Anda di halaman 1dari 33

ALIRAN KALAM DALAM ISLAM

Dewi Setianingrum1, Siska Fitrianingrum2 Tingkat IV Teknik Kripto1, Tingkat IV Teknik Rancang Bangun Peralatan Sandi2 Sekolah Tinggi Sandi Negara

Abstraksi Ilmu kalam telah ada sejak dahulu kala dan diajarkan oleh 25 nabi untuk meyakinkan bahwa Allah adalah pencipta seluruh alam semesta. Hingga pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam adalah umat yang satu akidah, satu syariah, dan satu akhlaqul karimah. Jikalau terdapat perselisihan pendapat, maka hal tersebut dapat langsung diatasi dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi. Namun, ketika masa peninggalan Nabi Muhammad SAW ilmu kalam mengalami perkembangan seiring dengan banyaknya pemikiran umat Islam. Dalam paper ini akan dijelaskan mengenai latar belakang munculnya ilmu kalam yang beraneka ragam tersebut, faktor yang menimbulkannya, serta penjelasan dari macam ilmu kalam tersebut. I. PENDAHULUAN Kalam secara etimologis berarti kata-kata, namun dalam kajian Islam kalam sering digunakan untuk menunjukkan firman Allah, demikian juga dengan ajaran-ajaran dasar Islam (aqidah) sering disebut dengan ilmu kalam. Ahmad Amin menjelaskan bahwa disebut ilmu kalam karena masalah pokok yang menjadi perbedaan pendapat pada bidang aqidah adalah masalah kalam Allah dan penciptaan Alquran, atau karena pembuktian pokok-pokok ajaran agama menyerupai ilmu mantiq (logika) dalam membangun berbagai argumentasi.1 Pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW, umat Islam masih dalam kesatuan dalam berbagai aspek kehidupan agama, termasuk masalah aqidah (tauhid). Penamaan aqidah pada saat itu langsung di bawah bimbingan Rasulullah SAW, baik melalui penjelasan, nasehat, maupun dalam bentuk sikap dan tingkah laku beraqidah. Keadaan seperti ini menjadikan umat Islam tidak mengalami kesulitan dalam memecahkan berbagai persoalan keagamaan, karena masih ada sosok Rasulullah SAW yang akan menjelaskan
1

Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte Dalam Khawarij. Jurusan Bahasa Arab Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, hal 1 mengutip dari pernyataan Ahmad Amin, Duha al-Islam, Beirut : Dar al-Kutb al-Arabiyah.

segala permasalahan tersebut, sehingga tidak ada masalah aqidah yang tidak terselesaikan yang kemudian ditaati dan menjadi pedoman bagi umat Islam. Pada masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas yang menyebabkan persoalan-persoalan keagamaan pun semakin beragam, termasuk masalah aqidah. Tetapi setelah Umar bin Khattab wafat dan Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah ketiga, maka muncullah berbagai persoalan di kalangan umat Islam, persoalan yang berawal dari masalah kekhalifahan (persoalan politik) hingga menyebar ke masalah aqidah. Awal mula adanya perselisihan dipicu oleh Abdullah bin Saba (seorang yahudi) pada pemerintahan khalifah Utsman bin Affan dan berlanjut pada masa khalifah Ali. Dan awal mula adanya gejala timbulnya aliran-aliran adalah sejak kekhalifahan Utsman bin Affan. Pada masa itu di latar belakangi oleh kepentingan kelompok, yang mengarah pada terjadinya perselisihan sampai terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Kemudian digantikan oleh Ali bin Abi Thalib, pada masa itu Ali langsung mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin menjadi khalifah, tantangan pertama muncul dari Talhah dan Zubeir dari Mekkah, tantangan kedua muncul dari Muawiyah dan keluarga dekat Usman bin Affan, yakni tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Tantangan dari Talhah dan Zubeir melahirkan perang jamal (unta) yang berakhir dengan kemenangan dipihak Ali, dan tantangan dari Muawiyah melahirkan perang Siffin yang diselesaikan denga tahkim (arbitrase)2. Namun kemudian terjadi ketidakadilan dalam tahkim yang mengakibatkan sebagian pendukung Ali bin Abi Thalib keluar dari barisan Ali dan memnbentuk kelompok dengan nama khawarij. Disatu sisi, muncul pula kelompok bau pembela Ali bin Abi Thalib yakni kelompok Syiah. Khawarij memandang Ali, Muawiyah Amr bin Ash, Abu Musa al-Asyari dan lainlain yang menerima tahkim adalah kafir, sesuai dengan Alquran dalam QS. Al Maaidah : 44, yaitu

Artinya : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
2

usaha perantara dalam meleraikan sengketa (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Disamping munculnya persoalan mumin dan kafir, muncul persoalan tentang kehendak dan perbuatan manusia. Apakah manusia memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat, ataukah manusia melakukannya dengan terpaksa. Aliran yang membahas mengenai masalah ini adalah Qadariyah dan Jabariyah. Kemudian pada masa selanjutnya, Mutazilah mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Arab sehingga pengaruh filsafat Yunani mulai muncul dan membawanya ke lapangan teologi. Sebagai antitesa terhadap pandangan Mutazilah yang rasional, maka muncullah aliran al-Asyariyah dan al-Maturidiyah yang juga disebut sebagai golongan tradisional Islam. Bermula dari itulah akhirnya timbul berbagai aliran di kalangan umat islam, masing-masing kelompok juga terpecah belah, akhirnya jumlah aliran di kalangan umat islam menjadi banyak, seperti aliran syiah, khawarij, murjiah, dan lain-lain. II. FAKTOR-FAKTOR TIMBULNYA ALIRAN KALAM DALAM ISLAM Faktor yang menyebabkan timbulnya aliran kalam dalam Islam dapat

dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu : 2.1 Faktor Internal a) Adanya pemahaman dalam Islam yang berbeda Perbedaan ini terdapat dalam hal pemahaman ayat Al-Quran, sehingga berbeda dalam menafsirkan pula. Mufasir satu menemukan penafsirannya berdasarkan hadist yang shahih, sementara mufasir yang lain penafsirannya belum menemukan hadist yang shahih. Bahkan ada yang mengeluarkan pendapatnya sendiri atau hanya mengandalkan rasional belaka tanpa merujuk kepada al Quran dan hadist. b) Adanya penyerapan tentang hadist yang berbeda Penyerapan hadist berbeda yaitu ketika para sahabat menerima berita dari para perawinya dari aspek matan ada yang disebut hadist riwayah (asli dari Rasul) dan diroyah (redaksinya disusun oleh para sahabat), ada pula yang di pengaruhi oleh hadist (israiliyah), yaitu hadist yang disusun oleh orang-orang yahudi dalam rangka mengacaukan islam. Oleh karena itu diperlukan suatu debat penentangan terhadap ajaran sesat yang ingin menjerumuskan Islam,
3

dalam Alquran pada QS. An-Nahl : 125 tertulis bagaimana cara melakukan perdebatan itu, yaitu :

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Perintah ini menuntut umat Islam untuk mempelajari cara melakukan perdebatan dengan baik, hal ini mendorong munculnya ilmu Kalam. c) Adanya kepentingan kelompok atau golongan Kepentingan kelompok pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sangat jelas, dimana syiah sangat berlebihan dalam mencintai dan memuji Ali bin Abi Thalib, sedangkan khawarij sebagai kelompok yang sebaliknya. d) Mengedepankan akal Dalam hal ini, akal di gunakan setiap keterkaitan dengan kalam sehingga terkesan berlebihan dalam penggunaan akal, seperti aliran Mutazilah. e) Adanya kepentingan politik Kepentingan ini bermula ketika ada kekacauan politik pada zaman Ustman bin Affan yang menyebabkan wafatnya beliau, kepentingan ini bertujuan sebagai sumber kekuasaan untuk menata kehidupan. 2.2 Faktor Eksternal a. Akibat pengaruh dari luar Islam Pengaruh ini terjadi ketika munculnya aliran syiah yang muncul karena propaganda seseorang yahudi yang mengaku islam, yaitu Abdullah bin Saba.
4

b.

