Anda di halaman 1dari 39

BIDANG KAJIAN Material dan energi

alternatif

LAPORAN PENELITIAN/ARTIKEL ILMIAH


PROGRAM PENELITIAN INOVASI MAHASISWA
PROVINSI JAWA TENGAH

ARANG BRIKET TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ENERGI


ALTERNATIF

Oleh

Teguh Ibnu Husada (5201404004)

Dibiayai Oleh
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah

Tahun Anggaran 2008

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG

1
2008
RINGKASAN

Hampir di seluruh wilayah Indonesia terdapat lahan pertanian jagung.


Karena jagung bisa hidup di seluruh wilayah Indoseia baik dataran tinggi maupun
rendah. Dengan ini menunjukkan tanaman jagung sangat melimpah di Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa luas lahan pertanian jagung di
Indonesia tahun 2005 adalah 3.356.914 ha dengan produksi 11.225.243 ton
pipilan. Sedangkan angka ramalan 2005 luas lahan dan produksinya meningkat
menjadi 3.504.234 ha dengan 12.013.707 ton pipilan kering (BPS, 2005). Jika
produksi jagung pipilan kering dapat mencapai 3 hingga 4 ton perhektar, maka
limbah yang dihasilkan tentu lebih besar jumlahnya dalam hal ini tongkolnya, Sisa
pemrosesan paska panen jagung ini hanya terserap sedikit sekali untuk pupuk dan
bahan bakar memasak penduduk disekitar pertanian.
Cara yang paling mudah dan bisa dilakukan petani untuk menangani
limbah tersebut adalah dengan membakarnya. Tentu saja ini akan menjadi
masalah baru bagi lingkungan, terutama karena pembakaran itu akan
menimbulkan polusi yang hebat dan juga membahayakan lingkungan. Pada
dasarnya limbah tongkol jagung melimpah tetapi tidak termanfaatkan dengan
optimal. Dengan ini timbul gagasan untuk memanfaatkannya supaya mempunyai
nilai lebih. Briquetting merupakan metode yang efektif untuk mengkonversi
bahan baku padat menjadi suatu bentuk hasil kompaksi yang lebih efektif, efisien
dan mudah untuk digunakan.
Selain itu, menurut Wirham, (2005) Pemakain bahan bakar fosil sudah
mendekati masa pensiun. Sudah menjadi berita hangat bahwa bahan bakar fosil
sudah mulai habis. Lebih buruknya lagi penggunaan bahan bakar fosil
menghasilkan polusi berupa shulfur, , dan yang dapat merusak
lingkungan dimana ikut andil menyebabkan pemanasan global (Global Warming)
(Daniel Mudiyarso, 2003). Untuk mengeliminasi kemungkinan terburuk dampak

2
pemakaian bahan bakar fosil sangat tepat jika bahan bakar dari biomassa sebagai
penggantinya, dalam hal ini adalah tongkol jagung yang dijadikan arang briket.

Berdasarkan penelitian terdahulu telah banyak dilakukan untuk


mempelajari potensi energi dalam bentuk padat dari berbagai limbah pertanian
seperti: ampas tebu (Apolinario et al, 1997), sekam padi (Estela, 2002), serta
sampah pertanian jagung (Mani , S. et al, 2006). Apolinario et al (1997) meneliti
nilai kalor briket dari ampas tebu hasil penggilingan pabrik gula, briket berbentuk
silinder pejal dengan diameter 3.7 cm dan tinggi 5.58 cm. Hasil penelitian
menunjukkan nilai kalor briket mencapai 9853 Btu/lb. nilai kalor tersebut naik
sebesar 150 % dari nilai kalor bahan bakunya. Dari penelitian tersebut terlihat
bahwa nilai kalornya belum mencukupi untuk keperluan industri. Karena
permasalahan tersebut, biomasssa dijadikan arang briket diharapkan dapat
menghasilkan nilai kalor yang lebih tinggi dibanding briket biasa, sehingga dapat
memenuhi keperluan industri. Kuncoro dkk. (1999) meneliti, dimana dalam
proses pengarangan dengan udara terbatas sehingga yang dihasilkan adalah
karbon. Kandungan air habis menguap dan akan sedikit kadar abunya (Volatile
matter).
Adapun alasan pemilihan tongkol jagung sebagai bahan utama dikarenakan
jumlahnya yang sangat melimpah dan tidak optimal dalam pemanfaatannya
bahkan bisa dikatan tidak terpakai (limbah).
Proses pembuatan arang briket sangat mudah dan sederhana. Dimulai
dengan pengumpulan bahan dasar berupa tongkol jagung. Selanjunya proses
pengarangan (karbonisasi) tongkol jagung. Proses pengarangan dilakukan dengan
cara sama seperti pengarangan yang lazim atau yang biasa digunakan pada proses
pengarangan kayu. Setelah selesai pengarangan bahan dasar ditumbuk sampai
halus. Bahan kemudian disaring dengan tujuan butiran hasil pengarangan lembut
dan mempunyai besar butir yang sama, sehingga kerapatan (Densitas) yang
dihasilkan pada saat pengompaksian tinggi. Proses kompaksi dilakukan dengan
variasi pembebanan sebesar 7ton, 8ton, 9 ton. Arang briket tongkol sudah siap

3
untuk digunakan. Arang briket tongkol jagung yang dihasilkan mempunyai nilai
kalor setara dengan briket dari bahan baker fosil (briket batubara). Diharapkan
arang briket tongkol jagung dapat menggatikan penggunaan briket dari bahan
bakar fosil.

Arang Briket Tongkol Jagung Sebagai Energi Alternatif

Teguh Ibnu Husada

Teknik Mesin, Teknik, Universitas Negeri Semarang, Semarang

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menciptakan energi alternatif baru dari


limbah pertanian tongkol jagung. Biomassa yang berasal dari limbah hasil
pertanian dan kehutanan merupakan bahan yang tidak berguna, tetapi dapat
dimanfaatkan menjadi sumber energi bahan bakar alternatif, yaitu dengan
mengubahnya menjadi arang briket yang memiliki nilai kalor lebih tinggi.
Proses pembuatan arang briket dari tongkol jagung adalah dengan menggunakan
proses karbonisasi terlebih dahulu pada suhu yang berkisar antara 300°C, digiling,
disaring dengan ukuran serbuk yang lolos sebesar 0,8 mesh, ditimbang dan diberi
perekat tepung kanji 6% dengan berat keseluruhan campuran 6 gram, kompaksi
yang dilakukan dalam pembriketan sebesar 1426,75 Kg/cm², 1630,57 Kg/cm²,
1834,39 Kg/cm².
Berdasarkan hasil karya pembuatan arang briket tongkol jagung dapat
memberikan beberapa keuntungan, antara lain : tidak mengambil tempat, bersih,
mudah diangkat, praktis, memiliki kadar polusi jauh lebih rendah dari briket
batubara dan memiliki harga yang lebih ekonomis dibandingkan dengan bahan
bakar fosil serta berfungsi sebagai bahan bakar rumah tangga dan industri yang
dapat menggantikan briket batubara.

