Anda di halaman 1dari 25

PERHITUNGAN BIAYA DAN MANAJEMEN BERDASARKAN AKTIVITAS

DISUSUN OLEH:

EVITA MAYASARI NURUL SUSIE DARWANI

43208110120 43208110250

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI PROGRAM KELAS KARYAWAN UNIVERSITAS MERCU BUANA 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala berkat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah yang berjudul : Perhitungan Biaya dan Manajemen Berdasarkan Aktivitas. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi mata kuliah Manajemen Biaya pada Fakultas Ekonomi Departemen Akuntansi Universitas Mercubuana Jakarta. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini, tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi. Penulis menyadari bahwa penulisan Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan baik dalam hal penyajiannya serta penulisannya. Oleh karena itu diharapkan kritik berupa saran dalam kesempurnaan Makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Jakarta, 6 Agustus 2011 Penulis

Evita Mayasari Nurul NIM. 43208110120 Susie Darwani NIM. 43208110250

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................................................................................1 KATA PENGANTAR ...............................................................................................................................................2 DAFTAR ISI ...............................................................................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................................................4 BAB II PEMBAHASAN A. Keterbatasan SistemPerhitungan Biaya Berdasarkan Volume ...........................................6 B. Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas ................................................................................ 11 C. Langkah-Langkah Dalam Merancang Sistem Perhitungan Berdasarkan Aktivitas .. 14 D. Manfaat dan Keterbatasan ABC..................................................................................................... 16 E. Manajemen Berdasarkan Aktivitas .............................................................................................. 18 F. Penerapan Analysis Based Costing............................................................................................... 19 G. Analisis Profitabilitas Pelanggan .................................................................................................. 22 BAB III KESIMPULAN ....................................................................................................................................... 24 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................................. 25

BAB I PENDAHULUAN

Perusahaan-perusahaan diseluruh dunia menghadapi perubahan lingkungan bisnis, teknologi, serta praktik-praktik produksi dan operasi. Manajer menyadari keterbatasan sistem perhitungan biaya berdasarkan volume (volume-based costing system) dalam memberikan informasi biaya yang akurat dan relevan untuk pengendalian operasional dan pengambilan keputusan. Lebih buruk lagi, banyak manajer juga menemukan bahwa sistem perhitungan biaya berdasarkan volume seringkali menghasilkan data biaya yang terdistorsi dan menyebabkan terlalu banyak manajer mengambil keputusan yang salah sehingga mengorbankan keuntungan atau bahkan kelangsungan operasi mereka. ABC membantu perusahaan menghilangkan atau mengurangi distorsi biaya serta memberikan biaya produk yang akurat. ABC menawarkan pandangan yang jelas mengenai bagaimana keragaman produk, jasa, dan aktivitas perusahaan memberikan kontribusi terhadap keuntungan/kerugian bersih perusahaan. Selama bertahun-tahun, ABC dan ABM dinilai sebagai proyek mahal yang hanya dapat diterapkan oleh organisasi besar dengan sumber daya melimpah. Dengan kemajuan yang sangat luas dalam teknologi informasi serta perkembangan komputer dalam mengumpulkan dan menghitung data, biaya pengumpulan data, pengukuran, dan pelaporan telah turun dengan cepat. Saat ini, bukan saja pengukuran aktivitas dan sistem penghitungan biaya yang dapat dijangkau, tetapi juga banyak informasi telah ada dalam berbagai bentuk dalam organisasi. Teknologi informasi telah secara dramatis memperbaiki penyebaran data ABC dan ABM untuk melihat lebih jelas, merencanakan, dan mengambil keputusan. Makalah ini menunjukkan bagaimana manajer dalam perusahaan manufaktur, pemasaran, perdagangan, jasa, dan nirlaba menggunakan ABC dan ABM untuk 4

memperoleh pemahaman yang lebih baik akan struktur biaya,meningkatkan efisiensi, serta menjadi lebih kompetitif dan efektif dalam mencapai tujuan dan sasaran. ABC dan ABM juga menolong perusahaan meningkatkan nilai yang diterima pelanggan, meningkatkan keuntungan, serta memfasilitasi penentuan dan manajemen strategi.

