Anda di halaman 1dari 26

TUJUAN

Agar mahasiswa dapat melakukan pengujian kualitas air secara mikrobiologi berdasarkan
nilai MPN coliform.

D. DASAR TEORI
Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan jasad hidup. Akan tetapi dapat juga
merupakan suatu substansia yang membawa malapetaka, karena air dapat membawa
mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun (Tarigan, 1988).
Bakteri coliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakiteri berbentuk batang
gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik, dan anaerobik fakultatif yang memfermentasi
laktose dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35 C (Pelczar.et
al.,1988).
Istilah mikroorganisme indikator sebagaimana digunakan dalam analisis air mengacu
pada sejenis mikroorganisme yang kehadirannya di dalam air merupakan bukti bahwa air
tersebut terpolusi oleh bahan tinja dari manusia atau hewan berdarah panas. Artinya terdapat
peluang bagi berbagai macam organisme patogenik,yang secara berkala terdapat dalam saluran
pencernaan, untuk masuk ke dalam air tersebut.
Beberapa ciri penting suatu organisme indikator ialah :
1) Terdapat dalam air tercemar dan tidak ada dalam air yang tidak tercemar.
2) Terdalam dalam air bila ada pathogen.
3) Jumlah mikroorganisme indikator berkorelasi dengan kadar polusi.
4) Mempunyai kemampuan bertahan hidup yang lebih besar daripada patogen.
5) Mempunyai sifat yang seragam dan mantap.
6) Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan.
7) Terdapat dalam jumlah yang lebih banyak daripada patogen.
8) Mudah dideteksi dengan teknik-teknik laboratorium yang sederhana.
Diantara organisme-organisme yang dipelajari, yang hampir memenuhi semua
persyaratan suatu organisme indikator yang ideal ialah Escherichia coli dan kelompok
baktericoli lainnya. Bakteri-bakteri tersebut dianggap sebagai indikator polusi tinja yang dapat
diandalkan (Pelczar.et al.,1988).
Sejumlah bakteri dianggap sebagai bakteri pengganggu dalam air karena menimbulkan
rasa bau, warna, dan rasa, di samping juga membentuk endapan persenyawaan tak dapat larut di
dalam pipa-pipa sehingga mengurangi atau menyumbat aliran air. Aksi merusak pada beberapa
mikroorganisme adalah sebagai berikut :
Bakteri pembuat lendir : menghasilkan keadaan berlendir
Bakteri besi : Mengubah persenyawaan besi yang dapat larut menjadi bentuk yang tak dapat larut yang
akan menghambat aliran air dalam pipa.
Bakteri sulfur : Membentuk asam sulfat dengan hidrogen sulfide, yang dapat membuat air menjadi sangat
asam dan berbau tidak enak.
Algae : Menyebabkan kekruhan,perubahan warna, serta bau dan rasa tidak enak (Pelczar.et al.,1988).
Untuk mengetahui jumlah sel bakteri golongan coliform yang terdapat dalam sampel air,
dilakukan Metode Jumlah Perkiraan terdekat atau Most Probable Number. Penggunaan media
selektif dan diferensial sangat membantu mempercepat usaha pemeriksaan air guna mendeteksi
organism coliform. Pemeriksaan tersebut terdiri dari 3 langkah berurutan:
1) Uji Pendugaan (Presumptive Test)
2) Uji Lanjutan (Confirmed Test)
3) Uji Pelengkap (Complete Test)
Uji ini dilakukan dengan cara menginokulasi tabung-tabung berisi kaldu laktose dengan
contoh air. Bila air yang diperiksa mempunyai kualitas mikrobiologis yang baik maka tidak akan
terbentuk asam ataupun gas di dalam kaldu laktose (Pelczar.et al.,1988). Pengujian-pengujian ini
digunakan untuk mendeteksi keberadaan bakteri golongan coliform yang merupakan indikator
terkontaminasinya lingkungan perairan oleh fecal (feces hewan mamalia).
Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran
pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik
lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya
pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran
dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen.
Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi
bakteri patogenik lain (Dad,2000). Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit
kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik.
Kelompok bakteri coliform antara lain Eschericia coli, Enterrobacter
aerogenes, dan Citrobacter fruendii.Keberadaan bakteri ini dalam air minum juga menunjukkan
adanya bakteri patogen lain, misalnya Shigella, yang bisa menyebabkan diare hingga muntaber
(Kompas Cyber Media, 2003 dalam Kompas.com).
Menurut Supardi dan Sukamto (1999), bakteri coliform dapat dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu.
11) Coliform fekal, misalnya E. coli, merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau
manusia.
22) Coliform non-fekal, misalnya E. aeroginosa, biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman
yang telah mati.

Beberapa macam mikroorganisme patogen yang mengkontaminasi air,
antara lain:
1) Salmonella typhi, adalah bakteri gram negatif berbentuk batang, tidak membentuk spora namun
bersifat patogen, baik pada manusia ataupun hewan. Dapat menyebabkan demam typhoid (typoid
fever). Sebenarnya penyakit demam typoid dapat dipindahkan dengan perantara makanan yang
terkontaminasi dan dengan kontak langsung dengan si penderita. Namun yang paling umum
sebagai fakta penyebab adalah air. Air dapat terkontaminasi oleh bakteri ini karena kesalahan
metode pemurnian air atau kontaminasi silang (Cros contaminant) antara pipa air dengan saluran
air limbah (Tarigan, 1988).
2) Clostridium prefringens adalah bakteri gram positif pembentuk spora yang sering ditemukan
dalam usus manusia, tetapi kadang-kadang juga ditemukan di luar usus manusia (tanah, debu,
lingkungan dan sebagainya).
3) Escherichia coli adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora dan
merupakan flora normal di dalam usus. E.coli termasuk bakteri komensal yang umumnya bukan
patogen penyebab penyakit namun bilamana jumlahnya melampaui normal maka dapat pula
menyebabkan penyakit. E. Coli merupakan salah satu bakteri coliform.
4) Leptospira merupakan bakteri berbentuk spiral dan lentur yang merupakan penyebab penyakit
leptosporosis. Penyakit ini merupakan penyakit zoonosis atau penyakit hewan yang bisa
berpindah ke manusia. Pada umumnya penyebaran bakteri ini adalah pada saat banjir.
5) Shigella dysentriae adalah basil gram negatif, tidak bergerak. Bakteri ini menyebabkan penyakit
disentri (mejan). Spesies lain seperti S. Sonnei dan S. Paradysentriae juga menyebabkan penyakit
disentri (Dwijoseputro, 1976).
6) Vibrio comma adalah bakteri yang berbentuk agak melengkung, gram negatif dan monotrik.
Bakteri ini menyebabkan penyakit kolera yang endemis di indonesia dan sewaktu-waktu
berjangkit serta memakan banyak korban (Dwijoseputro, 1976).
http://linda-haffandi.blogspot.com/2011/11/uji-kualitas-air-berdasar-nilai-mpn.html