Kata Kunci: arang briket tongkol jagung, energi alternatif

4
PENGESAHAN LAPORAN
PROGRAM PENELITIAN INOVATIF MAHASISWA
1. Judul Penelitian : Arang Briket Tongkol Jagung Sebagai
Energi Alternatif
2. Bidang Kajian : Material dan energi
3. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Teguh Ibnu Husada

b. NIM : 5201404004

c. Jurusan/Fakultas : Teknik Mesin / Teknik

d. Universitas : Universitas Negeri Semarang

e. Alamat Rumah/Telepon : Rembang / 085226140325

f. e-mail : ty.junior@yahoo.com

4. Anggota Peneliti : Satu orang


5. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar : Danang Dwi Saputro, S.T. M.T.

b. NIP : 132307549

6. Biaya Total Kegiatan : Rp 2.000.000,-


7. Jangka Waktu Pelaksanaan : Bulan Agustus s/d Oktober tahun 2008
__________________________________________________________________

Semarang, 27 Oktober 2008

Menyetujui:
Ketua Jurusan/ Dosen Pembimbing, Ketua Peneliti,

5
Danang Dwi Saputro, S.T. M.T. Teguh Ibnu Husada
NIP. 132307549 NIM. 5201404004

Mengetahui:
Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan
Drs. Masrukhi, M.Pd
NIP 131764049

PRAKATA

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan laporan penelitian inovatif mahasiswa yang berjudul “Arang Briket
Tongkol Jagung Sebagai Energi Alternatif”.
Karya Tulis ini berisi tentang sebuah gagasan baru tentang enrgi alternatif baru
yang bersumber dari biomasssa. Dalam penulisan ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan maupun saran dari pihak lain, oleh sebab itu dengan penuh ketulusan
hati penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si. Selaku Rektor Universitas
Negeri Semarang
2. Drs. Abdurrahman, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas
Negeri Semarang.
3. Drs. Wirawan Sembodo, M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin
Universitas Negeri Semarang.
4. Danang Dwi S, S.T., M.T. Selaku Dosen pembimbing dalam penulisan
Karya Tulis Mahasiswa ini

Mengingat kekurangan yang ada pada laporan ini penulis mengharapkan


saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan. Semoga laporan penelitian
inovatif mahasiswa ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca
pada umumnya.

6
Semarang, 27 Oktober 2008

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................... i
RINGKASAN ............................................................................................... ii
ABSTRAK…................................................................................................. iv
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... v
PRAKATA..................................................................................................... vi
DARTAR ISI ................................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................... viii
DAFTAR TABEL.......................................................................................... ix
DAFTR LAMPIRAN..................................................................................... x
I. PENDAHULUAN............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................ 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 2
C. Tujuan penelitian....................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian..................................................................... 3
II. METODE PENELITIAN................................................................... 3
A. Rancangan Penelitian................................................................. 3
B. Data dan Sumber Data Penelitian.............................................. 9
C. Pengumpulan Data..................................................................... 18
D. Analisis Data.............................................................................. 19
III. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN................................. 20
A. Pengujian Nilai kalor................................................................. 20

7
B. Pengujian Densitas..................................................................... 21
C. Pengujian Fix carbon................................................................. 23
D. Pengujian Kadar Abu................................................................. 24
IV. KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 26
A. Kesimpulan................................................................................ 26
B. Saran.......................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 27

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan Pembuatan Briket.............................................................. 4


Gambar 2. Alat cetak briket........................................................................... 5
Gambar 3. Pengujian Densitas....................................................................... 9
Gambar 4. Bom kalori meter......................................................................... 14
Gambar 5. Grafik hasil pengujian nilai kalori.............................................. 20
Gambar 6. Grafik hasil pengujian densitas.................................................... 21
Gambar 7. Grafik hasil pengujian fix carbon................................................. 23
Gambar 8. Grafik hasil pengujian kadar abu................................................. 25
\

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Uji Nilai kalori................................................................................. 20


Tabel 1. Uji Densitas...................................................................................... 21
Tabel 1. Uji fix carbon................................................................................... 23
Tabel 1. Uji kadar abu.................................................................................... 24

8
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota


Lmapiran 2. Foto Penelitian

9
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dari fakta dan data yang ada menunjukan bahwa pemakaian bahan bakar
fosil kian mendekati masa pensiun, jumlah cadangan semakin menipis, harga
yang tidak stabil (kecenderungan terus meningkat) dan isu-isu bahwa bahan
bakar fosil menjadi penyebab pemanasan global serta penyebab terjadinya
kerusakan lingkungan sudah mulai terbukti. Untuk mengeliminasi
kemungkinan terburuk dampak pemakaian bahan bakar fosil, setidaknya ada
beberapa alternatif jalan keluar, yaitu :
a. Pencarian ladang baru

10
b. Penggunan energi secara efisien
c. Pengembangan sumber energi terbarukan
Pilihan pertama mempunyai keterbatasan dalam investasi dan diperlukan
waktu yang lama untuk menemukan cadangan baru. Pilihan kedua, dalam
jangka pendek memang bisa menjadi salah satu solusi yang baik, tetapi ketika
cadangan bahan bakar fosil diperut bumi habis, tidak ada lagi yang bisa
diefisienkan penggunaannya. Pilihan ketiga merupakan pilihan yang dirasa
ideal untuk dijamah. Untuk menempuh pilihan ketiga, diperlukan beberapa
penekanan, diantaranya adalah mengenai pandangan dan pemahaman serta
perlakuan terhadap energi itu sendiri, yakni tidak didasari lagi atas berburu
(energy hunting) yang hanya mencari, menemukan dan memanfaatkan, tetapi
lebih pada naluri energy farming yaitu membuat, menciptakan dan
membudidayakan energi.
Beberapa jenis sumber energi alternatif yang bisa dikembangkan antara
lain energi matahari, energi angin, energi panas bumi, energi panas laut
(OTEC) dan energi biomassa. Diantara sumber-sumber energi alternatif
tersebut, energi biomass merupakan sumber energi alternatif yang perlu
mendapat prioritas dalam pengembangannya dibandingkan dengan sumber
energi yang lain. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara agraris banyak
menghasilkan limbah pertanian yang kurang termanfaatkan. Statistik (BPS)
melaporkan bahwa luas lahan pertanian jagung di Indonesia tahun 2004 adalah
3.356.914 ha dengan produksi 11.225.243 ton pipilan. Sedangkan angka
ramalan 2005 luas lahan dan produksinya meningkat menjadi 3.504.234 ha
dengan 12.013.707 ton pipilan kering (BPS, 2005). Limbah pertanian yang
merupakan biomass tersebut merupakan sumber energi alternatif yang
melimpah, dengan kandungan energi yang relatif besar. Limbah pertanian
tersebut apabila diolah dengan pelakuan khusus akan menjadi suatu bahan
bakar padat buatan yang lebih luas penggunaannya sebagai bahan bakar
alternatif yang di sebut biobriket. Briqueting merupakan metode yang efektif
untuk mengkonversi bahan baku padat menjadi suatu bentuk hasil kompaksi
yang lebih mudah untuk digunakan.
Di samping itu sumber energi biomassa mempunyai keuntungan
pemanfaatan (Syafi’i, 2003) antara lain :

11
a. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang
renewable resources.
b. Sumber energi ini relatif tidak mengandung unsur sulfur sehingga tidak
menyebabkan polusi udara sebagaimana yang terjadi pada bahan bakar
fosil.
c. Pemanfaatan energi biomassa juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan
limbah pertanian.
Dalam hal ini akan dilakukan pembahasan mengenai pengkorversian
tongkol jagung menjadi arang briket, selain dapat meminimalkan pencemaran
emisi sulfur juga dapat memberikan nilai tambah dalam bidang energi, yaitu :
bahan baku dari limbah, nilai kalor tinggi, efesiensi pembakaran tinggi dan
harga jual tinggi. Kemudian pembuatan briket ini dapat memberikan beberapa
keuntungan, antara lain : tidak mengambil tempat, bersih, mudah diangkat,
praktis dan memiliki harga yang lebih ekonomis dibandingkan dengan bahan
bakar fosil serta berfungsi sebagai bahan bakar rumah tangga dan industri.