Akibat terjemahan filsafat Yunani Buku-buku karya filosofi yunani di samping banyak membawa manfaat juga ada sisi negatifnya bila di tangan kalangan yang tidak punya pondasi yang kuat tentang akidah dan syariat islam. Sehingga terdapat keinginan oleh umat islam untuk membantah alasan-alasan mereka yang memusuhi islam.

III.

ALIRAN-ALIRAN KALAM DALAM ISLAM 3.1 Syiah


a) Pengertian dan latar belakang timbulnyaaliran Syiah

Secara bahasa Syiah berarti pengikut. Yang dimaksud dengan pengikut disini ialah para pendukung Ali bin Abi Thalib. Secara istilah Syiah sering dimaksudkan pada kaum muslimin yang dalam bidang spritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW, atau yang sebut sebagai ahl al-bait. Selanjutnya, istilah syiah ini untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (syiah Ali), pemimpin pertama ahl- al bait pada masa Nabi Muhammad SAW. Para pengikut Ali yang disebut syiah ini diantaranya adalah Abu Dzar al Ghiffari, Miqad bin Al aswad dan Ammar bin Yasir. Mengenai latar belakang munculnya aliran ini, terdapat dua pendapat. Pertama, menurut Abu Zahrah Syiah mulai muncul pada akhir dari masa jabatan Usman bin Affan, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, Syiah benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Muawiyah yang dikenal dengan Perang siffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Muawiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali, kelak disebut Syiah dan kelompok lain menolak sikap Ali, yang disebut Khawarij.
b) Pokok-Pokok Pikiran Syiah

Kaum Syiah memiliki lima prinsip utama yang wajib dipercayai oleh penganutnya. Kelima prinsip itu adalah :
5

1. Al Tauhid

Kaum Syiah mengimani sepenuhnya bahwa Allah itu ada, Maha esa, tunggal, tempat bergantung, segala makhluk, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang menyamainya. Dan juga mereka mempercayai adany sifat-sifat Allah.
2. Al Adl

Kaum Syiah mempunyai keyakinan bahwa Allah Maha Adil. Allah tidak melakukan perbuatan zhalim dan perbuatan buruk, ia tidak melakukan perbuatan buruk karena ia melarang keburukan, mencela kezaliman dan orang yang berbuat zalim.
3. Al Nubuwwah

Kepercayaan Syiah terhadap para Nabi-nabi juga tidak berbeda dengan keyakinan umat muslim yang lain. Menurut mereka, Allah mengutus sejumlah nabi dan rasul ke muka bumi untuk membimbing umat manusia. 4. Al Imamah Menurut Syiah, Imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia sekaligus, ia pengganti rasul dalam memelihara Syariat, melaksanakan Hudud, dan mewujudkan kebaikan dan ketentraman umat.
5. Al Maad

Maad berarti tempat kembali (hari akhirat), kaum Syiah sangat percaya sepenuhnya akan adanya hari akhirat, bahwa hari akhirat itu pasti terjadi.
c) Sektesekte dalam Syiah

Dalam perjalanan sejarah, kelompok Syiah akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin Imamah. Diantara sekte sekte Syiah tersebut adalah Itsna Asyariyah, Sabiyah, Zaidiyah, dan Ghullat. 3.2 Khawarij

a) Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Khawarij Aliran Khawarij merupakan Aliran teologi tertua yang merupakan aliran pertama yang muncul dalam teologi Islam. Menurut ibnu Abi Bakar Ahmad AlSyahrastani, bahwa yang disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah di sepakati para jemaah, baik ia keluar pada masa sahabat khulafaur rasyidin, atau pada masa tabiin secara baik-baik. Menurut bahasa nama khawarij ini berasal dari kata kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak.. Nama itu diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan Ali. Kelompok ini juga kadang kadang menyebut dirinya Syurah yang berarti golongan yang mengorbankan dirinya untuk Allah, di samping itu nama lain dari khawarij ini adalah Haruriyah, istilah ini berasal dari kata harura, nama suatu tempat dekat kufah, yang merupakan tempat mereka menumpahkan rasa penyesalannya kapada Ali bin abi Thalib yang mau berdamai dengan Muawiyah. Kelompok khawarij ini merupakan bagian dari kelompok pendukung Ali yang memisahkan diri, dengan beralasan ketidaksetujuan mereka terhadap sikap Ali bin abi Thalib yang menerima tahkim (arbitrase) dalam upaya untuk menyelesaikan persilisihan dan konfliknya dengan muawiyah bin abi sofyan, gubernur syam, pada waktu perang siffin. Latar belakang ketidaksetujuan mereka itu beralasan bahwa tahkim itu merupakan penyelesaian masalah yang tidak didasarkan pada ajaran Al-Quran, tapi ditentukan oleh manusia sendiri, dan orang yang tidak memutuskan hukum dengan al-quran adalah kafir. Dengan demikian, orang yang melakukan tahkim dan merimanya adalah kafir. Atas dasar ini, kemudian golongan yang semula mendukung Ali ini selanjutnya berbalik menentang dan memusuhi Ali beserta tiga orang tokoh pelaku tahkim lainnya yaitu Abu Musa Al-Asyari, Muawiyah bin Abi Sofyan dan Amr Bin Ash.Untuk itu mereka berusaha keras agar dapat membunuh ke empat tokoh ini, dan menurut fakta sejarah, hanya Ali yang berhasil terbunuh ditangan mereka. b) Tokoh-tokoh Khawarij Berikut merupakan tokoh-tokoh Khawarij yang penting, antara lain :
7

1.

Abdullah bin Wahab al-Rasyidi, pimpinan rombongan sewaktu berkumpul di Harura (pimpinan Khawarij pertama)

2. Urwah bin Hudair 3. Mustarid bin saad 4. Hausarah al-Asadi 5. Quraib bin Maruah 6. Nafi bin al-azraq 7. Abdullah bin Basyir 8. Zubair bin Ali 9.