BAB II PEMBAHASAN

A. KETERBATASAN SISTEM PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN VOLUME Sistem penentuan harga pokok tradisional, yang mendasarkan pada volume sangat bermanfaat jika tenaga kerja langsung dan bahan merupakan faktor yang dominan dalam produksi, jika teknologi stabil, dan jika ada keterbatasan produk. Sistem penentuan harga pokok tradisional mengukur sumber daya yang dikonsumsi dalam proporsi yang sesuai dengan jumlah produk yang dihasilkan. Meskipun demikian, adanya revolusi yang terjadi dalam dunia Bisnis, banyak sumber daya organisasional, seperti biaya setup atau biaya penanganan bahan untuk aktivitas dan transaksi tidak mempunyai hubungan fisik dengan volume produk yang diproduksi. Konsekuensinya, sistem harga pokok tradisional merupakan sistem yang lemah untuk membebankan biaya pendukung atau biaya penjualan ke produk. Biaya-biaya tersebut biasanya dialokasikan ke produk dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berdasarkan unit atau volume, seperti jam kerja langsung, biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, jam mesin, atau unit yang diproduksi. Biaya produk yang diperoleh dengan cara mengalokasikan seperti itu akar terdistorsi, karena produk tidak mengkonsumsi sebagian besar sumber daya pendukung tersebut dalam proporsi yang sesuai dengan volume produksi yang dihasilkan. Sistem penentuan harga pokok tradisional tidak lagi mencerminkan bagaimana aktivitas yang spesifik dalam pabrik yang terotomatisasi karena banyaknya kategori biaya. Biaya produk biasanya dimonitor dari tiga komponen biaya : bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Sistem penentuan harga pokok tradisional dikembangkan saat komponen biaya langsung merupakan komponen utama yang mendorong terjadinya biaya produksi. Sehingga focus sistem ini adalah pengukuran dan pengendalian biaya tenaga kerja langsung. Overhead pabrik yang didefinisikan

sebagai kumpulan semua biaya produksi yang tidak dapat diidentifikasikan secara langsung ke setiap produk, bukan merupakan elemen biaya yang terbesar. Biaya tersebut meliputi biaya untuk pemeliharaan pabrik, utilitas, asuransi dan gaji supervisor. Dalam lingkungan pemanufakturan yang kontemporer, sebagian besar biaya yang berhubungan dengan otomatisasi pabrik dimasukkan ke dalam rekening overhead pabrik: depresiasi dan asuransi peralatan baru, gaji untuk teknisi dan perancang produk, dan biaya riset dan pengembangan. Oleh karena itu, persentase biaya produksi total yang dihubungkan dengan tenaga kerja langsung jadi menurun, dengan meningkatnya biaya overhead pabrik tetap. Keterbatasan utama dari sistem penentuan harga pokok tradisional adalah penggunaan tarif departemental yang mendasarkan pada volume. Tarif ini menghasilkan biaya produk yang tidak akurat jika sebagian besar biaya overhead pabrik tidak berhubungan dengan volume, dan jika perusahaan menghasilkan komposisi produk yang bermacam-macam dengan volume, ukuran dan kompleksitas yang berbeda-beda. System perhitungan biaya berdasarkan volume ini memadai ketika : Teknologi stabil Ragam produk terbatas, Biaya tenaga kerja dan bahan baku langsung mendominasi biaya produk.

Sistem perhitungan biaya berdasarkan volume tidak lagi menjadi system perhitungan biaya produk yang akurat dan dapat diandalkan, disebabkan perubahan dan kemajuan teknologi produksi, seperti otomatisasi dalam produksi yang menyebabkan penurunan biaya tenaga kerja dan meningkatkan overhead pabrik, diversitas produk, kenaikan yang luar biasa dalam jumlah dan kategori overhead, seperti; biaya persiapan, penanganan bahan baku, desain, dan biaya penelitian dan pengembangan produk.

1. Tarif Overhead Berdasarkan Volume Tarif tunggal mengasumsikan bahwa semua produk atau jasa memperoleh manfaat overhead pabrik dalam proporsi yang sama (sehingga hanya digunakan satu macam dasar alokasi, misalnya jam kerja langsung). Metode tarif departemental menggunakan tarif overhead yang ditentukan terlebih dahulu yang juga didasarkan pada volume untuk setiap departemen. Oleh karena itu, biaya produk sepertinya sudah mencerminkan pemakaian overhead pabrik yang berbeda-beda dibandingkan dengan tarif tunggal. Tetapi tarif departemental juga masih tidak mempertimbangkan biaya yang berubah karena aktivitas atau proses yang berbeda dalam suatu departemen. Dalam sistem penentuan harga pokok tradisional, biaya overhead sering kali dialokasikan ke produk dengan menggunakan jam kerja langsung atau biaya yang berdasarkan volume. Perusahaan biasanya memperoleh tarif tunggal dengan cara membagi biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan biaya tenaga kerja langsung yang dianggarkan. Satu dekade yang lalu biaya overhead memang hanya sebesar 150% dari biaya tenaga kerja langsung, sehingga pengalokasian atas dasar jam kerja langsung dianggap wajar, tetapi sekarang ini biaya overhead pabrik besarnya sudah mencapai 600% bahkan 1.000% dari biaya tenaga kerja langsung, terutama dalam pabrik-pabrik yang sudah terotomatisasi. Dengan tarif tunggal, biaya overhead pabrik dibebankan ke produk dengan cara mengalikan tarif tunggal dengan jam kerja langsung yang digunakan oleh setiap produk. Alokasi biaya overhead seperti tersebut di atas di pabrik yang menggunakan otomatisasi dapat menyebabkan distorsi yang serius. Untuk mengalokasikan biaya overhead pabrik berdasarkan biaya tenaga kerja langsung, kita harus