B. Rumusan Masalah
Jagung merupakan salah satu macam dari tanaman palawija yang juga
dimanfaatkan untuk makanan pokok dan dapat dibuat makanan lain dengan
memproses lebih lanjut sehingga memiliki nilai tambah.
Proses produksi dari tanaman jagung menghasilkan limbah tongkol
jagung yang sangat melimpah. Agar limbah tersebut tidak terbuang sia-sia
maka dapat kita manfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang bermanfaat
bagi manusia dan lingkungan seperti halnya dibuat arang briket.
Pembuatan arang briket mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi
dibandingkan briket biasa. Berdasarkan penelitian terdahulu pengkonversian
tongkol jagung menjadi briket biasa nilai kalornya belum mencukupi untuk
keperluan industri. Karena permasalahan tersebut, diharapkan arang briket
dengan nilai kalor tinggi mampu memenuhi kebutuhan industri dan mampu
menggantikan bahan bakar padat fosil.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelinitian ini adalah sebagai berikut:

a. Mencari inovasi baru pemanfaatan energi alternatif limbah pertanian


menjadi bahan bakar.

12
b. Mengkonversi tongkol jagung menjadi arang briket yang berkualitas
dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
D. Manfaat Penelitian
Secara teoritis manfaat yang didapat dalam penelitian ini adalah sebagai
wacana kajian ilmu pengetahuan bidang energi bagi peneliti pada khususnya
dan masyarakat luas pada umumnya. Manfaat secara praktis di dalam
penelitian ini :
a. Menghasilkan bahan bakar alternatif terbarukan dari limbah pertanian
dan produk yang bernilai ekonomis berupa bahan bakar arang briket.
b. Mengurangi polusi hasil pembakaran limbah tongkol jagung secara
langsung.
c. Memberi solusi terhadap melimpahnya limbah tongkol jagung yang
belum termafaatkan secara maksimal.
d. Mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak dengan adanya
bahan bakar alternatif.
e. Bagi TONGKOL JAGUNG
masyarakat, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui
usaha briket yang berkualitas.
KARBONISASI
II. METODE PENELITIAN
A. RancanganPENGGILINGAN
Penelitian
Proses pembuatan arang briket dari tongkol jagung adalah dengan
DISARING DENGAN
PEREKAT
menggunakan proses karbonisasi terlebih dahulu pada
0,6 MESH suhu yang berkisar
antara 300°C selama 5 jam, digiling, disaring dengan ukuran serbuk yang lolos
DITIMBANG DITIMBANG
sebesar 0,6 mesh, ditimbang dan diberi perekat tepung kanji 6% dengan berat
keseluruhan campuran 6 gram, kompaksi yang dilakukan dalam pembriketan
Kanji 6%

sebesar 1426,75 Kg/cm², 1630,57 Kg/cm², 1834,39 Kg/cm²


Tahap pembuatan briket dan pengujianya
KOMPAKSI disajikan dalam bagan berikut:
1426,75 Kg/cm²,
1630,57 Kg/cm²,
1834,39 Kg/cm²

ARANG BRIKET

PENGUJIAN SIFAT
BRIKET
Nilai kalor
Densitas
Fixed Carbon
Kadar Abu

13
ANALISIS
PENELITIAN

KESIMPULAN
Gambar 1. Bagan pembuatan briket

1. Alat dan Bahan


a. Alat-alat yang digunakan

32 mm
24 mm

32 mm
text 60 mm 24 mm

text

A. Cetakan B. Penekan C. Landasan D. Pelepas


14
Gambar 2. Alat cetak arang briket

Keterangan:

1) Alat kompaksi yang digunakan adalah hidrolik manual yang


mempunyai kapasitas 20 ton dan memiliki batas titik aman kompaksi 15
ton.
2) Saringan yang digunakan adalah saringan dengan ukuran 0,6 mesh.
3) Pengujian nilai kalor mengunakan alat Boom Kalori Meter.
4) Pengujian fixed karbon
Kadar karbon terikat (%) = 100 - (Ka + Vm + Abu)

5) Pengujian kadar abu mengunakan oven dan timbangan digital.


6) Pengujian densitas mengunakan jangka sorong
b. Bahan penelitian yang digunakan
1) Tongkol jagung sebagai bahan dasar
2) Tepung kanji sebagai bahan perekat
2. Proses Pembuatan Briket
a. Proses pengolahan bahan serbuk tongkol jagung
1) Awal mula bahan diambil dari alam, yaitu berupa tongkol jagung
yang sudah tidak terpakai.
2) Proses pengarangan tongkol jagung.
3) Arang tongkol jagung dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil.
4) Ditumbuk agar menjadi serbuk yang halus.
5) Saring serbuk tongkol jagung dengan ayakan dengan 0,6 mesh.
6) Serbuk arang tongkol jagung siap dicampur dengan perekat.
b. Proses pencampuran serbuk arang tongkol jagung dengan perekat
1) Hitung dengan prosentase berat antara serbuk arang tongkol jagung
dengan perekat dengan prosentase 6%
2) Membuat jeli dari tepung kanji, dengan cara mencampur kanji
dengan air panas
3) Timbang serbuk arang tongkol jagung dan perekat.

15
4) Berat keseluruhan campuran adalah 6 gram
5) Setelah ditimbang perbandingan antara serbuk arang tongkol jagung
dan perekat, lalu dicampur dalam plastik sehingga menjadi satu dan
homogen.
c. Proses pengompaksian briket
1) Siapkan cetakan briket dan alat kompaksi.
2) Masukkan bahan briket yang sudah dicampur kedalam cetakan.
3) Letakkan cetakan yang sudah berisi campuran serbuk arang tongkol
jagung pada bagian bawah alat kompaksi.
4) Putar pengunci tabung oli agar tekanannya tidak turun.
5) Pompalah alat kompaksi hingga indikator menunjukkan
pembebanan yang diinginkan.
3. Langkah Pengujian
a. nilai kalor
1) Timbang sampel dengan cawan dengan teliti sebanyak 1 gram,
kemudian tempatkan pada tempat cawan.
2) Potong kawat niklin 10 cm, pasang pada katup positif dan negatif
pada tempat cawan dan sentuhkan kawat niklin pada sampel.
3) Masukkan perlahan-lahan dalam reaktor dan tutup dengan rapat dan
benar (jangan sampai kawat nikelin lepas dari sampel).
4) Isi reaktor dengan gas oksigen dengan tekanan 20 sampai 30 atm
kemudian tutup kran pembuka gas dengan benar (jangan sampai gas
bocor, jika terjadi kebocoran ulangi pengisian gas).
5) Isi tabung/bejana pemanas dengan air 2000 gram (2000 ml) dengan
tepat, masukkan reaktor kedalam bejana pemanas dan hubungkan
reaktor dengan katup positif dan negatif pada arus.
6) Tutup dengan benar alatnya, pasang termometer khusus bomb
calorimeter dengan benar dan hidupkan pengaduk sehingga suhu
dalam bejana pemanas konstan dan homogen (diaduk selama 5
menit).

