Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Bahkan dapat dipastikan tanpa pengembangan sumberdaya air secara konsisten peradaban manusia tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini. Oleh karena itu pengembangan dan pengolahan sumber daya air merupakan dasar peradaban manusia (Sunaryo, dkk, 2005). Salah satu faktor penting penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk kebutuhan air minum. Air bersih merupakan air yang harus bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit dan bahan-bahan kimia yang dapat merugikan kesehatan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Air merupakan zat kehidupan, di mana tidak ada satupun makhluk hidup di bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65-75% dari berat manusia terdiri dari air. Menurut ilmu kesehatan setiap orang memerlukan air minum sebanyak 2,5 - 3 liter setiap hari termasuk air yang berada dalam makanan. Manusia bisa bertahan hidup 2 - 3 minggu tanpa makan, tetapi hanya 2 - 3 hari tanpa minum (Suripin, 2002). Sebagian besar penduduk di Indonesia masih menggunakan air sumur sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Namun untuk mendapatkan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan tidaklah mudah. Hal ini disebabkan adanya bakteri dan unsur-unsur atau kandungan dalam air tersebut yang harus dijernihkan/dimurnikan agar bersih dan layak untuk dijadikan sebagai air bersih untuk sumber air baku dan lainnya. Dengan bertambahnya aktivitas dan jumlah penduduk, maka jumlah air bersih yang diperlukan manusia akan semakin meningkat. Secara global kuantitas sumber daya tanah dan air relatif tetap, sedangkan kualitasnya makin hari makin menurun. Saat ini pencemaran lingkungan begitu mengkhawatirkan. Kondisi lingkungan yang semakin buruk, sedikit banyak juga memberi dampak negatif bagi kualitas air bagi konsumsi manusia. Penanganan sampah yang tidak memadai, penempatan dan pengelolaan septic tank yang tidak memenuhi persyaratan menjadi penyebab utama timbulnya cemaran mikroorganisme berbahaya pada air, terutama bakteri E. Coli dan Coliform. Air yang tercemar E.Coli dan Coliform apabila
1

terkonsumsi oleh manusia dapat mengakibatkan penyakit pada saluran pencernaan, seperti diare. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan analisa cemaran E. Coli dan Coliform terhadap air yang digunakan sebagai air minum maupun air yang digunakan sebagai bahan pelarut bagi produk pangan maupun produk farmasi. Air permukaan relatif telah terkontaminasi oleh bakteri Coliform, khususnya pada daerah perkotaan. Kualitas air dapat dilihat dari indikator mikrobiologi, fisik dan kimia di dalamnya. Kehadiran bakteri Coliform merupakan indikator biologi adanya kontaminasi sampah atau feses terhadap sumber air. Kualitas mikrobiologi air dapat ditentukan berdasarkan nilai MPN Coliform, nilai MPN Coliform fekal dan jumlah koloni Escherichia coli. Kontaminasi Coliform dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare dan gangguang pencernaan lain. Indikator kualitas fisik (kekeruhan, warna, rasa dan aroma/bau air) dan indikator kualitas kimia (pH, kesadahan, nilai BOD dan COD) air merupakan indikator kualitas air yang tidak secara langsung berhubungan dengan kesehatan. Kendati demikian, kualitas fisik dan kimia berhubungan dengan penentuan kelayakan air untuk dikonsumsi, sedangkan kontaminasi logam berat seperti Pb (timbal) dalam kondisi minimum berdampak buruk bagi kesehatan. Untuk mengetahui jumlah sel bakteri golongan coliform yang terdapat dalam sampel air, dilakukan Metode Jumlah Perkiraan terdekat atau Most Probable Number (MPN). Penggunaan media selektif dan diferensial sangat membantu mempercepat usaha pemeriksaan air guna mendeteksi organism coliform. Uji ini dilakukan dengan cara menginokulasi tabung-tabung berisi kaldu laktose dengan contoh air. Bila air yang diperiksa mempunyai kualitas mikrobiologis yang baik maka tidak akan terbentuk asam ataupun gas di dalam kaldu laktose (Pelczar.et al.,1988). Pengujian-pengujian ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan bakteri golongan coliform yang merupakan indikator terkontaminasinya lingkungan perairan oleh fecal (feces hewan mamalia). 1.1 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara pengambilan sampel dalam melakukan uji MPN pada

sampel air?
2. Bagaimanakah teknik perhitungan nilai MPN pada sampel air?

3. Bagaimanakah hasil uji MPN air yang diperiksa?

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Tujuan umum yang ingin dicapai dari pelaksanaan praktikum permeriksaan MPN air ini adalah untuk mengetahui kualitas air apakah memenuhi persyaratan kesehatan atau tidak. 1.2.2 Tujuan Khusus pemeriksaan MPN pada sampel air.
2. Untuk mengetahui teknik perhitungan nilai MPN pada sampel air. 1. Untuk mengetahui cara pengambilan sampel air yang akan digunakan untuk

3. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan MPN air yang diperiksa. 1.3 Manfaat 1.3.1 Manfaat Teoritis
a)

Manfaat secara teoritis adalah laporan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan terkait dengan kultur mikrobiologi dalam pemeriksaan MPN air serta dapat menambah referensi keilmuan di bidang mikrobiologi khususnya di bidang uji MPN pada air.