mengasumsikan bahwa produk dengan kandungan tenaga kerja langsung yang lebih tinggi bertanggung jawab terhadap biaya overhead pabrik yang lebih besar, sehingga mereka dibebani alokasi biaya overhead yang lebih besar. Tetapi dalam lingkungan yang terotomatisasi alokasi overhead yang didasarkan pada tenaga kerja langsung dapat menyebabkan harga pokok produk ditentukan terlalu tinggi bila produk mempunyai kandungan tenaga kerja langsung yang tinggi, sebaliknya harga pokok

produk akan ditentukan terlalu rendah bila produk mempunyai kandungan tenaga kerja langsung yang rendah. Dan lagi, karena biaya pengolahan tetap berkaitan dengan kelompok produk, maka alokasi overhead produk ke setiap produk menjadi lebih sulit.

Tarif Biaya Overhead yang berlaku di seluruh pabrik Dasar yang dipilih untuk membebankan biaya overhead adalah total jam kerja langsung atau biaya tenaga kerja langsung dari pabrik atau operasi.

Anggaran Overhead Tarif Biaya Overhead = -----------------------------------------------Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung

Tarif Biaya Overhead per Departemen Metode ini menggunakan penggerak berdasarkan volume yang terpisahpisah untuk menentukan tarif biaya overhead pada setiap departemen produksi. Setiap departemen dapat menggunakan penggerak yang berbeda atau sama dengan satu tarif biaya overhead. Tarif Biaya Overhead untuk Departemen Permesinan :

Tarif Biaya Overhead =

Anggaran Overhead Departemen -----------------------------------------Anggaran Jam Mesin

Tarif Biaya Overhead untuk Departemen Penyelesaian :

Anggaran Overhead Departemen Tarif Biaya Overhead = -------------------------------------------------Anggaran Jam Tenaga Kerja Langsung

2. Volume, Ukuran, dan Kompleksitas Sistem perhitungan biaya berdasarkan volume dapat menyajikan biaya yang cukup akurat ketika operasi perusahaan memiliki karakteristik berikut : Lini produk dan jasa yang hanya beberapa dan mirip Biaya overhead yang relative rendah Proses konversi yang homogen untuk seluruh produk dan jasa Jalur distribusi, permintaan pelanggan dan pelanggan yang serupa

Distorsi dari sistem biaya produk berdasarkan volume atau unit paling parah akan terjadi dalam perusahaan yang menghasilkan bermacam-macam produk. Produk yang berbeda dalam volume, ukuran dan kompeksitas akan mengkomsumsi sumber daya pendukung dalam jumlah yang berbeda secara signifikan. Sistem penentuan harga pokok tradisional menggunakan ukuran yang berdasarkan unit atau volume atau cost driver yang dapat mendistrosi ukuran persediaan. Sistem perhitungan biaya berdasarkan volume output menyebarkan biaya secara merata sehingga setiap objek biaya (produk maupun jasa) menerima jumlah yang sama. Cooper menunjukkan bagaimana sistem penentuan harga pokok tradisional terlalu tinggi menilai biaya untuk produk yang berukuran besar, volume besar dan menilai biaya produk terlalu rendah untuk produk yang berukuran kecil dengan volume sedikit jika diversitas produk dalam operasi sama. Sistem penentuan harga pokok tradisional menggunakan ukuran yang berdasarkan unit atau volume atau cost driver yang dapat mendistorsi ukuran persediaan (bahkan jika standar akuntansi keuangan diterapkan secara sempurna). Distorsi ini dapat membawa dampak pada strategi-strategi yang stratejik, seperti kekeliruan dalam pengambilan keputusan tentang lini produk, penentuan harga jual yang tidak realistis dan alokasi sumber daya yang tidak realistis.

10

B. PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS Untuk memilih sistem perhitungan biaya kita harus memahami hubungan antara sumber daya, aktivitas, dan produk atau jasa. Sumber daya yang digunakan pada aktivitas dan produk atau jasa adalah hasil aktivitas. Banyak dari sumber daya yang digunakan dalam operasi dapat ditelusuri ke masing-masing produk atau jasa dan diidentifikasi sebagai biaya bahan baku langsung atau tenaga kerja langsung. Sebagian besar biaya overhead berkaitan dengan produk atau jasa akhir hanya secara tidak langsung. Namun demikian, biaya overhead adalah sumber daya yang dipakai dalam aktivitas perusahaan untuk membuat produk, menyediakan jasa, atau memfasilitasi produksi. Sistem perhitungan biaya yang baik perlu mengaitkan biaya dengan aktivitas yang menggunakan sumber daya serta membebankan biaya-biaya sumber daya pada objek biaya seperti produk, jasa, atau tempat penampungan biaya perantara berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk objek biaya tersebut.