16
7) Tekan tombol pembakar dan amati perubahan suhu awal
pembakaran dan kenaikan suhunya sampai diperoleh suhu konstan
(catat suhunya sebagai suhu akhir).
8) Matikan alatnya, lepas thermometer khusus bomb calorimeter dan
keluarkan reaktornya dan buka kran oksigen sampai oksigen keluar,
kemudian buka reaktor dan bersihkan.
9) Lakukan kalibrasi pembakaran alat dengan mengunakan asam
benzoat sebagai standar seperti langkah kerja diatas, sehingga
diperoleh Tara Energi (W).
Rumus perolehan data :
∆t = T2 – T1
6320 xM
W=
∆t
W × ∆t
E = kkal/gram
M

Dimana :
6320 : Nilai kalor/1gr asam benzuat
M : Berat massa benzuat
∆t : Suhu asam benzuat
W : Tara Energi
E : Kalor pembakaran
b. Kadar abu
1) Panaskan cawan kedalam tungku bersuhu 6000C, dinginkan di
desikator (pengering) kemudian timbang.
2) Letakkan 1-2 gram spesimen kedalam cawan dengan tutup terbuka
kemudian masukkan dalam oven pengering.
3) Setelah satu jam tutup kembali cawan, dinginkan didesikator dan
timbang.
4) Ulangi pengeringan dan penimbangan hingga didapatkan berat
konstan 0,1 mg. selama proses pendinginan dan penimbangan
tutuplah cawan untuk menghindari absorpsi uap lembab dari udara.

17
5) Catat berat (cawan + spesimen) – cawan sebagai berat spesimen
yang telah dikeringkan.
6) Letakkan cawan tertutup beserta isinya ketungku, bakar sampai
semua karbon hilang. Awal mulanya, panaskan perlahan untuk
menghindari kebakaran dan menjaga cawan dari percikan keras
sehingga spesimen utuh. Suhu pembakaran akhir disarankan 580 –
6000C.
7) Letakkan cawan beserta isinya ke desikator, buka tutupnya,
dinginkan dan timbang dengan akurat. Ulangi pemanasan selama 30
menit sampai berat setelah pendinginan konstan 0,2 mg.
Besarnya kadar abu dihitung dengan rumus :
W1
Kadar Abu (%) = × 100%
W2
Keterangan:
W1 = Berat abu (gram)
W2 = Berat sampel yang dikeringkan (gram)
c. Densitas
Langkah Pengujian:

1) Siapkan semua peralatan yang digunakan termasuk benda uji


2) Timbang berat briket
3) Ukur volume briket (volume silinder)
4) Hitunglah densitas dengan rumus

ρ=

18
Gambar 3. Pengujian densitas

Keterangan :
ρ : Berat jenis briket
m : massa briket (gr)
v : volume briket ( )
d. Fixed Carbon (karbon terikat)
Kadar karbon terikat adalah fraksi karbon dalam arang selain
fraksi abu, zat mudah menguap dan air, perhitungan kadar karbon
sebagaimana disebutkan oleh Earl (1974) sebagai berikut:
Kadar karbon terikat (%) = 100 - (Ka + Vm + Abu)
Keterangan:
Ka : Kadar Air (%)
Vm : kadar zat mudah mudah menguap (volatile matter) (%)
Abu : kadar abu (%)
B. Data dan Sumber Data Penelitian
1. Biomassa Sebagai Sumber Energi
Biomassa adalah suatu limbah benda padat yang bisa dimanfaatkan
lagi sebagai sumber bahan bakar. Biomassa meliputi limbah kayu, limbah
pertanian/perkebunan/hutan, komponen organik dari industri dan rumah
tangga. Energi biomassa dapat menjadi sumber energi alternatif pengganti
bahan bakar fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang
menguntungkan yaitu sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara lestari
karena sifatnya yang dapat diperbaharui (renewable resources), sumber
energi ini relatif tidak mengandung unsur sulfhur sehingga tidak
menyebabkan polusi udara dan juga dapat meningkatkan efisiensi
pemanfaatan sumber daya hutan dan pertanian (Syafi’i, 2003).
Biomassa dikonversi menjadi energi dalam bentuk bahan bakar
cair, gas, panas, dan listrik. Teknologi konversi biomassa menjadi bahan
bakar padat, cair, dan gas, antara lain teknologi pirolisa (bio-oil),
esterifikasi (bio-diesel), teknologi fermentasi (bio-etanol), anaerobik

19
digester (biogas). Dan teknologi konversi biomassa menjadi energi panas
yang kemudian dapat diubah menjadi energi mekanis dan listrik, antara
lain, teknologi pembakaran dan gasifikasi.
Teknologi konversi termal biomassa meliputi pembakaran
langsung, gasifikasi, dan pirolisis atau karbonisasi. Masing-masing metode
memiliki karakteristik yang berbeda dilihat dari komposisi udara dan
produk yang dihasilkan. (Jawa Pos, 22 Juni 2007).

2. Konsep Konversi
Herman Hindarso, Anastasia Lidya Maukar. (2000), meneliti
bahwa proses konversi biomassa menjadi bioarang sebagai bahan bakar
alternatif, berdasarkan hasil percobaan pirolisis biomassa jerami padi, daun
sono dan tongkol jagung dengan menggunakan gas inert nitrogen dan
karbon dioksida (laju alirnya hingga 6 L/menit) pada suhu 250 – 450 °C
dapat disimpulkan bahwa semakin besar suhu, hasil bioarang semakin
berkurang, kadar karbon dan nilai kalor meningkat dan polusi yang
ditimbulkan lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung unsur
sulfur dan nitrogen oksida ke udara bebas Dan untuk analisis kelayakan
ekonomi, proyek pembuatan bioarang pada skala komersial bersifat
feasible dan menguntungkan untuk didirikan.
Kuncoro dkk. (1999), meneliti pembakaran briket tanpa karbonasi
akan menyebabkan penyalaan briket menjadi mudah dibandingkan dengan
briket yang telah dikarbonasi. Hal ini dikarenakan briket tanpa karbonasi
masih mengandung kadar volattile matter yang cukup banyak. Disamping
itu mekanisme perubahan panas briket juga akan berubah. Sementara itu
Zapusek et al. (2003), melakukan penelitian mengenai pengaruh
temperatur dan lama pembakaran terhadap sifat-sifat dasar batubara
setelah dikarbonasi. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa untuk variasi
temperatur karbonasi semakin tinggi akan meningkatkan kandungan
karbon, nilai kalori, abu dan sulfur sedangkan kandungan air, zat volatile
matter dan hidrogen akan menurun. Untuk variasi waktu karbonasi yang