Qathari bin Fujaah

c) Sekte-sekte dan ajaran pokok Khawarij Terpecahnya Khawarij ini menjadi beberapa sekte, mengawali dan mempercepat kehancurannya, sehingga Aliran ini hanya tinggal dalam catatan sejarah. Sekte-Sekte tersebut adalah:
1. Al-Muhakkimah 2. Al-Azariqah 3. Al-Najdat 4. Al-baihasyiah 5. Al-Ajaridah 6. Al-SaAlibah 7. Al-Ibadiah 8. Al Sufriyah

Secara umum ajaran-ajaran pokok Khawarij adalah:


1. Orang Islam yang melakukan Dosa besar adalah kafir; dan harus di bunuh.

2. Orang-orang yang terlibat dalam perang jamal (perang antara Aisyah,

Talhah, dan zubair, dengan Ali bin abi tahAlib) dan para pelaku tahkim, termasuk yang menerima dan mambenarkannya di hukum kafir.
3. Khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat. 4. Khalifah tidak harus keturunan Arab. Dengan demikian setiap orang

muslim berhak menjadi Khalifah apabila sudah memenuhi syarat-syarat.


5. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil

dan menjalankan syariat islam, dan dijatuhi hukuman mati bila zhalim.
6. Khalifah sebelum Ali adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa

kekhalifahannya Usman r.a dianggap telah menyeleweng,


7. Khalifah Ali dianggap menyelewang setelah terjadi Tahkim (Arbitrase).

3.3 Murjiah a) Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Murjiah Aliran Murjiah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagai mana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan tuhan, karena hanya tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mukmin, dan mangucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir. Pandangan mereka itu terlihat pada kata murjiah yang barasal dari kata arjaa yang berarti menangguhkan, mengakhirkan dan memberi pengharapan. Hal-hal yang melatarbelakangi kehadiran murjiah antara lain adalah :

1. Adanya perbedaan pendapat antara Syiah dan Khawarij; mengkafirkan

pihak-pihak yang ingin merebut kekuasaan ali dan mengkafirkan orang yang terlihat dan menyetujui tahkim dalam perang siffin.
2. Adanya pendapat yang menyalahkan aisyah dan kawan-kawan yang

menyebabkan terjadinya perang jamal.


3. Adanya pendapat yang menyalahkan orang yang ingin merebut kekuasaan

Usman bin Affan. b) Ajaran-ajaran Murjiah Ajaran-ajaran pokok murjiah dapat disimpulan sebagai berikut:
1. Iman hanya membenarkan (pengakuan) di dalam hati 2. Orang islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir. Muslim

tersebut tetap mukmin selama ia mengakui dua kalimat syahadat


3.

Hukum terhadap perbuatan manusia ditangguhkan hingga hari kiamat

c)

Tokoh dan sekte dalam Murjiah Dalam perkembangannya, Murjiah mengalami berbagai perbedaan pendapat dikalangan pengikutnya yang mendasari lahirnya aliran-aliran selanjutnya, aliran murjiah ini terpecah menjadi beberapa macam sekte, ada yang moderat, ada pula yang ekstrem. Tokoh murjiah Moderat antara lain adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits, yang berpendapat, bagaimanapun besarnya dosa seseorang, kemungkinan mendapat ampunan dari tuhan masih ada. Sedangkan yang ekstrem antara lain ialah kelompok Jahmiyah, pengikut Jaham bin Shafwan. Kelompok ini berpendapat, sekalipun seseorang menyatakan dirinya musyrik, orang itu tidak dihukum kafir.

3.4 Jabariyah a) Pengertian dan latar belakang timbulnya aliran Jabariyah

10

Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam AlMunjid, dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Dalam bahasa Inggris, jabariyah disebut fatalisme, yaitu paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan. Manusia tidak mampu melakukan sesuatu dan memang tidak bisa disebut mampu. Di dalam aktifitasnya, ia terpaksa karena tidak mempunyai kemampuan, kehendak, dan kebebasan. Pahala dan siksa serta kewajiban merupakan keterpaksaan seperti semua perbuatan.3 Faham al-jabar pertama kali diperkenalkan oleh Jad bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shufwan dari Khurasan. Aliran ini dimulai di kota Tirmizh (Iran Utara), dan dikenal juga dengan aliran Jahmiyah.4 Dalam perkembangan selanjutnya faham al-jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainnya Al-Husain bin Muhammad An-Najjar dan Jad bin Dirrar. Mengenai kemunculan faham al-jabar ini, para ahli sejarah pemikiran mengkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa Arab. Di antara ahli yang dimaksud adalah Ahmad Amin. Ia menggambarkan bahwa kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir Sahara memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Ketergantungan mereka kepada alam Sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam. Lebih lanjut, Harun Nasution5 menjelaskan bahwa dalam situasi demikian, masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Akhirnya, mereka banyak bergantung pada kehendak alam. Hal ini membawa mereka kepada sikap fatalisme.6

b) Dasar Ajaran Jabariyah


3

www.rdemha65.blogspot.com/2009/03/persoalan-kalam-satu.html, Pendapat ini dikutip dari pernyataan alSyahrastani. 4 Faham ini diduga berasal dari filsafat Yunani yang didirikan oleh Zeno (336-265 SM) dari kota Citium pada tahun 30 SM yang kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya. 5 Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan, UI Press, Jakarta, 1983, hal 31. 6 adalah ajaran atau paham bahwa manusia dikuasai oleh nasib (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

11

Dalam menyebarkan fahamnya, aliran ini menunjukkan dalil-dalil Alquran untuk mendukung pendapatnya, antara lain yaitu : QS. Ash-Shaffat : 96

Artinya : Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu QS. Al-Ihsan : 30

Artinya : Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
c) Tokoh-tokoh Jabariyah dan doktrinnya

Menurut Asy-Syahratsani, jabariyah dapat dikelompokan menjadi dua bagian, kelompok ekstrim dan moderat. Di antara totoh-tokoh Jabariyah ekstrim ialah sebagai berikut: 1. Jahm bin Shufwan Nama lengkapnya adalah Abu mahrus Jahm bin Shafwan. Ia berasal dari khurasan, namun bertempat tinggal di Khuffa. Ia seorang dai yang fasih dan lincah (orator). Ia menjabat sebagai sekretaris Haris bin Surais, seorang Mawali yang menentang pemerintah Bani Umaiyah di Khurasan. Ia ditawan dan dibunuh secara politis tanpa ada kaitannya dengan agama. Sebagai seorang penganut dan penyebar paham jabariyah, telah banyak usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar ke berbagai tempat, seperti ke Tirmidz dan Balk. Pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah sebagai berikut:

12

a) Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai

daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih terkenal dibanding dengan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan(nafyu as-sifat), dan melihat Tuhan di akhirat. b) Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan. c) Iman adalah marifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya sama dengan konsep iman yang diajukan kaum Murjiah. d) Kalam Tuhan adalah makhluq. Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar dan melihat. Begitupula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak. Dengan demikian beberapa hal, pendapat Jahm hampir sama dengan Murjiah,Mutazilah, dan Al-Asyari. 2. Jad bin Dirham Al-jad adalah seorang Maulana bani Hakim yang tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang kristen yang senang membicarakan teologi. Pada awalnya, ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan pemerintah Bani Umaiyah, tetapi setelah tampak pikiranpikirannya yang kontroversial, bani Umaiyah menolaknya. Kemudian Aljad lari ke Kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm serta mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebar luaskan. Doktrin pokok Jad secara umum sama dengan pikiran Jahm. AlGhuraby menjelaskannya sebagai berikut :
a) Alquran itu adalah makhluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang

dan

As-Ariah.