1.3.2

Manfaat Praktis Manfaat yang ingin diperoleh dari pelaksanaan pratikum yang mengenai adalah praktikan dapat memperoleh pengetahuan dan

pemeriksaan MPN air

keterampilan dalam melakukan pengambilan sampel air dan melakukan pemeriksaan MPN air dengan cara yang benar.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Air

Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air (Linsley, 1991). 2.1.1. Sifat Air Sifat air yang penting dapat digolongkan ke dalam sifat fisis, kimiawi, dan biologis. Sifat fisis dari air yaitu didapatkan dalam ketiga wujudnya, yakni, bentuk padat sebagai es, bentuk cair sebagai air, dan bentuk gas sebagai uap air. Bentuk mana yang akan didapatkan, tergantung keadaan cuaca yang ada setempat. Sifat kimia dari air yaitu mempunyai pH=7 dan oksigen terlarut (=DO) jenuh pada 9 mg/L. Air merupakan pelarut yang universal, hampir semua jenis zat dapat larut di dalam air. Air juga merupakan cairan biologis, yakni didapat di dalam tubuh semua organisme. Sifat biologis dari air yaitu di dalam perairan selalu didapat kehidupan, fauna dan flora. Benda hidup ini berpengaruh timbal balik terhadap kualitas air (Slamet, 2002). 2.1.2. Sumber Air Sebagian besar (71%) dari permukaan bumi tertutup oleh air. Sekalipun air jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam, melainkan bersikulasi akibat pengaruh cuaca, sehingga terjadi suatu siklus yang disebut siklus hidrologis. Dari siklus hidrologis ini dapat dilihat adanya berbagai sumber air tawar yang dapat pula diperkirakan kualitas dan kuantitasnya secara sepintas. Sumber-sumber air tersebut adalah : (i) (ii) (iii) air permukaan yang merupakan air sungai dan danau. air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam. air angkasa, yaitu air yang berasal dari atmosfir, seperti hujan dan salju (Situmorang, 2007).
4

2.1.3. Kualitas Air Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. 1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. 2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. 3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. 4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha di perkotaan, industri, dan PLTA. Pada hakikatnya, pemantauan kualitas air pada perairan umum memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Mengetahui nilai kualitas air dalam bentuk parameter fisika, kimia, dan biologi. 2. Membandingkan nilai kualitas air tersebut dengan baku mutu sesuai dengan peruntukannya menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 tahun 1990. 3. Menilai kelayakan suatu sumber daya air untuk kepentingan tertentu (Effendi, 2003). 2.1.4. Pencemaran Air Pencemaran air didefenisikan sebagai perubahan langsung atau tidak langsung terhadap keadaan air yang berbahaya atau berpotensi menyebabkan penyakit atau gangguan bagi kehidupan makhluk hidup. Perubahan langsung dan tidak langsung ini dapat berupa perubahan fisik, kimia, termal, biologi, atau radioaktif. Kualitas air merupakan salah satu faktor dalam menentukan kesejahteraan manusia. Kehadiran bahan pencemar di dalam air dalam jumlah tidak normal mengakibatkan air dinyatakan sebagai terpolusi. Beberapa indikator terhadap pencemaran air dapat diamati dengan melihat perubahan keadaan air dari keadaan yang normal, diantaranya: (1) adanya perubahan suhu air.
5

(2) adanya perubahan tingkat keasaman, basa dan garam(salinitas ) air. (3) adanya perubahan warna, bau dan rasa pada air. (4) terbentuknya endapan, koloid dari bahan terlarut. (5) terdapat mikroorganisme di dalam air (Situmorang, 2007). 2.1.5 Dampak Pencemaran Air Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum,meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dandanau, pengrusakan hutan akibat hujan asam dsb.Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat dari kegiatan pertanian telahmenyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali yang disebut eutrofikasi(eutrofication). Ledakan pertumbuhan tersebut menyebabkan oksigen yang seharusnyadigunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika tanamanair tersebut mati, dekomposisinya menyedot lebih banyak oksigen. Akibatnya ikan akanmati dan aktivitas bakteri akan menurun.Dampak pencemaran air pada umumnya dibagi dalam 4 kategori (KLH, 2004)- dampak terhadap kehidupan biota air - dampak terhadap kualitas air tanahdampak terhadap kesehatan- dampak terhadap estetika lingkungan a. Dampak terhadap kehidupan biota air Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itukematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun yang juga menyebabkan kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air.Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yangseharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air limbah menjadi sulit terurai.Panas dari industri juaga akan membawa dampak bagi kematian organisme, apabila air limbah tidak didinginkan dahulu. b. Dampak terhadap kualitas air tanah Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform , terjadi dalam skala yang luas.
6

c. Dampak terhadap kesehatan Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen air sebagai sarang insekta penyebar penyakit jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan diri air sebagai media untuk hidup vector penyakitAda beberapa penyakit yang masuk dalam katagori water-borne diseases, atau penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak terdapat di daerah-daerah.Penyakit-penyakit ini dapat menyebar bila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalamsumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain, bakteri, protozoa dan metazoa. Beberapa Penyakit Bawaan Air dan Agennya antara lain :

Virus

:Rotavirus menyebabkan Hepatitis A,

Diare pada anak ,Virus Hepatitis A menyebabkan Polio

menyebabkan

Virus Poliomyelitis

(myelitis anterior acuta). Bakteri : Vibrio cholerae menyebabkan Cholera, Diare/Dysenterie, Enteropatogenik, Escherichia Coli Salmonella typhi menyebabkan

menyebabkan Typhus abdominalis, Salmonella paratyphi menyebabkan Paratyphus, Shigella dysenteriae menyebabkan Dysenterie.

Protozoa Giardiasis.

Entamuba histolytica

menyebabkan

Dysentrie amoeba,

Balantidiacoli menyebabkan Balantidiasis, Giarda lamblia menyebabkan

Metazoa : Ascaris lumbricoides menyebabkan Ascariasis, Clonorchis sinensis menyebabkan Clonorchiasis, Diphyllobothrium latum menyebabkan 2004). Diphylobothriasis, Taenia saginata/solium menyebabkan

Taeniasis, Schistosoma menyebabkan Schistosomiasis (Sumber : KLH, d. Dampak terhadap estetika lingkungan Dengan semakin banyaknya zat organic yang dibuang ke lingkungan perairan,maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yangmenyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalahlimbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika.
7

Selain bau, limbah tersebut juga menyebabkan tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau sabunakan menyebabkan penumpukan busa yang sangat banyak. Inipun dapat mengurangi estetika. 2.1.6 Parameter Air Layak Dikonsumsi Standar air minum, menurut standar WHO semua sampel tidak boleh mengandung E. coli dan sebaiknya juga bebas dari bakteri Coliform. Standar WHO: Dalam setiap tahun, 95% dari sampel-sampel tidak boleh mengandung Coliform dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung E. coli dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung Coliform lebih dari 10 dalam 100 ml, Tidak boleh ada Coliform dalam 100 ml dan dua sampel yang berurutan. E. coli digunakan sebagai indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan: a) Secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan, jarang sekali ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi b) Mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika pemeriksaan dilakukan dengan benar c) Bila dalam air tersebut ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi penggunaan domestik d) Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E. coli dalam air tersebut Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak. Parameter kualitas air bersih yang ditetapkan dalam PERMENKES 416/1990 terdiri atas parameter fisik, parameter kimiawi, parameter mikrobiologis.
8

1.

