Anda di halaman 1dari 23

PPGDON Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Obstetri dan Neonatus

1. Maysela 9. Heni Lia Panuda 10. Agustina Mufida Anisa 2. Nicke Arresta 11. Iin Faridah 3. Novita Hikmah 12. Ika Atik 4. Nur Cholifa 13. Indrista Bilianti 14. Izza Chuluqi 5. Oksi Lestari 15. KikiRatnasari 6. Ria Ayu 16. Lely larasati 7. Riesca Ayu 8. Lusy Astagina

Kegawatdaruratan Obstetri
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kegawatan pada Abortus Kegawatan pada Molahidatidosa (Kista Vesikular) Kegawatan pada Kehamilan Ekstrauteri (Ektopik) Kegawatan pada Plasenta previa Kegawatan pada Solusio (Abrupsio) Plasenta Kegawatan pada Retensio Plasenta (Plasenta Inkompletus) Kegawatan pada Ruptur Uteri Kegawatan pada Perdarahan Pascapersalinan Kegawatan pada Preeklamsia Berat

Kegawatan pada Abortus


Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi yang usia kehamilannya kurang dari 20 minggu. Terapi untuk Abortus 1. Perdarahan yang tidak mengancam nyawa adalah dengan Macrodex, Haemaccel, Periston, Plasmagel, Plasmafundin (pengekspansi plasma pengganti darah) dan perawatan di rumah sakit. 2. Perdarahan yang mengancam nyawa (syok hemoragik) dan memerlukan anestesi, harus dilakukan dengan sangat hati-hati jika kehilangan darah banyak. Pada syok berat, lebih dipilih keretase tanpa anestesi kemudian Methergin. Pada abortus dengan demam menggigil, tindakan utamanya dengan penisilin, ampisilin, sefalotin, rebofasin,

Kegawatan pada Molahidatidosa

Terapi untuk gangguan ini adalah segera merawat pasien di rumah sakit, dan pasien diberi terapi oksitosin dosis tinggi, pembersihan uterus dengan hati-hati, atau histerektomi untuk wanita tua atau yang tidak menginginkan menambah anak lagi, transfuse darah, dan antibiotika.

Kegawatan pada Kehamilan Ekstrauteri (Ektopik)


Penyebab gangguan ini adalah terlambatnya transport ovum karena obstruksi mekanis pada jalan yang melewati tuba uteri. Kehamilan tuba terutama di ampula. Nyeri yang terjadi serupa dengan nyeri melahirkan, sering unilateral (abortus tuba), hebat dan akut (rupture tuba), ada nyeri tekan abdomen yang jelas dan menyebar. Kavum douglas menonjol dan sensitive terhadap tekanan. Jika ada perdarahan intra-abdominal, gejalanya sebagai berikut: 1. Sensitivitas tekanan pada abdomen bagian bawah, lebih jarang pada abdomen bagian atas. 2. Abdomen tegang. 3. Mual. 4. Membran mukosa anemis.

Jika terjdi syok, akan ditemukan nadi lemah dan cepat, tekanan darah di bawah 100 mmHg, wajah tampak kurus dan bentuknya menonjol-terutama hidung, keringat dingin, ekstremitas pucat, kuku kebiruan, dan mungkin terjadi gangguan kesadaran.
Terapi untuk gangguan ini adalah dengan infuse ekspander plasma (Haemaccel, Macrodex) 1000 ml atau merujuk ke rumah sakit secepatnya.

Kegawatan pada Plasenta Previa


Plasenta previa adalah tertanamnya bagian plasenta ke dalam segmen bawah uterus. Tindakan pada Plasenta Previa 1. Hindari VT 2. Tindakan dasar umum. Memantau tekanan darah, nadi, dan hemoglobin, memberi oksigen, memasang infuse, member ekspander plasma atau serum yang diawetkan. Usahakan pemberian darah lengkap yang telah diawetkan dalam jumlah mencukupi. 3. Pada perdarahan yang mengancam nyawa, seksio sesarea segera dilakukan setelah pengobatan syok dimulai. 4. Pada perdarahan yang tetap hebat atau meningkat karena plasenta previa totalis atau parsialis, segera lakukan seksio sesaria; karena plasenta letak rendah (plasenta tidak terlihat jika lebar mulut serviks sekitar 4-5 cm), pecahkan selaput ketuban dan berikan infuse oksitosin; jika perdarahan tidak berhenti, lakukan persalinan pervagina dengan forsep atau ekstraksi vakum; jika perdarahan tidak berhenti lakukan seksio sesaria.