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kuantitasi mikroba menunjukan jumlah koloni yang mampu di bentuk oleh mikroba
tertentu. Beberapa koloni bakteri ini, bagi tubuh manusia akan menyebabkan penyakit. Seteril
dari bakteri untuk maknan terutama minuman, sangat perlu di ketahui demi menjaga kesehatan.
Air minum dari berbagai tempat memepunyai jenis-jenis bakteri yang tidak sama untuk air
minum hasil penyulingan diharapkan sudah terbebas dari bakteri (Dwidjoseputro, 1994).
Pertumbuhan sering kali dinyatakan secara singkat sebagai kemampuan untuk
menghasilkan 2 sel baru dan hidup. Sel dikatakan hidup bila dapat menghasilkan sel baru. Bila
tidak mempunyai kemampuan ini lagi, Maka sel dinyatakan tidak hidup lagi atau mati. Analisis
pertumbuhan bakteri dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, membandingkan jumlah sel,
berat kering, konsentrasi protein atau nitrogen dan kekeruhan (Dwidjoseputro, 1994).
Perhitungan jumlah mikroba dapat dilakukan dengan perhitungan langsung maupun
tidak langsung. Perhitungan secara langsung dapat mengetahui beberapa jumlah mikroorganisme
pada suatu bahan, pada suatu saat tertentu tanpa memberikan perlakuann terlebih dahulu,
sedangkan jumlah mikroorganisme yang diketahui dari cara tidak langsung terlebih dahulu harus
memeberikan perlakuan tertentu sebelum dilakukan perhitungan. Perhitungan secara langsung
dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain adalah memebuat preparat dari suatu bahan
(preparat sederhana di warnai atau tidak di warnai) dan penggunaan ruang hitung (counting
chamber), sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme dalam suatu bahan yang masih hidup saja. (Dwidjoseputro, 1994).
Oleh karena itu yang melatar belakangi percobaan ini ialah agar pratikan dapat
mengetahui tentang teknik-teknik perhitungan mikroba dan salah satunya yaitu metode MPN
dan mengerti tentang perhitungan mikroba pad prinsip percobaan metode MPN serta hal yang
berkaitan dengan bakteri koliform pada percobaan yang dilakukan.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui prinsip metode MPN
Untuk mengetahui fungsi dari media EMBA, BGLBB, LB
Untuk mengetahui proses terjadinya gelembung pada tabung durham di setiap uji percoban
MPN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Perhitungan secara tidak langsung ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan
petri (total plate count) TPC, perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau
terdekat (MPN metode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri). Metode MPN terdiri
dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji konfirmasi (confirmed test), dan uji
kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama, keberadaan coliform masih dalam
tingkat probabilitas rendah; masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif coliform
dalam sampel. Metode perhitungan MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung
jumlah bakteri yang terdapat di dalam tanah seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Kedua jenis
bakteri ini memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman,
sehubungan dengan kemampuannya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah amonium
menjadi nitrat (Dwidjoseputro, 1994).
Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh
(growth unit) atau unit pembentuk koloni (colony forming unit) dalam sampel. Namun pada
umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang
digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95
persen sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN
tertinggi (Dwidjoseputro, 1994).
Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran
pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik
lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fecal adalah bakteri indikator adanya
pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fecal menjadi indikator pencemaran
dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasipositif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain
itu, mendeteksi coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri
patogenik lain (Dwidjoseputro, 1994).
Salah satu anggota kelompok coliform adalah E.coli. Karena E.coli adalah bakteri
coliform yang ada pada kotoran manusia, maka E.coli sering disebut sebagai coliform fekal.
Pengujian coliform jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan uji E.coli karena hanya
memerlukan uji penduga yang merupakan tahap pertama uji E.coli (Dwidjoseputro, 1994).
Istilah bakteri indikator sanitasi dikenal dalam bidang mikrobiologi pangan. Bakteri
indikator sanitasi adalah bakteri yang keberadannya dalam pangan menunjukkan bahwa air atau
makanan tersebut pernah tercemar oleh kotoran manusia yang mengingat banyaknya jumlah
mikroorganisme ini, maka perlu dilakukan suatu uji pemeriksaan terhadap bahan pangan tersebut
agar aman dikonsumsi.Bakteri-bakteri indikator sanitasi umumnya adalah bakteri yang lazim
terdapat dan hidup pada usus manusia sehingga dengan adanya bakteri tersebut pada air atau
makanan dapat menunjukkan bahwa dalam satu atau lebih tahap pengolahan air atau makanan
pernah mengalami kontak dengan kotoran yang berasal dari usus manusia dan oleh sebab itu
kemungkinan terdapat bakteri patogen lain yang berbahaya. Ada tiga jenis bakteri yang dapat
digunakan untuk menunjukkan adanya masalah sanitasi, yaituEscherichia coli,
kelompok Streptococcus (Enterococcus) fecal, dan Clostridium perfringens(Hastowo, 1992).
Pengukuran kuantitatif populasi mikroorganisme sangat diperlukan untuk berbagai
macam penelaahan mikrobiologis. Terdapat berbagai macam cara untuk menghitung jumlah
mikroorganisme, akan tetapi secara mendasar, ada dua cara yaitu secara langsung dan secara
tidak langsung. Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan
membuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan
penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya
untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel
count). Dalam pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total
plate count/TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat
(MPN methode), dan kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri) (Hastowo, 1992).
Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan pangan, meliputi uji
kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan suatu makanan, uji kualitatif bakteri patogen
untuk menenetukan tingkat keamanan dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi
makanan tersebut. Pengujian yang dilakukan terhadap tiap bahan pangan tidak sama tergantung
berbagai faktor, seperti jenis dan komposisi bahan pangan (Hastowo, 1992).
Metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas mikrobiologi air dalam
praktikum digunakan kelompok Coliform sebagai indikator. Kelompok Coliform mencakup
bakteri yang bersifat aerobik dan anaeorobik fakultatif, batang gram negatif dan tidak
membentuk spora. Coliform memfermentasikan laktosa dengan pembentukkan asam dan gas
dalam waktu 48 jam pada suhu 35C (Hastowo, 1992).
Dalam metode MPN digunakan medium cair, berbeda dengan metode cawan yang
menggunakan medium padat (Agar). Perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang
positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu.
Pengamatan tabung positif dapat dilihat dengan timbulnya kekeruhan atau terbentuk gas dalam
tabung durham (Lay, 1992).
Pendekatan lain untuk enumerasi bakteri hidup adalah dengan metode MPN. Metode
MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan). Metode MPN ini umumnya
digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air khususnya untuk mendeteksi adanya
bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum. Ciri-ciri utamanya yaitu
bakteri gram negatif, batang pendek, tidak membentuk spora, memfermentasi laktosa menjadi
asam dan gas yang dideteksi dalam waktu 24 jam inkubasi pada 37 C. Sampel ditumbuhkan
pada seri tabung sebanyak 3 atau 5 buah tabung reaksi untuk setiap kelompok. Apabila dipakai 3
tabung maka disebut seri 3, dan jika dipakai 5 tabung maka disebut 5 seri. Media pada tabung
adalah Lactose Broth yang diberi indikator perubahan pH dan ditambah tabung durham.
Pemberian sampel pada tiap seri tabung berbeda-beda. Untuk sampel sebanyak 10 ml
ditumbuhkan pada media LBDS (Lactose Broth Double Stegth) yang memiliki komposisi Beef
extract (3 gr), peptone (5 gr), lactose (10 gr) dan Bromthymol Blue (0,2 %) per liternya.
Untuk sampel 1 ml dan 0,1 ml dimasukkan pada media LBSS (Lactose Broth Single Stegth)
yang berkomposisi sama tapi hanya kadar laktosa setengah dari LBDS yaitu 5 gr (Lay, 1992).
MPN (most Probable Number). Metode hitungan cawan dengan menggunakan medium
padat, tetapi pada metode MPN dengan menggunakan medium cair di dalam tabung reaksi.
Perhitungan MPN berdasarkan pada jumlah tabung reaksi yang positif, yakni yang ditumbuhi
oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif
dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung
kecil (tabung durham) yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik yang
membentuk gas. Untuk setiap pengenceran pada umumnya dengan menggunakan 3 atau 5 seri
tabung. Lebih banyak tabung yang digunakan menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi, tetapi
alat gelas (tabung reaksi) yang digunakan juga lebih banyak (Dwidjosepuutro, 2005).
Perhitungan bakteri hidup dilakukan dengan cara seri pengenceran. Cara ini secara luas
digunakan untuk menghitung bakteri hidup dalam berbagai cairan seperti air, susu, biakan cair
dan sebagainya. Serentetan pengenceran dibuat untuk kemudian ditanam dalam medium
pembiakan bulyon agar dan setelah inkubasi jumlah koloni dihitung. Setelah dikonversi sesuai
dengan pengencerannya, akan diketahui jumlah bakteri per milliliter. Karena pengenceran
dikerjakan secara lipat ganda atau secara desimal, maka angka yang diperoleh hanya angka
perkiraan, yang biasa disebut Most Probable Number (MPN) (Irianto, 2006).
Prinsip untama dari metode MPN ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat
tertentu sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang pas/sesuai dan jika ditanam
dalam tabung menghasilkan frekuensi pertumbuhan tabung positif kadang-kadang tetapi tidak
selalu. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang
dilakukan) maka semakin sering tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sampel yang
dimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin jarang tabung reaksi
positif yang muncul. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang menghasilkan tabung
positif kadang-kadang tetapi tidak selalu. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat
tergantung dari probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya kedalam media.
Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini. Frekuensi positif (ya) atau
negative (tidak) ini menggambarkan konsentrasi mikroorganisme pada sampel sebelum
diencerkan (Dwidjoseputro, 2005).
Dalam metode MPN pengenceran sampel harus lebih tinggi daripada pengenceran pada
hitungan cawan, sehingga beberapa tabung yang berisi medium cair yang diinokulasikan dengan
larutan hasil pengenceran tersebut mengandung 1 jasad renik, beberapa tabung mungkin
mengandung lebih dari 1 sel, sedangkan tabung yang lain mengandung sel sama sekali. Dengan
demikian setelah inkubasi diharapkan terjadi pertumbuhan pada beberapa tabung, yang
dinyatakan sebagai tabung positifm sedangkan tabung lainnya negatif (Waluyo, 2004).
Metode MPN biasanya digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam sampel
yang berbentuk cair, meskipun dapat juga digunakan untuk sampel yang berbentuk padat dengan
terlebih dahulu membuat suspense 1:10 dari sampel tersebut. Kelompok jasad renik yang dapat
dihitung dengan metode MPN juga bervariasi tergantung dari medium yang digunakan untuk
pertumbuhan (Dwidjoseputro, 2005).
Lebih lanjut mengenai metode MPN, dari setiap pengenceran masing-masing
dimasukkan 1 ml masing-masing ke dalam tabung yang berisi medium, dimana untuk setiap
pengenceran digunakan 3 atau 5 seri tabung. Setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu,
dihitung jumlah tabung yang positif. Kriteria tabung positif atau tidak ditandai dengan timbulnya
kekeruhan atau gas pada tabung durham. Misalnya pada pengnceran pertama, 3 tabung
menghasilkan pertumbuhan positif, pada pengenceran ke 2 tabung positif, pada pengenceran ke 3
satu tabung positif, dan pada pengenceran teakhir tidak ada tabung yang positif. Kombinasinya
menjadi 3,2,1,0 dan jika diambil 3 pengenceran pertama kombinasinya menjadi 3,2,1. Angka
kombinasi ini kemudian dicocokkan dengan table MPN, kemudian nilai MPN sampel dapat
dihitung sebagai berikut :