Itulah

sebabnya

para

pengkritik dan sejarawan menyebutnya dengan Al-Mutazili, Al-Murjii

baru itu tidak dapat disifatkan kepada Allah b) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat, dan mendengar
13

c)

Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya. Berbeda dengan Jabariyah Ekstrim, Jabariyah Moderat mengatakan

bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat, maupun perbuatan baik. Tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan di dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud dengan Kasab (Acquisitin). Menurut paham Kasab, manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan), tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan. Kemudian yang termasuk tokoh Jabariyah Moderat antara lain sebagai berikut : 1) An-Najjar Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar (wafat 230 H). Para pengikutnya disebut An-Najariyah. Diantara pendapat-pendapatnya antara lain :
a) Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia

bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Itulah yang disebut kasab dalam teori Al-Asyary. Dengan demikian, manusia dalam pandangan An-Najjar tidak lagi seperti wayang yang gerakannya tergantung pada dalang, sebab tenaga yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. b) Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (Marifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan.
2) Adh-Dhirar

Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan Husein An-Najjar, yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang.
14

Secara tegas, Dhirar mengatakan bahwa suatu perbuatan manusia dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan manusia tidak hanya dilakukan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri. Mengenai Ruyat Tuhan di akhirat, Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indra ke enam. Ia juga berpendapat bahwa Hujjah yang dapat diterima oleh Nabi adalah Ijtihad. Hadist ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum. 3.5 Qadariyah Istilah qadariyah berasal dari bahasa Arab yaitu qadara berarti memutuskan dan memiliki kekuatan, kemampuan atau kekuasaan. Pengertian qadariyah secara terminologi adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan, artinya tanpa campur tangan Tuhan7. Kemunculan aliran qadariyah memiliki berberapa versi yaitu :
1. Menurut Ahmad Amin, ahli teologi menyatakan bahwa aliran qadariyah

pertama kali didirikan oleh Ma`bad bin Khalid Al-Juhani pada tahun 79 H dan kepemimpinan selanjutnya digantikan oleh Ghaylan bin Marwan Al-Dimsyiqi yang bertempat tinggal di Damskus. Ghaylan merupakan seorang ahli pidato sehingga banyak orang tertarik dengan perkataan dan pendapatnya. Ayahnya merupakan maula (pembantu) Usman bin Affan.
2. Dalam kitab Syarh Al Uyun, Ibnu Nabatah mengatakan bahwa yang pertama

kali memunculkan aliran qadariyah adalah orang Irak yang beragama Kristen kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen yang bernama Susan. Sebagaimana dikatakan Muhammad Ibnu Syu`ib, orang Irak tersebut memperoleh informasi dari Al-Auzai. 3. W. Montgomery Watt dalam tulisan Hellmut Ritter dengan bahasa Jerman dipublikasikan oleh majalah Der Islam pada tahun 1933 menyatakan bahwa aliran qadariyah ditemukan dalam kitab Ar-Risalah yang ditujukan untuk Kholifah Abdul Malik karya Hasan Al-Basri sekitar tahun 700 M. Hasan AlBasri (642-728) merupakan anak tahanan di Irak, dilahirkan di Madinah tetapi
7

http://khofif.wordpress.com/2010/06/15/faham-qadariyah/. Pendapat ini dikutip dari pernyataan Wasil bin Atha`

15

tahun 657 pergi dan tinggi di Basrah hingga akhir hidupnya. Dalam kitab tersebut menjelaskan bahwa manusia berhak memilih mana yang baik dan buruk bagi dirinya. Dari perbedaan pendapat tentang asal usul qadariyah, Watt menyatakan bahwa Ma`bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqi adalah penganut qadariyah yang hidup setelah Hasan Al-Basri. Pernyataan tersebut dihubungkan dengan keterangan Adz-dhahabi dalam Mizan Al-I`tidal seperti dikutip oleh Ahmad Amin yang menyatakan bahwa Ma`bad Al-Jauhadi pernah berlajar pada Hasan Al-Basri. Sehingga mungkin bahwa aliran qadariyah dikembangkan oleh Hasan Al-Basri. Banyaknya pendapat mengenai asal usul aliran qadariyah merupakan kesulitan yang dialami oleh para peneliti dalam menentukan tentang tepat terjadinya pertama kali aliran qadariyah. Hal tersebut terjadi karena saat itu banyak yang menganut aliran qadariyah, antara lain :
-

Sebagian terdapat di Irak. Terbukti bahwa adanya gerakan tersebut di pengajian Hasan Al Basri. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Ibnu Nabatah yang menyatakan bahwa seseorang yang mencetuskan pendapat pertama tentang masalah tersebut adalah seorang Kristen dari Irak yang telah masuk Islam kemudian pendapat tersebut diambil oleh Ma1bad dan Ghailan.

Sebagian pendapat menyatakan bahwa aliran qadariyah pertama kali terdapat di Damaskus. Karena adanya pengaruh orang-orang Kristen yang banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah. Dahulu para ulama dan umat Islam hanya berorientasi akhirat saja namun

seiring dengan perkembangan jaman, para ulama berpikir untuk berorientasi pula pada dunia. Sebab utama yang melatar belakangi munculnya aliran qadariyah adalah:
1. Masyarakat Arab yang cenderung fatalis, yaitu sesuatu yang berkaitan atau

bertautan dengan nasib atau takdir. Meyakini adanya hukum Sunnatullah yang berisi semua penentuan takdir manusia yang telah ditetapkan dalam kehidupan.
2. Secara politis, pemerintah yang berkuasa yaitu Bani Umayyah menganut dan

menekankan faham fatalis. Takdir Tuhan merupakan ketetapan yang telah

16

ditentukan oleh para penguasa. Sedangkan faham qadariyah berbeda dengan ketetapan pemerintah. Oleh karena itu, terbentuklah aliran qadariyah. Aqidah aliran qadariyah memiliki tiga keyakinan yaitu :
-

Memiliki hurriyyah atau kebebasan bertindak. Setiap manusia dapat bebas melakukan tindakan namun tindakan tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan dengan tetap pada jalur ajaran Islam. Sehingga surga atau neraka didapatkan bukan dari takdir Allah melainkan atas kehendak dan perbuatan yang telah dilakukan sendiri.

Merupakan aliran rasionalisme yaitu aliran yang meyatakan bahwa kebenaran dan penentuan hidup diperoleh melalui kemampuan akal. Sedangkan takdir meruapakan ketentuan Allah SWT terhadap alam semesta sejak zaman azali yaitu hukum yang dalam Al-Qur`an disebut sunnatullah.