20
dilakukan pada temperatur karbonasi yang sama dihasilkan bahwa semakin
lama waktu karbonasi maka kandungan kalori, karbon, sulfur dan abu akan
meningkat, sedangkan untuk kandungan air, zat volatile matter dan
hidrogen serta nitrogen menurun.
3. Proses Konversi Biomassa Menjadi Energi
a. Teknologi konversi termal biomassa proses pembakaran langsung.
Proses pembakaran langsung adalah proses yang paling mudah
dibandingkan dengan lainnya. Biomassa langsung dibakar tanpa proses-
proses lainnya. Cara seperti ini sangat mudah dijumpai. Di pedesaan
Indonesia, banyak masyarakat memanfaatkan kayu bakar sebagai bahan
bakar karena praktis dan mudah mendapatkannya walaupun secara umum
efisiensinya sangat rendah.
Sedangkan di dunia industri, model pembakaran langsung juga
banyak digunakan terutama untuk produksi listrik seperti di pabrik kelapa
sawit dan gula yang memanfaatkan limbahnya sebagai bahan bakar.
Biomassa dapat dibakar dalam bentuk serbuk, briket, ataupun batangan
yang disesuaikan dengan penggunaan dan kondisi biomassa.
b. Teknologi konversi termal biomassa gasifikasi
Teknologi konversi termal biomassa gasifikasi, dasarnya adalah
usaha penggunaan bahan bakar padat yang lebih dahulu diubah dalam
bentuk gas. Pada proses gasifikasi ini, biomassa dibakar dengan udara
terbatas sehingga gas yang dihasilkan sebagian besar mengandung karbon
monoksida.
Keuntungan proses gasifikasi ini adalah dapat digunakannya
biomassa yang mempunyai nilai kalor relatif rendah dan kadar air yang
cukup tinggi. Efisiensi yang dapat dicapai dengan teknologi gasifikasi
sekitar 30-40 persen. Beberapa metode gasifikasi telah dikembangkan
seperti fixed bed dan fluidized bed gasifier.
c. Teknologi konversi termal biomassa pirolisis
Teknologi konversi termal biomassa pirolisis yaitu pembakaran
biomassa pada kondisi tanpa oksigen. Tujuannya adalah melepaskan zat

21
terbang (volatile matter) yang terkandung pada biomassa. Secara umum
kandungan zat terbang dalam biomassa cukup tinggi. Produk proses
pirolisis ini berbentuk cair, gas, dan padat. Produk padat dari proses ini
berupa arang (char) yang kemudian disebut karbonisasi.
Karbonisasi biomassa atau yang lebih dikenal dengan pengarangan
adalah suatu proses untuk menaikkan nilai kalor biomassa dan dihasilkan
pembakaran yang bersih dengan sedikit asap. Hasil karbonisasi adalah
berupa arang yang tersusun atas karbon dan berwarna hitam.
Prinsip proses karbonisasi adalah pembakaran biomassa tanpa
adanya kehadiran oksigen. Sehingga yang terlepas hanya bagian volatile
matter, sedangkan karbonnya tetap tinggal di dalamnya. Temperatur
karbonisasi akan sangat berpengaruh terhadap arang yang dihasilkan
sehingga penentuan temperatur yang tepat akan menentukan kualitas
arang. (Jawa Pos. Rabu, 30 Mei 2007).
Penelitian telah banyak dilakukan untuk mempelajari potensi energi
biomassa dalam bentuk padat dari berbagai limbah pertanian seperti:
ampas tebu (Apolinario et al 1997), sekam padi (Estela 2002), serta batang
gandum dan rumput (Mani , S. et al 2002), sedangakan Jekayinfa, S.O
(2005) melakukan penelitian terhadap limbah dari 10 jenis tanaman
pertanian lokal di Nigeria termasuk tongkol jagung.
Sulistiono (2006) meneliti bio briket yang menggunakan bahan
baku dari sabut kelapa yang dicampur dengan batubara. Hasil penelitian
menunjukkan ada pengaruh campuran batubara terhadap karakteristik
briket. Dalam penelitiannya terlihat bahwa semakin banyak campuran
batubara yang digunakan, nilai kalornya semakin meningkat. Ini
membuktikan bahwa batubara dapat menaikkan nilai kalor dari bahan
baku dasar.
4. Sifat Briket
a. Kadar Abu
Kandungan abu merupakan ukuran kandungan material dan
berbagai material anorganik didalam benda uji. Metode pengujian ini
meliputi penetapan abu yang dinyatakan dengan presentase sisa hasil

22
oksidasi kering benda uji pada suhu ± 580-6000C, setelah dilakukan
pengujian kadar air.
Abu adalah bahan yang tersisa apabila kayu dipanaskan hingga
berat konstan (Earl ,1974). Kadar abu ini sebanding dengan kandungan
bahan anorganik di dalam kayu. Salah satu unsur utama yang terkandung
dalam abu adalah silika dan pengaruhnya kurang baik terhadap nilai kalor
yang dihasilkan. Abu terdiri dari bahan mineral seperti lempung, silika,
kalsium, serta magnesium oksida dan lain – lain.
b. Berat jenis (Densitas)
Menurut Haygreen dan Bower (1989) berat jenis adalah
perbandingan antara kerapatan kayu (atas dasar berat kering tanur dan
volume pada kadar air yang telah ditentukan) dengan kerapatan air pada
suhu 4oC. Air memiliki kerapatan 1g/cm3 atau 1000 kg/m3 pada suhu
standar tersebut. Soeparno dkk (1999) mengemukakan berat jenis yang
tinggi menunjukkan kekompakan kerapatan arang briket yang dihasilkan.
Sudrajad (1983), mengatakan berat jenis kayu sangat mempengaruhi
kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor
briket yang dihasilkan. Selanjutnya disebutkan briket dari kayu
berkerapatan tinggi menunjukkan nilai kerapatan, keteguhan tekan, kadar
abu, kadar karbon terikat, dan nilai kalor yang lebih tinggi dibandingkan
briket yang dibuat dari kayu yang berkerapatan rendah.
c. Nilai kalor
Nilai kalor bahan bakar adalah jumlah panas yang dihasilkan atau
ditimbulkan oleh suatu gram bahan bakar tersebut dengan meningkatkan
temperatur 1 gr air dari 3,50 C – 4,50 C, dengan satuan kalori
(Koesoemadinata : 1980). Dengan kata lain nilai kalor adalah besarnya
panas yang diperoleh dari pembakaran suatu jumlah tertentu bahan bakar
didalam zat asam. Makin tinggi berat jenis bahan bakar, makin tinggi nilai
kalor yang diperolehnya. Misal bahan bakar minyak dengan berat jenis
0,75 atau grafitasi API 70,6 mempunyai nilai kalor 11.700 kal/gr.
Nilai kalor merupakan ukuran panas atau energi yang dihasilkan.,
dan diukur sebagai nilai kalor kotor/ gross calorific value (GCV).
Perbedaannya ditentukan oleh panas laten kondensasi dari uap air yang

23
dihasilkan selama proses pembakaran. GCV mengasumsikan seluruh uap
yang dihasilkan selama proses pembakaran sepenuhnya
terembunkan/terkondensasikan. Nilai kalor netto (NCV) mengasumsikan
air yang keluar dengan produk pengembunan tidak seluruhnya
terembunkan. Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan NCV
(www.energyefficiencyasia.org). Syachri (1983) menyatakan bahwa yang
sangat mempengaruhi nilai kalor kayu adalah zat karbon, lignin, dan zat
resin, sedangkan kandungan selulosa kayu tidak begitu berpengaruh
terhadap nilai kalor kayu
Kalori meter bom adalah suatu alat yang digunakan untuk
menentukan panas yang dibebaskan oleh suatu bahan bakar dan oksigen
pada volume tetap. Alat tersebut ditemukan oleh Prof. S. W. Parr pada
tahun 1912, oleh sebab itu alat tersebut sering disebut ”Parr Oxygen
Bomb Calorimeter”.