1. Aktivitas, Sumber Daya, Penggerak Biaya, Penggerak Biaya untuk Konsumsi Sumber Daya, dan Penggerak Biaya untuk Konsumsi Aktivitas Sebelum perhitungan biaya berbasis aktivitas dibahas, terdapat beberapa istilah dalam perhitungan biaya aktivitas yang harus dijelaskan terlebih dahulu. Istilah istilah tersebut adalah sebagai berikut: Aktivitas, adalah pekerjaan yang dilakukan dalam suatu organisasi. Aktivitas adalah tindakan, gerakan atau rangkaian pekerjaan. Aktivitas juga didefinisikan sebagai kumpulan tindakan yang dilakukan dalam organisasi yang berguna untuk tujuan penentuan biaya berdasarkan aktivitas. Contohnya pemindahan bahan merupakan aktivitas pergudangan. Sumber daya, merupakan unsur ekonomis yang dibebankan atau digunakan dalam pelaksanaan aktivitas. Gaji dan bahan, merupakan contoh sumber daya yang digunakan untuk melakukan aktivitas.

11

Objek biaya, bentuk akhir di mana pengukuran biaya diperlukan. Contoh objek biaya adalah pelanggan, produk, jasa, kontrak, proyek atau unit kerja lainnya dimana manajemen menginginkan pengukuran biaya secara terpisah.

Elemen biaya, merupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas dan terkandung di dalam cost pool. Contohnya, cost pool untuk hal-hal yang berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga, elemen biaya teknik dan elemen biaya depresiasi.

Cost driver atau penggerak biaya, adalah faktor-faktor yang menyebabkan perubahan biaya aktivitas, cost driver merupakan faktor yang dapat diukur yang digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk atau jasa. Dua jenis cost driver adalah driver sumber daya (resources driver) dan driver aktivitas (activity driver).

Driver sumber daya (resources driver) merupakan ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas. Cost driver digunakan untuk membebankan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke 'cost pool' tertentu. Contoh 'resources driver' adalah persentase dari luas total yang digunakan oleh suatu aktivitas.

Driver aktivitas (activity driver), adalah ukuran frekuensi dan intensitas permintaan terhadap suatu aktivitas terhadap objek biaya. 'Activity driver' digunakan untuk membebankan biaya dari cost pool ke objek biaya. Contoh activity driver adalah jumlah suku cadang yang berbeda yang digunakan dalam produk akhir untuk mengukur konsumsi aktivitas penanganan bahan untuk setiap produk.

2. Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas Activity-based costing adalah pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan biaya ke produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas. Dasar pemikiran pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas dan aktivitas yang dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya

12

biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudian aktivitas dibebankan ke objek biaya berdasarkan penggunaannya.

3. Prosedur Pembebanan Biaya Dua Tahap Pembebanan biaya dua tahap (two-stage cost assignment) membebankan biaya sumber daya seperti biaya overhead pabrik ke pusat biaya aktivitas atau tempat penampungan biaya dan kemudian ke objek biaya untuk menentukan jumlah biaya sumber daya bagi setiap objek biaya. Untuk sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas membebankan biaya sumber daya pada 2 (dua ) tahap yaitu: 1. Membebankan biaya overhead pabrik ke aktivitas atau pusat biaya aktivitas dengan menggunakan penggerak biaya konsumsi sumber daya yang tepat. 2. Membebankan biaya dari aktivitas atau tempat penampungan biaya aktivitas ke objek biaya dengan menggunakan penggerak biaya konsumsi aktivitas yang tepat yang mengukur permintaan objek biaya yang ditempatkan pada aktivitas atas tempat penampungan aktivitas.

4. Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas Sistem ABC dapat menyediakan informasi perhitungan biaya yang lebih baik dan dapat membantu manajemen mengelola perusahaan secara efisien serta memperoleh pemahaman yang lebih baik atas keunggulan kompetitif, kekuatan, dan kelemahan perusahaan. Dalam tahun-tahun belakangan ini, semakin banyak perusahaan yang menggunakan sistem ABC dan menemukan bahwa manfaat menerapkan sistem ini melebihi biayanya. Sistem ABC memiliki pengaruh terbesar, menurut Kaplan dan Cooper, pada perusahaan dengan biaya yang besar dan meningkat atau memiliki banyak produk, jasa, pelanggan, proses, atau kombinasi dari hal-hal tersebut. Contohnya adalah pabrik yang memproduksi produk standar dan produk menurut pesanan, 13