Manusia memliki takdir yang tidak dapat diubah mengikuti hukum alam tetapi manusia dapat mengembangkan daya pikirnya untuk menghasilkan karya yang mengimbangi atau mengikuti hukum alam tersebut. Dengan memberikan kebebasan kepada manusia dalam bertindak, membuat

manusia harus tetap mengikuti Qadar atau kadar Allah atau disebut juga dengan istilah free will dan free act. Hal ini diperkuat dengan pendapat dari Drs. Abuddin Nata, M.A. yang menyatakan bahwa Manusia dinilai mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya itu. Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusialah yang menentukan, tanpa ada campur tangan Tuhan. Ghailan juga menjelaskan bahwa Manusia berkuasa untuk melakukan perbuatan-perbuatan atas kehendak dan kekuasaannya sendiri, dan manusia pula yang melakukan atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat atas kemampuan dan dayanya sendiri. Tokoh Islam yang menganut aliran qadariyah antara lain Ibnu Sina, al-Muwardi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh menyatakan bahwa pendidikan Islam harus mengadakan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan tuntutan zaman terutama pada era globalisasi. Hal ini menyatakan adanya aliran qadariyah. Berikut ini adalah beberapa dasar dari pemikiran aliran qadariyah menurut ayat Al-Qur`an antara lain :
17

1. Surat Al-Kahfi ayat : 29

Artinya : Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biaralah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orangorang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. 2. Surat Ali Imran ayat : 165

Artinya : Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuhmusuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: Darimana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. 3. Surat An-Nisa ayat : 111

Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 3.6 Mu`tazilah

18

Pengertian Mu`tazilah atau I`tizaal berasal dari bahasa Arab yang secara etimologi memiliki arti kesendirian, kelemahan, dan keterputusasaan. Secara terminologi para ulama, Mu`tazilah sebagai satu kelompok dari qadariyah yang sangat erat dan kuat, karena kelompok ini bertujuan menyelesihi jalannya umat Islam khususnya Ahli Sunnah dan bersendiri dengan konsep akalnya yang khusus sehingga akhirnya membuat mereka menjadi lemah, tersembunyi dan terputus. Pertama kali dikembangkan oleh Wasil Bin Atha` Al-Makhzumi Al-Ghozzal pada abad ke-2 Hijriyah, tahun 105-110 H di kota Basrah (Irak). Wasil merupakan murid pengajian Al-Hasan Al-Basri. Saat itu, Wasil bertanya mengenai pelaku dosa besar kepada Imam Hasan. Imam mengatakan bahwa menurut khawarij, pelaku dosa besar adalah kafir sedangkan menurut Murjiah adalah muslim. Wasil tidak setuju dengan pendapat Imam, Wasil menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah bukan mukmin maupun kafir, namun adalah Al Manzilah Baina Al-Manzilataini. Karena tidak sependapat dengan Imam, Wasil membentuk pengajian baru dan mempelopori munculnya aliran Mu`tazilah. Pokok pemikiran dalam aliran Muta`zilah adalah rasionalisme yaitu akal memiliki kemutlakan kebenaran dan tidak bertentangan dengan wahyu. Penyebaran ajaran mu`tazilah mengalami beberapa kesulitan yaitu pemahaman mengenai qadar dalam ajaran mu`tazilah bertentangan dengan pemerintah Bani Umayah yang saat itu sedang berkuasa. Semua pemimpin Bani Umayah menentang adanaya ajaran mu`tazilah kecuali Yazid bin Al Waalid bin Abdul Malik bin Marwan karena beliau menganut ajaran mu`tazilah. Dalam aliran mu`tazilah terdapat lima pokok ajaran8 yaitu 1. manusia. 2.
3.

At Tauhid. Berisi mengenai sifat Allah adalah dzat-Nya itu sendiri, Al-

Qur`an ialah makhluk Allah, Allah di alam akhirat kelak tak terlihat oleh mata Al Adl. Berarti keadilan menyatakan bahwa Allah SWT akan Wal Wa`du. Yaitu janji dan ancaman menjelaskan bahwa Alah tak

memberikan imbalan kepada manusia sesuai perbuatan yang dilakukan. akan ingkar janji, memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.
4.

Al Asma wal Ahkam (pendapat Al Manzilah baina). Dosa besar

dilakukan di antara mukmin dan kafir yaitu fasik.


8

http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2010/10/11/aliran-mutazilah/

19

5.

Amar Ma`ruf Nahi Mungkar. Amar Ma`ruf berarti tuntutan berbuat

baik dan Nahi Mungkar berarti mencegah perbuatan yang tercela. Hal ini lebih berkaitan dengan hukum atau fikih. Dalam aliaran Mu`tazilah menyatakan behwa manusia berwenang melakukan segala perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, manusia berhak mendapatkan pahala atasa kebajikan yang dilakukan dan berhak mendapat siksa atas kejahatan yang dilakukan. Dasar munculnya aliran mu`tazilah terdapat dalam Al-qur`an sebagai berikut : 1. Surat Al-Muddatstsir ayat : 38

Artinya : Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.

2.

Surat Fushshilat ayat : 46

Artinya : Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hambahambaNya. 3. Surat An-Najm ayat : 39 41

Artinya : Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperolah selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.
20

3.7 Asy`ariyah Dikembangkan pertama kali oleh Abu Hasan Ali bin Isma`il Al-Asy`ari (873 935 M), seorang sahabat Rasulullah SAW. Al-Asy`ari merupakan penganut aliran mu`tazilah yang taat hingga umur 40 tahun. Hingga Al-Asyari diberi kepercayaan untuk melakukan perdebatan dengan lawan penganut mu`tazilah. Namun sejak perdebatan tersebut, Al-Asy`ari mulai ragu untuk mengikuti aliran mu`tazilah. Selama 15 hari, Al-Asyari mengasingkan diri untuk memikirkan hal tersebut. Sebelum itu, Al-Asy`ari juga pernah berdiskusi dengan Al-Jubbai, guru mu`tazilah. Namun dari diskusi tersebut, Al-Jubbai tidak dapat menjawab pertanyaan dari AlAsy`ari. Sejak saat itu, Al-Asy`ari memutuskan untuk meninggalkan aliran mu`tazilah. Selain itu, terdapat pendapat bahwa Al-Asy`ari mendapat mimpi dari Rasulullah SAW dan Beliau berkata, Wahai Ali, tolonglah madzhab-madzhab yang mengambil riwayat dariku, karena itulah yang benar. Kejadian ini berulang hingga tiga kali yaitu pada sepuluh dari pertama bulan Ramadhan, sepuluh hari yang kedua, dan sepuluh hari yang ketiga di bulan Ramadhan. Selama menjadi penganut mu`tazilah, Al-Asy`ari telah menulis beragam karangan mengenai ilmu ke-Islaman sebanyak kurang lebih 90 buah. Dalam tulisan tersebut, AL-Asy`ari menolak golongan Materialist, Anthropomorphist, Khawarij, golongan Islam lain, dan pikiran Aristoteles. Berikut adalah pandangan-pandangan Asy`ariyah yang berbeda dengan Mu`tazilah9: 1. Bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kalau Tuhan mempunyai sifat, seperti yang melihat, yang mendengar, dan sebagainya, namun tidak dengan cara seperti yang ada pada makhluk. Artinya harus ditakwilkan lain. 2. 3. 4. Al-qur`an itu qadim, dan bukan ciptaan Allah, yang dahulunya tidak ada. Tuhan dapat dilihat kelak di akhirat, tidak berarti bahwa Allah itu adanya karena diciptakan. Perbuatan-perbuatan manusia bukan aktualisasi diri manusia, melainkan diciptakan oleh Tuhan.