Gambar 4. Bom kalori meter

d. Fixed carbon (karbon terikat)


Djatmiko dkk. (1981 dalam Wiranthaka, 2004) mengemukakan
karbon terikat sebagi karbon (C) dalam arang selain fraksi abu, air, dan zat
mudah menguap. Karbon terikat mempunyai peranan yang cukup penting
untuk menentukan kualitas arang karena akan mempengaruhi besarnya
nilai kalor yang dihasilkan. Semakin tinggi karbon terikat dalam arang,
semakin tinggi pula nilai kalor yang dihasilkan. Arang yang bermutu baik

24
adalah arang yang mempunyai nilai kalor dan karbon terikat tinggi, tetapi
mempunyai kadar abu yang rendah.
Menurut Soeparno dkk. (1999) faktor jenis kayu sangat berpengaruh
pada besarnya kadar karbon terikat dalam briket arang karena kandungan
kimia di dalamnya. Besarnya kandungan selulosa dalam kayu akan
mempengaruhi kadar karbon terikat dalam briket arang. Kandungan
selulosa yang tinggi akan menyebabkan kadar karbon terikat yang tinggi
pula. Hal ini disebakan komponen penyusun selulosa sebagian besar
adalah karbon.
Earl (1974) menyebutkan karbon pada kayu sekitar 50% dari berat
kering kayu tersebut, sedangkan kadar karbon pada arang biasanya
berkisar antara 20-40% dari berat kering kayu semula. Hal ini
menunjukkan ada karbon yang hilang pada saat proses pengarangan
berlangsung.
Imam Budi Raharjo. (2006) Nilai kadar karbon diperoleh melalui
pengurangan angka 100 dengan jumlah kadar air (kelembaban), kadar abu,
dan jumlah zat terbang. Nilai ini semakin bertambah seiring dengan
tingkat pembatubaraan. Kadar karbon dan jumlah zat terbang digunakan
sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai
fuel ratio.
Komponen yang bila terbakar tidak membentuk gas, yaitu “karbon
tetap” atau“KT” atau “FC” (fixed carbon).
(www.chemeng.ui.ac.id/~wulan/Materi/lecture%20notes/tekban_2trnsprn.
PDF.)
5. Briket dan Proses Pembuatan Briket
Briket merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari limbah
organik, limbah pabrik maupun dari limbah perkotaan. Bahan bakar padat
ini murupakan bahan bakar alternatif atau merupakan pengganti bahan
bakar minyak yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan
secara masal dalam waktu yang relatif singkat mengingat teknologi dan

25
peralatan yang digunakan relatif sederhana (Kementrian Negara Riset dan
Teknologi @2004.ristek.go.id).
Salah satu teknologi yang menjanjikan adalah proses pembriketan.
Teknologi ini secara sederhana didefinisikan sebagai proses densifikasi
untuk memperbaiki karakteristik bahan baku. Sifat-sifat penting dari briket
yang mempengaruhi kualitas bahan bakar adalah sifat fisik, kimia dan
daya tahan briket. Sebagai contoh adalah karakteristik densitas, ukuran
briket, kandungan air, nilai kalor, kadar abu dan kepekatan asap. Penelitian
ini menyelidiki pemanfaatan biomassa yang melimpah sebagai sumber
energi dengan menjadikannya biobriket.
Dengan menggunakan analisis proximate diukur beberapa
parameter seperti : kandungan air, volatile matter, kandungan abu, fixed
carbon dan nilai kalor dari biomassa. Parameter-parameter tadi
memberikan sifat teknis dari energi biomassa sebagai bahan bakar
potensial pengganti bahan bakar fosil. Pemilihan biomassa berdasarkan
nilai kalor yang tinggi, kandungan volatil yang tinggi, kadar abu rendah,
kandungan fixed carbon sedang dan ketersediaannya yang melimpah.
Ada bermacam-macam jenis briket yang dapat digolongkan
menurut bahan baku dan dalam masa proses pembuatannya meliputi:
a. Briket dilihat dari bahan baku
1) Organik, bahan baku ini biasanya berasal dari pertanian dan hutan.
2) An organik, bahan baku ini biasanya berasal dari limbah perkotaan
dan limbah pabrik.

b. Briket dilihat dari proses pembuatan


1) Jenis Berkarbonisasi (super), jenis ini mengalami terlebih dahulu
proses dikarbonisasi sebelum atau sesudah menjadi briket. Dengan
proses karbonisasi zat-zat terbang yang terkandung dalam briket
tersebut diturunkan serendah mungkin sehingga produk akhirnya
tidak berbau dan berasap, namun biaya produksi menjadi meningkat

26
karena pada bahan baku briket tersebut terjadi rendemen sebesar
50%. Briket ini cocok untuk digunakan untuk keperluan rumah
tangga serta lebih aman dalam penggunaannya.
2) Jenis Non Karbonisasi (biasa), jenis yang ini tidak mengalamai
proses karbonisasi sebelum diproses menjadi briket dan
harganyapun lebih murah. Karena zat terbangnya masih terkandung
dalam briket maka pada penggunaannya lebih baik menggunakan
tungku (bukan kompor) sehingga akan menghasilkan pembakaran
yang sempurna dimana seluruh zat terbang yang muncul dari briket
akan habis terbakar oleh lidah api dipermukaan tungku. Briket ini
umumnya digunakan untuk industri kecil (Kementrian Negara Riset
dan Teknologi Nilai kalor bahan bakar adalah jumlah panas yang
dihasilkan atau ditimbulkan oleh suatu gram bahan bakar tersebut
dengan meningkatkan temperatur 1 gr air dari 3,50 C – 4,50 C,
dengan satuan kalori (Koesoemadinata : 1980)@2004.ristek.go.id).
6. Bahan Perekat
(Estela (2002) menggunakan dua cara dalam pembuatan briket yaitu
kompaksi rendah dengan menggunakan bahan pengikat clay, bentonit,
serta yucca starch dan kompaksi tinggi tanpa bahan pengikat. Dalam
penelitian ini perekat yang digunakan adalah tepung kanji.
Sedangkan tepung adalah partikel padat yang berbentuk butiran halus
atau sangat halus tergantung pemakaiannya. Biasanya digunakan untuk
keperluan penelitian, rumah tangga, dan bahan baku industri. Tepung bisa
berasal dari bahan nabati misalnya tepung terigu dari gandum, tapioka dari
singkong, maizena dari jagung atau hewani misalnya tepung tulang dan
tepung ikan. Tepung kanji merupakan produk olahan berupa tepung yang
diperoleh dari umbi ketela pohon. Kanji dikenal juga sebagai aci atau
tapioka.(http://id.wikipedia.org/wiki/Tepung_kanji). Dibuat dari pati
singkong (cassava). Kanji sering dipakai campuran untuk makanan, yaitu
sebagai pengental, dengan sifat itulah kanji digunakan sebagai perekat
dalam penelitian ini.
C. Pengumpulan Data