MPN sampel = Nilai MPN dari table x 1
Pengenceran tabung tengah




BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Waktu dan Tempat
Pada pratikum mikrobilogi ini berjudul tentang perhitungan jumlah mikroba dengan
menggunakan metode MPN yang dilaksanakan pada hari rabu, pada tanggal 20 April 2011 pada
pukul 10.00-12.00 WITA dan dilanjutkan pengamatan pada pada hari kamis, pada tanggal 21
April 2011 pada pukul 05.00-06.00 WITA. dan dilanjutkan pengamatan ke dua pada pada hari
sabtu, pada tanggal 23 April 2011 pada pukul 08.00-10.00 WITA. Dan di lanjutkan pengamatan
ke tiga pada pada hari senin, pada tanggal 25 April 2011 pada pukul 12.00-12.30 WITA.
Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Botol sampel
Rak tabung reaksi
Tabung reaksi
Tabung durham
Blue tip
Mikropipet
Bunsen
Korek
Cawan petri
Jarum inokulasi/ose
Vortex
Pipet volume
Inkubator
Laminar air flow
Autoclave
Pensil
Almunium foil
Penyemprot alkohol
3.2.2 Bahan
Lactose Borth (LB)
Brilliant Green lactose Bile Broth (BGLBB)
Eosin Methylene Blue Agar (EMBA)
Alkohol 70%
Garm fisiologi
Kertas label
Tisu
Air galon (minum)
Air sungai
Air sumur
Air PDAM
NaCl 45 ml

3.3 Cara kerja
3.3.1 Uji penduga
1. Disiapkan Alat dan Bahan.
2. Disiapkan 5 tabung reaksi setiap seri pengenceran yang di pilih.
3. Dimasukan 5 ml sampel air minum pada setiap tabung reaksi seri pengenceran 10.
4. Dimasukan 0,5 ml sampel pada seri pengenceran 1 .
5. Dimasukan 0,5 ml sampel pada larutan NaCl 4,5 ml .
6. Dimasukan 0,5 ml campuran NaCl tadi pada setiap tabung reaksi seri pengenceran 10
-1
.
7. Dimasukan 0,5 ml larutan NaCl 4,5 ml yang telah dilarutkan sampel pada larutan NaCl 4,5 ml
untuk pengenceran 10
-2
.
8. Dimasukan campuran NaCl 4,5 ml tadi pada setiap seri tabung reaksi pengenceran 10
-2
.
9. Diinkubasi dalam suhu 35
0
C selama 24 jam dan sebelumnya diberi label pada setiap
pengenceran yang dilakukan.
10. Diamati perubahan pada tabung reaksi.
11. Dihitung jumlah bakteri yang terdapat pada sampel.
3.3.2 Uji penegas
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dipijarkan jarum ose dan dimasukan ke dalam tabung reaksi pada uji penduga pada pengenceran
10.
3. Dimasukan jarum ose pada yang elah dimasukan ke dalam pengenceran 10 ke dalam media
BGLBB.
4. Dipijarkan lagi jarum ose dan di ulangi perlakuan yang sama hingga ke lima tabung reaksi setiap
seri pengenceran yang di lakukan.
5. Diberi label pada setiap seri tabung reaksi pengenceran yang dilakukan.
6. Diinkubasi pada suhu 35
0
C selama 24 jam.
7. Diamati gas yang terbentuk pada tabung durham.
8. Dihitung jumlah bakteri yang terdapat pada sampel.
3.3.3 Uji pelengkap
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dipijarkan jarum ose pada lampu bunsen.
3. Dimasukan jarum ose pada tabung reaksi pengenceran ke 10.
4. Digoresakan jarum ose yang telah di masukan padapengenceran 1o pada media EMBA yang
terdapat pada cawan petri dan di gunakan pada kolom yang tersedia hingga ke lima seri tabung
pengnceran 10.
5. Dipijarkan lagi jarum osedan di lakukanperlakuan yang sama hingga ke lima tabung reaksi
setiap seri pengenceran yang di lakukan.
6. Diberi label.
7. Diinkubasi pada suhu 35
0
C selama 24 jam.
8. Diamati setiap cawan petri yang terdapat bakteri E.coli.
9. Dihitung jumlah bakteri yang terdapat pada sampel.































BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Metode MPN
Media Seri Pengamatan Nilai
MPN
MPN
10 1 10
-1
10
-2
Tabel
LB 4 4 3 1 33 3300
GLBB 3 4 1 2 26 2600
EMBA 0 0 0 0 - -

4.2 Perhitungan
4.2.1 Perhitungan Media LB (lactose Borth)
MPN Count : Nilai MPN Tabel x 10
(pengenceran tabung tengah)
: 33 x 10
10
-1

: 3300 Cfu/100 ml
4.2.2 Perhitungan Media GLBB (green lactose bile borth)
MPN Count : Nilai MPN Tabel x 10
(pengenceran tabung tengah)
: 26 x 10
10
-1

: 2600 Cfu/100 ml
4.2.3 Perhitungan Media EMBA (eosin methylene blue agar)
MPN Count : Nilai MPN Tabel x 10
(pengenceran tabung tengah)
: 0 x Cfu
100 ml
: 0 Cfu/100 ml


4.3 Pembahasan
Metode MPN (Most Probable Number) adalah metode yang digunakan untuk
menghitung koliform di dalam air dengan menggunakan pengujian fermentasi dalam tabung.
Tiga pengujian itu diantaranya adalah uji penduga (Presumtive Test), uji penegas (Confirmed
Test), dan uji pelengkap (Completed Test) Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN
adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk koloni dalam sampel
(Dwidjoseputro, 1994).
Metode MPN ini umumnya digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air
khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama
sumber air minum. Ciri-ciri utamanya yaitu bakteri gram negatif, batang pendek, tidak
membentuk spora, memfermentasi laktosa menjadi asam dan gas yang dideteksi dalam waktu 24
jam inkubasi pada 37 C (Dwidjoseputro, 1994).
E.coli adalah bakteri koliform yang ada pada kotoran manusia, maka E.coli sering
disebut sebagai coliform fekal. Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup
dalam saluran pencernaan manusia dan merupakan bakteri indikator keberadaan bakteri
patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya bakteri coliform fecal adalah bakteri indikator adanya
pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fecal menjadi indikator pencemaran
dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen.
Selain itu, mendeteksi coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi
bakteri patogenik lain (Dwidjoseputro, 1994).
Media Lactose broth (LB) digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran
coliform dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment broth)
untukSalmonella dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton
dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme bakteri. Laktosa
menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme koliform.
Pertumbuhan dengan pembentukan gas adalah presumptive test untuk coliform. Lactose broth
dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa (lay, 1992)
Media EMBA (Eosin Methylene Blue Agar) mempunyai keistimewaan mengandung
laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa
seperti Staphylcoccus. aureus, P. aerugenosa, dan Salmonella. Mikroba yang memfermentasikan
laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan
mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan methylene blue
membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada
tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan Salmonella sp. dan dapat
menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik untuk mengkonfirmasi bahwa
kontaminan tersebut adalah E.coli. Agar EMB (levine) merupakan media padat yang dapat
digunakan untuk menentukan jenis bakteri E.coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung.
EMB yang menggunakan eosin dan methylene blue sebagai indikator memberikan perbedaan
yang nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak. Medium tersebut mengandung
sukrosa karena kemempuan bakteri E.coli yang lebih cepat meragikan sukrosa daripada laktosa
(Hastowo, 1992).
Media BGBB (Brilliant Green Bile Broth) digunakan untuk mengkonfirmasi hasil tes
positifdugaan. Brilliant Green Bile Broth (BGBB)
juga disebut sebagai Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB).
Enzimatik Intisari dari Gelatin adalah sumber karbon dan
nitrogen digunakan untuk kebutuhanpertumbuhan umum di Brilliant Green lactose Bile Broth. O
xbile dan Brilliant Green menghambat bakteriGram positif dan bakteri Gram negatif banyak,
selain E.coli. Laktosa merupakan sumber karbohidrat.Bakteri yang fermentasi laktosa dan mengh
asilkan gas yang terdeteksi Penggunaan utama dari media ini adalah untuk mengidentifikasi
keberadaan E.coli pada makanan. Selama inkubasi 24 jam pada suhu 37 C E.coli akan
memfermentasi laktosa dalam kaldu dengan produksi gas dan Gas ini akan terkumpul dalam
sebuah tabung durham terbalik (Hastowo, 1992).
Uji Penduga (Presumptive Test) : satu seri yang berisi 9 atau 12 tabung yang berisi
Lactose Broth dan tabung durham diinokulasikan dengan sampel air untuk menguji apakah air
tersebut mengandung bakteri yang bisa memfermentasikan laktosa yang memproduksi gas. Jika
setelah inkubasi gas timbul pada Lactose Broth, diduga ada bakteri coliform di sampel air
tersebut. Uji penduga merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri
coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh
bakteri golongan E.coli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa, dan gas
yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham yang berupa gelembung udara. Banyaknya
kandungan bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan
reaksi positif terbentuknya asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. dan jika tidak
terbentuk gas dalam tabung durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif
dihitung pada masing-masing seri, MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN
(Lay, 1992).
Uji penguat atau pelengkap. Merupakan uji dari tabung yang positif terbentuk asam dan
gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi diinokulasikan pada media Eosin
Methylen Blue Agar (EMBA) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni
bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilap metalik (Lay, 1992).
Uji penegas untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna
pada uji penguat atau pelengkap. Uji penegas merupakan suatu uji sebelum dilakukanya uji
pelengkap dimana digunakn media (BGLBB) Brilliant Green Lactose Bile Broth. Dimana pada
media ini di lihat fermentasi laktosapada bakteri E.coli dengan terbentuknya asam dan
gelembung. Pada uji penegas banyaknya kandungan bakteri E.coli dilihat dengan menghitung
tabung yang terdapat gelembung di dalam tabung durham dan dihitung MON count dengan
melihat hasil dari MPN tabel dikali sepuluh per pengenceran tengah dan dari hasil uji penegas
akan disimpulkan dengan uji penguat atau pelengkap (Dwidjoseputro, 1994).
Hasil pengamatan pada perhitungan jumlah bakteri dengan menggunakan metode MPN
diketahui, pada uji penduga digunkannya media lactose borth dengan sampel air minum yang
digunakan diketahui seri pengamatan 10 terdapat empat gelembung, pengenceran 1 terdapat
empat gelembung, pengenceran 10
-1
terdapat tiga gelembung, dan pengenceran 10
-2
terdapat satu
gelembung. Pada MPN tabel diketahui 33 nilai MPN tabelnya dan dari perhitungan MPN count
didapatkan hasi 3300 Cfu /100 ml.
Pada uji penegas dengan menggunakan media Brilliant Green Lactose Bile Broth dapat
diketahui seri pengamtannya pada pengenceran 10 terdapat lima gelembunng, pada pengencera 1
terdapat empat gelembung, dan pada pengenceran 10
-1
terdapat satu gelembung sedangkan pada
pengenceran 10
-2
terdapat dua gelembung. Dari hasil pengenceran didapatkan hasl nilai
MPNtabelnya 26, dengan perhitungan mencari Mpn count hasil yang didapat dari MPN-nya
adalah 2600 Cfu/100 ml.
Pada uji penguat atau pelengkap dari setiap seri pengenceran tidak didapatkan hasil
adanya bakteri E.coli yang tumbuh pada sempel air minum. Jadi, hasil yang didapat adalah nihil
atu tidak ada bakteri E.coli yang tumbuh.
Faktor kesalahan pada percobaan perhitungan jumlah mikroba pada metode MPN.
Trejadi pada cara penggoresan pada media EMBA yang tidak sesuai dengan alur dan melewati
dari garis pembatas kolom, serta kurang hati-hati dalam melakukan percobaan sehingga terdapat
tabung reaksi yang pecah akibat kecerobohan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pratikum mengenai perhitungan jumlah mikroba dengan metode MPN dapat
disimpulka bahwa :
Prinsip dari metode MPN adalah suatu metode perhitungan jumlah mikroba yang menggunakn
tiga tahap uji yaitu uji penduga , uji penegas/konfirmasi dan uji pelengkap yang didasarkan untuk
mengetahui jumlah dari mikroba coliform.
Fungsi dari media Eosin Methylene blue agar (EMBA) iaalh sebagi indikator untuk memberikan
perbedaan yang nyata antara koloni yang memefermentasikan laktosa dan yang tidak.
Sedangkan fungsi dari media brilliant green laktose bile borth (BGLBB) ialah sebagai
pengkonfirmasi hasil tes positif uji penduga. Dan media lactose borth (LB) berfungsi sebagai
media untuk mendeteksi keberadaan bakteri coliform dalam air.
Proses terjadinya gelembung pada tabung durham terjadi karena adanya fermentasi laktosa yang
di lakukan oleh bakteri golongan E.coli sehingga terbentuk asam pada media yang tedapat
laktosa, yang dapat di lihat dengan kekeruhan sehingga menghsilkan gas atau gelembung dara
pada tabung durham

