Anda di halaman 1dari 6

BAB V MUNASABAH AL QURAN Al-Qur'an, sebagaimana terdapat dalam Mushaf Usmani sekarang, disusun tidak berdasarkan kronologis turunnya.

Namun demikian, semua ulama sepakat bahwa urutan ayatayatnya itu tauqifi, yakni berdasarkan petunjuk Rasulullah. Mengenai urutan suratnya, ada segolongan yang berpendapat bahwa hal itu berdasarkan tauqifi. Bermula dari anggapan bahwa urutan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur'an itu Tauqifi, ulama bertanya mengapa ayat ini jatuh setelah ayat itu. Adakah hikmah dibalik semua itu. Dari pertanyaan seperti itu akhirnya lahirlah pengetahuan tentang munasabah dalam alQur'an yang menjadi bagian dari Ulum al-Qur'an, yang disebut dengan Ilm Tanasub al-Ayat wa al-Suwar. Pengetahuan tentang munasabah akan membahas hubungan antara satu ayat dengan ayat lain. Pengertian suatu ayat tidak dapat dipahami begitu saja tanpa mempelajari ayat-ayat sebelumnya. Demikian pula, dengan diketahui hubungan surat-surat al-Qur'an tampak bahwa surat-surat yang 114 itu seakan-akan suatu kalung yang terdiri dari 114 butir manik. Mengingat peranannya dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an, sebaiknya kita mengetahui munasabah al-Qur'an. Untuk mengenalnya, di dalam makalah ini dibahas pengertian munasabah, macam-macam munasabah, dan metode penelitian. Kata munasabah secara bahasa berarti al-musyakalah (keserupaan) dan al-muqarabah (kedekatan). Menurut al-Zarkasyi munasabah secara bahasa berarti al-muraqabah. Selanjutnya ia memberi contoh fulan yunasibu fulanan, artinya si A mempunyai hubungan dekat dengan si B dan menyerupainya. Dalam beberapa literatur, munasabah sering disebut dengan istilah atau . Sedangkan pengertian munasabah menurut istilah bisa kita pahami dari pendapat alSyaikh Wali al-Din al-Malawi yang mengatakan bahwa di antara Ijaz al-Qur'an adalah uslubnya yang tinggi dan susunannya yang indah. Dan yang pertama kali perlu dicari dalam ayat-ayat al-Qur'an adalah ayat yang menyempurnakan ayat sebelumnya atau ayat yang berdiri sendiri (mustaqillat), yang mempunyai hubungan dengan ayat sebelumnya. Demikian juga pada surat-surat al-Qur'an dicari hubungan suatu surat dengan surat sebelumnya. Dengan demikian, pengetahuan tentang munasabah dalam al-Qur'an membahas hubungan dalam al-Qur'an. Hubungan yang dicari adalah hubungan antara ayat dengan ayat dan antara surat dengan surat. Munculnya pengetahuan tentang hubungan dalam al-Qur'an bertolak dari pendapat bahwa urutan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur'an itu tauqifi, bukan oleh ijtihad para sahabat. Ulama yang pertama kali menaruh perhatian pada masalah munasabah dalam al-Qur'an adalah Syaikh Abu Bakr al-Naisaburi, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama lainnya, seperti Abu Jafar Ibn al-Zubair, Syaikh Burhan al-Din al-Biqai, dan al-Suyuti. Syaikh Abu Bakr alNaisaburi, apabila dibacakan kepadanya suatu ayat atau surat, selalu berkata :


Bahkan ia mengkritik ulama Baghdad karena mereka tidak tahu adanya hubungan antara ayat-ayat dan antara surat-surat. Selain Abu Bakr al-Naisaburi, Muhammad Izah Daruzah juga mengatakan bahwa semula orang mengira tidak ada hubungan antara satu ayat dengan ayat lain dan satu surat dengan surat lain; dan ternyata semua ayat-ayat dan surat-surat mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain. Mengenai pendapat ulama tentang munasabah dalam al-Qur'an tidak seragam. Ada ulama berpendapat bahwa setiap ayat mempunyai hubungan dengan ayat lainnya; dan setiap surat mempunyai kaitan dengan surat lainnya. Berbeda dengan di atas, ada ulama yang berpendapat bahwa tidak semua ayat-ayat mempunyai kaitan satu sama lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Izzuddin Ibn Abd al-Salam bahwa munasabah membahas keserasian hubungan kalimat dalam satu kesatuan yang 1

mana bagian awalnya dan akhirnya saling terkait, dan yang tidak menunjukkan keterkaitan , maka tidak disebut munasabah. B. MACAM-MACAM MUNASABAH Sesuai dengan definisi munasabah yang dikemukakan di depan macam-macam munasabah berikut ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu munasabah antar ayat-ayat dan suratsurat. A. Munasabah antar ayat-ayat Menurut al-Suyuti, munasabah antar ayat-ayat ada yang jelas dan ada yang samar. Munasabah antar ayat-ayat yang terlihat jelas terjadi karena adanya hubungan kalimatkalimat atau karena suatu masalah tidak tuntas dijelaskan dalam suatu ayat; dan uraian selanjutnya dituntaskan dalam ayat-ayat berikutnya, baik sebagai penekanan dan penafsiran, lanjutan dan penjelasan, pengecualian dan batasan, atau sangkalan dan pemanjangan. Misalnya :