Parameter Fisik Parameter fisik yang harus dipenuhi pada air minum yaitu harus jernih, tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Sementara suhunya sebaiknya sejuk dan tidak panas. Selain itu, air minum tidak menimbulkan endapan. Jika air yang kita konsumsi menyimpang dari hal ini, maka sangat mungkin air telah tercemar.

2.

Parameter Kimia Dari aspek kimiawi, bahan air minum tidak boleh mengandung partikel terlarut dalam jumlah tinggi serta logam berat (misalnya Hg, Ni, Pb, Zn,dan Ag) ataupun zat beracun seperti senyawa hidrokarbon dan detergen. Ion logam berat dapat mendenaturasi protein, disamping itu logam berat dapat bereaksi dengan gugus fungsi lainnya dalam biomolekul. Karena sebagian akan tertimbun di berbagai organ terutama saluran cerna, hati dan ginjal, maka organ-organ inilah yang terutama dirusak

3.

Parameter Mikrobiologis Bakteri patogen yang tercantum dalam Kepmenkes yaitu Escherichia colli, Clostridium perfringens, Salmonella. Bakteri patogen tersebut dapat membentuk toksin (racun) setelah periode laten yang singkat yaitu beberapa jam. Keberadaan bakteri coliform (E.coli tergolong jenis bakteri ini) yang banyak ditemui di kotoran manusia dan hewan menunjukkan kualitas sanitasi yang rendah dalam proses pengadaan air. Makin tinggi tingkat kontaminasi bakteri coliform, makin tinggi pula risiko kehadiran bakteri patogen, seperti bakteri Shigella (penyebab muntaber), S. typhii (penyebab typhus), kolera, dan disentri. Salah satu faktor yang sangat penting dan menentukan bahwa air yang layak

konsumsi adalah kandungan TDS (Total Dissolved Solids) atau kandungan unsur mineral dalam air. Contoh unsur mineral dalam air adalah: zat kapur, besi, timah, magnesium, tembaga, sodium, chloride, dan chlorine. Air yang mengandung mineral tinggi sangat tidak baik untuk kesehatan. Mineral dalam air tidak hilang dengan cara direbus. Mineral yang baik bagi tubuh manusia adalah mineral organik yang berasal dari sayur, buah, daging, telor, atau susu. Mineral di dalam air disebut

mineral nonorganik atau mineral dari benda mati yang tidak bisa diuraikan oleh tubuh. Bila terlalu banyak mineral nonorganik di dalam tubuh dan tidak dikeluarkan, maka seiring berjalannya waktu akan mengendap di dalam tubuh yang berakibat tersumbatnya bagian tubuh. Misal bila mengendap di mata mengakibatkan katarak, pada ginjal/empedu mengakibatkan batu ginjal/batu empedu, pada pembuluh darah mengakibatkan pengerasan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, stroke, pada otak mengakibatkan Parkinson, pada persendian tulang mengakibatkan pengapuran, dll. Menurut standar WHO, air minum yang layak dikonsumsi memiliki kadar TDS <100. Pada dasarnya kategori air menurut TDS terbagi menjadi 4:

Lebih dari 100 ppm : bukan air minum 10 100 ppm: air minum 1 10 ppm : air murni 0 ppm : air organik Tanda-tanda bahwa air tanah sudah tercemar dapat dikenali melalui

pengamatan fisik. Beberapa di antaranya seperti dikutip dari Indiastudychannel adalah: 1. Warna kekuningan akan muncul jika air tercemar chromium dan materi organik. Jika air berwarna merah kekuningan, itu menandakan adanya cemaran besi. Sementara pengotor berupa lumpur akan memberi warna merah kecoklatan. 2. Kekeruhan juga merupakan tanda bahwa air tanah telah tercemar oleh koloid (bio zat yang lekat seperti getah atau lem). Lumpur, tanah liat dan berbagai mikroorganisme seperti plankton maupun partikel lainnya bisa menyebabkan air berubah menjadi keruh. 3. Polutan berupa mineral akan membuat air tanah memiliki rasa tertentu. Jika terasa pahit, pemicunya bisa berupa besi, alumunium, mangaan, sulfat maupun kapur dalam jumlah besar. 4. Air tanah yang rasanya seperti air sabun menunjukkan adanya cemaran alkali. Sumbernya bisa berupa natrium bikarbonat, maupun bahan pencuci yang lain misalnya detergen.