5.2 Saran
Di harpkan prtikan harus melepas peralatan acsesoris seperti gelang dan cincin, agar tidak
mengganggu saat dalm
http://itatrie.blogspot.com/2012/10/laporan-mikrobiologi-most-probable.html
Pendahuluan
Air merupakan materi esensial bagi kehidupan makhluk hidup, karena makhluk hidup
memerlukan air untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Secara umum fungsi air dalam
tubuh setiap mikroorganisme adalah untuk melarutkan senyawa organik, menstabilkan suhu
tubuh dan melangsungkan berbagai reaksi kimia tingkat seluler (Campbell dkk., 2002).
Pemeriksaan air secara mikrobiologi sangat penting dilakukan karena air merupakan substansi
yang sangat penting dalam menunjang kehidupan mikroorganisme yang meliputi pemeriksaan
secara mikrobiologi baik secara kualitatif maupun kuantitatif dapat dipakai sebagai pengukuran
derajat pencemaran (Ramona dkk., 2007).
Pemeriksaan derajat pencemaran air secara mikrobiologi umumnya ditunjukkan dengan
kehadiran bakteri indikator seperti coliform dan fecal coli (Ramona dkk.,
2007).Bakteri coliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri berbentuk batang gram
negatif, tidak membentuk spora, aerobik, dan anaerobik fakultatif yang memfermentasi laktose
dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35 C (Pelczar,1988).
Kelompok bakteri coliform antara lain Eschericia coli, Enterrobacter
aerogenes,dan Citrobacter fruendii. Keberadaan bakteri ini dalam air minum juga menunjukkan
adanya bakteri patogen lain, misalnya Shigella, yang bisa menyebabkan diare hingga muntaber
(Kompas Cyber Media, 2003 dalam Kompas.com).
Menurut Supardi dan Sukamto (1999), bakteri coliform dapat dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu:
1) Coliform fekal, misalnya E. coli, merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau
manusia.
2) Coliform non-fekal, misalnya E. aeroginosa, biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman
yang telah mati.
Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Semakin
sedikit kandungan coliform,maka kualitas air semakin baik.

Uji kualitas air terdiri dari 3 step utama, yaitu: Uji penduga, Uji penguat dan Uji
pelengkap. Dalam uji penduga di gunakan lactose broth, sedangkan untuk contoh lainya yang
banyak mengandung bakteri asam laktat, misalnya susu, di gunakan brilliant green lactose bile
broth (BGLBB). Bakteri asam laktat dapat memfermentasi laktosa dan membentuk gas, hingga
dapat mengakibatkan pembacaan uji positif yang salah.
BGLBB merupakan medium selektif yang mengandung asam bile sehingga dapat
menghambat bakteri gram positif termasuk coliform. Inkubasi di lakukan pada suhu 35
o
C selama
24-48 jam. Tabung di nyatakan positif bila terebentuk gas sebanyak 10 % atau lebih dari volume
di dalam tabung Durham. Jumlah tabuung yang positif di hitung pad masing-masing seri. MPN
penduga dapat di hitung dengan melihat table MPN 7 tabung.
Uji Penguat. Terbentuknya gas dalam Lactose Broth atau dalam BGLBB tidak selalu
menunjukan bakteri E.Colli karena mikroba lainya mugkin juga ada yang dapat
memfermentasikan laktosa dengan membentuk gas, misalnya bakteri asam laktat dan beberapa
kahmir tertentu. Oleh karena itu perlu di lakukan uji penguat pada agar EMB. Dengan
Menggunakan jaarum ose, contoh dari tabung MPN yang menunjukan uji penduga positif
(terbentuk gas) masing-masing di inokulasikan pada agar cawan EMB dengan cara goresan
kuadran. Semua tabung di inkubasikan pada suhu 35
o
C selam 24 jam. Jumlah cawan EMB pada
masing-masing pengenceran yang menunjukan adanya pertumbuhan Coliform, baik fekal
maupun non fekal dihitung dan MPN penguat dapat di hitung dari table MPN.
Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji pelengkap untuk menentukan
bakteriEscherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji penguat diinokulasikan ke dalam
medium Lactose Broth dan medium agar miring Nutrient Agar (NA), dengan jarum inokulasi
secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 37
o
C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk
asam dan gas pada Lactose Broth, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli.
Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakteri Escherichia colimerupakan
Gram negatif berbentuk batang pendek.

Tujuan
Tujuan dari praktikum Uji Kualitas Air adalah untuk menguji kualitas air kolam secara
mikrobiologi dengan uji Coliform.

Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Uji Kualitas Air yaitu: Tabung reaksi, Tabung
durham, Bunsen, Inkubator, Cawan petri, Oase, Mikroskop, Pipet mikro, Preparat, Kertas saring,
Corong, Erlenmeyer, Botol semprot.
Bahan-bahan yang digunakan diantaranya: Sample air kolam, Media Lactosa
Broth,EMBA (Eosin Metilen Blue Agar), Kristal ungu, Aquades, Iodium 1%, Alkohol 96%,
Safranin.