Jika munasabah itu samar, dan seakan-akan ayat tersebut berdiri sendiri, munasabah bisa dikenali dengan adanya huruf ataf, misalnya kesesuaian antara al-Isra ayat 1 dan 2 berikut ini :


Hubungan antara ayat kedua dengan ayat pertama adalah bahwa Allah telah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad hal-hal yang gaib dengan mata kepala dan menceritakan kepadanya cerita orang-orang masa lampau sebagai tanda mukjizat nabi. Maksudnya, Maha Suci Allah yang telah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad sebagian kekuasaan Allah dan menceritakan kepadanya kisah Nabi Musa dan kaumnya. Munasabah antar ayat-ayat yang tidak dikuatkan dengan huruf ataf dapat dilihat dengan melalui qarain manawiyah (hubungan makna), seperti al-tanzir (perbandingan), al-mudaddah (perlawanan), istitrad (penjelasan lebih lanjut), dan takhallus (perpindahan). Munasabah melalui al-tanzir bisa dilihat antara surat al-Anfal ayat 5 dengan ayat sebelumnya, yaitu :


Munasabah antara kedua ayat tersebut terletak pada kesebandingan ketidak senangan para sahabat terhadap pembagian harta rampasan perang yang dilakukan oleh Rasul dan ketidaksenangan mereka keluar rumah untuk berperang. Padahal dalam kedua perbuatan itu terdapat kemenangan, pertolongan, harta rampasan, dan kejayaan Islam. Untuk menjelaskan munasabah melalui al-mudaddah, al-Suyuti memberi contoh hubungan antara surat al-Baqarah ayat 6 dengan ayat sebelumnya :


Surat al-Baqarah ayat 6 menjelaskan sifat orang kafir yang menentang peringatan. Sifat orang kafir ini bertentangan dengan sifat orang mukmin yang membawa keberuntungan, yang dijelaskan pada ayat sebelumnya. Kedua sifat tersebut saling bertentangan, namun dengan disebutkan pertentangannya, menjadi jelas maksudnya. Maksud pertentangan itu untuk mengkokohkan perintah-perintah al-Qur'an dan mengamalkannya serta mendorong untuk beriman. Bentuk munasabah lainnya yang melalui qarinah manawiyah adalah istitrad, seperti di dalam surat al-Araf ayat 26 dijelaskan :


Al-Zamakhsyari, sebagaimana dikutip oleh al-Suyuti, menjelaskan bahwa surat alAraf ayat 26 datang setelah pembicaraan tentang terbukanya aurat dan penutupannya dengan daun untuk menunjukkan bahwa penciptaan pakaian berupa daun merupakan suatu karunia Allah, telanjang dan membuka aurat adalah suat perbuatan hina, dan menutup aurat adalah bagian besar dalam taqwa. Bentuk lainnya adalah munasabah melalui takhallus, yaitu hubungan antar ayat-ayat melalui perpindahan dari awal pembicaraan ke pembicaraan berikutnya sampai kepada yang dimaksud secara halus, misalnya di dalam surat al-Araf mula-mula Allah menjelaskan kisah para nabi dan umat masa lampau; kemudian menjelaskan kisah Nabi Musa dan tujuh puluh orang pengikutnya serta doanya bagi mereka dan seluruh umatnya; berikutnya berbicara tentang Nabi Muhammad dan umatnya. B. Munasabah antar surat-surat 1. Munasabah antara Surat Satu dengan Surat lainnya. Di dalam kitab Israr al-Tanzil, yang ditulis oleh al-Suyuti dijelaskan bahwa munasabah antara satu surat dan surat sebelumnya berfungsi untuk ungkapan pada surat sebelumnya atau memperinci apa yang dijelaskan secara global pada surat sebelumnya. Misalnya hubungan surat al-Fatihah dengan surat al-Baqarah :


Ungkapan ini diperinci dalam surat al-Baqarah ayat 186, 287 dan 152.