Makalah Aliran Asy`ariyah. Agung, dkk. Universitas Islam Negeri


21

5.

Keadilan Tuhan terletak pada keyakinan bahwa Tuhan berkuasa mutlak dan berkehendak mutlak. Apa pun yang dilakukan Allah adalah adil. Mereka menentang konsep janji dan ancaman (al-wa`d wa al-wa`id).

6.

Mengenai anthropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan makhluk, jangan dibayangkan bagaimananya, melainkan tidak seperti apapun.

7.

Menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah bainal manzilataini), sebab tidak mungkin pada diri seseorang tidak ada iman dan sekaligus tidak ada kafir. Harus dibedakan antara iman, kafir, dan perbuatan. Berikut adalah beberapa dalil Al-qur`an yang dijadikan pedoman dalam

meyakinkan adanya aliran asy`ariyah : 1. Surat Ar-Ruum ayat : 25

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). 2. Surat Yasiin ayat : 82

Artinya : Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : Jadilah! maka terjadilah ia. 3. Surat Al-Mu`min ayat : 16

Artinya : (yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada satupun dari keadaan mereka yang tersembunyi dari Allah. (lalu Allah berfirman) : Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

22

3.8 Maturidiyah Pendiri pertama aliran Maturidiyah adalah Al Huda Abu Mansur Muhammad bin Muhammad Al Maturidi yang berasal dari Samarkand. Berdasarkan pemikiran, aliran Maturidiyah memiliki banyak kesamaan dengan Asy`ariyah namun terdapat perbedaan tentang persoalan ma`rifah (mengetahui Allah). Maturidiyah kewajiban tersebut berdasarkan penalaran akal, sedangkan Asy`ariyah menganggap wajib berdasarkan syara`. Dapat terlihat bahwa Maturidiyah memberikan kebebasan penuh berdasarkan akal manusia dibandingkan dengan Asy`ariyah. Dalam penentuan keimanan seorang manusia, aliran maturidiyah tidak terlalu memperdulikan pelaksanaan ibadah, selama manusia tersebut yakin terhadap keEsa-an Allah dan kerasulan Muhammad SAW tanpa harus melaksanakan ibadah, manusia tersebut dapat tergolong ke dalam manusia yang beriman. Paham tersebut tidak sesuai dengan aliran Murji`ah karena dalam aliran Murji`ah, seseorang akan masuk surga apabila dosa para pelaku dosa besar atau fasik diampuni oleh Tuhan. Dalam perkembangannya aliran Maturidiyah terbagi menjadi dua aliran yaitu aliran Samarkand dan aliran Bukhara. Aliran Samarkand memiliki aliran yang mendekati dengan Mu`tazilah namun pada aliran Bukhara mendekati ke cara berpikir aliran Asy`ariyah. Dalam aliran maturidiyah terdapat dasar Al-qur`an yang dijadikan pedoman dalam mengajarkan aliran maturidiyah antara lain : 1. Surat Al-Jaatsiyah ayat : 13

Artinya : Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. 2. Surat Al-Qiyaamah ayat : 22 23

23

Artinya : Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. 3. Surat An-Nisa ayat : 48

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. 3.9 Salafiyah Pendiri gerakan aliran Salafiyah adalah Ibnu Tamiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang mengambil mazhab dari Imam Ahmad bin Hambal.aliran salafiyah mengajarkan bahwa semua akal memiliki fungsi untuk mendukung dan menguatkan dalail naqli seperti prinsip yang telah dipegang sebelumnya oleh kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabiin. Hal ini bertentangan dengan aliran mu`tazilah, asy`aryah, dan maturidiyah yang sudah tercampur dengan logika yunani. Dalam aliran Salafiyah meyakini bahwa asas pertama Islam adalah ke-Esa-an Allah yang meliputi tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma`wa sifat. Hal ini tersurat dalam nash yang bermakna lahirnya tanpa ta`til (peniadaan), ta`wil, tasybih, tamsil, dan takyif. Namun dalam perkembangannya, mahzab kaum salaf tersebut mendapat kritik dari Al-Khatib Ibn Al-Jauzi yang tidak setuju apabila paham tersebut dijadikan sebagai mahzab teologi kaum salaf. Mahzab tersebut memperlakukan Allah sebagaimana benda indrawi atau makhluk. Menurut Al-Ghazali hal tersebut tidak seharusnya diterjemahkan secara langsung seperti bahwa Allah memiliki sejumlah anggota badan, pemberian Allah dengan sifat-sifat inderawi mustahil bagi-Nya. Dari penalaran tersebut, terdapat makna substansi lain yang merujuk pada pengertian dan

24

perbuatan-Nya. Misal kata tangan dapat diartikan tidak sebagai jism namun seperti negeri ini berada di tangan penguasa. Mengenai penciptaan Allah menyatakan bahwa segala pencipta segala sesuatu dibentuk berdasarkan sebab diciptakannya. Dan manusia merupakan pelaku terhadap segala perbuatan dengan potensi yang telah diberikan oleh Allah. Allah tetap tidak menyukai maksiat dan menghendaki sifat terpuji. Hal tersebut adalah penjelasan tentang kesempuranaan penciptaaan, perintah, dan larangan-Nya. Salaf berarti terdahulu dan Ahlu Salaf adalah orang-orang terdahulu. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa mereka adalah sahabat-sahabat Nabi dan golongan Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Sunnah Nabi. Hal ini didasarkan pada Al-Qur`an : 1. Surat Al-Maidah ayat : 80

Artinya : Kami melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. 2. Surat An-Nisa ayat : 93

Artinya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta meyediakan azab yang besar baginya. 3. Surat Al-Baqarah ayat : 210

25

Artinya : Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan*, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan. *naungan awan bersama malaikat biasanya mendatangkan hujan artinya rahmat, tetapi rahmat yang diharap-harapkan itu tidaklah datang melainkan azab Allahlah yang datang.
IV.