10

5. Rasa payau menunjukkan kandungan garam yang tinggi, sering terjadi di daerah sekitar muara sungai. 6. Bau yang tercium dalam air tanah juga menunjukkan adanya pencemaran. Apapun baunya, itu sudah menunjukkan bahwa air tanah tidak layak untuk dikonsumsi. 2.2 BAKTERI COLIFORM Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Sebagai kuman pathogen, Esherichia coli sangat terkenal karena kemampuannya menyebabkan penyakit saluran cerna pada manusia. Bakteri Coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri Coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan Coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Jadi, Coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan Coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Bakteri coliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakiteri berbentuk batang gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik, dan anaerobik fakultatif yang memfermentasi laktose dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35oC (Pelczar.et al.,1988). E. Coli O157: H7 adalah salah satu dari ratusan strain bakteri E. coli. Walaupun kebanyakan strain tidak berbahaya dan tinggal di usus manusia dan hewan sehat, jenisvirus ini menghasilkan racun yang kuat dan dapat menyebabkan
11

penyakit parah. Infeksisering menyebabkan diare parah dan keram perut, Perlu dicatat bahwa gejala-gejala ini umum untuk berbagai penyakit, dan dapat disebabkan oleh sumber-sumber selain air minum yang terkontaminasi. 2.2.1 MPN (Most Probable Number) Untuk mengetahui jumlah Coliform didalam sampel biasanya digunakan metode MPN (Most Probable Number) dengan cara fermentasi tabung ganda. Metode ini lebih baik bila dibandingkan dengan metode hitungan cawan karena lebih sensitif dan dapat mendeteksi Coliform dalam jumlah yang sangat rendah di dalam sampel. Metode MPN (Most Probable Number) adalah metode yang digunakan untuk menguji ada tidaknya bakteri Coliform. Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10 coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi kualitasnya, dan makin layak minum. Uji kualitatif koliform secara lengkap terdiri dari 3 tahap yaitu (1) Uji penduga (presumptive test), (2) Uji penguat (confirmed test) dan Uji pelengkap (completed test). Uji penduga juga merupakan uji kuantitatif koliform menggunakan metode MPN. a. Uji penduga (presumptive test) Merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri koliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa, dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung Durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Banyaknya kandungan bakteri
12

Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 350C. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung Durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN. b. Uji penguat (confirmed test) Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar ( EMBA ) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh ber-warna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya. c. Uji pelengkap (completed test) Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan jarum inokulasi secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakter Escherichia coli menunjukkan Gram negatif berbentuk batang pendek. Untuk membedakan bakteri golongan koli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat Duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 370C (untuk golongan koli ) dan satu seri diinkubasi pada suhu 420C (untuk golongan koli fekal). Bakteri golongan koli tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C, sedangkan golongan koli fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C. Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Akan tetapi United States Enviromental Protection Agency (USEPA) lebih longgar persyaratan uji coliform-nya mengingat coliform belum tentu menunjukkan adanya kontaminasi feses manusia, apalagi adanya patogen. Pada air
13

bukan untuk minum umumnya terdapat perbedaan persyaratan coliform dan Escherichia coli. Air untuk kolam renang (primary contact water) misalnya mensyaratkan kandungan coliform <2,4 x 103, tetapi syarat Escherichia coli tentunya lebih ketat, yaitu < 1 x 103 dalam 100 ml. d. Uji Identifikasi Dengan melakukan reaksi IMVIC (Indole, Methyl red, Voges-Proskauer tes, penggunaan Citrat). 2.2.2 Prinsip yang digunakan dalam metode MPN MPN adalah suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang ditanam dari sampel padat atau cair yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat seri tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam nilai MPN/satuan volume atau massa sampel. Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang pas/sesuai dan jika ditanam dalam tabung menghasilkaan frekensi pertumbuhan tabung positif kadang-kadang tetapi tidak selalu. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka semakin sering tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sampel yang dimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin jarang tabung positif yang muncul. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang menghasilkan tabung positif kadang-kadang tetapi tidak selalu. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya ke dalam media. Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini. Frekuensi positif (ya) atau negatif (tidak) ini menggambarkan konsentrasi mikroorganisme pada sampel sebelum diencerkan. Asumsi yang diterapkan dalam metode MPN adalah :

bakteri terdistribusi sempurna dalam sampel.

14

sel bakteri terpisah-pisah secara individual, tidak dalam bentuk rantai atau kumpulan (bakteri coliform termasuk E. coli terpisah sempurna tiap selnya dan tidak membentuk rantai).

media yang dipilih telah sesuai untuk pertumbuhan bakteri target dalam suhu dan waktu inkubasi tertentu sehingga minimal satu sel hidup mampu menghasilkan tabung positif selama masa inkubasi tersebut.

jumlah yang didapatkan menggambarkan bakteri yang hidup (viable) saja. Sel yang terluka dan tidak mampu menghasilkan tabung positif tidak akan terdeteksi. MPN dinilai dari perkiraan unit tumbuh (Growth Unit / GU) seperti CFU,

bukan dari sel individu. Meskipun begitu baik nilai CFU atau MPN dapat menggambarkan seberapa banyak sel individu yang tersebar dalam sampel. Metode MPN dirancang dan lebih cocok untuk diterapkan pada sampel yang memiliki konsentrasi <100/g atau ml. Oleh karena itu nilai MPN dari sampel yang memiliki populasi mikroorganisme yang tinggi umumnya tidak begitu menggambarkan jumlah mikroorganisme yang sebenarnya. Jika jumlah kombinasi tabung positif tidak sesuai dengan tabel maka sampel harus diuji ulang. Semakin banyak seri tabung maka semakin tinggi akurasinya tetapi juga akan mempertinggi biaya analisa. Pemilihan media sangat berpengaruh terhadap metode MPN yang dilakukan. Umumnya media yang digunakan mengandung bahan nutrisi khusus untuk pertumbuhan bakteri tertentu. Misalnya dalam mendeteksi kelompok coliform dapat menggunakan media Brilliant Green Lactose 2% Bile (BGLB) broth. Di dalam media ini mengandung lactose dan garam empedu (bile salt) yang hanya mengizinkan coliform untuk tumbuh. Jika terdapat ketidaksesuaian jenis media dan bakteri yang diinginkan maka metode MPN akan menghitung bukan bakteri yang dituju. Untuk menghitung coliform dapat menggunakan Lauryl Sulphate Tryptose (LST) broth, sedangkan untuk menghitung E.colidiperlukan media EC (Escherichia coli) broth. 2.2.3 Aspek peluang dalam metode MPN

15

Berdasarkan prinsip diatas maka seharusnya/sebaiknya jumlah tabung positif pada pengenceran 1/10 > 1/100 > 1/1000 (misalnya 5-3-1) karena setiap pengenceraan mengurangi jumlah mikroorgansime target dan akibatnya semakin kecil kesempatannya untuk membuat tabung menjadi positif. Namun seringkali hasil yang didapat tidak sesuai dengan logika peluang, seperti 5-3-4 yang menghasilkan nilai 210 (lihat tabel dibawah). Bisa saja banyak sel tidak sengaja terambil dan memperbanyak pengenceran selanjutnya atau homogenisasi tidak berlangsung sempurna.