Kegawatan pada Solusio Plasenta


Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta yang tertanam normal pada dinding uterus baik lengkap mauppun parsial, pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Tindakan pada Solusio Plasenta 1. Pasien diberi infuse Macrodex, Periston, Haemaccel, Plasmagel, dan Plasmafudin, serta petidin (Dolantin) 100 mg IM. Tindakan di rumah sakit meliputi pemeriksaan umum yang teliti (nadi, tekanan darah, jumlah perdarahan per vagina, penentuan hemoglobin, hematokrit dan pemantauan pengeluaran urin).

2. Profilaksis untuk syok dengan mulai memberi infuse, menyediakan darah lengkap yang diawetkan, pemeriksaan golongan darah dan profil koagulasi. Pemeriksaan vagina, pada perdarahan hebat pecahkan selaput ketuban tanpa memandang keadaan serviks dan nyeri persalinan. Tindakan ini harus diikuti dengan infuse oksitosin (Syntocinon) 3 unit per 500 ml. Penghilangan nyeri dan sedative untuk profilaksis syok menggunakan dolantin (Petidin), novalgin (Noraminodopirin) IV, talwin (Pentazosin) IV dan IM.
3. Tindakan tambahan pada janin yang hidup dan dapat hidup adalah dengan seksio sesaria. Pada janin yang mati, usahakan persalinan spontan. Jika perlu, ekstraksi vakum atau kraniotomi pada perdarahan yang mengancam nyawa (juga pada janin yang mati atau tidak dapat hidup).

Kegawatan pada Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah tidak lahirnya plasenta setelah 30 menit kelahiran bayi. Terapi untuk Retensio Plasenta 1.35 unit Syntocinon (oksitosin) IV yang diikuti oleh usaha pengeluaran secara hati-hati dengan tekanan pada fundus. 2.Jika plasenta tidak lahir, usahakan pengeluaran secara manual setelah 15 menit.

Kegawatan pada Ruptur Uteri


Ruptur uteri adalah robekan atau diskontinuita didinding rahim akibat dilampauinya daya regang miomentrium. Tindakan untuk Ruptur Uteri 1. Pengobatan antisyok harus dimulai bahkan sebelum dilakukan operasi. 2. Histerektomi total, umumnya rupture meluas ke segmen bawah uteri, sering ke dalam serviks. 3. Hesterektomi supra vagina hanya dalam kasus gawat darurat. 4. Membersihkan uterus dan menjahit rupture, bahaya rupture baru pada kehamilan berikutnya sangat tinggi. 5. Pada hematoma parametrium dan angioreksis (ruptur pembuluh darah). Buang hematoma hingga bersih, jika perlu ikat arteri iliaka hipogastrikum.

Kegawatan pada Perdarahan Pasca Persalinan


Perdarahan pascapersalinan terjadi ketika volume perdarahan lebih dari 500 ml selama 24 jam pertama, kehilangan darah 500 ml atau lebih berarti bahaya syok. Perdarahan yang terjadi bersifat mendadak sangat parah , perdarahan sedang, dan perdarahan sedang menetap (terutama pada ruptur). Terapinya bergantung penyebab perdarahan, tetapi selalu dimulai dengan pemberian infuse dengan ekspander plasma, sediakan darah yang cukup untuk mengganti yang hilang, dan jangan memindahkan penderita dalam keadaan syok yang dalam. Pada perdarahan sekunder atonik: 1.Beri Syntocinon (oksitosin) 5-10 unit IV, tetes oksitosin dengan dosis 20 unit atau lebih dalam larutan glukosa 500 ml. 2.Pegang dari luar dan gerakkan uterus ke arah atas. 3.Kompresi uterus bimanual. 4.Kompresi aorta abdominalis. 5.Lakukan hiserektomi sebagai tindakan akhir.

Kegawatan pada Pre Eklamsi Berat


Tanda Gejala PEB 1. Tekanan darah 160/110 mmHg. 2. Oligouria, urin kurang dari 400 cc/ 24 jam. 3. Proteinuria, lebih dari 3g/ liter. 4. Keluhan subyektif (nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, edema paru, sianosis, gangguan kesadaran). 5. Pada pemeriksaan, ditemukan kadar enzim hati meningkat disertai ikterus, perdarahan pada retina, dan trombosit kurang dari 100.000/ mm.