produk dengan volume tinggi dan rendah, atau produk yang telah lama dikenal dan yang baru. Perusahaan yang menerima pesanan dalam jumlah kecil dan besar menawarkan pengiriman standar atau pengiriman yang sesuai dengan permintaan atau memuaskan seluruh pelanggan termasuk mereka yang meminta perubahan dan pelayanan secara sering, baik sebelum maupun sesudah pengiriman, dan pelanggan yang hampir tidak pernah meminta pelayanan khusus dapat secara substansial memperoleh keuntungan dari sistem ABC. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Cost Management Group dari Institute of Management Accountants, 54% dari perusahaan responden yang telah mencoba sistem ABC menggunakan sistem ABC untuk membuat keputusan-keputusan di luar fungsi akuntansi. Dari perusahaan-perusahaan ini, 80% mengatakan bahwa sistem ABC sepadan dengan biaya penerapannya. Survei tersebut juga melaporkan bahwa semakin tinggi potensi distorsi biaya, semakin termotivasi suatu organisasi untuk menerapkan ABC. Survei tersebut juga melaporkan bahwa perusahaan yang menerapkan ABC memiliki persentase biaya overhead terhadap total biaya yang lebih tinggi. Survei lain yang dilakukan oleh ABC Technologies, Inc. melaporkan bahwa 4 tujuan utama menerapkan ABC adalah perhitungan biaya produk atau jasa, analisis proses, manajemen kinerja, dan penilaian profitabilitas.

C. LANGKAH-LANGKAH DALAM MERANCANG SISTEM PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS Langkah 1 : Identifikasi Biaya dan Aktivitas Sumber Daya Melakukan analisis aktivitas untuk mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas perusahaan. Analisis aktivitas meliputi pengumpulan data dari dokumen dan catatan yang ada serta pengumpulan data tambahan dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuisioner, observasi dan wawancara dengan karyawan-karyawan penting. Dimana biasanya data tersebut meliputi: 14

Apa pekerjaan/aktivitas yang anda lakukan? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut? Apa sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas tersebut? Apa nilai yang dimiliki aktivitas tersebut bagi produk, jasa, pelanggan atau perusahaan?

Hirarki Biaya Untuk mengidentifikasi biaya sumber daya pada berbagai aktivitas, perusahaan perlu mengelompokkan seluruh aktivitas menurut cara bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut mengkonsumsi sumber daya. Robin Cooper membagi aktivitas produksi ke dalam 4 tingkat : Aktivitas Tingkat Unit (Unit Level Activity) Dilakukan pada setiap unit objek biaya. Contoh : pemakaian bahan baku langsung, jam tenaga kerja langsung serta pemasukkan komponen dan inspeksi setiap unit. Aktivitas Tingkat Unit (Batch Level Activity) Dilakukan untuk setiap batch, batch produk atau jasa. Contoh : aktivitas tingkat batch adalah persiapan, penyetelan atau persiapan mesin, pemesanan pembelian, penjadwalan produksi, inspeksi per batch, penangan bahan baku dan percepatan proses produksi. Aktivitas Pendukung Produk (Product Sustaining Activity) Mendukung produksi produk atau jasa tertentu. Contoh : desain produk, administrasi suku cadang bagi prosuk, dan keterlibatan dalam perubahan rekayasa untuk memodifikasi produk. Aktivitas Pendukung Fasilitas (Facility Sustaining Activity) Mendukung operasi secara umum. Contoh : penyediaan keamanan dan keselamatan kerja, pemeliharaan mesin dengan fungsi umum, pengelolaan pabrik, pembayaran pajak bangunan dan asuransi pabrik, serta penutup bukuan setiap bulan.

15

Langkah 2 : Bebankan Biaya Sumber Daya pada Aktivitas ABC menggunakan penggerak biaya konsumsi sumber daya untuk

membebankan biaya sumber daya ke aktivitas. Penggerak biaya konsumsi sumber daya meliputi : 1. Jam tenaga kerja untuk aktivitas yang bersifat intensif tenaga kerja 2. Tenaga kerja untuk aktivitas yang berkaitan dengan penggajian 3. Persiapan untuk aktivitas yang terkait dengan jumlah batch 4. Perpindahan untuk aktivitas penanganan bahan baku 5. Jam mesin untuk aktivitas perbaikan dan pemeliharaan 6. luas lantai (per meter persegi) untuk aktivitas kebersihan dan perawatan umum

Langkah 3 : Bebankan Biaya Aktivitas pada Objek Biaya Langkah terakhir adalah membebankan biaya aktivitas atau tempat penampungan biaya aktivitas pada output berdasarkan penggerak biaya konsumsi aktivitas yang tepat. Penggerak biaya konsumsi aktivitas meliputi ; pesanan pembelian, laporan penerimaan, laporan inspeksi atau jam inspeksi, jumlah komponen disimpan, pembayaran, jam tenaga kerja langsung, jam mesin, serta waktu persiapan dan siklus produksi D. MANFAAT DAN KETERBATASAN ABC Manfaat utama sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas diantaranya adalah: 1. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik ABC menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan informatif, mengarahkan pada pengukuran profitabilitas produk yang lebih akurat dan keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih baik tentang penetapan harga jual, lini produk dan segmen pasar. 2. Keputusan dan kendali yang lebih baik ABC menyajikan pengukuran yang lebih akurat tentang biaya yang timbul karena dipicu oleh aktivitas, membantu manajemen untuk meningkatkan nilai produk dan nilai