Untuk memahami peranan peluang dalam mendistribusikan sel sehingga menghasilkan tabung positif maka jumlah tabung positif (digaris bawah) pada tabel dicoba untuk dirunut dan diilustrasikan kembali dalam proses penanamannya pada gambar berikut (dianggap bahwa nilai MPN/ml sama dengan sel/ml). Namun perlu diingat, jumlah sel yang terambil tidak selalu seperti itu, semuanya adalah peluang dan angka yang didapat adalah angka paling mungkin.

16

2.2.4 Perbandingannya dengan plate count Telah disebutkan diatas bahwa MPN cocok untuk sampel dengan konsentrasi mikroorganisme rendah khususnya dari jenis sampel air, susu, atau makanan terutama yang memiliki partikel-partikel yang larut didalamnya. Partikel-partikel tersebut dimungkinkan mampu mempengaruhi keakuratan perhitungan bakteri jika menggunakan metode penanaman pada cawan petri. Hal ini karena sel bakteri yang terpisah dapat mengelompok pada partikel makanan dan mungkin tidak terpisah pada proses homogenisasi dalam pengenceran bertingkat sehingga saat diplating satu kumpulan tersebut menjadi satu koloni dan membuat data plate count menjadi bias. Metode MPN dapat mengeliminasi kekurangan ini.

BAB III
17

METODE 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis 22 Maret 2012 sampai dengan Jumat 30 Maret 2012. Kegiatan praktikum yang dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut :
Kamis 22 Maret 2012

3.1.1 Waktu

: Dilaksanakan pembuatan media LB (Single

Streng & double Streng) dan Media BGLB. Senin 26 Maret 2012: Pengambilan sampel air yang akan diperiksa dan dilanjutkan dengan penanaman pada media LB. Rabu 28 Maret 2012 : Pemeriksaan pada media LB (uji presumtif) dan dilanjutkan dengan penanaman pada media BGLB. Jumat 30 Maret 2012 : Pemeriksaan pada BGLB ( uji Konfirmatif) dan dilanjutkan dengan penyocokan pada table MPN. 3.1.2 Tempat Laboratorium Bakteriologi, Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Denpasar 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat-alat 1. Neraca analitik 2. Gelas beaker 3. Spatel 4. Gelas ukur 5. Pengaduk kaca 6. Botol semprot 7. Erlenmeyer 8. Kompor listrik 9. Pipet ukur
10. Tabung reaksi 11.

Tabung durham
18

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Api Bunsen Autoclave Bola hisap Rak tabung reaksi Botol steril Benang pulung Inkubator Ose

3.2.2 Bahan/sampel/specimen a. Sampel air kran b. Aluminium foil c. Kapas lemak d. Label 3.2.3 Media/reagen a. Bubuk lactose broth (LB) OXOID CM0137 b. Bubuk Brilliant Green Lactosa Bile Broth (BGLB) OXOID CM003 c. Aquades d. Alkohol 70 % 3.3 Cara Kerja 3.3.1 Pembuatan Media Media LB Single Strength (13 g/L) a. Media LBSS dibuat sebanyak 50 liter, sehingga harus dihitung dahulu massa media yang ditimbang, yaitu :

b. Ditimbang 0,65 gram bubuk LB OXOID CM0137 pada neraca analitik dengan menggunakan gelas beaker c. Dilarutkan dengan aquades dan diaduk hingga homogen

19

d. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan aquades sampai volumenya mencapai 50 ml e. Lalu ditutup dengan aluminium foil f. Dipanaskan hingga larut sempurna pada kompor listrik g. Dipipet dengan pipet ukur masing-masing sebanyak 10 mL ke dalam 4 buah tabung reaksi yang telah diisi tabung durham dan label sebelumnya h. Dikocok hingga media memenuhi tabung durham dan ditutup dengan kapas berlemak
i. Disterilisasi pada autoclave dengan suhu 1210 C selama 15

menit j. Media siap digunakan Media LB Double Strength (26 g/L) a. Media LBSS dibuat sebanyak 120 liter, sehingga harus dihitung dahulu massa media yang ditimbang, yaitu :

b. Ditimbang 3,12 gram bubuk LB OXOID CM0137 pada neraca analitik dengan menggunakan gelas beaker c. Dilarutkan dengan aquades dan diaduk hingga homogen d. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan aquades sampai volumenya mencapai 120 ml e. Lalu ditutup dengan aluminium foil f. Dipanaskan hingga larut sempurna pada kompor listrik g. Dipipet dengan pipet ukur masing-masing sebanyak 10 mL ke dalam 10 buah tabung reaksi yang telah diisi tabung durham dan label sebelumnya h. Dikocok hingga media memenuhi tabung durham dan ditutup dengan kapas berlemak
i.

Disterilisasi pada autoclave dengan suhu 1210 C selama 15 menit

20

j. Media siap digunakan Media BGLB ( 40 g/L) a. Media LBSS dibuat sebanyak 70 liter, sehingga harus dihitung dahulu massa media yang ditimbang, yaitu :

b. Ditimbang 2,8 gram bubuk BGLB OXOID CM0031 pada neraca analitik dengan menggunakan gelas beaker c. Dilarutkan dengan aquades dan diaduk hingga homogen d. Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan aquades sampai volumenya mencapai 70 ml e. Lalu ditutup dengan aluminium foil f. Dipanaskan hingga larut sempurna pada kompor listrik g. Dipipet dengan pipet ukur masing-masing sebanyak 5 mL ke dalam 14 buah tabung reaksi (untuk 2 seri) yang telah diisi tabung durham dan label sebelumnya h. Dikocok hingga media memenuhi tabung durham dan ditutup dengan kapas berlemak
i.