27
Pengumpulan data merupakan suatu pekerjaan yang penting dalam
penelitian, karena dalam pengumpulannya harus benar-benar teliti.
Sehingga pada waktu data dianalisis dapat menghasilkan data yang bagus.
Dalam penelitian ada beberapa metode pengumpulan data yang
digunakan seperti :
1. Metode dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variable yang berupa catatan, trnskrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,
notulen rapat, lengger, anggenda, dan sebagainya.
a. Dokumentasi dan record digunakan karena merupakan sumber yang
stabil.
b. Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.
c. Relatif murah dan mudah diperoleh.
Dalam penelitian ini alasan peneliti menggunakan metode
dokumentasi adalah untuk memperkuat data-data primer dari penelitian
secara langsung.
2. Metode penelitian langsung
Merupakan metode pengumpulan dan langsung ke lapangan atau
laboratorium terhadap obyek penelitian. Hasilnya dicata untuk kemudian
dianalisis (Sudjana, 1989).
Dalam hal ini untuk mengetahui sifat fisik-kimia dari briket yang
dibuat, peneliti menggunakan beberapa pengujian sampel.
Pengujian sampel penelitian meliputi :
a. Pengujian Kalori
b. Pengujian Densitas
c. Pengujian Kadar abu
d. Pengujian Fixed Karbon
D. Analisi Data
Analisi data merupakan bagian yang amat penting dalam metode
ilmiah karena dengan analisis inilah data mentah yang telah dikumpulkan
oleh peneliti dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan
masalah penelitian, sehingga akan didapat suatu kesimpulan yang benar.
Proses analisis dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia

28
dengan berbagai sumber yaitu dokumentasi, observasi dan penelitian
langsung. Dari hasil perolehan data, maka hasil penelitian dianalisis secara
tepat agar simpulan yang diperoleh tepat pula. Dalam proses analisis data
ada dua unsur yang dipertimbangkan oleh penganalisis yaitu :
1. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan pemusatan
perhatian pada penyerderhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data
”kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan (Rohidi,
1992:16). Reduksi data berlangsung selama proyek berlangsung, reduksi
data bukan merupakan suatu hal yang terpisah dari analisis. Dengan
demikian reduksi data bukan merupakan bentuk analisis yang
menggolongkan, mengarahkan, menajamkan, membuang hal-hal yang
tidak perlu dengan cara yang sedemikian rupa, sehingga kesimpulan
akhirnya dapat ditarik dan diverifikasi.
2. Penyajian data
Sajian data adalah suatu informasi yang memungkinkan kesimpulan
dapat ditarik (Rohidi, 1992 : 17). Dengan melihat suatu sajian data,
penganalisis akan dapat memahami apa yang terjadi, serta memberikan
apa yang peluang bagi penganalisis untuk mengerjakan sesuatu pada
analisis / tindakan lain berdasarkan pemahaman tersebut. Guna
memberikan gambaran yang jelas dalam sajian data, perlu
dipertimbangkan efisien dan efektifitas dari sajian informasi yang akan
disampaikan dalam satu sajian yang baik dan jelas sistematikanya.
Dalam penyajian data yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan tabel.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Pengujian Nilai Kalor

Tabel 1. Uji nilai kalori arang briket tongkol jagung dengan variasi
pembebanan

Arang Briket Tongkol Jagung dengan pembebanan 7 ton

29
Pengamatan 1 5.581,21 kalori/gram
Rata-rata :
Pengamatan 2 5.446,44 kalori/gram 5.516,85 kalori/gram
Pengamatan 3 5.602,90 kalori/gram
Arang Briket Tongkol Jagung dengan pembebanan 8 ton
Pengamatan 1 5.543,24 kalori/gram Rata-rata :
Pengamatan 2 5.446,44 kalori/gram
Pengamatan 3 5.591,90 kalori/gram 5.527,01 kalori/gram

Arang Briket Tongkol Jagung dengan pembebanan 9 ton


Pengamatan 1 5.579,43 kalori/gram Rata-rata :
Pengamatan 2 5.495,16 kalori/gram
Pengamatan 3 5.520,06 kalori/gram 5.531,55 kalori/gram

Dari tabel hasil pengujian di atas dapat dibuat grafik sebagai berikut :

5.535,00

5.530,00

5.525,00
Nilai Kalor (kal/gr)
5.520,00

5.515,00

5.510,00

5.505,00
7 8 9

Pembebanan (ton)

Gambar 5. Grafik hasil pengujian nilai kalori

Dari hasil uji nilai kalori arang briket tongkol jagung dengan variasi
pembebanan, terlihat semakin tinggi pembebanan, nilai kalorinya semakin
tinggi. Tetapi perbedaan nilai kalori antar variasi pembebanan hanya selisih
sedikit atau tidak signifikan, Ini disebabkan oleh kadar air yang ada pada
masing-masing arang briket berbeda. Untuk arang briket dengan
pembebanan tinggi kadar airnya rendah sehingga nilai kalorinya tinggi,
sebaliknya untuk arang briket dengan pembebanan rendah kadar airnya lebih
banyak sehingga nilai kalorinya turun.

30
Dari grafik pengujian nilai kalori yang dilakukan menunjukkan bahwa
arang briket yang mempunyai nilai kalori tinggi adalah arang briket dengan
pembebanan 9 ton sebesar 5.531,55 kalori/gram. Sedangkan nilai kalori
yang paling rendah adalah arang briket dengan pembebanan 7 ton sebesar
5.516,85 kalori/gram.

B. Pengujian Densitas (Berat Jenis)


Tabel 2. uji densitas arang briket tongkol jagung dengan variasi
pembebanan

Pembebanan(ton
NO M(gr) t(mm) D(mm) V( ) Ρ( )
)
1 7 4 15,62 25,80 8,25 0,49
2 8 4 14,44 25,10 7,73 0,56
3 9 4 13,80 25,00 6,68 0,63

Dari tabel di atas dapat dibuat grafik seperti di bawah ini :

31
0,7

0,65
De 0,6
nsit
0,55
as
0,5
(gr/
0,45
cc)
0,4
7 8 9

Pembebanan (ton)
Gambar 6. Grafik hasil pengujian densitas

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, terlihat bahwa nilai berat
jenis dari briket yang dikompaksi 7 ton memiliki berat jenis paling rendah
sebesar 0,49 gr/cc. sedangkan nilai berat jenis tertinggi didapat arang briket
tongkol jagung yang dikompaksi 9 ton sebesar 0,63 gr/cc.
Densitas berpengaruh terhadap tingkat energi yang terkandung dalam
briket. Semakin tingki densitas semakin tinggi pula enrgi yang terkandung
di dalamnya. Dengan tingkat densitas yang tinggi juga mempunyai
keuntungan, diantaranya :
1. Briket menjadi lebih padat dan kuat atau tingkat stability tinggi.
2. Lebih ringkas, tidak memakan tempat.
Sudrajad (1983), mengatakan berat jenis kayu sangat mempengaruhi
kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor
briket yang dihasilkan. Selanjutnya disebutkan briket dari kayu berkerapatan
tinggi menunjukkan nilai kerapatan, keteguhan tekan, kadar abu, kadar
karbon terikat, dan nilai kalor yang lebih tinggi dibandingkan briket yang
dibuat dari kayu yang berkerapatan rendah.

C. Pengujian Fix Carbon (Karbon Terikat)103.74

Tabel 3. Hasil pengujian Kadar Karbon Terikat (Fixed Carbon)

32
Variasi Penguji Kadar Volatile Kadar Kadar Rata –
Pembebanan an Air (%) Matter abu Karbon Rata
N
(%) (%) (%) Kadar
o.
Karbon
(%)
I 9,300 38,257 19,200 33,243
1 7 ton II 9,400 39,027 19,350 33,223 34,58
III 8,740 34,236 19,750 37,274

I 8,946 36,936 14,450 39,669


2 8 ton II 9,095 39,255 20,300 31,350 34,59
III 9,291 39,660 18,300 32,749

I 7,300 38,700 19,790 34,210


3 9 ton II 7,186 38,700 20,850 32,550 34,59
III 6,947 35,687 17,100 36,980

35,5

35
Fix
carbon 34,5
(%)
34

7 8 9

Pembebanan (ton)

Gambar 7. Grafik hasil pengujian fix carbon

Kadar karbon terikat adalah fraksi karbon dalam arang selain fraksi
abu,zat mudah menguap dan air. Dari tabel dan grafik di atas menunjukkan
variasi pembebanan kompaksi kurang berpengaruh terhadap kandungan
karbon terikat pada arang briket.
Semua arang briket yang diuji didapatkan rata-rata menmpunyai
kandungan karbon terikat sebesar 34,5 %. Hal ini disebabkan besar
pembebanan tidak mempengaruhi kadar karbon terikat dalam arang briket.