Dalam surat al-Fatihah diungkapkan :


Ungkapan ini diperinci oleh surat al-Baqarah ayat 21-22 :


Dalam surat al-Baqarah ditegaskan :


Ayat ini diuraikan dengan surat Ali Imran ayat 3 :


Selain di atas, hubungan antara satu surat dengan surat lain bisa terjadi karena untuk memperbandingkan, seperti hubungan surat al-Maun dengan surat al-Kautsar. Di dalam surat al-Maun disebutkan empat sifat orang munafik, yaitu ,,, riya; dalam shalat, dan . Sebagai imbangan kekikiran disebutkan . Sebagai imbangan meninggalkan shalat disebutkan .Sebagai imbangan riya, disebutlah . Sebagai imbangan , disebutlah . 2. Munasabah Penutup suatu Surat dengan Pembukaan Surat berikutnya Bentuk munasabah ini bisa kita lihat antara awal surat al-Baqarah dengan akhir surat al-Fatihah : isyarat bagi dalam Seolah-olah ketika mereka memohon petunjuk jalan yang lurus, dikatakan kepada mereka bahwa jalan yang lurus yang mereka mohon itu adalah al-Qur'an. Contoh lainnya adalah hubungan antara awal surat al-Hadid yang dan akhir surat al-Waqiah :


3. Munasabah antara Awal uraian surat dengan Akhir Uraian Surat. Contoh munasabah terdapat dalam surat al-Qasas yang dimulai dengan menjelaskan perjuangan Nabi Musa berhadapan dengan kekejaman Firaun. Dengan 4

perintah dan pertolongan Allah, Musa berhasil keluar dari Mesir yang penuh dengan tekanan. Pada akhir surat Allah menyampaikan khabar gembira kepada Nabi Muhammad yang menghadapi tekanan kaumnya dan janji Allah atas kemenangannya. Kemudian di awal surat dijelaskan bahwa Nabi Musa tidak akan menolong orang yang berbuat dosa, sedangkan di akhir surat Nabi Muhammad dilarang menolong orang kafir. Munasabah antara awal dan akhir surat ini terletak pada kesamaan kondisi yang dihadapi oleh Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Selain contoh di atas, munasabah macam ini dapat dilihat pada surat al-Muminun yang dimulai dengan dan diakhiri dengan . Contoh lainnya adalah awal surat Shad dan penutupan surat Shad : C. Metode Mencari Munasabah ( SABTU PAGI ) Mencari hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur'an adalah hal yang tidak mudah. Untuk menentukan munasabah tersebut tentunya diperlukan suatu metode. Untuk mencari hubungan satu ayat dengan ayat lain atau satu surat dengan surat lain perlu memperhatikan beberapa hal. Dalam mencari munasabah dalam al-Qur'an mesti didasarkan pada urutan ayat-ayat dan surat-surat yang bersifat tauqifi. Oleh karena itu, kita harus bersandar pada urutan ayat dan surat menurut apa adanya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah langkah-langkah untuk mencari munasabah. Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa ditempuh oleh ahli tafsir (mutaakhhirin) dan dipandang memudahkan mencari munasabah, yaitu : 1. Memperhatikan tujuan yang dibahas dalam surat. 2. Memperhatikan uraian-uraian dari ayat-ayat sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat. 3. Menentukan tingkat uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak. 4. Ketika kesimpulan dari uraian-uraian tersebut, harus memperhatikan ungkapan bahasannya dengan benar dan tidak berlebih-lebihan. D. Peranan Munasabah dalam Tafsir

Mengetahui Munasabah dalam tafsir tidak kalah pentingnya dengan asbab al-nuzul. Kalau asbab al-nuzul membahas ayat dari segi sebab-sebab turunnya atau latar bekalang historisnya. Sedangkan munasabah membahas ayat-ayat dari sudut hubungannya. Walaupun jumhur ulama berpandangan bahwa menjelaskan dan mencari asbab alnuzul adalah jalan yang kuat dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an, tidak berarti bahwa peranan munasabah dalam tafsir tidak ada. Dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an, pengetahuan tentang munasabah sangat membantu. Hal ini disebabkan ayat-ayat al-Qur'an tersusun berdasarkan petunjuk Allah sehingga pengertian suatu ayat kurang dapat dipahami begitu saja tanpa memahami ayat-ayat sebelumnya. Dengan demikian, munasabah al-Qur'an mempunyai peranan dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an. Peranan munasabah semakin berarti bila suatu ayat belum atau tidak diketahui sebabsebab turunnya. Jika sebab-sebab itu tidak diketahui, cara yang baik adalah melihat munasabah-nya. Bahkan, walaupun suatu ayat telah diketahui sebab-sebab turunnya, dengan menghubungkan dengan ayat sebelumnya pemahaman terhadap suatu ayat terkadang lebih kuat dari pada melalui sebab-sebab turunnya. Urgensi dan Kegunaan Mempelajari Munasabah 1. 2. Menemukan makna tersirat dalam susunan dan urutan kalimat, ayat dan surat, sehingga terdapat hubungan yang utuh dan integral; Memperkuat keyakinan akan kebenaran wahyu Allah SWT; 5

3. 4.

Menolak tuduhan bahwa susunan al-Quran itu kacau; Mempermudah dalam memahami al-quran.