Disterilisasi pada autoclave dengan suhu 1210 C selama 15 menit

j. Media siap digunakan 3.3.2 Pengambilan Sampel Air Kran


a. Kran air dibersihkan dengan kapas alcohol 70% agar terhindar dari

setiap kotoran atau debu yang menempel. b. Diputar kran sampai terbuka sehingga air mengalir secara maksimal dan dibiarkan air mengalir selama 1-2 menit. c. Mulut kran disterilkan dengan cara membakar dengan lidi kapas yang telah dicelupkan dalam alkohol 70% atau dengan menggunakan api Bunsen. d. Dibuka tali pengikat dan kertas pembungkus botol.

21

e. Dibuka tutup botol dengan tangan kiri, botol dipegang dengan tangan kanan. Untuk mencegah masuknya debu yang mungkin mengandung mikroorganisme, penutup dipegang dengan muka menghadap ke bawah. f. Sambil memegang penutup, air kran ditampung hingga bagian botol (dengan menyisakan udara di atasnya) dengan maksud agar air dapat dikocok sebelum dianalisa. g. Botol ditutup dengan hati-hati. h. Kemudian bagian tutupnya dibungkus dengan kertas steril tadi.
i. Sekeliling leher botol diikat dengan tali, kemudian pada badan

botol diberi label yang berisi : Tempat, tanggal, jam pengambilan, dan petugas pengambil. j. Sampel yang sudah terkumpul segera dibawa ke laboratorium 3.3.3 Penanaman bakteri dalam sampel air Digunakan metode MPN 511 yaitu : 5x10 mL; 1x1mL; 1x0,1 mL a. Disiapkan lima buah tabung reaksi yang masing-masing telah berisi lactose broth double strength sebanyak 10 mL (tabung 1a s/d 5a) juga disiapkan 2 buah tabung reaksi yang masingmasing telah berisi 10 mL lactose broth single strength (tabung 1b dan 2b) b. Dengan pipet steril diinokulasikan masing-masing 10 mL sampel air ke dalam tabung 1a s/d 5a c. Ke dalam tabung 1b diinokulasikan 1 mL sampel air d. Ke dalam tabung 2b diinokulasikan 0,1 mL sampel air
e. Tabung-tabung

digoyangkan perlahan agar sampel air ke seluruh bagian media kemudian

menyebar

rata

diinkubasikan pada sugu 35-370 C selama 24-48 jam 3.3.4 Pemeriksaan Bakteriologi Air Uji Presumptive (Perkiraan)

22

a. Setelah diinkubasi, diamati masing-masing tabung untuk melihat ada tidaknya gas dalam tabung durham. Adanya gas menunjukkan presumptive positif b. Tabung yang menunjukkan presumptive positif akan dilanjutkan dengan uji konfirmative (penegas) Uji Konfirmative (Penegas) a. Dari tiap-tiap tabung presumptive yang positif dipindahkan 1-2 ose ke dalam 14 buah tabung konfirmative yang beri 5 mL BGLB
b. Satu seri tabung BGLB (7 buah) diinkubasikan pada suhu 35-

370 C selama 24-48 jam dan satu seri lagi (7 buah) diinkubasikan pada suhu 440 C untuk memastikan adanya Coli tinja c. Pembacaan (dicocokkan dengan tabel MPN 511) dilakukan setelah 24-48 jam dengan melihat jumlah tabung BGLB yang menunjukkan positif gas

23

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Pengamatan Sampel yang digunakan adalah air kran I yang berasal dari air kran di asrama Analis Kesehatan dan air kran II yang berasal dari air kran di kantin Direktorat Poltekkes Denpasar. 1. Uji Presumtif Tabung Sampel Air Kran I (Asrama) LBDS 1 (1a) LBDS 2 (2a) LBDS 3 (3a) LBDS 4 (4a) LBDS 5 (5a) LBSS 1 (1b) LBSS 2 (2b) Jumlah 2 4 + + Sampel Air Kran II (Kantin) + + + + -

2. Uji Konfirmatif a. Sampel Air Kran 1 (Asrama) Tabung Interpretasi Hasil 370C BGLB 1 BGLB 2 Jumlah + + 2 440C 0

24

b. Sampel Air Kran 2 (Kantin) Tabung Interpretasi Hasil 370C BGLB 1 BGLB 2 BGLB 3 BGLB 4 Jumlah + + + + 4 440C 0

3. Hasil Perhitungan Nilai MPN No Sampel Uji Presumtif Uji Konfirmatif 370C 1 Air Kran 1 (Asrama) 2 Air Kran 2 (Kantin) 4 0 0 4 0 0 0 0 0 15/100ml 2 00 2 0 0 440C 0 0 0 Nilai MPN 5/100ml

Dari hasil uji presumtif dan konfirmatif (metode 5:1:1) yang didapatkan kemudian dilakukan penentuan nilai MPN pada masing masing sampel dengan cara mencocokkan hasil pada tabel MPN 5:1:1. Hasil yang didapatkan dari penentuan tersebut bahwa pada sampel air kran 1 (asrama) didapatkan hasil nilai MPN adalah 5 bakteri / 100 ml pada uji presumtif dan 5 bakteri/100 ml pada uji konfirmatif. Bakteri yang ditemukan adalah bakteri yang bersifat non fekal. Sedangkan pada sampel air kran 2 (kantin) didapatkan hasil nilai MPN adalah 15 bakteri/100ml pada