Untuk mencegah timbulnya kejang dapat diberikan :

1.Larutan magnesium sulfat 40% sebanyak 10 ml (4 gram) disuntikkan IM pada bokong kiri dan kanan sebagai dosis permulaan, dan dapat diulang 4 gram tiap jam menurut keadaan. 2.Klorpomazin 50 mg intramuskulus. 3.Diazepam 20 mg intramuskulus.

Penanganan kejang dengan memberi : 1. Obat anti-konvulsan 2. Menyediakan perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan napas, masker, dan balon oksigen) 3. Memberi oksigen 6 liter/menit 4. Melindungi pasien dari kemungkinan trauma tetapi jangan diikat terlalu keras 5. Membaringkan pasien posisi miring kiri untuk mengurangi resiko respirasi. 6. Aspirasi mulut dan tenggorok jika perlu.

Penanganan umum meliputi : 1. Jika setelah penanganan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, beri obat anti hipertensi sampai tekanan diastolik di antara 90100mmHg. 2. Pasang infus dengan jarum besar (16G atau lebih besar). 3. Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload cairan. 4. Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria. 5. Jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam, hentikan magnesium sulfat dan berikan cairan IV NaCl 0,9% atau Ringer laktat 1 L/ 8 jam dan pantau kemungkinan edema paru. 6. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin. 7. Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung tiap jam. 8. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru. 9. Hentikan pemberian cairan IV dan beri diuretic (mis: furosemid 40 mg IV sekali saja jika ada edema paru).

Kegawatdaruratan Neonatus
1. ASFIKSIA 2. HIPOTERMI

Kegawatan pada Asfiksia


Asfiksia neonatorum merupakan suatu kondisi di mana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah bayi lahir. Kondisi neonatus yang memerlukan resusitasi : 1. Sumbatan jalan napas akibat lendir / darah, atau mekonium 2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat obatan yang diberikan kepada ibu. Misalnya, obat anestesik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya. 3. Kerusakan neurologis. 4. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan / atau kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan / sirkulasi. 5. Syok hipovolemik, misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan.

Tahapan / Fase Asfiksia


1. Janin bernapas megap-megap (gasping) 2. Masa henti napas (fase henti napas primer). 3. Jika asfiksia berlanjut terus, timbul pernapasan megap-megap yang kedua selama 4 5 menit (fase gasping kedua) diikuti masa henti napas kedua (henti napas sekunder).

Perencanaan Berdasarkan Perhitungan Nilai Apgar.


1. Nilai Apgar menit pertama 7 10, biasanya bayi hanya memerlukan tindakan pertolongan berupa pengisapan lendir / cairan dari orofaring. Tindakan ini harus dilakukan secara hati hati, karena pengisapan yang terlalu kuat / traumatik dapat menyebabkan stimulasi vagal dan bradikardia sampai henti jantung. 2. Nilai Apgar menit pertama 4 6, hendaknya orofaring cepat diisap dan diberikan oksigen 100%. Bayi diberi stimulasi sensorik dengan tepukan atau sentilan di telapak kaki dan gosokan selimut kering ke punggung. Frekuensi jantung dan respirasi terns dipantau ketat. Jika frekuensi jantung menurun atau ventilasi tidak adekuat, harus diberikan ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi dan sungkup muka. Jika tidak ada alat bantu ventilasi, gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut ke hidung mulut. 3. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang menunjukkan bayi mengalami depresi pernapasan yang berat dan orofaring harus cepat diisap. Ventilasi tekanan positif dengan oksigen 100%

Kegawatan pada Hipotermi


Hipotermia terjadi jika suhu tubuh di bawah 36,5C (suhu normal pada neonatus adalah 36,5 37,5C) pada pengukuran suhu melalui ketiak. Penyebab Hipotermi 1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna. 2. Permukaan tubuh bayi relatif luas. 3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas. 4. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Tindakan pencegahan hipotermia


1. Ibu melahirkan di ruangan yang hangat 2. Segera mengeringkan tubuh bayi yang lahir 3. Segera meletakkan bayi di dada ibu dan kontak langsung kulit ibu dan bayi 4. Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh stabil.

TERIMA KASIH
T E R I M A

K
A

S
I