33
Karbon terikat sangat baik pengaruhnya terhadap nilai kalori dari
briket. Semakin tinggi kadar karbon terikat dari briket maka semakin tinggi
pula nilai kalorinya.

D. Pengujian Kadar Abu

Tabel 4. Hasil pengujian kadar abu arang briket tongkol jagung dengan
variasi pembebanan

Penimbangan
Variasi Berat Rata –
Berat
NO Pembeban Pengujian Berat Cawan Kadar rata
Cawan
an Cawan + Abu Kadar
+ Abu
(gram) Sampel (%) Abu
(gram)
(gram) (%)
I 7,896 9,987 8,292 18,938
1 7 ton II 9,176 11,548 9,583 17.158 17,732
III 22,234 24,234 22,576 17,100

I 12,836 14,836 13.125 14,450


2 8 ton II 8,850 10,850 9,256 20,300 17,683
III 14,114 16,114 14,480 18,300

I 8,214 10,215 8,530 15,792


3 9 ton II 8,955 10,957 9,308 17,632 17,518
III 8,255 10,257 8,638 19,131

18,5

18

Kadar 17,5
Abu (%)
17

34
7 8 9

Pembebanan (ton)
Gambar 8. Grafik hasil pengujian Kadar Abu

Pengujian Kadar Abu

Kandungan abu merupakan ukuran kandungan material dan berbagai


material anorganik didalam benda uji. Metode pengujian ini meliputi
penetapan abu yang dinyatakan dengan prosentase sisa hasil oksidasi kering
benda uji pada suhu ± 580-6000C, setelah dilakukan pengujian kadar air.
Dari hasil pengujian kadar abu yang dilakukan, menunjukkan bahwa
arang briket dengan pembebanan 7 ton memiliki kadar abu paling tinggi, yaitu
17,732 %. Sedangkan untuk arang briket dengan pembebanan 9 ton memiliki
kadar abu rendah, yaitu 17,518 %. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi
pembebanan pada saat kompaksi maka arang briket yang dihasilkan memiliki
kadar abu rendah.
Kadar abu berpengaruh negatif terhadap nilai kalor. Semakin tinggi
kadar abu maka semakin rendah nilai kalornya.

35
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian mengenai pengaruh variasi
tekanan kompaksi dan penambahan perekat terhadap sifat fisik arang briket
tongkol jagung, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Semakin tinggi tekanan kompaksi atau pembebanan semakin tinggi pula
densitas dari arang briket tongkol jagung. Pembebanan berpengaruh juga terhadap
kadar abu dan nilai kalori, dimana nilai kalori menjadi menningkat jika
pembebanan tinggi. Sedangkan untuk kadar abu, semakin tinggi pembebanan
semakin rendah kadar abunya.
Fix karbon pada arang briket tongkol jagung tidak dipengaruhi oleh
pembebanan.

B. Saran
Penelitian yang dilaksanakan masih perlu pengembangan lebih lanjut.
Peneliti berharap ada penelitian labih lanjut yang dapat meneruskan ini, sehingga
akan didapatkan hasil-hasil yang lebih sempurna.

36
DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2006. Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia.


www.energyefficiencyasia.org

Anonim., 2007. Briket Batubara Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah.


Kementrian Negara Riset dan Teknologi @2004.ristek.go.id.

Appolinario, M. A, Gantalena, D. V, Escarilla, L. T., 1997, Study on the


Production Of Briquettes From Baggase.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2005. Lahan Pertanian Jagung. BPS. Jakarta.

Budi Raharjo, Imam., 2006. Mengenal Batubara (Sumber: Berita Iptek18/2/2006)


www. ndeni.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=50

Earl, D.E., 1974. A report on Corcoal, Andre Meyer Researc Fellow. FAO. Rome.

Estela, A., 2002, Rice husk – an Alternative Fuel in Peru, Boiling Point No.48.

Gunawan, Anton., 2007, Pengaruh Prosentase Campuran Batubara Terhadap


Karakteristik Briket Tongkol Jagung, Skripsi, FT UNNES (tidak
dipublikasikan).

Haygreen, J.G dan J.L. Bowyer., 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Semua
Pengantar. Diterjemahkan oleh Sutjipto A.Hadikusumo. Gadjah Mada
University press. Yogyakarta.

Hindarso, Herman., Anastasia Lidya Maukar., 2000. Proses Konversi Biomassa


menjadi Bioarang sebagai Bahan Bakar Alternatif. (Masih dalam
penelitian Anton Skripsi Gunawan).

Kuncoro, H., Herbawamurti, T.E, Hawaria, Darmawan., 1999, Study On Coal


Briquettes Stove In Indonesia, Energy Technology Laboratory, LSDE-
BPPT, Jakarta.

37
Mani sudhagar, et al., 2002. Compaktion Behavior of Same Biomass Grinds, AIC
Meeting in Saskaton. Saskatchewan USA.

Riset dan Teknologi., 2007. Briket dari Limbah Perkotaan.


Riset dan Teknologi @2004.ristek.go.id).

Rohidi., (1992:16). (Masih dalam penelitian skripsi Anton gunawan)

Soeparno dkk., 1999. Pengaruh Jenis Serbuk, Kerapatan Ogalit terhadap


Rendemen dan Kualitas Briket Arang, Prosiding Seminar Nasional II
MAPEKI, Buku I. BRIGAF. Yogyakarta.

Sudrajat, R., 1983. Pengaruh Bahan Baku, Jenis Perekat, dan Tekanan Kempa
Terhadap Kualitas Briket Arang. Laboran PPPHH No. 165:7-17. Bogor.

Sudjana., 1989. Metode Stastika. Taristo. Bandung

Syafi’i, W., 2003. Hutan Sumber Energi Mass Depan. www.kompas.co.id. Harian
kompas 15 april 2003.

Sulistyanto, Amin., 2006. Karakteristik Pembakaran Biobriket Campuran


Batubara dan Sabut Kelapa. Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah
Surakarta.

Yandi bagus., 2007. Bahan Energi Alternatif. Jawa Pos, 22 Juni 2007).

Yandi bagus, 2007. Bahan Energi Alternatif. Jawa Pos. Rabu, 30 Mei 2007

Zapusek, A., Wirtgen, C., Lenart, F., 2003, Characterisation Of Carbonizate


Produced From Velenje Lignite In Lab-Scale Reactor, ERICo Velenje,
Institute for Ecological reseach, Koroska 58, 3320 Velenje, Slovania.

------------------., Bahan Bakar dan Pembakaran.


www.chemeng.ui.ac.id/~wulan/Materi/lecture%20notes/tekban_2trnsprn
.PDF.

38
Lampiran 2. Foto Penelitian

39