Anda di halaman 1dari 16

Akuntansi Islam Resume Penyajian Laporan Keuangan Syariah PSAK 101

Fitri Sriani A. Ruang Lingkup Pengaturan PSAK

22 2009 050

Entitas syariah menerapkan Pernyataan inidalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan PSAK. Entitas syariah yang dimaksud di Pernyataan ini adalah entitas yang melaksanakan transaksi syariah sebagai kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dinyatakan dalam anggaran dasarnya. SAK lain mengatur persyaratan pengakuan, pengukuran dan

pengungkapan transaksi dan peristiwa lain. Pernyataan ini menggunakan terminologi yang cocok bagi entitas syariah yang berorientasi laba, termasuk entitas bisnis syariah sektor publik. Jika entitas syariah tidak berorientasi laba menerapkan Pernyataan ini, maka entitas tersebut perlu menyesuaikan deskripsi beberapa pos yang terdapat dalam laporan keuangan dan istilah laporan keuangan itu sendiri. Entitas syariah seperti reksa dana dan entitas yang modalnya tidak terbagi atas saham, misalnya koperasi, memerlukan penyesuaian terhadap penyajian dalam laporan keuangannya.

B. Tujuan Penyajian Laporan Keuangan Syariah Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan suatu entitas syariah. Tanggungjawab atas Laporan Keuangan dengan tujuan memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas syariah yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan - keputusan ekonomi serta menunjukkan hasil pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas syariah yang meliputi:

a. aset; b. kewajiban; c. dana syirkah temporer; d. ekuitas; e. pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian; f. arus kas; g. dana zakat; dan h. dana kebajikan.

Informasi tersebut, beserta informasi lain yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas masa depan dan khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas. Tujuan lainnya adalah : Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam setiap transaksi dan kegiatan usaha. Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi asset, kewajiban, pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada yang dalam perolehan dan penggunaannya. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana,

menginvestasikannya pada tingkat keunmtungan yang layak Informasi mengenai keuntungan investasi yang di peroleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban, (obligation) fungsi social entitas syariah. Termasuk

pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah dan wakaf.

C. Komponen Laporan Keuangan Syariah Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen berikut ini : a. Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode; b. Laporan laba rugi komprehensif selama periode;

c. Laporan perubahan ekuitas selama periode; d. Laporan arus kas selama periode; e. Laporan sumber dan penggunaan zakat selama periode; f. Laporan sumber dan penggunaan dana kebijakan semala periode; g. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain; dan h. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketita entitas syariah menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos laporan keuangan, atau ketika entitas syariah mereklasifikasi pos dalam laporan keuangannya.

D. Pertimbangan Menyeluruh Penyusunan Laporan Keuangan Syariah 1. Penyajian secara Wajar Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas syariah dengan menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan secara benar disertai

pengungkapan yang diharuskan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi lain tetap diungkapkan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapkan tersebut tidak diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. PSAK dimaksudkan agar laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja, dan arus kas sehingga tujuan laporan keuangan tersebut dapat tercapai. PSAK mungkin tidak mengatur pengungkapan informasi tertentu padahal pengungkapan informasi tersebut diperlukan guna menyajikan laporan keuangan secara wajar. Dalam hal tersebut maka entitas syariah harus memberikan tambahan pengungkapan informasi yang relevan sehingga laporan keuangan dapat disajikan secara wajar. 2. Kelangsungan Usaha Dalam penyusunan laporan keuangan, manajemen harus menilai (assessment) kemampuan kelangsungan usaha entitas syariah. Laporan

keuangan harus disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bermaksud untuk melikuidasi atau menjual, atau tidak mempunyai alternatif selain melakukan hal tersebut. Dalam penilaian kelangsungan usaha, ketidakpastian yang bersifat material yang terkait dengan kejadian atau kondisi yang bisa menyebabkan keraguan atas kelangsungan usaha harus diungkapkan. Apabila laporan keuangan tidak disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka kenyataan tersebut harus diungkapkan bersama dengan dasar lain yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan serta alasan mengapa asumsi kelangsungan usaha entitas syariah tidak dapat digunakan. 3. Dasar Akrual Entitas syariah harus menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan Arus Kas dan penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha. Dalam penghitungan pembagian hasil usaha didasarkan pada pendapatan yang telah direalisasikan menjadi kas (dasar kas). 4. Materialitas dan Agregasi Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Laporan keuangan merupakan hasil dari proses atas sejumlah transaksi yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses penggabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan keuangan. Jika suatu klasifikasi pos tidak material maka dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis dalam laporan keuangan. Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam laporan keuangan, tetapi cukup material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.