25

uji presumtif dan 15 bakteri/100 ml pada uji konfirmatif. Bakteri yang ditemukan adalah bakteri yang bersifat non fekal. 4.2 Pembahasan Pengambilan sampel yang telah direncanakan dengan baik akan mendukung pelaksanaan yang optimal. Dengan demikian pengambilan sampel merupakan tahap awal yang dilakukan dalam penentuan kualitas air, yang akan menentukan hasil pekerjaan pada berikutnya. Secara garis besar prosedur pengambilan sampel terdiri dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan pengambilan sampel. Untuk mendapatkan spesimen yang paling sesuai dengan keadaan spesimen yang seharusnya, sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium pengambilan sampel air harus dilakukan secara steril guna memastikan tidak terdapatnya organisme yang mengontaminasi, sampel harus segera diperiksa atau disimpan dengan suhu dingin paling lama 2 x 24 jam. Agar memperoleh hasil pemeriksaan MPN sampel air yang falid. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam perencanaan pengambilan sampel adalah : 1. Menentukan tujuan pengambilan sampel; 2. Menentukan alat pengambil sampel yang sesuai; 3. Menentukan apakah pengambilan sampel harus sesuai dengan standar atau peraturan tertentu; 4. Menentukan metode analisis; 5. Pemilihan teknik sampling dan menetukan apakah sampling dilakukan secara random atau acak; 6. Menentukan jumlah, volume dan jenis wadah sampel; 7. Menentukan waktu, lokasi sampling dan jenis sampel; 8. Pengamanan sampel terdiri dari : Identifikasi/pengkodean sampel Pengemasan sampel Penyegelan wadah sampel, bila diperlukan Tindakan pencegahan selama transportasi ke laboratorium, jika ada ketidak sesuaian
26

4.2.1 Teknik Pengambilan Sampel

Penyimpanan sampel di laboratorium

Prosedur Pengambilan Sampel Prosedur yang dilakukan dalam pengambilan sampel di lapangan sampai siap dibawa dan dianalisis di laboratorium adalah : 1. Menyiapkan wadah sampel. 2. Menyiapkan alat pengambil sampel yang sesuai dengan keadaan sumber air. 3. Mengambil sampel sesuai titik sampling dan memasukkannya ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis. 4. Mengamankan sampel serta wadah (disegel dengan benar). Pada praktikum, teknik pengambilan sampel air kran yaitu pertama kran dibersihkan dengan kapas dan alcohol 70% untuk menghilangkan benda, kotoran, dan debu yang menempel dan mungkin dapat mengganggu, kemudian kran dibuka sehingga air mengalir secara maksimal dan biarkan air mengalir selama 1-2 menit. ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang mungkin ada pada pipa atau kran bagian dalam. Setelah itu, mulut kran disterilkan dengan cara dibakar dengan api bunsen agar mulut kran steril dari bakteri yang mungkin dapat mengkontaminasi. Kemudian air kran ditampung dengan botol hingga bagian botol (dengan menyisakan udara di atasnya) dengan maksud untuk menyediakan oksigen bagi bakteri karena bakteri E.Coli termasuk dalam jenis bakteri aerob pengambil. Setelah penampungan selesai, botol harus segera ditutup rapat dan diberi label yang berisi: tempat, tanggal, jam pengambilan, dan petugas pengambil. Sampel segera dibawa ke laboratorium.

4.2.2 Metode MPN (Most Probable Number) Metode MPN (Most Probable Number) adalah metode yang digunakan untuk menguji ada tidaknya bakteri Coliform. Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-forming unit) dalam sampel.

27

Metode perhitungan MPN yang digunakan dalam praktikum adalah metode 5:1:1 yaitu penggunaan 5 tabung yang berisi 10 ml sampel, 1 tabung berisi 1 ml sampel, dan 1 tabung berisi 1 ml sampel pada media pembiakan yang sesuai dan ada 2 tahapyang dilakukan untuk perhitungan nilai MPN, yaitu uji penduga (presumptive test) dan uji konfirmatif (confirmed test). 1. Uji Penduga (Presumtive Test) Presumtive test atau uji penduga merupakan test awal ada tidaknya kehadiran bakteri koliform berdasarkan terbentuknya gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Untuk sampel sebanyak 10 ml ditumbuhkan pada media LBDS (Lactose Broth Double Stegth) yang memiliki komposisi Beef extract (3 gr), peptone (5 gr), lactose (10 gr) dan Bromthymol Blue (0,2 %) per liternya. Untuk sampel 1 ml dan 0,1 ml dimasukkan pada media LBSS (Lactose Broth Single Stegth) yang berkomposisi sama tapi hanya kadar laktosa setengah dari LBDS yaitu 5 gr. Pada metode MPN 5:1:1 digunakan 5 tabung yang berisi 10 ml media LBDS (1a s/d 5a) dan 2 tabung yang masing-masing berisi 10 ml media LBSS (1b dan 2b). Ke dalam tabung 1 a sampai 5a kemudian diinolulasikan 10 ml sampel. Pada tabung 1b diinolulasikan 1 ml sampel, dan pada tabung 2b diinolulasikan 0,1 ml sampel. Saat menginokulasikan sampel harus dilakukan dengan cara yang aseptis agar biakan yang diperoleh tidak terkontaminasi oleh bakteri yang bukan berasal dari sampel. Kemudian sampel yang telah diinokulasi diinkubasi pada suhu 370 C selama 24-48 jam. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Dari pengamatan yang dilakukan hasil yang didapat adalah sampel air kran 1 (asrama) didapatkan 2 tabung yang positif antara lain tabung 3a dan 5a. Sedangkan pada sampel air kran 2 (kantin) didapatkan tabung yang menunjukkan hasil positif antara lain tabung 1a,2a,4a,dan 5a. Dari sejumlah tabung yang menunjukkan hasil positif, kemudian dilanjutkan dengan melakukan uji konfirmatif.

