Anda di halaman 1dari 3

MONITORING PANGAN SEGAR ASAL HEWAN (DAGING) TERHADAP CEMARAN MIKROBA DAN RESIDU HORMON Sumber Berita : Bidang

Karantina Hewan Pangan segar asal hewan termasuk kategori pangan yang mudah rusak dan dikenal se bagai pangan yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan konsumen (potentially haza rdous foods). Pangan dapat berfungsi sebagai media pembawa agen patogen yang dap at menyebabkan penyakit pada konsumen (foodborne illness). Mikroorganisme patoge n yang sering menimbulkan wabah foodborne disease tidak menyebabkan perubahan fi sik pada pangan, sehingga tidak mudah dikenali secara sensori, melainkan memerlu kan pengujian laboratorium. Mikroorganisme patogen itu dapat menyebabkan infeksi pangan (food infection), toksiko-infeksi pangan (food toxico-infection), dan in toksikasi pangan (food intoxication). Kebanyakan kasus foodborne disease terkait dengan konsumsi pangan asal hewan yang mentah atau tidak dimasak dengan baik. P enyebab foodborne disease yang paling utama yang berasal dari pangan asal hewan adalah Salmonella spp, Escherichia coli O157:H7, dan Campylobacter spp. Daging m entah (segar) dapat tercemar oleh E. coli, Salmonella, dan Staphylococcus aureus . Dalam daging giling dapat ditemukan Clostridium perfringens, Bacillus cereus, Listeria monocytogenes, enterohemorrhagic E. coli (EHEC). Clostridium botulinum terkait dengan produk olahan daging yang dikemas vakum. Salah satu perhatian dar i aspek keamanan pangan dan kesehatan masyarakat terhadap pangan asal hewan akhi r-akhir ini adalah penyakit hewan yang dapat ditularkan melalui produk hewan ke manusia atau dikenal sebagai foodborne zoonotic disease atau foodborne zoonosis. Foodborne zoonotic disease didefinisikan sebagai infeksi pada manusia yang ditu larkan melalui pangan yang sumbernya dari hewan yang terinfeksi. Beberapa penyak it ini sudah dikenal lama seperti antraks yang ditularkan melalui daging sapi, k ambing, domba, kerbau; sistiserkosis/taeniasis yang ditularkan melalui daging ba bi, toksoplasma yang ditularkan melalui daging kambing/domba. Residu Hormon Selain itu keberadaan residu hormon pada pangan segar asal hewan yang melampaui ambang batas yang telah ditentukan dapat menyebabkan pangan segar asal hewan ter sebut menjadi tidak aman dan tidak layak untuk dikonsumsi karena dapat merugikan , mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia. Obat-obatan untuk pemacu pertum buhan (growth promoter/hormon) merupakan salah satu contoh obat-obatan yang jika digunakan tidak sesuai dengan petunjuk atau label, misalnya waktu henti obat (w ithdrawal time) yang tidak dipatuhi menjelang hewan akan dipotong dapat menimbul kan residu pada saat dipotong.Sejak awal tahun 1970-an, penggunaan hormon pertum buhan (Hormone Growth Promotors/ HGPs) telah dikenal secara luas baik pada peter nakan sapi potong maupun peternakan sapi perah yang diberikan untuk mempercepat peningkatkan berat badan dan efisiensi pakan termasuk menghindari pakan yang ber lebihan (overfeeding). Penggunaan hormon sebagai pemacu pertumbuhan telah banyak digunakan di USA, Australia, New Zealand dan Canada. Hormon yang biasa digunaka n diantaranya hormon Trembolon, Melengestrol Asetat (MGA) dan Zeranole. Di Indon esia sendiri penggunaan HGPs pada hewan ternak dilarang sejak tahun 1983, dan pe nggunaan hormon diizinkan hanya untuk penanganan gangguan reproduksi dan tujuan terapi, dengan pengawasan dokter hewan termasuk pengontrolan masa henti obat (wi thdaraltime). Negara-negara yang melarang penggunaan HGP mengkhawatirkan resiko yang dapat ditimbulkan akibat mengkonsumsi produk hewan yang mengandung residu h ormon seperti pemicu kanker, infertilitas dan pubertas dini yang pernah terjadi pada tahun 80-an di Italia pada anak sekolah yang mengalami pubertas dini akibat penggunaan hormon DES. Pada saat ini penggunaan hormon pemacu pertumbuhan di In donesia hanya diizinkan untuk hormon yang bersifat natural saja. Dalam rangka me njalankan tugas pokok karantina mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit hew an karantina serta pengawasan terhadap keamanan hayati hewani khususnya keamanan pangan segar asal hewan, apalagi frekuensi pemasukan daging pada pelabuhan Tanj ung Priok sangat besar. Maka dibentuklah Tim Monitoring Pangan Segar Asal Hewan pada Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok Tahun 2011 berdasarkan Keputu

san Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok Nomor : 326 /Kpts/KH 32 0./L.7.A/2/2011.Sebagai upaya untuk menjamin keamanan pangan di tempat pemasukan khususnya pangan segar asal hewan dari kemungkinan adanya cemaran mikroba dan r esidu hormon, diperlukan suatu pengujian secara laboratoris untuk mendeteksi ada atau tidaknya residu hormon dalam pangan segar asal hewan. Dalam pelaksanaan mo nitoring ini Laboratorium Karantina Hewan BBKP Tanjung Priok bekerja sama dengan Laboratorium Kesmavet DKI Jakarta untuk pengujian cemaran mikroba meliputi TPC (Total Plate Count), Salmonella, E.Coli, Coliform, S.Aureus dan Balitvet Bogor u ntuk pengujian residu hormone Trembolon, Melengestrol Asetat (MGA) dan Zeranole. (drh.Asyhari)