5. Saling Hapus (Offsetting) Aset, kewajiban, dana syirkah temporer, penghasilan dan beban disajikan secara terpisah, kecuali saling hapus diperkenankan dalam PSAK. Entitas syariah melaporkan secara terpisah untuk aset, liabilitas, dana syirkah temporer serta penghasilan dan beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensifatau laporan posisi keuangan mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang telah terjadi maupun untuk menilai arus kas di masa depan, kecuali jika saling hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa lain. Pengukuran aset secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya, penyisihan keusangan atas persediaaan dan penyisihan piutang tidak tertagih) bukan termasuk kategori saling hapus. PSAK 23: Pendapatan mendefinisikan pendapatan dan

mensyaratkan untuk mengukurnya berdasarkan nilai wajar dari jumlah yang diterima atau akan diterima, dengan mempertimbangkan jumlah potongan dagang dan rabat volume yang diperbolehkan. Dalam aktivitas normal, entitas syariah juga melakukan transaksi lain yang bukan merupakan penghasil utama pendapatan dan bersifat insidentil. Entitas menyajikan hasil dari transaksi tersebut dengan mengurangkan setiap penghasilan dengan beban terkait yang timbul dari transaksi yang sama sepanjang penyajian tersebut mencerminkan substansi dari transaksi atau peristiwa lain. Misalnya: a. entitas syariah menyajikan keuntungan dan kerugian atas pelepasan aset tidak lancar, termasuk investasi dan aset operasional, dilaporkan dengan mengurangkan n penerimaan dari pelepasan dengan jumlah tercatat dan beban yang timbul dari pelepasan aset tersebut; b. entitas syariah dapat mengurangkan pengeluaran yang terkait dengan provisi yang diakui sesuai dengan PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi dan diganti berdasarkan perjanjian

kontraktual dengan dan diganti berdasarkan perjanjian kontraktual dengan pihak ketiga (seperti perjanjian garansi dari pemasok) dengan penggantian yang diterima. 6. Frekuensi pelaporan Entitas syariah menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif) setidaknya secara tahunan. Jika akhir periode pelaporan berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek daripada periode satu tahun, sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas syariah mengungkapkan: a. alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek, dan b. fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat dibandingkan secara keseluruhan. Umumnya entitas syariah secara konsisten menyiapkan laporan keuangan untuk periode satu tahun. Namun, untuk alasan praktis, beberapa entitas syariah lebih memilih untuk melaporkan, sebagai contoh, untuk periode lima puluh dua minggu. Pernyataan ini tidak menghalangi praktik tersebut. 7. Informasi Komparatif Informasi kuantitatif harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya, kecuali dinyatakan lain oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. Pada beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan pada laporan keuangan periode sebelumnya masih relevan untuk diungkapkan pada periode berjalan. Misalnya, rincian tentang sengketa hukum yang dihadapi, dimana hasil akhirnya belum diketahui secara pasti pada periode sebelumnya dan masih dalam proses penyelesaian, perlu diungkapkan

kembali pada periode berjalan. Pengguna laporan keuangan akan memperoleh manfaat dari informasi adanya ketidakpastian pada tanggal Neraca sebelumnya dan langkah-langkah yang telah dilakukan pada periode berjalan untuk mengatasi ketidakpastian tersebut. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah maka jumlah komparatif harus direklasifikasi kecuali tidak praktis dilakukan. Apabila jumlah komparatif direklasifikasi maka harus diungkapkan: a. Sifat dari reklasifikasi; b. Jumlah setiap pos atau kelompok pos yang di-reklasifikasi; dan c. Alasan reklasifikasi. Apabila reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis dilakukan maka harus diungkapkan: a. Alasan tidak melakukan reklasifikasi jumlah tersebut; dan b. Sifat penyesuaian yang akan dilakukan jika jumlah tersebut direklasifikasi. Peningkatkan daya banding informasi antar periode membantu pengguna laporan keuangan dalam membuat keputusan ekonomi, khususnya memungkinkan penilaian atas kecenderungan informasi keuangan untuk tujuan prediksi. Dalam beberapa keadaan, reklasifikasi informasi komparatif tidak praktis untuk periode tertentu sebelumnya untuk mencapai daya banding dengan periode berjalan. Misalnya, entitas syariah mungkin belum mengumpulkan data pada periode sebelumnya yang memungkinkan untuk melakukan reklasifikasi, dan mungkin tidak praktis untuk menyusun kembali informasi tersebut. 8. Konsistensi Penyajian Penyajian dan klasifikasi pos dalant laporan keuangan antar periode dilakukan secara konsisten, kecuali: a. setelah terjadi peruhahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas syariah atau kaji ulang atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau klasifikasi lain akan tepat untuk digunakan dengan

mempertimbangkan criteria dalam penentuan dan penerapan kebijakan akuntansi; atau b. perubahan tersebut diperkenankan oleh PSAK. Misalnya, Akusisi atau pelepasan yang signifikan atau kajian ulang terhadap penyajian laporan keuangan mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa laporan keuangan harus disajikan secara berbeda. Suatu entitas syariah mengubah penyajian laporan keuangannya jika hanya perubahan penyajian tersebut menghasilkan informasi yang dapat diandalkan dan lebih relevan kepada pemakai laporan keuangan dan struktur yang baru akan digunakan seterusnya, sehingga tidak menurunkan daya komparatifnya.