16

proses untuk membuat

keputusan yang lebih baik tentang desain produk,

mengendalikan biaya secara lebih baik dan membantu perkembangan proyek proyek yang meningkatkan nilai. 3. Informasi yang lebih baik untuk mengendalikan biaya kapasitas. ABC membantu manajer mengidentifikasikan dan mengendalikan biaya kapasitas yang tidak terpakai.

Keterbatasan 1. Alokasi Tidak semua biaya memiliki penggerak biaya konsumsi sumber daya atau aktivitas yang tepat atau tidak ganda. Contoh: Biaya pendukung fasilitas seperti biaya sistem informasi, gaji manajer pabrik, asuransi pabrik, dan pajak bumi dan bangunan untuk pabrik. 2. Mengabaikan biaya Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi sistem ABC cendrung tidak mencakup seluruh biaya yang berhubungan dengan produk atau jasa tersebut. Biaya produk atau jasa biasanya tidak termasuk biaya untuk aktivitas seperti : Pemasaran, pengiklanan, penelitian dan pengembangan dan rekayasa produk meski sebagian dari biaya biaya ini dapat ditelusuri kesuatu produk atau jasa . 3. Mahal dan menghabiskan waktu Sistem ABC tidak murah dan membutuhkan banyak waktu untuk dikembangkan dan dilaksanakan untuk perusahaan dan organisasi yang telah menggunakan sistem perhitungan biaya tradisional berdasarkan volume, pelaksanaan suatu sistem baru ACB cendrung sangat mahal .

17

E. MANAJEMEN BERDASARKAN AKTIVITAS Dari keterbatasan pendekatan tradisional yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa aktivitas merupakan hal yang utama dalam pengendalian dan penillaian performance lingkungan yang dinamis. Akuntansi aktivitas merupakan pendekatan yang paling tepat dalam lingkungan yang dinamis dan perusahaan dituntut untuk melakukan continues improvement. Akuntansi aktivitas menekankan pada perbaikan proses. Proses adalah sekumpulan aktivitas yang menentukan kinerja suatu pekerjaan tertentu. Perbaikan proses berarti perbaikan bagaimana suatu aktivitas dilakukan. Oleh karena itu yang diperlukan adalah pengelolaan aktivitas bukan biayanya. Untuk itulah muncul pendekatan yang baru yang dikenal dengan Activity Based management (ABM). ABM Merupakan suatu sistem yang terintegrasi yang memfokuskan perhatian manajemen untuk meningkatkan customer value serta keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dengan peningkatan value tersebut bagi konsumen. ABM menekankan baik pasar product costing maupun process value analysis .Pendekatan ini memperhatikan baik produk costing dan process value analysis. Terdapat 2 dimensi pada ABM yaitu: 1. Cost Dimension Menyediakan informasi tentang sumber ekonomi, aktivitas,produk serta konsumen. Dalam dimensi ini dilakukan penelusuran biaya ke setiap aktivitas, kemudian biaya setiap aktivitas dibebankan ke produk Dimensi ini sangat bermanfaat untuk productcosting, managemen biaya strategik serta tactical analysis .Menekankan pada ketelitian alokasi biaya aktivitas ke setiap produk. 2. Process Dimension Menyediakan informasi tentang mengapa suatu aktivitas dilaksanakan dan bagaimana pelaksanaannya. Dimensi ini ingin mengetahui kinerja setiap aktivitas yang dilakukan perudsahaan. Dimensi ini menunjukan informasi tentang continues improvement yang dilakukan perusahaan. 18

F. PENERAPAN ANALYSIS BASED COSTING 1. Penerapan Pada Industri Manufaktur ABC pada awalnya diterapkan pada industri manufaktur. Banyak perusahaan manufaktur, seperti Hewlett-Packard telah menerapkan ABC dan ABM dengan sukses. Roseville Network Divisin (RND) pada perusahaan Hewlett-Packard adalah divisi pertama yang menggunakan ABC. Kombinasi dampak dari meningkatnya variasi produk yang diproduksi dan umur produk yang semakin menurun telah membuat desain produn dan proses produksinya menjadi faktor kunci keberhasilan RND. Meskipun demikian, sistem perhitungan biaya yang lama tidak memberikan informasi yang dapat digunakan oleh manajer untuk membandingkan biaya produksi untuk desain produk yang berbeda-beda. RND mendesain ulang sistem perhitungan biayanya dan berfokus pada biaya-biaya untuk aktivitas yang berbeda-beda pada setiap proses produksi. Sistem yang baru, ABC dimulai dengan hanya dua macam penggerak biaya, yaitu jam tenaga kerja langsung dan jumlah penempatan suku cadang. Kemudian RND

mengidentifikasi 9 penggerak biaya. Sistem ABC sangat mempengaruhi desain dari produk baru. Contohnya, setelah sistem ABC menemukan bahwa penempatan suku cadang secara manual memiliki biaya 3 kali lebih mahal daripada penempatan suku cadang secara otomatis, para teknisi (insinyur) mendesain ulang produk agar memungkinkan penempatan suku cadang secara lebih otomatis.