Prosedur
Uji penduga dilakukan pada hari Jumat, 16 Maret 2012. Yang pertama dilakukan adalah
mengambil sample air kolam dan menyaringnya. Setelah itu, menyiapkan 15 tabung reaksi yang
dibagi menjadi 3 seri yaitu 5 tabung Double Strength 10 ml, 5 tabung Single Strength 1 ml, dan 5
tabung Single Strength 0,1 ml. Pada masing-masing tabung sudah berisi media Lactosa
Broth dan 1 tabung durham di dalamnya. Tabung dibalik perlahan agar tidak terdapat gelembung
udara. Masukkan sample air kedalam masing-masing tabung dengan metode sterilisasi agar tidak
terkontaminasi. Setelah selesai Inkubasi selama 24 jam.
Uji Penguat dilakukan pada hari Sabtu, 17 Maret 2012. Sebelum melakukan uji penguat,
terlebih dahulu melihat hasil uji penduga. Indikator yang dilihat adalah gelembung udara pada
tabung durham, jika pada tabung durham terdapat gelembung udara, dugaan positif ada mikroba
didalam sample air. Gelembung yang terbentuk dihitung dan dilihat pada table MPN. Cawan
petri yang berisi EMBA (Eosin Metilen Blue Agar) disiapkan, kemudian oase yang akan
digunakan dicelupkan ke dalam alkohol lalu dibakar pada bunsen, lalu ditunggu beberapa saat
dan oase dicelupkan ke dalam sampel lalu digoreskan kedalam cawan petri yang telah berisi
EMBA. Setelah 24 jam hasilnya diamati, terbentuk atau tidaknya warna hijau metalik.
Uji pelengkap (pewarnaan gram) dilakukan pada hari senin, 19 Maret 2012. Pertama, kaca
preparat dibersihkan lalu preparat ditetesi dengan sedikit aquades dan diolesi dengan bakteri.
Lalu difiksasi beberapa saat, kemudian diteteskan pewarna Kristal ungu dan dibiarkan selama 1
menit lalu dibilas dengan aquades. Kemudian ditetesi dengan iodium 1%, tunggu selama 1
menit dan dibilas kembali menggunakan aquades. Selanjutnya ditetesi dengan alkohol 96%,
tunggu selama 1 menit lalu dibilas dengan aquades. Tahap terakhir ditetesi dengan safranin,
tunggu selama 45 detik dan dibilas dengan aquades. Kemudian bakteri diamati pada mikroskop
lalu dilihat warna dan bentuk bakterinya.

Data Hasil
Tabel 1 Hasil pengamatan uji kualitas air pada sampel air kolam
Uji Hasil Pengamatan
Uji Penduga Terbentuk gelembung pada semua tabung
Uji Penguat Tidak terbentuk warna hijau metalik
Uji Pelengkap
Bentuk bakteri : Basil
Warna bakteri : Merah muda

Pembahasan
Metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas air saat praktikum
menggunakan coliform sebagai indikator. Kelompok Coliform mencakup bakteri
yangaerobic dan anaerobic fakultatif, berbentuk batang atau basil, gram negative dan tidak
membentuk spora. Coliform memfermentasikan laktosa dengan membentuk asam dan gas
CO
2
dalam waktu inkubasi selama 24 jam dan diletakkan pada suhu 37C.
Hasil yang diperoleh dari uji penduga yaitu pada tabung
berlabel Double Strength,Single Strength

1 ml, dan Single Strength 0,1 ml

terbentuk gelembung
pada tabung durham yang mengindikasikan adanya coliform pada air sampel dengan indeks
MPN per 100 mlsebesar lebih dari 2400.
. Uji selanjutnya ialah uji penguat, uji ini dilakukan pada media EMBA (Eosin Metilen
Blue Agar). Larutan sampel pada tabung berlabel Double Strength, Single Strength

1 ml,
dan Single Strength 0,1 ml yang telah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37C diambil dengan
oase dengan cara dicelupkan lalu dioleskan ke dalam EMBA. Uji positif dapat dilihat dari
terbentuknya warna hijau metalik atau tidak. Hasil praktikum menunjukkan bahwa pada uji
penguat hasil yang diperoleh negatif karena tidak terbentuk warna hijau metalik pada EMBA.
Uji yang terakhir ialah uji pelengkap, pada uji ini dilakukan pewarnaan gram untuk
mengetahui bentuk dari bakteri yang terdapat pada sampel. Prosedur pewarnaan gram yang
dilakukan sama seperti pewarnaan gram yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun fungsi-fungsi
penambahan warna pada pewarnaan bakteri gram yaitu, pewarna Kristal unguditambahkan
sebagai pemberi warna awal, iodium ditambahkan untuk memperkuat ikatan pada dinding sel
sehingga warna yang dilihat dapat terlihat lebih jelas, alkohol ditambahkan sehingga pada bakteri
gram negatif yang mengandung peptidoglikan.
Safranin ditambahkan untuk memberikan kompleks warna merah pada bakteri gram
negatif sehingga bakteri gram negatif menjadi berwarna merah sedangkan pada bakteri gram
positif pewarna safranin tidak berpengaruh sehingga bakteri gram positif tetap berwarna ungu.
Setelah dilakukan pewarnaan gram dan diamati pada mikroskop, bakteri yang teramati yaitu
bakteri berbentuk basil dan berwarna merah muda sehingga dapat dikatakan terdapat
bakteriE.Colli.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Uji Kualitas Air dapat disimpulkan bahwa pada air kolam
terdapat bakteri E.Colli. Tidak terbentuknya warna hijau metalik pada uji penguat disebabkan
ketidakjelasan warna pada saat pengamatan, sehingga warna hijau metalik tidak terlihat.
Standar Air Minum, menurut standar WHO semua sampel tidak boleh mengandung E. coli
dan sebaiknya juga bebas dari bakteri coliform. Standar WHO dalam setiap tahun, 95% dari
sampel-sampel tidak boleh mengandung coliform dalam 100 ml, tidak ada sampel yang
mengandung E. coli dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung coliform lebih dari 10
dalam 100 ml, tidak boleh ada coliform dalam 100 ml dan dua sampel yang berurutan
(AOAC,2000).
Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan
manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih
tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri
patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya
pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform
jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain (Dad,2000).
Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform
adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin
baik. Berdasarakan latar belakang itulah maka praktikum ini penting untuk dilaksanakan.
Hasil pemeriksaan MPN Coliform metode tabung ganda dinyatakan dengan jumlah perkiraan
terdekat kuman golongan coli yang terdapat dalam 100 ml contoh air atau 100 gr contoh
makanan (MPN).
Untuk contoh air yang bukan air minum, biasanya pemeriksaan rutin laboratorium, hanya
bertujuan untuk mengetahui derajat kontaminasi dari bekteri atau untuk menentukan sumber
polusi.
Pemeriksaan MPN Coliform metode tabung ganda didasarkan bahwa bakteri golongan coli
dapat meragikan laktosa, membentuk asam atau gas. Untuk itu digunakan metode ini :
1. Tes Perkiraan (Presumtive Test)
Perbenihan yang diperlukan adalah lactose broth yang single strength (SS) dan Double
Strength (DS). LBDS dipakai untuk pengenceran yang lebih besar (10 ml) dan LBSS dipakai
untuk pengenceran yang lebih kecil ( 1 ml dan 0,1 ml). Sedangkan jumlah tabung yang dipakai
ada bermacam-macam kombinasi, seperti:
No. Jumlah Tabung Volume Air
1. 5 tabung LB DS
5 tabung LB SS
5 tabung LB SS
10 ml contoh air
1 ml contoh air
0,1 ml contoh air
2. 5 tabung LB DS
1 tabung LB SS
1 tabung LB SS
10 ml contoh air
1 ml contoh air
0,1 ml contoh air
3. 3 tabung LB DS 10 ml contoh air
3 tabung LB SS
3 tabung LB SS
1 ml contoh air
0,1 ml contoh air
Sesudah masing-masing tabung diisi dengan contoh air dengan menggunakan pipet ukur
secara aseptis, kemudian disimpan kedalam lemari pengeram (incubator) dengan suhu 35-37
o
C
selama 1 x 24 jam. Tiap-tiap tabung yang menunjukkan peragian (keruh) dan adanya gas, maka
tabung itu diperkirakan mengandung kuman golongan Coli, atau positif. Dari tabung ini perlu
diteruskan pada tes penegaan (Confirmatory Test).
2. Tes Penegasan (Confirmatory Test)
Pembenihan yang dipakai adalah B.G.L.B. Adapun yang diperiksa adalah semua tabung
yang positif (keruh + gas) pada Lactose Broth. Pindahkan dengan jarum ose dari tiap-tiap tabung
yang positif ke B.G.L.B kemudian masukkan ke dalam incubator 35-37
o
C selama 1 x 24 jam.
Tabung yang menunjukkan keruh dan gas dianggap positif. Hasil pemeriksaan pada tes
penegasan ini dapat dibaca dalam tabel PTD/MPN Coliform, sesuai dengan jumlah tabung yang
dipergunakan. Misalnya dalam tabel kita mendapatkan angka MPN = 5, ini berarti bahwa dalam
100 ml contoh air terdapat 5 kuman golongan Coli.
3. Tes Lengkap (Complete Test)
Pembenihan yang dipakai adalah :
Endo agar plate atau EMB agar plate
Pepton untuk indol
Metil red
Vogas Proskauer
Citrat media
Tes ini ditunjukkan untuk menentukan jenis dari coliform misalnya E. Coli,
A.aerogenesis, E. freundii, dan lain-lain dengan melihat hasil peragian kuman (test biokimia)
pada media :
Media E. Coli A. aerogenesis
1. Indol
2. Metil red
3. Vogas Proskauer
4. Citrat
+
+
-
-
-
-
+
+