28

2. Uji Konfirmatif (Confirmed Test) Pada uji konfirmatif menggunakan media BGLB dengan komposisi yang terdiri dari : Peptone 10,0 ; Laktosa 10,0 ; Oxgall 20,0 ; Brilliant Green 0,0133 ; Distilled Water 1,0 /L untuk mendeteksi adanya bakteri Coliform (gram negatif) tiap-tiap tabung yang presumptive dipindahkan 1-2 ose ke dalam tabung konfirmatif yang berisi 10 ml BGLB. Pada uji konfirmatif ini dibuat dua seri yaitu satu seri diinkubasi pada suhu 370C dan satu seri lagi diinkubasi pada suhu 440C. Tujuannya adalah untuk memastikan adanya bakteri koliform fekal (Escherichia coli) atau koliform non fekal (Enterobacter aerogenes) pada sampel. Dari hasil pengamatan, pada sampel 1 semua tabung yang diinkubasi pada suhu 370C menunjukkan hasil positif, sedangkan pada tabung yang diinkubasi pada suhu 440C sumua tabung menunjukkan hasil negative. Pada sampel 2 semua tabung yang diinkubasi pada suhu 370C menunjukkan hasil positif, sedangkan pada tabung yang diinkubasi pada suhu 440C semua tabung menunjukkan hasil negative. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kontaminasi bakteri E. coli pada sampel. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Dari hasil pengamatan tersebut didapatkan pola MPN pada sampel 1 adalah 2 0 0 yang menunjukkan nilai MPN sebesar 5/100 ml. sedangkan pada sampel 2 didapatkan pola MPN pada sampel adalah 4 0 0 yang menunjukkan nilai MPN sebesar 15/100 ml.

Tabel MPN 5 1 1 JUMLAH TABUNG (+)GAS PADA PENANAMAN 5x10 ml 1x10 ml 1x0,1 ml 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1
29

Index MPN Per 100 ml 0 2 2 4

1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5

0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1

0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1

2 4 4 7 5 8 8 10 9 12 12 16 17 21 22 27 67 84 265 >979

4.2.3

Interpretasi Hasil dan Keadaan Higienitas Air Pada pratikum kali ini sampel air yang di periksa merupakan sampel air

yang termasuk dalam sumber air bersih, nilai MPN yang didapatkan dari hasil perhitungan adalah sebagai berikut:
1. Nilai MPN pada sampel air kran 1 (asrama) adalah 5/100 ml 2. Nilai MPN pada sampel air Kran 2 (kantin) adalah 15/100ml.

Berdasarkan Permenkes No 416 / Menkes / Per / IX / 1990 tentang syaratsyarat dan pengawasan kualitas air menyebutkan bahwa syarat-syarat mikrobiologis untuk air minum adalah MPN Koliform/100 cc sampel = 0. Sedangkan untuk air bersih = 10 ( untuk air perpipaan ) dan 50 ( untuk air bukan perpipaan ). Jadi dari hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel air kran 1 masih memenuhi standar kualitas air bersih. Sedangkan, pada sampel air kran 2 tidak memenuhi standar kualitas air bersih. Jika ditinjau dari lokasi pengambilan sampelnya, air kran 1 dan 2 memiliki sumber perpipaan yang sama. Sehingga nilai MPN pada sampel air kran 2 yang tidak memenuhi syarat kemungkinan disebabkan oleh metode pengambilan sampel yang tidak sesuai.
30

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Teknik pengambilan sampel air :

31

Kran yang akan diambil airnya terlebih dahulu dibersihkan dengan kapas alkohol 70 % untuk menghindari kontaminan dari setiap benda yang menempel yang mungkin dapat mengganggu seperti debu atau kotoran, kemudian kran dibuka sehingga air mengalir secara maksimal dan biarkan air mengalir selama 1-2 menit. Selanjutnya mulut kran juga disterilkan dengan api bunsen. Kemudian air kran ditampung dengan botol hingga bagian botol (dengan menyisakan udara di atasnya). Setelah penampungan selesai, botol harus ditutup rapat dan diberi label yang berisi: tempat, tanggal, jam pengambilan, dan petugas pengambil. Sampel yang sudah terkumpul segera dibawa ke laboratorium. 2. Metode perhitungan MPN yang digunakan dalam praktikum adalah metode 5:1:1 yaitu penggunaan 5 tabung yang berisi 10 ml sampel, 1 tabung berisi 1 ml sampel, dan 1 tabung berisi 1 ml sampel pada media pembiakan yang sesuai. Ada 3 tahap untuk melakukan perhitungan nilai MPN, yaitu uji penduga (presumptive test), uji konfirmatif (confirmed test) dan uji pelengkap, namun pada praktikum kali ini hanya dilakukan 2 tahap yaitu uji penduga (presumptive test) dan uji konfirmatif (confirmed test).
3. Pada pratikum kali ini sampel air yang di periksa merupakan sampel air yang

termasuk dalam sumber air bersih, nilai MPN yang didapatkan dari hasil perhitungan adalah sebagai berikut:
1. Nilai MPN pada sampel air kran 1 (asrama) adalah 5/100 ml

2. Nilai MPN pada sampel air Kran 2 (kantin) adalah 15/100ml. Hasil ini menunjukkan bahwa sampel air kran 1 masih memenuhi standar kualitas air bersih. Sedangkan, pada sampel air kran 2 tidak memenuhi standar kualitas air bersih. Jika ditinjau dari lokasi pengambilan sampelnya, air kran 1 dan 2 memiliki sumber perpipaan yang sama. Sehingga nilai MPN pada sampel air kran 2 yang tidak memenuhi syarat kemungkinan disebabkan oleh metode pengambilan sampel yang tidak sesuai.

5.2 Saran
32

Dasarankan kepada praktikan agar memahami teknik pengambilan sampel yang benar dan aseptis sehingga diperoleh sampel yang representative dan dapat dihasilkan hasil analisa yang dapat dipertanggungjawabkan.

LEMBAR PENGESAHAN Denpasar, 23 April 2012 Pembimbing


33

Praktikan

(Madya Mas Cista Hwardani )

Penanggung Jawab Mata Kuliah

(I Made Birnawan, S.Si)

34