2. Penerapan dalam Pemasaran dan Administratif Activity-based coaling juga dapat diterapkan untuk aktivitas pemasaran dan administrasi, seperti penjualan, advertensi, pemenuhan pesanan, pengiriman, penggudangan, penagihan, dan akuntansi penggajian. Setelah melihat pada aktivitas 19

pemasaran dan cost driver yang berkaitan, kami menerapkan ABC dalam aktivitas penagihan pada perusahaan AT&T. Aktivitas pemasaran meliputi advertensi, penjualan, pemenuhan pesanan, pengiriman, penggudangan, dan pengumpulan kredit yang dilakukan oleh bagian administrasi. Untuk menerapkan ABC pada aktivitas pemasaran, akuntan manajemen menelusuri biaya pemasaran ke cost pool aktivitas; selanjutnya menelusuri biaya tersebut ke lini produk dan daerah untuk mengukur profitabilitas. AT&T berpindah ke sistem ABC setelah perusahaan tersebut terbagi-bagi kedalam unit bisnis unit yang lebih kecil dan terfokus, Pemecahan ke dalam unit-unit yang lebih kecil dan adanya deregulasi penentuan harga jual membuat pemahaman terhadap biaya menjadi lebih baik, sehingga pengelolaan biaya juga menjadi lebih baik, dibandingkan dengan mengalokasikan biaya secara sederhana. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang kritis bagi AT&T. Sehingga para manajer AT&T mengimplementasikan sistem ABC untuk membantu mereka dalam memahami aktivitas dalam bisnis mereka. Pusat penagihan dipilih sebagai pilot project untuk ABC. Aktivitas pusat penagihan meliputi mencatat penagihan, validasi data, melakukan tindakan koreksi; dan pencetakan, penyortiran, dan pengiriman faktur kepada pelanggan unit tersebut. Tim multi fungsi menyiapkan 'flowchart' dari operasi untuk mengidentifikasikan hubungan antara sumber daya dan aktivitas, antara aktivitas dan proses, dan antara output proses dan jasa yang diberikan untuk setiap pelanggan. Biaya jasa yang disediakan untuk pelanggan yang berbeda ditentukan dengan cara mengidentifikasikan karakteristik konsumsi aktivitas dan cost driver. Perusahaan memilih beberapa cost driver yang meliputi jumlah pengujian terhadap pelanggan, permintaan akan perubahan, pemesanan jasa, lokasi pelanggan, kelompok penagihan, jam pencetakan, dan halaman yang dicetak. Para manajer AT&T memperoleh model ABC yang bermanfaat dalam membantu perusahaan untuk mengendalikan biaya dan memperbaiki proses operasi 20

internal, hubungan dengan pemasok {supplier), dan kepuasan pelanggan. 3. Penerapan ABC pada Perusahaan Jasa dan Nirlaba ABC telah diterapkan terutama pada perusahaan-perusahaan

manufaktur, ABC juga dapat bermanfaat jika digunakan pada perusahaan jasa dan perusahaan nonprofit. Organisasi jasa dan sebagian besar organisasi nonprofit mempunyai karakteristik yang berbeda-beda yang membedakan organisasi-organisasi tersebut dari perusahaan manufaktur. Output sering kali lebih sulit didefinisikan, aktivitas untuk memenuhi permintaan jasa lebih sulit diprediksi, dan overhead serta biaya tak langsung sulit untuk dihubungkan ke produk atau output jasa. Misalnya Kantor Akuntan Achuck, Buniel & Hinckley melakukan dua jenis audit untuk minggu ini. Sistem penentuan biaya tradisional digunakan oleh perusahaan ini. Jam kerja langsung digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan kemudian ke objek biaya, yaitu audit. Perusahaan hanya menggunakan satu 'cost driver' yaitu jam kerja tenaga profesional untuk mengalokasikan biaya overhead. Kedua proyek audit tersebut membutuhkan jam kerja tenaga profesional total 100 jam. Perusahaan membayar $ 25 per jam untuk setiap staf audit. Pada audit pertama, tim audit menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penelitian terhadap bahan, mengirim fax dan menelepon untuk melengkapi perjanjian, sedangkan audit yang kedua tidak membutuhkan sebanyak proyek audit yang pertama untuk aktivitas-aktivitas tersebut. Dengan demikian, jika jam kerja tenaga profesional digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mengalokasikan overhead, maka audit yang membutuhkan sumber daya banyak akan biayanya ditentukan terlalu rendah dari yang seharusnya, sedangkan audit yang membutuhkan sumber daya yang lebih sedikit membutuhkan sumber daya justru biayanya ditentukan terlalu tinggi.