B. TUJUAN
Tujuan dari pemeriksaan MPN Coliform pada makanan dan air terutama contoh air yang
sudah mendapat pengolahan proses desinfeksi, ialah mencari atau menentukan adanya bakteri
golongan Coli atau E.Coli dalam contoh makanan dan air yang diperiksa, selain itu juga untuk
mengetahui korelasi antara jumlah bakteri koliform dengan kualitas air sampel.

C. MANFAAT
Manfaat dari praktikum ini adalah parktikan mampu menganalisa kualitas air dengan metode
MPN (Most Probable Number) dengan menghitung jumlah koliform yang ditemukan.
LATAR BELAKANG
1. Metode MPN
Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji konfirmasi
(confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji tahap pertama, keberadaan
coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah; masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat
fermentatif coliform dalam sampel. Karena beberapa jenis bakteri selain coliform juga memiliki
sifat fermentatif, diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya coliform
dengan bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji
konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri
coliform: berbentuk batang, Gram negatif, tidak-berspora.
(Fardiaz,1989).
Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh
(growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-forming unit) dalam sampel. Namun, pada
umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang
digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam
sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10
coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi
kualitasnya, dan makin layak minum. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen
sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi.
(FDA, 1989).
2. Bakteri Coliform
Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih
tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri
patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya
pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform
jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh
bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah
indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik.
(FRIEDHEIM, 2001).
Banyaknya kontaminan dalam air memerlukan standar tertentu untuk menjamin
kebersihannya. Air yang terkontaminasi oleh bakteri patogen saluran cerna sangat berbahaya
untuk diminum. Hal ini dapat dipastikan dengan penemuan organisme yang ada dalam tinja
manusia atau hewan dan yang tidak pernah terdapat bebas di alam. Ada beberapa organisme
yang termasuk kategori ini, yaitu bakteri coliform (E. coli), Enterococcus faecalis, Clostridium
sp. Di Indonesia, bakteri indikator air terkontaminasi adalah E. coli.
Terdapatnya bakteri coliform dalam air minum dapat menjadi indikasi kemungkinan
besar adanya organisme patogen lainnya. Bakteri coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal
coliform dan non-faecal coliform. E. coli adalah bagian dari faecal coliform. Keberadaan E. coli
dalam air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh tinja. E. coli digunakan sebagai
indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan;
a) E. coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai flora normal)
atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan;
jarang sekali ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi,
b) E. coli mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika pemeriksaan dilakukan
dengan benar,
c) Bila dalam air tersebut ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi penggunaan
domestik,
d) Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E.
coli dalam air tersebut
Bakteri pembusuk ini dimasukkan ke dalam golongan bakteri Coliform, salah satu yang
termasuk didalamnya adalah Escherichia coli. Bakteri coliform ini menghasilkan zat ethionine
yang pada penelitian menyebabkan kanker. Bakteri-bakteri pembusuk ini juga memproduksi
bermacam-macam racun seperti Indole, skatole yang dapat menimbulkan penyakit bila berlebih
didalam tubuh.
(GAUSE, G. F. 1946).
Bakteri coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting kualitas air minum.
Kelompok bakteri coliform terdiri atas Eschericia coli, Enterobacter aerogenes, Citrobacter
fruendii, dan bakteri lainnya. Meskipun jenis bakteri ini tidak menimbulkan penyakit tertentu
secara langsung, keberadaannya di dalam air minum menunjukkan tingkat sanitasi rendah. Oleh
karena itu, air minum harus bebas dari semua jenis coliform. Semakin tinggi tingkat kontaminasi
bakteri coliform, semakin tinggi pula risiko kehadiran bakteri-bakteri patogen lain yang biasa
hidup dalam kotoran manusia dan hewan. Salah satu contoh bakteri patogen-yang kemungkinan
terdapat dalam air terkontaminasi kotoran manusia atau hewan berdarah panas-adalah Shigella,
yaitu mikroba penyebab gejala diare, deman, kram perut, dan muntah-muntah.
(Official Chemical Method, 1979).
Jenis bakteri coliform tertentu, misalnya E coli O:157:H7, bersifat patogen dan juga dapat
menyebabkan diare atau diare berdarah, kram perut, mual, dan rasa tidak enak badan (Dad,2000).

