan tertentu.

VIII.

KESIMPULAN
1. Gradasi agregat halus yang diuji didominasi agregat berukuran No. 30 (0.6 mm)
dan gradasinya cukup baik.
2. Nilai modulus kehalusan (fineness modulus) agregat halus pada percobaan
adalah 3.12 dan termasuk kategori pasir kasar.

IX.

REFERENSI
Lab Struktur dan Material DTS FTUI. 2015. Pedoman Praktikum Pemeriksaan Bahan
Beton dan Mutu Beton. Depok: Lab Struktur dan Material DTS FTUI.
Shetty, M.S. 1982. Concrete Technology. New Delhi : S. Chand & Company LTD.
__. 2015. Grading Limits for Aggregates. Diunduh dari
http://theconstructor.org/practical-guide/grading-limits-for-aggregates/2383/
__. 2015. Standard List. Diunduh dari
http://applications.roadauthority.com/Standards/?Id=A0B22255-D15F-4FB7BE98-7AEB50E4F6D9
Ontario Provincial Standard Specification. 2013. Material Specification for
Aggregates Concrete. Ontario: OPSS

X.

LAMPIRAN

Gambar 1 : Proses memasukkan benda uji

Gambar 2 : Proses penggetaran

ke dalam 1 set saringan

dengan mesin penggetar