21

G. ANALISIS PROFITABILITAS PELANGGAN Analisis profitabilitas pelanggan berfokus pada biaya-biaya penjualan, umum, dan administratif. Analisis tersebut menganalisis aktivitas, mengidentifikasi penggerak biaya yang tepat, dan menentukan laba yang terealisasi dari pelanggan. Analisis profitabilitas pelanggan memungkinkan para manajer untuk : 1. Mengidentifikasi pelanggan yang paling menguntungkan 2. Menurunkan biaya pelayanan masing-masing pelanggan 3. Menetapkan kembali biaya untuk atau harga dari biaya aktivitas pelayanan yang tinggi 4. Mengurangi jasa 5. Memperkenalkan produk dan jasa baru 6. Menaikkan harga untuk pelanggan yang sangat menuntut 7. Meninggalkan produk, jasa, atau pelanggan 8. Memperbaiki proses 9. Menawarkan pelanggan pilihan tingkat pelayanan berdasarkan keuntungan untuk perusahaan 10. Mengarahkan bauran pembelian pelanggan pada lini produk dan jasa yang memberikan margin yang lebih tinggi 11. Memberikan diskon dengan tujuan meningkatkan volume penjualan untuk pelanggan yang biaya pelayanannya rendah 12. Memilih bauran pelanggan 13. Memilih jenis pelayanan purnajual yang akan disediakan

22

BAB III KESIMPULAN

Banyak perusahaan sudah mengganti sistem perhitungan biaya berdasarkan volume dengan sistem akuntansi berdasarkan aktivitas untuk memperoleh perhitungan biaya dan harga produk yang lebih baik. ABC membantu ABM yang meningkatkan daya saing, mengurangi biaya-biaya, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Sistem perhitungan biaya berdasarkan volume menggunakan tarif overhead berdasarkan volume, baik tarif tunggal untuk keseluruhan pabrik maupun tarif per departemen. Tarif biaya overhead berdasarkan volume ini biasanya menggunakan ukuran seperti jam tenaga kerja langsung , jam mesin, atau biaya tenaga kerja langsung untuk semua jasa atau produk. ABC membebankan biaya ke produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya dan aktivitas. Sistem ABC mengakui kenyataan bahwa produk atau jasa adalah hasil dari aktivitas dan aktivitas mengonsumsi sumber daya menghasilkan biaya; ABC mengakui hubungan sebab akibat antara penggerak biaya dengan aktivitas. Sistem ABC menggunakan prosedur dua tahap untuk membebankan biaya ke produk atau jasa. Alokasi tahap pertama adalah proses pembebanan biaya sumber daya dimana biaya overhead pabrik dibebankan ke tempat penampungan biaya aktivitas atau kelompok sumber daya yang sesuai. Alokasi tahap kedua adalah proses pembebanan biaya aktivitas dimana biaya aktivitas dibebankan ke produk atau jasa dengan menggunakan penggerak biaya konsumsi aktivitas yang tepat. ABC membantu mengurangi distorsi biaya yang sering ditemui pada sistem perhitungan biaya berdasarkan volume dan membantu meperoleh biaya produk yang lebih akurat. ABC memberikan pandangan yang jelas tentang bagaimana produk, jasa, dan aktivitas perusahaan yang berbeda-beda memberikan kontribusi terhadap tujuan 23

perusahaan. Meskipun pengembangan dan penerapan sistem ABC

membutuhkan

biaya yang mahal dan waktu yang lama,banyak perusahaan mendapatkan manfaat yang melebihi biayanya dalam menerapkan sistem ABC. ABM berfokus pada perbaikan efisiensi dan efektivitas bisnis perusahaan. Penggunaan ABM juga meningkatkan tidak hanya nilai yang diterima oleh pelanggan, tetapi juga laba perusahaan. ABC dan ABM telah diterapkan secara sukses dalam bidang produksi,

pemasaran, dan administrasi, juga pada organisasi jasa dan nirlaba. ABC berkaitan erat dengan manajemen biaya strategis. Para manajer dapat memperoleh informasi yang lebih bermakna untuk menentukan dampaknya yang potensial terhadap keputusankeputusan

24

DAFTAR PUSTAKA
Bochler, Manajemen Biaya edisi 3, Salemba Empat http://www.scribd.com/doc/53667778/Manajemen-Berbasis-Aktivitas-Dan-Aktivity-BasedCosting

25