http://kana-hapaki.blogspot.com/2013/03/laporan-pemeriksaan-mpn-coli_23.html
Uji kualitas air dilakukan untuk mengetahui kualitas dari air yang
akan kita analisis. Metode yang digunakan ialah MPN (Most Probable
Number) atau APN (Angka Paling Mungkin). MPN merupakan metode yang
paling sederhana yang digunakan untuk menguji kualitas air. Uji kualitas
air terdiri dari beberapa uji yakni uji penduga, uji penguat dan uji
pelengkap. Air sangat perlu untuk duji sebelum dikonsumsi atau diminum
karena air dapat menjadi sumber penyebaran penyakit.
Uji penduga merupakan uji positif untuk menentukan bakteri
koliform. Media yang digunakan ialah media lactose broth. Bakteri dapat
menggunakan laktosa sebagai sumber karbon, namun ada pula sebagian
bakteri enteric yang tidak dapat melakukannya. Kaldu laktosa mengandung
surface tension depressant yang menekan pertumbuhan bakteri gram
positif dan memacu bakteri gram negative terutama bakteri koliform. Hasil
uji penguat yang positif atau meragukan menyatakan bahwa sampel air
tidak layak untuk diminum. Uji penguat memerlukan media selektif dan
diferensial seperti eosin-biru metilen atau endo agar yang akan diinokulasi
dari tabung laktosa yang positif. Uji pelengkap, uji ini merupakan tahap
akhir analisis bakteri dari contoh air. Uji pelengkap dilakukan dengan
pewarnaan gram (Sunatmo 2009).
Metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas air saat
praktikum menggunakan koloform sebagai indicator. Kelompok koliform
mencakup bakteri yang aerobic dan anaerobic fakultatif, berbentuk batang
atau basil, gram negative dan tidak membentuk spora. Koliform
memfermentasikan laktosa dengan membentuk asam dan gas CO2 dalam
waktu inkubasi selama 48 jam dan diletakkan pada suhu 37C (Hadieotomo
1993).
Uji yang dilakukan pada metode ini ialah uji penduga, uji penguat dan
uji pelengkap. Uji penduga dilakukan dengan menginkubasi air sampel
yang telah dimasuukan ke dalam tabung reaksi yang berisi media lactose
broth dan tabung Durham, hasil yang diperoleh yakni pada tabung berlabel
DS, SS1, dan SS2 terbentuk gelembung pada tabung durham yang
mengindikasikan adanya koliform pada air sampel dengan indeks MPN per
100 mL sebesar lebih dari 2400. Uji selanjutnya ialah uji penguat, uji ini
dilakukan pada media EMBA (Eosin Metilen Blue Agar). Larutan sampel
pada tabung berlabel DS, SS1, dan SS2 yang telah diinkubasi selama 48 jam
pada suhu 37C diambil dengan ose dengan cara dicelupkan lalu dioleskan
ke dalam EMBA, uji positif dapat dilihat dari terbentuknya warna hijau
metalik atau tidak. Hasil praktikum menunjukkan bahwa pada uji penguat
hasil yang diperoleh negative karena tidak terbentuk warna hijau metalik
pada EMBA. Uji yang terakhir ialah uji pelengkap, pada uji ini dilakukan
pewarnaan gram untuk mengetahui bentuk dari bakteri yang terdapat pada
sampel. Pewarnaan gram dilakukan pada kultur murni yang telah
disediakan dan kultur buatan sebelumnya.
Prosedur pewarnaan gram yang dilakukan sama seperti pewarnaan
gram yang telah dialkukan sebelumnya. Adapun fungsi-fungsi penambahan
warna pada pewarnaan bakteri gram yakni, pewarna ungu Kristal
ditambhakan sebagai pemberi warna awal, yodium ditambahkan untuk
memperkuat ikatan pada dinding sel sehingga warna yang dilihat dapat
terlihat lebih jelas, alkohol ditambahkan sehingga pada bakteri gram
negative yang mengandung polipeptida, lipid terekstraksi dari dinding sel,
pori-pori mengembang dan kompleks ungu Kristal dan yodium (UK-Y)
keluar dari sel, sehingga sel menjadi tidak berwarna, sedangkan pada
bakteri gram positif dinding selnya mengalami dehidrasi, pori-pori
menciut, daya rembes sensing sel dan membrane menurun sehingga
kompleks UK-Y tidak dapat keluar dari sel, sehingga sel tetap berwarna
ungu. Terakhir yaitu pewarna safranin yang memberikan kompleks warna
merah pada bakteri gram negative sehingga bakteri gram negative menjadi
berwarna merah sedangkan pada bakteri gram positif pewarna safranin
tidak berpengaruh sehingga bakteri gram positif tetap berwarna ungu.
Setelah dilakukan pewarnaan gram dan diamati pada mikroskop,
bakteri yang teramati dari kultur murni ialah berbentuk basil dan
berwarna merah muda sehingga dapat dikatakan terdapat bakteri e-colli,
sedangkan pada kultur dari sampel air selokan bakteri yang teramati
berbentuk kokus dan bewarna merah muda sehingga dapat dikatakan air
sampel tidak mengandung bakteri e-colli.
SIMPULAN
Berdasarkan praktikum uji kualitas air dengan metode MPN (Most
Probable Number) diperoleh hasil yakni air sampel yang berasal dari air
selokan tidak mengandung bakteri e-colli.
Metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas air saat praktikum
menggunakan Coliform sebagai indikator. Kelompok Coliformmencakup bakteri yang aerobic
dan anaerobic fakultatif, berbentuk batang atau basil, gram negative dan tidak membentuk
spora. Coliform memfermentasikan laktosa dengan membentuk asam dan gas CO
2
dalam waktu
inkubasi selama 48 jam dan diletakkan pada suhu 37C.
Uji yang dilakukan pada metode ini ialah uji penduga dan uji penguat. Uji penduga
dilakukan dengan menginkubasi air sampel yang telah dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang
berisi medium Lactose Broth dan tabung Durham, hasil yang diperoleh yakni pada tabung reaksi
10
-1
, 10
-2
, dan 10
-3
terbentuk gelembung pada tabung durham yang mengindikasikan
adanya Coliform pada sampel aquades dan air sungai.
Uji selanjutnya ialah uji penguat, uji ini dilakukan pada medium BGLB (Brilliant Green
Lactose Broth). Larutan sampel pada tabung reaksi yang telah diinkubasi selama 48 jam pada
suhu 37C diambil dengan jarum ose dengan cara dicelupkan lalu dioleskan ke dalam medium
BGLB , uji positif dapat dilihat dari terbentuknya warna hijau metalik atau tidak. Hasil
praktikum menunjukkan bahwa pada uji penguat hasil yang diperoleh positif karena terbentuk
warna hijau metalik pada BGLB. BGLB berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan flora
mikroba yang tidak diharapkan. Media BGLB merupakan media yang akan berwarna hijau
metalik jika terdapat reaksi fermen dengan media. Warna ini berasal dari adanya koloni koliform
yang bereaksi dengan BGLB.Eschercia coli merupakan bakteri fermentasi, seringkali
menghasilkan warna hijau metalik mengkilap. Bakteri yang menfermentasi dengan lambat akan
menghasilkan koloni berwarna merah muda.
Sesuai hasil pengamatan, pada medium BGLB yang berisikan air sungai dengan nilai
190/100 ml air dan air galon dengan nilai 58/100 ml air. Pada medium EC yang berisikan air
sungai dengan nilai 271/100 ml air dan air galon dengan nilai 20/100 ml air, dari kedua hasil
pengamatan di atas dapat diketahui bahwa air tersebut tidak dapat dikonsumsi, karena menurut
standar kesehatan, kualitas air yang bagus untuk dikonsumsi ialah air yang mengandung
maksimal 10/100 ml air koloni bakteri patogen atau lebih baik lagi jika tidak terdapat bakteri
patogen.
Sesuai hasil pengamatan, dapat diketahui jumlah bakteri patogen untuk
spesies Coliform yang lebih banyak terdapat di air galon karena kurang sterilnya alat
penyaringan atau pemurnian air sehingga bakteri patogennya pun tetap terikut saat pengambilan
air galon. Spesies bakteri Eschercia coli banyak ditemukan pada air sungai karena seperti yang
kita ketahui air sungai merupakan salah satu tempat berbagai macam pembuangan seperti
pembuangan sampah, pembuangan limbah, termasuk pembuangan feses.
Metode untuk menduga jumlah bakteri dalam suatu produk, dapat menggunakan metode
hitungan mikroskopis, metode hitungan cawan dan penentuan angka paling memungkinkan
(MPN). Organisme yang mati maupun hidup dapat dihitung dengan metode hitungan
mikroskopis, akan tetapi pada MPN hanya organisme hidup yang dapat dihitung. Metode MPN
adalah metode untuk menghitung jumlah mikroba dengan menggunakan medium cair dalam
tabung reaksi yang pada umumnya setiap pengenceran menggunakan 3 atau 5 seri tabung dan
perhitungan yang dilakukan merupakan tahap pendekatan secara statisitik.