ALIRAN -ALIRAN DI INDONESIA Pada awal abad ke-20 muncul gerakan Wahabi yang dipimpin oleh raja Abdul Aziz Ibn Saud, ketenangan tanah suci Mekah menjadi terganggu. Dan hubungan tanah suci Mekah dengan Indonesia kemudian terputus, karena terjadi perang dunia I pada tahun 1914-1918. Maka dalam kondisi yang demikian banyak ulama-ulama Jawi yang kembali ke Indonesia dan kemudian menyebarkan ilmunya ke seluruh Indonesia tahun 1916. Untuk menampung ulama-ulama itu, sebagai wadahnya pada waktu itu di Indonesia sudah ada Jamiyatul Chair yang berpusat di Jakarta dengan cabang-cabangnya, Ar Robithah Al Alawiyah, Al Irsyad dan SI (Sarikat Islam), dan juga Muhammadiyah yang berpusat di Yogyakarta. Ulama-ulama Jawi pada awalnya menggabungkan diri dengan SI. Kemudian setelah SI terpecah menjadi SI merah yang bercorak komunis dan SI putih yang murni, maka ulama-ulama Jawi akhirnya meninggalkan SI karena Belanda mencurigai seluruh SI akibat SI merah melakukan kekacauan. Ulama-ulama Jawi akhirnya membentuk organisasi sendiri. Dan karena Belanda membatasi gerak Jamiyatul Choir, maka muncullah organisasi-organisasi Islam dengan nama yang bermacam-macam di seluruh Indonesia, sebagai perwujudan lahirnya alam pikiran Islam Modern di Indonesia. Macam-macam nama aliran tersebut antara lain10 : 4.1 Jamiyatul Chair Didirikan pada tahun 1901 M di Jakarta sebagai hasil dari masuknya faham Syeh Muhammad Abduh ke Indonesia melalui majalah Al Urwatul Wutsqa. Nama Jamiyatul Chair disesuaikan dengan Jamiyah Al Chairiyah, yang didirikan Syech Muhammad Abduh di Mesir. Anggotanya terdiri dari keturunan Arab yang ada di Indonesia. Organisasi ini kemudian berkembang maju, diantara anggotanya antara
10

Diambil dari http://pagenjahan.blogspot.com/2011/06/aliran-aliran-islam-di-indonesia.html dengan beberapa penghilangan sesuai kebutuhan.

26

lain KH. Ahmad Dahlan dan HOS Cokroaminoto. Aliran ini melakukan modernisasi dalam empat bidang, yaitu Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam, Pelajaran Agama, dan Ukhuwah Islamiyah 4.2 Al Irsyad Jamiyatul Ishlah wal Irsyad atau disingkat Al Irsyad merupakan organisasi yang berdiri pada tahun 1914. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari organisasi Jamiyatul Chair yang terpecah menjadi tiga macam, yaitu Jamiyatul Chair, arRabithah al Awaliyah dan Al Irsyad. Dalam perkembangan selanjutnya di Indonesia muncul organisasi yang bermacam-macam tetapi mada intinya merupakan perkembangan dari dua organisasi sebelumnya yaitu organisasi simpatisan Al Irsyad dan organisasi simpatisan Ar Rabithah Al Awaliyah. Diantara simpatisan Al Irsyad antara lain Muhammadiyah, Persis, Thawalib. Sedangkan simpatisan Ar Rabithah Al Awaliyah antara lain Persatuan Tarbiyatul Islamiyah, Jamiyatul Washliyah, Musyawaratut Thalibin. Kemudian muncul pula organisasi yang berusaha menggabungkan semuanya yaitu Nahdlatul Ulama atau NU.
4.3 Sarikat Islam (SI)

Sebagai perwujudan kesepakatan dengan Syeh Ahmad Surkaty, HOS Cokroaminoto kemudian mendirikan organisasi bernama Sarikat Islam (SI). Pada awalnya organisasi ini bernama SDI (Sarikat Dagang Islam) yang didirikan pada tahun 1911 di Solo di bawah pimpinan H. Samanhudin. Pada tahun 1016 M. Sarikat Islam mulai bergerak di bidang politik. Menginginkan pemerintahan sendiri, turut merundingkan soal pemerintahan. Kemudian SI dimasuki oleh orang-orang yang berjiwa komunis yang menyebabkan SI pecah menjadi SI putih yang murni dan SI merah yang berhaluan komunis. Untuk menonjolkan unsur politiknya, maka SI ditingkatkan namanya menjadi Partai Sarikat Islam (PSI), tetapi adanya SI merah yang berhaluan komunis menjadikan keruhnya tanggapan masyarakat terhadap SI. Akhirnya SI merah keluar dari SI dan membentuk Partai Komunis Indonesia (PKI), sedangkan SI putih lalu meningkatkan namanya menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). 4.4 Muhammadiyah

27

Sebagaimana kesepakatan dengan Syeh Ahmad Sukarty, maka bersama-sama dengan SI yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, KH. A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. Aliran ini lebih menitikberatkan kepada masalah pendidikan dan pembentukan kader yang sanggup ber-ijtihad.Muhammadiyah yang berasaskan Islambertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Untuk mencapai tujuannya, maka diadakan usaha-usaha antara lain : Membentuk majlis Tabligh Mendirikan sekolah-sekolah Mendirikan majlis Tarjih Mendirikan panti asuhan dan PKU untuk mengurusi orang sakit Mendirikan organisasi Aisyiyah untuk kaum wanita

4.5 Thawalib Organisasi ini didirikan pada tahun 1907 oleh H. Abdul Karim Amrullah, M, Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad di Sumatera Barat. Organisasi ini berusaha mengadakan modernisasi seperti yang telah dilakukan oleh Syeh Muhammad Abduh di Mesir, dan Jamiyatul Chair di Jawa. Madrasah Diniyah didirikan untuk mendidik kader-kader. Didirikan pula madrasah diniyah untuk putri. Abdullah Ahmad mendirikan Adabiyah School di Padang sebagai sarana untuk menyiarkan pikiran pembaharuan, maka diterbitkan pula majalah Al Munir yang antara lain berisi terjemahan Al Urwatul Wutsqo. H. Abdullah Karim Amrullah kemudian menulis kitab Ushul Fiqh yang bernama Sullaman Mushul yang menerangkan tentang umat Islam tidak boleh puas dengan mengikuti adzab, tetapi harus berusaha ber-ijtihad sendiri langsung memetik hukum dari Quran dan Hadist, tanpa madhab. Pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama yang kemudian para ulama berusaha membentuk organisasi baru yang bernama Tarbiyatul Islamiyah. 4.6 PERTI

28

Persatuan Tarbiyatul Islam (PERTI) didirikan di Sumatra Barat oleh ulama yang tidak setuju dengan Thawalib, yang dipimpin oleh Syech Sulaiman Ar Rasuly. Organisasi PERTI ditetapkan bermadzab Syafii. Usaha-usahanya antara lain : Mendirikan Madrasah Menerbitkan majalah SUARTI (Suara Tarbiyatul Islam) Menerbitkan buletin Al Mizan

Organisasi ini terus berkembang sampai proklamasi kemerdekaan RI dan menjelma menjadi Partai Tarbiyatul Islam dengan singkatan tetap PERTI. 4.7 PMT Dengan alasan yang sama terhadap Thawalib, maka di Tapanuli didirikan Persatuan Muslimin Tapanuli (PMT) yang mengadakan kegiatan yang sama dengan PERTI di daerah Tapanuli. PMT didirikan pada tahun 1930 di bawah pimpinan Syech Mustofa Husein Purbabaru. Setelah proklamasI kemerdekaan RI, organisasi PMT bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). 4.8 NU Nahdlatul Ulama (NU) adalah sebuah organisasi Islam terbesar nomor 1 di Indonesia yang berdiri pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asyari sebagai Rais Akbar. Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asyari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab Itiqad Ahlussunah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan, dan politik. NU menganut paham Ahlussunah waljamaah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran NU tidak hanya Al Quran dan sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.