MONITORING PANGAN SEGAR ASAL HEWAN RESIDU HORMON TRENBOLON ASETAT (TBA), MELENGE STROL ASETAT (MGA) DAN ZERANOL DI BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN TANJUNG PRIOK 2011 Sumber Berita : Bidang Karantina Hewan Pemerintah Republik Indonesia telah menandatangani, Perjanjian Perdagangan Bebas , yaitu CAFTA (China-Asean Free Trade Agreement) dan AFTA(Asian Free Trade Agree ment). BalaiBesar Karantina Pertanian Tanjung Priok adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT)Badan Karantina Pertanian yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan opera sional perkarantinaan, karantina hewan, karantina tumbuhan, dan keamanan hayati berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja UPT Karantina Pertanian.Tanjung Priok adalah pelabuha n terbesar menjadi pintu masuk dengan frekuensi tertinggi dari dan luar negeri d engan berbagai jenis komoditas. Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok da lam menjalankan dan mengoptimalkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi karantina pada Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok, dipandang perlumeningkatkan pemahaman, penguasaan dan implementasi untuk prosedur-prosedurkarantina dan pene guhan keputusan teknis yang berlaku dan terkait dengan peranan karantina pertani an sebagai garda terdepan perlindungan masuknya penyakit diera perdagangan bebas . Tujuan deteksi ini adalah untuk mengetahui adanya residu hormon golongan testos terone, progresteron dan estrogen yaitu khususnya Trenbolon (TBA), Melengestrol (MGA) dan Zeranolpada daging sapi yang dilalu lintaskan melalui Pelabuhan Tanjun g Priok, secara kualitatif dan kuantitatif. Manfaat yang diharapkan dari deteksi residu hormon ini adalahdapat memberi gamba ran tentang keamanan hayati hewani sebagai acuan kebijakanpengawasan tindakan ka rantina dan sebagai informasi pada konsumen. Pemakaian hormon sudah dimulai di Negara USA, Canada, New Zeland,Australia, Afri ka Selatan, Mexico, Chile sejak 40 tahun (1970) lalu. Pemakaian hormon natural e

stradiol 17-, progresteron, testosterol dan sintetik hormon Trembolon(TBA), Melen gestrol asetat dan Zeranol. Hormon estradiol diketahui merupakan karsinogen dan memicu pertumbuhan sel (anonimus, 2003).Zeranol adalah hormon golongan syntetik estrogen dari zearelencoe mikotoksin fusasrium roseum dan tricinetum. Zeranol (-z e r l nol) merupakan hasil metabolit darimyco-estrogen zearalenone (mycotoxin) d ari jagung, gandum, oak yang terinfeksioleh Fusarium dan digunakan untuk meningk atkan pertumbuhan yang mempunyai aktivitasestrogenik (Yuri T et al 2006). Pengambilan sampel pada monitoring PSAH yaitu; daging Sapi inidilakukan berdasar kan SNI 19-0428-1998 dan internasional laboratoriumaccreditation coorporation (I LAC) G6 1994, secara acak sederhana. Ukuran contohuntuk deteksi penyakit atau re sidu atau gangguan kesehatan dalampopulasi, dilakukansecara selektif dalam popul asi hewan (Thrusfield 2005). n =[ 1- (1-a)1/D ] [ N- (D-1)/2 ] Keterangan : N= Populasi ; a= Konfidensi; n=besaran contoh; D=Jumlahdugaanindividu yang sakit (prevalens i x populasi) Metode yang digunakan secara kualitatif hormone MGA dan Zeranoladalah dengan met ode enzym linked immunoassay (ELISA) KIT Ridascreen dan hormon TBA menggunakan s ecara kuantitatif adalahdengan metode high pressure liquid chromatography (HPLC) dan ELISA KIT Ridascreen. Pengujian hormon TBA dilakukan dilaboratorium Bidang Karantina Hewan BBKP T. PR IOK bekerja sama dengan CENTRAS IPB, Balai Besar Penelitiaan Veterinerdan penguj ian hormon MGA dan Zeranol bekerja sama dengan Lab Kesmavet DKI. Hasil sejumlah 97 Sampel daging dan hati sapi yang diuji terhadap residu hormon TBA dengan metode HPLC dan ELISA, 75 sampel daging dan hati sapi diuji residu ho rmon TBA dengan metode HPLC diperoleh hasiltidak terdeteksi standar TBA dengan M etode HPLC (TBA : 2,5 ppb; 17 Tren olon : 0,625 ppb). Sampellainnya sejumlah 22 s ampel diuji dengan metode ELISA diperoleh nilai0,045 0,660 g/kg, 22 sampel ini n ilai residu lebih rendah dari standar dengan berdasarkan standar TBAdalam hati 1 0 g/kg = 10 ppb dan dalam daging 2 g/kg = 2 ppb(Codex, 2011). Hasil sejumlah43 sampel daging sapi diuji terhadap hormon MGA dengan metode E LISA MGA diperoleh nilai0,063 0,444 g/kg. Semua sampel menunjukkan kadar MGA lebi h rendah standar 1 g/kg = 1 ppb(CODEX, 2009) dan standar MGA = 25 g/kg = 25 ppb (S NI, 2000). Hasil sejumlah 65 sampel daging sapi sampel diuji terhadap hormon Zeranol dengan metode ELISA Zeranol diperolehhasil sejumlah 26sampel diperolehnilai 2,007 6,6 07 g/kg, hasil tersebut berada di atas standar2 g/kg = 2 ppb(Codex,2011 danSNI, 20 00).Sedangkan 39 sampel yang lain bernilai dibawah standar 2 g/kg = 2 ppb (Codex, 2011 dan SNI, 2000).