E. Struktur dan Isi Laporan Keuangan Syariah Identifikasi Laporan Laporan keuangan sering disajikan sebagai bagian dari suatu dokumen seperti laporan tahunan atau prospektus. PSAK hanya berlaku untuk laporan keuangan dan tidak berlaku untuk informasi lain yang disajikan dalam laporan tahunan atau dokumen lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi pengguna untuk mampu membedakan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan PSAK dari informasi lain yang juga bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan tetapi tidak perlu disajikan sesuai dengan PSAK. 10 Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Di samping itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bilamana perlu, pada setiap halaman laporan keuangan: a. Nama entitas syariah pelapor atau identitas lain; b. Cakupan laporan keuangan, apakah mencakup hanya satu entitas atau beberapa entitas; c. Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap komponen laporan keuangan; d. Mata uang pelaporan; dan e. Satuan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.

LAPORAN POSISI KEUANGAN Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan atau neraca antara lain : a. Kas dan setara kas b. Piutang dagang dan piutang lain; c. Persediaan; d. Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan di (a), (b), dan (i) e. Total asset yang diklasifikasikan sebagai asset yang dimiliki untuk dijual dan asset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009): Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang dihentikan f. Properti investasi g. Aset tetap h. Aset tidak tetap i. j. Investasi dengan menggunakan metode ekuitas; Utang dagang dan terutang lain;

k. Liabilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan di (j) dan (o)) l. Liabilitas dan asset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46: Pajak penghasilan; m. Liabilitas dan asset pajak tangguhan, sebagaimana didsefinisikan dalam PSAK 46 n. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58; o. Provisi p. Kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas; dan q. Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Aset Lancar Entitas syariah mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar jika:

a. Entitas syariah memperkirakan merealisasikan aset atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya, dalam siklus operasi normal; b. Entitas syariah memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan c. Entitas syariah memperkirakan akan merealisasikan aset dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan; atau d. Kas atau setara kas, kecuali aset tersebut dibatasi pertukaran atau penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurang kuranya dua belas bulan setelah periode pelaporan; Entitas syariah mengklasifikasikan aset yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai aset tidak lancar.

Kewajiban Jangka Pendek Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban Jangka Pendek jika : a. Entitas syariah memperkirakan akan menyelesaikan kewajiban dalam siklus operasi normalnya; b. Entitas syariah memiliki kewajiban untuk tujuan diperdagangkan c. Kewajiban jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan; atau d. Entitas syariah tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian kewajiban selama sekurang kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan. Entitas syariah mengklasifikasikan kewajiban yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai kewajiban jangka panjang. Entitas syariah mengungkapkan hal berikut dalam -laporan posisi keuangan atau laporan perubahan ekuitas; atau dalayn catatan alas laporan keuangan: (a) untuk setiap jenis saham: 1) jumlah saham modal dasar; 2) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh, dan yang diterbitkan tetapi lidak disetor penuh;

3) nilai nominal saham, atau nilai dari saham yang tidak mentiliki nilai nominal; 4) rekonsiliasi jumlah saham beredar pada awal dan akhir periode; 5) hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan alas dividen dan pembayaran kembali alas modal; 6) saham entitas syariah yang dikuasai oleh entitas syariah itu sendiri alau oleh entitas anak atau entitas asosiasi; dan 7) saham yang dicadangkan untuk penerbitan dengan hak opsi dan kontrak penjualan .wham, termasuk jumlah dan persyaratan; (b) penjelasan mengenai sifat (Ian tujuan setiap pos cadangan dalam ekuitas.

LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF Entitas syariah menyajikan seluruh pos penghasilan dan beban yang diakui dalam suatu periode dalam bentuk dua laporan: a) laporan yang menunjukkan komponen laba rugi (laporan laba rugi); dan b) laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapatan komprehensif lain (laporan laba rugi koinprehensij).

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif. Laporan laba rugi komprehensif minimal mencakup penyajian jumlah pos pos berikut untuk periode: 1. pendapatan usaha; 2. bagi basil untuk pemilik dana; 3. bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas; 4. beban pajak; 1) suatu juinfah tunggal yang mencakup total dari: (i) laba rugi setelah pajak dari operasiyang dihentikan; dan

10

2) keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dari pelepasan asset atau kelompok lepasan dalam rangka operasi yang dihentikan; 5. laba rugi; 6. setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat (selain jumlah dalam huruf (h)); 7. bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan ventura bersaina yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas; dan total laba komprehensif.