29

4.9 PERSIS Sebagai akibat pembatasan gerak yang dilakukan oleh Belanda tehadap Jamiyatul Chair, maka diadakanlah persatuan Islam (PERSIS) yang didirikan oleh A. Hassan di Bandung pada tahun 1923. Usahanya untuk meningkatkan kesadaran beragama dan membentuk kader dengan membuka sekolah dan madrasah. Dalam perkembangannya organisasi ini menonjol dalam amar makruf nahi munkar, terutama pemberantasan kemaksiatan. 4.10Musyawaratut Thalibin Organisasi ini lahir di Kalimantan sebagai perkembangan lebih lanjut dari organisasi Sarikat Islam. Selanjutnya Musyawaratut Thalibin bergabung dengan MIAI atau Masyumi. Dan setelah Masyumi bubar, sebagian anggota Musyawaratut Thalibin ada yang bergabung dengan NU dan ada juga yang bergabung dengan Al Jamiyatul Washliyah. 4.11Jamiyatul Washliyah Diresmikan pada tahun 1930, di Sumatera Utara. Mengutamakan kegiatan di bidang dawah hasil usahanya melahirkan organisasi dawah besar, yaitu yayasan Zending Islam Indonesia. Program kerjanya antara lain : Menetapkan satu madzhab, yaitu Syafii Memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk beramal menurut faham masing-masing Mengalihkan pemikiran umat Islam yang sedang sibuk mempermasalahkan chilafiyah kepada masalah dawah yang sebenarnya. 4.12PUSA Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) merupakan organisasi yang melanjutkan usaha dari SI, bertujuan untuk melaksanakan syariat Islam dalam masyarakat, serta meningkatkan syiar Islam dengan meningkatkan pendidikan. 4.13Nahdhatul Wathan

30

Organisasi ini didirikan di Nusa Tengara, sebagai kelanjutan dari SI. Usaha Nahdhatul Wathan adalah meningkatkan kesadaran beragama dengan membuka sekolah-sekolah. 4.14MIAI Majlis Islam Alaa Indonesia atau MIAI, merupakan organisasi gabungan dari organisasi yang ada di Indonesia. 4.15JZII Yayasan Zending Islam Indonesia (JZII) adalah suatu badan yang dibentuk sebagai pelaksana dari hasil keputusan MIAI tentang zending Islam. Pada awal berdirinya menggunakan nama Centraal Zending Islam Indonesia, kemudian di Indonesiakan menjadi Majlis Tinggi Penyiaran Islam Indonesia, yang berpusat di Medan. Pada tahun 1950 setelah MIAI dibubarkan, badan ini menjadi otonom di dalam organisasi Al Jamiyatul Wasliyah. 4.16TPI Taman Pendidikan Islam (TPI) didirikan pada tahun 1950 di Medan dengan ketua H. Rivai Abd Manaf. Organisasi ini mementingkan pendidikan meliputi ilmu, amal, dan maal, dengan sasaran orang-orang yang bekerja di perkebunanperkebunan Belanda.

V.

HARAPAN Berdasarkan penjelasan mengenai berbagai macam aliran kalam yang terdapat dalam Islam terdapat berbagai hikamah yang dapat diambil. Hikmah yang diharapkan dari penjelasan tersebut antara lain : a. b. Mengerti mengenai segala ajaran mengenai aliran kalam dalam Islam. Menghormati segala bentuk ajaran yang terdapat dalam setiap aliran dengan tidak mengganggu dan memaksakan kehendak orang lain agar mengikuti ajaran aliran kalam yang lain. c. Dalam Al-qur`an juga telah tersurat bahwa aliran Islam terdiri dari banyak aliran. Hal ini membuat agar tidak menganggap buruk pada setiap aliran Islam yang lain.
31

d. e.

Setiap aliran kalam memiliki makna dan dasar sendiri dalam menetapkan aliran pokok untuk setiap aliran kalam. Dari penjelasan tersebut, dikatakan bahwa segala sesuatu merupakan berasal dari Allah dengan pendapat setiap ulama yang berbeda namun memiliki satu tujuan yaitu beriman kepada Allah.

VI.

KESIMPULAN Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas mengenai aqidah dasar Islam, masalah wahyu, akal, iman, kufur, kehendak dan perbuatan Tuhan, keadilan, dan sifat-sifat Tuhan11. Pada awalnya umat Islam adalah umat yang satu aqidah, satu syariah, dan satu akhlaqul karimah. Namun semenjak peninggalan Nabi Muhammad SAW, mulai muncul beberapa perselisihan antar umat Islam khususnya mengenai aqidah. Keadaan tersebut melahirkan banyak macam-macam aliran kalam dalam Islam. Masing-masing aliran tersebut memiliki ajaran dan doktrin yang berbeda satu sama lain.

VII.

REFERENSI
[1] Agung, dkk. Makalah Aliran Asy`ariyah. Fakultas Syari`ah dan Hukum, Universitas

Islam Negeri.
[2] David Susanto, dkk. Makalah Aqidah Akhlak. Madrasah Aliyah Negeri Kandangan. [3] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan, UI

Press, Jakarta, 1983.


[4] http://bundahomepage.wordpress.com/aliran-maturidiyah/,

diakses

tanggal

November 2011.
[5] http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/04/aliran-asyariyah.html, diakses tanggal 8

November 2011.
[6] http://istanailmu.com/2011/02/12/aliran-mu%e2%80%99tazilah-asal-usul-dan-al-

ushul-al-khamsah/html, diakses tanggal 8 November 2011.

11

Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte Dalam Khawarij. Jurusan Bahasa Arab Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, hal 2

32

[7] http://kapanpunbisa.blogspot.com/2011/09/aliran-qadariyah.html, diakses tanggal 3

November 2011.
[8] http://khofif.wordpress.com/2010/06/15/faham-qadariyah/,

diakses

tanggal

November 2011.
[9] http://pagenjahan.blogspot.com/2011/06/aliran-aliran-islam-di-indonesia.html,

diakses tanggal 16 Januari 2011.


[10] http://pemudapersisgarut.wordpress.com/tag/aliran-kalam-dalam-islam/feed/,

diakses tanggal 9 November 2011.


[11] http://ihsan26theblues.wordpress.com/2011/01/23/aliran-kalam-dalam-islam/,

diakses tanggal 9 November 2011.


[12] http://salwintt.wordpress.com/artikel/kisah-islami/aliran-salafiyyah/, diakses tanggal

9 November 2011.
[13] Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte Dalam Khawarij. Jurusan Bahasa Arab Fakultas

Sastra, Universitas Sumatera Utara.


[14] www.rdemha65.blogspot.com/2009/03/persoalan-kalam-satu.html, diakses tanggal 9

November 2011.

33