Entitas syariah mengungkapkan pos di bawah ini dalam laporan laba rugi komprehensif sebagai alokasi untuk periode: a) laba rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada: 1. kepentingan nonpengendali; dan 2. pemilik entitas induk. b) total laba komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada: 1. kepentingan nonpengendali; dan 2. pemilik entitas induk.

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Entitas syariah menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan: 1. total laba komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan nonpengendaii, 2. untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif ahm penyajian kembali secara retrospektif yang diakui sesuai dengan PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan; 3. untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tereatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan setiap perubahan yang timbul dari: 1) laba rugi;

11

2) setiap pos pendapatan komprehensif lain; dan 3) transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian.

Entitas syariah menyajikan, balk dalam laporan perubahan ekuitas atau catatan atas laporan keuangan, jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode, dan nilai dividen per saham.

LAPORAN ARUS KAS Laporan arus kas disusun berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait. Informasi arus kasmemberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas syariah dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan dalam menggunakan arus kas tersebut.

LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA ZAKAT Entitas syariah menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan: 1. dana zakat berasal dari wajib zakat (muzakki): a) zakat dari dalam entitas syariah; b) zakat dari pihak luar entitas syariah; 2. penggunaan dana zakat melalui lembaga amil zakat untuk: a) fakir; b) miskin; c) riqab; d) orang yang terlilit hutang (gharim); e) muallaf; f) fiisabilillah; g) orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil); dan

12

h) amil; 3. kenaikan atau penurunan dana zakat; 4. saldo awal dana zakat; dan 5. saldo akhir dana zakat.

LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA KEBAJIKAN Entitas menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan: 1. sumber dana kebajikan berasal dari penerimaan: a) infak; b) sedekah; c) hasil pengelolaan wakaf sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku; d) pengembalian dana kebajikan produktif; e) denda; dan f) pendapatan nonhalal. 2. penggunaan dana kebajikan untuk: a) dana kebajikan produktif; b) sumbangan; dan c) penggunaan lainnya untuk kepentingan umum. 3. kenaikan atau penurunan sumber dana kebajikan; 4. saldo awal dana penggunaan dana kebajikan; dan 5. saldo akhir dana penggunaan dana kebajikan. Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, tetapi tidak terbatas, pada: a. sumber dana kebajikan; b. kebijakan penyaluran dana kebajikan kepada masing-masing penerima; c. proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima dana kebajikan diklasifikasikan atas pihak yang memiliki hubungan istimewa sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa, dan pihak ketiga; dan

13

d. alasan terjadinya dan penggunaan atas penerimaan nonhalal.

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Struktur Catatan atas laporan keuangan: a) menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu yang digunakan sesuai dengan paragraf 125132; b) mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan di bagian mana pun dalam laporan keuangan; dan c) memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian mans pun dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.

Entitas syariah, sepanjang praktis, menyajikan catatan alas laporan keuangan secara sistentalis. Entitas syariah membuat referensi silang atas setiap pos dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan sumber dan penggunaan dana zakat, dan laporan pengunaan dana kebijakan untuk informasi yang berhubungan dalam catatan alas laporan keuangan.

Pengukapan Kebijakan Akuntansi Entitas syariah mengungkapkan dalam ringkasan kebijakan akuntansi signifikan: a. dasar pengukuran dalam menyiapkan laporan keuangan; b. kebijakan akuntansi lain yang diterapkan yang relevan untuk memahami laporan keuangan.

Sumber Estimasi Ketidakpastian Entitas syariah mengungkapkan informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa depan, dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain

14

pada akhir periode pelaporan, yang memiliki resiko signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset, liabilitas dan dana syirkah temporer pada periode pelaporan berikutnya. Berkaitan dengan aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer tersebut, catatan atas laporan keuangan memasukkan rincian atas: a. Sifat; dan b. Jumlah tercatat pada akhir periode pelaporan.

Modal Entitas syariah mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses dalam mengelola permodalannya.

Pengungkapan Lain Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan: a) jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal laporan keuangan diotorisasi untilk terbit tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada pentilik selama periode serta jumlah dividen per lembar saham; dan b) jumlah dividen preferen kumulatifyang tidak diakui

Entitas syariah mengungkapkan hal berikut ini : a) jika tidak diungkapkan di bagian mana pun dalam informasi yang dipublikasikan bersama dengan laporan keuangan: b) domisili dan bentuk hukum, negara teinpat pendirian, alamat kantor pusat entitas (atau lokasi utama kegiatan usaha, jika berbeda dari lokasi kantor); c) keterangan mengenai sifat operasi dan kegiatan utama; d) nama entitas induk dan nama entitas induk terakhir dalam kelompok usaha; dan bagi entitas syariah yang mempunyai umur terbatas, informasi tentang lama umur..

15